Kamus Karbala: Arbain Imam Husein as dan Jabir bin Abdullah Al-Anshari

Kamus Karbala: Arbain Imam Husein as dan Jabir bin Abdullah Al-Anshari

 

18 (1)

 

Istilah Arbain yang berarti “empat puluh hari” memiliki nilai khusus di tengah-tengah budaya umat Islam. Bila salah satu keluarga muslim meninggal dunia, maka para ahli waris akan memperingati duka kematian keluarganya sejak hari pertama kematian sampai hari ketujuh. Setelah itu peringatan duka akan dilaksanakan kembali pada hari ke empat puluh kematiannya keluarganya. Dalam memperingati hari keempat puluh kematian keluarganya, ahli waris mengeluarkan sedekah dan kebaikan, menyelenggarakan majlis tahlil dan doa yang pahalanya di niatkan untuk almarhum dengan  mengundang para tetangga terdekat, kerabat dan sanak famili.

Istilah Arbain ini juga bisa kita temui pada budaya Asyura. Dalam budaya Asyura, Arbain berarti hari keempat puluh syahidnya Imam Husein as di Karbala. Arbain Imam Husein as bertepatan dengan tanggal 10 Safar. Pada hari ini para pecinta keluarga Rasulullah Saw seluruh dunia kembali menyelenggarakan duka syahidnya Imam Husein as. Para pecinta Keluarga Rasulullah Saw kembali mengenang perjuangan dan pengorbanan Imam Husein dan para sahabatnya dalam menegakkan Islam. Peringatan Arbain menjadi ajang para pecinta keluarga Rasulullah Saw untuk memperbarui baiatnya kepada mereka. Meski peristiwa Karbala sudah ratusan tahun berlalu, peringatan Arbain sebagai manifestasi kecintaan para pecinta keluarga Rasulullah Saw.

 

Arbain pertama Imam Husein as di Karbala dihadiri Jabir bin Abdullah Anshari. Jabir bin Abdullah Anshari adalah salah satu sahabat setia Rasulullah Saw yang berumur panjang. Ia lahir di Madinah pada tahun 15 sebelum hijrah dari keluarga Khazraj. Ayahnya bernama Abdullah bin Amr, penduduk Madinah yang pertama kali menerima ajakan Rasulullah Saw dan memeluk Islam sebelum hijrah.

 

Suatu hari Rasulullah Saw bersabda kepada Jabir: “Hai Jabir! Engkau akan berumur panjang sampai bisa menemui anakku Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Di dalam Taurat dikenal dengan nama Baqir. Sampaikan salamku padanya bila kau menemuinya!”

 

Beberapa tahun berikutnya, Jabir menemui Imam Ali Zainul Abidin as dan mendapati seorang anak duduk di samping beliau. Jabir memanggil untuk mendekatinya kemudian berkata, “Demi Tuhannya Ka’bah, engkau mirip sekali dengan Rasulullah Saw! Kemudian Jabir menghadap Imam Zainul Abidin as seraya bertanya, “Siapakah ini? Imam Zainul Abidin as menjawab, “Ini adalah putraku dan imam setelahku, namanya Muhammad Baqir.”

 

Jabir bangun dan sungkem di hadapan Imam Baqir as dan menciumnya seraya berkata: “Jiwaku untukmu wahai putra Rasulullah! Aku sampaikan salam ayahmu. Sesungguhnya Rasulullah Saw menyampaikan salam untukmu. Kedua mata Imam Baqir penuh dengan genangan air mata seraya berkata, “Wahai Jabir! Salam senantiasa untuk ayahku Rasulullah Saw selama langit dan bumi masih tegak. Dan salam untukmu wahai Jabir yang telah menyampaikan salam kepadaku.” (Allamah Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 46, 223-224, hadis 1)

Pada Arbain tahun 61Hq, Jabir bin Abdullah Anshari datang menziarahi makam Imam Husein as di Karbala bersama Athiyah bin Saad bin Junadah Aufi. Athiyah adalah salah satu ilmuwan, mufassir dan ahli hadis yang lahir pada zaman pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalis as. Ketika Athiyah lahir ayahnya pergi menemui Imam Ali as seraya berkata, “Wahai Amirul Mukminin, Allah telah mengangnugerahkan anak kepada saya, tolong beri nama untuknya!” Imam Ali as berkata:,”Anak ini adalah Athiyatullah (pemberian Allah).” Imam Ali as menamakannya dengan kata-kata yang diucapkannya yaitu Athiyah. (Dr. Mohammad Ibrahim Ayati, Barresi-ye Tarikh-e Asyura)

 

Terkait ziarah Arbain yang dilakukan Jabir di makam Imam Husein as di Karbala, Athiyah meriwayatkan:

 

“Aku bersama Jabir bin Abdullah Anshari menziarahi makam Imam Husein as. Ketika kami sampai di Karbala, Jabir mendekati sungat Furat dan mandi. Kemudian memakai pakaian (semacam pakaian ihram) satu helai dibalutkan di pinggang dan satu helai lainnya dipakai di pundak dan badannya. Setelah itu mengeluarkan wewangian berupa tepung (akar pohon berbau wangi) dari kantongnya, kemudian memakainya. Ia bergerak menuju makam Imam Husein as dalam kondisi mengucapkan zikir seraya berkata, “Bawa aku ke makam Husein sehingga aku bisa memegangnya!” (kata-kata ini diucapkan oleh Jabir karena matanya sudah buta).

 

Aku gandeng tangannya dan kuantar dia sampai ke makam Imam Husein as. Karena saking sedihnya ia pingsan dan jatuh di atas makam. Aku percikkan air ke wajahnya. Ketika siuman ia berkata, “Apakah kekasih tidak menjawab kekasihnya?”

 

Kemudian Jabir berkata, “Bagaimana engkau bisa menjawab, sementara urat badan dan lehermu terputus dan lehermu bergelimang darah. Kepalamu terpisah dari badanmu. Aku bersaksi, engkau adalah putra sebaik-baik nabi. Engkau adalah pemimpin orang-orang mukmin. Engkau adalah teladan takwa. Engkau adalah anak para pemberi petunjuk dan pemimpin. Engkau adalah orang kelima ahli kisa’. Engkau adalah putra Ali bin Abi Thalib. Engkau adalah putra penghulu para wanita. Bagaimana engkau tidak menjadi demikin? Sementara engkau disuap dengan tangan pemimpin para nabi. Engkau diasuh dalam pangkuan orang yang bertakwa. Engkau disusui dengan keimanan dan disapih dengan keislaman. Engkau hidup dan mati dalam keadaan suci.

 

Hati orang-orang mukmin terbakar karena berpisah darimu. Mereka yakin engkau hidup. Salam dan kebahagiaan dari Allah untukmu. Aku bersaksi, kisahmu seperti kisah syahidnya Nabi Yahya bin Zakaria, dimana thagut di zamannya telah memenggal kepalanya.”

 

Selanjutnya Aufi meriwayatkan:

“Kemudian Jabir memperhatikan makam para syuhada Karbala di sekitar makam Imam Husein dan menziarahinya seraya berkata, “Salam untuk kalian ruh-ruh yang berada di sekitar makam Imam Husein as. Kalian telah menidurkan onta-onta kalian demi dia. Aku bersaksi, kalian telah menunaikan shalat, membayar zakat dan melaksanakan amar makruf dan nahi mungkar. Kalian berperang melawan orang-orang yang sesat. Kalian telah menyembah Allah hingga datang kematian kalian. Demi Allah yang telah mengutus Muhammad Saw dengan benar. Kami bersama kalian dalam segala hal yang kalian alami.”

 

Athiyah Aufi berkata, “Aku bertanya kepada Jabir, “Bagaimana kita bisa bersama mereka para syuhada Karbala? Sementara kita tidak bersama mereka dan tidak mengayunkan pedang sebagaimana mereka. Bahkan para syuhada ini telah berkorban, dimana kepala-kepala mereka terpenggal, anak-anak mereka menjadi yatim dan istri-istri mereka menjadi janda?”

 

Jabir menjawab, “Hai Athiyah, aku mendengar sendiri dari Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang mencintai sebuah kaum, maka ia akan dibangkitkan bersama kaum tersebut. Barang siapa yang menyukai perbuatan sebuah kaum, maka ia terhitung sebagai mitra mereka dalam perbuatan tersebut. Demi Allah yang telah mengutus Muhammad Saw dengan benar, niatku dan niat para sahabatku sama seperti niatnya Imam Husein as dan niat para sahabatnya. Atas niat itulah mereka mencapai kesyahidan.” (Nafs al-Mahmum, hal. 322 dinukil oleh Mustafa Ghulam Huseini, Akharin Sahabi Wa Nakhostin Zaere Huseini, hal. 2)

 

Jabir telah melaksanakan wasiat Rasulullah Saw sebagai peziarah pertama makam Imam Husein as dan berhasil mendirikan sunnah besar ini di masa-masa sulit zaman itu. Wasiat Rasulullah Saw sebagai berikut, “Hai Jabir, ziarahilah makam Husein karena sesungguhnya pahala menziarahinya sama dengan menunaikan haji sunnah sebanyak seratus kali. Sesungguhnya makam Husein bin Ali adalah sebuah taman dari taman-taman di surga dan sesungguhnya tanah Karbala terhitung sebagai tanah surga.”  (Mustafa Ghulam Huseini, Akharin Sahabi Wa Nakhostin Zaere Huseini, hal. 2)

 

 

 

Teks Ziarah Arbain:

اَلسَّلامُ عَلى وَلِىِّ اللَّهِ وَ حَبیبِهِ؛

اَلسَّلامُ عَلى خَلیلِ اللَّهِ وَ نَجیبِهِ ؛

اَلسَّلامُ عَلى صَفِىِّ اللَّهِ وَابْنِ صَفِیِّهِ

اَلسَّلامُ عَلىَ الْحُسَیْنِ الْمَظْلُومِ الشَّهیدِ

اَلسَّلامُ على اَسیرِ الْكُرُباتِ وَ قَتیلِ الْعَبَراتِ

اَللّهُمَّ اِنّى اَشْهَدُ اَنَّهُ وَلِیُّكَ وَابْنُ وَلِیِّكَ وَ صَفِیُّكَ وَابْنُ صَفِیِّكَ الْفاَّئِزُ بِكَرامَتِكَ اَكْرَمْتَهُ بِالشَّهادَةِ وَ حَبَوْتَهُ بِالسَّعادَةِ وَاَجْتَبَیْتَهُ بِطیبِ الْوِلادَةِ وَ جَعَلْتَهُ سَیِّداً مِنَ السّادَةِ وَ قآئِداً مِنَ الْقادَةِ وَ ذآئِداً مِنْ الْذادَةِ وَاَعْطَیْتَهُ مَواریثَ الاِنْبِیاَّءِ وَ جَعَلْتَهُ حُجَّةً عَلى خَلْقِكَ مِنَ الاْوْصِیاَّءِ فَاَعْذَرَ فىِ الدُّعآءِ وَ مَنَحَ النُّصْحَ وَ بَذَلَ مُهْجَتَهُ فیكَ لِیَسْتَنْقِذَ عِبادَكَ مِنَ الْجَهالَةِ وَ حَیْرَةِ الضَّلالَةِ وَ قَدْ تَوازَرَ عَلَیْهِ مَنْ غَرَّتْهُ الدُّنْیا وَ باعَ حَظَّهُ بِالارْذَلِ الاْدْنى؛ وَ شَرى آخِرَتَهُ بِالثَّمَنِ الاْوْكَسِ وَ تَغَطْرَسَ وَ تَرَدّى فى هَواهُ وَاَسْخَطَكَ وَاَسْخَطَ نَبِیَّكَ وَ اَطاعَ مِنْ عِبادِكَ اَهْلَ الشِّقاقِ وَالنِّفاقِ وَ حَمَلَةَ الاْوْزارِ الْمُسْتَوْجِبینَ النّارَ فَجاهَدَهُمْ فیكَ صابِراً مُحْتَسِباً حَتّى سُفِكَ فى طاعَتِكَ دَمُهُ وَاسْتُبیحَ حَریمُهُ اَللّهُمَّ فَالْعَنْهُمْ لَعْناً وَبیلاً وَ عَذِّبْهُمْ عَذاباً اَلیماً.

اَلسَّلامُ عَلَیْكَ یَابْنَ رَسُولِ اللَّهِ اَلسَّلامُ عَلَیْكَ یَابْنَ سَیِّدِ الاْوْصِیاَّءِ اَشْهَدُ اَنَّكَ اَمینُ اللهِ وَابْنُ اَمینِهِ عِشْتَ سَعیداً وَ مَضَیْتَ حَمیداً وَ مُتَّ فَقیداً مَظْلُوماً شَهیداً وَ اَشْهَدُ اَنَّ اللَّهَ مُنْجِزٌ ما وَعَدَكَ وَ مُهْلِكٌ مَنْ خَذَلَكَ وَ مُعَذِّبٌ مَنْ قَتَلَكَ وَ اَشْهَدُ اَنَّكَ وَفَیْتَ بِعَهْدِاللهِ وَ جاهَدْتَ فى سَبیلِهِ حَتّى اَتیكَ الْیَقینُ فَلَعَنَ اللهُ مَنْ قَتَلَكَ، وَ لَعَنَ اللهُ مَنْ ظَلَمَكَ وَ لَعَنَ اللَّهُ اُمَّةً سَمِعَتْ بِذلِكَ فَرَضِیَتْ بِهِ اَللّهُمَّ اِنّى اُشْهِدُكَ اَنّى وَلِىُّ لِمَنْ والاهُ وَ عَدُوُّ لِمَنْ عاداهُ بِاَبى اَنْتَ وَ اُمّى یَابْنَ رَسُولِ اللَّهِ.

اَشْهَدُ اَنَّكَ كُنْتَ نُوراً فىِ الاْصْلابِ الشّامِخَةِ وَالاْرْحامِ الْمُطَهَّرَةِ، لَمْ تُنَجِّسْكَ الْجاهِلِیَّةُ بِاَنْجاسِها وَ لَمْ تُلْبِسْكَ الْمُدْلَهِمّاتُ مِنْ ثِیابِها، وَ اَشْهَدُ اَنَّكَ مِنْ دَعاَّئِمِ الدّینِ وَ اَرْكانِ الْمُسْلِمینَ وَ مَعْقِلِ الْمُؤْمِنینَ، وَ اَشْهَدُ اَنَّكَ الاْمامُ الْبَرُّ التَّقِىُّ الرَّضِىُّ الزَّكِىُّ الْهادِى الْمَهْدِىُّ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ الاْئِمَّةَ مِنْ وُلْدِكَ كَلِمَةُ التَّقْوى وَ اَعْلامُ الْهُدى وَالْعُرْوَةُ الْوُثْقى وَالْحُجَّةُ على اَهْلِ الدُّنْیا وَ اَشْهَدُ اَنّى بِكُمْ مُؤْمِنٌ وَ بِاِیابِكُمْ مُوقِنٌ بِشَرایِعِ دینى وَ خَواتیمِ عَمَلى وَ قَلْبى لِقَلْبِكُمْ سِلْمٌ، وَ اَمْرى لاِمْرِكُمْ مُتَّبِعٌ وَ نُصْرَتى لَكُمْ مُعَدَّةٌ حَتّى یَاْذَنَ اللَّهُ لَكُمْ، فَمَعَكُمْ مَعَكُمْ لامَعَ عَدُوِّكُمْ صَلَواتُ اللهِ عَلَیْكُمْ وَ على اَرْواحِكُمْ، وَ اَجْسادِكُمْ وَ شاهِدِكُمْ وَ غاَّئِبِكُمْ وَ ظاهِرِكُمْ وَ باطِنِكُمْ.

آمینَ رَبَّ الْعالَمینَ.

Mafatih al-Jinan, hal. 771(IRIB Indonesia)

 

 

ADAB DAN TATA CARA ZIARAH

 

Ada beberapa adab dan tata cara yang perlu diperhatikan oleh seorang peziarah. Tata cara ini lebih fokus pada ziarah secara langsung ke makam Imam Husein as.

 

Pertama:

 

1. Sebelum berziarah; puasa selama tiga hari dan mandi pada hari ketiga.

 

Sebelum berangkat berziarah, seorang peziarah hendaknya berpuasa selama tiga hari. Pada hari ketiga sebelum berangkat berziarah hendaknya mandi, sebagaimana aturan yang diajarkan oleh Imam Ja’far Shadiq as kepada Shofwan.  Dalam mukaddimah Ziarah dua hari raya, Syeikh Muhammad bin al-Mashadi mengatakan, “Jika kamu ingin menziarahi Imam Husein as, berpuasalah selama tiga hari dan pada hari ketiga mandi. Ketika mandi baca doa berikut ini:

 

 

 

 

 

اللّهُمَّ طَهِّرْنِي وَطَهِّرْ قَلْبِي وَاشْرَحْ لِي صَدْرِي وَأَجْرِ عَلَي لِسانِي ذِکْرَکَ وَمِدْحَتَكَ وَالثَّناءَ عَلَيْكَ، فَإِنَّهُ لاَ قُوَّةَ إِلاّ بِكَ ، وَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّ قِوامَ دِينِي، التَّسْلِيمُ لاِمْرِكَ ، وَالاِتِّباعُ لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ وَالشَّهَادَةُ عَلَي جَمِيعِ اَنبيائکَ وَرُسُلِکَ إلي جَميعِ خَلْقِكَ، اللّهُمَّ اجْعَلْهُ نُوراً وَطَهُوراً وَحِرزاً وَشفاءً مِنْ کُلّ داءٍ وَسُقْمٍ وَآفَةٍ وَعاهَةٍ وَمِنْ شَرِّ ما أَخافُ وَأَحْذَرُ

 

2. Sebelum keluar dari rumah ajaklah anggota keluar untuk bersama-sama membaca doa berikut ini:

 

اَللّهُمَّ اِنّى اَسْتَوْدِعُكَ الْيَوْمَ نَفْسى وَاَهْلى وَمالىوَ وُلْدى وَكُلَّ مَنْ كانَ مِنّى بِسَبيلٍ الشّاهِدَ مِنْهُمْ وَالْغآئِبَ اَللّهُمَّاحْفَظْنا [بِحِفْظِكَ] بِحِفْظِ الاْيمانِ وَاحْفَظْ عَلَيْنا اَللّهُمَّ اجْعَلْنا فىحِرْزِكَ وَلا تَسْلُبْنا نِعْمَتَكَ وَلا تُغَيِّرْ ما بِنا مِنْ نِعْمَةٍ وَعافِيَةٍ وَزِدْنامِنْ فَضْلِكَ اِنّا اِلَيْكَ راغِبُونَ.

 

Artinya: Ya Allah aku serahkan pada hari ini diriku, keluargaku, hartaku, anakku dan siapa saja yang berjalan bersamaku baik yang hadir maupun yang ghaib. Ya Allah jagalah kami dengan penjagaan-Mu dengan penjagaan iman dan jagalah kami. Ya Allah tetapkanlah kami dalam perlindungan-Mu dan jangan Engkau ambil nikmat-Mu dari kami dan jangan ubah apa yang ada di sisi kami dari nikmat dan kesehatan badan dan perbanyaklah keutamaan-Mu untuk kami. Sesungguhnya kami merindukan-Mu.

 

Kemudian keluarlah dari rumah dan berjalan dengan penuh kekhusyuan dan perbanyaklah memuji Allah dan membaca shalawat serta membaca:

 

لا اِلهَ اِلا اللَّهُ وَاللَّهُ اَكْبَرُ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ.

 

Artinya: Tiada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.

 

3. Setelah keluar dari rumah bacalah doa berikut ini:

 

اللّهُمَّ إنّي إِلَيْكَ وَجَّهْتُ وَجْهِي، وَإِلَيْكَ فَوَّضْتُ أَمْري وَإِلَيْكَ أَسْلَمْتُ نَفْسي وَإِلَيْكَ أَلْجَأْتُ ظَهْري وَعَلَيکَ تَوَکَّلْتُ، لا مَلْجَأَ وَلا مَنْجا إلاّ إلَيْکَ، تَبارَکْتَ وَتَعالَيْتَ، عَزَّ جارُکَ وَجَلَّ ثَناؤُکَ.

بِسْمِ اللهِ وَبِاللهِ ، وَمِنَ اللهِ وَإلي اللهِ ، وَفي سَبِيلِ اللهِ ، وَعَلي مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلّي اللهُ عَلَيهِ وَآلِهِ ، عَلَي اللهِ تَوَكَّلْتُ وَإلَيهِ اَنَـبْتُ، فاطِرِ السَّماواتِ السَّبْعِ وَالأرَضينَ السَّبْعِ ، وَرَبِّ الْعَرْش الْعَظيم ، اللّهُمَّ صَلِّ عَلي مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدِ ، وَاحْفَظْني في سَفَري، وَاخْلُفني في أهْلي بِأحْسَنِ الخِلافَة، اللّهُمَّ إلَيْكَ تَوَجَّهْتُ، وَإلَيْكَ خَرَجْتُ ، وَإلَيكَ وَفَدْتُ ، وَلِخَيْركَ تَعرَّضْتُ ، وبِزيارَةِ حَبيبِ حَبيبِِكَ تَقَرَّبْتُ، اللّهُمَّ لا تَمْنَعْني خَيْرَ ما عِنْدَكَ بِشَرِّ ما عِنْدي ، اللّهُمَّ اغْفِرْ لي ذُنُوبي ، وكَفِّرْ عَنّي سَيِّئاتي، وَحُطَّ عَنّي خَطايايَ ، وَاقْبَلْ مِنّي حَسَناتي.

 

 

 

 

Baca tiga kali:

 

اللّهُمَّ اجْعَلْني في دِرْعِكَ الحَصينَةِ ، الَّتي تَجْعَلُ فيها مَنْ تُريدُ ، اللّهُمَّ إنّي أبْرَءُ إلَيْكَ مِنَ الحَوْلِ وَالْقُوَّةِ.

 

Kemudian baca surat al-Fatihah, al-Falaq, an-Naas, al-Ikhlas, al-Qadr, ayat kursi, surat Yasin dan akhir surat Hasyr:

 

لَوْ أَنْزَلْنا هذَا الْقُرْآنَ عَلي جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خاشِعاً مُتَصَدِّعاً مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الأَمْثالُ نَضْرِبُها لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ.هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ عالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهادَةِ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيمُ.هُوَ اللَّهُ الَّذِي لا إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ.هُوَ اللَّهُ الْخالِقُ الْبارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأْسْماءُ الْحُسْني يُسَبِّحُ لَهُ ما فِي السَّماواتِ وَالأْرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ.

 

4. Jangan menggunakan wangi-wangian, jangan memakai krem, jangan mengunakan celak sampai masuk ke makam Imam Husein as.

 

5. Berziarah dengan kondisi sedih.

Diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as, “Bila mau menziarahi Imam Husein as, ziarahilah dengan kondisi sedih, lapar dan haus, karena Imam Husein dalam kondisi seperti ini mati syahid dan mohonlah hajatmu kemudian kembali Jangan jadikan makamnya sebagai tempat tinggal.” (Kamil az-Ziarah, Abi al-Qasim Ja’far bin Muhammad bin Ja’far bin Musa bin Qulawiyah al-Qomi, bab 48, hadis 3)

6. Berziarah tanpa membawa bekal makanan lezat.

Dalam menziarahi Imam Husein as jangan membawa makanan yang lezat-lezat. Diriwayatkan dari Imam Ja’far Shadiq as bahwa beliau berkata,”Aku mendengar sekelompok orang menziarahi Imam Husein as dengan membawa bekal makanan kambing guling dan halwa, padahal kalau mereka menziarahi kuburan ayah atau kerabatnya tidak membawa bekal seperti ini.” (Kamil az-Ziarah, Abi al-Qasim Ja’far bin Muhammad bin Ja’far bin Musa bin Qulawiyah al-Qomi, bab 47, hadis 1)

 

Diriwayat lain disebutkan, Imam Ja’far Shadiq as berkata kepada Mufadhal bin Umar: “Ziarahilah Imam Husein as dan itu lebih baik daripadatidak menziarahinya. Jangan ziarahi Imam Husein as dan itu lebih baik dari menziarahinya. Mufadhal berkata, “Dengan kata-kata ini Engkaupatahkan punggungku.” Imam Ja’far Shadiq as menjawab: “Demi Allah, bila kalian pergi menziarahi nenek moyang kalian, kalian menziarahinya dengan penuh kesedihan, namun bila kalian menziarahi Imam Husein sambil membawa bekal makanan yang lezat-lezat. Ziarahilah Imam Husein dengan kondisi sedih!” (Kamil az-Ziarah, Abi al-Qasim Ja’far bin Muhammad bin Ja’far bin Musa bin Qulawiyah al-Qomi, bab 47, hadis 4)

7. Menjaga akhlak sosial

 

Bila dalam menjalankan ibadah haji ada beberapa syarat sosial yang harus dijaga oleh jemaah haji, dalam menziarahi Imam Husein as ada beberapa etika yang harus dijaga oleh peziarah antara lain:

 

Berakhlak mulia terhadap kawan seperjalanan.

 

Tidak banyak bicara selain bicara yang baik-baik.

 

Banyak mengingat Allah.

 

Menjaga kebersihan pakaian.

 

Mandi sebelum berziarah.

 

Bersikap khusyu dan banyak melakukan shalat.

 

Banyak bershalawat untuk Nabi Muhammad Saw dan keluarganya.

 

Menghargai milik orang lain dan tidak mengambilnya.

 

Menundukkan pandangan mata dari hal-hal yang haram.

 

Membantu teman seperjalanan yang membutuhkan bantuan dan berbuat baik kepadanya.

 

Bertaqiyah bila perlu karena dengan taqiyahlah agama Islam tetap tegak.

 

Menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah.

 

Menjauhi permusuhan dan kekerasan.

 

Tidak bersumpah.

 

Menjauhi perdebatan dan perselisihan. (Kamil az-Ziarah, Abi al-Qasim Ja’far bin Muhammad bin Ja’far bin Musa bin Qulawiyah al-Qomi, bab 47, hadis 1)

 

8. Ketika sampai di tempat tujuan, bacalah doa berikut ini:

 

رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلاً مُبارَكاً وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ، رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطاناً نَصِيراً، اللهُ اکبرُ الله اکبرُ الله اکبرُ. اللّهُمَّ اِنّي اَسْئَلُکَ خَيْرَ هذِهِ الْبُقْعَةِ الْمُبارَکَةِ وَخَيْرَ أَهْلِها وَأَعُوذُ بِکَ مِنْ شَرِّها و شَرِّ أهْلِها، أللّهُمَّ حَبِّبْني إلي خَلْقِکَ وَأَفِضْ عَلَيَّ مِنْ سَعَةِ رِزْقِکَ وَوَفِّقْني لِلْقيامِ بِأَداءِ حَقِّکَ، بِرَحْمَتِکَ وَرِضْوانِکَ وَمَنِّکَ وَإحْسانِکَ يا کَريمُ.

 

9. Ketika Kubah makam Imam Husein as terlihat, baca doa berikut ini:

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلامٌ عَلي عِبادِهِ الَّذِينَ اصْطَفي آللَّهُ خَيْرٌ أَمَّا يُشْرِكُونَ وَسَلامٌ عَلَي الْمُرْسَلينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ وَسَلامٌ عَلي آل يس، اِنّا كَذلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ وَسَلامٌ عَلي الطيّبينَ الطّاهرينَ الأَوْصياء الصّادقينَ الْقائمينَ بِأَمْرِ اللهِ وَحُجَجِهِ السّاعينَ إلي سَبيل الله الْمُجاهدينَ في اللهِ حَقَّ جِهادِهِ، النّاصحينَ لِجَميعِ عِبادِهِ الْمُسْتَخْلَفينَ في بلاده، الْمرشدينَ إلي هدايَتهِ وَاِرْشادِهِاِنَّهُ حَميدٌ مَجيدٌ.

10. Ketika sampai di sungai Alqami, cabang sungat Furat, baca doa berikut ini:

 

اَللَّهُمَّ إِلَيْكَ قَصَدَ الْقاصِدُونَ وَفي فَضْلِكَ طَمَعَ الرّاغِبُونَ وَبِكَ اعْتَصَمَ الْمُعْتَصِمُونَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلَ الْمُتَوَكِّلُونَ وَقَدْ قَصَدْتُكَ وافِدَاً وَإلي سِبْطِ نَبِيِّكَ وارِدَاً وَبِرَحْمَتِكَ طامِعَاً وَلِعِزَّتِكَ خاضِعاً وَلوُلاة أَمْرِكَ طائِعاً وَلأَمْرِهِمْ مُتابِعَاً وَبِكَ وَبِمَنِّكَ عائِذَاً وَبِقَبْرِ وَلِيِّكَ مُتَمَسِّكاً وَبِحَبْلِكَ مُعْتَصِماً ، اَللَّهُمَّ ثَبِّتْني عَلي مَحَبَّة أَوْليائِكَ وَلا تَقْطَعْ أَثَري عَنْ زِيارَتِهِمْ وَاحْشُرْني في زُمْرَتِهِمْ وَأَدْخِلْني الْجَنَّةَ بِشَفاعَتِهِمْ.

11. Sebelum melewati sungai Furat baca 100 kali “Allahu Akbar”, 100 kali “La Ilaaha Illallaah” dan 100 kali shalawat untuk Nabi Muhammad Saw dan keluarganya dan baca doa berikut ini:

 

اللَّهُمَّ أَنْتَ خَيْرُ مَنْ وَفَدَ إِلَيْهِ الرِّجَالُ وَأَنْتَ يَا سَيِّدِي أَكْرَمُ مَأْتِيٍّ وَأَكْرَمُ مَزُورٍ وَقَدْ جَعَلْتَ لِكُلِّ زَائِرٍ کَرامَةً وَلِکُلِّ وافِدٍ تُحْفَةً وَقَدْ أَتَيْتُکَ زائراً قَبْرَ ابْنِ نَبِيِّكَ صَلَواتُکَ عَلَيهِ، فَاجْعَلْ تُحْفَتَکَ اِيّايَ فَكَاكَ رَقَبَتِي مِنَ النَّار، وَتَقَبَّلْ مِنِّي عَمَلِي وَاشْكُرْ سَعْيِي وَارْحَمْ مَسيرِي إليکَ بِغَيْرِ مَنٍّ منّي بَلْ لَكَ الْمَنُّ عَلَيَّ إِذْ جَعَلْتَ لِيَ السَّبِيلَ إِلَي زِيَارَتهِ وَعَرَّفْتَنِي فَضْلَهُ وَحَفِظْتَنِي حَتَّي بَلَّغْتَنِي قَبْرَ ابْنِ وَليِّکَ وَقَدْ رَجَوْتُكَ فَصَلِّ عَلي مُحمّدٍ وَآل مُحمّد وَلا تَقْطَعْ رَجَائِي، وَقَدْ أَتَيتُكَ فَلَا تُخَيِّبْ أَمَلِي وَاجْعَلْ هَذَا كَفَّارَةً لِمَا کانَ قَبْلَهُ مِنْ ذُنُوبِي، وَاجْعَلْني مِنْ اَنْصارِهِ يا اَرْحَمَ الرّاحمينَ.

 

12. Ketika melewati sungai Furat, bacalah doa berikut ini:

 

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَي مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَاجْعَلْ سَعْيِي مَشْكُوراً وَذَنْبِي مَغْفُوراً وَعَمَلِي مَقْبُولاً وَاغْسِلْني مِنَ الْخَطايا وَالذُّنوب، وَطَهِّرْ قَلْبي مِنْ کُلِّ آفَةٍ تَمْحَقُ ديني أوْ تُبْطِلُ عَمَلي يا اَرْحَمَ الرّاحمينَ.

13. Tetapkan Nainawa dan ghadhiriyah sebagai akhir tujuan perjalanan dan ketika menetap di sana jangan makan daging, tapi makan roti dan susu.

 

Kedua:

 

1. Mandi dan Wudhu Ziarah

 

Ketika mandi, baca doa berikut ini:

 

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي وَاشْرَحْ لِي صَدْرِي وَأَجْرِ عَلَي لِسَانِي مِدْحَتَكَ وَالثَّنَآءَ عَلَيْكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ لِي طَهُوراً وَشِفَاءً وَنُوراً إِنَّکَ عَلي كُلِّ شَيْ‏ءٍ قَدِيرٌ

 

Setelah selesai mandi, baca doa berikut ini:

 

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي وَزَكِّ عَمَلِي وَاجْعَلْ ما عِنْدَکَ خَيْراً لي، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ

 

Bila memungkinkan mandilah dengan air sungai Furat, bila tidak memungkinkan maka berwudhulah, kemudian pergi menuju makam Imam Husein as.

 

Dalam sebuah hadis Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Jika kamu bisa mandi, maka mandilah, bila tidak, maka berwudhulah kemudian pergilah menuju makam Imam Husein as.”

 

Ketiga:

 

1. Pakaian Ziarah.

 

Ketika selesai mandi, pakailah pakaian yang bersih.

 

2. Ketika memakai pakaian, baca 30 kali “Allahu Akbar” dan doa berikut ini:

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذي إليهِ قَصَدْتُ فَبَلَغَني وَإِيّاهُ أَرَدْتُ فَقَبِلَني وَلَمْ‌يـَقْطَعْ بِي وَرَحْمَتَهُ ابْتَغَيْتُ فَسَلَّمَني اللّهُمَّ أَنْتَ حِصْني وَكَهْفي و حِرْزي وَرَجائي وَأَمَلي لا إلهَ إلاّ أنتَ يَا ربَّ العالمين.

3. Di luar Masyra’ah Imam Shadiq as (ditepi barat sungai Alqamah), lakukan shalat dua rakaat; pada rakaat pertama baca surat al-Fatihah dan al-Ikhlas serta al-Kafirun. Pada rakaat kedua baca surat al-Fatihah dan al-Ikhlas. Setelah selesai shalat baca tasbih Zahra; Allahu Akbar 34 kali, Alhamdulillah 33 kali dan Subhanallah 33 kali. Kemudian baca doa berikut ini:

 

الْحَمْدُ لِلَّهِ الوَاحِدِ الاَحد المتوَحِّدِ في الأمور كُلِّها الرَّحْمـَنِ الرَّحيمِ الَّذِي هَدَانـَا لِهـَذَا وَما كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لا أَنْ هَدانَا اللَّهُ، لَقَدْ جاءَتْ رُسُلُ رَبِّنا بِالْحَقِّ، اللّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ حَمْدَاً كَثيرَاً أبداً لا يَنْقَطِعُ وَلايـَفْنيَ، حَمْداً يَصْعَدُ أَوَّلُهُ وَلايَنـْفَدُ آخِرُهُ، حَمْداً يَزيدُ وَلايَبيدُ وَصَلَّي اللهُ علي محمَّدٍ البَشير النَّذيرِ وَعَلي آلِهِ الأَخيارِ الأَبْرارِ وَسَلَّمَ تَسليماً کَثيراً.

4. Ketika menghadap makam Imam Husein baca doa berikut ini:

 

اَللّهُمَّ إلَيْكَ تَوَجَّهْتُ وَلِبَابِكَ قَرَعْتُ وَبِفِنَائِكَ نَزَلْتُ وَبِحَبْلِكَ اعْتَصَمْتُ وَلِرَحْمَتِكَ تَعَرَّضْتُ وَبِوَلِيِّكَ تَوَسَّلْتُ فَصَلِّ علي مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَاجْعَلْ زِيـَارتي مَبْرُورَةً وَدُعـَائي مَقْبـُول.

اَللّهُمَّ إِنّي أَرَدْتُكَ فَأَرِدْني وَإِنّي أَقْبـَلْتُ بِوَجْهي إِلَيْكَ فَلا تـُعْرِضْ بِوَجْهِكَ عَنّي فَإِنْ كُنـْتَ عَلَيَّ ساخِطاً فَتُبْ عَلَيَّ وَارْحَمْ مَسيري إِلي ابْنِ حَبيبِكَ أَبْتـَغي بِذلِكَ رِضاكَ عَنّي فَارْضَ عَنـّي وَلا تـُخَيِّبـْني يا أَرْحَمَ الرّاحِمينَ.

5. Kemudian dengan hati yang khusyu dan tangisan berjalanlah menuju makam Imam Husein as dengan memperbanyak “La Ilaah Illallaah, Allahu Akbar, La Haula Wa La Quwwata Illa Billaah Walhamdulillah” dan bershalawat untuk Rasulullah dan keluarganya khususnya untuk Imam Husein as dan melaknat para pembunuhnya dan orang-orang yang mendukungnya.

 

6. Lepas sandal dan sepatu dan berjalanlah dengan tawadu.

 

7. Ketika sampai di pintu Zainabiyah dan menghadap makam Imam Husein as berdiri dan baca 30 kali “Allahu Akbar” kemudian baca doa berikut ini:

 

لا إله إلا اللهُ في عِلْمِهِ مـُنـْتـَهيَ عِلْمِهِ وَلا إِلـَهَ إِلا اللهُ بَعـْدَ عِلْمِهِ مُنْتـَهيَ عِلْمِهِ وَلا إله إلا اللهُ مَعَ عِلْمِهِ مـُنـْتـَهيَ عِلْمِهِ وَالْحَمْدُ للهِ فِي عِلْمِهِ مُنْتـَهيَ عِلْمِهِ وَالْحَمْدُ للهِ بَعـْدَ عِلْمِهِ مُنْتـَهيَ عِلْمِهِ و الحمد لله مَعَ عِلْمِهِ مُنْتـَهيَ عِلْمِهِ سُبْحـَانَ اللهِ في عِلْمِهِ مُنْتـَهيَ عِلْمِهِ و سُبْحـَانَ اللهِ بَعْدَ عِلْمِهِ مُنْتـَهيَ عِلْمِهِ وَسُبْحـَانَ اللهِ مَعَ عِلْمِهِ مُنْتـَهيَ عِلْمِهِ وَالْحَمْدُ للهِ بِجَميعِ مَحـَامِدِهِ عَلي جَميعِ نِعَمِهِ وَلا إِلهَ إِلا اللهُ وَاللهُ أَكْبـَر وَحـَقٌ لَهُ ذلكَ لا إِلهَ إِلا اللهُ الْحَليمُ الْكَريمُ لا إِلهَ إِلا الله الْعَليُّ الْعَظيمُ لا إِلهَ إِلاَ اللهُ نُورُ السَّمـَاوات السَّبْعِ وَنُورُ الأَرَضينَ السَّبـْعِ وَنُورُ الْعَرْشِ الْعَظيم وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعـَالَمينَ اَلسَّلامُ عَلَيـْكَ يـَا حُجَّةَ اللهِ وَابْنَ حُجَّتِهِ السَّلامُ عَلَيكُمْ يـَا مَلائِكَةَ اللهِ وَزُوّارَ قَبـْرِ ابـْنِ نَبـِيِّ الله.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s