Prof. DR. Azyumardi Azra : “kebencian terhadap syi’ah di Indonesia berasal dari paham salafy-wahaby yang merupakan ‘ideologi’ trans nasional”

Prof. DR. Azyumardi Azra : “kebencian terhadap syi’ah di Indonesia berasal dari paham salafy-wahaby yang merupakan ‘ideologi’ trans nasional”

by syiahali

Dr.Muhsin Labib Dosen Filsafat di UIN Syarif Hidayatullah ( yang merupakan lulusan Qum Iran) pernah mengatakan, “Orang yang anti Syiah adalah orang yang ekstrimis dan menjadi ancaman bagi negara Republik Indonesia.”

Mendiang Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengatakan bahwa NU (Nahdlatul Ulama) itu syi’ah kultural.banyak tradisi keagamaan yang hingga kini masih dijalankan oleh kalangan muslim NU bersumber dari perngaruh ajaran Syiah

.
Mungkin sebab ini lah yang menjelaskan mengapa seorang Gus Dur (alm) pernah berujar bahwa NU itu adalah Syiah minus imamah, sebaliknya Syiah itu NU plus imamah. Lebih jauh, Greg Barton, salah satu pemerhati masalah NU, mengutip ucapan Gus Dur, bahwa sarjana-sarjana NU harus memahami Islam Syiah jika mereka hendak memahami tradisionalisme Islam Sunni di Indonesia.

Azyumardi Azra: Tidak Diperlukan Fatwa Sesat Syiah

Azyumardi Azra: Islam Sunni banyak persamaan dengan Islam Syiah
Azyumardi Azra
Azyumardi Azra
.
– Fatwa haram dan sesat Syiah yang dilontarkan MUI Jawa Timur dan Menteri Agama Suryadharma Ali dinilai sebagai langkah yang mempertaruhkan Ukhuwah Islamiya. Hal itulah yang dikhawatirkan cendikiawan Muslim, Azyumardi Azra
.
Menurut dia, memfatwakan haram dan sesat Syiah di Indonesia akan berakibat keretakan Ukhuwah Islamiyah di Indonesia. “Fatwa haram atau sesat Syiah itu tidak diperlukan, baik secara teologis, ibadah dan fiqh karena pertaruhannya Ukhuwah Islamiyah di Indonesia,” ucapnya

MetroTV  memunculkan tokoh bernama Prof. DR. Azyumardi Azra. Ketika diberi kesempatan menyampaikan pandangannya (27 Agustus 2012), Azra mengatakan, kebencian terhadap syi’ah di Indonesia berasal dari paham salafy-wahaby yang merupakan ‘ideologi’ trans nasional.

Azra juga mengatakan, bahwa di tahun 1980-an, para penganut paham salafy-wahaby yang sangat anti syi’ah ini, getol meminta pemerintah Soeharto untuk ‘mengeliminasi’ keberadaan syi’ah di Indonesia, namun ditolak Soeharto.

Azra mencitrakan Salafy-Wahaby sebagai ‘ideologi’ trans nasional yang  menjadi sumber radikalisme.

Menurut Azra, ketika di tahun 1980-an sejumlah tokoh Islam (ahlussunnah wal jama’ah) meminta pemerintah Soeharto untuk ‘mengeliminasi’ keberadaan syi’ah di Indonesia, Soeharto menolaknya. Kalau benar hal itu pernah terjadi, maka penolakan Soeharto kala itu bisa dirasakan akibatnya di masa-masa sekarang. Yaitu, merebaknya paham sesat syi’ah yang antara lain menghasilkan konflik di Sampang.

Kalau benar sejumlah tokoh Islam (ahlussunnah wal jama’ah) pada tahun 1980-an pernah meminta pemerintah ‘mengeliminasi’ keberadaan syi’ah, kemungkinan besar bukan hanya karena adanya perbedaan akidah, tetapi pastilah ada hal-hal lain yang juga mengkhawatirkan. Seperti diketahui, Revolusi Syi’ah di Iran terjadi pada tahun 1979. Ayatullah Khomeini saat mempunyai misi mengekspor revolusi syi’ah ke seluruh belahan dunia, terutama di negara berpenduduk Islam.

Azyumardi menegaskan bahwa masih banyak tantangan yang dihadapi kaum muslimin untuk memperkuat dan memberdayakan Islam washataniyyah dalam berbagai aspek kehidupan. Keterbelakangan umat dalam kehidupan ekonomi dan pendidikan khususnya menciptakan suasana yang tidak cukup kondusif, deprivasi dalam ekonomi dapat menjerumuskan orang ke dalam pemahaman dan tindakan radikal yang tidak menguntungkan, tegas Azyumardi.

Azyumardi Azra: Islam Sunni banyak persamaan dengan Islam Syiah

DR. Khalid Al-Walid  adalah alumnus dari Hawzah Ilmiah Qom, yang judul desertasinya di UIN Syarif Hidayatullah adalah “Pandangan Eskatologi Mulla Shadra”.

Tahun 2008 lalu, saat disertasinya diuji oleh tim penguji dari UIN Syarif Hidayatullah, Prof. DR. Azyumardi Azra pada bagian akhir acara, bertanya, “Apakah Anda penganut mazhab Syi’ah?”

“Jangan salah duga,” lanjut Azyumardi Azra.

“Saya akan bangga bila UIN berhasil meluluskan seorang doktor Syiah, karena menjadi bukti nyata bahwa lembaga ini menjunjung tinggi pluralisme dan toleransi antar mazhab Islam,” lanjut Direktur Sekolah Pascasarjana UIN tersebut.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s