Ali Manusia Agung

Ali Manusia Agung

 

a. Biografi singkat Amirul Mukminin Ali a.s.

Amirul Mukminin Ali a.s. adalah anak keempat Abu Thalib. Ia dilahirkan di Makkah pada hari Jumat tanggal 13 Rajab tepatnya di dalam Ka’bah. Kelahirannya terjadi sekitar tiga puluh tahun sebelum peristiwa tahun Gajah dan dua puluh tiga tahun sebelum periode hijrah. Ibunya adalah seorang wanita luhur yang berjiwa mulia bernama Fathimah binti Asad bin Hisyam bin Abdi Manaf. Ia tinggal di rumah ayahnya hingga berusia enam tahun.

Ketika Rasulullah SAWW berusia lebih dari tiga puluh tahun, paceklik sedang menimpa kota Makkah dan barang-barang pangan serba mahal. Hal inilah yang menyebabkan Ali kecil hidup bersama Rasulullah SAWW selama tujuh tahun hingga tahun-tahun pertama Bi’tsah dan mendapatkan didikan langsung darinya.

Pada khotbah ke-192 Nahjul Balaghah ia bercerita tentang dirinya: “Aku selalu mengikutinya (Rasulullah SAWW) sebagaimana anak kecil selalu membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya”.

Setelah Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi, Ali adalah orang pertama yang beriman kepadanya.

Abu Thalib untuk pertama kalinya melihat anak dan misanannya mengerjakan shalat bersama. “Anakku, apa yang sedang kau lakukan?”, tanyanya heran. Ia menjawab: “Wahai ayah, aku telah memeluk agama Islam dan mengerjakan shalat bersama misananku”. “Janganlah kau berpisah darinya, karena ia tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan”, sang ayah menimpali.

Ibnu Abbas berkata: “Orang pertama yang melaksanakan shalat bersama Rasulullah SAWW adalah Ali a.s.”.

Rasulullah SAWW diutus menjadi nabi pada hari Senin dan Ali a.s. mengerjakan shalat pada hari Selasa.

Pada tahun ketiga Bi’tsah, setelah ayat “Dan berilah peringatan kepada keluarga dekatmu” turun, Rasulullah SAWW mengundang seluruh keturunan Abdul Muthalib ke rumahnya. Mereka berjumlah empat puluh orang. Setelah makan siang, Rasulullah SAWW tidak mendapat kesempatan untuk berbicara. Pada hari berikutnya ia mengundang mereka lagi untuk makan siang ke rumahnya. Setelah usai makan, Rasulullah SAWW mencuri kesempatan seraya berbicara di hadapan mereka: “Siapakah di antara kalian yang siap untuk menolongku dan beriman kepadaku sehingga ia akan menjadi saudara dan penggantiku setelah aku wafat?” Ali a.s. berdiri dan berkata: “Aku siap untuk menolongmu dalam menempuh jalan ini!”. “Duduklah”, jawab Rasulullah SAWW singkat.

Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan tidak ada seorang pun yang bangun menyatakan kesiapannya kecuali Ali a.s. Ia pun menyuruhnya duduk.

Untuk yang ketiga kalinya Rasulullah SAWW mengulangi ucapannya, dan hanya Ali a.s. yang menyatakan kesiapannya. Akhirnya ia bersabda: “Sesungguhnya orang ini (Ali) adalah saudaraku, washiku, wazirku, pewarisku dan khalifahku untuk kalian sepeninggalku”.

Setelah tiga belas tahun berdakwah di Makkah, akhirnya segala faktor pendukung dan persiapan untuk hijrah ke Madinah tersedia. Pada malam hijrah, Rasulullah SAWW berkata kepada Ali a.s.: “(Malam ini) engkau harus tidur di atas ranjangku!”. Malam itu Ali a.s. tidur di atas ranjang Rasulullah SAWW. Malam itu yang bertepatan dengan tanggal 1 Rabi’ul Awal tahun keempat Bi’tsah dikenal dengan nama Lailatul Mabit. Berdasarkan beberapa riwayat, pada malam itu satu ayat turun berkenaan dengan keutamaan Imam Ali a.s.

Beberapa malam sebelum hijrah, Rasulullah SAWW pergi menuju Ka’bah bersama Ali a.s. Ia berkata kepada Ali a.s.: “Naiklah di pundakku!”. Setelah Ali a.s. naik ke atas pundaknya, mereka menghancurkan beberapa buah patung yang mengelilingi Ka’bah. Setelah itu mereka bersembunyi supaya kaum Quraisy tidak mengetahui siapa yang melakukan itu.

Setelah Rasulullah SAWW hijrah, Imam Ali a.s. baru dapat hijrah tiga hari setelah itu bersama ibunya, Fathimah binti Asad, Fathimah Az-Zahra`, Fathimah binti Zubair dan muslimin lainnya yang belum sempat berhijrah. Faktor keterlambatannya dalam melaksanakan hijrah adalah karena ia harus mengembalikan amanat-amanat Rasulullah SAWW kepada para pemiliknya.

Ketika ia sampai di Madinah, kakinya luka berdarah. Karena kerelaannya dalam berkorban, Rasulullah SAWW sangat berterima kasih kepadanya.

Di tahun pertama hijrah, ketika Rasulullah SAWW mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, ia berkata kepada Imam Ali a.s.: “Engkau adalah saudaraku di dunia dan akhirat”. Pada tahun kedua hijrah, Imam Ali a.s. menikah dengan Fathimah Az-Zahra` a.s.

Bulan Ramadhan tahun kedua hijrah adalah bulan kemuliaan dan kebanggaan bagi Imam Ali a.s. Pada tanggal 15 Ramadhan Allah mengaruniai Imam Hasan a.s. kepadanya dan pada tanggal 17 Ramadhan terjadi perang Badar yang telah membuktikannya sebagai pahlawan pemberani, dan hal itu menjadi buah bibir masyarakat Madinah.

Syeikh Mufid r.a. berkata: “Pada perang Badar muslimin berhasil membunuh tujuh puluh orang kafir dan Imam Ali a.s. membunuh tiga puluh enam orang dari mereka. Itu pun ia masih membantu yang lain dalam membunuh orang-orang kafir”.

Pada bulan Syawal tahun ketiga hijrah pecah perang Uhud. Nama Imam Ali a.s. –-sebagaimana di perang Badar– menjadi buah bibir masyarakat. Di perang Uhud inilah Rasulullah SAWW bersabda: “Ali adalah dariku dan aku darinya”. Dan pada perang ini juga suara teriakan di langit menggema: “Tiada pedang kecuali Dzulfiqar dan tiada pemuda kecuali Ali”.

Pada tahun ketiga atau keempat hijrah, Allah menganugerahkan seorang putra kepada Imam Ali a.s. yang akhirnya dinamai Husein. Sembilan imam ma’shum a.s. berasal dari keturunannya.

Pada bulan Syawal tahun kelima hijrah perang Khandaq pecah. Di perang ini Imam Ali a.s. berhadapan langsung dengan ‘Amr bin Abdi Wud. Berkenaan dengan hal tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Manifestasi seluruh iman berhadapan dengan manifestasi seluruh kekufuran”. Pada kesempatan yang lain ia bersabda: “Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku hingga hari kiamat kelak”.

Pada tahun ketujuh hijrah, perang Khaibar kembali pecah. Pada suatu hari ketika muslimin sudah putus asa karena tidak dapat menjebol benteng Khaibar yang dijadikan pertahanan oleh orang-orang Yahudi, Rasulullah SAWW bersabda: “Besok aku akan memberikan bendera komando pasukan ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia juga dicintai oleh mereka. Ia akan menyerang pantang mundur, dan tidak akan pulang kecuali Allah akan menganugerahkan kemenangan kepadanya”.

Pada tanggal 20 Ramadhan tahun ke-8 hijrah, Rasulullah SAWW berhasil membebaskan kota Makkah yang sebelumnya merupakan pusat dan benteng kokoh bagi penyembahan berhala. Berdasarkan sebagian riwayat, Imam Ali a.s. pada hari itu memperoleh kemuliaan untuk naik di atas pundak Rasulullah SAWW untuk menghancurkan berhala-berhala yang menghuni Ka’bah.

Setelah peristiwa pembebasan kota Makkah, perang Hunain dan kemudian perang Tha`if pecah. Pada peristiwa perang Hunain, hanya sembilan orang sahabat yang di antara mereka adalah Imam Ali a.s. yang setia bersama Rasulullah SAWW. Para sahabat yang lain lari tunggang-langgang.

Pada tahun ke-9 hijrah, perang Tabuk pecah. Dari dua puluh tujuh peperangan yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAWW, hanya dalam perang ini Imam Ali a.s. tidak ikut serta. Hal itu dikarenakan Rasulullah SAWW menyuruhnya untuk menjadi penggantinya di Madinah. Hadis manzilah berhubungan dengan peristiwa ini. Dalam hadis tersebut Rasulullah SAWW bersabda: “Apakah engkau (Ali) tidak rela jika kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa hanya saja tidak ada nabi lagi setelahku”. Di tahun ini juga Imam Ali a.s. mendapat perintah untuk mengambil ayat-ayat surah al-baraa`ah yang dipegang oleh Khalifah Abu Bakar untuk dibacakannya di hadapan para penyembah berhala.

Pada tanggal 5 Dzul Qa’dah 10 H., Rasulullah SAWW mengutus Imam Ali a.s. ke Yaman untuk bertabligh, dan dengan ini banyak masyarakat Yaman yang memeluk agama Islam.

Pada tahun itu juga peristiwa Ghadir Khum terjadi. Seraya mengenalkan Imam Ali a.s. sebagai penggantinya Rasulullah SAWW bersabda: “Barang siapa yang aku maula (pemimpin)-nya, maka Ali adalah pemimpinnya”. Hadis ini diriwayatkan oleh seratus sepuluh sahabat, delapan puluh empat tabi’in dan tiga ratus enam puluh ulama Ahlussunnah dari sejak abad ke-2 hingga abad ke-13 H.

Pada tahun ke-11 hijrah, Rasulullah SAWW meninggal dunia. Imam Ali a.s. berkata: “Engkau (Muhammad) meninggal dunia dalam pelukanku”. Padahal washi Rasulullah SAWW sedang sibuk memandikan, mengafani dan menguburkannya, para sahabat berkumpul di Saqifah Bani Saidah dengan tujuan mengadakan sebuah kudeta. Sebuah kudeta yang eksesnya memenuhi sejarah dengan lembaran hitam, menjadikan masa depan umat manusia gelap-gulita dan lebih dari itu, sunnah yang batil terwujud. Dinasti Umaiyah dan Abasiyah telah menduduki tahta kerajaan Islam dan menjadikan kekhilafahan sebagai sebuah permainan.

Dengan kata lain, peristiwa yang terjadi di Saqifah itu adalah dasar utama munculnya pengkhianatan besar terhadap muslimin. Karena dengan lebih mendahulukan orang yang biasa atas orang yang lebih dari segala segi, para sahabat yang berkumpul di Saqifah tersebut telah memenangkan permainan itu dengan segala tipu muslihat dan berhasil menon-aktifkan Imam Ali a.s. dari memegang khilafah padahal ia memiliki masa lalu yang cemerlang dalam membela Islam, ilmu dan takwa. Dan selama dua puluh lima tahun tidak hanya hak Imam Ali a.s. yang diinjak-injak melalui iming-iming kekayaan dan pemaksaan, hak umat Islam untuk mendapatkan seorang pemimpin yang adil dan alim juga tidak dihiraukan.

Akhirnya, sistem khilafah semacam inilah yang memperlicin jalan bagi berkuasanya Bani Umaiyah dan Bani Abbas, dan kebiasaan lebih mendahulukan orang biasa dari orang yang lebih dari segala segi itulah yang memberikan kesempatan bagi orang yang suka mencari kesempatan untuk mengorbankan hakikat demi maslahat individu.

Sepanjang lima tahun pemerintahan Imam Ali a.s., banyak faktor yang selalu menjegalnya dalam usaha mewujudkan sebuah perbaikan universal dan keadilan sosial. Pada masa lima tahun itu mayoritas waktu dan tenaganya digunakan untuk membasmi segala bentuk kudeta dan berperang melawan naakitsiin (para pembelot dari bai’at seperti Thalhah dan Zubair), qaasithiin (para lalim seperti Mu’awiyah dan para pengikutnya) dan maariqiin (orang-orang yang enggan menaati segala instruksi Imam Ali a.s. seperti kelompok Khawarij Nahrawan).

Selama enam puluh tiga tahun hidup di tengah-tengah masyarakat, Imam Ali a.s. hidup dengan penuh kesucian jiwa, takwa, kejujuran, iman dan ikhlas dengan berpegang teguh pada semboyan “cercaan para pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan Allah”. Dan ia tidak memiliki tujuan kecuali Allah dan setiap amalan yang dikerjakannya semuanya demi Allah. Jika ia sangat mencintai Rasulullah SAWW, hal itu pun ia lakukan demi Allah. Ia tenggelam dalam iman dan ikhlas untuk Allah. Ia lalui semua kehidupannya dengan kesucian dan ketakwaan, dan ia pun bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan suci. Ia lahir di rumah Allah dan meninggal di rumah Allah juga. Seluruh hidupnya telah menjadi satu dengan kebenaran. Ketika pedang Abdurrahman bin Muljam merobek kepalanya ia hanya berkata: “Aku sekarang menang, demi Tuhan yang memiliki Ka’bah”. Ia meneguk cawan syahadah pada malam 21 Ramadhan 40 H.

b. Poin-poin Penting dari Kehidupan Imam Ali a.s

Poin pertama : Pada peristiwa badan syura yang beranggotakan enam orang dan dibentuk atas perintah Umar bin Khattab dengan tujuan untuk memilih khalifah setelah ia meninggal dunia, Abdurrahman bin ‘Auf, salah seorang kandidat tidak bersedia untuk dipilih dan akhirnya ia mengundurkan diri dari keanggotaan. Setelah itu, ia berpendapat agar kandidat khalifah hanya terdiri dari dua orang, yaitu Imam Ali a.s. dan Utsman bin Affan. Ia ingin membai’at Imam Ali a.s. dengan syarat ia harus menjalankan pemerintahan atas dasar kitab Allah, sunnah Rasul-Nya, “sunnah” (baca : metode) Abu Bakar dan Umar. Imam Ali a.s. menjawab: “Saya akan berusaha menjalankan pemerintahan atas dasar kitab Allah, sunnah Rasul-Nya dan metode saya sendiri”.

Ketika Utsman mendapat tawaran di atas, ia langsung menerima dan dengan mudah menjadi khalifah.

Poin kedua: Setelah Utsman bin Affan terbunuh, Imam Ali a.s., berdasarkan desakan mayoritas masyarakat kala itu, dengan terpaksa menerima khilafah. Situasi politik negara saat itu sangat tidak memihak kepadanya. Banyak problema yang muncul di sana-sini. Akan tetapi, dengan segala problema yang ada, ia telah berhasil mengadakan sebuah perombakan besar-besaran dalam bidang hak-hak asasi, ekonomi dan birokrasi. Dalam bidang hak-hak asasi, ia telah menghapus sistem perbedaan dalam memberikan santunan kepada anggota masyarakat dan menyamaratakan mereka dalam hal itu. Ia berkata: “Seorang yang hina adalah mulia dalam pandanganku jika aku harus menegakkan haknya dan orang yang kuat adalah lemah dalam pandanganku jika aku harus mengambil hak orang lain darinya”.

Dalam bidang ekonomi, ia telah merampas semua tanah dan harta yang telah diberikan oleh Utsman kepada golongan jet-set dan dibagikan secara merata kepada seluruh masyarakat. Ia berkata: “Wahai manusia, aku adalah dari kalian. Jika aku memiliki suatu harta, kalian juga memiliki harta yang sama, jika kalian memiliki suatu tugas, maka aku juga memiliki tugas yang sama. Aku akan membawa kalian menempuh jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah dan setiap yang diperintahkannya, akan kutanamkan di dalam lubuk hati kalian. Setiap tanah dan harta yang telah diberikan oleh Utsman kepada orang lain (dengan tidak benar) harus dikembalikan ke baitul mal. Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat membasmi kebenaran. Jika kutemukan harta yang telah dijadikan mahar perkawinan, budak dibeli dengannya atau harta yang (tidak diketahui asal-usulnya karena) telah tersebar di berbagai kota, akan kukembalikan ke tempat asalnya. Dalam keadilan tersembunyi sebuah ketenteraman, dan jika seseorang merasa terikat oleh kebenaran, maka kelaliman akan lebih mencekiknya”.

Dalam bidang birokrasi, Imam Ali a.s. telah melakukan dua hal penting: pertama, memberhentikan para wali kota yang telah ditentukan oleh Utsman, dan kedua, menyerahkan tampuk wali kota kepada orang-orang yang bersih dan bertakwa. Ia menunjuk Utsman bin Hanif sebagai wali kota Bashrah, Sahl bin Hanif sebagai wali kota Syam, Qais bin Ubadah sebagai wali kota Mesir, dan Abu Musa Al-Asy’ari sebagai wali kota Kufah. Berkenaan dengan Zubair dan Thalhah yang pernah menjabat sebagai wali kota Bashrah dan Kufah, Imam Ali a.s. menyingkirkan mereka dengan lemah-lembut. Imam Ali a.s. juga mencabut Mu’awiyah dari kursinya sebagai wali kota Syam, karena ia tidak ingin seorang yang kotor berkuasa atas masyarakat Syam. Sikap Imam Ali a.s. dalam situasi dan kondisi semacam itu adalah ia harus menyerang Mu’awiyah dan menyingkirkannya dari arena politik. Imam a.s. menganggap dirinya bertanggung jawab untuk membasmi segala unsur penentang ilegal yang diciptakan oleh Mu’awiyah dan kelompoknya.   Imam a.s. harus membersihkan semua unsur penentang, karena tugasnya adalah membersihkan masyarakat Islam dari segala penyelewengan. Dan hal ini sangatlah berat.

Dengan kata lain, faktor utama yang menyebabkan Imam Ali a.s. harus menyingkirkan Mu’awiyah dan berperang melawannya adalah karena aliran pemikiran yang dianutnya (yang dipoles dengan agama).

Dengan demikian, Imam Ali a.s. harus menghadapi dua realita pahit: pertama, ia harus menangani disintegrasi bangsa dan kedua, ia harus membasmi setiap penyelewengan dari dalam negara sebagai warisan yang telah ditinggalkan oleh pemerintahan masa lalu.

Dalam hal ini, usaha dalam meluruskan situasi negara  yang sudah terlanjur krisis dan merampas kembali harta-harta yang berada di tangan para pengkhianat bangsa ia lakukan tanpa mengenal toleransi sedikit pun.

Imam Ali a.s. berkata: “Mu’awiyah tidak pernah menjalankan Islam sepenuhnya, bahkan ia ingin melestarikan tradisi jahiliah ayahnya, Abu Sufyan. Ia ingin merubah eksistensi Islam dengan sebuah eksistensi yang lain dan masyarakat Islam dengan masyarakat yang lain. Ia ingin membentuk sebuah masyarakat yang tidak meyakini Islam dan Al Quran. Ia menginginkan khilafah diganti dengan sistem pemerintahan kaisar”.

Dengan adanya segala problema yang merintangi gebrakannya, Imam Ali a.s. tidak pantang menyerah. Ia tetap tegar memegang prinsip dalam membasmi para pemberontak yang menginginkan disintegrasi bangsa. Setelah pedang melukai kepalanya pun tetap menyiapkan pasukan yang siap tempur menuju Syam untuk membasmi golongan pemberontak tersebut.

Dengan ini, Imam Ali a.s. –-dalam pandangan muslimin yang sadar– satu-satunya orang yang mampu memerangi segala penyelewengan dan kezaliman yang telah mengakar di tubuh dunia Islam.

Di sini kami memilih ucapan-ucapan suci yang pernah diucapkan oleh Imam Ali a.s. semasa hidupnya dengan harapan semoga ucapan-ucapan suci tersebut dapat menjadi penerang hati demi menuju kesempurnaan insani.

1. Menyembunyikan amal baik dan musibah

“Termasuk harta simpanan di surga, berbuat kebajikan, menyembunyikan amal baik, sabar atas segala musibah dan menyembunyikan musibah”.

2. Tanda-tanda orang zahid

“Orang yang zahid adalah yang ketabahannya tidak dikalahkan oleh hal-hal yang haram dan hal-hal yang halal tidak melupakannya untuk bersyukur”.

3. Tidak berlebihan dalam mencintai dan membenci

“Cintailah sahabatmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi penentangmu pada suatu hari, dan bencilah musuhmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi sahabatmu pada suatu hari”.

4. Harga setiap insan

“Harga setiap orang bergantung kepada amalan baiknya”.

5. Faqih yang sempurna

“Maukah kuberitahukan kepada kalian seorang faqih yang sesungguhnya? Ia adalah orang yang tidak mengizinkan orang lain bermaksiat kepada Allah, tidak memutusasakannya dari rahmat-Nya, tidak menjadikannya merasa aman dari makar-Nya, dan tidak meninggalkan Al Quran dan memilih yang lainnya karena benci terhadapnya. Tiada kebaikan bagi sebuah ibadah yang tidak disertai oleh pemahaman, tiada kebaikan bagi sebuah ilmu yang tidak disertai oleh tafakur, dan tiada kebaikan bagi pembacaan Al Quran yang tidak disertai oleh tadabur”.

6. Bahaya terlalu berharap dan mengikuti hawa nafsu

“Aku sangat mengkhawatirkan dua hal terhadap kalian: pengharapan yang terlalu panjang dan mengikuti hawa nafsu. Karena pengharapan yang terlalu panjang akan menjadikan orang lupa akhirat dan mengikuti hawa nafsu akan mencegahnya dari kebenaran”.

7. Batasan persahabatan

“Janganlah kau jadikan musuh sahabatmu sebagai sahabatmu, karena dengan itu engkau telah memusuhi sahabatmu sendiri”.

8. Macam-macam kesabaran

“Kesabaran itu ada tiga macam: sabar atas musibah, sabar atas ketaatan (kepada Allah) dan sabar atas maksiat”.

9. Kemiskinan yang telah ditakdirkan

“Barang siapa yang jatuh miskin dan ia tidak menganggap bahwa hal itu adalah suatu anugerah dari Allah, maka ia telah melenyapkan sebuah harapan, dan barang siapa menjadi kaya-raya dan ia tidak memikirkan bahwa hal itu adalah sebuah ujian dari-Nya, maka ia telah terjerumus ke dalam sebuah jurang yang menakutkan”.

10.  Kemuliaan, bukan kehinaan

“Kematian ya, kehinaan tidak! Keteguhan pendirian ya, ketololan tidak! Masa adalah dua hari: pada satu hari ia akan memihak kepadamu dan pada hari yang lain ia akan membawa bencana bagimu. Jika ia sedang memihak kepadamu, maka jangan terlalu berbahagia, dan jika ia membawa bencana bagimu, maka janganlah susah. Engkau akan diuji dengan keduanya”.

11.  Memohon kebaikan

“Tidak akan bingung orang yang beristikharah, dan tidak akan menyesal orang yang bermusyawarah”.

12.  Mencintai negara

“Sebuah negeri akan makmur jika (penduduknya) mencintainya”.

13.  Tiga macam ilmu

“Ilmu itu ada tiga: fiqih untuk memahami agama, kedokteran untuk menjaga kesehatan badan dan Nahwu untuk menjaga mulut salah ucap”.

14.  Nilai seseorang

“Berbicaralah tentang ilmu niscaya harga dirimu akan tampak”.

15.  Jangan yakini!

“Jangankan meyakinkan kepada dirimu bahwa engkau miskin dan panjang umur”.

16.  Menghormati seorang mukmin

“Mencela seorang mukmin adalah sebuah kefasikan, memeranginya adalah sebuah kekufuran dan kehormatan hartanya seperti kehormatan darahnya”.

17.  Kefakiran

“Kefakiran adalah kematian yang paling besar, dan sedikitnya keluarga salah satu dari dua kemudahan. Ini adalah separuh kebahagiaan”.

18.  Dua hal yang membahayakan

“Dua hal yang dapat menghancurkan manusia: takut miskin dan berbangga diri”.

19. Tiga orang dianggap zalim

“Pelaku kezaliman, orang yang membantunya dan orang yang diam dengan kezaliman tersebut adalah orang-orang zalim”.

20. Sabar terbaik

“Kesabaran itu ada dua macam: sabar ketika ditimpa musibah. Ini adalah hal yang baik. Dan lebih baik dari itu adalah sabar menahan diri untuk tidak melanggar hal-hal yang telah diharamkan oleh Allah atas dirimu”.

21. Melaksanakan amanat

“Sampaikanlah amanat walaupun kepada pembunuh putra nabi”.

22. Enggan tenar

Imam Ali a.s. berpesan kepada Kumail bin Ziyad: “Tenanglah, jangan berambisi untuk ingin dikenal, sembunyikanlah kepribadianmu jangan sampai disebut-sebut di depan orang lain. Belajarlah niscaya engkau akan mengetahui dan diamlah niscaya engkau akan selamat. Tidak buruk bagimu jika Allah telah memahamkan agama-Nya kepadamu meskipun engkau tidak mengenal orang lain dan ia juga tidak mengenalmu”.

23. Siksa enam golongan

“Allah akan menguji enam golongan dengan enam jenis ujian: menguji bangsa Arab dengan fanatisme, menguji para pembesar desa dengan kesombongan, menguji para pemimpin dengan kelaliman, menguji fuqaha` dengan kedengkian, menguji para pedagang dengan khianat dan menguji para penduduk desa dengan kebodohan”.

24. Rukun-rukun iman

“Iman memiliki empat rukun: tawakal kepada Allah, menyerahkan segala urusan kepada-Nya, menerima segala perintah-Nya, dan rela terhadap semua ketentuan-Nya”.

25. Pendidikan akhlak

“Hiasilah akhlak kalian dengan segala kebajikan, setirlah ia menuju keagungan (akhlak) dan biasakanlah diri kalian untuk bersabar”.

26. Mempermudah urusan masyarakat dan menjauhi perbuatan hina

“Jangan terlalu mempersulit urusan orang lain dan junjunglah harga diri kalian dengan melupakan perbuatan hina”.

27. Penjaga manusia

“Cukuplah bagi setiap orang sebagai benteng bahwa tidak ada seorang pun (di dunia ini) kecuali ia memiliki para penjaga yang telah diutus oleh Allah untuk menjaganya supaya ia tidak jatuh ke dalam sumur (baca : jurang), supaya tembok tidak jatuh di atas kepalanya dan ia tidak diserang oleh binatang buas. Dan jika ajalnya telah tiba, maka mereka akan meninggalkannya berdua dengan ajalnya itu”.

28. Masa kelaliman

“Akan datang menimpa manusia suatu masa, orang-orang yang tidak memiliki keahlian akan dihormati, tidak ditemukan di dalamnya orang yang cerdas dan cerdik kecuali ia lalim, tidak dipercaya kecuali pengkhianat dan tidak dituduh berkhianat kecuali orang yang terpercaya. Mereka akan menggunakan harta negara untuk kepentingan pribadi mereka, zakat sebagai sumber penghasilan, silaturahmi sebagai sarana untuk mengungkit-ungkit kebajikan dan ibadah sebagai kebanggaan dan menzalimi orang lain. Dan hal ini terjadi ketika wanita menjadi penguasa, budak-budak wanita menjadi tempat rujukan dan musyawarah dan anak-anak kecil menjadi pemimpin”.

29. Cerdik menghadapi fitnah

“Ketika fitnah berkecamuk, jadikanlah dirimu seperti ibnu labun (anak unta yang belum berumur dua tahun), karena ia masih belum memiliki punggung yang kuat untuk dapat ditunggangi dan tidak memiliki air susu untuk dapat diperah”.

30. Manusia yang paling lemah

“Orang yang paling lemah adalah orang yang tidak dapat menjalin tali persahabatan dengan orang lain, dan lebih lemah darinya adalah orang yang mudah melepaskan persaudaraan dengan sahabatnya”.

31. Kaffarah dosa-dosa besar

“Di antara kaffarah dosa-dosa besar adalah menolong orang yang meminta pertolongan dan membahagiakan orang yang sedang ditimpa kesusahan”.

32. Tanda kesempurnaan akal

“Jika akal (seseorang) telah sempurna, maka ia akan sedikit berbicara”.

33. Berhubungan dengan Allah

“Barang siapa telah memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Ia akan memperbaiki hubungannya dengan orang lain, dan barang siapa telah memperbaiki urusan akhiratnya, maka Ia akan memperbaiki urusan dunianya”.

34. Merenungkan

“Renungkanlah berita yang kau dengar secara baik-baik (dan jangan hanya menjadi penukil berita), penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangat sedikit”.

35. Pahala orang yang meninggalkan dosa

“Pahala pejuang yang syahid di jalan Allah tidak lebih besar dari pahala orang yang mampu untuk berbuat maksiat lalu ia meninggalkannya. Tidak mustahil para peninggal dosa akan menjadi malaikat”.

36. Akibat perbuatan dosa

“Ingatlah bahwa segala kenikmatan (dosa) akan sirna dan akibatnya akan kekal abadi”.

37. Kriteria dunia

“(Dunia itu) adalah menipu, membahayakan dan sepintas”.

38. Para pemegang agama di akhir zaman

“Akan datang kepada manusia suatu masa yang tidak tertinggal dari Al Quran kecuali tulisannya dan dari Islam kecuali namanya, pada masa itu masjid-masjid dimakmurkan bangunannya sedangkan ia sendiri kosong dari hidayah, orang-orang yang menghuni dan memakmurkannya adalah orang yang paling jahat di muka bumi. Fitnah bersumber dari mereka dan segala kesalahan kembali kepada mereka. Orang-orang yang tertinggal dari kafilah fitnah tersebut (taubat–pen) akan dipaksa untuk kembali dan orang-orang yang tertinggal di belakang (baca : tidak ikut serta dalam kafilah itu) akan didorong maju ke depan (supaya bergabung dengannya). Allah berfirman: “Demi Dzat-Ku, akan Kukirim untuk mereka sebuah fitnah (besar) yang akan menjadikan orang-orang sabar bingung (menentukan sikap)”. Dan Ia telah melakukan hal itu. Kita memohon kepada-Nya untuk mengampuni kelupaan yang membuat kita tergelincir”.

 

 

Mukaddimah

Sejarah telah menjadi saksi pribadi-pribadi besar yang masing-masing punya ciri khas tersendiri. Para Nabi dan Rasul serta figur-figur besar setelah mereka, masing-masing menghiasi lembaran-lembaran sejarah dengan nilai-nilai agung. Pengaruh sebagian diantara mereka, sedemikian besar dan agungnya sampai bergulirnya zaman, sama sekali tidak mengikis pengaruh tersebut. Di antara mereka ialah Imam Ali ibn Abi Thalib. Masa demi masa, abad demi abad, tokoh demi tokoh, ilmuan demi ilmuan telah berlalu dan datang silih berganti. Akan tetapi Imam Ali tetap besar dan menjadi acuan contoh serta model teladan banyak orang. Beliau dengan segala keperkasaannya telah mendobrak pintu kota Khaibar milik Yahudi Madinah yang memusuhi Islam. Pukulan pedangnya disebut oleh Rasulullah SAWW sebagai lebih mulia dari ibadah seluruh manusia dan jin.

Pada tanggal 13 Rajab, kita bertemu dengan sebuah peristiwa besar dalam sejarah, yaitu kelahiran seorang manusia mulia, anak paman sekaligus menantu Rasulullah SAWW, bapa para Imam suci Ahlil Bait Nabi ‘alaihim Salam; Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib A.S. sebuah nama yang tak asing lagi bagi seluruh umat Islam. Beliau merupakan pemuka dan pahlawan besar Islam yang lahir di dalam Ka’bah. Sejak kecil beliau hidup di sisi Rasul dan menerima langsung curahan perhatian dan didikan Rasul. Oleh sebab itu, sejak usia remaja beliau langsung beriman kepada apa yang diserukan Rasul, dan nama Ali ibn Abi Thalib langsung tercatat dalam sejarah Islam sebagai pria yang pertama kali beriman kepada Islam. Ali A.S adalah manusia utama hasil tarbiyah Rasulullah SAWW. Dialah manusia utama setelah Rasulullah SAWW. Pembuka hati manusia ke jalan kebenaran dengan ucapan-ucapannya, dan pemberi contoh tauladan dengan keadilannya. Dialah manifestasi keadilan, kejujuran, kedermawanan, kasih sayang dan jiwa heroisme.

Diantara keluarga Rasul, Imam Ali adalah pribadi besar yang keutamaannya disebut dalam beberapa ayat. Kesucian dan kemaksumannya telah ditegaskan oleh Allah dan nabi besar Muhammad SAWW. Pribadai besar dalam sejarah Islam diakui sebagai telah mencapai ketinggian makrifat, pemberani, bersosial, adil dan seorang yang sangat bertakwa. Rasulullah SAWW pernah bersabda:”Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya. Barangsiapa hendak menuntut ilmu ia harus melewati gerbangnya.”

Imam Ali A.S sepanjang hidupnya telah banyak mengkaji rahasia-rahasia Al-Quran dan berbagai disiplin ilmu, termasuk masalah-masalah pelik dalam filsafat, sampai-sampai banyak penjelasan-penjelasan beliau yang dianggap sebagai kunci untuk mencapai kesimpulan yang tegas bagi para ilmuan Islam hingga dewasa ini.

Kehidupan para waliyullah yang dihiasi dengan kedekatan dengan Sang Maha Pencipta sedemikian agungnya sehingga menjadi legenda yang begitu indah tentang iman dan akhlak. Imam Ali adalah salah satu waliyullah yang paling besar.

Imam Ali hidup di bawah sepetak atap rumah dimana seruan Islam yang pertama memancar dari situ. Rumah itu tak lain ialah rumah Rasulullah SAWW. Imam Ali adalah murid Rasul yang menjadi sahabat dekat dimanapun Rasul berada. Dalam segala kesulitan, Imam Ali tak pernah membiarkan Rasul sendirian. Kedekatan beliau dengan Rasul inilah yang membawa Imam Ali ke jenjang kesempurnaan dan menjadi abdi sejati Allah SWT.

Kehidupan Imam Ali adalah kehidupan seorang hamba yang dicoba dan diuji oleh Tuhannya. Sejarah menjadi saksi bahwa demi keselamatan Rasul, Ali tak segan-segan menantang tajamnya pedang dan anak panah. Beliaulah Singa Allah yang disegani oleh kawan dan lawan. Kendati Imam Ali merupakan pendekar Islam yang membuat gentar nyali musuh, namun di balik kewibawaan beliau terdapat kelembutan dan kasih sayang yang tak terlukiskan.

Hari Raya Ghadir Khum

Nabi Besar Muhammad SAWW selama 23 tahun telah berjuang menegakkan Islam. Dalam perjuangannya, beliau berhasil menaburkan benih-benih iman kepada umat dan telah menggantikan semangat permusuhan degan semangat kasih sayang serta menggantikan kebodohan dengan ilmu. Sepanjang tahun-tahun itu, seruan Islam telah menyebar di kawasan Arab.

Ketika Rasul berusia 63 tahun dan akan pergi jauh meninggalkan alam dunia menuju alam ‘Baqa’ dan rahmat Ilahi untuk memenuhi panggilan Allah, sudah barang tentu bukanlah suatu yang logis bila Rasul meninggalkan umat Islam yang masih baru tanpa ada pembimbing setelahnya. Bahkan pada tahun-tahun perjuangan Rasul, beliau tak pernah meninggalkan umatnya tanpa ada orang yang ditunjuk untuk mengurusi umatnya. Setiap kali beliau pergi meninggalkan Madinah, beliau selalu menunjuk orang lain untuk memegang tanggung jawab menyelesaikan urusan umat Islam. Lantas bagaimana nasib umat Islam yang masih terhitung baru sepeninggal Rasul?

Jelas sekali bahwa untuk menjelaskan ayat-ayat Al-Quran dan menerapkannya di tengah-tengah umat, memerlukan adanya seorang yang benar-benar mengetahui Islam dan pemimpin yang arif serta bijaksana. Berkenaan dengan ini, sesuai dengan kesaksian dan pernyataan-pernyataan Rasul dalam berbagai Peristiwa yang tak seorang pun meragukan kebenarannya, Ahlul Bait Rasul adalah pihak yang paling patut dijadikan rujukan sepeninggal Rasul dan merekalah yang disejajarkan dengan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia. Dalam sebuah hadith yang diakui kebenarannya oleh para perawi hadith dari berbagai kalangan, Rasul bersabda: “Sesungguhnya aku telah tinggalkan dua pusaka, Al-Quran dan Ahlul Baitku. Selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan sesat selamanya setelahku, dan sesungguhnya kedua pusaka itu tidak akan terpisah satu dengan yang lain sehingga keduanya kelak menemuiku di suatu telaga”

Banyak sekali hadith-hadith Rasul yang senada dengan hadith ini. Dengan pernyataan ini Rasul telah memperkenalkan Ahlul-Baitnya sebagai pendamping Al-Quran. Merekalah yang berhak menjelaskan hakikat Al-Quran, karena merekalah yang benar-benar mewarisi ilmu-ilmu Rasul.

Wilayah atau kepemimpinan ilahiyah dalam Islam bagaikan sebuah lentera terang yang menghapus kegelapan dan menyumbangkan kebenaran dan hakikat hidup serta pembaharuan, di samping sebagai petunjuk jalan manusia. Setiap orang yang berada di bawah naungan cahaya wilayah, maka seolah-olah ia telah mengasuransikan dirinya di hadapan segala penyelewengan dan penyimpangan. Hari raya Ghadir adalah hari raya wilayah. Hari dimana Islam menjadi sempurna di bawah sinarnya dan Ali A.S diperkenalkan kepada seluruh penduduk dunia sebagai pembawa panji Islam dan Imam pengganti Rasulullah SAWW. Keagungan peristiwa bersejarah ini sedemikian membahagiakan Rasulullah dan membuat wajah beliau berseri-seri di bulan-bulan terakhir kehidupannya, yang mana dengan perasaan gembira beliau bersabda: “Ucapkan selamat kepadaku, ucapkan selamat kepadaku, Allah SWT telah mengkhususkan kenabian kepadaku dan Imamah kepada keluargaku.”

Peristiwa Ghadir merupakan salah satu peristiwa terpenting dan paling menentukan dalam sejarah Islam. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 18 Zulhijjah tahun 10 Hijriyah. Pada tahun itu Rasulullah SAWW telah menyelesaikan haji terakhirnya yaitu “Haji Wada” dan kembali ke Madinah bersama puluhan ribu umat Islam. Rombongan raksasa yang baru pulang dari haji ini kemudian berhenti di sebuah desa bernama Khum. Desa ini merupakan tempat dimana rombongan ini akan berpisah sesuai dengan arah negeri masing-masing. Diantara mereka ada yang dari Mesir, Hijaz dan Irak. Cerita peristiwa yang menentukan nasib ini adalah sebagai berikut:

“Selepas menunaikan Ibadah haji, Nabi beserta serombongan Muslimin dalam perjalanan kembali ke kota Madinah. Hari kedelapan belas Zulhijjah perlahan-lahan mencapai tengah hari, dan di padang pasir yang membentang hanya terlihat beberapa pohon besar padang pasir di suatu sudut. Di sana terdapat sebuah tempat bernama Ghadir Khum. Suatu lokasi yang menjadi tempat perpisahan para kafilah Mesir, Irak dan penduduk Madinah. Nabi SAWW tenggelam dalam pikiran seolah menanti wahyu Ilahi. Saat itu Jibril Al-Amin turun mendatangi beliau dan membacakan kepadanya sebuah amanat dari sisi Sang Pencipta. Beberapa saat kemudian suara lembut Nabi melantunkan ayat 67 Surah Al-Maidah yang artinya:

“Wahai Rasul! Sampaikan apa yang telah diturunkan kepadamu dari sisi Tuhanmu. Dan jika engkau tidak melakukannya, maka engkau belum menyampaikan risalah (Misimu). Dan Allah menjagamu dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kaum yang kafir.”

Perintah Ilahi ini merupakan tugas penting yang dibebankan kepada Nabi, yaitu mengumumkan suatu perkara yang harus diketahui oleh seluruh Muslimin. Oleh karena itu tempat terbaik untuk menyampaikan amanat tersebut adalah kawasan ini. Tempat di mana para jemaah haji dari berbagai kawasan harus melewatinya. Saat itu wajah Rasul terlihat serius. Beliau beridiri di depan ribuan umatnya. Kemudian dengan suara keras beliau membacakan ayat yang baru disampaikan oleh Jibril dari Tuhan. Mendengar ayat ini, para jemaah ingin mengetahui apa yang telah terjadi. Nabi mengeluarkan perintah untuk menghentikan para jemaah dan memerintahkan mereka yang telah lebih dahulu pergi untuk kembali serta bersabar menanti kedatangan orang-orang yang masih dalam perjalanan. Sejumlah besar manusia berkumpul. Diriwayatkan bahwa jumlah mereka mendekati 120 ribu orang. Nabi memerintahkan untuk menyiapkan sebuah mimbar di bawah beberapa pohon yang berusia tua sehingga beliau dapat dengan leluasa berbicara kepada khalayak Muslimin. Kemudian Nabi menaiki mimbar, dan seketika itu riuh rendah jemaah menjadi senyap. Rasulullah memulai pidatonya: “Segala puji hanya bagi Allah dan kepada-Nya kami memohon pertolongan. Kami beriman dan bertawakkal kepada-Nya, dan kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan nafsu dan keburukan perilaku kami.”

Setelah memuji Allah SWT, Nabi SAWW bersabda: “Wahai manusia, ketahuilah bahwa usiaku akan berakhir dan aku akan menemui Allah SWT. Aku dan kalian akan dimintai pertanggung-jawaban. Sudahkan aku menunaikan tugas risalah?” Muslimin dalam jawaban mereka berkata: “Kami bersaksi bahwa engkau telah menunaikan risalahmu dan berjerih payah dalam perlaksanaannya.” Kemudian Nabi bersabda: “Sesungguhnya aku tinggalkan di antara kalian dua hal, yang bila kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Salah satunya adalah “Kitabullah” (Al-Quran) dan lainnya adalah Ahlul Bait (keluargaku).”

Tak lama kemudian, Nabi SAWW mencari Ali A.S di antara kerumunan manusia. Ali A.S adalah orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad SAWW dalam usia remaja. Beliau adalah sahabat yang selalu menemani Rasulullah di segala arena dan pasang surut kehidupan. Nabi SAWW seringkali mengagungkan dan memuji ilmu, kesempurnaan dan kelayakan Ali. Beliaulah orang yang paling banyak mengetahui wahyu-wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Rasul. Tidak terhitung pernyataan-pernyataan dan kesaksian Rasul mengenai keutamaan yang dimiliki Ali. Nabi Muhammad SAWW memanggil Ali kehadapannya, lalu beliau meraih tangannya dan mengangkatnya. Setelah itu beliau bersabda: “Wahai manusia! Siapakah yang lebih layak terhadap Muslimin dari diri mereka sendiri?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah SAWW bersabda: “Allah adalah Maula dan pemimpinku, dan aku adalah pemimpin orang-orang Mukmin. Bila demikian, siapa saja yang menjadikan aku sebagai Maula dan pemimpinnya, maka Ali adalah Maula dan pemimpinnya.” Kalimat ini diulang-ulang sebanyak tiga kali, kemudian beliau bersabda: “Ya Allah! Cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah ornag-orang yang memusuhinya. Tolonglah orang-orang yang menolong Ali dan tinggalkan mereka yang meninggalkannya. Hendaknya mereka yang hadir menyampaikan amanat ini kepada mereka yang tidak hadir.”

Tatkala khutbah Rasulullah SAWW berakhir, Jibril turun untuk kedua kalinya dan membuat Nabi Muhammad SAWW bangga dengan wahyu Ilahi yang artinya: “Hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku penuhi nikmat-Ku serta Aku rela Islam sebagai agama kalian.” (Surah Al-Maidah ayat 3)

Dengan demikian, Nabi Muhammad SAWW menyerahkan kepemimpinannya terhadap setiap satu persatu Muslimin atas perintah Allah SWT kepada sahabat abadinya Ali A.S dan meletakkan beban berat kepemimpinan masyarakat Muslimin ke pundaknya sepeninggal beliau. Diriwayatkan bahwa setelah menyelesaikan khutbah, Nabi turun dari mimbar dan duduk di sebuah kemah serta memerintahkan Ali A.S duduk di kemah yang lain. Saat itu beliau memerintahkan seluruh sahabat menghampiri Ali A.S untuk memberikan ucapan selamat atas kedudukan wilayah dan kepemimpinannya.

Dikemudian hari berkenaan peristiwa Ghadir Khum ini, Rasulullah SAWW bersabda: “Hari itu adalah hari dimana aku diperintahkan Allah agar aku menjadikan saudaraku, Ali ibn Abi Thalib sebagai pemimpin setelahku agar umat mentaatinya, dan pada hari itulah Allah telah menyempurnakan agama Islam.”

Al-Marhum Allamah Amini, seorang pemikir Muslimin menulis sebuah kitab berjudul “Al-Ghadir” dalam beberapa jilid. Dalam kitab ini, ia menerangkan penjelasan terperinci mengenai peristiwa ini dan menyebut sekitar 60 orang ulama Ahlus Sunnah yang menyebutkan riwayat Al-Ghadir. Pada bagian ini, kami nukil pernyataan beberapa ulama Ahlus Sunnah tentang peristiwa Ghadir.

Ibnu Thalhah Syafi’i dalam kitab “Matolibus Su’ul” menulis: “Hari ini dinamakan Ghadir Khum dan menjadi sebuah hari raya, sebab Rasulullah melantik Ali A.S kepada suatu kedudukan tinggi, dan di antara seluruh Muslimin hanya beliau yang memperoleh kemuliaan ini.”

Ibnu Maghazili dalam kitab Manaqib menulis: “Hadith Ghadir adalah yang shahih, di mana sekitar 100 orang sahabat Rasulullah SAWW meriwayatkannya. Tidak ada keberatan terhadap hadith ini, dan ini merupakan keutamaan yang hanya diraih oleh Ali A.S dan tidak seorang pun yang meraih keutamaan ini.”

Penulis dan pemikir Mesir, Abdul Fatah Abdul Maqsud berkaitan dengan peristiwa Ghadir mengatakan: “Hadith Ghadir tidak syak lagi merupakan sebuah hakikat yang tidak tersentuh kebatilan. Amat terang dan jelas bagaikan terangnya siang hari. Dan itu merupakan salah satu hakikat yang terpancar dari dada Nabi SAWW sehingga beliau mengenalkan nilai pilihannya di antara umatnya.”

Peristiwa Ghadir Khum yang amat monumental dalam sejarah Islam ini, sekali lagi merupakan peristiwa besar. Sebagian menyatakan bahwa tak kurang dari 110 orang sahabat Rasul meriwayatkan peristiwa ini. Peristiwa Al-Ghadir juga diceritakan oleh seorang ahli tafsir terkemuka yaitu penulis kitab “Tafsir Al-Kabir” bernama Fakhrurazi. Saat menjelaskan ayat 68 surah Al-Maidah, beliau menuliskan: “Ayat ini diturunkan untuk keutamaan Ali. Dan karena ayat ini turun, Rasul kemudian mengangkat tangan Imam Ali sambil berkata: “Barang siapa menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpinnya.”

Abul Faraj bin Jauzi Hambali juga mengatakan: “Para ulama sejarah dan kehidupan Nabi sepakat bahwa peristiwa Ghadir terja

di setelah kepulangan Nabi dari haji terakhir, dan pada hari itu para sahabat, orang-orang Arab dan penduduk sekitar Madinah dan Mekkah berjumlah sekitar 120 ribu orang bersama Nabi SAWW. Mereka adalah orang-orang yang mendengar hadith Ghadir dari Nabi SAWW.

Pesan peristiwa Ghadir adalah pengawalan ajaran Islam dan kesinambungan kepemimpinan Islam di tangan manusia yang paling layak dan paling berilmu berdasarkan petunjuk-petunjuk Nabi dan Ahlul Bait Alahim Salam. Kehendak Allah pada perkara ini berlaku bahwa peristiwa penting Ghadir tetap hidup di setiap hati manusia pada segala abad dan zaman serta tertulis di sanad-sanad dan kitab-kitab. Pada setiap masa dan zaman para ulama, khatib dan penulis membicarakannya sehingga bendera Islam senantiasa berkibar di bawah sinar wilayah dan Imamah Ahlul Bait Nabi SAWW.

Ilmu Imam Ali A.S

Kehidupan Rasulullah SAWW serta Ahlul Baitnya merupakan pemandu bagi manusia dalam berusaha menjadi manusia teladan. Karena dalam kehidupan mereka terlukis jelas gerakan sosok makhluk menuju kesempurnaan. Berbicara mengenai Ahlul Bait, akan jelas bagi kita satu kenyataan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh ruhaniawan yang juga aktif dan sangat berperan di bidang sosial, bahkan dengan kebesarannya sebagai tokoh Ilahi, mereka justru mewajibkan dirinya untuk berusaha menyelesaikan problema-problema sosial dan membuahkan pemikiran-pemikirannya di bidang keilmuan. Mereka juga menjelaskan berbagai pandangannya mengenai masalah-masalah politik dan sosial. Pada kondisi tertentu, mereka segera mengambil sikap.

Setelah wafatnya Rasulullah SAWW, jalan untuk meneruskan langkah-langkah Rasul mulai dirasakan sulit dan masalah ini menjadi tanggung jawab Ahlul Bait suci Rasul. Ahlul Bait Rasul menerima tugas ini dalam berbagai kondisi. Masing-masing mereka hidup dan memikul tanggung jawab di zaman yang berbeda, meski demikian langkah-langkah mereka saling berkait dan bisa dikatakan bahwa mereka saling menyempurnakan usaha yang lain dalam mewujudkan nilai-nilai Ilahi.

Keilmuan, penghayatan, kesadaran akan masalah sehari-hari, sabar, berani dan teguh dalam menempuh tujuan masing-masing adalah salah satu ciri khas dari sikap yang mereka tampakkan sesuai dengan kondisi yang menuntutnya. Karena itulah dalam berbagai kondisi, mereka telah menggunakan kebijaksanaan tersendiri dalam usaha menerapkan ajaran Islam.

Tanggung jawab pertama yang mesti terwujud pada diri Ahlul Bait adalah memiliki ilmu yang dalam. Meningkatkan kesadaran umat, menyingkirkan berbagai subhat, membantah pernyataan-pernyataan atheis dan menanggapi pelbagai persoalan adalah tujuan mereka.

Imam Ali A.S sejak masa kanak-kanaknya lagi hidup di rumah Rasulullah SAWW. Rasul telah menganggapnya sebagai anak dan mengajarinya berbagai hakikat. Setiap kali Imam Ali melontarkan pertanyaan, Rasul selalu menyimaknya dengan cermat.

Setelah Nabi besar Muhammad SAWW diangkat sebagai Rasul, siang malam beliau banyak menghabiskan waktunya untuk berbincang dengan Imam Ali dan menjelaskan berbagai hakikat serta ajaran-ajaran Islam. Imam Ali A.S dalam sebuah ucapannya pernah menyinggung sekilas bagaimana beliau belajar di sisi Rasul. Beliau mengatakan: “Setiap kali aku mengajukan pertanyaan, beliau selalu menjawab. Jika aku berhenti bertanya, beliau kembali menyampaikan keterangan-keterangannya. Setiap hari, melalui akhlak beliau, kutemukan satu pengetahuan.”

Jika kata-kata Imam Ali A.S kita cerna, kita akan saksikan betapa beliau telah memanfaatkan pendidikan dari Rasul semenjak beliau masih dalam usia kanak-kanak. Imam Ali A.S berkata: “Setiap tahun Rasul selalu pergi ke gua Hira’ dan menyebutkan hajatnya kepada Allah dan aku menyaksikan beliau. Pada hari-hari pertama turunnya Islam, aku adalah orang ketiga pemeluk Islam di rumah wahyu setelah Rasul dan isterinya Hadzrat Khadhijah. Karena dekatnya aku dengan Rasul, aku merasakan cahaya kebenaran dan risalah, aku mencium aroma kenabian.”

Kedekatan Imam Ali A.S dengan Rasul serta perhatian Rasul terhadapnya, terutama dalam masalah pengenalan terhadap hakikat-hakikat Ilahi, memberikan indikasi bahwa Imam Ali A.S kelak akan memikul tanggung jawab berat yang mana konsekuensinya adalah berbekal ilmu dan pengetahuan-pengetahuan Ilahi yang luas. Dalam hal ini, beliau mengatakan: “Dadaku telah menanggung beratnya ilmu yang kupelajari dari Rasulullah dan jika aku mengenal orang-orang yang layak menerimanya, aku akan mengajarkannya kepada mereka.”

Diriwayatkan bahwa suatu hari Imam Ali A.S pergi ke Masjid. Beliau naik mimbar dan memanjatkan puji-pujian kepada Allah SWT. Setelah itu, beliau menyampaikan pesannya kepada masyarakat. Beliau mengatakan: “Wahai masyarakat! Bertanyalah kepadaku sebelum kalian kehilanganku. Bertanyalah kepadaku yang menguasai ilmu masa lalu dan yang akan datang. Demi Allah yang menghidupkan benih tanaman dan yang menciptakan alam semesta, jika ayat demi ayat kalian tanyakan kepadaku, aku jelaskan kepada kalian kapan dan berkenaan dengan apa ia turun serta hukum-hukum ayat tersebut.”

Selain dikenal sangat tajam dalam masalah-masalah teoritis, Imam Ali A.S juga dikenal memiliki pandangan yang mengagumkan dalam ilmu-ilmu amali. Pidato beliau mengenai tauhid, kenabian, ma’ad atau hari kebangkitan dan lain-lain, penuh dengan berbagai hakikat yang sangat menakjubkan. Beliau menyampaikannya dengan untaian kata-kata yang langsung menyentuh jiwa seseorang.

Dalam sebuah pidatonya beliau menyebutkan bahwa langit, bumi, matahari, bulan, bintang dan gunung-gunung, semua itu menunjukkan adanya Sang Pencipta dan keindahan apa yang telah diciptakan, dan keindahan ini harus disyukuri. Namun kenyataannya, banyak manusia yang tidak mensyukurinya. Banyak manusia yang menyimpang dari jalan Allah dan menyalahgunakan karunia ini.

Beliau juga pernah menyinggung kisah-kisah orang-orang terdahulu dan menganggapnya sebagai fenomena sejarah yang patut dijadikan pelajaran. Dengan ini beliau mengajak manusia merenungkan sejarah umat yang sudah terkubur dalam perut bumi. Manusia perlu mengikuti setiap jejak yang mendatangkan kebaikan dan meninggalkan jejak yang mendatangkan celaka, baik berupa murka Allah maupun hukum alam atau sunnatullah secara umum.

Melalui pesan-pesannya, kadangkala Imam Ali mengungkapkan perhatiannya kepada para sahabatnya. Beliau mengajak mereka untuk mengikuti langkah Rasul serta para sahabat baginda yang setia. Sahabat yang telah memprioritaskan agama di atas segala kepentingan duniawi. Di zaman permulaan Islam, pengorbanan sudah menjadi jiwa kaum Muslimin.

Zuhudnya Imam Ali A.S

Makrifat Imam Ali sedemikian kaya sehingga menyinari sleuruh nuansa hidupnya. Namun jika kita melihat makrifat Imam Ali atau kesufian beliau, kita tidak akan mendapati kesufian itu bermakna pengucilan diri dari sosial. Beliau adalah orang yang senantiasa berhubungan dengan masyarakat, mengelola urusan pemerintahan dan politik, namun dimensi kesufian beliau tetap tampak dan terjaga. Kesufian dan zuhud Imam Ali berakar pada pandangannya yang begitu dalam terhadap soal kehidupan dan filsafat alam semesta. Beliau pernah berkata: “Dunia adalah tempat perjalanan, bukan tempat tinggal.” Imam Ali juga memandang manusia di dunia ini terdiri dari dua macam; orang yang menjual dirinya demi hawa nafsunya dan orang yang membeli nafsunya untuk taat kepada Allah dan menyelamatkan dirinya.

Zuhud dalam Islam tak lain ialah menerapkan prinsip-prinsip khusus dalam hidup dengan cara memprioritaskan nilai dan akhlak ketimbang tamak kepada benda-benda materi. Sudah barang tentu Imam Ali adalah orang yang sangat zuhud. Zuhud adalah perilaku yang tak bisa diceraikan dari kehidupan Imam Ali, khususnya ketika beliau duduk sebagai pemimpin umat. Namun Kezuhudan Imam Ali bukan berarti uzlah atau mengasingkan diri dari masyarakat atau hidup layaknya seorang pertapa. Malah kezuhudan bagi beliau justru inheren dengan melaksanakan tugas sosial demi cita-cita yang besar.

Ayatullah Murtadza Mutahhari, pemikir besar Iran tentang zuhud Imam Ali berkata: “Dalam pribadi Imam Ali, antara zuhud dan tanggungjawab sosial bertemu. Imam Ali adalah seorang yang zuhud sekaligus orang yang paling peka terhadap tanggungjawab sosial. Beliau termasuk orang yang paling sukar tidur ketika menyaksikan ketidak adilan atau mendengar rintihan orang-orang kecil. Beliau tidak pernah mengenyangkan perutnya selama ada orang-orang yang lapar di sekitarnya.”

George Jordac penulis Nasrani asal Libanon, dalam hal ini menuliskan: “Imam Ali jujur dalam zuhudnya. Dalam semua perbuatannya dan apa yang keluar dari hati dan lidahnya tak lain adalah kejujuran. Beliau zuhud dalam menghadapi kenikmatan dunia, beliau tidak mengharap mendapat pemberian dalam memerintah. Beliau merasa cukup hidup dengan putra-putrinya dalam rumah kecil dan memakan roti yang dibuat dari tangan istrinya sendiri. Dan sementara beliau menjabat sebagai Khalifah, beliau tidak memiliki pakaian untuk menahan hawa dingin….. hal ini merupakan derajat yang tertinggi dari kebersihan jiwa.”

Imam Ali adalah orang yang paling muak terhadap kehidupan yang dikelas-kelas oleh faktor materi dan gaya hidup yang glamor. Diriwayatkan bahwa suatu saat, Imam Ali mendengar salah satu bawahannya, yaitu Usman bin Hanif yang merupakan gubernur wilayah Basrah diundang dalam sebuah pesta. Dalam pesta ini, tamu yang diundang adalah dari kalangan elit. Begitu mendengar berita ini, Imam Ali langsung menegur Usman bin Hanif. Beliau berkata: “Aku dengar engkau telah menghadiri sebuah pesta yang hanya mengundang orang-orang mampu dan tidak ada orang fakir. Disitu engkau menikmati aneka ragam jamuan. Jika engkau ingin bekerjasama denganku, maka hindarilah perbuatan seperti itu, jika tidak aku persilahkan engkau mengundurkan diri.”

Hak asasi setiap individu masyarakat manusia ialah masing-masing dapat menikmati kehidupan secara manusiawi. Adapun yang dapat kita saksikan sekarang adanya sekelompok orang hidup dengan serba kenikmatan dan kemegahan, sementara sekelompok lain menderita kemiskinan, maka ini merupakan salah satu tanda bahwa orang-orang kaya tidak mau melakukan kewajiban mereka. Menurut Imam Ali tidak akan ada orang kelaparan bila hak yang lemah diindahkan oleh orang kaya. Namun demikian, diantara penyebab kesenjangan sosial juga bisa kembali kepada orang fakir yang tidak mau melaksanakan tugasnya untuk mendapat kehidupan yang layak. Dalam hal ini, Imam Ali berkata: “Apakah pantas bila kamu lebih lemah dari semut, padahal makhluk kecil ini dengan usaha penuh telah membawa makanannya ke dalam sarangnya dan setiap hari ia sibuk dengan kegiatan.”

Tak terlukiskan betapa besar kasih sayang beliau terhadap fakir miskin. Perhatian beliau amat besar kepada mereka yang memerlukan pertolongan. Diriwayatkan pada suatu hari beliau berada di masjid. Ketika sedang khusyuk menunaikan solat, tiba-tiba beliau dihampiri oleh seorang pengemis. Kekhusyukan beliau ternyata tidak membuatnya lupa akan apa dan siapa saja. Ketika sedang ruku’, beliau menjulurkan tangan untuk menyerahkan cincin yang melingkar dijarinya. Maka pengemis itu segera mencopot cincin itu kemudian memenuhi keperluannya dengan cincin itu.

Allah SWT kemudian mengabadikan kisah ini dalam Al-Quran. Sebagaimana pendapat banyak ahli tafsir, Surah Al-Maidah ayat 55 diturunkan berkenaan dengan kejadian ini. Ayat ini menyatakan: “Sesungguhnya pemimpin kalian hanyalah Allah dan rasulnya serta orang-orang Mukmin yang mendirikan solat, dan memberikan zakat ketika dalam keadaan ruku’.”

Pandangan-pandangan Imam Ali yang dicerap dari Islam mengenai hak-hak sesama manusia dikenal sebagai sangat dalam. Keputusan-keputusan Imam Ali dalam mengadili kasus-kasus yang ada, dipandang sebagai bintang dalam sejarah, sampai-sampai para hakim saat itu berkali-kali menyatakan dirinya akan celaka jika Imam Ali tidak ada.

Sebagai contoh, pada masa kekhalifahan sebelum beliau, pernah seorang wanita terbukti berbuat zina dan hendak dihukum rajam. Imam Ali tiba-tiba meminta agar hukuman itu ditangguhkan. Orang-orang disekitarnya keheranan. Namun Imam Ali segera memberi alasan. Kata Imam Ali wanita tersebut hamil, dan anak yang dikandungnya tidak semestinya menanggung beban dosa ibunya. Anak itu punya hak untuk hidup. Karena itu, hukuman harus ditangguhkan hingga wanita itu melahirkan anaknya yang tidak bersalah.

Dalam riwayat lain, juga dikisahkan bahwa suatu hari Imam Ali datang kepada seorang Qadhi untuk menyelesaikan suatu urusan dengan orang lain. Qadhi atau hakim ini lebih menghormati Imam Ali. Melihat sikap ini, Imam Ali kecewa dan menegur sang Qadhi. Maksud Imam Ali ialah, dalam sebuah pemerintahan yang berlandaskan jiwa pengabdian kepada Allah, pemerintah dan rakyat sejajar di depan hukum. Pemerintahan dalam konsep Imam Ali yang diserap dari ajaran Islam bukanlah menjauhi rakyat dan tidak memperhatikan kondisi umum serta keperluan setiap orang, melainkan pemerintahan adalah sarana untuk mendekatkan pemimpin dengan rakyat. Pemerintahan adalah media untuk mencurahkan kasih sayang terhadap seluruh lapisan masyarakat. Imam Ali berkata: “Hati rakyat adalah gudang yang menyimpan gerak-gerik penguasa. Jika di gudang ini tersimpan keadilan, maka keadilanlah yang akan terpantul darinya. Jika kedzaliman yang tersimpan, maka kedzalimanlah yang akan terpantul darinya.”

Jika dalam sebuah pemerintahan, kasih sayang dan kecintaan menjadi darah daging seluruh lapisan masyarakat, maka keharmonisan akan mengikat rakyat dan pemimpin. Keharmonisan ini telah dipersembahkan oleh Imam Ali di masa kekhalifahannya. Dalam wilayah pemerintahan beliau, jangankan seorang Muslim, minoritas pemeluk agama-agama lainpun bisa hidup dengan tenteram di sisi umat Muslim. Kepada gubernur dan semua bawahannya, Imam Ali selalu berpesan agar memperhatikan hak seluruh lapisan masyarakat.

Imam Ali pernah berkata: “Demi Allah, aku bersumpah, andaikan aku dipaksa tidur di atas duri-duri padang pasir, atau aku dibelenggu kemudian dipendam hidup-hidup dalam tanah, sungguh ini semua lebih baik daripada aku berjumpa Allah dan Rasulnya di hari Kiamat sementara aku pernah berbuat zalim kepada hamba-hamba Allah.”

Suatu hari Imam Ali A.S berpidato di tengah sekelompok masyarakat. Orang-orang yang mengerti akan makna dari pidato beliau dengan cermat mencerna ucapan-ucapan beliau. Imam Ali A.S berbicara mengenai Akhlak. Di pertengahan Khutbah itu, beliau berkata: “Waspadalah, jangan kalian sambut gunjingan terhadap seseorang. Banyak sekali ucapan yang batil, tapi ia akan musnah, yang tinggal hanyalah amalan manusia karena Allah menyaksikan dan mendengar. Ketahuilah bahwa jarak antara hak dan bathil tidak lebih dari lebar empat jari.”

Saat itu tiba-tiba seseorang bertanya: “Bagaimana bisa jarak antara hak dan bathil tidak lebih dari empat jari?

Untuk menjawab pertanyaan ini Imam Ali menunjukkan empat jarinya kemudian beliau letakkan di tempat antara mata dan telinga, kemudian beliau mengucapkan: “Kebathilan adalah ucapan yang aku dengar dan hak adalah ucapan yang aku saksikan.”

Maksud Imam Ali dari ucapan ini adalah jangan sekali-kali kita terima apa yang kita dengar sebelum kita yakin akan kebenarannya.

Tersebut satu kisah, ketika kota Kufah waktu itu diselimuti kelam, manakala matahari sudah lama tenggelam. Rumah-rumah sudah tertutup rapat dan penghuninya pun hanyut dalam tidurnya. Pertengahan malam sudah berlalu. Di tengah kesunyian itu tampak bayang-bayang seseorang bergerak perlahan di halaman darul Imarah Kufah. Dua orang yang tidur di halaman itu kemudian terbangun. Dua orang itu mengenal bayangan itu. Bayangan itu adalah bayang-bayang Imam Ali A.S. Tubuhnya gementar. Dari mulutnya terdengar sayup-sayup bunyi beberapa ayat-ayat terakhir surah Ali Imran. Arti ayat-ayat itu adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah, baik dalam keadan berdiri, atau duduk, atau berbaring, dan mereka itu memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka.”

Imam Ali A.S mengulang-ulang bacaan ayat itu, dan terlihat tubuhnya semakin bergetar karena tangisannya. Menyaksikan pemandangan seperti ini, dua orang yang tak lain adalah sahabat Imam Ali itu tiba-tiba turut menitikkan air mata. Kemudian Imam Ali menghampiri mereka.

“Wahai Amirul Mukminin!” kata salah seorang dari mereka. “Engkau terguncang sedemikian rupa di depan keagungan Ilahi, lantas bagaimana dengan kami?”

Imam Ali melemparkan pandangannya ke tanah. Sejenak kemudian beliau berkata: “Suatu hari nanti, kita semua akan dihadapkan kepada Allah, dan tak sedikitpun amalan-amalan kita tersembunyi baginya. Jika sekarang engkau mengingat Allah, niscaya kelak pandanganmu akan terang benderang. Kesempurnaan iman terletak pada kecintaan kepada Allah. Jika engkau mencintai sesuatu, pasti ingatanmu akan tertambat padanya, dan engkau tidak akan mencintai yang lain melebihi kecintaanmu kepadanya.”

Setelah itu perlahan-lahan Imam Ali meninggalkan dua orang sahabatnya kemudian menghanyutkan dirinya dalam rintihan doa.

Suatu hari, sekelompok masyarakat tampak berkumpul disebuah jalan utama kota Anbar. Wajah mereka tampak tengah menanti-nanti tibanya seseorang dari arah jauh. Para pemimpin kota itu berada di barisan terdepan di atas kuda.

Tak lama kemudian tampaklah bayangan dari jauh. Bayangan itu semakin mendekat dan masyarakatpun semakin tidak sabar untuk menatap wajah pemimpin besarnya, Imam Ali A.S. Ternyata bayangan seseorang yang mengendarai kuda itu ialah Imam Ali A.S. Beliau tiba di gerbang kota. Untuk menyambut beliau, para pemimpin kota itupun segera turun dari hewan yang dikendarainya kemudian menghampiri Imam Ali dan melakukan sembah takzim di atas tanah.

Melihat itu, Imam Ali tampak kecewa. “Apa maksud dari yang kalian lakukan ini?” tanya Imam Ali A.S. “Ini adalah tradisi resmi kami untuk menyambut dan menghormati seorang tokoh besar”, jawab mereka.

Namun dengan nada kecewa Imam Ali A.S. berkata: “Demi Allah, apa yang kalian lakukan itu sama sekali tidak akan menguntungkan kalian. Apa yang kalian lakukan itu sia-sia, malah mendatangkan azab akhirat. Betapa ruginya menyibukkan diri sementara kesibukan itu malah mendatangkan azab.”

Keadilan

Agama-agama Ilahi senantiasa memerintahkan manusia agar berbuat baik dan menghindari perbuatan tercela. Banyak sekali nilai-nilai yang dianut manusia sekarang ini, jauh sebelumnya telah diajarkan oleh agama-agama Ilahi.

Hujjatul Islam Bahman Pur seorang ulama yang banyak mengkaji kitab Nahjul Balaghah, mengatakan: “Keadilan adalah salah satu prinsip agama Ilahi. Allah SWT banyak mengungkapkan masalah ini dalam Al-Quran, termasuk dalam ayat yang artinya: “Sesungguhknya Allah memerintahkan kalian agar berlaku adil, baik dan dermawan kepada kaum kerabat, dan melarang kalian dari kekejian, mungkar dan pelanggaran.

Imam Ali A.S seringkali berbicara mengenai keadilan, dan ada baiknya disampaikan bagaimana jawaban Imam Ali terhadap seseorang yang bertanya kepadanya mengenai manakah yang lebih utama antara keadilan dan Al-Juud atau murah tangan. Pertanyaan ini menyangkut dua watak manusia. Yakni manusia tidak akan bersedia menjadi obyek ketidak adilan atau kezaliman, dan dia akan berterima kasih manakala diberi sesuatu oleh seorang dermawan, terlebih ketika Sang dermawan itu tidak mengharapkan ucapan terima kasih atau balas budi.

Sepintas lalu, pertanyaan ini akan terjawab dengan mudah; yaitu murah tanganlah yang lebih utama ketimbang keadilan. Karena keadilan disini tidak lain adalah menghargai hak orang lain dan tidak melanggarnya, sementara murah tangan atau “Al-Juud” adalah membagikan hak yang dimilikinya kepada orang lain.

Memang inilah jawabannya bila yang dijadikan kriteria adalah moralitas individu. Namun Imam Ali menjawab sebaliknya. Beliau lebih mengutamakan keadilan daripada murah tangan dengan dua alasan:

Pertama, karena definisi keadilan adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya, sementara murah tangan tidak demikian. Dengan kata lain, keadilan adalah memperhatikan hak-hak yang ada secara kongkrit, baru kemudian memberikan orang lain sesuai dengan amal dan kapasitas penerima.

Dengan pendekatan ini, orang akan bisa mengetahui tempatnya dalam bermasyarakat, dan selanjutnya masyarakat akan menjadi mekanisme yang teratur. Adapun murah tangan, wlaupun ia berarti memberikan hak yang dimilikinya kepada orang lain, perbuatan ini menjadi cacat dalam kehidupan bermasyarakat. Karena perbuatan ini tidak akan terjadi kecuali, jika masyarakat pada saat itu menjadi ibarah sebuah tubuh yang bagian anggotanya terdapat cacat atau sakit yang akibatnya akan memerlukan bantuan seluruh anggota tubuh yang lain untuk melakukan sesuatu, padahal idealnya dalam sebuah masyarakat hendaknya tidak ada anggota yang cacat, sehingga yang lain harus turut membantu tugasnya.

Alasan kedua, keadilan adalah sebuah kendali yang bersifat umum, sementara Al-Juud atau murah tangan itu bersifat spesifik. Yakni keadilan bisa dijadikan undang-undang umum yang mengatur seluruh urusan masyarakat dimana seseorang harus komitmen kepadanya, sementara Al-Juud adalah kondisi yang bersifat eksklusif dan tidak bisa dijadikan undang-undag umum.

Imam Ali ibn Abi Thalib menganggap keadilan sebagai kewajiban dari Allah SWT, karena itu beliau tidak membenarkan seorang Muslim berpanggku tangan menyaksikan norma-norma keadilan ditinggalkan masyarakat, sehingga terbentuk pengkotakan dan kelas-kelas dalam masyarakat.

Beliau sendiri sangat komitmen dengan masalah ini. Kita bisa menyaksikannya melalui khutbah beliau yang sangat terkenal, yaitu khutbah Syiqsyiqiah. Dalam khubah yang dimuat dalam kitab Nahjul Balaghah ini, beliau terlebih dahulu menjelaskan berbagai kemelut dan pergolakan politik yang menimpa uamt Islam sebelum beliau menjabat sebagai khalifah, dan tepat setelah khalifah Usman bin Affan terbunuh akibat pergolakan itu, orang ramai berbondong-bondong mendatangi Imam Ali dan mendesaknya agar menjabat sebagai khalifah. Setelah beliau menjelaskan semua itu, beliau berkata dengan tegas:

“Demi Zat yang membelah biji tanaman, dan Yang menciptakan makhluk hidup, seandainya orang-orang tidak berdatangan kepadaku, dan hujjahpun belum ada bahwa disitu ada yang bersedia menolongku dan Allahpun tidak mengazab ulama yang berpaku tangan dengan kezaliman dan kelaparan orang-orang tertindas, maka kendali kekhalifahan akan kulemparkan.”

Memang umat Islam saat itu berbondong-bondong menghadap Imam Ali dan mendesak keras agar beliau memegang kendali urusan kaum Muslimin. Karena beliau tahu betul betapa menyakitkan tragedi yang terjadi sebelumnya dan terus mengakses dan merusak kondisi umat.

Namun Imam Ali menyadari bahwa jika tampuk kekhalifan tidak beliau terima, maka kebenaran akan sirna. Karena itu, akhirnya beliau menerima permintaan umat agar beliau menjadi khalifah, kendati risikionya sangat besar.

Dalam penegasan Imam Ali, pemerintah dan pembela hak-hak maysarakat, haruslah berpegang teguh kepada konsep-konsep keadilan, jika tidak maka hendaknya tampuk pemerintahan harus diserahkan kepada orang lain. Logika ini dipetik dari ajaran-ajaran Al-Quran yang tersurat dalam beberapa ayat, antara lain dalam surah An-Nisa’ ayat 58 yang artinya:

“Allah telah memerintahkan agar amanat diserahkan kepada orang-orang yang berhak dan jika kamu hendak memutuskan hukum ditengah-tengah manusia, maka putuskanlah dengan adil.”

Ada beberapa pendapat dalam penafsiran ayat ini. Antara lain disebutkan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang berhak ialah orang-orang yang memutuskan hukum dengan adil. Dan Allah memerintahkan mereka agar menjadi pengayom dan pelindung umat, sebagaimana yang telah ditempuh para pengikut Rasulullah SAWW, terlebih Imam Ali A.S.

Dalam hal ini kita bisa melihat surat-surat Imam Ali yang sebagian dirangkum dalam kitab Nahjul Balaghah. Dalam surat yang ditujukan kepada para pejabat bawahannya itu, Imam Ali menulis:

“Jangan sekali-kali kau kira bahwa kekuasaan yang telah diserahkan kepadamu itu adalah hasil buruan yang jatuh ke tanganmu. Itu adalah amanat yang diletakkan ke pundakmu. Pihak yang diatasmu mengharapkan engkau dapat menjaga dan melindungi hak-hak rakyat. Maka janganlah engkau berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat.”

Pemerintahan adalah amanat yang diserahkan kepada seseorang. Oleh karena itu, untuk menjalankan roda pemerintahan ini memerlukan pribadi-pribadi yang dikenal sebagai orang yang komitmen terhadap amanat. Sudah barang tentu masyarakat tidak akan mendukung para pemimpin jika mereka tidak dikenal sebagai pengemban amanat, dan akibatnya dasar-dasar kepemerintahan akan rapuh.

Imam Ali sangat menekankan perlunya orang-orang yang sesuai untuk menangani segala urusan kepemerintahan . Sebuah pemerintahan akan kacau, sekalipun memiliki undang-undang yang jelas dan tepat, jika pelaksananya adalah orang-orang yang tidak kompeten dan suka memburu kesempatan.

Jika urusan-urusan penting ditangani oleh orang-orang yang tidak semestinya, dan tenaga-tenaga yang piawai diisolir, maka akibatnya berbagai potensi yang ada akan sirna. Imam Ali ketika menjabat sebagai khalifah pernah berpesan kepada gubernur Malik Al-Asytar: “Pikirlah baik-baik terlebih dahulu untuk memilih seseorang sebagai penanggungjawab. Angkatlah dia setelah dia siap untuk bekerja dan janganlah kau angkat mereka hanya dengan kemauanmu sendiri tanpa bermusyawarah dengannya, karena ini adalah perbuatan khianat.

Ibnu Abil Hadid, seorang ulama tenar yang panjang lebar mengomentari Kitab Nahjul Balaghah dalam mengomentari pesan Imam Ali tersebut mengatakan:

“Maksud dari kalimat Imam Ali ini ialah memilih seseorang tanpa berdasarkan seleksi yang semestinya adalah perbuatan khianat dan zalim. Kezaliman disini terjadi karena seorang pemimpin tidak menyerahkan tanggung jawab kepada orang yang berhak dan malah menyerahkannya kepada orang yang tidak patut. Kezaliman ini menimpa orang yang layak menerima tanggung jawab.

“Adapun khianat disini, terjadi karena amanat menuntut penyerahan tugas kepada orang yang layak dan siapapun yang berbuat sebaliknya, berarti dia telah berkhianat kepada Allah dan umat.”

Suatu hari tampak seorang wanita tua sedang tertatih berjalan sambil membawa timba air. Seorang pria tak dikenal tiba-tiba berpapasan dengannya, dan segera meminta timba yang tampak memberatkan wanita itu. Pria itu membawa timba tersebut ke arah rumah yang dituju wanita tua itu.

Dirumah tampak beberapa anak kecil menanti yang ternyata adalah anak-anak wanita itu. Sesampainya dirumah, pria itu berkata: “Tentunya suamimu sudah tiada, dan bagaimana engkau hidup seorang diri?”

Dengan nada mengeluh, wanita tua menjawab: “Suamiku dulu terkena wajib perang. Ali ibn Abi Thalib telah mengirimkannya ke perbatasan dan disitu dia terbunuh. Sekarang aku hidup sendiri bersama anak-anak.”

Pria tak dikenal diam seribu bahasa. Kepalanya tertunduk kemudian pamit pergi. Namun, tak lama kemudian dia membawa keranjang penuh makanan. Melihat itu, wanita tersebut berkata: “Mudah-mudahan Allah meridhaimu, dan Dialah yang menghakimi antara kami dengan Ali ibn Abi Thalib.”

Pria itu berkata: “Aku mengharapkan pahala Allah, izinkanlah aku membuat roti dan menjaga anak-anakmu.”

Wanita itu bersedia dan akhirnya pria itu menjaga anak-anaknya sekaligus sibuk membuat roti. Pria itu juga memanggang daging dan dengan tangannya sendiri menyuapi anak-anak wanita itu. Sambil menyuapi mulut mereka, pria itu berkata: “Wahai anakku! Maafkanlah Ali ibn Abi Thalib, jika dia telah mengganggu kebahagianmu.”

Kemudian seorang wanita tetangga masuk ke rumah itu. Rupanya dia mengenal siapa pria itu. Dia kaget dan segera menghampiri wanita tua itu kemudian berkata: “Kamu tahu siapa pria yang membantumu itu? Dia adalah Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib.

Dengan wajah memelas, wanita tua itu mendekati Imam Ali dan berkata berkali-kali: “Aku sangat malu, maafkan aku, maafkan aku.”

Imam Ali menjawab: “Tidak, akulah yang harus meminta maaf kepadamu, karena akulah yang menyusahkan hidupmu.”

Setelah kejadian itu, secara rutin Imam Ali menziarahi rumah wanita tua itu. Makanan dan pakaian penghuni rumah itu beliau tanggung.

Saat menjabat sebagai khalifah di Kufah, Imam Ali pernah kehilangan baju perang. Setelah beberapa lama, beliau menjumpainya ada pada pria penganut Masehi. Imam Ali membawa pria tersebut ke Qadhi atau hakim dan mengaku bahwa baju perang itu milik beliau. Beliau merasa bahwa baju itu belum diberikan atau dijual pada seseorang tapi mengapa ada di tangan pria Masehi itu. Beliau menuntut agar baju itu dikembalikan kepadanya.

Mendengar pengaduan itu, hakim meminta penjelasan duduk persoalannya menurut pandangan pria Masehi tersebut. Pria itu bersiteguh bahwa barang itu miliknya. Maka tak ada jalan lain bagi hakim kecuali meminta Imam Ali agar mendatangkan saksi. Namun Imam Ali ternyata tidak punya saksi untuk menguatkan dakwaannya. Akhirnya Imam Ali dengan senang hati rela membiarkan barang itu tetap berada ditangan pria Masehi tersebut.

Maka pria itu beranjak pergi. Namun tiba-tiba dia termenung. Dia sebenarnya tahu betul bahwa pemilik baju perang itu adalah Imam Ali , dan dia ingin mempertahankan baju perang itu berada ditangannya. Namun menyaksikan sikap Imam Ali yang tampak begitu mengalah tersebut, dia merasa Imam Ali bukan orang biasa. Akhlaknya adalah akhlak para Nabi. Karena itu, akhirnya pria Masehi tersebut menyerahkan baju perang tersebut kepada Imam Ali. Tak lama waktu berselang, pria itu mengucapkan syahadah dan masuk Islam setelah hatinya tersentuh untuk mengkaji Islam dari peristiwa itu. Dia menjadi pejuang setia Islam di bawah bendera Imam Ali ibn Abi Thalib.

Apa yang diperintah dan dilarang oleh Allah sebenarnya merupakan hal yang diterima oleh setiap naluri atau fitrah manusia. Namun yang menarik dari ayat di atas ialah konteksnya yang berkisar pada masalah menjauhi kezaliman dan penindasan yang mana keduanya sangat dikutuk oleh Islam.

Imam Ali yang hidup dan besar dalam tarbiyah Rasul dan wahyu telah menempatkan soal menentang kezaliman dalam program-program utamanya. Dalam hal ini sekali lagi dinukilkan penuturan Hujjatul Islam Bahman Pur, seorang ulama yang telah banyak mentelaah kitab Nahjul Balaghah. Mengenai pandangan Imam Ali tentang kezaliman beliau menuturkan:

“Imam Ali ibn Abi Thalib, sebagai murid utama ajaran Islam, punya perspektif tersendiri dalam hal ini. Beliau begitu sensitif terhadap kezaliman. Di banyak bagian dalam kitab Nahjul Balaghah, masalah ini sangat jelas. Antara lain beliau berkata: “Andaikan aku ditidurkan di atas duri padang pasir tanpa pakaian, atau seandainya aku dibelenggu rantai dan diseret di atas tanah, demi Allah aku bersumpah bahwa itu lebih baik daripada seandainya aku berjumpa Allah dan Rasul di hari kiamat sementara aku pernah menzalimi makhluk Allah atau aku merampas urusan-urusan duniawi.”

Imam Ali, walaupun dalam seluruh medan pertempuran dikenal sangat keras, namun ketika tampil sebagai khalifah, kelembutanlah yang tampak dari beliau.

Ketika Beliau mengirim Malik Asytar ke Mesir sebagai gubernur, beliau menyampaikan berbagai pesan kepadanya agar jangan sampai dia berbuat sewenang-wenang sekecil apapun kepada makhluk Allah.

Imam Ali juga pernah berkata kepada anak-anak dan generasinya: “Jadilah kamu musuh orang zalim dan sahabat orang mazlum atau tertindas.”

Menurut Imam Ali, seorang Muslim bukan saja harus menjauhi kezaliman, tapi juga harus menjadi kawan dan merasa senasib dengan seorang yang mazlum atau tertindas. Jadi menurutnya, Islam tidak membenarkan umatnya diam tak bergeming menyaksikan seseorang menjadi obyek kezaliman.

Kezaliman sangat dicela oleh Islam. Berkenaan berbagai kezaliman, Hujjatul Islam Bahman Pur mengatakan:

“Menurut Imam Ali, kezaliman ada tiga jenis; yang pertama ialah perbuatan syirik kepada Allah SWT. Kezaliman ini sama sekali tidak akan mendapat pintu ampunan Allah, sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Quran.

Jenis kedua ialah kezaliman yang dapat diampuni oleh Allah SWT dan itu ialah berbuat dosa atau ada kekurangan dalam mengerjakan perintah Allah. Dan yang ketiga ialah kezaliman yang harus dibalas atau diqisas, baik di dunia maupun di akhirat. Kezaliman dalam kategori ini tak lain adalah tindak aniaya yang dilakukan seseorang kepada orang lain. Imam Ali pernah menuturkan bahwa balasan Allah sangat keras kepada orang yang berbuat zalim. Manusia yang paling sempurna dan guru kepada Imam Ali, yaitu nabi besar Muhammad SAWW, juga pernah menegaskan: “Hari dimana seorang yang mazlum atau teraniaya membalas si zalim, jauh lebih pedih ketimbang hari dimana si zalim menganiaya si mazlum.”

Hujjatul Islam Bahman Pur, dalam mengomentari hal ini mengatakan:

“Kezaliman yang dilakukan kepada sesamanya sangat dikutuk oleh naluri manusia sendiri. Kezaliman semacam ini contohnya ialah tragedi besar yang menimpa warga Bosnia Herzegovina dengan dalih masalah etnis. Semua orang tahu bahwa sama sekali tak ada alasan untuk membenarkan kezaliman yang dilakukan kepada warga Bosnia. Mudah-mudahan warga dunia menaruh perhatian terhadap apa yang dituturkan oleh Imam Ali kepada putra-putri dan generasinya. Beliau berkata: “Jadilah kalian sahabat orang mazlum dan musuh orang zalim.”

Wasiat Imam Ali ini bukan hanya datang dari seseorang yang berstatus pemimpin umat, tapi juga dari orang yang berhasil meraih kesempurnaan insani yang tak lupa berusaha menyirami naluri atau fitrah manusia dengan pesan ini. Kita berharap masyarakat penghuni dunia ini benar-benar meresapi dan kembali kepada fitrah mereka demi menjauhi fanatisme agama, golongan, bangsa dan etnis untuk kembali kemudian menyadari apa tugas mereka terhadap orang-orang tertindas yang dilanggar haknya tanpa ada salah dan dosa.

Kesabaran dan kritik

Menurut Imam Ali, salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki seorang pemimpin ialah kesabaran dan ketangguhan dalam menghadapi segala kesulitan, baik kesulitan individu maupun sosial. Kesabaran, kata beliau, ibarat kedudukan kepala pada tubuh. Tanpa kesabaran, urusan akan kacau.

Dalam masyarakat Islam, seorang pemimpin tentunya memiliki tanggung jawab yang berat, harus memiliki karakter ini lebih dari yang lain. Dan orang yang kemauannya lemah dan tidak punya semangat beristiqomah, sudah pasti tidak memiliki kekuatan untuk menanggung beban perjuangan dan menghadapi segala kesulitan sosial. Karena itu orang yang sedemikian tidak layak untuk menerima tanggung jawab memimpin.

Imam Ali pernah menjelaskan masalah ini dalam khutbahnya ketika umat mendesaknya agar memegang kendali kepemimpinan. Dalam khutbah yang termuat dalam kitab Nahjul Balaghah ini, Imam Ali menuturkan: “Tak seorangpun layak memegang bendera kepemimpinan kecuali orang yang mengerti kepemimpinan, sabar, teguh dan tahu letak-letak kebenaran.”

Tak dapat dimungkiri, istiqamah atau keteguhan sangat determinan dalam memenuhi kelayakan sebagai pemimpin. Karena sudah merupakan keharusan bagi seorang pemimpin untuk bersedia menghadapi problema-problema politik, ekonomi dan militer, akan tetapi perlu diingat bahwa motivasi istiqamah seorang pemimpin umat Islam tidak sebagaimana halnya sejumlah pemerintahan yang semata-mata demi tujuan materialis.

Imam Ali dan Nahjul Balaghah

Sementara itu, sebagai seorang ilmuan besar, muwahhid dan arif, banyak sekali pidato dan kata-kata beliau tentang ketuhanan, tauhid, ilmu-ilmu Al-Quran, kenabian, akhlak dan metode mengelola negara yang berlandaskan Al-Quran serta negara yang adil. Imam Ali A.S memilik metode tersendiri dalam mengungkapkan masalah-masalah akidah. Beliau telah menyampaikanya dalam bentuk khutbah, risalah, wejangan dan diskusi. Namun dikarenakan beliau tidak sempat menyusunya, sebagian apa yang beliau sampaikan itu hilang akibat beberapa peristiwa dan sebagian pendapat serta pemikiran beliau telah dikumpulkan dan disusun setelah beliau wafat sejak beberapa waktu yang cukup panjang. Sebagian pidato dan ucapan-ucapan beliau tentang itu semua sampai sekarang masih dapat kita baca dan kita kaji dalam kitab Nahjul Balaghah yang disusun oleh pemikir besar Islam bernama Sayyid Syarif Ridha. Begitu menakjubkan kata-kata Imam Ali dalam kitab itu, sampai-sampai ratusan ulama tertarik menyempatkan diri mengkaji dan memberikan syarah atau komentar.

Tidak ada orang yang membantah kedalaman dan keluasan ilmu beliau yang tak dapat ditandingi oleh siapa pun kecuali Rasulullah SAWW. Setelah Al-Quran dan hadith Rasul, balaghah dan kefasihan beliau tidak dapat ditandingi siapa saja. Kenyataan ini diakui oleh para ulama dan para ilmuan, termasuk non-Muslim setelah menyaksikan pesona kata-kata Imam Ali dalam Nahjul Balaghah, sebuah kitab kebanggaan umat Islam khazanah warisan peninggalan manusia besar ini. Dalam kitab ini, kita bisa menyaksikan sebagian diantara sekian banyak tanda-tanda yang membuktikan betapa Imam Ali telah menghabiskan usianya dalam renungan, pengkajian dan pembahasan.

Nahjul Balaghah yang terdiri dari pidato dan ucapan-ucapan Imam Ali tersebut, meliputi berbagai macam persoalan, termasuk akidah, pengenalan terhadap Allah,alam semesta dan hukum kuasalitas, keistimewaan manusia serta kondisi berbagai umat, moral, sistem pemerintahan, sosial dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Namun dalam pidato-pidato itu, maksud utama Imam Ali bukan sekedar mengajarkan ilmu-ilmu alam atau teori-teori filsafat. Tujuan utama beliau adalah untuk mengantar manusia ke hakikat yang tinggi melalui ketajaman indera dan logika. Yaitu hakikat yang akan menggiring manusia menuju Sang Khaliq yang Maha Esa. Kitab ini dari segi kesusasteraan dan seni yang memanfaatkan lafaz-lafaz Arab, tiada tara dan tandingnya.

Beliau mengesankan seorang failasuf Ilahi terkemuka manakala beliau menerangkan masalah-masalah Tauhid dan sifat-sifat Allah. Dalam menerangkan masalah Jihad, beliau akan tampak sebagai panglima perang yang pemberani yang sekaligus sangat tajam dan terperinci dalam menjelaskan strategi perang kepada para komandan pasukan bawahannya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah ketajaman pemikiran-pemikiran beliau dalam menjelaskan dasar-dasar pemerintahan. Sehingga praktis ahli-ahli sejarah menyebutnya sebagai negarawan. Beliau juga dikenal sangat fasih berbicara mengenai rumus-rumus keterbelakangan dan kemajuan berbagai peradaban serta jalan menuju ketenteraman sosial, politik dan militer.

Syaikh Muhammad Abduh salah seorang komentator Kitab Nahjul Balaghah mengatakan: “Dalam kalimat-kalimat Imam Ali terlihat hakikat mukjizat. Tokoh besar ini, dengan kalimat-kalimatnya ada kalanya mengantar manusia ke alam supernatural dan ada kalanya pula ia menggiring perhatian manusia kepada suasana alam dunia. Keberanian dan keteguhan telah beliau kristalkan, dan ketika beliau mensifatinya, seorang yang pemberani pun akan bergetar, dan jika ia menjelaskan mengenai cinta dan kasih sayang, orang yang keras hati pun akan tersentuh.”

Mengenai keagungan kitab Nahjul Balagah serta kefasihan dan kebalighan Imam Ali A.S yang tiada taranya, telah banyak dikemukakan oleh para pemikir termasuk ilmuan dan pemikir non-Muslim. Narse Sean seorang politikus Inggris ketika berbicara tentang Nahjul Balaghah mengenai Imam Ali mengatakan: “Jika sang pembicara (kalimat-kalimat di Nahjul Balaghah ini sekarang berdiri di mimbar Kufah, maka kalian akan menyaksikan wahai kaum Muslimin bahwa masjid Kufah dengan segala keluasannya akan diterjang gelombang rakyat Maroko untuk menimba lautan ilmu Ali ibn Abi Thalib.”

Pesan-pesan Imam Ali A.S mengandung berbagai konsep yang sangat bermakna. Ia membukakan pintu bagi manusia menuju Allah. Seorang pengkaji beragama Kristen bernama Amin Nakhlahdalam ucapan yang disampaikannya kepada seseorang yang meminta agar memilihkan kalimat-kalimat indah Imam Ali ibn Abi Thalib yang termuat dalam kitab Nahjul Balaghah menulis dalam bukunya: “Berbinar-binar rasanya manakala ku baca lembaran-lembaran kitab Nahjul Balaghah. Namun aku tidak tahu bagaimana aku harus memilih kalimat-kalimat yang termuat dalam kitab itu. Pekerjaan ini benar-benar ibarat memilih mutiara di antara mutiara-mutiara lain. Namun akhirnya pekerjaan ini selesai juga. Tapi sebenarnya tanganku telah meninggalkan mutiara-mutiara yang lain, karena pandanganku telah dibingungkan oleh cahaya kalimat-kalimat itu. Sejumlah kalimat itu telah kupilih, dan ingatlah bahwa sinar kalimat-kalimat itu adalah cahaya dari kefasihan dan kebalighan (mudah ditangkap dan difahami serta indah) kata-kata Ali ibn Abi Thalib.

Memang mempelajarai pandangan-pandangan Imam Ali dalam berbagai masalah akan menggiring hati manusia kepada suasana alam yang sangat menakjubkan. Khotbah-khotbah beliau diakui sangat dalam dan penuh makna. Masalah akhlak dan penyucian jiwa dalam khotbah-khotbah beliau juga termasuk masalah yang paling diutamakan. Karena penataran moral sangat berperan dalam usaha membangun masyarakat yang sehat.

Menurut beliau, kejujuran adalah fokus penting dalam masalah-masalah akhlak. Bahkan beliau memandangnya sebagai salah satu tanda keimanan dan mengatakan bahwa seseorang yang jujur selalu mendapat kemuliaan dan pendusta akan jatuh ke jurang kemusnahan.

Dalam pidato Imam Ali dapat kita saksikan bahwa kejujuran adalah salah satu hal yang esensial dalam sebuah kehidupan yang sederhana dan sehat. Imam Ali A.S dalam sebuah pidatonya mengenai kehiduapan yang bahagia menjelaskan sebagai berikut:

“Betapa hinanya seseorang yang bersikap merendah di saat memerlukan dan bersikap angkuh pada saat tidak memerlukan. Memuji seseorang secara berlebihan adalah menjilat dan sebaliknya, memuji seseorang tidak dengan pujian yang semestinya adalah hasud. Seseorang yang mencari-cari kekurangan dan aib masyarakat dan menilainya sebagai keburukan, kemudian aib itu ia terima, maka orang ini tak punya harga diri. Apa yang tidak kau lakukan, janganlah kau ucapkan. Janganlah kau lakukan kebaikan hanya untuk riya’ dan janganlah kau tinggalkan kebaikan hanya karena malu.”

Imam Ali A.S dalam pidato-pidatonya tidak pernah melepaskan perhatiannya terhadap masalah-masalah manusia dan kehidupan. Setiap poin mengenai itu semua telah beliau sampaikan dalam bentuk ungkapan-ungkapan yang sangat menarik.

Imam Ali pernah berpesan bahwa seseorang tidak perlu mempersoalkan kekhilafan orang lain selama tidak menggangu kemaslahatan masyarakat. Beliau juga sangat mencela “ghibah” atau mempergunjing orang lain. Imam Ali A.S. berpesan bahwa seseorang demi menjaga akhlaknya dari dosa dan noda hendaknya menyesalinya dengan segala keikhlasan kepada diri sendiri.

Dalam hal ini beliau mengatakan: “Sesalilah segala sesuatu yang menuntut penyesalanmu jika kau lakukan, karena (orang lain) tidak akan menuntut penyesalan atas perbuatan baik.”

Maksud Imam Ali A.S ialah seseorang hendaknya tidak keberatan menyatakan penyesalannya jika berbuat hal yang tercela dan membuatnya malu di depan orang lain, begitu pula di depan diri sendiri. Karena ini adalah perbuatan baik, dan perbuatan baik bukan hanya tidak membuat malu seseorang, malah justru memuliakan seseorang.

Diantara masalah penting dalam Nahjul Balaghah adalah masalah hak-hak manusia dan kewajiban setiap individu dalam bermasyarakat. Imam Ali telah membahas masalah ini dalam berbagai kesempatan. Antaranya adalah mengenai hubungan timbal balik antara hak seorang pemimpin dengan rakyat.

Imam Ali A.S tidak menilai hubungan itu sebagaimana layaknya hubungan penguasa dan rakyat, sehingga seorang pemimpin punya hak mutlak untuk dipatuhi dalam arti tidak ada celah sama sekali bagi rakyatnya untuk mengkritiknya. Hubungan ini, menurut Imam Ali harus didasari rasa tanggungjawab rakyat dan para pemimpin untuk menciptakan keadilan sosial dan maslahat umum. Karena masing-masing memiliki hak dan tugas-tugas tersendiri.

Imam Ali dalam khutbahnya yang ke 34 dalam kitab Nahjul Balaghah mengatakan:

“Wahai masyarakat! Aku selaku pemimpin kalian, memiliki hak atas kalian dan kalianpun punya hak atas diriku. Adapun hak kalian atasku adalah aku harus berkhidmat demi keinginan-keinginan baik kalian. Aku harus menjalankan hak-hak kalian atas baitul-mal, aku harus mendidik kalian agar tingkat pengetahuan kalian bertambah. Dan dengan demikian kalian akan mengerti hak yang kumiliki atas kalian, yaitu kalian harus menepati janji yang pernah kalian berikan kepadaku, baik didepanku atau tidak, jadilah kalian orang yang baik. Berilah respon yang positif jika aku menyeru kalian untuk mengerjakan sesuatu, dan janganlah kalian berusaha untuk berkelit.”

Dalam pidatonya yang lain, Imam Ali pernah mengingatkan bahwa seorang pemimpin hendaknya tidak menanti pujian dan penghargaan dari masyarakat atas tugas-tugas yang telah ia laksanakan. Imam Ali juga berpendapat bahwa rakyat hendaknya bisa meletakkan posisinya sebagai penasehat pemimpinnya dan tidak perlu takut atau segan menyampaikan kritik bila kebijaksanaannya perlu dikritik. Dalam hal ini, beliau berkata:

“Janganlah kalian berkata kepadaku seperti kata-kata yang biasa disampaikan kepada orang yang zalim. Janganlah kalian keberatan menjelaskan kebenaran sebagaimana kebenaran disembunyikan di depan masyarakat yang murka. Janganlah kalian menjilat dan berlagak didepanku. Yakinlah bahwa perkataan yang hak bagiku adalah sangat berharga.”

Pandangan-pandangan Imam Ali A.S.

Musyawarah dalam kebudayaan Islam termasuk satu di antara masalah yang diutamakan. Karena dengan sistem musyawarah dalam masyarakat, kemungkinan berlakunya sistem diktator dapat dibendung. Pada dasarnya, salah satu hal yang harus menjadi ciri-ciri masyarakat Islam ialah adanya tukar pikiran atau musyawarah dalam menangani berbagai urusannya. Namun perlu diketahui bahwa anjuran-anjuran Islam agar umat membiasakan musyawarah bukanlah pada hukum-hukum yang sudah jelas ketentuannya.

Nabi besar Muhammad SAWW tidak pernah bermusyawarah mengenai hukum atau taklif yang sudah ditentukan oleh wahyu. Karena tugas Rasul saat itu bukan bermusyawarah, melainkan menjelaskan dan memerintah agar umat melaksanakannya.

Adapun hal yang ditekankan Al-Quran dan Islam agar umat membiasakan bermusyawarah ialah musyawarah dalam hal pelaksanaan serta urusan-urusan kemasyarakatan. Dalam surah Ali-Imran ayat 159 Allah SWT berfirman:

Artinya: “Bermusyawarahlah kamu dengan masyarakat dalam urusan itu.”

Kata-kata suruhan atau perintah dalam ayat tersebut tidak benar jika dianggap mencakup masalah hukum yang sudah jelas dalam Islam. Karena hukum atau taklif yang sudah jelas, bukan lagi disebut suruhan yang berarti urusan, melainkan disebut ketentuan atau kewajiban.

Dalam Islam, seorang Waliyul Amr atau pemimpin urusan umat, selain harus menjauhi kediktatoran dan menghargai pendapat orang lain, juga harus independen dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini telah diajarkan kepada kita dalam kitab Nahjul Balaghah yang terdiri dari pidato dan mutiara hikmah Imam Ali ibn Abi Thalib.

Abdullah ibnu Abbas, salah seorang alim dan pemikir Islam yang sangat dekat dengan Imam Ali suatu hari berdiskusi mengenai suatu masalah yang bersifat teoritis. Sebagaimana kebanyakan paka pemikir, dia mengharap Imam Ali mengambil kesimpulan sesuai dengan pendapatnya. Namun Imam Ali menjawab: “Kamu berhak mengutarakan pendapatmu kepadaku. Namun penalaranku ternyata tidak dapat menerimanya. Karena itu lebih baik kamu menerima pendapatku dan mentaatinya.”

Maksud kata-kata beliau ialah: “Aku menyambut pandangan dan pendapatmu dan aku telah mencernanya secermat mungkin. Namun jika pendapatmu tidak logis, maka kamu jangan mengharap aku akan menerimanya. Dan sebaliknya kamu harus patuh kepada pendapat seorang pemimpin umat yang sesuai dengan logika dan syari’at. Dengan demikian, sekalipun kita harus menghargai pendapat orang lain, namun kita hanya bisa menerimanya jika pendapatnya didasari argumentasi yang logis. Karena itulah Imam Ali pada kesempatan lain berkata kepada Muhammad ibn Hanafiah: “Sejajarkanlah pendapat-pendapat rakyat dan pertimbangkan satu dengan yang lain. Lalu pilihlah mana yang mendekati kebenaran dan jauh dari keraguan.”

Perlu diketahui, sebagian musyawarah merugikan pemimpin, dan itu ialah bermusyawarah dengan orang yang sengaja menjadikan musyawarah sebagai kedok untuk melicinkan tujuan-tujuan politik kotornya. Karena itulah Imam Ali dari satu sisi menekankan agar masyarakat berani mengemukakan penilaiannya mengenai kepemimpinan beliau. namun dari sisi lain beliau menolak tegas jika ada tokoh masyarakat yang dengan niat buruk mencoba membujuk beliau agar mengangkatnya sebagai penasehat, dan dalam menjawab hal ini beliau berkata:

“Demi Allah, sebelumnya aku tidak berminat dan tidak merasa perlu untuk menjabat sebagai khalifah. Kalianlah yang mendesakku agar aku bersedia menjabatnya. Aku mentelaah Al-Quran manakala aku menjabat sebagai Khalifah. Aku melaksanakan setiap apa yang telah ia perintahkan. Sunnah Nabi juga aku perhatikan dan aku taati. Karena itu aku tidak memerlukan pendapatmu atau orang lain. Aku tidak merasa terbentur oleh satu persoalan yang tidak kuketahui hukumnya sehingga aku harus bermusyawarah dengan kalian. Jika aku terbentur oleh itu, ketahuilah aku tidak akan keberatan.”

Satu poin lagi yang perlu diperhatikan dalam soal musyawarah ialah usaha menghindari pendapat-pendapat yang tidak berdasar. Dalam hal ini kami ingin sampaikan satu kisah mengenai Imam Ali ibn Abi Thalib.

Suatu hari Imam Ali bersama pasukannya sedang menunggang kuda menuju Nahrawan. Tiba-tiba salah seorang sahabatnya menghampiri beliau sambil membawa seorang pria. Kemudian dia berkata kepada beliau: “Wahai Amirul Mukminin, pria ini adalah ahli nujum dan dia ingin berbicara dengan anda. Kemudian pria itu berkata: “Wahai Amirul Mukminin! saat ini anda jangan bergerak. Pikirkanlah sejenak. Berhentilah dahulu, dan setelah satu atau dua jam berlalu baru anda bergerak.”

Imam Ali takjub mendengar ucapan pria itu, karena itu beliau segera bertanya sebabnya. Ahli Nujum itu menjawab: “Posisi bintang memberi tanda bahwa siapapun yang bergerak menghadapi musuh saat ini akan mengalami kekalahan serta kerugian yang berat. Tapi jika anda bergerak pada saat seperti yang saya sebutkan tadi anda akan beruntung dan mencapai tujuan.”

Imam Ali menjawab: “Apakah anda mengaku sebagai orang yang mengetahui setiap peristiwa pada alam semesta ini dalam setiap saatnya. Tidak, tak seorangpun tahu hal ini. Hanya Allah yang mengetahuinya.”

Sejurus kemudian, beliau berkata kepada pasukannya: “Janganlah sekali-kali kalian terbawa oleh khurafat semacam ini.” Kemudian beliau menatap langit dan berdoa serta bertawakkal kepada Allah. Setelah itu, beliau berkata kepada Ahli Nujum: “Kami akan mengerjakan tidak seperti yang anda katakan. Kami akan segera bergerak.” Maka bergeraklah beliau untuk berperang melawan musuh dan sejarah mencatatnya hari itu beliau meraih kemenangan.

Pandangan cedekiawan tentang Imam Ali A.S

Ibnu Abil Hadid, salah seorang ulama besar yang amat terkenal, mengenai Imam Ali dalam mukaddimahnya untuk mengomentari kitab Nahjul Balaghah yang berisi khutbah-khutbah dan kata-kata mutiara Imam Ali menuliskan: “Apa yang bisa aku katakan mengenai figur Imam Ali yang sebenarnya, sementara musuh-musuh beliau sekalipun tidak bisa mengingkari keutamaan dan keistimewaan beliau. Mereka semua mengakui bahwa Imam Ali adalah figur yang paling istimewa. Apa yang bisa aku katakan tentang beliau yang semua jenis keutamaan wujud pada diri beliau. Para pemeluk agama non-Islam yang mentelaah kepribadian beliau menaruh kecintaan kepada beliau, dan bahkan para filsuf non-Muslimpun menjujung tinggi beliau. Nama Ali dan kenangan-kenangan beliau ibarat haruman kesturi yang tetap akan menebarkan aroma wangi kendati ditutupi bagaimanapun juga. Dia ibarat cerahnya hari yang jika seseorang tidak melihatnya, orang lain pasti akan menyaksikannya. Dalam keutamaan dan kesempurnaan, tak satupun sampai pada derajat kaki beliau. Dan siapa saja yang mencapai suatu derajat keilmuan dan fadilah yang tinggi setelah beliau, pasti ilmu dan fadilah itu berasal dari beliau. Jejak beliaulah yang diikuti oleh orang-orang itu. Cara beliaulah yang dicontoh.”

Syaikh Muhammad Abduh seorang ulama terkenal Mesir dan pernah menjabat sebagai Rektor di Universitas Al-Azhar. Beliau juga punya syarah atau komentar terhadap kitab Nahjul Balaghah. Tentang bagaimana beliau mengenal Nahjul Balaghah beliau menuturkan:

“Karena takdir dan secara tidak sengaja, saya mengenal kitab Nahjul Balaghah. Saya dapati kitab ini sebagai santapan ruhani dan jalnan untuk mengatasi berbagai kesedihan saya. Karena itu berbagai bagian dari kitab ini telah saya renungkan dengan cermat. Setiap kali satu bagian saya lewati, saya benar-benar merasakan adanya perubahan topik dan masalah-masalah baru. Dari topik-topik yang begitu tinggi dan dikemas dengan ungkapan-ungkapan yang sangat indah, adakalanya saya merasa berada di alam yang besar. Ungkapan-ungkapan itu ditujukan kepada hati dan batin-batin yang cerah agar jalan yang benar dapat direntangkan kepadanya. Ungkapan-ungkapan itu sangat berharga, sampai-sampai sanggup membawa ruh seolah-olah terpisah dari alam materi menuju alam malakut.”

Antara lain dia pernah menuliskan: “Setiap kali saya mentelaah kitab Nahjul Balaghah bab demi bab, saya merasa tabir pembicaraan datang silih berganti dan arena-arena nasihat dan hikmatpun berubah. Diantara para ilmuan, ahli bahasa dan sastera Arab, tak seorangpun yang menyangkal kebesaran Imam Ali. Setelah Kalamullah dan hadith Rasul, kata-kata Imam Ali-lah yang paling agung, punya metode terbaik dan paling mengandung arti dan makna.”

Faktor yang terpenting dari kebesaran pribadi Imam Ali selain dari kefasihan dan kebalighan (memilih kata yang tepat dan mudah), ialah kedekatannya dengan Rasul. Terutama karena sejak hari-hari pertama pengutusan nabi, Imam Ali termasuk pengikut setia Rasul. Dimasa itu, beliau banyak mengenal ajaran-ajaran wahyu. Karena itu, wujud beliau sarat dengan ajaran-ajaran Ilahi.

Ahmad Zaini, sejarawan masyhur Mesir dalam bukunya yang berjudul Imam Ali ibn Abi Thalib menulis: “Khutbah-khutbah Imam Ali yang penuh hikmah itu ibarat curahan air dari jalur yang paling dekat dan seiring dengan jiwa manusia serta dengan mudah dapat menyerap ke hati insan. Imam Ali sejak masa kanak-kanak di pelihara di rumah Rasul. Beliau besar di rumah Nubuwwah, ayunan hikmah dan sumber keutamaan. Beliau selalu bersama Rasul hingga detik-detik Rasul menutup mata meninggalkan dunia. Imam Ali temasuk penulis besar dan juru tulis wahyu yang diterima Rasul. Dia menghafal Al-Quran dengan baik.”

Menurut ibarat Khatib Khawarizmi, seorang sasterawan dan ilmuwan Muslim terkenal: “Ali ialah seorang yang tenggelam di dalam ibadah di mihrabnya ketika malam hari, dengan khusyu disertai deraian air mata; akan tetapi, berdiri tegak bagai singa padang pasir, membela Islam dan Muslimin ketika siang hari. Beliau menjauhkan diri dari harta baitul maal sekecil apapun. Ali adalah penghancur berhala-berhala di atas Ka’bah; dimana beliau memanjatnya dengan naik ke atas bahu Rasulullah SAWW.”

Ustadz Muhammad Taqi Ja’fari, seorang ulama dan failasuf besar Islam, ketika berbicara tentang pengaruh pribadi-pribadi besar seperti Imam Ali A.S di dalam masyarakat menulis: “Masalah pengaruh seseorang di dalam masyarakat, baik Islam ataupun bukan Islam, bukan masalah kekuasaan. Oleh karena itu, di dunia ini, walaupun secara fisik, kekuasaan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam masyarakat, akan tetapi orang-orang yang memiliki kekuasaan tersebut, tidak bisa tampil sebagai panutan dan tauladan, apalagi sebagai pemimpin dimana petunjuk-petunjuknya akan ditaati dengan sepenuh hati. Orang-orang seperti Jengis Khan atau Hitler, ketka mereka telah menciptakan kehancuran di dalam masyarakat, tanpa membuat suatu ide atau langkah-langkah yang bermanfaat bagi masyarakat tersebut, maka mereka itu tak lain bagaikan banjir bandang yang merusak segala apa yang diterjahnya. Di samping orang-orang yang demikian itu, ada pula orang-orang yang telah tercatat di dalam sejarah bahwa di dalam masyarakat, mereka telah melakukan hal-hal yang manusiawi; sehingga kadang-kadang bisa juga dikatakan bahwa mereka itu merupakan penentu atau subyek sejarah kehidupan manusia pada zaman mereka dan setelah mereka. Mereka ini adalah orang-orang yang telah mengumpulkan sifat-sifat utama di dalam diri mereka; bahkan mereka telah mengorbankan kehidupan mereka demi kebahagian; dan setiap manusia dapat menikmati manfaat dari ilmu pengetahuan mereka. Ali A.S berada di antara orang-orang yang demikian itu.”

Pada kesempatan lain Ustadz Muhammad Taqi mengatakan: “Rasa cinta adalah sebuah watak manusiawi yang tinggi, yang bisa dilihat pada setiap manusia. Pada manusia-manusia biasa, rasa cinta akan berubah seketika menjadi rasa benci, hanya karena pihak yang ia cintai itu berbuat suatu kesalahan yang kadang kecil-kecil saja. Akan tetapi bagi manusia besar dan mulia yang menjadi obyek cintanya ialah esensi atau Dzat manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, apa pun yang dilakukan oleh seseorang, maka cinta orang ini kepada seseorang itu tidak akan berubah menjadi kebencian kepada pribadi. Hal ini bisa dilihat di dalam diri Imam Ali A.S. Ketika perang Siffin, pasukan Muawiyah yang menguasai bagian atas atau arah hulu sungai Furat, telah berbuat sedemikian rupa sehingga menghalangi pasukan Imam Ali untuk menggunakan air sungai itu. Akan tetapi ketika posisi berubah dan pasukan Imam Ali A.S berhasil menempati bagian atas sungai dan pasukan Muawiyah berada di bagian bawah sungai, Imam Ali A.S memerintahkan pasukannya untuk membiarkan pasukan Muawiyah untuk menggunakan air sungai.

Demikian pula ketika pembunuh Imam Ali A.S berhasil memukulkan pedang beracunnya kepada beliau. Maka beliau mengatakan kepada putranya, yaitu Imam Hassan A.S dengan mewasiatkan bahwa jika beliau meninggal, maka bunuhlah orang itu, tetapi tanpa menyiksanya.

Demikianlah, bahkan terhadap musuh-musuh beliau. Beliau tidak memperlakukan mereka berdasarkan kebencian pribadi. Tetapi semuanya beliau lakukan demi menjalankan ajaran-ajaran Islam.

Syibli Syamil, seorang pemikir non-Muslim mengatakan: “Ali bin Abi Thalib, seorang pemimpin, pembesarnya para pembesar, adalah seorang tokoh yang abadi, dimana tidak barat dan tidak timur, tidak masa lalu dan tidak masa kini, semuanya tidak akan mampu melahirkan manusia yang setara dengannya. Beliau adalah manusia langka yang telah menggabungkan kekuatan dan keadilan sebagai sifat-sifat beliau yang menonjol.”

Pribadi-pribadi semacam ini, walau semua orang berusaha menghapus keagungan nama mereka dari lembaran sejarah, maka usaha tersebut akan mengalami kegagalan. Sebab, manusia-manusia semacam ini, wujud mulia mereka merupakan jembatan bagi manusia lain untuk menyeberang menuju kepada kemuliaan. Ucapan-ucapan Amirul mukminin Ali ibn Abi Thalib A.S sesuai dengan keperluan-keperluan manusia, dan merupakan penyembuh berbagai macam penyakit yang mengancam kehidupan manusia di dunia saat ini.

Doktor Qasim Habib, seorang penulis Muslim terkenal dalam sebuah pendahuluan untuk salah satu bukunya mengatakan: “Aku persembahkan buku ini kepada mereka yang hidup ditengah-tengah kaum fakir miskin, namun tetap bersemangat memerangi kemiskinan dan keterbelakangan. Aku sajikan buku ini untuk pemimpin yang pandai mempertemukan sikap-sikap lemah lembuh dengan ketegasan dan kasih sayang dengan disiplin. Aku suguhkan buku ini kepada si pengabdi zuhud yang menghabiskan malamnya utnuk ibadah dan siangnya untuk puasa, dan akhirnya aku persembahkan buku ini kepada Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib yang selalu teguh terhadap nilai-nilai kebenaran, keadilan, kebajikan dan kasih sayang.”

Demikianlah pernyataan Doktor Qasim Habib. Pernyataannya ini mengingatkan kita bahwa Imam Ali adalah pribadi yang kaya dengan nilai-nilai yang amat mempesona. Tokoh legendaris Islam ini memiliki keperibadian yang amat sulit untuk ditiru orang lain, yaitu pribadi yang mempertemukan sifat-sifat terpuji, namun secara lahiriyah tampak saling bertentangan, seperti contoh-contoh yang disebutkan oleh Qasim Habib. Ibadah beliau penuh dengan ratapan dan rintihan, namun di medan laga beliau umpama singa kelaparan menyaksikan musuh-musuh Islam. Tak satupun musuh yang tidak tumbang menghadapi beliau. Sekalipun beliau sebagai Khalifah Islam, namun beliau mempunyai pekerjaan yang amat bersahaya seperti buruh dan tani.

Thomas Carlael, filsuf Inggris pernah berkata mengenai Imam Ali demikian: “Mahu tidak mahu, kita telah dibuat cinta kepada Imam Ali. Betapa dia adalah seorang kesatria besar dan punya karakteristik yang tinggi. Hati nuraninya telah menjadi sumber yang mengalirkan kasih sayang dan kebajikan. Dia seorang yang pemberani, namun keberaniannya larut dengan kasih sayang dan kelembutan hati.”

Dibagian lain ia menulis: “Kami tidak sanggup menahan kata-kata kami untuk memuji dan menyanjung Ali. Dia adalah kesatri besar dan agung. Dia adalah sumber rahmat, ihsan serta manifestasi sebuah kebesaran, keberanian dan kelembutan. Slogan kesatria religius ini tak lain adalah keadilan.”

Fuad Jordac seorang penulis beragama Kristen mengatakan: “Setiap kali kesulitan datang di dalam kehidupan saya, maka saya berlindung dengan Ali A.S, sebab beliau adalah penolong setiap orang yang terkena musibah. Beliau adalah sumber makrifat dan hikmah. Bagi orang-orang dzalim beliau bagaikan petir yang menyambar, sedangkan bagi kaum tertindas, beliau adalah pelindung yang sangat penyayang.”

George Jordac seorang cendikiawan Nasrani Libanon. Ia telah banyak mengkaji sejarah hidup Imam Ali bin Abi Thalib. Antara lain ia pernah mengungkapkan perasaannya sebagai berikut:

“Wahai zaman, andaikan dengan segala kekuatanmu….. Wahai jagat raya, andaikan dengan segala kesanggupanmu engkau bisa menciptakan sosok pahlawan besar, maka sekali lagi ciptakan manusia seperti Ali, sebab zaman memerlukan orang seperti Ali.”

Dalam bukunya yang berjudul “Imam Ali: Gema keadilan Insani” antara lain ia menuliskan: “Setelah Al-Quran, kata-kata Ali adalah contoh balaghah yang paling tinggi. Dan balaghah Ali senantiasa berguna bagi peradaban manusia. Dan sungguh bukan suatu yang berlebih-lebihan bila di dunia sekarang, mereka yang menyulut api peperangan dan menajdi faktor kesengsaraan bangsa-bangsa perlu menyimak kata-kata Ali ibn Abi Thalib. Mereka perlu menghapalnya.”

Dibagian lain buku ini ia menulis: “Menjauhi kezaliman adalah salah satu prinsip ruh dan karakter Imam Ali. Prinsip ini tidak bisa dipisahkan dari pemikiran Imam Ali secara keseluruhan… Ali bukanlah jenis orang yang bicara kemudian mengamalkan, melainkan apa yang beliau katakan berpangkal dari apa yang selalu beliau perbuat…..”

Dalam buku ini, George Jordac tidak menjelaskan sejarah seorang individu atau abad tertentu, dan dia menghindari fanatisme golongan untuk menentang golongan lain. Dia adalah seorang budayawan yang rajin meneliti berbagai persoalan dan pandangan. Ketika itulah dia melihat pemikiran Imam Ali sebagai sangat berharga. Dia mencoba memperkenalkan Imam Ali kepada kita untuk mengajarkan nilai-nilai baru manusia. Buku yang diterbitkan pada tahun 1958 ini sempat menarik perhatian tokoh-tokoh Islam baik dari kalangan Ahlussunah maupun Syiah. Selain bukan itu, ia juga menulis buku lain tentang Imam Ali berjudul “Keajaiban Nahjul Balaghah”.

George Jordac lahir di Libanon Selatan dari keluarga Nasrani. Keluarganya sangat tertarik dengan masalah-masalah kebudayaan, sastera dan berbagai masalah-masalah ilmiyah. Menariknya, walaupun menganut agama Nasrani, mereka sangat menaruh perhatian terhadap Imam Ali ibn Abi Thalib. Tentang ini Jordac menulis:

“Ayah dan ibuku sangat mecintai Imam Ali. Selain itu kakakku yang berstatus insinyur besar dan ahli sastera telah membiasakan aku sejak kecil dengan syair-syairnya yang menyanjung tinggi Imam Ali. Dia berkali-kali memberiku motivasi untuk membaca Al-Quran dan kitab Nahjul Balaghah.”

“Ketika aku keluar dari sekolah, atau lebih tepatnya kabur dari sekolah, di bawah pohon aku sering menghapal surah Al-Quran dan berbagai khutbah serta pesan-pesan Imam Ali. Karena itu, bagaimana mungkin aku tidak menulis sesuatu mengenai Nahjul balaghah. Mentelaah karya-karya para penulis terkemuka mengenai Imam Ali juga telah memicu semangatku untuk menulis buku tentang Nahjul Balaghah dalam hal-hal yang belum sempat ditulis oleh orang lain.”

Henry Corbin, filsuf Perancis mengungkapkan pernyataan sebagai berikut setelah mentelaah kitab Nahjul Balaghah: “Setelah Al-Quran dan hadith Rasul, Nahjul Balaghah adalah kitab yang paling penting.”

Seorang pakar Timur Tengah asal Belgia bernama Lamens juga pernah mengkaji kehidupan Imam Ali. Dia mengatakan: “Untuk keutamaan Ali, cukup kiranya bilamana berita dan sejarah keilmuan Islam bersumber dari Imam Ali. Dia adalah memori yang menakjubkan. Ulama-ulama Islam bangga bila perkataannya bersanad kepada Imam Ali. Sebab kata-kata beliau merupakan argumen yang mematikan dan dialah pintu kota ilmu.”

Jubran Khalil Jubran, seorang penulis beragama Nasrani mengatakan: “Ali adalah jiwa universal yang telah menggemakan senandung keabadian di cakrawala Jazirah Arab. Namun karena figur yang lebih besar dari masanya, maka masyarakat saat itu tidak tahu siapa dia dan tidak bisa mencerna kata-katanya…. Ali telah meninggalkan dunia, sementara dunia menyaksikan keagungannya…”

Seorang penulis Nasrani bernama Michael Naimah menyampaikan kekagumannya terhadap Imam Ali ketika memberi kata pengantar untuk buku George Jordac demikian:

“Kehidupan tokoh-tokoh besar bagi kami merupakan sumber kehidupan yang tak akan kering dari pesan, pengalaman, iman dan harapan…. Kami tidak pernah mengenal putus asa walaupun untuk satu hari karena kemenangan terakhir orang seperti Ali ibn Abi Thalib dan orang-orang yang menelusuri jalan mereka dalam kehidupan selalu menyertai semangat kami pada setiap waktu, walaupun jarak ruang waktu dan tempat memisahkan kami dengan mereka. Saksi yang terbaik dari pernyataan ini ialah buku yang tengah anda pegang ini. Karena kitab ini telah menjelaskan kehidupan salah seorang pribadi besar yang lahir di tanah Arab. Namun ke-Araban tidak bisa dikatakan sebagai telah mempengaruhinya, dan walupun Islam telah mendidihkan sumber keutamaannya, namun dia bukan hanya untuk Islam. Kalau hanya untuk Islam, bagaimana mungkin kehidupannya yang membanggakan itu bisa membangkitkan ruh seorang penulis Nasrani di Libanon pada tahun 1956.”

Sulaiman Kattani, juga seorang penulis beragama Nasrani banyak mengkaji sejarah hidup Imam Ali. Dalam menyifati kepribadian Imam Ali, antara lain ia menulis:

“Iman dan takwa adalah dua mata air jernih yang pernah bergolak di hati beliau dan mengalir dari lisan beliau. Kebenaran dan keadilan adalah dua tanda keindahan yang peranannya berhasil beliau goreskan dalam wujud beliau. Beliau selalu memperindahkan kata-kata penjelasannya kepada orang-orang, namun pada saat yang sama beliau juga sanggup mengasah pedang untuk mereka.”

 

Moralitas Perang

Islam memandang usaha memperbaiki masyarakat sebagai masalah yang primer. Pada tahap pertama Islam menyerukan kebenaran melalui nasehat. Namun jika cara ini ternyata membentur jalan buntu, dengan kala lain, nilai-nilai Ilahi tidak dapat diwujudkan ditengah-tengah masyarakat, sementara benturan itu akan menimbulkan bahaya besar bagi Islam, maka tidak bisa tidak perjuangan senjata harus dilakukan.

Islam adalah agama yang berlandaskan akidah dan iman, dan hanya menyerukan perang terhadap pihak-pihak yang zalim, menolak argumentasi yang kongkrit serta memerangi umat Islam. Karena itulah perang dalam Islam sama sekali tidak dimaksudkan untuk memamerkan kekuatan atau memapankan posisi Taghut. Dalam hal ini Islam sangat menekankan perlunya memperhatikan prinsip-prinsip kecintaan sesama manusia. Untuk itu, jihad harus dilakukan sesuai dengan ketentuan-ketentuan khusus yang telah diajarkan oleh Allah SWT.

Dalam Islam Jihad merupakan satu ibadah yang sangat menuntut kesediaan untuk berkorban segalanya. Dalam hal ini tentunya niat seseorang memainkan peranan penting. Dengan kata lain, amal baik manusia hanya harus dimaksudkan untuk menyatakan keikhlasan dan kejujuran di depan Allah SWT.

Mengenai Jihad Imam Ali pernah berkata: “Jihad adalah salah satu pintu dari pintu sorga, yang mana Allah hanya membukanya untuk para kekasih tertentuNya. Jihad adalah pakaian takwa dan benteng kuat Allah. Allah SWT mencela orang yang meninggalkan masalah penting ini. Allah berfirman: “Maka bagi orang yang menjauhi dan meninggalkan jihad, Allah menimpakan kepadanya kehinaan dan bencana. Dan karena Allah mencabut rahmatnya dari orang itu, maka orang itu akan tertimpa bencana, dan karena ia tidak bersedia pergi untuk berjihad dan mementingkannya, maka ia akan jauh dari jalan Allah, ia akan berjalan menuju kebatilan dan tidak akan mendapat keadilan.”

Berbicara tentang sejarah Imam Ali dalam peperangan merupakan kesempatan bagi kita untuk mengingat tujuan-tujuan suci Islam berkenaan dengan perang beserta tatakramanya. Namun, sebelumnya kita perlu mengingat bahwa Islam menyeru agar peperangan dicegah jika itu bisa dilakukan dengan segenap upaya. Akan tetapi karena cita-cita dan tujuan Ilahi dan kemanusiaan dalam Islam selalu bertolak belakang dengan fenomena syirik, kufur dan nifak, maka tidak bisa tidak masalah peperangan harus dibicarakan. Dari peninjauan ini, falsafah dari peperangan para eksploitir masyarakat manusia dengan para nabi dan ajaran-ajaran Ilahi yang memperjuangkan keagungan manusia dan keadilan akan menjadi jelas.

Rasulullah SAWW selama 23 tahun masa kenabiannya, telah banyak menanggung berbagai beban dan derita. Gangguan dan penentangan musuh terhadap Rasul dikenal sangat keras, sampai-sampai Rasul dengan tegas mengeluarkan perintah perang kepada umat Islam. Sebagaimana diketahui, Islam membawa pesan perdamaian, persahabatan dan membangun akidah tentang keesaan Allah dan keagungan manusia. Atas dasar inilah, Rasul tak henti-hentinya berusaha menghindari perang. Namun karena ternyata nasehat yang muncul dari lidah beliau tidak mempan untuk sebagian umat manusia, maka beliau terpaksa angkat senjata membela kebenaran. Karena itulah tujuan terakhir dari jihad dalam Islam haruslah berlandaskan perjuangan untuk menjunjung tinggi martabat manusia, membawanya ke arah pembentukan masyarakat yang bertauhid, menegakkan keadilan dan membasmi syirik dari ruang kehidupan.

Disebutkan bahwa Rasulullah pernah berkata kepada para pengikutnya: “Aku sangat senang apabila kalian datang kepadaku bersama-sama masyarakat yang simpati terhadap Islam jika kalian hendak berkonsultasi tentang perang.” Dari ucapan Rasul ini kita bisa melihat bahwa Islam tidaklah membenarkan peperangan kecuali untuk memperjuangkan akidah keesaan Zat yang patut disembah dan menciptakan tatanan umat yang benar-benar Islami. Dengan tujuan itu, maka perang melawan musuh merupakan tugas yang suci dan dapat mendekatkan kita kepada Allah SWT.

Imam Ali dalam hal ini pernah menuturkan: “Wahai umat Islam! Bersiap-siaplah bergerak ke arah musuh, karena jihad melawan mereka akan mempermudah kita untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Para musuh yang berupaya memusnahkan kebenaran telah menginjak-injak kitab dan agama Allah…. Karena itulah dengan segala kemampuan yang kalian miliki, siapkanlah tentara untuk berperang, dan bertawakkallah kepada Allah karena Dialah sebaik-baik penolong.”

Dalam kitab Nahjul Balaghah, topik perang mendapat perhatian tersendiri. Tentunya perspektif Imam Ali tentang perang tak lepas dari perspektif Islam yang beliau pelajari dari gurunya, Nabi Besar Muhammad SAWW. Selama 12 tahun, berkali-kali beliau mengangkat pedangnya yang terkenal yaitu Zulfikar di sisi Rasulullah SAWW. Beliau tampil di medan laga bersama Rasul.

Peperangan di zaman Rasul adalah peperangan melawan kaum Musyrikin dan Kuffar yang jelas-jelas mengingkari Al-Quran dan Islam. Namun, perang Imam Ali paska era Rasul adalah perang melawan kaum Munafikin atau orang-orang yang lihiriyahnya saja Islam, namun batinnya melecehkan Islam. Kaum Munafikin jauh lebih berbahaya ketimbang kaum Musyrikin dan Kuffar, karena mereka ibarat duri dalam daging.

Berbagai peperangan yang mana Imam Ali terlibat di dalamnya merupakan peperangan yang sangat mulia. Dalam peperangan itu terlihat jelas perjuangan untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Dalam ucapan dan tindakan Imam Ali tergambar jelas hakikat bahwa manusia Muslim bertanggungjawab atas kondisi seluruh umat manusia. Seorang Muslim harus memberantas kebodohan, menggantikan kekacauan dengan ketertiban, kezaliman dengan keadilan. Rakyat harus dibebaskan dari beban penindasan. Semua ini harus direalisasikan kendati harus dilakukan dengan jalan perang.

Tujuan Imam Ali dalam berbagai peperangan itu, tak lebih dari usaha melindungi orang-orang yang teraniaya, serta membasmi kezaliman, menyebarkan keadilan, kemerdekaan dan singkatnya demi menampilkan Hak.

Imam Ali sama sekali tidak pernah menjadi pihak yang memulai perang. Sebelum perang berkobar, beliau senantiasa mengadakan negosiasi yang beliau hadir sendiri atau melalui wakilnya. Jika pihak lawan tidak bersedia menghadiri negosiasi, beliau mengirim surat untuk membuka dialog. Dalam dialog melalui surat itu, adakalanya beliau sampaikan berbagai nasehat. Beliau ingatkan akan keberadaan Tuhan, hari Qiamat serta akibat dan risiko pahit dari peperangan, baik fisik maupun mental.

Semua itu beliau lakukan untuk mendapat bukti-bukti yang konkrit sejauh mana perang bisa dihindari atau sebaliknya harus dilakukan. Beliau selalu dalam posisi menanti selama pihak musuh belum mengangkat pedang. Beliau juga tak lupa menasehati pasukannya agar tenang dan mampu menguasai emosi.

Namun jika musuh mulai menyerang atau menginjak-injak kehormatan Islam dan kaum Muslimin, maka toleransi bagi beliau sudah tak layak lagi untuk dipertahankan. Beliau turun langsung dikancah perang dan menjelaskan kepada tentaranya segala taktik perang. Beliau juga berpesan kepada mereka agar jangan sampai menyerang kaum wanita, kanak-kanak dan orang-orang tua dari pihak musuh. Menurut beliau, tak perlu memburu musuh yang lari dari perang. Jangan sampai mencemari sumber-sumber air dengan racun dan segala yang dapat merusaknya. Tanaman juga jangan dibakar. Jika musuh menjatuhkan pedangnya ke tanah dan siap melakukan damai, maka hentikan perang, dan yang paling penting adalah mengingat bahwa Allah tak henti-hentinya memperhatikan kita dalam segala kondisi.

Dalam salah satu peperangan, musuh pernah membendung aliran air agar tidak mengalir ke arah pasukan Imam Ali. Namun setelah beberapa lama perang berlangsung, pasukan Imam Ali berhasil mendesak musuh dan menguasai aliran air tersebut. Sudah barang tentu musuh membayangkan bahwa Imam Ali akan membalas perbuatan mereka yaitu membendung air. Namun bayangan itu ternyata meleset. Beliau mencegah musuh dalam bentuk apapun untuk menggunakan air. Beberapa sahabat beliau meminta agar perbuatan musuh itu dibalas, namun Imam Ali malah berkata: “Jangan …! Biarkan mereka dengan bebas mengambil air. KIita tidak akan melakukan perbuatan orang-orang jahil. Tugas kalian hanya menyampaikan Islam dan Al-Quran kepada musuh dan membimbing mereka ke arah jalan yang benar. Jika mereka menerima maka perang akan berakhir, jika tidak, maka sesuai dengan ketentuan Allah, kami akan mengganjar mereka dengan pedang.”

Dalam kitab Nahjul Balaghah, khutbah ke 27, beliau menjelaskan tujuan dari perangnya sebagai berikut:

“Ya Allah ya Tuhan kami! Engkau tahu bahwa kami berperang bukan untuk memburu kekuasaan dunia, melainkan untuk mengembalikan agamaMu yang sirna dari permukaan. Kami ingin melakukan perbaikan di permukaan bumiMu, agar hamba-hambaMu yang teraniaya dapat meraih kedamaian dan agar hukum-hukum Islam yang terlalaikan dapat dilaksanakan kembali.”

Sementara itu, dalam ucapan Imam Ali nomor 253 di Kitab Nahjul Balaghah, beliau juga memohon pertolongan kepada Allah sebagai berikut:

“Ya Allah! kepada Engkaulah kalbu-kalbu ini berpacu, leher-leher menjulur, mata-mata terbuka, kaki-kaki melangkah, tubuh-tubuh lelah karena taat kepadaMu.”

Maksud Imam Ali dari ucapan ini ialah bahwa sesungguhnya kami datang menghadapMu dengan segala wujud kami.

Kemudian beliau melanjutkan: “Ya Allah! Tampak sudah rasa permusuhan, mendidih sudah kebencian dalam dada-dada. Ya Allah!….. kami mengadu kepadaMu atas ketiadaan Rasul, banyaknya musuh kami dan pecah belahnya pendapat kami. Ya Rabbi!…. Hakimilah kami dengan kebenaran, dan Engkau adalah sebaik-baik Hakim.”

Semua ucapan tadi menunjukkan bahwa motivasi gerakan beliau tidak lain adalah memberlakukan hukum-hukum Ilahi dan mencari keridhaan Allah SWT. Imam Ali sangat memperhatikan nilai-nilai Ilahi dalam peperangan. Sampai-sampai masalah yang terkecilpun tak luput dari perhatian beliau agar tujuan-tujuan agungnya jangan sampai terusik.

Dalam sejarah Islam, dicatat sebuah kisah terkenal tentang pertarungan sengit beliau dengan Amr ibn Abdi Wud, seorang gembong kuffar yang dikenal sangat handal dalam peperangan. Setelah sekian lama bertarung dengan Imam Ali, dia tampak sangat terdesak dan bahkan untuk memenangkan duel yang disaksikan Rasul dan para sahabatnya. Imam Ali hanya tinggal mengayunkan pedangnya ke arah Amr ibn Abdi Wud. Namun dalam keadaan yang sedemikian rupa itu, Amr ibn Abdi Wud ini masih tidak segan-segan mengeluarkan perkataan yang menghina Imam Ali, dan bahkan sempat meludah ke wajah Imam Ali. Mendapati itu perasaan Imam terbakar, namun beliau membiarkannya dan tetap bersabar untuk tidak membunuhnya. Setelah beberapa lama kemudian baru Imam Ali menghabisi nyawa orang yang terkutuk itu.

Peristiwa ini sangat mengesankan orang-orang yang menyaksikannya. Beliau ditanya mengapa beliau sedemikian sabar, padahal musuh telah berlebihan menghina beliau. Imam Ali menjawab: “Pedang kuhujamkan hanya demi kebenaran dan mencari keridhaan Allah SWT. Aku marah ketika dia menghinaku sedemikian rupa, karena itu seandainya saat itu juga aku membunuhnya, maka tindakanku tidak memiliki nilai-nilai Ilahi. Karena itu akhirnya aku berputar-putar untuk beberapa waktu di medan pertempuran agar amarahku reda, baru setelah itu aku menyerang dan menghabisi nyawanya.”

Tentara-tentara Islam harus lebih komitmen dengan prinsip dan nilai-nilai moral, karena tujuan mereka tak lain adalah menegakkan nilai-nilai yang patut diagungkan. Tahzibunnafs atau penyucian jiwa dan menghindari berbagai jenis penyimpangan adalah satu diantara pesan yang harus dipatuhi oleh tentara Islam sebelum memasuki medan pertempuran. Disebutkan bahwa perang melawan hawa nafsu merupakan jihad yang lebih besar daripada jihad melawan musuh di medan perang.

Jika mereka komitmen dengan prinsip-prinsip moral, maka akan tercipta hubungan batin yang kuat di tengah-tengah tentara Islam. Dengan itu, maka hubungan antara komandan perang dengan anak buahnya tak lain adalah hubungan batin dan kemanusiaan. Karena mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu kebaikan dan kebahagiaan manusia serta memerangi musuh.

Surat Amirul Mukminin kepada Malik Al-Asytar

Antara yang sempat terekam dalam sejarah sebagai realita yang menyingkap keagungan Imam Ali A.S adalah surat-suratnya yang kebanyakan berupa instruksi kepada para gubernurnya. Imam Ali selalu mengingatkan bagaimana mereka harus bersikap di depan masyarakat dan bagaimana mereka harus memelihara kekayaan dan kehormatan bangsa Islam.

Dalam surat-surat itu, pesan-pesan Imam Ali sama sekali tidak mengesankan gaya seorang atasan terhadap bawahannya. Beliau lebih suka memilih etika seorang ayah dalam menasehati anak-anaknya dalam menempuh kehidupan yang penuh dengan kegetiran. Segalanya beliau sampaikan dengan ungkapan yang diwarnai kasih sayang dan kecintaan.

Dalam sejarah kita membaca bahwa pada masa pemerintahan Imam Ali A.S, beliau pernah mengangkat seorang sahabat setia beliau yang bernama Malik Al-Asytar untuk menjadi gubernur di Mesir. Bersamaan dengan pengangkatan tersebut, Imam mengirimkan pula sepucuk surat kepada Malik Al-Asytar yang berisi pesan-pesan dan petunjuk yang sangat bersejarah, mengandung banyak sekali hal yang patut diperhatikan terutama oleh para pemegang kekuasaan di dalam masyarakat.

Dalam pesan tertulis ini, Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib A.S sangat menekankan pendidikan dan pembinaan mental dan akhlak para penguasa; karena tidak diragukan lagi, bahwa kelayakan para pelaksana undang-undang lebih penting dari pada undang-undang itu sendiri. Pengalaman menunjukkan bahwa adanya undang-undang yang terbaik sekalipun, tidak dengan sendirinya dapat menjamin kebahagian masyarakat. Harus ada pula para pelaku yang baik bagi undang-undang tersebut. Kitapun yakin bahwa jika undang-undang Ilahi dilaksanakan oleh para pelaksana yang Ilahi pula, maka umat manusia akan mampu mencapai kebahagiaan yang sebenarnya.

Pada kalimat-kalimat pembuka pesan tertulis ini, Imam Ali A.S menyebut diri beliau sebagai hamba Allah. Beliau berkata: “Ini adalah pesan seorang hamba Allah, Ali bin Abi Talib, kepada Malik Al-Asytar ………..

Dengan menyatakan diri sebagai hamba Allah, Imam Ali A.S mengingatkan bahwa penulis pesan ini adalah seorang hamba di antara hamba-hamba Allah yang selalu mentaati perintah-perintahNYA dan yang telah menjadikan penghambaan diri kepada Dzat yang Haq sebagai jalan hidupnya. Program dan perintah-perintah yang telah sampai ke tangan Malik Al-Asytar, berkenaan dengan pengaturan negeri Mesir, bukan hasil pemikiran dan keinginan-keinginan pribadi Ali ibn Abi Talib.

Dalam pengertian Imam A.S, seorang hamba Allah ialah orang yang tidak pernah terpengaruh oleh faktor-faktor penyimpang dari jalan kemanusiaannya. Hamba Allah ialah orang yang menyakini bahwa Allah-lah yang menguasai kehidupan dan kematian manusia, dan hanya perintah dan larangan-Nyalah yang ia jalankan, dan tak ada kekuatan lain baginya di atas kekuasaan Allah SWT.

Dengan kalimat pembuka yang demikian itu, Imam Ali A.S mengingatkan Malik Al-Asytar bahwa jika engkau seorang hamba Allah, tentulah pangkat dan kekuasaanmu ini tak akan membuatmu lali. Sedangkan jika engkau tidak merasa sebagai hamba-Nya, dan tidak peduli bahwa Allah selalu melihatmu dimanapun engkau berada dan akan menghitung setiap perbuatanmu; maka engaku pasti akan tersesat. Imam Ali A.S adalah seorang yang selalu meletakkan seluruh kekuasaan dan kemuliaan beliau di dalam penghambaan diri kepada Allah SWT. Dan dengan kalimat yang demikian itu, secara tidak langsung beliau menasehati Malik Al-Asytar agar demikian pula hendaknya.

Pada kalimat-kalimat pertama di dalam pesannya untuk Malik Al-Asytar, Imam Ali A.S mengatakan: “Hendaklah Ia (Malik Al-Asytar) bertaqwa kepada Allah dan mendahulukan ketaatan kepada-Nya, serta mengikuti apa yang Ia perintahkah di dalam kitab-Nya, baik yang wajib atau yang sunnah; dimana tak ada kebahagiaan bagi seseorang kecuali dengan mengikutinya; dan tidak akan celaka seseorang kecuali dengan mengingkari dan meninggalkannya. Dan hendaklah ia membela Allah dengan hati, tangan, dan lidahnya. Sesungguhnya, Ia yang Maha Agung Nama-Nya telah berjanji akan membela orang yang membela-Nya dan memuliakan orang yang memuliakan-Nya.”

Di dalam pesan beliau ini, beberapa kali Imam Ali A.S menasehati Malik Al-Asytar untuk bertakwa, menjaga akhlak mulia dan mengendalikan hawa nafsu. Kita semua tahu bahwa jika masyarakat suatu negeri merasakan bahwa para pemimpin mereka adalah orang-orang yang bertakwa, maka mereka akan menjalani hidup di dalam masyarakat tersebut dengan perasaan aman dan tenteram sehingga dapat melangkah dengan cepat ke arah tujuan-tujuan yang tinggi dan mulia. Sebaliknya jika para pemegang kendali pemerintahan adalah orang-orang yang tidak bertakwa dan tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, maka hal itu akan mengakibatkan masyarakat menjadi berpecah-belah, dan perasaan aman serta tenteram pun akan hilang dari kehidupan masyarakat.

Dalam pesannya yang lain, Imam Ali menuturkan: “Janganlah sekali-kali engkau terpisah dari rakyat dalam jangka waktu yang lama. Karena hal itu akan menyebabkan semacam keterbatasan dan kekurangan informasi dalam berbagai urusan. Jauhnya seorang pemimpin dari rakyat akan menyebabkan masalah yang besar dipandang kecil dan masalah yang kecil dipandang besar oleh masyarakat. Persoalan yang baik, dipandang buruk dan persoalan yang buruk dipandang baik. Maka terjadilah kerancuan antara batil dengan hak.”

“Seorang pemimpin juga tak lebih dari seorang manusia. Setiap masalah yang ditutup-tutupi oleh rakyat, jelas seorang pemimpin tidak akan mengetahuinya.”

Sudah barang tentu, pertemuan langsung antara seorang pemimpin dengan rakyat jika dilakukan dengan sangat terbatas, maka keterbatasan informasi dan jarak antara dia dengan rakyat akan semakin meningkat, atau dia akan mudah percaya dengan informasi-informasi yang terbatas. Dan tentunya pula informasi semacam ini tidaklah mencukupi untuk mengelola urusan masyarakat. Karena itulah seorang pemimpin atau orang yang dibebani tanggung jawab, harus menjalin hubungan yang dekat dengan masyarakat semaksimal mungkin dan menyusun pentadbiran setertib mungkin.

Seorang pemimpin atau seorang yang dibebani tanggung jawab, haruslah seorang yang memiliki personalitas yang bersih. Semua ini ditujukan agar rakyat dapat memperoleh semangat rohani ketika mereka berjumpa dengan pemimpinnya.

Pertemuan langsung antara pemimpin dengan rakyat, khususnya mereka yang memerlukan, selain akan membuat sang pemimpin mengetahui problematika masyarakat, juga akan membuatnya turut merasakan, dan pada gilirannya, ia tidak akan melalaikan masyarakat. Memang, di abad moderen ini, kegiatan dan tugas seorang pemimpin semakin menumpuk dan tampak merebut kesempatan seorang pemimpin untuk mengadakan pertemuan yang sepenuhnya bersifat bermasyarakat. Namun inipun tak dapat dijadikan alasan untuk memutus hubungan dengan rakyat.

Seseorang yang menduduki jabatan, dapat menerima banyak informasi penting dengan cara memilih orang-orang dikenal jujur dan memiliki kredibilitas yang tidak diragukan. Untuk ini, dia harus mempertahankan hubungannya dengan masyarakat.

Disamping itu, agar rakyat benar-benar dapat menyampaikan pendapatnya dengan gamblang, jelas dan wajar, seorang pemimpin hendaknya menciptakan situasi yang sekiranya rakyat dapat dengan mudah menyuarakan tuntutan-tuntutannya. Dan jika seorang pemimpin berhasil mengatasi atau memenuhi permintaan mereka, tidak semestinya dia menuntut balas budi, dan hendaknya apa yang telah dia berikan disertai dengan hati lapang dan niat yang tulus. Jika ternyata dia tidak sanggup memenuhi apa yang diperlukan mereka, maka hendaknya dia menyatakan dengan cara yang terbaik agar tidak terjadi pikiran-pikiran buruk pada orang yang membetulkannya.

Imam Ali A.S dalam pesannya mengenai pentingnya hubungan dengan masyarakat juga mengatakan:

“Sisihkan waktumu untuk orang-orang yang memerlukanmu. Adakan kontak dengan mereka secara pribadi. Berikanlah mereka izin secara umum untuk duduk bersama denganmu. Dalam majlis dimana engkau duduk bersama dengan rakyat ini, bisa kau jadikan tanda kerendahan dirimu di depan Allah yang menciptakanmu. Selain itu, ketika majlis ini dibentuk, hendaknya engkau menghindarkan para penjagamu dari bertindak sewenang-wenang terhadap masyarakat, agar mereka dapat bertutur kata dengan bahasa dan ucapan leluasa tanpa sedikitpun rasa takut.

Din Parwar seorang guru dan pengkaji Islam, berkenaan keistimewaan pesan Imam Ali kepada Malik Al-Asytar menuturkan:

“Pesan Imam Ali ini sangat penting. Seluruh undang-undang pemerintahan yang diperlukan masyarakat tertera disitu. Antara lain ialah masalah pajak yang harus diambil dari masyarakat. Juga masalah kelembagaan yang harus dibentuk untuk menghadapi musuh. Rakyat kata beliau merupakan tonggak dalam masyarakat dan sebelum segala sesuatunya, yang harus diperbuat untuk rakyat ialah mendidik dan membina mereka. Masyarakat Islam haruslah merupakan masyarakat yang makmur dan jangan hanya dipupuk dengan persoalan-persoalan spiritual, melainkan harus disertai pula dengan pemupukan semangat untuk memenuhi keperluan-keperluan materi yang pada gilirannya akan memakmurkan dan mensejahterakan kehidupan mereka.”

“Imam Ali dalam beberapa kalimatnya itu telah menjelaskan secara padat program-program pemerintahan. Kemudian beliau terangkan secara rinci. Menarik sekali saat Imam Ali menyusun program-program tersebut. Beliau membagi masyarakat menjadi beberapa kelompok. Sebagian pegusaha, sebagian lain aktif dalam urusan militer. Ada yang menangani urusan administrasi dan lain sebagainya. Masing-masing mereka berhak menerima gaji dan ini menurut beliau perlu diperhatikan.”

Kesyahidan Amirul Mukminin Imam Ali ibn Abi Thalib

Pada tanggal 21 Ramadhan, Imam Ali ibn Abi Talib, manusia suci yang memiliki keperkasaan batin dan jasmani menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah dua hari sebelumnya, pedang manusia Munafik dari kaum Khawariz menghujamnya saat menunaikan solat Subuh. Pada malam 19 Ramadhan, Imam Ali yang masih belum terlepas dari tanggung jawabnya ditengah-tengah masyarakat sebagai Amirul Mukminin, membawa kantung kurma dan roti terakhirnya ke rumah yatim piatu, lalu beliau kembali ke rumahnya untuk mempersiapkan dirinya larut dalam munajat kepada Allah SWT. Kisah ini dilanjutkan Allamah Al-Qunduzi dalam kitabnya Yanabi’ul Mawaddah sebagai berikut:

“Di malam kesyahidannya, Imam Ali seringkali keluar rumah, menatap langit dan berkata: “Demi Allah aku tidak berkata bohong, dan mereka (Rasul dan Malaikat) tidak pernah berdusta kepadaku. Sesungguhnya malam ini adalah malam yang pernah mereka janjikan.”

Sampai satu saat, adzan subuhpun menggugah kesenyapan malam. Imam Ali dengan langkah perlahan menuju masjid. Sesampainya di masjid, tatapan Imam Ali sempat tertuju pada Ibnu Muljam yang terlelap dalam tidurnya. Beliau membangunkannya, kemudian melangkah memasuki mihrab dan memulai solat subuhnya. Di belakang beliau tampak barisan-barisan jemaah yang begitu teratur, dan kali ini kewibawaan wajah Imam Ali menyeret perhatian dan perasaan orang-orang yang hadir disekitarnya.

Sesuai dengan ketentuan solat jemaah, para makmun mengikuti segala gerakan solat Imam Ali. Para makmum melakukan ruku’ ketika beliau ruku’ dan bersujud ketika beliau sujud. Namun ketika sampai pada sujud itu, seseorang yang berada di belakang Imam Ali tampak belum menjatuhkan kepalanya untuk sujud. Tangannya disembunyikan di balik pakaiannya. Seketika kemudian, tampak kilauan cahaya berkelebat di dinding. Imam Ali masih tenggelam dalam suasana ubudiyah. Cahaya itu adalah kilauan pedang yang kemudian terangkat dan tanpa di duga pedang itu menghujam ke arah kepala Imam Ali. Imam Ali tersungkur. Dahinya pecah bersimbah darah. Pedang itu dihujamkan oleh Ibnu Muljam, lelaki yang dibangunkan Imam Ali di masjid dari tidurnya.

Ibnu Muljam di tengah hiruk pikuk masyarakat segera ditangkap. Ketika itu suara Imam Ali terdengar dari mihrab. Dari mulutnya terdengar suara ayat suci Al-Quran yang artinya: “Kamu telah kami ciptakan dari tanah dan akan kami kembalikan ke tanah dan akan kami bangkitkan kembali dari tanah.”

Tiga hari kemudian, Imam Ali manusia yang paling berhasil menarik pelajaran dari Rasulullah ini menghembuskan nafasnya yang terakhir Beliau menjumpai Tuhannya dalam keadaan beribadah.

Setelah peristiwa syahidnya Imam Ali A.S, dikisahkan bahwa suatu hari Saudah putri Ammar bin Yasir, sahabat Rasul, mendatangai Muawiyah, penguasa pertama dari Bani Umaiyah. Karena wanita ini dikenal sebagai pendukung Imam Ali sepenuhnya, maka Muawiyah langsung menyambut kedatangannya dengan makian dan amarah. Kemudian Muawiyah bertanya apa maksud kedatangan Saudah. Namun Saudah malah menjawab: “Allah SWT pasti akan mengazab penguasa yang tidak memperhatikan hak-hak hamba Allah. Memilih gubernur yang berbuat aniaya kepada rakyat pasti akan mendapat murka Allah. Sekarang engkau telah menetapkan gubernur yang berkuasa atas kami, dimana laki-laki kami dibunuh dan harta kami mereka rampas, karena itu turunkan dia dari jabatannya. Jika tidak kami akan bangkit. Mendengar ucapan ini, Muawiyah marah dan berkata: “Kamu menakut-nakuti aku dengan kabilahmu, sekarang aku kirim kamu ke gubernur itu dan terserah dia mau melakukan apa saja yang dia suka kepadamu.”

Saudah terdiam seketika. Dia teringat sebuah peristiwa yang sangat membekas dalam batinnya. Dan secara spotan dia mengucapkan kata-kata: “Sungguh, karunia Allah tercucur kepada jiwa suci yang sekarang berbaring dalam kubur dan dengan ketiadaannya, keadilan turut terkubur dalam bumi. dia adalah penegak kebenaran dan hak, kebenaran olehnya tidak digantikan dengan apa saja. Hak dan iman telah dipadukan dalam satu tempat.”

Mendengar ucapan ini, Muawiyah kebingungan. “Kamu berbicara tentang siapa?” tanya Muawiyah. “Tentang Imam Ali” jawab Saudah. “Aku teringat suatu saat dimana aku pergi mengadap kepadanya untuk mengadukan tentang ulah para amil zakat. Ketika aku tiba, beliau dalam keadaan siap untuk memulai solat. Akan tetapi beliau mengurungkannya saat beliau melihat kedatanganku, dan dengan ramahnya beliau bertanya maksud kedatanganku. Ketika aku jelaskan pengaduanku, air mata menggenang di kelopak matanya. Beliau berkata: “Ya Allah engkau tahu dan menyaksikan bahwa sama sekali aku tidak pernah memberi perintah kepada para petugasku agar mereka berlaku aniaya kepada hamba-hambaMu.” Setelah itu Imam Ali langsung menangani pengaduanku dan memecat para petugas pengumpul zakat yang terbukti berlaku aniaya.

Dari kisah ini, kita bisa lihat betapa pekanya Imam Ali terhadap tindak sewenang-wenang. Karena itulah, tujuan utama dari pemerintahan Imam Ali ialah menegakkan keadilan dan membela hak manusia. Bagi beliau, pemerintahan dalam Islam merupakan sebuah media yang harus diolah demi mewujudkan nilai-nilai Ilahi dan kemanusiaan. Oleh sebab itu, orang yang duduk sebagai pejabat pemerintahan Islam, haurs mengerahkan segenap upayanya dalam melayani masyarakat. Inilah Imam Ali. Beliau hanya akan puas menyaksikan sebuah masyarakat bila disitu harta, jiwa, citra dan kewibawaan setiap individu benar-benar dilindungi agar setiap orang bisa menikmati ketenangan dan ketenteraman serta segala tugas individu dan sosial dapat ditunaikan sepenuhnya.

Ali bin Abi Thalib dan Tasawuf

 

“Aku adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya,” (Nabi saw)

Tidak ada satu tokoh dalam sejarah Islam awal, selain Nabi sendiri, yang menjadi pusat kontroversi dan perdebatan seperti Ali bin Abi Thalib. Kontroversi ini muncul pada lebih dari satu tataran, mulai dari persoalan-persoalan politik dan sejarah hingga masalah-masalah di bidang teologi dan metafisika. Keluasan intelektual dan kedalam spiritual Ali telah mengilhami seluruh penjuru dunia Islam, baik Sunni maupun Syi’i, dan sekalipun banyak konflik di antara kedua mazhab besar Islam ini yang berpusat pada pribadi Ali, satu pihak tidak pernah bisa menuduh yang lain kurang memiliki kecintaan dan penghormatan kepadanya. Dalam hal ini, secara paradoks, Ali menyatukan kaum Muslim dalam kecintaan mereka kepadanya, tetapi sentralitasnya dalam sudut pandang yang berlawanan menjadikannya sumber perselisihan yang serius.

Lebih jauh, kita temukan dalam dunia Sunni perdebatan dengan Ali pada pusatnya, dan ini merupakan persoalan esoterisme dalam Islam, yang manifestasi utamanya adalah tasawuf. Kaum Sufi mengakui dua jenis otoritas, berkaitan dengan dua jenis ilmu. Dalam konteks otoritas politis, posisi ortodoks Sunni sangat dikenal. Sekalipun Nabi saw tidak meninggalkan perintah-perintah tegas berkaitan dengan yang akan menggantikan beliau secara politis, sebagian besar (?) komunitas Islam menyetujui Abu Bakar Shiddiq, sahabat lama Nabi dan tokoh terhormat di antara para sahabat, sebagai khalifah Islam yang pertama. Ia menunjuk Umar bin Khaththab, yang dirinya sendiri menyusun sebuah komisi yang beranggotakan enam orang sahabat yang pada gilirannya komisi ini memilih Utsman bin Affan. Pasca pembunuhan Utsman, Ali menjadi khalifah keempat.

Tak seorang Sunni pun menolak bahwa, dalam konteks ortoritas temporal, ini merupakan sebuah peristiwa yang biasa. Dalam dunia Sunni, sekalipun tidak ada pemisahan antara gereja dan negara (baca: agama dan politik), khalifah hanyalah administrator, dan ketika ia secara ruhani unggul, ini tidak dipandang sebagai syarat untuk jabatan khalifah. Otoritas khalifah dinilai sebagai berasal dari Tuhan. Namun dalam dunia Sunni, terutama setelah generasi pertama, adalah kelompok ulama, yang bertanggung jawab atas pengalihan pengetahuan keagamaan dan spiritual dan yang berperan sebagai otoritas final mengenai persoalan-persoalan agama.

Sultan, khalifah, fukaha, dan umumnya kelas masyarakat terpelajar merepresentasikan otoritas eksoteris dalam Islam Sunni. Akan tetapi, kaum Sufi mengetahui rantai otoritas spiritual yang secara relatif terlepas dari otoritas eksoteris dan secara prinsip, lebih utama atasnya. Kita katakan terlepas atau independen bukan dalam arti bahwa tasawuf secara inheren antinomian; lawannya adalah benar. Namun keputusan ulama eksoteris (ulama zahir) tak akan pernah, bagi kaum Sufi, mengatasi ajaran-ajaran dari seorang guru spiritual otentik, seorang ulama batin. Ini disebabkan yang zahir, yang aturannya dijalankan dengan syariah atau hukum Tuhan, ada sebagai pendukung kehidupan batin, yang pertumbuhannya dijalankankan melalui thariqah atau jalan spiritual.

Penafsiran yang beragam atas pengertian otoritas spiritual dan temporal telah mengarahkan kepada kesalahpahaman antara Syi’ah dan Sunni juga antara elemen-elemen tertentu dalam dunia Sunni itu sendiri. Otoritas kerohanian diserahkan kepada Ali oleh Nabi merupakan satu realitas yang diterima baik oleh Sufi-sufi Sunni[1] dan Syi’i, namun mereka berbeda berkaitan dengan konsekuensinya dalam ranah temporal. Sebagai imam pertama kaum Syi’ah, Ali menggabungkan dua jenis otoritas di atas dalam satu pribadi, dan menurut Syi’isme, aturan tepat segala sesuatu menuntut bahwa Imam harus mengatur dan memerintah secara spiritual dan temporal. Akan tetapi, sementara dalam Syi’isme aspek esoteris Islam diproyeksikan ke masyakarat umum, sehingga perbedaan antara eksoteris dan esoteris menjadi samar, kaum Sufi puas mempraktikkan jalan mereka dalam bingkai yang ditetapkan oleh otoritas eksoteris. Inilah mengapa, mereka mengakui Ali sebagai pengalih utama rahasia-rahasia batin (ada yang lain seperti Abu Bakar) tanpa ada suatu kontradiksi penting dengan seorang otorita eksoteris yang tidak memiliki rahasia-rahasia (batin) ini. Dengan kata lain, hierarki vertikal dan horizontal tidak perlu bercampur. Dari perspektif Sufi, misteri-misteri paling dakhil tidak ditujukan bagi setiap orang, dan mengajarkan misteri-misteri kepada mayoritas orang mukmin akan lebih banyak merusak ketimbang maslahatnya, demarkasi yang lebih jelas antara dimensi eksoteris dan esoteris memiliki faedah-faedah berupa menghindari bahaya-bahaya tersebut.

Dari apa yang telah diutarakan, kita bisa simpulkan bahwa cara terbaik untuk memahami konflik yang berpusat pada Ali adalah dengan melihat pertikaian ”horizontal” antara Syi’ah dan Sunnah sebagai bentuk proyeksi dari perbedaan vertikal esoterisme dan eksoterisme. Hal ini semakin jelas ada ketika orang menguji persamaan mendalam antara tasawuf dan Syi’isme. Para Imam dari Syi’ah Dua Belas Imam juga merupakan guru-guru spiritual dalam rantai transmisi Sufi atau silsilah.

Apabila orang mengesampingkan syariat dan juga fungsi kosmis dari Imam, fungsi inisiatori dan peran sebagai pembimbing ruhani dari Imam adalah persis sama dengan peran dan fungsi guru Sufi. Pada dasarnya, sebagaimana dalam tasawuf setiap guru berkomunikasi dengan kutub di zamannya, maka dalam Syi’isme seluruh fungsi keruhanian di setiap zaman secara batiniah terkait dengan Imam. Gagasan Imam sebagai kutub alam semesta dan konsep quthb dalam tasawuf nyaris identik.[2]

Perbedaan utamanya adalah sejauh mana otoritas spiritual mesti terentang luas ke dalam ranah temporal. Dalam kasus Ali, ia menggabungkan dua aspek tersebut hingga ke tingkatan yang paling tinggi, baik sebagai penerima utama ajaran batiniah Nabi maupun pemimpin pemerintahan Islam. Mendiskusikan perdebatan seputar suksesi bukan menjadi bahasan kita di sini. Namun kiranya penting untuk mengingat bahwa persoalan yang paling mendalam adalah salah satunya perbedaan esoteris/eksoteris, dan bukan perbedaan mesin politik dan perjuangan-perjuangan kekuasaan. Tidak ada diskusi yang cerdas akan peran keruhanian Ali yang mungkin tanpa memahami butir ini.[3]

***

Ali bin Abi Thalib adalah putra paman Nabi, Abi Thalib. Ketika Nabi menerima wahyu pertamanya, Ali baru berusia 10 tahun. Dari sejak kanak-kanak, ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga Nabi, karena kesulitan finansial di rumah ayahnya sendiri, dan tetap dekat dengan Nabi sampai kewafatan Nabi 23 tahun kemudian. Selama kurun waktu tersebut, klaim Sufi, bahwa Nabi menyampaikan ajaran-ajaran batin dari agama baru itu kepada Ali. Sekalipun orang bisa saja mengatakan bahwa semua anggota komunitas apostolik awal di Mekkah adalah para wali,[4] bukan hanya persoalan kesucian namun juga persoalan kualifikasi intelektual. Tidak setiap metafisikawan itu seorang wali, dan sebaliknya juga, tidak setiap wali adalah metafisikawan besar. Ali menghimpun dalam dirinya sendiri kesempurnaan vertikal yang kita sebut kesucian dengan kedalaman dan keluasan yang luar biasa pada tataran horizontal. Tradisi Islam mengingat Ali sebagai ksatria agung di zamannya, tak pernah terkalahkan dalam peperangan dan selalu lembut kepada musuh-musuhnya. Kebajikannya di medan perang sama terkenalnya. Di lingkungan Dunia Muslim, Ali dikenal sebagai bentuk pelindung kaum miskin dan sebuah model dari apa yang disebut dunia Barat keksatriaan, futuwwah Islam. Yang lebih penting, ia dikenal di zamannya sendiri dan hingga sampai masa kita sebagai orang yang memiliki inteligensi yang memukau dan kebijakan yang mendalam, baik sebagai guru besar juga pembicara fasih bahasa Arab.[5] Di dunia Syi’ah, kekhususan tersebut diberikan kepada Ali begitu terkenal.

Di antara kaum Sunni, kaum Sufi memandangnya sebagai penerus utama ajaran keruhanian Nabi, dan seluruh tarekat Sufi, kecuali satu, asal-usulnya bermuara kepadanya.[6] Demikian juga, orang menemukan pengecualian khusus yang terwujud ketika namanya disebutkan: untuk para sahabat lain, pencantuman radhiyallahu ‘anhu (semoga Allah meridhainya) lazim dipakai, namun dalam kasus Ali oran acap mendengar frase karram Allahu wajhah yang secara harfiah berarti “semoga Allah memuliakan wajahnya”. Belakangan kita akan melihat bagaimana formula ini berkaitan dengan fungsi spiritual Ali di dunia Islam. Seluruh keturunan Nabi, yang diagungkan di dunia Syi’ah maupun Sunni, mendapatkan garis keturunan mereka kepada pernikahan Ali dengan Fathimah, putri Nabi. Melalui Ali dan anak keturunannya, otoritas spiritual Nabi terus berlangsung hingga sekarang, dan bersamanya Zaman Keemasan Islam, periode Madinah awal, mulai pudar.

Tujuan kami dalam esai pendek ini adalah melihat sumber-sumber orisinal dalam tasawuf untuk mengetahui bagaimana ajaran-ajaran keruhanian Islam terkait dengan Ali. Kita dapat mengatakan bahwa esoterisme Islam, alih-alih sekadar tasawuf karena Nahj al-Balâghah dan sebuah ulasan atas sejumlah pasasenya oleh ulama Syi’ah, Allamah Thabathaba’i juga digunakan sebagai sumber-sumber. Tanpa memasuki perdebatan seputar autentisitas Nahj al-Balâghah, cukuplah untuk menyatakan bahwa bahkan dari perspektif Sunni, ada banyak dalam buku ini yang bersumber dari Ali, dan bahwa konflik Syi’ah-Sunni telah menghasilkan fenomena tidak menguntungkan berupa “pelemparan bayi dari air mandi”. Banyak kaum Sunni cenderung meragukan laporan-laporan Syi’ah tentang Ali, karena concern pada “melebih-lebihkan kesalehan tertentu” dari pihak Syi’ah, dan tentu saja, terputus dari banyak hadis yang autentik. Karena itu, kami rasa tepat untuk menggunakan sejumlah pasase yang termasyhur dan paling penting dari Nahj al-Balâghah sebagaimana diseleksi oleh Thabathaba’i, yang tak satu pun darinya bisa dikhususkan sebagai “Syi’ah” sebagaimana yang dilabeli oleh Sunni. Dalam peristiwa apa pun, sebagaimana dinyatakan di atas, adalah dalam tasawuf dan aspek yang paling esoteris dari Syi’isme konsensus itu dapat diraih menyangkut Ali.

Naasnya, ada sebuah karya sedikit serius dalam kesarjanaan Barat yang terfokus pada Ali, selain dari terjemahan-terjemahan yang kurang akurat dari sumber-sumber Arab dan sejumlah buku yang ditulis dalam bahasa Inggris berupa watak polemis dari India dan Pakistan, namun ada juga terjemahan luar biasa dari sejumlah cuplikan Nahj al-Balâghah[7] yang dialihbahasakan oleh Thomas Cleary bertajuk Living and Dying with Grace. Kekurangan materi ini adalah fenomena yang aneh, dengan mempertimbangkan arti penting Ali, dan mempertimbangkan bahwa jilid-jilid yang telah ditulis mengenai tokoh-tokoh politik dan historis belakangan dalam sejarah Islam. Di antara Nabi dan para tokoh terpandang belakangan ada sebuah jurang dalam kesarjanaan modern. Kita harap untuk menggunakan beberapa hadis menyangkut Ali, dan, dari tulisan-tulisan belakangan Matsnawi-nya Rumi, melihat apa yang bisa mereka katakan kepada kita tentang Ali dan tasawuf.

Futuwwah: Ali sebagai Model Keperwiraan Spiritual

Kata futuwwah secara harfiah artinya “pemuda” namun bisa diterjemahkan sebagai “pemuda mistis” atau “keperwiraan spiritual”.[8] Kita sebut keperwiraan spiritual karena kebajikan-kebajikan tradisional dari keperwiraan, seperti kedermawanan dan keberanian, tidak terbatas pada tataran perbuatan tetapi mesti eksis pada aras tertinggi dari wujud seseorang. Menurut tradisi Sufi, adalah bersama [Nabi] Syits futuwwah menjadi jalan ruhani, dan yang pakaiannya adalah khirqah, atau jubah. Menjelang masa Nabi Ibrahim, khirqah ini menjadi “terlalu berat”, yang mungkin suatu rujukan pada hakikat segala sesuatu yang akan sirna dan kemustahilan dari mereka di masa-masa belakangan untuk menyandingkan praktik-praktik spiritual para leluhur mereka. Karena itu, Ibrahim melembagakan suatu jenis futuwwah baru, yang disebarkan olehnya melalui keturunan-keturunnya yang menjadi nabi. Nabi sendiri menerimanya, dan mentransmisikannya kepada Ali, yang kemudian menjadi diidentifikasi sebagai kutub futuwwah.[9]

Ali sendiri sangat beliau apabila dibandingkan dengan para tokoh lainnya dari abad apostolik Islam. Fakta ini dikombinasikan dengan kemampuan tempurnya yang legendaris dan kecerdasan serta kebajikannya menjadikannya fatal par excellence dalam Islam. Ketika orang membaca Ali orang bisa melihat energi dan kebajikannya yang bertenaga muncul melalui halaman-halaman. Nasihat dan perbuatannya berasal dari watak pedang yang menyerang dan anak panah yang bersasaran baik. Ketika diinformasikan bahwa Ali menantangnya berduel untuk mengakhiri peperangan, Muawiyah mengetahui “ia pasti membunuhku” karena sangat terkenal ungkapan bahwa Ali tidak pernah terkalahkan dalam perang. Tulisan-tulisan belakangnya merupakan bukti dari kemuliaan dan kecerdasannya, dan kezuhudannya dari dunia dan gemerlapnya menyematkan pada dirinya gelar Abu Turab, “Bapak Debu”, yang diberikan kepadanya dari Nabi sendiri.[10]

Dalam Matsnawi Rumi, kita menemukan kisah menawan mengenai peristiwa yang terjadi antara Ali dan seorang “ksatria kafir” yang secara tradisional dipandang telah terjadi dalam Perang Khaybar. Ali mendapatkan pejuang ini dan mengelilinginya untuk membunuhnya, lalu tentara kafir meludahi wajah Ali. Terkejut dengan reaksi tentara itu, Ali menyarungkan kembali pedangnya, memperpanjang usia si tentara.

Pelajarilah bagaimana bertindak secara ikhlas dari Ali: ketahuilah, singa Allah disucikan dari (semua) tipu daya. Ia meludahi wajah Ali, kebanggaan setiap nabi dan wali; ia meludahi muka yang di hadapannya rembulan membungkuk di tempat ibadah.

Seketika Ali menyarungkan pedangnya dan menenangkan (usahanya) dalam memeranginya. Jawara itu terheran-heran dengan perbuatan Ali ini dan dengan menunjukkan pengampunan dan rahmatnya segera. Ia berkata, “Anda mengangkat pedang tajam Anda terhadapku: mengapa engkau menyarungkannya kembali? Apakah Anda melihat bahwa itu lebih baik ketimbang memerangiku, sehingga Anda menjadi segan dalam memburuku?[11]

Ketika pasase ini berlanjut, jawara itu meminta Ali untuk mengatakan kepadanya apa yang telah ia lihat, menyampaikan alasan rahasia atas pemaafannya. Jawara itu telah merasakan suatu perubahan spiritual yang berkilau melalui perbuatan ganjil Ali, dan kini berusaha memahamai bagaimana rahmat Allah telah mendatanginya:

Wahai Ali, engkau adalah semua pikiran dan pandangan, ceritakanlah sedikit apa yang telah kaulihat!

Pedang kesabaranmu merobek jiwaku, air pengetahuanmu telah menyucikan bumiku.

Katakanlah! Aku tahu bahwa semua ini adalah rahasia-rahasia-Nya, karena ini (cara) kerja-Nya untuk membunuh tanpa pedang

Matamu telah belajar mempersepsi Yang Gaib, (sementara) pandangan pengamat tertutup

Sejauh bulan membisu menunjukkan jalan itu, ketika ia berbicara ia menjadi cahaya di atas cahaya

Karena engkau adalah gerbang kota ilmu[12] karena engkau adalah pendaran cahaya Rahmat,

Bukalah, wahai Gerbang, kepadanya yang mencari gerbang, agar melaluimu sekam bisa sampai pada inti

Kita harus memperhatikan pertama-tama bahwa Rumi menulis bahwa ia (si jawara kafir) meludahi wajah Ali. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, tradisi Islam memberi Ali gelar khusus karramallahu wajhah. Wajah yang diludahi si jawara adalah wajah yang sama yang memiliki kekuatan transformatif pada jiwanya.[13] Di sini kita bisa menyamakan wajah Ali dengan rembulan, dan cahaya di atas cahaya sebagai cahaya-cahaya yang direfleksikan dari matahari.

Kegelapan malam dari jiwa “menutupi” (kafir) disinari oleh cahaya yang datang dari bulan, tetapi bulan memberikan cahaya secara tepat karena itu bukan di kegelapan malam, namun ada dalam kehadiran cahaya matahari, cahaya Intelek Ilahi, yang itu memantul kepada mereka yang belum mencapai visi matahari Ilahi. Ksatria mengakui ketika ia membicarakan bulan yang menunjukkan jalan tanpa bicara. Separuh kehidupannya yang tidak diharapkan cukup membuka pandangan batin sehingga ia bisa melihat bulan “wajah Ali” yang menyinarinya, mendesaknya untuk bertanya kepada Ali apa yang baru dilihatnya, sebagaimana orang yang telah melihat rembulan tetapi tidak matahari akan heran apakah sumber cahaya luar biasa itu.[14] Karena ksatria itu, Ali adalah cahaya Tuhan di dunia ini, seorang wali yang Tuhan jadikan cahaya di antara manusia.[15]

Sumber Tambahan yang Digunakan

al-Sya’rani. Abd al-Wahhab ibn Ahmad. ath-Thabaqat al-Kubra, Mesir. 1936, hal. 17-18.

Lings, Martin. Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources. Rochester, VT, 1983.

Thabathaba’i, Allamah, Ali wa al-Falsafat ul-Ilahiyyah. (tanpa titimangsa)


[1] Kami katakan Sufi-sufi Sunni karena tasawuf tidak terbatas pada dunia Sunni, namun hidup dan eksis juga di kalangan Syi’ah.

[2] S.H. Nasr, Sufi Essays, New York, 1991. hal.111.

[3] Untuk bacaan lebih lanjut tentang topik ini lihat Frithjof Schuon, “Seeds of a Divergence” dalam bukunya Islam and the Perennial Philosophy.

[4] Kuliah S.H. Nasr, Musim Gugur 1997.

[5] Siapa pun tidak bisa membantu menegaskan di sini bahwa “Dia seperti Arjuna, Bunda Teresa, dan Shankaracharya yang semuanya menyatu.

[6] Tarekat Naqsyabandiyyah melacak rantai kesufian mereka melalui Abu Bakar Shiddiq, namun juga mengklaim terhubung dengan Ali melalui Ja’far Shadiq, Imam Syi’ah keenam.

[7] Sebenarnya, saya tidak melihat terjemahan utuh darinya di manapun.

[8] S.H. Nasr, “Spiritual Chivalry”, Islamic Spirituality, vol 2, ed. S.H. Nasr, New York, 1991. hal.305.

[9] Ibid.

[10] Barangkali terpancar dari paragraf ini.

[11] Rumi, Mathnawi, terjemahan R. A. Nicholson, Lahore. Vol. 1, p.202.

[12] Merujuk pada hadis yang muncul di awal tulisan ini.

[13] Kuliah S. H. Nasr, Musim Gugur 1997.

[14] Perlambang ini diambil dari Abu Bakr Siraj ad-Din, The Book of Certainty, Cambridge, 1992. Bab “The Sun and the Moon”.

[15] Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya? (QS al-An’am: 122)

Imam Ali as dan Kekuasaan Anti-Kemewahan

 

Jauh sebelum sejarahwan dan filosof Inggris, John Emerich Edward Dalberg Acton, terkenal dengan pernyataannya, “Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely,” Imam Ali, dalam peringatannya kepada salah seorang gubernurnya, telah menyatakan kekhawatirannya akan potensi koruptif kekuasaan. Potensi itu akan semakin terasah ketika kekuasaan bersinggungan dengan kemewahan.

Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib diriwayatkan telah memperoleh informasi bahwa seorang gubernurnya di Basrah, Usman bin Hunaif al-Ansyari, menghadiri pesta seorang hartawan Basrah. Fenomena yang mungkin kini sepele bagi kita tetapi tidak bagi Ali saat itu. Sang Khalifah segera menyampaikan pesan:

“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Wahai Ibnu Hunaif! Telah sampai ke pendengaranku sebuah kabar, bahwa seorang hartawan kota Basrah mengundangmu ke sebuah pesta makan, dan Anda telah bergegas ke sana untuk menikmati aneka hidangan yang lezat di atas nampan-nampan yang datang bergantian… Sungguh aku tak mengira bahwa Anda akan memenuhi undangan seperti itu, lalu makan di suatu tempat yang orang-orang miskinnya dilupakan, dan orang-orang kayanya diundang.”

Jauh sebelum sejarahwan dan filosof Inggris, John Emerich Edward Dalberg Acton, terkenal dengan pernyataannya, “Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely,” Ali, dalam peringatannya di atas, telah menyatakan kekhawatirannya akan potensi koruptif kekuasaan. Potensi itu akan semakin terasah ketika kekuasaan bersinggungan dengan kemewahan. Ibarat jalan bebas hambatan yang supercepat sehingga mengaburkan pandangan si pengendara dari segala sesuatu di kiri-kanan jalan (wajah lokal, kontur pemandangan, dan wajah regional kehidupan sehari-hari –meminjam ekspresi provokatif Slouka, Ruang yang Hilang: 1999), maka kemewahan dengan “nampan-nampan yang datang bergantian” akan berpotensi menelan habis kesadaran si pemilik kekuasaan terhadap kegetiran, kepahitan, dan kekerasan hidup rakyat yang memberinya kuasa. Bukankah kemewahan adalah “tempat yang orang-orang miskinnya dilupakan, dan orang-orang kayanya diundang”?

Kemewahan adalah sejenis simulasi, representasi tanpa asal-usul realitas. Kemewahan tidaklah diprakondisikan oleh kebutuhan, yang acuannya nyata di dalam realitas, tetapi oleh keinginan: citra, status, simbol, dan gaya sebagai “penanda-penanda” murni yang sudah tidak memiliki “petanda-petanda” (realitas). Bagi kemewahan, tidak ada yang tidak dapat dimiliki karena mewah tidak berbicara tentang “kutahu apa yang kubutuhkan” tetapi “kutahu apa yang kumau”.

Karena tidak berpijak realitas, maka kemewahan tidaklah terbatas. Satu hal yang mungkin mengendalikannya hanyalah logika hasrat (logic of desire): fantasi, ilusi, dan halusinasi. Jika sudah demikian, sebagaimana simulasi adalah hiperrealitas (Baudrillard, Simulations: 1983) karena tampak lebih “nyata” daripada kenyataan, maka mewah adalah “hiperkaya” karena bukan hanya kaya tetapi juga rakus.

Oleh sebab itu, alih-alih ingin menjadi seperti Tuhan Yang Mahakaya, para pemuja kemewahan justru ibarat —meminjam ungkapan Goenawan Mohammad— “katak yang hendak menjadi lembu” karena ‘kaya’ (al-ghani) dalam realitas Ilahiah adalah identik dengan ‘sederhana’ (al-basîth): kondisi ketakbergantungan. Bukankah semakin sederhana suatu entitas, semakin ia tidak bergantung kepada selainnya. Sementara itu, para pemuja kemewahan, dalam serba “ketakterbatasannya”, adalah pecandu-pecandu citra, simbol, ilusi, fantasi, dan halusinasi. Eksistensi dan kualitas-diri mereka amatlah bergantung kepada semua hal tersebut.

Maka, jika para pecandu narkoba harus direhabilitasi karena dipastikan mengalami disorientasi-diri (perasaan tidak percaya diri, tidak berguna, tidak berdaya, dan sebagainya) ketika tidak mengonsumsi zat adiktif itu, para penguasa dan politisi, atau siapa pun, yang menyatakan dirinya tak bermartabat karena penghasilan yang lebih rendah atau kepemilikan yang lebih sedikit adalah sama buruknya dan harus menjalani rehabilitasi yang tampaknya jauh lebih sulit.

Dalam pelukan mesra kemewahan, kekuasaan mengalami proses transformasi yang supercepat menjadi “kerakusan”: kuantitas yang menggilas kualitas [naik gaji identik dengan kinerja yang makin baik]; kecepatan yang mengebiri substansi [krisis komunikasi antara masyarakat dengan penguasa dijawab dengan SMS]; citra yang tampak lebih penting dibandingkan realitas [adakah anggota DPR yang menolak kenaikan gaji? Ada, tetapi maaf, bukan dalam rapat-rapat tetapi di koran-koran dan teve-teve].

Apa yang bisa kita harapkan dari para pemegang “amanah” kekuasaan yang telah merapat ke dermaga kemewahan? Mungkin tidak ada—untuk tidak mengatakan “sama sekali” tidak ada. Simpati dan empati, sesuatu yang mungkin paling minim diharapkan dari seorang penguasa, hanya akan kita temui dalam citraan-citraan itu sendiri: iklan, retorika politik di media-media, seremoni-seremoni, atau kunjungan-kunjungan kerja “sesaat”.

Sementara itu, yang akan kita saksikan dari kekuasaan jenis ini, di antaranya, adalah pertama, kebijakan simplistik yang mengarah kepada pengabdian yang minimalis. Para penguasa jenis ini pada hakikatnya merupakan korban dari lalu-lintas perburuan hasrat yang tak kunjung henti dan bergerak dalam kecepatan tinggi. Akibatnya, mereka benar-benar lumpuh—terutama secara paradigmatik— untuk menetapkan kebijakan yang radikal, revolutif, dan solutif. Mereka terjebak di dalam kebijakan-kebijakan yang simpilstik: sekedar mengikuti prosedur, reaktif terhadap segala fenomena yang terjadi, dan—bahkan celakanya—miskin alternatif sekaligus larut ke dalam fenomena-fenomena globalisasi ekonomi, politik, dan budaya yang selalu saja diasosiasikan dengan realitas “di luar sana”, seraya seringkali berkhotbah, “Tidak ada alternatif bagi sistem pasar.”

Bagi Imam Ali, penguasa seperti itu adalah mereka yang menganggap bahwa segala sesuatu telah selesai ketika suatu pekerjaan ‘besar’ (undang-undang, keppres, kepmen, permen, perpu, dan “tetek bengek” produk hukum positif lainnya, peresmian proyek, pencanangan program, serta berbagai kegiatan seremonial lainnya) telah dilaksanakan padahal, “Jangan beranggapan bahwa kau tidak akan dituntut akibat melalaikan yang remeh semata-mata disebabkan kau telah menyelesaikan berbagai urusan yang besar…”

Yang kedua adalah—meminjam istilah Yasraf Amir Piliang—hiper-kriminalitas, yakni ketika kedegilan dan kebejatan perilaku justru dilakukan oleh mereka yang berkuasa untuk mencegahnya. Akal sehat kita, misalnya, seakan-akan tak kunjung mengerti bagaimana mungkin belasan perwira polisi diduga melakukan tindakan pencucian uang atau bagaimana mungkin para pejabat—yang notabene berpenghasilan lebih daripada cukup dan telah berulangkali naik haji—tanpa adanya sebuah resistensi moral berhaji atas biaya rakyat sementara jutaan orang Indonesia harus bersusah payah menabung seperak-duaperak demi menjadi tamu Allah itu—apatah lagi ketika diduga bahwa sebagian dari “para haji” itu bahkan mengorupsi dana haji.

Sungguh, jawaban itu tidak akan kita temukan, baik dalam logika hukum ataupun moral. Logika hasratlah yang telah mencabik-cabik kesadaran-diri mereka akan moralitas dan realitas sosial. Karena berpacu bersama hasrat akan kemewahan: simbol dan status—haji kini telah hanya menjadi simbol dari status kelas tertentu di dalam masyarakat, apalagi jika dilakukan berkali-kali—mereka melakukan “justifikasi” hak-hak orang banyak sebagai hak-hak khusus mereka [sebagian pejabat yang naik haji dengan Dana Abadi Umat berargumen bahwa hal itu sudah menjadi hak mereka karena menjalankan tugas negara] padahal, “Jangan mengkhususkan dirimu dengan sesuatu yang menjadi hak bersama orang banyak,” kata Ali lagi.

Yang berikutnya adalah ketakberpihakan. Para penguasa yang telah mempersembahkan martabat dan kehormatan dirinya kepada buaian kemewahan adalah mereka yang bukan saja abai tetapi berupaya lari dari [tidak berpihak kepada] realitas—kebenaran dan keadilan; karena yang terakhir itu terlalu getir, pahit, dan berat untuk dihadapi; karena perlu keringat, air mata, dan darah untuk memperjuangkannya. Mereka lebih memilih menikmati beragam ilusi dan halusinasi yang disajikan kemewahan yang celakanya—karena wataknya yang manipulatif—sangatlah membenci realitas.

Konsekwensinya:

(1) Mereka lebih mementingkan kepuasan kaum elit ketimbang rakyat kebanyakan;

(2) Mereka memanipulasi realitas (melalui iklan, retorika, seremoni-seremoni, dan lain sebagainya) sehingga seolah-olah tampak seperti realitas karena bukankah lebih mudah mengubah persepsi orang akan realitas daripada mengubah realitas itu sendiri; dan

(3) “Menutupi” diri terhadap rakyat kebanyakan—bukan hanya dengan menetapkan urusan protokoler yang njelimet—dengan menyelubungi diri dan keluarga mereka dengan simbol-simbol yang tak akan pernah terraih oleh tangan-tangan hina kaum papa.

Maka, janganlah pernah berharap mereka melakukan perubahan-perubahan yang radikal bagi kepentingan orang-orang lemah karena bukankah, “Pohon-pohon di padang tandus lebih kuat batangnya sedangkan yang hijau menawan jauh lebih lunak. Demikian pula kayu pepohonan di tempat-tempat gersang lebih kuat nyala apinya dan lebih lambat padamnya,” atau “Bukankah. unta akan hidup tenang beristirahat bila telah penuh perutnya? Demikian pula domba bila merasa kenyang setelah makan rerumputan?” ungkap Ali, Sang Putra Ka’bah.

Ada yang unik dari ucapan Imam Ali di dalam Nahj al-Balâghah (‘puncak kefasihan’ —suatu bunga rampai yang dipandang sarat nilai-nilai kehidupan sekaligus diekspresikan dengan kata-kata indah). Di situ, Ali menyebut dunia, dalam struktur negasi, dengan istilah qalib-an hissiyyan ‘sesuatu yang tidak dapat diidentifikasi seperti halnya sesuatu yang bersifat sensual’, mirip dengan simulasi sebagai ‘peniruan yang tanpa asal-usul realitas’. Jelaslah bahwa yang dikecam Ali bukanlah dunia fisik: jasad tempat ruh kita bersemayam, bumi tempat kita berpijak, dan lingkungan sosial tempat kita berinteraksi, tetapi dunia hasrat yang kemilaunya mampu mengalienasi manusia bukan saja dari persoalan-persoalan masyarakatnya tetapi juga dari kesadaran-diri.

“Dunia kemilau” inilah yang, dalam realitas kita, telah mampu mengalienasi seseorang dari perannya sebagai penegak hukum, pengemban amanah rakyat, mahasiswa/pelajar, guru besar, agamawan, aktivis pro-demokrasi, dan—terlebih lagi—dari eksistensi dirinya sebagai manusia. Karena itulah, kini, kita kian sulit membedakan antara “penegak hukum dengan pelaku kriminal”, “politikus dengan preman”, “guru besar dengan pelacur intelektual”, “mahasiswa/pelajar dengan tukang pukul”, “agamawan dengan penghasut”, “aktivis pro-demokrasi dengan penyuap”, dan bahkan antara “manusia dengan monster”.

Kini tampaknya kita harus mulai melakukan penjarakan dari dunia hasrat dan pengakraban dengan realitas—bukan sebaliknya seperti yang sering disalahtafsirkan orang dari istilah self-denial ‘penyangkalan-diri’. Namun tentu saja, kita tak mungkin memaksa para “bapak-bapak” kita itu untuk melakukan self-denial ala Imam Ali yang, “Tiada secuil emas atau perak dari dunia kalian ini pernah kusimpan. Tiada harta apa pun darinya pernah kutabung. Tiada sepotong baju pun telah kusiapkan sebagai pengganti pakaianku yang lusuh. Tiada sejengkal tanah pun yang kumiliki. Tiada kuambil bagi diriku lebih daripada makanan seekor keledai yang renta.”

Yang kita minta mungkin hanyalah hal-hal sepele seperti, “Kadang-kadang dapatkah Bapak keluar dari rumah dan istana Bapak yang megah itu lalu memperhatikan adakah di sekitarnya gubuk-gubuk liar yang setiap harinya selalu diliputi kecemasan dan ketakutan tentang: tempat berteduh yang mungkin digusur, makanan yang habis, uang yang menipis, anak yang menangis karena belum membayar uang sekolah atau pungutan lainnya; atau sesekali relakah Bapak meninggalkan mobil-mobil mewah Bapak lalu menaiki bus-bus umum atau kereta-kereta api yang penuh sesak dan sumpek, yang para penumpangnya seringkali harus cemas: apakah ongkos mereka cukup atau—jika cukup—masihkah ada pada tempatnya, yang kondekturnya menghitung keping demi keping uang recehan sembari bertanya dalam hati: adakah ini cukup untuk membayar setoran, seraya berharap semoga tidak ada pungli atau tidak kena tilang yang berbuntut ‘uang damai’.”

Hal-hal di atas mungkin sesuatu yang remeh, yang tidak akan berbuah kompensasi seperti jika anggota parlemen “berstudi banding” ke luar negeri, bukan pula berbuah “surga” seperti yang dijanjikan dari haji yang berbiaya dinas tersebut. Yang dapat mereka peroleh, paling tidak, adalah kesempatan untuk mengetahui siapakah mereka (dan siapakah yang bukan mereka) dan siapa yang mesti mereka penuhi haknya lebih daripada yang lain

Ali dan al-Quran Karim

 

Jalaluddin Farsi

Allah swt berfirman:

لِنَجْعَلَها لَكُمْ تَذْكِرَةً وَ تَعِيَها أُذُنٌ واعِيَةٌ

“Agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kalian dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.”[1]

Pembahasan ini berkisar seputar Ali as dan al-Quran. Para pakar ulumul Quran dan mufassir sepakat bahwa sahabat-sahabat Rasulullah saw berbeda tingkatan dalam potensi memahami dan menjangkau makna-makna al-Quran sebagaimana mereka relatif berbeda dalam mengambil manfaat dari curahan kesaksian turunnya wahyu, surat-surat dan kumpulan ayat-ayat yang diterima Nabi saw.

Mereka yang beriman kepada Rasulullah saw di Madinah tidak menyaksikan turunnya surat-surat Makkiyah (yang turun di Makkah) dan terhalang dari tafsir dan asbabun nuzul terutama efidence turunnya ayat-ayat.

Berkenaan dengan sebab turunnya ayat yang telah dibacakan, para pakar hadis dan sejarawan sepakat bahwa maksud dari “udhunun wa’iyah” adalah Ali bin Abi Thalib as. Sebagaimana Ibnu Jarir Thabari, Ibnu Abi Hatim, Wahidi (pengarang kitab “Asbabun Nuzul”), Ibnu Murdawaih, Ibnu Asakir dan yang lain mencatat dari ucapan Buraidah Aslami yang mana Rasulullah saw bersabda kepada Ali as:

إنّ اللّه أمرنى أن أدنيك و لا أقصيك و أن أعلّمك و أن تعي و حقّ لك أن تعي.

Maka turunlah ayat ini «لِنَجْعَلَها لَكُمْ تَذْكِرَةً وَ تَعِيَها أُذُنٌ واعِيَةٌ » dan hal ini mereka nukil dari “Ad-Durrul Mantsur” tafsir Jalaluddin Suyuthi, dan “Asbabun Nuzul” hal 294 dan Abu Na’im dalam “Hilyatul Auliya’” juga mencatat yang demikian dan dengan nukilan hadis lain yang mana Nabi saw bersabda kepada Ali as:

“فأنت أذن واعية لعلمي”

Demikian juga dalam tafsiran ayat ini, Sa’id bin Mansur, Ibnu Jarir, penulis kitab sejarah dan tafsir Thabari, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Murdawaih mencatat riwayat ini tetapi secara mursal yang mana setelah turun ayat “وَ تَعِيَها أُذُنٌ واعِيَةٌ” Rasulullah saw bersabda: “Aku berharap dari Allah swt supaya menajamkan telinga kecerdasan Ali as seperti demikian”. Dan Ali as berkata: “Setelah itu tidak pernah aku mendengar sesuatu dari Nabi saw dan kemudian melupakannya”. Tsa’labi juga mencatat riwayat ini dari Abu Hamzah Tsumali secara musnad (bukan mursal).

Dalam surat al-Haaqqah sebelum ayat ini, Allah swt menceritakan perihal kaum-kaum yang telah lenyap dan juga nabi-nabi terdahulu dan ketika itu Allah swt berfirman: Untuk menjangkau dan memahami serta menjaga perihal-perihal penuh pelajaran (‘ibrah) pada sejarah para nabi dan bangsa-bangsa terdahulu diperlukan telinga cerdas potensial dan menyeluruh. Oleh karena itu Ali as memahami al-Quran lebih baik dari seluruh sahabat Rasulullah saw dan mengajarkan kepada yang lain.

Ibnu ‘Athiyyah, Badruddin dan Suyuthi berkeyakinan bahwa pemuka para mufassir adalah Ali bin Abi Thalib as, sementara itu Ibnu Abbas belajar tafsir di sisi beliau as, dan setelah itu yang lain seperti Mujahid, Sa’id bin Jubair dan lain-lain mengikutinya dan menjadi murid Ibnu Abbas.

Amirul Mukminin Ali as disamping adalah orang terbaik dalam memahami, menghapal dan mempelajari al-Quran, juga termasuk pemuka para sahabat dalam pengumpulan dan penjelasan penafsiran al-Quran.

Ibnu Abbas mengenai ayat suci “إِنَّ عَلَيْنا جَمْعَهُ وَ قُرْآنَهُ” berkata: Allah swt telah mengumpulkan al-Quran di hati dan dada Ali as dan beliau as sepeninggal Rasulullah saw mengumpulkan dan membukukannya selama 6 bulan.

Abu Na’im dalam “Hulyatul Auliya’” dan Khatib dalam “Arba’in” dari Suyuti dan dia dari Ali bin Abi Thalib as meriwayatkan: Ketika Nabi saw meninggal dunia, aku bersumpah bahwa aku tidak akan menyingkapkan jubahku dari pundak hingga aku menyusun al-Quran dan aku melakukan hal tersebut.

Para ahli sejarah dan tafsir juga menyepakati bahwa hanya Ali as yang mengklaim mengumpulkan al-Quran sebelum orang lain berfikir untuk mengumpulkan dan menyusunnya.

Dalam al-Ihtijaj Thabarsi disebutkan bahwa Abu Dzar al-Ghiffari berkata: Ali as setelah wafat Rasulullah saw dan berdasarkan wasiat beliau saw, mengumpulkan dan menyusun al-Quran dan membawanya ke hadapan kaum Muhajirin dan Anshar serta memperlihatkan kepada mereka. Ketika salah seorang membukanya dan pada halaman pertama, ia melihat kemarahan-kemarahan orang-orang maka ia tidak setuju dengannya.

Proyek pertama yang dilakukan Imam Ali as berkenaan dengan al-Quran adalah bertekad bahwa beliau as tidak akan keluar rumah sehingga menyelesaikan pengumpulan dan penyusunan al-Quran. Hal ini sendiri adalah ancaman terbesar bagi orang-orang yang memiliki maksud menodai al-Quran Karim dan sebuah pedang tajam terhunus di atas kepala orang-orang yang ingin mengurangi dan menambahi al-Quran. Sejarah mencatat bahwa dalam ayat:

“إِنَّ كَثِيراً مِنَ الْأَحْبارِ وَ الرُّهْبانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوالَ النَّاسِ بِالْباطِلِ”

hingga ayat berikutnya yang berbunyi:

“وَ الَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَ الْفِضَّةَ وَ لا يُنْفِقُونَها فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذابٍ أَلِيمٍ”

ketika mereka ingin menghilangkan «واو» dari ujung «الّذين» hingga merubah arti ayat dan ingin menunjukkan bahwa «الّذين» ini yakni orang-orang yang menyimpan emas dan perak hanya para pendeta dan pastur saja bukan orang-orang yang berada di kalangan masyarakat Islam yang melakukan perbuatan pengkhianatan seperti ini, Abu Dzar, seorang sahabat agung menghunuskan lidah tajamnya di atas kepala mereka sehingga tahrif ini tidak terlaksana. Akan tetapi proyek Ali as lebih tinggi dari hal-hal ini.

Beliau as (menurut Abu Rafi’) duduk di rumah dan menyusun al-Quran sebagaimana turunnya (bukan berarti bahwa beliau as mengumpulkan sekumpulan ayat dan surat menurut urutan turunnya karena hal tersebut telah terlaksana, dan urutan yang sekarang ini keluar dari ikhtiar manusia bahkan Nabi saw, akan tetapi menentukan sebab turun dan mengenai siapa-siapa dan kapan ayat-ayat turun dan hal ini adalah keterjagaan al-Quran dan arti-artinya dari bahaya tahrif maknawi. Oleh karena itu beliau as memberikan motifasi kepada murid-murid untuk mempelajari dalam tafsir sebab turun dan urutan turun ayat dan surat dan supaya mengajarkan kepada yang lain berkenaan dengan siapa-siapa, kejadian-kejadian apa dan kondisi-kondisi apa ayat-ayat diturunkan). Dari Ibnu Hajar juga dinukil kandungan yang demikian dan riwayat ini dicatat oleh Ibnu Abi Dawud Nasa’i dengan sanad shahih dari Abdullah bin Umar.

Husain bin Ali bin Abi Thalib as juga berkata, Imam Ali as dalam sebuah ungkapan mengatakan: Bertanyalah kepadaku mengenai al-Quran sehingga aku katakan bahwa ayat-ayatnya turun berkenaan dengan siapa-siapa saja dan kapan.

Adapun untuk memahami urgensitas penjelasan urutan, kapan dan kondisi turunnya ayat-ayat, kami berikan dua contoh; salah satunya berkenaan dengan ahkam (hukum-hukum) dan satu lagi menyangkut sebab turun.

Dalam surat al-Baqarah kita memiliki dua ayat berkenaan dengan kematian dan hukum isteri-isteri yang salah satunya nasikh (menghapus) dan yang lain mansukh (yang dihapus). Akan tetapi ayat nasikh berada sebelum ayat mansukh (ayat nasikh adalah ayat 234 dan ayat mansukh 240). Untuk mengetahui manakah ayat nasikh dan manakah mansukh perlu mengenal persyaratan-persyaratan turunnya ayat, dan tentu saja semua orang mengetahui hukum nasikh dan mansukh semenjak masa pengumpulan dan penyusunan al-Quran hingga sekarang, dan malaikat wahyu juga menyampaikan tempat atau posisi ayat-ayat kepada Nabi saw. Dari Ibnu Abbas bahwa ketika ayat tertentu turun, malaikat wahyu berkata kepada Nabi saw, letakkanlah ayat ini di ujung ayat ini. Bagaimanapun, mengetahui urutan turunnya ayat-ayat memiliki urgensitas luar biasa dari sisi bahwa ayat nasikh dari mansukh dapat dikenal.

Contoh berikutnya mengenai sebab turunnya ayat. Sejarah perang Uhud dimuat dalam surat Aali ‘Imran. Mengenai bagaimana terjadinya perang Uhud ditanyakan kepada Abdurrahman bin ‘Auf atau sahabat lain Rasulullah saw dan ia mengembalikan kepada ayat-ayat setelah ayat 120 surat Aali ‘Imran, dan berkata: Jika engkau membacanya maka seolah-olah engkau ikut serta dalam perang ini bersama kami.

Di antara kejadian-kejadian perang Uhud adalah pada mulanya kemenangan diraih oleh kaum Muslimin akan tetapi setelah pengosongan lereng gunung oleh para pemanah dan serangan pasukan berkuda tentara musuh ke tempat itu, maka tekanan musuh menjadi berlimpah. Nabi saw memberikan perintah supaya kaum Muslimin naik dari lereng gunung depan dan bersandar ke gunung serta mundur karena ketidakkompakan sedikit pasukan.

Nabi saw berada di barisan belakang tentara dan beliau saw juga menaiki lereng gunung, akan tetapi beliau saw berada dalam serangan bahaya pasukan berkuda musuh yang sedang beraksi melakukan pembunuhan tanpa belas kasih.

Ayat 153 menunjukkan hal tersebut:

“إِذْ تُصْعِدُونَ وَ لا تَلْوُونَ عَلى‏ أَحَدٍ وَ الرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْراكُمْ فَأَثابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ لِكَيْلا تَحْزَنُوا عَلى‏ ما فاتَكُمْ وَ لا ما أَصابَكُمْ وَ اللَّهُ خَبِيرٌ بِما تَعْمَلُونَ”

“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Hingga di sini tidak ada permasalahan dan ayat-ayat menceritakan kelanjutan peristiwa tersebut, akan tetapi secara tiba-tiba Allah swt mengecam orang-orang yang berpaling dari musuh dan melarikan diri, ayat 155:

“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antaramu pada hari bertemu dua pasukan itu [pasukan kaum muslimin dan pasukan kaum musyrikin], hanya saja mereka digelincirkan oleh syaitan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat (di masa lampau).

Maka jelas bahwa mereka adalah sekelompok dari tentara Islam, akan tetapi siapa-siapa mereka tersebut harus dijelaskan oleh pribadi tinggi seperti Ali as.

Dalam sirah (sejarah) paling kuno yang pengarangnya wafat pada tahun 207 H dan sirah Ibnu Ishaq terlihat, al-Maghazi Ibnu Syihab az-Zuhri dapat disaksikan dan seluruh riwayat menjadi bahan kajian dan dicatat serta dinyatakan: Ketika berita tentang terbunuhnya Nabi saw tersebar melalui lidah kaum kafir di tengah-tengah Muslimin, mereka bercerai berai dan sebagian telah sampai di Madinah dan orang pertama yang datang ke Madinah dan menceritakan berita tentang terbunuhnya Nabi saw adalah Sa’d bin Utsman yang berlaqab Abu ‘Ubadah. Setelah itu sekelompok lain masuk ke kota menuju isteri-isteri mereka. Para isteri mencaci mereka dan mengatakan, kalian melarikan diri dari sisi Rasulullah saw. Salah seorang wanita adalah Ummu Aiman yang dalam menghadapi sekelompok orang melemparkan tanah ke muka mereka, dan mengatakan kepada salah seorang dari mereka: Kemarilah, ambil lipatan ini dan lipatlahlah serta berikan pedangmu kepadaku. Setelah itu ia pergi ke Uhud bersama sekelompok wanita.

Namun pada arah berlawanan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’d bin Abi Waqqash dan sekelompok dari kaum Anshar yang nama-nama mereka tercatat seluruhnya dalam sejarah berperang melawan musuh dengan gigih dan menjaga Nabi saw.

Nashibah puteri Ka’b Ummu ‘Umarah yang datang ke medan perang sebagai pemberi minum dan perawat ketika melihat gigi dan dahi Nabi saw retak, dada Nabi saw terluka, ia mengangkat pedang dan membunuh beberapa orang. Ia sendiri dan beberapa orang anggota keluarganya bertahan dalam perang itu.

Thalhah bin Ubaidillah, seorang sahabat pemberani, menjadikan tangannya sebagai tameng supaya pedang Ibnu Qumaishah tidak turun di pundak Nabi saw sehingga jarinya terpotong dan sampai akhir umurnya menjadi saksi pembelaannya kepada Nabi saw. Dalam kondisi seperti itu Nabi saw terjatuh ke dalam sebuah lubang dari lubang-lubang yang digali oleh Abu ‘Amir Rahib (yang dijuluki oleh Nabi saw sebagai munafik) dan ditutupi permukaannya, seorang bernama Syimas bin Utsman menjadikan dirinya sebagai tameng melindungi Nabi saw di hadapan pedang-pedang yang menebas ke arah Nabi saw dan syahid di tempat itu. Mereka adalah para pahlawan kejadian tersebut. Akan tetapi sekelompok orang juga melarikan diri sehingga Nabi saw bersabda kepada Nashibah, pahlawan wanita yang bekas-bekas tebasan pedang musuh membekas pada tubuhnya hingga akhir hayatnya: “Perbuatanmu lebih baik daripada orang-orang yang melarikan diri (disebutkan nama-nama mereka).”

Di lobang tersebut, sementara lutut suci Nabi saw terluka dan beliau saw tidak dapat berdiri, Ali as mengambil tangan beliau saw dan Thalhah meraih bawah pundak beliau saw dan pergi ke atas lereng gunung, dan ketika itulah kaum Muslimin juga sampai, dan mengelilingi serta melindungi Nabi saw dari musuh.

Apapun yang terjadi, sya’n nuzul secara detail menjelaskan bahwa siapakah orang-orang tersebut dan ayat-ayatnya berkata apa. Hal ini sedemikian jeli hingga dalam perang ini salah seorang dari kaum Muslimin yang memiliki permusuhan dengan yang lain membunuhnya secara tiba-tiba. Setelah beberapa waktu berlalu, ketika mereka menangkapnya Nabi saw menghakiminya dan menghukumnya dengan hukuman mati. Apapun yang terjadi, orang-orang yang bertahan, para pahlawan dan orang-orang yang melarikan diri namanya tertulis dengan terperinci dalam tafsir-tafsir dan juga dalam kitab-kitab hadis shihah terutama shahih Bukhari.

Khalid bin Walid (panglima tentara pasukan berkuda yang menyerang dan membunuh banyak kaum Muslimin) setelah beberapa waktu ketika masuk Islam berkata di Syam: Aku bersyukur kepada Allah karena telah memeluk Islam dan Allah telah memberikan hidayat kepadaku, dan setelah itu berkata, kesaksianku dalam perang Uhud adalah bahwa kaum Muslimin melarikan diri, aku melihat seorang kerabat yang melarikan diri sendirian. Aku berada dalam kepemimpinan tentara berkuda yang kuat. Karena aku masih berkerabat dengannya, maka aku khawatir bila aku mendekatinya, maka tentara akan menangkap dan membunuhnya, oleh karena itu aku membelokkan arah sehingga ia tidak terlihat tentara.

Demikian juga dalam sirah Ibnu Hisyam, dalam kitab Waqidi dan seluruh shihah terdapat bahwa Anas bin Nadhar, paman Anas bin Malik, melihat seorang sahabat yang sedang duduk-duduk dengan sekelompok orang. Ia bertanya kenapa mereka duduk, mereka menjawab, Rasulullah saw telah terbunuh. Ia berkata, setelah beliau saw untuk apa kalian ingin hidup. Bangkitlah dan berperanglah demi apa yang diperjuangkan oleh Rasulullah hingga terbunuh. Ketika itu sahabat tersebut berdiri dan berperang hingga terbunuh dan tampak puluhan luka di badannya.

Di sinilah jelas bahwa penulisan sya’n nuzul oleh Ali as memberikan manfaat apa. Supaya hak para pahlawan yang membela Nabi saw seperti Thalhah bin Ubaidillah tidak disia-siakan dan jelas siapa saja yang melarikan diri. Maka ketika itu sekelompok penulis resep berkhianat dan menghapus sebagian nama-nama. Silahkan amati nama-nama yang kami nukil dari kitab Waqidi ini apa yang mereka lakukan dan usaha Amirul Mukminin Ali as bernilai apa dalam menghapus kepalsuan-kepalsuan. Bila ini tidak ada, kita tidak dapat memahami kejadian-kejadian yang berlangsung. Akan tetapi mereka tidak membiarkan tafsir Amirul Mukminin as dengan urutan turun, sebab dan kejadian-kejadiannya tersebar. Sebagian sahabat setia mempelajari sebagian hal tersebut dan terdapat dalam sejarah dan tafsir-tafsir seperti kisah Anas bin Nadhar.

Sangat disayangkan sekali mereka ingin menyingkirkan orang yang membela dan menyelamatkan Nabi saw dari kebinasaan tersebut dan ingin meninggikan orang-orang yang melarikan diri. Mereka tidak membiarkan keterangan al-Quran dan tafsir Ali bin Abi Thalib as tersebar. Imam Ali as setelah perang Jamal, ketika memasuki Bashrah, datanglah seorang Badui dan menjelek-jelekkan Thalhah. Imam Ali as menegornya dan berkata, engkau tidak ada dalam perang Uhud dan tidak melihat bagaimana ia berkhidmat dan kedudukan dan tingkatan apa yang dimiliki di sisi Allah swt. Orang tersebut merasa malu dan terdiam. Orang lain bertanya, khidmat apa yang dilakukan? Beliau as menjawab, ia menjadikan dirinya sebagai perisai Nabi saw sementara dari setiap arah datang tebasan pedang dan tusukan tombak. Dari satu arah aku dan dari arah lain Abu Dujanah membuat mundur para penyerang sementara Sa’d bin Abi Waqqash dari arah lain. Aku dengan sendirian membuat mundur tentara berkuda yang dikomando oleh ‘Ikrimah bin Abu Jahal sementara mereka mengepungku dari setiap penjuru dan untuk kedua kalinya aku mendesak mereka mundur dan aku kembali…

Di sinilah penjelasan dan tafsir Ali bin Abi Thalib as menyelamatkan al-Quran dari perubahan maknawi, dan sebagaimana mestinya beliau as menyampaikannya kepada generasi-generasi dan murid-murid beliau as seperti Ibnu Abbas dan yang setelahnya membawanya ke hadapan kita.

Ya Allah! Jadikanlah kami menghargai nikmat wilayah Amirul Mukminin Ali as. Amin Ya Rabbal ‘alamin.


[1] QS. Al-Haaqqah (69): 12.

AMANAT KEADILAN MANUSIA

 

(Surat yang ditulis Imam Ali ibn Abi Thalib as. pada tahun 38 H. dalam pelantikan Malik Asytar sebagai gubernurnya di Mesir. PBB baru saja mencatat surat ini pada November 2003 dengan nama judul di atas)

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Inilah yang diperintahkan oleh hamba Allah, ‘Amiril Mukminin’ Ali (bin Abi Thalib), kepada Malik bin al-Harist al-Asytar, dalam mengamanatkan wewenang kepadanya sebagai gubernur Mesir untuk mengumpulkan pajaknya, memerangi musuh-musuhnya, mengusahakan kemaslahatan bagi rakyatnya, dan memakmurkan kota-kotanya.Ia telah menyuruhnya agar bertakwa kepada Allah, mengutamakan ketaatan kepada-Nya, dan mengikuti apa yang telah diperintahkan-Nya di dalam Kitab-Nya, yang wajib dan yang sunnah. Tidak akan bahagia orang yang tidak mengikutinya, dan pasti celaka orang yang menentang dan mengabaikannya. Dan hendaknya membela Allah Yang Maha Suci dengan tangan, hati dan lidahnya, karena Allah Yang Maha Mulia Nama-Nya akan membela orang yang membela-Nya, dan memenangkan orang yang memperjuangkan-Nya.

Ia juga memerintahkan kepadanya untuk membersihkan jiwanya dari tuntutan-tuntutan hawa nafsu, dan mengekangnya pada saat memuncak, karena hawa nafsu senantiasa menarik kepada keburukan, kecuali yang telah mendapatkan rahmat Allah.

Kriteria Gubernur dan Tanggung Jawabnya

Ketahuilah, wahai Malik! Bahwa saya telah mengutus Anda ke suatu daerah, dimana sebelumnya pernah dipimpin oleh penguasa-penguasa, yang adil maupun yang dzalim. Sekarang, rakyat akan memperhatikan tindakan-tindakan Anda, sebagaimna Anda telah memperhatikan tindakan-tindakan para penguasa sebelum Anda. Dan, mereka (rakyat) akan menilai Anda sebagaimana Anda pernah menilai mereka (para penguasa).

Sesungguhnya orang bijak diketahui dengan nama baik yang Allah tebarkan untuk mereka melalui lidah hamba-hamba-Nya. Maka itu, jadikanlah amal saleh sebagai koleksi yang terbaik. Untuk itu, kuasailah hawa nafsu Anda dan sayangilah diri Anda dari melakukan apa yang diharamkan atas Anda, karena menyayangi diri berarti menyeimbangkan diri di antara apa yang disukainya dan apa yang dibencinya.

Jadikan hati Anda belas kasih, cinta dan ramah kepada rakyat. Janganlah Anda layaknya binatang buas yang siap menerkam mereka, karena mereka itu adalah satu di antara dua golongan: saudara Anda dalam agama atau sesama Anda dalam ciptaan. Mereka akan melakukan kekeliruan dan menghadapi kesalahan. Mereka mungkin berbuat salah dengan sengaja atau karena lalai. Maka, ulurkanlah kepada mereka ampunan dan maaf Anda, sebagaimana Anda menginginkan Allah mengulurkan ampunan dan maaf-Nya kepada Anda, karena sesungguhnya Anda di atas mereka, dan pemimpin Anda di atas Anda, sementara Allah di atas orang yang telah mengangkat Anda. Dia (Allah) mengendaki Anda mengurus tata kehidupan mereka (rakyat) dan menguji Anda melalui mereka.

Janganlah mengambil langkah untuk memerangi Allah, karena Anda tidak berdaya di hadapan kekuasaan-Nya, dan Anda senantiasa bergantung pada ampunan serta rahmat-Nya. Jangan menyesal karena memaafkan, dan merasa puas ketika melakukan hukuman. Jangan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan pada saat emosi memuncak. Jangan katakan, “Aku telah diberi kewenangan, aku harus ditaati kapan saja aku mengeluarkan perintah”. Karena, hal itu dapat membusukkan hati, melemahkan agama dan mempercepat keruntuhan (pemerintahan)-nya.

Di saat-saat Anda merasa bangga atau sombong karena kekuasaan Anda, maka tengoklah besarnya kerajaan dan kekuasaan Allah di atas Anda. Sesungguhnya Allah kuasa melakukan sesuatu yang tidak sanggup Anda lakukan meski terhadap diri Anda sendiri. Demikian ini akan meluluhkan kesombongan Anda, menyeimbangkan temperamen Anda yang tinggi, dan mengembalikan Anda kepada kebijaksanaan yang telah pergi jauh dari Anda.

Hati-hatilah dari berkompetisi dengan Allah dalam kebesaran-Nya, atau menyerupakan diri dengan-Nya dalam kekuasaan dan keperkasaan-Nya, karena Allah menghinakan setiap pendakwa kekuasaan dan melemahkan setiap orang yang sombong.

Tempatkanlah Allah sebagaimana posisi-Nya, tempatkan pula posisi rakyat yang selayaknya di hadapan Anda, kerabat Anda dan orang-orang yang Anda cintai. Jika Anda tidak memperlakukan mereka demikian, maka Anda telah melakukan kedzaliman. Dan, jika seseorang telah melakukan kedzaliman terhadap hamba-hamba Allah, maka di belakang mereka adalah Allah sendiri yang menjadi lawannya. Dan, apabila Allah adalah lawan seseorang, Dia-lah yang akan menghancurkan kekuatannya. Ia akan tetap sebagai musuh yang memerangi Allah sampai ia menghentikan kedzalimannya dan bertaubat. Tak ada yang lebih menyebabkan hilangnya karunia Allah atau mempercepat pembalasan-Nya selain meneruskan kedzaliman. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar doa orang yang tertindas dan mengintai para penindas.

Memerintah Haruslah demi Kemaslahatan Rakyat Secara Menyeluruh

Hendaknya jalan yang paling Anda sukai ialah jalan yang paling tengah dalam kebenaran, yang paling merata dalam keadilan, dan yang paling mencakup kepuasan rakyat umum. Karena, ketidakpuasan rakyat banyak akan mengakibatkan keinginan kalangan elit tidak lagi berarti, sementara ketidakpuasan kalangan elit akan tertutupi dengan kepuasan rakyat umum.

Sesungguhnya kalangan elit itu lebih memberatkan kepala pemerintahan dalam mengusahakan kesenangan hidup, yang kurang membantu dalam menghadapi kesukaran, lebih enggan dalam berlaku adil, lebih memelas dalam meminta, lebih sedikit bersyukur dalam memberi, lebih mencari-cari alasan dalam menolak, dan lebih lemah menahan sabar dalam kesusahan hidup, daripada rakyat umum. Rakyat umum ini merupakan tiang agama, himpunan kaum muslimin dan kekuatan di hadapan musuh-musuh. Karena itu, kecondongan Anda haruslah kepada dan bersama mereka.

Hendaknya bawahan-bawahan Anda yang paling jauh dan paling tidak disukai Anda ialah orang yang mencari-cari kekurangan rakyat. Jelas bahwa ada kekurangan dan aib pada rakyat, dan pemimpinlah yang paling patut untuk merahasiakannya. Janganlah membukakan sesuatu yang tersembunyi dari Anda, karena kewajiban Anda adalah memperbaiki apa yang nampak pada Anda, sementara Allahlah yang akan memperkarakan apa yang tersembunyi dari Anda. Maka itu, tutupilah kekurangan-kekurangan itu sebisa mungkin, niscaya Allah menutupi kekurangan-kekurangan Anda, sebagaimana yang Anda inginkan agar tetap tersembunyi dari rakyat.

Bersihkanlah ganjalan segala dengki terhadap rakyat, putuskanlah akar setiap permusuhan dari diri Anda. Janganlah lengah dari apa yang tidak nampak bagi Anda, jangan pula cepat menerima hasutan provokator, karena provokator itu adalah penipu, walau ia nampak sebagai orang yang bermaksud baik.

Tentang para Penasihat

Dalam rangka bermusyawarah, janganlah Anda libatkan orang kikir yang akan menahan Anda dari bermurah hati dan menakut-nakuti Anda akan kemelaratan, dan orang pengecut yang membuat Anda merasa begitu lemah dalam urusan-urusan Anda, juga orang serakah yang membujuk Anda mengumpulkan harta dengan cara-cara busuk. Karena kikir, pengecut dan serakah adalah sifat-sifat yang berbeda yang disatukan oleh prasangka buruk kepada Allah.

Seburuk-buruknya menteri Anda ialah yang pernah menjadi menteri bagi orang-orang jahat sebelum Anda, dan yang bekerja sama dengan mereka dalam dosa. Oleh karena itu, mereka tak boleh menjadi orang dekat Anda, karena mereka adalah pembantu para pendosa dan saudara para penindas. Anda akan mendapatkan pengganti-pengganti yang terbaik daripada mereka, yang seperti mereka dalam pandangan dan pengaruhnya, dan tidak seperti mereka dalam dosa dan kejahatan. Orang-orang yang belum pernah membantu orang dzalim dalam kedzalimannya atau pendosa dalam perbuatan dosanya.

Merekalah yang meringankan beban Anda, yang memberikan bantuan yang terbaik kepada Anda, yang lebih mencurahkan kasih sayang kepada Anda, dan yang kurang kecintaan mereka kepada selain Anda. Maka, jadikanlah mereka pembantu-pembantu dekat Anda, baik dalam hubungan pribadi maupun dalam pertemuan umum.

Kemudian, hendaklah orang terdekat di antara mereka di sisi Anda ialah orang yang paling terbuka mengatakan kebenaran kepada Anda, dan yang paling sedikit mendukung kebijakan atau tindakan Anda yang tidak disukai Allah dari para kekasih-Nya, walaupun semua itu mungkin sesuai dengan keinginan Anda.

Bergaullah dengan orang-orang yang bertakwa dan jujur, lalu didiklah mereka agar tidak menyanjung Anda atau membuat Anda senang dengan kepalsuan (sesuatu yang tidak pernah Anda lakukan). Karena, banyaknya sanjungan menumbuhkan rasa besar diri dan menyeret Anda ke dalam kesombongan.

Orang baik dan orang jahat tak boleh sama kedudukan mereka di mata Anda, karena hal ini berarti menahan orang-orang baik dari kebaikan, dan mendorong orang-orang jahat kepada kejahatan. Sikapilah kedua-duanya sesuai dengan kedudukannya masing-masing.

Ketahuilah, bahwa tidak ada sesuatu yang paling mencitrakan prasangka baik seorang pemimpin kepada rakyatnya selain melakukan kebajikan kepada mereka, meringankan beban-beban hidup mereka, dan tidak menuntut mereka untuk sesuatu yang tidak bisa mereka penuhi. Oleh karena itu, hendaknya Anda mengambil cara-cara yang memupuk prasangka baik rakyat, karena prasangka-prasangka baik akan melegakan Anda dari keletihan yang panjang. Sesungguhnya orang yang paling pantas diprasangka baik oleh Anda ialah orang yang memandang baik tindakan Anda, dan orang yang patut diprasangka buruk oleh Anda ialah orang yang memandang buruk tindakan Anda.

Janganlah Anda putuskan cara dan kebiasaan hidup yang baik yang dilakukan tokoh-tokoh masyarakat, yang menciptakan kesejiwaan dan menebarkan kemaslahatan umum. Janganlah memulai suatu kebiasaan yang merusak cara-cara lama ini, karena (dalam hal itu) ganjaran tercurahkan atas siapa saja yang memulai kebiasaan baik tersebut, sedangkan beban dosa dijatuhkan ke atas Anda lantaran melawannya.

Perbanyaklah belajar pada ulama dan menghadiri majlis orang-orang bijak dalam upaya menstabilkan makmurnya kehidupan negeri Anda, dan mempertahankan apa yang telah dijalani rakyat sebelumnya dengan penuh ketabahan.

Berbagai golongan Rakyat

Ketahuilah, sesungguhnya rakyat terdiri dari berbagai golongan; masing-masing tidak akan bertahan hidup kecuali dengan bantuan yang lain, dan satu sama lainnya akan saling membutuhkan. Di antaranya adalah tentara Allah, para pegawai sekretariat khusus dan umum, para hakim pengadilan yang adil, orang yang menangani urusan hukum dan ketertiban, para pembayar pajak kepala (jizyah) dan pajak dari kalangan kafir yang dilindungi dan dari kaum muslim, lalu para pedagang dan tukang, kemudian lapisan paling bawah, yakni fakir miskin. Allah telah menetapkan bagian untuk setiap golongan, dan telah menetapkan hak-hak dan kewajiban-kewajiban dalam Kitab-Nya atau sunnah Nabi (saw.) sebagai amanah-Nya yang yang harus kita tunaikan.

Tentara, atas izin Allah, adalah benteng rakyat, perhiasan penguasa, kekuatan agama, dan sarana kedamaian. Sesunggunya rakyat tidak dapat hidup tanpa mereka.

Tentara tidak akan bertahan lama kecuali dengan dana yang ditentukan oleh Allah dalam pendapatan (negara), sehingga mereka mendapat kekuatan dalam menghadapi musuh. Rakyat akan menyandarkan diri pada tentara kebaikan hidup mereka, dan yang mencukupi segala kebutuhan mereka.

Tentara dan rakyat, kedua golongan ini tidak mungkin bertahan tanpa golongan ketiga, yakni para hakim, pejabat sipil dan para sekretaris. Hakim akan mengurusi perkara-perkara hukum, pejabat sipil memungut pajak dari keuntungan dan penghasilan, dan sekretaris melayani urusan-urusan pemerintahan maupun rakyat umum.

Dan, semua golongan itu tidak akan sanggup bertahan tanpa pengusaha dan pengrajin yang mengusahakan pendapatan negara; mereka menjalankan pasar, dan berkedudukan lebih utama dari yang lainnya dalam memenuhi kewajiban sosial.

Kemudian ada golongan yang paling rendah, yakni fakir miskin, yang berhak mendapatkan kemudahan dan bantuan.

Sesungguhnya pada Allahlah kepuasan setiap golongan. Dan, setiap golongan itu mempunyai haknya masing-masing (sekadar kebutuhan mereka) yang harus dipenuhi oleh pemimpin bangsa.

Kepada pemimpin bangsa, hendaknya ia konsisten pada apa yang diwajibkan kepadanya, yaitu mementingkan kehidupan warga, memohon pertolongan dari Allah, membulatkan tekadnya untuk komit pada kebenaran, dan tabah dalam memikul beban kebenaran yang berat baginya maupun yang ringan.

1. Tentara

Angkatlah di antara jajaran militer Anda perwira yang paling tulus kepada Allah dan Rasul serta taat kepada pemimpin Anda. Ia adalah orang yang paling bersih hati dan yang paling berakal, yaitu orang yang tidak cepat marah, menerima permohonan maaf, ramah kepada orang-orang lemah, menghindar dari orang-orang kuat, mampu mengendalikan diri dalam menghadapi kekerasan, dan tetap gigih meski dalam kelemahan.

Akrabkan diri Anda dengan orang-orang yang berakhlak mulia, keturunan-keturunan baik, keluarga-keluarga terhormat, orang-orang yang berpengalaman baik, lalu orang-orang yang tegar dan pemberani, orang-orang yang bermurah hati dan berlapang dada, karena mereka semua itu adalah untaian kemuliaan dan benih-benih kebajikan.

Perhatikanlah urusan-urusan hidup mereka sebagaimana orang tua memperhatikan anak-anaknya. Janganlah menganggap sesuatu yang mengukuhkan kehormatan mereka sebagai keterlaluan dari apa yang pantas mereka terima. Janganlah menyepelekan kelembutan sikap –walaupun secuil- yang hendak Anda tunjukkan kepada mereka, karena hal ini akan mendorong mereka untuk menumpahkan kesetiaan mereka kepada Anda, dan menumbuhkan kesan baik mereka tentang Anda.

Janganlah Anda mengacuhkan urusan-urusan remeh mereka; dengan mengalihkan kepedulian kepada hal-hal penting mereka, karena sekecil apapun kepedulian Anda merupakan kelegaan yang berarti bagi mereka, begitu pula kepedulain besar Anda adalah kepuasaan yang pasti mereka perlukan.

Hendaknya dari angkatan militer yang tinggi kedudukannya di sisi Anda ialah panglima yang membagi rata bantuannya kepada para tentara dan mengeluarkan sebagian kekayaannya untuk mencukupi mereka dan mencukupi sanak keluarga yang tengah mereka tinggalkan, sehingga konsentrasi mereka terfokus pada jihad melawan musuh. Karena, rasa kasih Anda kepada mereka akan menjadikan jiwa-jiwa mereka cinta kepada Anda.

Sesungguhnya buah hati terbesar bagi para pemimpin ialah tegaknya keadilan di negeri-negeri dan tampaknya kecintaan rakyat. Namun, kecintaan mereka itu hanya akan tampak tatkala hati-hati mereka bersih. Dan, ketulusan mereka hanya akan terwujud jika mereka melindungi pemimpin, dan tidak menanggung beban berat dari pemerintahannya, serta tidak menunggu-nunggu akhir masa jabatannya.

Maka dari itu, lapangkanlah harapan dan cita-cita rakyat, biasakan berterima kasih yang sepatutnya kepada meraka, dan pujilah apa yang dilakukan oleh pekerja-pekerja giat di antara mereka, karena banyaknya menyebut perbuatan-perbuatan baik mereka menggugah para pemberani dan membangkitkan orang-orang yang malas, insya-Allah.

Hargailah usaha setiap orang dari mereka, janganlah menisbahkan usaha seseorang pada orang lain, jangan pula memberi imbalan kecil di bawah kualitas kinerjanya. Kedudukan tinggi seseorang hendaklah tidak membuat Anda menganggap besar perbuatannya yang kecil, jangan pula kedudukan rendah seseorang menyebabkan Anda menganggap kecil perbuatannya yang besar.

Kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya segala perkara dan urusan yang menyesatkan dan mengacaukan penilaian Anda. Sesungguhnya Allah telah berfirman kepada manusia yang menghendaki petunjuk-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan taatilah pemimpin-pemimpin kamu, dan apabila kamu berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian (QS. 4:59).

Kembalikan kepada Allah berarti bersandar pada ayat-ayat Kitab-Nya yang jelas dan tegas, dan kembalikan kepada Rasul berarti mengikuti sunah beliau yang lengkap dan pemersatu.

2. Tentang Hakim

Untuk menyelesaikan perkara di antara rakyat, pilihlah orang yang paling utama menurut pandangan Anda; dimana perkara-perkara (yang datang kepadanya) tidak menjemukannya, pertikaian tidak membuatnya keras kepala, tidak berlarut-larut dalam kesalahan, tidak merasa berat dalam menerima kebenaran kapan saja ia menemukannya, tidak menyandarkan dirinya pada keserakahan, dan tidak merasa puas dengan data-data terbatas (tentang suatu perkara) tanpa menyelidikinya secermat mungkin. Ia adalah orang yang paling waspada terhadap ketidakjelasan, yang paling menjunjung bukti-bukti, yang paling seksama menghadapi pengaduan penuntut, yang paling sabar memeriksa perkara, dan yang paling tegas menjatuhkan putusan tatkala perkara itu terbukti jelas. Ia adalah orang yang tidak terpengaruh oleh sanjungan, dan tidak termakan oleh penipuan. Orang semacam ini sungguh sedikit.

Kemudian, Anda harus selalu mengawasi keputusan-keputusannya, dan berikan kepadanya gaji yang banyak, yang menutup segala peluang berdalih (untuk berlaku tidak adil), dan yang mengurangi keterikatannya kepada orang lain. Tempatkan dia pada suatu kedudukan di sisi Anda yang tidak dinanti-nantikan oleh pejabat pemerintahan Anda, sehingga dia terlindung dari sasaran ambisi orang-orang elit di sekitar Anda.

Maka, perhatikanlah hal di atas ini sepenuh-penuhnya, karena sebelumnya agama ini pernah dijadikan alat di tangan orang-orang jahat; tatkala hawa nafsu menungganginya dan memperjualbelikannya demi keuntungan duniawi.

3. Pejabat Pemerintahan

Perhatikan pula urusan para pejabat Anda. Serahkan kepada mereka tugas-tugas sebagai ujian untuk mereka, dan janganlah sekali-kali menunjuk seseorang karena hubungan emosional atau semenak-menak, karena kedua hal ini merupakan induk dari segala macam kedzaliman dan pengkhianatan.

Untuk jabatan-jabatan yang lebih tinggi, pilihlah dari antara mereka orang-orang yang berpengalaman, mempunyai rasa malu, dan dari keluarga yang saleh, yang telah lebih dahulu masuk Islam, karena orang-orang seperti itu memiliki kemulian akhlak yang tinggi dan kehormatan yang amat bersih. Mereka sangat tidak cenderung kepada keserakahan dan ambisi, pandangan mereka lebih cermat dalam memperhitungkan akibat segala urusan.

Berikanlah kepada mereka rezeki (gaji) yang banyak, karena hal ini merupakan kekuatan untuk mereka agar menjaga diri mereka tetap bersih, dan agar mereka tidak menggunakan dana yang berada di tangan mereka, serta sebagai ancaman atas mereka apabila mereka melanggar perintah Anda atau menyalahgunakan amanah Anda.

Anda pun harus mengawasi pekerjaan-pekerjaan mereka, dan gunakan orang-orang yang jujur dan setia untuk melaporkan tentang ihwal mereka. Karena, pengawasan rahasia Anda atas kerja dan tugas mereka akan mendesak mereka untuk menerapkan rasa tanggung jawab dan bersikap ramah kepada rakyat.

Berhati-hatilah terhadap para pegawai pemerintahan. Apabila seseorang di antara mereka mencoba melakukan penyelewengan sebagaimana laporan dari semua agen rahasia Anda, maka itu sudah cukup dijadikan sebagai bukti terhadapnya, lalu Anda harus menjatuhkan hukuman fisik atasnya serta memulihkan apa yang telah diselewengkannya. Kemudian, Anda menempatkan dia di tempat yang hina, masukkan dia ke dalam daftar pengkhianat, dan gantungkan kalung kebusukannya di dadanya.

4. Administrasi Perpajakan

Uruslah perpajakan sedemikian rupa sehingga memakmurkan orang-orang yang wajib bayar, karena dalam kelancaran pajak dan kemakmuran para pembayarnya terletak kemakmuran semua orang, bahkan selain mereka tidak akan menjadi makmur tanpa mereka. Karena, semua orang bergantung kepada pajak dan para pembayarnya.

Hendaknya Anda lebih mencurahkan perhatian pada pengolahan tanah dari pada pengumpulan pajak, karena hanya dengan pengolahan tanahlah pajak itu bisa diperoleh, dan barang siapa menuntut pajak tanpa mengusahakan pengelolaan tanah, maka ia telah merusak negeri, menyengsarakan rakyat, dan pemerintahannya hanya akan bertahan sejenak.

Jika mereka mengeluh tentang beratnya pajak, wabah (pertanian), kekurangan air, kelimpahan air, atau tentang suatu perubahan pada kondisi tanah karena banjir atau kekeringan, Anda harus menurunkan nilai pajak sampai pada batas yang dengannya kehidupan mereka diharapkan menjadi baik. Dan jangan segan-segan melakukan sesuatu yang meringankan beban mereka, karena hal itu adalah infestasi yang akan mereka kembalikan kepada Anda dalam bentuk kemakmuran negeri dan kemajuan negara Anda, di samping mendapatkan pujian baik dari mereka serta kebahagiaan karena menebarkan keadilan di tengah mereka.

Anda dapat mengandalkan sisa kekuatan mereka melalui infestasi yang Anda lakukan pada mereka, yakni pelayanan dan kemudahan untuk mereka. Anda pun dapat merebut kepercayaan mereka pada keadilan yang Anda usahakan dengan cara bersikap lembut terhadap mereka. Maka itu, jika terjadi krisis sedemikian rupa sehingga Anda memerlukan bantuan mereka, niscaya mereka akan menanggung beban krisis dan bantuan itu dengan senang hati. Karena, kemakmuran dan pembangunan dapat memikul apa saja yang Anda bebankan kepada rakyat.

Sesungguhnya kerusakan sumber dan lahan terjadi hanya karena kemiskinan para pengolahnya, sementara para pengolah itu sendiri menjadi miskin hanya karena konsentrasi para pemimpin pada pengumpulan harta kekayaan, kecemasan mereka akan kelanggengan (jabatan mereka), dan kekurangan mereka dalam mengambil pelajaran dari pengalaman dan peringatan sejarah.

5. Jawatan Administrasi

Kemudian, Anda juga harus memberikan perhatian khusus terhadap para pegawai kesekretariatan Anda. Tunjuklah orang yang terbaik di antara mereka untuk mengurusi urusan-urusan Anda. Percayakan surat-surat Anda yang memuat kebijakan dan rahasia Anda kepada orang yang baik akhlaknya; yang tidak terbujuk oleh kehormatan, sehingga ia tidak berkata menentang Anda di hadapan khalayak. Jangan sampai ia lalai dalam menerima atau menyampaikan pesan Anda, sehingga menyebabkan Anda tidak mengetahui apa yang dikeluarkannya serta tidak memberikan jawaban dan balasan yang tepat atas nama Anda. Jangan sampai ia merusak kontrak yang menguntungkan Anda, atau tak berdaya dalam menangani kontrak yang merugikan Anda. Jangan sampai ia tidak tahu posisi dan nilai kedudukan dirinya dalam semua urusan, karena orang yang jahil akan nilai dirinya niscaya akan lebih jahil akan nilai orang lain.

Lalu, penunjukkan Anda akan para pegawai ini tidak boleh berdasarkan intuisi dan firasat, atau rasa puas dan prasangka baik Anda semata, karena orang-orang bisa memancing intuisi dan firasat para pemimpin dengan cara-cara yang dapat mengambil hati dan memberikan pelayanan yang baik, padahal tidak ada di dalamnya sedikitpun ketulusan dan kejujuran. Oleh sebab itu, Anda harus menguji mereka dengan apa yang telah mereka lakukan di bawah orang-orang saleh sebelum Anda. Berikan kepercayaan Anda kepada orang yang mempunyai nama baik di mata rakyat, dan kepada orang yang paling masyhur dengan kejujurannya, karena yang demikian ini merupakan bukti atas ketulusan Anda kepada Allah dan kepada rakyat yang dipimpin Anda.

Tetapkan seorang kepala bagi setiap bagian urusan. Seorang kepala harus mampu mengatasi urusan-urusan besar, dan tidak dibingungkan oleh kesibukan dan tumpukan kerja.

Bilamana ada kebusukan pada para sekretaris Anda lalu Anda sendiri mengacuhkannya, Andalah yang bertanggungjawab terhadap kebusukan tersebut.

6. Perdagangan dan Industri

Sekarang, terimalah arahan tentang pedagang dan pengusaha. Berikan kepada mereka nasehat yang baik, apakah mereka menetap (bertoko), berniaga dari satu negeri ke negeri lain, atau pekerja keras. Sebab, mereka adalah sumber keuntungan dan sarana penyediaan barang-barang yang berguna. Mereka membawa (import) barang-barang itu dari negeri-negeri nan jauh dan terpencil, melalui darat maupun laut, padang dan bukit, dimana orang-orang tidak bisa saling bertemu di pusat-pusat perdagangan negeri-negeri itu. Mereka pun tidak berani pergi ke pusat-pusat itu, karena mereka (suka) selamat, aman dari penipu, dan damai dari penjarahan. Maka itu, berikanlah perhatian pada urusan mereka, baik di saat mereka berada di sisi Anda ataupun di saat mereka berada di perbatasan wilayah Anda.

Akan tetapi, ingatlah bahwa banyak dari mereka menunjukkan perlakuan yang sangat menyulitkan, dan begitu kikir. Mereka menimbum pangan demi meraih keuntungan dan menjualnya dengan harga yang mahal. Hal ini sangat menyusahkan banyak orang, dan sebuah aib bagi pemimpin. Cegahlah mereka dari menimbun, karena Rasulullah (saw.) telah melarangnya. Perniagaan harus penuh dengan kemudahan; timbangannya harus adil dan harga-harga tidak merugikan penjual dan pembeli. Dan, setelah Anda sampaikan peringatan, jika seseorang menentang perintah Anda, lalu melakukan kejahatan penimbunan, maka jatuhkanlah hukuman terhadapnya sebagai pelajaran, tetapi jangan berlebih-lebihan.

7. Kaum Miskin

Hati-hatilah! Takutlah kepada Allah tentang ihwal kaum miskin yang tidak mempunyai cukup usaha, yang tak punya dan tak berdaya. Di antara mereka terdapat orang yang menanggung sengsaranya secara diam-diam, dan orang-orang yang mengemis. Lindungilah hak-hak mereka, sebagaimana Allah yang telah menuntut Anda untuk melindungi mereka. Untuk mereka sisakan bagian dari anggaran negara (baitul mal), dan bagian dari hasil bumi dan pertanian yang diperoleh sebagai zakat di setiap area, karena di dalamnya -yang jauh maupun yang dekat- mereka mempunyai bagian yang sama.

Hak-hak semua orang dari kaum ini telah diamanatkan pada Anda. Karena itu, jangan biarkan Anda dipisahkan jauh oleh kemewahan apa pun dari mereka. Udzur Anda tidak akan diterima tatkala mengabaikan hal-hal kecil demi konsentrasi Anda pada urusan-urusan besar. Maka, janganlah Anda mengabaikan mereka, dan jangan palingkan wajah Anda dari mereka karena kesombongan.

Perhatikanlah urusan orang-orang dari mereka yang segan mendekati Anda karena penampilan mereka yang tak enak dipandang atau dipandang rendah oleh orang-orang. Angkatlah orang-orang yang terpercaya, takwa dan sederhana, untuk (mengurusi) mereka. Mereka ini harus memberitahukan kepada Anda keadaan para fakir-miskin. Kemudian perlakukan mereka (fakir-miskin) dengan rasa tanggung jawab kepada Allah pada hari Anda akan menemui-Nya, karena bagian rakyat inilah, lebih daripada selainnya, yang paling patut menerima perlakukan yang adil, sementara hak-hak orang lain pun harus Anda penuhi sebagai tanggung jawab kepada Allah.

Uruslah para yatim-piatu dan orang-orang berusia lanjut yang tidak mempunyai sumber (nafkah) dan tidak mau meminta-minta. Ini berat bagi para pemimpin. Karena memang semua hak itu berat, dan Allah meringankannya bagi orang-orang yang mendambakan (kebahagiaan) akhirat. Dengan demikian, mereka akan tabah menanggung kesulitan dan menjadi yakin akan kebenaran janji Allah kepada mereka. Dan tetapkanlah waktu-waktu untuk mendengarkan keluhan-keluhan mereka, dimana Anda mengkhususkan diri untuk mereka. Dan duduklah bersama mereka, sehingga Anda merendah diri karena Allah, Dzat yang menciptakan Anda.

Untuk itu, Anda harus menjauhkan tentara dan para pembantu Anda, seperti para ajudan, pengawal dan polisi, supaya siapa saja dari mereka dapat berbicara dengan Anda tanpa lagi merasa cemas dan kuatir, karena saya pernah mendengar Rasulullah (saw.) bersabda lebih dari sekali bahwa “Kaum di kalangan Anda dimana hak kalangan lemah tidak dipenuhi oleh kalangan yang kuat, tidak akan mencapai kesucian”.

Bersabarlah atas kekakuan dan ketidakmampuan mereka berbicara. Jauhkan diri Anda dari kepicikan dan kesombongan, karena dengan cara inilah Allah akan membentangkan rahmat-Nya di hadapan Anda, dan memberikan ganjaran kepada Anda atas ketaatan kepada-Nya. Apa saja yang dapat Anda berikan kepada mereka, berikanlah dengan ramah. Tetapi, bila Anda hendak menolak, tolaklah dengan baik dan tanpa berdalih.

Kemudian, ada hal-hal tertentu yang harus Anda lakukan sendiri. Umpamanya, menjawab para pejabat Anda bilamana sekretaris tidak mampu melakukannya, atau untuk menangani keluhan-keluhan bila para pembantu Anda tak dapat melakukannya. Selesaikanlah pekerjaan tepat pada jadwalnya, karena setiap hari mendatangkan pekerjaan sendiri.

Hubungan dengan Tuhan

Tentukanlah waktu-waktu terbaik dan termulia yang akan Anda habiskan antara Anda dengan Allah Yang Maha Agung, walaupun memang semua waktu itu sama saja di sisi Allah jika ada niat yang tulus dan melindungi rakyat.

Hendaknya usaha mengikhlaskan diri (demi Allah dan) kepada agama ialah mendirikan kewajiban-kewajibannya. Maka itu, persembahkan kepada Allah sebagian dari kegiatan fisik anda di waktu malam dan siang. Dan, penuhilah apa saja yang mendekatkan diri Anda kepada-Nya secara sempurna, tanpa cacat atau kekurangan. Usahakan pengabdian ini sekuat fisik Anda. Bila Anda memimpin salat Jamaah, janganlah terlalu lama atau malah terlalu cepat, karena di antara rakyat itu ada orang sakit atau orang yang mempunyai keperluan mendesak. Saya pernah bertanya (kepada Rasulullah saw.) tatkala diperintahkan untuk berangkat ke Yaman, “Bagaimana saya harus memimpin rakyat solat di sana?”, beliau menjawab, “Lakukanlah salat sebagaimana solat-nya orang yang paling lemah di antara mereka, dan sayangilah orang-orang yang beriman!”

Bersama Rakyat

Janganlah Anda berlama-lama menjauhkan diri dari rakyat, karena pengucilan diri pemimpin dari rakyat adalah semacam pandangan sempit dan menyebabkan ketidaktahuan tentang keadaan mereka. Pengucilan diri dari mereka mencegah pemimpin dari mengetahui ihwal urusan dan hidup mereka, dan sebagai akibatnya ia akan memandang hal-hal besar menjadi kecil dan hal-hal kecil menjadi besar, hal-hal yang baik menjadi buruk dan hal-hal buruk menjadi baik, kebenaran dicampur aduk dengan kebatilan. Bagaimanapun, pemimpin itu layaknya manusia biasa; ia tidak akan dapat mengetahui hal-hal yang disembunyikan rakyat dari pandangannya.

Tak ada tanda-tanda besar di wajah kebenaran yang dengannya bisa dipilah dari berbagai macam ungkapan kejujuran dari kebatilan. Dalam hal ini, Anda tidak keluar dari dua kelompok: sebagai seorang pemurah dalam memberikan hak-hak, dan kalau demikian maka mengapa Anda bersembunyi padahal Anda melaksanakan kewajiban dan perbuatan baik Anda? Atau, Anda sebagai korban kekikiran, dalam hal ini maka alangkah cepatnya Anda menahan rakyat untuk tidak menuntut Anda, mengingat mereka telah putus asa dan mengeluhkan perlakuan (kikir) Anda. Padahal, begitu banyak keperluan rakyat kepada Anda yang tidak membebani Anda, seperti keluhan mereka terhadap kedzaliman atau penuntutan keadilan dalam suatu perkara.

Selanjutnya, di sekeliling pemimpin terdapat orang-orang khusus dan orang-orang dekat. Pada mereka ada penyalahgunaan, kesombongan, dan perlakuan yang tidak adil. Dalam hal ini, Anda harus menghancurkan benih-benih keburukan mereka dengan cara memerangi sebab-sebab kemunculannya. Janganlah menghadiahkan sepetak tanah atau lahan pun kepada mereka, atau kepada para pendukung Anda. Jangan sampai mereka mengharapkan dari Anda kepemilikan tanah yang mungkin menimbulkan kerugian kepada orang-orang sekitarnya sekaitan dengan masalah pengairan dan pelayanan umum, yang bebannya dipikulkan kepada orang lain, sehingga mereka dapat menuai hasil ruah, sementara Anda tidak. Keburukan ini akan merugikan Anda di dunia ini juga di akhirat.

Berikan hak-hak kepada pemiliknya masing-masing, apakah ia orang dekat atau orang jauh dari Anda. Dalam rangka kewajiban ini, Anda harus tabah dan waspada, sekalipun hal itu mungkin melibatkan sanak famili dan sahabat-sahabat Anda, serta ingatlah selalu akan dampak positifnya di balik beratnya kewajiban itu, dampak positif itu akan membawa kemuliaan.

Apabila rakyat mencurigai Anda berlaku sewenang-wenang, jelaskan alasan-dan udzur Anda kepada mereka, dan luruskan kecurigaan mereka dengan penjelasan Anda, karena hal ini akan berarti pembinaan bagi jiwa Anda dan tenggang rasa kepada rakyat, sedangkan penjelasan itu akan memenuhi kepentingan Anda dalam membangun mereka di atas kebenaran.

Janganlah Anda menolak tawaran damai yang diajukan oleh musuh Anda sementara terdapat keridhaan Allah di dalamnya, karena perdamaian memberikan ketenangan kepada tentara Anda dan melegakan kekuatiran Anda, serta keselamatan untuk negeri Anda. Namun, hati-hatilah sebesar mungkin terhadap musuh pasca perdamaian, karena seringkali mereka menawarkan perdamaian hanya untuk memanfaatkan kelengahan Anda. Karena itu, waspadalah dan curigailah prasangka baik Anda dalam hal ini.

Apabila Anda mengadakan suatu kesepakatan antara Anda dan musuh Anda atau melakukan perjanjian dengannya, maka penuhilah kesepakatan Anda dan tunaikanlah janji Anda dengan jujur. Jagalah perjanjian itu dengan segenap jiwa Anda. Karena, di antara kewajiban dari Allah, tak ada sesuatu yang paling mempersatukan rakyat –dengan berbagai macam keinginan dan pandangan mereka- selain komitmen pada penepatan janji. Di samping kaum muslimin, bahkan kaum kafir pun mentaati perjanjian di antara mereka, karena mereka menyadari resiko pelanggarannya. Oleh karena itu, janganlah menipu musuh Anda dan melanggar perjanjian, karena tak ada yang gegabah di hadapan Allah kecuali orang jahil dan orang celaka. Allah membuat kesepakatan dan janji-Nya (sebagai) tanda keamanan yang telah disebarkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya melalui rahmat-Nya dan suatu suaka di mana mereka tinggal dalam kekuatannya dan mencari manfaat dari perlindungannya. Oleh karena itu, tak boleh ada penipuan, kelicikan atau kecurangan di dalamnya.

Janganlah mengadakan perjanjian yang memungkinkan perbedaan tafsiran, dan janganlah bersandar pada kata-kata yang samar setelah penegasan dan pengukuhan (perjanjian itu). Apabila suatu perjanjian Allah melibatkan Anda dalam kesulitan, janganlah Anda mencari-cari dalih untuk membatalkannya tanpa kebenaran, karena memikul kesulitan yang Anda harapkan jalan keluarnya adalah lebih baik daripada pelanggaran yang Anda takuti resikonya. Dan hendaklah Anda takut bahwa Anda akan dituntut Allah untuk pertanggungjawabannya, dan Anda tak akan mampu mendapatkan perlindungan dari selain-Nya di dunia ini dan di akhirat.

Hati-hatilah terhadap perkara darah, hindarilah pertumpahan darah tanpa alasan yang benar, karena tak ada yang lebih mengundang azab Allah, lebih membawa akibat terburuk, dan lebih efektif dalam mendatangkan krisis dan mempercepat ajal, daripada menumpahkan darah tanpa alasan yang benar.

Pada Hari Pengadilan, Allah Yang Maha Suci akan memulai pengadilan-Nya di antara manusia dengan perkara bunuh membunuh yang mereka lakukan. Maka itu, janganlah memperkuat pemerintahan Anda dengan menumpahkan darah, karena hal ini akan melemahkan dan menghinakan kekuasaan Anda, malah dapat meruntuhkan pemerintahan Anda dan mengalihkannya kepada yang lain.

Anda tak dapat mengajukan dalih apapun di hadapan Allah atau di hadapan saya atas pembunuhan yang disengaja, karena di dalamnya mesti ada tuntutan dan pembalasan. Apabila Anda terlibat di dalamnya karena kekeliruan, dan berlebihan dalam menggunakan cambuk atau pedang, atau keras dalam menjatuhkan hukuman, dimana terkadang bahkan satu kepalan tinju atau pukulan yang lebih ringan menyebabkan kematian, maka besarnya kewenangan dan pemerintahan Anda tak boleh mencegah Anda dari membayar tebusan darah (diyah) kepada ahli waris yang terbunuh itu.

Jauhilah sifat mengagumi diri dengan mengandalkan apa yang tampak baik pada diri Anda sendiri dan senang akan sanjungan yang berlebih-lebihan, karena hal ini merupakan salah satu kesempatan yang paling diandalkan setan untuk menghapus amal-amal baik dari orang bajik.

Janganlah Anda menunjuk-nunjukkan jasa Anda kepada rakyat karena Anda telah berbuat baik kepada mereka, atau memuji usaha Anda sendiri, atau berjanji lalu melanggarnya, karena memamerkan jasa akan menghancurkan kebaikan, membanggakan diri akan membuang cahaya kebenaran, dan pelanggaran janji akan mendatangkan kebencian Allah dan (kebencian) rakyat.

Allah Yang Maha Suci berfirman: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

Janganlah tergesa-gesa melakukan sesuatu sebelum waktunya, mengulurnya dari waktu yang semestinya, bersikeras atasnya sementara ketepatan tindakan tidak diketahui, atau melemah tatkala (perlunya pekerjaan itu) menjadi jelas. Lakukanlah setiap sesuatu pada tempatnya yang semestinya, dan lakukan setiap pekerjaan pada waktunya yang tepat.

Janganlah gunakan untuk diri Anda sendiri apa-apa yang di dalamnya rakyat mempunyai hak yang sama, dan janganlah Anda mengabaikan hal-hal yang telah menjadi jelas dengan dalih bahwa Anda bertanggung jawab bagi orang lain.

Pendek kata, tirai-tirai dari semua perkara dan urusan akan disingkapkan dari padangan Anda dan Anda akan dituntut untuk melakukan pemulihan kepada orang-orang yang tertindas. Kendalikanlah rasa prestise Anda, setiap ledakan kemarahan, kekuatan tangan Anda, dan tajamnya lidah Anda. Jagalah terhadap semua itu dengan menjauhi ketergesa-gesaan dan dengan menangguhkan tindakan keras sampai marah Anda mereda dan mendapatkan lagi kendali diri Anda. Anda tak dapat menahan diri dari hal ini kecuali apabila Anda mengingatkan diri Anda, bahwa Anda akan kembali kepada Allah.

Perlulah Anda mengingat keadaan yang berlaku pada orang-orang yang mendahului Anda, baik pemerintah, tradisi besar atau suatu sunah dari Nabi kita (saw.), atau perintah wajib yang terkandung dalam Kitab Allah. Kemudian, Anda harus mengikutinya sebagaimana Anda melihat kami berbuat menurutnya, dan Anda harus berusaha mengikuti apa yang telah diperintahkan kepada Anda dalam dokumen ini, dimana saya telah melengkapi hujah saya atas Anda, supaya apabila hati Anda maju kepada hawa hafsunya Anda tidak akan mempunyai alasan yang mendukungnya.

Kepada Allah Yang Maha Kuasa Saya memohon dengan rahmat-Nya yang tak terbatas, dengan keagungan kekuasaan-Nya dalam memberikan kecenderungan yang baik, semoga Dia mendorong saya dan Anda untuk mengajukan hujah yang jelas di hadapan-Nya dan di hadapan hamba-hamba-Nya dalam suatu cara yang mungkin menarik keridhaan-Nya bersama dengan pujian yang baik di kalangan manusia, kesan yang baik dalam negara, peningkatan dalam kemakmuran dan peninggian kemuliaan, dan semoga Dia memperkenankan kepada saya dan Anda untuk menjalani kematian berkebajikan dan kematian syahid. Sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Akhirnya, semoga Allah mencurahkan salam kepada Rasulullah dan Ahlulbaytnya yang suci.

Tokoh Superior

 

Ali Akbar Parvaresh

“(Sambil mengucapkan:) “Salamun `alaikum bima shabartum” (Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”.[1]

Dalam buku “Shaut Al-‘Adalah Al-Insaniyah” (Suara Keadilan Insani) disebutkan sebuah buku berjudul “Ihtidhariyat Wa Al-Qabriyat” yang secara kaedah merupakan buku terbaru dalam bidangnya. Dalam buku tersebut disebutkan tokoh-tokoh terkenal dunia hingga masa itu, abad keempat dalam menghadapi kematian reaksi apa yang mereka tampakkan dari diri mereka sendiri, dan selanjutnya buku tersebut menyimpulkan bahwa di antara kalimat-kalimat orang-orang besar dalam berhadapan dengan kematian, kalimat terindah dan teragung adalah kalimat milik Ali bin Abi Thalib as yang diucapkan pada detik-deik terakhir umur beliau as ketika kepala beliau as pecah: “Fuztu Wa Rabbi Al-Ka’bah” (Aku beruntung demi Tuhan pemilik Ka’bah).

Kalimat ini tersusun dari satu kata kerja dan satu sumpah yang dengan memohon pertolongan dari ruh Imam Ali as kami akan membahas sekelumit dalam masalah ini.

Sumpah “Demi Tuhan pemilik Ka’bah” dengan sendirinya menentukan arah perbuatan Amirul Mukminin as yang pada hakekatnya menuju kepada Tuhan Ka’bah, untuk-Nya dan di jalan-Nya. Mungkin hal itu sendiri merupakan sebuah isyarat lembut bahwa syahadah beliau as sama seperti wiladah (kelahiran) menghadap kepada Ka’bah, dan menurut ucapan Abdul Fatah Abdul Maksud yang memiliki kata-kata bagaikan penyair: “Ka’bah adalah kiblat ibadah, wiladah Amirul Mukminin as terjadi di sana sehingga arah wilayah juga menuju ke sana”.

Berkenaan dengan bagian pertama yaitu “Aku beruntung”, pertama-tama kami membawakan sebuah prolog: Anda sendiri juga pernah mengalami bahwa setiap orang dalam menghadapi kematian akan menampakkan sebuah kalimat walaupun hal tersebut tidak diucapkan. Kalimat ini tanpa penentuan dan penetapan yang tersembunyi di dalam jiwanya tidaklah demikian bahwa hal tersebut dapat dilatih dan ditampakkan secara buatan. Kalimat yang pada waktu itu keluar, pada hakekatnya adalah simbol kumpulan kehidupan mausia dan bentuk jiwa manusia. Sebuah bentuk jiwa yang beramal selama bertahun-tahun dan pada detik tersebut tampak dalam format sari pemikiran, ide, amal dan kumpulan kehidupan manusia, oleh karena itu hal tersebut tidak dapat dibuat-buat dengan latihan sebelumnya.

Jika Anda saksikan seseorang pada detik-detik kematian, misalnya berteriak: “Wahai ibuku”, maka jelas bahwa ia adalah sebuah kumpulan kehidupan emosional. Orang lain berucap sebutar harta bendanya dan menunjukkan bahwa jiwa materialis telah menerobos dalam seluruh wujudnya. Dan yang lain menghadapinya dengan bentuk lain.

Kalimat Amirul Mukminin Ali as merupakan sebuah kalimat teragung yang menjelaskan seseorang dalam menghadapi kematian, dan pada hakekatnya adalah garis besar haluan kehidupan, amal, pemikiran, ide dan keberadaannya.

Untuk mengkaji lebih banyak penggunaan kata ini kita merujuk kepada al-Quran sehingga dapat melihat siapakah orang-orang “beruntung” yang dianggap oleh al-Quran. Kita meyakini bahwa ketika Amirul Mukminin as berkata: “Aku beruntung”, al-Quran menjadi saksi atasnya. Al-Quran, hadis dan sunnah adalah saksi atas raihan-raihan auliya’ Allah. Mereka adalah obyek kesaksian sang saksi (al-Quran).

Dalam al-Quran “Fauz” (keberuntungan) dibahas dalam dua sudut pandang:

1- Al-Quran menyebutkan beberapa amal dan merekomendasikannya sebagai “fauz”.

2- Al-Quran menunjukkan hasil dan buah sebagian amal sebagai “fauz” bukan amal-amal itu sendiri.

Berkenaan dengan hal pertama kita mendapati ayat-ayat:

“Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat keberuntungan”.[2]

Yakni ketaatan kepada Allah swt dan Rasul saw, takut dan ketakwaan kepada Allah swt, amal-amal ini sendiri adalah “keberuntungan”. Oleh karena itu, ketika Amirul Mukminin as berkata: “Aku telah beruntung”, artinya kumpulan kehidupanku adalah ketaatan kepada Allah swt dan Rasul saw, ketakwaan dan takut kepada-Nya. Ayat lain berbunyi: “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat keberuntungan”.[3] Dalam ayat ini, iman, hijrah, jihad di jalan Allah swt dengan harta benda dan jiwa terhitung “keberuntungan” dan pengucap kalimat “Aku telah beruntung” meyakini ayat ini sebagai saksi atas amal, pemikiran dan kumpulan kehidupannya dan karena esensi iman berada di dalam jiwanya, jihad dan hijrah dalam kumpulan amalnya, maka beliau as mengucapkan kalimat tersebut ketika meninggal.

Dalam ayat lain disebutkan: “Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang beruntung”.[4] Ayat tersebut melihat orang-orang yang sabar berada dalam ketenangan keberuntungan. Orang-orang yang bersabar dalam menghadapi ejekan-ejekan, olok-olok dan permainan musuh dan dengan senjata ini mereka mengarungi hal-hal yang terjadi maka mereka akan mencapai “keberuntungan”.

Ayat lain menegaskan: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah keberuntungan yang besar”[5] dan ayat selanjutnya: “Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat (untuk berjihad atau menuntut ilmu pengetahuan) atau yang berpuasa, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu”.[6] Di dalam dua ayat ini, atensi berada pada masing-masing aspek “keberuntungan”, aspek amal itu sendiri dan juga aspek hasil dan buah dari amal. Dari sisi lain, orang-orang yang masuk dalam sebuah transaksi yang Allah swt sebagai pembeli, mukminin sebagai penjual, barang transaksi adalah jiwa dan harta orang-orang mukmin, surat bukti transaksi adalah Taurat, Injil dan al-Quran, harga transaksi adalah surga dan akhir transaksi adalah “keberuntungan”, maka demikianlah, hasil amal mereka sampai kepada “keberuntungan”.

Dan dalam kelanjutan ayat yang menyebutkan kriteria-kriteria pelaku transaksi yaitu orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat (untuk berjihad atau menuntut ilmu pengetahuan) atau yang berpuasa, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah diperkenalkan sebagai penyandang kriteria “keberuntungan” tersebut dengan kata sambung yang terdapat dalam konteks ayat.

Dengan demikian Imam Ali as dengan kalimat “Aku telah beruntung demi Tuhan pemilik Ka’bah” mengambil saksi ayat yang dalam kehidupannya, adalah orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat (untuk berjihad atau menuntut ilmu pengetahuan) atau yang berpuasa, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah dan hal ini menentukan catatan kehidupan beliau as.

Ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya serta yang lainnya yang silahkan Anda rujuk sendiri menjelaskan surat catatan kehidupan beliau as sebagai ketaatan kepada Allah swt dan Rasul-Nya, takut, ketakwaan, hijrah, jihad, iman, ibadah, sabar dan…

Sisi kedua adalah ayat-ayat yang menganggap hasil dan buah amal sebagai “keberuntungan”: “Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung”.[7] Sebuah pekerjaan yang hasilnya adalah jauh dari api neraka dan masuk ke dalam surga adalah “keberuntungan” itu sendiri.

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku. Barang siapa yang dijauhkan azab daripadanya pada hari itu, maka sungguh Allah telah memberikan rahmat kepadanya. Dan itulah keberuntungan yang nyata”.[8] Hasil berpaling dari durhaka kepada Allah swt adalah rahmat dan “keberuntungan” nyata dari Allah swt.

“Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar”.[9] Di sini juga hasil amal berakhir dengan “keberuntungan” yang besar. Memperoleh rahmat Allah swt, ketenangan sempurna, derajat suci surga ‘And dan meraih ridha Ilahi adalah hasil dan buah amal dan termasuk “keberuntungan”.

Dengan menengok cepat kepada kumpulan ayat-ayat al-Quran yang menjadi saksi atas Ali bin Abi Thalib as, kita dapat memahami bahwa beliau as ketika mengucapkan “Aku telah beruntung”, mengetahui persis penggunaan al-Quran dari kalimat, dan menjelaskannya dengan memperhatikan kepada konsepsi-konsepsinya.

Bagaimanapun juga lafad dengan sendirinya tanpa melihat kepada konsepsi-konsepsinya tidak memiliki keistimewaan. Lafad “air” tidak dapat menghilangkan dahaga seorangpun yang kehausan. Dikisahkan bahwa telah diadakan sebuah seminar besar terdiri dari 102 orang tokoh besar yang sisi persamaan dalam pembahasan mereka berkenaan dengan “air”, dan masing-masing melontarkan sebuah aspeknya dan mereka memohon waktu selama dua tahun untuk kajian mereka dan mereka mulai mengkaji dan seluruh ilmuwan menyatakan ketidakmampuan mereka. Singkatnya, ceramah-ceramah dan buku-buku berkenaan dengan air tidak dapat menghilangkan rasa dahaga. Sebuah contoh dinukil dari almarhum Syah Abadi bahwa beliau berkata: Bila di antara Anda dan gelas air terdapat sebuah tabir tipis sementara Anda dalam kondisi dahaga dan tidak mengetahuinya, maka terkadang Anda akan mengingkari air.

Ringkasnya, tanpa berlebih-lebihan, berkenaan dengan Amirul Muminin Ali as sedemikian rupa beliau as memiliki keagungan sehingga pemujinya -sesuai dengan pepatah “Pemuji matahari adalah yang banyak memujinya sendiri- memuji pengetahuan-pengetahuannya sendiri dan kami lebih kecil untuk memuji junjungan kami Amirul Muminin Ali as.

Akan tetapi kami menginginkan beliau as memiliki peran dalam kehidupan kami, dan menyuplai makanan sebatas kemampuan kami sendiri dan jangan sampai kita mengatakan bahwa “Ia dari tanah, dari kota dan rumah lain” yang meskipun benar, namun tidak menutup jalan dan kita juga harus menghirup aroma wilayah. Bahwa Salman diberi jalan memasuki rumah tersebut, jelas bahwa jalan juga terbuka untuk yang lain.

Kini dengan inayah dari Allah swt kita akan membahas beberapa kalimat juga berkenaan dengan kalimat terkenal Imam Ali as yang berbunyi: “Demi Allah! Sesungguhnya putera Abi Thalib akrab dengan kematian daripada anak kecil dengan puting susu ibunya”.[10]

Manusia terdiri dari dua kelompok; pertama, mereka yang mengkonsumsi makanan dari “kehidupan”, sebuah kehidupan yang dianggap al-Quran sebagai permainan dan kesia-siaan, dan hasilnya adalah kerakusan, pendidikan buruk, pemikiran jelek, pandangan sempit, keangkuhan dan egoisme. Dan sekelompok lain mengkonsumsi makanan dari “kematian”. Amirul Mukminin Ali as berkata: Sebagaimana anak bayi menyedot puting susu ibunya dan meminum susunya, akupun selalu mengkonsumsi makanan dari “kematian”, dan putera Abu Thalib mengkonsumsi makanan dari apa yang ada dalam kumpulan urat, kulit dan tulang kematian. Dalam makanan ini terdapat berbagai macam hal-hal manis yang disinggung oleh al-Quran bahwa kekasih-kekasih (wali-wali) Allah swt mengkonsumsi makanan dari “kematian”.[11] Keakraban Ali bin Abi Thalib as dengan kematian lebih besar dari kedekatan seorang bayi kepada puting susu ibu.

Salah satu kenikmatan makanan ini adalah “Liqaullah” (pertemuan dengan Allah swt). Makanan materinya adalah kenikmatan-kenikmatan surgawi dan makanan spiritual orang-orang berwilayah adalah “Liqaullah” yang dalam kerinduan mereka terbakar.

Kematian membayangi kita semua dan akan menjumpai kita,[12] dan menurut Imam Ali as, kesertaannya dengan kita lebih dari bayangan kita sendiri, akan tetapi kita tidak mengkonsumsi makanan darinya karena kita terperdaya oleh kehidupan material, dan keinginan terhadap dunia, egoisme, keangkuhan dan kesombongan telah mengakar dalam diri kita. Adapun bila kita mengkonsumsi makanan dari kematian, maka tidak mungkin kita terkena polusi dosa, karena dengan mudah kita akan menghindar darinya, dan karena kita melihat diri kita tidak berdaya sama sekali di hadapan Allah swt, maka rasa egoisme akan lenyap, kita melihat kepada ketidakmampuan diri sendiri. Khilafah Ilahi tidak memiliki jalan selain melalui ketidakmampuan dan kesulitan: “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya)”.[13] Menurut Allamah Thaba’thabai yang mengatakan: Nama a’dham (teragung) adalah sebuah nama khusus dan bukan sebuah konsepsi, akan tetapi setiap kali Anda memahami secara mendalam ketidakberdayaan sendiri dan menyadari “kemampuan”-Nya, maka inilah nama a’dham. Begitu juga apabila Anda mengetahui kebodohan sendiri, maka “pengetahuan (ilmu) Allah” adalah nama a’dham, ketika Anda sakit, maka “Syafi” (penyembuh) adalah nama a’dham Allah swt, ketika kita mendapati kesemrawutan diri maka “Ya Jami’ Kulli Syai’” (wahai pengumpul segala sesuatu) adalah nama a’dham, ketika kita melihat kezaliman diri dan mengatakan “Ya Nuur” (wahai cahaya) dari lubuk hati maka itulah nama a’dham.

Oleh karena itu, mengenal sifat-sifat ini tidak menjadi niscaya selain lewat jalur diri sendiri, jiwa, intern, meraih ketidakberdayaan dan kelemahan, kekurangan cahaya dan kebodohan. Dan keakraban Ali bin Abi Thalib as kepada kematian sebagai pintu gerbang pertemuan dengan Allah swt, lebih erat daripada kedekatan anak bayi dari puting susu ibunya. Dan masa ketika beliau as mengkonsumsi makanan ini, maka beliau as akan memperoleh ketenangan dan kepercayaan yang tidak dapat ditembus oleh kegelisahan dan kekhawatiran. Kita sebagai Syiah (pengikut) Imam Ali as harus berusaha supaya dapat mengeluarkan catatan-catatan terakhir seperti ini di ujung kehidupan kita. Tentu saja beliau as sendiri juga mengatakan bahwa kalian tidak akan dapat seperti aku “tetapi setidak-tidaknya dukunglah saya dalam kesalehan, usaha, kesucian dan kejujuran”.[14] Harus berjalan melalui ketakwaan, kegigihan dan suplai makanan dari kematian, dan melangkah mengikuti beliau as.

Kita akan menyinggung beberapa kalimat dalam hal ini:

“Dan barangsiapa mengantisipasi kematian ia akan bergegas kepada amal baik”.[15]

“Yang paling saya cintai ialah kematian”.[16]

“Anda sedang dikejar oleh kematian. Apabila Anda berhenti, ia akan menangkap Anda, dan apabila Anda melarikan diri darinya, ia akan mencengkeram Anda. la lebih melekat pada Anda dari bayang-bayang Anda. Kematian terikat kepada gombak Anda sementara dunia sedang digulung dari belakang Anda…”[17] Kematian sekarang ini bersama kita, beruntunglah orang-orang yang mengkonsumsi makanan dari puting susu kematian.

Kita memohon taufik dari Allah swt agar kita dapat mengkonsumsi makanan dari kematian dan meraih kehidupan thayyib[18] (yang baik) di dalam kehidupan ini.

Washallallahu ‘Ala Muhammad Wa Aalihi Ath-Thayyibin Ath-Thahirin

Dan semoga Allah swt senantiasa memberikan shalawat kepada Muhammad saw dan Keluarganya yang suci. [IG. http://www.balaghah.org]


[1] QS. Ar-Ra’d (13): 24.

[2] QS. An-Nur (24): 52.

[3] QS. At-Taubah (9): 20.

[4] QS. Al-Mukminun (23): 111.

[5] QS. At-Taubah (9): 111.

[6] QS. At-Taubah (9): 112.

[7] QS. Aali ‘Imran (3): 185.

[8] QS. Al-An’am (6): 15-16.

[9] QS. Yunus (10): 64.

[10] Syarah Nahjul Balaghah Syaikh Muhammad Abduh, Khutbah Ke-5.

[11] Isyarat kepada ayat: “Katakanlah: “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu mendakwakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia-manusia yang lain, maka harapkanlah kematianmu, jika kamu adalah orang-orang yang benar””. QS. Al-Jumu’ah (62): 6.

[12] Isyarat kepada ayat: “Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu”. QS. Al-Jumu’ah (62): 8.

[13] QS. An-Naml (27): 62.

[14] Nahjul Balaghah, Surat ke-45.

[15] Ibid, Surat ke-31.

[16] Ibid, Khutbah ke-180.

[17] Ibid, Surat ke-27.

[18] Isyarah kepada ayat: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. QS. An-Nahl (16): 97.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s