Syi’ah melarang Mencaci dan Melaknat Para Sahabat dan Isteri Nabi SAW

Syi’ah melarang Mencaci dan Melaknat Para Sahabat dan Isteri Nabi SAW

by syiahali

Aku Memilih Syiah Lewat Kebohongan Wahabi

Gerakan Syiah Dalam PAS

Selain gerakan Islam Liberal yang dibawa oleh kumpulan Erdogan yang diketuai oleh PAS, wujud juga gerakan syiah dalam PAS. Gerakan syiah ini diketuai oleh Mohd Sabu. Dua orang penulis turut membantu Mohd Sabu iaitu Azman NM, seorang penulis yang bertugas di Unit Penerangan PAS Negeri Kelantan dan Faisal Tehrani yang mendapat pembiayaan dari kerajaan Iran untuk kembara dan membuat penyelidikan. Dua orang pensyarah turut membantu Mohd Sabu menyebarkan ajaran Syiah dalam PAS. Yang pertama adalah Ustaz Ahmad Zuhdi, pensyarah API UM, seorang ahli PAS dan Ustaz Wan Zailan Wan Kamaruddin, pensyarah API UM, ketua gerakan syiah di Universiti Malaya. Satu bilik operasi gerakan Syiah telah diwujudkan di Jalan Bayam, Kota Bharu yang diketuai oleh Azman MN. Bilik ini digunakan untuk mengadakan perbincangan dan menempatkan koleksi risalah dan buku propaganda Syiah secara tersembunyi. PAS sudah pecah tiga, ulama, syiah dan erdogan.
.

Mencaci Sahabat dilakukan OKNUM SYi’AH, jadi bukan perintah mazhab Syi’ah !!Satu, dua, tiga orang Syiah yang melakukan caci maki terhadap sahabat tidak bisa kita generalisasi bahwa mencaci maki sahabat adalah ajaran apalagi akidah Syiah.

.
Video ini di perankan oleh Yasir Al Habib, dia bukan ulama syi’ah yang mu’tabar !
 

Syiah Melaknat Para Sahabat dalam Sholat mereka ?? Satu, dua, tiga orang Syiah yang melakukan caci maki terhadap sahabat tidak bisa kita generalisasi bahwa mencaci maki sahabat adalah ajaran apalagi akidah Syiah.

Sebagai mazhab (umum) terbesar kedua, tidak ada yang tahu secara pasti berapa jumlah pengikut mazhab Syiah ahlulbait di seluruh dunia. Berdasarkan data demografi, populasi pengikut Syiah di Bahrain (92%), Azerbaijan (74%), Irak (64%), Libanon (60%), dan Yaman (46%). Sedangkan Arab Saudi sekitar 15%, dan masih menurut Wikipedia, jumlah di Indonesia hampir 2 juta.Namun menurut penulis web syiahali, jumlah syi’ah di NKRI sudah 2,5 juta jiwa

Sedangkan Iran, yang negaranya dikenal mengikuti mazhab Syiah Ja’fari, memiliki jumlah pengikut terbesar: lebih dari 60 juta. Ada beberapa sebab mengapa mazhab Syiah menjadi mayoritas di wilayah Iran. Beberapa hal di antaranya dijelaskan oleh Ayatullah Muhammad Al-Musawi kepada Al-Hafizh Muhammad Rasyid dalam dialognya di kota Peshawar.

Pertama karena ketiadaan fanatisme kebangsaan, kepentingan kelompok, dan motif kesukuan pada orang Persia. Mereka tidak terkait kepada salah satu kabilah sebagaimana kabilah Quraisy atau kabilah di Jazirah Arab lainnya. Lalu kemudian mereka menemukan hal itu pada diri Ali bin Abi Thalib. Kefanatikan dan kepentingan kelompok (suku/bani/kabilah) tidak menghalangi mereka dari jalan ahlulbait.

Kedua, karena kecerdasan dan kerasionalan mereka yang mencegah mereka bersikap fanatik dan taklid buta. Imam Ahmad dalam Musnad-nya (2/422) meriwayatkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda, “Kalau ilmu itu berada di bintang Tsuraiya, yang akan memperolehnya adalah dari orang Persia.” Begitu juga Ibnu Qani dalam Al-Ishâbah (3/459) meriwayatkan, “Kalau agama itu bergantung pada bintang, yang memperolehnya adalah orang Persia.”

Ketiga, Ali bin Abi Thalib mengetahui hak setiap orang dan hak tawanan dalam Islam. Sebab, Nabi saw. pernah mewasiatkan kepada kaum Muslim agar berlaku baik kepada tawanan. Nabi bersabda, “Berilah mereka makanan dengan makanan yang biasa kalian makan. Berilah mereka pakaian dengan yang biasa kalian pakai.” Sedangkan yang lain tidak mengetahuinya, atau kalau pun tahu mereka tidak menjalankannya.

Dalam sejarah dikisahkan bahwa ketika Islam membawa tawanan dari Persia (Iran)ke Madinah, sebagian kaum Muslim memperlakukan mereka secara tidak patut. Maka Imam Ali bangkit membela para tawanan itu, khususnya kepada kedua puteri Kisra ketika khalifah Abu Bakar hendak menjual mereka. Akan tetapi Ali mencegahnya dan mengatakan, “Rasulullah melarang menjual raja serta putra-putrinya.”

Lalu ia menyuruh masing-masing dari kedua putri Kisra itu memilih seorang laki-laki dari kaum muslim yang akan menikahinya. Di antara putri Kisra itu bernama Syah Zanan yang memilih menikah dengan Muhammad bin Abu Bakar, dan seorang lagi bernama Syahr Banu yang memilih Husain bin Ali.

Ketika penduduk Iran melihat dan mendengar pernikahan kedua puteri Yazdajird dan penghormatan Imam Ali kepada keduanya, mereka berterima kasih atas sikap mulia dan manusiawi dari Amirulmukminin Ali bin Abi Thalib. Ini merupakan sebab terpenting yang mendorong penduduk Iran lebih mendalami pribadi suci Ali.

Keempat, semacam ada keterikatan khusus penduduk Iran dengan Salman Al-Farisiyang merupakan anggota keluarga mereka. Karena keislaman Salman yang mengagumkan dan kedudukannya yang mulia di sisi Nabi saw., ia dianggap sebagai bagian dari ahlulbait. Sebuah hadis meriwayatkan bahwa nabi bersabda, “Salman adalah bagian dari kami, ahlulbait.” Sejak hari itu, ia biasa dipanggil dengan Salman Al-Muhammadi.

Karena Salman merupakan bagian dari Syiah ahlulbait, ia termasuk orang yang menentang perkumpulan di Saqifah dan pemilihan khalifah di sana, lalu kemudian mengajak kaumnya untuk berpegang kepada mazhab Syiah ahlulbait. Wallahualam.

Rasulullah menaruh tangannya kepada Salman Al-Farisi dan berkata, “Jika keimanan diletakkan di bintang ats-tsuraiya (pleiades), maka orang-orangnya (Salman, Persia) akan menggapainya.” (HR. Bukhari)

Beberapa orang telah mencampuradukkan antara Iran dengan Syiah. Mereka mencoba untuk menunjukkan bahwa Syiah adalah orang-orang Persia yang membenci Arab dan itu sebabnya mereka membenci Umar dan beberapa sahabat lainnya. Iran adalah sebuah negara dan Syiah adalah sebuah keyakinan. Keduanya adalah entitas yang berbeda. Banyak pengikut Syiah yang bukan orang Iran. Ada pengikut Syiah di IrakHijaz (Jazirah Arab), Suriah, Lebanon, dan mereka semua orang Arab. Selain itu, ada juga Syiah di Pakistan, India, Afrika, Amerika, dan mereka semua bukan Arab atau Persia.

Lebih lanjut, seluruh dua belas imam Syiah adalah Arab Quraisy dari Bani Hasyim. Jika Persia membenci Arab, sebagaimana tuduhan beberapa orang, mereka akan memilih Salman Al-Farisi sebagai imam karena beliau adalah sahabat besar nabi dan dihormati oleh Syiah maupun suni. Di sisi lain, banyak imam suni terkemuka adalah orang Persia, seperti Abu Hanifah, An-Nasai, At-Tirmidzi, Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Al-GhazaliAl-Farabi, dan banyak lainnya.

Jika semua Syiah adalah orang Persia yang menolak Umar karena dia telah menghancurkan kekuatan mereka, bagaimana kita menjelaskan penolakan orang-orang Arab (terhadap Syiah) yang bukan orang Persia? Karenanya, hal tersebut adalah pernyataan yang tidak masuk akal. Orang-orang ini menolak Umar karena perannya dalam mengeluarkan Ali dari kepemimpinan setelah wafatnya nabi dan juga karena perselisihan yang tragis.

Memang benar bahwa Syiah, entah mereka Arab atau Persia atau bangsa lainnya, mengikuti Quran dan sunah nabi yang disampaikan oleh keluarga beliau, dan menolak alternatif lain, meskipun ada kebijakan menindas rezim Umayyah dan Abbasiah selama tujuh abad. Selama periode itu, mereka mengejar orang-orang Syiah di mana pun. Mereka membunuh, mengusir, menolak hak-hak mereka, dan berusaha menghancurkan kultur dan warisan intelektual, kemudian menyebarkan berbagai macam rumor tentang mereka agar orang-orang menjauh darinya. Warisan dari kebijakan tersebut masih terasa sampai sekarang.

Seorang Wahabi menyebutkan:

Semua catatan sejarah menunjukkan bahwa Iran adalah tempat subur bagi banyak kerusakan dalam sejarah Islam, baik itu Khurramiah, Khawarij, Hashshasyin, Qaramithah, dan segala macam kelompok rusak termasuk penyembah dua belas orang.

Benar-benar tak masuk akal! Khawarij muncul di Irak. Hamdan Qarmat (pemimpin Qaramithah) tinggal di Kufah. Kebanyakan pengikut Qaramithah berasal dari Yaman. Sekedar tahu saja, tidak ada sekte yang menyembah dua belas orang. Inikah (pengetahuan) yang Anda terima dari ASI ibu Anda?

Meskipun saya tidak ingin menyebut bangsa manapun, tetapi riwayat suni otentik mengandung banyak riwayat yang berpihak pada Persia. Saya akan mengutipkan beberapa di antaranya:

Sahih Al-Bukhari hadis: 6.420
Abu Hurairah meriwayatkan:

Ketika kami sedang duduk bersama nabi, Surah Al-Jumuah diturunkan kepadanya. Ketika ayat “…(dan Dia juga mengutus) kepada kaum yang lain dari mereka…” dibacakan oleh nabi, saya berkata, “Siapakah mereka, wahai Rasulullah?” Nabi tidak menjawab sampai saya mengulangi pertanyaan tiga kali. Pada saat itu, Salman Al-Farisi bersama kami. Maka Rasulullah meletakkan tangannya ke Salman, berkata, “Seandainya iman berada di (bintang tertinggi) Tsuraiya, maka orang-orang dari orang ini (Salman) yang akan mencapainya.”

Riwayat selanjutnya:

Sahih Al-Bukhari hadis: 6.421
Abu Hurairah meriwayatkan:

Nabi bersabda, “Maka beberapa orang dari orang tersebut akan meraihnya.”

Saya juga harus menyebutkan bahwa Salman berasal dari sebuah provinsi di Iran bernama Fars, yang saat ini berada di tengah-tengah Iran. Sahih Muslim juga memiliki riwayat terkait hal ini:

Abu Hurairah meriwayatkan: Kami sedang duduk bersama Rasulullah saw. dan Surah Al-Jumuah diturunkan kepadanya. Ketika dia membaca: “Kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka”(62:3), seseorang di antara mereka (yang duduk di sana) berkata: “Rasulullah!” Tapi Rasulullah saw. tidak menjawab, hingga dia bertanya satu, dua, atau tiga kali. Di antara kami ada Salman Al-Farisi. Rasulullah saw. menempatkan tangannya pada Salman dan berkata: “Sekalipun iman berada dekat Tsuraiya, seseorang di antara orang ini yang akan menggapainya.”

Rujukan suni: Sahih Muslim, versi Bahasa Inggris, Bab MLI, di bawah judul: The merit of the people of Persia, riwayat #6178

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Jika agama berada di Tsuraiya, maka seseorang dari Persia akan mengambilnya, atau seseorang dari keturunan Persia pasti akan menemukannya.

Rujukan suni: Sahih Muslim, versi Bahasa Inggris, Bab MLI, di bawah judul: The merit of the people of Persia, riwayat #6177

Sekali lagi, saya tidak bermaksud mendukung bangsa manapun, tapi saya mengutipkan riwayat tersebut untuk menunjukkan bertapa absurdnya tuduhan palsu terhadap muslim dari Iran.

Penulis Wahabi itu kemudian menyebutkan:

Sebenarnya, kebanyakan orang Iran telah menerima sunah nabi dan bergabung bersama jemaah sebelum mereka dipaksa pindah kepada Rafidisme oleh Safawi, untuk menunjukkan sejauh mana kekuatan fitnah di sana.

Mayoritas orang Persia sudah mengikuti ahlulbait sejak awal kemunculan Islam di wilayah tersebut, meskipun kebijakan menindas Umayyah dan Abbasiah terus berlanjut untuk mengadili pengikut ahlulbait di Persia, Irak, Hijaz, dan tempat-tempat lain.

Tidak ada yang bisa memaksakan seseorang untuk pindah ke agama lain, karena agama ada di hati seseorang dan bukan di kartu identitas. Logika Anda sangat kabur ketika saya melihat banyak orang Arab di Jazirah Arab (yang sekarang dikenal sebagai kerajaan Arab Saudi) adalah Syiah Imam Ali a.s. meskipun rezim menindas di Hijaz sejak awal sejarah Islam. Mungkin Anda juga akan beralasan bahwa Hijaz waktu itu bagian dari Iran?!

Mari kita mengulangi kembali salah satu subbab pelajaran dasar logika: generalisasi. Karena mungkin saja kita pernah mengucapkan atau mendengar seseorang mengatakan untuk tidak melakukan generalisasi. Kita akan mengulang sedikit saja agar saya dan Anda tidak salah lagi dalam melakukan penilaian terhadap kelompok atau orang lain.

Sebagai salah satu proses penalaran induksi (khusus-umum), generalisasi merupakan penyimpulan yang berawal dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan umum. Fenomena yang dialami kita setarakan dengan seluruh fenomena sejenis. Jadi, kesimpulan dari satu peristiwa yang terjadi kita berlakukan juga kepada peristiwa lain yang belum terjadi. Karena itulah, proses seperti ini sebenarnya tidak sampai pada kebenaran absolut, tetapi hanya sebuah kemungkinan.

Ketika berbicara mengenai generalisasi, maka yang dimaksud adalah generalisasitidak sempurna, yaitu generalisasi yang didasarkan beberapa fenomena untuk menyimpulkan fenomena sejenis yang belum diselidiki. Untuk menguji apakah sebuah generalisasi yang dihasilkan cukup kuat, kita harus mengevaluasi bukti-bukti yang ada, di antaranya:

  1. Meski tidak ada ukuran yang pasti, tapi apakah benar jumlah sampel yang dimiliki cukup untuk membuktikan kebenaran? Karena untuk menentukan faktor dominan, apalagi sebuah keyakinan, tidak cukup didasarkan kepada beberapa orang saja.
  2. Meski tidak menjamin kebenaran absolut, apakah sampel yang digunakan cukup bervariasi? Sampel yang semakin bervariasi akan semakinmemperkuat kemungkinan kebenarannya; misalkan variasi pengaruh kehidupan dan lingkungan, latar belakang pendidikan, kultur, usia, negara, dan sebagainya.

Selain dua hal di atas, ada beberapa hal lain yang patut diperhatikan seperti pengecualian dan konsistensi dalam menyimpulkan generalisasi.[1] Jika kita tidak memperhatikan banyak faktor maka dapat menghasilkan generalisasi yang salah. Misalkan, pelaku pemboman itu orang Arab, berjanggut, beragama Islam, lantas kita simpulkan bahwa (semua) orang Arab, berjanggut, Islam adalah teroris. Atau tersangka korupsi bermazhab suni, lantas kita simpulkan bahwa orang bermazhabsuni koruptor.

Generalisasi yang salah ini tidak hanya terjadi pada Islam secara umum tapi juga Syiah. Satu, dua, tiga orang Syiah yang melakukan caci maki terhadap sahabat tidak bisa kita generalisasi bahwa mencaci maki sahabat adalah ajaran apalagi akidahSyiah. Satu, dua pendapat ulama Syiah tidak bisa dijadikan ukuran bahwa itu adalah ajaran Syiah, karena sebuah fatwa bukanlah ijmak. Satu, dua hadis lemah yang ada di dalam kitab Syiah tidak bisa dijadikan sandaran atas keyakinan Syiah.

Anjuran untuk tidak melakukan generalisasi terhadap Syiah sudah pernah dilontarkan oleh kristolog masyhur Ahmad Deedat. Beliau mengatakan, jika kita melihat satu orang suni melakukan kesalahan, kita hanya mengatakan bahwa orang itu tidak islami. Tapi jika satu orang Syiah melakukan kesalahan, kita malah menyalahkan seluruh komunitas Syiah yang jumlahnya jutaan

Pesan yang sama juga pernah disampaikan Habib Rizieq Shihab. Dia mengatakan bahwa kita tidak boleh menggeneralisasi semua Syiah itu kafir dan sesat, karena mereka bermacam-macam. Begitu pula, dia mengatakan agar orang Syiah awam tidak melakukan caci-maki terhadap sahabat, sebab orang suni yang tidak paham akan menggeneralisasi bahwa Syiah memang seperti itu. Katanya, “Orang awam mudah menggeneralisasi.”

Kebanyakan generalisasi yang muncul adalah generalisasi empiris, yakni generalisasi yang tidak disertai penjelasan. Diperparah lagi dengan orang yang menerimanya tidak berusaha mencari penjelasan mengapanya. Generalisasi mengenai Syiah sebagai kelompok sesat yang berakidahkan caci maki terhadap sahabat akan terus berjalan bertahun dan berabad lamanya. Tanpa ada penjelasan dan mencari penjelasan, sehingga menghasilkan stereotip.

Stereotip adalah konsepsi yang ada di benak mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subjektif dan tidak tepat. Stereotip ini membuat seseorang malas berpikir, mempertanyakan, atau menganalisa. Anda melihat seseorang memakai kemeja putih-celana hitam-membawa map, maka kita simpulkan (melalui stereotip) bahwa dia sedang mencari kerja. Melihat orang memakai jubah dan peci maka disimpulkan bahwa dia bagian dari kelompok garis keras. Jika berkaitan dengan Syiah, tanpa perlu pikir panjang maka segera muncul konsepsi dalam benak orang-orang sebagai kelompok “sesat! kafir!”

Sampai di situ orang akan enggan untuk mencari tahu apakah konsepsinya benar atau tidak. Dia sudah merasa puas dengan apa yang pernah diterimanya dari seseorang yang—melalui stereotip—terlihat seperti pakar agama. Sebagai contoh, seorang syekh salafi mengatakan bahwa lebih baik merokok dan minum khamar daripada berdebat dengan orang Syiah.[4] Semua itu muncul karena stereotip bahwa Syiah kafir, sesat, dan pembicaraannya adalah kebohongan. Padahal untuk membuktikannya diperlukan dialog, bukan menutup mata.

Kita akan menghadapi masa paling berbahaya dalam sejarah manusia dan dunia. Kita akan membicarakan mengenai implikasi serangan Zionis Israel terhadap Iran, yang tidak hanya akan terjadi tapi juga tidak lama lagi. Kita melihat bahwa Israel akan menyerang Iran karena Zionis Israel ingin menguasai dan memerintah dunia secara penuh; karena sekutu Yahudi-Kristen-Zionis Eropa ingin memberikan jalan bagi Israel untuk menguasai dunia.

Itu sebabnya kita yakin perang ini akan terjadi. Itu sebabnya mereka ingin menyerang Iran. Israel “memiliki hak” untuk membangkitkan perang yang tidak adil kepada orang lain, begitu juga perang terhadap Iran. Tetapi ada hal lain, yaitu mereka yang menabuh semangat perang di dunia Arab dan mengharapkan perang terhadap Iran terjadi. Mereka menabuh drum perang yang tidak adil.

Jika perang benar-benar terjadi, mereka juga melakukan dosa yang sama karena mendukung terjadinya perang. Celakalah kalian! Celakalah bagi kalian (negara Arab) yang menginginkan perang terhadap Iran. Jika kalian mendukung serangan terhadap Iran, berarti kalian mendukung perang yang tidak adil. Kalian menjadi bagian dari perbuatan zalim, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang zalim.

Salah satu alasan mengapa banyak (negara) Arab ingin menabuh drum peperangan dan mengharapkan perang terhadap Iran adalah karena Iran Syiah. Mereka menganggap Syiah kelompok kafir. Mereka membolehkan perang terhadap kelompok kafir. Bagaimana mereka sampai pada kesimpulan bahwa Syiah kelompok kafir? Jika Syiah kelompok kafir, maka harus ada konsensus tentang hal ini. Nyatanya tidak ada konsensus yang dicapai tentang hal ini selama 1.400 tahun.

Karena itulah kami mengatakan terlalu terlambat pada akhir zaman ini untuk menghasilkan argumen bahwa Syiah adalah kelompok kafir. Dominasi (Arab) melawan Syiah dan serangan yang akan dilancarkan terhadap Iran, menjadi keinginan (Zionis) yang hakikatnya bertujuan memerangi Islam melalui penciptaan perang saudara suni-Syiah di dunia Islam. Perang saudara suni-Syiah akan menjadi sangat bermanfaat bagi Israel.

  • Pertama, perang saudara suni-Syiah akan menciptakan buruknya Islam di mata dunia di saat Islam menjadi pusat perhatian dunia.
  • Kedua, perang saudara suni-Syiah akan memecahkan perhatian muslim dannon-muslim dari rencana Zionis untuk menguasai dunia.
  • Ketiga, kaum muslim yang saling berperang tentu saja akan menghilangkan kekuatan yang dimiliki, dan tentu saja sangat bermanfaat bagi Israel.

Perang terhadap Iran akan sangat berpengaruh terhadap perekonomian dunia. Pertama, harga minyak. Tidak hanya karena Iran menjadi salah satu penyumbang minyak terbesar tapi juga karena lokasi Iran yang strategis di Teluk Arab… Tidak sulit bagi Iran untuk memblokade selat Hormuz. Jadi kita tidak bisa mencegah harga minyak melambung tinggi sekali serangan terhadap Iran terjadi. Pemerintah Amerika tahu akan hal ini dan itu sebabnya mereka tidak ingin serangan terjadi. Karena pemerintah Amerika, Fed, dan para bankir tahu jika hal itu terjadi maka dolar dan perekonomian AS akan runtuh. Orang-orang kaya akan bangkrut dan akan terjadi kerusuhan masal di sana. Karena itulah perang terhadap Iran akan menjadi bencana bagi ekonomi, finansial, dan moneter.

Perang terhadap Iran juga bisa berlanjut dengan terjadinya perang terhadapPakistan. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan Pakistan dari kelompok negara nuklir. Inilah saatnya bagi muslim seluruh dunia, termasuk muslim Iran, untuk menyadari bahwa rekan paling strategis Israel saat ini, setelah AS, adalah India, dengan Arab Saudi di belakangnya. Sehingga tidak hanya India akan terlibat dalam serangan tersebut, tapi juga serangan terhadap Pakistan akan menjadikan India menguasai wilayah atas nama Israel.

Khamenei: Haram Menghina Istri Nabi dan Simbol Ahlusunah

Sanad informasi yang saya peroleh ini adalah dari note Muhsin Labib, dari Mohammad Baagil, dari AhlulBayt News Agency. Sangat layak untuk dibaca dan dijadikan sebagai bahan renungan (khususnya muqallid Sayid Ali Khamenei dan pengikut mazhab Syiah umumnya) sekaligus alasan untuk mengevaluasi diri kita masing dalam melaksanakan taklif terutama dalam bidang dakwah dan interaksi antarsesama. Sayid Ali Khamenei, Pemimpin Spiritual dari Iran, menerbitkan sebuahfatwa yang mengharamkan perlakuan buruk terhadap istri Nabi, Ummulmukminin Aisyah dan melecehkan simbol-simbol (tokoh-tokoh yang diagungkan) ahlusunah waljemaah.

Hal itu tertera dalam jawaban atas istifta’ (permohonan fatwa) yang diajukan oleh sejumlah ulama dan cendekiawan Ahsa, Arab Saudi, menyusul penghinaan yang akhir-akhir ini dilontarkan seorang pribadi tak terpuji bernama Yasir al-Habib yang berdomisili di London terhadap istri nabi, Aisyah. Para pemohon fatwa menghimbau kepada Sayid Khamenei menyampaikan pandangannya terhadap “penghujatan jelas dan penghinaan berupa kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istriRasul saw., Aisyah.”

Menjawab hal itu, Khamenei mengatakan, “…diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) ahlusunah waljemaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri nabi saw. dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”

Fatwa Khamenei ini dapat dapat dianggap sebagai fatwa paling mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangkaian reaksi-reaksi luas kalangan Syiah sebagai kecaman terhadap pelecehan yang dilontarkan oleh (seseorang bernama) Yasir al-Habib terhadap Siti Aisyah ra. Sebelumnya puluhan pemuka agama di kalangan Syiah di Arab Saudi, negara-negara Teluk dan Iran telah mengecam dengan keras pernyataan-pernyataan dan setiap keterangan yang menghina Siti Aisyah atau salah satu istri Nabi termulia saw. Berikut teks fatwa dalam bahasa Arab tersebut:

نص الاستفتاء: بسم الله الرحمن الرحيم سماحة آية الله العظمى السيد علي الخامنئي الحسيني دام ظله الوارف السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

تمر الامة الاسلامية بأزمة منهج يؤدي الى اثارت الفتن بين ابناء المذاهب الاسلامية ، وعدم رعا ية الأولويات لوحدة صف المسلمين ، مما يكون منشا لفتن داخلية وتشتيت الجهد الاسلامي في المسائل الحساسة والمصيرية ، ويؤدي الى صرف النظر عن الانجازات التي تحققت على يد ابناء الامة الاسلامية في فلسطين ولبنان والعراق وتركيا وايران والدول الاسلامية ، ومن افرازات هذا المنهج المتطرف طرح ما يوجب الاساءة الى رموز ومقدسات اتباع الطائفة السنية الكريمة بصورة متعمدة ومكررة .

فما هو رأي سماحتكم في ما يطرح في بعض وسائل الاعلام من فضائيات وانترنت من قبل بعض المنتسبين الى العلم من اهانة صريحة وتحقير بكلمات بذيئة ومسيئة لزوج الرسول صلى الله عليه واله ام المؤمنين السيدة عائشة واتهامها بما يخل بالشرف والكرامة لأزواج النبي امهات المؤمنين رضوان الله تعالى عليهن.

لذا نرجو من سماحتكم التكرم ببيان الموقف الشرعي بوضوح لما سببته الاثارات المسيئة من اضطراب وسط المجتمع الاسلامي وخلق حالة من التوتر النفسي بين المسلمين من اتباع مدرسة أهل البيت عليهم السلام وسائر المسلمين من المذاهب الاسلامية ، علما ان هذه الاساءات استغلت وبصورة منهجية من بعض المغرضين ومثيري الفتن في بعض الفضائيات والانترنت لتشويش وارباك الساحة الاسلامية واثارة الفتنة بين المسلمين .

ختاما دمتم عزا وذخرا للاسلام والمسلمين .

التوقيع

جمع من علماء ومثقفي الاحساء4 / شوال / 1431هـــــ

:جواب الإمام الخامنئي

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

يحرم النيل من رموز إخواننا السنة فضلاً عن اتهام زوج النبي (صلى الله عليه وآله) بما يخل بشرفها بل هذا الأمر ممتنع على نساء الأنبياء وخصوصاً سيدهم الرسول الأعظم (صلّى الله عليه وآله).

موفقين لكل خير

Berikut ini teks fatwa yang diterjemahkan oleh Ust. Muhsin Labib, dengan catatan bahwa terjemahan dilakukan (dalam bahasa) bebas. Mohon dimaafkan bila kurang pas. Semoga beliau memaafkan saya, muqallid dan pewalinya yang penuh dosa ini.

Teks Permohonan Fatwa:

Bismillahirrahmanirrahim Yang Mulia Ayatullah Al-Uzma Sayid Ali Al-Khamenei Al-Husaini Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Umat Islam mengalami krisis metode yang mengakibatkan penyebaran fitnah (cekcok) antar para penganut mazhab-mazhab Islam dan mengakibatkan diabaikannya prioritas-prioritas bagi persatuan barisan muslimin. Hal ini menjadi sumber bagi kekacauan internal dan terhamburkannya kontribusi Islam dalam penyelesaian isu-isu penting dan menentukan. Salah satu akibatnya adalah teralihkannya perhatian terhadap capaian-capaian putra-putra umat Islam di PalestinaLebanon, Irak, Turki,Iran dan negara-negara Islam lainnya. Salah satu hasil dari metode ekstrim ini adalah tindakan-tindakan yang menjurus kepada pelecehan secara sengaja dan konstan terhadap ikon-ikon dan keyakinan-keyakinan yang diagungkan oleh para penganut mazhab suni yang kami muliakan.

Maka, bagaimanakah pendapat Yang Mulia tentang hal-hal yang dilontarkan dalam sebagian media televisi satelit dan internet oleh sebagian orang yang menyandang predikat ilmu berupa penginaan terang-terangan dan pelecehan berupa kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan istri Rasul saw., Ummulmukminin Aisyah serta menuduhkan dengan hal-hal yang menodai kehormatan dan harkat istri-istri nabi, semoga Allah Taala meridai mereka?

Karenanya, kami memohon Yang Mulia berkenan memberikan pernyataan tentang sikap syar’i secara jelas terhadap akibat-akibat yang timbul dari sensasi negatif berupa ketegangan di tengah masyarakat Islam dan menciptakan suasana yang diliputi ketegangan psikologis antar sesama muslim baik di kalangan para penganut mazhab ahlulbait maupun kaum muslimin dari mazhab-mazhab Islam lainnya, mengingat penghujatan-penghujatan demikian telah dieksploitasi secara sistematis oleh para provokator dan penebar fitnah dalam sejumlah televisi satelit dan internet demi mengacaukan dan mengotori dunia Islam dan menyebarkan perpecahan antar muslimin.

Sebagai penutup, kami berdoa semoga Yang Mulia senantiasa menjadi pusaka bagi Islam dan muslimin.

Tertanda, Sejumlah ulama dan cendekiawan Ahsa, 4 Syawal 1431 H

Jawaban Imam Khamenei:

Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Diharamkan menghina simbol-simbol (yang diagungkan) saudara-saudara seagama kita, ahlusunah, berupa tuduhan terhadap istri nabi saw. dengan hal-hal yang mencederai kehormatannya, bahkan tindakan ini diharamkan terhadap istri- istri para nabi terutama penghulunya, yaitu Rasul termulia saw.

Semoga Anda semua mendapatkan taufik untuk setiap kebaikan.

Lalu, Siapa Yasser al-Habib?

Pernah, seorang pengunjung blog berkomentar mengenai tidak mungkinnya persatuan Syiah dan suni karena masih adanya caci-maki terhadap sahabat dan istri Nabi. Dalam komentarnya, dia juga memberi link sebuah video di YouTube untuk “membuktikan” klaim tersebut. Saya buka video tersebut dan tulisan di awal video adalah “YASIR AL-HABIB, di antara ulama Syiah yang terkemuka di abad 20.”

Saya membalas komentarnya begini, “Yasir Al-Habib? Ulama terkemuka abad 20? Terlalu berlebihan. Saya kasih contoh yang terkemuka: Ayatullah Khamenei, Ayatullah Sistani, Syekh Subhani, Husein Fadhlullah, dll.” Jadi, siapa Yasir Al-Habib?

Yasser al-Habib, begitu transliterasi dalam bahasa Inggrisnya, dilahirkan di Kuwait pada tahun 1979—masih muda untuk jadi ukuran ulama “terkemuka”. Dia adalah lulusan Ilmu Politik Universitas Kuwait. Pandangannya dalam agama sangat ekstrim, termasuk mengenai sejarah wafatnya Fatimah putri Nabi saw. yang kerap kali kecaman dialamatkan kepada Khalifah Abu Bakar, Umar serta Ummulmukminin Aisyah ra. Makiannya yang dilakukan dalam sebuah ceramah tertutup ternyata tersebar dan membuatnya dipenjarakan oleh pemerintah Kuwait pada tahun 2003. Belum setahun, ia dibebaskan di bawah pengampunan Amir Kuwait (menurut pengakuannya dia bertawasul kepada Abul Fadhl Abbas), namun beberapa hari kemudian ditangkap lagi. Sebelum dijatuhi hukuman selama 25 tahun, ia pergi meninggalkan Kuwait.

Karena tidak mendapat izin dari pemerintah untuk tinggal di Irak dan Iran, ia mendapat suaka dari pemerintah Inggris. Sejak berada di Kuwait, ia sudah memimpin Organisasi Khaddam Al-Mahdi. Setelah mendapat suaka dari pemerintah Inggris, entah bagaimana organisasinya semakin “makmur”. Punya kantor, koran,hauzah, majelis, yayasan dan juga website sendiri. Karena perkembangannya yang cepat inilah muncul kecurigaan bantuan dana dari pemerintah Inggris. Kita semakin curiga, karena pemerintah Kuwait berulang kali meminta agar Yasser Al-Habib ditangkap namun ditolak oleh Interpol.

Hubungannya dengan Mesir, Iran, dan sebagian besar ulama Syiah nampaknya tidak harmonis. Dalam situsnya, ia kerap kali mengecam ulama rujukan sekelas, Imam Khomeini dan Ayatullah Ali Khamenei, bahkan tidak menganggapnya sebagai mujtahid dan marja’. Jadi bisa dikatakan bahwa Yasser Al-Habib sangat tidak merepresentasikan mayoritas ulama Syiah yang menghendaki persatuan dan perbaikan umat muslim. Tidak adil jika Anda mengutip pendapatnya dan menuliskan bahwa itu adalah pandangan (mayoritas) pengikut Syiah, padahal hanyalah pandangan pribadinya. Artikel lain yang patut dibaca mengenai rancangan CIA dalam menciptakan “ulama-ulama” palsu

Konspirasi Anti-Syiah dan Adu Domba CIA

Sebuah buku berjudul “A Plan to Divide and Destroy the Theology” telah terbit di AS. Buku ini berisi wawancara detail dengan Dr. Michael Brant, mantan tangan kanan direktur CIA. Dalam wawancara ini diungkapkan hal-hal yang sangat mengejutkan. Dikatakan bahwa CIA telah mengalokasikan dana sebesar 900 juta US dollar untuk melancarkan berbagai aktivitas anti-Syiah. Dr. Michael Brant sendiri telah lama bertugas di bagian tersebut, akan tetapi ia kemudian dipecat dengan tuduhan korupsi dan penyelewengan jabatan.

Tampaknya dalam rangka balas dendam, ia membongkar rencana-rencana rahasia CIA ini. Brant berkata bahwa sejak beberapa abad silam dunia Islam berada di bawah kekuasaan negara-negara Barat. Meskipun kemudian sebagian besar negara-negara Islam ini sudah merdeka, akan tetapi negara-negara Barat tetap menguasai kebebasan, politik, pendidikan, dan budaya mereka, terutama sistem politik dan ekonomi mereka. Oleh sebab itu, meski telah merdeka dari penjajahan fisik, mereka masih banyak terikat kepada Barat.

Pada tahun 1979, kemenangan Revolusi Islam telah menggagalkan politik-politik kami. Pada mulanya Revolusi Islam ini dianggap hanya sebagai reaksi wajar dari politik-politik Syah Iran. Dan setelah Syah tersingkir, kami (AS) akan menempatkan lagi orang-orang kami di dalam pemerintahan Iran yang baru, sehingga kami akan dapat melanjutkan politik-politik kami di Iran.

Setelah kegagalan besar AS dalam dua tahun pertama (dikuasainya Kedubes AS di Tehran dan hancurnya pesawat-pesawat tempur AS di Tabas) dan setelah semakin meningkatnya kebangkitan Islam dan kebencian terhadap Barat, juga setelah munculnya pengaruh-pengaruh Revolusi Islam Iran di kalangan Syiah di berbagai negara–terutama Libanon, Irak, Kuwait, Bahrain, dan Pakistan—akhirnya para pejabat tinggi CIA menggelar pertemuan besar yang disertai pula oleh wakil-wakil dari Badan Intelijen Inggris. Inggris dikenal telah memiliki pengalaman luas dalam berurusan dengan negara-negara ini.

Dalam pertemuan tersebut, kami sampai pada beberapa kesimpulan, di antaranya bahwa Revolusi Islam Iran bukan sekadar reaksi alami dari politik Syah Iran. Tetapi, terdapat berbagai faktor dan hakikat lain, di mana faktor terkuatnya adalah adanya kepemimpinan politik marja’iyah (kepemimpinan agama) dan syahidnya Husain, cucu Rasulullah, 1400 tahun lalu, yang hingga kini masih tetap diperingati oleh kaum Syiah melalui upacara-upacara kesedihan secara luas. Sesungguhnya dua faktor ini yang membuat Syiah lebih aktif dibanding muslimin lainnya.

Dalam pertemuan CIA itu, telah diputuskan bahwa sebuah lembaga independen akan didirikan untuk mempelajari Islam Syiah secara khusus dan menyusun strategi dalam menghadapi Syiah. Bujet awal sebesar 40 juta US dolar juga telah disediakan. Untuk penyempurnaan proyek ini, ada tiga tahap program:

  1. Pengumpulan informasi tentang Syiah, markas-markas dan jumlah lengkap pengikutnya.
  2. Program-program jangka pendek: propaganda anti-Syiah, mencetuskan permusuhan dan bentrokan besar antara Syiah dan Sunni dalam rangka membenturkan Syiah dengan suni yang merupakan mayoritas muslim, lalu menarik mereka (kaum Syiah) kepada AS.
  3. Program-program jangka panjang: demi merealisasikan tahap pertama, CIA telah mengutus para peneliti ke seluruh dunia, di mana enam orang dari mereka telah diutus ke Pakistan, untuk mengadakan penelitian tentang upacara kesedihan bulan Muharram.

Para peneliti CIA ini harus mendapatkan jawaban bagi soal-soal berikut:

  • Di kawasan dunia manakah kaum Syiah tinggal, dan berapa jumlah mereka?
  • Bagaimanakah status sosial-ekonomi kaum Syiah, dan apa perbedaan-perbedaan di antara mereka?
  • Bagaimanakah cara untuk menciptakan pertentangan internal di kalangan Syiah?
  • Bagaimanakah cara memperbesar perpecahan antara Syiah dan suni?
  • Mengapa mereka kuatir terhadap Syiah?

Dr. Michael Brant berkata bahwa setelah melalui berbagai polling tahap pertama dan setelah terkumpulnya informasi tentang pengikut Syiah di berbagai negara, didapat poin-poin yang disepakati, sebagai berikut:

Para marja’ Syiah adalah sumber utama kekuatan mazhab ini, yang di setiap zaman selalu melindungi mazhab Syiah dan menjaga sendi-sendinya. Dalam sejarah panjang Syiah, kaum ulama (para marja’) tidak pernah menyatakan baiat (kesetiaan) kepada penguasa yang tidak Islami. Akibat fatwa Ayatullah Syirazi, marja’ Syiah saat itu, Inggris tidak mampu bertahan di Iran.

Di Irak yang merupakan pusat terbesar ilmu-ilmu Syiah, Saddam dengan segala kekuatan dan segenap usaha tidak mampu membasmi Syiah. Pada akhirnya, ia terpaksa mengakhiri usahanya itu. Ketika semua pusat ilmu lain di dunia selalu mengambil langkah beriringan dengan para penguasa, Hauzah Ilmiyah Qom justru menggulung singgasana kerajaan tirani Syah. Di Lebanon, Ayatullah Musa Shadr memaksa pasukan militer Inggris, Perancis, dan Israel melarikan diri. Keberadaan Israel juga terancam oleh sang Ayatullah dalam bentuk Hizbullah.

Setelah semua penelitian ini, kami sampai pada kesimpulan bahwa berbenturan langsung dengan Syiah akan banyak menimbulkan kerugian, dan kemungkinan menang atas mereka sangat kecil. Oleh sebab itu, kami mesti bekerja di balik layar. Sebagai ganti slogan lama Inggris: “Pecah-belah dan Kuasai” (Divide and Rule), kami memiliki slogan baru: “Pecah-belah dan Musnahkan” (Divide and Annihilate).

Rencana mereka sebagai berikut:

  1. Mendorong kelompok-kelompok yang membenci Syiah untuk melancarkan aksi-aksi anti-Syiah.
  2. Memanfaatkan propaganda negatif terhadap Syiah, untuk mengisolasi mereka dari masyarakat muslim lainnya.
  3. Mencetak buku-buku yang menghasut Syiah.
  4. Ketika kuantitas kelompok anti-Syiah meningkat, gunakan mereka sebagai senjata melawan Syiah (contohnya: Taliban di Afghanistan dan Sipah-e Sahabah di Pakistan).
  5. Menyebarkan propaganda palsu tentang para marjak dan ulama Syiah.

Orang-orang Syiah selalu berkumpul untuk memperingati tragedi Karbala. Dalam peringatan itu, seorang akan berceramah dan menguraikan sejarah tragedi Karbala, dan hadirin pun mendengarkannya. Lalu mereka akan memukul dada dan melakukan “upacara kesedihan” (azadari). Penceramah dan para pendengar ini sangat penting bagi kita. Karena, azadari-azadari seperti inilah yang selalu menciptakan semangat menggelora kaum Syiah dan mendorong mereka untuk selalu siap memerangi kebatilan demi menegakkan kebenaran. Untuk itu:

  1. Kita harus mendapatkan orang-orang Syiah yang materialistis dan memiliki akidah lemah, tetapi memiliki kemasyhuran dan kata-kata yang berpengaruh. Karena, melalui orang-orang inilah kita bisa menyusup ke dalam upacara-upacara azadari (wafat para imam ahlulbait).
  2. Mencetak atau menguasai para penceramah yang tidak begitu banyak mengetahui akidah Syiah.
  3. Mencari sejumlah orang Syiah yang butuh duit, lalu memanfaatkan mereka untuk kampanye anti-Syiah. Sehingga, melalui tulisan-tulisan, mereka akan melemahkan fondasi-fondasi Syiah dan melemparkan kesalahan kepada para marjak dan ulama Syiah.
  4. Memunculkan praktik-praktik azadari yang tidak sesuai dan bertentangan dengan ajaran Syiah yang sebenarnya.
  5. Tampilkan praktik azadari (seburuk mungkin), sehingga muncul kesan bahwa orang-orang Syiah ini adalah sekelompok orang dungu, penuh khurafat, yang di bulan Muharram melakukan hal-hal yang mengganggu orang lain.
  6. Untuk menyukseskan semua rencana itu harus disediakan dana besar, termasuk mencetak penceramah-penceram ah yang dapat menistakan praktik azadari. Sehingga, mazhab Syiah yang berbasis logika itu dapat ditampilkan sebagai sesuatu yang tidak logis dan palsu. Hal ini akan memunculkan kesulitan dan perpecahan di antara mereka.
  7. Jika sudah demikian, tinggal kita kerahkan sedikit kekuatan untuk membasmi mereka secara tuntas.
  8. Kucurkan dana besar untuk mempropagandakan informasi palsu.
  9. Berbagai topik anti-marja’iah harus disusun, lalu diserahkan kepada para penulis bayaran untuk disebarkan kepada masyarakat luas. Marja‘iah, yang merupakan pusat kekuatan Syiah, harus dimusnahkan. Akibatnya, para pengikut Syiah akan bertebaran tanpa arah, sehingga mudah untuk menghancurkan mereka.

“Arah Tepat” Fatwa Khamenei

Fatwa yang dikeluarkan Ali Khamenei baru-baru ini yang mengecam penggunaan bahasa kasar terhadap istri Nabi saw. merupakan langkah yang tepat. Ini merupakan perkembangan baik yang kita tunggu sejak lama. Hal ini jelas mencerminkan kedudukan tinggi Khamenei sebagai simbol utama tidak hanya di Iran, tapi juga seluruh dunia muslim. Karena mayoritas Iran adalah pengikut Syiah, hal ini akan menjadi panduan bagi mereka untuk memadamkan ketegangan, yang beberapa orang coba untuk kobarkan di antara mazhab Islam. Orang-orang ini telah bekerja untuk melemahkan agama mereka sendiri daripada mazhab yang dituju.

Pernyataan Khamenei mewakili posisi sejati Islam. Hal ini sejalan dengan fatwa sebelumnya yang dikeluarkan ulama muslim beberapa dekade lalu untuk mencegah krisis yang dilancarkan sebagian orang bodoh. Saya berharap seluruh pemimpin Syiah mengadopsi posisi ini, sementara rekan-rekan suni mencegah serangan verbal terhadap mazhab lain. Keluarga dan sahabat Nabi Muhammad saw. bukan hanya milik Syiah, karena mereka milik seluruh umat muslim, sehingga setiap serangan terhadap mereka adalah serangan terhadap muslim. Setiap kali kita menemukan kepribadian irasional seperti Yasir Al-Habib di antara suni atau Syiah, adalah tugas kita bersama untuk menyumbat mulutnya dan mengingatkannya. Kita tidak boleh membiarkan orang-orang semacam ini untuk merusak atau menghina istri Nabi saw., keluarga dan sahabatnya.

Pada saat yang sama, kita harus sadar bahwa ada sekelompok orang dengan pemikiran menyimpang di antara suni dan Syiah. Mereka menganggap orang (mazhab) lain sebagai tak beriman dalam situasi tertentu. Mereka telah merusak peradaban Islam, yang menanamkan etika terbaik dan dialog di antara manusia. Umat muslim tidak punya pilihan lain selain kembali ke asal-usulnya, jauh dari pengelompokkan, terutama ketika mengkritisi keyakinan kelompok lain karena ketegangan perbedaan politik.

“Give to Ceasar what is Ceasar’s.” Umat muslim mengabdi kepada satu Tuhan (tauhid) dengan satu Quran dan satu kiblat. Mereka juga bersaki bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad saw. adalah utusan-Nya. (Yasir) Al-Habibdan orang semacamnya hanya mewakili dirinya sendiri, bukan Syiah atau suni. (Fatwa) ini menjelaskan reaksi keras perlakuannya. Fatwa Khamenei meredam ketegangan yang dipicu oleh elemen amoral dari suni dan Syiah karena kejahilan berlebihan dari klaim ekstrimis, tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka menyerang Islam, bukan sekedar pribadi tertentu.

 


Salam wa rahmatollah. Bismillah wa bi haqqi Muhammad wa aali Muhammad.

Semasa saya masih menganut mazhab Ahlul Sunnah, saya mengingati zaman itu dengan kepercayaan bahawa para sahabat ialah orang-orang yang terbaik selepas Rasulullah(sawa). Mereka adil, sentiasa berniat baik dan Jarah wa Ta’dil tidak boleh digunakan ke atas mereka. Dengan kedudukan yang hampir mencapai taraf maksum ini, maka sudah tentu, apabila kita mendengar perkara yang tidak elok tentang mereka, maka lantas kita terus menuduh orang yang mengucapkannya sebagai penipu, pembohong, kafir dan lain-lain. Ajaran dan pegangan yang disuapkan oleh Sunni menyebabkan kita tidak boleh menerima kenyataan sejarah bahawa para sahabat memang tidak seperti yang kita fantasikan.

Sejarah telah menjadi saksi akan banyak hal yang tidak elok oleh sesetengah para sahabat. Mahu tidak mahu, kalian haris menerimanya. Mari kita baca komen Ayatollah al Uzma Syeikh Makarem Shirazi akan hal ini, tentang isu panas yang baru ditimbulkan sejak akhir-akhir ini. Solawat.

Ayatullah al-Uzma Makarim Syirazi  dalam pengajian luar Fiqh yang dihadiri ramai pelajar dan ulama di Masjid A’zam Qom telah menyatakan pandangannya tentang protes beberapa ulama Sunni terhadap rancangan televisyen Sida-ya-Sima Iran. Beliau mengatakan: Sekumpulan ulama Mesir dan saudara Ahlu Sunnah selatan negara ini telah menganggap beberapa filem sejarah yang ditayangkan oleh Sida-ye-Sima telah menghina sahabat Nabi”.

“Mereka ini hendaklah menyedari, penghinaan adalah satu masalah manakala pengkisahan sejarah merupakan satu masalah lain dan keduanya mempunyai perbezaan asas”.

“Adakah sesiapa yang masih ragu bahawa perang Jamal pernah terjadi atau tidak?, ada sesiapa yang meragui Talhah dan Zubair telah mengingkari bai’ah dengan imam mereka?, adakah sesiapa yang masih ragu bahawa terlalu banyak darah umat Islam tumpah dalam perang Jamal? Ini semua adalah sejarah dan orang ramai menjadi penilainya”, kata beliau dalam ceramah pengajian.

Ayatullah Makarim Syirazi menambah, “Adakah sesiapa yang meragui pernah terjadi perang Siffin dalam sejarah Islam? Ada sesiapa yang masih syak bahawa sebahagian sahabat tidak memberi bai’ah kepada Imam Zamannya malah bangkit menentangnya dan sejumlah besar daripada mereka terbunuh?, Adakah anda ingin mengatakan, anda tidak mahu menukilkan sejarah”.

Beliau selaku ustaz besar dalam bidang Fiqh di Hawzah Ilmiyah Qom menegaskan, “Kita tidak seharusnya menutup mata terhadap sejarah, penghinaan dan penilitian kedua-duanya adalah entiti yang berasingan, tidak boleh kedua-duanya dicampur aduk”.

Tambahnya lagi, “Saudara-saudara kita ini hendaklah benar-benar memahami bahawa masalah sejarah tidak boleh dilupakan, seluruh kitab sejarah Islam penuh dengan kisah ini sehinggakan kitab-kitab sejarah Ahlusunnah turut ada menceritakan masalah Talhah, Zubair dan Abdullah bin Zubair”.

“Jikalau kita benar-benar meneliti sejarah tersebut, pasti perkara sebenar akan jelas”.

“Sepanjang sejarah Islam masih terdapat beberapa orang sahabat nabi yang beristiqomah dalam jejak langkah nabi, perkara ini jelas jikalau kita tidak bersikap fanatik dengan peristiwa sejarah. Masalah ini benar-benar jelas dan tidak ada unsur-unsur penghinaan”.

Ayatullah Makarim Syirazi menceritakan pula beberapa riwayat yang dianggap mencerca tokoh-tokoh umat Islam dan berkata, “Jikalau seorang mukmin membuat penghinaan kecil terhadap sahabat nabi dan mengkafirkan mereka tanpa sebab, maka ia pun terkeluar dari Islam”.

Sambil menegaskan Nabi (s.a.w) melarang pengkafiran terhadap orang Islam yang lain beliau menambah, “Tidak boleh menuduh seseorang itu jahat tanpa bukti jelas”.

Penjelasan Ayatullah Makarim ini berdasarkan protes beberapa orang ulama Sunni terhadap filem bersiri Mukhtarnameh yang dianggap menghina Abdullah bin Zubair.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s