Kisah Ziarah Asyura: Membaca Ziarah Asyura Saat Menemui Masalah

Kisah Ziarah Asyura: Membaca Ziarah Asyura Saat Menemui Masalah

 

Membaca Ziarah Asyura Saat Menemui Masalah

 

Sayid Ahmad Rashti mengatakan:

 

“Pada 1280 Hq, saya berniat melaksanakan haji ke Mekah. Saya memulai perjalanan dari Rasht hingga sampai ke Tabriz. Dari Tabriz, saya menyewa tunggangan dan memulai perjalanan. Di persinggahan pertama, saya bertemu dengan tiga orang dan akhirnya kami menjadi teman seperjalanan.

Di tengah jalan, di sebuah tempat persinggahan, masyarakat mengabarkan agar kami berjalan lebih cepat. Karena tempat persinggahan selanjutnya berbahaya dan menakutkan. Mereka menasihati agar kami jangan sampai tertinggal dari rombongan.

 

Kami akhirnya memutuskan untuk kembali bergerak sekitar dua atau tiga jam menjelang Subuh. Waktu itu kami belum berjalan jauh, tiba-tiba turun salju yang cukup lebat, sehingga teman-teman saya menutup kepalanya dengan kain dan berjalan dengan cepat. Saya juga berusaha mempercepat jalannya tungganganku, tapi saya tidak bisa bersisihan dengan mereka. Akhirnya, saya melihat tidak mungkin saya dapat mendekati mereka. Tidak punya pilihan lain, saya turun dari kuda, berhenti dan duduk di pinggir jalan. Saya kebingungan. Ketika mengingat di tanganku ada uang sebanyak 600 toman sebagai biaya selama dalam perjalanan haji. Saya semakin khawatir.

 

Akhirnya saya berkata kepada diriku, ‘Saya akan tinggal di sini sampai pagi dan setelah itu saya akan kembali ke tempat persinggahan sebelumnya dan menyewa pengawal hingga sampai ke rombongan yang telah berada di depan.’

 

Saya masih berpikir, ketika tiba-tiba saya melihat di depan saya ada kebun. Ada tukang kebun yang tengah menggoyang pohon dengan sekopnya agar salju yang berada di pepohonan jatuh ke bumi. Saat pak kebun itu melihat saya, ia maju ke depan dan bertanya, ‘Siapa Anda?’

 

Saya menjawab, ‘Teman-teman saya telah pergi dan saya tertinggal, sementara saya tidak tahu jalan.’

 

Ia kemudian berkata dengan bahasa Persia, ‘Lakukan Nafilah(1), sehingga engkau menemukan kembali jalanmu.’

 

Saya akhirnya melaksanakan shalat Nafilah dan setelah selesai, pak kebun itu datang mendekatiku dan berkata, ‘Engkau belum juga pergi?’

 

Saya menjawab, ‘Demi Allah! Saya tidak tahu jalan.’

 

Pak kebun itu kemudian berkata, ‘Baca Jami’ah(2).’

 

Saya belum pernah menghafal Ziarah Jami’ah dan saat itu juga saya tidak hafal. Mendengar pak kebun mengatakan itu, saya berpindah tempat dan kemudian mulai membaca seluruh ZiarahJami’ah dari hafalan.

 

Selesai membaca Ziarah Jami’ah, pak kebun itu kembali mendatangi saya dan bertanya, ‘Anda masih di sini? Mengapa Anda belum pergi?’

 

Tanpa sadar, tiba-tiba saya menangis tanpa dapat ditahan. Saya berkata kepadanya, ‘Benar, saya tidak tahu jalan.’

 

Pak kebun itu berkata, ‘Bacalah Asyura!'(3)

 

Sama seperti Ziarah Jami’ah, saya juga tidak pernah menghafal Ziarah Asyura dan saat ini juga saya tidak menghafalnya. Saya bangkit dan mencari tempat lalu mulai membaca Ziarah Asyura. Saya dapat membaca semuanya dan kemudian saya juga dapat membaca doa Alqamah lewat hafalan.

 

Untuk ketiga kalinya pak kebun itu mendatangiku dan berkata, ‘Engkau masih di sini dan belum pergi juga?’

 

Saya menjawab, ‘Iya, saya tidak pergi dan akan tinggal di sini sampai pagi.’

 

Pak kebun itu berkata, ‘Saya akan membawa Anda ke rombongan yang telah pergi dahulu.’

 

Pak kebun itu pergi dan kembali lagi dengan menunggangi keledai dan meletakkan paculnya di pundaknya.

 

Ia berkata, ‘Ikutilah aku dari belakang keledai.’

 

Saya naik ke atas punggung kuda dan menarik tali kekang. Tapi yang terjadi kudaku tidak mau mengikuti perintahku. Aku kemudian turun.

 

Pak kebun itu berkata, ‘Berikan aku tali kekang kudamu!

 

Ia kemudian memegang tali kekang kudaku dengan tangan kanan dan menuntun kuda, sementara saya menumpang naik keledainya. Akhirnya kuda itu mulai tenang dan patuh. Ia meletakkan tangannya ke atas lututku dan berkata, ‘Mengapa engkau tidak melaksanakan Nafilah?’

 

Ia mengulangi kata Nafilah hingga tiga kali.

 

Setelah itu ia berkata, ‘Mengapa engkau tidak membaca Asyura?’

 

Ia mengulangi kata Asyura sebanyak tiga kali.

 

Kembali ia berkata, Mengapa engkau tidak membaca Jami’ah?’

 

Seperti sebelumnya ia mengulangi ucapan Jami’ah sebanyak tiga kali.

 

Saya mulai meneliti, ketika kami melewati jalan, kami melakukannya dengan memutar dan sekali kembali.

 

Tiba-tiba pak kebun itu berkata, ‘Itu adalah teman-temanmu. Mereka tengah berada di dekat sungai untuk mengambil air wudhu guna melaksanakan shalat Subuh.

 

Saya kemudian turun dari keledai dan ingin menaiki kudaku, tapi saya tidak bisa melakukannya. Pak kebun itu turun dan meletakkan paculnya ke salju dan membantuku agar dapat menaiki kuda. Setelah berhasil, saya mengarahkan kepala kuda ke tempat dimana teman-temanku berada. Tapi pada saat yang sama, saya bertanya kepada diriku sendiri, siapa sesungguhnya orang itu yang mampu berbicara dengan bahasa Persia, padahal di daerah itu masyarakatnya hanya bisa berbicara dengan bahasa Turki dan beragama Kristen. Bagaimana juga ia dengan cepat menyampaikan aku ke rombongan?

 

Ketika saya menengok kembali ke belakang, orang itu sudah tidak ada.”(4) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Catatan:

1. Shalat sunnah, tapi kemungkinan besar dalam kisah ini adalah shalat tahajjud.

2. Maksudnya adalah Ziarah Jami’ah Kabirah yang disebutkan dalam Mafatih al-Jinan.

3. Maksudnya adalah Ziarah Asyura.

4. Yek Sad Dastan Darbareye Namaz Avvale Vaqt, Rajai Khorasani, Mafatih al-Jinan, Ismail Mohammadi, hal 78.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s