Aku Bangga Dikatakan Rafidhi

By: Vauza Tamma

Renungan Suluk Rajabiah BAMZAHAM VAUZA TOUR

BANGGA DISEBUT "RAFIDHI"

Kata "rafidhi" dan "rafidhah" dalam otak kaum wahabi dan nashibi selalu mengarah ke syiah. Mereka mengidentikkan rafidhi sebagai kafir dan rafidhah sebagai kufur. 

Kata tersebut berasal dari kata kerja "rafadha-yarfudhu-rafdhan" yang bermakna "menolak". 
Kata "rafidhi" merupakan ism fa'il darinya yang bermakna "orang yang menolak", sedangkan kata "rafidhah" yang menggunakan ta marbuthah karena kata "syi'ah" juga menggunakan ta marbuthah. Bagi mereka yang belajar nahu sharaf pasti memahami ini.

Kesimpulannya: Syiah Rafidhah adalah orang-orang yang menolak. 
Menolak apa? 
Kata mereka: Menolak kekhalifahan tiga khalifah pertama.

Tujuan saya menulis hal ini agar jangan sampai semakin banyak umat ini masuk dalam "proyek pembodohan umat" yang gencar dilakukan oleh kaum wahabi dan nashibi.

Pertanyaannya: Apakah hanya sebatas tolak menolak itu? 

Untuk lebih membuka wawasan kita, berikut ini saya kutip beberapa riwayat yang saya menukilnya dari kitab Al-Shirath Al-Mustaqim yang ditulis oleh Allamah Ali bin Yunus al-'Amili, jilid 3 halaman 76:

-Abu Bashir berkata kepada Imam Ja'far Shadiq as, "Sesungguhnya manusia menamakan kami rafidhah."
Imam Shadiq as berkata, "Demi Allah! Bukan mereka yang menamakan kalian dengan sebutan itu tapi Allah yang menamakan kalian dengan sebutan itu, karena sesungguhnya 70 orang terbaik dari Bani Israel beriman kepada Musa dan saudaranya [Harun] maka mereka menamakan mereka [70 orang itu] rafidhah. Lalu Allah mewahyukan kepada Musa 'tetapkanlah nama ini bagi mereka di dalam Taurat'. Kemudian Allah menyimpan nama ini untuk diberikan kepada kalian.
Wahai Abu Bashir! Manusia menolak [rafadha] kebaikan dan melakukan kejahatan, sedangkan kalian menolak kejahatan dan melakukan kebaikan."

-Sama'ah bin Mahran meriwayatkan bahwa Imam Shadiq as bertanya kepadanya, "Siapakah manusia yang paling jahat?" 
Aku [Sama'ah] menjawab, "Kami, karena mereka menyebut kami kafir dan rafidhah." 
Sama'ah meriwayatkan bahwa Imam Shadiq memandangku dan berkata, "Bagaimanakah apabila nanti kalian diarak menuju surga dan mereka digiring menuju neraka? Pada saat itu  mereka akan berkata: 
"Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu [di dunia] kami anggap sebagai orang-orang jahat"
(Al-Quran, surah Shad ayat 62)

Jadi setelah ini, siapapun yang mau menyebut aku "rafidhi" atau "rafidhah" atau bahkan "kafir", silakan! karena aku bangga dengan sebutan-sebutan tersebut. 
Yang pasti, aku hanya ber-Wilayah kepada AhlulBait as dan menolak untuk ber-Wilayah kepada selain mereka!!!
BANGGA DISEBUT “RAFIDHI”

Kata “rafidhi” dan “rafidhah” dalam otak kaum wahabi dan nashibi selalu mengarah ke syiah. Mereka mengidentikkan rafidhi sebagai kafir dan rafidhah sebagai kufur.

Kata tersebut berasal dari kata kerja “rafadha-yarfudhu-rafdhan” yang bermakna “menolak”.
Kata “rafidhi” merupakan ism fa’il darinya yang bermakna “orang yang menolak”, sedangkan kata “rafidhah” yang menggunakan ta marbuthah karena kata “syi’ah” juga menggunakan ta marbuthah. Bagi mereka yang belajar nahu sharaf pasti memahami ini.
Baca lebih lanjut

Iklan

Mengkaji Syiah dari Kitab Sunni (Seri 01-10)

Menuju Persatuan dan Persaudaraan Mazhab Sunni Syiah

  1. 1.     Hadis Tsaqalain: al-Quran dan Ahlul Bayt a.s

Oleh: J. al-Gar (secondprince)

Peninggalan Rasulullah SAW adalah Al Quran dan Ahlul Bait as
Sebelum Junjungan kita yang mulia Al Imam Rasulullah SAW (Shalawat dan salam kepada Beliau SAW dan Keluarga suciNya as) berpulang ke rahmatullah, Beliau SAW telah berpesan kepada umatnya agar tidak sesat dengan berpegang teguh kepada dua peninggalannya atau Ats Tsaqalain yaitu Kitabullah Al Quranul Karim dan Itraty Ahlul Bait Rasul as. Seraya Beliau SAW juga mengingatkan kepada umatnya bahwa Al Quranul Karim dan Itraty Ahlul Bait Rasul as akan selalu bersama dan tidak akan berpisah sampai hari kiamat dan bertemu Rasulullah SAW di Telaga Kautsar Al Haudh.

Baca lebih lanjut

Syi’ah bukan melaknat Abu Hurairah, tetapi membela Abu Thalib yang dituduh kafir, membela Nabi Musa as yang difitnah Telanjang, membela Tuhan yang dituduh berbentuk seperti Adam

Syi’ah bukan melaknat Abu Hurairah, tetapi membela Abu Thalib yang dituduh kafir, membela Nabi Musa as yang difitnah Telanjang, membela Tuhan yang dituduh berbentuk seperti Adam

by syiahali
http://syiahali.files.wordpress.com/2013/04/acffd-bapa2bkucing.jpg?w=319&h=188

Ahli sejarah syiah  tidak mudah menerima hadis Abu Hurairah. Mereka berkata: ‘Mudah orang berbohong tetapi sukar mempertahankan kebohongan sesudah dituturkan’. Apa buktinya ??

Baca lebih lanjut

Syi’ah melarang Mencaci dan Melaknat Para Sahabat dan Isteri Nabi SAW

Syi’ah melarang Mencaci dan Melaknat Para Sahabat dan Isteri Nabi SAW

by syiahali

Aku Memilih Syiah Lewat Kebohongan Wahabi

Gerakan Syiah Dalam PAS

Selain gerakan Islam Liberal yang dibawa oleh kumpulan Erdogan yang diketuai oleh PAS, wujud juga gerakan syiah dalam PAS. Gerakan syiah ini diketuai oleh Mohd Sabu. Dua orang penulis turut membantu Mohd Sabu iaitu Azman NM, seorang penulis yang bertugas di Unit Penerangan PAS Negeri Kelantan dan Faisal Tehrani yang mendapat pembiayaan dari kerajaan Iran untuk kembara dan membuat penyelidikan. Dua orang pensyarah turut membantu Mohd Sabu menyebarkan ajaran Syiah dalam PAS. Yang pertama adalah Ustaz Ahmad Zuhdi, pensyarah API UM, seorang ahli PAS dan Ustaz Wan Zailan Wan Kamaruddin, pensyarah API UM, ketua gerakan syiah di Universiti Malaya. Satu bilik operasi gerakan Syiah telah diwujudkan di Jalan Bayam, Kota Bharu yang diketuai oleh Azman MN. Bilik ini digunakan untuk mengadakan perbincangan dan menempatkan koleksi risalah dan buku propaganda Syiah secara tersembunyi. PAS sudah pecah tiga, ulama, syiah dan erdogan.

Kajian Bersedekap dalam Shalat

by: syiahali

Kaum Muslim sepakat bahwa tidak wajib meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri atau bersedekap, yang dalam bahasa Arab disebut taktif atau takfir. Akan tetapi, mereka berselisih pendapat dalam menetapkan hukumnya (selain dari wajib itu) .

Mazhab Hanafi mengatakan, ” Bersedekap itu hukumnya sunah, bukan wajib. Yang terutama bagi laki-laki adalah meletakkan telapak tangan di atas punggung tangan kiri dan ditempatkan di bawah pusar. Sedangkan bagi perempuan adalah meletakkan kedua tangannya di atas dada.” (Fiqh ‘Alaa Madzahib al-Arba’ah”, juz 1, kitab “Sholat”, bab “Sunan al-Sholat)

Baca lebih lanjut

Diperbolehkannya menggabung dua shalat

by: syiahali

Syiah dikenal menggabung dua shalatnya. Misalnya, ketika seorang Syiah telah melakukan shalat dhuhur, secara langsung setelahnya ia dapat melakukan shalat ashar. Begitu juga setelah shalat maghrib ia bisa langsung shalat isya’.
Itu tidak diperbolehkan bagi Ahlu Sunah. Orang-orang Ahlu Sunah melakukan tiap shalat pada waktunya masing-masing. Yakni mereka tidak melakukan shalat ashar begitu shalat dhuhur usai secara langsung, namun mereka menunggu waktu ashar tiba baru mereka shalat ashar.

Baca lebih lanjut

Salafi wahabi dan sunni mempropagandakan hadis hadis syi’ah yang dha’if sehingga terkesan syi’ah mazhab yang busuk…

Salafi wahabi dan sunni mempropagandakan hadis hadis syi’ah yang dha’if sehingga terkesan syi’ah  mazhab yang busuk…

Pemakaian hadis hadis dha’if syi’ah  sebagai alat propaganda sunni  adalah ketidak jujuran mereka…

Benarkah Syiah Mengkafirkan Sahabat Rasulullah Saw?

Syiah tidak meyakini kemunafikan dan kekufuran sahabat sebagaimana yang Anda gambarkan, melainkan meyakini bahwa kebanyakan dari mereka menutup mata terhadap wasiat-wasiat Rasulullah saw dan menyimpangkan Islam hingga batasan tertentu dari relnya yang benar, kecuali beberapa gelintir orang dari mereka yang tetap teguh di jalan kebenaran

Baca lebih lanjut

Riwayat Akan Kebenaran Mazhab Ahlilbait/Syi’ah Imamiyah

1). Perumpamaan ahlilbaitku seperti perahu nuh, yang menaikinya selamat dan yang meninggalkannya tenggelam.(Al-Hakim, al-Mustadrak, ii, hlm. 343. Al-Dhahabi, al-Talkhis, ii, 345. al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi‘ al-Mawaddah , i, hlm. 27. al-Tabrani, al-Ausat, hlm. 216.

 

2). Al-Bukhari, Sahih, viii, hlm. 384-385. ‘‘Sesungguhnya mereka (para sahabat) telah menjadi murtad selepasmu (irtaddu ba‘da-ka). Hanya sedikit daripada mereka yang terselamat seperti unta yang tersesat daripada pengembalanya”. Ia sejajar dengan firman-Nya Surah al-Saba’ (34):13 ‘‘Dan sedikit sekali daripada hamba-hamba-Ku yang bersyukur”.

Baca lebih lanjut

KUMPULAN HADIS – HADIS BUKHARI, MUSLIM DAN KITAB-KITAB HADIS AHLUL SUNNAH WAL JAMAAH

 

  1. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda:

 

“Bagaimana kalian jika datang kepada kalian putera Maryam dan Imam kalian.” (Shahih Bukhari, bab datangnya Nabi Isa; dan Kanzul Ummal 14: 334)

  1. Dari Jabir pernah mendengar bahwa Nabi saw bersabda:

Akan senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang berperang untuk menegakkan kebenaran sampai hari kiamat.” Lalu turunlah Isa bin Maryam (as), kemudian pemimpin mereka berkata: Kemarilah shalat bersama kami, dia menjawab: Tidak, karena sesungguhnya sebagian kalian terhadap sebagian yang lain ada pemimpin yang dimuliakan oleh Allah dalam ummat ini.” Dalam Shahih Muslim, kitab Iman dan Musnad Ahmad 3/345. 

Baca lebih lanjut

Bada’ Dalam Pandangan Syi’ah

Oleh: Nasir Dimyathi

Dalam ideologi Syi’ah, bada’ menempati posisi yang urgen sehingga hampir semua buku teologi atau filsafat Islam kuno memuat pembahasan ini secara terperinci atau global. Para ulama mencoba untuk meneruskan jejak Al-Qur’an dan sunah dalam sosialisasi persoalan tersebut. Allamah Tehrani meriwayatkan sekitar dua puluh lima karangan khusus tentang bada’ yang ditulis oleh ulama Syi’ah terdahulu[1].

Baca lebih lanjut

KONSEP AL-WILÂYAH DAN AL-QURAN

(Oleh : Ust. Abdullah Assegaf)

Penafsiran dan pengenalan terhadap dunia dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan melihat tabiatnya. Kedua, dengan melihat segala yang ada di balik tabiat. Sedangkan, tabir yang menutupi serta menjadikan kebutaan dalam penafsiran juga terbagi dua. Yakni, tabir kegelapan, yang menutupi dalam mengenali suatu sifat dan daerah tertentu, serta tabir cahaya, yang menutupi dari segala makna hakikat.

Baca lebih lanjut

AL-WILAYAT AL-‘AMMAH

(Oleh : Ust. Abdullah Assegaf)

 

WILAYAH termasuk konsep yang mendasar dalam menentukan kesempurnaan masyarakat manusia. Tanpanya, manusia tak akan pernah berhasil mewujudkan  suatu masyarakat  sehat sebagaimana dicita-citakan.

Lantaran urgennya masalah wilayah, para ulama lantas menempatkannya  pada  pembahasan inti seputar masalah masyarakat dan sistem  kemasyarakatan. Mazhab Syi’ah  bahkan memasukan masalah  wilayah ini sebagai  salah satu Ushul Aqidah.

Mengingat pentingnya masalah ini, maka,  meskipun ringkas dan global,  kami akan berusaha menguraikannya dalam tulisan ini. Kami  berlindung kepada Allah Swt dari segala dosa dan kesalahan.

Baca lebih lanjut

Imamah, Studi Komperatif Sunnah-Syi’ah

Imamah, Studi Komperatif Sunnah-Syi’ah
Oleh: Ibnu Jakfari Apakah Imamah Ushûlddîn/Prinsip agama atau Furû’uddîn?

Pendapat Ahlusunnah:

Imamah dalam pandangan madzab Ahlusunnah bukan merupakan Ushuluddin, ia digolongkan furu’uddin dan masalah-masalah fiqih yang harus dipecahkan dengan dalil-dalil naqliah bukan aqliah. Bahkan mereka menganggapnya bukan hal penting yang harus dibicarakan dan di diskusikan.
Demikian dijelaskan oleh tokoh-tokoh teologi Ahlusunnah seperti Imam Ghazali, Al-Amidiy, Al-Taftazani dll.

Baca lebih lanjut