Duka Ramadhan …

Duka Ramadhan …

Suatu ketika Rasulullah Saw berkata, “Wahai Ali, Jibril mengabarkan padaku tentang dirimu yang membuat hatiku bahagia. Dia berkata padaku, Wahai Muhammad, Allah Swt berfirman, ‘Sampaikan salam-Ku pada Muhammad dan beritakan padanya bahwa Ali adalah pemimpin hidayah, pelita gelapnya kesesatan dan hujjah bagi penghuni bumi… dan Aku bersumpah demi kemuliaanku, tidak Aku masukkan ke api neraka siapa saja yang mencintai Ali, menyerah kepadanya dan menjadikannya sebagai washi kepemimpinan umat.”

Malam itu, merupakan malam terakhir bagi Imam Ali as membagikan bingkisan roti dan kurma untuk para fakir miskin dan anak-anak yatim. Setibanya di rumah, ia pun bergegas untuk memulai ibadah malamnya. Allamah Qunduzi dalam kitabnya Yanabi al-Mawaddah menulis, “Di malam syahadah, Imam Ali as menengadah ke langit dan menangis bercucuranair mata. Lisannya pun tiada hentinya berkata, ‘Demi Allah, aku tidak berbohong, dan mereka tak juga berbohong padaku. Sungguh malam ini adalah malam yang mereka janjikan untukku.”

Suara azan di awal Subuh menyusur ke sudut-sudut kota Kufah. Perlahan Ali as pun melangkah ke masjid. Setibanya di masjid, ia melihat Ibnu Muljam tengah tidur. Ia pun membangunkannya, lantas melangkah ke mihrab. Segera setelah itu, Imam Ali as memimpin shalat Subuh.

Namun, shalat subuh saat itu terasa berbeda, terasa ada keheningan syahdu yang melatari kekhusyukan para jamaah. Ketika Imam Ali bangun dari rukuknya dan kembali merunduk sujud, seluruh jamaah pun mengikutinya kecuali seorang yang berdiri tepat di belakang Ali as. Sekelebat, lelaki itu menghujamkan sebilah pedang ke kepala Imam Ali. Darah segar pun terpancar menggenangi mihrab, namun Imam tak juga beranjak dari sujudnya dan terus tenggelam dalam zikir dan shalatnya. Pedang beracun itu pun membelah kepala Ali hingga ke dahinya dan Ali as pun berkata, “Demi Tuhannya Kabah, aku telah menang”. Langit dan bumi segera terguncang dan teriakan Jibril menggemparkan alam semesta, “Demi Allah, pilar-pilar hidayah telah runtuh dan tanda-tanda takwa telah musnah”.

Tak lama setelah itu, Ibnu Muljam, lelaki yang berusaha membunuh Imam Ali as itu pun segera ditangkap dan di bawa ke hadapan Imam. Namun, Amirulmukminin kepada putranya, Imam Hasan as berkata, “Kita adalah Ahlul Bait yang pengasih. Berilah makan dan minumanmu padanya. Jika aku pergi dari dunia ini, Qisas-lah dia, dan jika tidak aku lebih tahu apa yang mesti kulakukan terhadapnya dan lebih pantas bagiku untuk memaafkannya.

Putra Imam Ali as, Muhammad Hanifah dalam kesaksiannya menuturkan, “Di malam 21 Ramadhan, ayahku meninggalkan anak-anak dan ahlul baitnya. Tak lama sebelum beliau syahid, ia berkata, “Maut bagiku bukanlah tamu yang tak diundang dan asing. Perumpamaan antara aku dan maut, laksana lelaki yang haus yang menemukan air setelah lama mencari dan bagaikan seseorang yang menemukan kembali barang berharganya yang telah lama hilang”.

Pelita kehidupan seorang manusia agung yang menjadi simbol keadilan dan penentang kezaliman padam di malam 21 Ramadhan. Imam Ali as pergi ke haribaan ilahi di saat ia berada dalam detik-detik terindah pertemuan seorang hamba dengan Tuhannya. Setelah mengebumikan Imam Ali as, dengan nada duka, Imam Hasan as berkata, “Semalam, seorang manusia telah pergi meninggalkan dunia. Ia adalah manusia paling agung di antara para pemimpin Islam dan tak ada yang sebanding dengannya kecuali Rasulullah saw. Ia berjihad di sisi Rasulullah Saw dan membawa bendera Nabi sementara Jibril dan Mikail selalu menolongnya. Ia pergi menuju ke haribaan ilahi di malam turunnya al-Quran kepada Rasulullah Saw. Tak ada harta, dinar atau dirham yang ditinggalkan ayahku kecuali uang 70 dirham yang disisihkannya untuk keluarga”.

Innalillah wa inna ilaihi rajiun….

Manusia sebagai maujud terpenting dalam penciptaan semesta memiliki posisi yang istimewa dalam pelbagai pemikiran dan kepercayaan. Ilmu tentang manusia merupakan bagian penting dari khazanah pengetahuan. Sebagian besar pemikiran dan agama, menyebut manusia sebagai makhluk yang mulia dan memiliki posisi agung di alam semesta. Namun sejarah menunjukkan, hanya sedikit manusia yang mampu mencapai puncak-puncak kesempurnaan.

Imam Ali as merupakan salah seorang manusia agung yang berhasil mencapai puncak-puncak kesempurnaan. Sejarah memperkenalkannya sebagai manusia agung yang telah berhasil mengenal esensi dirinya dan berhasil meraih kesempurnaan tertinggi. Sejarah bahkan mengabadikan kata-kata bijaknya, “Orang yang berilmu adalah orang yang mengenal kemampuan dirinya dan orang yang bodoh adalah ia yang tidak mengenal kebernilaian dirinya.”

Imam Ali as senantiasa berkata, “Aku diciptakan bukan untuk menyibukkan diri dengan makan dan minum seperti hewan ataupun menjadi terpesona oleh perhiasan dunia hingga tertawan olehnya. Sejatinya jiwa umat manusia itu seharga surga, maka janganlah engkau jual dengan begitu murahnya”.

Imam Ali as telah sedemikian rupa menempa jiwa dan kepribadiannya hingga ia mencapai derajat tertinggi dalam ketakwaan, keimanan, keadilan, dan kepahlawanan. Ia senantiasa menekankan bahwa kemuliaan manusia terletak pada esensi wujudnya yang harus selalu terjaga dari segala noda. Karena itu, di mata Imam Ali as, setiap pemimpin harus bisa membuka jalan bagi masyarakatnya untuk mencapai puncak-puncak kemuliaan. Pandangan seperti itulah yang diterapkan Imam Ali dalam menjalankan pemerintahannya. Ia selalu memerangi segala bentuk perkara yang bisa menodai kemuliaan manusia.

Kepada salah satu gubernurnya, Imam Ali as berkata, “Bimbinglah orang-orang di sekitarmu sedemikian rupa sehingga mereka tidak memuja-mujamu dan memuaskan hatimu tanpa alasan jelas”. Suatu ketika, pada saat Amirulmukminin tengah berceramah, tiba-tiba muncul seorang lelaki dan memuji beliau. Imam pun berkata, “Jangan engkau puji diriku sebelum aku mampu menebus hak-hak yang belum terbayarkan dan melaksanakan kewajiban yang berada dipundakku.”

Imam Ali berkeyakinan, mempercayai masyarakat merupakan salah satu bentuk penghormatan tertinggi terhadap kepribadian manusia. Di mata Imam Ali as, tak ada ihwal yang bisa mencederai kemuliaan manusia seperti kemiskinan. Ia berkata, “Kemiskinan merupakan maut terbesar bagi manusia.” Karena itu ia senantiasa berusaha keras untuk membebaskan kaum muslimin dari jeratan kemiskinan.

Imam Ali as hidup dan tumbuh dewasa di rumah utusan terakhir Tuhan, Nabi Muhammad Saw. Di sebuah rumah yang menjadi tempat pertama dakwah Islam. Dia adalah sahabat setia Rasulullah yang selalu mendampingi beliau dalam segala kondisi dan tak pernah membiarkannya sendirian. Kebersamaan Imam Ali as bersama Rasulullah selalu disertai dengan penyempurnaan spiritual. Kebersamaannya itu menjadikan hati Imam Ali melangkah hingga ke peringkat akhlak yang paling tinggi.

Sejak masa kanak-kanak, Ali selalu menyertai Rasulullah Saw ke manapun beliau pergi bahkan dalam sebuah ungkapannya, Imam Ali menyatakan bahwa beliau sering diajak Nabi Saw berkhalwat dan beribadah di gua Hira yang berada di luar kota Mekah. Imam juga menuturkan bahwa beliau merasakan kehadiran malaikat Jibril yang membawa wahyu untuk Nabi Saw di gua itu. Dengan menyertai Nabi, Ali menimba ilmu-ilmu ilahiyah dari manusia paling agung di dunia itu. Ali pernah mengatakan bahwa Nabi mengajarinya seribu macam ilmu yang masing-masing memiliki cabang seribu. Demikian halnya dengan derajat keimanan Imam Ali. Sedemikian tingginya derajad iman Imam Ali as sampai-sampai Rasulullah Saw berkata, “Jika langit dan bumi diletakkan pada salah satu sisi neraca sementara iman Ali di sisi yang lain, niscaya iman Ali jauh melebihinya”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s