KISAH-KISAH SURAT AL-FATIHAH (5)

KISAH-KISAH SURAT AL-FATIHAH (5)

(Oleh: Ali Mirkhalaf Zadeh)

SEBUAH CONTOH DARI SEORANG HAMBA

 

Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.

 

Seorang saleh pergi ke pasar untuk membeli seorang budak. Ketika penjual menawarkan budak padanya, dia bertanya pada budak itu, “Siapa namamu?”

Si budak berkata, “Namaku fulan.”

Orang saleh itu bertanya kembali, “Apa pekerjaanmu?” Dia menyebutkan pekerjaannya. Si pembeli berkata kepada si penjual budak, “Saya tak ingin budak ini, bawakan budak lain.”

Ketika dibawakan budak lain, si pembeli bertanya kepada si budak, “Siapa namamu?”

Si budak menjawab, “Akan saya terima nama apasaja yang Anda berikan pada saya.” Si tuan bertanya, “Apa yang kau makan?” “Saya akan makan apasaja yang Anda berikan pada saya.” “Model pakaian bagaimana yang kau suka?” Si budak berkata, “Segala pakaian yang Anda berikan pada saya.” Si tuan bertanya, “Apa pekerjaanmu?” “Segala yang Anda perintahkan.” “Apa yang kau pilih?” “Saya adalah seorang hamba sahaya, bukankah hamba sahaya tak mampu berbuat apa-apa?” Si tuan berkata, “Inilah hamba sejati, hamba seperti inilah yang harus dibeli.”

Hendaknya kondisi kita dengan Tuan kita, Allah Swt, sama seperti hamba tersebut; benar-benar mengakui kalau diri kita hanyalah seorang hamba.

 

Hamba yang tak patuh pada tuannya

Takkan mendapat bekal apa-apa

Siapasaja yang makan dari hasil jerih payahnya

Takkan menguasai milik orang lain

Kasihan orang yang ingin sehat jasmaninya

Sementara tidak mau mengobati ruhaninya

Orang berakal yang menjadikan akal sehatnya

Sebagai penuntun jalannya

Takkan menggantikan akhirat dengan dunianya

Orang yang mengenal Tuhan serta dirinya

Takkan pernah mencintai dunia untuk selamanya

 

 

TANGGUNG JAWAB SEORANG HAMBA

 

Di antara bani Israil terdapat seorang abid yang mengisolasi diri dari masyarakat dan menghabiskan waktunya selama 70 tahun untuk beribadah.

Allah Swt lalu mengutus malaikat-Nya untuk berkata padanya, “Semua ibadahmu tak diterima dan jangan kau lemparkan dirimu dalam kesulitan dan sesuatu yang sangat berat, sementara engkau sendiri tak mau berusaha sama sekali.”

Si abid berkata, “Sesuatu yang harus kulakukan adalah penghambaan. Oleh karena itu, aku harus selalu melakukan tugasku sebagai seorang hamba; masalah diterima atau tidaknya itu berkaitan dengan Sesembahanku!”

Ketika malaikat itu kembali, Allah Swt menanyakan keadaannya, “Apa yang dikatakan hamba-Ku?”

Malaikat itu berkata, “Ya Allah, Engkua jauh lebih mengetahui apa yang telah dikatakan hamba-Mu.”

Allah Swt berkata, “Pergilah kepada hamba-Ku itu dan katakan padanya, ‘Kami telah menerima semua ketaatanmu karena niatmu yang tegar dalam penghambaan.'”

 

Ya Rab, wahai Yang Mahakuasa lagi Penguasa semesta

Engkaulah Pemilik sejati, sumber semua kebaikan dunia

Sungguh kugantungkan harapanku pada-Mu

Meski tubuhku membungkuk karna beban dosa

Semua akal tak kuasa mengetahui esensi-Mu

Kamipun tak layak menyifati dan menjelaskan perihal-Mu

Akulah hamba yang lari dan Engkau Maula Yang sudi menerima

Aku tenggelam dalam dosa tapi Kau beri aku perlindungan

Aku hamba hina sedang Engkau Yang Mahamulia, suci, lagi murahhati

Pengemis ini, hamba lemah, sedang Engkau Mahakuat lagi Berkuasa

(Nashir) tidaklah bersandar kepada selain Allah

Hanya Dialah yang benar-benar mampu menolongnya

 

(Nashir Anshari Isfahani)

 

 

SURAT UNTUK TUHAN

Diberitakan kepada Harun al-Rasyid bahwa ada beberapa penyamun yang menghalangi perjalanan para kafilah dan menjalankan aksi perampokan serta pembunuhan. Bahkan mereka juga mengganggu beberapa kafilah yang terdiri dari para jamaah haji dan peziarah ke Baitullah al-Haram.  Harun lantas memerintahkan para petugas istana agar memperlakukan mereka dengan keras serta menahan mereka semua.

Setelah kerja keras, para petugas istana Harun berhasil menangkap mereka semua, dan mereka mengutus salah seorang di antara mereka untuk memberitahukan hal itu kepada Harun serta melaporkan bahwa jumlah para penyamun yang berhasil mereka tangkap adalah sepuluh orang.

Para petugas istana lantas bergerak menuju Baghdad bersama para penyamun itu. Malam harinya, mereka singgah di suatu tempat dan siang harinya melanjutkan perjalanan. Kebetulan, di salah satu malam, ketika mereka hendak beristirahat, meskipun para petugas bergantian menjaga agar para penyamun itu tidak melarikan diri, ketika waktu beranjak pagi ternyata yang mereka dapati hanyalah sembilan orang; satu orang di antara mereka telah melarikan diri. Meski mereka telah berusaha mencarinya ke semua tempat, namun tidak membuahkan hasil.

Dari satu sisi, jumlah mereka sudah diketahui Harun dan apabila sekarang mereka hanya membawa sembilan orang, maka Harun akan berkata, “Penyamun yang melarikan diri itu telah menyuap para petugas!”

Ringkasnya, para petugas istana itu bingung dan berhenti di tengah jalan. Mereka lantas melihat seorang lelaki tua kembali dari ibadah haji, karena itu mereka langsung mengikat kedua tangannya. Meski berusaha bertanya apa masalah yang sebenarnya, mereka menjawab, “Kami kekurangan satu orang.” Akhirnya, dia pun dibawa bersama sembilan orang lainnya menuju kota Baghdad untuk diserahkan kepada Harun, lalu dijebloskan ke dalam penjaranya.

Para penyamun itu menulis surat dari penjara kepada relasi-relasi dan kerabat-kerabatnya serta meminta bantuan mereka. Relasi-relasi sembilan pencuri yang sebenarnya dan memiliki kedudukan di istana Harun itu langsung bekerja keras, sehingga dalam tempo dua hari mereka dibebaskan dan melanjutkan kembali profesi mereka sebagai penyamun.

Hanya lelaki tua yang baru kembali dari tanah suci dan tidak berdosa itu yang masih mendekam dalam penjara. Penjaga penjara merasa kasihan kepadanya dan berkata, “Tulislah surat kepada relasi-relasimu sebagaimana sahabat-sahabatmu yang lain yang telah menulis surat kepada relasi-relasi mereka dan meminta bantuan untuk kebebasan sehingga akhirnya mereka dibebaskan. Ingatlah, siapa tahu engkau memiliki seorang sahabat yang dapat membebaskanmu dari penjara.”

Lelaki tua itu berkata, “Benar, aku punya seorang sahabat dan tolong beri aku pena dan kertas.”

Penjaga penjara itu memberikan apa yang diminta lelaki tua itu padanya dan lelaki tua itu pun mulai menulis, “Dari hamba yang hina kepada Tuhan yang Mahamulia.” Setelah itu, dia berikan surat tersebut kepada penjaga penjara dan memintanya agar menaruhnya di atas atap penjara. Si penjaga penjara menuruti kemauan lelaki tua itu dan menaruhnya di atas atap penjara. Kemudian dia kembali masuk ke penjara dan bertanya kepada lelaki tua itu, “Aku sudah menaruhnya di atas atap penjara dan surat itu terbang dibawa angin.”

Lelaki tua itu berkata, “Baiklah, berarti surat itu akan sampai ke sahabatku.”

Di suatu malam, ketika Harun sedang beristirahat di atas tempat tidurnya, di dalam mimpinya ada seseorang berkata padanya, “Seorang lelaki tua yang merupakan salah seorang hambaku yang tak melakukan kesalahan tengah berada dalam penjaramu. Malam ini juga engkau harus membebaskannya dengan hormat, dan kalau tidak kau lakukan, engkau dan istanamu akan mendapat bencana.”

Harun al-Rasyid terjaga dari tidurnya dan memerintahkan mentrinya untuk menjenguk lelaki tua itu di dalam penjara. Lelaki tua itu pun dikeluarkannya dari penjara dan dibawa menghadap Harun.

Harun melihat lelaki tua yang sangat fasih itu dan bertanya kepadanya perihal masuknya dia ke dalam penjara. Lelaki tua itu berkata, “Saya sendiri tidak tahu mengapa mereka menangkap saya. Mereka hanya mengatakan kalau kami kekurangan satu orang. Telah beberapa hari saya mendekam di dalam penjara.”

 

 

PENGHAMBAAN KEPADA TUHAN

Abu Nasr Samani adalah menteri Sultan Thughrul (raja dinasti Saljuqi). Dia memiliki kebiasaan, setelah shalat Subuh, sambil duduk di atas sajadahnya dia membaca wirid, zikir, dan doa hingga terbit matahari, setelah itu barulah dia menghadap sang sultan.

Suatu hari, ketika matahari belum terbit, sang sultan memerintahkan beberapa utusannya ke tempatnya, “Katakan padanya untuk segera menghadap karena ada masalah yang sangat penting.”

Para utusan raja itu pun datang ke tempatnya dan memintanya untuk segera menghadap sang raja.             Karena doa-doa dan wiridnya belum selesai, si mentri itu tidak memedulikan perintah sang raja dan terus melanjutkan doa dan munajatnya. Para petugas istana kembali dan menyampaikan kepada sang raja perihal acuh tak acuhnya sang mentri terhadap perintah sang raja. Ketika dirasa semua wiridnya usai, si wazir langsung menghadap sang raja. Dengan marah sang raja berkata, “Ada apa sebenarnya sehingga engkau tidak peduli pada perintahku? Kenapa tak segera datang menghadap saat perintahku sampai padamu?”

Si wazir berkata, “Wahai raja, saya adalah hamba Allah dan pembantu Anda, ketika penghambaan saya (kepada Allah) belum selesai, maka saya takkan menjalankan tugas saya sebagai pembantu Anda.” Kalimat ini sangat menyentuh perasaan sang raja sehingga memaksanya untuk menangis dan memuji si wazir sambil berkata, “Dahulukanlah penghambaan kepada Allah daripada membantu kami, agar dengan barakah penghambaan itu kerajaan kita akan tetap berdiri tegak.”

Bahagialah orang yang mengenal dunia

            Yang dapat melihat makhluk di zamannya selain Tuhan

            Yang tak memberi kekuatan cipta dan penghambaan pada para hamba

Jadilah dia manusia bebas dan mulia

Bila kepiting tak minum air bercampur lumpur karna kesalahan

Maka sebentar lagi sumber mataair Allah akan mengalir

Di suatu alam yang merupakan ladang bagi akhirat

Akan tertabur benih kebaikan yang membuahkan hasil

Untuk menahan nafsu dan membela akal

Siapkanlah pedang jihad akbarmu!

(Nashir Anshari)

 

 

HAMBA SAHAYA DENGAN ALLAH

Abdullah Mubarak berkata:

Saya pergi ke pasar budak dengan tujuan membeli seorang budak. Di sana saya melihat seorang budak yang sangat lemah dan kurus, namun di wajahnya tampak tanda-tanda kebaikan. Saya menanyakan harga budak itu kepada pemiliknya yang kemudian berkata, “Budak ini takkan berguna bagi Anda; dia selalu menghabiskan malam harinya dengan menangis dan merintih.”

Saya berkata, “Tidak masalah, saya akan membelinya.” Akhirnya, budak itu saya beli dengan harga sangat murah dan saya berkata kepadanya, “Ayo, kita ke rumah, karena aku telah membelimu.”

Dia berkata, “Saya akan mematuhi semua perintah Anda di siang hari, tetapi janganlah berurusan dengan saya di malam hari.”

Saya menerima syaratnya dan kami pun pulang ke rumah. Saya telah sediakan satu kamar untuknya. Di tengah malam, saya bangun dari tidur dan hendak mengetuk pintu si budak untuk mengetahui perihalnya.

Ketika melihat pintu kamarnya, saya melihat pancaran sinar dari dalam kamarnya berpendar ke langit dan memenuhi ruangan kamarnya. Sementara, si budak itu sendiri sedang asyik bermunajat kepada Allah Swt dan menampakkan kelemahan serta kebutuhannya di hadapan Sang Khalik. Dia berkata, “Ya Allah, setiap orang mengharapkan dunia dari-Mu, tetapi aku lebih memilih akhirat. Ya Allah, setiap orang mengharap harta dari-Mu, tetapi yang kuinginkan adalah jangan sampai aku malu di hadapan Rasul-Mu, esok pada hari kiamat…”

Saya berdiri di belakang pintu kamarnya itu sambil tercengang hingga pagi hari ketika si budak keluar dari kamarnya. Saya bersimpuh di hadapannya sambil berkata, “Aku tidak mengenalmu sebelumnya, maafkanlah aku dan jadikanlah aku sebagai budakmu. Engkau bebas, tetapi terimalah aku sebagai budakmu.”

Si budak langsung bersujud dan berkata, “Ya Allah, inilah tuan kecilku yang telah membebaskanku… Engkau adalah Tuan Besarku, maka bebaskanlah daku dan bawalah aku ke sisi-Mu…”

Belum lagi mengangkat kepalanya dan masih dalam keadaan bersujud serta bermunajat, dia telah menghembuskan nafas untuk yang terakhir kalinya.1

 

 

BUDAK YANG GEMBIRA

Salah seorang ulama besar melihat seorang budak sangat gembira sekali di musim kemarau. Dia berkata kepadanya, “Apakah engkau tidak melihat kalau semua orang berada dalam kesusahan dan tertekan? Apakah engkau tidak memiliki perasaan yang sama?”

Si budak berkata, “Saya tidak bersedih, karena saya memiliki tuan yang gudangnya penuh gandum; dia bisa mencukupiku.”

Tiba-tiba, orang besar itu memukul kepalanya dan berkata kepada dirinya sendiri, “Pernahkah seumur hidupmu satu kali saja kamu memiliki perasaan yang sama terhadap Tuhanmu dan kamu menganggap-Nya sebagai yang mampu mencukupi segala kebutuhanmu?”

Tuhanku, dengan kebenaran Zat-Mu Yang Mahakuasa

            Pandanglah hamba-Mu yang miskin papa ini

            Kepada kegelisahan para pecinta yang merintih

            Yang bingung di jalan kekasihnya

            Kepada mereka yang hidup dalam kegelisahan

            Selalu memohon di jalan-Mu

            Kepada mereka yang menapak di jalan ketakwaan

            Kepada para zuhud yang selalu menyeru-Mu

            Kepada kejujuran para hamba yang berada di jalan-Mu

            Kepada keikhlasan mereka yang tak berdosa

            Ampunilah aku yang bergelimang kemaksiatan

            Yang tlah menemui jalan buntu

            Wahai Tuhanku, maksiatku menumpuk

            Aku menyesal, aku menyesal

            Akulah hamba yang hina dan gelisah

            Engkaulah Tuhan yang Mahamulia

            Akulah pendosa, Engkaulah Penghapus segala dosa

            Akulah pelaku maksiat, Engkaulah Penutup segala aib

            Janganlah Kau singkap semua perbuatan burukku

            Meskipun perbuatan dan nasibku buruk

            Dengan kemurahan hati dan kasih sayang

            Kupalingkan wajahku dengan penuh penyesalan

            Karna aku (Nashir) tenggelam dalam lautan dosa

            Janganlah Kau lihat diriku karna perbuatanku

 

 

HAMBA SAHAYA DAN TUAN

Seseorang berkata:

Pada suatu hari, aku berbincang-bincang dengan seorang budak dan pembicaraan itu sangat membekas di hati saya. Saya melihatnya mengenakan pakaian tipis di musim dingin. Saya bertanya padanya, “Kenapa engkau tidak mengenakan pakaian yang lazim?”

Dia berkata, “Saya tidak punya.”

Saya berkata, “Kenapa engkau tidak memintanya kepada seseorang?”

Si budak berkata, “Seorang hamba tak berhak meminta sesuatu kepada selain tuannya.”

Saya berkata, “Engkau benar, kenapa tak kau minta kepada tuanmu?”

Dia berkata, “Tuan saya sudah melihat keadaan saya, kalau dia memang ingin membantu, sudah pasti dia memberikan itu.”

Saya mengerti kalau jalan yang ditempuh budak ini adalah jalan penghambaan di sisi Tuan Sejati (Allah Swt).

Bahagialah orang yang memohon

            Yang selalu mengultuskan Allah pagi dan sore

            Dia menuju karunia Yang Mahaesa dengan kezuhudan

            Dalam penghambaan terdapat jalan menuju Tuhan

            Dia bersihkan rumah hati dari noda dosa

            Terpancar di hatinya cahaya Allah yang terang-benderang

            Karna seringnya bersujud di sisi al-haq

            Wajahnya menjelmakan cahya-Nya yang sangat terang

            Dia langkahkan kaki di sahara fana dengan kepercayaan

            Di benaknya ada kecintaan terhadap Kabah tujuannya (Tuhan)

            Tubuhnya menjadi pohon tak berbuah karna takut kepada-Nya

            Plasma hatinya juga memiliki potensi dan makanan

            Wahai Tuhanku, tiada penerima tamunya selain diri-Mu

            Zikir seperti ini memiliki penawar di setiap rasa sakitnya

            Asap penderitaannya kan melambung tinggi

            Seiring dengan harapan akan ampunan Ilahi

                                                                                                            (Hijazi)

 

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Tafsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s