SAKIT DAN WAFAT SAYYIDAH FATHIMAH AL-ZAHRA

 

SAKIT DAN WAFAT SAYYIDAH FATHIMAH AL-ZAHRA

(Oleh: Abbas Azizi)

 

 

 

Meminta Usungan Mayat

 

Dalam kitab al-Isti’ab, dengan sanadnya, dinukilkan bahwa Fathimah binti Rasulullah saww berkata kepada Asma’ bin Umays, “Aku memandang buruk apa yang dilakukan terhadap kaum perempuan. Dipakaikan pakaian kepada perempuan, lalu orang lain melihatnya.”

Asma’ berkata, “Wahai putri Rasulullah, maukah kutunjukkan sesuatu yang pernah kulihat di Habsyah (Etiophia)?”

Asma’ mengambil pelepah kurma basah, lalu mengupas kulitnya. Kemudian, dia mengikatkan kain kepadanya. Ketika Asma’ menjelaskan tentang usungan itu, Sayyidah Fathimah tersenyum, padahal tidak pernah tertawa dan tersenyum setelah wafat ayahnya.

Dalam sebuah riwayat lain disebutkan, Asma’ binti Umays berkata kepada Sayyidah Fathimah, “Ketika berada di negeri Habsyah, aku melihat orang-orang membuat sesuatu. Jika engkau mau, akan kubuatkan untukmu.”

Asma’ binti Umays meminta agar diambilkan sebuah dipan. Dia lalu membalikkannya. Dia juga meminta pakaian, lalu mengikatkannya pada kaki dipan itu. Bagian atasnya dia jadikan usungan mayat, lalu menutupnya dengan kain. Sayyidah Fathimah berkata, “Buatkanlah untukku yang seperti itu, lalu tutuplah auratku, niscaya Allah menutupi auratmu.”

 

 

Wasiat Sayyidah Fathimah

 

Saat menjelang wafat, Sayyidah Fathimah memanggil Ummu Aiman, Asma’, dan Imam Ali. Lalu Sayyidah Fathimah berkata kepada Imam Ali, “Wahai anak pamanku, aku merasa bahwa ajal akan segera menjemputku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku selain (bahwa) aku akan menyusul ayahku beberapa saat lagi. Kuingin mewasiatkan apa yang selama ini terpendam dalam hatiku kepadamu…”

Imam Ali menjawab, “Wasiatkanlah kepadaku apa yang kau inginkan, wahai putri Rasulullah saww…”

Imam Ali duduk di sisi kepala Sayyidah Fathimah, sementara orang lain yang ada di rumah itu diminta keluar. Kemudian, Sayyidah Fathimah berkata, “Wahai putra pamanku, sejak aku menikah denganmu, apakah engkau pernah melihatku berbohong, takut, atau tidak menuruti kemauanmu?”

Imam Ali berkata, “Aku berlindung kepada Allah… Engkau lebih mengenal Allah, lebih banyak berbuat baik, lebih bertakwa, lebih mulia, dan lebih takut kepada Allah Swt. Aku sulit berpisah denganmu dan merasa akan kehilanganmu, namun hal itu merupakan keharusan. Demi Allah, musibah atas kehilangan Rasulullah saww telah engkau timpakan lagi kepadaku. Aku sangat kehilanganmu. Sesungguhnya, kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali…”

Keduanya menangis sesaat. Kemudian, Imam Ali memegang kepala Sayyidah Fathimah dan menyandarkannya ke dadanya. Beliau berkata, “Wasiatkanlah kepadaku apa yang ingin kau wasiatkan.”

Sayyidah Fathimah lalu berwasiat, “Semoga Tuhanmu membalas kebaikanmu, wahai anak paman Rasulullah! Wasiatku yang pertama adalah agar engkau menikahi Umamah, putri saudariku. Sebab dia sangat menyayangi anak-anakku dan kaum pria memang harus memiliki istri. Wasiatku yang lain, siapa pun di antara mereka yang menzalimiku dan merampas hakku tidak boleh menghadiri upacara pemakamanku. Sebab, mereka musuhku dan musuh Rasulullah saww. Jangan kau biarkan salah seorang di antara mereka, atau pengikut mereka, menshalati jenazahku. Wahai Abul Hasan! Kuburkanlah jenazahku di malam hari, saat semua mata tertidur…”

 

 

Wanita Madinah Menemui Sayyidah Fathimah

 

Berdasarkan beberapa riwayat dan catatan sejarah, Sayyidah Fathimah tetap hidup lebih dari 90 hari sepeninggal ayahnya. Meskipun bukti sejarah lain menyebutkan bahwa masa tersebut kurang dari 90 hari. Namun, masa yang singkat ini beliau lalui dengan kesedihan dan kedukaan yang mendalam.

Ketika sakit Sayyidah Fathimah semakin parah, kaum perempuan Muhajirin dan Anshar menjenguk beliau. Mereka menyampaikan salam dan berkata, “Bagaimana keadaan keluarga Anda pagi ini, wahai putri Rasulullah saww?”

Sayyidah Fathimah memuji Allah Swt dan bershalawat kepada ayahnya, kemudian berkata, “Demi Allah, pagi ini aku dalam keadaan memelihara diri dari dunia kalian dan menjauhi laki-laki kalian. Aku mengeluarkan mereka setelah menguji mereka. Keburukanlah bagi jamaah yang hasud (dengki), bermain-main setelah bersungguh-sungguh, bodoh, (dan) digelincirkan hawa nafsu. Seburuk-buruk yang mereka lakukan adalah membuat Allah murka kepada mereka. Mereka kekal di dalam siksaan.(al-Maidah: 80)”

“Demi Allah, tak diragukan lagi, kesusahan mengikuti mereka dan serbuannya menimpa mereka. Karena itu, pemenjaraan, penyiksaan, dan penjauhan (pengasingan) adalah untuk orang-orang yang zalim!”

“Celakalah mereka lantaran telah mencabutnya (imamah) dari tempat tegaknya risalah, pilar-pilar kenabian dan petunjuk, tempat turunnya Ruh al-Amin (Jibril), dan orang-orang yang mengetahui urusan dunia dan akhirat. Ketahuilah, itu merupakan kerugian yang nyata.(al-Zumar: 15)”

“Apa (sebenarnya) yang mereka benci dan dendami dari diri Abul Hasan (Imam Ali)? Demi Allah, (sebenarnya) mereka membencinya lantaran ketajaman pedangnya, sedikitnya perhatian pada kematian, kuatnya pijakan, akuratnya serangan, dan kemarahannya (yang muncul) karena Allah Azza wa Jalla.”

“Demi Allah, andaisaja Ali memimpin mereka, niscaya dia akan mengembalikan mereka (pada tempatnya) bila mereka berpaling dari jalan yang bercahaya dan hujah yang nyata. Demi Allah, seandainya mereka mengikuti pemimpin yang ditunjuk Rasulullah saww, niscaya dia akan membawa mereka ke jalan kemajuan, di mana tunggangannya takkan terluka dan penggiringnya takkan letih.”

“Dia akan menggiring mereka ke telaga nan suci dan bersih, luas dan lapang, meluap kedua tepinya, (dan) tidak menjadi keruh kedua sisinya. Mereka akan kenyang dan terpuaskan di sana, beroleh tuntunan dalam setiap kesempatan, di saat duka maupun suka, tanpa dia (sendiri) mengharapkan imbalan dunia maupun harta, selain sekadar seteguk air tuk hilangkan haus atau sepotong roti yang kan mengangkat lapar(nya). Di situlah kelak akan tampak perbedaan orang yang zuhud dari yang serakah, serta yang benar dari yang dusta!”

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu. Maka, Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.(al-A’raf:  96).”

“Dan orang-orang yang zalim di antara mereka akan ditimpa akibat buruk dari usahanya dan mereka tidak dapat melepaskan diri.(al-Zumar: 51)”

“Perhatikan dan dengarlah. Seandainya kalian hidup lebih lama (lagi), kelak kalian akan (dapat) menyaksikan keajaiban-keajaiban yang terjadi. Dan yang paling ajaib adalah sikap dan ucapan orang-orang itu!”

“Andai aku bisa tahu ke mana mereka berlindung; pada tumpuan apa mereka berpijak; pada tiang mana mereka bersandar; pada tali mana mereka bergantung, dan pada keturunan siapa mereka berlaku seperti ini.”

Sungguh mereka adalah seburuk-buruk sahabat.(al-Hajj: 13)”

Seburuk-buruk keluarga dan seburuk-buruk pengganti adalah orang-orang zalim.(al-Kahfi: 50)”

“Demi Allah, sungguh mereka telah mengganti para pemimpin terkemuka dengan orang-orang hina, dan (mengganti) para pahlawan dengan orang-orang lemah. Sungguh hina suatu kaum yang melakukan perbuatan-perbuatan buruk seperti itu, namun (mereka) mengira apa yang mereka lakukan adalah perbuatan baik. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.(al-Baqarah: 12)”

Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang-orang yang tidak dapat memberi petunjuk (kecuali) bila diberi petunjuk?(Yunus: 35)”

“Demi Allah! Unta telah bunting dan akan melahirkan anak yang buruk rupa. Kemudian, mereka akan memerah darah yang mengalir dan bencana yang berterusan (di situlah orang-orang yang batil akan mengalami kerugian). Generasi yang akan datang kelak akan mengetahui kesalahan yang telah diperbuat para pendahulu(nya). Lantas, kalian akan mengalami penderitaan di dunia (ini) dan akan senantiasa menjadi sasaran fitnah.”

“Sambutlah pedang-pedang tajam yang terhunus (dan) keganasan penguasa zalim, yang akan menindas dan menyakiti kalian. Sungguh malang nasib kalian! Kemanakah kalian (akan belindung)? Apakah mata kalian telah buta? Mestikah kami memaksa kalian, sementara kalian membencinya?”

 

 

Memberikan Baju Pengantin kepada Pengemis

 

Menjelang hari-hari terakhir usia Sayyidah Fathimah, Imam Ali bertanya kepada istrinya, “Apa yang tersembunyi dalam sapu tangan ini?”

Kemudian, Imam Ali membuka sapu tangan itu dan melihat dua helai kain (kecil) berwarna hijau dan putih, yang di dalamnya terdapat kertas putih dan di atasnya tertulis sesuatu serta memancarkan cahaya. Sayyidah Fathimah berkata, “Wahai Abul Hasan! Ketika ayahku menikahkanku denganmu, aku memiliki dua helai baju; satu baju baru dan yang lain baju usang. Sewaktu aku hendak mengerjakan shalat (di malam itu), seorang pengemis mengetuk pintu dan berkata, ‘Wahai keluarga kenabian! Wahai tambang kebajikan dan keberanian! Orang-orang memiliki kebiasaan datang ke rumah mempelai wanita di malam pengantin, lantaran banyak makanan yang dihidangkan untuk masyarakat umum. Jika Anda memiliki baju usang, saya membutuhkannya. Sebab, saya adalah lelaki miskin. Wahai keluarga Muhammad! Orang miskin ini tak punya baju yang layak.'”

“Aku ambil baju baru dan memberikannya kepadanya. Aku lebih memilih untuk mengenakan baju usang. Keesokan harinya, aku datang menemuimu dengan mengenakan baju usang itu. Rasulullah saww masuk ke kamarku dan bertanya, ‘Wahai putriku! Bukankah engkau punya baju baru? Mengapa engkau tak mengenakannya?’ Aku menjawab, ‘Wahai ayah! Saya memberikan baju baru itu kepada pengemis.'”

“Rasulullah saww berkata, ‘Sungguh engkau telah melakukan perbuatan mulia! Jika engkau mengenakan baju baru demi membahagiakan hati suamimu dan memberikan baju usang kepada pengemis itu, maka taufiq Allah tetap akan meliputimu.'”

“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah saww! Kami memperoleh hidayah melalui tangan Anda dan kami mengikuti jejak langkah Anda. Ketika Anda menikah dengan ibu saya, Sayyidah Khadijah, segala harta yang dia berikan kepada Anda, telah Anda infakkan di jalan Allah. Bahkan, ketika seorang pengemis datang kepada Anda, Anda memberikan pakaian Anda yang bagus kepadanya dan Anda sendiri hanya mengenakan pakaian kasar. Pada saat itulah, malaikat Jibril turun membawakan ayat: Dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.‘”

“Rasulullah saww menangis dan mendekapku ke dadanya. Malaikat Jibril turun dan berkata, ‘Allah menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: Sampaikan salam kepada Fathimah dan katakanlah kepadanya: mintalah apa yang kau inginkan! Jika engkau meminta segala yang ada di langit dan bumi, niscaya Aku akan memberikannya kepadamu. Sampaikanlah kabar gembira kepadanya bahwa Aku mencintainya.'”

“Kemudian Rasullah saww berkata kepadaku, ‘Wahai putriku! Tuhanmu menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: Mintalah apa yang engkau inginkan!'”

“Aku berkata, ‘Wahai ayah tercinta! Kelezatan menyembah-Nya menghalangi saya untuk meminta (sesuatu) kepada-Nya; yang saya butuhkan hanyalah kesempatan memandang wajah-Nya di surga.'”

“Rasulullah saw berkata, ‘Wahai putriku! Angkatlah kedua tanganmu!'”

“Aku pun mengangkat kedua tanganku dan Rasulullah saww juga mengangkat kedua tangan beliau seraya berdoa, ‘Ya Allah! Ampunilah dosa-dosa umatku!’ Dan saya mengamini doa beliau. Malaikat Jibril lalu membawa pesan dari Allah, bahwasannya Dia Swt berfirman: Aku mengampuni dosa-dosa orang-orang yang berdosa di antara umatmu yang di hati mereka terdapat kecintaan kepada Fathimah, ibunya (Sayyidah Khadijah), suaminya, dan putra-putranya.”

“Rasulullah saww berkata, ‘Saya meminta tanda bukti sehubungan dengan hal ini.'”

“Kemudian, Allah Swt memerintahkan malaikat Jibril untuk membawa kain hijau dan putih, yang di atasnya bertuliskan: Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.(al-An’âm 54)”

“Malaikat Jibril, Mikail, dan Rasulullah saww memberikan kesaksian dan tanda tangan mereka di atas kain itu. Rasulullah saww berkata, ‘Putriku, simpanlah tulisan ini! Tatkala ajalmu tiba, berwasiatlah agar tulisan ini diletakkan dalam kuburmu. Pada hari kiamat kelak, ketika manusia dibangkitkan dari kubur mereka dan orang-orang yang berdosa diseret ke dalam api neraka, serahkanlah amanat ini kepadaku sehingga aku dapat menangih apa yang telah Allah janjikan kepadaku dan kepadamu. Engkau dan ayahmu adalah pembawa rahmat (kasih sayang) bagi semesta alam.'”

 

 

 

Duka Imam Ali atas Wafatnya Sayyidah Fathimah

 

Setelah menguburkan jenazah istrinya, Imam Ali kembali ke rumahnya. Di rumah, beliau kesepian dan merasakan duka nan mendalam. Kemudian, beliau berkata:

Kulihat banyak cobaan dunia yang menimpaku

Semua penghuninya pasti kan merasakan itu dalam hidupnya

Di setiap pertemuan dua kekasih, pasti kan ada saat berpisah

Dan hanya sedikit yang terkecualikan darinya

Sungguh, kehilanganku atas Fathimah setelah Ahmad

Adalah bukti tiadanya kekasih yang kan kekal

Suatu hari, beliau berziarah ke makam suci Sayyidah Fathimah. Kemudian, beliau duduk di sana sambil menangis dan melantunkan bait-bait syair berikut:

Kenapa setiapkali kuucapkan salam

Pada kubur kekasihku, tak terdengar jawaban

Hai kuburan, mengapa tak kau jawab panggilanku

Bosankah engkau pada diriku?

Bosannya orang yang dirundung malang?

 

Di sela-sela tangisnya, beliau berkata:

Nafasku terkurung dalam dukanya

Alangkah baiknya bila dia keluar bersamanya

Tiada lagi kebaikan dalam hidup ini sesudahmu

Ku menangis karna takut akan panjang hidupku

 

 

Mencegah Orang yang Hendak Membongkar Kubur Sayyidah Fathimah

 

Diriwayatkan, Imam Ali menguburkan jenazah Sayyidah Fathimah di malam hari. Kemudian, beliau membuat 40 kuburan (palsu) di pekuburan Baqi’.

Tatkala mendengar berita wafatnya Sayyidah Fathimah, kaum muslimin datang ke pekuburan Baqi’. Di sana, mereka menemukan 40 kuburan baru dan tak menemukan kuburan Sayyidah Fathimah. Terdengarlah tangis dan ratapan mereka. Mereka berkata, “Nabi kalian tak meninggalkan kecuali seorang putri, dan kini dia telah wafat dan telah dikuburkan. Kalian tak menyaksikan wafatnya, tak menshalatkannya, dan tak mengetahui kuburnya.”

Kemudian, beberapa pemuka di antara mereka berkata, “Panggillah perempuan-perempuan muslim yang bisa menggali kuburan-kuburan ini, sehingga kita dapat menemukan kuburan Fathimah. Lalu kita menshalatkannya dan menziarahinya.”

Berita itu sampai kepada Imam Ali. Beliau lalu keluar dalam keadaan marah dan kedua matanya memerah. Urat-urat di lehernya pun menegang. Beliau mengenakan pakaian berwarna kuning, yang biasa dipakainya bila mendapat musibah. Beliau pergi membawa pedang Dzul Fiqar hingga sampai di Baqi’. Kemudian, orang-orang itu berteriak, “Ali bin Abi Thalib datang…!”

Imam Ali bersumpah dengan nama Allah bahwa jika ada yang memindahkan satu batu pun dari kuburan itu, beliau akan mengayunkan pedangnya. Salah seorang di antara mereka (Umar bin Khattab) menemuinya. Dia bertanya kepada Imam Ali, “Ada apa, wahai Abul Hasan? Demi Allah, kami akan menggali kubur Fathimah dan menshalatkan jenazahnya.”

Imam Ali menggenggam tangannya dan memukulkannya kepada orang itu sampai dia jatuh ke tanah. Beliau berkata, “Tentang hakku (khilafah), aku membiarkannya karena khawatir orang-orang akan menjadi murtad. Sementara tentang kubur Fathimah, demi Allah yang diri Ali berada dalam kekuasaan-Nya, seandainya kamu dan kawan-kawanmu mengambil sesuatu darinya, tentu aku akan membasahi bumi ini dengan darah kalian! Enyahlah dari sini!”

Sahabat lain (Abu Bakar) menemuinya dan berkata, “Wahai Abul Hasan, demi Rasulullah dan demi Zat Yang Berada di atas ‘Arsy! Maafkanlah dia, sebab kami tidak akan melakukan sesuatu yang tidak engkau sukai…”

Kemudian Imam Ali melepaskannya, dan orang-orang pun berpencar. Setelah itu, mereka tidak pernah kembali lagi.

 

 

Doa Ziarah kepada Sayyidah Fathimah al-Zahra

 

Dinukilkan dengan sanad otentik dari Imam Muhammad al-Jawad, bahwasannya beliau berkata kepada salah seorang sâdah (keturunan Nabi saww), “Tatkala engkau menghadap ke arah kubur nenekmu, Fathimah al-Zahra, maka ucapkanlah: Wahai wanita yang diuji, Allah telah mengujimu, yaitu Tuhan yang telah menciptakanmu sebelum menciptakanmu (di dunia). Kemudian Dia dapati dirimu bersabar atas ujian-Nya. Dan kami mengaku bahwa kami berwilayah kepadamu, serta membenarkan dan bersabar atas apa yang diajarkan kepada kami oleh ayahmu (semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya dan kepada keluarganya) dan apa yang diajarkan kepada kami oleh washinya. Sesungguhnya kami mohon kepadamu, jika kami telah membenarkanmu, dengan pembenaran kami terhadap keduanya, gabungkanlah kami bersamamu, agar kami bisa menyampaikan kabar gembira kepada diri kami, bahwa kami telah suci dengan berwilayah kepadamu.”

Sayyid Ibnu Thawus berkata, “Ucapkanlah dalam ziarah: Salam sejahtera bagimu, wahai pemimpin kaum wanita semesta alam. Salam sejahtera bagimu, wahai ibu para hujah Allah bagi seluruh manusia. Salam sejahtera bagimu, wahai wanita yang teraniaya dan terampas haknya.”

Kemudian ucapkan:

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada hamba wanita-Mu, putri Nabi-Mu, dan istri washi Nabi-Mu, yaitu shalawat yang meninggikan kedekatannya di atas kedekatan hamba-hamba-Mu yang dimuliakan di antara penghuni langit dan bumi.”

Berdasarkan riwayat yang kuat, disebutkan bahwa barangsiapa yang berziarah kepada Sayyidah Fathimah al-Zahra dengan membaca kalimat-kalimat ini, lalu dia memohon ampun kepada Allah, niscaya Allah mengampuni seluruh dosa-dosanya dan memasukkannya ke dalam surga.

 

*****

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s