Rezeki dan Pernikahan

Rezeki dan Pernikahan

By: 

Hari Jumat, ibu pemilik kontrakan datang (saya mengontrak rumah untuk kegiatan TK Rumah Qurani yang saya kelola, lokasinya dekat rumah saya). Waduh, tak terasa, sudah datang lagi masa bayaran. Masih ada tenggang waktu sampai Mei sih… tapi… hwaa… mau cari uang kemana ya? Tapi suami saya selalu tenang dan optimis, dan berkata, “Insya Allah nanti Allah yang ngasih.”

Nah, di antara obrolan sana-sini dengan si ibu, saya bilang, “Ya, doain ya bu… supaya kami dimudahkan rezeki, dan TK ini bisa berjalan lancar…” Si ibu yang memang sudah sepuh, antara lain menasehati, “Niatkan benar-benar lillahi ta’ala..”  [nasehat seperti ini sudah sering saya dengar, tapi..hiks, tetep aja rek, susah mengaplikasikannya, apalagi saat pengeluaran banyak dan murid2 TK hanya 1/3 saja yg rajin bayar; kalaupun bayar semua tetap saja sangat jauh dari pengeluaran tiap bulan; kalau sudah harus merogoh kocek dalam2, sering hati saya terbersit rasa kesal..]

Nah.. tapi ada yang menarik dari nasehatnya, “Yang penting suami istri harus kompak. Kalau ada masalah, hadapi, cari penyelesainnya. Itu syaratnya [biar dapat rizki].”

Eeh.. kebetulan saya juga dicurhatin teman soal ini. Dia bertengkar dg pasangannya gara-gara ekonomi keluarga yang seret. Dan saya yang sebenarnya awam masalah agama ini berusaha menjawab sebisanya. Saya bilang begini…

 

Sebenarnya rizki sudah diatur oleh Allah, setiap orang sudah ada rizkinya. Apalagi kan ada ayatnya di Quran bahwa dengan menikah Allah akan memberi rizkinya (An-Nur 32). Artinya, pernikahan itu berkorelasi dengan peningkatan rizki. Tapi, ketika setelah menikah rizki seret terus, pasti ada yang salah.
Kesalahan terbesar adalah: tidak melakukan apa yang sudah diperintahkan Allah dan Rasulullah terkait pernikahan. Salah satu hal utama yang diperintahkan Allah adalah berkhidmat pada pasangan (istri bersikap baik kepada suami, dan suami bersikap baik kepada istri).

Allah mencintai pasangan yang saling menyayangi dan menghormati, saling memuliakan. Dan kepada pasangan yang demikian, Allah pasti menurunkan rizki yang berkah. Mungkin jumlahnya sedikit, tetapi bila berkah, selalu cukup dan tidak menjatuhkan mereka kepada kehinaan. Contohnya Sayidah Fatimah dan Imam Ali, mrk miskin, tapi terhormat. Semua rumah tangga (kalangan biasa, bukan anak orang kaya) pastilah sempat menjalani masa-masa ekonomi ngirit. Mereka yang bersyukur biasanya berhasil menjalani masa sulit itu dan mengalami peningkatan ekonomi, sesuai janji Allah (kalau kamu bersyukur, akan Kutambah nikmat-Ku). Karena itu, jika sudah sekian lama berumah tangga tapi kondisi ekonomi masih terus morat-marit, berarti ada hal-hal yang perlu diperbaiki.

 Sekarang, yang perlu dilakukan adalah introspeksi:
– sudahkah pasangan saling mencintai pasangan yang saling menyayangi dan menghormati, saling memuliakan?
– sudahkah melakukan amalan2 yg dianjurkan Rasulullah, sholat tepat waktu, ngaji, tahajud, baca doa-doa, dll?
– sudahkah berusaha mencari rizki di jalan yg halal? rizki yg tercampur syubhat apalagi tdk halal, tidak berkah, sehingga habis begitu saja, tak bisa mencukupi kebutuhan keluarga
– sudahkah manajemen ekonomi dilakukan? di sini sikap qonaah sangat dibutuhkan. Bila di atas kertas rizki cuma cukup untuk makan dan sekolah anak, tentu salah bila memaksakan beli baju baru atau kredit ini itu. Sekolah anak, apakah sudah dipilih yang biayanya rendah atau memilih yang mahal, tetapi akhirnya tidak sanggup membayar? Terkadang, karena ‘demi anak’, banyak orang tua melakukan kenekadan yang sebenarnya tidak perlu. Sekolah mahal dan les mahal bukanlah sumber kesuksesan anak. Lebih baik anak sekolah di sekolah yg murah dan tidak les, tetapi waktu bersama ayah-ibu lebih banyak; ayah-ibu terlibat dalam membimbing anak secara intensif.
Meletakkan prioritas, menjauhkan diri dari rasa gengsi, serta benar-benar menghindari pengeluaran yg tidak perlu. Jangan mengira uang banyak, baru masalah akan selesai. Justru, semakin meningkat pemasukan, biasanya,  orang akan cenderung semakin meningkatkan pula pengeluarannya. Yang tadinya dianggap ga perlu, tiba-tiba perlu. Yang diperlukan adalah mental memperlakukan rizki yang ada di tangan. Selama mental masih salah, berapapun uang ada di tangan, selalu kurang dan kurang.
Karena itu sangat perlu  menyusun daftar pengeluaran keluarga (disusun bersama suami-istri, agar sama-sama tahu). Pengeluaran2 yg tidak perlu dihapuskan, meski itu memerlukan pengorbanan. Rokok, jajan, pulsa, kosmetik, kredit ini-itu, membeli masakan di luar, dikurangi. Lakukan perubahan menu makanan agar benar-benar sehat sekaligus ngirit. Jauhkan rasa gengsi dan malu atas apa kata orang.
Selain itu perlu diingat rizki bukan hanya dalam bentuk uang. Rasa cinta dan kasih sayang akan memunculkan kebahagiaan dan kesiapan menghadapi kesulitan hidup. Suami-istri yang kompak dan saling mencintai, akan membawa efek positif ke anak2. Ketika mereka sehat bahagia, dan mampu belajar dg baik di sekolah, itu juga rezeki yg tidak bisa ditukar dg uang sekalipun.
Karena itu berhentilah saling menyalahkan dan ganti dengan sikap membentuk tim yang kompak. Tanpa kekompakan, situasi hanya akan semakin memburuk. Rizki yang halal dan berkah itu hanya akan nempel ke orang-orang yang auranya positif dan penuh kasih sayang (pada sesama, pada pasangan, pada anak2). Saya pikir, yang paling pertama dilakukan adalah memperbaiki kualitas hubungan suami-istri, tumbuhkan lagi rasa cinta, kasih sayang. Ingat lagi alasan menikah, tujuan menikah. Kalau perlu ditulis, didaftar lagi. Saling curhat, apa sikap yg tdk disuka, apa yang disuka. Saling berjanji utk saling doakan, saling dukung, dan saling kompak.
Wallahu a’lam bisshowab. Semoga saya tak salah memberikan nasehat ke teman saya itu dan semoga saya sendiri bisa mengamalkan apa yang saya katakan ini…amiin…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s