Melirik Sanggahan-sanggahan terhadap Mahdisme

Melirik Sanggahan-sanggahan terhadap Mahdisme

Pertama: mengetahui sanggahan dan isykalan yang ditujukan kepada Mahdawiyah, menjawab, dan bergelut dengan masalah seperti ini, termasuk sebuah dimensi penting pendidikan inthidar.

Jika memang Mahdisme merupakan poros dan dasar pendidikan person dan social, dan memang begitu adanya, maka mengenal isykalan dan sanggahan terhadap mujud mahdawiyah, adalah salah satu hal sangat penting yang harus dipahami dan dipahamkan secara mendalam.

Tanpa diragukan lagi, pendirian sebuah yayasan, lembaga, atau apa saja yang berkenaan dengan pengenalan terhadap sanggahan-sanggahan mahdawiyah proses jawabannya tak ayal lagi merupakan sebuah kelaziman.

Jika kita ingin membahas hal ini secara detail dan terperinci, terpaksa kita harus membahasnya dari pelbagai segi dan sisi. Sanggahan-sanggahan itu harus diklasifikasikan dan dipilah-pilah, dan poros dari semua sanggahan yang berkembang dan muncul di tengah-tengah masyarakat harus kita teliti lebih seksama, dan minimal jawaban atas sanggahan yang paling pokok tersebut kita paparkan walaupun secara global. Oleh karena itu dalam kesempatan ini kita akan membahas tentang urgensitas pengecekan  sanggahan-sanggahan terhadap mahdawiyah (mehdisme)

Bagaimana Mungkin Beliau Hidup Sampai Saat Ini

Sebelumnya, dapat kita katakan kalau diskusi dan perdebatan tentang topik umur panjang yang dialami oleh Imam Mahdi as, bukanlah diskusi dan perdebatan yang memiliki signifikasi dan urgensitas, malah bisa dibilang diskusi tentang hal tersebut sebagai salah satu bentuk penentangan dan kekeras kepalaan, argumen yang dapat kita ajukan adalah, tiada seorangpun yang menganggap aneh dan memperdebatkan panjangnya umur para Malaikat, umur Iblis atau umur Khidir as yang setelah meminum air kehidupan yang membuatnya kekal dan hidup semenjak zaman nabi Musa as sampai sekarang.

Oleh karena itu, sebuah renungan bagi kita semua, kenapa pertanyaan ini harus muncul? Apakah kerena kebencian mereka terhadap keluarga nabi saw? Ataukah mereka masih meragukan kekuasaan Allah SWT? Lalu, bernilaikah sebuah keraguan yang muncul dan berlandaskan kedunguan dan kekeras kepalaan?

Sesungguhnya panjangnya umur imam Mahdi as adalah sebuah fakta yang tak dapat terbantahkan dan diragukan lagi, dan segala syubhah tentang hal ini tidak bernilai sama sekali, karena keraguan tentangnya seperti keraguan akan potensi membakar yang dimiliki api, atau hal tersebut sudah gamblang dan jelas sekali, sejelas mentari di siang bolong.

Setelah mukadimah di atas, mari kita melihat persfektif Al-Quran mengenai panjang umur seorang anak manusia, juga bagaimana topik ini dipandang dengan kaca mata teologis dan sain moderen.

Panjang Umur dalam Persefektif Al-Quran

Jika kita meminta “komentar” Al-Quran berkenaan dengan masalah umur panjang seorang anak manusia, maka kita akan mendapatkan beberapa contoh dari pribadi-pribadi yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT untuk menghirup udara kehidupan berabad-abad lamanya, yang dengan demikian panjangnya umur imam Mahdi as adalah hal biasa, bahkan bisa jadi umur panjang manusia adalah hal yang biasa yang tak perlu ditanyakan dan diragukan kembali.

Berikut ini contoh-contoh dari Al-Quran:

Allah SWT berfirman:” Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh as kepada kaumnya, dia berada di tengah-tengah mereka selama 950 tahun kemudian Kami siksa mereka dengan topan (banjir) sedang mereka dalam keadaan zalim. (QS: Ankabut, ayat 14). Ayat di atas menjelaskan kepada kita, bahwa masa yang dihabiskan Nuh as saat menyeru umatnya adalah selama 950 tahun, lalu berapa usia beliau saat dilantik sebagai seorang nabi? Juga berapa sisa usia beliau pasca banjir bandang itu?

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Imam Shadiq as disebutkan: nabi Nuh as hidup selama 2300 tahun, dengan perincian 850 tahun usia beliau sebelum diutus sebagai seorang nabi, 950 tahun masa dakwah beliau, lalu 500 tahun lagi sisa umur beliau pasca banjir… [1]

Dalam riwayat lain juga disebutkan, bahwa nabi Nuh as hidup selama 2500 tahun. Alhasil,  kita sepakat kalau beliau hidup berabad-abad lamanya berkat takdir dan kuasa Allah SWT. Imam Zainal Abidin as bersabda:” ada satu sunnah Nuh as yang dijalankan oleh Imam Mahdi as, yaitu berupa panjang umur”. [2]

Manifestasi dan perwujudan kuasa ilahi dalam topik ini –panjang umur-, lebih dapat kita rasakan dan pahami melalui cerita nabi Yunus as, Al-Quran menyatakan:” Dia (Yunus) telah ditelan oleh sebuah Ikan dan dia dalam keadaan …” dhahir ayat tersebut menyatakan bahwa andai Yunus as bukan termasuk pribadi yang gemar bertasbih, niscaya dia akan mendekam di dalam perut ikan sampai hari kiamat menjelang.

Adapun pendapat sebagian para ahli tafsir yang mengatakan bahwa perut ikan itu merupakan kuburan baginya atau ungkapan mereka bahwa nabi Yunus as telah mati dan jasadnya akan kekal di dalamnya hingga kiamat tiba, adalah ungkapan dan penafsiran yang tidak dapat dibenarkan, karena bertentangan dengan dhahir ayat. Sebagaimana dikatakan oleh Zamkhsyari dalam kitab Kasyafnya, juga oleh Baidhawi.

Mungkin arti dari ayat tersebut adalah, sesungguhnya Yunus as tetap hidup dan terperangkap dalam perut ikan – tentunya ikan juga tetap hidup – sampai hari kiamat.

Maka, dapat ditarik kesimpulan dari ayat tersebut bahwa Allah SWT itu Maha Kuasa dan mampu menjaga manusia dari kematian di tempat yang tiada bahan makanan, udara dan oksigen sekalipun, bahkan tanpa sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang manusia di tempat biasa untuk menyambung kehidupannya, malahan dalam kasus ini, Allah SWT akan menjaganya dari lumatan dan kunyahan ikan dan tetap menjaganya untuk tidak melebur dan menjadi salah satu organ tubuhnya ikan sampai berjuta-juta abad lamanya.


[1] Kamaludin , Syekh Shaduq, juz 2, hal 523.

[2] Kamaludin , Syekh Shaduq, juz 1, hal 322 dan 324.

Umur Panjang dari Sisi Teologis

Jika kita melihat topik umur panjang ini melalui kaca mata teologi, maka kita akan mendapati bahwa hal ini adalah hal yang biasa sekali, karena setiap orang mukmin akan menyakini kalau ajal manusia di tangan Allah SWT, artinya Dialah yang menentukan ajal dari setiap sesuatu yang bernafas dan yang memiliki kehidupan, Dia mampu memanjangkan umur seseorang, sebagimana Ia juga Kuasa untuk memendekkannya. Jika Allah SWT telah berkehendak untuk memanjangkan umur seseorang, maka secara pasti Dia akan menyiapkan segala persyaratan- persyaratan dan hal-hal yang membuatnya panjang umur, baik dari sisi alamiyah maupun non alamiyah secara bersamaan, sebagaimana terdapat beberapa sarana dan faktor untuk memeprcepat umur, di sana juga terdapat sarana untuk memanjangkan umur, dan kedua sarana tersebut bagi Allah SWT sama saja tidak ada yang sulit atau tidak ada yang lebih mudah.

Untuk penjelasan lebih lanjut, dapat dikatakan: dari sisi alamiyah (natural) setelah kematian, jasad dan tubuh manusia pada akhirnya akan hancur dan musnah, akan tercerai berai,  akan tetapi di negeri Mesir, kita melihat berpuluh-puluh jasad manusia yang dimumikan dari zaman Fir’aun sampai sekarang, beribu-ribu tahun jasad itu tetap menyatu tidak hancur dan tidak terpisah dari satu dengan yang lain, hal ini tidak dibilang hal yang luar biasa, namun hal ini adalah peristiwa dan proses alamiyah yang menentang proses alamiyah lainnya, dengan kata lain pemumian mencegah kehancuran organ tubuh.

Lebih dari mumi tadi, kita lebih diherankan oleh jasad-jasad para hamba-hamba Allah SWT yang selama bertahun-tahun dikuburkan, tapi ternyata jasad-jasad tersebut masih segar dan tanpa perubahan sama sekali. Sebagaimana kita mendengar bahwa jasad Syekh Shaduq saat perenovasian makamnya, tubuh beliau terbongkar, namun tubuh yang sudah terpendam selama kurang lebih 900 tahun itu tetap segar layaknya seorang mayit yang masih belum dingin.[1]   Baru-baru ini, di Bagdad, saat orang-orang ingin memindahkan makam seorang sahabat nabi Khudaifah Yamani dari tepi sungai Dajlah ke samping makam sahabat setia rasul yang lain Salman Al-Farisi di kota Madain, kuburan itu terbongkar dan tampaklah jasad beliau, saat itu jasad beliau layaknya seseorang yang baru meninggal hari itu, tanpa perubahan sedikitpun, padahal beliau wafat pada tahun 36 hijriyah, dan kita yakin beliau tidak dimumikan. Namun satu hal yang pasti, jasad beliau terlihat segar bugar sampai sekarang berkat izin dan restu dari Allah SWT.

Dan yang masyhur diantara orang-orang mukmin adalah barangsiapa rajin mandi di hari jumat, maka jasadnya tidak akan hancur dan tercerai berai.

Dengan demikian, bisa jadi Imam Mahdi as, dalam kehidupannya, sangat memperhatikan kesehatan, beliau menggunakan hal yang sarat guna dan manfaat dan menjauhi hal-hal yang berbahaya, sehingga beliau hidup sehat dan terbebas dari segala penyakit dan virus, organ tunbuh beliau bekerja dengan semestinya tanpa gangguan, yang dengan demikian masa tua, lemas, lesu, dan… tidak pernah berkunjung, selalu segar, bugar dan penuh energik, semua itu berkat potensi dan kekuatan jasmani yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada beliau as.

Kongklusi dari apa yang kita jelaskan tadi adalah Allah SWT adalah penjaga Imam mahdi as, Dialah yang menjaga beliau dari gilingan roda zaman dan waktu, Dia pula yang memanjangkan umur beliau dan yang menjaga jasmani beliau dari berbagai penyakit.


[1] Cerita ini dapat dilihat di: Tanqihul Maqal, karya Mamqani, Qishashul Ulama, karya Tankabini dan Khunsari dalam bukunya Raudhatul Jannat.

Umur Panjang Ditinjau Dari Ilmu Pengetahuan Dan Sain Moderen

Sebelum kita memasuki inti pembahasan alangkah baiknya jika kita utarakan mukadimah berikut ini. Salah satu yang patut disayangkan adalah sebagian dari generasi muda pelanjut Islam, merasa puas dan menikmati apa yang didoktrinkan oleh barat dan musuh Islam, mereka menerima semuanya dengan penuh percaya diri dan rasa bangga, walau hal tersebut keluar dari jangkauan akal sehat sekalipun dan anehnya lagi mereka ikut-ikutan meragukan hal-hal non-materi.

Hal ini jelas menunjukan impreliasasi baru yang diterima oleh dunia Islam berupa penjajahan pemikiran dan budaya. Dan akan melenyapkan keyakinan dan iman dari hati para generasi muda.

Imprealisasi baru telah menghantam para gemerasi muda Islam dan mendorong mereka kepada pemikiran materailistik dan penolakan terhadap non-materi.

Jika seorang Mr atau seorang professor menulis sebuah buku, jika seorang filsuf berargumentasi, jika seorang ahli Jerman, peniliti Prancis, ilmuwan Amerika menganalisa, atau dosen di universitas ini dan itu berkomentar, jika penulis yahudi atau kristiani dan lain-lain berpendapat, mereka dengan penuh decak kagum dan tanpa pikir panjang menerimanya dengan lapang dada, layaknya sebuah wahyu yang turun yang tak dapat salah sedikitpun.

Namun jika mereka mendengar bahwa Allah SWT berfirman, Rasul saw bersabda, Ali as berkata, atau kita menyebut sebuah mukjizat atau keutamaan salah satu imam, dengan berat hati mereka terima atau bahkan tak jarang mereka yang mencari-cari alasan yang ujung-ujungnya adalah menolak dan mengingkari kebenaran ucapan dan perkataan tersebut.

Bukankah Rasul saw adalah seorang yang pintar, bijak, filsuf, penuh eksperimen dan selalu berhubungan dengan wahyu dan berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta Yang Maha Tahu.?

Jika kita katakan usia Imam Mahdi as  melebihi 1200 tahun, mereka sepontan bertanya; bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Namun, jika pendapat tersebut dilontarkan oleh  seseorang yang memiliki embel-embel barat, profesor, dosen atau yang lainnya, dan mengatakan bahwa seorang manusia dengan menjaga makanan dan kesehatan mampu hidup beribu-ribu tahun lamanya, maka mereka akan langsung menganggukkan kepala sebagai tanda percaya dan takjub akan eksperimernnya.

Jika kita menyebut ucapan atau pendapat Darwin, Freud  dan Einstin yang semuanya berdarah yahudi dan ilmuwan-ilmuwan lain yang mengingkari Sang Pencipta dan menolak segala macam bentuk agama, kita melihat para generasi muda kita menerima dan menganggapnya sebagai semuah fakta yang tak terbantahkan lagi.

Oleh karena itu, kerap kali kita lihat para penulis kita terpaksa berargumentasikan pendapat para ilmuwan di atas demi untuk memuaskan pemuda dan generasi semacam ini, yang disayangkan jumlah mereka tidak sedikit.

******Kita kembali kepada inti pembahasa kita, mengenai umur panjang Imam Mahdi as: sesungguhnya umur panjang termasuk permasalahan yang belum dan tidak memiliki batasan yang jelas. Jika ada seseorang yang hidup beratus-ratus tahun atau beribu-ribu tahun, maka itu bukan berarti batas maksimal umur manusia adalah sampai di situ. Karena menurut inovasi dan riset terakhir umur manusia tidak dapat ditentukan.

Di dalam majalah Al-muqtathaf yang terbit di Mesir, di halaman 239 disebutkan: …akan tetapi para ilmuwan yang dapat dipercaya berkata : sesungguhnya sistem organ tubuh seekor hewan bisa bertahan dan kekal, dan bisa jadi manusia bertahan hidup beribu-ribu tahun lamanya, andai tidak ada peristiwa-peristiwa dan insiden yang memutus kehidupannya.

Di halaman 240 pada majalah dan edisi tersebut juga dikatakan : apa yang disepakati dari berbagai eksperimen yang ada adalah manusia tidak akan mati karena telah menginjak usia 80 tahun atau 100 tahun, akan tetapi kematian manusia itu disebabkan oleh seseuatu yang mencegah fungsi dan peran masing-masing organ tubuh, dan interaksi antara organ satu dengan yang lain, jika sain dan ilmu pengetahuan mampu menghilangkan gangguan tersebut maka kita akan menyaksikan manusia akan mampu hidup beratus-ratus tahun lamanya.

Kita juga belum mendengar ada sebuah buku, sebuah pernyataan dari seorang dokter atau  filsuf  yang menentukan batas akhir usia manusia serta mengatakan bahwa kehidupan manusia tidak akan melebihi usia tertentu atau mustahil manusia mampu hidup seribu tahun.

Akan tetapi yang kita dapati akhir-akhir ini adalah medis moderen berupaya mendapatkan obat dan trapi untuk hidup abadi, awet muda, dan menjaga kebugaran sel-sel tubuh.

Memang, umur panjang di zaman kita sekarang sangat jarang terjadi, mengingat usia pendek yang dialami oleh orang pada zaman ini, akan tetapi perlu dicamkan bahwa jika ada sesuatu yang jarang terjadi, bukan berarti hal itu mustahil untuk terjadi. Sebagaimana, di masa-masa yang lalu kita melihat manusia membutuhkan waktu sebulan untuk menempuh rute 1000 kilo meter namun sekarang dengan adanya pesawat terbang manusia memerlukan waktu tak kurang dari 1 jam untuk menempuhnya. Jika seseorang dari masa ini mengabarkan orang pra sejarah misalnya dan mengatakan bahwa jarak sejauh itu dapat ditempuh dengan waktu 1 jam, niscaya mereka tidak akan membenarkan ucapan orang tersebut karena jarang dan tidak biasa.

Sesungguhnya manusia –di era ini- mengenal sesuatu melalui kebiasaan yang telah dan sedang berlangsung, bukan berdasarkan ushul ilmiyah, bahkan mereka-mereka yang mengenal ushul ilmiyah sekalipun tidak mengklaim diri telah mengetahui segala sebab dan cikal bakal segala sesuatu, bahkan mereka mengatakan kalau dirinya masih di awal perjalanan dan mengakui kalau ushul ilmiyah itu lebih banyak yang masih terselubung ketimbang yang telah disingkap oleh para ilmuwan.

Dengan demikian banyak rumus-rumus ilmiyah yang masih terselubung dan belum disingkap oleh manusia, manusia hanya mampu memahami hal-hal yang dhahir tanpa mengetahui sebab musababnya, segala sesuatu memiliki sebab dan ilalat, dan sebab tersebut memiliki sebab lain dan begitu seterusnya, mereka tidak akan mampu mengatahui sebab utama; kecuali manusia hanya dapat berkata; itu adalah kuasa tuhan Yang Maha Kuasa.

http://www.imamalmahdi.com/html/ind/html/sang/index.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s