IMAM ALI BIN ABI THALIB DAN KEUTAMAANNYA

IMAM ALI BIN ABI THALIB DAN KEUTAMAANNYA


“Apa yang mesti aku ungkapkan tentang seseorang yang kemuliaannya diakui oleh kawan dan lawan, dan tak ada yang dapat menahan kesabaran jika ada pengingkaran terhadap keutamaannya.” Pernyataan itu disampaikan oleh Ibnu Abil Hadid,ulama Sunni yang bermadzhab Mu’tazilah dalam buku besar karyanya, Syarh Nahjul Balaghah.

Ibnu Abil Hadid lantas menambahkan, “… Engkau pun tahu bahwa setelah berkuasa atas negeri-negeri Islam dari barat sampai timur, Bani Umayyah (khususnya Muawiyah) telah melakukan berbagai cara dan upaya dengan mengerahkan segala daya untuk memadamkan cahaya Ali bin Abi Thalib dan memutar-balikkan fakta untuk menyudutkannya. Mereka membuat cerita-cerita palsu untuk mencela Ali. Di bawah kekuasaan mereka, Ali dilaknat di mimbar-mimbar masjid. Mereka juga mengancam setiap penceramah untuk tidak memuji Ali jika tak ingin dipenjarakan atau bahkan dibunuh. Para perawi hadis dilarang mengungkapkan hadis-hadis tentang keutamaan dan fadhail Ali. Bahkan lebih dari itu, tak ada yang berhak menamakan seseorang dengan nama Ali. Akan tetapi semua itu tak hanya gagal menutupi kemuliaannya tetapi bahkan menambah tinggi kedudukannya. Ali tak ubahnya bagai kesturi yang aromanya menyebar ke segala penjuru meski ada upaya menutup-nutupinya. Ali bagaikan mentari yang tak bisa ditutupi dengan telapak tangan. Ali bagaikan siang hari yang terang, jika engkau menutup mata darinya, mata-mata yang lain akan menyaksikannya.” (1)

Suatu ketika Muawiyah memerintahkan untuk mendatangkan salah seorang sahabat dekat Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as). Muawiyah lalu memintanya untuk menyifati Ali. Sahabat Ali yang tak lain adalah Dhurarah bin Dhamurah di depan Muawiyah, penguasa lalim yang sangat memusuhi Ali, berkata, “Demi Allah aku bersumpah! Dia adalah orang yang berpikiran jauh ke depan dan sangat kokoh. Dia berbicara tentang keadilan dan tegas dalam menyelesaikan semua urusan. Ilmu memancar dari dirinya dan hikmah kebijaksanaan mengalir dari lisannya. Dia amat khawatir terhadap kemewahan duniawi dan sangat menyukai kesendirian dan waktu malam. Dia banyak menitikkan air mata dan selalu berpikir. Dia amat menyukai pakaian kasar dan makanan sederhana. Ketika berada di tengah kita, dia tak ubahnya seperti kita. Jika kita meminta sesuatu kepadanya, dia akan mengabulkan. Dan jika kami mengundangnya dia pasti datang. Dia selalu mendekat kepada kami dan mendekatkan diri kami kepadanya. Dia begitu berwibawa sehingga tak ada orang yang berani berbicara di depannya. Manusia besar ini selalu memuliakan orang-orang yang taat beragama. Dia merangkul kaum fakir dan papa. Tak ada orang kuat yang zalim dapat berkutik di hadapannya dan tak ada orang lemah yang putus asa akan keadilannya. Demi Allah! Suatu malam aku menyaksikan sendiri bagaimana Ali beribadah di malam hari ketika kegelapan menyelimuti alam. Dia memegang janggutnya sambil meratap bagai seekor ular yang melata dan menangis bagai orang yang tertimpa petaka. Saat itu aku mendengar dia berkata, ‘Wahai Dunia! Rayulah orang selainku! Apakah engkau masih akan menggodaku? Sekali-sekali tidak! Aku telah menceraikanmu dengan tiga talak. Tak ada lagi kesempatan untuk rujuk kembali. Umurmu sangat singkat. Bahayamu besar. Kehidupanmu tak berharga. Aah, alangkah kecilnya bekal dan alangkah jauhnya perjalanan. (Kitab Safinah Al-Bihar juz 2 hal: 657, bab Washafa)

Ketika kata-kata Dhurarah sampai di sini, Muawiyah tak mampu menahan derasnya laju air mata yang langsung membasahi pipinya. Namun Muawiyah tetaplah musuh Ali. Dia yang mengakui sendiri kemuliaan dan keutamaan Ali, tak mengizinkan siapa pun juga meriwayatkan hadis atau membawakan kisah tentang kebesaran Ali. Muawiyah telah dibakar oleh dendam Badar dan Uhud. Yang ada di matanya hanyalah kekuasaan. Untuk itulah ia memerangi Ali dan ketika berhasil duduk di singgasana kekuasaan, ia memerintahkan semua khatib untuk melaknat Ali di setiap mimbar di seluruh negeri Muslim.

Kepada para wakilnya yang berkuasa di berbagai pelosok negeri Islam, Muawiyah menyatakan bahwa dirinya berlepas tangan dari siapa saja yang membawakan riwayat tentang keutamaan Ali. Artinya, jika ditemukan ada orang yang meriwayatkan hadis atau kisah tentang kemuliaan Ali, para para gubernur pemerintahan Muawiyah bisa melakukan apa saja terhadap orang itu.

Namun, Allah SWT berkehendak lain. Kini keutamaan dan kemuliaan Imam Ali bin Abi Thalib (as) telah memenuhi lembaran-lembaran kitab hadis dan sejarah Islam. Di bawah ini kami sebutkan beberapa keutamaan Imam Ali (as) diambil dari kitab-kitab hadis Ahlus Sunnah. Dengan membaca riwayat-riwayat itu, kita akan mengetahui bahwa bagaimana Allah SWT mengabadikan dan mengharumkan nama seorang figur dan tokoh besar Islam yang selama 60 tahun atas tekanan penguasa bani Umayyah khususnya Muawiyah dilaknat di mimbar-mimbar masjid.

1- Allah SWT dalam Al-Qur’an Al-Karim surah Al-Baqarah setelah menyebutkan sifat orang-orang yang bertaqwa berfirman demikian:
“Dan mereka yang mendapat petunjuk dari Allah, merekalah orang-orang yang beruntung.” Nabi SAW setelah membacakan ayat ini menunjuk kepada Ali sambil bersabda kepada Salman Al-Farisi: Wahai Salman! Orang ini dan kelompoknya, merekalah orang-oranglah yang beruntung di hari kiamat. (2)

2- Di malam ketika Nabi SAW hendak berangkat ke Madinah dan berhijrah ke kota itu, beliau memerintahkan Ali (as) untuk tidur di tempat beliau. Saat itu Allah SWT menurunkan firmannya berbunyi
و من الناس من يشري نفسه ابتغاء مرضات الله و الله رئوف بالعباد
“Dan di antara orang-orang ada yang menyerahkan jiwanya untuk mencari ridha Allah. Allah Maha Pengasih kepada hamba-hambaNya.” (Al-Baqarah 207)

Dari Ibnu Abbas diriwayatkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Imam Ali (as). Ibnu Abbas berkata: Allah SWT pada malam itu memerintahkan Jibril dan Mikail untuk turun menemui Ali. Kepada Ali Jibril berkata: Wahai Putra Abu Thalib! Adakah orang yang seperti engkau? Allah SWT berbangga denganmu di hadapan para malaikat. (3)

3- Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Thaha ayat 82 berfirman:
و إني لغفار لمن تاب و آمن و عمل صالحا ثم اهتدي
“Dan Aku Maha Pengampun bagi siapa yang kembali, beriman dan beramal saleh lalu ia mendapat petunjuk.”
Dengan sedikit menerung pada konteks ayat suci tadi akan muncul satu pertanyaan di benak kita, untuk memperoleh ampunan mengapa ada syarat-syarat seperti ini? Berarti dengan iman, amal saleh lalu mendapat petunjuk! Bukankah orang yang telah beriman dan beramal saleh berarti ia telah mendapat petunjuk secara sempurna? Mengapa Allah mensyaratkan “mendapat petunjuk” setelah iman dan amal saleh untuk menurunkan ampunan kepada hambaNya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, Rasulullah SAW menjelaskan dalam sabdanya demikian: Arti ayat itu adalah “siapa yang beriman dan beramal saleh” lalu mendapat petunjuk dengan ber-wilayah kepada Ali bin Abi Thalib. (4)

4- Dalam surah Yasin Allah SWT berfirman:
و کل شيئ احصيناه في امام مبين
“Dan segala sesuatu telah kami perhitungkan pada imam yang nyata” (Yasin : 12)
Yang dimaksud adalah bahwa ilmu dan pengetahuan tentang segala sesuatu telah dikumpulkan oleh Allah SWT dalam imam yang nyata. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: Apakah yang dimaksud ayat ini adalah kitab Taurat, Injil atau Al-Qur’an?
Nabi SAW menunjuk kepada Ali bin Abi Thalib, lalu bersabda: Tidak! Imam yang dimaksud oleh Allah bahwa Dia telah mengumpulkan ilmu segala sesuatu pada wujudnya adalah orang ini (Ali). (5

5- Dalam surah Al-Takatsur, setelah dengan tegas dan keras memperingatkan manusia akan bahaya dari kecintaan kepada dunia dan ambisi mengumpulkan harta sampai datangnya kematian, Allah SWT berfirman:
کلاّ لو تعلمون علم اليقين لترونّ الجحيم ثم لترونها عين اليقين ثم لتسئلن يومئذ عن النعيم
“Sekali-kali tidak! Jika kalian mengetahui ilmul yaqin, kalian akan menyaksikan neraka jahim. Lalu kalian akan mengetahuinya ainul yaqin, kemudian kalian akan ditanya di hari itu akan kenikmatan (yang didapat).”
Dalam tafsir tentang kenikmatan yang bakal ditanya itu disebutkan bahwa yang dimaksud adalah kenikmatan ber-wilayah kepada Ali bin Abi Thalib. (6)

6- Dari Nabi SAW diriwayatkan bahwa beliau bersabda: Ketika Allah SWT mengumpulkan seluruh manusia dari awal sampai akhir lalu jembatan Sirath dibentangkan di atas neraka jahannam, tidak akan ada yang bisa melaluinya kecuali mereka yang berwilayah kepada Ali bin Abi Thalib. (7)

7- Di ayat terakhir surah Al-Ra’d, Allah SWT berfirman menghibur Nabi-Nya dengan firmanNya, bahwa jika orang-orang kafir tidak mengakuimu sebagai utusan Allah, maka jangan risaukan hal itu, sebab cukup bagimu yang menjadi saksi adalah Aku dan orang yang memiliki ilmul kitab. Dalam riwayat-riwayat Syiah dan banyak riwayat Ahlus Sunnah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan orang yang memiliki ilmul kitab adalah Ali bin Abi Thalib (as). (8)

Dalam ayat itu, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as) disebut oleh Allah SWT sebagai orang yang memiliki ilmul kitab. Sementara dalam kisah Nabi Sulaiman, seorang mukmin yang memiliki sebagian ilmul kitab (hanya sebagian) mampu mendatangkan arsy atau singgasana Ratu Balgis hanya dalam sekejap mata dari Saba’ ke Baitul Maqdis. Bagaimana dengan Ali yang memiliki seluruh ilmul kitab?

Catatan Kaki:

1) Syarah Nahjul Balaghah karya Ibnu Abil Hadid Juz 1 halaman 17
2) Syawahid Al-Tanzil juz 1 halaman 69-70 dan juz 2 halaman 346.
3) Mustadrak Al-Sahihain juz 3 halaman 132/ Tarikh Dimasyq juz 1 halaman 138/ Tafsir Fakh Al-Razi, Tafsir Thabari, Tafsir Qurthubi, Ihya Ulumuddin juz 3 halaman 238.
4) Syawahid Al-Tanzil juz 1 halaman 375-377/ Al-Sawaiq Al-Muhriqah halaman 91 cetk Mesir/ Yanabi’ Al-Mawaddah bab 36 halaman 110.
5) Yanabi Al-Mawaddah bab 14 halaman 76-77.
6) Syawahid Al-Tanzil juz 2 halaman 368/ Yanabi’ Al-Mawaddah bab 36 halaman 111 dan 112.
7) Manaqib Ibnu Al-Maghazili 42/ Lisan Al-Mizan Ibnu Hajar Al-Asqalani juz 1 halaman 51/ Mizan Al-I’tidal A-Dzahabi juz 1 halaman 28/ Al-Shawaiq Al-Muhriqah halaman 75/ Al-Riyadh Al-Nadhirah Muhibb Al-Thabari juz 3 halaman 167
8) Syawahid Al-Tanzil juz 1 halaman 307-310/ Al-Itqan Al-Suyuthi juz 1 halaman 13/ Yanabi’ Al-Mawaddah halaman 102/ Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Ruh Al-Maani, tafsir Al-Thabari, Al-Durr Al-Mantsur, Tafsir Khazin

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s