Azadari Huseini dan Keabadian Islam

Azadari Huseini dan Keabadian Islam

Drama pembantaian keluarga Rasulullah di padang Karbala telah berlalu ratusan tahun, namun
semangat Asyura hingga kini masih tetap terasa. Meski Imam Husein beserta sahabatnya
gugur di padang Karbala, tapi merekalah pemenang sejati dalam perang tersebut. Gugurnya
mereka bukan berarti melenyapkan semangat dan misi yang mereka perjuangkan, apalagi
dalam pandangan Islam para syuhada secara zahir meninggal tapi sejatinya ruh mereka tetap
hidup. Oleh karena itu, semangat mereka memerangi kezaliman hingga kini tetap abadi dan
menjadi pelajaran bagi umat manusia sepanjang sejarah. Sejarah mencatat perjuangan mulia
Imam Husein dan sahabatnya serta teladan mereka diikuti oleh pecinta kebebasan.
Revolusi yang dikobarkan Imam Husein di tanggal sepuluh Muharram tahun 61 Hijriah (Asyura)
bukan hanya mengorbankan darah, namun juga dibarengi dengan pentas memilukan berupa
ditawannya anak-anak dan wanita. Hal inilah yang membuat acara peringatan Asyura
sepanjang sejarah membangkitkan emosi dan perasaan manusia. Untuk mengungkapkan
emosi dan kesedihan, para pecinta Ahlul Bait menggelar acara aza’ (ungkapan duka cita)
dengan beragam cara.


Azadari adalah acara yang biasanya digelar untuk mengungkapkan belasungkawa kepada
mereka yang tertimpa musibah. Sosok Imam Husein dan peristiwa Karbala sangat membekas
di hati setiap insan pecinta kebenaran sepanjang sejarah. Peristiwa memilukan ini mendorong
pecinta Ahlul Bait setiap tahun menggelar acara azadari dan menyampaikan belasungkawanya
kepada Rasulullah beserta keluarganya. Keistimewaan acara azadari Huseini berupa partisipasi
luas masyarakat mulai dari pria, wanita, tua dan muda serta anak-anak. Mereka berkumpul
menjadi satu tanpa membedakan strata dan kedudukan yang ada. Ritual ini telah menjadi
tradisi sosial dan merata di seluruh bangsa. Ritual azadari Huseini menjadi kesempatan bagi
para peserta untuk merenungkan nilai-nilai perjuangan Imam Husein.
Akar ritual azadari ini harus kita telusuri di kecintaan yang dimiliki para peserta ritual ini. Para
1 / 4
Azadari Huseini dan Keabadian Islam
Thursday, 09 December 2010 15:03 –
peserta azadari karena kecintaan kuat mereka terhadap Imam Husein setiap tahunnya
berduyun-duyun menghadiri ritual suci ini. Kondisi ini merupakan manifestasi sabda Rasulullah
Saw. Beliau bersabda, syahidnya Husein bin Ali ibarat bara yang membara di setiap kalbu
mukmin dan tidak akan pernah padam.
Syahid Murtadha Muthahhari, pemikir kontemporer Iran terkait hal ini berkata,”Setiap aliran dan
agama jika tidak memuat emosi dan hanya mengutamakan pemikiran maka aliran ini tidak akan
merasuk ke ruh serta tidak akan bertahan lama. Namun jika sebuah aliran dibumbui dengan
emosi maka dengan perasaan tersebut membuat aliran ini terasa hidup. Tak dapat dipungkiri
bahwa pemikiran Imam Husein adalah aliran rasional dan filosofis. Oleh karena itu, kita harus
mengambil pelajaran dari revolusi Imam. Namun jika kita memandang aliran ini hanya sebagai
sebuah pemikiran maka semangat membara dari Asyura akan sirna.”
Ritual azadari Asyura membuat perjuangan Imam Husein di padang Karbala senantiasa hidup
dan abadi. Tak hanya itu, ritual ini juga menyebarkan ajaran suci Asyura kepada seluruh umat
manusia. Asyura lah yang mengajarkan manusia sepanjang sejarah konsep nilai-nilai luhur
seperti anti kezaliman, kebebasn, gugur syahid, pengorbanan dan mencari kebenaran. Edward
Gibbon, penulis asal Inggris dalam hal ini mengatakan,”Selama berabad-abad di berbagai
belahan dunia, ritual mengingat gugurnya Imam Husein berhasil membangkitkan hati-hati yang
beku. Para pengikut Imam Husein dengan ritual azadari mereka mengajarkan pelajaran
berharga seperti penentangan terhadap kezaliman, penghinaan dan eksploitasi, karena slogan
pemimpin mereka (Imam Husein) adalah tidak menyerah kepada kezaliman.”
Para ulama dan pembicara di majlis azadari Imam Husein membicarakan ajaran agama, moral
dan pendidikan. Mereka juga mengenalkan kepada para peserta azadari kepribadian Imam
Husein serta dalih revolusi beliau. Di majlis seperti ini, rasio dan makrifah bersatu dengan
cucuran air mata mengenang nasib tragis Imam Husein. Jiwa-jiwa yang letih dari kehidupan
sehari-hari sedikit demi sedikit mendapatkan suntikan semangat baru.
Dengan demikian, para peserta azadari merasa jiwanya kembali bersih dari berbagai polusi
kehidupan. Sejatinya ritual azadari juga memiliki kesamaan seperti peristiwa Asyura 61 Hijriah
di mana Imam Husein bangkit melawan pemerintah zalim demi menegakkan ajaran agama.
Oleh karena itu, ritual azadari Asyura juga menjadi wadah untuk menjaga keutuhan ajaran
agama dan menyebarkannya ke seluruh dunia.
Imam Khomeini, pemimpin Revolusi Islam Iran mengatakan,”Jaga dan terus hidupkanlah
2 / 4
Azadari Huseini dan Keabadian Islam
Thursday, 09 December 2010 15:03 –
musibah yang menimpa Imam Husein, karena berkah yang kita rasakan saat ini berasal dari
musibah tersebut. Revolusi Islam adalah berkah dari Asyura Huseini. Hidupkanlah selalu
Karbala dan nama Imam Husein karena hanya dengan inilah Islam akan tetap hidup.”
Berbagai riwayat dari Ahlul Bait menunjukkan bahwa mereka yang menangisi musibah yang
menimpa Imam Husein dan menyeru pengikutnya untuk senantiasa memperingati peristiwa
Asyura di Karbala. Abu Ali Di’bil Khazai, penyair pecinta keluarga Rasulullah berkata, “Saya
bertemu dengan Imam Ali bin Musa ar-Ridha di kota Marv dan saya menyaksikan beliau duduk
di antara para sahabatnya dalam keadaan sangat sedih. Saat beliau melihat aku, beliau
berkata, Wahai Di’bil kamu sangat terhormat karena membela kami dengan lidah dan
tanganmu ! Selanjutnya dengan hormat beliau memberi tempat di sisinya dan berkata, Saya
akan senang jika kamu membaca syair buatku. Hari ini adalah hari kesedihan bagi kami Ahlul
Bait dan hari gembira musuh kami.”
Yang pertama kali menggelar acara azadari Huseini adalah para wanita yang baru dibebaskan
oleh Yazid bin Muawiyah. Keluarga Imam Husein dan sahabatnya saat itu menjadi perhatian
luas. Pasca peristiwa Asyura, para tawanan keluarga Rasulullah di Kufah menggelar acara
azadari Huseini dan membongkar kejahatan bani Umawiyah. Warga Syam juga terpengaruh
oleh khutbah Imam Ali as-Sajjad dan menyesal dengan menggelar azadari. Di Madinah sendiri
untuk pertama kali Ummu Salamah, istri Rasulullah melakukan azadari mengenang syahidnya
cucu nabi. Sejak era Imam Baqir dan setelah beliau, ritual yang awalnya berupa pembacaan
puisi sedih mengalami perubahan dan sedikit demi sedikit menjadi sebuah majlis besar.
Di zaman Imam Shadiq as, ritual Asyura lebih marak lagi. Namun warga hanya diberi
kesempatan oleh pemerintah satu hari untuk melakukan azadari di pusara Imam Husein di
Karbala. Selanjutnya, ritual Asyura berisi pembacaan syair dan nyanyian duka. Nyanyian duka
ini biasanya dikemas dalam bentuk puisi dan dibacakan oleh penyair Syiah. Acara ini juga
diselingi dengan pembacaan rentetan peristiwa Asyura di padang Karbala.
Azadari Imam Husein digelar dengan berbagai cara akan berdampak positif. Anderson Van
Heiden, pakar Timur Tengah yang berkunjung ke Iran terkait ritual azadari di Tabas
mengatakan, “Saya tiba di Tabas bertepatan bulan Muharram. Sepuluh hari pertama di bulan
ini dikhususkan untuk memperingati syahidnya Imam Husein di Karbala. Peringatan ini disebut
Asyura. Tidak ada hari dalam satu tahun seperti hari-hari ini, di mana emosi pengikut Syiah
berkobar-kobar. Mengingat al-Husein terasa hidup dengan cucuran air mata dan pembacaan
puisi di seluruh Iran. Kepahlawanan al-Husein mendapat pujian dan musuhnya, Yazid bin
Muawiyah dihinakan. Ritual ini membangkitkan semangat kebebasan mereka yang hadir.”
3 / 4
Azadari Huseini dan Keabadian Islam
Thursday, 09 December 2010 15:03 –
Air mata dan rintihan para peserta azadari membuat jiwa mereka tenang. Di sisi lain mendorong
mereka untuk meniru sikap-sikap manusia sempurna yang memiliki kelebihan di bidang
pengorbanan, kesabaran dan keteguhan. Ketika mereka mengingat pengorbanan Abul Fadhl
Abbas atau sikap bebas Hurr bin Yazid ar-Riyahi tanpa disadari mereka bertekad bersikap
jantan dan rela berkorban. Sikap pengecut pun mereka buang jauh-jauh.
Oleh karena itulah, menangis dan menggelar azadari untuk Imam Husein membuat revolusi
dan pemikiran beliau senantiasa hidup sepanjang sejarah. Dewasa ini, kita menyaksikan bahwa
revolusi Imam Husein dan ajaran politik, sosial dan budaya beliau sangat berperan dalam
perkembangan dan kesadaran masyarakat. Bisa dikatakan unsur-unsur yang berpengaruh di
revolusi Karbala menjadi tonggak kebesaran Islam sepanjang sejarah.{jcomments on}
4 / 4

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s