Hadis Tsaqalain : Membantah Syubhat Nashibi Terhadap Lafaz “Bihi”

Hadis Tsaqalain : Membantah Syubhat Nashibi Terhadap Lafaz “Bihi”

 

Pembahasan ini bukan hal yang baru tetapi kami berinisiatif membahasnya secara khusus karena semakin lama kami melihat banyak “para pengingkar” menjadikan syubhat ini untuk menyimpangkan makna hadis Tsaqalain. Pada dasarnya mereka cuma mengekor atau taklid pada syubhat yang disebarkan oleh orang yang mereka anggap “ustadz”. Orang yang menurut mereka “berilmu ala salafus salih” tetapi maaf saja cara berhujjahnya dalam perkara ini seperti “orang yang tidak paham bahasa Arab”.

Diantara mereka yang pernah berhujjah dengan syubhat “bihi” adalah Efendi, seorang antisyiah yang kebablasan kemudian diikuti oleh para muqallidnya di forum-forum diskusi [baik yang Arabic or English]. Syubhat ini juga dilontarkan oleh orang yang menyebut dirinya Abul-Jauzaa’ dalam salah satu artikel ngawurnya yang diikuti dan dikopipaste oleh para muqallidnya [seperti alfanarku dkk].

حَدَّثَنَا يحيى قَال حَدَّثَنَا جرير عن الحسن بن عبيد الله عن أبي الضحى عن زيد بن أرقم قَال النبي صلى الله عليه وسلم إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا كتاب الله عز وجل وعترتي أهل بيتي وإنهما لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض

Telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hasan bin Ubaidillah  dari Abi Dhuha dari Zaid bin Arqam yang berkata Nabi SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh kepadanya maka kalian tidak akan sesat yaitu Kitab Allah azza wa jalla dan ItrahKu Ahlul Baitku dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaKu di Al Haudh [Ma’rifat Wal Tarikh Al Fasawi 1/536]

Mereka mengatakan bahwa lafaz “bihi” [dengan-nya] pada “maa in tamassaktum bihi”[apa yang jika kalian berpegang teguh dengannya] hanya merujuk pada Kitab Allah saja karena kalau merujuk pada keduanya [kitab Allah dan Ahlul Bait] maka lafaz yang dipakai adalah “bihima” [dengan keduanya]. Intinya mereka mau menyimpangkan hadis Tsaqalain agar bermakna perintah berpegang teguh kepada kitab Allah saja dan tidak kepada Ahlul Bait.

Syubhat ini bisa dibilang “murahan” atau “rendahan”. Kata “bihi” [dengan-nya] merujuk pada kata “maa” [apa] yaitu sesuatu yang dinyatakan harus dipegang teguh. Jadi “nya” itu kembali pada sesuatu. Sesuatu ini jumlahnya bisa berapa saja tergantung dengan lafaz selanjutnya, dalam hadis Tsaqalain di atas disebutkan kalau sesuatu yang harus dipegang teguh itu ada dua yaitu Kitab Allah dan Itrah Ahlul Bait Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Jadi disini sifat berpegang teguh itu berlaku pada masing-masing yang disebutkan Nabi SAW yaitu Kitab Allah dan Ahlul Bait.

Penggunaan lafaz seperti ini adalah sesuatu yang ma’ruf dari segi bahasa arab. Mereka yang mempermasalahkannya hanya menunjukkan “kelemahan akal” dalam berhujjah, anehnya hal itu dilontarkan oleh orang yang alim di sisi mereka. Silakan perhatikan hadis berikut

حدثنا يحيى بن أيوب وقتيبة وابن حجر جميعا عن إسماعيل بن جعفر قال ابن أيوب حدثنا إسماعيل أخبرني العلاء عن أبيه عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا ويرفع به الدرجات ؟ قالوا بلى يا رسول الله قال إسباغ الوضوء على المكاره وكثرة الخطا إلى المساجد وانتظار الصلاة بعد الصلاة فذلكم الرباط

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayub, Qutaibah dan Ibnu Hujr semuanya dari Ismail bin Ja’far. Ibnu Ayub berkata telah menceritakan kepada kami Ismail yang berkata telah mengabarkan kepadaku Al Alaa’ dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan kesalahan dan dengannya Allah mengangkat derajat?. Mereka berkata “tentu wahai Rasulullah”. Beliau [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “Menyempurnakan wudhu di saat kesukaran, banyak berjalan menuju masjid dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat maka itulah ribath [Shahih Muslim 1/219 no 251]

Perhatikan Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “maa yamhullaahu bihi khathaayaa” dan “wa yarfa’u bihi darajaat”. Lafaz “bihi” ini kembali pada “maa” atau sesuatu yang disifati oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bahwa dengannya bisa menghapus kesalahan dan mengangkat derajat. Sesuatu itu ternyata tidak tunggal atau satu melainkan ada tiga hal yaitu

  1. Menyempurnakan wudhu’ saat keadaan sukar
  2. Banyak berjalan menuju masjid
  3. Menunggu shalat berikutnya setelah shalat.

Tiga hal inilah yang dimaksud oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dengan lafaz “bihi”. Lafaz ini dimengerti bahwa pada ketiga hal itu masing-masing berlaku dengannya Allah SWT menghapus kesalahan dan mengangkat derajat. Hadis shahih Muslim di atas jelas membantah syubhat konyol salafy dalam mendistorsi hadis Tsaqalain.

Penggunaan lafaz “bihi” seperti yang nampak dalam hadis Tsaqalain juga banyak ditemukan dalam Al Qur’an yaitu merujuk pada sesuatu yang ternyata sesuatu itu adalah objek yang jamak sehingga yang dimaksud “nya” itu berlaku pada masing-masing objek yang disebutkan.

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Katakanlah [hai orang-orang mukmin]`Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya`. Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan [dengan kamu]. Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui [QS Al Baqarah ; 136-137]

Perhatikan lafaz “maa amantum bihi” yaitu “apa yang kamu telah beriman kepadanya”. Lafaz “bihi” kembali pada kata “maa” dimana dalam ayat sebelumnya apa yang diimani itu adalah beriman kepada Allah SWT, beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami dan beriman kepada apa yang diturunkan pada Nabi-Nabi sebelum kami.

وَلاَ تَتَّخِذُوَاْ آيَاتِ اللّهِ هُزُواً وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai permainan dan ingatlah nikmat Allah kepadamu dan apa yang telah Allah turunkan kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah, Allah memberikan pengajaran kepadamu dengannya [apa yang diturunkan kepadamu]. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu [QS Al Baqarah ; 231]

Perhatikan lafaz “ya’izhukum bihi” yaitu “memberikan pengajaran kepadamu dengannya”. Lafaz “bihi” atau “dengan-nya” itu merujuk pada “ma anzala ‘alaikum”yaitu apa yang diturunkan Allah SWT kepadamu dan disebutkan bahwa itu adalah Al Kitab dan Al Hikmah.

Masih banyak contoh-contoh lain tetapi apa yang telah kami sebutkan telah cukup sebagai hujjah bagi mereka yang tunduk kepada apa yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Memang sangat mengherankan jika seorang yang punya keilmuan seperti Efendi dan Abul-Jauzaa’ berhujjah dengan cara yang menyedihkan. Jika yang bersangkutan bodoh ada baiknya ia belajar dan jika yang bersangkutan pura-pura bodoh maka itu lebih celaka lagi karena telah sengaja memelintir hadis Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan membodohi orang lain [setidaknya di kalangan pengikutnya]. Semoga para pengikut salafy nashibi itu bisa merenungkan betapa “menjijikkannya” hujjah mereka. Kepada Allah SWT kami berlindung dan memohon ampun.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s