Cucu Rasulullah saww

Cucu Rasulullah saww
 
KELAHIRAN YANG DIBERKATI
Setahun selepas keputeraan Imam al-Hassan bin Ali bin AbuTalib â€کa.s. iaitu pada hari ketiga bulan Sya’aban tahun keempat hijrah telah datang khabar penuh gembira kepada Rasulullah s.’a.w dengan kelahiran cucundanya al-Hussayn putera Fatimah az-Zahra â€کa.s. Setأ©lah menerima berita itu lantas bersegeralah Rasulullah s.’aw menuju ke rumah Fatimah dan Ali as. Sesampainya junjungan s. ‘a.w. ke sana lantas bersabda kepأ،da Asma’ binti â€کAmis; Wahai Asma’ berikanlah cucundaku itu kepadaku, lalu Rasulullah s.’a.w. rnemangku al-Husayn as. dan diletakkan di atas hamparan putih dan dengan penuh kesukacitaan Rasulullah s. â€کa.w. mengucup bayi itu dan melaungkan azan ditelinga kanan bayi yang mulia dan iqamat ditelinga kirinya dengan penuh kesukacitaan Rasulullah s. â€کa.w. meletakkan bayi itu di atas pangkuanأ±ya lalu menangis sehingga Asma’ pun bertanya; Mengapa dikau menangis wahai Rasulullah? Sabda Rasulullah s. â€کa.w. Aku mأ¨nangis keraأ±an cucunda aku ini. Lantas Asma’ bertanya Inilah bayi yang dilahirkan kena pada masanya. Rasulullah s. â€کa.w. bersabdأ، lagi; Wahai Asma’! Cucundaku ini akan. dibunuh oleh satu kumpulan penderhaka selepas kewafatanku dan mereka itu tidak akan memperolehi syafa’atku. Rasulullah s. â€کa.w. menyambung lagi Wahai Asma’ janganlah berita ini disampaikan kepada puteriku Fatimah kerana ini merupakan satu peristiwa yang dijanjikan pada masa kelahirannya [Dirujuk dari kitab I’lam al-Wara bi I’lam al-Huda karangan at-Tibrasi, bab Keutamaan Imam Abu Abdullah al-Husayn cetakan tahun 1379, hlm. 217]

Baca lebih lanjut

Iklan

Bersama al-Husain Lanjutkan Missi Suci para Nabi

Bersama al-Husain Lanjutkan Missi Suci para Nabi

“Kematian ada dalam hidupmu yang ditaklukkan; dan kehidupan apa pada kematianmu yang menaklukkan (Ali bin Abi Thalib, kw).

Menurut Al-Qur’an, tugas para Nabi bukan hanya untuk mengajarkan ibadah dan doa. Missi mereka adalah “melepaskan mereka dari beban penderitaan mereka dan dari belenggu yang memasung kebebasan mereka” (QS 7: 157). Pada tahun-tahun pertama dakwahnya, Rasulullah SAW lebih banyak menyampaikan ktitik sosial ketimbang mengajarkan ibadat. Ia mengecam para tiran yang menyebabkan kesengsaraan rakyat, orang kaya yang mengabaikan derita orang miskin, dan orang besar yang merampas hak-hak orang kecil.

Baca lebih lanjut

Muharram: Benarkah Tahun Baru Muslimin ?

Muharram: Benarkah Tahun Baru Muslimin ?

(Oleh : Muhammad Anis Maulachela)

Sebentar lagi, InsyaAllah kita semua akan memasuki bulan Muharram. Sebagian besar kaum muslimin merayakannya sebagai awal Tahun Baru Muslim dengan penuh rasa suka, yang dibarengi dengan berbagai macam bentuk kegiatan. Apalagi didukung oleh riwayat yang bernuansa kebahagiaan, seperti selamatnya Nuh as dari banjir bandang, selamatnya kaum Musa as dari Fir’aun, dan sebagainya pada tanggal 10 Muharram (hari Asyura). Maka semakin lengkaplah kegembiraan bulan ini.

Baca lebih lanjut

Banjir Darah Hari Asyura

Banjir Darah Hari Asyura
 
Untuk sementara kalangan, hari Asyura saat itu adalah hari jihad, pengorbanan, dan perjuangan menegakkan kebenaran. Namun, untuk kalangan lain, hari itu adalah hari pesta darah, hari perang, dan hari penumpahan ambisi-ambisi duniawi. Akibatnya, terjadilah banjir darah para pahlawan Karbala yang terdiri anak keturunan Rasul dan para pecintanya.

Baca lebih lanjut

Malam Asyura

Malam Asyura

Malam ini adalah malam keterasingan Imam Husein as dan para sahabat serta keluarganya, karena mereka dikepung oleh pasukan Ibnu Marjânah dan Ibnu Sa’d yang memutus hubungan mereka dengan pihak luar; malam yang penuh dengan rintihan dan isakan tangis putra-putrinya yang masih kecil, karena mereka esok hari harus rela berpisah dari kekasih mereka.

Dalam kitab Iqbâl al-A’mâl, Sayid Ibnu Thâwûs ra menyebutkan beberapa doa dan shalat yang memiliki keutamaan tak terhingga untuk malam ini. Di antaranya:

Baca lebih lanjut

Imam Husain dan Air di Karbala

Imam Husain dan Air di Karbala

Oleh: DR. Asqar Furuqi

Imam Husein as sebagaimana kakek dan ayahnya tidak mempergunakan air sebagai senjata. Lebih dari itu, oleh beliau, air dipakai sebagai alat untuk menunjukkan wajah Islam yang sebenarnya dan bagaimana hubungan antar sesama muslim. Ketika Imam Husein as dan sahabat-sahabatnya ditemui oleh pasukan yang dipimpin oleh Hurr bin Riyahi, beliau memerintahkan pasukannya untuk memberikan air yang masih mereka miliki. Hal itu dilakukannya setelah melihat bagaimana pasukan Hurr begitu kehausan. Bahkan dalam sebuah riwayat disebutkan, Imam Husein as dengan tangannya sendiri memberi mereka minum.
Baca lebih lanjut

Nasib Musuh Imam Husein as: Ibnu Hauzah

Nasib Musuh Imam Husein as: Ibnu Hauzah

 

1. Ibnu Hauzah

 

Abdullah bin Hauzah Tamimi, anggota pasukan Umar bin Saat di Karbala yang suka menghina. Ia salah satu orang yang dikutuk langsung oleh Imam Husein as dalam peristiwa ini. Ia berasal dari kabilah Tamim. Sebagian buku sejarah menyebutnya Ibnu Hauzah dan yang lain menulis namanya Taimi.

Baca lebih lanjut

Nasib Musuh Imam Husein as: Asma Kharijah

Nasib Musuh Imam Husein as: Asma Kharijah

 

9. Asma Kharijah

 

Asma Kharijah merupakan bangsawan dan orang kaya Kufah serta tokoh dari kabilah Qais.

 

Sumber-sumber sejarah menyebutnya sebagai pribadi yang punya pengaruh dan pendukung Bani Umayah. Begitu getolnya ia mendukung Bani Umayah sehingga secara terang-terangan banyak orang yang menyebutnya Umawi al-Hawa, penyembah Umayah. Asma Kharijah memiliki posisi khusus di istana para khalifah yang sezaman dengannya. Bahkan ia termasuk orang dekat istana, pemberani dan orang Arab yang dermawan. Biasanya ia menjadi pelaksana wali kota dan sering mengintervensi peristiwa yang terjadi.

Baca lebih lanjut

Nasib Musuh Imam Husein as: Asad bin Malik

Nasib Musuh Imam Husein as: Asad bin Malik

 

8. Asad bin Malik

 

Asad bin Malik adalah manusia bejat dan pembunuh di Karbala. Ia termasuk orang-orang yang loyal Bani Umayah. Ada perbedaan dalam penukilan namanya. Ada yang menyebutnya Asid bin Malik dan ada juga yang menulis Asid bin Malik Hadhrami. Sebagian sejarawan seperti Ibnu Syahrasyub dalam al-Manaqib dan Sayid Mohsen Amin dalam A’yan al-Syiahberserta Qadhi an-Nu’man menyebut Asad bin Malik sebagai pembunuh Abdullah anak Muslim bin Aqil dengan dibantu oleh Amr bin Shabih Shaidawi. Dalam Ziarah Nahiyah Muqaddas Imam Mahdi af disebutkan:

Baca lebih lanjut

Nasib Musuh Imam Husein as: Arzaq bin Harits

Nasib Musuh Imam Husein as: Arzaq bin Harits

 

6. Arzaq bin Harits

 

Arzaq bin Harits merupakan seorang komandan dan pendukung Umar bin Saad di Karbala. Ada yang menyebut namanya adalah Arzaq bin Harb al-Shaidawi. Ia adalah orang yang mencegah kabilah Bani Asad membantu Imam Husein as.

Baca lebih lanjut

Nasib Musuh Imam Husein as: Akhnas bin Murtsad Hadhrami

Nasib Musuh Imam Husein as: Akhnas bin Murtsad Hadhrami

 

5. Akhnas bin Murtsad Hadhrami

 

Ia termasuk orang paling kejam dari laskar Umar bin Saad di Karbala. Di hari Asyura, Akhnas mengambil ammamah (sorban) Imam Husein as. Ia juga banyak melakukan kejahatan lainnya.

Baca lebih lanjut

Nasib Musuh Imam Husein as: Abul Janub Kufi

Nasib Musuh Imam Husein as: Abul Janub Kufi

 

 

2. Abul Janub Kufi

 

Abul Janub Kufi satu di antara anasir hina dan busuk Umar bin Saad yang menyerang Imam Husein as di Karbala. Namanya Abdurrahman Ju’fi dan bergelar Abul Janub, Abul Khanuq dan Abul Hatuf. Ia termasuk orang yang kuat dan kekar dan bertempat tinggal di Kufah.

Baca lebih lanjut

Nasib Musuh Imam Husein as: Abu Murhim Azdi

Nasib Musuh Imam Husein as: Abu Murhim Azdi

 

4. Abu Murhim Azdi

 

Abu Murhim Azdi adalah bagian dari pasukan Umar bin Saad dan pembunuh Muhammad putra Muslim bin Aqil.

 

Ibu Muhammad adalah seorang budak dan ayahnya Muslim bin Aqil. Muslim diutus Imam Husein as ke Kufah sebelum kebangkitan Karbala. Ia menyakiskan ketidaksetiaan orang-orang Kufah kemudian tertangkap dan mencapai syahadah.

Baca lebih lanjut

Nasib Musuh Imam Husein as: Abu Harb Sabii

Nasib Musuh Imam Husein as: Abu Harb Sabii

 

Abu Harb Sabi’i

 

Ia merupakan pasukan penunggang kuda laskar Umar bin Saad. Dalam sejumlah buku maqtal namanya disebut Abdullah bin Syahr, Abdullah bin Samir, Ubaidullah bin Syamir, dan Abdullah bin Sakhir. Tapi ia dikenal sebagai orang yang fasik, asal ngomong, suka bercanda dan pemberani.

Baca lebih lanjut

Para Ksatria Karbala

Para Ksatria Karbala

Sejarah bak cermin yang mengisahkan kembali pelbagai peristiwa baik pahit maupun manis
bagi manusia. Di antara peristiwa sejarah Islam, kejadian Karbala memiliki ciri khas tersendiri.
Kebangkitan Imam Husein as dikenal sebagai simbol pertempuran antara hak dan batil dan
pengorbanan di jalan agama.

Baca lebih lanjut

Sejarah Singkat Majelis Ratapan al Husain

Sejarah Singkat Majelis Ratapan al Husain

Kisah Karbala merupakan peristiwa terbesar dan paling tragis yang senantiasa hidup dan selalu
dikenang dengan air mata tangisan, walau telah berlalu sepanjang empat belas abad.
Majelis ratapan atas kesyahidan Imam Husain as pertama kali diadakan oleh Ahlul Bait pada
tanggal sebelas bulan Muharram 61 HQ, di sisi jasad para syahid Karbala.
Ketika konvoi tawanan memasuki kota Kufah, Imam Ali Zainal Abidin, Sayidah Zainab dan
Ummu Kulsum menyampaikan pidato di hadapan masyarakat kota tersebut yang datang untuk
menyaksikan penderitaan mereka. Di sela-sela pidato tersebut terdengar suara tangisan dan
ratapan dari dalam rumah masyarakat, yang tak lain adalah majelis ratapan atas kemazluman
para syahid dan kezaliman Bani Umayah.

Baca lebih lanjut

Ziarah ‘Ayura’

بسم الله الرحمن الرحيم

أللهم صل على محمد وآل محد

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا اَبا عَبْدِاللهِ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا بْنَ رَسُولِ اللهِ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا بْنَ اَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ وَابْنَ سَيِّدِ الْوَصِيِّينَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا بْنَ فَاطِمَةَ سَيِّدَةِ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا ثَارَ اللهِ وَابْنَ ثَارِهِ وَالْوِتْرَ الْمَوْتُورَ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ وَعَلَى اْلاَرْوَاحِ الَّتِي حَلَّتْ بِفِنَائِكَ عَلَيْكُمْ مِنِّي جَمِيعًا سَلاَمُ اللهِ اَبَداً مَا بَقيتُ وَبَقِىَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ.

Assalâmu ‘alayka yâ Abâ ‘Abdillâh

Assalâmu ‘alayka yabna Rasûlillâh

Assalâmu ‘alayka yabna amîril mu’minîn

Assalâmu ‘alayka yabna Fâthimah Sayyidati niâil ‘âlamîn

Assalâmu ‘alayka yâ Tsârallâh wabna tsârih wal-witral mawtûr

Assalâmu ‘alayka wa ‘alal arwâhil latî hallat bifinâik, ‘alaykum minnî jamî’an salâmullâhi Abadan mâ baqîtu wa baqiyal laylu wan-nahâr.

  Baca lebih lanjut