KELAHIRAN SAYYIDAH FATHIMAH AZ ZAHRA AS

KELAHIRAN SAYYIDAH FATHIMAH AZ ZAHRA AS

 

Termaktub dalam sebuah kitab seorang Alim besar “ AL MAJLISI “ Hyatul qutub, meriwatkan penulis buku “ AL ‘ADAD “ yang mengtakan bahwa : pada hari jum’at tanggal 20 jumadil akhir, bertempat dikota suci Mekkah, telah lahir bayi perempuan yang suci dan disucikan dan akan melahirkan pula Imam – Imam Ma’sum Ass yang bernama Fathimah Az Zahra As.

 

**************

 

Pada suatu hari ketika Nabi Muhammad SAWW duduk dipinggir sungai bersama beberapa sahabat beliau dalam menjelaskan permasalahan dalam bidang agama yaitu, Ammar Bin Yasir, Mundzir Bin Dhahdhah, Abu Bakar, Umar, Ibnu Abbas, Sayyidina Hamzah dan Al Imam ‘Ali Bin Abi Thalib As, Malaikat Jibril As tiba-tiba turun seraya memanggil, “ Wahai Muhammad, Allah SWT yang Mahamulia menyampaikan salam kepada engkau, Allah SWT memerintahkan engkau untuk memisahkan diri dari Khadijah selama 40 hari “. Nabi pun menjalankan perintah tersebut dan memisahkan diri dari Istri beliau Sayyidah Khadijah As.

Dalam menjalankan ini, Nabi diperintahkan berpuasa di siang harinya dan mendirikan shalat di malam harinya. Setelah Malaikat Jibril As pergi, Nabi memerintahkan atau mengutus Ammar Bin Yasir ketempat Khadijah, “ Jangan engkau menyangka aku memisahkan diri darimu karna ingin pindah atau benci, tetapi Tuhanku yang menyuruhku untuk melakukan ini agar urusanNya dapat terlaksana dan jangan engkau berprasangka kecuali dalam kebaikan. Sesungguhnya Allah SWT yang Mahatinggi dan Mahamulia membanggakanmu dihadapan para MalaikatNya setiap hari berulang kali, dan jika malam telah gelap, tutuplah pintu dan tidurlah engkau ditempat tidurmu dan aku berada dirumah Fathimah Binti ‘Asad “.

Ketika usia hari telah mencapai 40 hari, Malaikat Jibril As turun dan berkata, “ Wahai Muhammad, Allah yang Mahatinggi mengirim salam untukmu, Allah SWT menyuruhmu bersiap-siap menerima penghormatanNya dan persembahanNya. “ Nabipun bertanya, “ Wahai Jibril, apa persembahan dan penghormatan Allah SWT akan berikan padaku ?, Malaikat Jibril menjawab, “ aku tidak tahu. Ketika perbincangan terjadi antara Rasulallah SAWW dan Malaikat Jibril As, tiba-tiba Malaikat Mikail As datang sambil membawa mangkok yang dibungkus dengan sapu tangan Sutra kemudian meletakkannya dihadapan Rasulallah SAWW. Malaikat Jibril As mendekat dan berkata , “ Wahai Muhammad, Allah SWT memerintahkan engkau agar malam ini engkau berbuka dengan makanan ini.”

Dalam suatu riwayat dari Al Imam ‘Ali Bin Abi Thalib As berkata : biasanya bila Nabi SAWW ingin makan, beliau menyuruhku untuk membuka pintu bagi mereka yang ingin makan bersamanya. Tetapi pada malam itu, beliau menyuruhku untuk duduk didepan dan bersabda, “ wahai putra Abu Thalib, makanan ini hanya boleh untukku.” Dan sewaktu Nabi ingin mulai makan, diluar dugaan Nabi, mangkok itu berisikan kurma dan setangkai anggur serta satu ceret air.” Nabi kemudian makan dan minum lantas mengeluarkan tangannya untuk dicuci, Jibril menuangkan air dan Mikail mencuci tangan Nabi dan Isrofil mengusapnya. Dan kemudian Nabi berdiri hendak menunaikan Shalat sunah namun Jibril mencegahnya seraya berkata,” sekarang ini shalat haram atasmu wahai Muhammad sebelum engkau mendatangi tempat tidur Khadijah dan berhubungan dengannya kerna Allah SWT telah bersumpah akan menciptakan keturunanmu yang suci dari putrimu pada malam ini. Nabipun kerumah Khadijah. Dan dilain kesempatan Ibunda Khadijah bercerita tentang kisahnya selama ditinggal Nabi selama 40 hari itu,” Aku menjadi terbiasa seorang diri. Jika malam tiba, aku tutup kepalaku dan aku beberkan selendangku dan aku tutup pintu, shalat sesuai kebiasaanku. Lalu aku matikan lampu dan menuju tempat tidurku. Namun dimalam itu aku tidak dapat memejamkan mataku.” Tiba-tiba Nabi datang dan mengetuk pintu rumahku, aku berkata, “ siapakah yang mengetuk tempat yang tidak pernah diketuk selain Muhammad ? “ Nabi menjawabdengan suara yang merdu dan diiringi dengan getaran suara karena rindu yang tak tertahan lagi untuk berjumpa dengan Khadijah. “ Bukalah Khadijah, aku suamimu Muhammad.” Lalu aku bangun dengan hati yang gembira menyambut kedatangannya. Aku membuka pintu untuknya dan beliaupun masuk ke rumah. Dan kebiasaan beliau setelah memasuki rumah adalah meminta diambilkan air untuk berwudhu dan selanjutnya menunaikan shalat dua rakaat lalu menuju tempat tidur.

Namun, malam itu tidak seperti biasanya, beliau tidak meminta untuk mengambilkan air serta tidak menunaikan shalat sunah, melainkan memegang pundakku dan mendudukkan aku diatas pembaringan. Beliau mengajakku bercanda ria dan sampailah terjadi apa yang biasa terjadi diantara suami istri. Khadijah memang merasakan pada malam itu tingkah laku Nabi lain dari biasanya bahkan cintanya kepada Khadijah berbeda dan Nabi memperlakukanku lain dari pada biasanya.

Walaupun Nabi Muhammad SAWW seorang Nabi, seorang pemimpin umat, beliau juga memadu kasih. Bahkan Nabi SAWW, memberikan contoh kepada kita semua ( khususnya kaum Adam ), bagaimana memperlakukan kaum hawa dengan cinta yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam seperti yang dituduhkan kebannyakan orang yang berpikiran picik dan kerdil ( khususnya kuam Wahabi / Salafi ) bahwa seorang Nabi tabu melakukan hal demikian. Bahkan beliaulah contoh yang baik dalam memperlakukan kaum hawa dengan sempurna sesuai kehendak Allah SWT. Seperti juga yang dikatakan Ibunda Khadijah As, “ Demi Allah yang telah mengangkat langit dan mengalirkan air, tatkala Nabi menjauh dariku, aku merasakan beratnya rindu dalam hatiku.” Ini adalah wajar karna Nabi adalah manusia biasa yang bisa dirasakan oleh manusia kebanyakan. Walaupun yang kita saksikan di depan mata kita dalam kehidupan sekarang ini wanita diperlakukan tak ubahnya seorang budak pemuas nafsu seks belaka, bahkan ada yang memperlakukan wanita menjadi alas tempa menempa yang katanya untuk menunjukkan kewibaaan dan kejantanan. Tetapi Agama dan akal menilai itu hanyalah suatu bukti kelemahan mental laki-laki yang berlagak jantan dan wibawa.

Syekh shaduq telah meriwayatkan melalui sanad yang dapat diterima dari Al – Mujaddah Bin Umair : saya bertanya kepada Imam Ja’far As Shadiq As, “ bagaimana kelahiran Sayyidah Fathimah Az Zahra As, Beliau menjawab,” Tatkala Ibunda Khadijah As menikahi Nabi SAWW beliau dijauhkan oleh wanita-wanita Makkah. Mereka tidak pernah menjenguknya, mereka tidak memberi salam padanya, juga tidak membolehkan seorang wanitapun untuk menjenguknya. Karena itu Ibunda Khadijah As, berduka dan bersedih hati jika Rasulallah SAWW keluar rumah.

Pada suatu hari Rasulallah SAWW masuk rumah dan mendengar Ibunda Khadijah As berbincang-berbincang dengan bayi yang masih dalam kandungannya. Beliau pun bertanya kepadanya, “ wahai Khadijah, siapa yang berbicara denganmu? Janin yang berada dalam perutku, ia berbicara kepadaku dan menghiburku, jawab Khadijah.” Maka Rasulallah SAWW berkata kepadanya; Malaikat Jibril As memberi kabar bahwa bayi itu perempuan. Ia orang yang suci dan diberkati. Allah akan menjadikan keturunanku darinya, mereka adalah para Imam Umat, para Khalifahnya dibumi ini setelah terputusnya Wahyu. ( Dala’il Al Imamah, hal, 8).

Hari-hari kehamilan berjalan terus. Tibalah saat melahirkan, Ibunda Khadijah mengutus sorang wanita ketempat wanita-wanita Quraiys dan Bani Hasyim agar mereka datang dan menolongnya, sebagaimana biasa mereka lakukan kepada wanita-wanita lain. Tetapi mereka mengirim utusan kepada Khadijah dan berkata, “ kamu telah membantah kami dan tak mau mendengar omongan kami, kamu menikah dengan Muhammad, anak yatim piaraan Abu Thalib As yang tak punya harta, maka kami tak akan menjengukmu dan tak akan membantumu dalam urusanmu sedikitpun.

Saat kelahiran mendekat, dan tiadanya pertolongan dari wanita Quraisy membuat Ibunda Khadijah As menderita. Dan tanpa disadari tiba-tiba empat wanita berpakaian Abu-abu panjang seakan-akan wanita dari Bani Hasyim datang mendekati Ibunda Khadijah. Seorang dari mereka bekata, “ Wahai Khadijah engkau jangan bersedih hati karna kami adalah utusan-utusan dari Tuhanmu kepadamu, karna kami adalah saudari-saudarimu. Saya adalah Sarah Ibunda Ismail, ini Asiah putri Muzahim temanmu disurga, dan ini Maryam Putri Imran, dan ini Ummu Kaltsum saudari Musa. Kami diutus oleh Allah SWT untuk melayanimu dan membantumu dalam bersalin ini. Seorang dari mereka lalu duduk disamping kirinya, seorang lagi duduk disamping kanannya,  yang ketiga dibelakangnya, dan yang keempat duduk didepannya, lalu Ibunda Khadijah melahirkan Sayyidah Fathimah Az Zahra As dalam keadaan suci dan disucikan.

Ketika Sayyidah Fathimah Az Zahra As menyentuh bumi, cahaya memancar menyinari rumah-rumah di Makkah, maka tak satu tempatpun yang tak disinari olehnya baik diufuk timur maupun barat dibumi ini. Kemudian sepuluh Bidadari surga datang dengan membawa wadah air surga yang berisi air Al Kautsar. Perempuan yang duduk didepan Ibunda Khadijah mengambil Sayyidah Fathimah Az Zahra As dan menyucikannya dengan air Al Kautsar tersebut, lalu mengeluarkan dua helai kain yang lebih putih daripada sutra, lebih harum dari kasturi dan ambar, lalu membungkus Sayyidah Fathimah Az Zahra As dengan satu kain dan menyelimutinya dengan kain yang satunya lagi, lalu ia mengajaknya berbicara dan Sayyidah Fathimah Az Zahra As pun berbicara dengan mengucapkan dua kalimah Syahadah, “ Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Ayahku adalah Rasulallah penghulu para Nabi dan bahwa suamiku penghulu para washi.” Kemudian Sayyidah memberi salam pada mereka dan menyebut nama mereka satu persatu, mereka pun menyambutnya dengan bahagia dan tertawa. Para Bidadari saling mengabari berita gembira atas kelahiran Sayyidah Fathimah Az Zahra As, dan dilangit terlihat cahaya gemerlap yang tidak pernah dilihat oleh para Malaikat sebelumnya.

Keempat perempuan itu kemudian berkata,” Wahai Khadijah ambillah dia dalam keadaan bersih, suci dan disucikan. Semoga ia mendapat berkah, begitu pula keturunannya, “ lalu Ibunda Khadijah mengambilnya dengan penuh riang gembira dan memberinya minuman dari air susunya yang mengalir dengan deras, dan Sayyidah Fathimah Az Zahra As tumbuh sehari laksana bayi tumbuh sebulan, dan sebulan laksana setahun.

 

 

 

 

 

NAMA NAMA SAYYIDAH FATHIMAH AZ ZAHRA AS

 

Adalah sunnatullah untuk memberi nama Makhluknya ketika dilahirkan, sebagaimana Dia memberi nama Adam dan Hawa. Begitu pula dalam pemberian nama untuk para kekasih Allah SWT, yang memiliki arti yang sangat besar karena tradisi bersumber dari Allah Yang harus dipegang teguh oleh manusia yang beradab.

Imam Ja’far Ash Shadiq As, bersabda : Ibuku Sayyidah Fathimah Az Zahra As, memiliki sembilan nama disisi Allah SWT. Dan nama – nama tersebut memiliki arti dan makna tersendiri yang dikhususkan kepada Sayyidah Fathimah Az Zahra As.

 

1. FATHIMAH ( yang melindungi )

Imam Ja’far Ash Shadiq As, bersabda kepada seorang sahabatnya,” tahukah engkau, apa tafsir Fathimah ?” sahabatnya menjawab,” beritahu aku wahai penghuluku.” Beliau menjawab,” terlindung dari kejahatan.” Lalu beliau melanjutkan,” sekiranya bukan Amirul mu’minin yang menikahinya, niscaya tidak ada tandingannya diatas bumi ini sampai hari kiamat, sejak dari Nabi Adam sampai hari kiamat.

Dan didalam Hadits hadits mutawatir baik dari perawi Sunni ataupun Syi’ah telah diriwayatkan bahwa,” beliau dinamai Fathimah karna Allah SWT melindunginya dan pengikutnya dari api Neraka.”

 

2. AS SIDDIQAH 

As Siddiqah berarti yang kebenarannya sempurna. Fathimah disebut As Siddiqah karna ia membenarkan ayat-ayat Tuhannya, kenabian Ayahnya keutamaan suaminya dan pengangkatan suaminya sebagai penerus Risalah kenabian. Demikian pula anak-anaknya. Fathimah benar perbuatannya, selalu berbuat baik, dan memiliki Ibadah yang istimewa serta keyakinan yang dalam dan tidak lagi disentuh oleh keraguan, seperti yang telah tercantum dalam salah satu ayatNya yang berbunyi, “ dan orang-orang yang beriman pada Allah dan Rasulnya, mereka itulah yang senantiasa benar,” (Qs : Al – Hadid : 19 )

Dan ada juga yang mengartikan As Siddiqah itu “ Orang yang dijaga “

 

3 AL MUBARAKAH

Allamah Al Majlisi pengarang kitab Al Bihar berkata, “ Al Mubarakah adalah wanita yang dibekali dalam hal keilmuan, dan berbagai kesempurnaan, serta berbagai Mu’jizat. Begitu pula dengan keturunannya yang mulia.”

Kitab Taj Al ‘Ars mengartikan Al Mubarakah dengan pertumbuhan, kebahagiaan dan kelebihan. Al – Raghib berkata, : karena berita-berita dari Tuhan muncul melalui cara yang tak dapat ditahan, dalam bentuk yang tak terhitung, maka dikatakanlah kepada sesuatu yang dapat dilihat sebagai suatu kelebihan indrawi dan diberkati serta ada berkat didalamnya.

Allah SWT telah memberkati Sayyidah Fathimah Az Zahra As dan keturunannya, Allah menciptakan keturunan RasulNya dan menciptakan banyak kebaikan pada keturunannya. Seperti kepada kedua putranya ( Al Hasan dan Al Husein ), yang menjadi Imam begitu pula dengan dua putrinya ( Zainab dan Ummu Kultsum ). Sejarah mencatat Imam Hasan As, Syahid karena diracun, dan Imam Husein As Syahid dipadang Karbala yang dibantai bersama kluarga dan sahabat-sahabat beliau yang setia dan menyisakan Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin As Sajjad As, yang juga pada akhirnya diracun dan Syahid. Pada peristiwa Karbala tujuh orang putra Imam Hasan As, dan dua orang putra Zainab Al Kubra As ikut terunuh.

Penganiayaan senantiasa berlangsung terhadap keluarga Rasulallah SAWW dan menjadi pekerjaan penguasa-penguasa tiran hingga bertahun-tahun hingga sekarang dan sampai hari kiamat.melalui penyiksaan orang-orang yang berada dibawah kekuasaan mereka. Tak dipungkiri lagi para pengikut mereka pun dicaci maki, difitnah, bahkan dibantai laksana binatang, walaupun demikian, keturunan Rasulallah SAWW melalui putrinya Sayyidah Fayhimah Az Zahra As, berlanjut hingga hari kiamat memenuhi penjuru dunia ini.

 

4. ATH THAHIRAH

Nama ini diberikan sesuai ayat yang berbunyi, : Sesungguhnya Allah berkehendak ingin menghilangkan kotoran dan noda dari kalian wahai Ahlil Bait, dan mensucikan kalian dengan sesuci-sucinya.” ( Al Ahzab ; 33 : 33 ).    

 

5. AZ ZAKIYYAH

Sayyidah Fathimah Az Zahra As, dinamai Az Zakiyyah karena beliautelah mensucikan dirinya melalui Akhlaq Mulia dan menjauhkan semua bentuk kejahatan, keburukan, baik itu emosi, dengki, egois, malas, dan perangai-perangai hina lainnya.

 

6. AR RADIYYAH

Sayyaidah Fathimah Az Zahra As, diri nama Ar Radhiyyah karena beliau adalah orang yang paling rela pada Taqdir Allah SWT. Itulah drajat keimanan yang paling tinggi. Sayyidah Fathimah Az Zahra As menanggung berbagai petaka dan derita,ketakutan dan kefakiran, boikot, dan berbagai kesusahan serta kesedihan sejak awal kehidupannya sampai akhir kehidupannya.

Allah SWT berfiman dalam kitab sucinya, “ wahai jiwa yang tenang, kembalilah pada tuhanmu dalam keadaan ridha dan di ridhai.” ( Al Fajr : 27 )

Sayyidah Fathumah Az Zahra As rela atas apa yang diberikan Allah didunia, baik berupa Qadha dan Takdir. Karna kerelaan Fathimah, Allah SWT juga rela terhadapnya.

 

7. AL MARDIYYAH

Sayyidah Fathimah Az Zahra As, dinamai Al Mardhiyyah karna telah di ridhai Allah SWT atas keteguhan dan ketaatannyayang sangat tinggi.

 

8. AL MUHADDATSAH

Al Muhaddatsah berarti orang yang berbicara dengan para Malaikat. Jika ada yang bertanya, “Apakah ada Malaikat yang berbicara dengan manusia selain para Nabi ?” jawabnya, “Ya”. Dan hal ini diperkuat dengan ayat yang  berbunyi, “ Dan  ( ingatlah ) ketika Malaikat ( Jibril ) berkata : Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu atas segala wanita ( yang sama dengan kamu ).” ( Maryam : 42 )

“ Hai Maryam, taatlah kepada tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama-sama orang yang rukuk.” ( Maryam : 43 )

“ Yang demikian itu adalah dari brita-berita ghaib yang kami wahyukan kepada kamu ( Muhammad ), padahal kamu tidak hadirbeserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mreka ( untuk mengundi ) siapa diantara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir disisi mereka ketika mereka bersengketa. ( Maryam : 44 ).

“ Maryam berkata : “ bagaiman akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedangka tidak pernah seorang manusia pun berkumpul denganku dan aku bekan ( pula ) seorang pezina ! Jibril berkata : Demikianlah. Tuhanmu berfirman :” hal itu aalah mudah bagiku dan agar dapat kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami, dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” ( Maryam : 20-21 ).

 

Masih banyak lagi ayat-ayat yang menguatkan hal ini. Karena itu, tidaklah aneh jika para Malaikat mengajak Sayyidah Fathimah Az Zahra As berbicara seperti Maryam. Sayyidah Fathimah Az Zahra As adalah penghulu wanita diseluruh alam. Dan juga adalah putri dari penghulu seluruh para Nabi dan Rasul. Syaikh Shaduq ra, didalam kitabnya Hal al Syara’i dari Zaid Bin ‘Ali berkata : saya mendengar abu Abdillah As Shadiq As, bersabda : Fathimah diberi nama Al Muhaddhastah karna Malaikat dari langit turun dan mmanggilnya eperti Maryam putri Imran. “ wahai Fathimah, sesungguhnya Allah SWT, telah memilihmu dan mensucikanmu serta memilihmu diatas seluruh wanita diseluruh alam.”

 

9. AZ ZAHRA

Beliau dinamai Az Zahra sesuai dengan Hadits yang termuat dalam kitab Al Bihar jilid 10 dari Amali Ash Shaduq dari Ibnu Abbas bahwa Rasulallah SAWW bersabda, “ Adapun putriku Fathimah, maka ia penghulu wanita seluruh alam sejak pertama hingga akhir. Dialah segumpal daging dariku, dialah cahaya mataku, dialah buah hatiku, dialah ruhku yang ada dikedua sampingku, dialah bidadari wanita disaat berdiri didalam mihrabnya didepan tuhannya. Cahayanya gemerlapan menyinari ( zahara ) para Malaikat langit seperti cahaya bintang menyinari pnghuni bumi.

Hadits ini menjelaskan makna dan sebab digelarinya Fathimah dengan Az Zahra. Fathimah juga dianugrahi wajah yang bersinar berkilau. Dan masih banyak lagi Hadits yang menjelaskan ini.

 

AL BATUL

Nabi Muhammad SAWW, ditanya, apa makna Al Batul ? Beliau menjawab,” Al Batul adalah yang tak pernah merah sedikitpun. Sesungguhnya Allah SWT, tidak suka jika Fathimah dicemari oleh darah Haid dan Nifas, karna itulah Fathimah penghulu seluruh wanita yang tercipta dari buah Surga yang disucikan sesuci-sucinya.

 

Kehidupan dan Perjuangan

Sayyidah Fathimah Az Zahra As

 

Sayyidah Fathimah Az Zahra As, membuka matanya dirumah yang selalu didatangi wahyu. Dia slalu dalam pemeliharaan Ibunya Sayyidah Khadijah Al Kubra As, yang selalu menyusuinya, yang dipenuhi keutamaan dan kemuliaan, kesempurnaan dan kecintaan yang tulus. Ayahnya Rasulallah SAWW mengajarinya Ilmu tauhid yang paling utama. Beliau menuangkan ilmu-ilmu Ma’rifat, Rabbani, keimanan dan akhlaq yang mulia.

Sayyidah Fathimah Az Zahra As, adalah sosok yang layak untuk diteladani dalam kesiapannya yang sempurna. Dia memiliki ilmu Spiritualitas yang tinggi, serta kepribadian yang ideal. Kehidupannya adalah kehidupan para kekasih Allah SWT. Dunia sebagai tempat ujian dan cobaan bukan tempat balasan. Karna itulah kehidupan beliau dipenuhi berbagai penderitaan dan peristiwa yang menggiriskan, sejak masa dini sampai menemui panggilan Allah SWT. Begitu pula yang begitu mengerikan dimana peperangan terjadi, serangan dari keluarganya, tetangga dekatnya dan seluruh kaum kafir dan Musyrikin.

Diantara banyak pendirataan Sayyaidah Fathimah Az Zahra As, salah satunya adalah ketika beliau memasuki Masjidil Haram, beliau melihat kaum Musyrikin melemparkan kotoran domba kepunggung Rasulallah SAWW, saat beliau sedang sujud. Tiba-tiba Fathimah kecil mendatangi ayahnya dan memungut kotoran itu serta membuangnya. Setelah itu beliau membersihkan punggung serta kepala ayahnya dengan ayahnya dengan tangannya yang kecil. Menghiburnya dan membawanya kerumah, sementara orang-orang kafir disekelilingnya tertawa terbahak-terbahak.

Ketika Sayyidah Fathimah Az Zahra As beranjak dewasa, beliau menjadi panutan dan contoh teladan dalam sifatnya yang agung. Rasa kemanusiaan, tanggung jawab, harga diri, kesucian, kepedulian social, kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang dimilikinya dengan sempurna. Dia adalah seorang yang lahir dan tumbuh besar dalam sebuah rumah yang selalu didatangi oleh wahyu. Tumbuh disekitar madrasah kenabian dan imamah serta langsung mendapat didikan dari Allah SWT. Adalah wajar apabila beliau sangat berbedadengan anak-anak seusianya. Namun, dalam masa yang sama, beliau juga mempelajari sejumlah ketangkasan yang popular disekitar wanita semenanjung Arab sekitarnya. Karna itu beliau dapat mengobati dan merawat tentara-tentara ayahnya disegala peperangan. Dia mengurus rumah tangganya sedemikian tanpa bantuan dari wanita-wanita Madinah ketika itu. Dari berbagai riwayat berkenaan dengan beliaul, senantiasa sibuk dengan kegiatan-kegiatan ruhaninya dan tak pernah melalaikan kegiatan atau pekerjaan yang tidak sesuaidengan dirinyadan rumah tangganya. Ia juga tak pernah menjawab pertanyaan yang tidak diajukan kepadanya, bahkan hanya akan berbicara apabila merasa diperlukan.

 

Penderitaan dilembah Abu Thalib

Seiring dengan perjuangan Nabi, tekanan yang dihadapi keluarga suci ini semakin memuncak dan deraan ujian kian membesar. Yang terburuk adalah ketika Rasulallah SAWW secara terpaksa menyepi kelembah Abu Thalib. Beliau ditemani oleh keluarga Abu Thalib. Embargo yang dijatuhkan meliputi Ekonomi, social dan pemutusan hubungan total yang berlangsung selama 3 tahun lebih. Sekiranya bukan karena posisi Abu Thalib yang terhomat pada waktu itu, yang dengan gigih menjaga Rasulallah SAWW dan Agamanya, niscaya akan menjadi lebih parah.

Kami akan menyingkap sedikit rahasia yang selam ini terpendam dan disembunyikan oleh penguasa Zalim pada waktu itutentang keimanan Abu Thalib – Ayah dari Imam ‘Ali As -.mertua sekaligus kakek Sayyidah Fathimah Az Zahra As.

Bukti keimanan Abu Thalib adalah terbukti dari penjagaan beliau atas diri Nabi agung Nabi Muhammad SAWW, dari Nabi masih kecil, tepatnya sewaktu Abdul Muthalib menunjuk Abu Thalib sang paman untuk melanjutkan pengasuhannya kepada Nabi setelah Abdul Muthalib wafat. Abu Thalib menjaga Nabi dengan kasih sayang, serta Istrinya Fathimah Binti Asad As, bahkan melebihi dalam menjaga anak-anaknya sendiri. Bukannya Abu Thalib tidak melindungi anak-anaknya sendiri atau pilih kasih, tapi memang beliau sudah menyadari akan kelebihan Muhammad.

Bahkan beliaupun sudah mengetahui bahwa Muhammad kelak akan menjadi eorang Nabi akhir zaman dan sebagai penerus risalah yang dibawa oleh Nabi Ibrahim As, ini terbukti dari pemberitahuan seorang pendeta Nasrani sewaktu beliau mengajak Muhammad yang saat itu masih berusia 10 tahun, maka Abu Thalib menyegerakan pulangnya dari Syam. Bahkan perlindungan dan kasih saying beliau kepada kemenakannya ini semakin besar.

Adapun bukti lain dari keimanan Abu Thalib adalah dengan secara khusus Abu Thalib melantunkan Syair kepada Muhammad SAWW, :

Kau adalah Nabi, wahai Muhammad

Penghulu dan manusia mulia

Orang-orang yang agung, yang dalam kemuliaannya

Menjadi mulia karna keagungan kelahiranmu

Aku berjanji dengan benar kepadamu

Janji yang tak dapat diubah

Bahwa kau selalu mengucap kebenaran

Sejak kau masih kanak-kanak

Selagi masih hidup, aku kan menjamin keselamatanmu

Akulah sang pemberani

 

Dan tentang komitmennya terhadap dakwah Nabi Muhammad SAWW, Abu Thalib bersyair, :

 

Ya Allah, engkau menyaksikan kesaksianku

Bahwa aku pada agama sang Nabi Ahmad

Siapa yang ragu akan Agama ini

Akulah yang akan menunjukinya

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s