Mengkaji Syiah dari Kitab Sunni (Seri 11-20)

11. Kekeliruan Ibnu Jauzi Terhadap Hadis Tsaqalain

Oleh: J. al-Gar (secondprince)

Di dalam kitabnya yang berjudul Al-’llal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah Ibnu al-Jauzi mendhaifkan hadits Ats Tsaqalain. Ibnul Jauzi mengatakan,

“Hadis ini tidak sahih. Adapun ‘Athiyyah telah didhaifkan oleh Ahmad, Yahya dan selain dari mereka berdua. Adapun tentang Abdullah al-Quddus, Yahya telah mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan dia itu seorang rafidhi yang jahat”.

Hadis yang dimaksud salah satunya adalah riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III hal 59 sebagai berikut

Riwayat dari Abdullah dari ayahnya dari Ibnu Namir dari Abdul Malik Ibnu Sulaiman dari Athiyah dari Abu Sa’id al Khudri ra,ia berkata,’Rasulullah SAW bersabda”Sesungguhnya Aku meninggalkan bagimu sesuatu yang jika kamu berpedoman dengannya,maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya setelahKu yaitu dua hal yang salah satunya lebih besar dari yang lain;Kitabullah,tali panjang yang terentang dari langit ke bumi,dan Ahlul BaitKu.Ketahuilah bahwa keduanya itu tidak akan berpisah hingga datang ke telaga(hari kiamat).”

Tanggapan Untuk Ibnul Jauzi

Hadis Tsaqalain memiliki banyak sanad dalam kitab-kitab hadis selain riwayat Athiyyah dari Abu Said, dan terdapat sanad yang shahih yang menguatkan sanad Athiyyah dari Abu Said ini. Mengenai Athiyyah bin Sa’ad bin Junadah al ‘Awfi yang dinyatakan dhaif oleh Ahmad menurut Ibnul Jauzi, sebelumnya akan dikutip pernyataan Taqiyuddin As Subki dalam Syifâ al-Asqâm, jld. 10 hal. 11 tentang perawi-perawi Ahmad bin Hanbal

“Ahmad(semoga Allah merahmatinya) tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya (ats-tsiqah). Ibnu Taimiyyah telah berterus terang tentang hal itu di dalam kitab yang dikarangnya untuk menjawab al-Bakri, setelah sepuluh kitab lainnya. Ibnu Taimiyyah berkata, ‘Sesungguhnya para ulama hadis yang mempercayai ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil ada dua kelompok. Sebagian dari mereka tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya dalam pandangan mereka, seperti Malik, Ahmad bin Hanbal dan lainnya.”.

Dan sudah jelas bahwa Athiyyah adalah perawi dalam Musnad Ahmad, dan dari sini sebenarnya dapat diambil kesimpulan bahwa Athiyyah adalah tsiqah menurut Ahmad bin Hanbal. Tetapi dalam Tahdzib at Tahzib dan Mizan Al ‘Itidal, ketika membicarakan Athiyyah dan riwayatnya dari Abu Said, Ahmad menyatakan bahwa hadis Athiyyah itu dhaif, beliau berkata

“Sampai kepadaku berita bahwa Athiyyah belajar tafsir kepada Al Kalbi dan memberikan julukan Abu said kepadanya .Agar dianggap Abu said Al Khudri.”

Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Ibnu Hibban

“Athiyyah mendengar beberapa hadis dari Abu said Al Khudri. Setelah Al Khudri ra meninggal, ia belajar hadis dari Al Kalbi. Dan ketika Al Kalbi berkata Rasulullah SAW bersabda ‘demikian demikian’maka Athiyyah menghafalkan dan meriwayatkan hadis itu dengan menyebut Al Kalbi sebagai Abu Said. Oleh sebab itu jika Athiyyah ditanya siapakah yang menyampaikan hadis kepadamu? maka Athiyyah menjawab Abu Said. Mendengar jawaban ini orang banyak mengira yang dimaksudkannya adalah Abu Said Al Khudri ra, padahal sebenarnya Al Kalbi” .

Jadi dalam hal ini kritik Ibnul Jauzi bahwa Athiyyah dinyatakan dhaif oleh Ahmad adalah merujuk pada riwayat Athiyyah dari Abu Said.

Kemudian pernyataan Ibnul Jauzi bahwa Athiyyah dinyatakan dhaif oleh Yahya bin Main adalah tidak benar. Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 7 hal 220 Al-Hafidz Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi Athiyyah, “Ad-Dawri telah berkata dari Ibnu Mu’in bahwa ‘Athiyyah adalah seorang yang saleh.” Selain itu dalam Mizan Al ‘Itidal ketika Yahya bin Main ditanya tentang hadis Athiyyah, ia menjawab “Bagus”.

Pernyataan selanjutnya Ibnul Jauzi bahwa Athiyyah dinyatakan dhaif oleh selain mereka berdua, dapat dilihat dalam Mizan Al ‘Itidal jilid 3 hal 79. Menurut Adz Dzahabi Athiyyah adalah seorang tabiin yang dikenal dhaif, Abu Hatim berkata hadisnya dhaif tapi bisa didaftar atau ditulis, An Nasai juga menyatakan Athiyyah termasuk kelompok orang yang dhaif, Abu Zara’ah juga memandangnya lemah. Menurut Abu Dawud Athiyyah tidak bisa dijadikan sandaran atau pegangan. Menurut Al Saji hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah, Ia mengutamakan Ali ra dari semua sahabat Nabi yang lain. Salim Al Muradi menyatakan bahwa Athiyyah adalah seorang syiah. Abu Ahmad bin Adi berkata walaupun ia dhaif tetapi hadisnya dapat ditulis. Kebanyakan ulama memang memandang Athiyyah dhaif tetapi Ibnu Saad memandang Athiyyah tsiqat, dan berkata insya Allah ia mempunyai banyak hadis yang baik, sebagian orang tidak memandang hadisnya sebagai hujjah.

Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 2 hal 226 Ibnu Hajar Al’Asqalani telah berkata,

“Ibnu Sa’ad telah berkata, “Athiyyah pergi bersama Ibnu al- Asy’ats, lalu Hajjaj menulis surat kepada Muhammad bin Qasim untuk memerintahkan ‘Athiyyah agar mencaci maki Ali, dan jika dia tidak melakukannya maka cambuklah dia sebanyak empat ratus kali dan cukurlah janggutnya. Muhammad bin Qasim pun memanggilnya, namun ‘Athiyyah tidak mau mencaci maki Ali, maka dijatuhkanlah ketetapan Hajaj kepadanya. Kemudian ‘Athiyyah pergi ke Khurasan, dan dia terus tinggal di sana hingga Umar bin Hubairah memerintah Irak. ‘Athiyyah tetap terus tinggal di Khurasan hingga meninggal pada tahun seratus sepuluh hijrah. Insya Allah, dia seorang yang dapat dipercaya, dan dia mempunyai hadis-hadis yang layak.”

Jadi terdapat cukup banyak ulama yang menyatakan Athiyyah adalah dhaif, jarh ini kemungkinan disebabkan sikap tadlis Athiyyah seperti yang dikatakan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban mengenai riwayat Beliau dari Abu Said ra, Walaupun begitu hadisnya dapat ditulis dan Athiyyah adalah perawi dalam Al Adab Al Mufrad, Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah dan Musnad Ahmad bin Hanbal. Selain itu terdapat juga ulama yang menguatkan Beliau seperti Yahya bin Main dan Ibnu Saad. Kesimpulannya hadis riwayat Athiyyah tidak dapat dijadikan hujjah tetapi dapat dijadikan I’tibar atau hadis pendukung. Dan memang demikianlah kedudukannya terhadap Hadis Tsaqalain, hadis riwayat Athiyyah ini hanyalah sebagai pendukung hadis lain yang riwayatnya shahih, bahkan dari hadis-hadis lain riwayat Athiyyah dapat terangkat kedudukannya dan dapat dinyatakan bahwa riwayat Athiyyah dari Abu Said ini benar-benar berasal dari Abu Said Al Khudri ra bukan dari Al Kalbi.
Berdasarkan semua keterangan diatas maka pernyataan Ibnul Jauzi bahwa hadis Tsaqalain itu tidak shahih adalah terlalu terburu-buru, karena dengan hanya mengkritik riwayat Athiyyah, tidak menjadikan hadis itu dhaif karena hadis ini hanyalah hadis pendukung dari hadis-hadis Tsaqalain lain yang derajatnya shahih. Seharusnya untuk menyatakan bahwa hadis Tsaqalain itu tidak shahih, Ibnul Jauzi harus mengumpulkan semua riwayat hadis Tsaqalain dalam kitab-kitab hadis baru menetapkan kedudukannya.

Sedangkan pernyataan Ibnul Jauzi mengenai Abdullah Al Quddus itu keliru. Perawi ini tidak seperti yang dikatakan Ibnu Jauzi. Pernyataan Ibnu Jauzi yang menyatakan Yahya mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan seorang rafidhi yang jahat perlu ditanggapi karena terdapat ulama yang menyatakan tsiqat kepada Abdullah bin Abdul Quddus.

  • Abdullah Al Quddus dinyatakan bisa dipercaya(tsiqat) oleh Al Hafiz Muhammad bin Isa. Dalam Tahdzib at-Tahdzib jilid 5 hal 303, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqalani berkata, “Telah diceritakan bahwa Muhammad bin Isa telah berkata, ‘Dia(Abdullah Al Quddus) itu dapat dipercaya.”.
  • Abdulah bin Abdul Quddus adalah termasuk perawi di dalam kitab Shahih Bukhari. Sebagaimana juga disebutkan di dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib, jilid 5, halaman 303; dan juga kitab Taqrib at-Tahdzib, jilid 1, halaman 430.

Jadi kesimpulannya Abdullah Al Quddus ini adalah perawi yang jujur dan bisa dipercaya. Tapi sayangnya perawi ini tidak ada hubungannya sedikitpun dengan hadis Tsaqalain yang dikritik oleh Ibnu Jauzi (karena hadis yang sama juga diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya dan dalam sanadnya tidak ada Abdullah bin Abdul Quddus), oleh karena itu kami tidak akan menanggapinya lebih lanjut. Mungkin ini cuma kekeliruan Ibnul Jauzi semata atau kecenderungan kemahzabannya yang berlebih-lebihan dalam menyalahkan apapun yang menjadi hujjah Syiah.

11. Kekeliruan Ibnu Jauzi Terhadap Hadis Tsaqalain

Oleh: J. al-Gar (secondprince)

Di dalam kitabnya yang berjudul Al-’llal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah Ibnu al-Jauzi mendhaifkan hadits Ats Tsaqalain. Ibnul Jauzi mengatakan,

“Hadis ini tidak sahih. Adapun ‘Athiyyah telah didhaifkan oleh Ahmad, Yahya dan selain dari mereka berdua. Adapun tentang Abdullah al-Quddus, Yahya telah mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan dia itu seorang rafidhi yang jahat”.

Hadis yang dimaksud salah satunya adalah riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III hal 59 sebagai berikut

Riwayat dari Abdullah dari ayahnya dari Ibnu Namir dari Abdul Malik Ibnu Sulaiman dari Athiyah dari Abu Sa’id al Khudri ra,ia berkata,’Rasulullah SAW bersabda”Sesungguhnya Aku meninggalkan bagimu sesuatu yang jika kamu berpedoman dengannya,maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya setelahKu yaitu dua hal yang salah satunya lebih besar dari yang lain;Kitabullah,tali panjang yang terentang dari langit ke bumi,dan Ahlul BaitKu.Ketahuilah bahwa keduanya itu tidak akan berpisah hingga datang ke telaga(hari kiamat).”

Tanggapan Untuk Ibnul Jauzi

Hadis Tsaqalain memiliki banyak sanad dalam kitab-kitab hadis selain riwayat Athiyyah dari Abu Said, dan terdapat sanad yang shahih yang menguatkan sanad Athiyyah dari Abu Said ini. Mengenai Athiyyah bin Sa’ad bin Junadah al ‘Awfi yang dinyatakan dhaif oleh Ahmad menurut Ibnul Jauzi, sebelumnya akan dikutip pernyataan Taqiyuddin As Subki dalam Syifâ al-Asqâm, jld. 10 hal. 11 tentang perawi-perawi Ahmad bin Hanbal

“Ahmad(semoga Allah merahmatinya) tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya (ats-tsiqah). Ibnu Taimiyyah telah berterus terang tentang hal itu di dalam kitab yang dikarangnya untuk menjawab al-Bakri, setelah sepuluh kitab lainnya. Ibnu Taimiyyah berkata, ‘Sesungguhnya para ulama hadis yang mempercayai ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil ada dua kelompok. Sebagian dari mereka tidak meriwayatkan kecuali dari orang yang dapat dipercaya dalam pandangan mereka, seperti Malik, Ahmad bin Hanbal dan lainnya.”.

Dan sudah jelas bahwa Athiyyah adalah perawi dalam Musnad Ahmad, dan dari sini sebenarnya dapat diambil kesimpulan bahwa Athiyyah adalah tsiqah menurut Ahmad bin Hanbal. Tetapi dalam Tahdzib at Tahzib dan Mizan Al ‘Itidal, ketika membicarakan Athiyyah dan riwayatnya dari Abu Said, Ahmad menyatakan bahwa hadis Athiyyah itu dhaif, beliau berkata

“Sampai kepadaku berita bahwa Athiyyah belajar tafsir kepada Al Kalbi dan memberikan julukan Abu said kepadanya .Agar dianggap Abu said Al Khudri.”

Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Ibnu Hibban

“Athiyyah mendengar beberapa hadis dari Abu said Al Khudri. Setelah Al Khudri ra meninggal, ia belajar hadis dari Al Kalbi. Dan ketika Al Kalbi berkata Rasulullah SAW bersabda ‘demikian demikian’maka Athiyyah menghafalkan dan meriwayatkan hadis itu dengan menyebut Al Kalbi sebagai Abu Said. Oleh sebab itu jika Athiyyah ditanya siapakah yang menyampaikan hadis kepadamu? maka Athiyyah menjawab Abu Said. Mendengar jawaban ini orang banyak mengira yang dimaksudkannya adalah Abu Said Al Khudri ra, padahal sebenarnya Al Kalbi” .

Jadi dalam hal ini kritik Ibnul Jauzi bahwa Athiyyah dinyatakan dhaif oleh Ahmad adalah merujuk pada riwayat Athiyyah dari Abu Said.

Kemudian pernyataan Ibnul Jauzi bahwa Athiyyah dinyatakan dhaif oleh Yahya bin Main adalah tidak benar. Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 7 hal 220 Al-Hafidz Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi Athiyyah, “Ad-Dawri telah berkata dari Ibnu Mu’in bahwa ‘Athiyyah adalah seorang yang saleh.” Selain itu dalam Mizan Al ‘Itidal ketika Yahya bin Main ditanya tentang hadis Athiyyah, ia menjawab “Bagus”.

Pernyataan selanjutnya Ibnul Jauzi bahwa Athiyyah dinyatakan dhaif oleh selain mereka berdua, dapat dilihat dalam Mizan Al ‘Itidal jilid 3 hal 79. Menurut Adz Dzahabi Athiyyah adalah seorang tabiin yang dikenal dhaif, Abu Hatim berkata hadisnya dhaif tapi bisa didaftar atau ditulis, An Nasai juga menyatakan Athiyyah termasuk kelompok orang yang dhaif, Abu Zara’ah juga memandangnya lemah. Menurut Abu Dawud Athiyyah tidak bisa dijadikan sandaran atau pegangan. Menurut Al Saji hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah, Ia mengutamakan Ali ra dari semua sahabat Nabi yang lain. Salim Al Muradi menyatakan bahwa Athiyyah adalah seorang syiah. Abu Ahmad bin Adi berkata walaupun ia dhaif tetapi hadisnya dapat ditulis. Kebanyakan ulama memang memandang Athiyyah dhaif tetapi Ibnu Saad memandang Athiyyah tsiqat, dan berkata insya Allah ia mempunyai banyak hadis yang baik, sebagian orang tidak memandang hadisnya sebagai hujjah.

Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 2 hal 226 Ibnu Hajar Al’Asqalani telah berkata,

“Ibnu Sa’ad telah berkata, “Athiyyah pergi bersama Ibnu al- Asy’ats, lalu Hajjaj menulis surat kepada Muhammad bin Qasim untuk memerintahkan ‘Athiyyah agar mencaci maki Ali, dan jika dia tidak melakukannya maka cambuklah dia sebanyak empat ratus kali dan cukurlah janggutnya. Muhammad bin Qasim pun memanggilnya, namun ‘Athiyyah tidak mau mencaci maki Ali, maka dijatuhkanlah ketetapan Hajaj kepadanya. Kemudian ‘Athiyyah pergi ke Khurasan, dan dia terus tinggal di sana hingga Umar bin Hubairah memerintah Irak. ‘Athiyyah tetap terus tinggal di Khurasan hingga meninggal pada tahun seratus sepuluh hijrah. Insya Allah, dia seorang yang dapat dipercaya, dan dia mempunyai hadis-hadis yang layak.”

Jadi terdapat cukup banyak ulama yang menyatakan Athiyyah adalah dhaif, jarh ini kemungkinan disebabkan sikap tadlis Athiyyah seperti yang dikatakan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban mengenai riwayat Beliau dari Abu Said ra, Walaupun begitu hadisnya dapat ditulis dan Athiyyah adalah perawi dalam Al Adab Al Mufrad, Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan Ibnu Majah dan Musnad Ahmad bin Hanbal. Selain itu terdapat juga ulama yang menguatkan Beliau seperti Yahya bin Main dan Ibnu Saad. Kesimpulannya hadis riwayat Athiyyah tidak dapat dijadikan hujjah tetapi dapat dijadikan I’tibar atau hadis pendukung. Dan memang demikianlah kedudukannya terhadap Hadis Tsaqalain, hadis riwayat Athiyyah ini hanyalah sebagai pendukung hadis lain yang riwayatnya shahih, bahkan dari hadis-hadis lain riwayat Athiyyah dapat terangkat kedudukannya dan dapat dinyatakan bahwa riwayat Athiyyah dari Abu Said ini benar-benar berasal dari Abu Said Al Khudri ra bukan dari Al Kalbi.
Berdasarkan semua keterangan diatas maka pernyataan Ibnul Jauzi bahwa hadis Tsaqalain itu tidak shahih adalah terlalu terburu-buru, karena dengan hanya mengkritik riwayat Athiyyah, tidak menjadikan hadis itu dhaif karena hadis ini hanyalah hadis pendukung dari hadis-hadis Tsaqalain lain yang derajatnya shahih. Seharusnya untuk menyatakan bahwa hadis Tsaqalain itu tidak shahih, Ibnul Jauzi harus mengumpulkan semua riwayat hadis Tsaqalain dalam kitab-kitab hadis baru menetapkan kedudukannya.

Sedangkan pernyataan Ibnul Jauzi mengenai Abdullah Al Quddus itu keliru. Perawi ini tidak seperti yang dikatakan Ibnu Jauzi. Pernyataan Ibnu Jauzi yang menyatakan Yahya mengatakan bahwa dia itu bukan apa-apa dan seorang rafidhi yang jahat perlu ditanggapi karena terdapat ulama yang menyatakan tsiqat kepada Abdullah bin Abdul Quddus.

  • Abdullah Al Quddus dinyatakan bisa dipercaya(tsiqat) oleh Al Hafiz Muhammad bin Isa. Dalam Tahdzib at-Tahdzib jilid 5 hal 303, Al-Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqalani berkata, “Telah diceritakan bahwa Muhammad bin Isa telah berkata, ‘Dia(Abdullah Al Quddus) itu dapat dipercaya.”.
  • Abdulah bin Abdul Quddus adalah termasuk perawi di dalam kitab Shahih Bukhari. Sebagaimana juga disebutkan di dalam kitab Tahdzib at-Tahdzib, jilid 5, halaman 303; dan juga kitab Taqrib at-Tahdzib, jilid 1, halaman 430.

Jadi kesimpulannya Abdullah Al Quddus ini adalah perawi yang jujur dan bisa dipercaya. Tapi sayangnya perawi ini tidak ada hubungannya sedikitpun dengan hadis Tsaqalain yang dikritik oleh Ibnu Jauzi (karena hadis yang sama juga diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya dan dalam sanadnya tidak ada Abdullah bin Abdul Quddus), oleh karena itu kami tidak akan menanggapinya lebih lanjut. Mungkin ini cuma kekeliruan Ibnul Jauzi semata atau kecenderungan kemahzabannya yang berlebih-lebihan dalam menyalahkan apapun yang menjadi hujjah Syiah.

13. Kekeliruan Ali As Salus Yang Mengkritik Hadis Tsaqalain Dalam Musnad Ahmad

Ali As Salus dalam kitabnya Imamah dan Khilafah telah membicarakan tentang hadis Tsaqalain dan akhir kesimpulannya beliau menyatakan hadis ini adalah dhaif. Beliau mengkritik hadis Tsaqalain yang terdapat dalam Musnad Ahmad dan Sunan Turmudzi, berikut akan dibahas hadis riwayat Ahmad yang beliau kritik.

Hadis dalam Musnad Ahmad yaitu riwayat Athiyyah dari Abu Said

  1. Abdullah bercerita kepada kami dari ayahnya dari Aswad bin Amir dari Israil yaitu Ismail bin Abu Ishaq al Mulai dari Athiyyah dari Abu Said, Ia berkata”Nabi SAW bersabda”Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu yang salah satunya lebih besar dari yang lainnya,yaitu Kitab Allah,tali yang merentang dari langit sampai bumi,dan Ahlul BaitKu. Keduanya itu tidak akan terpisah sampai datang ke telaga(kiamat).” (Musnad Ahmad jilid III hal 14)
  2. Abdullah bercerita kepada kami dari Ayahnya dari Abu Nadar dari Muhammad bin Thalhah dari A’masyi dari Athiyyah al ‘ufa dari Abu Said Al Khudri ra dari Nabi SAW bahwa Beliau SAW bersabda”Sesungguhnya Saya hampir mendapat panggilan lalu saya menjawabnya.Sungguh Aku meninggalkan dua hal bagimu yaitu Kitabullah dan ItrahKu. Kitabullah adalah tali panjang yang terentang dari langit sampai ke bumi,dan ItrahKu adalah Ahlul BaitKu. Dan bahwa Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Bijaksana memberi tahu kepadaKu bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang di atas telaga(hari kiamat).Maka perhatikanlah Aku dengan apa yang kamu laksanakan kepadaKu dalam Keduanya.” (Musnad Ahmad jilid III hal 17).
  3. Riwayat dari Abdullah dari Ayahnya dari Ibnu Namin dari Abdul Malik bin Abu Sulaiman dari Athiyyah dari Abu Said Al Khudri ra, Ia berkata”Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu yang salah satunya lebih besar daripada yang lain yaitu Kitabullah, tali panjang yang terentang dari langit sampai ke bumi ,dan Ahlul BaitKu. Ketahuilah keduanya itu tidak akan berpisah hingga sampai ke telaga(hari kiamat).”(Musnad Ahmad jilid III hal 26).
  4. Riwayat dari Abdullah dari ayahnya dari Ibnu Namir dari Abdul Malik Ibnu Sulaiman dari Athiyah dari Abu Sa’id al Khudri ra,ia berkata,’Rasulullah SAW bersabda”Sesungguhnya Aku meninggalkan bagimu sesuatu yang jika kamu berpedoman dengannya, maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya setelahKu yaitu dua hal yang salah satunya lebih besar dari yang lain; Kitabullah, tali panjang yang terentang dari langit ke bumi, dan Ahlul BaitKu. Ketahuilah bahwa keduanya itu tidak akan berpisah hingga datang ke telaga(hari kiamat).” (Musnad Ahmad jilid III hal 59).

Tanggapan Kami

Mengenai semua hadis riwayat Athiyyah dari Abu Said ra diatas Ali As Salus menyatakan bahwa semua riwayat di atas dhaif karena Athiyyah telah dinyatakan dhaif oleh banyak ulama. Dalam penjelasan sebelumnya kami telah membahas riwayat Athiyyah dari Abu Said, dan kami menyatakan bahwa riwayat ini hanyalah pendukung riwayat lain yang shahih bahkan justru riwayat-riwayat lain hadis Tsaqalain selain dari Athiyyah dapat menguatkan hadis riwayat Athiyyah dari dhaif menjadi Hasan Lighairihi. Ali As Salus juga mendhaifkan hadis riwayat Ahmad yang lain yaitu

Hadis dalam Musnad Ahmad yaitu riwayat Qasim bin Hishan dari Said bin Tsabit

  1. Riwayat dari Abdullah dari Ayahnya dari Aswad bin ‘Amir,dari Syuraiq dari Raqin dari Qasim bin Hishan, dari Said bin Tsabit, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu Kitabullah, tali panjang yang terentang antara langit dan bumi atau diantara langit dan bumi dan Itrati Ahlul BaitKu. Dan Keduanya tidak akan terpisah sampai datang ke telaga(hari kiamat)”. (Musnad Ahmad jilid V hal 181-182)
  2. Abdullah meriwayatkan dari Ayahnya, dari Ahmad Zubairi dari Syuraiq dari Raqin dari Qasim bin Hishan dari Said bin Tsabit ra, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku meninggalkan dua hal bagimu, Kitabullah dan Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang ke telaga(hari kiamat)”.

Hadis ini dinyatakan dhaif oleh Ali As Salus karena dalam sanadnya terdapat Qasim bin Hishan al Amiri al Kufi. Setelah mengutip pendapat yang menyatakan Qasim sebagai perawi tsiqat, beliau menyatakan tidak sependapat dan memandang bahwa Qasim adalah perawi yang tidak tsiqat berdasarkan alasan berikut

• Dalam Mizan al Itidal Adz Dzahabi menukil dari Bukhari bahwa hadis Qasim bin Hishan itu mungkar
• Dalam Al Jarh Wat Ta’dil
Ibnu Abu Hatim menukil dari Al Munziri bahwa Bukhari berkata ”Qasim bin Hishan mendengar dari Zaid bin Tsabit dari pamannya Abdurrahman bin Harmalah sementara Rakin bin Rabi’ meriwayatkan darinya dan dia termasuk ulama kufah yang tidak shahih hadisnya”.

Tanggapan kami adalah bahwa pendapat Ali As Salus dan komentarnya tentang Qasim adalah kurang tepat karena beberapa alasan dan bahkan hal itu juga dikutip oleh Ali As Salus dalam kitabnya. Alasan-alasan itu adalah

  1. Qasim bin Hishan adalah perawi yang tsiqah. Ahmad bin Saleh menyatakan Qasim tsiqah. Ibnu Hibban menyatakan bahwa Qasim termasuk dalam kelompok tabiin yang tsiqah. Syaikh Ahmad Syakir menguatkannya sebagai seorang yang tsiqah(Musnad Ahmad syarh Syaikh Ahmad Syakir). Dalam Majma Az Zawaid ,Al Haitsami menyatakan tsiqah kepada Qasim bin Hishan. Ibnu Abu Hatim dalam Al Jarh Wat Ta’dil menulis biografi Qasim tanpa menyebutkan cacatnya, beliau hanya menukil pernyataan Al Munziri tentang Qasim diatas.
  2. Pernyataan Bukhari tentang Qasim tidak dapat dijadikan hujjah disini karena pernyataan itu baru sekedar kemungkinan dan tidak jelas apa sumber penukilan Adz Dzahabi dan Al Munziri dalam masalah ini. Adz Dzahabi dan al Munziri tidaklah sezaman dengan Bukhari oleh karena itu mereka menukil pernyataan itu kemungkinan dari salah satu karya al Bukhari. Tetapi kenyataannya dalam karya Bukhari perihal rijal hadis seperti Tarikh Al Kabir dan kitab Adh Dhu’afa tidak terdapat penukilan ini bahkan Bukhari hanya menyebutkan namanya dan tidak mencela atau menjarhkan Qasim seperti yang didakwa oleh Adz Dzahabi dan Al Munziri. Hal ini telah dikuatkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dalam Musnad Ahmad jilid V komentar riwayat no 3605, beliau berkata ”Saya tidak mengerti apa sumber penukilan Al Munziri dari Bukhari tentang Qasim bin Hishan itu. Sebab dalam Tarikh Al Kabir Bukhari tidak menjelaskan biografi Qasim demikian juga dalam kitab Adh Dhu’afa. Saya khawatir bahwa Al Munziri berkhayal dengan menisbatkan hal itu kepada Al Bukhari”.

Dengan demikian Jarh yang ditetapkan kepada Qasim bin Hishan adalah tidak jelas apakah benar atau tidak bersumber dari Bukhari, karena bisa jadi hal ini merupakan kekeliruan dari Adz Dzahabi dan Al Munziri. Tentu saja dugaan ini(kekeliruan) dilandasi dari tidak terdapatnya sumber penukilan Adz Dzahabi dan Al Munziri.

Disinilah letak kerancuan Ali As Salus

Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah berkata

”Dan pendapat ini tidak mungkin berdasarkan prasangka. Maka tidak diragukan bahwa pendapat Al Munziri dan Adz Dzahabi itu didasarkan pada sesuatu yang tidak mudah kita rujuk. Dan menurut praduga yang terkuat (jika tidak bisa dikatakan pasti )bahwa Al Munziri dan Adz Dzahabi itu menukil dari kitab Adh Dhu’afa Al Kabir karya Al Bukhari”

Tanggapan Kami: Pernyataan ini sangat jelas kerancuannya karena semuanya hanya didasarkan atas dugaan saja. Bukankah pernyataan Ali As Salus Dan pendapat ini tidak mungkin berdasarkan prasangka. Maka tidak diragukan bahwa pendapat Al Munziri dan Adz Dzahabi itu didasarkan pada sesuatu yang tidak mudah kita rujuk adalah suatu bentuk prasangka juga, apa buktinya pernyataan itu? apa sumber yang tidak mudah dirujuk itu? bukankah bisa juga diduga jangan jangan tidak ada sumber yang dimaksud atau dengan kata lain adalah kekeliruan dari kedua ulama tersebut.

Kemudian pernyataan Ali As Salus Dan menurut praduga yang terkuat (jika tidak bisa dikatakan pasti) bahwa Al Munziri dan Adz Dzahabi itu menukil dari kitab Adh Dhu’afa Al Kabir karya Al Bukhari” juga tidak jelas, kalau memang ada di kitab Adh Dhu’afa kenapa pula harus menggunakan kata praduga yang terkuat (jika tidak bisa dikatakan pasti). Bukankah ini menyiratkan Ali As Salus sendiri belum membaca Adh Dhu’afa, lalu bukankah Syaikh Ahmad Syakir menyatakan bahwa penukilan tersebut tidak ada dalam Tarikh Al Kabir dan Adh Dhu’afa . Dan dengan semua keraguan ini Ali As Salus menyatakan bahwa Qasim adalah tidak tsiqat hadis riwayatnya tidak shahih(dhaif). Memang dalam Ilmu hadis jika ada perbedaan pandangan terhadap seorang perawi antara jarh dan ta’dil maka jarh mesti didahulukan tetapi hal ini dengan syarat jarh itu harus benar-benar jelas dan ada buktinya. Tetapi kalau jarh tersebut meragukan maka yang terbaik dalam hal ini adalah menetapkan ta’dilnya. Oleh karena itulah dalam hal ini dinyatakan bahwa kesimpulan Ali As Salus bahwa Qasim bin Hishan tidak tsiqah adalah tidak tepat dan yang benar Qasim adalah seorang yang tsiqah.

Hadis yang dimaksud yaitu hadis Tsaqalain riwayat Qasim bin Hishan ini telah dinyatakan shahih oleh beberapa ulama. Di antaranya Jalaludin As Suyuthi telah menshahihkannya dalam Al Jami’ash Shaghir. Al Hafiz Al Manawi juga menyatakan shahih dalam Faidhul Qhadir Syarah Al Jami’Ash Shaghir. Pernyataan kedua ulama ini dikuatkan oleh Syaikh Al Albani yang menyatakan hadis ini shahih dan memasukkannya dalam Shahih Al Jami’Ash Shaghir. Selain itu Abu Ya’la meriwayatkan hadis ini dalam Musnad Abu Ya’la dan menyatakan bahwa sanad hadis ini termasuk dalam kategori tidak mengapa. Al Haitsami dalam Majma’Az Zawaid menyatakan bahwa semua perawi hadis ini adalah tsiqat. Berdasarkan semua keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa pendapat Ali As Salus itu tidak tepat dan pendapat yang benar dalam hal ini adalah bahwa hadis riwayat Qasim dalam Musnad Ahmad tersebut adalah shahih.

14. Kekeliruan Ali As Salus Yang Mengkritik Hadis Tsaqalain Dalam Sunan Tirmidzi

Hadis Tsaqalain dalam Sunan Tirmidzi yang dikritik oleh Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah adalah yang pertama yaitu

Bercerita kepada kami Nashr bin Abdurrahman Al Kufi dari Zaid bin Hasan Al Anmathi dari Ja’far bin Muhammad dari Ayahnya dari Jabir bin Abdullah, ia berkata’saya melihat Rasulullah SAW pada saat menunaikan ibadah haji pada hari Arafah,Beliau SAW menunggangi untanya al Qashwa dan saya mendengar Beliau SAW berkata”wahai manusia,sesungguhnya Aku meninggalkan sesuatu bagimu yang jika kamu berpedoman kepadanya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Itrati Ahlul BaitKu”. (Shahih Sunan Tirmidzi no 3786 takhrij Syaikh Al Albani)

Hadis ini dinyatakan dhaif oleh Ali As Salus karena dalam perawinya terdapat Zaid bin Hasan Al Anmathi al Kufi, beliau berkata

”tentang Zaid, Abu Hatim berkata”Ia orang Kufah yang datang ke Baghdad dan termasuk mungkar hadis”.

Tanggapan kami adalah Mengenai hadis riwayat Jabir, Imam Tirmidzi telah menyatakan hasan terhadap hadis ini. Syaikh Al Albani pun telah menshahihkan hadis ini dalam Shahih Sunan Tirmidzi hadis no3786. Dalam hal ini kami menyatakan bahwa hadis ini shahih karena Walaupun Zaid bin Hasan Al Anmathi Al Kufi dinyatakan hadisnya mungkar oleh Abu Hatim, beliau Zaid telah dikuatkan oleh Ibnu Hibban dan telah dinyatakan tsiqah(dalam Tahzdib at Tahdzib dan Mizan al Itidal). Apalagi kami tidak melihat kemungkaran dalam hadis di atas.

Kemudian hadis kedua Sunan Tirmidzi yang dikritik Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah adalah

Ibnu Mundzir al Kufi bercerita kepada kami, dari Muhammad bin Fudhail dari A’masy dari Athiyah dari Abu Sa’id. Dan dari A’masy dari Habib bin Abu Tsabit dari Zaid bin Arqam, keduanya berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Sesungguhnya Aku meninggalkan sesuatu bagimu. Jika kamu berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu dua hal yang salah satunya lebih besar daripada yang lain;Kitabullah,tali panjang yang terentang dari langit ke bumi dan Ahlul BaitKu.Keduanya tidak akan berpisah sampai datang ke telaga.Maka lihatlah bagaimana kamu melanggar keduanya”.(Shahih Sunan Tirmidzi no 3788 takhrij Syaikh Al Albani).

Sedangkan hadis kedua ini juga dinyatakan dhaif oleh Ali as Salus dengan alasan sebagai berikut. Beliau berkata tentang sanad hadis ini

”Namun, tidak diketahui sanad manakah yang asli. Setelah saya perhatikan empat riwayat dari Athiyyah dari Abu said sebelumnya,maka saya dapatkan kesamaannya dengan riwayat ini dalam segi arti dan susunan katanya. Saya dapat menegaskan bahwa sanad ini adalah yang asli dan yang disebutkan dalam Musnad “.

Ali As Salus menjelaskan bahwa hadis riwayat Tirmidzi ini sanad yang asli adalah sanad dengan riwayat Athiyyah dari Abu Said bukan sanad dengan riwayat Habib dari Zaid bin Arqam. Menurut beliau riwayat Zaid bin Arqam itu terdapat dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad, Beliau berkata tentang hadis riwayat Zaid bin Arqam dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad

”hadis ini sama dengan riwayat Tirmidzi namun dari sisi arti kedua riwayat ini banyak berbeda sehingga kita tidak bisa menggabungkan keduanya. Lebih tepat jika kita menggabungkan riwayat Tirmidzi dengan empat riwayat Abu Said dan menjauhi riwayat Zaid bin Arqam”.

Ali As Salus menyatakan bahwa yang menggabungkan dua sanad ini adalah Ali bin Mundzir al Kufi dan Muhammad bin Fudhail. Beliau berkata

”Ali bin Mundzir adalah seorang syiah kufah”.tentang dia Ibnu Abi Hatim berkata”saya mendengar darinya bersama ayah saya dan dia itu sangat jujur dan tsiqah”. Ibnu Namir berkata”dia tsiqah dan sangat jujur”. Daruquthni berkata”tidak mengapa”. Demikian juga pendapat Maslamah bin Qasim, tetapi dengan tambahan “Dia itu syiah” dan Ismail berkata”dalam hati saya terdapat sesuatu tentang dia, dan saya bukan orang terakhir yang mengatakan ini”Ibnu Majah berkata”saya mendengar dia berkata”saya haji 85 kali dan kebanyakan saya laksanakan dengan berjalan kaki”.

Ali As Salus juga melanjutkan

”keterangan yang didengar Ibnu Majah itulah yang membuat kita ragu menjadikan pendapat Ibnul Mundzir sebagai hujjah sebab bagaimana mungkin dia berhaji sebanyak 85 kali dan banyak diantaranya dilakukan dengan berjalan kaki?namun wajar jika seorang syiah seperti dia menggabungkan dua riwayat yang mengandung persamaan dalam satu sisi namun mengandung perbedaan disisi lain tentang keutamaan Ahlul Bait”.

Ali as Salus juga mengatakan

”riwayat ini mengandung kelemahan lain yaitu terputus di dua tempat. A’masyi dan Habib bin Abi Tsabit itu mudallis dan keduanya meriwayatkan dengan ‘an’an. A’masyi dan Habib adalah perawi yang tsiqah. A’masyi mendengar dari Habib dan Habib mendengar dari Zaid bin Arqam. Namun dalam riwayat ini keduanya tidak saling mendengar. Dan A’masyi adalah seorang syiah kufah begitu juga Habib. Dalam lingkungan kufah kemungkinan besar hadis-hadis yang tidak cermat dan tidak teliti banyak tersebar”.

Kemudian Ali As Salus melanjutkan

”dalam Mustadrak, Al Hakim meriwayatkan hadis ini dengan sanad yang memberikan pengertian bahwa A’masyi mendengar dari Habib. Ini membutuhkan penelitian sanad. Dalam sanad itu terdapat banyak perawi. Dan jika benar A’masyi mendengar dari Habib maka masih banyak sisi lain yang menunjukkan dhaifnya hadis ini”.

Tanggapan Kami.

Sedangkan kritikan Ali As Salus terhadap hadis kedua dalam Sunan Tirmidzi diatas perlu ditelaah kembali karena terdapat banyak hal yang perlu diluruskan. Berikut tanggapan terhadap kritikan beliau. Hadis dalam Sunan Tirmidzi ini memiliki dua sanad yaitu

  • · Dari Ali bin Mundzir dari Muhammad bin Fudhail dari Amasy dari Athiyyah dari Abu Said
  • · Dari Ali bin Mundzir dari Muhammad bin Fudhail dari Amasy dari Habib dari Zaid bin Arqam.

Ali As Salus mengatakan bahwa sanad hadis Sunan Tirmidzi ini yang asli adalah sanad Athiyyah dari Abu Said atau sanad pertama dan bukan sanad Habib dari Zaid bin Arqam karena riwayat Zaid bin Arqam itu matannya yang benar menurutnya adalah dalam Shahih Muslim, dan Musnad Ahmad yang tidak mengandung kata-kata berpegang teguh pada Ahlul Bait melainkan hanya mengandung kata-kata dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.”

Pada dasarnya pendapat Ali As Salus ini dilandasi oleh prakonsepsinya bahwa hadis riwayat Zaid dalam Sunan Tirmidzi ini memiliki arti yang berbeda dengan hadis riwayat Zaid dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad. Padahal telah dinyatakan sebelumnya bahwa pendapat ini hanyalah dugaan semata karena seandainya kita hanya melihat riwayat Shahih Muslim atau Musnad Ahmad saja maka peringatan Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait itu justru mengisyaratkan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait. Oleh karena itu sebenarnya tidak ada pertentangan antara riwayat Zaid dalam Sunan Tirmidzi dan riwayat Zaid dalam Shahih Muslim atau Musnad Ahmad sehingga diharuskan untuk menafikan salah satunya.

Jadi dalam hal ini yang benar adalah dua sanad dalam hadis Sunan Tirmidzi itu dua-duanya adalah sanad yang asli, karena zhahirnya memang begitu yang terdapat dalam Sunan Tirmidzi dan tidak ada alasan yang jelas untuk menolak salah satunya .Justru dengan hadis riwayat Zaid bin Arqam dalam Sunan Tirmidzi ini dapat diketahui dengan kata-kata yang jelas bahwa peringatan Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait dalam riwayat Shahih Muslim, Sunan Darimi dan Musnad Ahmad adalah peringatan untuk berpegang teguh pada Ahlul Bait. Hal ini menguatkan penafsiran bahwa peringatan Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait dalam Shahih Muslim, Sunan Darimi dan Musnad Ahmad itu adalah keharusan untuk berpegang teguh kepada Ahlul Bait.

Kemudian Ali As Salus menyatakan bahwa yang menggabungkan dua sanad hadis Tirmidzi ini adalah Ali bin Mundzir Al Kufi atau Muhammad bin Fudhail. Sebelumnya akan dilihat terlebih dahulu jalan pikiran Ali As Salus, pada awalnya beliau menyatakan bahwa riwayat Athiyyah dari Abu Said adalah yang asli bukan riwayat Habib dari Zaid, riwayat Zaid menurutnya matannya adalah dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad, jadi riwayat Zaid dalam Sunan Tirmidzi itu tidak benar karena menurutnya arti hadis itu berbeda dengan riwayat Zaid dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad. Kemudian beliau menyatakan bahwa yang menyatukan dua riwayat yang berbeda ini kemungkinan adalah Ali bin Mundzir al Kufi atau Muhammad bin Fudhail, dengan dasar ini beliau mencari cacat perawi ini yang dapat menunjang pernyataan beliau, dengan kata lain beliau menetapkan sesuatu yang meragukan pada perawi ini yaitu Ali bin Mundzir dan Muhammad bin Fudhail. Sayangnya pernyataan beliau itu hanyalah celaan yang dicari-cari karena kedudukan perawi-perawi ini telah dikenal tsiqat di kalangan ulama hadis.

Ali bin Mundzir

Dalam Tahdzib at Tahdzib jilid 7 hal 386 dan Mizan Al I’tidal jilid 3 hal 157, Ali bin Mundzir telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama seperti Ibnu Abi Hatim, Ibnu Namir, Imam Sha’sha’I dan lain-lain, walaupun Ali bin Mundzir dikenal sebagai seorang syiah. Mengenai hal ini Mahmud Az Za’by dalam bukunya Sunni yang Sunni hal 71 menyatakan tentang Ali bin Mundzir ini

“para ulama telah menyatakan ketsiqatan Ali bin Mundzir. Padahal mereka tahu bahwa Ali adalah syiah. Ini harus dipahami bahwa syiah yang dimaksud disini adalah syiah yang tidak merusak sifat keadilan perawi dengan catatan tidak berlebih-lebihan. Artinya ia hanya berpihak kepada Ali bin Abu Thalib dalam pertikaiannya melawan Muawiyah. Tidak lebih dari itu. Inilah pengertian tasyayyu menurut ulama sunni. Karena itu Ashabus Sunan(Sunan Abu Dawud,Sunan Ibnu Majah, Sunan Tirmidzi, Sunan An Nasai) meriwayatkan dan berhujjah dengan hadis Ali bin Mundzir”.

Oleh karena itu meragukan riwayat Ali bin Mundzir atau menuduh beliau menyatukan dua riwayat yang berbeda hanya karena beliau seorang syiah seperti yang tampak dalam kata-kata Ali As Salus

namun wajar jika seorang syiah seperti dia menggabungkan dua riwayat yang mengandung persamaan dalam satu sisi namun mengandung perbedaan disisi lain tentang keutamaan Ahlul Bait”

adalah tidak benar karena ketsiqatan Ali bin Mundzir sudah dikenal dikalangan ulama. Sedangkan jarh yang ditetapkan dalam tulisan Ali As Salus itu adalah jarh yang tidak jelas dan tidak meragukan Ali bin Mundzir sebagai perawi yang tsiqah.

Seperti pernyataan Ali As Salus bahwa Ismail berkata”dalam hati saya terdapat sesuatu tentang dia, dan saya bukan orang terakhir yang mengatakan ini. Tidak ada jarh atau celaan yang jelas dari kata-kata ini dan tidak bisa dimengerti apa yang ada dalam hati Ismail tentang Ali bin Mundzir. Atau perkataan Ali As Salus ”Ibnu Majah berkata”saya mendengar dia berkata”saya haji 85 kali dan kebanyakan saya laksanakan dengan berjalan kaki”. Ali As Salus juga melanjutkan ”keterangan yang didengar Ibnu Majah itulah yang membuat kita ragu menjadikan pendapat Ibnul Mundzir sebagai hujjah. Sebab bagaimana mungkin dia berhaji sebanyak 85 kali dan banyak diantaranya dilakukan dengan berjalan kaki?.

Menurut kami jelas tidak ada hubungannya antara Ibnu Mundzir berhaji berapa kali dan bagaimana caranya berhaji dengan kemampuannya meriwayatkan hadis. Beliau Ali bin Mundzir sekali lagi telah dikenal tsiqah dan sangat jujur dan bagaimana mungkin Ali As Salus meragukan Ali bin Mundzir sebagai hujjah dengan mengutip perkatan Ibnu Majah padahal Ibnu Majah sendiri telah berhujjah dengan riwayat Ali bin Mundzir dalam kitabnya Sunan Ibnu Majah. Jadi kesimpulannya, Ali bin Mundzir adalah perawi tsiqah dan sangat jujur dan tidak mungkin perawi seperti ini mengutak–atik riwayat hadis yang akan disampaikannya.

Muhammad bin Fudhail

Sedangkan tentang Muhammad bin Fudhail, dalam Hadi As Sari jilid 2 hal 210, Tahdzib at Tahdzib jilid 9 hal 405 dan Mizan al Itidal jilid 4 hal 9 didapat keterangan tentang beliau.

  • · Imam Ahmad berkata ”Ia berpihak kepada Ali, tasyayyu. Hadisnya baik”.
  • · Yahya bin Muin menyatakan Muhammad bin Fudhail adalah tsiqat.
  • · Abu Zara’ah berkata”ia jujur dan ahli Ilmu”.
  • · Menurut Abu Hatim, Muhammad bin Fudhail adalah seorang guru.
  • · Nasai tidak melihat sesuatu yang membahayakan dalam hadis Muhammad bin Fudhail.
  • · Menurut Abu Dawud ia seorang syiah yang militan.
  • · Ibnu Hibban menyebutkan dia didalam Ats Tsiqat seraya berkata”Ibnu Fudhail pendukung Ali yang berlebih-lebihan”.
  • · Ibnu Saad berkata ”Ia tsiqat, jujur dan banyak memiliki hadis. Ia pendukung Ali”.
  • · Menurut Ajli, Ibnu Fudhail orang kufah yang tsiqat tetapi syiah.
  • · Ali bin al Madini memandang Muhammad bin Fudhail sangat tsiqat dalam hadis.
  • · Daruquthni juga menyatakan Muhammad bin Fudhail sangat tsiqat dalam hadis.

Jadi kesimpulannya Muhammad bin Fudhail adalah seorang yang tsiqat dan jujur sedangkan tentang syiah atau tasyayyu beliau itu tidak mengganggu sedikitpun kredibilitas beliau sebagai perawi yang dikenal tsiqat. Hal ini juga dijelaskan oleh Mahmud Az Za’by dalam Sunni yang Sunni hal 79, yang berkata

”…para ulama hadis sepakat untuk menerima riwayatnya dan berhujjah dengan hadisnya. Mengenai tuduhan bahwa ia(Muhammad bin Fudhail) tasyayyu itu tidak merusak namanya sebab ia terkenal sebagai orang yang jujur amanah dan tidak mau berdusta.”

Oleh karena itu sungguh tidak benar menyatakan bahwa Muhammad bin Fudhail kemungkinan menyatukan dua riwayat hadis yang berbeda maknanya(berbeda disini maksudnya berbeda menurut Ali As Salus) dalam hadis Sunan Tirmidzi diatas seperti yang dinyatakan oleh Ali As Salus, karena tindakan itu sama halnya merubah atau mencampuradukkan hadis dan ini tidak sesuai dengan karakter beliau yang dikenal tsiqat dan jujur oleh banyak ulama hadis.

Kemudian pernyataan Ali As Salus bahwa hadis dalam Sunan Tirmidzi tersebut putus di dua tempat kurang tepat karena sebenarnya hadis itu sanadnya bersambung hanya saja diriwayatkan secara mu’an’an(menggunakan lafal ‘an atau dari) yaitu ‘Amasyi dari Habib dari Zaid bin Arqam. Pada dasarnya penyampaian hadis memang menggunakan lafal akhbarana atau hadatsana, tetapi juga terdapat penyampaian dengan lafal ’an(dari). Hadis dengan lafal ‘an tidaklah langsung dinyatakan sebagai hadis yang dhaif atau tidak bersambung karena banyak terdapat hadis dengan lafal ‘an ini telah dinyatakan shahih atau dijadikan hujjah oleh para ulama seperti hadis dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Musnad Ahmad dan Mustadrak Al Hakim. Hadis-hadis ini(dengan lafal ‘an) dijadikan hujjah atau shahih dengan alasan sebagai berikut

  • · Hadis ini diriwayatkan oleh perawi-perawi yang tsiqat dan tidak diriwayatkan oleh mudallis yang amat buruk tadlisnya.
  • · Hadis ini dikuatkan dengan sanad-sanad yang lain yang bersambung dan shahih.
  • · Terdapat keterangan yang jelas bahwa para perawi tersebut saling mendengar.
  • · Terdapat hadis lain dengan perawi yang sama tetapi menggunakan lafal akhbarana atau hadatsana.

Telah terbukti bahwa A’masy mendengar dan belajar hadis dari Habib dan Habib mendengar hadis dari Zaid bin Arqam seperti yang telah dinyatakan sendiri oleh Ali As Salus lewat kata-kata beliau “A’masyi mendengar dari Habib dan Habib mendengar dari Zaid bin Arqam. Namun dalam riwayat ini keduanya tidak saling mendengar”. (Ali As Salus berkata bahwa dalam riwayat ini keduanya tidak saling mendengar karena mereka menggunakan lafal ’an dan bukan akhbarana). Jadi perawi-perawi hadis tersebut pernah bertemu dan mendengar hadis secara langsung oleh karena itu tidaklah tepat menyatakan riwayat ini dhaif walaupun dalam riwayat ini menggunakan lafal ‘an.

Selain itu Syaikh Ahmad Syakir telah menshahihkan cukup banyak hadis dengan lafal’an dalam Musnad Ahmad salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan dengan lafal ‘an oleh A’masyi dan Habib(A’masy dari Habib dari…salah seorang sahabat). Apalagi dalam Al Mustadrak Al Hakim telah meriwayatkan hadis tsaqalain yang shahih dengan keterangan bahwa A’masy mendengar dari Habib bin Abu Tsabit. Mengenai hadis dalam Sunan Tirmidzi diatas hadis ini diriwayatkan oleh perawi-perawi yang terbukti tsiqat oleh para ulama, dikuatkan dengan sanad-sanad yang lain seperti riwayat Qasim dalam Musnad Ahmad dan hadis dalam Mustadrak Al Hakim. Oleh karena itu Hadis riwayat Tirmidzi yang dipermasalahkan oleh Ali As Salus itu telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi hadis no 3788 dan oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy .

Jadi dari semua tanggapan diatas kami beranggapan bahwa pernyataan Ali As Salus adalah tidak benar dan hadis dalam Sunan Tirmidzi tersebut (riwayat Habib dari Zaid) adalah shahih.

15. Kekeliruan Hafiz Firdaus Dalam Memahami Hadis Tsaqalain

Hadis Tsaqalain memang merupakan hadis yang seringkali dipermasalahkan di sisi Sunni baik dari segi sanad maupun matannya. Sayangnya permasalahan tersebut adalah permasalahan yang dicari-cari, seperti meragukan sanad-sanadnya padahal sanad hadis ini adalah shahih dan mutawatir atau melakukan takwil terhadap maknanya karena khawatir akan menjadi hujjah bagi Syiah, padahal makna hadis itu begitu jelas sehingga penakwilan terhadap maknanya kelihatan sekali dibuat-buat agar tidak menjadi hujjah bagi Syiah. Penakwilan seperti ini yang dilakukan oleh Hafiz Firdaus dalam bukunya “Jawaban Ahlus Sunnah Kepada Syiah Rafidhah Dalam Persoalan Khalifah”. Tulisan Hafiz Firdaus tentang Hadis Tsaqalain dapat anda lihat disini.

Perlu ditekankan Hadis Tsaqalain ini benar-benar terdapat dalam kitab hadis Sunni, oleh karena itu lebih baik disingkirkan pikiran-pikiran yang menganggap pembahasan hadis ini selalu berkaitan dengan Syiah. Masalah Syiah memakai hadis ini sebagai hujjah itu masalah lain. Yang ingin dibahas itu bagaimana sebenarnya pemahaman yang benar terhadap hadis ini tanpa dipengaruhi kecenderungan untuk menolak Syiah. Kecenderungan menolak Syiah atau kedengkian kepada Syiah membuat mata seringkali tertutup dari pemahaman yang benar. Seolah yang benar bukan terletak pada Teks Hadis itu sendiri tapi terletak pada sejauh apa pemahaman hadis itu berbeda dengan apa yang dikatakan Syiah. Seolah-olah pemahaman yang berbeda dengan apa yang dipahami Syiah atau pemahaman yang menjatuhkan Syiah maka pemahaman itu akan menjadi benar dengan sendirinya. Sebaliknya setiap pemahaman yang dapat dijadikan hujjah oleh Syiah maka itu menjadi salah. Pemahaman seperti inilah yang ditunjukkan Hafiz Firdaus dalam bukunya dan pemahaman beliau itu benar-benar keliru.

Hafiz Firdaus ketika membahas Hadis Tsaqalain benar-benar dipengaruhi oleh prakonsepsinya bahwa Apapun yang menjadi Hujjah Syiah adalah bathil. Oleh karena itu pembahasan Beliau itu berputar-putar pada bagaimana cara memahami Hadis Tsaqalain agar tidak menjadi hujjah Syiah bahkan sebaliknya menjadi serangan terhadap Syiah. Sudah jelas sekali sikap yang seperti ini benar-benar tidak objektif dan memang sangat dipaksakan. Sikap seperti ini memang mempunyai niat tertentu dalam rangka untuk menjatuhkan Syiah.

Strategi yang seringkali dilakukan oleh tipe-tipe orang seperti ini untuk menjatuhkan Syiah adalah berusaha menanamkan sugesti kepada para pembacanya bahwa “Apapun Yang Dikatakan Syiah Adalah Sesat”. Bukti nyata untuk hal ini dapat anda lihat dalam tulisannya ketika Hafiz Firdaus membahas hadis-hadis yang dijadikan hujjah bagi Syiah, beliau selalu berkata

“Hadis ini justru adalah sebaik-baik dalil untuk membatalkan hujjah Syiah atau hadis ini justru dengan jitu membatalkan doktrin Syiah”.

Padahal kalau dilihat dan dipikirkan dengan seksama yang dia katakan sebaik-baik dalil itu benar-benar dipaksakan dan dibuat-buat. (jadi dimana jitunya)

Begitulah memang dan tentu bisa diduga, mereka yang dengki kepada Syiah akan berteriak kegirangan ketika mereka melihat ternyata Hujjah Syiah dikatakan bathil. Dalam pikiran mereka Syiah itu kafir dan sesat. Kemudian dengan pikiran seperti ini nyata sekali kalau mereka tidak akan menilai objektif apapun yang menjadi hujjah Syiah, bagi mereka yang penting Syiah salah. Sehingga adanya bantahan dari siapapun terhadap Syiah akan membuat mereka senang walaupun bantahan itu sendiri ngawur dan dibuat-buat. Tentu saja kedengkian dan kebencian membuat mereka tidak bisa berpikir kritis dan tidak bisa memahami dengan benar karena yang diinginkan itu adalah penolakan. Jadi setiap penolakan terhadap Syiah akan menjadi kebenaran bagi mereka. Mari kita telaah pembahasan hadis Tsaqalain oleh Hafiz Firdaus ini dan akan ditunjukkan bahwa pembahasan ini tidak selalu berkaitan dengan Apa yang seharusnya bagi Sunni atau Apa yang dikatakan Syiah. Cukup kita lihat bagaimana Hadis Tsaqalain itu berbicara.

Hafiz Firdaus memulai pembahasannya dengan hadis Tsaqalain riwayat Muslim dalam Shahih Muslim hadis no: 2408 (Kitab keutamaan para sahabat, Bab keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib).

bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda Ketahuilah wahai manusia, sesungguhnya aku hanyalah manusia. Aku merasakan bahawa utusan Tuhan-Ku (Malaikat Maut) akan datang dan aku akan memenuhinya. Aku tinggalkan kepada kalian al-Tsaqalain (dua perkara yang penting): Yang pertama adalah Kitab Allah (al-Qur’an), di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka berpegang teguhlah dengan Kitab Allah. (Perawi – Zaid bin Arqam – menjelaskan bahawa Rasulullah menekankan kepada berpegang dengan Kitab Allah. Kemudian Rasulullah menyambung):(Yang kedua ialah) Dan Ahl al-Baitku, aku peringatkan kalian kepada Allah tentang Ahl al-Baitku. Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang Ahl al-Baitku. Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang Ahl al-Baitku.

Kemudian beliau langsung membawakan hadis kedua yang dikeluarkan oleh Tirmizi di dalam kitab Sunan Tirmizi hadis no: 3874 (Kitab Manaqib, Bab Manaqib Ahl al-Bait). Juga dikeluarkan oleh Ahmad, Al-Thabarani dan Al-Thahawi dan dinilai sahih oleh Al-Albani di dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah – hadis no: 1761.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu .

Perhatikan baik-baik setelah membawa kedua hadis ini beliau Hafiz Firdaus tidak menyangkal keshahihan hadis ini, artinya beliau sepakat bahwa kedua hadis tersebut memiliki sanad yang shahih. Sayangnya beliau melakukan akrobat yang aneh ketika memahami hadis ini. Tetapi sebelum berakrobat beliau sudah melakukan pembenaran terhadap akrobatnya sendiri, lihat kata-katanya

“para pengkaji Syi‘ah merumuskan bahawa Hadis al-Tsaqalain juga diriwayatkan oleh puluhan orang sahabat dan tercatit dalam ratusan kitab rujukan Ahl al-Sunnah. Rumusan ini diterima dengan baik kerana para sahabat dan para tokoh Ahl al-Sunnah tersebut tidak sekadar meriwayat dan mencatit Hadis al-Tsaqalain akan tetapi mereka juga memahaminya dengan pemahaman yang benar. Bagaimanakah pemahaman tersebut? Ikutilah pembahasan seterusnya”.

Tidak berlebihan kalau kita berpendapat bahwa Hafiz Firdaus juga membenarkan bahwa riwayat hadis Tsaqalain sangat banyak dan mutawatir. Dari kata-katanya itu juga ia menisbatkan pemahaman yang benar itu adalah pemahamannya dan pemahamannya itu mewakili pemahaman sahabat dan tokoh-tokoh Ahlus Sunnah. Sugesti yang pas sekali bagi mereka yang pikirannya benar-benar tertutup. Padahal dalam karyanya itu tidak satupun dia mengutip pendapat sahabat dan tokoh Ahlus Sunnah perihal Hadis Tsaqalain.(pendapat Ajjuri yang dia kutip tidak memuat keterangan kalau yang dibicarakan itu adalah penafsiran Ajjuri terhadap hadis Tsaqalain)

Hafiz Firdaus menafsirkan bahwa Hadis Tsaqalain menafikan Rasulullah SAW mewasiatkan jawatan khalifah bagi Ahlul Bait. Masalah inilah yang saya maksud berkaitan dengan apa yang dikatakan Syiah. Saya tidak akan membahas ini, mari kita lihat teks hadis Tsaqalain itu sendiri. Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat. Kata- kata ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW meninggalkan sesuatu yang jika kita berpegang kepadanya niscaya kita tidak akan sesat, lalu apa itu? Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu . Ternyata keduanya Al Quran dan Ahlul Bait yang menjadi pegangan kita agar tidak sesat. Lihat sederhana bukan dan tidak perlu main akrobat segala.

Lihat lagi riwayat Muslim Aku tinggalkan kepada kalian al-Tsaqalain (dua perkara yang penting), nah ada dua perkara penting yang ditinggalkan Rasulullah SAW. Lalu apa itu? Yang pertama adalah Kitab Allah (al-Qur’an), di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka berpegang teguhlah dengan Kitab Allah. Jelas yang pertama Al Quran dan kita harus berpegang teguh kepadanya, lalu apa yang kedua? (Yang kedua ialah) Dan Ahl al-Baitku, aku peringatkan kalian kepada Allah tentang Ahl al-Baitku. Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang Ahl al-Baitku. Aku peringatkan kalian kepada Allah tentang Ahl al-Baitku. Yang kedua adalah Ahlul Bait, kata-kata Rasulullah SAW menunjukkan Rasulullah mengingatkan Kita akan Ahlul Bait, tapi apa persisnya peringatan itu tidak dijelaskan dalam hadis tersebut.

Jadi bagaimana? Mari kita telaah, bukankah awalnya Rasulullah SAW berkata ada 2 perkara penting yang beliau tinggalkan, yang pertama Kitab Allah dan kita harus berpegang teguh kepadanya kemudian Ahlul Bait, nah kita harus apa dengan Ahlul Bait, peringatan itu kok tidak dijelaskan. Adalah tidak mungkin kalau Rasulullah SAW tidak menjelaskan perkara penting, jadi dengan kata lain peringatan itu sudah tercakup dalam pesan sebelumnya tentang Al Quran, artinya pesan Rasulullah SAW terhadap dua perkara itu adalah sama yaitu keharusan berpegang teguh pada keduanya. Seandainya peringatan Rasulullah SAW tentang Al Quran dan Ahlul Bait itu berbeda maksudnya maka Rasulullah SAW pasti akan langsung menjelaskannya. Artinya peringatan Rasulullah kepada Kita soal Ahlul Bait adalah hendaklah berpegang teguh padanya sama seperti Al Quran. Pemahaman seperti ini benar-benar cocok dengan hadis Tsaqalain kedua riwayat Tirmizi, Ahmad, Thabrani dan Thahawi sebelumnya.

Sedangkan yang dikatakan Hafiz Firdaus adalah penakwilan dan bukan zhahir hadis, lihat kata-katanya

Peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Hadis al-Tsaqalain adalah supaya kita umat Islam menjaga sikap terhadap Ahl al-Bait baginda. Hendaklah kita mencintai, berselawat, menghormati dan bersopan terhadap Ahl al-Bait radhiallahu ‘anhum dalam batasan yang ditetapkan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih.

Sekarang coba lihat lagi dalam hadis Tsaqalain baik riwayat Muslim , Tirmizi, Ahmad, Thabrani dan Thahawi adakah dalam teks hadis itu yang menyatakan bahwa peringatan Rasulullah SAW itu adalah supaya kita umat Islam menjaga sikap terhadap Ahl al-Bait baginda. Hendaklah kita mencintai, berselawat, menghormati dan bersopan terhadap Ahl al-Bait radhiallahu ‘anhum. Tunjukkan kalau ada, itulah yang saya maksud akrobat yang aneh, memunculkan sesuatu yang tidak ada dalam teks hadis Tsaqalain berdasarkan pikirannya sendiri untuk menyimpangkan dari arti yang sebenarnya.

Akrobat yang lain dari Hafiz Firdaus adalah sesuatu yang benar-benar jelas artinya dibawa-bawa ke pikirannya sendiri, lihat kata-katanya

Berpegang kepada Ahl al-Bait Rasulullah bermaksud berpegang kepada hak-hak mereka, yakni mencintai mereka, berselawat, menghormati dan bersopan santun terhadap mereka. Barangsiapa yang berpegang kepada hak-hak Ahl al-Bait radhiallahu ‘anhum, nescaya dia berada di jalan yang benar.

Tidak dipungkiri bahwa kita harus melakukan apa yang ia sebutkan perihal Ahlul Bait tapi untuk masalah ini banyak hadis-hadis keutamaan Ahlul Bait yang menjelaskannya. Sedangkan yang kita bicarakan ini adalah Hadis Tsaqalain, apa benar maksud hadis Tsaqalain seperti itu, adakah dalam hadis Tsaqalain kata-kata berpegang kepada hak-hak mereka, yakni mencintai mereka, berselawat, menghormati dan bersopan santun terhadap mereka. Yang ada hanya kata-kata berpegang kepada mereka Ahlul Bait agar tidak sesat dan bukan berpegang pada hak-hak mereka. Lihat saja sendiri.

Teks hadis Tsaqalain itu jelas sekali sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu . Kalau kita mengikuti logika Hafiz ini maka kita dapat menyatakan bahwa agar tidak sesat kita harus menghormati Al Quran, mencintainya, memuji-mujinya, dan maksud berpegang kepada Al Quran itu adalah berpegang kepada adab-adab ketika menyentuh Al Quran. Begitukah maksudnya, ah orang yang punya sedikit pikiran saja tahu bahwa zahir hadis tidak seperti itu. Mari lihat Hadis ini

“Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh.”

Katakan pada saya apa maksud hadis di atas, adakah yang dimaksud berpegang kepada Sunah itu adalah menuliskannya, mencintainya, memuji-mujinya, memelihara Kitab-kitab Hadis, memuliakan mereka pemelihara Sunah, adakah itu yang dimaksud. Tidak salah lagi yang saya sebutkan itu baik semua, tapi adakah itu yang diinginkan hadis di atas. Bukankah banyak sekali yang berdalil dengan hadis di atas dan menyatakan bahwa kita harus berpedoman pada Al Quran dan Sunah Rasul agar tidak tersesat. Sungguh jelas sekali makna hadis itu agar Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW kita jadikan pedoman hidup kita agar kita tidak tersesat.

Kemudian lihat lagi Hadis Tsaqalain dan bandingkan dengan hadis di atas, kata-katanya sama persis kecuali kata SunahKu itu menjadi Itrati Ahlul BaitKu. Kalau mau dibandingkan hadis itu dengan hadis Tsaqalain dari segi sanad, maka jelas sekali hadis Tsaqalain sanadnya jauh lebih shahih dan sanadnya lebih banyak ketimbang hadis di atas. Bahkan Menurut saya hadis di atas yang memuat kata “Al Quran dan SunahKu” memiliki sanad yang dhaif, anda dapat melihat dalam tulisan saya tentang itu. Dengan membandingkan hadis Tsaqalain dan hadis di atas maka seharusnya pemahaman hadis Tsaqalain itu mudah saja yaitu Hadis Tsaqalain menyatakan agar Al Quran dan Ahlul Bait Rasul SAW dijadikan pedoman hidup kita agar kita tidak tersesat. Sederhana bukan.

Kita lihat Akrobat Hafiz Firdaus yang lain, dalam tulisannya itu dia menilai Syiah berlebih-lebihan ketika menjadikan Ahlul Bait sebagai sumber syariat. Lihat kata-katanya

Berpegang kepada Ahl al-Bait Rasulullah tidak bermaksud menjadikan mereka sumber syari‘at Islam kerana mereka sendiri tertakluk kepada al-Qur’an dan al-Sunnah. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman: Dan tidaklah harus bagi orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan keputusan mengenai sesuatu perkara (tidaklah harus mereka) mempunyai hak memilih ketetapan sendiri mengenai urusan mereka. Dan sesiapa yang tidak taat kepada hukum Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah sesat dengan kesesatan yang jelas nyata. [al-Ahzab 33:36] Ahl al-Bait termasuk dalam keumuman perintah “orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan” dalam ayat di atas. Mereka tidak memiliki wewenang untuk memilih atau membuat hukum tersendiri melainkan taat kepada ketetapan Allah (al-Qur’an) dan Rasul-Nya (al-Sunnah).
Tanggapan Kami: Begitukah, sungguh argumentasi yang tidak pada tempatnya. Seharusnya dengan ayat Al Quran yang dia pakai itu apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan keputusan mengenai sesuatu perkara (tidaklah harus mereka) mempunyai hak memilih ketetapan sendiri mengenai urusan mereka maka kita diharuskan menaati perintah Rasulullah SAW dalam hadis Tsaqalain. Bukankah dalam Hadis Tsaqalain tersebut berpedoman kepada Ahlul Bait atau menjadikannya sumber syariat adalah ketetapan yang bersumber dari Rasulullah SAW. Jadi yang mana yang berlebih-lebihan.

Akrobat Hafiz Firdaus yang lain adalah soal analoginya yang tidak pas, untuk memudahkan pemahaman pembaca tentang maksud hadis Tsaqalain, dia telah menampilkan analoginya yaitu

Umpamakan sebuah keluarga yang terdiri daripada seorang ayah, ibu, dan lima orang anak. Anak yang sulung sudah mencapai umur belasan tahun manakala yang bongsu berumur sekitar 8 bulan. Pada satu malam ayah dan ibu ingin keluar kerana ada jemputan majlis perkahwinan. Sebelum keluar rumah ibu berpesan kepada anak-anaknya: Mak dan ayah hendak ke jemputan kahwin anak Pak Su. Along, Nurul, Amin dan Aminah, siapkan homework sekolah. Jangan tak siap sebab bulan depan dah nak exam. Sambil itu tengok-tengokkan adik. Ingat ya tentang adik! Tengokkan lampinnya dan jika menangis bancuhkan susu atau Nestum. Nanti bila mak balik, mak nak tengok sama ada homework dah siap dan lampin adik sudah ditukar atau belum. Ibu telah meninggalkan dua pesanan penting (al-Tsaqalain) kepada anak-anaknya:
1. Hendaklah disiapkan kerja sekolah.
2. Diperingatkan tentang adik bongsu yang berumur lapan bulan.
Apabila ibu memperingatkan abang-abang dan kakak-kakak tentang adik mereka, ia bererti ibu meletakkan tanggungjawab di atas bahu abang-abang dan kakak-kakak. Tanggungjawab tersebut ialah menjaga hal ehwal adik bongsu mereka. Tidak sebaliknya, peringatan ibu tidak sekali-kali bermaksud menjadikan adik bongsu bertanggungjawab ke atas hal ehwal abang-abang dan kakak-kakaknya.

Lihat baik-baik apakah analoginya itu pas dengan hadis Tsaqalain. Dalam hadis Tsaqalain riwayat Muslim tidak ada perincian soal apa peringatan Rasulullah SAW itu. Sedangkan dalam analoginya perincian itu dia paparkan Ingat ya tentang adik! Tengokkan lampinnya dan jika menangis bancuhkan susu atau Nestum. Atau dari kata-kata dan lampin adik sudah ditukar atau belum. Jelas sekali bukan kalau analoginya saja sudah tidak pas, percuma saja dilanjutkan. Bagaimana analogi yang tepat, lihat ini kalau kita berdasarkan hadis Tsaqalain riwayat Tirmidzi analoginya begini

Ibu berkata “Dik ibu sama bapak mau pergi, adik jangan lupa buat PR. Nah supaya gak salah buat PRnya, ini Ibu tinggalin Buku Panduan Lengkap dan Kakak. Ingat lihat Buku itu atau tanya sama Kakak ya”.

Kalau berdasarkan riwayat Muslim analoginya begini

Ibu berkata “Dik ibu sama bapak mau pergi, adik jangan lupa buat PR. Nah ini Buku Panduan Lengkap biar adek buat PRnya gak salah. Ingat Kakak ada dirumah, Ingat ya tentang Kakak, Ingat ya Kakak ada di rumah kok”.

Kedua analogi itu kalau kita perhatikan bersama artinya yang tepat adalah Ibu menyuruh adik mengerjakan PR dengan panduan Buku itu dan Kakak. Jadi pesan Ibu itu justru menempatkan tanggung jawab pada adik supaya kalau tidak mau PRnya salah ya lihat Buku itu dan tanya sama Kakak.

Jadi kalau diperhatikan memang pemahaman Hafiz Firdaus soal hadis Tsaqalain ini benar-benar keliru dan memang sangat dipaksakan. Kesimpulannya, Kalau berdasarkan zahir hadis maka kita dapati arti hadis Tsaqalain itu adalah agar kita menjadikan Al Quran dan Ahlul Bait Rasul SAW sebagai pedoman hidup kita agar tidak tersesat . Cukup sekian pembahasan saya, Wassalam.

16. Al-Quran Dan Hadis Menyatakan Ahlul Bait Selalu Dalam Kebenaran

Ahlul Bait adalah Pribadi-pribadi yang selalu berada dalam kebenaran

Mereka mendapat kemuliaan yang begitu besar yang telah ditetapkan dalam Al Quran dan Hadis. Banyak sekali isu-isu seputar masalah ini yang membuat orang enggan membahasnya. Yang saya maksud itu adalah Bagaimana sebenarnya kedudukan Ahlul Bait Rasulullah SAW dalam Islam. Ada sebagian kelompok yang sangat memuliakan Ahlul Bait, berpedoman kepada Mereka dan Mengambil Ilmu dari Mereka. Ada juga kelompok yang lain yang juga memuliakan Ahlul Bait dan mendudukkan mereka layaknya seperti Sahabat Nabi SAW yang juga memiliki keutamaan yang besar. Ada perbedaan yang besar diantara kedua kelompok ini.

  • Kelompok yang pertama memiliki pandangan bahwa Ahlul Bait adalah pedoman bagi umat islam agar tidak sesat sehingga Mereka adalah Pribadi-pribadi yang ma’sum dan terbebas dari kesalahan. Kelompok yang pertama ini adalah Islam Syiah
  • Kelompok yang kedua memiliki pandangan bahwa Ahlul Bait tidak ma’sum walaupun memiliki banyak keutamaan sehingga Mereka juga tidak terbebas dari kesalahan. Kelompok yang kedua ini adalah Islam Sunni.

Tulisan ini adalah Analisis tentang bagaimana sebenarnya kedudukan Ahlul Bait dalam Islam. Sumber-sumber yang saya pakai sepenuhnya adalah hadis-hadis dalam Kitab Hadis Sunni. Sebelumnya perlu ditekankan bahwa tulisan ini berusaha untuk menelaah pandangan manakah yang benar dan sesuai dengan dalil perihal kedudukan Ahlul Bait Rasulullah SAW. Sebaiknya perlu juga dijelaskan bahwa pembahasan seputar kemuliaan Ahlul Bait ini tidak perlu selalu dikaitkan dengan Sunni atau Syiah. Maksudnya bagaimanapun nantinya pandangan saya tidak perlu dikaitkan dengan apakah saya Sunni atau Syiah karena memang bukan itu inti masalahnya. Cukup lihat dalil atau argumen yang dipakai dan nilailah sendiri benar atau tidak.

Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Al Quran

Al Quran dalam Surah Al Ahzab 33 telah menyatakan kedudukan Ahlul Bait bahwa Mereka adalah Pribadi-pribadi yang disucikan oleh Allah SWT.

Mari kita lihat Al Ahzab ayat 33 yang berbunyi

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.

Jika kita melihat ayat sebelum dan sesudah ayat ini maka dengan sekilas kita dapat menyimpulkan bahwa Ahlul Bait yang dimaksud itu adalah istri-istri Nabi SAW karena memang ayat sebelumnya ditujukan pada istri-istri Nabi SAW. Pemahaman seperti ini dapat dibenarkan jika tidak ada dalil shahih yang menjelaskan tentang ayat ini. Mari kita bahas.

Kita sepakat bahwa Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur, artinya tidak diturunkan sekaligus dalam bentuk kitab yang utuh melainkan diturunkan sebagian-sebagian. Untuk mengetahui kapan ayat-ayat Al Quran diturunkan kita harus merujuk kepada Asbabun Nuzulnya. Tapi sayangnya tidak semua ayat Al Quran terdapat asbabun nuzul yang shahih menjelaskan sebab turunnya. Berdasarkan hal ini maka ayat-ayat dalam al Quran dibagi menjadi

  1. Ayat Al Quran yang memiliki Asbabun Nuzul atau sebab turunnya. Maksudnya ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa atau tujuan tertentu. Hal ini diketahui dengan hadis asbabun nuzul yang shahih.
  2. Ayat Al Quran yang tidak memiliki Asbabun Nuzul atau sebab turunnya karena memang tidak ada asbabun nuzul yang shahih yang menjelaskan sebab turunnya

Lalu apa kaitannya dengan pembahasan ini?.  Ternyata terdapat asbabun nuzul yang shahih yang menjelaskan turunnya penggalan terakhir surah Al Ahzab 33 yang lebih dikenal dengan sebutan Ayat Tathhir(ayat penyucian) yaitu penggalan

Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33)

Yang arti atau terjemahannya adalah

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlul Bait dan mensucikanmu sesuci-sucinya.

Ternyata banyak Hadis-hadis shahih dan jelas yang menyatakan bahwa ayat Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33) turun sendiri terpisah dari ayat sebelum dan sesudahnya. Artinya ayat tersebut tidak terkait dengan ayat sebelum dan sesudahnya yang ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW. Ayat tersebut justru ditujukan untuk Pribadi-pribadi yang lain dan bukan istri-istri Nabi SAW. Mungkin ada yang akan berpendapat bahwa yang seperti ini sama halnya dengan Mutilasi ayat, hal ini jelas tidak benar karena ayat yang dimaksud memang ditujukan untuk pribadi tertentu sesuai dengan asbabun nuzulnya.

Sebenarnya Ada dua cara untuk mengetahui siapa yang dituju oleh suatu Ayat dalam Al Quran.

  • Cara yang pertama adalah dengan melihat ayat sebelum dan ayat sesudah dari ayat yang dimaksud, memahaminya secara keseluruhan dan baru kemudian menarik kesimpulan.
  • Cara kedua adalah dengan melihat Asbabun Nuzul dari Ayat tersebut yang terdapat dalam hadis yang shahih tentang turunnya ayat tersebut.

Cara pertama yaitu dengan melihat urutan ayat, jelas memiliki syarat bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan secara bersamaan atau diturunkan berkaitan dengan individu-individu yang sama. Dan untuk mengetahui hal ini jelas dengan melihat Asbabun Nuzul ayat tersebut. Jadi sebenarnya baik cara pertama atau kedua sama-sama memerlukan asbabun nuzul ayat tersebut. Seandainya terdapat dalil yang shahih dari asbabun nuzul suatu ayat tentang siapa yang dituju dalam ayat tersebut maka hal ini jelas lebih diutamakan ketimbang melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya. Alasannya adalah ayat-ayat Al Quran tidaklah diturunkan secara bersamaan melainkan diturunkan berangsur-angsur. Oleh karenanya dalil shahih dari Asbabun Nuzul jelas lebih tepat menunjukkan siapa yang dituju dalam ayat tersebut.

Berbeda halnya apabila tidak ditemukan dalil shahih yang menjelaskan Asbabun Nuzul ayat tersebut. Maka dalam hal ini jelas lebih tepat dengan melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya untuk menangkap maksud kepada siapa ayat tersebut ditujukan.

Jadi ini bukan mutilasi ayat tapi memang ayatnya turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya dan ditujukan untuk pribadi-pribadi tertentu. Hal ini berdasarkan hadis-hadis yang menjelaskan Asbabun Nuzul Ayat Tathir, Hadis ini memiliki derajat yang sahih dan dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Al Tirmidzi, Al Bazzar, Ibnu Jarir Ath Thabari, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim, Al Hakim, Ath Thabrani, Al Baihaqi dan Al Hafiz Al Hiskani. Berikut adalah hadis riwayat Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi.

Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah , lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Fathimah, Hasan dan Husain, lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW .Beliau SAW pun menutupinya dengan kain Kemudian Beliau bersabda” Allahumma( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya. Ummu Salamah berkata,” Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? . Beliau bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871 dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi).

Dari hadis ini dapat diketahui beberapa hal sebagai berikut

  1. Bahwa ayat ini turun di rumah Ummu Salamah ra, dan terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya. Hadis itu menjelaskan bahwa yang turun itu hanya penggalan ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.
  2. Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri oleh Nabi SAW melalui kata-kata Beliau SAW “Ya Allah, mereka adalah Ahlul BaitKu” Pernyataan ini ditujukan pada mereka yang diselimuti kain oleh Rasulullah SAW yaitu Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.
  3. Ayat ini tidak ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW. Buktinya adalah Pertanyaan Ummu Salamah. Pertanyaan Ummu Salamah mengisyaratkan bahwa ayat itu tidak ditujukan untuk istri-istri Nabi SAW, karena jika Ayat yang dimaksud memang turun untuk istri-istri Nabi SAW maka seyogyanya Ummu Salamah tidak perlu bertanya Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW?. Bukankah jika ayat tersebut turun mengikuti ayat sebelum maupun sesudahnya maka adalah jelas bagi Ummu Salamah bahwa Beliau ra selaku istri Nabi SAW juga dituju dalam ayat tersebut dan Beliau ra tidak akan bertanya kepada Rasulullah SAW. Adanya pertanyaan dari Ummu Salamah ra menyiratkan bahwa ayat ini benar-benar terpisah dari ayat yang khusus untuk Istri-istri Nabi SAW. Sekali lagi ditekankan kalau memang ayat itu jelas untuk istri-istri Nabi SAW maka Ummu Salamah ra tidak perlu bertanya lagi “Dan apakah aku bersama mereka wahai Nabi Allah?”.
  4. Penolakan Rasulullah SAW terhadap pertanyaan Ummu Salamah, Beliau SAW bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”. Hal ini menunjukkan Ummu Salamah selaku salah satu Istri Nabi SAW tidaklah bersama mereka Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini. Beliau Ummu Salamah ra mempunyai kedudukan tersendiri dan bukanlah Ahlul Bait yang dimaksud dalam ayat ini.

Kesimpulan dari hadis-hadis Asbabun nuzul ayat tathhir adalah Ahlul Bait dalam Al Ahzab 33 itu adalah

  1. Rasulullah SAW sendiri karena ayat itu turun untuk Beliau berdasarkan kata-kata Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW
  2. Mereka yang diselimuti kain oleh Rasulullah SAW dan dinyatakan bahwa mereka adalah Ahlul Bait Rasulullah SAW yang dimaksud yaitu Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.

Terdapat beberapa ulama ahlus sunnah yang menyatakan bahwa ayat tathiir adalah khusus untuk Ahlul Kisa’ (Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as) yaitu

  1. Ibnu Jarir Ath Thabari dalam kitab Tafsir Ath Thabary juz I hal 50 ketika menafsirkan ayat ini beliau membatasi cakupan Ahlul Bait itu hanya pada diri Nabi SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan menyatakan bahwa ayat tersebut hanya untuk Mereka berlima (merujuk pada berbagai riwayat yang dikutip Thabari).
  2. Abu Ja’far Ath Thahawi dalam kitab Musykil Al Atsar juz I hal 332-339 setelah meriwayatkan berbagai hadis tentang ayat ini beliau menyatakan bahwa ayat tathiir ditujukan untuk Rasulullah SAW, Ali, Fathimah, Hasan dan Husain dan tidak ada lagi orang selain Mereka. Beliau juga menolak anggapan bahwa Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini adalah istri-istri Nabi SAW. Beliau menulis Maka kita mengerti bahwa pernyataan Allah dalam Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya. (Al-Ahzab :33) ditujukan pada orang-orang yang khusus dituju olehNya untuk mengingatkan akan derajat Mereka yang tinggi dan para istri Rasulullah SAW hanyalah yang dituju pada bagian yang sebelumnya dari ayat itu yaitu sebelum ditujukan pada orang-orang tersebut”.

Mungkin terdapat keraguan sehubungan dengan urutan ayat Al Ahzab 33, kalau memang ayat tersebut hanya ditujukan untuk Ahlul Kisa’ kenapa ayat ini terletak diantara ayat-ayat yang membicarakan tentang istri-istri Nabi. Perlu ditekankan bahwa peletakan susunan ayat-ayat dalam Al Quran adalah dari Nabi SAW dan juga diketahui bahwa ayat ayat Al Quran diturunkan berangsur-angsur, pada dasarnya kita tidak akan menyelisihi urutan ayat kecuali terdapat dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa ayat tersebut turun sendiri dan tidak berkaitan dengan ayat sebelum maupun sesudahnya. Berikut akan diberikan contoh lain tentang ini, yaitu penggalan Al Maidah ayat 3

“Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”.

Ayat di atas adalah penggalan Al Maidah ayat 3 yang turun sendiri di arafah berdasarkan Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam Shahih Bukhari no 4606 , Muslim dalam Shahih Muslim, no 3017 tidak terkait dengan ayat sebelum maupun sesudahnya yang berbicara tentang makanan yang halal dan haram.

Dari Thariq bin Syihab, ia berkata, ‘Orang Yahudi berkata kepada Umar, ‘Sesungguhnya kamu membaca ayat yang jika berhubungan kepada kami, maka kami jadikan hari itu sebagai hari besar’. Maka Umar berkata, ‘Sesungguhnya saya lebih mengetahui dimana ayat tersebut turun dan dimanakah Rasulullah SAW ketika ayat tersebut diturunkan kepadanya, yaitu diturunkan pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan Rasulullah SAW berada di Arafah. Sufyan berkata: “Saya ragu, apakah hari tsb hari Jum’at atau bukan (dan ayat yang dimaksud tersebut) adalah “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (H.R.Muslim, kitab At-Tafsir)

.

Makna Ayat Tathir

Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33)

Innama
Setelah mengetahui bahwa ayat ini ditujukan untuk ahlul kisa’(Rasulullah SAW, Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS) sekarang akan dibahas makna dari ayat tersebut. Ayat ini diawali dengan kata Innama, dalam bahasa arab kata ini memiliki makna al hashr atau pembatasan. Dengan demikian lafal ini menunjukkan bahwa kehendak Allah itu hanya untuk menghilangkan ar rijs dari Ahlul Bait as dan menyucikan Mereka sesuci-sucinya. Allah SWT tidak menghendaki hal itu dari selain Ahlul Bait as dan tidak juga menghendaki hal yang lain untuk Ahlul Bait as.

Yuridullah
Setelah kata Innama diikuti kata yuridullah yang berarti Allah berkehendak, perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa iradah Allah SWT terbagi dua yaitu iradah takwiniyyah dan iradah tasyri’iyyah. Iradah takwiniyyah adalah iradah Allah yang bersifat pasti atau niscaya terjadi, hal ini dapat dilihat dari ayat berikut

“Sesungguhnya perintahNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadaNya ‘Jadilah ‘maka terjadilah ia”(QS Yasin :82)
“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apanila Kami menghendakinya,Kami hanya berkata kepadanya ‘Jadilah’maka jadilah ia”(QS An Nahl :40)
“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki”(QS Hud:107)

Sedangkan yang dimaksud Iradah tasyri’iyah adalah Iradah Allah SWT yang terkait dengan penetapan hukum syariat bagi hamba-hambanya agar melaksanakannya dengan ikhtiar mereka sendiri. Dalam hal ini iradah Allah SWT adalah penetapan syariat adapun pelaksanaannya oleh hamba adalah salah satu tujuan penetapan syariat itu, oleh karenanya terkadang tujuan itu terealisasi dan terkadang tidak sesuai dengan pilihan hamba itu sendiri apakah mematuhi syariat yang telah ditetapkan Allah SWT atau melanggarnya. Contoh iradah ini dapat dilihat pada ayat berikut

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah)bulan ramadhan,bulan yang didalamnya diturunkan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda(antara yang haq dan yang bathil).Karena itu barangsiapa diantara kamu hadir di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka(wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Baqarah :185).

“Hai orang-orang beriman apabila kamu hendak mengerjakan sholat,maka basuhlah muka dan tanganmu sampai ke siku dan sapulah kepalamu dan kakimusampai dengan kedua mata kaki dan jika kamu junub maka mandilah dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan lalu kamu tidak memperoleh air,maka bertanyamumlah dengan tanah yang baik(bersih) sapulah muka dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmatnya bagimu supaya kamu bersyukur”.(QS Al Maidah : 6)
Iradah dalam Al Baqarah 185 adalah berkaitan dengan syariat Allah tentang puasa dimana aturan-aturan yang ditetapkan Allah itu adalah untuk memudahkan manusia dalam melaksanakannya,sehingga iradah ini akan terwujud pada orang yang berpuasa. Sedangkan yang tidak mau berpuasa jelas tidak ada hubungannya dengan iradah ini. Begitu juga Iradah dalam Al Maidah ayat 6 dimana Allah hendak membersihkan manusia dan menyempurnakan nikmatnya bagi manusia supaya manusia bersyukur, iradah ini jelas terkait dengan syariat wudhu dan tanyamum yang Allah tetapkan oleh karenanya iradah ini akan terwujud bagi orang yang bersuci sebelum sholat dengan wudhu dan tanyamum dan ini tidak berlaku bagi orang yang tidak bersuci baik dengan wudhu atau tanyamum. Dan perlu ditekankan bahwa iradah tasyri’iyah ini ditujukan pada semua umat muslim yang melaksanakan syariat Allah SWT tersebut termasuk dalam hal ini Ahlul Bait as.

Iradah dalam Ayat tathhiir adalah iradah takwiniyah dan bukan iradah tasyri’iyah artinya tidak terkait dengan syariat tertentu yang Allah tetapkan, tetapi iradah ini bersifat niscya atau pasti terjadi. Hal ini berdasarkan alasan-alasan berikut

  1. Penggunaan lafal Innama yang bermakna hashr atau pembatasan menunjukkan arti bahwa Allah tidak berkehendak untuk menghilangkan rijs dengan bentuk seperti itu kecuali dari Ahlul Bait, atau dengan kata lain kehendak penyucian ini terbatas hanya pada pribadi yang disebut Ahlul Bait dalam ayat ini.
  2. Berdasarkan asbabun nuzulnya ayat ini seperti dalam hadis riwayat Turmudzi di atas tidak ada penjelasan bahwa iradah ini berkaitan dengan syariat tertentu yang Allah tetapkan.
  3. Allah memberi penekanan khusus setelah kata kerja liyudzhiba(menghilangkan) dengan firmannya wa yuthahhirakum tathiira. Dan kata kerja kedua ini wa yuthahhirakum(menyucikanmu) dikuatkan dengan mashdar tathiira(sesuci-sucinya)yang mengakhiri ayat tersebut. Penekanan khusus ini merupakan salah satu petunjuk bahwa iradah Allah ini adalah iradah takwiniyah.

Li yudzhiba ‘An kumurrijsa Ahlal bait
Kemudian kalimat selanjutnya adalah li yudzhiba ‘an kumurrijsa ahlal bait . Kalimat tersebut menggunakan kata ‘an bukan min. Dalam bahasa Arab, kata ’an digunakan untuk sesuatu yang belum mengenai, sementara kata min digunakan untuk sesuatu yang telah mengenai. Oleh karena itu, kalimat tersebut memiliki arti untuk menghilangkan rijs dari Ahlul Bait (sebelum rijs tersebut mengenai Ahlul Bait), atau dengan kata lain untuk menghindarkan Ahlul Bait dari rijs. Sehingga jelas sekali, dari kalimat ini terlihat makna kesucian Ahlul Bait dari rijs. Lagipula adalah tidak tepat menisbatkan bahwa sebelumnya mereka Ahlul bait memiliki rijs kemudian baru Allah menyucikannya karena Ahlul Bait yang disucikan dalam ayat ini meliputi Imam Hasan dan Imam Husain yang waktu itu masih kecil dan belum memiliki rijs.

Ar Rijs
Dalam Al Quran terdapat cukup banyak ayat yang menggunakan kata rijs, diantaranya adalah sebagai berikut.

“Sesungguhny,a (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji (rijs) termasuk perbuatan setan” (QS Al Maidah: 90).
“Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis (rijs) dan jauhilah perkataan-perkataan dusta” (QS Al Hajj: 30).
“Dan adapun orang orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat ini bertambah kekafiran (rijs) mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir” (QS At Taubah: 125).
“Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis (rijs)” (QS At Taubah: 95).
“Dan Allah menimpakan kemurkaan (rijs) kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya” (QS Yunus: 100).

Dari semua ayat-ayat ini dapat ditarik kesimpulan bahwa rijs adalah segala hal bisa dalam bentuk keyakinan atau perbuatan yang keji, najis yang tidak diridhai dan menyebabkan kemurkaan Allah SWT.

Asy Syaukani dalam tafsir Fathul Qadir jilid 4 hal 278 menulis,

“… yang dimaksud dengan rijs ialah dosa yang dapat menodai jiwa jiwa yang disebabkan oleh meninggalkan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah dan melakukan apa-apa yang dilarang oleh-Nya. Maka maksud dari kata tersebut ialah seluruh hal yang di dalamnya tidak ada keridhaan Allah SWT”.

Kemudian ia melanjutkan,

“Firman `… dan menyucikan kalian… ‘ maksudnya adalah: `Dan menyucikan kalian dari dosa dan karat (akibat bekas dosa) dengan penyucian yang sempurna.’ Dan dalam peminjaman kata rijs untuk arti dosa, serta penyebutan kata thuhr setelahnya, terdapat isyarat adanya keharusan menjauhinya dan kecaman atas pelakunya”.

Lalu ia menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Abbas sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al Hakim, At Turmudzi, Ath Thabarani, Ibnu Mardawaih, dan Al Baihaqi dalam kitab Ad Dalail jilid 4 hal 280, bahwa Nabi saw. bersabda dengan sabda yang panjang, dan pada akhirnya beliau mengatakan “Aku dan Ahlul BaitKu tersucikan dari dosa-dosa”. (kami telah membahas secara khusus hadis ini di bagaian yang lain)

Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam kitab Ash Shawaiq hal 144-145 berkata,

“Ayat ini adalah sumber keutamaan Ahlul Bait, karena ia memuat mutiara keutamaan dan perhatian atas mereka. Allah mengawalinya dengan innama yang berfungsi sebagai pengkhususan kehendakNya untuk menghilangkan hanya dari mereka rijs yang berarti dosa dan keraguan terhadap apa yang seharusnya diimani dan menyucikan mereka dari seluruh akhlak dan keadaan tercela.”

Jalaluddin As Suyuthi dalam kitab Al lklil hal 178 menyebutkan bahwa

kesalahan adalah rijs, oleh karena itu kesalahan tidak mungkin ada pada Ahlul Bait.

Semua penjelasan diatas menyimpulkan bahwa Ayat tathiir ini memiliki makna bahwa Allah SWT hanya berkehendak untuk menyucikan Ahlul Bait dari semua bentuk keraguan dan perbuatan yang tercela termasuk kesalahan yang dapat menyebabkan dosa dan kehendak ini bersifat takwiniyah atau pasti terjadi. Selain itu penyucian ini tidak berarti bahwa sebelumnya terdapat rijs tetapi penyucian ini sebelum semua rijs itu mengenai Ahlul Bait atau dengan kata lain Ahlul Bait dalam ayat ini adalah pribadi-pribadi yang dijaga dan dihindarkan oleh Allah SWT dari semua bentuk rijs. Jadi tampak jelas sekali bahwa ayat ini telah menjelaskan tentang kedudukan yang mulia dari Ahlul Bait yaitu Rasulullah SAW, Imam Ali as, Sayyidah Fathimah Az Zahra as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Penyucian ini menetapkan bahwa Mereka Ahlul Bait senantiasa menjauhkan diri dari dosa-dosa dan senantiasa berada dalam kebenaran. Oleh karenanya tepat sekali kalau mereka adalah salah satu dari Tsaqalain selain Al Quran yang dijelaskan Rasulullah SAW sebagai tempat berpegang dan berpedoman umat islam agar tidak tersesat.

Kemuliaan Ahlul Bait Dalam Hadis Rasulullah SAW

Rasulullah SAW bersabda. “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh“ (Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148 Al Hakim menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim).

Hadis-hadis Shahih dari Rasulullah SAW menjelaskan bahwa mereka Ahlul Bait AS adalah pedoman bagi umat Islam selain Al Quranul Karim. Mereka Ahlul Bait senantiasa bersama Al Quran dan senantiasa bersama kebenaran.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761)

Hadis ini menjelaskan bahwa manusia termasuk sahabat Nabi diharuskan berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait. Ahlul Bait yang dimaksud dijelaskan sendiri dalam Hadis Sunan Tirmidzi di atas atau Hadis Kisa’ yaitu Sayyidah Fathimah AS, Imam Ali AS, Imam Hasan AS dan Imam Husain AS.

Selain itu ada juga hadis

Hanash Kanani meriwayatkan “aku melihat Abu Dzar memegang pintu ka’bah (baitullah)dan berkata”wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal,jika tidak maka aku adalah Abu Dzar.Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Ahlul BaitKu seperti perahu Nabi Nuh, barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam”.(Hadis riwayat Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih).

Hadis ini menjelaskan bahwa Ahlul Bait seperti bahtera Nuh dimana yang menaikinya akan selamat dan yang tidak mengikutinya akan tenggelam. Mereka Ahlul Bait Rasulullah SAW adalah pemberi petunjuk keselamatan dari perpecahan.

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan.Adapun Ahlul BaitKu adalah petunjuk keselamatan bagi umatKu dari perpecahan.Maka apabila ada kabilah arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”.
(Hadis riwayat Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 149, Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim).

Begitu besarnya kemuliaan Ahlul Bait Rasulullah SAW ini membuat mereka jelas tidak bisa dibandingkan dengan sahabat-sahabat Nabi ra. Tidak benar jika dikatakan bahwa Ahlul Bait sama halnya sahabat-sahabat Nabi ra sama-sama memiliki keutamaan yang besar karena jelas sekali berdasarkan dalil shahih di atas bahwa Ahlul Bait kedudukannya lebih tinggi karena Mereka adalah tempat rujukan bagi para sahabat Nabi setelah Rasulullah SAW meninggal. Jadi tidak tepat kalau dikatakan Ahlul Bait juga bisa salah, atau sahabat Nabi bisa mengajari Ahlul Bait atau Menyalahkan Ahlul Bait. Sekali lagi, Al Quran dan Hadis di atas sangat jelas menunjukkan bahwa mereka Ahlul Bait akan selalu bersama kebenaran oleh karenanya Rasulullah SAW memerintahkan umatnya(termasuk sahabat-sahabat Beliau SAW) untuk berpegang teguh dengan Mereka Ahlul Bait.

17. Siapakah Fatimah Az Zahra AS ?

Beliau AS adalah Putri tercinta Rasulullah SAW. Beliau AS lahir dari Keluarga yang paling mulia dan dididik dalam lingkungan Kenabian. Beliau AS adalah sosok yang mulia dan panutan bagi umat muslim setelah Rasulullah SAW. Beliau AS adalah semulia-mulia teladan bagi wanita yang mukmin.. Beliau AS adalah pribadi yang selalu berada dalam kebenaran. Beliau AS adalah Pribadi yang disucikan oleh Allah SWT dari segala dosa.

Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Wanita penghuni surga yang paling utama

Rasulullah SAW bersabda” Wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahim istri Firaun.(Hadis shahih riwayat Ahmad,Thabrani,Hakim,Thahawi dalam Shahih Al Jami’As Saghir no 1135 dan Silsilah Al Hadits Al Shahihah no1508).

Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Pemimpin atau penghulu seluruh wanita di surga

Bahwa ada malaikat yang datang menemui Rasulullah SAW dan berkata “sesungguhnya Fathimah adalah penghulu seluruh wanita di dalam surga”.(Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak dengan sanad yang baik).

Rasululah SAW bersabda kepada Fathimah“Tidakkah Engkau senang jika Engkau menjadi penghulu bagi wanita seluruh alam” (Hadis riwayat Al Bukhari dalam kitab Al Maghazi) .

Beliau AS adalah semulia-mulia wanita dan Sayyidah wanita sedunia.

Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Fathimah, tidakkah anda puas menjadi sayyidah dari wanita sedunia (atau) menjadi wanita tertinggi dari semua wanita dari ummat ini atau wanita mukmin”(Hadis dalam Sahih Bukhari jilid VIII, Sahih Muslim jilid VII, Sunan Ibnu Majah jilid I hlm 518 ,Musnad Ahmad bin Hanbal jilid VI hlm 282,Mustadrak Al Hakim jilid III hlm156).

Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah bagian dari diri Rasulullah SAW. Siapapun yang meragukan Beliau AS berarti meragukan Rasulullah SAW. Kemarahan Beliau AS adalah Kemarahan Rasulullah SAW. Tentu kemarahan ini selalu berada dalam kebenaran dan tidak hanya berlandaskan emosi semata.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Fathimah adalah bahagian dariku, barangsiapa yang membuatnya marah, membuatku marah!”(Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari Bab Fadhail Fathimah no 61).

Rasulullah SAW bersabda “Fathimah adalah sebahagian daripadaku; barangsiapa ragu terhadapnya, berarti ragu terhadapku, dan membohonginya adalah membohongiku”(Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari kitab nikah bab Dzabb ar-Rajuli).

Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang disucikan sesuci-sucinya oleh Allah SWT dari segala dosa. Oleh karena itu Beliau AS terhindar dari kesalahan dan perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah SWT.

Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “ Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bekehendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah , lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Fathimah,Hasan dan Husain, lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW .Beliau SAW pun menutupinya dengan kain Kemudian Beliau bersabda” Allahumma( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.Ummu Salamah berkata,” Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? . Beliau bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871 dishahihkan oleh Syaikh Nashirudin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi ).

Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang disucikan dan oleh karenanya Beliau jelas sekali adalah Ahlul Bait yang dimaksud dalam hadis Tsaqalain bahwa Mereka selalu bersama Al Quran dan selalu bersama kebenaran.

Rasulullah SAW bersabda. “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh. (Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148 Al Hakim menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim).

Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait tempat berpegang umat Islam agar terhindar dari kesesatan.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).

Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait pemberi petunjuk keselamatan bagi umat Islam

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan.Adapun Ahlul BaitKu adalah petunjuk keselamatan bagi umatKu dari perpecahan.Maka apabila ada kabilah arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”.(Hadis riwayat Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 149, Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim).

Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait laksana Bahtera Nabi Nuh AS yang barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam

Hanash Kanani meriwayatkan “aku melihat Abu Dzar memegang pintu ka’bah (baitullah)dan berkata”wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal,jika tidak maka aku adalah Abu Dzar.Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Ahlul BaitKu seperti perahu Nabi Nuh,barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam”.(Hadis riwayat Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih).

Semua keutamaan di atas jelas sekali menunjukkan bahwa Sayyidah Fatimah AS tidak sama dengan sahabat-sahabat Nabi ra. Beliau AS memiliki keutamaan jauh di atas mereka. Mereka para sahabat Nabi lebih layak merujuk dan berpedoman kepada Beliau Sayyidah Fatimah AS yang merupakan Ahlul Bait Rasulullah SAW. Bukankah mereka para sahabat Nabi ra telah mendengarkan wasiat Rasulullah SAW dalam hadis Tsaqalain bahwa mereka harus berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait.

Jadi sungguh aneh sekali kalau ada yang berkata bahwa Sayyidah Fatimah AS layaknya sahabat Nabi yang lain yang juga bisa salah atau dipengaruhi kecenderungan pribadi, atau pendapat Beliau AS hanyalah penafsiran yang juga bisa salah, pendapat ini jelas bertentangan dengan dalil yang shahih. Oleh karena itu Seandainya ada perselisihan antara Sayyidah Fatimah AS dan sahabat Nabi ra maka sudah pasti kebenaran ada pada Sayyidah Fatimah AS karena Beliau AS adalah pribadi yang disucikan oleh Allah SWT dan senantiasa berada dalam kebenaran.

18. Analisis Riwayat Fadak Antara Sayyidah Fatimah a.s Dan Abu Bakar

Perhatian sebelumnya tulisan ini sangat panjang dan membutuhkan sedikit analisis yang rumit, jadi diingatkan jangan salah paham dan cobalah mengerti kalau ini hanya pandangan.

Sudut Pandang dan Hujjah

Muqaddimah

Hadis Tentang Fadak

Analisis Riwayat Fadak

Bagaimana Menyikapi Riwayat Fadak

Apakah masalah ini tidak penting dan membuka aib keluarga Nabi SAW?

Pembahasan

Analisis Terhadap Kedudukan Sayyidah Fatimah AS

  • Kedudukan Sayyidah Fatimah AS sebagai Ahlul Bait
  • Kedudukan Sayyidah Fatimah AS Sebagai Ahli Waris Nabi SAW

Analisis Terhadap Hadis Yang Disampaikan Abu Bakar RA.

  • Bertentangan Dengan Hadis Lain
  • Perbedaan Pendapat Abu Bakar dan Umar bin Khattab Serta Pendirian Ali dan Abbas
  • Bertentangan Dengan Al Quranul Karim
  • Al Kitab Juga Menyatakan Nabi Mewariskan Harta

Kesimpulan Analisis

…………………..Mari Kita Mulai……………………

Muqaddimah

Selepas kematian Junjungan yang mulia Rasulullah SAW terjadi suatu perselisihan antara Ahlul Bait yang dalam hal ini Sayyidah Fatimah Az Zahra AS dengan sahabat Nabi yaitu Abu Bakar ra. Perselisihan ini berkaitan dengan tanah Fadak. Fadak adalah tanah harta milik Rasulullah SAW. Sayyidah Fatimah Az Zahra AS menuntut bagiannya dari tanah Fadak karena itu adalah haknya sebagai Ahli Waris Rasulullah SAW. Abu Bakar ra dalam hal ini menolak permintaan Sayyidah Fatimah Az Zahra AS dengan membawakan hadis “Kami para Nabi tidaklah mewarisi dan apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah”. Berdasarkan hadis ini Abu Bakar ra menolak permintaan Sayyidah Fatimah AS karena harta milik Nabi Muhammad SAW tidak menjadi milik Ahli Waris Beliau SAW tetapi menjadi sedekah bagi kaum muslimin.

Tulisan ini akan membahas lebih lanjut masalah ini. Sebelumnya akan dijelaskan bahwa masalah ini memang sensitif dan tidak jarang menimbulkan rasa tidak senang di kalangan tertentu. Masalah ini sudah menjadi isu yang seringkali dipermasalahkan oleh dua kelompok besar Islam yaitu Sunni dan Syiah. Sunni dalam hal ini cenderung tidak menganggap penting masalah ini. Kebanyakan dari Sunni berpendapat bahwa perselisihan itu adalah ijtihad dari masing-masing pihak sedangkan Syiah cenderung membela Ahlul Bait atau Sayyidah Fatimah Az Zahra AS dan dalam hal ini mereka tidak segan-segan menyalahkan Abu Bakar ra. Pendapat Syiah ini ditolak oleh Sunni karena Abu Bakar ra dalam hal ini hanya berpegang pada hadis Rasulullah SAW.

Perselisihan antara Islam Sunni dan Syiah memang sudah sangat lama dan masing-masing pihak memiliki dasar dan dalil sendiri. Sayangnya perselisihan ini justru menimbulkan persepsi yang aneh di kalangan tertentu.

  • Ada sebagian orang yang memiliki persepi yang buruk tentang Syiah tidak segan-segan menolak riwayat Fadak dan menuduh itu Cuma cerita buatan Syiah.
  • Sebagian lagi suka menuduh siapa saja yang mengungkit kisah Fadak ini maka dia adalah Syiah.
  • Siapa saja yang berpendapat kalau Abu Bakar ra salah dalam hal ini maka dia adalah Syiah.

Persepsi aneh tersebut muncul karena pengaruh propaganda pihak-pihak tertentu yang suka menyudutkan dan mengkafirkan Syiah. Sehingga nama Syiah selalu menimbulkan persepsi yang buruk dan mempengaruhi jalan pikiran orang-orang tertentu. Orang-orang seperti ini yang menjadikan prasangka sebagai keyakinan dan yah bisa ditebak kalau mereka ini sukar sekali memahami pembicaraan dan dalil orang lain. Karena semua hujjah dan dalil orang lain dinilai dengan prasangka yang belum tentu benar.

Singkatnya semua persepsi aneh ini tidak terlepas dari kerangka kemahzaban. Seolah-olah pendapat yang benar dalam masalah ini adalah apa yang bertentangan dengan pendapat Syiah. Seolah-olah siapa saja yang berpendapat seperti yang Syiah katakan maka dia jelas salah. Yang seperti ini tidak lain hanya fanatisme belaka. Kebenaran tidak diukur dari golongan tetapi sebaliknya golongan itulah yang mesti diukur dengan kebenaran.

Dalam pembahasan masalah Fadak ini penulis akan berlepas diri dari semua fanatisme mahzab dan berusaha menganalisisnya secara objektif. Walaupun pada akhirnya tetap ada saja yang suka menuduh macam-macam.

Hadis Tentang Fadak
Hadis ini terdapat dalam Shahih Bukhari Kitab Fardh Al Khumus Bab Khumus no 1345. Berikut adalah hadis tentang Fadak yang dimaksud yang penulis ambil dari Kitab Mukhtasar Shahih Bukhari oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta.

Dari Aisyah, Ummul Mukminah RA, ia berkata “Sesungguhnya Fatimah AS binti Rasulullah SAW meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah SAW supaya membagikan kepadanya harta warisan bagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain :kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120] Abu Bakar lalu berkata kepadanya, [Dalam riwayat lain :Sesungguhnya Fatimah dan Abbas datang kepada Abu Bakar meminta dibagikan warisan untuk mereka berdua apa yang ditinggalkan Rasulullah SAW, saat itu mereka berdua meminta dibagi tanah dari Fadak dan saham keduanya dari tanah (Khaibar) lalu pada keduanya berkata 7/3] Abu Bakar “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “Harta Kami tidaklah diwaris ,Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah [Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini, [maksudnya adalah harta Allah- Mereka tidak boleh menambah jatah makan] Abu Bakar berkata “Aku tidak akan biarkan satu urusan yang aku lihat Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku akan melakukannya] Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.
Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali RA yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian Ia menshalatinya.

Di kitab yang sama Mukhtasar Shahih Bukhari hal 609, disebutkan

Aisyah berkata “Fatimah meminta bagiannya kepada Abu Bakar dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW berupa tanah di Khaibar dan Fadak dan sedekah Beliau624 di Madinah. Abu Bakar menolak yang demikian kepadanya dan Abu Bakar berkata “Aku tidak meninggalkan sesuatu yang dulu diperbuat oleh Rasulullah SAW kecuali akan melaksanakannya, Sesungguhnya aku khawatir menyimpang dari kebenaran bila aku meninggalkan sesuatu dari urusan Beliau”. Adapun sedekah Beliau di Madinah, oleh Umar diserahkan kepada Ali dan Abbas. Adapun tanah Khaibar dan Fadak maka Umarlah yang menanganinya, Ia berkata “Keduanya adalah sedekah Rasulullah keduanya untuk hak-hak Beliau yang biasa dibebankan kepada Beliau dan untuk kebutuhan-kebutuhan Beliau. Sedangkan urusan itu diserahkan kepada orang yang memegang kekuasaan.

Di catatan kaki no 624 disebutkan bahwa sedekah Beliau SAW di Madinah yang dimaksud adalah Kurma Bani Nadhir yang jaraknya dekat dengan Madinah.

Analisis Riwayat Fadak
Riwayat pertama dan kedua dengan jelas menunjukkan bahwa Sayyidah Fatimah meminta bagian warisnya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW salah satunya adalah tanah Fadak. Hal ini menunjukkan Sayyidah Fatimah AS tidak tahu bahwa harta yang ditinggalkan Nabi SAW adalah sedekah(berdasarkan hadis yang dikatakan Abu Bakar). Sebenarnya tidak hanya Sayyidah Fatimah yang meminta bagian waris dari Harta Nabi SAW, Paman Nabi Abbas RA dan Istri-istri Nabi SAW selain Aisyah juga meminta bagian waris mereka. Jadi kebanyakan keluarga Nabi SAW yang adalah Ahli waris Nabi tidak mengetahui kalau harta yang ditinggalkan Nabi SAW adalah sedekah(berdasarkan hadis yang dikatakan Abu Bakar).

Abu Bakar RA dalam hal ini menolak permintaan Sayyidah Fatimah AS dengan membawakan hadis bahwa Para Nabi tidak mewarisi, apa yang ditinggalkan menjadi sedekah. Setelah mendengar pernyataan Abu Bakar, Sayyidah Fatimah AS marah dan mendiamkan atau tidak mau berbicara kepada Abu Bakar sampai Beliau wafat yaitu selama 6 bulan. Semua penjelasan ini sudah cukup untuk menyatakan memang terjadi perselisihan paham antara Abu Bakar RA dan Sayyidah Fatimah AS.

Bagaimana Menyikapi Riwayat Fadak
Banyak hal yang akan mempengaruhi orang dalam mempersepsi riwayat ini.

  1. Ada yang beranggapan kalau masalah ini adalah perbedaan penafsiran atau ijtihad masing-masing dan dalam hal ini keduanya benar
  2. Ada yang beranggapan bahwa masalah ini tidak perlu dibesar-besarkan karena menganggap permasalahan ini tidak penting dan hanya membuka aib keluarga Nabi SAW.
  3. Ada yang beranggapan dalam masalah ini yang benar adalah Abu Bakar RA
  4. Ada yang beranggapan bahwa yang benar dalam masalah ini adalah Sayyidah Fatimah AS.

Riwayat di atas memang menunjukkan perbedaan pandangan Abu Bakar RA dan Sayyidah Fatimah AS. Sayangnya pernyataan keduanya benar adalah tidak tepat. Alasannya sangat jelas keduanya memiliki pandangan yang benar-benar bertolak belakang. Artinya jika yang satu benar maka yang lain salah begitu juga sebaliknya. Mari kita lihat
Sayyidah Fatimah AS tidak menganggap bahwa harta peninggalan Rasulullah SAW adalah sedekah. Beliau berpandangan bahwa harta peninggalan Rasulullah SAW menjadi milik ahli waris Beliau SAW oleh karena itu Beliau meminta bagian warisan tanah Fadak.
Abu Bakar menolak permintaan Sayyidah Fatimah AS dengan membawakan hadis bahwa para Nabi tidak mewarisi apa yang kami tinggalkan menjadi sedekah.
Sayyidah Fatimah AS setelah mendengar perkataan Abu Bakar menjadi marah dan tidak berbicara dengan Abu Bakar sampai Beliau wafat. Artinya Sayyidah Fatimah tidak sependapat dengan Abu Bakar oleh karena itu Beliau marah.
Jadi tidak bisa dinyatakan bahwa keduanya benar. Yang benar dalam masalah ini terletak pada salah satunya.

Apakah masalah ini tidak penting dan membuka aib keluarga Nabi SAW?

Jawabannya ini hanya sekedar persepsi. Dari awal orang yang berpikiran kalau masalah ini adalah aib pasti memiliki prakonsepsi bahwa memang terjadi perselisihan antara Abu Bakar dan Sayyidah Fatimah AS. Masalahnya kalau memang tidak ada apa-apa atau hanya sekedar beda penafsiran jelas tidak perlu dianggap aib. Kemungkinan besar dari awal orang yang berpikiran seperti ini menyatakan bahwa Abu Bakar RA benar dalam hal ini. Sehingga dia beranggapan ketidaktahuan Sayyidah Fatimah dengan hadis Abu Bakar dan sikap marah serta mendiamkan oleh Sayyidah Fatimah sebagai aib yang tidak perlu diungkit-ungkit. Menurutnya tidak mungkin Sayyidah Fatimah pemarah dan pendendam. Orang seperti ini jelas tidak memahami dengan baik. Maaf ya .

Sebenarnya hadis diatas tidak menyatakan bahwa Sayyidah Fatimah seorang pemarah, yang benar bahwa Sayyidah Fatimah marah kepada Abu Bakar.  Marah dan pemarah adalah dua hal yang berbeda karena Pemarah menunjukkan sikap atau pribadi yang mudah marah sedangkan Marah adalah suatu keadaan tertentu bukan sikap atau kepibadian. Mengkaitkan kata pendendam pada riwayat ini juga tidak relevan. Sikap marah dan mendiamkan Abu Bakar RA yang dilakukan Sayyidah Fatimah berkaitan dengan pandangan Beliau bahwa Beliau jelas dalam posisi yang benar sehingga sikap tersebut justru menunjukkan keteguhan Sayyidah Fatimah pada apa yang Beliau anggap benar. Sayyidah Fatimah tidaklah sama dengan manusia lain, yang bisa sembarangan marah dan hanya meluapkan emosi semata. Kemarahan Beliau selalu terkait dengan kebenaran oleh karenanya Rasulullah SAW bersabda

“Fathimah adalah bahagian dariku, barangsiapa yang membuatnya marah, membuatku marah!”(Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari jilid 5 Bab Fadhail Fathimah no 61).

Jelas sekali kalau kemarahan Sayyidah Fatimah AS adalah kemarahan Rasulullah SAW. Apa yang membuat Sayyidah Fatimah marah maka hal itu juga membuat Rasulullah SAW marah. Oleh karena itu berkenaan dengan perselisihan pandangan Sayyidah Fatimah dan Abu Bakar RA saya beranggapan bahwa kebenaran terletak pada salah satunya dan tidak keduanya. Dalam hal ini saya beranggapan bahwa kebenaran ada pada Sayyidah Fatimah Az Zahra AS. Berikut pembahasannya

Analisis Terhadap Kedudukan Sayyidah Fatimah AS
Analisis pertama dimulai dari kedudukan Sayyidah Fatimah Az Zahra AS, Dalam tulisan saya sebelumnya saya telah membahas masalah Siapa Sebenarnya Sayyidah Fatimah Az Zahra AS?. Kesimpulan tulisan itu bahwa Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang senantiasa bersama kebenaran.

Sebelumnya akan ditanggapi terlebih dahulu pernyataan sebagian orang “Kenapa dalam masalah Fadak yang dibahas hanya Sayyidah Fatimah AS saja, bukankah ada juga yang lain yang menuntut waris?”. Sebenarnya pernyataan Ada yang lain justru memperkuat kebenaran Sayyidah Fatimah AS, apa sebenarnya masalah orang yang berkata seperti ini?. Padahal kalau saja mereka tahu kedudukan Sayyidah Fatimah AS yang sebenarnya maka mereka tidak perlu bertanya yang aneh seperti ini. Sayyidah Fatimah berbeda dengan yang lain karena Beliau AS adalah Ahlul Bait yang disucikan oleh Allah SWT dan salah satu Tsaqalain yang menjadi pegangan umat Islam. Sayyidah Fatimah AS berbeda dengan yang lain karena kemarahan Beliau AS adalah kemarahan Rasulullah SAW dan menjadi hujjah akan benar atau tidaknya sesuatu.

Kedudukan Sayyidah Fatimah AS sebagai Ahlul Bait
Mari kita lihat kembali hadis Tsaqalain. Hadis itu disampaikan oleh Rasulullah SAW sebelum Beliau SAW wafat, Beliau SAW berpesan kepada sahabat-sahabatnya untuk berpegang teguh pada Al Quran dan Ahlul Bait agar tidak sesat. Sabda Rasulullah SAW ini adalah bukti jelas bahwa sahabat diperintahkan untuk berpedoman kepada Ahlul Bait dan bukan sebaliknya. Ahlul Bait yang dimaksud juga sudah saya jelaskan dalam tulisan saya Al Quran dan Ahlul Bait selalu dalam kebenaran. Sudah jelas sekali kalau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait Rasulullah SAW.

Mari kita lihat hadis Fadak, dari hadis itu didapati bahwa Sayyidah Fatimah tidak mengetahui kalau Para Nabi tidak mewariskan atau harta peninggalan para Nabi menjadi sedekah. Hal ini menimbulkan kemusykilan karena Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang menjadi pedoman bagi sahabat, Beliau Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait yang selalu bersama Al Quran dan kebenaran sehingga tidak mungkin tidak mengetahui perkara seperti ini.

  • Menerima kalau Sayyidah Fatimah AS tidak tahu itu berarti menerima kalau Beliau pada awalnya menuntut sesuatu yang bukan haknya.
  • Menerima kalau Sayyidah Fatimah AS tidak tahu itu berarti menerima bahwa Beliau pada awalnya adalah keliru.

Mungkinkah Ahlul Bait yang menjadi tempat pedoman para sahabat agar tidak sesat bisa tidak mengetahui hadis ini?, Mungkinkah Ahlul Bait yang selalu bersama Al Quran dan selalu bersama kebenaran bisa keliru?, Mungkinkah Ahlul Bait yang disucikan oleh Allah SWT menuntut sesuatu yang bukan haknya?. Jawabannya jelas tidak.

Kemudian mari kita lihat lagi, ternyata setelah mendengar pernyataan Abu Bakar RA yang membawakan hadis Para Nabi tidak mewariskan atau harta peninggalan para Nabi menjadi sedekah, Sayyidah Fatimah menjadi marah dan mendiamkan Abu Bakar selama 6 bulan. Mungkinkah Sayyidah Fatimah AS atau Ahlul Bait akan menjadi marah mendengar hadis Rasulullah SAW? Jawabannya juga tidak, seandainya hadis itu memang benar maka Sayyidah Fatimah dengan kedudukan Beliau AS yang mulia pasti akan menerima hadis Rasulullah SAW. Bagaimana mungkin Pribadi yang merupakan salah satu dari Tsaqalain dan selalu bersama Al Quran akan menolak hadis Rasulullah SAW.

Lihat kembali hadis Rasulullah SAW yang menyatakan apa saja yang membuat Sayyidah Fatimah AS marah maka itu juga membuat Rasulullah SAW marah. Dalam hadis fadak, Sayyidah Fatimah marah setelah mendengar hadis Rasulullah SAW yang disampaikan Abu Bakar. Hal ini berarti jika Rasulullah SAW ada disitu saat itu maka Rasulullah SAW pun akan marah juga berdasarkan hadis di atas. Jadi mungkinkah Rasulullah SAW marah dengan apa yang Beliau katakan sendiri?, atau justru sebenarnya hadis yang disampaikan Abu Bakar RA itu tidak benar. Lihat banyak sekali kemusykilan yang ditimbulkan hadis yang disampaikan Abu Bakar RA.

Kedudukan Sayyidah Fatimah AS Sebagai Ahli Waris Nabi SAW
Sayyidah Fatimah AS adalah Putri tercinta Rasulullah SAW yang dalam hal ini jelas merupakan Ahli waris Beliau SAW. Oleh karena itu tentu sebagai Ahli waris, Beliau lebih layak untuk mengetahui apapun perihal hak warisnya termasuk hadis yang disampaikan Abu Bakar RA. Mari kita lihat hadis Fadak, dari hadis itu didapati Ahli waris Nabi SAW ternyata tidak mengetahui hadis ini. Padahal Ahli waris Nabi SAW tentu lebih layak mengetahui hadis ini karena masalah ini adalah urusannya. Mari kita lihat kemungkinannya

  1. Ahli waris Nabi SAW dalam hal ini Sayyidah Fatimah AS pura-pura tidak tahu dengan hadis ini. Kemungkinan ini jelas tidak benar, mempercayai kemungkinan ini berarti Sayyidah Fatimah AS telah mengabaikan perintah Rasulullah SAW. Hal ini jelas tidak mungkin bagi Ahlul Bait yang disucikan dan selalu bersama Al Quran.
  2. Ahli waris Nabi SAW dalam hal ini Sayyidah Fatimah AS lupa dengan hadis ini. Pernyataan ini juga tidak tepat, kalau memang lupa kenapa pula menjadi marah setelah diingatkan dengan hadis yang disampaikan Abu Bakar RA. Kemarahan Sayyidah Fatimah AS menunjukkan ketidaksukaan dan penolakan Beliau terhadap hadis yang disampaikan Abu Bakar RA.
  3. Rasulullah SAW tidak memberitahu Sayyidah Fatimah AS tentang hadis ini. Mungkinkah yang seperti ini terjadi, Bagaimana mungkin Rasulullah SAW tidak memberitahu kepada Ahli waris Beliau SAW?. Sedangkan Beliau SAW justru memberitahu hadis ini kepada Abu Bakar RA yang justru bukanlah Ahli Waris Beliau SAW. Apakah Rasulullah SAW lupa? Atau Apakah Rasulullah SAW sengaja tidak memberitahu hal ini yang ternyata menimbulkan perselisihan?. Jawabannya tidak karena kesucian Rasulullah SAW jelas tidak memungkinkan hal ini terjadi. Kemungkinan ini ternyata juga sama tidak benarnya dengan yang lain.

Analisis Terhadap Hadis Yang Disampaikan Abu Bakar RA.
Hadis yang disampaikan oleh Abu Bakar RA bahwa Para Nabi tidak mewariskan atau harta peninggalan para Nabi menjadi sedekah ternyata bertentangan dengan hadis lain dan Al Quranul Karim.

Bertentangan Dengan Hadis Lain

Dari Ali bin Husain bahwa ketika mereka mendatangi Madinah dari sisi Yazid bin Muawiyah di masa pembunuhan Husain bin Ali RA, Al Miswar bin Makhramah menjumpainya, lalu ia berkata kepadanya ” Adakah sesuatu hajat kepadaku yang dapat kau perintahkan kepadaku”. Aku berkata kepadanya “tidak”. Dia berkata kepadanya “Maka apakah engkau memberikan kepadaku pedang Rasulullah SAW karena aku khawatir terhadap kaum akan mengalahkanmu sementara pedang itu berada di tangan mereka. Demi Allah sungguh bila engkau memberikannya kepadaku maka tidaklah pedang itu lepas kepada mereka selama-lamanya sehingga nyawaku direnggut (Mukhtasar Shahih Bukhari Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hadis no 1351 hal 619 cetakan pertama Pustaka Azzam 2007, penerjemah M Faisal & Thahirin Suparta).

Hadis di atas menyatakan bahwa Ali bin Husain RA (Keturunan Ahlul bait) memiliki pedang Rasulullah SAW. Bukankah pedang Rasulullah SAW adalah harta milik Beliau SAW. Tentu berdasarkan hadis Abu Bakar RA maka harta Rasulullah SAW menjadi sedekah dan milik kaum Muslimin. Jadi mengapa pedang Rasulullah SAW ada pada Ahlul Bait Beliau SAW. Bukankah itu berarti Pedang tersebut diwariskan kepada Ahlul Bait Rasulullah SAW.

Nah sudah mulai pusing belum.

Perbedaan Pendapat Abu Bakar dan Umar bin Khattab Serta Pendirian Ali dan Abbas
Abu Bakar dan Umar bin Khattab memiliki sedikit pandangan yang berbeda soal hadis yang dibawa Abu Bakar tersebut. Lihat riwayat Fadak yang kedua, mula-mula Abu Bakar menolak semua permintaan sayyidah Fatimah

Aisyah berkata “Fatimah meminta bagiannya kepada Abu Bakar dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW berupa tanah di Khaibar dan Fadak dan sedekah Beliau(kurma bani Nadhir) di Madinah. Abu Bakar menolak yang demikian kepadanya dan Abu Bakar berkata “Aku tidak meninggalkan sesuatu yang dulu diperbuat oleh Rasulullah SAW kecuali akan melaksanakannya, Sesungguhnya aku khawatir menyimpang dari kebenaran bila aku meninggalkan sesuatu dari urusan Beliau”.

Sedangkan pada masa pemerintahan Umar sedekah Nabi SAW di Madinah justru diserahkan kepada Ali dan Abbas. Setidaknya ada beberapa hal yang ditangkap dari hal ini. Kemungkinan Ali dan Abbas kembali meminta seperti apa yang diminta Sayyidah Fatimah pada masa pemerintahan Umar, ini berarti mereka tetap menolak pernyataan hadis yang dibawa Abu Bakar. Kemudian Umar bin Khattab RA menolak memberikan tanah Khaibar dan Fadak tetapi memberikan sedekah Nabi SAW(kurma bani Nadhir) di Madinah, lihat lanjutan hadisnya

Adapun sedekah Beliau di Madinah, oleh Umar diserahkan kepada Ali dan Abbas. Adapun tanah Khaibar dan Fadak maka Umarlah yang menanganinya, Ia berkata “Keduanya adalah sedekah Rasulullah keduanya untuk hak-hak Beliau yang biasa dibebankan kepada Beliau dan untuk kebutuhan-kebutuhan Beliau. Sedangkan urusan itu diserahkan kepada orang yang memegang kekuasaan.

Sebenarnya baik tanah Khaibar, Fadak dan sedekah Nabi SAW di madinah adalah sama-sama sedekah kalau menurut apa yang dikatakan Abu Bakar RA dan Umar RA tetapi anehnya Umar RA justru memberikan sedekah Nabi SAW di Madinah kepada Ahlul Bait yaitu Ali dan Abbas. Padahal berdasarkan hadis Shahih sedekah diharamkan bagi Ahlul Bait. Jadi jika hadis yang dinyatakan Abu Bakar itu benar maka pendapat Umar yang menyerahkan sedekah Nabi SAW di Madinah adalah keliru karena bertentangan dengan hadis shahih bahwa sedekah diharamkan bagi Ahlul Bait.

Mari kita lihat dari sisi yang lain, Ali RA dan Abbas RA ternyata tetap menerima sedekah Nabi SAW di Madinah(kurma bani Nadhir) itu bisa berarti

  • Mereka keliru karena menerima sedekah
  • Mereka menganggap kurma bani Nadhir bukanlah sedekah tapi harta milik Rasulullah SAW.

Imam Ali dalam hal ini adalah Ahlul Bait yang disucikan Allah SWT dan telah jelas sabda Rasulullah SAW bahwa Beliau Imam Ali selalu bersama Al Quran dan Al Quran bersama Imam Ali berdasarkan hadis

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ali bersama Al Quran dan Al Quran bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya menemuiku di telaga Haudh”.(Hadis riwayat Al Hafidz Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain juz 3 hal 124. Hadis ini dishahihkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain yang berkata “ini hadis yang shahih tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya”. Dalam Talkhis Mustadrak Adz Dzahabi juga mengakui keshahihan hadis ini).

Dan juga hadis berikut menunjukkan Imam Ali selalu bersama Allah dan RasulNya

bahwa Rasulullah SAW bersabda “barangsiapa taat kepadaKu, berarti ia taat kepada Allah dan siapa yang menentangKu berarti ia menentang Allah dan siapa yang taat kepada Ali berarti ia taat kepadaKu dan siapa yang menentang Ali berarti ia menentangKu.” (Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 hal 121. Al Hakim dalam Al Mustadrak berkata hadis ini shahih sanadnya akan tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi juga mengakui kalau hadis ini shahih dalam Talkhis Al Mustadrak).

Jadi adalah tidak mungkin Imam Ali keliru dalam hal ini sehingga yang benar adalah pernyataan bahwa Ali RA dan Abbas RA menganggap kurma bani Nadhir bukanlah sedekah tapi harta milik Rasulullah SAW.
Jika benar seperti ini maka Ali RA dan Abbas RA telah mewarisi harta Rasulullah SAW dan hal ini jelas bertentangan dengan hadis Abu Bakar RA.

Bagaimana sedikit rumitkah?

Bertentangan Dengan Al Quranul Karim
Al Quranul Karim telah menjelaskan banyak hukum tentang waris, salah satunya

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang muhajirin, kecuali kalau kamu mau berbuat baik kepada saudara-saudaramu(seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis didalam Kitab (Allah).(QS :Al Ahzab ayat 6).

Al Quran jelas-jelas menyatakan bahwa Yang mempunyai hubungan darah itu berhak untuk saling waris- mewarisi berdasarkan ketentuan Allah SWT. Dalam hal ini Sayyidah Fatimah AS berhak mewarisi Rasulullah SAW yang adalah ayah Beliau . Sebagian orang membela hadis Abu Bakar RA dengan mengatakan Ayat Al Quran di atas telah ditakhsis oleh hadis tersebut. Jadi ayat ini tidak berlaku untuk para Nabi. Sayangnya pendapat ini juga keliru karena Al Quran juga menjelaskan bahwa para Nabi juga mewarisi.

Dan Sulaiman telah mewarisi Daud, dan dia berkata “Hai manusia, kami telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) ini benar-benar suatu karunia yang nyata”.(QS: An Naml ayat 16).

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakariya, yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhan-Nya dengan suara yang lembut. Ia berkata”Ya Tuhan-ku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepadaku telah ditumbuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhan-ku. Dan sesungguhnya aku khawtir tentang mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhan-ku seorang yang diridhai.(QS:Maryam ayat 2-6).

Al Quran pun dengan jelas menyatakan bahwa para Nabi juga mewariskan. Sebagian orang tetap berkeras dengan mengatakan bahwa yang dimaksud mewariskan di atas adalah mewariskan kenabian, hikmah atau ilmu bukan masalah harta. Pendapat ini pun keliru karena Kenabian tidaklah diwariskan tapi diangkat atau dipilih langsung oleh Allah SWT begitu juga hikmah dan ilmu para Nabi adalah langsung pemberian Allah SWT. Cukuplah bagi mereka Al Quran sendiri yang mengatakan

Berkata Isa “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab(Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi“.(QS :Maryam 30).

Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.(QS :Al Baqarah 130)

Allah berfirman “hai Musa sesungguhnya Aku memilih kamu dari manusia yang lain untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.(QS :Al A’raf 144).

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariyya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab(katanya) “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya yang membenarkan Kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh“.(QS Ali Imran 39)

Allah memilih utusan-utusan-Nya dari malaikat dan dari manusia, Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.(QS :Al Hajj 75).

Hikmah dan Ilmu para Nabi adalah pemberian langsung dari Allah SWT, dalilnya adalah sebagai berikut

Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya Hikmah selagi ia masih kanak-kanak(QS Maryam 12)

Dan Kepada Luth Kami berikan Hikmah dan Ilmu dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.(QS Al Anbiya’ 74)

Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan Ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kami-lah yang melakukannya.(QS Al Anbiya’ 79)

Dan Sesungguhnya Kami telah memberikan Ilmu kepada Daud dan Sulaiman, dan keduanya mengucapkan “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman”.(QS An Naml 301).

Al Kitab Juga Menyatakan Nabi Mewariskan Harta
Dalam Al Kitab Taurat dijelaskan ternyata Nabi itu juga mewariskan, Nabi Ibrahim misalnya mewariskan harta untuk keturunannya.

Kemudian datanglah Firman Tuhan kepada Abram dalam suatu penglihatan “Janganlah takut Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar”. Abram menjawab “Ya Tuhan Allah, apakah yang Engkau akan berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku adalah Elizer orang Damsyik itu“. Lagi kata Abram “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku”. Tetapi datnglah firman Tuhan kepadanya, demikian “Orang ini tidakakan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu”.

Lalu Tuhan membawa Abram ke luar serta berfirman “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya”. Maka firman-Nya kepadanya “demikianlah nanti banyaknya keturunanmu”. Lalu percayalah Abram kepada Tuhan, maka Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran (Kejadian 15, 1-6 Perjanjian Allah dengan Abram ; Janji tentang keturunannya).

Kesimpulan Analisis
Semua pembahasan diatas menunjukkan bahwa dalam masalah Fadak kebenaran berada pada Sayyidah Fatimah Az Zahra AS. Walaupun begitu tidak ada niat sedikitpun bagi saya untuk mengatakan bahwa Abu Bakar RA adalah pembuat hadis palsu. Dalam masalah ini saya mengambil pandangan bahwa Abu Bakar RA telah keliru dalam memahami hadis tersebut. Mungkin saja beliau memang mendengar sendiri hadis tersebut tetapi berbeda pemahamannya dengan pemahaman Ahlul Bait oleh karena itu Sayyidah Fatimah Ahlul Bait Nabi menolak hadis Abu Bakar dengan menunjukkan sikap marah dan mendiamkan Abu Bakar RA. Wallahu ‘alam

Salam damai.

19. Menolak Keraguan Seputar Riwayat Fadak

Berkaitan dengan tulisan saya yang berjudul Analisis Riwayat Fadak Antara Sayyidah Fatimah Az Zahra AS Dan Abu Bakar RA., telah muncul beberapa komentar yang menanggapi tulisan tersebut. Walaupun sedikit mengecewakan (sayangnya tanggapan itu malah mengabaikan sepenuhnya panjang lebar tulisan saya) tetap saja komentar tersebut layak untuk ditanggapi lebih lanjut.

Di antara komentar-komentar itu ada juga yang berlebihan dengan mengatakan bahwa yang saya tuliskan itu adalah salah kaprah alias mentah. Anehnya justru sebenarnya dialah yang mengemukakan argumen yang mentah. Sejauh ini saya berusaha menulis dengan menggunakan dalil-dalil yang shahih dan argumen yang logis , makanya saya heran dengan kata salah kaprah itu, Kira-kira dimana letak salah kaprahnya ya? Mari kita bahas

Ada beberapa orang yang menolak riwayat Fadak bahwa Sayyidah Fatimah AS marah dan mendiamkan Abu bakar selama 6 bulan dengan alasan tidak mungkin seorang putri Rasul SAW bersikap seperti itu kepada sahabat Rasulullah SAW. Padahal telah jelas sekali berdasarkan dalil yang shahih seperti yang saya kemukakan yaitu dalam Shahih Bukhari dinyatakan Sayyidah Fatimah marah dan mendiamkan Abu Bakar selama 6 bulan

Dari Aisyah, Ummul Mukminah RA, ia berkata “Sesungguhnya Fatimah AS binti Rasulullah SAW meminta kepada Abu Bakar sesudah wafat Rasulullah SAW supaya membagikan kepadanya harta warisan bagiannya dari harta yang ditinggalkan Rasulullah SAW dari harta fa’i yang dianugerahkan oleh Allah kepada Beliau.[Dalam riwayat lain :kamu meminta harta Nabi SAW yang berada di Madinah dan Fadak dan yang tersisa dari seperlima Khaibar 4/120] Abu Bakar lalu berkata kepadanya, [Dalam riwayat lain :Sesungguhnya Fatimah dan Abbas datang kepada Abu Bakar meminta dibagikan warisan untuk mereka berdua apa yang ditinggalkan Rasulullah SAW, saat itu mereka berdua meminta dibagi tanah dari Fadak dan saham keduanya dari tanah (Khaibar) lalu pada keduanya berkata 7/3] Abu Bakar “Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda “Harta Kami tidaklah diwaris ,Harta yang kami tinggalkan adalah sedekah [Sesungguhnya keluarga Muhammad hanya makan dari harta ini, [maksudnya adalah harta Allah- Mereka tidak boleh menambah jatah makan] Abu Bakar berkata “Aku tidak akan biarkan satu urusan yang aku lihat Rasulullah SAW melakukannya kecuali aku akan melakukannya] Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.
Ketika Fatimah meninggal dunia, suaminya Ali RA yang menguburkannya pada malam hari dan tidak memberitahukan kepada Abu Bakar. Kemudian Ia menshalatinya (Mukhtasar Shahih Bukhari Kitab Fardh Al Khumus Bab Khumus oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani jilid 3 hal 608 dengan no hadis 1345 terbitan Pustaka Azzam Cetakan pertama 2007 dengan penerjemah :Muhammad Faisal dan Thahirin Suparta.)

Ada juga orang yang mempermasalahkan hadis itu atas dasar penolakannya terhadap Syaikh Al Albani, padahal jelas sekali bahwa saya hanya mengutip hadis dalam Shahih Bukhari. Kitab Shahih Bukhari Syarh siapa saja baik Fath Al Bari Ibnu Hajar, Irsyad Al Sari Al Qastallani atau Umdah Al Qari Badrudin Al Hanafi pasti memuat hadis itu. Jadi tidak ada masalah dengan referensi hadis yang saya kemukakan.

Sebagian orang lain menolak bahwa Sayyidah Fatimah marah dan mendiamkan Abu Bakar sampai beliau meninggal berdasarkan riwayat Baihaqi dalam Sunan Baihaqi atau Dalail An Nubuwwah berikut

Diriwayatkan oleh Al Hafidz Al Baihaqi dari Amir As Sya’bi, dia berkata, ketika Fatimah sakit Abu Bakr datang menemuinya dan meminta diberi izin masuk. Ali berkata padanya, “Wahai Fatimah, Abu Bakr datang dan meminta izin agar diizinkan masuk.” Fatimah bertanya, “Apakah engkau ingin agarku memberikan izin baginya?” Ali berkata, “Ya!” Maka Abu Bakr masuk dan berusaha meminta maaf kepadanya sambil berkata, “Demi Allah tidaklah aku tinggalkan seluruh rumahku, hartaku, keluarga dan kerabatku kecuali hanya mencari redha Allah, redha RasulNya dan Redha kalian wahai Ahlul Bayt.” Dan Abu Bakr terus memujuk sehingga akhirnya Fatimah rela dan akhirnya memaafkannya. (Dala’il An Nubuwwah, Jil. 7 Hal. 281)

Seseorang yang dikenal sebagai Ustad dari Malay(Asri) menyatakan berkaitan dengan riwayat ini

Riwayat tersebut datang dengan sanad yang baik dan kuat. Maka jelas sekali di situ bahawa Fatimah meninggal akibat sakit, dan bukanlah disebabkan oleh penyeksaan dari Abu Bakr. Malahan di situ turut dijelaskan bahwa Fatimah telah memilih untuk memaafkan Abu Bakr di akhir hayatnya.

Sayang sekali bahwa apa yang dikatakan sang Ustad itu tidak benar, sama seperti halnya dengan tuduhan aneh beliau terhadap Ibnu Ishaq(saya sudah menanggapi tuduhan beliau itu lihat Pembelaan Terhadap Ibnu Ishaq), apa yang beliau kemukakan itu adalah Apologia semata. Beliau telah dipengaruhi dengan kebenciannya terhadap syiah alias Syiahphobia dan juga dipengaruhi kemahzaban Sunninya yang terlalu kental hingga berusaha meragukan dalil yang shahih dalam hal ini Shahih Bukhari dengan dalil yang tidak shahih dalam hal ini adalah riwayat Baihaqi. Tujuannya sederhana hanya untuk membantah orang Syiah. Tidak ada masalah soal bantah-membantah, yang penting adalah berpegang pada dalil yang shahih.

Saya sependapat dengan Beliau bahwa Sayyidah Fatimah meninggal bukan disebabkan penyiksaan dari Abu Bakar tetapi saya tidak sependapat dengan dakwaan beliau bahwa riwayat Baihaqi itu memiliki sanad yang kuat.

Dhaifnya Riwayat Baihaqi
Riwayat Baihaqi yang dikemukakan Ustad Malay itu memiliki cacat pada sanad maupun matannya. Berikut analisis terhadap sanad dan matan riwayat tersebut.

Analisis Sanad Riwayat
Sebelumnya Mari kita bahas terlebih dulu apa syarat hadis atau riwayat yang shahih
Ibnu Shalah merumuskan bahwa hadis shahih adalah hadis yang musnad, yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang yang berwatak adil dan dhabith dari orang yang berwatak seperti itu juga sampai ke puncak sanadnya, hadis itu tidak syadz dan tidak mengandung illat.(Hadis Nabi Sejarah Dan Metodologinya hal 88 Dr Muh Zuhri , cetakan I Tiara Wacana :Yogyakarta, 1997). Atau bisa juga dilihat dalam Muqaddimah Ibnu Shalah fi Ulumul Hadis.

Mari kita lihat Riwayat Baihaqi, baik dalam Sunan Baihaqi atau Dalail An Nubuwwah Baihaqi meriwayatkan dengan sanad sampai ke Asy Sya’bi yang berkata (riwayat hadis tersebut).
Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari berkata bahwa sanad riwayat ini shahih sampai ke Asy Sya’bi.

Walaupun sanad riwayat ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hajar sampai ke Asy Sya’bi tetapi riwayat ini adalah riwayat mursal artinya terputus sanadnya. Asy Sya’bi meriwayatkan seolah beliau sendiri menyaksikan peristiwa itu, lihat riwayat tersebut

Diriwayatkan oleh Al Hafidz Al Baihaqi dari Amir As Sya’bi, dia berkata, ketika Fatimah sakit Abu Bakr datang menemuinya dan meminta diberi izin masuk. Ali berkata padanya,

Padahal pada saat Sayyidah Fatimah AS dan Abu Bakar RA masih hidup Asy Sya’bi jelas belum lahir.

Amir bin Syurahbil Asy Sya’bi adalah seorang tabiin dan beliau lahir 6 tahun setelah masa khalifah Umar RA (Shuwaru Min Hayati At Tabiin, Dr Abdurrahman Ra’fat Basya, terjemah : Jejak Para Tabiin penerjemah Abu Umar Abdillah hal 153).

Hal ini menimbulkan dua kemungkinan

  1. Asy Sya’bi mendengar riwayat tersebut dari orang lain tetapi beliau tidak menyebutkan siapa orang tersebut, atau.
  2. Asy Sya’bi membuat-buat riwayat tersebut.

Singkatnya kemungkinan manapun yang benar tetap membuat riwayat tersebut tidak layak untuk dijadikan hujjah . Dalam hal ini saya lebih cenderung dengan kemungkinan pertama yaitu Asy Sya’bi mendengar dari orang lain, dan tidak diketahui siapa orang tersebut. Hal ini jelas menunjukkan mursalnya sanad riwayat ini. Riwayat mursal sudah jelas tidak bisa dijadikan hujjah.

Dalam Ilmu Mushthalah Hadis oleh A Qadir Hassan hal 109 cetakan III CV Diponegoro Bandung 1987. Beliau mengutip pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan tidak boleh menjadikan hadis mursal sebagai hujjah,

Ibnu Hajar berkata”Boleh jadi yang gugur itu shahabat tetapi boleh jadi juga seorang tabiin .Kalau kita berpegang bahwa yang gugur itu seorang tabiin boleh jadi tabiin itu seorang yang lemah tetapi boleh jadi seorang kepercayaan. Kalau kita andaikan dia seorang kepercayaan maka boleh jadi pula ia menerima riwayat itu dari seorang shahabat,tetapi boleh juga dari seorang tabiin lain. Demikianlah selanjutnya memungkinkan sampai 6 atau 7 tabiin, karena terdapat dalam satu sanad ,ada 6 tabiin yang seorang meriwayatkan dari yang lain”. Pendeknya gelaplah siapa yang digugurkan itu, sahabatkah atau tabiin?. Oleh karena itu sepatutnya hadis mursal dianggap lemah.

Analisis Matan Riwayat
Perhatikan Riwayat Baihaqi itu

dari Amir As Sya’bi, dia berkata, ketika Fatimah sakit Abu Bakr datang menemuinya dan meminta diberi izin masuk. Ali berkata padanya, “Wahai Fatimah, Abu Bakr datang dan meminta izin agar diizinkan masuk.” Fatimah bertanya, “Apakah engkau ingin agarku memberikan izin baginya?” Ali berkata, “Ya!” Maka Abu Bakr masuk dan berusaha meminta maaf kepadanya sambil berkata, “Demi Allah tidaklah aku tinggalkan seluruh rumahku, hartaku, keluarga dan kerabatku kecuali hanya mencari redha Allah, redha RasulNya dan Redha kalian wahai Ahlul Bayt.” Dan Abu Bakr terus memujuk sehingga akhirnya Fatimah rela dan akhirnya memaafkannya. (Dala’il An Nubuwwah, Jil. 7 Hal. 281).

Matan riwayat ini menunjukkan bahwa Sayyidah Fatimah AS berbicara kepada Abu Bakar RA, padahal berdasarkan riwayat Aisyah Shahih Bukhari dinyatakan Sayyidah Fatimah marah dan mendiamkan Abu Bakar RA sampai Beliau AS meninggal. Lihat kembali hadis Shahih Bukhari

Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.

Dalam hal ini kesaksian Aisyah bahwa Sayyidah Fatimah AS marah dan mendiamkan Abu Bakar RA hingga beliau wafat lebih layak untuk dijadikan hujjah karena Aisyah RA melihat sendiri sikap Sayyidah Fatimah AS tersebut sampai akhir hayat Sayyidah Fatimah AS. Seandainya apa yang dikatakan Asy Sya’bi itu benar maka sudah tentu Aisyah RA akan menceritakannya.

Salah Satu Kekeliruan Asy Sya’bi Berkaitan Dengan Tasyayyu
Asy Sya’bi pernah menyatakan dusta terhadap Al Harits Al Hamdani Al A’war hanya karena Al Harits mencintai Imam Ali dan mengutamakannya di atas sahabat Nabi yang lain. Pernyataan Asy Sya’bi telah ditolak oleh ulama, salah satunya adalah Syaikh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy yang menyatakan tsiqah pada Al Harits Al Hamdani dan menolak tuduhan terhadap Al Harits . Selain itu,

Al Qurthubi mengatakan “Al Harits Al A’war yang meriwayatkan hadis dari Ali dituduh dusta oleh Asy Sya’bi padahal ia tidak terbukti berdusta, hanya saja cacatnya karena ia mencintai Ali secara berlebihan dan menganggapnya lebih tinggi daripada yang lainnya, dari sini Wallahu a’lam ia dianggap dusta oleh Asy Sya’bi . Ibnu Abdil Barr berkata “Menurutku Asy Sya’bi pantas dihukum untuk tuduhannya terhadap Al Harits Al Hamdani. (Jami Li Ahkam Al Quran Al Qurthubi 1 hal 4&5 Terbitan Darul Qalam Cetakan Darul Kutub Al Mashriyah).

Pernyataan di atas hanya menunjukkan bahwa apa yang dikatakan Asy Sya’bi tidak selalu benar. Bukan berarti saya menolak kredibilitas beliau sebagai perawi hadis, yang saya maksudkan jika beliau menyampaikan riwayat dengan cara mursal atau tanpa sanad yang jelas atau tidak menyebutkan dari siapa beliau mendengar maka riwayat itu tidak layak dijadikan hujjah karena dalam hal ini beliau Asy Sya’bi juga bisa saja keliru seperti tuduhan yang beliau kemukakan terhadap Al Harits. Kekeliruan itu sepertinya didasari rasa tidak senang dengan orang-orang yang mencintai Imam Ali di atas sahabat Nabi yang lain. Kekeliruan seperti itu jelas dipengaruhi oleh unsur kemahzaban semata.

Sudah jelas sekali kesimpulan saya adalah hadis riwayat Baihaqi yang dikemukan Ustad Asri itu adalah mursal atau dhaif.

Sayangnya ada orang yang begitu mudahnya bertaklid,

untuk mereka “ya terserah”

Sekali lagi tulisan ini hanya memaparkan analisis penulis berdasarkan dalil yang penulis anggap kuat. Oleh karenanya kritik yang substantif dan fokus pada tulisan jelas diharapkan.

Saya sudah bosan dengan tuduhan dan semua bentuk Ad Hominem, Tapi ya tidak dipaksa Kan. Sudah biasa memang siapa saja yang memihak Sayyidah Fatimah dan menyalahkan Abu Bakar maka ia akan langsung dituduh Syiah. Dan seperti biasa Yang syiah akan selalu dihina-hina

Ah penyakit ini memang kronis sekali, Syiahphobia

Salam damai

20. Tanggapan Tulisan “Makna Hadis Tanah Fadak”

Tulisan ini dikhususkan untuk menanggapi tulisan salah seorang yang secara tidak langsung menanggapi tulisan saya soal Fadak. Kalau tidak salah tulisannya itu dikutip dari Majelis Rasulullah bisa lihat diblog: http://orgawam.wordpress.com/2007/12/07/makna-hadist-tanah-fadak/.

Langsung saja,
Ada orang yang mempermasalahkan hadis yang saya kutip dari Mukhtasar Shahih Bukhari, dia bertanya kepada seseorang yang ia kenal sebagai Ulama “duh bahasanya” .

Setelah mengutip hadis yang saya tulis, dia berkata

pertanyaan saya bib :
1. apa benar riwayat diatas, saya kawatir itu riwayat yang sengaja dibuat- buat, atau dalam penterjemahannya terdapat kesalahan Bib, karena Habib pernah menerangkan tidak ada satu keterangan mengenai marahnya Bunda Suci Fatimah, mohon penjelasan

Tanggapan saya;
Kalau melihat pertanyaan di atas, Pada awalnya orang yang bertanya ini pernah mendengar penjelasan dari Habib(Ulama tempatnya bertanya) bahwa tidak ada satu keterangan mengenai marahnya Sayyidah Fatimah dalam Shahih Bukhari. Oleh karena itu setelah melihat tulisan saya dia berkata “saya kawatir itu riwayat yang sengaja dibuat- buat, atau dalam penterjemahannya terdapat kesalahan Bib”.

Kemudian pertanyaan dia yang kedua

2. kalau memang ada unsur kesengajaan untuk menyelewengkan makna yang sebenarnya, jadi makna yang tepat unutk hadist di atas itu bunyinya bagaimana Bib.

Tanggapan: Perkataan di atas menunjukkan keraguan atau dugaan saudara itu bahwa ada unsur-unsur sengaja menyelewengkan makna hadis yang sebenarnya di dalam tulisan saya. Menurut saya, hal ini cukup menarik untuk dibahas. Maksud saya pada bagian “menyelewengkan makna”. Berikutnya akan dibahas lebih lanjut Siapa yang sebenarnya lebih cenderung menyelewengkan makna?

Pertanyaan terakhir saudara itu

3. siapakah Syaikh Nashiruddin Al Albani, apakah termasuk dari jajaran ulama’ yang bisa dirujuk golonga kita Bib , mohon penjelasan

Tanggapan: Sekarang saudara itu mempermasalahkan Syaikh Al Albani ulama hadis yang saya kutip. Sama seperti sebelumnya, ini juga tak kalah menariknya. Perhatikan pada kata-kata yang bisa dirujuk golongan kita.

Ok, sekarang mari kita lihat jawaban Sang Habib. Sebelumnya tanpa berniat merendahkan siapapun, perlu dijelaskan bahwa saya hanya ingin menanggapi jawaban dari Habib tersebut. Tidak ada maksud bagi saya untuk menyinggung Sang Habib (Semoga Allah memberikan rahmat kepada beliau) atau saudara-saudara yang sangat memuliakan beliau.

Jawaban Pertanyaan Pertama dan Kedua (sepertinya Sang Habib langsung menjawab sekaligus dua pertanyaan tersebut)
Jawaban Habib, saya cetak miring

Saudaraku yg kumuliakan,
1. kalau benar riwayat yg anda tulis itu adalah dari Al Albani, maka jelaslah sudah kebodohannya.

Sang Habib mengawali tulisannya dengan menyatakan kebodohan entah kepada siapa, Syaikh Al Albani atau saya. Argumentum Ad Hominem:

Hadits itu adalah riwayat Aisyah ra sebagai berikut :
ُ

أَنَّ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام ابْنَةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلَتْ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَقْسِمَ لَهَا مِيرَاثَهَا مِمَّا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَقَالَ لَهَا أَبُو بَكْرٍ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ فَغَضِبَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهَجَرَتْ أَبَا بَكْرٍ فَلَمْ تَزَلْ مُهَاجِرَتَهُ حَتَّى تُوُفِّيَتْ وَعَاشَتْ بَعْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّةَ أَشْهُرٍ

Bahwa Fathimah alaihassalam (Imam Bukhari salah satu imam yg mengucapkan alaihissalam pada Fathimah ra dan Ali bin Abi Thalib kw), putri Rasulullah saw menanyakan pada Abubakar Shiddiq ra setelah wafatnya Rasulullah saw agar membagikan padanya hak warisnya dari apa apa yg diberikan Allah swt pada beliau saw, maka berkatalah padanya Abubakar shiddiq ra : Sungguh Rasul saw bersabda : “Kami tidak mewarisi, apa yg kami tinggalkan adalah sedekah”. maka marahlah Fathimah putri Rasul saw dan menghindar dari Abubakar shiddiq ra dan ia terus menghindar darinya hingga wafat, dan beliau hidup hingga 6 bulan setwlah wafatnya Rasul saw. (Shahih Bukhari bab fardhulkhumus).

Tanggapan saya: sebelumnya perhatikan kata-kata Habib (Imam Bukhari salah satu imam yg mengucapkan alaihissalam pada Fathimah ra dan Ali bin Abi Thalib kw). Nah saya tujukan buat pengidap Syiahphobia “hendaknya jangan terburu-buru menuduh orang Syiah hanya karena orang tersebut mengucapkan Alaihis Salam pada Ahlul Bait” . Karena sudah jelas bahkan Imam Bukhari juga mengucapkan AS pada Ahlul bait (lihat sendiri di Kitab Shahih Bukhari). Intermezo.

Nah dari jawaban di atas, maka dapat disimpulkan hadis marahnya Sayyidah Fatimah itu memang ada dalam Shahih Bukhari. Dalam hal ini terbuktilah kekeliruan Sang Habib sebelumnya seperti yang diungkapkan saudara penanya

karena Habib pernah menerangkan tidak ada satu keterangan mengenai marahnya Bunda Suci Fatimah.

Hadis tersebut ternyata ada (sekarang dikutip oleh Habib sendiri) dan mari bandingkan hadis yang saya kutip dan yang Habib kutip
Hadis yang saya kutip redaksi terjemahannya adalah

Lalu Fatimah binti Rasulullah SAW marah kemudian ia senantiasa mendiamkan Abu Bakar [Ia tidak mau berbicara dengannya]. Pendiaman itu berlangsung hingga ia wafat dan ia hidup selama 6 bulan sesudah Rasulullah SAW.

Sedangkan hadis yang Habib kutip dari Fath Al Bari redaksi terjemahannya

maka marahlah Fathimah putri Rasul saw dan menghindar dari Abubakar shiddiq ra dan ia terus menghindar darinya hingga wafat, dan beliau hidup hingga 6 bulan setwlah wafatnya Rasul saw.

Dua redaksi terjemahan di atas secara umum sama hanya pada terjemahan yang saya kutip diterjemahkan sebagai Pendiaman atau tidak berbicara, sedangkan pada redaksi terjemahan yang Habib kutip diterjemahkan sebagai Menghindar.
Soal yang mana yang lebih tepat, bagi saya tidak masalah karena pengertiannya tetap sama saja. Tapi perlu ditekankan dalam masalah ini saya telah bertindak objektif dengan menampilkan referensi yang lengkap termasuk siapa penerjemahnya. Sedangkan Habib, maaf tidak mencantumkan siapa yang menerjemahkan hadisnya (saya mengira itu terjemahan Beliau sendiri).

Habib kemudian melanjutkan

kita lihat syarh tentang hadits ini, Berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar didalam kitabnya Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari :
Bahwa Fathimah ra marah bukan karena ditolak, namun karena Abubakar shiddiq ra mendengarnya bukan dari Rasul saw namun dari orang lain, dan berkata Imam Ibn Hajar pada halaman yg sama : diriwayatkan oleh Al Baihaqiy dari Assya’biyy bahwa kemudian Abubakar shiddiq ra menjenguk Fathimah ra, dan berkata Ali bin Abi Thalib kw kepada Fathimah ra : Ini Abubakar mohon izin padamu.., maka berkata Fathimah ra : apakah kau menginginkan aku mengizinkannya?, Ali kw berkata : betul, maka Fathimah ra mengizinkan Abubakar shiddiq ra, lalu Abubakar shiddiq ra meminta maaf dan ridho pada Fathimah ra, hingga Fathimah ra ridho padanya

Habib merujuk pada penjelasan hadis tersebut berdasarkan syarh Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari. Berikut analisis saya,
Ibnu Hajar berkata

Bahwa Fathimah ra marah bukan karena ditolak, namun karena Abubakar shiddiq ra mendengarnya bukan dari Rasul saw namun dari orang lain,

Maka tanggapan saya, apa dasar atau dalil Ibnu Hajar berkenaan kata-kata ini, jelas sekali kata-kata ini tidak ada keterangannya dalam hadis Shahih Bukhari yang dimaksud,
Maka Ada dua kemungkinan

  1. Ibnu Hajar berdalil dengan riwayat atau sumber lain
  2. Ibnu Hajar sekedar berpendapat

Kemungkinan pertama, maka saya katakan kenapa tidak ditunjukkan riwayat yang dimaksud atau sumber yang mengatakan Bahwa Fathimah ra marah bukan karena ditolak, namun karena Abubakar shiddiq ra mendengarnya bukan dari Rasul saw namun dari orang lain, ini jelas kemusykilan pertama

Kemudian siapakah orang lain dimana Abu Bakar mendengar hadis tersebut?kenapa tidak disebutkan. Ini kemusykilan kedua

Mengapa Sayyidah Fatimah AS marah jika Abu Bakar menyampaikan hadis Rasulullah SAW yang Abu Bakar dengar dari orang lain? Apakah Abu Bakar menyampaikan hadis tersebut dengan berkata “Saya mendengar dari seseorang atau fulan bahwa Rasulullah SAW bersabda”. Hal ini kok beda sekali dengan redaksi hadis yang dikutip Habib sendiri maka berkatalah padanya Abubakar shiddiq ra : Sungguh Rasul saw bersabda seolah-olah menunjukkan Abu Bakar mendengar hadis langsung dari Rasulullah SAW.

Kemusykilan ketiga adalah bagaimana bisa Ibnu Hajar menyimpulkan Abu Bakar tidak mendengar hadis itu langsung dari Rasulullah SAW.

Kalau kita melihat hadis Shahih Bukhari itu jelas sekali kemarahan Sayyidah Fatimah berkaitan dengan isi perkataan Abu Bakar. Lihat lagi selepas Abu Bakar berkata Sungguh Rasul saw bersabda : “Kami tidak mewarisi, apa yg kami tinggalkan adalah sedekah”. maka marahlah Fathimah putri Rasul saw dan menghindar dari Abubakar shiddiq ra dan ia terus menghindar darinya hingga wafat, dan beliau hidup hingga 6 bulan setwlah wafatnya Rasul saw. Sangat jelas bahwa Sayyidah Fatimah marah setelah mendengar apa yang dikatakan Abu Bakar. Jadi Zhahir hadis menunjukkan sikap Sayyidah Fatimah yaitu marah dan menghindar disebabkan setelah beliau mendengar perkataan Abu Bakar. Sudah selayaknya untuk berpegang kepada zhahir hadis sampai ada dalil shahih yang bisa memalingkan maknanya ke makna lain.

Dan sepertinya Ibnu Hajar menunjukkan dalil berikut

dan berkata Imam Ibn Hajar pada halaman yg sama : diriwayatkan oleh Al Baihaqiy dari Assya’biyy bahwa kemudian Abubakar shiddiq ra menjenguk Fathimah ra, dan berkata Ali bin Abi Thalib kw kepada Fathimah ra : Ini Abubakar mohon izin padamu.., maka berkata Fathimah ra : apakah kau menginginkan aku mengizinkannya?, Ali kw berkata : betul, maka Fathimah ra mengizinkan Abubakar shiddiq ra, lalu Abubakar shiddiq ra meminta maaf dan ridho pada Fathimah ra, hingga Fathimah ra ridho padanya.

Berkenaan riwayat ini Ibnu Hajar berkata

jikapun riwayat ini mursal, namun sanadnya kepada Assya’biyyu shahih.
dan riwayat ini menyelesaikan permasalahan dan anggapan permusuhan Abubakar ra dengan Fathimah ra.

Aneh sekali padahal jelas sekali bahwa Ibnu Hajar sendiri mengakui bahwa hadis tersebut mursal lantas mengapa menjadikannya sebagai dalil. Saya tidak menafikan bahwa ada ulama yang berhujjah dengan hadis mursal tetapi sudah jelas bahwa jumhur ulama hadis berkata hadis mursal adalah dhaif. Sepertinya kali ini Ibnu Hajar bersikap tasahul dengan berhujjah menggunakan riwayat mursal.

Saya katakan riwayat Baihaqi tersebut jelas sekali tidak bisa dijadikan dalil untuk memalingkan makna zahir hadis riwayat Aisyah dalam Shahih Bukhari. Riwayat Aisyah sanadnya muttashil dan shahih kemudian matannya menunjukkan maka marahlah Fathimah putri Rasul saw dan menghindar dari Abubakar shiddiq ra dan ia terus menghindar darinya hingga wafat, dan beliau hidup hingga 6 bulan setwlah wafatnya Rasul saw.

Sedangkan riwayat Baihaqi adalah mursal dan matannya menunjukkan hal yang bertentangan dengan riwayat Aisyah, karena jelas-jelas kesaksian Aisyah bahwa Sayyidah Fatimah AS selalu menghindar untuk bertemu Abu Bakarsampai Beliau AS wafat. Bagimana mungkin Aisyah RA yang hidup semasa Sayyidah Fatimah AS dan Abu Bakar RA bisa tidak menyaksikan apa yang disaksikan oleh Asy Sya’bi yang anehnya jelas belum lahir ketika peristiwa itu terjadi.
Oleh karena itu seharusnya riwayat Baihaqi itu mesti ditolak berdasarkan riwayat Shahih Bukhari, bukan malah riwayat Shahih Bukhari dipalingkan maknanya berdasarkan riwayat Baihaqi.

Kemudian Ibnu Hajar berkata

dan berkata para Muhadditsin, bahwa menghindarnya fathimah ra dari Abubakar adalah menghindari berkumpul bersamanya, dan hal itu bukan hal yg diharamkan, dan Fathimah ra saat selepas kejadian itu sibuk dengan kesedihannya atas wafat Rasul saw dan sakit yg dideritanya hingga wafat. (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Bab Fardhul Khumus)

Mari kita andaikan apa yang dikatakan Ibnu Hajar bahwa menghindarnya fathimah ra dari Abubakar adalah menghindari berkumpul bersamanya adalah sesuatu yang benar. Maka itu justru menjadi dalil tertolaknya riwayat Baihaqi, lihat hadis Shahih Bukhari
dan ia terus menghindar darinya hingga wafat, jika menurut apa yang dikatakan Ibnu Hajar maka kata-kata itu bisa diartikan dan ia terus menghindari berkumpul bersamanya hingga wafat artinya Sayyidah Fatimah AS menghindari berkumpul bersama Abu Bakar RA sampai Beliau AS wafat. Tapi coba lihat riwayat Baihaqi disitu dijelaskan bahwa Sayyidah Fatimah AS malah berkumpul bersama Abu Bakar RA. Sedikit Antagonis memang.

Kemudian Habib mengutip Syarh An Nawawi

dijelaskan pula oleh Imam Nawawi bahwa
hal itu diteruskan hingga dimasa Khalifah Ali bin Abi Thalib kw pun demikian, tidak dirubah, maka jika Abubakar ra salah dalam hal ini atau Umar ra, mestilah Utsman ra mengubahnya, atau mestilah Ali bin Abi Thalib kw mengubahnya, dan berkata Imam Nawawi pada halaman yg sama, mengenai dikuburkannya Fathimah ra dimalam hari maka hal itu merupakan hal yg diperbolehkan. (Syarah Nawawi Ala shahih Muslim Bab Jihad wassayr).

Tanggapan saya : Abu Bakar RA, Umar RA dan Usman RA menetapkan keputusan yang berbeda soal ini. Abu Bakar menolak memberikan tanah Khaibar, Fadak dan kurma bani Nadhir kepada Sayyidah Fatimah AS ketika Beliau memintanya. Sedangkan Umar menetapkan keputusan untuk memberikan kurma bani Nadhir kepada Ali dan Abbas ketika mereka mengajukan permintaan yang sama seperti yang dilakukan Sayyidah Fatimah AS. Kemudian Khalifah Usman bin Affan telah menyerahkan Fadak kepada Marwan bin Hakam.

Mengenai Imam Ali, pada saat beliau menjadi Khalifah, tanah Fadak tidak berada pada Beliau meliankan berada pada Marwan. Jika ada yang mengeluhkan mengapa Imam Ali tidak merebut saja tanah Fadak dari Marwan. Maka jawaban saya sebatas ini adalah dugaan bahwa pada masa pemerintahan Imam Ali beliau mendahulukan hal yang lebih penting yaitu mengatasi pihak-pihak yang berselisih dengannya baik Aisyah, Thalhah dan Zubair dalam Perang Jamal atau Muawiyah dalam Perang Shiffin. Hal ini yang menurut saya membuat Imam Ali menangguhkan penyelesaian masalah Fadak sampai situasi benar-benar memungkinkan. Wallahu A’lam

Sebenarnya soal keputusan yang mana yang benar sudah cukup dilihat dari pendirian Sayyidah Fatimah AS sendiri ketika Beliau marah mendengar hadis yang dibawakan Abu Bakar. Itu menunjukkan bahwa Beliau berpendirian berbeda dengan Abu Bakar. Soal ini sudah saya bahas khusus dalam tulisan saya panjang lebar soal Analisis Fadak, sepenuhnya saya mengatakan Sayyidah Fatimah AS adalah dalam posisi yang benar.

Habib berkata

bahkan Abubakar shiddiq ra pun dikuburkan di malam hari.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan ini, sudah jelas berdasarkan hadis tersebut Sayyyidah Fatimah AS dikuburkan tanpa sepengetahuan Abu Bakar .

Habib melanjutkan

marah” kategori mereka ini bukan berarti benci dan rakus harta, masya Allah..,

Tulisan saya tidak menyatakan bahwa Sayyidah Fatimah AS rakus harta, apalagi soal benci-membenci. Bagi saya pribadi sikap Sayyidah Fatimah AS menunjukkan pendirian Beliau terhadap masalah Fadak bahwa itu adalah haknya. Disini tidak ada masalah rakus harta, Sayyidah Fatimah AS adalah Ahlul Bait dimana seharusnya para sahabat berpegang teguh dan Beliau adalah yang paling paham tentang Sunnah Rasulullah SAW. Jadi sikap Beliau AS jelas menjadi hujjah akan kebenaran Beliau AS.

betapa buruknya anggapan orang syiah tentang Sayyidah Fathimah Azzahra ra

Ini juga tidak ada hubungannya, Apakah setiap orang yang membahas masalah Fadak dikatakan Syiah? Apakah setiap yang berpihak kepada Sayyidah Fatimah AS mesti dikatakan Syiah? Apakah Ahlul Bait sebagai Tsaqalain itu hanya untuk Syiah?. Lagipula anggapan buruk Habib soal rakus harta itu adalah persepsinya sendiri. Coba lihat saja tulisan saya sendiri atau tulisan orang Syiah yang membahas masalah Fadak. Tidak ada satupun yang mengatakan Sayyidah Fatimah AS rakus harta. Naudzubillah

marah tentunya sering terjadi bahkan Rasul saw sering pula marah, pernah marah pada Umar bin Khattab ra ketika Umar ra berbuat salah pada Abubakar ra, dan Abubakar ra meminta maaf padanya namun Umar ra belum mau memaafkan,

Tentu Rasulullah SAW bisa marah tetapi sudah jelas marahnya Rasulullah SAW selalu berada dalam kebenaran dan begitu juga berdasarkan dalil yang shahih marahnya Sayyidah Fatimah AS adalah marahnya Rasulullah SAW yang juga selalu berada dalam kebenaran.

Dan banyak riwayat riwayat lainnya, namun sungguh hati mereka suci

Saya setuju bahwa Rasulullah SAW dan Ahlul Bait AS adalah orang-orang yang disucikan oleh Allah SWT.

bukan seperti permusuhan kita dimasa kini yg penuh kebencian dan keinginan untuk saling mencelakakan,

Entahlah ini ditujukan buat siapa, yang jelas kalau dalam tulisan saya tidak ada sedikitpun niat memusuhi orang lain.

dan mustahil pula seorang putri Rasul saw tamak berebut harta waris duniawi, masya Allah dari buruknya sangka orang syiah ini.

Sekali lagi Habib cuma bermain-main dengan kata-katanya sendiri. Saya heran kepada siapa ditujukan perkataan itu. Apakah pada saya? Jika benar untuk saya, maka belum apa-apa saja Beliau sudah menuduh Syiah dan menuduh berburuk sangka. Saya tidak akan membahas lebih lanjut tuduhan seperti ini.

Nah sekarang lihatlah sendiri Siapa sebenarnya yang menyelewengkan Makna hadis Shahih Bukhari riwayat Aisyah tersebut? Saya tetap berpegang pada Zhahir hadis bahwa Sayyidah Fatimah marah dan mendiamkan atau menghindar dari Abu Bakar sampai Beliau AS wafat.
Adakah penyelewengan makna dalam tulisan saya.

Jawaban Pertanyaan Ketiga

3. mengenai syeikh Al Bani beliau tak diakui sebagai Muhaddits, karena Muhaddits adalah orang yg bertemu dengan periwayat hadits, dan Al Bani tak bertemu dengan seorang rawi pun, ia hanya berjumpa dengan buku buku mereka lalu berfatwa, maka fatwanya batil, terbukti penjelasannya tentang hadits diatas jauh bertentangan dg syarah Imam Ibn Hajar pada kitabnya Fathul Baari yg sudah menjadi rujukan seluruh Madzhab dan para Huffadh sesudah beliau.

Sebenarnya apa buktinya Syaikh Al Albani tidak bertemu satu rawi pun? Jika yang dimaksud perwai dalam kitab hadis maka saya jawab benar Beliau Syaikh Al Albani jelas tidak bertemu dengan perawi dalam kitab hadis. Tetapi bukankah ada juga beberapa ulama yang mempunyai sanad sendiri seperti sanad mereka Ulama Alawiyy (termasuk mungkin habib sendiri). Saya sendiri tidak tahu apakah syaikh Al Albani punya sanad sendiri atau tidak. Kalau memang Habib tahu adalah penting untuk menunjukkan bukti bahwa Syaikh Al Albani benar tidak memiliki sanad sendiri.
Lagipula mempelajari hadis tidak hanya dengan metode Sima’ tetapi bisa juga dengan Al Wijadah

Menurut saya Syaikh Al Albani adalah ulama hadis dimana beliau mempelajari Kitab-kitab hadis dan kitab-kitab Rijal hadis. Soal fatwanya itu tergantung dari dalil-dalilnya, silakan saja bagi yang berilmu untuk menelaah dalil-dalil fatwa syaikh Al Albani. Menyatakan bathil fatwa Syaikh Al Albani hanya dengan alasan Syaikh Al Albani tidak bertemu perawi hadis atau hanya belajar dari kitab adalah sesuatu yang bathil. Setiap ulama layak untuk dipelajari dan ditelaah dalil-dalilnya (termasuk juga Habib sendiri)

Kemudian Habib berkata

Saya tambahkan sedikit, dalam ilmu hadits, ada gelar Al Hafidh, yaitu orang yg telah hafal lebih dari 100 ribu hadits berikut sanad dan hukum matannya, adalagi derajat Alhujjah, yaitu yg hafal lebih dari 300 ribu hadits berikut sanad dan hukum matannya,
Imam Ahmad bin Hanbal hafal 1 juta hadits dg sanad dan hukum matannya, namun Imam Ahmad hanya sempat menulis sekitar 20 ribu hadits saja pada musnadnya, maka kira kira 980.000 hadits yg ada padanya tak sempat tertuliskan, dan Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid dari Imam Syafii
Imam Bukhari hafal 600 ribu hadits berikut sanad dan hukum matannya dan ia digelari Raja para Ahli Hadits, namun beliau hanya mampu menulis sekitar 7.000 hadits dalam shahihnya bersama beberapa kitab hadits kecil lainnya, lalu kira kira 593.000 hadits sirna dan tak tertuliskan,

Benar sekali apa yang dikatakan Habib, tapi perlu ditambahkan bisa saja hadis yang dihafalkan Imam Ahmad juga dimiliki Imam Bukhari, terus hadis-hadis yang banyak itu bisa saja ada yang matannya juga sama walau sanadnya berbeda. Selain itu hadis-hadis yang sirna dan tak tertuliskan menurut Habib itu bisa saja

  1. Hadis-hadis itu dhaif atau tidak shahih
  2. Hadis-hadis itu tercatat dalam kitab hadis lain, sampai sekarang sudah ada banyak sekali kitab hadis. Sebagai contoh hadis-hadis yang tidak termuat dalam Shahih Bukhari dan Muslim tetapi memenuhi persyaratan Bukhari dan Muslim dapat ditemukan dalam Al Mustadrak Ash Shahihain.

Jadi menurut saya tidak ada masalah dengan rujukan kitab-kitab hadis sekarang. Bukan maksud saya menafikan sanad hadis yang dimiliki oleh Ulama Alawiyy. Yang jelas darimanapun hadis itu baik melalui kitab hadis atau sanad dari Ulama layak diterima jika hadis tersebut shahih.

Lalu apa pendapat anda dengan seorang muncul masa kini, membaca dari buku buku sisa sisa yg masih ada ini, yg mungkin tak mencapai 5% hadits yg ada dimasa lalu, ia hanya baca buku buku lalu menilai hadits hadits semaunya?, mengatakan muhaddits itu salah, imam syafii dhoif, imam ini dhoif, imam itu mungkar hadits..

Angka 5 % itu menurut saya juga belum tentu valid dan maaf terkesan seolah-olah umat Islam kehilangan banyak sekali hadis karena tidak tercatat dalam kitab-kitab hadis. Sepertinya syaikh Al Albani juga tidak menilai hadis semaunya, beliau telah mempelajari cukup banyak Kitab Rijal hadis atau Jarh wat Ta’dil. Menurut saya menilai suatu hadis dengan metode Jarh wat Ta’dil adalah langkah yang tepat. Walaupun bukan berarti saya menerima sepenuhnya setiap apa yang dikatakan syaikh Al Albani. Bagi saya beliau bukan satu-satunya Ulama yang mempelajari hadis. Soal masalah pernyataan muhadis lain salah itu adalah hal yang biasa dalam perbedaan pendapat. Yang penting adalah melihat sejauh apa dalil yang dikemukakan, kan pendapat Ulama bisa benar tapi bisa juga tidak.
Lagipula dalam Jarh wat Ta’dil banyak sekali ditemukan hal yang seperti ini. Terus kata-kata imam syafii dhoif, saya ingin tahu dimana syaikh Al Albani berpendapat seperti itu, saya sih justru pernah membaca kalau Yahya bin Main berpendapat Imam Syafii dhaif dan pernyataan Ibnu Main dikecam oleh banyak Ulama hadis tetapi kecaman ini tidak menafikan bahwa Ibnu Main tetap menjadi rujukan bagi para Ulama hadis. Intinya setiap pernyataan Ulama selalu bisa dinilai.

Saya cukup heran dengan orang yang hanya mau menerima hadis dari golongannya saja. Memang ada orang-orang yang terikat dengan golongan tertentu, sehingga hanya mau menerima apa saja yang berasal dari golongannya dan menafikan semua yang ada pada golongan lain. Sikap seperti ini baik sadar maupun tidak sadar hanyalah bentuk fanatisme dan taklid semata. Kebenaran tidak diukur lewat orang atau golongan saja tetapi lebih pada dasar atau landasan dalil yang digunakan.

Salam damai

Nb: tulisan ini tidak dikhususkan buat menjawab seseorang, tetapi secara umum untuk tulisan blog yang membantah tulisan sebelumnya, tulisan Ustad Asri atau komentar dari salah seorang yang sering berkomentar. Salam damai.

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s