ALI BIN ABI THALIB AS. DALAM NASH

ALI BIN ABI THALIB AS. DALAM NASH

Perwujudan Sifat-sifat Agung 

Ali bin Abi Thalib adalah manusia yang padanya terkumpul sifat-sifat mulia. Bersamanya fitrah yang suci dan jiwa mardhiyah (yang disucikan). Sifat yang membedakannya dari sekian tokoh-tokoh yang pernah ada.

Ali lahir dari nasab dan keturunan yang terbaik dan termulia. Ayahnya adalah Abu Thalib; tokoh besar Quraisy. Kakeknya adalah Abdul Mutthalib; pemimpin kota Mekkah setelah menjadi tokoh utama Bani Hasyim.[1]

Keturunan Ali lebih bermakna lantaran kedekatan nasabnya dengan Nabi Muhammad saw. Ali adalah sepupu, menantu sekaligus orang yang paling dicintai Nabi dari sekalian keluarganya. Ali juga adalah penulis wahyu yang turun pada Nabi. Ali adalah yang paling menyerupai Nabi dalam kefasihan bahasa dan sastra Arab. Ia juga termasuk yang paling menghafal sabda-sabda Nabi dan yang paling memahami keluasan maknanya.

Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang mengikrarkan keislamannya di hadapan Nabi tanpa pernah tersentuh akidah Arab Jahiliah sebelumnya dan sebelum akalnya dirusaki oleh kesyirikan. Ia selalu bersama Nabi di masa-masa sulit maupun senang, begitu juga pada masa perang maupun damai. Kebersamaannya dengan Nabi membuatnya senantiasa berakhlak dengan akhlak Nabi. Ia memahami agama dari Nabi dan mempelajari apa yang diturunkan Jibril kepada Nabi. Tak ayal, Ali terkenal sebagai sahabat yang paling paham agama, paling layak menghakimi dengan aturan-aturan syariat, yang paling menjaga agama, yang paling layak mendakwahi orang lain, paling teliti dalam memberikan pendapat dalam masalah agama dan yang paling mendekati kebenaran. Keutamaan ini mendesak Umar untuk berkata: “Bila ada Abul Hasan (Ali bin Abi Thalib) semua masalah pasti dapat terselesaikan”.[2]

Ali bin Abi Thalib adalah yang paling berilmu, paling berpengalaman, bijaksana dan pengkritik yang sangat paham. Perasaannya sangat halus, jiwanya suci dan bersih, emosinya terkendali, pandangannya tajam, jalan yang dicarinya adalah yang terbaik, pemahamannya sangat cepat, ingatannya kuat dan mengenal benar apa yang penting.[3]

Ibadah dan Takwa

Ali bin Abi Thalib terkenal dengan ketakwaannya. Sifat ini menjadi awal   perilaku-perilaku baik dengan diri, keluarga dan masyarakat. Takwa dalam pandangan mayoritas terkadang diartikan sebagai kembalinya kelemahan pada diri. Terkadang juga diartikan sebagai pelarian dari persoalan-persoalan kehidupan. Di sisi lain, takwa diartikan sebagai bentuk kegelisahan yang diwariskan kemudian diperkuat oleh kebingungan baru yang sumbernya adalah pengudusan manusia dan masyarakat atas semua warisan dalam banyak kondisi.

Ketakwaan yang dimiliki oleh Ali bin Abi Thalib merupakan sumber semua potensi kekuatan yang dimilikinya sekaligus penyambung seluruh lingkaran moral yang menguat dan berlanjut hingga Hari Kiamat. Ketakwaan juga memberikan makna jihad di jalur yang menghubungkan kehidupan dengan segala nilai-nilai kebaikan. Bagaimanapun juga, ketakwaan yang ada pada diri Ali adalah semangat pembangkangan terhadap kefasikan dan kemungkaran yang senantiasa diperanginya dari segala sisi, terhadap kemunafikan, kezaliman antar sesama manusia dan pembunuhan karena motif pribadi. Pembangkangan terhadap kenistaan,  kemiskinan, kemelaratan, kelemahan, dan terhadap semua predikat-predikat yang melekat pada kondisi yang rusuh dan riuh di masa hidupnya.

Siapa saja yang menyaksikan ibadah Ali akan jelas baginya bahwa ia terlihat sangat khusyuk sehingga terkesan berlebih-lebihan dalam ibadah dan takwanya. Hal yang sama, ia sangat serius mengikuti pendiriannya dalam politik dan pemerintahan. Ihwal ibadahnya, penyair akan terpana pada kebesaran wujud yang luas, kejernihan jiwa dan hati yang penuh dengan kecintaan, sehingga bila tersingkap baginya keindahan alam niscaya segalanya saling melengkapi dengan apa yang ada dalam wujud Ali, baik itu bayang-bayang kenikmatan yang menaungi atau keseimbangan. Tanda-tanda yang agung ini dapat dilihat dari penjelasan puncak ketakwaan seorang yang merdeka dan jiwa-jiwa yang besar dan gagah. “Sebagian manusia menyembah Allah karena mengharapkan sesuatu. Ibadah seperti ini adalah penghambaan seorang pedagang. Sebagian manusia menyembah karena ketakutan. Ibadah ini adalah penghambaan seorang budak. Sebagian manusia menyembah Allah karena terima kasih dan syukur. Ibadah seperti ini adalah penghambaan seorang merdeka”.[4]

Ibadah Ali a.s. bukan elemen pengantar untuk meraih keuntungan atau alat untuk dapat lari dari Allah swt karena ketakutan sebagaimana ibadah yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Ibadah dengan makna semacam ini memiliki muatan negatif. Ibadah Ali adalah ibadah yang berbeda. Ibadahnya memiliki muatan positif; ibadah yang muncul dari manusia agung yang muncul dari kesadaran akan dirinya dan alam berdasarkan eksperimen-eksperimen yang telah nyata berhasil, rasio yang bijaksana dan hati yang lembut dan peka.

Makna takwa yang didefinisikan dan didemontrasikan Ali bin Abi Thalib membuatnya mampu mengarahkan manusia untuk bertakwa kepada Allah di jalur kebaikan kemanusiaan universal. Atau katakanlah: di jalan yang lebih mulia dari keinginan seorang pedagang yang beribadah untuk meraih kenikmatan akhirat. Jalur yang dirintis oleh beliau mampu mengarahkan manusia dalam bertakwa agar perbuatan mereka dapat mencerminkan keadilan dan meredam kedzaliman dari seorang zalim.

Ali bin Abi Thalib berkata: “Seyogianya kalian bertakwa kepada Allah;  berbuat dan menjaga keadilan terhadap teman akrab dan musuh”.[5] Menurut Ali,  kebaikan sebuah takwa akan muncul manakala ia mampu melindungimu untuk tidak menerima kebenaran begitu saja tanpa bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Takwa yang baik akan menahanmu dari berbuat zalim terhadap orang yang engkau benci dan menahanmu untuk tidak berbuat dosa. Kehidupan, dengan makna takwa yang didefinisikan Ali, tidak diharapkan karena kenikmatannya sedikit dan kelezatannya yang bakal lenyap.

Kezuhudan

Ali bin Abi Thalib telah menunjukkan selama hidupnya sebagai orang yang zuhud. Yang lebih penting lagi adalah ia jujur dalam kezuhudannya. Hal yang sama ketika ia jujur dalam semua apa yang dilakukan atau yang terlintas dalam hatinya, bahkan yang diucapkannya. Ia mempraktekkan hidup zuhud dari dunia, gemerlapan negara dan kekuatan seorang penguasa serta hal-hal apa saja yang menurut orang lain dapat mengangkat derajat mereka. Sesuatu yang dilihat oleh mereka sebagai tolok ukur derajat seseorang.

Ali bin Abi Thalib hidup di sebuah rumah yang sederhana bersama anak-anaknya, sementara kekhalifahan berlindung padanya bukan sebagai kerajaan. Ia makan dari gandum yang digiling sendiri oleh istrinya dengan tangannya, sementara pembantu-pembantu serta gubernur-gubernurnya hidup dalam gemerlap duniawi di Syam, hidup dalam kekayaan di Mesir, dan hidup dalam kenikmatan di Irak. Ali  memakan roti kering dan keras, yang ketika hendak dimakan di patahkan dengan lututnya. Bila musim dingin tiba dan hawa dingin menggigilkan semua orang, Ali tidak menggunakan beberapa selimut untuk menghangatkan badannya dan mengusir rasa dingin yang menghantamnya. Ali mencukupkan dirinya dengan pakaian hangat yang tidak terlalu tebal sebagai petanda akan kehalusan ruh yang dimilikinya.

Harun bin ‘Antarah meriwayatkan dari ayahnya: ”Aku menemui Ali bin Abi Thalib di daerah Khuznaq. Waktu itu musim dingin. Ali bin Abi Thalib memakai pakaian beludru sementara badannya terlihat menggigil. Aku berkata kepadanya: “Wahai Amir Mukminin! Allah telah memberikan kepadamu dan keluargamu bagian di harta ini (baitul mal). Engkau dapat memanfaatkannya untuk dirimu”. Ali menjawab: “Demi Allah! Aku menganggap apa yang kalian lihat selama ini kecil. Aku merasa cukup dengan pakaian beludru ini yang kubawa dari Madinah”.[6]

Salah seorang mendatangi Ali bin Abi Thalib sambil membawakan makanan manis yang berharga mahal yang disebut Al-Faludzaj (kue yang dibuat dari tepung, susu dan madu). Ali tidak memakannya. Sambil melihat makanan tersebut, Ali berkata: “Demi Allah! Engkau adalah makanan yang berbau wangi, warnamu sangat menarik untuk dimakan. Sayangnya, aku tidak akan membiasakan diriku dengan sesuatu yang tidak menjadi kebiasaanku”.[7]

Sungguh, kezuhudan Ali bin Abi Thalib adalah totalitas kekesatriaan walaupun, menurut sebagian orang, kezuhudan dan kekesatriaan adalahtasng kubawa dari Madinah’dua makna yang berbeda.

Kehidupan Umar bin Abdul Aziz yang indah patut menjadi contoh. Ia mengatakan: “Manusia yang paling zuhud adalah Ali bin Abi Thalib”.[8] Sementara keluarganya, Bani Umayyah, begitu membenci Ali. Mereka memperkenalkan keburukan Ali bin Abi Thalib di hadapan masyarakat bahkan mencaci-makinya di atas mimbar shalat Jum’at.

Semua mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib tidak tinggal di istana negara yang telah dipersiapkan untuknya di Irak. Ali tidak ingin rumahnya lebih mewah dari rumah-rumah para fakir miskin yang tinggal dalam kesederhanaan dan kefakirannya. Ucapan beliau terkait dengan sikapnya dalam hidup mencerminkan hal itu. “Apakah aku akan merasa cukup dengan diriku ketika orang-orang mengatakan padaku: “Amir Mukminin” sementara aku tidak pernah merasakan kesulitan-kesulitan yang mereka alami ?”[9]

Penolakan dan Keluhuran Budi

Ali bin Abi Thalib mendemonstrasikan kekesatriaan dengan makna puncaknya yang mengagumkan. Kekesatriaan mencakup semua bentuk keluhuran budi. Penolakan dan keluhuran budi adalah dua prinsip dan semangat kekesatriaan. Keduanya merupakan sifat dan sikap Ali bin Abi Thalib a.s. Oleh karenanya, ia akan sangat marah bila melihat seseorang diganggu sekalipun orang itu tadinya mengganggu orang lain. Ali sangat membenci seseorang yang berinisiatif untuk menzalimi orang lain sekalipun perilaku itu dapat dipercaya bahwa orang yang akan dizalimi akan membunuhnya.

Semangat penolakan dan keluhuran budi inilah yang melatarbelakangi ia berada di atas angin dalam menghadapi orang-orang Bani Umayyah yang mencaci-makinya; di hari ketika mereka berusaha menjatuhkannya dengan caci maki. Ali bin Abi Thalib melarang para sahabatnya untuk melontarkan caci makian kepada Bani Umayyah dengan ucapannya: “Aku benci melihat kalian suka mencaci maki. Aku dapat menolerir bila kalian menjelaskan perilaku dan menyebutkan kondisi mereka. Hal yang demikian, menurutku, lebih tepat dan bila salah lebih mudah untuk mengucapkan kata maaf, dari pada kalian mencaci pribadi mereka. Ya Allah, peliharalah darah kami dan darah mereka. Perbaiki hubungan kami dengan mereka. Tunjukkanlah mereka dari kesalahan yang ada sehingga orang yang tidak mengetahui dapat mengenal kebenaran. Sehingga tidak lagi ada yang melakukan perbuatan jelek dan permusuhan”.[10]

Menjaga Harga Diri

Kekesatriaan dan penghormatan Ali bin Abi Thalib pada harga diri seseorang lebih sulit ditemukan padanannya dalam sejarah. Kejadian-kejadian penghormatannya terhadap harga diri seseorang dalam sejarah kehidupannya lebih banyak dari yang dibayangkan. Salah satunya pada kejadian ketika Ali bin Abi Thalib menahan pasukannya yang marah untuk tidak membunuh musuh yang bertobat. Ia juga melarang mereka untuk menyingkap tabir dan mengambil harta. Selain itu, saat ia memenangkan pertempuran dengan musuh bebuyutannya yang mencari kesempatan untuk menyelamatkan diri darinya. Ia mengampuni dan berbuat baik pada mereka. Ali melarang sahabat-sahabatnya untuk menyiksa mereka, walaupun mampu melakukan itu.[11]

Kebenaran dan Keikhlasan

Kebenaran dan keikhlasan adalah dua sifat yang dimiliki Ali bin Abi Thalib a.s. kedua saling terkait satu dengan lainnya secara utuh dan abadi. Salah satunya menjadi bukti atas yang lainnya. Kebenaran dalam diri ra utuh dan abadidaatriaan yAli bin Abi Thalib telah mencapai puncaknya sehingga ia harus merelakan khilafah yang menjadi haknya hilang dan dirampas. Seandainya Ali bin Abi Thalib mau rela sedetik untuk menggantikan sikap kebenaran yang diyakininya niscaya ia tidak memiliki musuh. Orang-orang yang semula adalah temannya tidak akan berbalik memusuhinya. Ali membuang jauh-jauh apa yang menjadi prinsip Muawiyah dalam perilakunya. Ia berkata: “Aku tidak akan mencari muka karena agama yang kuanut. Aku tidak akan melakukan hal-hal yang hina dalam urusan agamaku”.

Ketika terpampang lebar tipu muslihat Muawiyah di hadapan masyarakat, Ali mengucapkan kalimat yang hanya diungkapkan oleh orang yang memiliki moral yang agung: “Demi Allah! Muawiyah tidak lebih cerdik dari aku. Yang dilakukan oleh Muawiyah adalah kecurangan dan perbuatan tercela. Seandainya kecurangan adalah perbuatan yang tidak tercela, niscaya aku adalah orang yang paling curang di muka bumi”.[12]

Ali bin Abi Thalib selalu mengingatkan akan keharusan berkata benar dalam kondisi apapun. “Salah satu dari tanda-tanda iman adalah selalu berkata benar sekalipun itu membahayakanmu. Tidak kompromi dengan kebohongan sekalipun itu menguntungkanmu.”[13]

Keberanian

Bila keberanian Ali bin Abi Thalib a.s. diungkapkan, ia adalah ide dan pemikiran, sementara pada tataran praktis ia adalah kehendak. Poros keberanian adalah melindungi hal yang alami seperti kebenaran dan keimanan akan kebaikan. Semua mengetahui bahwa tidak ada seorang pahlawan di zamannya yang mampu menang melawan Ali di medan pertempuran. Keberaniannya menentang maut tidak membuatnya takut menghadapi siapa saja. Lebih dari itu, pikiran akan mati dalam peperangan tidak pernah melintas dalam benak Ali bin Abi Thalib sementara ia  berduel dalam medan perang. Ia tidak akan berduel dengan musuh-musuhnya dan mengalahkan mereka sebelum berdialog dan menasihati serta menuntun mereka kepada kebenaran.

Dengan segenap kekuatan yang luar biasa, Ali bin Abi Thalib tidak pernah melakukan penganiayaan terhadap musuhnya dalam kondisi apapun. Para sejarawan sepakat bahwa Ali tidak pernah memulai peperangan hingga musuh terlebih dahulu menyerangnya. Ia senantiasa berusaha sebisa mungkin menyeimbangkan segala urusannya dengan kemarahannya dengan cara damai agar tidak terjadi pertumpahan darah dan peperangan.

Secara alamiah, menahan diri dari perbuatan melampaui batas merupakan prinsip dan moral Ali bin Abi Thalib. Ia senantiasa menghubungkan dirinya secara erat dengan asal universal yang diyakininya, yang dibangun di atas komitmen pada perjanjian dan tanggung jawab dan berbelas kasih terhadap manusia, sekalipun orang lain mengkhianati perjanjian dan melakukan perbuatan biadab dan tak berperikemanusiaan.

Ali bin Abi Thalib tidak pernah sedikit pun mendahulukan rasa permusuhannya di atas kebenaran. Hal itu sudah pasti akan dilakukan bila tidak ada lagi tuntunan agung dari sifat keteguhan janji, kewibawaan serta kedermawanan yang memenuhi jiwanya dalam mengalahkan rasa takutnya.

Sayangnya, pemilik kasih sayang ini tidak dilindungi oleh sahabat-sahabat yang setia mencintainya. Mereka tidak ingin menjadi seperti Ali bin Abi Thalib. Akhirnya Ali membiarkan mereka dalam kebaikan bumi namun tidak seluruh makhluk. Ali berkata: “Demi Allah! Seandainya aku diberi tujuh iklim bumi ini,eriauhannikemanusiaan namun aku harus bermaksiat kepada Allah dengan merebut kulit sebutir gandum murahan dari mulut seekor semut, niscaya aku tidak akan mengabulkan itu. Dunia kalian di sisiku lebih rendah nilainya dari dedaunan yang sedang dikunyah oleh seekor belalang!![14]

Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib tidak sekedar berkata kemudian melakukannya. Namun, ucapannya mengalir dari perbuatan yang alami yang dipraktekkan dan dari perasaan yang dirasakannya. Ali adalah orang yang paling mulia di antara manusia. Ia adalah makhluk Allah yang paling jauh untuk mengganggu makhluk yang lain. Ia paling dekat dengan manusia untuk membantu mereka agar hati nuraninya tidak tersiksa. Bukankah seluruh kehidupannya adalah rentetan peperangan yang berkepanjangan untuk menolong orang-orang yang mazlum dan lemah? Ia dengan senang hati akan menolong kaum tanpa permintaan pertolongan dari mereka yang selalu menjadi alat produksi para penguasa yang mewarisi sistem kesukuan. Apakah pedang tajamnya yang di arahkan ke leher orang-orang Quraisy yang ingin menguasai kekhalifahan, kepemimpinan, posisi dan pengumpulan harta masih belum cukup menjelaskan fakta ini! Bukankah ia meletakkan khilafah dan kehidupan di atas bumi hanya karena ia enggan berjalan bersama pencinta dunia yang selalu menyingkirkan kaum lemah dan mazlum?!

Keadilan

Tidak aneh bila dikatakan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling adil. Aneh bila Ali adalah lawan keadilan. Riwayat-riwayat tentang keadilan Ali adalah pusaka yang tak terkira yang senantiasa mengawasi posisi, derajat manusia dan semangat kemanusiaan.

Ali bin Abi Thalib tidak ingin ditinggikan hak-haknya di sidang peradilan. Bahkan ia selalu berusaha agar diadili bila diperlukan, karena pengadilan adalah bagian dari semangat keadilan.

Semangat keadilan dalam diri Ali mengalir hingga merasuki hal-hal yang paling sederhana. Hampir seluruh wasiat-wasiat dan surat-suratnya kepada para gubernurnya berisikan pesan untuk berlaku adil. Keadilan telah memenangi pertempuran di dalam hati Ali dan hati para pengikutnya, sekalipun mereka dizalimi dan disakiti.

Rendah Hati

Salah satu prinsip moral Ali bin Abi Thalib a.s. adalah konsistensinya menyandarkan perilakunya pada kesederhanaan dan menolak pemaksaan. Ia berkata: “Teman yang paling buruk adalah yang memaksa orang lain untuk melakukan pekerjaan yang sulit”.[15] Di tempat lain ia berkata: “Ketika seorang mukmin membuat saudara mukminnya marah, hampir dapat dipastikan bahwa ia telah berpisah dengannya”.[16]

Oleh karenanya, Ali tidak pernah berbuat-buat dalam pandangan yang disampaikannya, nasihat yang dianjurkannya, harta yang diinfakkannya atau harta yang dilarang untuk diberikan. Semua dilakukannya dengan sungguh-sungguh. Sifat alami ini senantiasa dilakukannya sehingga sahabat-sahabat yang mengharap keuntungan merasa putus asa sekalipun dengan tipu daya. Sebagian sahabat menyebutnya sebagai orang yang berhati keras, orang yang terasing dan arogan. Kebenaran yang dirasakan dan mengungkapkan kebenaran itu sendiri bukanlah sikap arogan dan bukan pula orang yang terasing dari lingkungannya. Bahkan sebaliknya,  menyampaikan kebenaran adalah usaha memerangi sikap arogansi dan ‘ujub (merasa besar diri). Dan sejak awal, Ali senantiasa melarang anak-anak, pembantu-pembantu dan gubernur-gubernurnya untuk merasa takabur dan ‘ujub. Ia berkata: “Hati-hatilah engkau dengan rasa ‘ujub yang menghinggapi dirimu. Ketahuilah! rasa ‘ujub (menganggap besar diri sendiri) adalah bentuk dari rasa permusuhan terhadap kebenaran dan salah satu perusak hati’.[17] Ia membenci cinta diri yang dipaksakan, sebagaimana ia membenci kebencian yang dialamatkan kepada dirinya dengan cara paksa. Ali berkata: “Dua kelompok yang celaka terkait dengan diriku. Pertama, pencinta yang berlebih-lebihan dan kedua, pembenci yang berlebih-lebihan”.[18]

Ali bin Abi Thalib maju ke medan pertempuran menghadapi musuh-musuhnya untuk berduel tanpa memakai topi pelindung, sementara para musuhnya memakai pelindung dari besi. Tidak aneh bila ia keluar menghadapi mereka dengan kelapangan jiwa, sementara mereka menutupi dirinya dengan tipu muslihat dan riya’.

Kesucian

Ali bin Abi Thalib dikenal dengan hatinya yang sehat. Ia tidak pernah hasut dan iri kepada orang lain, bahkan kepada musuh bebuyutannya sendiri. Ia tidak punya perasaan jelek, bahkan kepada orang yang membencinya hanya karena hasut.

Kedermawanan

Salah satu Akhlak Mulia Ali bin Abi Thalib adalah kedermawanan. Kemuliaannya tidak mengenal batas. Kemuliaan Ali memiliki muatan positif dan sehat sesuai dengan prinsip-prinsip dan tujuannya. Ali tidak akan memuliakan gubernur-gubernurnya yang dihormati dengan harta dan posisi mereka di tengah masyarakat.  Sikap penghormatan seperti ini tidak pernah dilakukannya sekalipun dalam hidupnya.

Kemuliaan Ali bin Abi Thalib dapat diungkapkan dengan sekumpulan kekesatriaan. Ia memeriksa anak wanitanya dengan seksama, bahkan dapat dikatakan sangat tegas karena mengenakan kalung dari harta Baitul Mal menjelang hari raya. Dengan tangannya sendiri, Ali menyirami pohon kurma yang dimiliki sekelompok orang-orang Yahudi Madinah sehingga tangannya melepuh. Ia menginfakkan upah yang diterima kepada mereka yang membutuhkan dan fakir miskin. Sebagian dari upah yang diterimanya dipakai untuk membeli budak-budak untuk kemudian dimerdekakannya.

Muawiyah secara pribadi menyaksikan kedermawanan Ali bin Abi Thalib sambil berkata: “Seandainya Ali bin Abi Thalib memiliki sebuah rumah dari emas dan sebuah lagi dari jerami, niscaya ia akan menghabiskan rumah dari emasnya terlebih dahulu sebelum rumahnya yang dibuat dari jerami hancur”.[19]

Derajat Pengetahuan

Ibnu Abi Al-Hadid berkata: “Apa yang harus aku katakan tentang seorang yang berkumpul padanya semua keutamaan; semua perbedaan kembali utuh menyatu padanya, bagaikan magnet semua pihak tertarik dan mengelilinginya. Ia adalah pemimpin segala keutamaan bahkan sumbernya. Siapa saja yang memiliki sifat-sifat besar pasti mengambil dan meneladaninya dari Ali bin Abi Thalib.

“Paling mulianya ilmu yang membicarakan Allah berasal dari ucapan-ucapannya, dinukil darinya, akhir dan awal ilmu kembali padanya. Ilmu fikih misalnya, asal dan dasarnya dari Ali. Setiap fakih dalam Islam adalah keluarga besar Ali dan memanfaatkan ilmu dan fikih Ali. Ilmu tafsir Al-Qur’an diambil darinya dan dari ucapannya kemudian diperluas. Ilmu tarekat dan hakikat serta jenjang-jenjang tasawuf diambil dari khazanah ucapan-ucapan Ali. Silsilah tokoh para sufi berakhir pada Ali. Ilmu Nahwu dan bahasa Arab yang dikuasai kebanyakan manusia merupakan hasil kreativitas Ali bin Abi Thalib yang didiktekan kepada Abu Al-Aswad Ad-Duali; prinsip-prinsip dan kesimpulannya.”

Ibnu Abi Al-Hadid menambahkan: “Ihwal kefasihan, Ali bin Abi Thalib adalah tokoh utama”. Tentang ucapan-ucapan Ali, Ibnu Abi Al-Hadid memberikan penilaian: “Di bawah kalam ilahi, di atas kalam manusia”. Orang-orang mempelajari seni pidato dan seni tulis darinya. “Demi Allah! Tidak ada yang lebih fasih di lingkungan orang-orang Quraisy selain Ali bin Abi Thalib. Bukti kefasihannya adalah kitab yang saya komentari. Buku ini, Nahjul Balaghah, tidak tertandingi dalam kefasihan, dan tidak ada yang menyamainya dalam retorika”.

Masih dari Ibnu Abi Al-Hadid, “Tentang masalah zuhud dari dunia yang menjadi sifat Ali bin Abi Thalib, dapat dikatakan bahwa ia adalah pimpinan para pendkwa zuhud. Kaki, tangan dan otot-ototnya senantiasa sakit karena setiap perjalanan kembali padanya. Pakaiannya adalah kain tebal yang kasar. Ia tidak pernah kenyang seumur hidupnya. Ia orang yang berpakaian kasar, dan makanannya keras”.

“Terkait dengan ibadah, Ali bin Abi Thalib adalah manusia yang paling banyak melakukan ibadah, baik shalat maupun puasa. Para sahabat mempelajari bagaimana melakukan shalat malam, membaca wirid-wirid dan bagaimana melakukan shalat-shalat sunat. Apa yang dapat kau pikirkan tentang seorang lelaki yang secara serius dan terus membaca wirid dengan menghamparkan kain untuk shalat dan berdoa di perang Shiffin pada malam Harir.[20] Pada malam pertempuran itu, Ali bin Abi Thalib melakukan shalat dan membaca wiridnya sementara anak-anak panah berjatuhan di depannya. Anak-anak panah menembus dan merobek apa saja yang berada di kiri dan kanannya. Ali bin Abi Thalib tidak terlihat bergeming dari tempatnya. Tidak terlihat rasa takut sedikit pun dari wajahnya. Ia tidak meninggalkan shalatnya hingga menuntaskannya. Seandainya engkau merenungi doa-doa dan munajat yang dipanjatkannya, seandainya engkau merenung sejenak bagaimana ia mengagungkan dan memuliakan Allah swt., pengagungan yang mengandung kekhusyukan, kerendahan dan penyerahan total di hadapan kebesaran dan keagungan-Nya, niscaya engkau akan mengetahui betapa murni keikhlasannya, engkau akan memahami lewat hati dari siapa ungkapan-ungkapan ini mengalir, lewat lisan siapa terungkap. Ali bin Al-Husein a.s; seorang yang mencapai puncak dalam ibadah sehingga diberi gelar ‘Zainul Abidin’ (hiasan orang-orang yang beribadah) berkata, “Bila ibadahku bila dibandingkan dengan ibadah yang dilakukan kakekku, Ali bin Abi Thalib, sama dengan ibadah Ali bin Abi Thalib bila dibandingkan dengan ibadah Rasulullah saw”.

“Ketekunan Ali dalam membaca dan memahami Al-Qur’an merupakan fokus bab ini. Semua sepakat bahwa Ali bin Abi Thalib menghafal Al-Qur’an sejak zaman Rasulullah saw., sementara belum ada yang menghafalkannya. Ali bin Abi Thalib adalah orang pertama yang mengumpulkan Al-Qur’an. Tentang masalah qira’at (bentuk-bentuk pembacaan) Al-Qur’an, dapat dikatakan bahwa para pimpinan qira’at  berakhir pada Ali bin Abi Thalib a.s”.

“Apa yang dapat kukatakan tentang seorang yang dicintai oleh ahli dzimmah, sekalipun mereka tidak menerima konsep kenabian, seorang yang diagungkan para filsuf, sementara mereka memusuhi umat beragama, seorang yang dilukis gambarnya oleh orang-orang Eropa dan Roma di gereja-gereja dalam keadaan memegang pedangnya, seorang yang dicintai oleh semua orang dan ingin agar orang sepertinya diperbanyak, seorang yang disenangi oleh setiap orang untuk dapat dihubungkan dengannya?”

“Aku merasa sulit menyifati seorang yang lebih dahulu mendapat hidayah dari orang lain, orang pertama yang mengesakan Allah setelah Muhammad Rasulullah saw”.[21]


[1] . Ibnu Abi Al-Hadid, Muqaddimah Syarh Nahjil Balaghah, jilid 1, hal 3.

[2] . Manaqib Alu Abi Thalib, jilid 2, hal 361, cetakan Dar Al-Adhwa’.

[3] . Lihat: Muqaddimah Syarh Nahjil Balaghah, peneliti Muhammad Abu Al-Fadhl Ibrahim.

[4] . Shubh As-Shalih, Nahjul Balaghah, hal 531, hikmah ke 237, cetakan Dar Al-Hijrah, Qom.

[5] . Bihar Al-Anwar, jilid 77, hal 236, Bab Washiyyah Amir Al-Mu’minin, cetakan Al-Wafa.

[6] . Bihar Al-Anwar, jilid 40, hal 334, cetakan Al-Wafa.

[7] . Ibid, jilid 40, hal 327.

[8] . Bihar Al-Anwar, jilid 40, hal 331. bab 97, nomor hadis 13, cetakan Al-Wafa.

[9] . Shubh As-Shalih, Nahjul Balaghah, hal 418, surat ke 45.

[10] . Shubh As-Shalih, Nahjul Balaghah, hal 323, khutbah ke 206.

[11] . Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid 7, hal 276.

[12] . Nahjul Balaghah, khutbah ke 200.

[13] . Nahjul Balaghah, kalimat-kalimat hikmah ke 458.

[14] . Nahjul Balaghah, khutbah ke 224.

[15] . Nahjul Balaghah, hikmah nomor 479.

[16] . Ibid, nomor 480.

[17] . Nahjul Balaghah, dari kitab 31, nomor 57.

[18] . Nahjul Balaghah, hikmah ke 117.

[19] . Ibnu Asakir, Tarikh Dimasyq, jilid 43, hal 414, Tarjamah Ali bin Abi Thalib.

[20] . Malam Harir malam terdahsyat di mana dua pasukan bertemu di peperangan Shiffin. Lihat Muruj Adz-dzahab, jilid 2, hal 389.

[21] . Ibnu Abi Al-Hadid, Muqaddimah Syarh Nahjul Balaghah, hal 16-30, peneliti Muhamamd Abu Al-Fadhl Ibrahim.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s