Akhlak Dan Kisah Teladan Pembantu Sayyidah Fathimah Az-Zahra as

 

AKHLAKIK

 

 

 

 

 

 

 

 

Kisah Teladan

Padang pasir tandus nan gersang tak pernah menjanjikan kesejukan dan kedamaian bagi para pelintasnya, angin panas yang menghembus dari sela-sela bukit gersang nan terjal di siang hari itu membuat suasana makin tidak menentu, panasnya sang surya kian membuat suasana semakin mencekam, derap kaki unta yang ditungganginya nampak semakin lama semakin tertatih-tatih. Jemunya perjalanan dalam kesendirian membuat suasana semakin membosankan. Di ketinggian nampak burung-burung Nasar melayang-layang dan berteriak-teriak mengisi keheningan suasana lautan padang pasir yang luas dan tak berujung itu. Dia tetap melakukan perjalanannya itu mengarungi “Sahara” dalam kesendirian demi menuai harapan Keridhoan Ilahi. Dialah Abdullah bin Mubarak yang kala itu sedang menempuh perjalanan dan ingin menunaikan Ibadah Hajji dan berziarah ke Maqam Nabi Muhamad saw.

Ketika dia sedang berada ditengah-tengah perjalanan mengarungi ganasnya lautan Padang Pasir dan panasnya angin yang berhembus dari Sahara, tiba-tiba dia melihat sesuatu di kejauhan seperti “Titik” hitam yang bergerak. Lalu Abdullah melangkahkan kaki untanya ke arah titik hitam itu dengan didorong oleh rasa ingin tahu. Ketika mulai mendekat dan semakin mendekat, titik hitam itu mulai menunjukkan dan nampak wujud aslinya. Hingga kini jelas baginya bahwa titik hitam yang nampak dari kejauhan tadi adalah sosok tubuh manusia yang berjalan dalam kesendirian pula. Dan yang lebih mengherankan lagi bahwa sosok tubuh itu ternyata dia adalah seorang Wanita yang mengenakan busana hitam tertutup rapat.

Menyaksikan situasi seperti ini, Abdullah merasa ragu, iapun mulai bergumam didalam hatinya `Apakah aku sedang tidur dan bermimpi ataukah aku kini hidup dialam maya? Manusiakah dia atau makhluk haluskah? Siapakah dia itu? Mengapa dia ada dan terdampar di tempat seperti ini? Sedangkan aku tahu bahwa di sekitar sini tak ada pemukiman penduduk terdekat? Kalau betul dia ini manusia maka apa yang sedang dia lakukan di tengah padang pasir ini? Mana bekal dalam perjalanannya jika dia adalah seorang musafir kelana? 

Pertanyaan demi pertanyaan terus datang bertubi-tubi memenuhi pikirannya. Sementara detak jantungnya pun mulai memacu deras akibat “Khawatir”, matanya tak berkedip sekalipun dalam menyaksikan fenomena dihadapannya yang membuat suaranya pun cukup terbungkam. Sementara wanita itu tetap melangkahkan kakinya dengan tenang sambil menundukan pandangannya kearah depan tanpa memperdulikan keberadaannya sama sekali. Dengan sedikit keberanian yang hampir sirna, Abdullah mulai mengarahkan untanya mendekati wanita tersebut. Dengan suara yang tersimpan akibat lama membisu dia pun memberanikan diri dalam menyapa wanita itu.

Abdullah

:

Siapakah gerangan anda ini wahai Ibu?

Ibu

:

Ucapkanlah salam, niscaya mereka akan  mengetahui kelak (34:89)

 

Abdullah

:

Assalamualaikum Warahmatullahi wabarakatuh

Ibu

:

Salam dari Allah bagi penghuni Surga (36:58)

Abdullah pun faham dari ucapan-ucapannya bahwa wanita ini dalam keadaan tersesat, namun dia masih ragu dan kini dia bertanya lagi pada wanita itu

Abdullah

:

Apakah anda manusia seperti kita ataukah anda dari makhluk halus?

Ibu

:

Wahai anak adam, pakailah pakaianmu yang bersih ketika enkau akan bersolat (7:31)

Mengertilah kini Abdullah bahwa wanita yang ada dihadapannya sekarang ini adalah Manusia dan bukannya  Jin yang diduga sebelumnya. Lalu dia bertanya lagi:

Abdullah

:

Dari manakah asal Ibu?

Ibu

:

Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh” (41:44)

 

Abdullah

:

Sekarang ibu mau kemana?

Ibu

:

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (3:97)

 

Abdullah

:

Sejak kapan ibu dalam kesendirian di perjalanan ini?

Ibu

:

selama tiga malam berturut-turut (19:10)

 

Abdullah

:

Bu, sepertinya saya tidak melihat ibu membawa bekal dalam perjalanan ini, dari mana ibu mendapatkan makanan dan minuman?

Ibu

:

Dan dia Tuhanku, yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku (26: 79-80)

 

Abdullah

:

Saya bawa sedikit makanan, maukah ibu menerimanya agar tidak lapar?

Ibu

:

Dan tidaklah Kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan (21:8)

 

Abdullah

:

Lalu, jika ibu hendak salat, bagaimana ibu berwudhu sedangkan air saja ibu tak punya?

Ibu

:

Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci). (4:43)

 

Abdullah

:

Mengapa bahasa dan aksen yang ibu ucapkan pada saya tidak seperti ucapan-ucapan saya pada ibu?

Ibu

:

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.(50:18)

Melihat jawaban-jawaban dari si ibu yang agak “Aneh” Abdullah merasa heran, dengan sedikit sinis dia bertanya lagi:

Abdullah

:

Maaf ya bu, ibu ini jenis manusia berasal dari mana sih?

Ibu

:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. (17:36)

 

Abdullah

:

Maafkan kelancangan saya wahai ibu, saya ingin menebus kesalahan saya itu

Ibu

:

Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.(12:92)

 

Abdullah

:

Ibu, maukah ibu saya bonceng diatas unta saya ini hingga ibu dapat menyusul “Kafilah” yang telah meninggalkan ibu?

Ibu

:

Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.(21:22)

Abdullah faham apa yang dimaksudkan perkatan si ibu tadi bahwa tak mungkin si ibu ini duduk berdampingan dengan laki-laki yang bukan muhrimnya, apalagi dalam perjalanan jauh. Lalu, Abdullah pun turun dari untanya seraya meneruskan niat baiknya tadi.

Ibu

:

Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.(2:197)

Maka Abdullah pun merundukan untanya sambil mempersilahkan si ibu untuk menunggganginya.

Ibu

:

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan (menundukkan) pandangannya”. (24:30)

Abdullah segera menundukkan arah pandangan matanya dari si ibu seraya berkata: “Naiklah wahai ibu!” Namun, ketika unta itu hendak dinaiki tiba-tiba unta itu beranjak bangkit lalu berlari menjauhi keduanya, hingga baju yang dipakainya oleh si ibu sedikit robek. 

Ibu

:

Dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. (42:30)

Lalu Abdullah menangkap kembali tali kekang unta itu dan menenangkannya. Kemudian ia berkata pada si ibu: “Sebentar ya bu, sekarang saya akan mengikatnya agar tidak berontak seperti tadi”

Ibu

:

Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat). (21:79)

Ketika ibu itu sudah naik serta kini dia berada diatas punggung unta dan siap untuk melakukan perjalanan, maka terdengar dia berkata:

Ibu

:

Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami.” (43:13-14)

Setelah itu Abdullah mulai mengambil tali kekang unta tersebut dan berteriak-teriak agar unta dapat berjalan cepat

Ibu

:

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan (perlahan-lahan) dan lunakkanlah suaramu.(31:19)

Mendengar ucapan si ibu, Abdullahpun memperlambat langkah untanya, dan ia kini menghibur hatinya sendiri dengan melantunkan syair dan pantun seraya bernyanyi.

Ibu

:

karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur’an. (73:20)

Abdullahpun berhenti bernyanyi dan bermadah, lalu dia mulai membaca a-Quran, setelah itu dia berkata pada si ibu:

Abdullah

:

Ibu, apakah ibu punya suami?

Ibu

:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu.”(5:101)

 

Ucapan dari si ibu yang penuh dengan sindiran pada Abdullah agar tidak bertanya sesuatu yang bukan urusannya, membuat Abdullah tidak lagi berani bertanya-tanya dalam perjalanan yang sangat menjemukan dan memuat selaksa misteri.

Ditengah-tengah keduanya berjalan mengarungi lautan pasir yang tak kunjung sirna, tiba-tiba Abdullah melihat dari kejauhan seperti gumpalan debu yang membumbung tinggi ke atas akibat injakan-injakan kafilah lalu. Ya ..betul mereka adalah memamg kelompok musafir dan mereka kini ada di depan saya ujarnya dalam hati, Abdullahpun mempercepat langkah untanya agar dapat mendekati dan mengejar mereka seraya berkata pada si ibu.

Abdullah

:

Itukah Kafilah yang telah meninggalkan ibu? Adakah orang-orang yang ibu kenal disana?

Ibu

:

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.(18:46)

 

Abdullah

:

Apa tugas anak-anak ibu dalam perjalanan ini?

Ibu

:

Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk. (16:16)

Abdullah pun faham bahwa mereka adalah sebagai “Guide” dalam perjalanan ini.

Abdullah

:

Siapakah nama anak-anak ibu agar saya dapat memanggil mereka?

Ibu

:

Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (4:125)

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (4:164)

Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.(19:12).

Lalu Abdullah memanggil nama-nama yang disebutkan oleh ibu tadi dengan suara lantang: “Hai Ibrahim.. Musa…Yahya….” Tidak berselang begitu lama, tiba-tiba muncul dihadapan Abdullah tiga pemuda yang gagah dan tampan yang terpancar dari raut wajah mereka cahaya keimanan. Mereka datang dan menyambut tamu dan wanita itu, menyalami keduanya sambil berucap pada Abdullah dengan ucapan beribu-ribu terimakasih, salah satu diantara mereka menjamu Abdullah dengan makanan dan minuman segar.

Ibu

:

Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu”.(69:24)

Setelah itu si ibu berkata pada putra-putranya: 

Ibu

:

Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (28:26)

Maka fahamlah anak-anak si ibu tadi dari ucapannya agar Si Abdulah itu diberikan imbalan atas jasa dan perbuatan mulianya. Lalu para pemuda itu bangkit dan memberikan berbagai hadiah perbekalalan pada Abdullah atas pertolongannya.

Ibu

:

Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.(2:261)

Segera anak-anak tersebut memberikan lagi pada Abdullah berbagai hadiah ketika mendengarkan ucapan si ibu tadi. Mereka menambah bekal diatas bekal pada Abdullah yang lebih dari cukup untuknya.

            Disaat itu Abdullah hanya termenung terpukau melihat dan menyaksikan kejadian ini yang menyimpan selaksa misteri . Lalu Abdullah berkata pada para pemuda itu dengan tegas dan rasa hormat.

Abdullah

:

“Demi Allah makanan-makanan yang kalian berikan sebagai bekal ini, uang dan harta yang kalian hadiahkan padaku untuk kebutuhanku dalam perjalanan ini, kini aku akan mengharamkannya pada diriku kecuali jika kalian ceritakan padaku siapakah “Wanita Mulia” ini sehingga aku dapati dia betul-betul menjaga lidahnya dari segala umpatan, Ghibah dan berbagai ucapan yang menyakitkan hati….”

 

Anak-anak Ibu

:

Dia adalah ibu kami “Fidhdhah” namanya. Dahulu dia bekerja dan membantu di rumah sayyidatina Fatimah Al-Zahra as putri kesayangan Rasulallah. Sejak dia ditinggalkan majikannya, ia tak pernah berbicara pada orang-orang kecuali dia memakai “Al-Quran” sebagai ucapannya. Menggunakan ayat-ayat Al-Quran untuk pembicaraannya sehari-hari. Karena dia khawatir dan takut jika lidahnya dapat tergelincir dan terjerumus kedalam perbuatan dosa yang akan membuat murkanya Allah.

Setelah itu, Abdullah pun memohon doa pada mereka dan pamit untuk melanjutkan perjalanannya dengan menyimpan kenangan yang sangat berkesan dan langka.

 Inilah kisah “Ummu Fidhdhah” pembantu Sayyidatina Fatimah Az-Zahra

Inilah kepiawayan Ilmu dan budi pekertinya.

 Jika pembantunya saja sudah sedemikian rupa dalam memahami “Tematik” Al-Quran, bagaimanakah Ilmu yang dimiliki oleh “Tuan Rumahnya”?

Jika Budi pekerti dan pendidikan yang diterima oleh Ummu Fadhdhah sudah hampir mencapai titik “Perfect” dan kulminasi lalu, bagaimanakah Ilmu dan Akhlak yang dimiliki oleh pendidiknya yaitu Fatimah Az-Zahra as?

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s