Beberapa Petunjuk Praktis Bagi Mereka yang Berziarah ke Karbala di Hari Arbain

Beberapa Petunjuk Praktis Bagi Mereka yang Berziarah ke Karbala di Hari Arbain

Oleh: Emi Nur Hayati

 

Tak terasa 20 hari syahadah Imam Husein cucu Rasulullah Saw telah berlalu. Kini 20 hari lagi Arbain Imam Husein akan tiba. Waktu 20 hari menjelang Arbain ini menjadi hitungan mundur bagi para pecinta keluarga Rasulullah Saw yang ingin mengungkapkan kecintaannya dengan melakukan jalan panjang yang dimulai dari Najaf menuju Karbala. fenomena jalan panjang ini sudah menjadi budaya dan tradisi para pencinta keluarga Rasulullah Saw dalam merayakan 40 hari syahadahnya putra Fathimah az-Zahra binti Rasulullah ini. Tentu saja ini menjadi pengalaman menarik bagi siapa saja yang pernah melakukannya. Bagaimana dengan mereka yang belum melakukannya? Tentunya banyak pertanyaan yang terbetik dalam angan mereka yang belum pernah mengalaminya.

Di tengah-tengah surfing berita saya menemukan berita menarik tentang fenoma Arbain Imam Husein as dalam bentuk pertanyaan dan jawaban. Berita itu dirilis dalam rangka membagi pengetahuan dan pengalaman bagi para pecinta keluarga Rasulullah Saw yang belum pernah megikuti acara jalan panjang peringatan Arbain di Irak.

 

Yang perlu diperhatikan terkait perjalanan panjang Arbain Imam Husein as bagi para peziarah yang akan melakukan perjalanan kaki adalah sebagai berikut:

 

1. Tujuan dan Jarak perjalanan.

 

Para peziarah biasanya melakukan jalan panjang dari Najaf menuju Karbala. Sementara ada yang memulai perjalanan panjang ini dari Bagdad menuju Karbala. Alhasil, seluruh pintu  gerbang masuk ke Karbala menjadi tuan rumah bagi seluruh peziarah yang datang menuju Karbala.

 

Dari Najaf sampai awal masuk kota Karbala jaraknya kira-kira 80 Km.

 

2. Masa perjalanan kaki yang harus ditempuh

 

Biasanya perjalanan ini ditempuh selama 3 hari 2 malam. Yakni perjalanan di mulai dari 3 hari sebelum Arbain dan tiba di Karbala pada malam Arbain.

 

Kendati detik-detik kedatangan di Karbala merupakan detik-detik yang luar biasa dan pengalaman sepanjang jalan membuat seseorang melupakan kelelahannya. Namun bila seorang peziarah dengan pelbagai alasan tidak mampu lagi meneruskan dengan jalan kaki, ia bisa melanjutkan sisa perjalanannya dengan naik kendaraan yang ada di tengah perjalanan. Kendaraan-kendaraan ini telah disiapkan oleh militer Irak. Biasanya para peziarah diantarkan sampai ke Karbala secara berkelompok-kelompok.

 

3. Kesepakatan sesama rombongan

 

Adakalanya sesama rombongan berjalan bersama-sama dan tidak berpisah dari Najaf sampai Karbala. Adakalanya juga sebagian rombongan melakukan perjanjian misalnya tepat pada pada waktu sore Arbain atau malam Arbain mereka harus berada dan bertemu di tempat tertentu.

 

4. Kunci agar tidak sampai terpisah dari rombongan

 

Menggunakan bendera sebagai tanda dan simbol rombongan sangat bagus. Sehingga antara anggota rombongan tidak sampai kehilangan atau jauh terpisah dari rombongan. Namun posisi bendera ini harus lebih tinggi supaya bisa terlihat. Dalam hal ini ada dua masalah: Pertama, pembawanya akan banyak mengeluarkan tenaga, oleh karena itu harus dilakukan secara bergantian. Di sepanjang jalan jumlah bendera sangat banyak, mencari dan mengingat motif bendera bukan perkara sederhana. Kecuali bila warna dan motif bendera sangat berbeda dengan yang lainnya.

 

5. Nomor-nomor yang ditulis di tiang listrik bisa menjadi tanda untuk bertemu

 

Seluruh jarak perjalanan dari gerbang keluar kota Najaf sampai gerbang masuk kota  Karbala ada tiang-tiang listrik yang dinomeri. Dari nomer 1 sampai nomer 1460. Antara tiang yang satu dengan lainnya berjarak 50 meter. Nomer-nomer ini laksana tanda perhitungan yakni sudah berapa jarak yang telah ditempuh dan tinggal berapa lagi. Biasanya orang-orang menggunakan nomer-nomer itu untuk melakukan perjanjian bertemu dengan teman serombongan yang hilang atau ketinggalan.

 

6. Para peziarah perempuan dan lanjut usia

 

Dalam perjalanan selama 3 hari 2 malam, para peziarah tidak menempuhnya sekaligus. Setiap kilometer para peziarah akan beristirahat. Sekalipun ada kendaraan-kendaraan yang akan mengantarkan para peziarah yang tidak lagi mampu berjalan menuju Karbala, namun bila melihat ke kanan dan ke kiri tidak sedikit rombongan ibu-ibu dan orang-orang tua. Bahkan ibu-ibu yang menggendong anaknya atau orang-orang cacat jasmani menempuh jarak ini bahkan lebih jauh misalnya berjalan dari kota Basra selama 14 hari untuk menuju Karbala. secara umum berjalan bersama di tengah-tengah banyak orang yang kesemuanya menuju tujuan yang sama menjadikan jauhnya perjalanan tidak terasa bagi seseorang. Pengalaman ini mungkin pernah terjadi ketika melakukan demo atau pawai pada acara-acara tertentu.

 

7. Masalah keamanan di sepanjang perjalanan

 

Keamanan sepanjang perjalanan antara Najaf dan Karbala sangat bagus. Pada tahun-tahun sebelumnya, dalam perjalanan ini tidak pernah terjadi lantaran adanya ledakan atau perusakan. Sekalipun di perjalanan antara Bagdad dan Karbala terjadi adanya sejumlah ketidakamanan. Namun jarak antara Najaf dan Karbala merupakan jalan yang paling aman untuk melakukan perjalanan kaki.

 

8. Jenis sepatu yang harus dipakai

 

Hendaknya memakai sepatu yang nyaman. Sepatu yang sedikit saja tidak nyaman buat kaki, pengaruhnya akan lebih tampak pada akhir perjalanan dan biasanya kaki akan melepuh. Menyebutkan dua poin ini mungkin penting juga; Pertama, orang-orang Arab biasanya memakai sandal untuk berjalan kaki. Berjalan dengan sandal tentunya lebih nyaman dari sepatu yang tidak sesuai untuk berjalan. Kedua, biasanya para peziarah akan melepas alas kakinya ketika sudah mendekati kota Karbala, karena tekanan sepatu pada kaki. Lagi pula berjalan dengan kaki telanjang akan lebih nyaman daripada dengan memakai sepatu yang tidak sesuai.

 

9. Tas bawaan peziarah.

 

Usahakan memakai tas rangsel. Tas rangsel merupakan tas yang paling nyaman untuk melakukan perjalanan panjang ini.

 

10. Bekal Makanan

 

Di sepanjang perjalanan ini akan dibagikan beragam makanan secara gratis. Bahkan tidak sedikit organisasi-organisasi yang mendirikan tenda-tenda untuk menyediakan makanan bagi para pejalan kaki.

 

11. Maukib dan pelayanannya

 

Di sepanjang perjalanan tenda-tenda ini disebut oleh orang Irak dengan istilah Maukib dan yang menangani adalah organisasi seluruh dunia dan kebanyakan adalah suku-suku Irak.

 

– Mereka menyediakan makanan untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Mulai dari makanan siap saji seperti sandwij dan sampai makanan tradisional Irak seperti falafil, Qeimeh Najafi, Abgusht, ikan dan roti tradisional yang masih hangat dan dimasak di situ juga. Yang paling menarik adalah semua makanan ini gratis dan bahkan mereka meminta secara paksa para peziarah untuk memakannya meski hanya sesuap saja dengan alasan melakukan pengabdian kepada para peziarah Imam Husein as.

 

– Beragam buah-buahan akan diberikan kepada para peziarah sepanjang jalan. Pelbagai jenis kue tradisional dan kurma disediakan di sepanjang perjalanan

 

– Selain itu di sepanjang pejalanan akan ditemui pelbagai jenis minuman dan yang paling terkenal adalah teh manis Irak yang dihidangkan dengan gelas kecil dan mereka akan mengajak mampir para peziarah ke dalam tendanya untuk menghilangkan rasa lelah. Kopi pahit dan air mineral dan pelbagai macam minuman ringan (soft drink).

 

– Maukib atau tenda-tenda itu dibentuk sedemikian rupa sehingga bisa menjadi tempat istirahat bagi para pejalan peziarah. Di dalamnya disediakan kasur, bantal dan selimut. Biasanya setiap saat ada saja peziarah yang beristirahat di sana.

 

– Di tenda-tenda sepanjang jalan ada disedikan alat-alat pijat.

 

– Di sepanjang perjalanan ada berdiri posko-posko pengobatan dan pelayanan kedokteran.

 

– Posko kebudayaan. Mereka menyediakan poster-poster dan brosur untuk dibagikan kepada para peziarah.

 

– Layanan macam-macam antara lain jahit menjahit. Di dalam maukib itu mereka menyediakan pelayanan jahitan dengan mesin jahit bersama benang dan jarum untuk menjahit pakaian atau tas para peziarah yang robek. Ada juga pelayanan reparasi sepatu. Adakalanya juga memberikan pelayanan telpon. Mereka memberikan pelayanan bahkan meminta para peziarah yang ingin menelpon ke keluar negeri mana saja yang diinginkan untuk menggunakan telponnya.

 

12. Jenis pakaian yang sesuai

 

Mengingat Arbain pada tahun ini tepat pada musim dingin, panasnya suhu tidak akan mengganggu, tapi pada malam hari dan pagi hari suhunya sangat dingin. Sebaiknya membawa pakaian hangat secukupnya.

 

13. Uang saku

 

Di sepanjang perjalanan antara Najaf dan Karbala semua pelayanan diberikan secara gratis. Sehingga tidak perlu mengeluarkan uang. Sebaiknya di sana menggunakan mata uang Irak (Dinar Irak).

 

14. Isi ulang baterai hp

 

Di sepanjang perjalanan dan setiap per 1 km, ada maukib-maukib yang menyediakan layanan untuk mengisi ulang baterai hp. Mereka menyediakan 15 sampai 20 colokan listrik untuk mengisi ulang baterai hp. Para peziarah bisa menggunakan layanan ini sepanjang perjalanan.

 

15. Penginapan

 

Tidak terlalu sulit mencari tempat peristirahatan di siang hari, karena adanya sinar matahari dan suhu panas yang sesuai. Namun untuk tidur di malam hari, sebaiknya sebelum jam 8 malam sudah mulai mencari tempat peristirahatan di maukib-maukib yang ada sepanjang perjalanan.

 

Mengingat suhu dingin di malam hari, pilihlah maukib yang berupa gedung dan lebih hangat daripada memilih tenda. Di atas jam 11 malam agak sulit untuk mendapatkan tempat-tempat yang lebih hangat.

 

Perlu diketahui; Pertama, di sepanjang jalan tidak kurang tempat-tempat yang disediakan untuk peristirahatan untuk kaum wanita dan kaum pria. Kedua, setiap peziarah pasti akan mendapatkan tempat peristirahatan. Karena segala perlengkapan untuk tidur tersedia dengan cukup seperti bantal dan selimut. Hanya tinggal mencari yang masih belum penuh saja atau meminta petunjuk penduduk setempat untuk mencari masih adakah tempat lain untuk beristirahat.

 

16. Kondisi perjalanan di malam hari

 

Biasanya di atas jam 9 malam perjalanan mulai agak sepi dan mayoritas pemilik maukib beristirahat sampai azan subuh. Namun tidak sedikit juga para pemilik maukib yang memberikan layanan di malam hari sesuai dengan dinginnya suhu malam seperti teh panas, susu panas bahkan membagi-bagikan ikat kepala untuk menahan rasa dingin sepanjang malam. Karena ada sejumlah peziarah yang lebih suka melakukan perjalanannya di malam hari sampai azan subuh dan setelah terbitnya matahari mereka beristirahat tidur.

 

17. Kondisi Toilet dan kebersihan

 

Meskipun dalam masa yang tidak lama ini para peziarah yang hadir banyak sekali, namun berkah Ahli Bait as dan kecintaan para pengabdi Imam Husein as, kebersihan sepanjang perjalanan terjaga dengan baik. Demikian juga kebersihan kamar mandi dan toilet terjaga dengan baik karena secara teratur dibersihkan oleh para pengabdi. Sekalipun tetap saja para peziarah harus membawa bekal sabun.

 

Memperingati Arbain Imam Husein as dengan cara melakukan perjalanan panjang seperti ini akan mengingatkan seseorang pada kondisi para anak-anak dan wanita keluarga Rasulullah Saw saat ditawan apalagi saat kaki melepuh… La Yauma Kayaumaka Ya Aba Abdillah…!!! (IRIB Indonesia)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s