KEUTAMAAN SURAT AL-FATIHAH (2)

KEUTAMAAN SURAT AL-FATIHAH (2)

(Oleh: Ali Mirkhalaf Zadeh)

PENAWAR SEGALA PENYAKIT

Almarhum Agha ‘Ayyasyi, salah seorang ulama besar di bidang tafsir dan al-Quran, dalam kitab tafsirnya meriwayatkan, dengan sanad-sanadnya dari Rasulullah saww, “Surat Umm al-Kitab lebih utama daripada surat-surat al-Quran lainnya, dan ia adalah penawar segala penyakit kecuali kematian.”

Almarhum Kulaini—semoga ridha Allah atasnya—dalam kitab al-Kafi meriwayatkan dari Imam al-Baqir (salam atasnya), “Siapasaja yang tak mendapatkan kesembuhan dari surat al-Hamdu, maka tidak ada sesuatu apapun yang dapat menyembuhkannya.” Begitu juga, beliau telah meriwayatkan dari Imam al-Shadiq (salam atasnya), “Janganlah heran kalau ada orang-orang yang membacakan surat al-Hamdu kepada seorang yang telah mati sebanyak 70 kali, kemudian si mayat itu hidup kembali. Sebab, surat ini adalah salah satu kekayaan Allah yang terpendam di ‘Arsy-Nya.”

PENYEMBUH BAGI PENDERITA EPILEPSI

Abu Sulaiman menuturkan:

Di salah satu peperangan, saya selalu berada di samping Rasulullah saww. Dalam keadaan seperti itu, ada seseorang menderita penyakit ayan jatuh pingsan di tanah.

Semua orang marah karena dalam kondisi seperti itu hamba Allah ini terjatuh ke tanah. Apa yang harus kami perbuat? Saat itu, kami semua melihat salah seorang sahabat datang mendekat dan meletakkan wajahnya di daun telinga orang yang sakit itu dan mulai membaca surat al-Hamdu. Kami semua melihat, orang yang menderita penyakit ayan itu berdiri kembali dalam keadaan selamat, tak kurang satu apapun.

Kami semua heran. Setelah itu, kami menyampaikan hal itu kepada Rasulullah saww. Rasulullah saww bersabda, “Surat al-Hamdu ini adalah penyembuh segala penyakit dan kegundahan hati.”

Wahai yang hati dan jiwaku menjadi taruhannya

Wahai yang semuanya rela berkorban di jalan-Mu

Hatiku menjadi taruhan-Mu karna Kaulah Sang Pencuri hati

Jiwa rela berkorban karna Kaulah jiwa semua jiwa

Di tangan-Mu hati terbebaskan dari kesulitan

Memorak-porandakan jiwa bagi-Mu adalah hal mudah

Jalan menuju-Mu adalah jalan yang penuh rintangan

Penyakit cinta pada-Mu adalah suatu penyakit yang terobati

(Sayyid Ahmad Hatif Isfahani)

PENYEMBUH RASA GELISAH

Almarhum al-Razi meriwayatkan dari Abu Said al-Hadzari bahwa Rasulullah saww bersabda, “Surat al-Hamdu adalah penyembuh segala kegelisahan.”

Imam Musa bin Ja’far—salam atasnya—berkata, “Barangsiapa jatuh sakit, kemudian membaca surat al-Hamdu tujuh kali di dalam krah bajunya, jika sakitnya masih belum sembuh hendakdia membacanya 70 kali, niscaya sakitnya akan hilang.”

“Dan siapasaja yang tak dapat disembuhkan dengan surat al-Fatihah, maka tidak ada satu obat pun yang dapat menyembuhkannya.”

Dikisahkan, Almarhum H. Syaikh Muhammad Taqi Majlisi (ayah Allamah Majlisi—semoga ridha Allah atasnya) berkata, “Saya telah menyembuhkan seribu orang sakit dengan surat al-Hamdu dan Allah telah memberikan kesembuhan kepada mereka.”

TERKENA BISA ULAR

Abu Said al-Khudri menuturkan:

Saat itu, saya sedang bepergian bersama beberapa orang sahabat. Dalam perjalanan itu, kami melintasi salah satu kabilah Arab. Kami pun berhenti sejenak di situ guna menghilangkan rasa penat.

Di tengah-tengah waktu istirahat, ada sebuah kabar yang mengatakan bahwa salah seorang dari kabilah itu terkena bisa ular dan tidak ada jalan bagi penyembuhannya. Di situ, tidak ada tabib dan semua orang pun kebingungan harus berbuat apa.

Ketika itu, salah seorang dari kabilah itu maju menghadap kami dan memohon pertolongan seraya berkata, “Apabila salah seorang di antara kalian mampu mengobatinya, kami akan memberinya hadiah seekor kambing.”

Salah seorang di antara kami maju dan berkata, “Saya akan mengobatinya.” Dia lalu dibawa ke tempat orang yang terkena bisa itu. Saya juga ikut bersamanya untuk melihat apa yang akan dilakukannya. Saya lihat dia maju dan mendekatkan mulutnya ke telinga orang tersebut dan membaca surat al-Hamdu. Kemudian, dia mengusap anggota tubuh yang terkena bisa dengan tangannya. Seketika itu pula orang itu sembuh dan beranjak dari tempatnya, seakan-akan tak pernah tersengat ular. Setelah kejadian ini, semuanya gembira dan mereka menghadiahkan seekor kambing kepada kami.

Ke mana pun mata memandang, di sanalah Tuhan menjelma

Kerumah mana pun kupergi, di sana kutemukan jalan dan petunjuk

Aku tercengang dengan tubuh kecil seekor semut

Dalam tubuh kecilnya itu tampaklah tangan Tuhan

Pabila kau lihat putihnya salju yang terhampar di tanah

Niscaya akan tampak kasih sayang dan kesembuhan

Katakan dengan jujur, Tuhanku, jangan Kau pisahkan hatiku

Di antara pandangan dan hati, tampaklah kebesaran Tuhan

(Jawad Ridha Zadeh)

TUHAN DAN HAMBA

Rasulullah saww bersabda, “Allah Swt berfirman: Aku telah membagi surat al-Hamdu antara diri-Ku dan hamba-Ku, setengahnya berhubungan dengan-Ku dan setengah lainnya berhubungan dengan hamba-Ku. Ketika hamba-Ku mengucapkan: Bismillahirrahmânirrahim, maka Aku (Allah Swt) berkata: Hamba-Ku telah memulai pembicarannya dengan nama-Ku, maka wajib bagi-Ku untuk menyelesaikan dan memperbaiki semua pekerjaannya yang berhubungan dengan urusan duniawi dan ukhrawi, dan Aku harus memberkati semua ihwal dan hartanya dan Aku akan mencurahkan berkah pada seluruh kondisinya.”

“Ketika seorang hamba mengucapkan: Alhamdulillahi Rabbil ‘آlamin, maka Aku (Allah Swt) berkata: Hamba-Ku memuji-Ku, dia mengerti kalau semua kenikmatan yang dirasakannya adalah dari-Ku dan semua musibah telah Aku jauhkan darinya dengan kekuasaan-Ku. Wahai para malaikat, bersaksilah, selain daripada kenikmatan-kenikmatan duniawi, Aku juga akan berikan kepadanya kenikmatan-kenikmatan ukhrawi. Sebagaimana Aku telah membalikkan semua musibah dunia, maka Aku pun akan membalikkan musibah-musibah akhirat baginya.”

“Ketika hamba-Ku mengucapkan: Al-Rahmanirrahim, Aku (Allah Swt) berkata: Hamba-Ku bersaksi bahwa Aku adalah Mahakasih lagi Mahasayang. Wahai para malaikat, bersaksilah, bahwa Aku akan memberikan kepadanya rahmat yang sangat berlimpah dan Aku juga akan memperbanyak ampunan-Ku padanya.”

“Setiap kali hamba mengucapkan: Mâliki Yaumiddin, Aku (Allah Swt) berkata: Wahai para malaikat, bersaksilah, sebagaimana dia telah mengakui bahwa Aku adalah penguasa hari pembalasan, maka Aku juga akan mempermudah hisabnya di hari kiamat kelak dan Aku akan menerima amal-amal baiknya dan semua dosa-dosanya akan Aku ampuni.”

“Setiap kali hamba mengucapkan: Iyyâka na’budu wa iyyâka nasta’în, Aku (Allah Swt) berkata: Hambaku berkata benar, dia hanya menyembah-Ku, memohon pertolongan dan berlindung kepada-Ku. Wahai para malaikat, bersaksilah, bahwa Aku akan berikan ganjaran yang berkesinambungan atas semua ibadah yang dilakukannya, sampai sekiranya ada orang yang berseberangan dengannya, akan mengambil pelajaran dari keadaannya, dan Aku akan membantunya dalam semua pekerjaannya, dan akan membantunya dalam segala kesulitan. Aku akan menolongnya di hari-hari musibah dan gelisah.”

“Ketika hamba mengucapkan: Ihdinas shirâthal mustaqîm…, Aku (Allah) berkata: Aku terima permohonannya, doanya Aku kabulkan dan angan-angannya akan Aku wujudkan dan Aku akan memberinya ketenangan dan keamanan.”

PAHALA AL-QURAN

Ubai bin Ka’ab meriwayatkan bahwa Rasulullah saww bersabda, “Setiap hamba muslim membaca surat al-Fatihah, niscaya akan diberikan kepadanya pahala seluruh al-Quran.”

Suatu hari, saya (Ubai) duduk bersama Rasulullah saww dan saya membaca surat al-Fatihah. Beliau saww berkata, “Demi kebenaran Yang Nafas dan jiwaku berada di tangan-Nya, Allah Swt tidak pernah menyebutkan seperti surat ini dalam Taurat, Injil, Zabur, dan al-Quran. Surat ini adalah dasar al-Quran serta mencakup semua makna al-Quran, dan Allah yang Mahakasih lagi Mahamulia telah membagi surat ini di antara diri-Nya dan hamba-hamba-Nya, dan setiap kali hamba-hamba Allah memiliki keinginan yang berkaitan dengan urusan-urusan dunia dan akhirat, mereka melalui jalan ini.”

BERITA GEMBIRA

Diriwayatkan, Ibnu Abbas berkata:

Suatu hari, saya berada bersama Rasulullah saww. Pada saat itu, salah satu malaikat yang dekat dengan Allah datang menemui beliau saww. Malaikat itu berkata, “Hai Muhammad, semoga berita gembira selalu bersama Anda.”

Beliau saww berkata, “Ada apa gerangan?”

Malaikat itu berkata, “Karena Allah Swt telah menganugrahkan dua hal kepada Anda yang tidak diberikan kepada nabi lainnya.”

Rasulullah saww bertanya, “Apakah itu?”

Malaikat itu berkata, “Yang pertama adalah surat al-Hamdu dan Fatihat al-Kitab, dan yang kedua adalah ayat-ayat akhir surat al-Baqarah, yaitu آmanar rasûlu.… Siapasaja yang membacanya, niscaya Allah Swt menganugrahkan apasaja yang dikehendakinya sebelum dia menyelesaikan (pembacaan) ayat-ayatnya.”

Tuhan, zikirku pada-Mu, Engkaulah Yang Mahasuci dan Tuhan

Aku tak beranjak melainkan ke jalan yang telah kau tunjukkan

Kucari semua rumah-Mu dan kutempuh karunia-Mu

Hanya tauhid-Mu yang kubicarakan karna Engkau Yang Mahaesa

Engkaulah Hakîm, Azhim, Karim, dan Rahim

Engkaulah pemilik keutamaan, Engkaulah Yang Layak dipuji

Engkau jauh dari tekanan, gundah, sakit, dan butuh

Jauh dari rasa takut, harapan, kenapa begini dan begitu

Tak ada yang mampu menyifati-Mu karna Kau tak dapat dipahami

Tiada yang mampu menyerupai-Mu karna Engkau bukan sesuatu

Engkau seutuhnya Kemuliaan, Pengetahuan, dan Keyakinan

Engkau Cahaya dan Penguasa, Engkau seutuhnya kedermawanan

(Sanai Ghaznawi)

TAFSIR SURAT AL-HAMDU

Ibnu Abbas berkata, “Ketika saya sedang belajar surat al-Hamdu pada Amirul Mukminin Ali—salam atasnya—di antara yang beliau sampaikan adalah, ‘Hai Abdullah, apabila kutuliskan makna-makna serta hakikat-hakikat surat al-Fatihah, niscaya aku memerlukan tujuh onta untuk membawanya.’”

“Suatu malam, ketika saya berada bersama Imam Ali—salam atasnya—beliau menafsirkan surat al-Fatihah dari awal malam hingga azan Subuh. Itupun beliau masih menafsirkan ba’-nya bismillah saja. Kemudian beliau—salam atasnya—berkata, “Aku adalah titik yang ada di bawah ba’-nya bismillah.”

Engkaulah Ali yang diliputi oleh rahmat Allah

Rahmatmu membias ke semua makhluk Allah

Pabila hati ingin berjumpa Tuhan, lihatlah wajahnya

Karna padanyalah wajah Tuhan menjelma

Bukan wajibnya yang kuingin, bukan pula tak kutahu karna mungkinnya

Dia bagai Sang Mahakuasa yang tak dapat disifatkan

Dengan ketuhanan Tuhan Pencipta alam, jadilah dia taman bunga

Semua prilaku Murtadha sama seperti manusia

Bedanya, dia obor yang terang sementara kamu sinar redup

Dialah yang menerangi gelapnya jiwa kita

Di dunia ini tak akan didapat orang seperti Ali

Begitu dermawannya dia, turunlah surat Hal Atâ

Hai fakir, mengemislah di rumah Ali

Niscaya takkan pernah kau rasakan penderitaan selamanya

Jalani dan ikutilah Murtadha

Pabila kau ingin mencari jalan Allah

(Sayyid Ridha Muayyad)

RINTIHAN IBLIS

Iblis adalah setan besar. Ketika surat al-Hamdu diturunkan, ia merintih, berteriak, gelisah, dan marah. Sebagaimana disebutkan, selama hidupnya, iblis empat kali gelisah, tidak tenang, dan merintih. Artinya, empat kali ia terkalahkan.

Pertama, ketika ia menjadi makhluk yang terlaknat. Kedua, ketika ia dikeluarkan dari surga. Ketiga, saat Nabi Muhammad saww diutus sebagai rasul. Keempat, ketika diturunkannya surat al-Fatihah.

SAKIT KAKI

Almarhum H. Syaikh Rajab Ali Khayyath—semoga rahmat Allah tercurahkan padanya—adalah seorang yang bijak dan ahli mukasyafah (penyingkapan maknawi). Suatu hari, bersama beberapa orang, beliau duduk di teras rumah salah seorang kawannya. Salah seorang di antara mereka yang termasuk pegawai pemerintah, karena menderita suatu penyakit, melonjorkan kakinya.

Orang itu menyampaikan perihalnya kepada Syaikh bahwa kakinya sudah lama sakit dan sudah banyak mengonsumsi obat, namun tetap saja tidak ada perubahan. Sesuai kebiasaan, Syaikh meminta kepada mereka yang ada di sana untuk sama-sama membaca surat al-Hamdu demi kesembuhan orang tersebut. Maka mulailah mereka semua membaca surat al-Hamdu.

Pada saat itu, Syaikh berkata, “Sakit kaki kamu ini bermula dari seorang wanita yang bekerja sebagai tukang fotokopi; dikarenakan hasil fotokopinya jelek, engkau mencaci dan meneriakinya. Wanita itu adalah alawiyah (keturunan Imam Ali) dan hatinya telah hancur dan menangis. Sekarang kamu harus menemukannya dan meminta maaf padanya, agar kakimu dapat pulih seperti sediakala.

Ketika kami menyifati orang yang tinggi dengan tulisan

Di sana kami akui, dalam  diri kami terdapat kelemahan

Setiap saat, kami tak pernah melalaikanmu

Kami tlah ungkap kata gundahmu atau kami tuliskan

Kerinduan membara itu tak dapat kutuliskan

Karna begitu kutulis, pena dan tanganku terbakar

Kami tahu jalan yang benar, namun karna satu dan lain hal

Kami tulis khat alif dengan rasa takut

Dengan begitu, depan dan belakang nama menjadi hitam

Dari belakang dan depan kami tak dapat tulis kata surat sempurna

Tanpa dikehendaki, surat itu dirobek dibuang jauh entah kemana

Di sana kami tulis nama Radhi dengan asal

(Radhi Artimani)

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Tafsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s