KEUTAMAAN SURAT AL-FATIHAH (1)

KEUTAMAAN SURAT AL-FATIHAH (1)

(Oleh: Ali Mirkhalaf Zadeh)

NAMA-NAMA SURAT AL-FATIHAH

Surat ini memiliki berbagai macam nama, yang di antaranya akan kami sebutkan berikut ini:

Fatihat al-Kitab. Sebab, surat ini merupakan surat pembuka al-Quran.

Al-Hamdu. Karena ia mencakup ayat Alhamdulillahi Rabbil ‘âlamin. Sebagaimana semua surat al-Quran diberi nama sesuai dengan salah satu kalimat yang disebutkan di sela-sela ayat-ayat al-Quran, dan dikarenakan kalimat setelah bismillah adalah al-hamdulillah, maka ia diberi nama al-Hamdu.

Syukur. Karena surat ini mencakup syukur, pujian, dan terima kasih atas segala kenikmatan dari Allah Swt.

Doa. Disebut dengan doa, karena ia mencakup doa dan munajat kepada Yang Maha Memenuhi segala hajat.

Umm al-Quran. Sebab, ia memiliki arti dasar dan pokok. Surat ini adalah dasar al-Quran, sebab ia mencakup penjelmaan ketuhanan serta tatacara penghambaan, menjelaskan janji dan ancaman, hukum teoritis dan praktis dalam menapaki jalan yang lurus, pengetahuan-pengetahuan, hak-hak, serta tugas-tugas penghambaan, yang semuanya dapat dilihat dalam surat ini.

Umm al-Kitab. Sebab, ia merupakan pokok dan dasar bagi semua kitab samawi. Ia juga mencakupi semua ilmu dan keutamaan al-Quran. Ia juga berarti pokok dan tempat rujukan segala sesuatu. Selain itu, surat ini mencakupi dasar-dasar tujuan al-Quran serta pokok-pokok permasalahannya. Karena alasan-alasan inilah ia diberi nama dengan Umm al-Kitab. Orang biasa menyebut “ibu” dengan kata “um”. Misal, mereka menyebut kota Mekah dengan Umm al-Qura, yakni “akar” serta “ibu” dari semua bumi. Surat al-Hamdu juga disebut dengan Umm al-Kitab, maksudnya adalah bahwa ia merupakan “ibu” dari semua kitab samawi.

Matsâni. Alasannya, ia diturunkan sebanyak dua kali; pertama di Mekah dan yang kedua di Madinah. Atau juga karena ia dibaca (setidaknya—peny.) dua kali dalam shalat.

Wâfiyah.Surat ini harus dibaca secara sempurna dalam shalat dan tidak boleh dibaca separuh dan tak sempurna. Ini dikarenakan tak ada satu mazhab pun yang membolehkan membacanya secara tidak sempurna dalam shalat, sementara (sebagian dari) mereka membolehkan untuk surat-surat lainnya. Atau mungkin juga lantaran Allah Swt telah menjelaskan semua makna al-Quran dalam surat tersebut (baik dari segi ilmu ushul, perintah dan larangan, janji dan ancaman, serta tatacara penghambaan dan sebagainya).

Kâfiyah. Alasannya, surat al-Hamdu lebih disempurnakan daripada surat-surat lainnya, sementara yang lainnya tidak demikian. Maksudnya, setiapkali imam jamaah membacanya, maka para makmum tidak perlu lagi membacanya.

Asas. Karena surat al-Hamdu sama kedudukannya dengan fondasi, dasar, dan pilar al-Quran, dari segi komprehensi dan cara peribadahannya. Abdullah bin Abbas berkata, “Segala sesuatu memiliki dasar dan fondasi, sementara dasar dunia adalah Mekah, dasar semua langit adalah langit ketujuh, dasar bumi adalah bumi ketujuh, dasar semua surga adalah surga ‘Adn, dasar neraka adalah palung neraka ketujuh, dasar ciptaan adalah Adam, dan dasar semua kitab serta dasar al-Quran adalah surat al-Hamdu.”

Syifa’ atau Syâfiyah. Ini dikarenakan surat al-Hamdu adalah penawar segala penyakit.

Disebut juga dengan nama shalat, karena shalat tanpa membaca al-Hamdu tak dapat disebut dengan shalat. Apabila Anda tidak membaca al-Hamdu dalam shalat Anda, maka itu sama halnya Anda tidak mengerjakan shalat.

Disebut dengan nama Ta’lîm al-Masalah, karena dalam surat ini Allah Swt mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya berbagai masalah dan tatacara, yaitu bagaimana seharusnya seorang hamba memohon kepada Tuannya serta bagaimana memuji Sang Pencipta dan menjadi penyeru-Nya. Dia juga mengajarkan cara bersyukur, bermunajat, dan berdoa, yaitu menjadikan seorang hamba tahu tentang masalah-masalah di seputar penghambaan.

Munajat. Disebut demikian karena ketika seorang hamba berdiri untuk melaksanakan shalat dan membaca surat ini, maka dengan surat ini dia bermunajat kepada Allah Swt.

Didisebut pula dengan Tafwidh. Sebab, pada saat sembahyang, seorang hamba memasrahkan segala urusannya kepada Sang Khalik dan memohon pertolongan kepada-Nya. Ia juga mencakup permintaan tolong seorang hamba.

Disebut dengan nama Ruqbah, karena ia adalah doa, permintaan ganjaran atau perlindungan (sesuatu yang digunakan untuk mendapat perlindungan, seperti doa dan sebagainya). Surat ini adalah sebuah penjagaan yang akan melindungi manusia dari segala musibah, binatang buas, binatang melata, dan musuh. Segala bentuk sihir tak mampu mengalahkan surat ini.

Imam, yakni pemimpin dan yang terdepan. Lantaran surat al-Hamdu, bila dibandingkan dengan surat-surat lainnya, berada di urutan terdepan dalam al-Quran, ia diberi nama dengan imam.

Ilmu. Ini dikarenakan semua ilmu agama, dunia, dan akhirat terangkum di dalamnya. Siapasaja yang membaca surat ini, ia takkan perlu pada semua ilmu duniawi (dari segi sopan santun, penghambaan, ibadah, dan ketaatan…).

Taharruz. Sebab, orang yang sembahyang akan terjaga dan aman dari kegelapan dan kesesatan. Makna taharruz adalah penjagaan. Maksudnya, surat ini takkan membiarkan manusia terjatuh ke dalam dosa.

‘Alim. Ia disebut dengan nama ini karena di dalamnya terangkum semua berita serta ilmu seorang hamba. “Setiap orang bodoh yang membaca surat ini dan memikirkan apa yang ada di dalamnya akan menjadi orang yang berilmu dan seorang hamba sejati.”

Dan dia juga masih memiliki nama-nama lain, seperti Iti’ânah, An’âm, Ibadah, dan lain-lain. Kami hanya mencukupkannya dengan semua yang disebutkan di atas.

HANYA DIPERUNTUKKAN BAGI RASULULLAH SAWW

Pada malam Mikraj, Rasulullah saww berseru, “Ya Allah! Engkau telah jadikan Ibrahim –salam atasnya– sebagai khalil (kekasih)-Mu, Musa –salam atasnya– sebagai kalim (kawan bicara)-Mu. Ya Allah, bagaimana dengan aku? Apa yang hendak Engkau lakukan padaku?”

Panggilan beliau disambut, “Hai Muhammad, Aku telah menjadikanmu sebagai habib (kekasih)-Ku dan Aku khususkan surat al-Hamdu untukmu. Hai Muhammad, sungguh telah Aku berikan padamu tujuh Matsani dan al-Quran yang sangat agung, yang hingga sekarang ini tak pernah Aku berikan kepada siapapun di antara para auliya’ dan para nabi-Ku.”

Kemudian Rasulullah saww bersabda, “Dengan adanya surat ini, Allah Swt telah menganugrahkan kepadaku sesuatu yang lain di samping al-Quran.”

Benar, Fatihat al-Kitab memang benar-benar kitab paling mulia yang pernah ada dalam khazanah ‘Arsy Allah. Ketahuilah, siapasaja yang membaca surat ini dan ber-wilayah (menerima kepemimpinan) Muhammad saaw beserta keluarganya serta tunduk kepada perintah surat ini, beriman kepada lahir dan batinnya, niscaya Allah yang Mahakasih lagi Mahasayang akan memberinya kebaikan dan pahala di setiap huruf surat ini. Dia juga akan memberikan berita gembira yang jauh lebih baik daripada seluruh dunia dan seisinya. Dan siapa saja yang mendengarkan bacaan orang yang sedang membaca surat ini, maka sepertiga pahala orang yang membaca itu akan diberikan kepadanya.

Syukur bagi Allah yang tlah menganugrahkan karakter baik padaku

Akal, pikiran, qalam, dan lisan telah Dia berikan padaku

Semua yang kumiliki, yang tersembunyi atau nyata, berasal dari-Nya

Dia telah memberiku hikmah, makrifah, kesababaran, dan kekuatan

Kenikmatan-Nya tak akan pernah bisa disyukuri

Dia membuatku mensyukuri apa yang diberikan-Nya

Dia mengajariku suatu masalah, kebaikan, dan banyak hal

Dia memberiku kesehatan jasmani, hati, ingatan, dan keamanan

ILMU SEMUA KITAB

Rasulullah saww bersabda, “Allah Swt telah menurunkan 104 kitab dari langit, dan Dia telah memilih empat kitab-Nya dari 104 kitab itu, dan Dia telah meletakkan seluruh (kandungan) ilmu (dari) 100 kitab itu ke dalam empat kitab itu. Empat kitab itu, yang pertama adalah Zabur, kedua Taurat, ketiga Injil, dan yang keempat adalah al-Quran. Kemudian, di antara kitab-kitab ini, Allah memilih satu kitab dan kitab itu adalah al-Quran. Dan Dia telah meletakkan semua (kandungan) ilmu, keberkahan, serta pahala kitab-kitab itu ke dalam al-Quran. Kemudian, Allah meletakkan (kandungan) ilmu-ilmu al-Quran ke dalam surat-surat yang terperinci, dan semua surat yang terperinci itu diletakkan ke dalam surat al-Hamdu.”

Dengan demikian, siapasaja yang membaca surat al-Hamdu, sama saja dengan 104 kitab samawi.

MENYEMBUHKAN PELBAGAI PENYAKIT

Salah seorang pecinta Imam Ja’far al-Shadiq—salam atasnya—datang menghadap beliau dalam keadaan sakit dan sangat tersiksa dengan penyakit yang dideritanya. Imam Shadiq—salam atasnya—berkata, “Apa yang terjadi, mengapa mukamu pucat?”

Dia berkata, “Semoga jiwa saya menjadi taruhan Anda, sudah satu bulan ini saya sakit dan demam ini tidak mau berpisah dari saya. Saya selalu berobat ke tabib dan meminum semua resep yang mereka berikan kepada saya, namun tetap saja tidak terjadi perubahan. Tolonglah saya, wahai Imam saya, hanya engkaulah harapan orang-orang yang menderita. Doakanlah saya agar beroleh kesembuhan.”

Imam Shadiq—salam atasnya—berkata, “Bukalah krah bajumu dan masukkanlah kepalamu ke dalamnya. Setelah azan dan iqamat bacalah surat al-Hamdu tujuh kali kemudian tiupkanlah kepada dirimu. Insya Allah engkau akan sembuh.”

Orang itu menuturkan, “Begitu saya lakukan apa yang diperintahkan putra al-Zahra—salam atasnya—itu,  bagaikan air yang disiramkan ke atas api. Saya seperti diikat oleh tali kemudian dilepaskan seperti sediakala. Begitulah, saya terbebas dari rasa sakit yang saya derita.”

Wahai Zat Yang nama-Mu penawar, ingat pada-Mu syifa

Akulah orang sakit yang memerlukan obat

Kasihani daku dan sembuhkanlah hamba-Mu

Liputi aku dengan pemberian-Mu, karna rahmat-Mu

(Mukaddam)

SURAT TERBAIK

Abi Sa’ad bin Mu’alla menuturkan:

Ketika itu, saya sedang mengerjakan shalat. Tiba-tiba Rasulullah saww memanggil saya. Karena masih dalam keadaan shalat, saya berkata kepada diri saya sendiri, “Mungkin akan berdosa kalau aku batalkan shalat ini dan menjawab panggilan Rasulullah saww.”

Usai shalat, saya datang menghadap Rasulullah saww sambil berkata, “Ada apa wahai Rasulullah saww. Apa yang Anda inginkan dari saya?”

Beliau saww bersabda, “Di mana engkau ketika aku panggil?”

Saya berkata, “Saya minta maaf, tadi saya masih dalam keadaan shalat, karena itu saya tidak bisa menjawab seruan Anda.”

Beliau saww bersabda, “Apakah engkau tidak membaca al-Quran atau mendengar bahwa Allah Swt telah berfirman: Jawablah seruan Allah dan Rasul-Nya ketika mereka menghendaki kalian?”      Kemudian, beliau bersabda, “Maukah engkau kuajarkan sebuah surat al-Quran yang terbaik, sebelum engkau keluar dari masjid?”

Karena malu, saya tidak berbicara sepatah kata pun. Ketika itu, beliau langsung memegang tangan saya dan seketika itu pula saya merasakan munculnya keberanian dalam diri saya. Saat keluar dari masjid, saya memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai Rasul, bukankah Anda tadi menyampaikan kepada saya tentang surat terbaik al-Quran? Bagaimanakah kelanjutannya?”

Saat itu, beliau langsung membaca surat al-Hamdu. Kemudian, beliau bersabda, “Surat ini adalah Sab’ul Matsani serta quran sangat agung yang telah Allah anugrahkan kepadaku.”

Sang Mahakuasa berfirman, Kalian butuh kepada Allah

Kenapa engkau masih saja lari ke arah hawa nafsu?

Di mana pun kau berada, engkau selalu dalam naungan-Nya

Dia akan selalu mengikutimu ke mana pun engkau berlari

Pabila engkau melarikan diri, larilah dari orang asing

Tapi mengapa kini kau juga lari dari yang kau kenal?

Sekujur tubuhmu sakit dan perlu penyembuhan

Kenapa engkau harus lari dari seorang tabib dan obat?

 

MULLA AHMAD NARAQI

Almarhum H. Mulla Ahmad Naraqi—semoga Allah meridhainya—adalah salah seorang ulama ilmu akhlak, sekaligus penulis kitab yang berjudul Mi’raj al-Sa’âdah. Beliau memiliki seorang putra yang sangat beliau cintai. Kebetulan, sang putra jatuh sakit. Sampai-sampai, beliau putus asa akan kesembuhan putranya, dan tanpa disadarinya, beliau berprilaku seperti orang gila; berjalan-jalan di luar rumah, di gang-gang, dan di jalan-jalan kota Kasyan.

Tiba-tiba, muncullah seorang darwisy yang dekat dengan Allah dan ahli maknawiah (bukan darwisy sufi yang tak mengenal Tuhan). Dia mengucapkan salam kepadanya seraya bertanya, “Wahai fulan, kenapa Anda terlihat gelisah?”

Beliau berkata, “Anak saya sakit dan saya sudah putus asa akan kesembuhannya.”

Si darwisy berkata, “Itu masalah sangat sepele.” Kemudian, dia memukulkan tongkatnya yang berbentuk tombak itu ke tanah sambil membaca surat al-Hamdu tanpa memperhatikan benar dan salahnya bacaan tersebut. Setelah itu, dia meniup dan berkata, “Hai fulan pergilah, putramu sudah sembuh.”

Dengan heran Mulla Ahmad kembali ke rumah dan melihat putranya mandi keringat serta sehat walafiat. Beliau sangat takjub, siapa sebenarnya darwisy itu, yang hanya dengan satu surat al-Hamdu yang dibaca tanpa memperhatikan i’rab (perubahan akhir kalimat)nya putranya dapat disembuhkan.

Beliau lalu mengutus seseorang untuk mencarinya. Namun setelah mencarinya ke mana-mana, dia tidak ditemukan. Setelah tujuh sampai delapan bulan, suatu hari, beliau melihat si darwisy di gang. Beliau berkata kepadanya, “Hai darwisy, engkau adalah orang yang dekat dengan Allah, tetapi hari di mana engkau membaca surat al-Hamdu, bacaanmu tidak benar. Mari saya ajarkan tajwid dan masalah-masalah syariat.”

Si darwisy marah dan berkata, “Tak masalah, karena engkau tidak suka dengan bacaan surat al-Hamdu saya, maka bacaan itu saya tarik kembali.” Kemudian, dia memukulkan tongkatnya ke bumi dan membaca surat al-Hamdu serta meniupnya seraya berkata, “Sekarang pergilah.”

Ketika kembali ke rumah, beliau melihat putranya itu kembali jatuh sakit. Dan karena penyakitnya itulah dia meninggal dunia.

Aku berbicara padamu, wahai sobatku yang mulia

Hanya Allah-lah yang dapat menyelesaikan problemku

Setiap kali kuungkapkan kepedihan hatiku kepada orang lain

Kegundahanku semakin bertambah dan tak terselesaikan

Tidaklah baik mengungkapkan gundah hati kepada orang lain

Terimalah perkataanku ini, wahai sobatku yang mulia

(Tsabit)

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Tafsir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s