Bupati Sampang Akan Usir Warga Syiah

TEMPO.COSampang– Bupati Sampang KH Fannan Hasib dan Ketua DPRD Sampang Imam Ubaidilah berjanji akan merelokasi warga Syiah dari Sampang. “Nanti saya minta perwakilan warga ikut ke gubernur, supaya tahu bahwa kami terus berupaya merelokasi pengikut Tajul Muluk,” kata Imam Ubaidillah, Selasa 7 Mei 2013.

Jaminan itu diberikan Fannan di hadapan massa yang berdemonstrasi menuntut relokasi warga Sampang. Fannan menegaskan bahwa dia sudah mengusulkan kepada Dewan Pertimbangan Presiden dan Komisi Nasional HAM agar kasus Syiah ini dibicarakan secara terbuka di DPR RI supaya ada jalan keluar yang jelas.

“Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,
” kata Fannan. Ia mengaku terus mengupayakan tuntutan warga Sampang yang ingin pemeluk Syiah dipindahkan. Dalam pertemuan dengan warga, Fannan Hasib juga bersedia menandatangani perjanjian untuk mengusir warga Syiah ke luar Madura.

Pemimpin Syiah Sampang Iklil Almilal tidak mau banyak berkomentar soal demo warga sunni tersebut. Baginya, tuntutan pendemo bukanlah keinginan mayoritas warga Blu’uran dan Karang Gayam. “Dua hari sebelum demo, warga di sana telepon saya kasih tahu kalau akan ada demo, ini bukti bahwa tidak semua warga membenci kami,” katanya lewat sambungan telepon.

Agustus 2012 lalu, puluhan rumah warga Syiah di Sampang, dibakar pemeluk Sunni di sana. Sejak itu, ratusan orang mengungsi ke GOR Sampang. Mereka sudah berkali-kali minta dikembalikan ke kampung halaman mereka, namun tak diizinkan.

MUSTHOFA BISRI

Iklan

Warga Syiah Sampang Terancam Kelaparan

Warga Syiah Sampang Terancam KelaparanKOMPAS.com/TAUFIQURRAHMANWarga Syiah yang tinggal di penampungan terancam kelaparan setelah bantuan dari Pemkab Sampang dan Pemprov Jawa Timur distop.

SAMPANG, KOMPAS.com – Warga Syiah dari Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben dan Desa Bluuran, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, yang tinggal di penampungan gedung olahraga Sampang, terancam kelaparan.

Sebab, kini seluruh bantuan baik dari Pemerintah Kabupaten Sampang maupun Pemerinta Provinsi Jawa Timur sudah dihentikan. Sejak dua hari terakhir, ratusan pengikut Tajul Muluk itu terpaksa harus urunan agar bisa makan dan minum.

Kondisi itu ditegaskan Jumali, salah satu pengungsi Syiah, Sabtu (24/11/2012). Dari hasil urunan itu, makanan kemudian dimasak dan dimakan bersama secara terpisah antara laki-laki dan perempuan.

“Kalau bulan kemarin kita masih diberi bantuan bahan makanan mentah oleh pemerintah, kini kami benar-benar harus berusaha sendiri agar bisa makan,” kata Jumali.

Ditegaskan Jumali, jika kondisi yang sama terus terjadi, sementara warga tersebut tidak memiliki penghasilan, maka kelaparan bisa mengancam para pengungsi. Bagi pengungsi yang tidak punya uang untuk membayar urunan, maka diambilkan dari dana donatur.

“Dari donatur yang terkumpul sejak pertama kali warga Syiah mengungsi, sebagian kita sisihkan untuk membeli makan warga yang tidak punya uang,” ungkap Nadya, relawan yang turut mendampingi para pengungsi.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sampang, Imam Sanusi saat dikonfirmasi membenarkan jika bantuan dana dari Pemprov Jatim dan Pemkab sudah sudah habis dipakai sampai bulan kemarin. “Kalau sudah habis anggarannya kita tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Imam.

Sampai akhir bulan November ini, bantuan yang sudah digelontorkan pemerintah untuk penanganan warga Syiah dan aparat keamanan yang berjaga di lokasi konflik di Sampang, mencapai lebih dari Rp 1 milyar. “Jumlahnya pengungsi 300 orang lebih dan ditambah petugas 1.100 orang. Mereka diberi makan tiga kali sehari sehingga anggaran yang ada sudah habis,” tandas Imam.

Kasus kerusuhan Syiah dan anti Syiah di Sampang meledak pada 25 Agustus 2012 lalu untuk ketiga kalinya. Satu korban tewas dari warga Syiah. Demi mengantisipasi kerusuhan susulan, Polres Sampang dan Pemkab Sampang, mengungsikan warga Syiah ke gedung olaharaga hingga saat ini.

Editor :
Glori K. Wadrianto

 

Sampai Kapan Warga Syiah Sampang Mengungsi?

SURABAYA, KOMPAS.com – Sejak insiden Sampang, Madura, Jawa Timur, yang menewaskan dua warga dari kelompok Islam Syiah pada 26 Agustus 2012, warga Syiah masih mengungsi di Gelanggang Olahraga (GOR) Sampang hingga hari ini. Belum ada solusi untuk mengembalikan mereka ke tempat asal.

“Sekitar 500 orang yang masih ada di GOR itu. Anggota kita ada 200 yang masih mengamankan di sana,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Timur Komisaris Besar Hilman Thayib, Sabtu (13/4/2013) di Surabaya.

Bukan tanpa alasan warga Syiah masih bertahan di GOR selama 8 bulan. Hilman mengatakan, mereka sebenarnya ingin kembali ke tempat tinggalnya di Dusun Nangkernang, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, Sampang. Namun, ada penolakan dari kelompok Sunni. Jika kembali, dikhawatirkan akan ada bentrok lagi.

“Paham Sunni ini tidak mau terima. Mereka (Syiah) boleh pulang kalau kembali ke paham Sunni. Ya, mereka juga enggak mau,” katanya.

Tawaran pemerintah setempat untuk merelokasi dari Sampang juga ditolak kelompok Syiah. Tempat tinggal warga Syiah di Sampang saat ini kosong sebab saat insiden itu rumah mereka dirusak dan dibakar.

Wakil Kepala Polda Jawa Timur Brigadir Jenderal (Pol) Moechgiyarto mengatakan, sebagai solusi terakhir, polisi ingin mengembalikan warga Syiah ke tempat asalnya. Jaminan keamanan juga akan diberikan pihak kepolisian. “Sedang kita cari penyelesaian yang baik bagaimana. Salah satunya merelokasi, tapi mereka tidak mau. Ide terakhir, kita siapkan Brimob untuk jaga,” katanya.

Namun, mengembalikan kelompok Syiah ke desanya dinilai berisiko jika masih ada perbedaan pandangan antara Syiah dan Sunni. Kepolisian berharap ada keputusan tegas dari pemerintah terhadap kasus ini. Pihak terkait hendaknya kembali turun untuk melakukan pendekatan dialogis terhadap kelompok Syiah dan Sunni.

Sampai kapan kelompok Syiah tinggal di GOR? Kepolisian tak punya jawaban pasti. “Sampai sekarang belum ada keputusan tegas dari pemda,” ujar Hilman.

Ratusan Warga Anti-Syiah Sampang Demo Bupati dan DPRD

Ratusan Warga Anti-Syiah Sampang Demo Bupati dan DPRDKOMPAS.com/TAUFIQURRAHMANAnak-anak warga Syiah Sampang bermain di dalam gedung olahraga Wijaya Sampang.

 

SAMPANG, KOMPAS.com — Kepolisian Resor Sampang, Jawa Timur, menerima laporan bahwa 500 warga asal Desa Bluuran, Kecamatan Omben, dan Desa Karang Gayam, Kecamatan Karang Penang, Kabupaten Sampang, Jawa Timur, mulai pukul 09.00 WIB, Selasa (7/5/2013), melakukan aksi unjuk rasa ke kantor Bupati Sampang dan Kantor DPRD Sampang.

Wakil Kepala Polres Sampang Komisaris Polisi Alfian Nurrizal mengatakan, massa dari dua kecamatan itu mengendarai sebanyak 20 truk terbuka. Untuk pengamanan massa aksi, semua anggota Polres Pamekasan dikerahkan di dua titik tujuan aksi.

“Selain 400 personel polisi yang kita siagakan, ada 100 pasukan BKO Brimob yang akan ikut mengamankan aksi tersebut lengkap dengan senjatanya,” terang Alfian.

Maksud aksi itu, kata Alfian, untuk mempertanyakan penanganan pengungsi Syiah yang sudah berbulan-bulan ditampung di pengungsian gedung olahraga Wijaya, Kota Sampang.

“Untuk mengantisipasi adanya massa yang menuju tempat pengungsian, keamanan juga diperketat di lokasi tersebut,” ungkap Alfian.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com, aksi yang digerakkan sejumlah tokoh masyarakat anti-Syiah itu akan menyampaikan aspirasinya untuk menolak pemulangan warga Syiah ke kediamannya masing-masing di Desa Bluuran dan Desa Karang Gayam.

Jangan Jangan Isu Sampang untuk Menutup Ribut-Ribut Investasi Minyak Bumi di Madura?

03-09-2012
Catatan dari ST Natanegara
Jangan Jangan Isu Sampang untuk Menutup Ribut-Ribut Investasi Minyak Bumi di Madura?
Tidak hanya peristiwa Sampang, Masih ada lagi masalah yang harus kita kritisi bersama. Intelijen itu tidak pernah kecolongan, informasi berton-ton selalu berhasil dikumpulkan dan dianalisa tapi berpulang pada usernya yang mengatakan intelijen kecolongan itu bisa sengaja menipu diri sendiri, sengaja menyalahkan, atau tidak tahu apa-apa tentang dunia intelijen.
Tahukah anda bahwa bisa jadi isu sampang untuk menutupi isu rebut-ribut  investasi minyak bumi di Madura?Tahukah anda siapa yang repot-repot membantu pemerintah membangun jembatan Madura? Giliran mau ambil untung dibikin kisruh ada yang mengatakan kalau Madura itu ‘madunya’ Negara Indonesia..

Baca lebih lanjut