Kata-kata Hikmah Imam ‘Ali as

Kata-kata Hikmah dari SayidiNa ‘Ali bin Abi tholib KaromaLLAAHu WAJHah :
1. Tidak bisa menangis itu karena kerasnya hati.

2. Kerasnya hati karena banyaknya dosa.

3. Banyaknya dosa karena banyaknya harapan [Angan-angan].

4. Banyaknya harapan karena lupa akan kematian.

5. Melupakan kematian karena kecintaan pada dunia.

6. Mencintai dunia adalah awal dari semua kesalahan. 

7. Jangan memanggil orang lain dengan gelar (Julukan).

8. Mintalah maaf kepada Allah setiap hari.

9. Lihatlah Allah sebagai Pengawasmu.

10. Ketahui bahwa kenikmatan dosa itu hanya sesaat dan akibat [kesengsaraan nya] panjang.

11. Jangan menghukumi tanpa melakukan penelitian. 

12. Jangan biarkan seseorang menggunjing orang lain di sampingmu.

13. Bersedekahlah, jangan memperhatikan kekayaan orang lain.

14. Jadilah pemberani, kematian hanya sekali mendatangimu.

15. Berusahalah meninggalkan nama baik sepeninggalmu.

16. Jangan mempersulit agama.

17. Lakukan komunikasi dengan ulama dan ilmuwan melalui amal perbuatan.

18. Siaplah untuk dikritik.

19. Jangan menjadi penipu.

20. Jadilah pendukung orang-orang lemah. 

21. Bila engkau tahu seseorang tidak akan memberikan pinjaman padamu, jangan mohon padanya.

22. Matilah sebagai orang yang baik.

23. Anggaplah dirimu sebagai wakil Allah dalam urusan agama.

24. Jangan menjadi pengumpat.

25. Jangan beribadah lebih dari kemampuanmu.

26. Jadilah orang yang berhati lembut [penuh kasih sayang].

27. Kenalilah al-Quran. 

28. Selama bisa, selesaikan kesulitan orang lain.
Imam Ali As ditanya, apa itu wajib dan yang lebih wajib? Dekat dan yang lebih dekat? Ajaib dan yang lebih ajaib? Sulit dan yang lebih sulit? 
Wajib; Taat kepada Allah, dan yang lebih wajib adalah meninggalkan maksiat.

Dekat; Kiamat, dan yang lebih dekat adalah kematian. 

Ajaib; Dunia, dan yang lebih ajaib adalah cinta dunia.

Sulit; Kubur, dan yang lebih sulit adalah masuk kubur dengan tangan kosong.

By komunitasahlilbaitlombok Posted in Artikel

KISAH IMAM ALI – SANG AHLI MATEMATIKA

Kisah Imam Ali – Sang Ahli Matematika

Dua orang sehabat melakukan perjalanan bersama. Disuatu tempat, mereka berhenti untuk makan siang. Sambil duduk, mulailah masing-masing membuka bekalnya. Orang yang pertama membawa tiga potong roti, sedang orang yang kedua membawa lima potong roti.
Ketika keduanya telah siap untuk makan, tiba-tiba datang seorang musafir yang baru datang ini pun duduk bersama mereka.

“Mari, silakan, kita sedang bersiap-siap untuk makan siang,”kita salah seorang dari dua orang tadi.

“Aduh…saya tidak membawa bekal,” jawab musafir itu.

Maka mulailah mereka bertiga menyantap roti bersama-sama. Selesai makan, musafir tadi meletakkan uang delapan dirham di hadapan dua orang tersebut seraya berkata: “Biarkan uang ini sebagai pengganti roti yang aku makan tadi.” Belum lagi mendapat jawaban dari pemilik roti itu, si musafir telah minta diri untuk melanjutkan perjalanannya lebih dahulu.

Sepeninggal si musafir, dua orang sahabat itu pun mulai akan membagi uang yang diberikan.

“Baiklah, uang ini kita bagi saja,” kata si empunya lima roti.

“Aku setuju,”jawab sahabatnya.

“Karena aku membawa lima roti, maka aku mendapat lima dirham, sedang bagianmu adalah tiga dirham.

“Ah, mana bisa begitu. Karena dia tidak meninggalkan pesan apa-apa, maka kita bagi sama, masing-masing empat dirham.”

“Itu tidak adil. Aku membawa roti lebih banyak, maka aku mendapat bagian lebih banyak”

“Jangan begitu dong…”
Alhasil, kedua orang itu saling berbantah. Mereka tidak berhasil mencapai kesepakatan tentang pembagian tersebut. Maka, mereka bermaksud menghadap Imam Ali bin Abi Thalib r.a. untuk meminta pendapat.

Di hadapan Imam Ali, keduanya bercerita tentang masalah yang mereka hadapi. Imam Ali mendengarkannya dengan seksama. Setelah orang itu selesai berbicara, Imam Ali kemudian berkata kepada orang yang mempunyai tiga roti: “Terima sajalah pemberian sahabatmu yang tiga dirham itu!”

“Tidak! Aku tak mau menerimanya. Aku ingin mendapat penyelesaian yang seadil-adilnya, “Jawab orang itu.

“Kalau engkau bermaksud membaginya secara benar, maka bagianmu hanya satu dirham!” kata Imam Ali lagi.

“Hah…? Bagaimana engkau ini, kiranya.

Sahabatku ini akan memberikan tiga dirham dan aku menolaknya. Tetapi kini engkau berkata bahwa hak-ku hanya satu dirham?”

“Bukankah engkau menginginkan penyelesaian yang adil dan benar?”

“Ya”

“Kalau begitu, bagianmu adalah satu dirham!”

“Bagaimana bisa begitu?” Orang itu bertanya.

Imam Ali menggeser duduknya. Sejenak kemudian ia berkata:”Mari kita lihat. Engkau membawa tiga potong roti dan sahabatmu ini membawa lima potong roti.”

“Benar.”jawab keduanya.

“Kalian makan roti bertiga, dengan si musafir.”

‘Benar”

“Adakah kalian tahu, siapa yang makan lebih banyak?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, kita anggap bahwa setiap orang makan dalam jumlah yang sama banyak.”

“Setuju, “jawab keduanya serempak.

“Roti kalian yang delapan potong itu, masing-masingnya kita bagi menjadi tiga bagian. Dengan demikian, kita mempunyai dua puluh empat potong roti, bukan?” tanya Imam Ali.

“Benar,”jawab keduanya.

“Masing-masing dari kalian makan sama banyak, sehingga setiap orang berarti telah makan sebanyak delapan potong, karena kalian bertiga.”

“Benar.”
“Nah…orang yang membawa lima roti, telah dipotong menjadi tiga bagian mempunyai lima belas potong roti, sedang yang membawa tiga roti berarti mempunyai sembilan potong setelah dibagi menjadi tiga bagian, bukankah begitu?”

“Benar, jawab keduanya, lagi-lagi dengan serempak.
“si empunya lima belas potong roti makan untuk dirinya delapan roti, sehingga ia mempunyai sisa tujuh potong lagi dan itu dimakan oleh musafir yang belakangan. Sedang si empunya sembilan potong roti, maka delapan potong untuk dirinya, sedang yang satu potong di makan oleh musafir tersebut. Dengan begitu, si musafir pun tepat makan delapan potong roti sebagaimana kalian berdua, bukan?”

Kedua orang yang dari tadi menyimak keterangan Imam Ali, tampak sedang mencerna ucapan Imam Ali tersebut. Sejenak kemudian mereka berkata:”Benar, kami mengerti.”
“Nah, uang yang diberikan oleh di musafir adalah delapan dirham, berarti tujuh dirham untuk si empunya lima roti sebab si musafir makan tujuh potong roti miliknya, dan satu dirham untuk si empunya tiga roti, sebab si musafir hanya makan satu potong roti dari milik orang itu”
“Alhamdulillah…Allahu Akbar,” kedua orang itu berucap hampir bersamaan. Mereka sangat mengagumi cara Imam Ali menyelesaikan masalah tersebut, sekaligus mengagumi dan mengakui keluasan ilmunya.

“Demi Allah, kini aku puas dan rela. Aku tidak akan mengambil lebih dari hak-ku, yakni satu dirham,” kata orang yang mengadukan hal tersebut, yakni si empunya tiga roti.
Kedua orang yang mengadu itu pun sama-sama merasa puas. Mereka berbahagia, karena mereka berhasil mendapatkan pemecahan secara benar, dan mendapat tambahan ilmu yang sangat berharga dari Imam Ali bin Abi Thalib as.

By komunitasahlilbaitlombok Posted in Artikel

WhatsApp Messenger: Android + iPhone + Nokia + BlackBerry + Windows Phone

Hai,

Saya baru saja mengunduh WhatsApp Messenger di Android saya.

Ini adalah aplikasi pesan di smartphone yang menggantikan SMS. Aplikasi ini bahkan membolehkan saya mengirim gambar, video, dan multimedia lainnya!

WhatsApp Messenger tersedia untuk Android, iPhone, Nokia, Windows Phone dan BlackBerry. Tidak usah repot mengingat nomor PIN atau nama pengguna- WhatsApp bekerja seperti SMS tetapi menggunakan layanan data Internet Anda.

Dapatkan sekarang dari http://www.whatsapp.com/download/ dan katakan selamat tinggal kepada SMS.

Salam

By komunitasahlilbaitlombok Posted in Artikel

Mama-Mama Yang Enggak Suka Marah

By: Dina Y. Sulaeman

Ada satu kalimat salah kaprah yang kadang saya ucapkan kalau saya sudah spanneng, ke anak-anak: “Coba tanyain ke temen-temenmu.. ada enggak mama-mama yang nggak suka ngomel kalau anaknya nggak nurut..?”

Waduh..secara logika dan ilmu parenting ini jelas kalimat yang salah banget… Pertama, kalau saja semua mama di dunia suka marah, apa itu artinya perbuatan marah ke anak bisa dibenarkan? Kesalahan yang diperbuat mayoritas orang tidak bisa membuat kesalahan itu jadi kebenaran. Kedua, mengapa mama-mama harus marah kalau anaknya nggak nurut? Mama mau mendidik anak penurut (dan kelak jadi manusia ‘yes bos’ melulu) atau anak kritis sih?

Baca lebih lanjut

Wawancara Dina Sulaeman dengan Jurnalis Syria

Home » Tokoh » Wawancara » Wawancara Dina Sulaeman dengan Jurnalis Syria

Wawancara Dina Sulaeman dengan Jurnalis Syria

By : Muhsin Labib

wawancara1

Dina Y. Sulaeman*

Atas jasa seorang teman, saya terhubung dengan seorang jurnalis senior Syria. Atas seizin sang jurnalis, perbincangan saya dengannya saya tuliskan di sini. Namun untuk menjaga keamanannya, identitasnya tidak bisa diungkap. Foto yang saya saya taruh di sini pun saya samarkan pada bagian wajahnya. Kita sebut saja namanya Mr. As-Souri. Sebenarnya, pertanyaan yang saya ajukan kepadanya hanyalah sekedar konfirmasi atas apa yang sudah saya ketahui selama ini. Namun perbincangan ini memiliki nilai penting karena –dalam penelitian ilmiah dengan metode kualitatif—perbincangan saya dengannya bisa disebut sebagai ‘data primer’.

Baca lebih lanjut

Tafsir Surah Al-Baqarah : 124

Surah Al-Baqarah : 124
Ayat Imamah

“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu ia (berhasil) melengkapinya. Allah berfirman: “Sungguh aku akan menjadikanmu seorang imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim memohon: “ Juga dari keturunanku!”.

Allah berfirman: “Janjiku ini (imamah) tidak akan dapat digapai oleh orang-orang yang zalim”.

Baca lebih lanjut

By komunitasahlilbaitlombok Posted in Tafsir

Sabda Rasulallah saw Kepada Imam ‘Ali as

Rasulullah Saaw bersabda kepada Imam Ali as:

“Pada Hari Kiamat, engkau akan datang bersama syi’ahmu dalam keadaan meridhai dan diridhai Allah, sebaliknya, musuh-musuhmu akan datang dalam keadaan dimurkai dan dihinakan.”

Hadis ini tercatat di dalam kitab-kitab di bawah ini yang disusun oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah :

1. Al-Nazhm Durar Al-Samthîn li al-Zarandy al-Hanafy, hal. 92, al-Qadha fi al-Najf.

2. Yanabi’ al-Mawaddah li al-Qanduzy al-Hanafy, hlm. 301, Cet. Islamabul dan hlm. 362, Cet. Al-Haydariyyah.

3. Al-Fushul al-Muhimmah li Ibn Shabâgh al-Maliki, hlm. 107, Cet. Al-Haydariyyah.

4. Al-Shawaiq al-Muhriqah, Ibn Hajar al-Asqalany al-Syafi’y, hlm.159, Cet. al-Muhammadiyah, Mesir dan hlm.96, Cet. al-Maimaniyah, Mesir.

5. Kanz al-‘Ummal li Muttaqi al-Hind, Jil. 15, hlm. 137, hadis no. 398, Cet. Ke-II, Haydarabad.

6. Majmu’ al-Zawaid li Al-Haytsamy al-Syafi’y, Jil. 2, hlm. 131, Cet. Beirut.

7. Nur al-Abshar li al-Syablanji hlm. 101, Cet. Utsmaniyyah.

By komunitasahlilbaitlombok Posted in Riwayat

Metode Penafsiran Saintis Di Dalam Buku-Buku Tafsir Modern

Metode Penafsiran Saintis Di Dalam Buku-Buku Tafsir Modern

Sayid Musa Husaini

Aneka tendensi dan metode penafsiran Al-Qur’an berbau “modern” yang muncul pada abad ini dan bermunculannya beberapa realita dalam rangka memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an telah memberikan nilai lebih kepada abad ini dibandingkan dengan abad-abad sebelumnya.

Di antara tendensi dan metode penafsiran tersebut adalah “tendensi renofatif” (ishlâhî) dan “tendensi saintis” (‘ilmî). Kedua tendensi inilah yang pada abad ini mendominasi pasaran dunia penafsiran Al-Qur’an dan dapat dianggap sebagai benang merah dari seluruh penafsiran pada abad modern ini.

Baca lebih lanjut

By komunitasahlilbaitlombok Posted in Tafsir

HADIS MANDZILAH

HADIS MANDZILAH

 

Hadis Manzilah adalah hadis yang menjelaskan bahwa Imam Ali bin Abi Thalib (sa) memiliki kedudukan yang paling dekat dengan Rasulullah saw seperti kedudukan Harun (as) dengan Nabi Musa (as). Jadi, tidak ada seorang pun manusia yang dapat dibandingkan dengan Imam Ali dalam hal kedekatannya dengan Rasulullah saw.

Baca lebih lanjut

By komunitasahlilbaitlombok Posted in Riwayat

Asbabun Nuzul Surah At-Taubah : 119

Asbabun Nuzul Surah At-Taubah : 119 tentang ‘Orang-orang yang Benar’

 

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaknya kamu bersama orang-orang yang benar”

 

Yang dimaksud dengan “orang-orang yang benar” dalam ayat di atas adalah Imam Ali as dan para pengikut beliau.

 

Silahkan rujuk:

1.Syawāhidut Tanzīl, karya Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1, hal. 259, hadis ke : 350, 351, 352, 353, 355, dan 356.

2.Kifāyatut Thālib, karya Al-Ganji Asy-syafi’i, hal. 236, cetakan Al-Haidariyah; hal. 111, cetakan Al-Ghira.

3.Tarjamah Al-Imam Ali bin Abi Thalib, dalam Tārīkh Dimasyq, karya Ibnu Asakir Asy-Syafi’i, juz 2, hal. 421, hadis ke 923.

4.Al-Manāqib,karya Al-Kharazmi, hal. 198.

5.Nizhām Duraris Simthain, hal. 91.

6.Fathul Qadīr, karya Asy-Syaukani, juz 2, hal. 414.

7.Ash-Shawā’iqul Muhriqah, karya Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal. 150, cetakan Al-Muhammadiyah; hal. 90, cetakan Al-Maimaniyah, Mesir.

8.Yanābī’ul Mawaddah, karya Al-Qundusi Al-Hanafi, hal. 136 dan 140, cetakan Al-Haidariyah; hal. 116 dan 119, cetakan Islambul.

9.Ad-Durrul Mantsūr, karya As-suyuthi, juz 3, hal. 390.

10.Al-Ghadīr,karya Al-Amini, juz 2, hal. 305.

11.Rūhul Ma’ānī, karya Al-Alusi juz 11, hal. 41.

12.Ghāyatul Marām, bab 42, hal. 248, cetakan Iran.

13.Farā`idus Simthain, karya Al-Hamwini, juz 1, hal. 314, hadis ke 250; hal. 370, hadis ke 299 dan 300.

 

By komunitasahlilbaitlombok Posted in Tafsir

Asbabun Nuzul Surah Al-Ahzāb : 33

Asbabun Nuzul Surah Al-Ahzāb : 33

Pensucian Ahlul Bayt as

“Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan segala jenis kekotoran darimu wahai Ahlul bayt dan mensucikanmu sesuci-sucinya.”

Berdasarkan riwayat dari Aisyah, Ummu Salamah, Abu Sa’id Al-Khudri dan Anas bin Malik, ayat ini turun hanya untuk lima orang, yaitu Rasulullah SAWW, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein as
Rasulullah SAWW bersabda seraya menunjuk kepada Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein as: “Ya Allah, mereka ini adalah Ahlul Baytku, maka peliharalah mereka dari keraguan dan sucikan mereka sesuci-sucinya.”

Banyak hadis lain yang searti dengan hadis tersebut.
Silahkan rujuk:
Shahih Muslim, kitab Fadhā`ius Shahābah, bab Fadhā`il Ahli Baytin Nabi SAWW, juz 2, hal. 368, cetakan Isa Al-Halabi; juz 15 hal. 194, Syarah An-Nawawi, cetakan Mesir.

Shahih Tirmidzi, juz 5, hal. 30, hadis ke 3258; hal. 328, hadis ke 3875, cetakan Darul Fikr.

Musnad Ahmad bin Hanbal, juz 5, hal. 25, cetakan Darul Ma’arif, Mesir.

dan masih banyak lagi…

By komunitasahlilbaitlombok Posted in Tafsir

DOA MOHON KESELAMATAN NABI KHIDIR AS

DOA FARAJ NABI KHIDIR AS.

دُعَاء الفرَج لِسَيِِّدِنَا الخِضِرْ عَلَيْة السَّلاَم

 

دُعَاء الفرَج لِسَيِِّدِنَا الخِضِرْ عَلَيْة السَّلاَم

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَّى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَاَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

اَللَّهُمَّ كَمَا لَطَفْتَ فِى عَظَمَتِكَ دُونَ اللُّطَفَاءِ، وَعَلوْتَ بِعَظَمَتِكَ عَلَى الْعُظَمَاءِ ، وَعَلِمْتَ مَاتَحْتَ أَرِضِكَ كَعِلْمِكَ بِمَا فَوْقَ عَرْشِكَ ، وَكَانَتْ وَسَاوسُ الصُدُورِ كَاْلعَلاَنِيَّةِ عِنْدَكَ ، وَعَلاَنِيَّةُ اْلقَوْلِ كَالسِّرِ فِى عِلْمِكَ ، وَانْقَادَ كُلُّ شَىْءٍ لِعَظَمَتِكَ ، وَخَضَعَ كُلُّ ذِى سُلْطَانٍ لسُلْطَانِكَ ، وَصَارَ أَمْرُ الدُّنْيَا والْأَخِرَةِ كُلُّه بِيَدِكَ، اِجْعَلْ لِى مِنْ كُلِّ هَمٍ أَصْبَحْتُ أَوْ أَمْسَيْتُ فِيهِ فَرَجًا وَمَخرجًا، اللَّهُمَّ إِنَّ عَفَوَكَ عَنْ ذُنُوبِى ، وَتَجَاوَزَكَ عَنْ خَطِيئَتىِ ، وَسِتْرَكَ عَلَى قَبِيحِ عَمَلِى ، أَطمِعْني أَنْ أَسْألَُكَ مَا لاَ أَسْتَوْجِبُهُ مِنْكَ مِمَّا قَصَّرْتُ فِيهِ ، أَدْعُوكَ اَمِنًا وَأَسْألُكَ مُسْتَأْنِسًا . وَإِنَّكَ الْمُحْسِنُ إِلَىَّ، ، وَأَنَا الْمُسِيئُ إلىَ نَفْسِى فِيِمَا بَيْنِى وَبَيْنِكَ ، تَتَوَدَدُ إِلىَّ بِنِعْمَتِكَ، وَأَتَبَغَّضُ إلَيْكَ بِالْمعَاصِى، وَلَكِنَّ الثَّقَةُ بِكَ حَمَلَتْنِى علَى الْجَرَاءَةِ عَلَيْكَ، فَعُدْ بِفَضْلِكَ وإحْسِانِكَ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الَّرَحِيم، وَصَلَى الله ُعَلَى سَيِدِنَا مُحَمَّدٍ وَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

Baca lebih lanjut

Doa Imam ‘Ali Zaenal ‘Abidin As Sajjad as, Untuk Orang Tua

Bismillahirahmanirrahim

Allahumma sholi ala muhammad wa ali muhammad

“Ayah” dan “Ibu” adalah kata paling indah yang terucap oleh bibir manusia,

dan panggilan yang paling menakjubkan adalah “Ayahku”…”Ibuku”

”Ayah”…”ibu”  adalah kata yang penuh dengan harapan dan cinta

Kata manis dan indah yang datang dari kedalaman lubuk hati

”Ayah” dan ”Ibu”  adalah segalanya

Mereka adalah penghibur kita dalam sedih…

Harapan dalam susah…

Dan sandaran tatkala lemah…

Baca lebih lanjut

Doa Imam Ali Zainal Abidin (sa), cucu Rasulullah saw, saat berpisah dengan bulan Ramadhan

Doa Imam Ali Zainal Abidin (sa), cucu Rasulullah saw, saat berpisah dengan bulan Ramadhan:

Bismillâhir Rahmânir Rahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Muhammad wa âli Muhammad

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Rasulullah dan keluarganya

Allâhumma yâ Mallâ yarghabu fil jazâ’
Ya Allah, wahai Dia yang tidak mengharapkan balasan
Wa yâ Mallâ yandamu ‘alal ‘athâ’
Wahai Dia yang tidak menyesali pemberian
Baca lebih lanjut

Do’a Al Faraj

بسم الله الرّ حمن الرّ حيم

الّلهمّ صلّ على محمّد وال محّمد

ِالهي عظم البلاء وبرح الخفاءُ

وانكشف الغطاء وانقطع الرجاءُ

وضاقت الارض ومنعت السّماءُ

وانت المستعان واليك المشتكى

وعليك المعوّل في الشّدّة والرّ خاءِ

اللّهمّ صلّ على محمّد وال محمّد

اولي الامراّلذين فرضت عليناطاعتهم

وعرّفتنا بذالك منزلتهم

ففرّج عنّابحقّهم فرجًاعاجلاًقريبًا

كلمح البصراوهواقرب

يامحمّد ياعلي ياعلي يامحمّد  {×3}

اكفياني فانّكما كافيان

وانصراني فانّكماناصران

يامولانا ياصاحب الزّمان

الغوث الغوث الغوث   {×3}

ادركني ادركني ادركني   {×3}

الساعة الساعة الساعة   {×3}

العجل العجل العجل   {×3}

ياارحم الرّاحمين

بحقّ محمّد وال محمّد

Aku Bangga Dikatakan Rafidhi

By: Vauza Tamma

Renungan Suluk Rajabiah BAMZAHAM VAUZA TOUR

BANGGA DISEBUT "RAFIDHI"

Kata "rafidhi" dan "rafidhah" dalam otak kaum wahabi dan nashibi selalu mengarah ke syiah. Mereka mengidentikkan rafidhi sebagai kafir dan rafidhah sebagai kufur. 

Kata tersebut berasal dari kata kerja "rafadha-yarfudhu-rafdhan" yang bermakna "menolak". 
Kata "rafidhi" merupakan ism fa'il darinya yang bermakna "orang yang menolak", sedangkan kata "rafidhah" yang menggunakan ta marbuthah karena kata "syi'ah" juga menggunakan ta marbuthah. Bagi mereka yang belajar nahu sharaf pasti memahami ini.

Kesimpulannya: Syiah Rafidhah adalah orang-orang yang menolak. 
Menolak apa? 
Kata mereka: Menolak kekhalifahan tiga khalifah pertama.

Tujuan saya menulis hal ini agar jangan sampai semakin banyak umat ini masuk dalam "proyek pembodohan umat" yang gencar dilakukan oleh kaum wahabi dan nashibi.

Pertanyaannya: Apakah hanya sebatas tolak menolak itu? 

Untuk lebih membuka wawasan kita, berikut ini saya kutip beberapa riwayat yang saya menukilnya dari kitab Al-Shirath Al-Mustaqim yang ditulis oleh Allamah Ali bin Yunus al-'Amili, jilid 3 halaman 76:

-Abu Bashir berkata kepada Imam Ja'far Shadiq as, "Sesungguhnya manusia menamakan kami rafidhah."
Imam Shadiq as berkata, "Demi Allah! Bukan mereka yang menamakan kalian dengan sebutan itu tapi Allah yang menamakan kalian dengan sebutan itu, karena sesungguhnya 70 orang terbaik dari Bani Israel beriman kepada Musa dan saudaranya [Harun] maka mereka menamakan mereka [70 orang itu] rafidhah. Lalu Allah mewahyukan kepada Musa 'tetapkanlah nama ini bagi mereka di dalam Taurat'. Kemudian Allah menyimpan nama ini untuk diberikan kepada kalian.
Wahai Abu Bashir! Manusia menolak [rafadha] kebaikan dan melakukan kejahatan, sedangkan kalian menolak kejahatan dan melakukan kebaikan."

-Sama'ah bin Mahran meriwayatkan bahwa Imam Shadiq as bertanya kepadanya, "Siapakah manusia yang paling jahat?" 
Aku [Sama'ah] menjawab, "Kami, karena mereka menyebut kami kafir dan rafidhah." 
Sama'ah meriwayatkan bahwa Imam Shadiq memandangku dan berkata, "Bagaimanakah apabila nanti kalian diarak menuju surga dan mereka digiring menuju neraka? Pada saat itu  mereka akan berkata: 
"Mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu [di dunia] kami anggap sebagai orang-orang jahat"
(Al-Quran, surah Shad ayat 62)

Jadi setelah ini, siapapun yang mau menyebut aku "rafidhi" atau "rafidhah" atau bahkan "kafir", silakan! karena aku bangga dengan sebutan-sebutan tersebut. 
Yang pasti, aku hanya ber-Wilayah kepada AhlulBait as dan menolak untuk ber-Wilayah kepada selain mereka!!!
BANGGA DISEBUT “RAFIDHI”

Kata “rafidhi” dan “rafidhah” dalam otak kaum wahabi dan nashibi selalu mengarah ke syiah. Mereka mengidentikkan rafidhi sebagai kafir dan rafidhah sebagai kufur.

Kata tersebut berasal dari kata kerja “rafadha-yarfudhu-rafdhan” yang bermakna “menolak”.
Kata “rafidhi” merupakan ism fa’il darinya yang bermakna “orang yang menolak”, sedangkan kata “rafidhah” yang menggunakan ta marbuthah karena kata “syi’ah” juga menggunakan ta marbuthah. Bagi mereka yang belajar nahu sharaf pasti memahami ini.
Baca lebih lanjut

20 Hadis Dari Imam Mahdi as

20 Hadis Dari Imam Mahdi as

Hadis 1

إن الله تعالى لم يخلق الخلق عبثا و لا أهملهم سدى بل خلقهم بقدرته و جعل لهم أسماعا و أبصارا و قلوبا و ألبابا ثم بعث إليهم النبيين (ع)  مُبَشِّرِينَ وَ مُنْذِرِينَ يأمرونهم بطاعته و ينهونهم عن معصيته و يعرفونهم ما جهلوه من أمر خالقهم و دينهم‏

 بحارالأنوار ج : 53 ص : 194

Imam Mahdi as bersabda:

Sesungguhnya Allah SWT tidak menciptkan mahluknya dengan sia-sia, dan mereka tidak dibiarkan begitu saja, akan tetapi Dia menciptakan mereka dengan kekuasaanNya, dan mereka dianugerahi telinga, mata, hati, dan akal pikiran, kemudian Allah mengutus kepada mereka para nabi untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan, mereka (para nabi) menyeru makhluk untuk taat kepdaNya dan mencegah mereka untuk bermaksiat, dan memberi tahu kepada mereka tentang hal-hal yang tidak mereka ketahui dari perintah tuhan mereka dan agama mereka.

Baca lebih lanjut