Mama-Mama Yang Enggak Suka Marah

By: Dina Y. Sulaeman

Ada satu kalimat salah kaprah yang kadang saya ucapkan kalau saya sudah spanneng, ke anak-anak: “Coba tanyain ke temen-temenmu.. ada enggak mama-mama yang nggak suka ngomel kalau anaknya nggak nurut..?”

Waduh..secara logika dan ilmu parenting ini jelas kalimat yang salah banget… Pertama, kalau saja semua mama di dunia suka marah, apa itu artinya perbuatan marah ke anak bisa dibenarkan? Kesalahan yang diperbuat mayoritas orang tidak bisa membuat kesalahan itu jadi kebenaran. Kedua, mengapa mama-mama harus marah kalau anaknya nggak nurut? Mama mau mendidik anak penurut (dan kelak jadi manusia ‘yes bos’ melulu) atau anak kritis sih?

Lalu pagi ini saya membaca artikel yang bener-bener gue bangeeeet… Tulisan yang sangat bagus dari mba Ellen Kristi. Selengkapnya silahkan baca di sini, tapi saya akan copas -dan adaptasi- bagian yang sangat perlu saya praktekkan mulai hari ini.. (hwaaa..sebenarnya ini pun sudah berkali-kali saya formulasikan di blog ini, tapi kita pun musti memaafkan diri sendiri, namanya manusia memang gampang lupa, jadi yang perlu dilakukan adalah terus-menerus menambah ilmu dan mencari ‘pengingat’ /sesuatu atau seseorang yang mengingatkan kita pada tekad-tekad baik yang pernah kita canangkan):

Langkah yang perlu saya lakukan supaya jadi Mama yang konsentrasi penuh ke anak-anak, dan tidak gampang emosi lagi (eeh…sbnrnya saya juga ga suka marah-marah sih..udah tobat.. tapi masih sering kesel…dan cemberut… dan ngomel… yeeee.. 11-12 kali yee…):
Pertama, meditasi dan refleksi. Setiap pagi dan petang, pada waktu teduh, akan saya sisihkan waktu untuk merenungkan apa sebetulnya yang paling bermakna dalam hidup ini, dan apa yang perlu saya lepas demi memperoleh yang paling bermakna itu. Jika anak-anak ada di urutas atas daftar prioritas hidup saya, maka yang lain musti ditempatkan sesuai porsinya.

Kedua, asupan ide. Momentum perubahan musti dipelihara. Saat ini secara rutin saya membaca tulisan-tulisan inspiratif yang membantu saya untuk terus ingat pada komitmen saya ini.

Ketiga, selektif pada komitmen baru. Banyak hal baik yang bisa kita kerjakan, namun bukan berarti semuanya perlu kita kerjakan sekaligus saat ini. Ke depan, saya akan berpikir baik-baik sebelum mengiyakan suatu permintaan atau tugas, dan hanya menerima apa yang betul-betul selaras dengan prioritas hidup saya.

Keempat, anak dulu baru komputer (dan semua hal lain yang bisa ditunda). Saya tidak punya BB atau smartphone, tapi saya tetap kecanduan facebook dan internet, dan saya sering lebih mementingkan mengetik menghadap layar ketimbang menemani anak. Sudah agak lama saya menyimpulkan bahwa “facebook and kids are not friends” – gadget dan apps mudah sekali merebut perhatian kita dari anak. “Tunggu” dan “sebentar lagi” adalah alasan yang selalu kita berikan setiap kali ia meminta giliran diperhatikan. Maka di hari-hari mendatang, saya akan matikan selalu laptop ketika anak-anak masuk ke ruang kerja saya. Mari kita lihat seperti apa jadinya.

Kelima, kontak mata dan perhatian otentik. Saat anak mendekati saya, saya ingin menyapanya dengan sepenuh hati dan menatap ke dalam matanya. Ketika anak berseru, “Mama, lihat aku!” saya ingin berhenti dari apa pun yang sedang saya kerjakan, mengalihkan perhatian padanya, duduk dan menonton seluruh aksinya dari awal sampai akhir, bahkan kalau perlu memvideokannya. Seperti saran Rachel, saya ingin menangkap momen sekali seumur hidup itu dan menyimpannya sebagai kenangan manis setelah saya tua dan beruban nanti.

Keenam, merekam dalam jurnal. Saya tidak tahu peristiwa-peristiwa apa yang akan muncul selama menjalani tantangan ini. Saya akan mencatat, mempelajari, menangis dan tertawa ketika kelak membacanya lagi.

Ketujuh [ini dari saya -Dina-]: ingat-ingat terus QS Thaha 43-44.. bahwa Allah menyuruh Musa dan Harun datang ke Firaun dan memperingatkannya dengan lemah-lembut… Aih, ke Firaun aja musti lemah-lembut,masak ke anak-anak ngomel melulu…???

Kita bisa memaksakan diri tersenyum manis di depan orang lain, betapapun mereka bikin kita kesel, tapi mengapa stok senyum itu malah tidak dipakai di hadapan anak-anak kita? Seperti kata mbak Ellen: Tidakkah itu cara pikir yang terbalik? Bukankah anak-anak kita adalah audiens yang paling berarti dan paling kita sayangi?

Ayo semangat…no more ngomel!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s