Hadis Kemuliaan Imam Ali Manusia Pilihan Allah SWT

Hadis Kemuliaan Imam Ali Manusia Pilihan Allah SWT

 

Terdapat salah satu hadis yang seringkali dinyatakan palsu oleh para ulama tetapi anehnya mereka tidak memiliki dalil yang jelas untuk menyatakan hadis tersebut palsu. Mereka malah menjadikan hadis ini sebagai alat untuk menuduh perawi yang meriwayatkannya sebagai perawi cacat atau pemalsu hadis. Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak Ash Shahihain

حدثنا أبو بكر بن أبي دارم الحافظ ثنا أبو بكر محمد بن أحمد بن سفيان الترمذي ثنا سريج بن يونس ثنا أبو حفص الأبار ثنا الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة رضى الله تعالى عنه قال قالت فاطمة رضى الله تعالى عنها يا رسول الله زوجتني من علي بن أبي طالب وهو فقير لا مال له فقال يا فاطمة أما ترضين أن الله عز وجل اطلع إلى أهل الأرض فاختار رجلين أحدهما أبوك والآخر بعلك

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Darim Al Hafizh yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Sufyan Al Tirmidzi yang berkata telah menceritakan kepada kami Suraij bin Yunus yang berkata telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh Al Abbar yang berkata telah menceritakan kepada kami Al ‘Amasy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah RA yang berkata “Fathimah berkata “Wahai Rasulullah Engkau menikahkanku dengan Ali bin Abi Thalib dan dia seorang yang fakir dan tidak memiliki sesuatu”. Rasulullah SAW berkata “Wahai Fathimah tidakkah kamu ridha bahwa Allah SWT telah melihat kepada penduduk Bumi dan memilih dua orang, salah satunya adalah Ayahmu dan yang lainnya adalah suamimu” [Al Mustadrak Al Hakim no 4645]

Hadis ini memiliki sanad yang shahih diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya. Mereka yang berusaha melemahkan hadis ini tidak memiliki satupun dalil kecuali mereka menjadikan salah satu perawinya sebagai yang tertuduh karena ia telah meriwayatkan hadis ini.

  • Al Hafizh Abu Bakar bin Abi Darim adalah syaikh atau gurunya Al Hakim. Dalam Al Mustadrak, Al Hakim banyak sekali meriwayatkan hadis darinya dan ia menyebutnya dengan sebutan “Al Hafizh” [yang merupakan predikat ta’dil]. Al Hakim telah menshahihkan hadis-hadis Ibnu Abi Darim. Oleh karena itu kami simpulkan bahwa menurut Al Hakim, Ibnu Abi Darim adalah Al Hafizh yang shahih hadisnya.
  • Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi adalah penduduk Baghdad, Al Hakim menyebutnya dengan kuniyah Abu Bakar dan Al Khatib menyebutnya dengan kuniyah Abu Abdullah. Al Khatib menyatakan bahwa Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi seorang yang tsiqah [Tarikh Baghdad 1/322 no 176]
  • Suraij bin Yunus adalah seorang yang tsiqah perawi Bukhari Muslim. Ahmad dan Nasa’i menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Abu Hatim dan Ishaq bin Ibrahim menyatakan ia shaduq. Abu Dawud, Ibnu Ma’in, Ibnu Qani’, Ibnu Sa’ad dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. [At Tahdzib juz 3 no 857]. Ibnu Hajar berkata “ahli ibadah yang tsiqat” [At Taqrib 1/341].
  • Abu Hafsh Al Abbar adalah Umar bin Abdurrahman bin Qais seorang hafizh yang tsiqah. Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Utsman bin Abi Syaibah, Daruquthni dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Ahmad dan Nasa’i menyatakan “tidak ada masalah padanya”. Abu Hatim dan Abu Zar’ah menyatakan ia shaduq. Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq [At Taqrib 1/722] dan dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib bahwa Abu Hafsh seorang yang tsiqat [Tahrir At Taqrib no 4937].
  • Al ‘Amasy adalah Sulaiman bin Mihran seorang perawi kutubus sittah yang tsiqat. Ibnu Ma’in, Al Ajli, An Nasa’i dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqat. Muhammad bin Abdullah bin Ammar berkata “tidak ada muhadis yang lebih tsabit dari ‘Amasy”. [At Tahdzib juz 4 no 386]. Ibnu Hajar menyatakan ia seorang hafizh yang tsiqat [At Taqrib 1/392]
  • Abu Shalih As Saman adalah Dzakwan seorang tabiin yang tsiqah perawi kutubus sittah. Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Hatim , Abu Zar’ah , Ibnu Sa’ad, As Saji, Al Ajli dan Ibnu Hibban menyatakan ia tsiqah [At Tahdzib juz 3 no 417]. Ibnu Hajar menyatakan ia tsiqat [At Taqrib 1/287]

Hadis ini sangat jelas diriwayatkan oleh para perawi yang terpercaya tetapi ada sebagian orang yang merasa “ada sesuatu di hatinya” sehingga berusaha mencacatkan hadis ini bahkan menyatakan hadis ini palsu.

.

.

Syubhat Para Pengingkar

Syubhat pertama yang disebarkan oleh para pengingkar untuk menolak hadis ini adalah mereka mencacatkan Al Hafizh Ibnu Abi Darim. Mereka menukil Adz Dzahabi yang menyatakan kalau Ibnu Abi Darim seorang Rafidhah pendusta [Mizan Al ‘Itidal no 552].

Perkataan ini tidak benar bahkan Adz Dzahabi telah menentang dirinya sendiri dimana ia telah memuji atau menta’dilkan Ibnu Abi Darim. Adz Dzahabi dalam As Siyar mengatakan kalau Ibnu Abi Darim adalah Al Imam Al Hafizh Al Fadhl seorang Muhaddis Syiah Kufah [As Siyar 15/576 no 349]. Perkataan ini telah dikenal sebagai perkataan ta’dil tingkat pertama dan disini Adz Dzahabi tidak menyebut Ibnu Abi Darim Rafidhah melainkan hanya Syiah. Dan dalam implementasinya ternyata Adz Dzahabi malah menshahihkan banyak hadis Ibnu Abi Darim dalam kitabnya Talkhis Al Mustadrak yaitu

  • Talkhis Al Mustadrak 1/393 no 964 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 1/397 no 977 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 1/437 no 1102 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 2/268 no 2965 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 2/326 no 3167 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 2/268 no 2965 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 2/268 no 2965 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 2/469 no 3617 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 3/241 no 4963 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 3/364 no 5405 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 3/397 no 5503 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 3/414 no 5580 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]
  • Talkhis Al Mustadrak 3/618 no 6292 [Adz Dzahabi dan Al Hakim bersepakat menshahihkannya]

Jumlah ini belum ditambah dengan hadis-hadis Ibnu Abi Darim yang dishahihkan oleh Al Hakim dan didiamkan oleh Adz Dzahabi. Dengan fakta ini dapat diketahui bahwa Al Hakim sendiri dalam kitabnya Al Mustadrak selalu menyebutkan Ibnu Abi Darim gurunya dengan sebutan Al Hafizh serta menshahihkan hadis-hadisnya. Maka dapat disimpulkan bahwa Al Hakim telah menta’dilkan Ibnu Abi Darim dan berhujjah dengan hadis-hadisnya. Hal ini jelas sekali bertolak belakang dengan penukilan Adz Dzahabi. Adz Dzahabi menukil dari Al Hakim yang berkata tentang Ibnu Abi Darim“Rafidhah yang tidak tsiqah” [As Siyar 15/576 no 349]. Tentu saja yang benar adalah apa yang ditulis oleh Al Hakim sendiri dalam kitabnya Al Mustadrak sedangkan penukilan Adz Dzahabi itu bisa saja keliru.

Sudah jelas yang mengalami kekacauan disini adalah Adz Dzahabi, ia terkadang menta’dilkan Ibnu Abi Darim tetapi terkadang mencelanya dan diketahui bahwa celaan yang ditujukan kepada Ibnu Abi Darim disebabkan ia pernah mencaci sahabat Nabi. Alasan ini sungguh musykil jika kita membandingkan dengan betapa banyaknya perawi yang dinyatakan tsiqah oleh para ulama padahal perawi tersebut membenci dan mencaci sahabat Ali bin Abi Thalib. Selain itu kalau kita melihat sendiri bagaimana sikap Adz Dzahabi terhadap hadis-hadis Ibnu Abi Darim [dalam Al Mustadrak] maka tidak ada satupun hadis yang dinyatakan dhaif atau palsu oleh Adz Dzahabi karena kelemahan Ibnu Abi Darim justru sebaliknya malah banyak sekalihadis Ibnu Abi Darim yang dishahihkan oleh Adz Dzahabi. Memang Adz Dzahabi sendiri menyatakan hadis di atas sebagai hadis maudhu’ tetapi yang ia tuduh sebagai pemalsu hadis adalah Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi bukan Ibnu Abi Darim.

Syubhat kedua yang dijadikan hujjah para pengingkar untuk menolak hadis ini adalah mereka menuduh Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi sebagai pemalsu hadis. Mereka menukil dari Adz Dzahabi yang berkata

محمد بن أحمد بن سفيان ، أبو بكر الترمذي ، ولعله الباهلى . روى عن سريج بن يونس حديثا موضوعا هو المتهم به

Muhammad bin Ahmad bin Sufyan Abu Bakar Tirmidzi, mungkin ia Al Bahili meriwayatkan dari Suraij bin Yunus hadis maudhu’ [palsu] dan dia menjadi yang tertuduh karenanya [Mizan Al ‘Itidal no 7140].

Dan seperti biasa Abul Wafa’ atau Ibrahim bin Muhammad bin Sibth Ibnu Ajami dalam Kasyf Al Hatsits no 628 juga ikut-ikutan Adz Dzahabi menuduh Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi yang memalsukan hadis ini.

Silakan perhatikan baik-baik perkataan Adz Dzahabi tersebut. Sudah jelas bahwa dari awal ia sudah menyatakan hadis tersebut palsu dan yang bisa dijadikan tertuduh dalam hal ini adalah Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi. Artinya justru Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi menjadi perawi yang tertuduh memalsu hadis hanya gara-gara ia meriwayatkan hadis ini. Tentu saja Adz Dzahabi harus mencari dalih untuk melemahkan Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi yaitu ia menyatakan kemungkinan orang ini adalah Al Bahili. Tahukah anda siapakah Al Bahili yang dimaksud? Ia sebenarnya adalah Muhammad bin Ahmad bin Suhail Al Bahili, silakan dilihat perkataan Adz Dzahabi sendiri

محمد بن أحمد بن سهيل الباهلي عن وهب بن بقية قال ابن عدي ممن يضع الحديث

Muhammad bin Ahmad bin Suhail Al Bahili dari Wahab bin Baqiyah. Ibnu Ady berkata ia termasuk pemalsu hadis [Al Mughni Adh Dhu’afa no 5233]

Sekarang silakan lihat baik-baik kekacauan Adz Dzahabi. Kekacauan pertama: tidak ada satupun yang menisbatkan kepada Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi dengan sebutan Al Bahili. Jadi dari mana datangnya perkataan Adz Dzahabi tersebut, kecuali dari keinginannya untuk menyatakan hadis tersebut palsu. Kekacauan kedua, apakah Adz Dzahabi itu tidak melihat bahwa Al Bahili yang dimaksud adalahMuhammad bin Ahmad bin Suhail. Sedangkan perawi sebelumnya itu adalahMuhammad bin Ahmad bin Sufyan. Siapapun akan tahu kalau kedua orang ini jelas berbeda.

Padahal kalau diteliti lebih jauh ternyata memang ada seorang perawi yang bernama Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi. Ia adalah salah satu dari syaikh Ath Thabrani. Biografinya disebutkan oleh Al Khatib

محمد بن أحمد بن سفيان أبو عبد الله البزاز الترمذي سكن بغداد وحدث بها عن عبيد الله بن عمر القواريري ومحمد بن جعفر الفيدي وغيرهما روى عنه أحمد بن كامل القاضي وسليمان بن أحمد الطبراني وكان ثقة

Muhammad bin Ahmad bin Sufyan Abu Abdullah Al Bazzaz At Tirmidzi tinggal di Baghdad meriwayatkan hadis dari Ubaidillah bin Umar Al Qawariri dan Muhammad bin Ja’far Al Faidhi dan yang lainnya. Telah meriwayatkan darinya Ahmad bin Kamil Al Qadhi dan Sulaiman bin Ahmad Ath Thabrani dan dia seorang yang tsiqah [Tarikh Baghdad 1/322 no 176]

Kami dengan jelas menyatakan kalau Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi yang dimaksud adalah Syaikh Ath Thabrani di atas karena ia pada dasarnya menetap di Baghdad dan sangat mungkin sekali meriwayatkan hadis dari Suraij bin Yunus yang dikenal dengan Suraij bin Yunus bin Ibrahim Al Baghdadi [artinya ia penduduk Baghdad].

Perhatikan baik-baik Syaikh Ath Thabrani di atas meriwayatkan hadis dari Ubaidillah bin Umar dan Muhammad bin Ja’far Al Faidhi

  • Ubaidillah bin Umar adalah perawi thabaqat ke-10 termasuk penduduk Baghdad yang lahir tahun 150 H dan wafat tahun 235 H. [At Tahdzib juz 7 no 72]
  • Muhammad bin Ja’far Al Faidhi adalah perawi thabaqat ke-11 yang dikenal dengan kuniyah Abu Abdullah dan ada yang mengatakan Abu Ja’far juga termasuk penduduk Baghdad wafat tahun 230 H [At Tahdzib juz 9 no 128].

Dimana Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi pada riwayat Al Hakim di atas telah meriwayatkan hadis dari Suraij bin Yunus bin Ibrahim Al Baghdadi yang termasuk perawi thabaqat ke-10 penduduk Baghdad yang wafat tahun 235 H. [At Tahdzib juz 3 no 857].

Jadi bisa dikatakan kalau Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi yang dimaksud adalah Syaikh Ath Thabrani yang dikenal tsiqah dimana Al Khatib menyebutnya dengan kuniyah Abu Abdullah dan Al Hakim menyebutnya dengan kuniyah Abu Bakar. Dan sungguh telah ma’ruf bahwa seorang perawi bisa memiliki kuniyah yang bermacam-macam seperti yang telah kami tunjukkan yaitu Muhammad bin Ja’far Al Faidhi yang memiliki kuniyah Abu Abdullah dan Abu Ja’far. Muhammad bin Ahmad bin Sufyan At Tirmidzi adalah seorang yang tsiqah sedangkan mereka yang menuduhnya tidak memiliki dalil apapun kecuali keinginan mereka yang begitu besar untuk menyatakan hadis tersebut palsu sehingga dengan terpaksa mereka harus menuduh perawi yang meriwayatkannya sebagai pemalsu hadis. Sungguh logika sirkuler yang menyesatkan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s