Mengkaji Syiah dari Kitab Sunni (Seri 01-10)

Menuju Persatuan dan Persaudaraan Mazhab Sunni Syiah

  1. 1.     Hadis Tsaqalain: al-Quran dan Ahlul Bayt a.s

Oleh: J. al-Gar (secondprince)

Peninggalan Rasulullah SAW adalah Al Quran dan Ahlul Bait as
Sebelum Junjungan kita yang mulia Al Imam Rasulullah SAW (Shalawat dan salam kepada Beliau SAW dan Keluarga suciNya as) berpulang ke rahmatullah, Beliau SAW telah berpesan kepada umatnya agar tidak sesat dengan berpegang teguh kepada dua peninggalannya atau Ats Tsaqalain yaitu Kitabullah Al Quranul Karim dan Itraty Ahlul Bait Rasul as. Seraya Beliau SAW juga mengingatkan kepada umatnya bahwa Al Quranul Karim dan Itraty Ahlul Bait Rasul as akan selalu bersama dan tidak akan berpisah sampai hari kiamat dan bertemu Rasulullah SAW di Telaga Kautsar Al Haudh.

Peninggalan Rasulullah SAW itu telah diriwayatkan dalam banyak hadis dengan sanad yang berbeda dan shahih dalam kitab-kitab hadis. Diantara kitab-kitab hadis itu adalah Shahih Muslim, Sunan Ad Darimi, Sunan Tirmidzi, Musnad Abu Ya’la, Musnad Al Bazzar, Mu’jam At Thabrani, Musnad Ahmad bin Hanbal, Shahih Ibnu Khuzaimah, Mustadrak Ash Shahihain, Majma Az Zawaid Al Haitsami, Jami’As Saghir As Suyuthi dan Al Kanz al Ummal. Dalam Tulisan ini akan dituliskan beberapa hadis Tsaqalain yang shahih dalam Shahih Muslim, Mustadrak Ash Shahihain, Sunan Tirmidzi dan Musnad Ahmad bin Hanbal.

1.Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim juz II hal 279 bab Fadhail Ali

Muslim meriwayatkan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Shuja’ bin Makhlad dari Ulayyah yang berkata Zuhair berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Abu Hayyan dari Yazid bin Hayyan yang berkata ”Aku, Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim pergi menemui Zaid bin Arqam. Setelah kami duduk bersamanya berkata Husain kepada Zaid ”Wahai Zaid sungguh engkau telah mendapat banyak kebaikan. Engkau telah melihat Rasulullah SAW, mendengarkan hadisnya, berperang bersamanya dan shalat di belakangnya. Sungguh engkau mendapat banyak kebaikan wahai Zaid. Coba ceritakan kepadaku apa yang kamu dengar dari Rasulullah SAW. Berkata Zaid “Hai anak saudaraku, aku sudah tua, ajalku hampir tiba, dan aku sudah lupa akan sebagian yang aku dapat dari Rasulullah SAW. Apa yang kuceritakan kepadamu terimalah,dan apa yang tidak kusampaikan janganlah kamu memaksaku untuk memberikannya.
Lalu Zaid berkata ”pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato, maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan. Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “dan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku, kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku”

Lalu Husain bertanya kepada Zaid ”Hai Zaid siapa gerangan Ahlul Bait itu? Tidakkah istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait? Jawabnya “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait disini adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah setelah wafat Nabi SAW”, Husain bertanya “Siapa mereka?”.Jawab Zaid ”Mereka adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbes”. Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah (zakat)?” tanya Husain; “Ya”, jawabnya.

Hadis di atas terdapat dalam Shahih Muslim, perlu dinyatakan bahwa yang menjadi pesan Rasulullah SAW itu adalah sampai perkataan “kuperingatkan kalian kepada Allah akan Ahlul Bait-Ku” sedangkan yang selanjutnya adalah percakapan Husain dan Zaid perihal Siapa Ahlul Bait. Yang menarik bahwa dalam Shahih Muslim di bab yang sama Fadhail Ali, Muslim juga meriwayatkan hadis Tsaqalain yang lain dari Zaid bin Arqam dengan tambahan percakapan yang menyatakan bahwa Istri-istri Nabi tidak termasuk Ahlul Bait, berikut kutipannya

“Kami berkata “Siapa Ahlul Bait? Apakah istri-istri Nabi? Kemudian Zaid menjawab ”Tidak, Demi Allah, seorang wanita (istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”.

2. Hadis shahih dalam Mustadrak As Shahihain Al Hakim juz III hal 148

Al Hakim meriwayatkan telah menceritakan kepada kami seorang faqih dari Ray Abu Bakar Muhammad bin Husain bin Muslim, yang mendengar dari Muhammad bin Ayub yang mendengar dari Yahya bin Mughirah al Sa’di yang mendengar dari Jarir bin Abdul Hamid dari Hasan bin Abdullah An Nakha’i dari Muslim bin Shubayh dari Zaid bin Arqam yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. “Kutinggalkan kepadamu dua peninggalan (Ats Tsaqalain), kitab Allah dan Ahlul BaitKu. Sesungguhnya keduanya tak akan berpisah, sampai keduanya kembali kepadaKu di Al Haudh“

Al Hakim menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa sanad hadis ini shahih berdasarkan syarat Bukhari dan Muslim.

3. Hadis shahih dalam kitab Mustadrak As Shahihain Al Hakim, Juz III hal 109.

Al Hakim meriwayatkan telah menceritakan kepada kami Abu Husain Muhammad bin Ahmad bin Tamim Al Hanzali di Baghdad yang mendengar dari Abu Qallabah Abdul Malik bin Muhammad Ar Raqqasyi yang mendengar dari Yahya bin Hammad; juga telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Balawaih dan Abu Bakar Ahmad bin Ja’far Al Bazzaz, yang keduanya mendengar dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal yang mendengar dari ayahnya yang mendengar dari Yahya bin Hammad; dan juga telah menceritakan kepada kami Faqih dari Bukhara Abu Nasr Ahmad bin Suhayl yang mendengar dari Hafiz Baghdad Shalih bin Muhammad yang mendengar dari Khallaf bin Salim Al Makhrami yang mendengar dari Yahya bin Hammad yang mendengar dari Abu Awanah dari Sulaiman Al A’masy yang berkata telah mendengar dari Habib bin Abi Tsabit dari Abu Tufail dari Zaid bin Arqam ra yang berkata

“Rasulullah SAW ketika dalam perjalanan kembali dari haji wada berhenti di Ghadir Khum dan memerintahkan untuk membersihkan tanah di bawah pohon-pohon. Kemudian Beliau SAW bersabda” Kurasa seakan-akan aku segera akan dipanggil (Allah), dan segera pula memenuhi panggilan itu, Maka sesungguhnya aku meninggalkan kepadamu Ats Tsaqalain(dua peninggalan yang berat). Yang satu lebih besar (lebih agung) dari yang kedua : Yaitu kitab Allah dan Ittrahku. Jagalah Baik-baik dan berhati-hatilah dalam perlakuanmu tehadap kedua peninggalanKu itu, sebab Keduanya takkan berpisah sehingga berkumpul kembali denganKu di Al Haudh. Kemudian Beliau SAW berkata lagi: “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla adalah maulaku, dan aku adalah maula setiap Mu’min. Lalu Beliau SAW mengangkat tangan Ali Bin Abi Thalib sambil bersabda : Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka dia ini (Ali bin Abni Thalib) adalah juga maula baginya. Ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya

Al Hakim telah menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa hadis ini shahih sesuai dengan persyaratan Bukhari dan Muslim.

4. Hadis shahih dalam kitab Mustadrak As Shahihain Al Hakim, Juz III hal 110.

Al Hakim meriwayatkan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ishaq dan Da’laj bin Ahmad Al Sijzi yang keduanya mendengar dari Muhammad bin Ayub yang mendengar dari Azraq bin Ali yang mendengar dari Hasan bin Ibrahim Al Kirmani yang mendengar dari Muhammad bin Salamah bin Kuhail dari Ayahnya dari Abu Tufail dari Ibnu Wathilah yang mendengar dari Zaid bin Arqam ra yang berkata “Rasulullah SAW berhenti di suatu tempat di antara Mekkah dan Madinah di dekat pohon-pohon yang teduh dan orang-orang membersihkan tanah di bawah pohon-pohon tersebut. Kemudian Rasulullah SAW mendirikan shalat, setelah itu Beliau SAW berbicara kepada orang-orang. Beliau memuji dan mengagungkan Allah SWT, memberikan nasehat dan mengingatkan kami. Kemudian Beliau SAW berkata” Wahai manusia, Aku tinggalkan kepadamu dua hal atau perkara, yang apabila kamu mengikuti dan berpegang teguh pada keduanya maka kamu tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah (Al Quranul Karim) dan Ahlul BaitKu, ItrahKu. Kemudian Beliau SAW berkata tiga kali “Bukankah Aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri.. Orang-orang menjawab “Ya”. Kemudian Rasulullah SAW berkata” Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka Ali adalah juga maulanya.

Al Hakim telah menyatakan dalam Al Mustadrak As Shahihain bahwa hadis ini shahih sesuai dengan persyaratan Bukhari dan Muslim.

5. Hadis dalam Musnad Ahmad jilid V hal 189

Abdullah meriwayatkan dari Ayahnya,dari Ahmad Zubairi dari Syarik dari Rukayn dari Qasim bin Hishan dari Zaid bin Tsabit ra, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Aku meninggalkan dua khalifah bagimu, Kitabullah dan Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya datang ke telaga Al Haudh bersama-sama”.

Hadis di atas diriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dari ayahnya Ahmad bin Hanbal, keduanya sudah dikenal tsiqat di kalangan ulama, Ahmad Zubairi. Beliau adalah Muhammad bin Abdullah Abu Ahmad Al Zubairi Al Habbal telah dinyatakan tsiqat oleh Yahya bin Muin dan Al Ajili.

Syarik bin Abdullah bin Sinan adalah salah satu Rijal Muslim, Yahya bin Main berkata “Syuraik itu jujur dan tsiqat”. Ahmad bin Hanbal dan Ajili menyatakan Syuraik tsiqat. Ibnu Ya’qub bin Syaiban berkata” Syuraik jujur dan tsiqat tapi jelek hafalannya”. Ibnu Abi Hatim berkata” hadis Syuraik dapat dijadikan hujjah”. Ibnu Saad berkata” Syuraik tsiqat, terpercaya tapi sering salah”.An Nasai berkata ”tak ada yang perlu dirisaukan dengannya”. Ahmad bin Adiy berkata “kebanyakan hadis Syuraik adalah shahih”.(Mizan Al Itidal adz Dzahabi jilid 2 hal 270 dan Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar jilid 4 hal 333).

Rukayn (Raqin) bin Rabi’Abul Rabi’ Al Fazari adalah perawi yang tsiqat .Beliau dinyatakan tsiqat oleh Ahmad bin Hanbal, An Nasai, Yahya bin Main, Ibnu Hajar dan juga dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Hibban dalam kitab Ats Tsiqat Ibnu Hibban.

Qasim bin Hishan adalah perawi yang tsiqah. Ahmad bin Saleh menyatakan Qasim tsiqah. Ibnu Hibban menyatakan bahwa Qasim termasuk dalam kelompok tabiin yang tsiqah. Dalam Majma Az Zawaid ,Al Haitsami menyatakan tsiqah kepada Qasim bin Hishan. Adz Dzahabi dan Al Munziri menukil dari Bukhari bahwa hadis Qasim itu mungkar dan tidak shahih. Tetapi Hal ini telah dibantah oleh Ahmad Syakir dalam Musnad Ahmad jilid V,beliau berkata”Saya tidak mengerti apa sumber penukilan Al Munziri dari Bukhari tentang Qasim bin Hishan itu. Sebab dalam Tarikh Al Kabir Bukhari tidak menjelaskan biografi Qasim demikian juga dalam kitab Adh Dhu’afa. Saya khawatir bahwa Al Munziri berkhayal dengan menisbatkan hal itu kepada Al Bukhari”. Oleh karena itu Syaikh Ahmad Syakir menguatkannya sebagai seorang yang tsiqah dalam Syarh Musnad Ahmad.

Jadi hadis dalam Musnad Ahmad diatas adalah hadis yang shahih karena telah diriwayatkan oleh perawi-perawi yang dikenal tsiqah.

6. Hadis dalam Musnad Ahmad jilid V hal 181-182

Riwayat dari Abdullah dari Ayahnya dari Aswad bin ‘Amir, dari Syarik dari Rukayn dari Qasim bin Hishan, dari Zaid bin Tsabit, Ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Sesungguhnya Aku meninggalkan dua khalifah bagimu Kitabullah, tali panjang yang terentang antara langit dan bumi atau diantara langit dan bumi dan Itrati Ahlul BaitKu. Dan Keduanya tidak akan terpisah sampai datang ke telaga Al Haudh”

Hadis di atas diriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dari ayahnya Ahmad bin Hanbal, Semua perawi hadis Musnad Ahmad di atas telah dijelaskan sebelumnya kecuali Aswad bin Amir Shadhan Al Wasithi. Beliau adalah salah satu Rijal atau perawi Bukhari Muslim. Al Qaisarani telah menyebutkannya di antara perawi-perawi Bukhari Muslim dalam kitabnya Al Jam’u Baina Rijalisy Syaikhain. Selain itu Aswad bin Amir dinyatakan tsiqat oleh Ali bin Al Madini, Ibnu Hajar, As Suyuthi dan juga disebutkan oleh Ibnu Hibban dalam Kitabnya Ats Tsiqat Ibnu Hibban. Oleh karena itu hadis Musnad Ahmad di atas sanadnya shahih.

7. Hadis dalam Sunan Tirmidzi jilid 5 halaman 662 – 663

At Tirmidzi meriwayatkan telah bercerita kepada kami Ali bin Mundzir al-Kufi, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Fudhail, telah bercerita kepada kami Al-A’masy, dari ‘Athiyyah, dari Abi Sa’id dan Al-A’masy, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Zaid bin Arqam yang berkata, ‘Rasulullah saw telah bersabda, ‘Sesungguhnya aku tinggalkan padamu sesuatu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, yang mana yang satunya lebih besar dari yang lainnya, yaitu Kitab Allah, yang merupakan tali penghubung antara langit dan bumi, dan ‘itrah Ahlul BaitKu. Keduanya tidak akan pernah berpisah sehingga datang menemuiku di telaga. Maka perhatikanlah aku dengan apa yang kamu laksanakan kepadaku dalam keduanya”

Dalam Tahdzib at Tahdzib jilid 7 hal 386 dan Mizan Al I’tidal jilid 3 hal 157, Ali bin Mundzir telah dinyatakan tsiqat oleh banyak ulama seperti Ibnu Abi Hatim,Ibnu Namir,Imam Sha’sha’i dan lain-lain,walaupun Ali bin Mundzir dikenal sebagai seorang syiah. Mengenai hal ini Mahmud Az Za’by dalam bukunya Sunni yang Sunni hal 71 menyatakan tentang Ali bin Mundzir ini “para ulama telah menyatakan ketsiqatan Ali bin Mundzir. Padahal mereka tahu bahwa Ali adalah syiah. Ini harus dipahami bahwa syiah yang dimaksud disini adalah syiah yang tidak merusak sifat keadilan perawi dengan catatan tidak berlebih-lebihan. Artinya ia hanya berpihak kepada Ali bin Abu Thalib dalam pertikaiannya melawan Muawiyah. Tidak lebih dari itu. Inilah pengertian tasyayyu menurut ulama sunni. Karena itu Ashabus Sunan meriwayatkan dan berhujjah dengan hadis Ali bin Mundzir”.

Muhammad bin Fudhail,dalam Hadi As Sari jilid 2 hal 210,Tahdzib at Tahdzib jilid 9 hal 405 dan Mizan al Itidal jilid 4 hal 9 didapat keterangan tentang beliau. Ahmad berkata”Ia berpihak kepada Ali, tasyayyu. Hadisnya baik” Yahya bin Muin menyatakan Muhammad bin Fudhail adalah tsiqat. Abu Zara’ah berkata”ia jujur dan ahli Ilmu”.Menurut Abu Hatim,Muhammad bin Fudhail adalah seorang guru.Nasai tidak melihat sesuatu yang membahayakan dalam hadis Muhammad bin Fudhail. Menurut Abu Dawud ia seorang syiah yang militan. Ibnu Hibban menyebutkan dia didalam Ats Tsiqat seraya berkata”Ibnu Fudhail pendukung Ali yang berlebih-lebihan”Ibnu Saad berkata”Ia tsiqat,jujur dan banyak memiliki hadis.Ia pendukung Ali”. Menurut Ajli,Ibnu Fudhail orang kufah yang tsiqat tetapi syiah. Ali bin al Madini memandang Muhammad bin Fudhail sangat tsiqat dalam hadis. Daruquthni juga menyatakan Muhammad bin Fudhail sangat tsiqat dalam hadis.

Al A’masy atau Sulaiman bin Muhran Al Kahili Al Kufi Al A’masy adalah perawi Kutub As Sittah yang terkenal tsiqat dan ulama hadis sepakat tentang keadilan dan ketsiqatan Beliau..(Mizan Al Itidal adz Dzahabi jilid 2 hal 224 dan Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar jilid 4 hal 222).Dalam hadis Sunan Tirmidzi di atas A’masy telah meriwayatkan melalui dua jalur yaitu dari Athiyyah dari Abu Said dan dari Habib bin Abi Tsabit dari Zaid bin Arqam.

Athiyyah bin Sa’ad al Junadah Al Awfi adalah tabiin yang dikenal dhaif. Menurut Adz Dzahabi Athiyyah adalah seorang tabiin yang dikenal dhaif ,Abu Hatim berkata hadisnya dhaif tapi bisa didaftar atau ditulis, An Nasai juga menyatakan Athiyyah termasuk kelompok orang yang dhaif, Abu Zara’ah juga memandangnya lemah. Menurut Abu Dawud Athiyyah tidak bisa dijadikan sandaran atau pegangan.Menurut Al Saji hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah,Ia mengutamakan Ali ra dari semua sahabat Nabi yang lain. Salim Al Muradi menyatakan bahwa Athiyyah adalah seorang syiah. Abu Ahmad bin Adi berkata walaupun ia dhaif tetapi hadisnya dapat ditulis. Kebanyakan ulama memang memandang Athiyyah dhaif tetapi Ibnu Saad memandang Athiyyah tsiqat,dan berkata insya Allah ia mempunyai banyak hadis yang baik,sebagian orang tidak memandang hadisnya sebagai hujjah. Yahya bin Main ditanya tentang hadis Athiyyah ,ia menjawab “Bagus”.(Mizan Al ‘Itidal jilid 3 hal 79).

Habib bin Abi Tsabit Al Asadi Al Kahlili adalah Rijal Bukhari dan Muslim dan para ulama hadis telah sepakat akan keadilan dan ketsiqatan beliau, walaupun beliau juga dikenal sebagai mudallis (Tahdzib At Tahdzib jilid 2 hal 178). Jadi dari dua jalan dalam hadis Sunan Tirmidzi di atas, sanad Athiyyah semua perawinya tsiqat selain Athiyyah yang dikenal dhaif walaupun Beliau di ta’dilkan oleh Ibnu Saad dan Ibnu Main. Sedangkan sanad Habib semua perawinya tsiqat tetapi dalam hadis di atas A’masy dan Habib meriwayatkan dengan lafal ‘an (mu’an ‘an) padahal keduanya dikenal mudallis. Walaupun begitu banyak hal yang menguatkan sanad Habib ini sehingga hadisnya dinyatakan shahih yaitu

  • Dalam kitab Mustadrak As Shahihain Al Hakim, Juz III hal 109 terdapat hadis tsaqalain yang menyatakan bahwa A’masy mendengar langsung dari Habib.(lihat hadis no 3 di atas). Sulaiman Al A’masy yang berkata telah mendengar dari Habib bin Abi Tsabit dari Abu Tufail dari Zaid bin Arqam ra. Dan hadis ini telah dinyatakan shahih oleh Al Hakim.
  • Syaikh Ahmad Syakir telah menshahihkan cukup banyak hadis dengan lafal’an dalam Musnad Ahmad salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan dengan lafal ‘an oleh A’masyi dan Habib(A’masy dari Habib dari…salah seorang sahabat).
  • Hadis Sunan Tirmidzi ini telah dinyatakan hasan gharib oleh At Tirmidzi dan telah dinyatakan shahih oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Turmudzi dan juga telah dinyatakan shahih oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy.

Semua hadis di atas menyatakan dengan jelas bahwa apa yang merupakan peninggalan Rasulullah SAW yang disebut Ats Tsaqalain (dua peninggalan) itu adalah Al Quran dan Ahlul Bait as. Sebagian orang ada yang menyatakan bahwa hadis itu tidak mengharuskan untuk berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait melainkan hanya berpegang teguh kepada Al Quran sedangkan tentang Ahlul Bait hadis itu mengingatkan bahwa kita harus menjaga hak-hak Ahlul Bait, mencintai dan menghormati Mereka. Sebagian orang tersebut telah berdalil dengan hadis Tsaqalain Shahih Muslim, Sunan Ad Darimi dan Musnad Ahmad yang memiliki redaksi kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, dan menyatakan bahwa dalam hadis tersebut tidak terdapat indikasi untuk berpegang teguh pada Ahlul Bait.

Terhadap pernyataan ini kami tidak sependapat dan dengan jelas kami menyatakan bahwa pendapat itu adalah tidak benar. Tentu saja sebagai seorang Muslim kita harus mencintai dan menghormati serta menjaga hak-hak Ahlul Bait tetapi hadis Tsaqalain jelas menyatakan keharusan berpegang teguh kepada Ahlul Bait dan hal ini telah ditetapkan dengan hadis-hadis yang shahih. Dalam hadis Tsaqalain Shahih Muslim, Sunan Ad Darimi dan Musnad Ahmad yang memiliki redaksi kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, juga tidak terdapat kata-kata yang menyatakan bahwa yang dimaksud itu adalah menjaga hak-hak Ahlul Bait, mencintai dan menghormati Mereka. Justru semua hadis ini harus dikumpulkan dengan hadis Tsaqalain yang lain yang memiliki redaksi berpegang teguh kepada Ahlul Bait atau redaksi Al Quran dan Ahlul Bait selalu bersama dan tidak akan berpisah. Dengan mengumpulkan semua hadis itu dapat diketahui bahwa peringatan Rasulullah SAW dalam kata-kata kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, tersebut adalah keharusan berpegang teguh kepada Ahlul Bait as.

Sebagian orang yang kami maksud (Ibnu Taimiyah dalam Minhaj As Sunnah dan Ali As Salus dalam Imamah Wal Khilafah). telah menyatakan bahwa hadis–hadis yang memiliki redaksi berpegang teguh kepada Ahlul Bait atau redaksi Al Quran dan Ahlul Bait selalu bersama dan tidak akan berpisah adalah tidak shahih. Kami dengan jelas menyatakan bahwa hal ini tidaklah benar karena hadis tersebut adalah hadis yang shahih seperti yang telah kami nyatakan di atas dan cukup banyak ulama yang telah menguatkan kebenarannya. Cukuplah disini dinyatakan pendapat Syaikh Nashirudin Al Albani yang telah menyatakan shahihnya hadis Tsaqalain tersebut dalam kitab Shahih Sunan Tirmidzi, Shahih Jami’ As Saghir dan Silsilah Al Hadits Al Shahihah .

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi,Ahmad,Thabrani,Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).

 

2. Analisis Hadis: Kitab Allah dan SunnahKu

Al Quranul Karim dan Sunnah Rasulullah SAW adalah landasan dan sumber syariat Islam. Hal ini merupakan kebenaran yang sifatnya pasti dan diyakini oleh umat Islam. Banyak ayat Al Quran yang memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh dengan Sunnah Rasulullah SAW, diantaranya

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah .Sesungguhnya Allah sangat keras hukumanNya. (QS ; Al Hasyr 7).

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang berharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS ; Al Ahzab 21).

Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah .Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu) maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS ; An Nisa 80).

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan “kami mendengar dan kami patuh”. Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepadaNya maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS ; An Nur 51-52).

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu Ketetapan , akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS ; Al Ahzab 36).

Jadi Sunnah Rasulullah SAW merupakan salah satu pedoman bagi umat islam di seluruh dunia. Berdasarkan ayat-ayat Al Quran di atas sudah cukup rasanya untuk membuktikan kebenaran hal ini. Tulisan ini akan membahas hadis “Kitabullah wa Sunnaty” yang sering dijadikan dasar bahwa kita harus berpedoman kepada Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW yaitu

Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu. Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh.”.

Hadis “Kitabullah Wa Sunnaty” ini adalah hadis masyhur yang sering sekali didengar oleh umat Islam sehingga tidak jarang banyak yang beranggapan bahwa hadis ini adalah benar dan tidak perlu dipertanyakan lagi. Pada dasarnya kita umat Islam harus berpegang teguh kepada Al Quran dan As Sunnah yang merupakan dua landasan utama dalam agama Islam. Banyak dalil dalil shahih yang menganjurkan kita agar berpegang kepada As Sunnah baik dari Al Quran (seperti yang sudah disebutkan) ataupun dari hadis-hadis yang shahih. Sayangnya hadis”Kitabullah Wa Sunnaty” yang seringkali dijadikan dasar dalam masalah ini adalah hadis yang tidak shahih atau dhaif. Berikut adalah analisis terhadap sanad hadis ini.

Analisis Sumber Hadis “Kitab Allah dan SunahKu”

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini tidak terdapat dalam kitab hadis Kutub As Sittah (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah, Sunan An Nasa’i, Sunan Abu Dawud, dan Sunan Tirmidzi). Sumber dari Hadis ini adalah Al Muwatta Imam Malik, Mustadrak Ash Shahihain Al Hakim, At Tamhid Syarh Al Muwatta Ibnu Abdil Barr, Sunan Baihaqi, Sunan Daruquthni, dan Jami’ As Saghir As Suyuthi. Selain itu hadis ini juga ditemukan dalam kitab-kitab karya Ulama seperti , Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih, Shawaiq Al Muhriqah Ibnu Hajar, Sirah Ibnu Hisyam, Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh, Al Ihkam Ibnu Hazm dan Tarikh At Thabari. Dari semua sumber itu ternyata hadis ini diriwayatkan dengan 4 jalur sanad yaitu dari Ibnu Abbas ra, Abu Hurairah ra, Amr bin Awf ra, dan Abu Said Al Khudri ra. Terdapat juga beberapa hadis yang diriwayatkan secara mursal (terputus sanadnya), mengenai hadis mursal ini sudah jelas kedhaifannya.

Hadis ini terbagi menjadi dua yaitu

  1. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang mursal
  2. Hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang muttasil atau bersambung.

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Secara Mursal

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang diriwayatkan secara mursal ini terdapat dalam kitab Al Muwatta, Sirah Ibnu Hisyam, Sunan Baihaqi, Shawaiq Al Muhriqah, dan Tarikh At Thabari. Berikut adalah contoh hadisnya

Dalam Al Muwatta jilid I hal 899 no 3

Bahwa Rasulullah SAW bersabda” Wahai Sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu berpegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunah RasulNya”.

Dalam Al Muwatta hadis ini diriwayatkan Imam Malik tanpa sanad. Malik bin Anas adalah generasi tabiit tabiin yang lahir antara tahun 91H-97H. Jadi paling tidak ada dua perawi yang tidak disebutkan di antara Malik bin Anas dan Rasulullah SAW. Berdasarkan hal ini maka dapat dinyatakan bahwa hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Dalam Sunan Baihaqi terdapat beberapa hadis mursal mengenai hal ini, diantaranya

Al Baihaqi dengan sanad dari Urwah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda pada haji wada “ Sesungguhnya Aku telah meninggalkan sesuatu bagimu yang apabila berpegang teguh kepadanya maka kamu tidak akan sesat selamanya yaitu dua perkara Kitab Allah dan Sunnah NabiMu, Wahai umat manusia dengarkanlah olehmu apa yang aku sampaikan kepadamu, maka hiduplah kamu dengan berpegang kepadanya”.

Selain pada Sunan Baihaqi, hadis Urwah ini juga terdapat dalam Miftah Al Jannah hal 29 karya As Suyuthi. Urwah bin Zubair adalah dari generasi tabiin yang lahir tahun 22H, jadi Urwah belum lahir saat Nabi SAW melakukan haji wada oleh karena itu hadis di atas terputus, dan ada satu orang perawi yang tidak disebutkan, bisa dari golongan sahabat dan bisa juga dari golongan tabiin. Singkatnya hadis ini dhaif karena terputus sanadnya.

Al Baihaqi dengan sanad dari Ibnu Wahb yang berkata “Aku telah mendengar Malik bin Anas mengatakan berpegang teguhlah pada sabda Rasulullah SAW pada waktu haji wada yang berbunyi ‘Dua hal Aku tinggalkan bagimu dimana kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunah NabiNya”.

Hadis ini tidak berbeda dengan hadis Al Muwatta, karena Malik bin Anas tidak bertemu Rasulullah SAW jadi hadis ini juga dhaif.

Dalam Sirah Ibnu Hisyam jilid 4 hal 185 hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Ishaq yang berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda pada haji wada…..,Disini Ibnu Ishaq tidak menyebutkan sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW oleh karena itu hadis ini tidak dapat dijadikan hujjah. Dalam Tarikh At Thabari jilid 2 hal 205 hadis ini juga diriwayatkan secara mursal melalui Ibnu Ishaq dari Abdullah bin Abi Najih. Jadi kedua hadis ini dhaif. Mungkin ada yang beranggapan karena Sirah Ibnu Hisyam dari Ibnu Ishaq sudah menjadi kitab Sirah yang jadi pegangan oleh jumhur ulama maka adanya hadis itu dalam Sirah Ibnu Hisyam sudah cukup menjadi bukti kebenarannya. Jawaban kami adalah benar bahwa Sirah Ibnu Hisyam menjadi pegangan oleh jumhur ulama, tetapi dalam kitab ini hadis tersebut terputus sanadnya jadi tentu saja dalam hal ini hadis tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.

Sebuah Pembelaan dan Kritik

Hafiz Firdaus dalam bukunya Kaidah Memahami Hadis-hadis yang Bercanggah telah membahas hadis dalam Al Muwatta dan menanggapi pernyataan Syaikh Hasan As Saqqaf dalam karyanya Shahih Sifat shalat An Nabiy (dalam kitab ini As Saqqaf telah menyatakan hadis Kitab Allah dan SunahKu ini sebagai hadis yang dhaif ). Sebelumnya berikut akan dituliskan pendapat Hafiz Firdaus tersebut.

Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya”

Hadis ini sahih: Dikeluarkan oleh Malik bin Anas dalam al-Muwattha’ – no: 1619 (Kitab al-Jami’, Bab Larangan memastikan Takdir). Berkata Malik apabila mengemukakan riwayat ini: Balghni………bererti “disampaikan kepada aku” (atau dari sudut catatan anak murid beliau sendiri: Dari Malik, disampaikan kepadanya………). Perkataan seperti ini memang khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahawa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Lebih lanjut lihat Qadi ‘Iyadh Tartib al-Madarik, jld 1, ms 136; Ibn ‘Abd al-Barr al Tamhid, jld 1, ms 34; al-Zarqani Syarh al Muwattha’, jld 4, ms 307 dan Hassath binti ‘Abd al-’Aziz Sagheir Hadis Mursal baina Maqbul wa Mardud, jld 2, ms 456-470.
Hasan ‘Ali al-Saqqaf dalam bukunya Shalat Bersama Nabi SAW (edisi terj. dari Sahih Sifat Solat Nabi), ms 269-275 berkata bahwa hadis ini sebenarnya adalah maudhu’. Isnadnya memiliki perawi yang dituduh pendusta manakala maksudnya tidak disokongi oleh mana-mana dalil lain. Beliau menulis: Sebenarnya hadis yang tsabit dan sahih adalah hadis yang berakhir dengan “wa ahli baiti” (sepertimana Khutbah C – penulis). Sedangkan yang berakhir dengan kata-kata “wa sunnati” (sepertimana Khutbah B) adalah batil dari sisi matan dan sanadnya.
Nampaknya al-Saqqaf telah terburu-buru dalam penilaian ini kerana beliau hanya menyimak beberapa jalan periwayatan dan meninggalkan yang selainnya, terutamanya apa yang terkandung dalam kitab-kitab Musannaf, Mu’jam dan Tarikh (Sejarah). Yang lebih berat adalah beliau telah menepikan begitu sahaja riwayat yang dibawa oleh Malik di dalam kitab al-Muwattha’nya atas alasan ianya adalah tanpa sanad padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.

Kritik kami adalah sebagai berikut, tentang kata-kata hadis riwayat Al Muwatta adalah shahih karena pernyataan Balghni atau “disampaikan kepada aku” dalam hadis riwayat Imam Malik ini adalah khas di zaman awal Islam (sebelum 200H) menandakan bahwa seseorang itu telah menerima sesebuah hadis daripada sejumlah tabi’in, dari sejumlah sahabat dari jalan-jalan yang banyak sehingga tidak perlu disertakan sanadnya. Maka Kami katakan, Kaidah periwayatan hadis dengan pernyataan Balghni atau “disampaikan kepadaku” memang terdapat di zaman Imam Malik. Hal ini juga dapat dilihat dalam Kutub As Sunnah Dirasah Watsiqiyyah oleh Rif’at Fauzi Abdul Muthallib hal 20, terdapat kata kata Hasan Al Bashri

“Jika empat shahabat berkumpul untuk periwayatan sebuah hadis maka saya tidak menyebut lagi nama shahabat”.Ia juga pernah berkata”Jika aku berkata hadatsana maka hadis itu saya terima dari fulan seorang tetapi bila aku berkata qala Rasulullah SAW maka hadis itu saya dengar dari 70 orang shahabat atau lebih”.

Tetapi adalah tidak benar mendakwa suatu hadis sebagai shahih hanya dengan pernyataan “balghni”. Hal ini jelas bertentangan dengan kaidah jumhur ulama tentang persyaratan hadis shahih seperti yang tercantum dalam Muqaddimah Ibnu Shalah fi Ulumul Hadis yaitu

Hadis shahih adalah Hadis yang muttashil (bersambung sanadnya) disampaikan oleh setiap perawi yang adil(terpercaya) lagi dhabit sampai akhir sanadnya dan hadis itu harus bebas dari syadz dan Illat.

Dengan kaidah Inilah as Saqqaf telah menepikan hadis al Muwatta tersebut karena memang hadis tersebut tidak ada sanadnya. Yang aneh justru pernyataan Hafiz yang menyalahkan As Saqqaf dengan kata-kata padahal yang benar al-Saqqaf tidak mengenali kaedah-kaedah periwayatan hadis yang khas di sisi Malik bin Anas dan tokoh-tokoh hadis di zamannya.

Pernyataan Hafiz di atas menunjukan bahwa Malik bin Anas dan tokoh hadis zamannya (sekitar 93H-179H) jika meriwayatkan hadis dengan pernyataan telah disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah SAW atau Qala Rasulullah SAW tanpa menyebutkan sanadnya maka hadis tersebut adalah shahih. Pernyataan ini jelas aneh dan bertentangan dengan kaidah jumhur ulama hadis. Sekali lagi hadis itu mursal atau terputus dan hadis mursal tidak bisa dijadikan hujjah karena kemungkinan dhaifnya. Karena bisa jadi perawi yang terputus itu adalah seorang tabiin yang bisa jadi dhaif atau tsiqat, jika tabiin itu tsiqatpun dia kemungkinan mendengar dari tabiin lain yang bisa jadi dhaif atau tsiqat dan seterusnya kemungkinan seperti itu tidak akan habis-habis. Sungguh sangat tidak mungkin mendakwa hadis mursal sebagai shahih “Hanya karena terdapat dalam Al Muwatta Imam Malik”.

.
Hal yang kami jelaskan itu juga terdapat dalam Ilmu Mushthalah Hadis oleh A Qadir Hassan hal 109 yang mengutip pernyataan Ibnu Hajar yang menunjukkan tidak boleh menjadikan hadis mursal sebagai hujjah, Ibnu Hajar berkata

”Boleh jadi yang gugur itu shahabat tetapi boleh jadi juga seorang tabiin .Kalau kita berpegang bahwa yang gugur itu seorang tabiin boleh jadi tabiin itu seorang yang lemah tetapi boleh jadi seorang kepercayaan. Kalau kita andaikan dia seorang kepercayaan maka boleh jadi pula ia menerima riwayat itu dari seorang shahabat, tetapi boleh juga dari seorang tabiin lain”.

Lihat baik-baik walaupun yang meriwayatkan hadis mursal itu adalah tabiin tetap saja dinyatakan dhaif apalagi Malik bin Anas yang seorang tabiit tabiin maka akan jauh lebih banyak kemungkinan dhaifnya. Pernyataan yang benar tentang hadis mursal Al Muwatta adalah hadis tersebut shahih jika terdapat hadis lain yang bersambung dan shahih sanadnya yang menguatkan hadis mursal tersebut di kitab-kitab lain. Jadi adalah kekeliruan menjadikan hadis mursal shahih hanya karena terdapat dalam Al Muwatta.

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” Yang Diriwayatkan Dengan Sanad Yang Bersambung.

Telah dinyatakan sebelumnya bahwa dari sumber-sumber yang ada ternyata ada 4 jalan sanad hadis “Kitab Allah dan SunahKu”. 4 jalan sanad itu adalah
1. Jalur Ibnu Abbas ra
2. Jalur Abu Hurairah ra
3. Jalur Amr bin Awf ra
4. Jalur Abu Said Al Khudri ra.

Jalan Sanad Ibnu Abbas

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas dapat ditemukan dalam Kitab Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93 dan Sunan Baihaqi juz 10 hal 4 yang pada dasarnya juga mengutip dari Al Mustadrak. Dalam kitab-kitab ini sanad hadis itu dari jalan Ibnu Abi Uwais dari Ayahnya dari Tsaur bin Zaid Al Daily dari Ikrimah dari Ibnu Abbas

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya”.

Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena terdapat kelemahan pada dua orang perawinya yaitu Ibnu Abi Uwais dan Ayahnya.

1. Ibnu Abi Uwais

  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 mengenai biografi Ibnu Abi Uwais terdapat perkataan orang yang mencelanya, diantaranya Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong. Menurut Abu Hatim Ibnu Abi Uwais itu mahalluhu ash shidq atau tempat kejujuran tetapi dia terbukti lengah. An Nasa’i menilai Ibnu Abi Uwais dhaif dan tidak tsiqah. Menurut Abu Al Qasim Al Alkaiy “An Nasa’i sangat jelek menilainya (Ibnu Abi Uwais) sampai ke derajat matruk(ditinggalkan hadisnya)”. Ahmad bin Ady berkata “Ibnu Abi Uwais itu meriwayatkan dari pamannya Malik beberapa hadis gharib yang tidak diikuti oleh seorangpun.”
  • Dalam Muqaddimah Al Fath Al Bary halaman 391 terbitan Dar Al Ma’rifah, Al Hafiz Ibnu Hajar mengenai Ibnu Abi Uwais berkata ”Atas dasar itu hadis dia (Ibnu Abi Uwais) tidak dapat dijadikan hujjah selain yang terdapat dalam As Shahih karena celaan yang dilakukan Imam Nasa’i dan lain-lain”.
  • Dalam Fath Al Mulk Al Aly halaman 15, Al Hafiz Sayyid Ahmad bin Shiddiq mengatakan “berkata Salamah bin Syabib Aku pernah mendengar Ismail bin Abi Uwais mengatakan “mungkin aku membuat hadis untuk penduduk madinah jika mereka berselisih pendapat mengenai sesuatu di antara mereka”.

Jadi Ibnu Abi Uwais adalah perawi yang tertuduh dhaif, tidak tsiqat, pembohong, matruk dan dituduh suka membuat hadis. Ada sebagian orang yang membela Ibnu Abi Uwais dengan mengatakan bahwa dia adalah salah satu Rijal atau perawi Shahih Bukhari oleh karena itu hadisnya bisa dijadikan hujjah. Pernyataan ini jelas tertolak karena Bukhari memang berhujjah dengan hadis Ismail bin Abi Uwais tetapi telah dipastikan bahwa Ibnu Abi Uwais adalah perawi Bukhari yang diperselisihkan oleh para ulama hadis. Seperti penjelasan di atas terdapat jarh atau celaan yang jelas oleh ulama hadis seperti Yahya bin Mu’in, An Nasa’i dan lain-lain. Dalam prinsip Ilmu Jarh wat Ta’dil celaan yang jelas didahulukan dari pujian(ta’dil). Oleh karenanya hadis Ibnu Abi Uwais tidak bisa dijadikan hujjah. Mengenai hadis Bukhari dari Ibnu Abi Uwais, hadis-hadis tersebut memiliki mutaba’ah atau pendukung dari riwayat-riwayat lain sehingga hadis tersebut tetap dinyatakan shahih. Lihat penjelasan Al Hafiz Ibnu Hajar dalam Al Fath Al Bary Syarh Shahih Bukhari, Beliau mengatakan bahwa hadis Ibnu Abi Uwais selain dalam As Shahih(Bukhari dan Muslim) tidak bisa dijadikan hujjah. Dan hadis yang dibicarakan ini tidak terdapat dalam kedua kitab Shahih tersebut, hadis ini terdapat dalam Mustadrak dan Sunan Baihaqi.

2. Abu Uwais

  • Dalam kitab Al Jarh Wa At Ta’dil karya Ibnu Abi Hatim jilid V hal 92, Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya Abu Hatim Ar Razy yang berkata mengenai Abu Uwais “Ditulis hadisnya tetapi tidak dapat dijadikan hujjah dan dia tidak kuat”. Ibnu Abi Hatim menukil dari Yahya bin Mu’in yang berkata “Abu Uwais tidak tsiqah”.
  • Dalam kitab Tahdzib Al Kamal karya Al Hafiz Ibnu Zakki Al Mizzy jilid III hal 127 Berkata Muawiyah bin Salih dari Yahya bin Mu’in “Abu Uwais dan putranya itu keduanya dhaif(lemah)”. Dari Yahya bin Mu’in bahwa Ibnu Abi Uwais dan ayahnya(Abu Uwais) suka mencuri hadis, suka mengacaukan(hafalan) hadis atau mukhallith dan suka berbohong.

Dalam Al Mustadrak jilid I hal 93, Al Hakim tidak menshahihkan hadis ini. Beliau mendiamkannya dan mencari syahid atau penguat bagi hadis tersebut, Beliau berkata ”Saya telah menemukan syahid atau saksi penguat bagi hadis tersebut dari hadis Abu Hurairah ra”. Mengenai hadis Abu Hurairah ra ini akan dibahas nanti, yang penting dari pernyataan itu secara tidak langsung Al Hakim mengakui kedhaifan hadis Ibnu Abbas tersebut oleh karena itu beliau mencari syahid penguat untuk hadis tersebut .Setelah melihat kedudukan kedua perawi hadis Ibnu Abbas tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hadis ”Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Ibnu Abbas adalah dhaif.

.

.

Jalan Sanad Abu Hurairah ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad Abu Hurairah ra terdapat dalam Al Mustadrak Al Hakim jilid I hal 93, Sunan Al Kubra Baihaqi juz 10, Sunan Daruquthni IV hal 245, Jami’ As Saghir As Suyuthi(no 3923), Al Khatib dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94, At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr, dan Al Ihkam VI hal 243 Ibnu Hazm.
Jalan sanad hadis Abu Hurairah ra adalah sebagi berikut, diriwayatkan melalui Al Dhaby yang berkata telah menghadiskan kepada kami Shalih bin Musa At Thalhy dari Abdul Aziz bin Rafi’dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ra

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan SunahKu.Keduanya tidak akan berpisah hingga menemuiKu di Al Haudh”.

Hadis di atas adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak bisa dijadikan hujjah yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

  • Dalam Kitab Tahdzib Al Kamal ( XIII hal 96) berkata Yahya bin Muin bahwa riwayat hadis Shalih bin Musa bukan apa-apa. Abu Hatim Ar Razy berkata hadis Shalih bin Musa dhaif. Imam Nasa’i berkata hadis Shalih bin Musa tidak perlu ditulis dan dia itu matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya).
  • Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalany dalam kitabnya Tahdzib At Tahdzib IV hal 355 menyebutkan Ibnu Hibban berkata bahwa Shalih bin Musa meriwayatkan dari tsiqat apa yang tidak menyerupai hadis itsbat(yang kuat) sehingga yang mendengarkannya bersaksi bahwa riwayat tersebut ma’mulah (diamalkan) atau maqbulah (diterima) tetapi tidak dapat dipakai untuk berhujjah. Abu Nu’aim berkata Shalih bin Musa itu matruk Al Hadis sering meriwayatkan hadis mungkar.
  • Dalam At Taqrib (Tarjamah :2891) Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqallany menyatakan bahwa Shalih bin Musa adalah perawi yang matruk(harus ditinggalkan).
  • Al Dzahaby dalam Al Kasyif (2412) menyebutkan bahwa Shalih bin Musa itu wahin (lemah).
  • Dalam Al Qaulul Fashl jilid 2 hal 306 Sayyid Alwi bin Thahir ketika mengomentari Shalih bin Musa, beliau menyatakan bahwa Imam Bukhari berkata”Shalih bin Musa adalah perawi yang membawa hadis-hadis mungkar”.

Kalau melihat jarh atau celaan para ulama terhadap Shalih bin Musa tersebut maka dapat dinyatakan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan sanad dari Abu Hurairah ra di atas adalah hadis yang dhaif. Adalah hal yang aneh ternyata As Suyuthi dalam Jami’ As Saghir menyatakan hadis tersebut hasan, Al Hafiz Al Manawi menshahihkannya dalam Faidhul Qhadir Syarah Al Jami’Ash Shaghir dan Al Albani juga telah memasukkan hadis ini dalam Shahih Jami’ As Saghir. Begitu pula yang dinyatakan oleh Al Khatib dan Ibnu Hazm. Menurut kami penshahihan hadis tersebut tidak benar karena dalam sanad hadis tersebut terdapat cacat yang jelas pada perawinya, Bagaimana mungkin hadis tersebut shahih jika dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, mungkar al hadis dan tidak bisa dijadikan hujjah. Nyata sekali bahwa ulama-ulama yang menshahihkan hadis ini telah bertindak longgar(tasahul) dalam masalah ini.

Mengapa para ulama itu bersikap tasahul dalam penetapan kedudukan hadis ini?. Hal ini mungkin karena matan hadis tersebut adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan lagi. Tetapi menurut kami matan hadis tersebut yang benar dan shahih adalah dengan matan hadis yang sama redaksinya hanya perbedaan pada “Kitab Allah dan SunahKu” menjadi “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu”. Hadis dengan matan seperti ini salah satunya terdapat dalam Shahih Sunan Tirmidzi no 3786 & 3788 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi. Kalau dibandingkan antara hadis ini dengan hadis Abu Hurairah ra di atas dapat dipastikan bahwa hadis Shahih Sunan Tirmidzi ini jauh lebih shahih kedudukannya karena semua perawinya tsiqat. Sedangkan hadis Abu Hurairah ra di atas terdapat cacat pada salah satu perawinya yaitu Shalih bin Musa At Thalhy.

Adz Dzahabi dalam Al Mizan Al I’tidal jilid II hal 302 berkata bahwa hadis Shalih bin Musa tersebut termasuk dari kemunkaran yang dilakukannya. Selain itu hadis riwayat Abu Hurairah ini dinyatakan dhaif oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy setelah beliau mengkritik Shalih bin Musa salah satu perawi hadis tersebut. Jadi pendapat yang benar dalam masalah ini adalah hadis riwayat Abu Hurairah tersebut adalah dhaif sedangkan pernyataan As Suyuthi, Al Manawi, Al Albani dan yang lain bahwa hadis tersebut shahih adalah keliru karena dalam rangkaian sanadnya terdapat perawi yang sangat jelas cacatnya sehingga tidak mungkin bisa dikatakan shahih.

Jalan Sanad Amr bin Awf ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Amr bin Awf terdapat dalam kitab At Tamhid XXIV hal 331 Ibnu Abdil Barr. Telah menghadiskan kepada kami Abdurrahman bin Yahya, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ahmad bin Sa’id, dia berkata telahmenghadiskan kepada kami Muhammad bin Ibrahim Al Daibaly, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Ali bin Zaid Al Faridhy, dia berkata telah menghadiskan kepada kami Al Haniny dari Katsir bin Abdullah bin Amr bin Awf dari ayahnya dari kakeknya

Bahwa Rasulullah bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.
Hadis ini adalah hadis yang dhaif karena dalam sanadnya terdapat cacat pada perawinya yaitu Katsir bin Abdullah .

  • Dalam Mizan Al Itidal (biografi Katsir bin Abdullah no 6943) karya Adz Dzahabi terdapat celaan pada Katsir bin Abdullah. Menurut Daruquthni Katsir bin Abdullah adalah matruk al hadis(ditinggalkan hadisnya). Abu Hatim menilai Katsir bin Abdullah tidak kuat. An Nasa’i menilai Katsir bin Abdullah tidak tsiqah.
  • Dalam At Taqrib at Tahdzib, Ibnu Hajar menyatakan Katsir bin Abdullah dhaif.
  • Dalam Al Kasyf Adz Dzahaby menilai Katsir bin Abdullah wahin(lemah).
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Ibnu Hibban berkata tentang Katsir bin Abdullah “Hadisnya sangat mungkar” dan “Dia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari ayahnya dari kakeknya yang tidak pantas disebutkan dalam kitab-kitab maupun periwayatan”
  • Dalam Al Majruhin Ibnu Hibban juz 2 hal 221, Yahya bin Main berkata “Katsir lemah hadisnya”
  • Dalam Kitab Al Jarh Wat Ta’dil biografi no 858, Abu Zur’ah berkata “Hadisnya tidak ada apa-apanya, dia tidak kuat hafalannya”.
  • Dalam Adh Dhu’afa Al Kabir Al Uqaili (no 1555), Mutharrif bin Abdillah berkata tentang Katsir “Dia orang yang banyak permusuhannya dan tidak seorangpun sahabat kami yang mengambil hadis darinya”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Ibnu Adi berkata perihal Katsir “Dan kebanyakan hadis yang diriwayatkannya tidak bisa dijadikan pegangan”.
  • Dalam Al Kamil Fi Dhu’afa Ar Rijal karya Ibnu Adi juz 6 hal 63, Abu Khaitsamah berkata “Ahmad bin Hanbal berkata kepadaku : jangan sedikitpun engkau meriwayatkan hadis dari Katsir bin Abdullah”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Wal Matrukin Ibnu Jauzi juz III hal 24 terdapat perkataan Imam Syafii perihal Katsir bin Abdullah “Katsir bin Abdullah Al Muzanni adalah satu pilar dari berbagai pilar kedustaan”

Jadi hadis Amr bin Awf ini sangat jelas kedhaifannya karena dalam sanadnya terdapat perawi yang matruk, dhaif atau tidak tsiqah dan pendusta.

Jalur Abu Said Al Khudri ra

Hadis “Kitab Allah dan SunahKu” dengan jalan sanad dari Abu Said Al Khudri ra terdapat dalam Al Faqih Al Mutafaqqih jilid I hal 94 karya Al Khatib Baghdadi dan Al Ilma ‘ila Ma’rifah Usul Ar Riwayah wa Taqyid As Sima’ karya Qadhi Iyadh dengan sanad dari Saif bin Umar dari Ibnu Ishaq Al Asadi dari Shabbat bin Muhammad dari Abu Hazm dari Abu Said Al Khudri ra.

Dalam rangkaian perawi ini terdapat perawi yang benar-benar dhaif yaitu Saif bin Umar At Tamimi.

  • Dalam Mizan Al I’tidal no 3637 Yahya bin Mu’in berkata “Saif daif dan riwayatnya tidak kuat”.
  • Dalam Ad Dhu’afa Al Matrukin no 256, An Nasa’i mengatakan kalau Saif bin Umar adalah dhaif.
  • Dalam Al Majruhin no 443 Ibnu Hibban mengatakan Saif merujukkan hadis-hadis palsu pada perawi yang tsabit, ia seorang yang tertuduh zindiq dan seorang pemalsu hadis.
  • Dalam Ad Dhu’afa Abu Nu’aim no 95, Abu Nu’aim mengatakan kalau Saif bin Umar adalah orang yang tertuduh zindiq, riwayatnya jatuh dan bukan apa-apanya.
  • Dalam Tahzib At Tahzib juz 4 no 517 Abu Dawud berkata kalau Saif bukan apa-apa, Abu Hatim berkata “ia matruk”, Ad Daruquthni menyatakannya dhaif dan matruk. Al Hakim mengatakan kalau Saif tertuduh zindiq dan riwayatnya jatuh. Ibnu Adi mengatakan kalau hadisnya dikenal munkar dan tidak diikuti seorangpun.

Jadi jelas sekali kalau hadis Abu Said Al Khudri ra ini adalah hadis yang dhaif karena kedudukan Saif bin Umar yang dhaif di mata para ulama.

Hadis Tersebut Dhaif

Dari semua pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa hadis “Kitab Allah dan SunahKu” ini adalah hadis yang dhaif. Sebelum mengakhiri tulisan ini akan dibahas terlebih dahulu pernyataan Ali As Salus dalam Al Imamah wal Khilafah yang menyatakan shahihnya hadis “Kitab Allah Dan SunahKu”.
Ali As Salus menyatakan bahwa hadis riwayat Imam Malik adalah shahih Walaupun dalam Al Muwatta hadis ini mursal. Beliau menyatakan bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah yang telah dishahihkan oleh As Suyuthi,Al Manawi dan Al Albani. Selain itu hadis mursal dalam Al Muwatta adalah shahih menurutnya dengan mengutip pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Tanggapan Terhadap Ali As Salus

Pernyataan pertama bahwa hadis Malik bin Anas dalam Al Muwatta adalah shahih walaupun mursal adalah tidak benar. Hal ini telah dijelaskan dalam tanggapan kami terhadap Hafiz Firdaus bahwa hadis mursal tidak bisa langsung dinyatakan shahih kecuali terdapat hadis shahih(bersambung sanadnya) lain yang menguatkannya. Dan kenyataannya hadis yang jadi penguat hadis mursal Al Muwatta ini adalah tidak shahih. Pernyataan Selanjutnya Ali As Salus bahwa hadis ini dikuatkan oleh hadis Abu Hurairah ra adalah tidak tepat karena seperti yang sudah dijelaskan, dalam sanad hadis Abu Hurairah ra ada Shalih bin Musa yang tidak dapat dijadikan hujjah.

Ali As Salus menyatakan bahwa hadis mursal Al Muwatta shahih berdasarkan

  • Pernyataan Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa semua hadis mursal Imam Malik adalah shahih dan
  • Pernyataan As Suyuthi bahwa semua hadis mursal dalam Al Muwatta memiliki sanad yang bersambung yang menguatkannya dalam kitab-kitab lain.

Mengenai pernyataan Ibnu Abdil Barr tersebut, jelas itu adalah pendapatnya sendiri dan mengenai hadis “Kitab Allah dan SunahKu” yang mursal dalam Al Muwatta Ibnu Abdil Barr telah mencari sanad hadis ini dan memuatnya dalam kitabnya At Tamhid dan Beliau menshahihkannya. Setelah dilihat ternyata hadis dalam At Tamhid tersebut tidaklah shahih karena cacat yang jelas pada perawinya.

.

Begitu pula pernyataan As Suyuthi yang dikutip Ali As Salus di atas itu adalah pendapat Beliau sendiri dan As Suyuthi telah menjadikan hadis Abu Hurairah ra sebagai syahid atau pendukung hadis mursal Al Muwatta seperti yang Beliau nyatakan dalam Jami’ As Saghir dan Beliau menyatakan hadis tersebut hasan. Setelah ditelaah ternyata hadis Abu Hurairah ra itu adalah dhaif. Jadi Kesimpulannya tetap saja hadis “Kitab Allah dan SunahKu” adalah hadis yang dhaif.

.
Salah satu bukti bahwa tidak semua hadis mursal Al Muwatta shahih adalah apa yang dikemukakan oleh Syaikh Al Albani dalam Silisilatul Al Hadits Adh Dhaifah Wal Maudhuah hadis no 908

Nabi Isa pernah bersabda”Janganlah kalian banyak bicara tanpa menyebut Allah karena hati kalian akan mengeras.Hati yang keras jauh dari Allah namun kalian tidak mengetahuinya.Dan janganlah kalian mengamati dosa-dosa orang lain seolah-olah kalian Tuhan,akan tetapi amatilah dosa-dosa kalian seolah kalian itu hamba.Sesungguhnya Setiap manusia itu diuji dan selamat maka kasihanilah orang-orang yang tengah tertimpa malapetaka dan bertahmidlah kepada Allah atas keselamatan kalian”.

Riwayat ini dikemukakan Imam Malik dalam Al Muwatta jilid II hal 986 tanpa sanad yang pasti tetapi Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil(bersambung) atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW.

Syaikh Al Albani berkata tentang hadis ini

”sekali lagi saya tegaskan memarfu’kan riwayat ini sampai kepada Nabi adalah kesalahan yang menyesatkan dan tidak ayal lagi merupakan kedustaan yang nyata-nyata dinisbatkan kepada Beliau padahal Beliau terbebas darinya”.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa Syaikh Al Albani tidaklah langsung menyatakan bahwa hadis ini shahih hanya karena Imam Malik menempatkannya dalam deretan riwayat–riwayat yang muttashil atau marfu’ sanadnya sampai ke Rasulullah SAW. Justru Syaikh Al Albani menyatakan bahwa memarfu’kan hadis ini adalah kedustaan atau kesalahan yang menyesatkan karena berdasarkan penelitian beliau tidak ada sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW mengenai hadis ini.

.

Yang Aneh adalah pernyataan Ali As Salus dalam Imamah Wal Khilafah yang menyatakan bahwa hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah dhaif dan yang shahih adalah hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”. Hal ini jelas sangat tidak benar karena hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” sanad-sanadnya tidak shahih seperti yang sudah dijelaskan dalam pembahasan di atas. Sedangkan hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” adalah hadis yang diriwayatkan banyak shahabat dan sanadnya jauh lebih kuat dari hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu”.

.

Jadi kalau hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” dinyatakan shahih maka hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” akan jadi jauh lebih shahih. Ali As Salus dalam Imamah wal Khilafah telah membandingkan kedua hadis tersebut dengan metode yang tidak berimbang. Untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan Itrah Ahlul BaitKu” beliau mengkritik habis-habisan bahkan dengan kritik yang tidak benar sedangkan untuk hadis dengan matan “Kitab Allah dan SunahKu” beliau bertindak longgar(tasahul) dan berhujjah dengan pernyataan ulama lain yang juga telah memudahkan dalam penshahihan hadis tersebut. Wallahu’alam.

 

3. Pembelaan Untuk Ibnu Ishaq

Pemurnian Sejarah atau Penyimpangan Sejarah

Sejarah atau Sirah Nabi Muhammad SAW adalah wujud hidup dari ajaran Islam karena di dalamnya kita dapat mengetahui dengan jelas kehidupan Pribadi yang paling agung yaitu junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang tentu saja merupakan panduan bagi kita semua umat Islam dalam mengarungi kehidupan di dunia ini demi mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat,semoga shalawat dan salam selalu tercurah untuk Beliau SAW dan KeluargaNya yang suci. Oleh karena itu sangat penting bagi kita untuk mendapatkan atau mempelajari sirah Nabi Muhammad SAW yang benar atau shahih.

Memang dalam kenyataannya sebagian besar kitab-kitab Sirah memuat riwayat-riwayat yang shahih, hasan, dhaif bahkan maudhu’ dengan kata lain memasukkan semua riwayat yang berkenaan tanpa memperhatikan kedudukannya. Hal inilah yang mendorong para ulama untuk terus melakukan kajian terhadap semua kitab sirah dan menyaring yang shahih agar nanti hasilnya dapat dipelajari oleh setiap umat Islam. Salah satu kajian ini adalah analisis terhadap sanad riwayat berdasarkan kaidah Jarh wat Ta’dil. Kajian ini diterapkan pada kitab-kitab Sirah yang masyhur seperti Sirah Ibnu Hisyam, Tarikh Ath Thabari, Tarikh Ibnu Asaqir, Tarikh Al Kamil, Ansab Al Asyraf Al Baladzuri, Muruj adz Dzahab Al Masudi dan kitab-kitab sirah yang lain. Kajian-kajian seperti ini mungkin bisa disebut usaha pemurnian sejarah karena melalui kajian ini akan didapatkan riwayat-riwayat Sirah yang shahih.

Usaha-usaha seperti ini jelas sangat diperlukan sekarang ini , apalagi sejarah atau sirah ini sekarang sering dijadikan argumentasi atau dalil dalam pertentangan mazhab atau keyakinan. Mungkin sebagai contoh hal ini akan sangat jelas terlihat dalam polemik yang berkepanjangan antara Islam Sunni dan Islam Syiah. Kedua belah pihak seringkali membawakan riwayat dalam kitab Sirah untuk menguatkan pendapat Mereka.

Walaupun begitu, usaha-usaha tersebut sebenarnya juga layak untuk dikritisi, apalagi jika hasil dari usaha pemurnian tersebut ternyata bertentangan dengan pendapat atau kajian banyak ulama lain baik dari generasi lalu maupun sekarang. Misalnya baru-baru ini kami mengetahui penolakan seorang penulis terhadap Muhammad bin Ishaq dan tuduhannya bahwa Muhammad bin Ishaq adalah seorang Syiah yang telah merusak dan menyimpangkan sejarah Islam. Beliau Muhammad bin Ishaq adalah salah satu pencatat Sirah awal dan terkenal dengan kitabnya Sirah Ibnu Ishaq yang telah disadur oleh murid beliau Ibnu Hisyam dalam Sirah Ibnu Hisyam. Oleh karena itu tulisan ini dibuat untuk perbandingan bagi pembaca bahwa terdapat banyak ulama yang telah menetapkan bahwa Muhammad bin Ishaq ini bisa dipercaya.

Jarh wat Ta’dil Terhadap Muhammad bin Ishaq
Kenyatannya memang terdapat perbedaan pandangan ulama-ulama terhadap Muhammad Ibnu Ishaq, ada yang menta’dilkannya, ada yang menjarhkannya dan ada yang dalam hal tertentu menerima riwayatnya tetapi dalam hal yang lain (halal dan haram misalnya) tidak memakai riwayatnya. Berikut ini beberapa pandangan yang menguatkan ta’dil Ibnu Ishaq.

Muhammad bin Ishaq merupakan perawi dari kitab-kitab hadis Kutub As Sittah, Bukhari meriwayatkan dari beliau dalam Shahih Bukhari secara ta’liq, Muslim meriwayatkan dari Ibnu Ishaq dalam Shahih Muslim, Ibnu Ishaq juga merupakan perawi hadis dalam Sunan At Tirmidzi, Sunan Abu Dawud, Sunan An Nasai dan Sunan Ibnu Majah. Hal ini telah dinyatakan oleh Prof.DR.Faruq Hamadah dalam bukunya Mashaadirus Siirah an Nabawiyah wa Taqwiimuhaa (terjemahannya Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah hal 72).

Dalam Kitab Tahzib Al Kamal karangan Ibnu Zakki Al Mizzi, terdapat ulama-ulama yang menta’dilkan Ibnu Ishaq

• Muhammad bin Muslim Al Zuhri menyatakan “Madinah berada dalam ilmu selama ada Ibnu Ishaq,orang yang paling tahu tentang sirah”.
• Ibnu Hibban menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah tsiqah(dapat dipercaya)
• Yahya bin Ma’in menyatakan Muhammad bin Ishaq itu tsiqah dan hasanul hadis tetapi di tempat lain Beliau menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah dhaif.
• Muhammad bin Idris As Syafii(Imam mazhab Syafii) memuji Ibnu Ishaq dan menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah sumber utama sirah.
• Syu’bah bin Al Hajjaj berkata tentang Ibnu Ishaq “Dia adalah amirul mukminin dalam hadis”.
• Ali bin Al Madini menyatakan bahwa “Ibnu Ishaq adalah sumber hadis,hadisnya disisiku adalah shahih”.
• Asim bin Umar bin Qatadah menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah sumber utama ilmu.
• Salih bin Ahmad bin Abdullah bin Salih Al Ajiliy menyatakan bahwa Ibnu Ishaq seorang yang tsiqah.
• Abu Muawiyah menyatakan bahwa Ibnu Ishaq termasuk diantara orang yang paling kuat ingatannya.
• Muhammad bin Saad menyatakan Ibnu Ishaq tsiqah.
• Abdullah bin Mubarak menyatakan Ibnu Ishaq shaduq.
• Abu Zur’ah juga menyatakan Ibnu Ishaq shaduq.
• Abu Ya’la Al Khalili menyatakan Ibnu Ishaq tsiqah.
• Al Busyanji menyatakan Ibnu Ishaq tsiqah-tsiqah.
• Muhammad bin Abdullah bin Numai menyatakan “Ibnu Ishaq adalah hasanul hadis walaupun kadangkala meriwayatkan hadis-hadis batil yang diambil dari orang yang majhul. Beliau Ibnu Ishaq juga dituduh penganut Qadarriyah Sedangkan beliau amat jauh dari hal itu”.

Dalam kitab Taqribut Tahdzib, Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqallani menyatakan bahwa Muhammad bin Ishaq adalah Imam al Maghazi(sirah), Dalam kitab Zadul Ma’ad juz 1 hal 99 terdapat perkataan Al Baihaqi tentang Ibnu Ishaq”Muhammad bin Ishaq,jika dia menyebutkan sama’nya(bahwa dia mendengar langsung) dalam riwayat dan sanad, itu dapat dipercaya dan berarti sanadnya baik”. Selain itu Adz Dzahabi dalam Mizan Al Itidal mengatakan “hadis Ibnu Ishaq itu hasan di samping itu sikapnya baik dan jujur. Meskipun riwayat yang disampaikannya seorang diri dinilai mungkar karena hafalannya sedikit, banyak para imam hadis menjadikannya sebagai hujjah”.

Memang pada kenyataannya terdapat juga ulama-ulama yang menjarhkan Ibnu Ishaq, hal ini dapat dilihat dalam kitab Tahzib Al Kamal sebagai berikut

• Malik bin Anas menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah salah seorang dajjal.
• Hisyam bin Urwah menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah seorang penipu.
• Yahya bin Said Al Qattan menyatakan bahwa Ibnu Ishaq adalah seorang penipu.
• Wuhaib bin Khallid menyatakan Ibnu ishaq seorang penipu.
• Sulaiman Al Taimi menyatakan bahwa Ibnu Ishaq seorang pembohong.
• Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa Ibnu Ishaq bukanlah hujjah, tidak memilih dari siapa dia mengambil hadis, bukan hujjah pada sunan, dhaif ketika tafarrud. Tetapi Ahmad bin Hanbal juga menyatakan bahwa sebagian hadis Ibnu Ishaq hasan.
• An Nasai menyatakan bahwa Ibnu Ishaq tidak kuat.
• Al Daruquthni menyatakan Ibnu Ishaq bukan hujjah.
• Al Zanbari menyatakan Ibnu Ishaq dihukum karena menganut paham Qadariyah.
• Jauzajani menyatakan bahwa Ibnu Ishaq dituduh karena beberapa bid’ah.

Walaupun terdapat ulama-ulama yang menjarhkan Ibnu Ishaq diatas, hal itu ternyata tidak menghalangi jumhur ulama untuk mengambil riwayat dari beliau. Hal ini dikarenakan banyak para ulama yang telah menilai jarh dan ta’dil ibnu Ishaq secara mendalam dan telah membantah keberatan terhadap Ibnu Ishaq. Bid’ah Ibnu Ishaq yang dimaksud Jauzani kemungkinan adalah paham Qadariyah yang dinyatakan oleh Al Zanbari tetapi hal ini telah dibantah oleh Muhammad bin Abdullah An Numai yang menyatakan bahwa Ibnu Ishaq jauh sekali dari paham Qadariyah.(lihat Tahdzib Al Kamal) . Selain itu Jauzani juga dikenal sebagai pembid’ah yang pernyataannya kurang bernilai dalam hal ini. (lihat Sunni Yang Sunni hal 33 Mahmud Az Za’by).

Sebagian ulama yang didakwa menjarhkan Ibnu Ishaq ternyata juga memberikan sifat ta’dil kepada beliau dan menerima sebagian riwayat Ibnu Ishaq seperti Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Muin, Ali Al Madini, Al Dzahabi, An Nasai, Abu Dawud, Sufyan bin Uyainah, dan Ibnu Hajar.
Dalam kitab Ad Duafa Wa Al Matrukin hal 41 karangan Ibnul Jauzi menyatakan bahwa ulama yang menolak Ibnu Ishaq seperti Wuhaib bin Khallid hanyalah mengikut terhadap pandangan ulama besar Madinah yaitu Malik bin Anas dan Hisyam bin Urwah,yang ternyata kedua ulama ini mempunyai persengketaan dengan Ibnu Ishaq.

Malik bin Anas mengkritik Ibnu Ishaq ketika beliau mengetahui bahwa Ibnu Ishaq telah mengkritik beliau dan kitab Al Muwatta karangan beliau,seperti yang tertera pada kitab Mu’jam al ‘Udaba jilid 18 hal 7 oleh Yaqut Al Hamawi dan Wafayat Al a’yan hal 227 oleh Ibnu Khallikan.
Wan Kamal Mujani dalam artikelnya Pandangan Ulama Terhadap Karya dan Ketokohan Ibnu Ishaq telah menulis bahwa

persengketaan antara Malik bin Anas dan Ibnu Ishaq bermula apabila Ibn Ishaq menafikan Malik bin Anas berasal daripada keturunan salah seorang raja Yaman iaitu Dhu Asbah. Ibn Ishaq menyatakan bahwa hubungan keluarga Malik bin Anas dengan raja tersebut hanyalah melalui ikrar taat setia sahaja dan bukannya pertalian darah. Ini telah menimbulkan rasa tidak puas hati kepada Malik bin Anas. Perang mulut antara mereka berterusan sehinggalah sampai kemuncaknya setelah Malik menulis Kitab al-Muwatta’ dan mendapat kritikan daripada Ibn Ishaq. Bagaimanapun, hubungan mereka berdua terjalin semula setelah Malik bin Anas mendengar berita bahwa Ibn Ishaq berhasrat untuk meninggalkan Madinah dan berhijrah ke Iraq. Malik bin Anas telah memberi sebanyak 50 Dinar kepada Ibn Ishaq untuk menampung perbelanjaannya di sana (Ibn Ishaq 1981, 23). Malik bin Anas juga tidaklah menolak keseluruhan hadis Ibn Ishaq. Beliau hanya sekadar tidak menerima riwayat-riwayat Ibn Ishaq mengenai beberapa peperangan Rasulullah s.a.w. yang bersumberkan masyarakat Yahudi (Ibn Ishaq 1981, 23). Ibn Ishaq pula mempunyai hujah tersendiri ketika mencatatkan riwayat-riwayat tersebut kerana beliau mengambilnya daripada periwayat periwayat Yahudi yang telah memeluk agama Islam. Beliau berpandangan bahwa mereka adalah diantara sumber yang paling hampir dengan peristiwa peristiwa tersebut dan mempunyai kaitan yang rapat dengannya.

Adapun tentang persengketaan dengan Hisyam bin Urwah telah dijelaskan oleh Al Dazahabi dalam Mizan Al Itidal jilid 4 hal 469, bahwa

penolakan sebenarnya Hisham bin Urwah terhadap Ibn Ishaq karena beliau tidak menyetujui perbuatan Ibn Ishaq menemui isterinya Fatimah binti al Mundhir dan meriwayatkan hadis-hadis daripadanya.

Dalam hal ini beberapa ulama telah memepertahankan kedudukan Ibnu Ishaq seperti Yahya bin Ma’in dan Ali bin Al Madini. Wan Kamal Mujani dalam artikelnya Pandangan Ulama Terhadap Karya dan Ketokohan Ibnu Ishaq telah menulis

“Jelas bahwa peristiwa ini berlaku disebabkan perasaan terlalu cemburu Hisham bin Urwah,sedangkan isterinya lebih tua (37 tahun) daripada Ibn Ishaq. Pertemuan Ibnu Ishaq dengan Fatimah binti al-Mundhir hanyalah sekadar untuk mengambil hadis-hadis sahaja, kerana Fatimah berkesempatan meriwayatkan daripada beberapa sahabat nabi. Di samping itu, beliau menganggap Fatimah sebagai salah seorang gurunya”.

Oleh karena itulah banyak ulama yang lebih menguatkan ta’dil terhadap Ibnu Ishaq dan tidak menerima Jarh terhadap Ibnu Ishaq. Hal ini seperti dikemukakan oleh Al Hafizh Abul Fath Ibnu Sayyidin Nas dalam kitabnya ‘Uyunul Atsar fi Fununil Maghazi was Siyar yang telah menyebutkan seluruh kritikan terhadap Ibnu Ishaq kemudian membatalkannya satu-persatu. Beliau condong untuk menguatkan Ibnu Ishaq dan keautentikannya dan berkata

”Ibnu Ishaq adalah pegangan dalam Maghazi(sirah) bagi kami dan bagi orang lain”.

Selain itu Al Hafizh Abu Ahmad bin Adiy dalam kitabnya Al Kamil telah meneliti tentang Ibnu Ishaq dan berkata

”Aku telah memeriksa hadis Ibnu Ishaq yang begitu banyak .Tidak kudapati sesuatu yang kelihatannya dapat dipastikan dhaif terkadang ia salah atau keliru dalam sesuatu sebagaimana orang lain juga dapat keliru” .

Jadi kami simpulkan bahwa Ibnu Ishaq dapat dipercaya dan dijadikan pegangan dalam masalah sirah. Adapun tentang tuduhan sebagian penulis bahwa Ibnu Ishaq seorang Syiah adalah tidak beralasan apalagi tuduhan beliau telah merusak sejarah islam(tuduhan ini sungguh sangat mengherankan karena banyak sekali sejarawan dan ulama yang telah mengutip dari Ibnu Ishaq) karena banyak ulama yang telah memberikan predikat dipercaya kepada beliau, seandainya beliau banyak meriwayatkan banyak keutamaan Imam Ali itu tidak membuktikan bahwa Ibnu Ishaq adalah syiah lagipula jika ternyata beliau sangat condong ke Imam Ali itu hanya menunjukkan bahwa beliau tasyayyu dan tentu saja riwayat seorang tasyayyu tetap dapat diterima karena cukup banyak perawi hadis yang tasyayyu dalam kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, dan Ashabus Sunan, Wallahu A’lam.

 

4. Hadis Keutamaan Ahlul Bait Rasul as

Keutamaan Ahlul Bait Rasul as

Hanash Kanani meriwayatkan “aku melihat Abu Dzar memegang pintu ka’bah (baitullah)dan berkata”wahai manusia jika engkau mengenalku aku adalah yang engkau kenal,jika tidak maka aku adalah Abu Dzar.Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda “Ahlul BaitKu seperti perahu Nabi Nuh,barangsiapa menaikinya mereka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengikutinya maka mereka akan tenggelam”.

Hadis riwayat Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 2 hal 343 dan Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih.

Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda”Bintang-bintang adalah petunjuk keselamatan penghuni bumi dari bahaya tenggelam di tengah lautan.Adapun Ahlul BaitKu adalah petunjuk keselamatan bagi umatKu dari perpecahan.Maka apabila ada kabilah arab yang berlawanan jalan dengan Mereka niscaya akan berpecah belah dan menjadi partai iblis”.

Hadis riwayat Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 149, Al Hakim menyatakan bahwa hadis ini shahih sesuai persyaratan Bukhari Muslim.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.

Hadis riwayat Tirmidzi, Ahmad, Thabrani, Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761.

Keutamaan Sayyidah Fathimah Az Zahra as

Rasulullah SAW bersabda” Wanita penghuni surga yang paling utama adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, dan Asiyah binti Mazahim istri Firaun.

Hadis shahih riwayat Ahmad,Thabrani,Hakim,Thahawi dalam Shahih Al Jami’As Saghir no 1135 dan Silsilah Al Hadits Al Shahihah no1508.

Bahwa ada malaikat yang datang menemui Rasulullah SAW dan berkata “sesungguhnya Fathimah adalah penghulu seluruh wanita di dalam surga”.

Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak dengan sanad yang baik.

Rasululah SAW bersabda kepada Fathimah“Tidakkah Engkau senang jika Engkau menjadi penghulu bagi wanita seluruh alam”

Hadis riwayat Al Bukhari dalam kitab Al Maghazi .

Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Fathimah, tidakkah anda puas menjadi sayyidah dari wanita sedunia (atau) menjadi wanita tertinggi dari semua wanita dari ummat ini atau wanita mukmin”

Hadis dalam Sahih Bukhari jilid VIII, Sahih Muslim jilid VII, Sunan Ibnu Majah jilid I hlm 518 , Musnad Ahmad bin Hanbal jilid VI hlm 282, Mustadrak Al Hakim jilid III hlm156.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Fathimah adalah bahagian dariku, barangsiapa yang membuatnya marah, membuatku marah!”

Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari Kitab Bad’ul Khalq bab Manaqib Qarabah Rasul.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda”Fathimah adalah sebahagian daripadaku; barangsiapa ragu terhadapnya, berarti ragu terhadapku, dan membohonginya adalah membohongiku”

Hadis riwayat Bukhari dalam Shahih Bukhari kitab nikah bab Dzabb ar-Rajuli.

Keutamaan Imam Ali as

bahwa Rasulullah SAW bersabda “Ali bersama Al Quran dan Al Quran bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya menemuiku di telaga Haudh”.

Hadis riwayat Al Hafidz Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain juz 3 hal 124. Hadis ini dishahihkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain yang berkata ”ini hadis yang shahih tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya”. Dalam Talkhis Mustadrak Adz Dzahabi juga mengakui keshahihan hadis ini.

bahwa Rasulullah SAW bersabda “barangsiapa taat kepadaKu, berarti ia taat kepada Allah dan siapa yang menentangKu berarti ia menentang Allah dan siapa yang taat kepada Ali berarti ia taat kepadaKu dan siapa yang menentang Ali berarti ia menentangKu.”

Hadis riwayat Al Hakim dalam Al Mustadrak juz 3 hal 121. Al Hakim dalam Al Mustadrak berkata hadis ini shahih sanadnya akan tetapi Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi juga mengakui kalau hadis ini shahih dalam Talkhis Al Mustadrak.

bahwa Rasulullah SAW bersabda” Kurasa seakan-akan aku segera akan dipanggil (Allah), dan segera pula memenuhi panggilan itu, Maka sesungguhnya aku meninggalkan padamu ats Tsaqalain. yang satu lebih besar (lebih agung) dari yang kedua : Yaitu kitab Allah dan Ittrahku. Jagalah Baik-baik kedua peninggalanku itu, sebab keduanya takkan berpisah sehingga berkumpul kembali denganku di al Haudh. Kemudian beliau berkata lagi: “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla adalah maulaku, dan aku adalah maula setiap Mu’min. Lalu beliau mengangkat tangan Ali Bin Abi Thalib sambil bersabda : Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka dia ini (Ali bin Abu Thalib) adalah juga maula baginya. Ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya..

Hadis riwayat Al Hakim dalam kitab Mustadrak As Shahihain, Juz III hal 109 . Menurut Al Hakim dalam kitab Al Mustadrak Hadis ini Shahih berdasarkan persyaratan Bukhari dan Muslim , pernyataan ini dibenarkan Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak.

Keutamaan Imam Hasan as dan Imam Husain as

Bahwa Rasulullah SAW bersabda”Hasan dan Husain adalah dua pemimpin Ahli Surga

Hadis riwayat Ahmad,Turmudzi dan Thabrani dalam Al Awsath dan Shahih Al Jami’ no 3180.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda”Hasan dan Husain adalah dua pemimpin para pemuda penduduk surga dan Ayah Mereka lebih baik dari Mereka”.

Hadis shahih riwayat Ibnu Majah dan Al Hakim dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilat As Shahihah no 796 dan Shahih Al Jami’ no 3182.

Bahwa Rasulullah SAW berdoa untuk Hasan”Ya Allah Aku sangat mencintai dan menyayangi Hasan maka cintai dan kasihilah Dia, serta cintai dan sayangilah orang yang mencintai dan menyayanginya”.

Hadis dalam Shahih Bukhari bab Manaqib Al Hasan wa Al Husain no 3749 dan Shahih Muslim bab Fadhail Al Hasan wa Al Husain no 2422.

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW berdiri di atas mimbar dan Hasan ada di sampingnya. Beliau SAW menoleh ke arah Hasan dan sesaat kemudian menoleh ke arah kaum muslimin di hadapannya. Lalu Beliau SAW bersabda “AnakKu ini adalah seorang pemimpin. Semoga Allah menyelamatkan dua kelompok dari kaum muslimin dengan berkahnya”.

Hadis dalam Shahih Bukhari bab Manaqib Al Hasan wa Al Husain no 3746.

Nabi Muhammad SAW bersabda “Husain adalah dariKu dan Aku dari Husain. Allah mencintai orang yang mencintainya. Husain adalah keturunan dari keturunan-keturunan Nabi.

Hadis riwayat Bukhari dalam Al Adab Al Mufrad, Turmudzi dalam Al Manaqib dan berkata hadis ini hasan. Syaikh Al Albani menyatakan hadis ini hasan dalam Shahih Al Jami’ no 3416.

 

5. Syiah Kafir? “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”

Suara-suara seperti ini selalu dikumandangkan oleh mereka yang mengaku sebagai golongan yang benar. Mereka yang menamakan dirinya Salafi tidak henti-hentinya berkata syiah itu kafir dan sesat. Tentu saja mereka mengikuti syaikh mereka atau ulama salafi yang telah mengeluarkan fatwa bahwa Syiah kafir dan sesat. Salah satu dari ulama tersebut adalah Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin.

Tulisan ini merupakan tanggapan dan peringatan kepada mereka yang bisanya sekedar mengikut saja. Sekedar ikut-ikutan berteriak bahwa syiah kafir dan syiah sesat tanpa mengetahui apapun selain apa yang dikatakan syaikh mereka. Jika ditanya, mereka akan mengembalikan semua permasalahan kepada ulama mereka, Syaikh kami telah berfatwa begitu. Padahal setiap orang akan mempertanggungjawabkan perkataannya sendiri dan bukan syaikh-syaikhnya. Apalagi jika perkataan yang dimaksud adalah tuduhan kafir terhadap seorang muslim. Bukankah Rasulullah SAW bersabda “Apabila salah seorang berkata pada saudaranya “hai kafir”, maka tetaplah hal itu bagi salah seorangnya. (Shahih Bukhari Juz 4 hal 47). Artinya jika yang dikatakan kafir itu adalah seorang muslim maka perkataan kafir akan berbalik ke dirinya sendiri. Singkatnya Mengkafirkan Muslim adalah Kafir.

Yang seperti ini sebenarnya sudah cukup untuk membuat orang berhati-hati dalam mengeluarkan kata “kafir”. Jelas sekali adalah kewajiban mereka untuk menelaah apa yang dikatakan oleh syaikh-syaikh mereka. Apakah benar atau Cuma pernyataan sepihak saja?. Sayangnya mereka yang berteriak itu tidak pernah mau beranjak dari pelukan syaikh mereka. Sepertinya dunia ini terbatas dalam perkataan syaikh mereka saja. Heran sekali kenapa mereka tidak pernah menghiraukan apa yang dikatakan oleh ulama sunni yang lain seperti Syaikh-syaikh Al Azhar yaitu Syaikh Mahmud Saltut, Syaikh Muhammad Al Ghazali dan Syaikh Yusuf Al Qardhawi yang jelas-jelas menyatakan bahwa Syiah itu Islam dan saudara kita.

Tentu jika mereka saja tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh ulama sunni yang lain selain syaikh mereka, maka tidak heran kalau mereka tidak pernah mendengarkan apa yang dikatakan Ulama Syiah tentang Bagaimana Syiah sebenarnya. Padahal mereka Ulama Syiah jelas lebih tahu tentang mahzab Syiah ketimbang orang lain. Kaidah tidak percaya adalah sah-sah saja tetapi hal itu harus dibuktikan. Ketidakpercayaan yang tak berdasar jelas sebuah kesalahan. Apa salahnya jika mereka mau merendah hati sejenak mendengarkan apa yang dikatakan ulama syiah tentang syiah dan jawaban ulama syiah terhadap pernyataan syaikh mereka, Insya Allah mereka tidak akan gegabah ikut-ikutan berteriak kafir kepada saudara mereka yang Syiah. Sayangnya sekali lagi mereka tidak mau tapi dengan mudahnya berteriak kafir.

Jadi wajar sekali kalau mereka yang berteriak itu tidak mengetahui bahwa setiap dalil dari syaikh mereka sudah dijawab oleh Ulama Syiah. Dan tidak sedikit dari dalil syaikh mereka itu yang merupakan kesalahpahaman dan sekedar tuduhan tak berdasar. Mereka yang berteriak itu akan berkata “syaikh kami telah berfatwa berdasarkan kitab-kitab syiah sendiri”. Ho ho ho benar sekali dan ulama syiah bahkan telah menjawab syaikh mereka berdasarkan kitab syiah dan kitab yang menjadi pegangan kaum sunni. Tetapi sayang mereka tidak tahu, karena mereka bisanya cuma teriak saja. Tong Kosong Nyaring Bunyinya.

Baiklah anggap saja kita tidak usah memusingkan segala tekstualitas antara ulama sunni dan syiah itu, maka cukup kiranya mereka yang berteriak Syiah kafir itu menjawab pertanyaan ini
Apakah kafir orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah?
Apakah kafir orang yang menunaikan shalat?
Apakah kafir orang yang berpuasa di bulan Ramadhan?
Apakah kafir orang yang menunaikan zakat?
Apakah kafir orang yang berhaji ke Baitullah?

Saya yakin mereka bisa menjawab, dan jawabannya tidak, mana ada orang kafir yang seperti itu. Orang yang seperti itu jelas-jelas Muslim. Dan sudah menjadi hal yang umum kalau Syiah jelas mengucapkan syahadat, menunaikan shalat, puasa di bulan ramadhan, membayar zakat dan haji ke Baitullah. Jadi jelas sekali Syiah itu Muslim.
Betapa mudahnya mulut mereka berbicara, sungguh aneh sekali ketika pikiran terperangkap dalam kurungan ashabiyah.

Tulisan ini juga ditujukan kepada mereka yang belum tahu tentang Syiah, cukuplah penjelasan bahwa Syiah adalah Islam sama seperti Sunni, perbedaannya mereka Syiah berpedoman pada Ahlul Bait Nabi SAW. Semoga saja siapapun yang belum mengenal Syiah tidak termakan dengan Fatwa-fatwa yang mengkafirkan syiah. Jika tidak tahu cukuplah diam dan lebih baik berprasangka baik. Jangan ikutan berteriak, biarkan saja mereka yang berteriak Syiah kafir. Dan Sekali lagi bagi mereka yang berteriak, Baca, baca lagi dan pikirkan baik-baik. Maaf, Jangan mau membodohi diri dan tampak seperti orang bodoh. Dengarkan ulama sunni yang lain, dan dengarkan pembelaan mereka Ulama Syiah. Jangan maunya sekedar berteriak. Ingatlah Semua orang bertanggung jawab atas apa yang dikatakannya. Salam damai.

 

6. Kedudukan Shahih Bukhari disisi Sunni dan Al-Kafi disisi Syiah

Mereka yang mengkritik Syiah telah membawakan riwayat-riwayat yang ada dalam kitab rujukan Syiah yaitu Al Kafi dalam karya-karya mereka seraya mereka berkata Kitab Al Kafi di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di sisi Sunni. Tujuan mereka berkata seperti itu adalah sederhana yaitu untuk mengelabui mereka yang awam yang tidak tahu-menahu tentang Al Kafi. Atau jika memang mereka tidak bertujuan seperti itu berarti Mereka lah yang terkelabui.

Dengan kata-kata seperti itu maka orang-orang yang membaca karya mereka akan percaya bahwa riwayat apa saja dalam Al Kafi adalah shahih atau benar sama seperti hadis dalam Shahih Bukhari yang semuanya didakwa shahih. Mereka yang mengkritik Syiah atau lebih tepatnya menghakimi Syiah itu adalah Dr Abdul Mun’im Al Nimr dalam karyanya(terjemahan Ali Mustafa Yaqub) Syiah, Imam Mahdi dan Duruz Sejarah dan Fakta, Ihsan Illahi Zahir dalam karyanya Baina Al Sunnah Wal Syiah, Mamduh Farhan Al Buhairi dalam karyanya Gen Syiah dan lain-lain.

Tidak diragukan lagi bahwa karya-karya mereka memuat riwayat-riwayat dalam kitab rujukan Syiah sendiri seperti Al Kafi tanpa penjelasan pada para pembacanya apakah riwayat tersebut shahih atau tidak di sisi Ulama Syiah. Karya-karya mereka ini jelas menjadi rujukan oleh orang-orang(termasuk oleh mereka yang menamakan dirinya salafi) untuk mengkafirkan atau menyatakan bahwa Syiah sesat.

Sungguh sangat disayangkan, karena kenyataan yang sebenarnya adalah Al Kafi di sisi Syiah tidak sama kedudukannya dengan Shahih Bukhari di sisi Sunni. Al Kafi memang menjadi rujukan oleh ulama Syiah tetapi tidak ada ulama Syiah yang dapat membuktikan bahwa semua riwayat Al Kafi shahih. Dalam mengambil hadis sebagai rujukan, ulama syiah akan menilai kedudukan hadisnya baru menetapkan fatwa. Hal ini jelas berbeda dengan Shahih Bukhari dimana Bukhari sendiri menyatakan bahwa semua hadisnya adalah shahih, dan sudah menjadi ijma ulama(sunni tentunya) bahwa kitab Shahih Bukhari adalah kitab yang paling shahih setelah Al Quran.

Kedudukan Shahih Bukhari

Shahih Bukhari adalah kitab hadis Sunni yang ditulis oleh Bukhari yang memuat 7275 hadis. Jumlah ini telah diseleksi sendiri oleh Bukhari dari 600.000 hadis yang diperolehnya dari 90.000 guru. Kitab ini ditulis dalam waktu 16 tahun yang terdiri dari 100 kitab dan 3450 bab. Hasil seleksi Bukhari dalam Shahih Bukhari ini telah Beliau nyatakan sendiri sebagai hadis yang shahih.

Bukhari berkata

“Saya tidak memasukkan ke kitab Jami’ ini kecuali yang shahih dan saya telah meninggalkan hadis-hadis shahih lain karena takut panjang” (Tahdzib Al Kamal 24/442).

Bukhari hidup pada abad ke-3 H, karya Beliau Shahih Bukhari pada awalnya mendapat kritikan oleh Abu Ali Al Ghassani dan Ad Daruquthni, bahkan Ad Daruquthni menulis kitab khusus Al Istidrakat Wa Al Tatabbu’ yang mengkritik 200 hadis shahih yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Tetapi karya Ad Daruquthni ini telah dijawab oleh An Nawawi dan Ibnu Hajar dalam Hady Al Sari Fath Al Bari.

An Nawawi dan Ibnu Shalah yang hidup pada abad ke-7 adalah ulama yang pertama kali memproklamirkan bahwa Shahih Bukhari adalah kitab yang paling otentik sesudah Al Quran. Tidak ada satupun ulama ahli hadis saat itu yang membantah pernyataan ini. Bahkan 2 abad kemudian pernyataan ini justru dilegalisir oleh Ibnu Hajar Al Asqallani dalam kitabnya Hady Al Sari dan sekali lagi tidak ada yang membantah pernyataan ini. Oleh karenanya adalah wajar kalau dinyatakan bahwa ulama-ulama sunni telah sepakat bahwa semua hadis Bukhari adalah shahih. (lihat Imam Bukhari dan Metodologi Kritik Dalam Ilmu Hadis oleh Ali Mustafa Yaqub hal 41-45).

Kedudukan Al Kafi

Al Kafi adalah kitab hadis Syiah yang ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Al Kulaini pada abad ke 4 H. Kitab ini ditulis selama 20 tahun yang memuat 16.199 hadis. Al Kulaini tidak seperti Al Bukhari yang menseleksi hadis yang ia tulis. Di Al Kafi, Al Kulaini menuliskan riwayat apa saja yang dia dapatkan dari orang yang mengaku mengikuti para Imam Ahlul Bait as. Jadi Al Kulaini hanyalah sebagai pengumpul hadis-hadis dari Ahlul Bait as. Tidak ada sedikitpun pernyataan Al Kulaini bahwa semua hadis yang dia kumpulkan adalah otentik. Oleh karena Itulah ulama-ulama sesudah Beliau telah menseleksi hadis ini dan menentukan kedududkan setiap hadisnya.

Di antara ulama syiah tersebut adalah Allamah Al Hilli yang telah mengelompokkan hadis-hadis Al Kafi menjadi shahih, muwatstsaq, hasan dan dhaif. Pada awalnya usaha ini ditentang oleh sekelompok orang yang disebut kaum Akhbariyah. Kelompok ini yang dipimpin oleh Mulla Amin Astarabadi menentang habis-habisan Allamah Al Hilli karena Mulla Amin beranggapan bahwa setiap hadis dalam Kutub Arba’ah termasuk Al Kafi semuanya otentik. Sayangnya usaha ini tidak memiliki dasar sama sekali. Oleh karena itu banyak ulama-ulama syiah baik sezaman atau setelah Allamah Al Hilli seperti Syaikh At Thusi, Syaikh Mufid, Syaikh Murtadha Al Anshari dan lain-lain lebih sepakat dengan Allamah Al Hilli dan mereka menentang keras pernyataan kelompok Akhbariyah tersebut. (lihat Prinsip-prinsip Ijtihad Antara Sunnah dan Syiah oleh Murtadha Muthahhari hal 23-30).

Dari hadis-hadis dalam Al Kafi, Sayyid Ali Al Milani menyatakan bahwa 5.072 hadis shahih, 144 hasan, 1128 hadis Muwatstsaq(hadis yang diriwayatkan perawi bukan syiah tetapi dipercayai oleh syiah), 302 hadis Qawiy(kuat) dan 9.480 hadis dhaif. (lihat Al Riwayat Li Al Hadits Al Tahrif oleh Sayyid Ali Al Milani dalam Majalah Turuthuna Bil 2 Ramadhan 1407 H hal 257). Jadi dari keterangan ini saja dapat dinyatakan kira-kira lebih dari 50% hadis dalam Al Kafi itu dhaif. Walaupun begitu jumlah hadis yang dapat dijadikan hujjah(yaitu selain hadis yang dhaif) jumlahnya cukup banyak, kira-kira hampir sama dengan jumlah hadis dalam Shahih Bukhari.

Semua keterangan diatas sudah cukup membuktikan perbedaan besar di antara Shahih Bukhari dan Al Kafi. Suatu Hadis jika terdapat dalam Shahih Bukhari maka itu sudah cukup untuk membuktikan keshahihannya. Sedangkan suatu hadis jika terdapat dalam Al Kafi maka tidak bisa langsung dikatakan shahih, hadis itu harus diteliti sanad dan matannya berdasarkan kitab Rijal Syiah atau merujuk kepada Ulama Syiah tentang kedudukan hadis tersebut.

Peringatan

Oleh karena cukup banyaknya hadis yang dhaif dalam Al Kafi maka seyogyanya orang harus berhati-hati dalam membaca buku-buku yang menyudutkan syiah dengan menggunakan riwayat-riwayat Hadis Syiah seperti dalam Al Kafi. Dalam hal ini bersikap skeptis adalah perlu sampai diketahui dengan pasti kedudukan hadisnya baik dengan menganalisis sendiri berdasarkan Kitab Rijal Syiah atau merujuk langsung ke Ulama Syiah.

Dan Anda bisa lihat di antara buku-buku yang menyudutkan syiah dengan memuat riwayat syiah sendiri seperti dari Al Kafi tidak ada satupun penulisnya yang bersusah payah untuk menganalisis sanad riwayat tersebut atau menunjukkan bukti bahwa riwayat itu dishahihkan oleh ulama syiah. Satu-satunya yang mereka jadikan dalil adalah Fallacy bahwa Al Kafi itu di sisi Syiah sama seperti Shahih Bukhari di Sisi Sunni. Padahal sebenarnya tidak demikian, sungguh dengan fallacy seperti itu mereka telah menyatakan bahwa Syiah itu kafir dan sesat. Sungguh Sayang sekali.

Peringatan ini jelas ditujukan kepada mereka yang akan membaca buku-buku tersebut agar tidak langsung percaya begitu saja. Pikirkan dan analisis riwayat tersebut dengan Kitab Rijal Syiah(Rijal An Najasy atau Rijal Al Thusi). Atau jika terlalu sulit dengarkan pendapat Ulama Syiah perihal riwayat tersebut. Karena pada dasarnya mereka Ulama Syiah lebih mengetahui hadis Syiah ketimbang para penulis buku-buku tersebut. Salam damai.

 

7. Telaah Perbedaan Sunni dan Syiah 01

Tulisan ini adalah tanggapan sederhana atas tulisan di situs ini yang berjudul Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ?. Untuk memenuhi permintaan saudara Gura dalam tulisan saya yang lalu. Tulisan yang bercetak miring adalah tulisan di situs tersebut. Sebelumnya perlu diingatkan bahwa apa yang penulis(saya) sampaikan adalah bersumber dari apa yang penulis baca dari sumber-sumber Syiah sendiri.

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.

Penulis(saya) menjawab benar perbedaan Sunni dan Syiah memang tidak sebatas Furu’iyah tetapi juga berkaitan dengan masalah Ushulli. Tetapi tetap saja Syiah adalah Islam(lihat tulisan ini). Kita akan lihat nanti. Tidak ada masalah dengan pendekatan Sunni dan Syiah karena tidak semuanya berbeda, terdapat cukup banyak persamaan antara Sunni dan Syiah.

Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui. Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya

Jawaban saya, kata-kata ini juga bisa ditujukan pada penulis itu sendiri, minimnya pengetahuan dia tentang Syiah kecuali yang di dapat dari Syaikh-syaikhnya. Kemudian berbicara seperti orang yang sok tahu segalanya. Dan berkomentar sebelum memahami persoalan sebenarnya.

Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i. Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

Bukankah baik kalau mengenal sesuatu dari sumbernya sendiri yaitu Ulama Syiah. Kalau si penulis itu menganggap Ulama Syiah Cuma berpura-pura lalu kenapa dia tidak menganggap Syaikh-Syaikh mereka itu yang sengaja mendistorsi tentang Syiah. Subjektivitas sangat berperan, anda tentu tidak akan mendengar hal yang baik tentang Syiah dari Ulama yang membenci dan mengkafirkan Syiah. Pengetahuan yang berimbang diperlukan jika ingin bersikap objektif. Sekali lagi perbedaan itu benar tidak sebatas Furu’iyah.

Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita(Ahlussunnah).
Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

Kata-kata yang begitu kurang tepat, yang benar adalah Syiah meyakini Rukun Iman dan Rukun Islam yang dimiliki Sunni tetapi mereka merumuskannya dengan cara yang berbeda dan memang terdapat perbedaan tertentu pada Syiah yang tidak diyakini Sunni.
Kitab Hadis Syiah benar berbeda dengan Kitab Hadis Sunni karena Syiah menerima hadis dari Ahlul Bait as(hal ini ada dasarnya bahkan dalam kitab hadis Sunni lihat hadis Tsaqalain) sedangkan Sunni sebagian besar hadisnya dari Sahabat Nabi ra.
sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita. Ini adalah kebohongan, yang benar Ulama-Ulama Syiah menyatakan bahwa Al Quran mereka sama dengan Al Quran Sunni. Yang mengatakan bahwa Al Quran Syiah berbeda dengan Al Quran Sunni adalah kaum Syiah Akhbariyah yang bahkan ditentang oleh Ulama-Ulama Syiah. Kaum Akhbariyah ini yang dicap oleh penulis itu sebagai Ulama Syiah. Sudah keliru generalisasi pula. Penafsiran Al Quran yang berlainan bukan masalah, dalam Sunni sendiri perbedaan tersebut banyak terjadi.

Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.

Yang berkata seperti ini adalah Ulama-ulama Salafi, karena terdapat Ulama Ahlussunah yang mengatakan Syiah itu Islam seperti Syaikh Saltut, Syaikh Muhammad Al Ghazali, Syaikh Yusuf Qardhawi, dan lain-lain. Sebenarnya yang populer di kalangan Sunni adalah Syiah itu Islam tetapi golongan pembid’ah. Cuma Salafi yang dengan ekstremnya menyebut Syiah agama tersendiri.

Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

Saya akan menanggapi satu persatu pernyataan penulis ini

1. Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima)
a) Syahadatain
b) As-Sholah
c) As-Shoum
d) Az-Zakah
e) Al-Haj
Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:
a) As-Sholah
b) As-Shoum
c) Az-Zakah
d) Al-Haj
e) Al wilayah

Jawaban: Saya tidak tahu apa sumber penukilan penulis ini, yang jelas Syiah juga meyakini Islam dimulai dengan Syahadat. Jadi sebenarnya Syiah meyakini semua rukun Islam Sunni hanya saja mereka menambahkan Al Wilayah. Yang ini yang tidak diakui Sunni, tentu perbedaan ini ada dasarnya.

2. Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) :
a) Iman kepada Allah
b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
c) Iman kepada Kitab-kitab Nya
d) Iman kepada Rasul Nya
e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.
Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*
a) At-Tauhid
b) An Nubuwwah
c) Al Imamah
d) Al Adlu
e) Al Ma’ad

Syiah jelas meyakini atau mengimani semua yang disebutkan dalam rukun iman Sunni, hanya saja mereka ,merumuskannya dengan cara berbeda seperti yang penulis itu sampaikan. Rukun iman Syiah selain Imamah mengandung semua rukun iman Sunni. Perbedaannya Syiah meyakini Imamah dan Sunni tidak, sekali lagi perbedaan ini ada dasarnya.

3. Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat
Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka

Ini tidak benar karena syahadat dalam Sunni dan Syiah adalah sama Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah. Tidak mungkinnya pernyataan penulis itu adalah bagaimana dengan mereka orang Islam pada zaman Rasulullah SAW, zaman Imam Ali, zaman Imam Hasan dan zaman Imam Husain. Bukankah jelas pada saat itu belum terdapat 12 imam.

4. Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.
Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka

Imam Sunni tidak terbatas karena setiap ulama bisa saja disebut Imam oleh orang Sunni. Bagi Syiah tidak seperti itu, 12 imam mereka ada dasarnya sendiri dalam sumber mereka, dan terdapat juga dalam Sumber Sunni tentang 12 khalifah dan Imam dari Quraisy. Intinya Syiah dan Sunni berbeda pandangan tentang apa yang disebut Imam. Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan. Pernyataan ini hanya sekedar persepsi, tidak dibenarkan berdasarkan apa, jelas sekali penulis ini tidak memahami pengertian Imam dalam Syiah.

Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka. Saya tidak tahu apa dasar penulis itu, yang saya tahu Ulama Syiah selalu menyebut Sunni sebagai Islam dan saudara mereka. Anda dapat melihat dalam Al Fushul Al Muhimmah Fi Ta’lif Al Ummah oleh Ulama Syiah Syaikh Syarafuddin Al Musawi(terjemahannya Isu-isu Penting Ikhtilaf Sunnah dan Syiah hal 33 yang membuat bab khusus yang berjudul Keterangan Para Imam Ahlul Bait Tentang Sahnya Keislaman Ahlussunnah) Atau anda dapat merujuk Al ’Adl Al Ilahy karya Murtadha Muthahhari( terjemahannya Keadilan Ilahi hal 271-275).

5. Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :
a) Abu Bakar
b) Umar
c) Utsman
d) Ali Radhiallahu anhum
Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

Pembahasan masalah ini adalah cukup pelik, oleh karenanya saya akan memaparkan garis besarnya saja. Benar sekali khulafaurrosyidin yang diakui Sunni adalah seperti yang penulis itu sebutkan. Syiah tidak mengakui 3 khalifah pertama karena berdasarkan dalil-dalil di sisi mereka Imam Ali ditunjuk sebagai khalifah pengganti Rasulullah SAW. Pernyataan (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka), disini lagi-lagi terjadi perbedaan. Sunni berdasarkan sumber mereka menganggap Imam Ali berbaiat dengan sukarela. Tetapi Syiah berdasarkan sumber mereka menganggap Imam Ali berbaiat dengan terpaksa.

Hal yang patut diperhitungkan adalah Syiah juga memakai sumber Sunni untuk membuktikan anggapan ini, diantaranya hadis dan sirah yang menyatakan keterlambatan baiat Imam Ali kepada khalifah Abu Bakar yaitu setelah 6 bulan. Sekali lagi perbedaan ini memiliki dasar masing-masing di kedua belah pihak baik Sunni dan Syiah, jika ingin bersikap objektif tentu harus membahasnya secara berimbang dan tidak berat sebelah. Perbedaan masalah khalifah ini juga tidak perlu dikaitkan dengan Islam atau tidak, bukankah masalah khalifah ini jelas tidak termasuk dalam rukun iman dan rukun islam Sunni yang disebutkan oleh penulis itu. Oleh karenanya jika Syiah berbeda dalam hal ini maka itu tidak menunjukkan Syiah keluar dari Islam.

Sebelum mengakhiri bagian pertama ini, ada yang perlu diperjelas. Syiah meyakini rukun iman dan rukun islam Sunni hanya saja Syiah berbeda merumuskannya. Oleh karenanya dalam pandangan Sunni, Syiah itu Islam. Syiah meyakini Imamah yang merupakan masalah Ushulli dalam rukun Iman Syiah. Sunni tidak meyakini hal ini. Dalam pandangan Syiah, Sunni tetap sah keislamannya berdasarkan keterangan dari para Imam Ahlul Bait . Anda dapat merujuk ke sumber yang saya sebutkan. Bersambung , Salam damai.

 

8. Jawaban Untuk saudara Jafar mengenai Imamah

Tulisan ini adalah tanggapan saya pribadi atas tulisan saudara Ja’far yang berjudul Apakah Memang Ada Dalil Tentang Imamah?. Tulisan Beliau ini adalah tulisan yang berupa kritik terhadap Syiah dan dalam tulisannya beliau mengutip tafsir dan hadis dari Ahlus Sunnah. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya menyimpulkan bahwa ayang dimaksud oleh Beliau dengan dalil itu adalah dalil dari Sunni.

Tulisan itu bisa dibaca di blog beliau: http://jafarshodiqalpalembani.wordpress.com/2007/08/27/apakah-memang-ada-dalil-tentang-imamah-kritik-terhadap-syiah/ , (Sudah dihapus, tidak tahu kenapa?… hehehe).

Kecenderungan Sunni Dan Syiah

Secara sederhana memang rasanya aneh apabila ada dalil yang sangat jelas tentang Imamah di sisi Sunni karena jika ada maka itu akan membuat semua Sunni adalah Syiah atau tidak akan ada perbedaan Sunni dan Syiah. Lain halnya bagi Syiah disisi mereka dalil tentang Imamah itu sangat jelas sehingga mereka menjadikan itu sebagai dasar keimanan mereka. Oleh karena itu tidaklah benar langsung menyalahkan Syiah dengan dasar tidak ada dalilnya di sisi Sunni. Logika seperti ini terkesan berat sebelah dan bukankah mereka Syiah bisa mencap sebaliknya bahwa Sunni salah karena bertentangan dengan dalil yang shahih di sisi mereka.

Dalam perkembangannya Sunni dan Syiah seringkali berseteru pemahaman dan ini dapat dilihat dari karya-karya Ulama Sunni yang menyerang Syiah dan karya Ulama Syiah yang menjawab Ulama Sunni. Imamah jelas menjadi pokok permasalahan yang dibicarakan. Jadi bisa dikatakan apa yang ditulis oleh saudara Ja’far itu bukanlah hal baru oleh karenanya tidak berlebihan kalau saya katakan bahwa banyak Ulama Syiah yang telah menjawab masalah yang beliau kemukakan.

Yang perlu diperhatikan bahwa Ulama Syiah seringkali berargumentasi tentang Imamah dengan menggunakan dalil di sisi Sunni. Tentu saja hal ini membuat respon yang kuat dari pihak Sunni. Mereka berusaha menyangkal dalil sunni yang digunakan oleh pihak Syiah. Penyangkalan ini dapat berupa penolakan Sunni akan shahihnya dalil itu walaupun ada di kitab Sunni sendiri dan yang kedua penolakan Sunni terhadap penafsiran Syiah terhadap dalil Sunni tersebut. Oleh karena itu wajar jika polemik ini jelas tidak pernah selesai.
Kecenderungan atau subjektivitas dalam hal ini jelas cukup berperan di kedua belah pihak. Mari kita batasi dengan dalil Sunni yang dipakai pihak Syiah. Dalam hal ini Kecenderungan Ulama Syiah adalah

• Mereka kadang cukup berpuas dengan adanya pihak sunni yang menshahihkan dalil yang mereka pakai seraya mengabaikan pihak sunni lain yang menolaknya
• Mereka Ulama Syiah juga cenderung menyatakan telah terjadi ijma’ Ulama Sunni terhadap dalil yang mereka pakai walaupun pada kenyataannya terdapat ulama sunni lain yang menolak ijma’ ini.

Sedangkan di sisi Sunni juga terdapat kecenderungan di antara Ulama-ulamanya ketika berhujjah dengan Ulama Syiah

• Mereka Ulama Sunni cenderung untuk menyalahkan setiap apapun yang dikatakan Syiah walaupun dalilnya ternyata shahih disisi Sunni(kecenderungan ini saya temukan pada Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As Sunnah dan Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah)
• Selain itu Ulama Sunni juga punya kecenderungan untuk begitu mudah mencacat suatu dalil dengan alasan perawi dalil itu adalah syiah walaupun dalil itu sendiri tercatat dalam kitab Sunni.

Semua kecenderungan ini membuat polemik Sunni dan Syiah tidak pernah selesai, sehingga tidak jarang ada yang melihat bahwa kebenaran ada disisi Syiah atau sebaliknya Sunnilah yang benar. Semuanya itu tergantung juga dari kecenderungan mereka yang mempelajari dalil yang dipaparkan pihak Syiah dan Sunni. Tulisan saya adalah jelas tidak bermaksud menyimpulkan mana yang benar dalam masalah ini. Saya hanya ingin menampilkan bagaimana sudut pandang Syiah terhadap dalil Sunni yang mereka dakwa memperkuat keyakinan mereka. Tulisan ini hanyalah tanggapan terhadap tulisan saudara Ja’far.

Hadis Kepemimpinan Imam Ali

Beliau Saudara Ja’far mengawali tulisannya dengan masalah Imamah yang diyakini oleh Syiah sebagai rukun iman. Berangkat dari sini beliau mempermasalahkan bagaimana dengan umat Islam yang tidak mempercayai Imamah dengan kata lain Islam Sunni. Sebenarnya pandangan Syiah terhadap keislaman Sunni ini sudah ditetapkan oleh ulama Syiah bahwa Sunni adalah sah keislamannya. Ini adalah pendapat yang muktabar di sisi Syiah seperti dalam tulisan saya. Tidak hanya Muhammad Husain Kasyif Al-Githa yang menyatakan seperti itu, Sayyid Abdul Husain Syarafudin Al Musawi dan Murtadha Muthahhari juga berpandangan demikian. Dan pandangan ini memiliki landasan dari hadis-hadis Imam Ahlul Bait as di sisi Syiah.

Beliau kemudian melanjutkan

Jika seandainya Imamah termasuk rukun iman maka seharusnya ada dalil-dalil yang jelas dan tegas dari Al-Qur’an maupun hadis nabi Muhammad SAW tentang hal ini.

Maka jawab saya di sisi Syiah masalah ini jelas memiliki landasan yang kuat dari Al Quran(ini masalah penafsiran) walaupun tidak bersifat tegas(karena memerlukan hadis) tetapi masalah ini memiliki nash yang tegas dalam hadis-hadis Imam Ahlul Bait as di sisi Syiah. Kemudian saudara Ja’far menulis

Setahu saya tidak ada dalil (dari Qur’an maupun hadis) yang mengatakan secara jelas dan tegas bahwa Ali bin Abi Thalib r.a berikut keturunan-keturunannya adalah pengganti rasulullah SAW.

Jawab saya, saya setuju kalau dalam Al Quran tidak ada penunjukkan jelas masalah ini tetapi bagi Syiah banyak sekali hadis-hadis Imam Ahlul Bait as yang bersifat jelas tentang ini.

Sepertinya yang beliau maksud hadis itu hanyalah hadis-hadis dari golongan Sunni saja sedangkan di sisi Syiah maka itu tidak disebut hadis. Pandangan seperti ini adalah tidak benar dan berat sebelah, Syiah mempunyai dasar yang kuat untuk berpegang pada hadis-hadis Imam Ahlul Bait as. Mari kita perjelas

• Syiah berpegang pada hadis-hadis Imam Ahlul Bait as adalah sesuai dengan landasan mereka yaitu Hadis Tsaqalain yang tidak hanya shahih dan mutawatir di sisi Syiah tetapi juga shahih di sisi Sunni.
• Sunni sering mendakwa Syiah membuat-buat hadis dengan mengatasnamakan Ahlul Bait as. Pernyataan ini adalah pernyataan sepihak dan maaf sangat subjektif. Ulama Sunni seringkali menuduh perawi-perawi hadis Syiah sebagai pemalsu hadis. Hal ini tidak bisa diterima karena Syiah memiliki bukti yang jelas dari kitab Rijal mereka tentang perawi-perawi hadis Syiah. Dengan kata lain mengapa Ulama Syiah harus menghukum perawi-perawi hadis mereka dengan ukuran-ukuran yang ditetapkan oleh Ulama Sunni. Bukankah Ulama Sunni sendiri menetapkan ukuran perawi-perawi hadis mereka(sunni) dengan sumber mereka sendiri tidak dari sumber Syiah.

Baiklah mari kita ikuti kehendak penulis(beliau) dengan berlandaskan hadis-hadis di sisi Sunni saja. Beliau berkata

Adapun dalil-dalil yang mengatakan bahwa Ali bin Abi Thalib r.a adalah khalifah / imam setelah Rasulullah SAW adalah hadis maudhu’ (palsu) dan dha’if (lemah).

Sekali lagi yang dimaksud hadis di sini maksudnya hadis di sisi Sunni. Mari kita lihat hadis yang beliau maksud,

. “Barangsiapa yang ingin hidup seperti hidupku, ingin meninggal seperti aku meninggal, dan bertempat di surga yang telah dijanjikan Allah SWT kepadaku dan pohon-pohon ditanam oleh kedua tangan-Nya maka dia harus menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin, sebab dia tidak akan mengeluarkan kamu dari kebenaran dan tidak akan memasukkan kamu ke dalam kesesatan” (Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, Ath-Thabrani(bukan At Thabari seperti yang dikutip penulis) dalam Al-Mu’jamal Kabir, Ibnu Syahin dalam Syarah as-Sunnah).
Albani berkata : Hadis ini maudhu’ (lihat kitabnya Silsilah al-Ahadits al-dah’ifah wa Mawdhu’ah karya Nashiruddin Albani).

Penulis(beliau) menyatakan hadis ini maudhu’ berdasarkan pernyataan Syaikh Al Albani di atas. Hadis ini dan hadis no 2 serta no 3 memiliki matan yang sama(dengan sedikit tambahan tentang keturunan Ali bin Abi Thalib), hadis ini dijadikan hujjah oleh Ulama Syiah Syaikh Syarafuddin Al Musawi dalam Al Muraja’at dan beliau menyatakan bahwa hadis tersebut shahih. Pernyataan ini ditolak oleh Syaikh Al Albani yang justru menyatakan hadis tersebut maudhu’. Yang perlu diperhatikan adalah hadis ini diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak jilid 3 hal 128 dan beliau menyatakan shahih. Paling tidak ini bisa dijadikan alasan dari pihak Syiah bahwa ada ulama sunni yang menshahihkan hadis ini. Walaupun begitu saya sendiri lebih cenderung untuk menyatakan bahwa hadis ini dhaif karena dalam perawinya ada Yahya binYa’la Al Aslami yang dikenal dhaif. Oleh karena itu Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak menolak pernyataan shahihnya hadis ini oleh Al Hakim.

Kemudian saudara Ja’far melanjutkan dengan mengutip hadis “Sesungguhnya Ali bagian diriku dan aku bagian darinya. Dan dia adalah pemimpin setiap orang mukmin yang sesudahku” (Musnad Imam Ahmad, Sunan Tirmidzi, dari Ja’far bin Sulaiman). Anehnya beliau mencantumkan hadis ini dalam contoh hadis dhaif atau maudhu’ karena kredibilitas Ja’far bin Sulaiman Al Dhab’i.

Dalam Mizan Al Itidal Adz Dzahabi jilid 1 hal 408 dan Tahdzib At Tahdzib Ibnu Hajar jilid 2 hal 95 terdapat keterangan tentang Ja’far bin Sulaiman.

• Yahya bin Main menyatakan bahwa Ja’far bin Sulaiman tsiqat
• Ahmad bin Hanbal menilai Ja’far tidak tercela
• Ibnu Saad menyatakan Ja’far bin Sulaiman tsiqat tetapi tasyayyu
• Hammad bin Zaid berkata perihal Ja’far ”Tidak terlarang menerima riwayatnya meskipun dia Syiah dan banyak menceritakan tentang Ali dan orang Basrah berlebih-lebihan dalam memuji Ali”
• Ahmad bin Adiy menegaskan ”Ja’far itu orang Syiah tetapi itu bukan masalah. Dia juga meriwayatkan hadis-hadis yang menerangkan keutamaan Abu Bakar dan Umar dan hadis-hadisnya tidak ditolak. Menurut pendapatku dia termasuk orang yang pantas diterima riwayatnya”.
• Ibnu Hibban berkata ”Ja’far seorang tsiqat dalam meriwayatkanhadis”.

Berdasarkan ini maka Ja’far bin Sulaiman adalah tsiqat. Keraguan yang disampaikan penulis perihal Ja’far bin Sulaiman seperti dalam kata-kata Sedangkan dalam kitabnya, Ad-Dhu’afa’,bukhari berkata,”Dia diperselisihkan dalam sebagian hadisnya”. Ibnu Syahiin dan Ibnu Ammar mengatakan bahwa Ja’far bin Sulaiman dhaif. Keraguan seperti ini tidak tepat dan tidak bisa dijadikan hujjah karena

• Jika keadaan suatu perawi telah jelas ketsiqatannya maka setiap jarh yang dikemukakan harus disertai alasan yang kuat. Jadi tidak hanya sekedar jarh(celaan).
• Penulis(beliau) tidak menyampaikan apa alasan jarh terhadap Ja’far bin Sulaiman. Dari kitab Al Mizan memang beredar isu kalau Ja’far bin Sulaiman memaki Abu Bakar dan Umar(kemungkinan besar hal ini yang menyebabkan keraguan terhadap Ja’far bin Sulaiman). Saya tidak menemukan alasan yang lain tentang celaan terhadap Ja’far bin Sulaiman selain hal ini. Tetapi isu ini telah dibantah oleh Ulama hadis seperti Ibnu Adiy bahkan Al Dzahabi berkata ketika membenarkan pernyataan Ibnu Adiy ”terbukti bahwa Ja’far bin Sulaiman juga meriwayatkan hadis keutamaan Abu Bakar dan Umar. Jadi Ja’far itu jujur dan polos”.

Ja’far bin Sulaiman adalah perawi hadis Shahih Muslim dan Kitab Sunan serta beliau telah dikenal tsiqat. Oleh karena itu berdasarkan hal ini maka hadis yang dikemukakan saudara penulis itu adalah hadis yang shahih.. Hadis yang dipermasalahkan penulis itu adalah hadis Sunan Tirmidzi no 3712 yang dinyatakan hasan gharib oleh Tirmidzi dan dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi. Hadis dengan matan seperti ini juga diriwayatkan dalam Musnad Ahmad jilid I hal 330 hadis no 3062 & 3063 yang dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad. Selain itu hadis ini juga diriwayatkan Al Hakim dalam Mustadrak Ash Shahihain jilid 3 hal 134 dan beliau menyatakan hadis tersebut shahih. Pernyataan Al Hakim ini dibenarkan oleh Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak. Jadi kesimpulannya hadis tersebut adalah shahih dan dalam hal ini saya menunjukkan keheranan saya terhadap pernyataan penulis yang memasukkan hadis ini dalam contoh hadis dhaif dan maudhu’.

Kemudian beliau penulis itu melanjutkan

Seandainya masalah imamah adalah masalah yang termasuk sangat-sangat penting (termasuk rukun iman / syarat kesempurnaan iman) maka harusnya Rasulullah SAW menyatakan keimamahan Ali dan keturunannya dengan tegas dan sering,

Pernyataan seperti ini sedikit kurang jelas menurut saya. Bagi Syiah keimamahan Ali dan keturunannya bersifat tegas, dan dalil-dalil tentang ini dapat ditemukan dalam kitab Sunni. Bukankah jika Rasulullah SAW menetapkan hal ini berapapun banyaknya mau sedikit atau sering maka itu sudah menjadi hujjah yang nyata.

Kemudian pernyataan beliau yang menyamakan rukun iman dan syarat kesempurnaan iman itu juga layak dikritisi maksudnya. Rukun iman adalah berkaitan dengan apa yang kita yakini. Apa salahnya jika Syiah meyakini setiap apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW tentang Imamah(menurut mereka). Lalu apa hubungannya dengan syarat kesempurnaan iman, apakah penulis ingin menyatakan bahwa jika tidak meyakini Imamah maka imannya tidak sempurna. Disini perlu diperjelas keyakinan terhadap Imamah adalah keyakinan yang bersumber dari Rasulullah SAW(menurut Syiah). Tentu saja bagi mereka yang menganggap dalil syiah itu samar atau tidak benar jelas tidak akan mengimaninya. Jadi perbedaannya ada pada persepsi masing-masing.

Saudara Ja’far melanjutkan

sehingga dengan demikian akan dijumpai banyak hadis-hadis yang shahih yang diriwayatkan dari banyak jalur serta tidak ada/sangat sedikit perselihan dalam masalah sanadnya mengenai hal tsb.

Dalil disisi Syiah jelas sangat banyak oleh karena itu mereka mengimaninya. Sedangkan dalil di sisi Sunni maka Syiah lagi-lagi berkata juga banyak, contohnya adalah hadis Al Ghadir yang mutawatir di sisi Sunni. Hadis Al Ghadir ini dari sisi sanad tidak bisa ditolak tetapi Sunni memang mengartikan lain hadis ini. Yang perlu diingat kesalahan atau penolakan memang selalu saja bisa dicari-cari.

Seprti yang dikatakan saudara Ja’far

Akan tetapi kenyataan yang ada adalah sebaliknya; hadis-hadis tentang keimamahan Ali dan keturunannya adalah hadis yang maudhu’ atau dha’if atau jika tidak maudhu’/dhaif maka akan dijumpai banyak perselisihan dalam hal sanadnya atau sedikit jalur periwayatannya.

Jawab saya: cukup banyak dalil shahih di sisi Sunni yang dijadikan dasar oleh Ulama Syiah hanya saja Sunni menafsirkan lain dalil-dalil tersebut. Oleh karena itu seharusnya yang perlu ditelaah adalah penafsiran mana yang benar atau lebih benar. Mari selanjutnya kita bahas ayat-ayat Al Quran yang dibicarakan oleh penulis tersebut.

Ayat Al Wilayah

Ayat Al Wilayah:

“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya mereka ruku’ (kepada Allah)” (Q.S.Al-Ma’idah ayat 55)
Ayat ini dikatakan oleh Ulama Syiah sebagai ayat yang turun kepada Imam Ali, mereka berkata “Orang-orang yang beriman yang mendirikan sholat dan menunaikan zakat, seraya ruku” berkenaan kepada Ali yang ketika itu memberikan cincinnya kepada peminta-minta ketika beliau dalam posisi ruku’ dalam sholat.

Dan sepertinya sang penulis(saudara Ja’far) menunjukkan keraguannya tentang hal ini. Beliau berkata

Hadis-hadis tentang asbabun nuzul ayat ini adalah hadis-hadis yang periwayatnya diperselihkan atau bahkan mungkin hadis dhaif/maudhu’.

Pernyataan ini adalah tidak benar, hadis yang menerangkan asbabun nuzul ayat ini memiliki banyak sanad yang diriwayatkan dalam berbagai kitab Ahlus Sunnah, sebagian hadisnya memang diperselisihkan perawinya dan dhaif tetapi sebagian lagi ada yang shahih. Oleh karena itu hadis-hadis tersebut satu sama lainnya saling menguatkan.

Dalam kitab Lubab Al Nuqul fi Asbabun Nuzul Jalaludin As Suyuthi hal. 93 beliau menjabarkan jalur-jalur dari hadis asbabun nuzul ayat ini, kemudian ia berkata ” Dan ini adalah bukti-bukti yang saling mendukung”. Atau dapat dilihat dalam Edisi terjemahannya dari Kitab As Suyuthi oleh A Mudjab Mahali dalam Asbabun Nuzul Studi Pendalaman Al Quran hal 326 menguatkan asbabun nuzul ayat ini untuk Imam Ali. Beliau membawakan hadis At Thabrani dalam Al Awsath dan mengkritiknya karena terdapat perawi yang majhul dalam sanadnya tetapi kemudian beliau melanjutkan keterangannya ”Sekalipun hadis ini ada rawi yang majhul(tidak dikenal) tetapi mempunyai beberapa hadis penguat di antaranya hadis yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Abdil Wahab bin Mujahid dari Ayahnya dari Ibnu Abbas. Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawih dari Ibnu Abbas dan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Mujahid dan Ibnu Abi Hatim dari Salamah bin Kuhail. Hadis ini satu sama lainnya saling kuat menguatkan”.

Pernyataan Ulama Syiah bahwa mayoritas ahli hadis dan ahli tafsir menyatakan bahwa ayat ini turun untuk Imam Ali, sebenarnya juga dinyatakan oleh Ulama Sunni At Taftazani Asy Syafii dalam Syarh Al Maqashid, Al Jurjani dalam Syarh Al Mawaqif dan Al Qausyaji dalam Syarh Tajrid. Bahkan Al Alusi dalam Ruh Al Ma’ani jilid 6 hal 167 mengatakan bahwa turunnya ayat tersebut untuk Imam Ali ra adalah pendapat kebanyakan Ahli hadis.

Saya ingin sekali meminta kepada penulis tersebut siapa yang menyatakan hadis asbabun nuzul ayat ini untuk Imam Ali adalah dhaif atau maudhu’ setelah menganalisis semua jalur sanadnya. Sekedar pernyataan dari Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah atau Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As Sunnah jelas tidak kuat. Alasannya karena mereka yang saya sebutkan itu tidak menganalisis semua jalur sanad hadis asbabun nuzul ayat Al Wilayah. Mereka hanya mencacat sebagian hadisnya, seperti Ali As Salus yang hanya membahas hadis ini dalam Tafsir Ath Thabari kemudian langsung memutuskan bahwa riwayat tersebut dhaif tanpa melihat banyak sanad lainnya dari kitab lain. Apalagi Ibnu Taimiyyah yang melakukan banyak kekeliruan dalam Minhaj As Sunnah antara lain beliau mengatakan bahwa hadis asbabun nuzul ayat ini tidak ditemukan dalam Tafsir Ath Thabari dan Tafsir Al Baghawi padahal kenyataannya kedua kitab tafsir itu memuat hadis yang kita bicarakan ini.

Kemudian sang penulis(Ja’far) juga menyatakan keraguan bahwa Ayat Al Wilayah ini turun untuk Imam Ali, beliau berkata

Dalam ayat tsb sangat jelas bahwa “orang-orang yang beriman…” adalah jamak, maka bagaimana mungkin ayat itu menunjuk kepada satu orang yaitu Ali bin Abi Thalib r.a.

Disini letak kekeliruan sang penulis dimana beliau telah menempatkan subjektivitasnya dalam menilai suatu nash. Ulama Syiah Syaikh Al Musawi dalam Al Muraja’at telah menyatakan bahwa memang ada ayat Al Quran yang kata-katanya jamak tetapi ditujukan untuk orang tertentu. Saya tidak akan menukil pernyataan Syaikh Al Musawi cukuplah kiranya saya menukil pernyataan penulis sendiri dalam pembahasan Ayat Al Mubahalah

“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Q.S.Ali Imran : 61).

Tentang ayat ini penulis(saudara Ja’far) berkata

Kebanyakan ahli Tafsir menyatakan Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan Rasulullah SAW yang bermuhabalah dengan ahlul kitab nasrani. Kemudian Rasulullah mengajak Hasan, Husen, Fatimah dan Ali dalam bermuhabalah dengan orang Nasrani tsb. ‘Anak-anak kami’ mengacu kepada Hasan dan Husein, ‘Isteri-isteri kami’ mengacu kepada Fatimah Az-Zahra, dan ‘diri kami’ mengacu kepada Ali bin Abi Thalib.

Pernyataan An Nisaana yang diterjemahkan istri-istri kami atau perempuan perempuan kami adalah bersifat jamak, lalu mengapa hanya mengacu pada Sayyidah Fatimah Az Zahra saja.(perlu diingatkan bahwa dalam Shahih Muslim jelas bahwa hanya Sayyidah Fatimah Az Zahra as satu-satunya wanita yang diseru Nabi SAW untuk menyertai Beliau SAW bermubahalah). Jadi kalau pernyataan tentang ayat mubahalah ini diterima lantas mengapa mempermasalahkan Ayat Al Wilayah.
Selanjutnya saudara Ja’far menuliskan Syi’ah mengatakan bahwa penggunaan kata

“orang-orang yang beriman..dst” padahal ayat tersebut berkenaan dengan Ali dimaksudkan agar perbuatan Ali yang sangat peduli dan tidak menunda-nunda membantu orang miskin padahal ia (Ali) lagi sholat dicontoh oleh umat islam.
Jawabanku; Bagaimana mungkin Allah menjadikan perbuatan memberikan zakat/sedekah ketika sholat sebagai teladan yang ‘terukir’ dalam Qur’an padahal Sholat membutuhkan konsentrasi yang penuh?
.

Pernyataan seperti dimaksudkan agar perbuatan Ali yang sangat peduli dan tidak menunda-nunda membantu orang miskin padahal ia (Ali) lagi sholat dicontoh oleh umat islam, sebenarnya juga dikemukakan oleh Ulama Sunni Az Zamakhsyari dalam Tafsir Al Kasyaf ketika membahas ayat Al Wilayah. Yang ingin penulis(saudara Ja’far) sampaikan adalah bagaimana mungkin bisa dibolehkan dalam shalat padahal shalat membutuhkan konsentrasi penuh. Sebelum menjawab penulis maka marilah kita perhatikan hadis-hadis ini.
“Bunuhlah kedua binatang yang hitam itu sekalipun dalam (keadaan) shalat, yaitu ular dan kalajengking.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, shahih)

“Apabila salah seorang di antara kamu shalat meng-hadap ke arah sesuatu yang menjadi pembatas baginya dari manusia, kemudian ada yang mau melintas di hadapannya, maka hendaklah dia mendorongnya dan jika dia memaksa maka perangilah (cegahlah dengan keras). Sesungguhnya (perbuatannya) itu adalah (atas dorongan) syaitan.” (Muttafaq ‘alaih)

“Dari Jabir bin Abdullah , ia berkata, ‘Telah mengutus-ku Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang beliau pergi ke Bani Musthaliq. Kemudian beliau saya temui sedang shalat di atas onta-nya, maka saya pun berbicara kepadanya. Kemudian beliau memberi isyarat dengan tangannya. Saya ber-bicara lagi kepada beliau, kemudian beliau kembali memberi isyarat sedang saya mendengar beliau membaca sambil memberi isyarat dengan kepalanya. Ketika beliau selesai dari shalatnya beliau bersabda, ‘Apa yang kamu kerjakan dengan perintahku tadi? Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk bicara kecuali karena aku dalam keadaan shalat’.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar, dari Shuhaib , ia berkata: “Aku telah melewati Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam ketika beliau sedang shalat, maka aku beri salam kepadanya, beliau pun membalasnya dengan isyarat.” Berkata Ibnu Umar: “Aku tidak tahu terkecuali ia (Shuhaib) berkata dengan isyarat jari-jarinya.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan selain mereka, hadits shahih)

“Dari Abu Qatadah Al-Anshari berkata, ‘Aku melihat Nabi Shallallaahu alaihi wasallam mengimami shalat sedangkan Umamah binti Abi Al-’Ash, yaitu anak Zainab putri Nabi Shallallaahu alaihi wasallam berada di pundak beliau. Apabila beliau ruku’, beliau meletak-kannya dan apabila beliau bangkit dari sujudnya beliau kembalikan lagi Umamah itu ke pundak beliau.” (HR. Muslim)

“Dari Aisyah radhialaahu anha, ia berkata, ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sedang shalat di dalam rumah, sedangkan pintu tertutup, kemudian aku datang dan minta dibukakan pintu, beliau pun berjalan menuju pintu dan membukakannya untukku, kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya. Dan terbayang bagiku bahwa pintu itu menghadap kiblat.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi dan lainnya, hadits hasan)

“Dari Ibnu Abbas , ia berkata, ‘Aku pernah menginap di (rumah) bibiku, Maimunah, tiba-tiba Nabi Shallallaahu alaihi wasallam bangun di waktu malam mendirikan shalat, maka aku pun ikut bangun, lalu aku ikut shalat bersama Nabi Shallallaahu alaihi wasallam, aku berdiri di samping kiri beliau, lalu beliau menarik kepalaku dan menempatkanku di sebelah kanannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Seandainya kita memakai logika yang dipakai oleh saudara penulis itu maka kita akan mengatakan maka Bagaimana mungkin membunuh ular atau kalajengking, menghadang orang yang lewat, memberi isyarat kepada orang yang berbicara atau memberi salam, menggendong anak, membukakan pintu dan menarik tubuh orang ketika shalat menjadi teladan karena bukankah shalat membutuhkan konsentrasi penuh. Lantas apakah hadis-hadis itu mesti ditolak?.

Mari kita lanjutkan tulisan Beliau

Memang sangat bagus untuk tidak menunda-nunda membantu orang miskin yang butuh kepada kita tetapi sholat tidaklah memakan waktu yang lama, bukankah lebih baik jika orang miskin tsb meminta setelah sholat usai? atau jika dilihat dari sudut pandang orang miskin tsb, maka Al-Qur’an membolehkan/tidak menegur orang miskin meminta sedekah kepada orang yang lagi sholat padahal menurut saya (dan semua orang) perbuatan orang miskin tsb kurang beradab.

Apakah benar perbuatan orang miskin tersebut kurang beradab? Saya heran apakah penulis membaca sendiri hadis tentang ayat Al Wilayah ini. Bukankah pada hadis itu dijelaskan bahwa awalnya pengemis itu meminta-minta di masjid kepada beberapa orang di masjid(yang sedang tidak shalat) tetapi tidak ada satupun yang memberi. Ketika itu Imam Ali sedang shalat kemudian Beliau memberi isyarat kepada pengemis dengan jarinya yang bercincin dan pengemis itu mendekat kemudian pengemis itu mengambil cincin tersebut.

Tentu saja tidak ada yang mengatakan kalau pengemis itu langsung meminta kepada orang yang shalat. Pengemis itu mendekat ketika Imam Ali sendiri berisyarat. Bukankah memberi isyarat dalam shalat adalah hal yang dibolehkan. Seandainya juga pengemis itu langsung meminta kepada Imam Ali yang ketika itu sedang shalat apakah lantas dikatakan tidak beradab lalu bagaimana dengan Jabir bin Abdullah yang berbicara dua kali kepada Nabi SAW yang ketika itu sedang shalat atau Ibnu Umar yang memberi salam kepada Nabi SAW ketika Beliau SAW sedang shalat. Apakah Nabi SAW selanjutnya melarang mereka Jabir bin Abdullah dan Ibnu Umar? Tidak kok(lihat saja hadis yang saya kutip di atas). Yang perlu ditambahkan adalah Ayat Al Wilayah ini juga dimasukkan oleh ahli tafsir Sunni Abu Bakar Al Jashshash dalam kitabnya Tafsir Ahkam Al Quran sebagai dasar bahwa sedikit gerakan dalam shalat tidak membatalkan shalat dan sedekah sunah dapat dinamai zakat.

Kata-kata beliau

Syi’ah juga menyebutkan bahwa bersedekah ketika ruku’ dalam sholat itu tidak mengurangi posisi Amirul Mukminin (Ali), bahkan tindakan itu diikuti para imam sesudahnya.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan kata-kata ini tetapi penulis menanggapi dengan

Di sini timbul pertanyaan, “Jika tindakan ini merupakan cermin keutamaan penghulu para Imam (Ali r.a) yang diikuti oleh para imam, lalu mengapa tindakan ini tidak dilakukan oleh manusia terbaik, Nabi Muhammad SAW? Juga tidak dilakukan oleh para sahabat yang lain?

Jawab saya: apakah setiap keutamaan seseorang itu harus diikuti oleh orang lain, bukankah setiap orang memiliki keutamaan masing-masing. Apakah seandainya suatu keutamaan tidak diikuti oleh beberapa orang maka gugurlah keutamaan itu?. Bukankah banyak keutamaan Imam Ali yang tidak dimiliki oleh sahabat yang lain.

Mengenai tafsir Al Maidah ayat 55 yang beliau jelaskan adalah penafsiran yang menyesuaikan dengan urutan ayat. Tafsir yang beliau kemukakan itu sama dengan tafsir ayat tersebut dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir. Pendapat saya tentang tafsir ini boleh-boleh saja. Tidak ada masalah, justru yang jadi masalah jika kita mengabaikan banyak hadis yang menjelaskan asbabun nuzul ayat ini.

Ayat Al Mubahalah:

“Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu , maka katakanlah : “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Q.S.Ali Imran : 61)

Beliau penulis menyebutkan

Kebanyakan ahli Tafsir menyatakan Asbabun nuzul ayat ini berkenaan dengan Rasulullah SAW yang bermuhabalah dengan ahlul kitab nasrani. Kemudian Rasulullah mengajak Hasan, Husen, Fatimah dan Ali dalam bermuhabalah dengan orang Nasrani tsb. ‘Anak-anak kami’ mengacu kepada Hasan dan Husein, ‘Isteri-isteri kami’ mengacu kepada Fatimah Az-Zahra, dan ‘diri kami’ mengacu kepada Ali bin Abi Thalib

Dalam hal ini saya sependapat dengan pernyataan di atas berdasarkan hadis Shahih Muslim Kitab Keutamaan para sahabat, Bab Keutamaan ‘Ali bin Abi Thalib no: 2404
diriwayatkan oleh Saad bin Abi Waqqas bahwa Tatkala diturunkan ayat: Maka katakanlah kepada mereka: “Marilah kita menyeru anak-anak kami serta anak-anak kamu……(‘Ali Imran 3:61), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru ‘Ali, Fathimah, Hasan dan Husain lalu berdoa: “Ya Allah! Merekalah ahli keluarga Aku.”

Kemudian penulis berkata

Apakah dengan penggunaan kata ‘diri kami’ yang mengacu kepada Ali r.a berarti Rasulullah SAW menyamakan dirinya dengan Ali r.a ?

Adalah jelas bahwa diri Ali ra berbeda dengan diri Rasulullah SAW oleh karenanya penggunaan kata itu lebih bersifat kiasan betapa dekatnya Rasulullah SAW dan Ali ra ketimbang diartikan secara harfiah. Sama halnya dengan hadis Ali bagian dariKu dan Aku bagian dari Ali atau Husain bagian dariKu dan Aku bagian dari Husain.

Penulis juga mengutip Ibnu Taimiyyah yang berkata

bahwa Kata-kata DIRI dalam ayat-ayat tersebut maksudnya adalah saudara dalam nasab atau saudara dalam agama. Ibnu Taimiyyah menyandarkan pendapatnya itu pada Al Quranul Karim.

Mari kita lihat “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap DIRI MEREKA SENDIRI, dan berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” (Q.S.An-Nur 12). Ayat ini berkaitan dengan peristiwa fitnah terhadap Aisyah ra dan salah seorang sahabat Nabi. Diri mereka dalam ayat ini memang merujuk pada arti saudara seagama. FirmanNya juga : “..dan bunuhlah DIRIMU..” (Q.S.Al-Baqarah 54). Ayat ini ditujukan pada bani Israil dan dirimu pada ayat ini bisa merujuk pada diri tiap orang dari bani Israil atau sesama mereka yang berarti saudara satu kaum. Dan firmanNya : “Dan ketika Kami mengambil janji dari kamu : kamu tidak akan menumpahkan darahmu , dan kamu tidak akan mengusir DIRIMU dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar sedang kamu mempersaksikannya.” (Q.S.Al-Baqarah 84). Dalam Ayat ini jelas sekali menunjukkan bahwa kata dirimu ini merujuk pada saudara satu kaum atau saudara sebangsa. Jadi seharusnya Ibnu Taimiyyah berkata dirimu dalam ayat-ayat(yang dia sebutkan) berarti saudara satu kaum atau sebangsa dan saudara seagama. Tidak ada keterangan tentang saudara senasab.

Apakah benar arti dirimu pada ayat Mubahalah merujuk pada saudara satu kaum atau saudara seagama? Jawaban saya, ketika ditujukan kepada Bani Najran maka dirimu dalam ayat ini bisa berarti diri tiap orang dari Bani Najran atau saudara sekaum dan seagama dengan mereka. Tapi bagi Rasulullah SAW dirimu ini diartikan Rasulullah SAW merujuk pada Beliau SAW sendiri dan Ali bin Abi Thalib ra karena nash yang shahih berkata demikian(lihat hadis Shahih Muslim di atas). Seandainya diri kamu bagi Rasulullah SAW diartikan kepada saudara sebangsa atau seagama maka adalah jelas bahwa Rasulullah SAW akan mengajak para Sahabat yang lain beserta anak dan isteri mereka, tetapi sayangnya tidak ada dalil yang menyatakan demikian. Seperti yang dikatakan penulis kebanyakan ahli tafsir Sunni menyatakan ketika ayat tersebut turun Rasulullah SAW menyeru Ali, Fatimah, Hasan dan Husain.
Saudara Ja’far kemudian berkata

Rasulullah SAW mengajak Ali, Fatimah, Hasan dan Husein bermuhabalah dengan ahlul kitab Nasrani tsb karena merekalah yang terdekat bagi Rasulullah SAW. Serupa dengan hadis penyelimutan Nabi SAW kepada mereka bukan kepada istri-istrinya Nabi SAW yang menunjukkan bahwa mereka lebih dekat kepada Rasulullah SAW dari pada istri-istri Nabi SAW.

Saya sependapat dengan hal ini dan perlu ditambahkan masalah penyelimutan itu, mengapa Nabi SAW menyelimuti Ali, Fatimah, Hasan dan Husain karena mereka lah yang dituju dalam ayat tersebut, dan kenapa Nabi SAW tidak menyelimuti istri-istri Beliau SAW karena mereka memang tidak dituju dalam ayat tersebut. Hal ini berbeda dengan pendapat penulis yang berkata

Akan tetapi, dengan tidak dilakukannya penyelimutan kepada istri-istri Nabi SAW bukanlah menunjukkan bahwa istri-istri Nabi SAW bukan Ahlul bait. Penjelasan hal ini lihat tulisan saya tentang Q.S.Al-Ahzab ayat 33.

Saya juga telah menanggapi tulisan beliau saudara Ja’far tentang ahlul bait dalam Al Ahzab ayat 33.

Kembali ke ayat Mubahalah penulis berkata

Ayat ini tidaklah dapat dijadikan pedoman bahwa Ali adalah pengganti Rasulullah SAW. Ayat ini hanyalah menunjukkan keutamaan Ali, Fatimah, Hasan dan Husein dimana mereka adalah ahlul bait nabi SAW yang termulia dan paling dekat dengan Nabi SAW.

Jawaban saya benar sekali ayat ini tidak menjadi hujjah yang nyata bahwa Ali adalah pengganti Rasulullah SAW. Ayat ini menunjukkan bahwa mereka Ahlul Bait as adalah yang termulia setelah Rasulullah SAW. Berangkat dari sini bisa dimengerti kalau Ulama Syiah berpendapat bahwa jika ada pengganti Rasulullah SAW maka pengganti tersebut adalah lebih mungkin dari Ahlul Bait Beliau SAW dan tidak dari yang lain.

Ayat Tabligh:

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari manusia . Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S.Al-Ma’idah : 67)

Berkenaan dengan ayat ini penulis berkata

Ayat ini dinamakan Syi’ah sebagai ayat tabligh, karena menurut Syi’ah dengan ayat ini Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyampaikan hal yang sangat penting bagi umat islam yaitu penunjukkan dan pengangkatan Ali r.a sebagai pengganti beliau. Peristiwa pengangkatan ini menurut syi’ah terjadi di Ghadir Kum sepulang dari haji Wada’ tanggal 18 Dzulhijjah.

Pernyataan ini memang cukup banyak ditemukan dalam literatur hadis Syiah dari para Imam Ahlul Bait as.

Kemudian mengenai literatur dalam sumber Sunni, Ulama Syiah cenderung menyatakan bahwa pendapat ini juga pendapat kebanyakan ahli tafsir Sunni. Hal ini yang dibantah oleh Penulis tersebut dalam menanggapi Syaikh Muhammad Mar’i al-Amin an-Antaki, seorang bekas Qadhi Besar Mazhab Syafi’i di Halab, Syria, seorang yang masuk syi’ah dalam karyanya Limadza Akhtartu Mahzab Ahlul Bayt (Mengapa aku memilih mahzab Ahlul Bait) . Dalam buku itu Syaikh Mar’i Al Amin berkata “Semua ahli Tafsir Sunnah dan Syi’ah bersepakat bahwa ayat ini diturunkan di Ghadir Khum mengenai ‘Ali AS bagi melaksanakan urusan Imamah.” lalu tulisnya lagi “…Aku berpendapat sebenarnya para ulama Islam telah bersepakat bahwa ayat al-Tabligh (Surah al-Maidah(5):67) telah diturunkan kepada ‘Ali AS secara khusus bagi mengukuhkan khalifah untuknya. Di hari tersebut riwayat hadith al-Ghadir adalah Mutawatir. Ianya telah diriwayatkan oleh semua ahli sejarah dan ahli Hadith dari berbagai golongan dan ianya telah diperakukan oleh ahli Hadith dari golongan Sunnah dan Syi’ah”.

Sang penulis benar-benar tidak setuju dengan pernyataan ini sehingga dia berkata

Benarkah bahwa hadis Al-Ghadir adalah mutawatir? Semua ahli tafsir Sunnah sepakat bahwa ayat ini turun kepada Ali r.a di Ghadir Kum? Sungguh kebohongan yang amat besar !.

Jawaban saya Hadis Al Ghadir benar mutawatir, dan memang semua ahli tafsir sunnah tidak sepakat bahwa ayat ini turun kepada Ali ra di Ghadir Kum. Yang benar adalah memang ada riwayat tentang turunnya ayat ini untuk Imam Ali di dalam literatur Sunni yaitu dalam Tafsir Ibnu Abi Hatim dalam tafsir Al Maidah ayat 67, Al Wahidi dalam Asbabun Nuzul Al Maidah ayat 67 dan Tarikh Ibnu Asakir dalam bab biografi Ali bin Abi Thalib.Yang kesemuanya berpangkal dari sanad Ali bin Abas dari Amasy dari Athiyah dari Abu Said Al Khudri dia berkata: Diturunkan ayat ini: “Wahai Rasul Allah! Sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu” [al-Maidah 5:67] ke atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada Hari Ghadir Khum berkenaan ‘Ali bin Abi Thalib.
Sanad hadis ini diperselisihkan oleh ulama sunni dan syiah. Kebanyakan ahli hadis Sunni menyatakan riwayat ini dhaif karena pada sanadnya terdapat Athiyah bin Sa’ad al Junadah Al Aufi. Dalam Mizan Al ‘Itidal jilid 3 hal 79 didapat keterangan tentang Athiyah

• Menurut Adz Dzahabi Athiyyah adalah seorang tabiin yang dikenal dhaif
• Abu Hatim berkata hadisnya dhaif tapi bisa didaftar atau ditulis
• An Nasai juga menyatakan Athiyyah termasuk kelompok orang yang dhaif
• Abu Zara’ah juga memandangnya lemah.
• Menurut Abu Dawud Athiyyah tidak bisa dijadikan sandaran atau pegangan.
• Menurut Al Saji hadisnya tidak dapat dijadikan hujjah, Ia mengutamakan Ali ra dari semua sahabat Nabi yang lain.
• Salim Al Muradi menyatakan bahwa Athiyyah adalah seorang syiah.
• Abu Ahmad bin Adiy berkata walaupun ia dhaif tetapi hadisnya dapat ditulis.

Oleh karena itu tidak berlebihan kalau ahli hadis sunni menyatakan hadis tersebut dhaif. Tetapi ulama syiah menolak hal ini dengan menyatakan bahwa Athiyyah adalah perawi yang dipercaya di sisi Syiah bahkan ada ulama Sunni yang menta’dilkan beliau.

• Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 7 hal 220 Al-Hafidz Ibnu Hajar telah berkata tentang biografi Athiyyah, “Ad-Dawri telah berkata dari Ibnu Mu’in bahwa ‘Athiyyah adalah seorang yang saleh.” Selain itu dalam Mizan Al ‘Itidal ketika Yahya bin Main ditanya tentang hadis Athiyyah ,ia menjawab “Bagus”.
• Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 2 hal 226 dan Mizan Al ‘Itidal jilid 3 hal 79, Ibnu Saad memandang Athiyyah tsiqat, dan berkata insya Allah ia mempunyai banyak hadis yang baik, sebagian orang tidak memandang hadisnya sebagai hujjah.
• Sibt Ibnul Jauzi(cucu Ibnu Jauzi) dalam kitabnya Tadzkhiratul Khawass memandangnya sebagai perawi yang bisa dipercaya.
• Athiyyah bin Sa’ad adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad, perawi dalam Sunan Nasa’i, Sunan Abu Daud, Sunan Ibnu Majah dan Musnad Ahmad bin Hanbal.

Sebenarnya juga tidak berlebihan kalau Ulama Syiah memandang Athiyyah sebagai perawi yang tsiqat apalagi dalam literatur mereka Athiyyah memang perawi syiah yang tsiqat. Oleh karena itu ulama syiah menolak pernyataan dhaif kepada Athiyyah, mereka berkata itu hanyalah kecenderungan Sunni untuk mendhaifkan perawi yang bermahzab syiah. Mengapa Athiyyah dinyatakan dhaif oleh sebagian kalangan?dan mengapa riwayatnya tidak diterima oleh sebagian Ulama Sunni, Jawabannya karena

• Athiyyah adalah perawi yang bermahzab syiah dan mengutamakan Ali ra dari semua sahabat Nabi yang lain. Dan biasanya riwayat seorang perawi Syiah tentang mahzabnya ditolak oleh Ulama Sunni
• Athiyyah dipandang dhaif karena sifat tadlis. Dalam Tahdzib at Tahzib dan Mizan Al ‘Itidal, ketika membicarakan Athiyyah dan riwayatnya dari Abu Said, Ahmad menyatakan bahwa hadis Athiyyah itu dhaif, beliau berkata “Sampai kepadaku berita bahwa Athiyyah belajar tafsir kepada Al Kalbi dan memberikan julukan Abu said kepadanya ,Agar dianggap Abu said Al Khudri.”. Hal ini juga dikuatkan oleh pernyataan Ibnu Hibban “Athiyyah mendengar beberapa hadis dari Abu said Al Khudri. Setelah Al Khudri ra meninggal ,ia belajar hadis dari Al Kalbi. Dan ketika Al Kalbi berkata Rasulullah SAW bersabda ‘demikian demikian’maka Athiyyah menghafalkan dan meriwayatkan hadis itu dengan menyebut Al Kalbi sebagai Abu Said. Oleh sebab itu jika Athiyyah ditanya siapakah yang menyampaikan hadis kepadamu?maka Athiyyah menjawab Abu Said. Mendengar jawaban ini orang banyak mengira yang dimaksudkannya adalah Abu Said Al Khudri ra, padahal sebenarnya Al Kalbi”.

Sayangnya kedua alasan ini tidak diterima oleh Ulama Syiah, tentang alasan pertama mereka berkata itu sangat subjektif bukankah tidak ada salahnya kalau perawi tersebut meyakini apa yang ia riwayatkan. Singkatnya seperti ini Ulama Sunni jelas dari awal menganggap Syiah itu ahlul bid’ah oleh karenanya riwayat yang mendukung mahzab syiah mesti ditolak, menurut Ulama Sunni perawi syiah jelas sekali akan membuat riwayat yang mendukung mahzab mereka. Sedangkan ulama Syiah jelas tidak terima dinyatakan seperti itu makanya mereka bilang ulama sunni subjektif. Bukankah juga mungkin karena meyakini riwayat(yang katanya mendukung mahzab syiah) maka perawi itu lantas berpegang pada mahzab Syiah.

Alasan yang kedua juga tidak mematikan hujjah ulama Syiah karena mereka dapat berkata apa buktinya pernyataan Ahmad dan Ibnu Hibban itu benar, bukankah bisa saja itu hanya sekedar kabar-kabar yang disebarkan untuk mendiskreditkan Athiyyah, Dalam Tahdzîb at-Tahdzîb jilid 2 hal 226 Ibnu Hajar Al’Asqalani telah berkata,
Ibnu Sa’ad telah berkata, “Athiyyah pergi bersama Ibnu al- Asy’ats, lalu Hajjaj menulis surat kepada Muhammad bin Qasim untuk memerintahkan ‘Athiyyah agar mencaci maki Ali, dan jika dia tidak melakukannya maka cambuklah dia sebanyak empat ratus kali dan cukurlah janggutnya. Muhammad bin Qasim pun memanggilnya, namun ‘Athiyyah tidak mau mencaci maki Ali, maka dijatuhkanlah ketetapan Hajaj kepadanya. Kemudian ‘Athiyyah pergi ke Khurasan, dan dia terus tinggal di sana hingga Umar bin Hubairah memerintah Irak. ‘Athiyyah tetap terus tinggal di Khurasan hingga meninggal pada tahun seratus sepuluh hijrah. Insya Allah, dia seorang yang dapat dipercaya, dan dia mempunyai hadis-hadis yang layak.”

Ada sebuah kemungkinan bahwa Athiyyah adalah orang yang dikenal tsiqat pada saat itu tetapi mungkin karena sikap terang-terangannya dalam memuliakan Imam Ali di atas sahabat yang lain sampai-sampai mengundang kecurigaan dari bani Umayyah. Oleh karenanya mungkin untuk menjatuhkan beliau disebarkanlah kabar-kabar yang mendiskreditkan beliau. Sayangnya ini adalah sebuah kemungkinan dan belum bisa dibuktikan. Baik Ulama Sunni dan Ulama Syiah dipengaruhi kecenderungan masing-masing dalam melihat pribadi Athiyyah.

Lantas mengapa Ulama Syiah berkeras bahwa riwayat turunnya ayat Al Maidah 67 dan Al Maidah 3 berkenaan peristiwa Al Ghadir adalah mutawatir di sisi Sunni? Jawabannya adalah mereka Ulama Syiah ketika menyebut riwayat turunnya Al Maidah 67 dan Al Maidah 3 sering merujuk ke kitab-kitab yang seringkali sulit dirujuk oleh Ulama Sunni seperti kitab Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir Ath Thabari. Kitab ini dibuat Ath Thabari pada akhir-akhir hidupnya dan sayangnya sekarang sudah tidak bisa ditemukan lagi. Yang ada hanyalah kitab-kitab yang memuat kutipan dari kitab Ath Thabari tersebut. Memang kitab-kitab yang mengutip kitab Ath Thabari itu kebanyakan adalah kitab-kitab Ulama Syiah. Hal ini bisa dimaklumi karena Ulama Syiah punya kecenderungan kuat untuk memelihara riwayat-riwayat Al Ghadir sebagai hujjah mereka terhadap Sunni.

Sayangnya kitab Ath Thabari ini sudah tidak ada lagi disisi Sunni, entahlah apa sebabnya kitab ini bisa tidak terpelihara di sisi Sunni. Oleh karenanya ketika Ulama Syiah berhujjah dengan riwayat dalam kitab ini maka Ulama Sunni sekarang mentah-mentah menolaknya. Lucunya mereka Ulama Sunni berkata bahwa itu hanyalah buatan-buatan Syiah saja, atau ada yang menuduh Ath Thabari itu Syiah dan yang berlebihan menuduh kitab Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir itu dibuat oleh Syiah dan mengatasnamakan Ath Thabari. Padahal terdapat bukti yang jelas bahwa kitab Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir adalah benar-benar eksis dulunya dan merupakan hasil karya Ibnu Jarir Ath Thabari yang Sunni.

Penolakan terhadap kitab Ath Thabari ini juga didasari bahwa dalam Tafsir Ath Thabari tentang Al Maidah ayat 67 dan Al Maidah ayat 3, beliau Ath Thabari tidak menyebut sedikitpun tentang peristiwa Al Ghadir. Sayangnya hal ini bukanlah dasar yang kuat untuk menolak kitab Al Wilayah Ath Thabari. Karena seperti yang sudah saya sebutkan kitab Al Wilayah ini dibuat pada akhir-akhir kehidupan Ath Thabari artinya jauh selepas beliau mengarang Tafsir Ath Thabari. Jadi ada kemungkinan beliau merubah pandangannya atau bisa jadi lingkungan kemahzaban yang kental di masa Ath Thabari tidak memungkinkannya untuk memasukkan riwayat Al Ghadir dalam Tafsir Beliau. Tapi sayangnya ini hanyalah sebuah kemungkinan dan memerlukan pembuktian.

Bagi saya pribadi hujjah tidak bisa berdasarkan kemungkinan oleh karenanya saya lebih berdiam diri dalam masalah ini dan mungkin lebih baik untuk tidak menerima riwayat tentang ayat tabligh ini karena masih ada keraguan dalam sanadnya. Jadi memang pernyataan Syaikh Mar’i Al Amin itu keliru, ahli tafsir Sunni tidak bersepakat tentang turunnya ayat tabligh untuk Imam Ali.

Walaupun begitu rupanya si penulis melihat kekeliruan Syaikh Mar’i Al Amin ini sebagai kebohongan besar. Entahlah, bagi saya ini adalah kecenderungan kemahzaban saja, sama halnya dengan yang terjadi pada Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As Sunnah yang membuat banyak kekeliruan karena berlebih-lebihan dalam membantah Ulama Syiah Ibnul Muthhahhar(Allamah Al Hilli). Keinginan Ibnu Taimiyyah untuk terus membantah itu membuatnya banyak menolak hadis-hadis shahih seperti hadis Tsaqalain, dengan mengatakan banyak yang menolak hadis tsaqalain padahal kenyataannya tidak demikian.

Mari kita lanjutkan, kemudian penulis juga menjadi berlebih-lebihan ketika berkata

Mana mungkin tulisan tsb berasal dari seorang yang banyak mempelajari agama (seorang Qadhi Besar) kecuali tulisan tsb berasal dari ulama syi’ah sendiri. Benarkah buku tsb berasal dari seorang yang keluar dari Mahzab Syafi’i lalu masuk Syi’ah? Jangan-jangan buku tsb dibuat oleh orang syi’ah sendiri dan mengatasnamakannya dari seorang AhluSunnah.

Sayangnya bukti kuat dalam masalah ini adalah buku itu sendiri. Dalam Limadza Akhtartu Mahzab Ahlul Bayt (Mengapa aku memilih mahzab Ahlul Bait), pengarang syaikh Mar’i Al Amin sendiri mengatakan bahwa beliau awalnya Qadhi Halab bermahzab syafii yang kemudian masuk Syiah. Tentu saja kesaksian ini lebih patut dipercaya ketimbang dugaan-dugaan tanpa bukti. Anehnya sepertinya penulis itu adem ayem saja menerima kabar bahwa Ayatullah Uzma Al Burqu’i adalah ulama Syiah yang keluar dari mahzab syiah yang ia kutip dari Gen Syiah Ustad Mamduh Al Buhairi.

Kemudian sang penulis menganalogikan dugaannya dengan dugaan lain yang sama tak berdasarnya

Seperti halnya buku Al-Muraja’at, dialog Sunni-Syi’ah antara Syaikh Al-Azhar Salim Al-Bisyri dengan seorang syi’ah yaitu Syarafuddin Al-Musawi. Kitab Al-Muraja’at diterbitkan 20 tahun setelah Syekh Salim Al-Bisyri meninggal. DR.Ali Ahmad As-Salus, ulama AhluSunnah dari Qatar pakar aliran Syi’ah bertemu dengan putra Syekh Salim Al-Bisyri dan putranya tersebut berkata, “Saya telah membaca (mempelajari) hadis dari ayahku selama 30 tahun dan beliau tidak sedikitpun menyebutkan tentang Syi’ah kepadaku. Beliau juga tidak pernah menyembunyikan sesuatu kepadaku.”

Ada kepincangan dalam cara berpikir penulis, Beliau meragukan kitab Al Muraja’at sebagai buat-buatan saja oleh Syaikh Al Musawi singkatnya dialog dalam buku itu fiktif Padahal buku itu sendiri menjelaskan tentang terjadinya dialog tersebut. Tidak masalah dengan diterbitkannya buku itu 20 tahun kemudian. Hal ini juga diakui terang-terangan oleh Syaikh Al Musawi dalam buku itu dimana beliau menjelaskan karena sesuatu hal maka buku ini baru bisa diterbitkan. Pincangnya adalah penulis itu dengan mudahnya mempercayai apa yang dikatakan Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah yang berhujjah dengan perkataan anaknya Syaikh Salim Al Bisyri yang tidak jelas siapa namanya, kapan ia mengatakan itu, dimana, dan siapa saksinya. Bukankah kalau memang benar begitu si anak tersebut lebih berhak untuk membersihkan nama ayahnya dari tuduhan, sayangnya sampai saat ini saya belum menemukan karya yang membantah Al Muraja’at oleh anak tersebut. Lagipula apakah pernyataan anak tersebut adalah hujjah mati bahwa dialog dalam buku itu fiktif. Bukankah bisa saja sang Ayah merahasiakan dialog tersebut dari anaknya. Dugaan-dugaan tidak bisa dijadikan dasar dalam berhujjah karena hanya melahirkan suatu kemungkinan tetapi tidak mengabaikan kemungkinan yang lain.

Saya tunjukkan sedikit kekeliruan Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah, beliau Ali As Salus telah membuat dugaan bahwa kitab Al Wilayat Fi Thuruq Al Ghadir yang dikarang oleh Ibnu Jarir Ath Thabari adalah bukan dikarang oleh Ath Thabari yang sunni melainkan oleh Ath Thabari yang syiah. Dugaan ini jelas tidak berdasar sama sekali. Pernyataannya ini jelas bertentangan dengan apa yang dikatakan Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wa An Nihayah yang menjelaskan bahwa kitab itu memang dikarang oleh Ibnu Jarir Ath Thabari yang sunni. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Adz Dzahabi dalam Tadzkirat Al Huffaz, Adz Dzahabi menulis bahwa ” ketika Al Thabari mendengar bahwa Ibnu Abi Dawud menolak keotentikan hadis Al Ghadir, beliau menulis buku mengenai keotentikannya dan keutamaan Ahlul Bait” kemudian Adz Dzahabi menambahkan bahwa dia sendiri melihat satu jilid karya Ath Thabari tentang Thuruq Hadis Al Ghadir dan dibuat kagum oleh besarnya jumlah periwayatnya. Yang bisa kita ambil sebagai pelajaran adalah tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa setiap dugaan memerlukan bukti agar bisa dipercaya. Tapi sayangnya ada banyak orang yang lebih mudah mempercayai dugaan karena dipengaruhi kecenderungannya.

Hadis Al Ghadir

Sebelumnya saya telah mengatakan bahwa hadis al Ghadir adalah mutawatir, pernyataan ini adalah benar dan diakui oleh ulama Sunni yang telah membuat kitab khusus tentang riwayat-riwayat hadis Al Ghadir diantaranya

• Ibnu Jarir Ath Thabari dalam kitabnya Al Wilayah Fi Thuruq Al Ghadir
• Ibnu Uqdah dalam kitabnya Al Wilayah Fi Thuruq Hadits Al Ghadir
• Abu Bakar Al Ja’abi dalam kitabnya Man Rawa Hadits Ghadir Kum
• Abu Sa’id As Sijistani dalam kitabnya Ad Dirayah Fi Hadits Al Wilayah

Walaupun begitu perlu diperhatikan mutawatir disini adalah mutawatir ma’nawi Artinya hadis-hadis tersebut memiliki matan yang bermacam-macam dan dapat dikelompokkan menjadi

• Matan yang Mutawatir, Artinya matan ini ada dalam setiap hadis Al Ghadir apapun sanadnya, matan itu adalah perkataan Rasulullah SAW di Ghadir Kum “barang siapa menganggap Aku Maulanya maka Ali adalah Maulanya”. Oleh karenanya perkataan ini bisa dikatakan bersifat pasti kebenarannya karena sanadnya mutawatir.
• Matan yang shahih, artinya matan ini diriwayatkan dalam hadis-hadis Al Ghadir tetapi tidak semua hadis Al Ghadir meriwayatkan matan ini. Adapun hadis yang mengandung matan ini sanadnya shahih. Yaitu antara lain matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW bahwa Sebentar lagi Rasulullah SAW akan dipanggil ke hadirat Allah SWT. Atau matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW kepada umatnya untuk berpegang kepada dua hal Kitab Allah dan Ahlul BaitKu, matan yang mengandung peristiwa kesaksian di Rahbah oleh beberapa sahabat terhadap Imam Ali, matan yang mengandung perkataan Rasulullah SAW ”bukankah Kalian telah mengetahui bahwa sesungguhnya Aku lebih berhak atas orang-orang mukmin dari pada diri mereka sendiri?” dan Matan yang mengandung ucapan selamat Umar kepada Ali(matan selamat ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad 4 hal 281 dalam sanadnya terdapat Zaid bin Hasan Al Anmathi, tentang beliau Abu Hatim berkata hadisnya mungkar tapi Ibnu Hibban memasukkannya dalam Ats Tsiqat, Syaikh Al Albani telah menshahihkan hadis dalam Sunan Tirmidzi no3 786 dan dalam sanadnya ada Zaid bin Hasan, oleh karena itu saya menyimpulkan bahwa hadis dalam Musnad Ahmad itu shahih.)
• Matan yang diperselisihkan sanadnya atau dhaif(menurut Ulama Sunni), artinya matan ini diriwayatkan dalam hadis Al Ghadir dimana sanad hadisnya adalah dhaif di sisi Ulama Sunni. Yaitu matan hadis Al Ghadir yang mengandung Ayat Tabligh Al Maidah 67 dan Al Maidah ayat 3.

Mari kita lihat kembali pernyataan penulis(Ja’far) seputar hadis Al Ghadir, beliau mengutip pernyataan Al Alusi

Adapun pada saat khutbah Rasulullah sepulang dari haji wada’ tersebut tidak didapati hadis yang shahih mengenai pengangkatan Ali sebagai khalifah / pemimpin / menjadikannya maula. Al-Alusi berkata, “Riwayat-riwayat tentang Ghadir Khum – yang di dalamnya terdapat perintah kepada Nabi SAW untuk mengangkat Ali sebagai khalifah – tidak shahih dan sama sekali tidak diterima oleh AhluSunnah” (Tafsir Al-Alusi).

Jika yang dimaksudkan adalah hadis dengan perkataan maula itu, maka dalam hal ini Al Alusi keliru karena pengangkatan Ali sebagai maula di Ghadir Kum telah dishahihkan banyak ulama Ahlus Sunnah seperti At Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi, Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah, Al Hakim dalam Al Mustadrak dan Adz Dzahabi dalam Talkhis Al Mustadrak. Tentu Ulama syiah menafsirkan maula sebagai pemimpin, sedangkan ulama sunni menafsirkan maula sebagai sahabat atau yang dicintai.

Tetapi jika yang dimaksudkan adalah hadis dengan turunnya Al Maidah ayat 67 dan Al Maidah ayat 3 maka saya sependapat. Karena hadis tentang itu terdapat keraguan pada sanadnya dan saya setuju dengan pernyataan penulis bahwa Al Maidah ayat 3 berdasarkan dalil shahih disisi Sunni turun di arafah.

Penulis(Ja’far) mengkritik hadis Al Ghadir yang mengandung matan maula dengan berkata

Masih ada beberapa hadis lain yang serupa dua hadis diatas dalam Musnad Imam Ahmad. Kata-kata ‘Man kuntu MAULAH fa’aliyyun maulah’ (Siapa yang aku sebagai PEMIMPINNYA maka Ali sebagai PEMIMPINNYA) tidak dapat dijadikan dalil bahwa Ali adalah khalifah setelah rasulullah SAW wafat.

Mari kita telaah masing-masing alasannya

Alasan pertama Imam Ahmad bin Hanbal yang meriwayatkan hadis tsb adalah AhluSunnah. Jika Imam Ahmad menafsirkan hadis tsb sebagai dalil yang menjadikan Ali sebagai khalifah/imam setelah rasulullah wafat maka dia seharusnya menjadi ulama syi’ah. Akan tetapi, Imam Ahmad adalah seorang ahlusunnah, dengan begitu Imam Ahmad tidak menafsirkan hadis tsb sebagai dalil penunjukkan Ali sebagai pengganti Rasullah SAW.

Alasan ini rancu sekali dan bagi saya orang yang memakai alasan seperti ini tidak perlu jauh-jauh menggunakan dalil dan pembahasan dalam mengkritik Syiah, dia cukup berkata seandainya Syiah itu benar maka Ulama-ulama sunni akan menjadi Syiah tetapi kenyataannya tidak maka Syiah tidak benar. Nah selesai urusannya. Kalau ingin melakukan pembahasan maka harus melihat dalil itu sendiri dan menilai penafsiran mana yang benar antara Ulama Sunni dan Syiah. Dalam hal ini Penulis telah melakukan Fallacy Argumentum Ad Verecundiam.

Alasan kedua Pengartian kata ‘maulah’ dalam konteks hadis tsb sebagai ‘pemimpin’ tidak tepat. Maulah dalam hadis tsb berarti loyalitas atau kecintaan, sesuai dengan akar katanya yaitu ‘Wali’.

Mari kita telaah, si penulis berargumen bahwa berdasarkan konteksnya maula itu bukan berarti pemimpin. Anehnya beliau malah mengartikan maula berdasar akar kata. Ulama Syiah berkata Maula adalah lafal Musytakarah(punya banyak arti) dan untuk mengetahui arti yang tepat adalah dengan melihat konteksnya pada hadis Al Ghadir.

Mari kita lihat apa kata Ulama Syiah tentang makna maula. Dalam Hadis Al Ghadir terdapat kata-kata Rasulullah SAW bahwa beliau sebentar lagi akan dipanggil ke hadirat Allah ” Kurasa seakan-akan aku segera akan dipanggil (Allah), dan segera pula memenuhi panggilan itu, Maka sesungguhnya aku meninggalkan kepadamu Ats Tsaqalain(dua peninggalan yang berat). Yang satu lebih besar (lebih agung) dari yang kedua : Yaitu kitab Allah dan Ittrahku. Jagalah Baik-baik dan berhati-hatilah dalam perlakuanmu tehadap kedua peninggalanKu itu, sebab Keduanya takkan berpisah sehingga berkumpul kembali denganKu di Al Haudh.
Bukankah kata-kata ini berarti Rasulullah SAW telah mewasiatkan sebelum beliau meninggal untuk mengikuti Al Quran dan Ahlul Bait, adalah wajar kalau hal ini diartikan Ulama Syiah sebagai Rasulullah SAW menyerahkan kepemimpinan Agama kepada Ahlul Bait.

Kemudian kata-kata “Bukankah Aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri.. Orang-orang menjawab “Ya”. Hingga akhirnya Rasulullah SAW berkata” Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka Ali adalah juga maulanya. Ulama Syiah menafsirkan kata lebih berhak menunjukkan bahwa maula yang dimaksud berkaitan dengan kekuasaan dan tidak tepat jika diartikan sahabat atau dicintai. Selain itu kata-kata terakhir Ya Allah, cintailah siapa yang mencintainya, dan musuhilah siapa yang memusuhinya. Menunjukkan bahwa pada saat itu Imam Ali dianugerahkan tanggung jawab yang memungkinkan beliau dicintai atau dimusuhi orang, tanggung jawab ini lebih tepat diartikan kekuasaan ketimbang yang dicintai.

Oleh karena itu Ulama Syiah menafsirkan maula sebagai pemimpin ditambah lagi ucapan selamat Umar kepada Ali yang menurut Syiah janggal diberikan hanya karena Ali dinobatkan sebagai yang dicintai, Ulama syiah berkata apakah sebelumnya Imam Ali adalah musuh sehingga ketika dinobatkan sebagai yang dicintai maka beliau diberi selamat.

Sedangkan kata-kata penulis

Seandainya maulah diartikan sebagai imam / khalifah maka seharusnya para sahabat tidak menjadikan Abu Bakar r.a sebagai khalifah setelah Rasulullah SAW. Mana mungkin mayoritas sahabat mengkhianati Rasulullah SAW. Para sahabat tidak pernah menafsirkan hadis tsb sebagai dalil penunjukkan Ali. Kalau kita menganggap hadis tsb sbg dalil penunjukkan Ali maka otomatis para sahabat adalah orang yang tidak melaksanakan amanat Rasulullah SAW

maka saya katakan itulah tepatnya kenapa Ulama Sunni berkeras bahwa kata maula itu bukan pemimpin. Disini penulis sudah memahami dengan prakonsepsinya terlebih dahulu tentang shahabat baru menilai nash hadis Al Ghadir bedanya dengan Syiah mereka memahami nash hadis Al Ghadir terlebih dahulu baru menilai shahabat.

Mengenai hadis tentang murtadnya shahabat Nabi kecuali beberapa orang di sisi Syiah, maka saya memilih untuk berdiam diri karena saya tidak mengetahui shahih tidaknya hadis tersebut di sisi Syiah dan apa arti murtad yang dimaksud. Karena yang saya tahu ada cukup banyak Sahabat Nabi yang diakui oleh Syiah bukan hanya beberapa orang, Silakan dirujuk pada Ikhtilaf Sunnah Syiah karya Syaikh Al Musawi hal 205-214. Saya juga ingin mengingatkan penulis bahwa di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim terdapat hadis yang jika diartikan secara literal mengindikasikan cukup banyak shahabat Nabi yang masuk neraka karena berpaling setelah Nabi SAW wafat.

Contohnya hadis Shahih Bukhari juz 8 hal 150 diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ”Akan datang di hadapanKu kelak sekelompok shahabatKu tapi kemudian mereka dihalau. Aku bertanya ”wahai TuhanKu mereka adalah shahabat-shahabatKu”. Lalu dikatakan ”Engkau Tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka murtad dan berpaling.”. Tentu Ulama Sunni memiliki pemahaman sendiri terhadap hadis ini dengan berkata bahwa memang ada yang murtad dan yang murtad itu tidak lagi disebut sebagai shahabat. Yang ingin saya tekankan kalau Ulama Sunni bisa melakukan penafsiran terhadap teks mereka. Kenapa kita tidak bisa mendengar apa kata Ulama Syiah tentang hadis mereka.

Alasan yang ketiga Hadis-hadis tsb lebih tepatnya menceritakan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib bukan dalil tentang penunjukkannya.

Saya setuju kalau hadis itu menunjukkan keutamaan tapi keutamaan sebagai apa, nah disinilah terjadi beda penafsiran. Syiah justru berkata itulah keutamaan Imam Ali yang ditunjuk sebagai pengganti Rasulullah SAW.

Hadis Kekhalifahan Di Sisi Sunni

Mengenai hadis-hadis tentang Rasulullah tidak menunjuk khalifah itu memang ada dasarnya di sisi Sunni dan sanadnya shahih. Penulis(Ja’far) juga menambahkan bahwa Rasulullah SAW memberikan pilihan kepada Abu Bakar, Umar dan Ali(Ali tidak dipilih maka tinggal Abu Bakar dan Umar). Kemudian penulis melanjutkan Walaupun Rasulullah SAW memberikan tiga pilihan orang yang akan menggantikan beliau, beliau menganjurkan umat agar memilih Abu Bakar. Mari kita bersikap kritis terhadap pernyataan saudara Ja’far, apa benar Rasulullah SAW menganjurkan umatnya?

Kalau memang begitu kenapa ketika peristiwa Saqifah kaum Anshar ribut-ribut tentang pengganti Rasulullah SAW, bukankah sebagian mereka memilih Saad bin Ubadah ra sebelum Abu Bakar ra dan Umar ra datang. Kenapa hadis ini tidak muncul sedikitpun dalam peristiwa Saqifah. Hadis Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda “Sungguh saya berhasrat atau ingin mengirimkan surat kepada Abu Bakar dan putranya lalu saya mengangkatnya sebagai khalifah. Sebab (aku khawatir) jika ada seseorang yang mengatakan atau orang yang mempunyai harapan.”. Apakah surat ini memang dibuat atau tidak juga tidak jelas, kalau tidak kenapa Rasulullah SAW mengurungkannya.

Sama juga halnya dengan hadis ‘Panggilah Abu Bakar dan saudaramu untuk datang kepadaku agar aku tuliskan sesuatu kepadanya. Sebab sesungguhnya saya khawatir jika ada orang yang berharap dan terdapat seseorang yang mengatakan, ‘Aku lebih berhak.’ Dan Allah dan orang-orang yang beriman tidak menghendaki kecuali Abu Bakar.”. Apakah tulisan itu jadi dibuat, kenapa tidak, kenapa Rasulullah SAWmengurungkan niatnya? Sekali lagi kenapa hadis ini tidak muncul ketika peristiwa Saqifah. Seandainya Rasulullah SAW benar menganjurkan Abu Bakar kepada umatnya maka adalah aneh jika pada awalnya para shahabat Anshar itu ribut-ribut di Saqifah.

Penulis juga berkata Ali bin Thalib r.a juga tidak pernah terpaksa untuk berba’iat kepada Abu Bakar r.a dengan alasan persatuan umat islam. Anehnya beliau hanya mengutip hadis baiat Imam Ali kepada Abu Bakar tanpa memperhatikan hadis lain yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari Kitab AlMaghazi Bab Ghazwah Khaibar 3 hal 38 yang diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa Imam Ali tidak mau memberikan Baiat kepada Abu Bakar selama hidup Fatimah putri Nabi SAW. Jadi pernyataan ini tidak hanya diriwayatkan oleh Az Zuhri seperti yang dikatakan penulis. Ini juga diriwayatkan oleh Aisyah ra dalam Shahih Bukhari.

Penundaan baiat Imam Ali adalah hal yang mahsyur dalam sejarah. Memang terjadi perbedaan pendapat dalam masalah ini, ada yang berpendapat bahwa Imam Ali berbaiat dua kali dan ada yang berpendapat justru yang benar Imam Ali berbaiat setelah 6 bulan. Dalam Usdu Al Ghabah jilid 3 hal 222 Ibnu Hajar mengatakan ”Baiat yang mereka(Ali dan para pendukungnya) berikan menurut pendapat yang benar adalah setelah enam bulan. Dalam Musnad Ahmad tentang hadis Saqifah yang menjelaskan pidato Umar tentang peristiwa Saqifah(shahih oleh syaikh Ahmad Syakir) terdapat kata-kata Umar bahwa ketika Abu Bakar di baiat Ali dan Zubair memisahkan diri dari Kami. Setidaknya itu semua menunjukkan ada penundaan baiat Imam Ali kepada Abu Bakar ra.

Paling tidak ada beberapa alasan yang memberatkan pernyataan penulis bahwa Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memilih Abu Bakar ra

• Kaum Anshar di Saqifah berselisih paham tentang pengganti Nabi SAW di Saqifah sebelum kedatangan Abu Bakar ra dan Umar ra. Sebagian mereka malah memilih Saad bin Ubadah ra.
• Imam Ali ra dan beberapa sahabat Nabi menunda pembaiatan kepada Abu Bakar ra.
• Sayyidah Fatimah Az Zahra as berselisih dengan Abu Bakar ra dalam masalah Fadak. Berdasarkan dalil yang shahih(Shahih Bukhari) Sayyidah Fatimah as marah kepada Abu Bakar ra selama 6 bulan yang waktu itu sudah diangkat sebagai khalifah. Ini menunjukkan bahwa Sayyidah Fatimah as tidak membaiat Abu Bakar ra.

Hadis 12 Khalifah

Saudara Ja’far juga membahas hadis 12 khalifah dalam tulisannya

dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Saya masuk bersama ayah saya kepada Nabi SAW. maka saya mendengar beliau berkata, ‘Sesungguhnya urusan ini tidak akan habis sampai melewati dua belas khalifah.’ Jabir berkata, ‘Kemudian beliau berbicara dengan suara pelan. Maka saya bertanya kepada ayah saya, ‘Apakah yang dikatakannya?’ Ia berkata, ‘Semuanya dari suku Quraisy.’ Dalam riwayat yang lain disebutkan, ‘Urusan manusia akan tetap berjalan selama dimpimpin oleh dua belas orang.’ Dalam satu riwayat disebutkan. ‘Agama ini akan senantiasa jaya dan terlindungi sampai dua belas khalifah. (H.R.Shahih Muslim, kitab “kepemimpinan”, bab”manusia pengikut bagi Quraisy dan khalifah dalam kelompok Quraisy”).

Kemudian penulis menambahkan dalam Catatan :

Dalam berbicara masalah khalifah atau pemimpin maka Rasulullah SAw jelas menggunakan kata ‘khalifah’ atau ‘Amri’ sebagaimana yang bisa dilihat pada hadis diatas, bukan kata ‘Maulah’. Hadis ini bisa dijadikan tambahan argumentasi bahwa hadis ‘Man kuntu maulah fa’aliyyun maulah’ bukanlah berbicara tentang pemimpin / khalifah. Maulah dalam hadis tsb tidak diartikan sebagai imam atau khalifah.

Jawab saya ;Sebenarnya justru bisa saja itu berarti dalam masalah kekhalifahan Rasulullah SAW bisa menggunakan kata Khalifah, Amir, Wali atau Maula.

Penulis(Ja’far) menyatakan bahwa hadis ini tidak bisa dijadikan dalil bahwa khalifah yang dimaksud adalah 12 Imam AhlulBait. Alasannya yang pertama bahwa

Dalam hadis tersebut tidak ada tercantum khalifah dari Ahlul Bayt, yang ada adalah khalifah dari Quraisy.

Jawab saya :Benar sekali dan Ahlul Bait adalah dari Quraisy, lengkapnya seperti ini Bani Hasyim adalah yang termulia dari suku Quraisy dan Ahlul Bait adalah yang termulia dari Bani Hasyim. Tidak berlebihan kalau dikatakan Ahlul Bait semulia-mulia dari Quraisy . Dalam Hadis Shahih Muslim Kitab keutamaan, Bab keutamaan nasab Nabi no: 2276 diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda Sesungguhnya Allah telah memilih (suku) Kinanah daripada anak keturunan Ismail dan telah memilih (bangsa) Quraisy daripada (suku) Kinanah, dan telah memilih daripada (bangsa) Quraisy Bani Hasyim dan telah memilih aku daripada Bani Hasyim.

Alasan kedua penulis

Rasulullah SAW tidak menyebutkan nama-nama siapakah yang menjadi khalifah tersebut.

Sayangnya disisi Syiah(Imamiyah) hadis-hadis tentang ini cukup jelas. Kemudian penulis mengartikan hadis itu

sebagai Hadis ini menunjukkan masa kejayaan islam ketika dipimpin dua belas khalifah tersebut. Lantas siapakah dua belas orang tersebut? Kita hanyalah bisa menebak-nebak. Kita bisa menebaknya sebagian dengan melihat sejarah Islam pada khalifah mana islam berjaya. Misalnya: Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Umar bin Abdul Aziz dan lain-lain dengan syarat ketika mereka menjadi khalifah islam berjaya. Khalifah ini juga tidak terbatas pada masa kekhalifahan islam yang ada dulu, tetapi berlaku juga ketika khilafah islamiyah akan tegak kembali. Siapapun yang menjadi khalifah baik dulu maupun yang akan datang sampai hitungannya ada dua belas dimana Islam berjaya pada masa mereka menjadi khalifah maka merekalah dua belas orang yang disebut oleh Nabi SAW tsb. Intinya, dua belas orang tsb adalah dua belas khalifah terhebat (yang berasal dari suku Quraisy yang menjayakan islam) dari semua khalifah islam yang pernah ada dan yang akan datang.

Sebagai sebuah penafsiran, yang seperti ini boleh-boleh saja dan perlu ditambahkan Ulama Sunni sendiri berbeda-beda penafsirannya terhadap hadis ini bahkan banyak yang tidak sependapat dengan penafsiran penulis(saudara Ja’far). Saya hanya ingin membahas kata-kata Saudara Ja’far Intinya, dua belas orang tsb adalah dua belas khalifah terhebat (yang berasal dari suku Quraisy yang menjayakan islam) dari semua khalifah islam yang pernah ada dan yang akan datang. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kalau khalifah islam yang ada untuk umat Islam itu hanya 12 belas.

Sebelumnya saya ingin menunjukkan sebuah hadis dalam Musnad Ahmad no 3781 diriwayatkan dari Masyruq yang berkata”Kami duduk dengan Abdullah bin Mas’ud mempelajari Al Quran darinya. Seseorang bertanya padanya ‘Apakah engkau menanyakan kepada Rasulullah SAW berapa khalifah yang akan memerintah umat ini?Ibnu Mas’ud menjawab ‘tentu saja kami menanyakan hal ini kepada Rasulullah SAW dan Beliau SAW menjawab ‘Dua belas seperti jumlah pemimpin suku Bani Israil’. Dalam Fath Al Bari Ibnu Hajar Al Asqallani menyatakan hadis Ahmad dengan kutipan dari Ibnu Mas’ud ini memiliki sanad yang baik. Hadis ini juga dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad. Merujuk ke hadis di atas ternyata Khalifah untuk umat Islam itu hanya 12 belas. Padahal kenyataannya ada banyak sekali khalifah yang memerintah umat Islam.

Bagi Ulama Syiah hadis ini merujuk kepada 12 Imam Ahlul Bait sebagai pengganti Rasulullah SAW. Jika kita mengambil premis bahwa ada banyak sekali khalifah yang memerintah umat Islam atau khalifah yang dimiliki umat Islam maka jelas sekali pemerintahan yang dimaksud bukanlah pemerintahan Islam yang memiliki banyak kahlifah yang terbagi dalam Khulafaur Rasyidin(di sisi Sunni), Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyah, dan Dinasti Utsmaniyyah karena mereka semua jauh lebih banyak dari 12. Dari sini dapat dimengerti mengapa Ulama Syiah menyatakan bahwa khalifah yang dimaksud disini adalah 12 khalifah pengganti Rasulullah SAW. Tentu saya pribadi tidak akan menilai penafsiran mana yang lebih baik. Saya hanya ingin menampilkan bahwa penafsiran Ulama Syiah terhadap hadis 12 khalifah ini juga ada dasarnya.

Sayangnya sang penulis justru berkata

Berbeda dengan syi’ah, dimana bagi mereka nama-nama imam tsb telah disebutkan oleh Rasulullah SAW. Tetapi manakah hadis yang mengatakan nama-nama khalifah tsb? Hadis yang menunjukkan nama-nama tsb hanyalah hadis dari syi’ah. Hadis itupun bahkan hadis yang palsu/dibuat-buat.

Disini kembali penulis menunjukkan subjektivitasnya, baginya setiap hadis dari syiah adalah palsu dan dibuat-buat, tentu saya tidak akan membuang waktu dengan menanggapi ulang masalah ini.

Adapun bukti yang beliau maksud

Buktinya syi’ah dalam sejarahnya terpecah belah menjadi beberapa firqah karena mereka berselisih siapakah yang akan menjadi imam selanjutnya setelah satu imam meninggal. (Lihat Al-Milal wa Al-Nihal).

Tentu saja kata Syiah disini sedikit ambigu, kalau seandainya dari awal yang kita bicarakan ini Syiah Imamiyah(dan saya rasa memang itu) maka pernyataan penulis itu tidak ada artinya. Mereka yang berpecah belah dari Syiah imamiyah tidaklah lagi disebut Syiah kecuali sebagai sebutan saja. Syiah Zaidiyah dan Syiah Ismailiyah tidaklah disebut Syiah oleh Syiah Imamiyah. Lagipula adanya orang yang menyalahi nash tidaklah berarti nash itu sendiri palsu. Logika darimana itu, bukankah bisa juga sebaliknya berarti orang tersebut telah membangkang atau melanggar nash. Sekali lagi sang penulis menunjukkan subjektivitasnya.

Saya rasa cukup sekian uraian saya, Uraian ini lebih bersifat deskriptif yang disertai analisis terhadap tulisan saudara Ja’far tersebut. Tulisan ini jelas tidak bertujuan menyatakan bahwa Syiah Imamiyah adalah satu-satunya mahzab yang benar. Yang ingin ditekankan dalam tulisan ini bahwa Syiah Imamiyah adalah mahzab Islam yang memiliki dasar dan dalil sebagai mahzab yang diakui dalam Islam.

Salam Damai.

 

9. Jawaban Untuk saudara Jafar mengenai Ahlul Bait

Tulisan saya kali ini adalah tanggapan khusus terhadap tulisan saudara Ja’far yang berjudul Siapakah Ahlul Bait Nabi SAW?(kritik terhadap Syiah) silahkan buka diblog beliau: http://jafarshodiqalpalembani.wordpress.com/2007/08/27/siapakah-ahlul-bait-nabi-saw-kritik-terhadap-syiah/, tanggapan untuk tulisan ini saya bagi menjadi 4 tulisan. Kesimpulan dari Tulisan Beliau itu adalah Ahlul Bait Nabi SAW tidak terbatas pada keturunan Sayyidah Fatimah Az Zahra as saja. Tanggapan saya adalah apa yang dinyatakan Beliau itu adalah keliru. Berikut adalah pembahasan saya

Kemuliaan Ahlul Bait as adalah hal yang memiliki landasan kukuh dalam Al Quran dan Al Hadis. Al Quranul Karim telah memuliakan Ahlul Bait as secara khusus dalam surah Al Ahzab ayat 33. Sedangkan Hadis Tsaqalain adalah hadis utama yang menunjukkan keutamaan Ahlul Bait as yang menjadi pegangan dan pedoman bagi Umat Islam selain Al Quran. Jadi penting sekali untuk mengetahui siapakah Ahlul Bait as yang dimaksud.

Ahlul Bait dalam Hadis Tsaqalain
Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi, Ahmad, Thabrani, Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).
Kebanyakan hadis Tsaqalain tidak menjelaskan dengan rinci siapakah Ahlul Bait as yang dimaksud, tetapi ada beberapa riwayat yang mengandung penjelasan tentang siapa Ahlul Bait as dalam hadis Tsaqalain. Mari kita lihat

Hadis riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim juz II hal 279 bab Fadhail Ali
Muslim meriwayatkan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Shuja’ bin Makhlad dari Ulayyah yang berkata Zuhair berkata telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Abu Hayyan dari Yazid bin Hayyan yang berkata” Aku, Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim pergi menemui Zaid bin Arqam. Setelah kami duduk bersamanya berkata Husain kepada Zaid ”Wahai Zaid sungguh engkau telah mendapat banyak kebaikan. Engkau telah melihat Rasulullah SAW, mendengarkan hadisnya, berperang bersamanya dan shalat di belakangnya. Sungguh engkau mendapat banyak kebaikan wahai Zaid. Coba ceritakan kepadaku apa yang kamu dengar dari Rasulullah SAW.

Berkata Zaid “Hai anak saudaraku, aku sudah tua, ajalku hampir tiba, dan aku sudah lupa akan sebagian yang aku dapat dari Rasulullah SAW. Apa yang kuceritakan kepadamu terimalah,dan apa yang tidak kusampaikan janganlah kamu memaksaku untuk memberikannya. Lalu Zaid berkata” pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato,maka Beliau SAW memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan.

Kemudian Beliau SAW bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu. Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “ dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.” Lalu Husain bertanya kepada Zaid” Hai Zaid siapa gerangan Ahlul Bait itu? Tidakkah istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait? Jawabnya “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah setelah wafat Nabi SAW”, Husain bertanya “Siapa mereka?”.Jawab Zaid ”Mereka adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbes”. Apakah mereka semua diharamkan menerima sedekah (zakat)?” tanya Husain; “Ya”, jawabnya.

Dalam Shahih Muslim di bab yang sama Fadhail Ali ,Muslim juga meriwayatkan hadis Tsaqalain yang lain dari Zaid bin Arqam dengan tambahan percakapan yang menyatakan bahwa Istri-istri Nabi tidak termasuk Ahlul Bait, berikut kutipannya
“Kami berkata “Siapa Ahlul Bait? Apakah istri-istri Nabi? .Kemudian Zaid menjawab” Tidak, Demi Allah ,seorang wanita(istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”.

Dari kedua hadis ini kita dapati pernyataan Zaid bin Arqam ra tentang siapa Ahlul Bait yang dibicarakan oleh Nabi dalam khotbah Beliau SAW.

• Hadis pertama Zaid berkata “Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah setelah wafat Nabi SAW”.
• Hadis kedua Zaid berkata ”Tidak, Demi Allah ,seorang wanita(istri) hidup dengan suaminya dalam masa tertentu jika suaminya menceraikannya dia akan kembali ke orang tua dan kaumnya. Ahlul Bait Nabi adalah keturunannya yang diharamkan untuk menerima sedekah”.

Kedua hadis ini tampak kontradiktif tetapi sebenarnya bisa dipahami dengan menggabungkan kedua riwayat hadis tersebut. Dengan menggabungkan kedua hadis ini maka akan kita dapati bahwa maksud sebenarnya Zaid ra adalah Istri-istri Nabi termasuk dalam keumuman lafal Ahlul Bait tetapi Ahlul Bait yang dibicarakan oleh Rasulullah SAW di Ghadir Kum ini adalah Keturunan Beliau SAW yang diharamkan menerima sedekah jadi bukan istri-istri Nabi SAW. Oleh karena itu penggunaan kata tetapi atau namun dalam hadis pertama itu menjadi tepat, seolah-olah yang ingin dikatakan Zaid ra itu adalah ”Istri-istri Nabi termasuk Ahlul Bait. Tetapi yang dimaksud Ahlul Bait(disini) adalah orang yang tidak diperkenankan menerima sedekah setelah wafat Nabi SAW” . Menurut Zaid mereka yang diharamkan menerima sedekah ini adalah Keluarga Ali, Keluarga Aqil, Keluarga Ja’far dan Keluarga Ibnu Abbas.

Penulis, saudara Ja’far hanya mengutip hadis pertama di atas tetapi tidak memperhatikan hadis kedua, dan langsung menarik kesimpulan bahwa istri-istri Nabi SAW adalah Ahlul Bait yang dimaksud. Kemudian dia membawakan hadis

Dari Anas r.a, ia berkata : “Nabi SAW melangsungkan pernikahan dengan Zainab binti Jahsy dengan hidangan roti dan daging maka saya mengirim makanan. Lalu Nabi SAW keluar dan menuju kamar Aisyah seraya berkata, ‘Assalamu’alaikum ahlul bait wa rahmatullah (salam sejahtera atas kamu, wahai ahlul bait dan semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepadamu)’ Maka Aisyah menjawab, ‘Wa alaika salam wa rahmatullah (dan semoga kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu). ‘Lalu Nabi SAW mengitari kamar semua istrinya dan berkata kepada mereka seperti yang dikatakan kepada Aisyah, dan merekapun menjawab seperti jawaban Aisyah” (H.R.Shahih Bukhari)

Mengomentari hadis ini Beliau saudara Ja’far berkata

”Hadis ini sangat jelas mengatakan bahwa istri-istri Nabi SAW juga termasuk ahlul bait”.

Maka jawab saya adalah hadis ini memang menunjukkan bahwa istri-istri Nabi SAW adalah termasuk dalam keumuman lafal Ahlul Bait. Tetapi tidak bisa langsung dikatakan begitu saja bahwa Istri-Istri Nabi SAW adalah Ahlul Bait yang dimaksud dalam Hadis Tsaqalain dan Al Ahzab ayat 33. Lihat saja hadis yang dibawakannya itu tidak berkaitan sedikitpun dengan khotbah Rasulullah SAW di Ghadir Kum dan peristiwa penyelimutan oleh Rasulullah SAW yang berkaitan dengan surah Al Ahzab 33.

Seandainya kita menerima pernyataan Zaid bin Arqam ra dalam hadis Tsaqalain riwayat Muslim maka akan kita dapati bahwa Istri-istri Nabi SAW bukanlah Ahlul Bait yang dibicarakan Rasulullah SAW di Ghadir Kum, dan seandainya kita berpendapat bahwa itu hanya pernyataan Zaid ra semata sehingga tidak menjadi hujjah maka tidak ada dalil bagi kita untuk menyatakan bahwa Istri-istri Nabi SAW adalah Ahlul Bait yang dibicarakan Rasulullah SAW di Ghadir Kum. Jadi dalam hal ini pendapat yang menyatakan bahwa istri-istri Nabi SAW adalah Ahlul Bait yang dimaksud dalam hadis Tsaqalain adalah kurang tepat.

Lalu Siapakah Ahlul Bait as dalam Hadis Tsaqalain? Apakah seperti yang dikatakan sahabat Nabi SAW Zaid bin Arqam ra, yaitu Keluarga Ali, Aqil, Ja’far dan Abbas. Dalam hal ini perlu diperhatikan pandangan Syiah yang menyatakan bahwa Ahlul Bait dalam hadis Tsaqalain sama dengan Ahlul bait dalam Ayat Tathir Al Ahzab ayat 33. Hal ini karena Al Ahzab 33 menetapkan kesucian Ahlul Bait dari dosa dan kesalahan yang sejalan dengan penetapan hadis Tsaqalain bahwa Ahlul Bait adalah pedoman atau pegangan Umat Islam agar tidak tersesat.
Sedangkan Ahlul Bait as dalam ayat Al Ahzab 33 berdasarkan dalil yang shahih di sisi Sunni merujuk kepada Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah Az Zahra as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as dan bukan merujuk kepada istri-istri Nabi SAW.(penjelasan hal ini akan saya tunjukkan pada pembahasan berikutnya).

Ahlul Bait Dalam al-Quran Surat Al Ahzab 33

Dalam Al Quran surah Al Ahzab ayat 33 terdapat ayat tentang keutamaan Ahlul Bait as, Ayat yang lebih dikenal dengan nama Ayat Tathir. Ayat tersebut berbunyi

Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33).
Sesungguhnya Allah Berkehendak Menghilangkan Dosa Dari Kamu Wahai Ahlul Bait Dan Menyucikan Kamu Sesuci-sucinya.

Ayat ini adalah potongan atau penggalan dari Al Ahzab ayat 33. Terjadi cukup banyak perbedaan pendapat seputar penafsiran ayat ini. Perbedaan itu meliputi dua hal yaitu

• Siapa Ahlul Bait dalam Ayat ini
• Apa maksud ayat ini atau Penafsiran Ayat ini.

Saudara Ja’far dalam tulisannya berkata

Syi’ah berpendapat bahwasanya Ahlul bayt Nabi SAW sesuai dengan Asbabun Nuzul ayat di atas adalah terkhusus kepada Ali, Fatimah, Hasan dan Husein -semoga Allah meridhoi mereka-.

Menurut saya pernyataan bahwa Ahlul Bait dalam Ayat Tathir terkhusus kepada Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as jelas memiliki dasar dan dalil yang kuat di sisi Sunni.
Dalil yang saya maksud adalah terdapat hadis-hadis yang shahih yang menjelaskan bahwa Ayat Tathir ini dikhususkan kepada Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Dalil ini yang ditolak oleh saudara Ja’far dalam tulisannya.
Sebenarnya Ada dua cara untuk mengetahui siapa yang dituju oleh suatu Ayat dalam Al Quran.

• Cara yang pertama adalah dengan melihat ayat sebelum dan ayat sesudah dari ayat yang dimaksud, memahaminya secara keseluruhan dan baru kemudian menarik kesimpulan.
• Cara kedua adalah dengan melihat Asbabun Nuzul dari Ayat tersebut yang terdapat dalam hadis yang shahih tentang turunnya ayat tersebut.

Cara pertama yaitu dengan melihat urutan ayat, jelas memiliki syarat bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan secara bersamaan atau diturunkan berkaitan dengan individu-individu yang sama. Dan untuk mengetahui hal ini jelas dengan melihat Asbabun Nuzul ayat tersebut. Jadi sebenarnya baik cara pertama atau kedua sama-sama memerlukan asbabun nuzul ayat tersebut.

Seandainya terdapat dalil yang shahih dari asbabun nuzul suatu ayat tentang siapa yang dituju dalam ayat tersebut maka hal ini jelas lebih diutamakan ketimbang melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya. Alasannya adalah ayat-ayat Al Quran tidaklah diturunkan secara bersamaan melainkan diturunkan berangsur-angsur. Oleh karenanya dalil shahih dari Asbabun Nuzul jelas lebih tepat menunjukkan siapa yang dituju dalam ayat tersebut.

Berbeda halnya apabila tidak ditemukan dalil shahih yang menjelaskan Asbabun Nuzul ayat tersebut. Maka dalam hal ini jelas lebih tepat dengan melihat urutan ayat baik sebelum maupun sesudahnya untuk menangkap maksud kepada siapa ayat tersebut ditujukan.

Ayat Tathir ternyata memiliki dalil shahih tentang Asbabun Nuzulnya dan ternyata berdasarkan Asbabun Nuzulnya Ayat Tathir ditujukan untuk Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as,Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Terdapat hadis yang menjelaskan Asbabun Nuzul Ayat Tathir, Hadis ini memiliki derajat yang sahih dan dikeluarkan oleh Ibn Abi Syaibah, Ahmad, Al Tirmidzi, Al Bazzar, Ibnu Jarir Ath Thabari, Ibnu Hibban, Ibnu Abi Hatim, Al Hakim, Ath Thabrani, Al Baihaqi dan Al Hafiz Al Hiskani. Berikut adalah hadis riwayat Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi.

Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “ Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah , lalu Nabi Muhammad SAW memanggil Siti Fathimah,Hasan dan Husain,lalu Rasulullah SAW menutupi mereka dengan kain sedang Ali bin Abi Thalib ada di belakang punggung Nabi SAW .Beliau SAW pun menutupinya dengan kain Kemudian Beliau bersabda” Allahumma( ya Allah ) mereka itu Ahlul BaitKu maka hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.Ummu Salamah berkata,” Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW? . Beliau bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan. (Hadis Sunan Tirmidzi no 3205 dan no 3871).

Saudara Ja’far dengan mudahnya mengabaikan hadis ini seraya berkata

”Tapi menurut Tirmidzi, hadis ini gharib”.

Jawab saya: Memang benar Tirmidzi berkata hadis ini gharib tetapi perkataan ini jelas tidak menunjukkan bahwa hadis ini dhaif. Pernyataan gharib Tirmidzi dari segi sanad menunjukkan bahwa hadis tersebut bersumber dari satu perawi dan tidak ada jalan lain(ini menurut Tirmidzi, karena ada banyak jalan lain dari hadis ini dalam kitab-kitab hadis yang lain).

Pernyataan gharib ini jelas tidak berarti hadis tersebut dhaif. Hadis ini jelas bersanad shahih. Hadis ini telah dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi hadis no 3205 dan 3781. Selain itu hadis ini juga dinyatakan shahih oleh Syaikh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy. Jelas sekali penulis(saudara Ja’far) keliru dalam menilai hadis tersebut.

Selain itu penulis juga terburu-buru dalam masalah ini sehingga mengabaikan hadis lain yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam Sunan Tirmidzi Kitab Al Manaqib dimana beliau justru menyatakan hadis itu shahih.

Ummu Salamah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW menutupi Hasan,Husain, Ali dan Fathimah dengan Kisa dan menyatakan, “wahai Allah ,mereka adalah Ahlul BaitKu dan yang terpilih .Hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka”. Ummu Salamah berkata “aku bertanya kepada Rasulullah SAW ,wahai Rasulullah SAW ,apakah aku termasuk di dalamnya? Beliau menjawab “engkau berada dalam kebaikan (tetapi tidak termasuk golongan mereka)”.

At Turmudzi menulis di bawah hadis ini ,”Hadis ini shahih dan bersanad baik ,serta hadis terbaik yang pernah dikutip mengenai hal ini”. Dari sini dapat diketahui ternyata penulis(saudara Ja’far) juga keliru ketika berkata

”Mungkin inilah yang menyebabkan tirmidzi mengatakan hadis tsb gharib yaitu karena ada tambahan kata-kata tersebut”.

Buktinya hadis di atas tetap dikatakan shahih meski terdapat kata-kata Ummu Salamah, ini jelas memperkuat pernyataan saya sebelumnya bahwa gharib yang dimaksud adalah gharib dari segi sanadnya.

Tidak hanya hadis riwayat Tirmidzi bahkan dalam hadis riwayat Ibnu Jarir dalam Tafsir Ath Thabari saudara Ja’far juga terburu-buru mendhaifkan hanya berdasarkan pendapat Ali As Salus dalam Imamah dan Khilafah. Saudara Ja’far menuliskan

Dalam ath-tabari juga ada hadis yang tidak berasal dari Athiyah yaitu : Abu Kuraib bercerita dari Khalid bin Mukhalid, dari Musa bin Ya’qub, dari Hisyam bin Uqbah bin Abi Waqqash, dari Abdullah bin Wahb bin Zam’ah, ia berkata, “Ummu salamah memberi tahu kepadaku: “Sesungguhnya Rasulullah SAW mengumpulkan Ali dan Husein kemudian beliau memasukkan ke bawah bajunya lalu berseru kepada Allah seraya berkata ‘Mereka Ahlul-Baitku!’ Maka Ummu salamah berkata, ‘Ya Rasulullah! Masukkanlah saya bersama mereka. Nabi Saw berkata, ‘Sesungguhnya kamu termasuk keluargaku.”
DR.Ali Ahmad As-Salus dalam buku “Imamah dan Khilafah” menjelaskan panjang lebar sanad hadis tersebut, bahwasanya hadis tsb dhaif yaitu terdapat Khalid bin Mukhalid yang dinilai dhaif.

Benarkah Khalid bin Mukhallid dinilai dhaif?. Dalam Hadi As Sari Ibnu Hajar Al Asqalani jilid 2 hal 163, Ibnu Hajar justru menta’dilkan Khalid bin Mukhallid Al Qatswani.

• Ibnu Hajar berkata ”Para pemuka dan guru-guru Imam Bukhari meriwayatkan hadis dari Khalid. Imam Bukhari juga meriwayatkan satu hadis darinya”.
• Menurut Al Ajli, Khalid tsiqat tapi bertasyayyu’
• Shalih bin Jazarah berkata ”Khalid itu tsiqat tetapi ia dituduh pemuja Ali yang ekstrim”.
• Menurut Ahmad, Khalid jujur tapi bertasyayyu’
• Abu Dawud juga menilai Khalid jujur tapi bertasyayyu’
• Abu Hatim berkata ”Hadisnya bisa ditulis tapi tidak bisa dijadikan hujjah”
• Ibnu Saad berkata ”Ia seorang Syiah yang berlebih-lebihan”.

Jelas sekali bahwa Khalid adalah seorang tsiqat dan jujur. Sedangkan celaan untuknya hanyalah dia tasyayyu’, dituduh pemuja Ali yang ekstrim dan seorang Syiah yang berlebih-lebihan. Oleh karena itulah Abu Hatim berkata tidak bisa dijadikan hujjah. Hal ini jelas tidak benar karena Khalid justru dijadikan hujjah oleh Bukhari dalam Shahih Bukhari. Jarh terhadap Khalid yang dituduh Syiah ekstrim atau berlebihan telah ditanggapi oleh Ibnu Hajar dengan menyatakan bahwa Khalid hanya bertasyayyu’ dan itu tidak merusak hadisnya atau tidak membahayakan.

Khalid jelas telah dinyatakan tsiqat dan jujur, oleh karenanya jarh terhadap Khalid harus disertai alasan yang kuat. Pernyataan bahwa beliau seorang Syiah jelas tidak menjatuhkan kredibilitas Beliau karena cukup banyak perawi kitab shahih yang dituduh Syiah tetapi tetap dinyatakan tsiqat atau diterima hadisnya. Jadi hadis dalam Tafsir Ath Thabari itu adalah shahih tidak dhaif seperti yang dikatakan oleh Ali As Salus dan dikutip oleh saudara Ja’far.

Mengenai hadis riwayat lain dalam Tafsir Ath Thabari yang dinyatakan dhaif oleh penulis(saudara Ja’far) karena kedudukan Athiyyah. Maka saya jawab: Athiyyah memang dikenal dhaif tetapi beliau juga dita’dilkan oleh Ibnu Saad dan Yahya bin Main. Selain itu Athiyyah adalah perawi Bukhari dalam Adab Al Mufrad dan perawi dalam kitab Sunan. Oleh karena itu pendapat yang benar tentang Athiyyah adalah hadis beliau memang tidak dapat dijadikan hujjah tetapi dapat ditulis dan dijadikan I’tibar atau riwayat pendukung.

Jadi hadis riwayat Athiyyah ini hanyalah pendukung dari riwayat lain yang shahih. Oleh karena itu tidak berlebihan jika saya menerima riwayat Athiyyah tentang Ayat Tathir ini walaupun pada saat yang lain saya tidak menerima riwayat Athiyyah(riwayat ayat tabligh misalnya, karena saya belum menemukan sanad yang shahih tentang ayat tabligh ini).

Ayat Tathir Surat Al Ahzab 33 Bukan Untuk Istri-istri Nabi SAW.

Telah dibuktikan dalam hadis-hadis shahih bahwa ayat Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33) adalah ayat yang turun sendiri terpisah dari ayat sebelum maupun sesudahnya. Hal ini bisa dilihat dari

  • Hadis Shahih Sunan Tirmidzi menyatakan Diriwayatkan dari Umar bin Abu Salamah yang berkata, “ Ayat berikut ini turun kepada Nabi Muhammad SAW, Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai Ahlul Bait dan menyucikanmu sesuci-sucinya.(QS Al Ahzab 33). Ayat tersebut turun di rumah Ummu Salamah. Dari hadis tersebut diketahui ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa penyelimutan Ahlul Bait SAW yaitu Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.
  • Hadis riwayat An Nasai dalam Khashaish Al Imam Ali hadis 51 dan dishahihkan oleh Abu Ishaq Al Huwaini Al Atsari. Diriwayatkan dari Saad bin Abi Waqqash Dan ketika ayat ‘Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.(QS Al Ahdzab 33)” turun Beliau SAW memanggil Ali,Fathimah,Hasan dan Husain lalu bersabda Ya Allah mereka adalah keluargaku”.

Hadis-hadis tersebut jelas menyatakan bahwa ayat Innamaa Yuriidullaahu Liyudzhiba ’Ankumurrijsa Ahlalbayti Wayuthahhirakum Tathhiiraa.(QS Al Ahzab 33) turun sendiri terpisah dari ayat sebelum dan sesudahnya dan ditujukan untuk Ahlul Kisa’ yaitu Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as.

Hadis Shahih Sunan Tirmidzi itu juga menjelaskan bahwa Ayat Tathir jelas tidak ditujukan untuk Istri-istri Nabi SAW. Bukti hal ini adalah

  • Pertanyaan Ummu Salamah, jika Ayat yang dimaksud memang turun untuk istri-istri Nabi SAW maka seyogyanya Ummu Salamah tidak perlu bertanya Dan apakah aku beserta mereka wahai Rasulullah SAW?. Bukankah jika ayat tersebut turun mengikuti ayat sebelum maupun sesudahnya maka adalah jelas bagi Ummu Salamah bahwa Beliau ra juga dituju dalam ayat tersebut dan Beliau ra tidak akan bertanya kepada Rasulullah SAW. Adanya pertanyaan dari Ummu Salamah ra menyiratkan bahwa ayat ini benar-benar terpisah dari ayat yang khusus untuk Istri-istri Nabi SAW.
  • Penolakan Rasulullah SAW terhadap pertanyaan Ummu Salamah, Beliau SAW bersabda “ engkau mempunyai tempat sendiri dan engkau menuju kebaikan”. Hal ini menunjukkan Ummu Salamah selaku salah satu Istri Nabi SAW tidaklah bersama mereka Ahlul Bait yang dituju oleh ayat ini. Beliau Ummu Salamah ra mempunyai kedudukan tersendiri.

Untuk meyakinkan mari kita lihat Asbabun Nuzul ayat sebelum Ayat Tathir yaitu Al Ahzab ayat 28 dan 29 “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik (28). Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasulnya-Nya serta di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar (29).

Dalam kitab Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul As Suyuthi, Beliau membawakan riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa’i yang berkenaan turunnya ayat ini, riwayat itu jelas berkaitan dengan peristiwa lain(bukan penyelimutan) dan ditujukan kepada istri-istri Nabi SAW.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Abu Bakar meminta izin berbicara kepada Rasulullah SAW akan tetapi ditolaknya. Demikian juga Umar yang juga ditolaknya. Tak lama kemudian keduanya diberi izin masuk di saat Rasulullah SAW duduk terdiam dikelilingi istri-istrinya(yang menuntut nafkah dan perhiasan). Umar bermaksud menggoda Rasulullah SAW agar bisa tertawa dengan berkata “ya Rasulullah SAW sekiranya putri Zaid, istriku minta belanja akan kupenggal lehernya”.

Maka tertawa lebarlah Rasulullah SAW dan bersabda “Mereka ini yang ada disekelilingku meminta nafkah kepadaku”. Maka berdirilah Abu Bakar menghampiri Aisyah untuk memukulnya dan demikian juga Umar menghampiri Hafsah sambil keduanya berkata “Engkau meminta sesuatu yang tidak ada pada Rasulullah SAW”. Maka Allah menurunkan ayat “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik (28) sebagai petunjuk kepada Rasulullah SAW agar istr-istrinya menentukan sikap.

Beliau mulai bertanya kepada Aisyah tentang pilihannya dan menyuruh bermusyawarah lebih dahulu dengan kedua ibu bapaknya . Aisyah menjawab “Apa yang mesti kupilih?”. Rasulullah SAW membacakan ayat Dan jika kamu sekalian menghendaki Allah dan Rasulnya-Nya serta di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar (29). Dan Aisyah menjawab “Apakah soal yang berhubungan dengan tuan mesti kumusyawarahkan dengan Ibu Bapakku? Padahal aku sudah menetapkan pilihanku yaitu Aku memilih Allah dan RasulNya”.(diriwayatkan oleh Muslim, ahmad dan Nasa’i dari Abiz Zubair yang bersumber dari Jubir)

Oleh karena itu jelas sekali kekeliruan saudara Ja’far dalam tulisannya, dimana dia berkata

“Lihatlah bahwasanya ayat-ayat sebelum (Q.S.Al-Ahzab 28-32) dan sesudah (Q.S.Al-Ahzab 34) dari ayat 33 bercerita tentang istri Nabi SAW, maka tidak mungkin secara logika ayat 33 tsb menyimpang topiknya (mengkhususkan tentang Ali, Fatimah, Hasan dan Husein) padahal ayat 33 tsb ada ditengah-tengah ayat-ayat yang bercerita tentang istri Nabi SAw. Juga salah jika dikatakan ayat 33 tsb hanya berlaku untuk istri nabi SAW padahal Ali, Fatimah, Hasan dan Husein juga termasuk didalamnya sebagaimana hadis shahih Muslim yang disebut diatas”.

Jawab saya :Berdasarkan hadis Asbabun Nuzul yang shahih maka didapati bahwa Ayat Tathir turun berkaitan dengan peristiwa lain yang tidak berhubungan dengan istri-istri Nabi SAW. Hal ini berbeda dengan ayat sebelumnya yang memang ditujukan terhadap istri-istri Nabi SAW.

Mari kita lihat Al Ahzab ayat 33 yang berbunyi ”dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (33)”. Telah jelas berdasarkan hadis Shahih Sunan Tirmidzi bahwa ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya turun khusus ditujukan untuk Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as dan bukan untuk istri-istri Nabi SAW. Jadi bisa disimpulkan kalau penggalan pertama Al Ahzab 33 memang ditujukan untuk Istri-istri Nabi SAW sedangkan penggalan terakhir berdasarkan dalil shahih turun sendiri dan ditujukan untuk pribadi-pribadi yang lain. Hal ini bisa saja terjadi jika ada dalil shahih yang berkata demikian.

Saudara Ja’far menolak hal ini dengan berkata

Jelas sekali pangkal ayat 33 tsb mengacu pada para istri Nabi SAW. Atau kata-katanya maka tidak mungkin secara logika ayat 33 tsb menyimpang topiknya (mengkhususkan tentang Ali, Fatimah, Hasan dan Husein) padahal ayat 33 tsb ada ditengah-tengah ayat-ayat yang bercerita tentang istri Nabi SAW.

Mungkin Secara logika Penulis adalah wajar jika satu ayat biasanya diturunkan secara keseluruhan. Hal ini memang benar tetapi satu ayat Al Quran juga bisa diturunkan dengan sepenggal-sepenggal dan berkaitan dengan peristiwa yang berlainan karena memang ada dalil shahih yang menunjukkan demikian. Ayat Tathir di atas jelas salah satunya. Mari kita lihat contoh lain yaitu Al Maidah ayat 3 dan 4.

Diharamkan bagimu memakan bangkai, darah, daging babi yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan diharamkan bagimu yang disembelih untuk berhala. Dan diharamkan juga mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk mengalahkan agamamu sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepadaku. Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Al Maidah ayat 3).

Penggalan Al Maidah ayat 3 yaitu Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu berdasarkan dalil yang shahih turun di arafah dan ayat ini masyhur sebagai ayat Al Quran yang terakhir kali turun. Saya akan mengutip hadis yang sebelumnya pernah ditulis oleh saudara Ja’far

Dari Thariq bin Syihab, ia berkata, ‘Orang Yahudi berkata kepada Umar, ‘Sesungguhnya kamu membaca ayat yang jika berhubungan kepada kami, maka kami jadikan hari itu sebagai hari besar’. Maka Umar berkata, ‘Sesungguhnya saya lebih mengetahui dimana ayat tersebut turun dan dimanakah Rasulullah SAW ketika ayat tersebut diturunkan kepadanya, yaitu diturunkan pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) dan Rasulullah SAW berada di Arafah. Sufyan berkata: “Saya ragu, apakah hari tsb hari Jum’at atau bukan (dan ayat yang dimaksud tersebut) adalah “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (H.R.Muslim, kitab At-Tafsir)

Dalam kitab Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul As Suyuthi berkenaan dengan Al Maidah ayat 3 membawakan riwayat Ibnu Mandah dalam Kitabus Shahabah dari Abdullah bin Jabalah bin Hibban bin Hajar dari bapaknya yang bersumber dari datuknya yaitu.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Hibban sedang menggodog daging bangkai, Rasulullah SAW ada bersamanya. Maka turunlah Al Maidah ayat 3 yang mengharamkan bangkai. Seketika itu juga isi panci itu dibuang. Riwayat ini jelas berkaitan dengan peristiwa yang berbeda dengan peristiwa hari arafah tetapi ayat yang dimaksud jelas sama-sama Al Maidah ayat 3. Dari sini bisa disimpulkan bahwa Al Maidah ayat 3 turun sepenggal-sepenggal dan penggalan “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” turun di Arafah.

Mari kita lihat Al Maidah ayat 4, Mereka menyakan kepadamu :Apakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya.(Al Maidah ayat 4).

Dalam kitab Lubab An Nuqul Fi Asbabun Nuzul, As Suyuthi berkenaan dengan Al Maidah ayat 4 membawakan riwayat Ath Thabrani, Al Hakim, Baihaqi dan lainnya bersumber dari Abu Rafi’, riwayat Ibnu Jarir dan riwayat Ibnu Abi Hatim.
Dikemukakan bahwa Adi bin Hatim dan Zaid bin Al Muhalhal bertanya kepada Rasulullah SAW ”kami tukang berburu dengan anjing dan anjing suku bangsa dzarih pandai berburu sapi, keledai dan kijang, padahal Allah telah mengharamkan bangkai. Apa yang halal bagi kami dari hasil buruan itu? Maka turunlah Al Maidah ayat 4 yang menegaskan hukum hasil buruan.(riwayat Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Said bin Jubair).

Berdasarkan riwayat-riwayat di atas Al Maidah ayat 3 dan 4 diturunkan berkaitan dengan makanan yang halal dan haram tetapi di tengah-tengah ayat tersebut terselip pembicaraan lain yaitu “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu”. Padahal telah jelas bahwa ayat ini diturunkan di arafah sebagai tanda bahwa agama Islam telah sempurna.

Lihat baik-baik Al Maidah ayat 4 turun setelah Al Maidah ayat 3 yang mengharamkan bangkai, ini dilihat dari kata-kata padahal Allah telah mengharamkan bangkai pada hadis asbabun Nuzul Al Maidah ayat 4 riwayat Ibnu Abi Hatim di atas. Oleh karena itu ketika Al Maidah ayat 3 turun mengharamkan bangkai, penggalan “Pada pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” belum turun karena Al Maidah ayat 4 turun setelah Al Maidah ayat 3 yang mengharamkan bangkai. Seandainya penggalan ini turun bersamaan dengan pengharaman bangkai maka tidak akan ada syariat lain lagi yang diturunkan karena agama Islam telah sempurna tetapi kenyataannya setelah pengharaman bangkai Al Maidah ayat 3 diturunkan Al Maidah ayat 4 tentang apa yang dihalalkan.

Pernyataan Bahwa Ayat Tathir ini dikhususkan untuk Ahlul Kisa’ saja yaitu Rasulullah SAW, Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as dan bukan untuk istri-istri Nabi SAW tidak hanya dinyatakan oleh Syiah saja. Bahkan ada Ulama Sunni yang berpandangan demikian. Ulama Sunni yang dimaksud yaitu

  • Abu Ja’far Ath Thahawi (yang terkenal dengan karyanya Aqidah Ath Thahawiyah) juga menyatakan hal yang serupa dalam karyanya Musykil Al Atsar jilid I hal 332-339 dalam pembahasannya tentang hadis-hadis Ayat Tathir dimana dia berkata ”Karena maksud sebenarnya dari ayat suci ini hanyalah Rasulullah SAW sendiri, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan tidak ada lagi orang selain mereka”.
  • Sayyid Alwi bin Thahir dalam kitab Al Qaulul Fashl jilid 2 hal 292-293 mengutip pernyataan Sayyid Ali As Samhudi yang menyatakan bahwa Ayat Tathir khusus untuk Ahlul Kisa’ dan bukan istri-istri Nabi SAW.

Kerancuan Tafsir Ayat Tathir oleh Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah dan Ali As Salus.

Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah dan Ali As Salus menyatakan bahwa Ahlul bait dalam Ayat Tathir adalah istri-istri Nabi SAW beserta Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Karena menurut mereka hadis-hadis shahih menunjukkan bahwa Ahlul Bait itu tidak terbatas pada istri-istri Nabi SAW.

Hal ini telah dikutip oleh saudara Ja’far dalam tulisannya

Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata bahwa sesungguhnya ayat ini adalah dalil masuknya para istri Nabi SAW dalam ahlul bait karena merekalah yang menjadi sebab turunnya ayat. Dan menurut pendapat shahih, yang termasuk ahlul bait itu adalah mereka ditambah dengan yang lainnya. (Tafsir Ibnu Katsir)

dan saudara Ja’far juga mengutip Ali As Salus

Menurut DR.Ali Ahmad As-Salus, Q.S.Al-ahzab ayat 33 tsb berlaku umum yaitu bukan hanya untuk istri nabi saw, tetapi juga untuk Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Jika ayat 33 tsb hanya untuk istri nabi saw maka harusnya digunakan kata jamak perempuan (muannats) yaitu ‘ankunna dan yuthohhirokunna. Alasan mengapa dalam ayat 33 ini digunakan kata jamak laki-laki (Mudzakkar) yaitu ‘ankum (darimu) dan yuthohhirokum (menyucikanmu) adalah karena dalam ayat tsb juga mengacu kepada Ali, Hasan dan Husein. karena Karena jika bentuk Mudzakkar (mengacu pada Ali, Hasan dan Husein) dan Muannats (mengacu Istri-istri Nabi dan Fatimah) berkumpul maka yang digunakan bentuk Mudzakkarnya. Waallahu’alam bishowab.

Kemudian ketika menafsirkan Ayat tathir tersebut saudara Ja’far menuliskan

Q.S.Al-Ahzab 33 ini juga tidak menyatakan kemaksuman ahlul bait.
“…Allah bermaksud HENDAK menghilangkan dosa dari kamu..” (Q.S.Al-Ahzab 33).
Ayat ini bukanlah bercerita tentang penghapusan dan penyucian dosa ahlul bait. Ayat ini menyatakan keinginan Allah agar ahlul bait suci dan terpelihara dari dosa karena mereka diutamakan oleh Allah. Lihatlah ayat 30-32, dalam ayat ini Allah sangat memperhatikan mereka (istri nabi saw) sehingga bila mereka berbuat dosa maka mereka akan mendapatkan siksaan dua kali lipat dan bila mereka taat maka mereka akan mendapat pahala dua kali lipat. Mereka tidak sama dengan wanita lain jika mereka bertakwa.

Dimana letak kerancuannya? Saudara Ja’far ketika menafsirkan ayat tathir beliau mengaitkan kesucian itu dengan ayat sebelumnya. Dia menulis

Lihatlah ayat 30-32, dalam ayat ini Allah sangat memperhatikan mereka (istri nabi saw) dan kata-kata Mereka tidak sama dengan wanita lain jika mereka bertakwa.

Seandainya kita berusaha menafsirkan Ayat Tathir dengan melihat ayat-ayat sebelumnya, seperti yang dikatakan saudara Ja’far

Ayat ini menyatakan keinginan Allah agar ahlul bait suci dan terpelihara dari dosa karena mereka diutamakan oleh Allah.

Berarti kesucian dalam Ayat Tathir itu berkaitan dengan syariat Allah yang ditetapkan oleh ayat sebelumnya atau jika pribadi-pribadi yang dimaksud dalam Ayat Tathir itu melaksanakan ketentuan-ketentuan Allah pada ayat-ayat sebelumnya maka mereka akan mendapat kesucian yang dikehendaki allah SWT untuk mereka. Nah letak kejanggalannya adalah Ketentuan yang dimaksud itu adalah

• Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik
• Hendaklah kamu tetap di rumahmu
• Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu
• Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta’atilah Allah dan Rasul-Nya.

Semua ketentuan ini selain yang terakhir adalah ketentuan khusus wanita dalam hal ini istri-istri Nabi SAW, jadi bagaimana bisa itu dikaitkan dengan Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain. Padahal jelas sekali Ibnu Katsir, Ibnu Taimiyyah, Ali As Salus menyatakan bahwa mereka juga termasuk Ahlul Bait dalam ayat tersebut dan ini yang dikutip oleh saudara Ja’far.

Bukankah dia saudara Ja’far menulis

Juga salah jika dikatakan ayat 33 tsb hanya berlaku untuk istri nabi SAW padahal Ali, Fatimah, Hasan dan Husein juga termasuk didalamnya sebagaimana hadis shahih Muslim yang disebut diatas.

Lalu apa sebenarnya makna kesucian bagi Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain?.

Mungkin saudara Ja’far akan berkata seperti yang dia kutip dari Ibnu Taimiyyah,

Ibnu Taimiyah berkata bahwa ayat ke-33 surat Al-Ahzab bukanlah berita tentang penghapusan dan penyucian dosa ahlul bait. Dalam ayat ini justru terdapat perintah yang wajib dilaksanakan oleh Ahlul Bait (Al-Muntaqa)..yaitu perintah untuk menjaga kesucian diri dari dosa-dosa.

Maka kita dapat bertanya dari mana dalilnya bahwa perintah yang dimaksud untuk Ahlul Bait itu adalah perintah untuk menjaga kesucian diri dari dosa-dosa. Apakah anda melihat perintah Allah dalam ayat Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan mensucikan kamu sesuci-sucinya.(QS Al Ahdzab 33). Jelas tidak ada perintah apapun dalam ayat ini, kemudian apakah anda akan berkata bahwa perintah itu ada pada ayat-ayat sebelumnya. Kalau begitu maka kerancuannya juga sama, perintah pada ayat sebelumnya jelas perintah khusus untuk wanita. Lantas apa kaitannya dengan Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain.

Kemudian saudara Ja’far menuliskan

Jumhur ulama AhluSunnah tidak setuju bahwa Ahlul Bait Nabi SAW hanya terbatas pada keturunan Fatimah r.a.

Jawab saya: saya tidak tahu darimana dalilnya pernyataan ini. Padahal telah jelas dari Rasulullah SAW bahwa Ahlul Bait Nabi SAW adalah Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as. Jika istri-istri Nabi SAW, keluarga Aqil, Ja’far dan Abbas juga disebut Ahlul Bait maka sebutan itu adalah dari segi bahasa saja yaitu mereka memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi SAW. Sedangkan istilah Ahlul Bait yang berkaitan dengan keutamaan mereka jelas ditujukan kepada Sayyidah Fatimah as, Imam Ali as, Imam Hasan as dan Imam Husain as beserta keturunan Sayyidah Fathimah as yang memiliki nasab dengan Nabi SAW.

Bahwa Rasulullah SAW bersabda”Setiap Sebab dan Nasab akan putus pada hari kiamat kecuali Sebab dan NasabKu”.(Hadis riwayat Hakim dalam Al Mustadrak jilid III hal 142,Thabrani, Al Haitsami dalam Al Majma Az Zawaid jilid 9 hal 173 dimana Rijalnya(perawinya) tsiqat dan hadis dalam Siyar A’lam An Nubala jilid III hal 500. Hadis ini telah dinyatakan shahih oleh Hasan As Saqqaf dalam Shahih Sifat Shalat An Nabiy).

Kemudian penulis mengutip pernyataan Al Hakim

Bahkan, Al-Hakim, ulama dan ahli hadis AhluSunnah yang banyak meriwayatkan hadis keutamaan-keutamaan Ali tidak pernah menganggap ahlul bait seperti dalam pemahaman Syi’ah. Al-Hakim berkata, “Yang dimaksud dengan ahlul bait disini adalah ulama yang mengamalkan ilmunya karena mereka adalah orang-orang yang tidak meninggalkan Al-Qur’an. Adapun orang yang bodoh, atau orang alim yang bercampur dengan kemaksiatan, mereka itu adalah orang yang asing dalam posisi ini.”

Jelas sekali Syiah ketika berbicara tentang Ahlul Bait adalah mereka yang dimuliakan Allah SWT dalam hadis Tsaqalain dan Ayat Tathiir dan pernyataan mereka dalam hal ini memiliki dalil yang kuat.

Sedangkan pernyataan Al Hakim(jika benar dia berkata seperti itu, pernyataan ini sebenarnya ada dalam Imamah dan Khilafah Ali As Salus) bahwa Ahlul Bait adalah ulama yang mengamalkan ilmunya karena mereka adalah orang-orang yang tidak meninggalkan Al Quran jelas membutuhkan dalil dari mana dasarnya itu, kalau Cuma sekedar pendapat yang didasari dugaan bahwa ulama adalah orang yang tidak meninggalkan Al Quran maka ini tidak bisa menjadi hujjah sama sekali. Ulama adalah orang yang berusaha untuk tidak meninggalkan Al Quran bukan orang yang selalu bersama dengan Al Quran. Ada bedanya itu.

Atau tulisan saudara Ja’far bahwa

Asy-Syarif berkata, “Hadis ini memberikan pengertian tentang adanya orang dari ahlul bait yang suci yang pantas dijadikan pedoman dalam setiap masa sampai hari kiamat. Begitu juga Al-Qur’an. Oleh karena itu, mereka mendatangkan kesejahteraan terhadap penduduk bumi. Dan jika mereka pergi, maka hilanglah ketentraman penduduk bumi”.

Hadis yang dimaksud adalah hadis tsaqalain dan anehnya justru pengertian Asy Syarif seperti ini menjadi hujjah bagi Syiah bahwa harus berpegang dan berpedoman kepada Imam-imam Ahlul Bait as. Kalau ditujukan kepada Sunni maka saya dapat bertanya memangnya siapa diantara ahlul bait suci yang dijadikan pedoman dalam setiap masa oleh Sunni?. Salam damai

 

10. Kritik Terhadap Distorsi Hadis Tsaqalain

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “Wahai manusia sesungguhnya Aku meninggalkan untuk kalian apa yang jika kalian berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat ,Kitab Allah dan Itrati Ahlul BaitKu”.(Hadis riwayat Tirmidzi, Ahmad, Thabrani, Thahawi dan dishahihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albany dalam kitabnya Silsilah Al Hadits Al Shahihah no 1761).

Hadis diatas adalah hadis Tsaqalain, disebut Tsaqalain karena berarti dua peninggalan yang berat, berharga atau dua pusaka. Hadis ini menjelaskan tentang wasiat Rasulullah SAW kepada umatnya agar tidak sesat dengan cara berpegang teguh kepada Al Quran dan Itrati Ahlul Bait Rasul as. dan Kedua hal tersebut yang dimaksud dengan At Tsaqalain atau dua peninggalan yang berharga. Kebanyakan dari umat muslim lebih sering mendengar hadis dengan redaksi yang berbeda yaitu

Bahwa Rasulullah SAW bersabda “wahai sekalian manusia sesungguhnya Aku telah meninggalkan pada kamu apa yang jika kamu pegang teguh pasti kamu sekalian tidak akan sesat selamanya yaitu Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya”(Hadis riwayat Malik dalam Al Muwatta dan Al Hakim dalam Al Mustadrak As Shahihain)

Dalam pembahasan sebelumnya sudah dibuktikan bahwa hadis ini memiliki sanad yang dhaif dan yang lebih shahih adalah hadis dengan redaksi wa itraty ahlul baity atau hadis Tsaqalain. Walaupun pada dasarnya Kitabullah dan Sunah Rasulullah SAW adalah dua sumber hukum yang mutlak bagi umat Islam dan hal ini telah ditetapkan dengan dalil yang qathi dari Al Quranul Karim. Sebenarnya tidak diragukan lagi bahwa hal ini bersifat pasti kebenarannya, tetapi yang ingin ditekankan disini bahwa Rasulullah SAW telah berpesan kepada umatnya untuk berpegang teguh kepada Kitabullah dan Ahlul Bait Rasul as, karena redaksi inilah yang sanadnya shahih Sedangkan redaksi Kitabullah dan Sunah RasulNya memiliki sanad yang dhaif .

Berkenaan dengan hadis Tsaqalain terdapat beberapa ulama yang meragukannya atau mengkritik hadis ini dan menyatakan bahwa hadis ini tidak shahih, ulama yang dimaksud adalah

• Ibnu Jauzi dalam kitabnya Al-’llal al-Mutanahiyah fi al-Ahadits al-Wahiyah
• Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Minhaj As Sunnah Nabawiyah
• Ali As Salus dalam kitabnya Imamah dan Khilafah

Tulisan ini ditujukan untuk menanggapi pernyataan ulama-ulama tersebut dan untuk menegaskan bahwa hadis Tsaqalain adalah hadis yang shahih, jadi bisa dikatakan kalau tulisan ini adalah bantahan terhadap ulama-ulama tersebut. Sebelumnya perlu ditegaskan terlebih dahulu bahwa ulama-ulama ini sebenarnya menolak hadis Tsaqalain yang memiliki redaksi berpegang teguh pada Al Quran dan Ahlul Bait, tetapi Mereka menyatakan shahih hadis Tsaqalain dengan riwayat dalam Shahih Muslim, Sunan Ad Darimi dan Musnad Ahmad berikut

Shahih Muslim juz 2 hal 279
Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam ra, ia berkata pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato,maka beliau memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan.
Kemudian Beliau bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu.Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “ dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.”

Sunan Ad-Darimi juz 2 hal 431
Diriwayatkan dari Zaid bin Arqam ra, ia berkata pada suatu hari Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami di sebuah tempat yang bernama Ghadir Khum seraya berpidato,maka beliau memanjatkan puja dan puji atas Allah SWT, menyampaikan nasehat dan peringatan.
Kemudian Beliau bersabda “Ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia. Aku merasa bahwa utusan Tuhanku (malaikat maut) akan segera datang dan Aku akan memenuhi panggilan itu.Dan Aku tinggalkan padamu dua pusaka (Ats-Tsaqalain). Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Beliau melanjutkan, “ dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.”

Musnad Ahmad jilid IV hal 266
Dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah SAW bersabda “dan saya meninggalkan bagimu dua hal. Pertama Kitabullah yang didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya maka jadikanlah dia sebagai pedoman dan berpegang teguhlah kepadaNya”,Beliau SAW menghimbau untuk berpegang teguh kepada Al Quran dan Beliau SAW berkata”dan Ahlul BaitKu.Saya ingatkan kamu tentang Ahlul BaitKu”.

Sebenarnya hadis-hadis ini saja sudah cukup untuk membenarkan hadis Tsaqalain yang menyatakan keharusan berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait, tetapi ulama-ulama tersebut menafsirkan bahwa yang dimaksudkan tentang Ahlul Bait ini adalah bersikap baik dengan mencintai dan menjaga hak–hak Ahlul Bait. Mereka menolak penafsiran hadis ini bahwa yang dimaksud Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait adalah berpegang teguh kepada Ahlul Bait karena tidak ada kata-kata yang jelas menunjukkan hal tersebut dalam hadis –hadis diatas.

Alasan bahwa tidak ada kata-kata yang jelas pada hadis-hadis di atas yang menunjukkan keharusan berpegang kepada Ahlul Bait merupakan alasan yang rancu. Hal tersebut dikarenakan alasan ini juga dapat ditujukan untuk menolak anggapan mereka bahwa yang dimaksud tentang Ahlul Bait ini adalah bersikap baik dan menjaga hak- hak Ahlul Bait. Karena juga tidak ada kata-kata yang jelas menunjukkan hal tersebut dalam hadis-hadis diatas.

Walaupun tidak ada kata-kata yang jelas dalam hadis-hadis diatas tentang apa sebenarnya maksud kata-kata Rasulullah SAW “ dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.” .Tetapi kata-kata ini bisa dimengerti sebagai isyarat yang menunjukkan keharusan berpegang teguh kepada Ahlul Bait, merujuk kepada arti Ats Tsaqalain yang berarti dua peninggalan yang berharga atau berat. Dari hadis tersebut Rasulullah SAW menyuruh umat Islam untuk berpegang teguh kepada Al Quran dari kata-kata “ Yang pertama Kitabullah (Al-Quran) di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya,maka berpegang teguhlah dengan Kitabullah”. Kemudian Rasulullah melanjutkan dengan kata-kata “ dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.”.

Bukankah pesan ini adalah lanjutan dari pesan sebelumnya tentang berpegang teguh kepada Al Quran, dari sini dapat dilihat bahwa pesan Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait atau hal yang dimaksud peringatan Rasulullah SAW tentang Ahlul Bait adalah sama seperti dengan apa yang Beliau SAW nyatakan tentang Al Quran sebelumnya yaitu keharusan untuk berpegang teguh kepada keduanya. Hanya itu yang bisa disimpulkan kalau merujuk dengan hadis diatas saja. Dan dapat dimengerti kenapa Rasulullah SAW tidak menggunakan kata-kata yang jelas “berpegang teguh kepada Ahlul Bait” karena pengertian ini sudah tercakup dalam pesan Rasulullah SAW sebelumnya tentang Al Quran.

Sedangkan dakwaan mereka yang beranggapan bahwa yang dimaksud tentang Ahlul Bait adalah bersikap baik dan menjaga hak-hak Ahlul Bait maka dakwaan seperti inilah yang memerlukan kata-kata yang jelas oleh karena hal ini tidak tersirat dari pesan sebelumnya.

Dengan kata lain jika pesan Rasulullah SAW yang dimaksudkan tentang Al Quran dan Ahlul Bait itu berbeda maksudnya maka seharusnya terdapat kata-kata yang jelas yang membedakannya, tetapi Rasulullah SAW hanya mengatakan “dan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu, kuperingatkan kalian akan Ahlul BaitKu.”. Oleh karena tidak ada kata-kata yang jelas itulah yang menunjukkan bahwa pesan Rasulullah SAW tentang Al Quran dan Ahlul Bait itu adalah sama yaitu peringatan untuk berpegang teguh kepada keduanya.

Apalagi pada kenyataannya terdapat banyak hadis yang menggunakan kata-kata yang jelas tentang kewajiban berpegang teguh kepada Al Quran dan Ahlul Bait, hadis-hadis inilah yang dinyatakan dhaif atau tidak shahih oleh mereka yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Pendapat ini jelas tidak benar dan akan dibuktikan bahwa pernyataan mereka tersebut adalah keliru.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s