KEUTAMAAN SURAT AL-FATIHAH (3)

KEUTAMAAN SURAT AL-FATIHAH (3)

(Oleh: Ali Mirkhalaf Zadeh)

CAHAYA LAMPU

Agha Hasyimi Zadeh al-Ishfahani adalah salah seorang penyair dan pemuji Ahlul Bait—salam atas mereka—yang masyhur di Isfahan, juga salah seorang kawan saya dan ayah seorang syahid. Beliau menuturkan:

Pada masa muda, saya memiliki kawan kerja yang telah mengisahkan sebuah cerita kepada saya, yang dia dengar dari salah seorang kawan. Meski sulit sekali bagi saya untuk langsung mendengar dari lisannya sendiri, suatu saat saya berkesempatan bertemu beliau dan saya berkata, “Saya sudah pernah mendengar cerita seperti ini dari kawan-kawan, tapi sekarang saya ingin mendengarnya langsung darimu.”

            Dia pun menuturkan:

Saat masih muda, kami berempat selalu membawa gandum dari lumbung padi dengan delman dan gerobak sapi. Suatu malam, kami membawa gandum dengan gerobak dan saat itu kami melintas di pemakaman Takht-e Fulâd. Tiba-tiba, tampak cahaya lampu yang menyita perhatian kami.

            Saya berkata kepada diri saya sendiri, “Aku akan bawa pulang lampu ini ke rumah. Orang-orang yang sudah meninggal tidak perlu penerangan; mereka sudah mati. Kami orang-orang yang masih hiduplah yang perlu penerangan, apalagi di rumah kami tidak ada lampu.”

            Kebetulan, tiga kawan saya juga memiliki pikiran yang sama. Kami tinggalkan gerobak kami. Dengan pemikiran seperti ini, kami berempat berlari ke arah lampu tersebut; siapasaja yang lebih dulu sampai ke lampu itu, dia yang berhak memilikinya.

            Akan tetapi, ketika kami tiba di tempat itu, tiba-tiba lampu itu menghilang! Yang ada hanyalah satu kuburan yang sudah rusak dan di kuburan itu terdapat seorang kakek bercambang merah dengan tubuh yang memancarkan cahaya. Dia sedang duduk di samping kuburan itu dengan bibir komat-kamit. Menurut saya, dia sedang membaca surat al-Hamdu dan cahaya itu berasal dari bacaan tersebut. Kami semua takjub, sehingga tak mampu bergerak. Ringkasnya, karena takut dan heran, kami lari tunggang langgang. Kami sepakat, suatu hari nanti kami akan datang kembali untuk mengetahui siapa sebenarnya kakek bercahaya itu, yang telah keluar dari kuburnya. Amal apa yang telah dilakukannya sehingga mencapai maqam itu.

            Esok malamnya, kami mencari kesana-kemari, tetapi tempat itu tidak kami temukan. Kami pun merasa gelisah. Setelah pencarian, saya bertanya kepada seseorang yang tahu persoalan dan saya ceritakan padanya apa yang sudah kami alami.

            Orang itu berkata, “Kakek itu adalah salah seorang wali Allah. Dengan perantara penghambaannya kepada Allah serta kemenerusannya dalam mengamalkan surat al-Hamdu, beliau mencapai kedudukan tersebut. Apabila saat itu Anda memohon sesuatu kepadanya, beliau akan memohon kepada Allah untuk mengabulkan permohonan Anda.”

            Benar, penghambaan kepada Allah serta merasa dekat dengan surat al-Hamdu-lah yang menyebabkannya sampai pada kedudukan tersebut. Setelah meninggal pun beliau tetap melakukannya. Apasaja yang biasa dilakukannya di dunia akan dilakukannya pula di alam barzakh dan hari kiamat.

Di dua alam ini, tiada kawan yang kita miliki selain Allah

Tiada sesuatu yang kita lakukan selain ingat kepada Allah

Kami mabuk Shubbûhun di dalam kedai tauhid

Kami tidak butuh kepada arak dan kedai minuman

Kami harta hakikat terpendam bak hati di muka bumi

Kami tak butuh dinar seberapa pun banyaknya

Kamilah air, bunga, dan kain sutra tebal kuno dan besar

Kami tak memiliki syal yang menutupi baju yang longgar

Dengarlah dari hati yang hidup Syamsul Haq Tabrizi

Dia kawan yang kan kita temui di hari pertemuan nan besar

AL-FATIHAH

Agha Hasyim Zadeh Isfahani berkata:

Saya pernah memiliki teman kerja yang merupakan salah seorang murid Almarhum Sayyid Zainal Abidin Thabathabai Abarqui—semoga ridha Allah atasnya—yang merupakan salah seorang ulama besar dan ahli mukasyafah di Ishfahan. Pusaranya berada di pemakaman syuhada Isfahan, yang menjadi tempat ziarah kaum mukminin (saudara kawan kerja saya itu pada saat meninggalnya Sayyid Zainal Abidin melihat saudara beliau menancapkan batu nisan di atas tanah dan berkata, “Beliau adalah salah seorang di antara 40 orang mukmin Isfahan.”)

Suatu hari beliau mengisahkan kepada kita:

Sayyid Zainal Abidin sudah meninggal dunia, sementara saya waktu itu tengah bekerja di toko roti. Kondisi ekonomi saya sangat payah. Sebagai ganti uang, upah kerja saya adalah beberapa potong roti yang diberikan pemilik kepada saya setiap malamnya. Saya selalu pulang ke rumah sambil membawa roti. Karena tidak punya uang, terpaksalah kami hanya makan roti saja. Di rumah kami tidak ada beras, lauk, gula, teh, dan minyak goreng; keluarga saya pun marah. Tidak ada jalan lain selain bersabar… Kami menjalani kehidupan seperti ini beberapa waktu lamanya.

Suatu hari, dalam keadaan marah, saya berziarah ke kubur Sayyid Zainal Abidin dan menghadiahkan bacaan surat al-Hamdu untuk arwah beliau. Saya berkata, “Tuan, saya adalah orang yang buta huruf dan yang bisa saya baca hanyalah surat al-Hamdu; surat ini saya hadiahkan untuk arwah Anda.” Akan tetapi, saat itu saya tidak mengutarakan kesulitan yang saya alami. Setelah membaca al-Fatihah, saya langsung kembali ke rumah.

Malam harinya, saya bermimpi berjumpa dengan Sayyid Zainal Abidin. Beliau membawa saya ke dekat penjual minyak wangi. Saya pun tidak berucap sedikitpun. Saat itu, beliau berkata kepada saya, “Tuan Muhammad, surat al-Hamdu Anda telah sampai kepada saya… Saya tahu apa yang Anda kerjakan; Anda punya roti, tetapi tidak punya lauk. Mulai esok, Anda akan mendapatkannya.”

Saya berkata, “Saya kan tidak berkata apa-apa, dari mana Anda tahu?”

Beliau berkata, “Saya berada di sini dan melihat. Inilah balasan atas bacaan surat al-Hamdu yang Anda kirimkan kepada saya.”

Keesokan harinya, ketika pekerjaan saya selesai dan ingin kembali ke rumah, juragan saya menahan saya dan memberikan sedikit roti dan uang. Sejak saat itu keadaan saya semakin membaik dan sekarang kami berkecukupan.

Wahai pesuluk, mohonlah spirit dari para auliya

Bersemangatlah dalam memohon pada Yang Mahamulia

Lihatlah Allah denganjelas dalam doa para kekasih-Nya

Mintalah dengan ikhlas pada Yang Mahaindah lagi kuasa

Allah berkata, auliya adalah orang yang berada di jalan-Ku

Apapun yang kau kehendaki dari Allah, ketuklah pintu para auliya

(Mulla Muhsin Faidh Kasyani)

HADIAH

Abdul Rahman Salami mengajarkan surat al-Hamdu kepada salah seorang putra Imam Husain—salam atasnya. Ketika putra beliau itu membaca surat al-Hamdu di hadapan ayahandanya, Imam Husain—salam atasnya—lantas memberikan hadiah kepada si pengajar 1.000 dinar dan 1.000 potong pakaian. Beliau juga memenuhinya dengan batu-batu mulia.

Sebagian orang yang berada di situ menyampaikan rasa keberatannya kepada Imam Husain—salam atasnya—mengapa hanya dengan mengajarkan satu surat saja, beliau harus memberikan begitu banyak hadiah. Imam Husain—salam atasnya—menjawab, “Pemberian dan hadiah saya ini masih terasa kurang dan bahkan seharusnya saya memberikan hadiah lebih banyak dari apa yang saya berikan.” Maksudnya, surat al-Quran ini jauh lebih berharga dari semua yang bisa diungkapkan.

CINCIN RASULULLAH

Sepucuk surat disodorkan kepada Rasulullah saww untuk ditandatangani. Ketika itu, beliau saww berada di dekat sebuah sumur. Begitu beliau mengeluarkan cincinnya, tiba-tiba cincin itu terjatuh ke dalam sumur.

Semua orang yang melihatnya menjadi bingung; apa yang akan diperbuat Rasulullah saww? Tiba-tiba, Rasulullah saww berkata, “Katakan kepada Ali—salam atasnya—untuk segera  kemari.”

Para sahabat pergi memanggil Amirul Mukminin Ali (salam atasnya), “Hai Ali, cepatlah, Rasulullah memanggil Anda.”

Amirul Mukminin Ali—salam atasnya—segera bergegas menghampiri Rasulullah saww. Rasulullah saww berkata kepada beliau –salam atasnya–, “Hai Ali, ambilkan cincinku yang terjatuh ke dalam sumur ini, karena engkau adalah orang yang menyelesaikan segala kesulitan.”

Amirul Mukminin Ali—salam atasnya—langsung mendekati sumur tersebut dan membaca surat al-Hamdu: Bismillahirahmânirrahim, Alhamdulillahi Rabbil ‘آlamîn… Pada saat bersamaan, air sumur itu menyembur hingga ke mulut sumur. Imam Ali –salam atasnya– lantas mengambil cincin Rasulullah saww yang naik ke atas air. Beliau  kemudian menciumnya dan memberikannya kepada Rasulullah saww.2

Wahai yang seluruh dunia tercengang karna wibawamu

Dunia merunduk karna keagunganmu

Jin, manusia, malaikat, dan burung, semua bertasbih padamu

Gunung, lautan, dan sahara, semuanya membicarakanmu

Engkaulah satu-satunya orang tanpa banding

Kemuliaan dan kehinaan setiap orang berada di tanganmu

Intuisi, wahyu, nabi, dan sang penuntun memiliki hikmah

Penciptaan Muhammad adalah dampak dari hikmahmu

Engkau tak pernah mengungkit-ungkit manusia

Meski eksistensi penciptaan dunia bergantung pada nikmatmu

Sebaik-baik kenikmatanmu adalah kenikmatan dari Allah

Hanya di sinilah kau mengungkit kami

TANGAN YANG TERPOTONG

Salah seorang sahabat Imam Ali—salam atasnya—yang terputus tangannya datang menghadap Amirul Mukminin Ali—salam atasnya. Imam Ali—salam atasnya—mengambil potongan tangan itu dan meletakkannya di tempat semula. Beliau lalu membaca sesuatu dengan suara pelan, hingga kondisi tangannya kembali seperti sediakala. Orang itu gembira dan bahagia, kemudian pergi.

            Hari berikutnya, dia datang menemui Amirul Mukminin Ali–salam atasnya–seraya berkata, “Wahai Ali, apa yang kau baca sehingga tanganku pulih kembali?”

            Beliau–salam atasnya–berkata, “Yang saya baca adalah surat al-Hamdu.”

            Dengan nada mengejek, orang itu berkata, “Yang kau baca hanya surat al-Hamdu?”

            Begitu mengatakan hal tersebut, pada saat itu pula tangannya lepas dan hingga akhir hayatnya dia hidup tanpa tangan. Itu dikarenakan dia telah meremehkan surat al-Hamdu.

Tak ada tanda yang dapat mengisyaratkan tragedi cinta

Sebuah tragedi yang sulit dicerna bak pintu yang terkunci

Sampai kapan kau bisa menjadi baik tanpa pecinta?

Dirimu harus dijual sementara cinta mesti dibeli

Jangan kau ikuti secercah sesuatu yang kau cari

Jangan sampai kau menjadi secuil meski dia tak tampak

Bagaimanapun juga sebuah tragedi harus terjadi

Dalam menghadapinya, kau harus tetap tegar

Kapan kau lihat indahnya cinta tanpa kesempurnaan?

Hendaknya kau dengar sifat sang kekasih

Bila kau seorang pecinta, berbuatlah sesuatu, meski harus merugi

Meskipun demikian, rahasia sang kekasih tetap tak akan tampak

(Aththar)

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Tafsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s