KARAMAH SAYYIDAH FATHIMAH AL-ZAHRA

 

KARAMAH SAYYIDAH FATHIMAH AL-ZAHRA

(Oleh: Abbas Azizi)

 

 

 

Karamah Sayyidah Fathimah atas Ummu Aiman

Tatkala Sayyidah Fathimah al-Zahra wafat, Ummu Aiman bersumpah untuk tidak tinggal di Madinah. Sebab, dia tak tahan menyaksikan tempat kosong Sayyidah Fathimah. Karenanya, dia pergi menuju Mekah. Di tengah jalan, dia mengalami kehausan yang tak tertahankan. Kemudian, dia mengangkat kedua tangannya ke langit seraya berkata, “Ya Allah! Aku pelayan Sayyidah Fathimah. Selamatkan daku dari haus yang mencekik ini!”

Pada saat itulah, Allah Swt menurunkan sebuah periuk (berisi air) dari langit. Ummu Aiman meminum air itu dan selama tujuh tahun tak membutuhkan makanan dan air. Di musim panas, dia sama sekali tidak merasa haus.

 

Buah Tawassul kepada Sayyidah Fathimah

Empat tahun silam, hiduplah seorang ulama bernama Ayatulah Mirza Muhammad Reza Kermani (w 1328 Hijriyah Syamsiyah) di kota Kerman. Pada masa itu, sebuah kelompok sesat bernama Syaikhiyah merajalela.

Suatu ketika, Ayatullah Kermani mengundang Sayyid Yahya Yazdi untuk datang ke kota Kerman agar beliau dapat menasihati dan membimbing masyarakat dari kesesatan kelompok Syaikhiyah dan mencegah penyebaran ajaran sesat itu. Almarhum Sayyid Yahya Yazdi menerima undangan itu dan pergi menuju kota Kerman. Kelompok Syaikhiyah mengetahui rencana kedatangan beliau ini dan mereka berencana untuk membunuh beliau secaya diam-diam.

Salah seorang tak dikenal di antara mereka mengundang Sayyid Yahya Yazdi ke suatu tempat di jam tertentu dengan alasan untuk berceramah di mimbar. Sayyid Yahya Yazdi menerima undangan ini. Kemudian mereka membawa beliau ke suatu tempat. Tak lama setelah itu, Sayyid Yahya Yazdi mulai menyadari bahwa mereka membawa beliau ke sebuah kebun yang terletak di luar kota, bukan untuk tujuan berceramah. Beliau mulai merasakan adanya bahaya yang mengancam. Di tempat itu, tak seorang pun yang mengetahui keberadaan beliau.

Dalam kondisi kritis seperti itu, Sayyid Yahya Yazdi bertawasul kepada Sayyidah Fathimah al-Zahra dengan cara mengerjakan shalat Istighatsah bil Bathûl (mohon pertolongan Allah melalui perantaraan Sayyidah Fathimah—penerj.). Dalam sujudnya, beliau berdoa, “Ya maulâti, ya Fathimah aghîtsînî (Wahai junjunganku, wahai Fathimah, tolonglah daku!)”

Bahaya semakin dekat. Mereka mulai bersiap-siap untuk membunuh beliau dan mencincang tubuh beliau. Pada saat genting itu, tiba-tiba terdengar suara takbir orang-orang. Tampaknya, orang-orang sudah mengepung kebun itu dan lalu menyerang kelompok Syaikhiyah. Kelompok sesat itu berhasil dilumpuhkan. Akhirnya, Sayyid Yahya Yazdi selamat. Kemudian orang-orang membawanya ke rumah Ayatullah Muhammad Reza Kermani yang terletak di kota Kerman.

Sayyid Yahya Yazdi bertanya kepada Ayatullah Kermani, “Dari mana Anda mengetahui bahwa saya hendak dibunuh oleh kelompok Syaikhiyah?”

Ayatullah Kermani menjawab, “Di alam mimpi saya melihat Sayyidah Fathimah mengatakan kepada saya, ‘Hai Syaikh Muhammad Reza, cepatlah selamatkan anak keturunanku (Sayyid Yahya Yazdi)! Jika engkau datang terlambat, dia bakal terbunuh.'”

 

Sumpah Demi Jiwa Sayyidah Fathimah

Tersebutlah dua bersaudara; salah satunya berperilaku baik dan lainnya berperilaku buruk serta suka mengganggu orang lain sehingga orang-orang merasa tersakiti dengan tingkah laku dan ucapannya. Orang-orang sering mengadukan perbuatan saudaranya yang jahat itu kepada saudaranya yang baik. Hingga suatu ketika, dua bersaudara itu begabung dengan serombongan yang berniat untuk berziarah ke makam suci Imam Ali al-Ridha di kota Masyhad, Iran.

Sebagaimana biasa, saudara yang buruk itu tetap saja menjahili dan mengganggu para penziarah. Di tengah jalan, saudara yang jahil itu jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Semua orang merasa senang atas kematiannya. Akan tetapi, saudaranya yang baik tetap memandikan jenazahnya, menshalatinya, mengafaninya, mengelilingkan jenazahnya ke seputar makam suci Imam Ali al-Ridha, dan menguburkannya.

Malam harinya, saudara yang baik itu melihat dalam mimpinya bahwa saudaranya yang jahat itu berada di sebuah taman dengan pakaian mewah dan tampak bahagia. Dia pun bertanya, “Apa yang terjadi sehingga engkau mencapai kedudukan mulia ini? Semasa hidupmu, engkau tak pernah berbuat baik.”

Dia menjawab, “Saudaraku, tatkala nyawaku dicabut, aku merasakan sakit yang luar biasa. Air yang disiramkan untuk memandikan jenazahku, terasa seperti api yang membakar tubuhku. Kain kafan yang digunakan untuk menutupi jasadku, bak kain yang terbuat dari api. Bahkan, tandu yang digunakan untuk mengusung jenazahku, terasa panas seperti api. Dua malaikat memukuliku dengan pemukul yang terbuat dari api. Ketika kami memasuki area makam suci Imam Ali al-Ridha, dua malaikat itu berhenti menyiksaku dan menjauh dariku. Sewaktu orang-orang mengelilingkan jenazahku di seputar makam suci Imam Ali al-Ridha, saya melihat beliau berada di atas tempat yang tinggi sedang sibuk memperhatikan orang-orang yang berziarah ke makam beliau. Saya memohon syafaat dari beliau, namun beliau tak memedulikanku. Ketika orang-orang mengangkat jenazahku, aku melihat seorang lelaki tua yang wajahnya memancarkan cahaya. Orang itu berkata kepadaku, ‘Mintalah syafaat dari Imam Ali al-Ridha! Jika tidak, dua malaikat itu akan kembali menyiksamu sekeluarnya dari tempat ini.'”

“Aku berkata, ‘Wahai orang tua, saya telah meminta pertolongan dari Imam Ali al-Ridha, namun beliau tak memedulikanku.’ Orang tua itu berkata, ‘Mintalah kepadanya seraya bersumpah atas nama ibunya, Fathimah al-Zahra., niscaya engkau tak terusir dari rumahnya.’ Kemudian aku meminta pertolongan kepada Imam Ali al-Ridha seraya bersumpah atas nama Sayyidah Fathimah al-Zahra. Dua malaikat penyiksa itu pun pergi meninggalkanku dan digantikan oleh dua malaikat rahmat yang mengantarkanku pada kedudukan dan kenikmatan ini.”

 

Tawassul Imam al-Baqir kepada Sayyidah Fathimah

Setiapkali Imam Muhammad al-Baqir terkena demam, beliau meminta air minum. Ketika air itu berada di tangannya, beliau meminumnya sedikit. Kemudian beliau berhenti minum sejenak dan berteriak dengan suara lantang sehingga suara beliau terdengar sampai di luar rumah. Dengan hati yang khusyuk beliau berteriak, “Ya Fathimah! Ya Binta Rasulillah! (Wahai Fathiimah! Wahai putri Rasulullah!)”

Dengan menyebut nama Sayyidah Fathimah al-Zahra dan bertawasul kepada wanita suci ini, Imam al-Baqir sembuh dari sakitnya.

 

Tawassul Imam al-Jawad kepada Sayyidah Fathimah

Setiap menjelang matahari tergelincir, Imam Muhammad al-Jawad pergi ke Masjid Nabawi. Usai salam dan bershalawat kepada Rasulullah saww, beliau pergi ke rumah ibunya, Sayyidah Fathimah yang terletak di dekat makam suci Rasulullah saww. Setibanya di sana, beliau melepas sepatunya dan memasuki rumah itu dengan penuh khidmat. Di sana, beliau mendirikan shalat, berdoa, dan menyibukkan diri dengan ibadah. Beliau tak pernah berziarah ke makam suci Rasulullah saww tanpa mengunjungi rumah ibunya, Sayyidah Fathimah al-Zahra.

Dalam untaian doa Ziarah al-Jâmiah bisa diketahui sejauh mana hubungan dan penghormatan Imam Muhammad al-Jawad terhadap ibunya, Sayyidah Fathimah al-Zahra.

 

Tawassul Sayyidina Abu Thalib kepada Sayyidah Fathimah

Sebelum kelahiran Imam Ali di Mekah, terjadi gempa besar yang mengakibatkan bebatuan besar berjatuhan dari Gunung Balqis. Sayyidina Abu Thalib, naik ke tempat yang tinggi seraya berdoa, “Wahai Tuhanku dan Junjunganku! Aku mohon kepada-Mu dengan (perantaraan) al-Muhammadiyah yang terpuji, al-‘Alawiyah yang tertinggi, dan al-Fathimiyah yang bercahaya, agar Engkau karuniakan rahmat dan kelembutan kepada penduduk Mekah.”

Pada saat itulah, bumi seketika tenang dan gempa berhenti. Orang-orang pun menghafalkan kalimat (doa tawassul) tersebut. Mereka membacanya di saat-saat menghadapi problema dan bencana, meski mereka tak mengerti maksudnya.

 

Kedekatan Imam Ali al-Ridha dengan Sayyidah Fathimah

Seorang pemuka hauzah (semacam pesantren) di kota Qum (Iran), menghadapi masalah besar. Untuk menyelesaikan persoalannya, dia bermaksud untuk berziarah ke makam suci Imam Ali al-Ridha yang terletak di kota Masyhad. Secara kebetulan, ketika itu Allamah Thabathaba’i juga berencana untuk berziarah ke makam suci Imam Ali al-Ridha. Orang itu segera datang menemui Allamah Thabathaba’i. Seraya meneteskan air mata dan hati hancur, dia meminta kepada beliau agar mengajarkan kepadanya suatu doa untuk memenuhi kebutuhannya.

Allamah Thabathaba’i memandang wajah dan keadaan orang itu dengan pandangan iba dan berkata, “Anakku, tatkala engkau memasuki makam suci Imam Ali al-Ridha, di antara doa paling berpengaruh adalah engkau bersumpah kepada Imam Al-Ridha atas nama Sayyidah Fathimah al-Zahra agar beliau memintakan hajatmu kepada Allah. Sebab, Imam Ali al-Ridha memiliki hubungan (batin) yang amat dekat dengan ibunya, Sayyidah Fathimah al-Zahra. Bersumpah atas nama ibunya, amat beliau sukai dan sangat berpengaruh.”

Orang itu menuturkan, “Mendengar perkataan ini, saya sangat terpengaruh dan sekujur tubuhku bergetar. Tawassul dan sumpah atas nama al-Zahra benar-benar mampu memenuhi kebutuhan saya.”

 

Kesembuhan Penyakit Tak Terobati

Salah seorang ulama mengisahkan:

Sekitar 20 tahun lalu, istriku tertimpa suatu penyakit tak tersembuhkan. Setelah pengobatan, pemeriksaan cermat, dan rontgen, para dokter menyatakan bahwa penyakit itu aneh dan tak bisa diobati. Resep dan segala macam obat tak membuahkan hasil. Kami pun sedih dan bingung.

 

Kemudian, kami bertawassul pada Sayyidah Fathimah al-Zahra dan mengerjakan Shalat Fathimah sebagaimana yang disebutkan dalam buku-buku doa. Usai membaca zikir dan dalam kondisi hati hancur, aku tertidur di saat sedang sujud. Dalam tidurku, aku melihat Sayyidah Fathimah mengusap istriku yang sakit dengan lembut dan kasih sayang. Tiba-tiba, aku terbangun dari tidur dan rasa putus asaku berubah menjadi harapan. Sejak hari itu, kondisi istriku berangsur membaik. Setelah beberapa hari, dia sembuh total. Untuk pemeriksaan rutin dan kemantapan hati istriku, aku membawanya ke dokter. Setelah pemeriksaan yang cermat, dengan nada heran dokter itu berkata, “Sama sekali saya tak melihat penyakit dalam dirinya.”

 

Hidangan Surga Berkat Doa Sayyidah Fathimah

Kalimah Thayyibah, istri Sayyid Haidar (ulama terkemuka Ahlul Bait), adalah seorang wanita bertakwa dan saleh. Setiap tahun, dia berpuasa di bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan secara berturut-turut.

 

Suatu malam di bulan Rajab, banyak tetamu datang ke rumah suaminya. Wanita terhormat itu sibuk menyiapkan hidangan untuk tamunya hingga dia tak sempat berbuka puasa kecuali hanya dengan minum segelas air. Untuk makan sahur, dia telah menyiapkan makanan untuk dirinya. Salah seorang tetangga yang miskin datang ke rumahnya dan minta makan. Wanita itu memberikan makanan simpanannya kepada orang fakir itu. Setelah itu, dia mengerjakan shalat tahajjud.

Usai shalat, dia minum sedikit air dan menutup pintu kamar. Dia menyalakan pelita dan hendak tidur. Tiba-tiba, dia melihat dua wanita masuk ke kamarnya. Salah satunya lebih kecil, namun kedudukannya lebih tinggi. Kedua wanita itu duduk di sebelah atas kepala Kalimah Thayyibah. Wanita yang lebih kecil bertanya kepadanya, “Putriku, bagaimana (mungkin) engkau berpuasa tanpa makan sahur?”

Kalimah Thayyibah menjawab, “Seorang fakir datang dan saya berikan makanan     saya kepadanya.”

Kembali wanita itu bertanya, “Sekarang, apa yang engkau inginkan?”

Dia menjawab, “Jika memungkinkan, saya ingin makan sedikit buah, sayuran, dan  manisan.”

Kemudian, kedua wanita itu memberikan kepadanya dua buah kantung berwarna  hijau, salah satunya berisi buah dan lainnya sayuran; masing-masing seberat 500 gram. Kalimah Thayyibah mengambil kantung itu dan mereka pun pergi.

 

Masuk Islam Berkat Nama Sayyidah Fathimah

 

Seseorang mengisahkan:

Suatu ketika, saya bersama Ayatullah al-‘Udhma Sayyid Muhammad Hadi Mailani. Seorang pria dan wanita Jerman datang bersama putrinya. Setelah memperkenalkan diri, mereka berkata, “Kami datang untuk menyatakan masuk Islam.”

Ayatullah Mailani bertanya, “Apa alasannya?”

Pria itu menjelaskan, “Tulang punggung putri saya yang sekarang duduk di depan Anda ini patah dalam suatu kecelakaan. Para dokter tak mampu mengobatinya dan mengatakan bahwa putri kami harus dioperasi. Akan tetapi, operasi beresiko tinggi. Putri saya tak bersedia dioperasi dan mengatakan, ‘Mati di atas tempat tidur lebih baik ketimbang mati di ruang operasi.’ Karenanya, kami membawanya pulang ke rumah. Kami mempunyai pembantu orang Iran yang biasa kami panggil dengan sebutan Bibi. Putri saya berkata kepadanya, ‘Aku rela menyerahkan seluruh tabunganku demi memperoleh kesembuhan. Namun, aku pikir, aku akan meninggal dunia dengan hati kecewa.’ Bibi berkata, ‘Aku kenal seorang dokter yang mampu menyembuhkanmu.’ Putri saya berkata, ‘Aku bersedia menyerahkan seluruh harta dan diriku kepadanya.’ Bibi berkata, ‘Simpanlah semua itu untukmu. Ketahuilah, aku seorang ‘Alawiyyah (anak keturunan Nabi) dan nenekku adalah Sayyidah Fathimah al-Zahra, yaitu wanita yang tulang rusuknya patah lantaran dizalimi. Dengan hati hancur dan air mata mengalir, ucapkanlah: Wahai Fathimah, sembuhkanlah aku!‘”

“Putri saya mulai berteriak; memanggil-manggil wanita agung itu dan meminta pertolongan darinya dengan hati hancur. Bibi yang duduk di sudut ruangan, berdoa seraya menangis, ‘Wahai Fathimah al-Zahra, aku mengajak gadis Jerman ini untuk menjumpaimu dan aku berharap engkau menyembuhkannya. Wahai wanita agung, bantulah aku dan selamatkanlah kehormatanku!'”

Pria Jerman ini melanjutkan kisahnya, “Melihat pemandangan mengharukan itu, hati saya tersentuh dan saya pun turut berseru, ‘Wahai Fathimah yang tulang rusuknya patah, tolonglah kami!'”

“Saya melihat putri saya terdiam sejenak. Tiba-tiba, dia memanggil saya dan berkata, ‘Ayah, kemarilah! Rasa sakitku reda seketika.’ Saya pun berlari mendekatinya dan melihatnya benar-benar sembuh total. Putri saya berkata, ‘Sekarang aku sedang berada di laut. Seorang wanita agung datang menghampiriku dan mengusap tulang punggungku dengan tangannya. Aku bertanya, ‘Siapa engkau?’ Dia menjawab, ‘Aku adalah wanita yang engkau panggil.”‘

“Putri saya bangkit berdiri dan benar-benar sehat. Kami mulai meyakini bahwa Islam adalah agama yang benar. Sekarang, kami datang ke Iran dan berkunjung ke rumah Anda untuk menyatakan masuk Islam.”

Almarhum Mailani dan orang-orang yang hadir merasa senang mendengar mukjizat ini. Kemudian, beliau mengajarkan kepada mereka dua kalimat syahadat dan ajaran dasar Islam. Mereka pun pergi dengan membawa cahaya Islam.

 

Karamah Sayyidah Fathimah al-Zahra

Di daerah Abbas Abad, India, sekelompok pengikut Ahlul Bait berkumpul pada hari-hari Asyura (Muharram). Mereka mencari seseorang yang memainkan peran sebagai Abul Fadhl Abbas, namun tak menemukan orang yang cocok. Hingga akhirnya, mereka menemukan seorang pemuda yang ayahnya adalah pembenci Ahlul Bait (keluarga suci Nabi).

Mereka menyuruh pemuda itu memainkan peran sebagai Abul Fadhl Abbas dan acara pun diadakan. Malamnya, pemuda itu pulang ke rumah. Ayahnya bertanya kepadanya, “Dari mana kamu?”

Ketika si ayah mengetahui apa yang telah dilakukan anaknya, dia menjadi sangat gusar dan bertanya, “Apakah kamu mencintai Abul Fadhl Abbas?”

Pemuda itu menjawab, “Ya, jiwaku rela berkorban untuknya.”

Si ayah berkata, “Jika demikian, serahkan kedua tanganmu untuk aku potong demi mengingat kedua tangan Abbas yang terpotong!”

Pemuda itu mengulurkan tangannya dan si ayah langsung memotongnya. Si ibu menangis histeris dan berkata, “Wahai suamiku, mengapa engkau tak malu kepada Sayyidah Fathimah?”

Lelaki itu berkata kepada istrinya, “Jika engkau mencintai Fathimah, maka lidahmu akan kupotong.”

Kemudian lelaki itu memotong lidah istrinya dengan keji. Setelah itu, dia mengusir anak dan istrinya keluar rumah seraya berkata, “Pergilah kalian dan tunjukkan pada Abbas kekuatanku ini!”

Dua orang itu pergi menuju daerah Abbas Abad dan berhenti di sebuah masjid. Mereka meratap di dekat mimbar hingga menjelang fajar.

Wanita itu mengisahkan:

Menjelang waktu Subuh, saya melihat beberapa wanita yang tanda-tanda keagungan tampak dari kening mereka. Salah seorang di antara mereka mengusapkan air ludah pada lidah saya yang terluka. Seketika itu juga, lidah saya sembuh dan pulih seperti sediakala. Saya memeluk kakinya dan berkata, “Saya mempunyai seorang putra yang kedua tangannya terpotong dan jatuh pingsan. Tolonglah dia!”

Wanita itu berkata, “Sudah ada orang yang mendampinginya.”

Saya bertanya, “Siapa Anda?”

Dia menjawab, “Saya Fathimah al-Zahra, ibu al-Husain.”

Setelah mengucapkan kata-kata ini, dia pun menghilang dari pandangan saya.

 

Kemudian, saya pergi mencari anak saya dan melihat kedua tangannya pulih seperti sediakala. Saya pun bertanya, “Bagaimana tanganmu bisa sembuh?”

Anak saya menceritakan, “Di tengah-tengah pingsanku, aku melihat seorang pemuda agung yang berkata, ‘Letakkan tanganmu pada tempatnya!’ Kemudian aku melihat, ternyata tak ada luka pada kedua tanganku. Aku berkata, ‘Saya ingin mencium tangan Anda.’ Tiba-tiba, air matanya mengalir dan berkata, ‘Wahai pemuda, maafkan aku, mereka telah memotong kedua tanganku di tepi sungai Eufrat.’ Saya bertanya, ‘Siapa Anda?’ Dia menjawab, ‘Sayalah Abbas, putra Ali bin Abi Thalib.’ Kemudian dia menghilang dari pandanganku.”

 

Tawassul Nabi Zakariya

Dalam menanggapi pertanyaan Sa’ad bin Abdillah, Imam Mahdi memberikan jawaban panjang, di antaranya:

Nabi Zakariya as memohon kepada Allah agar mengajarkan kepadanya nama-nama ‘lima orang suci’. Malaikat Jibril pun turun kepadanya dan mengajarkan nama-nama itu. Setiapkali Nabi Zakariya as menyebut nama Muhammad, Ali, Fathimah, dan Hasan, kesedihannya pun hilang. Akan tetapi, ketika dia menyebut nama Husain, hatinya menjadi sedih dan (dia pun) menangis.

Suatu hari dia berkata, “Ya Allah, rahasia apakah yang tersembunyi? Setiapkali kusebut nama empat orang suci, kesedihanku hilang dan pikiranku tenang. Namun, ketika kusebut nama Husain, aku menangis dan meratap?”

Allah Swt mengabarkan kepadanya perihal peristiwa yang bakal menimpa al-Husain dan berfirman: Kâf Hâ Yâ ‘Ain Shad. Kâf: Karbala (kota Karbala, Irak). Hâ: Halâkul ‘Ithrah (terbantainya keluarga suci Nabi saww). Yâ: Yazid bin Muawiyah (Yazid bin Muawiyah yang menzalimi dan membunuh al-Husain).  ‘Ain: ‘Athsyul Husain (Dahaga al-Husain). Shad: Shabruhu (kesabarannya).

Mendengar wahyu ini, Nabi Zakariya as tidak keluar dari masjidnya selama tiga hari dan dia memberikan perintah agar tak seorang pun datang menemuinya. Beliau menangis dan meratap. Ungkapan beliau dalam mengingat musibah itu adalah:

Ya Allah, apakah makhluk termulia-Mu, putranya mengalami musibah seperti ini? Apakah musibah seperti ini yang bakal menimpa mereka? Apakah Ali dan Fathimah berduka cita seperti ini?

Kemudian dia menambahkan:

Ya Allah, karuniakan padaku seorang putra yang membahagiakan hatiku di masa tuaku, serta jadikan dia sebagai pewaris dan penggantiku. Setelah Engkau karuniakan anak itu padaku, timpakan padaku musibah sebagaimana yang dialami oleh kekasih-Mu Muhammad sehubungan dengan putranya.

Allah Swt menganugerahkan Nabi Yahya as kepada Nabi Zakariya as. Dia pun mengalami musibah kehilangan anaknya. Masa kehamilan Nabi Yahya as sama seperti masa kehamilan Imam Husain, yaitu enam bulan.

 

Tawassul kepada Sayyidah Fathimah dan Kesembuhan dari Penyakit

Syaikh Abdunnabi al-Anshari, seorang ulama terkemuka Qum (Iran) mengalami kejadian-kejadian luar biasa. Di antaranya, kisahnya berikut ini:

Selama beberapa masa, saya mengidap sakit kepala dan pusing yang tak tertahankan. Saya telah berobat ke dokter di kota Syiraz tiga kali, di kota Qum lima kali, dan di kota Teheran tiga kali, serta banyak minum obat dan disuntik. Akan tetapi, semua pengobatan hanya meredakan rasa sakit sementara dan penyakitnya kambuh kembali. Hingga pada suatu malam, saya datang ke rumah Ayatullah Behjad untuk mengerjakan shalat berjamaah di sana. Saat itu, penyakit saya kambuh dan kepala saya pusing tak tertahankan. Seorang teman yang memahami kondisi saya, bertanya, “Tampaknya engkau sakit. Apa yang engkau rasakan?”

Saya menjawab, “Selama setahun, saya mengidap penyakit ini dan sudah berobat ke pelbagai dokter, namun tidak membuahkan hasil sama sekali.”

Teman saya berkata, “Kita memiliki ‘dokter-dokter’ (maksudnya: Ahlul Bait—penerj.) yang sangat mahir. Berobatlah kepada mereka!”

Saya langsung mengerti apa yang dia maksud. Kemudian dia menambahkan, “Bertawassullah kepada Sayyidah Fathimah al-Zahra, niscaya engkau sembuh.”

Perkataan orang itu sangat berpengaruh di hati saya. Saya pun bertekad untuk bertawassul kepada Sayyidah Fathimah al-Zahra. Kemudian saya pergi ke jalan dengan kondisi kepala masih pusing dan berjumpa dengan salah seorang ulama terkemuka. Dia pun menyarankan kepada saya agar bertawassul kepada Sayyidah Fathimah.

Saya pergi menuju makam suci Sayyidah Fathimah al-Maksumah (putri Imam Musa al-Kadhim—penerj.). Setelah itu, saya pulang ke rumah dan duduk di sudut ruangan. Di sana, saya mulai bertawassul kepada Sayyidah Fathimah al-Zahra dan menangis. Kemudian saya tertidur. Setelah berlalu pertengahan malam, di alam mimpi saya melihat sebuah majlis diadakan dan terdapat lima orang sayyid bergabung ke dalam majlis itu. Salah seorang di antara mereka berdiri dan mendoakan saya.

Keesokan paginya, saya terbangun. Saya gerakkan kepala saya, ternyata rasa sakit dan pusing saya telah sirna. Kemudian saya mengadakan majlis doa sebagai tanda syukur kepada Allah atas kesembuhan saya ini. Insya Allah, saya berniat mengadakan majlis doa ini di rumah saya sebulan sekali. Sembilan bulan telah berlalu sejak kejadian itu dan sampai sekarang kondisi saya sehat.

 

Shalat dan Tawassul kepada Sayyidah Fathimah di Medan Perang

Salah seorang anggota Basiji (relawan) di medan perang menuturkan:

Dalam suatu misi penting di malam hari melawan pasukan Irak (dalam perang yang dipaksakan Saddam terhadap Iran 1980-1988—peny.), kami menghadapi medan yang penuh dengan ranjau. Hal ini sangat sulit dan berat bagi kami. Sebab, kami tak tahu di mana ranjau-ranjau itu ditanam dan barangkali musuh baru saja menanamnya.

Di sisi lain, jika kami tak melanjutkan perjalanan, maka pasukan lainnya dari kami akan menjadi sasaran empuk para musuh.

Kondisi saat itu benar-benar sulit dan menegangkan. Saya merasakan adanya tekanan kuat di dada saya. Akhirnya, diputuskanlah dua orang relawan untuk membuka jalan dengan menembus ranjau-ranjau darat itu.

Komandan kami mengatakan, “Teman-teman, sabarlah sejenak! Barangkali ada jalan lain.”

Semua yang mendengar terkejut dan heran. Mungkinkah ada jalan keluar lainnya?! Setelah mengatakan demikian, komandan mengambil jarak dari kami. Tampak dia mulai mengerjakan shalat dua rakaat. Kami juga heran, shalat apa yang dikerjakannya?!

Orang-orang dekat komandan tahu bahwa dia mengerjakan shalat dan bertawassul kepada Sayyidah Fathimah al-Zahra. Sungguh menakjubkan, kondisinya seperti lilin yang menyala. Usai shalat, dia sujud dan berzikir, “Ya Fathimah, aghîtsînî (Wahai Fathimah, tolonglah aku)!” Dia mengucapkan kalimat ini dengan sepenuh hati, yaitu memohon pertolongan Allah Swt melalui perantaraan Sayyidah Fathimah. Teriakan, ‘Wahai Fathimah….. wahai Fathimah…,’ menggema di seluruh gurun. Seakan-akan, semua wujud turut berteriak bersamanya.

Sungguh malam yang tak terlupakan. Setiap orang yang berada di sana, meneteskan air mata dan berdoa. Perlahan-lahan, kami menuju dan semakin mendekatinya. Tak lama kemudian, kami semua berkumpul di belakangnya. Malam itu, di tengah gurun yang sepi, seiring dengan tetesan air mata, yang terdengar hanya suara ratapan satu orang, yaitu ratapan komandan kami yang terus-menerus meminta pertolongan kepada Sayyidah Fathimah al-Zahra.

Andaisaja Anda di sana dan melihat bagaimana dia menangis bak awan (yang menurunkan hujan) dan menyala seperti lilin. Semuanya mendengarkan ratapannya dan meneteskan air mata. Saya berada di barisan terdepan di antara teman-teman. Saya melihat bagaimana dia mengusapkan wajahnya pada tanah dan sedemikian rupa air mata mengalir sehingga wajahnya bagai tertutupi lumpur. Begitu rupa dia tenggelam dalam munajat dan tawassul, sehingga dia tidak merasakan kehadiran siapa pun. Seakan-akan, dia tidak berada di dunia ini.

Kemudian, dia mulai tampak tenang. Dia mengucapkan kata-kata secara perlahan sehingga kami tak begitu mendengar apa yang diucapkannya. Tiba-tiba, dia terdiam selama beberapa saat. Saya khawatir, barangkali dia jatuh pingsan. Namun lantaran wibawanya, kami tak berani maju ke depan. Semua mata tertuju kepadanya. Hati kami gelisah, menanti apa yang akan terjadi. Sebelumnya, kami mendengar ratapan tawassulnya kepada Sayyidah Fathimah al-Zahra. Tiba-tiba, dia mengangkat kepalanya dari sujud dan berteriak, “Teman-teman, Sayyidah Fathimah telah menunjukkan jalan! Sayyidah Fathimah telah menunjukkan jalan!”

Sebagian dari kami terpana selama beberapa saat dan dada kami berdebar-debar. Semuanya menangis. Saya tak mampu menjelaskan kondisi saya dan teman-teman pada saat itu. Saya begitu yakin, kami semua akan bergerak di belakang komandan. Saya tepat berada di belakangnya. Demi Allah, dia berlari dengan mantap dan penuh percaya diri; seakan-akan dia berlari di siang hari. Tak lama kemudian, kami melewati padang ranjau tanpa ada yang terluka di antara kami.

Setelah kejadian itu, kami bertanya kepada komandan, “Apa yang terjadi? Dan apa yang Anda lihat?”

Dia menolak untuk menjawabnya, namun dia mengatakan, “Teman-teman, ingatlah Sayyidah Fathimah! Ingatlah Sayyidah Fathimah!” Setelah kata-kata ini, air mata menahannya bicara.

*****

Alhamdulillah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s