Sirah Nabi dalam Menciptakan Mental Tanggung Jawab

Sirah Nabi dalam Menciptakan Mental Tanggung Jawab

 

Di antara fenomena kehidupan dinamis yang melekat dalam diri umat adalah adanya kepribadian, tanggung jawab dan sentimen sosial. Dan tanpa hal itu, kita tidak dapat membayangkan keberadaan umat yang sinergi dan saling memperkuat satu sama lain. Apakah strategi yang digunakan Nabi Saw untuk menciptakan sentimen ini dalam generasi pertama umat Islam? Artikel ini mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Islam adalah agama penutup bagi semua agama monoteistik sebelumnya, karena itu, Islam datang membawa aturan yang paling komprehensif dan layak untuk digunakan hingga akhir zaman. Agama-agama samawi pertama kali datang membawa ajaran monoteisme, kemudian membawa batas-batas otoritas penguasa terhadap bawahannya, dan itu terjadi pada tingkat sosial politik, untuk membangun sistem yang menghormati kemuliaan anak-anak Adam dengan memberi mereka kebebasan, hak-hak dan bertanggung jawab untuk menciptakan kondisi yang penuh dengan persatuan, solidaritas dan kepedulian sosial. Hal itu kemudian dilakukan dengan cara membentuk suatu komunitas terpimpin yang berdisiplin menjalankan perintah Allah Swt sebaik mungkin dan mengajarkannya kepada orang lain. Komunitas ini dipimpin oleh Imam atau Khalifah yang menjadi orang terdepan dalam perbuatan, keadilan dan kekuatan kehendaknya.

Dalam semua aspek ini, bisa kita katakan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang arsitek, pelaksana dan inspirator, baik dalam penerapan ketentuan Al-Quran, menjelaskannya maknanya, mengklarifikasinya, menyempurnakannya dengan hadits Qudsi dan hadits Nabawi, atau langsung melalui perbuatan praktis. Inilah yang akan kita bahas pada halaman-halaman berikut.

Rasulullah Saw berupaya untuk menciptakan spirit tanggung jawab kemanusiaan di antara individu-individu muslim, dimana akhirnya mereka berubah menjadi satu tubuh yang saling melengkapi, setiap anggotanya akan ikut memperhatikan persoalan masyarakatnya, dan masyarakat pun turut memperhatikan kepentingan setiap anggotanya. Apakah fenomena terbesar dari aktifitas Rasulullah Saw dalam bidang ini?

Rasulullah Saw telah berupaya keras –sebagai pengejawantahan perintah Allah Swt- untuk mengembangkan karakter individu muslim, memperkuat spirit tanggung jawab dan menanamkan akar kepedulian sosial. Semua itu dilakukan dalam upaya menanamkan kesadaran dan menjalankan hukum-hukum ilahi.

A. Mengembangkan karakter individu muslim

Perintah ini kemudian diwujudkan dalam dua tingkatan; tingkat penanaman karakter dan tingkat pelatihan untuk mempraktekkan dalam kehidupan.

Level pertama:
Rasulullah Saw berupaya untuk menanamkan rasa kebebasan, rasa hormat, menjunjung tinggi hak dan pengakuan terhadapnya, serta mengembangkan semangat persaudaraan dan kesetaraan.

1. Rasa kebebasan: Dasarnya adalah bahwa manusia dilahirkan –biasanya- dalam keadaan merdeka, Ali bin Abi Thalib berkata, “Janganlah engkau menjadi budak orang lain, karena Allah Swt telah menciptakanmu dalam keadaan merdeka.” Demikian juga kata-kata Umar bin Khattab, “sejak kapan engkau berhak memperbudak manusia, sementara mereka dilahirkan ibunya dalam keadaan merdeka?”

Akan tetapi kebebasan ini bisa hilang ketika manusia berani memerangi Allah dan Rasul-Nya; Islam telah melarang perbudakan kecuali tawanan perang dari non-Muslim. Meskipun demikian, Islam memerintahkan umatnya untuk memperlakukan mereka dengan cara yang sangat manusiawi. Islam mengharamkan penyiksaan terhadap mereka, mendorong umatnya untuk membebaskan mereka atau memberi mereka hak untuk membebaskan dirinya sendiri dengan cara mukatabah.

Hanya saja, kebebasan tidak terbatas pada hal ini saja, akan tetapi diwujudkan dalam kebebasan manusia untuk berbuat sesuatu atau melakukan tindakan apapun selama tidak terlarang oleh syariat yang suci, seperti kebebasan untuk datang dan pergi, bebas beraktifitas politik –yang seseuai dengan tuntunan Islam-, kebebasan berkeyakinan dan lain-lain.

2. Hak
Hak-hak individu: Pada zaman ini, hak individu dianggap sebagai bagian dari hak-hak umum. Hak individu ini dituangkan dalam bentuk hak memiliki, dimana siapapun tidak boleh mencopot kepemilikan darinya kecuali dengan haknya, baik pemilik hak itu kaum muslimin atupun ahli kitab. Inilah yang ditegaskan Rasulullah Saw, terutama dalam kepemilikan kaum Yahudi setelah penaklukkan kota Khaibar. Hal ini juga ditekankan para khalifah, terutama Ali bin Abi Thalib, yang berwasiat kepada para panglimanya agar tidak boleh memanfaatkan keledai, unta dan tidak memonopoli air suatu kaum tanpa keridhaan mereka.

3. Persamaan
Inilah ajaran terpenting yang dibawa Islam dalam level kemasyarakatan. Rasulullah Saw telah mencontohkan bagaimana berinteraksi dengan sesama muslim dengan penuh keadilan tanpa membedakan atau mendiskriminasikan dalam pemberian, perhatian dan keramahan. Beliau juga mempersamakan kedudukan mereka dengan dirinya sendiri, baik ketika perang maupun damai, bahkan beliau justeru orang yang paling banyak berkorban. Inilah yang ditegaskan Imam Ali ketika berkata, “Adalah kami, apabila peperangan telah berkecamuk dan kaum bertemu kaum, kami berlindung dengan Rasulullah, maka tidak ada seorang pun dari kami yang lebih dekat kepada musuh dari pada beliau.”

Rasulullah Saw juga menegaskan makna ini dalam hadits-haditsnya, beliau bersabda, “Kalian semua bernasab kepada Adam, dan Adam kepada tanah.” Dan sabdanya, “Setiap kalian adalah sama, seperti gigi-gigi sisir.” Demikian pula sabda beliau, “Tidak ada keutamaan orang Arab atas orang non Arab, orang kulit putih atas orang kulit hitam, kecuali dengan ketakwaan.” Dan akhirnya, semua ini tercakup dalam firman Allah Swt , “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.”

4. Persaudaraan
Rasulullah Saw mengumpamakan seorang muslim itu sebagai saudara muslim lainnya, dan hal ini kemudian dipraktekkan secara langsung dalam bentuk mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar, dimana kemudian kaum Anshar mengambil sikap yang sangat mulia, “mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan.”

Akan tetapi, peristiwa ini bukanlah satu-satunya yang menggambarkan semangat persudaraan, ini hanyalah salah satu bentuk penerapan dari prinsip umum Al-Qur`an yang menyatakan, “sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara.” Rasulullah Saw telah menganjurkan persaudaraan dan mewasiatkan kepada umatnya agar selalu mentaati semua konsekuensi dari persaudaraan ini, seperti dalam sabdanya, “seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya dan tidak menipunya.” Beliau juga bersabda, “seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin yang lainnya, dia mencegahnya dari kerugian dan menjaga (membela)nya di belakangnya.”

5. Penghormatan
Semua ini adalah fenomena penghormatan Allah Swt kepada manusia, sebagaimana yang diungkapkan dalam surah al-Israa. Pemuliaan inilah yang mengangkat derajat anak Adam dan membuat semua yang ada di bumi ditundukkan untuk kepentingannya. Allah Swt melarang menghinakan dan merendahkannya dengan mengurangi hak-haknya yang telah disebutkan. Inilah yang membuat manusia layak untuk mengemban statusnya sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi. Jika seorang penguasa meremehkan konsekuensi ini, maka ia telah berbuat zalim, dan jika rakyat tidak memperdulikannya, maka ia (rakyat) juga telah berlaku zalim terhadap dirinya sendiri. Sementara jika penghormatan akan syarat-syarat ini berjalan dengan baik, maka inilah yang membuat manusia layak untuk mengemban risalah.

Level kedua
1. Pengembangan Mental individu
Nabi Muhammad Saw telah bekerja keras untuk mengembangkan kepribadian individu dan memunculkan potensinya, terutama yang berada dalam posisi tertekan. Upaya ini kemudian membuahkan hasil yang sangat cemerlang. Rasulullah Saw berhasil memunculkan para pemimpin berjiwa pahlawan, setelah sebelumnya mereka adalah orang-orang yang tidak dikenal dalam kehidupan mereka. Rasulullah Saw juga memperhatikan proyek untuk mengembalikan keseimbangan karakter antitesis, yaitu karakter yang selalu istimewa karena keluhuran nasab, ketenaran atau kekayaan, dan itu dilakukan dengan menundukkan mereka kepada pimpinan yang memiliki tingkatan sosial lebih rendah.

Rasulullah Saw juga sangat konsentrasi untuk mendidik dan membiasakan para sahabatnya untuk selalu berinteraksi dan memperhatikan isu-isu publik, memberikan kontribusi dalam bidang politik melalui mekanisme musyawarah. Dengan mekanisme inilah setiap individu dituntut untuk mengolah pikirannya, menganalisa dan menyimpulkan persoalan. Dan melalui mekanisme inilah muncul para politisi hebat, kaum intelektual dan para pemilik gagasan dan saran cemerlang, mereka memberikan kontribusi yang sangat besar dalam batas-batas tertentu setelah wafatnya Rasulullah Saw. Bahkan sebenarnya, mereka bisa berkontribusi lebih baik lagi jika hukum Islam terus berlangsung di atas manhaj Nabi, terutama setelah berakhirnya era khalifah rasyidah.

2. Komando Sariyyah (pasukan batalion)
Siapa saja yang menelaah ulang catatan peperangan dan pengutusan pasukan Rasulullah Saw, maka ia akan menemukan bahwa orang yang paling penting dalam memimpin pasukan adalah orang-orang yang justeru terpinggirkan sebelum datangnya Islam. Sahabat yang paling sering ditugaskan untuk memimpin pasukan adalah Zaid bin Haritsah. Ia adalah maula (bekas budak) Rasulullah Saw yang dihadiahkan Khadijah r.a., dahulu, Khadijah membelinya di Pasar Ukadz. Demikian pula anak Zaid, Usamah. Rasulullah Saw pun kerap memberikan tugas memimpin kepada imigran Habasyi atau selainnya, seperti Abu Ubaida bin Jarrah, Saad bin Abi Waqqas, Abu Salamah bin Abd al-Assad, Abdurrahman bin ‘Auf, Syuja’ bin Wahab al-Asadi, Umar bin Khattab dan Abu Bakar yang berasal dari keluarga Quraisy yang tidak terpandang aliansinya atau mereka yang berafiliasi kepada cabang nasab yang lemah dari pokok yang kuat.

Sementara dalam insiden yang sangat krusial, Rasulullah Saw justeru menugaskan kerabat dan keluarganya, seperti Khamzah dan Ubaida bin al-Harits yang bertugas untuk memimpin sariyyah pertama, demikian pula Ali bin Abi Thalib dan saudaranya Ja’far, tiga dari mereka kemudian tewas dalam peperangan dan pengutusan sariyyah Nabi Saw.

Bahkan, Nabi mendorong mereka yang hatinya masih lemah atau yang baru memeluk Islam untuk memimpin brigade, beliau memanfaatkan kepiawaian mereka untuk melayani agama yang lurus ini, dan disamping itu, mungkin jabatan seperti ini dapat mengubah keyakinan mereka, seperti Abu Sufyan dan Uyainah bin Hishn al-Fazzari. Demikian pula orang seperti Amr bin ‘Ash, Khalid Bin Walid dan lain-lain. Di samping itu, ada tugas yang juga sangat penting, yaitu menjadi duta dan utusan, seperti pengutusan Abu Ubaida bin Jarrah untuk memecahkan beberapa masalah kaum Kristen Najran, penugasan Utsman sebagai duta ke kota Mekkah pada masa-masa Hudaibiyah, dan penugasan beberapa sahabatnya untuk membawa pesan kepada para raja dan kaisar.

Sementara untuk tugas-tugas yang luar biasa, maka Rasulullah Saw menugaskan kepada ahli baitnya, seperti mengutus Ja’far bin Abi Thalib untuk menjadi duta kepada Negus dari Abyssinia dan mengurus para muhajirin Habsyah. Beliau juga menugaskan Ali bin Abi Thalib untuk menyampaikan surah at-Taubah kepada orang-orang kafir.

3. Syura (musyawaah)
Dalam Al-Qur`an sebutkan, “dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu (peperangan). Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” Rasulullah Saw kemudian mempraktekkan tuntuan ini dalam bidang yang sangat luas, setiap kali datang suatu urusan, maka ia selalu bermusyawarah dengan para sahabatnya, dan biasanya, orang yang paling banyak dimintai pendapatnya adalah al-mubasysyirun (yang dijanjikan surga).

Rasulullah Saw juga meminta pendapat kaum muslimin yang lemah dalam kasus hijrah ke negri habsyah, beliau berkata, “Seandainya kalian pergi ke negri Habsyah, karena di sana ada seorang raja yang tidak akan menzalimi siapapun.” Rasulullah Saw juga bermusyawarah pada saat perang Badar. Lalu Miqdad dan beberapa sahabat mengajukan usul untuk maju. Akan tetapi, beliau kemudian memfokuskan untuk meminta pendapat kaum Anshar, karena mereka belum terbiasa dengan perang offensif, dan pada akhirnya Rasulullah Saw menyetujui pendapat dua Sa’ad. Pada saat perang Badar pula, Rasulullah Saw meminta pendapat mengenai posisi kemah, kemudian beliau menerima pendapat Hubab bin Mundzir. Rasulullah Saw juga pernah meminta pendapat para sahabatnya mengenai tebusan Abu al-Ash bin Rabi, suami anaknya, Zainab.

Sebelum perang Uhud, Rasulullah Saw meminta pendapat para sahabatnya, apakah tetap tinggal di Madinah atau keluar menyambut musuh, lalu beliau menerima pendapat yang berseberangan dengan pendapatnya sendiri. Pada saat perang Khandaq, pasukan musuh berkoalisi membentuk pasukan yang sangat kuat, lalu beliau meminta pendapat para sahabatnya, dan beliau menerima gagasan Salman al-Farisi untuk menggali parit. Dalam upaya perdamaian dengan bani Ghatfan saat terjadinya perang khandaq, mereka setuju untuk mundur dengan syarat Rasulullah Saw harus menyerahkan sebagian kurma Madinah kepada mereka, lalu beliau meminta pendapat dua orang yang berpengalaman dalam hal ini, yaitu Sa’ad bin Mu’adz dan Sa’ad bin Ubadah, lalu keduanya berpendapat untuk tidak menyetujui kesepakatan itu, dan Rasulullah Saw pun mengambil pendapat ini.

4. Spirit memaafkan
Rasulullah Saw selalu menjauhkan diri dari keinginan untuk membalas dendam dan lebih memilih untuk memaafkan dalam urusan-urusan yang tidak menyebabkan penyepelean terhadap agama atau melanggar hak dan ketentuan Allah Swt. Dan ini merupakan latihan bagi para sahabatnya untuk bisa melepaskan diri dari rantai kebencian dan melupakan kedengkian jahiliyah, sehingga mereka bisa memulai hidup baru yang jauh dari ruh fanatisme kekabilahan. Dan anjuran ini berlaku umum kepada umat yang mengakui Islam sebagai agama, setelah generasi sahabat, untuk melepaskan diri dari ruh fanatisme, apapun penyebabnya. Mungkin sikap paling menonjol yang menunjukkan keluhuran Rasulullah Saw adalah peristiwa Fathu Makkah, dimana Rasulullah Saw berbicara di hadapan orang yang pernah menindasnya dan menindas para sahabatnya, mengusir dan membunuh mereka, “Wahai sekalian kaum Quraisy, wahai sekalian ahli Makkah, apakah yang akan aku lakukan terhadap kalian?” mereka menjawab, “Saudara yang mulia, anak saudara yang mulia.” Lalu Rasulullah Saw berkata, “Pergilah, sesungguhnya kalian bebas.”

Dan keberanian untuk memaafkan itu terjadi setelah Allah Swt memberikan kekuasaan kepadanya untuk menghancurkan mereka.

Rasulullah Saw memerintahkan semua komandan pasukannya agar tidak membunuh seorangpun dalam proses penaklukkan kota Mekah, kecuali mereka yang memerangi terlebih dahulu. Bahkan, karena kasus ini, beliau mencabut bendera pasukan Islam dari Sa’ad bin Ubadah, dan memberikannya kepada Ali Bin Abi Thalib.

Pada saat Rasulullah Saw berdiri di depan pintu Ka’bah, beliau kemudian mempermaklumatkan akan gugurnya semua hal yang diakibatkan peperangan, melalui ucapannya, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan menaklukkan pasukan sekutu sendirian. Ingatlah, seluruh kehormatan, darah, dan kekayaan yang didakwakan itu berada di bawah telapak kakiku ini, kecuali pelayan Ka’bah dan pemberi minuman kepada jama’ah haji.”

Rasulullah Saw tidak menunda-nunda untuk terus menganjurkan para sabahatnya agar senantiasa memaafkan, berlapang dada dan mengalah sebagai bentuk penunaian pertintah Allah Swt.


[1] “dan kami telah muliakan anak-anak Adam..” (QS. Israa: 70)

[2] Nahj al-Balaghah, Syarh Ibn Abi hadid 3-385.

[3] Muhammad Husein Haykal, al-Faruq Umar, hlm. 198, Dar al-Ma’arif, Kairo, Cet. VII

[4] Ar-Raudhah al-Bahiyyah fi Syarh al-Lum’ah al-Dimasyqiyyah, al-Syahid al-Tsani, Dar al-‘Alam al-islami, Beirut 6/226

[5] Al-Waqidi, al-Maghaazi, tahqiq Dr. Masdan Johnson, Cetl Dar al-Ma’arif al-Mishriyyah: 69.

[6] Musnad Abu Daud: 111, Musnad Ahmad 2/524-261.

[7] Musnad Ahmad 5/411

[8] QS. al-Hujuraat: 13

[9] QS. al-Hasyr: 9

[10] QS. al-Hujuraat: 10

[11] Lihat kembali Shahih Bukhari jilid 22, Kitab Mazhaalim 2/3, Shahih Muslim, jilid 4/8

[12] Sunan Abi Daud, Dar al-Fikr 4/280.

[13] Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqaath al-Kubraa, cet. Teheran 1,2/62 – 328

[14] QS. Ali Imran: 159

“Tanggung jawab agama didasarkan pada kepatuhan untuk melaksanakan hukum-hukum Allah Swt yang berkaitan dengan penyebaran dakwah, memerangi semua bentuk penyimpangan, baik besar maupun kecil.”

B. Tanggung Jawab

Sesungguhnya tanggung jawab adalah cabang dari amanah Allah Swt yang dibebankan kepada manusia. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”[1]

Tanggung jawab yang dipikul manusia ini terbagi ke dalam tiga jenis: Pertama, tanggung jawab agama; kedua, tanggung jawab sosial; dan ketiga, tanggung jawab individu.

Pertama, Tanggung Jawab Agama.
Tanggung jawab agama didasarkan pada kepatuhan untuk melaksanakan hukum-hukum Allah Swt yang berkaitan dengan penyebaran dakwah, memerangi semua bentuk penyimpangan, baik besar maupun kecil.

1. Menyebarkan dakwah
Dalam bidang penyebaran dakwah, Allah Swt telah mendorong umatnya untuk menyebarkan kabar gembira melalui konsep-konsep Islam dan menyebarluaskannya di antara manusia. Jika proses ini tidak bisa dilakukan karena ada yang menghalangi, maka Allah Swt memerintahkan mereka untuk berperang. Allah Swt berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan.”[2] Allah Swt berfirman, “Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.”[3] Allah Swt berfirman, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”[4] Allah Swt berfirman, “dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus.”[5] Allah Swt berfirman, “serulah kepada jalan tuhanmu, dan janganlah kamu menjadi bagian orang-orang yang musyrik.”[6] Dan Allah Swt berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?”[7]

Dengan demikian, metode dialog yang diperintahkan Allah Swt kepada kita dimulai dari berdiskusi dengan cara yang baik, terutama dengan Ahli Kitab, selama mereka tidak berbuat zalim, karena Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka.”[8] Allah Swt berfirman, “dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”[9]

Rasulullah Saw telah menegaskan aturan ini, beliau memulainya dengan berdakwah kepada kaum musyrikin, jika mereka membangkang, maka Rasulullah Saw kemudian memeranginya, beliau bersabda, “Aku diperintah untuk memerangi manusia sehingga bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan supaya mereka menegakkan shalat dan mengeluarkan zakat. Jika mereka melakukan itu maka darah dan harta mereka mendapat perlindungan dariku, kecuali karena alasan-alasan hukum Islam. Sedangkan perhitungan terakhir mereka terserah kepada Allah.”[10]

Sebagaimana beliau bersabda untuk menjawab sebuah pertanyaan dalam perang Khaibar, “Perangilah mereka sehingga mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu, maka darah dan harta mereka terjaga darimu, kecuali karena alasan-alasan hukum Islam. Sedangkan perhitungan terakhir mereka terserah kepada Allah Swt.”[11]

2. Melawan berbagai penyimpangan
Dan ini berdasarkan prinsip amar makruf nahi munkar yang tercantum dalam berbagai ayat Al-Qur`an[12]. Prinsip ini kemudian ditegaskan Rasulullah Saw dalam sirah hidupnya, ketika beliau bersabda mengenai hak-hak di jalanan, “Tundukkan pandangan, tidak mengganggu, menjawab salam (orang yang lewat), menganjurkan kebaikan, dan mencegah yang mungkar.”[13] Dalam hadits Abu Dzar, “Rasulullah Saw memerintahkan kami agar tidak terhalang dari tiga perbuatan: memerintahkan kebaikan, mencegah kemunkaran dan mengajarkan sunnah.”[14]

Demikian pula ketika Rasulullah Saw mendorong umatnya agar berbeda dengan Bani israil, salah satunya dengan amar makruf nahi munkar. Beliau bersabda, “Sungguh, Demi Allah, hendaknya engkau benar-benar menyerukan yang ma’ruf, dan benar-benar mencegah yang munkar, dan sungguh-sungguh menentang tangan-tangan orang zalim, dengan benar-benar mengembalikannya ke jalan yang Haq, dan benar-benar menjaganya di jalan yang haq.”[15]

Rasulullah Saw juga memperingatkan bahaya yang diakibatkan tidak adanya upaya amar makruf nahi munkar dalam sebuah sabdanya, “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya hendaknya engkau melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau jika tidak Allah hampir mengirim azabnya, kemudian engkau berdo’a tetapi tidak dikabulkan.”[16]

Peran terpenting dari amar makruf nahi munkar ini terjadi ketika melawan penguasa yang lalim, Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa menyaksikan penguasa zalim yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, melanggar janji Allah, menentang sunnah Rasulullah Saw, memperlakukan hamba-hamba Allah dengan dosa dan aniaya, lalu ia tidak berusaha dengan tindakan maupun kata-kata untuk mengubahnya, maka Allah berhak memaksukkannya ke dalam tempat yang layak (neraka) untuk penguasa zalim itu.”[17]

Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata ketika menafsirkan firman Allah Swt “dari sebagian orang ada orang yang menjual dirinya untuk mencapai keridhaan Allah”,[18] mereka adalah orang yang berperang untuk menegakkan amar makruf nahi munkar.”[19]

Kedua: Tanggung Jawab Sosial
Setiap muslim betanggung jawab atas komunitas muslimnya, baik dalam bidang pembelaan agama, perlindungan terhadap bibit keislaman, maupun dalam penegakkan daulah Islamiyah. Allah Swt telah berbicara dengan semua individu umat islam dan memberinya beban tanggung jawab ini. Saat Allah Swt mendorong mereka untuk berperang, Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga.”[20] Allah Swt berfirman, “bersiap siagalah kamu, dan majulah (ke medan pertempuran) berkelompok-kelompok, atau majulah bersama-sama.”[21] Allah Swt berfirman, “apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, Maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).”[22] Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya.[23] Allah Swt berfirman, “kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kalian.”[24] Allah Swt berfirman, “Apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu.”[25] Allah Swt berfirman, “perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu.”[26]

Ketika Allah Swt melarang mereka untuk bercinta kasih dengan kaum kafir, Dia berfiman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.”[27] Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu).”[28] Allah Swt berfirman, “janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian sebagai pemimpin.”[29] Dan Allah Swt berfirman, “jadilah kalian sebagai penolong-penolong Allah …”[30]

Ketika Allah menginginkan ketaatan dari mereka terhadap-Nya dan terhadap rasul-Nya, Dia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya).”[31] Allah Swt berfirman, “hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil.”[32] Dan Allah Swt berfirman, “jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah Swt.”[33] Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.”[34] Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar.”[35]

Ketika Allah Swt memberikan bimbingan kepada manusia menuju akhlak yang terpuji, Allah Swt berfirman, “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil.”[36] Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.”[37] Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.[38] Allah Swt berfirman, “… janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.”[39] Allah Swt berfirman, “jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya.”[40] Allah Swt berfirman, ”janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan.”[41] Allah Swt berfirman, “jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan).”[42]Allah Swt berfirman, “apabila kalian diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”[43] Allah Swt berfirman, “… janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah…Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu...”[44]

Demikianlah, dan seruan Al-Qur`an ini ditujukan kepada kelompok masyarakat, bukan kepada penguasa atau kepada golongan tertentu, dari sini muncul tanggung jawab yang bersifat kolektif mengenai apa yang terjadi dalam masyarakat Islam dari berbagai tantangan dan kewajiban yang harus dipikul masyarakat. Meskipun, tentu saja, sebagian dari kewajiban itu bersifat fardlu ain yang wajib dilaksanakan setiap anggota masyarakat, dan ada pula yang bersifat fardlu kifayah yang tidak menuntut setiap individu untuk mengerjakannya, tetapi cukup satu kelompok yang mengerjakannya dan itu sudah mencukupi sebagian lainnya.

Ketiga, Tanggung Jawab Individu
Tanggung jawab ini terkadang ditegakkan untuk membela sekelompok orang atau bahkan satu orang saja, karena –selain ada sisi menjaga diri sendiri- ada kewajiban menjaga orang lain. Dalam tanggung jawab ini ada kewajiabn memenuhi kebutuhan orang fakir, meluaskan orang yang sedang kesempitan, di samping menyelamatkan masyarakat yang lemah. Allah Swt berfirman, “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah Kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah Kami penolong dari sisi Engkau!”[45]

C. Kepekaan Sosial

Rasulullah Saw bekerja keras untuk menenamkan kepekaan ini dan mengembangkannya. Setelah proyek persaudaraan antara kaum muhajirin dan Anshar rampung, maka langkah selanjutnya adalah menanamkan semangat perjuangan kolektif dan spirit pengorbanan dalam diri setiap orang, kemudian membangun solidaritas sosial di bawah naungan persatuan ruhani, sehingga tujuan setiap orang adalah akhirat, dan akhirnya, mereka mampu berpaling dari kerdilnya dunia.

1. Persatuan dalam peperangan
Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”[46] Melalui iklim ini, lahirlah kesatuan tujuan, dimana setiap pejuang merasa bahwa ia adalah bagian dari kelompok yang berjuang untuk tujuan yang sama, ia merasa bahwa kekuatan kelompok adalah kekuatan semua individu, dan kekuatan semua individu adalah kekuatan kelompok. Setelah itu, setiap individu tidak akan peduli lagi, apakah ia akan mati syahid atau tetap hidup, selama ia telah melebur dalam kesatuan yang besar.

Inilah yang membuat momentum dalam sejarah peperangan yang berhasil menaklukkan berbagai wilayah yang sangat luas. Momentum itu datang ketika mereka berlomba untuk mewujudkan kemuliaan, bukan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Seorang pejuang tidak boleh melarikan diri dari peperangan, karena Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, Maka Sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. dan amat buruklah tempat kembalinya.”[47]

Setiap muslim wajib memberikan perlindungan bagi saudaranya dengan tebusan dirinya sendiri, ia tidak boleh meninggalkan saudaranya dalam kepungan musuh. Inilah yang dipraktekkan seorang murid Rasulullah Saw, Ali bin Abi Thalib, dengan ucapannya, “semoga Allah Swt mengasihi seseorang yang melapangkan saudaranya dengan dirinya sendiri. Ia tidak meninggalkan musuhnya kepada saudaranya, sehingga saudaranya terkepung dua musuh”[48]

Disamping itu, kaum muslimin dituntut untuk menunjukkan keberanian dan kepahlawanannya, dimana mereka tidak gentar menghadapi musuh yang setara dengannya, bahkan yang berlipat dari mereka. Kaum muslimin dituntut untuk berani menghadapi musuh yang berjumlah sepuluh kali lipat dari mereka, seperti dalam firman Allah Swt, “Hai Nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.”[49] Akan tetapi, Allah Swt kemudian memberikan keringanan kepada kaum mukminin, Allah Swt menurunkan menjadi dua kali lipat, Allah Swt berfirman, “Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”[50]

Semua ini lahir dalam iklim persamaan, kemuliaan yang terjaga bagi masyarakat dan setiap individu, bahkan, apa yang diinginkan seorang pejuang menjadi keharusan bagi semua kelompok, Rasulullah Saw bersabda, “Orang-orang beriman adalah bersaudara, darah mereka adalah sejajar. Mereka adalah penolong bagi selainnya dan orang yang paling rendah di antara mereka bisa memberi jaminan keamanan bagi mereka.”[51] Penafsirannya adalah, siapapun, meski orang terendah dari kaum muslimin atau yang paling mulia, yang melihat salah seorang kaum musyrikin, maka ia adalah pelindungnya sehingga ia (musyrik) mendengarkan firman-firman Allah Swt, jika ia mengikuti kalian, maka ia adalah saudara kalian seagama, jika ia menolak, maka sampaikanlah ia ke tempat yang aman, dan mintalah pertolongan Allah Swt atasnya.”[52]

Sesungguhnya aturan-aturan ini, jika mampu dilaksanakan dengan baik, maka semua pejuang akan melebur dalam satu wadah, seolah-olah mereka adalah satu tubuh, dan setiap orang memiliki tugas yang harus dilakukan dalam masyarakat dan individu.

2. mengobarkan spirit pengorbanan
Hal ini dilakukan dengan menanamkan kecintaan terhadap hijrah, semua kesulitan dan pengorbanannya serta menanamkan ruh syahadah berdasarkan firman Allah Swt, “Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”[53]

Karena syahadah bukanlah kematian, tapi jenis kehidupan yang khusus, Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”[54] Mereka diperintahkan untuk menukar kehidupan dunia ini dengan kehidupan akhirat, karena itulah Allah Swt mendorong mereka untuk berperang, Allah Swt berfirman, “Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.”[55] Karena mereka telah menghibahkan diri dan hartanya kepada Allah Swt untuk ditukarnya dengan surga, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.[56] Dari sini, bagi seorang mukmin, sama saja, apakah mati atau menang, keduanya adalah kebaikan baginya, “Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi Kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan.”[57]

Rasulullah Saw pun telah mampraktekkan dan mendorong untuk berjihad, beliau bersabda secara kinayah, “semua kebaikan berada di dalam pedang, di bawah bayangan pedang dan tidak akan tegak tanpa pedang. Pedang adalah tanda-tanda surga dan neraka.”[58] Beliau juga melihat bahwa jihad adalah kebanggaan bagi generasi setelahnya, “berperanglah kalian, maka kalian akan mewarisi kemuliaan kepada anak-anak kalian.”[59]

Berdasarkan hal diatas, sesungguhnya kemuliaan seorang mujahid akan bertambah disisi Allah Swt selama ia berada dalam jihadnya, “barangsiapa yang menggibah seorang mukmin yang sedang berjuang, atau menyakitinya, atau mengkhianati keluarganya, niscaya akan diambil kebaikan-kebaikannya di hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka. Dan itu terjadi jika ia berperang dalam ketaatan kepada Allah Swt.”[60]

Hanya saja pengorbanan tidak hanya terbatas pada jihad seperti ini, akan tetapi juga dalam membela individu seorang muslim dengan menjauhkan keburukan daripadanya. “barangsiapa yang diseru, ‘wahai kaum muslimin, tolonglah.’ Akan tetapi ia tidak memenuhi panggilan tersebut, maka ia bukan termasuk orang muslim.”

Bentuk paling penting dari membela kaum muslim dari keburukan adalah menolak keburukan yang bersifat massif, seperti banjir, kebakaran atau musuh-musuh lain. “barangsiapa yang menolak keburukan dari kaum muslim karena banjir, kebakaran atau musuh yang bersikap sombong terhadap kaum muslimin, maka Allah Swt akan mengampuni dosanya.”[61]

– Saling Mencintai antara Sesama Mukmin
Rasulullah Saw memerintahkan umatnya untuk senantiasa memperhatikan urusan kaum msulimin, beliau bersabda, “barangsiapa yang pagi harinya tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk kaum muslimin.”[62]

Rasulullah Saw juga memerintahkan agar semua sikap bermuara kepada Allah Swt, bukan kepentingan pribadi atau sikap pribadi, “Tali pengikat iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah Swt, benci karena Allah Swt, bersikap loyal terhadap wali Allah Swt dan berlepas diri dari musuh Allah.”[63] dengan demikian, seorang muslim harus berinteraksi dengan muslim lain seolah ia berinteraksi dengan dirinya sendiri, baik dalam hal keadilan maupun melapangkan orang lain, “Amalan terbaik adalah berbuat adil kepada manusia di atas dirimu sendiri, melapangkan saudaramu karena Allah Swt dan dzikir kepada Allah Swt di setiap keadaan.”[64]Rasulullah Saw juga memerintahkan umatnya untuk menyebarkan kebaikan kepada seluruh manusia, baik yang berhak maupun yang tidak berhak menerimanya, beliau bersabda, “berbuat baiklah kepada orang yang berhak menerimanya dan kepada orang yang tidak berhak, jika kebaikan itu tidak mengenai orang yang berhak, maka engkaulah yang berhak menerimanya.”[65] Dan sebagian dari bentuk kebaikan adalah menolong orang yang kesulitan dan membantu yang sedang membutuhkan.

Semua makhluk adalah tanggungan Allah Swt, karena itu, makhluk yang paling dicintai Allah Swt adalah yang paling bermanfaat bagi tanggungan-Nya.”[66] Adapun pahala membantu sesama, maka disesuaikan dengan tingkat kesulitannya, “barangsiapa yang menolong saudaranya yang muslim, hingga ia keluar dari kesulitan dan kegundahannya, maka Allah Swt akan mencatatkan sepuluh kebaikan baginya, mengangkatnya sepuluh derajat, memerinya pahala sepuluh memerdekakan budak, dicegah darinya sepuluh macam siksaan dan menjanjikanya mendapatkan sepuluh syafaat.”[67]

Di samping itu, di antara sebagian tuntutan mendesak seorang muslim terhadap saudaranya adalah memberi nasehat baginya baik secara nyata maupun tersembunyi. “sesungguhnya manusia yang paling agung kedudukannya di sisi Allah Swt pada hari kiamat adalah orang yang paling sering memberikan nasehat kepada makhluk-Nya.”[68] Inilah, sebagaimana Islam menanamkan ketegasan terhadap orang kafir dan musuh islam, juga menanamkan rasa cinta kasih terhadap sesama muslim. Allah Swt berfirman, ”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka.”[69] Hanya saja kewajiban ini tidak dibebankan kepada setiap muslim untuk melakukannya sendirian, akan tetapi, semua muslim dituntut untuk melakukannya, saling menasehati dengan saudaranya, sehingga semua individu mendapatkan rahmat Allah Swt, “Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.[70]

Rasulullah Saw telah menegaskan aturan ini melalui sabdanya, “Barang siapa yang tidak menyayangi orang lain, maka ia tidak akan disayangi,”[71] beliau juga sangat menganjurkan silaturrahim, beliau bersabda dalam hadits Qudsi, “Apakah engkau ridha jika Aku menyambung orang yang menyambung engkau dan memutuskan orang yang memutuskan engkau?”[72] Rasulullah Saw juga bersabda, “Barangsiapa yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya semata-mata karena Allah, maka penyeru akan menyeru, “Engkau telah berbuat baik dan perjalanan mupun merupakan kebaikan, serta engkau telah mempersiapkan sebuah tempat tinggal di surga.”[73]

Demikianlah, semua muslim bersatu ibarat satu tubuh, apa yang dipikirkan seseorang, itulah yang menjadi pikiran masyarakatnya, dan demikian pula sebaliknya. Dalam hal ini, Rasulullah Saw menegaskan, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan, maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam.”[74]

– Pahala Ukhrawi
Sebagian faktor yang mendorong seorang muslim untuk selalu terkait dengan akhirat dan melakukan pengorbanan adalah pahala ukhrawi. Seorang mukmin yang berkorban tidak akan menghitung-hitung untung rugi di dunia, jika tidak, maka ketika ia yang melakukan suatu pekerjaan besar, maka ia akan mengklaim apa yang tidak begitu bermanfaat bagi mereka di dunia. Akan tetapi agama Islam, dengan fokusnya terhadap pahala akhirat, mendorong para pengikutnya untuk terkait dan mengedepankan akhirat dan mengorbankan dunia, “Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.”[75] Allah Swt berfirman, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. dan Sesungguhnya akhirat Itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.[76]

Dari sini, semua muslim wajib mengorbankan dunia demi memuluskan jalan menuju akhirat, Allah Swt berfirman, “Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah.”[77]

Rasulullah Saw menegaskan hal ini dengan membandingkan antara cinta dunia dan cinta akhirat, beliau bersabda, “Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia, maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah ditetapkan baginya.”[78] Bahkan, jika seorang mujahid berjuang karena alasan duniawi, maka jihadnya adalah batil, Rasulullah Saw pernah ditanya, “seorang laki-laki yang berjihad di jalan Allah Swt dan ia menginginkan hal duniawi. Lalu Rasulullah Saw menjawab, “ia tidak berhak mendapatkan pahala.”[79]

– Jaminan Sosial
Jaminan ini menggambarkan salah satu corak integrasi dan kohesi sosial, dimana semua orang merasa bahwa masyarakat bertanggung jawab terhadapnya, sehingga ia merasa tenang dalam urusan tanggungan diri dan keluarganya dari segi materi. Islam telah menugaskan kaum kaya untuk menjamin kehidupan orang miskin sebanyak mungkin, bahkan, Islam tidak sekedar menganjurkan, akan tetapi menjadikannya sebagai kewajiban kaum kaya yang menjadi hak bagi masyarakat miskin, dan hak-hak ini bisa sampai pada titik kecukupan jika kondisi ekonomi memungkinkan.

Jika manusia merasakan bebas dari tekanan hidup dengan cara ini, maka ia akan bergegas untuk berjihad dan melakukan pengorbanan tanpa memikirkan siapa yang akan menjamin kehidupannya.

Mungkin kita akan jauh lebih memahami pentingnya jaminan sosial jika kita melihat efeknya di masa sekarang, dimana aturan Islam jauh melampaui apa yang dicanangkan oleh sistem yang ada saat ini, sistem yang tidak memberikan sumbangsih apa-apa, kecuali setelah melalui penderitaan, konflik dan ancamanterhadap otoritas penguasa.

Selain keyakinan terhadap jaminan ilahi dalam memberikan rizki di setiap keadaan, seorang mukmin akan melihat dengan matanya sendiri masalah hak yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin dari keuntungan kaum kaya, sehingga hatinya menjadi lebih tenang.

– Perwujudan Ajaran Islam 
Sesungguhnya komitmen terhadap ketentuan agama yang lurus, upaya untuk mencerminkannya dan mempelajari sirah Nabi Muhammad Saw secara konsisten mampu mewujudkan manusia baru yang berbeda, manusia yang tidak peduli dengan ambisi duniawi dan gemerlapnya. Seorang manusia yang diciptakan untuk akhirat, mencair dalam kerinduan terhadap Allah dan terkait erat dengan akhirat. Manusia yang menjauhi tempat tidur mereka untuk berdiri beribadah kepada Tuhannya, manusia yang terbiasa menangis karena takut kepada Allah Swt. manusia yang berubah menjadi singa yang terluka dalam pertempuran, ia tidak peduli apakah dia hidup atau mati, namun ia lebih memilih untuk syahid dibandingkan kehidupan yang fana.

Namun semua ini tidak tercipta dalam waktu sekejap, akan tetapi membutuhkan waktu yang sangat lama. Diawali dengan menjadikan umat ini sebagai kelompok yang berbeda dalam keutamaan, sehingga yang terdahulu bisa mengajarkan yang terbelakang, sehingga lambat laun semua menjadi terintegrasi. Dan jika semua urusan berjalan sesuai rencana Allah dan strategi Nabi Muhammad Saw, maka semua akan berujung pada persatuan dalam keridhaan Allah. Dan Allah-lah Dzat yang memberi taufik …

 

Oleh: Dr. Muhammad Thay

 

[1] QS. al-Ahzaab: 72

[2] QS. Ali Imraan: 104

[3] QS. Yusuf: 108

[4] QS. Al-Nahl: 125

[5] QS. Al-Hajj: 67

[6] QS. Al-Qashash: 87

[7] QS. Fushshilat: 33

[8] QS. Al-Ankabuut: 46

[9] QS. Al-Nahl: 125

[10] Shahih Bukhari, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, cet. I, 1992, Jilid I, bab 17, hlm. 25

[11] Shahih Muslim, Dar al-Fikr, Libanon, Fadhaail ash-Shahaabah 4/121.

[12] Ali Imran: 104, 110 dan 114, Al-A’raaf: 157, At-Taubah: 67, 71, 112, al-Hajj: 41 dan Luqman: 17.

[13] Shahih Bukhari: 3-144, Malaahim: 122.

[14] Sunan Ad-Darimi, Dar al-Fikr, 1:136

[15] Sunan Abi Daud, Dar al-Fikr: 4: 122.

[16] Sunan Turmudzi, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 4:406.

[17] Lihat kembali al-Futuuh, Dar an-Nadwah al-Jadiidah, Bairut 4/12, Imam al-Thabari, Taariikh al-Umam wa al-Muluuk, Muassasah al-I’laami, Beirut 4: 304

[18] QS. al-Baqarah: 207

[19] Al-Hurr al-Amili, Wasaa`il as-Syii’ah, Kitab Jihad, 61-143.

[20] QS. Ali Imran: 200

[21] QS. An-Nisaa: 71

[22] QS. Al-Anfaal: 15

[23] QS. Al-Anfaal: 20

[24] QS. Al-Anfaal: 45

[25] QS. At-Taubah: 38

[26] QS. At-Taubah: 123

[27] QS. An-Nisaa`: 144

[28] QS. Al-Maidah: 51

[29] QS. Al-Mumtahanah: 1

[30] QS. Ash-Shaff: 14

[31] QS. An-Nisaa`: 59

[32] QS. Al-Maidah: 8

[33] QS. An-Nisaa`: 135

[34] QS. Al-Anfaal: 24

[35] QS. Al-Ahzaab: 70

[36] QS. Al-Baqarah: 188

[37] QS. Al-Maaidah: 1

[38] QS. Al-Anfaal: 27

[39] QS. An-Nuur: 27

[40] QS. Al-Hujuraat: 6

[41] QS. Al-Hujuraat: 11

[42] QS. Al-Hujuraat: 12

[43] QS. Al-Jumu’ah: 9

[44] QS.Al-Munaafiquun: 9-10

[45] QS. An-Nisaa`: 75

[46] QS. Ash-Shaff: 4

[47] QS. al-Anfaal: 15-16

[48] Furuu’u al-Kaafii, Dar al-Adhwa, 1985, 5/37, Kitab jihad, bab Wasiyyat Amiril Mu`minin ‘Inda al-Qitaal, hlm, 1.

[49] QS. Al-Anfaal: 65

[50] QS. Al-Anfaal: 66

[51] Furuu’u al-Kaafii, bab I’thaa` al-Amaan: 30

[52] Ibid, bab Wasiyyat Rasulullah Li Amir al-Mu`minin fi as-Saraaya: 27

[53] QS. Ali imran: 195. Demikian pula firman Allah swt dalam surah al-Hajj: “Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka di bunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezki yang baik (surga). dan Sesungguhnya Allah adalah Sebaik-baik pemberi rezki.”

[54] QS. al-Baqarah: 154

[55] QS. An-Nisaa: 74

[56] QS. At-Taubah: 111

[57] QS. At-Taubah: 52

[58] Furuu’u al-Kaafii, Kitab Jihad, bab Fadhaa`il al-Jihad: 2

[59] Ibid, 8, hlm. 12

[60] Ibid, hlm. 10

[61] Al-Wasaa`il, bab 15, Kitab Jihad: 140, hlm. 1

[62] Ibid, bab 6/142. Ibid, bab 6/142, lihat juga sumber yang sama halaman 1, dimana ia berkata, “barangsiapa yang menolak keburukan dari kaum muslim karena banjir atau kebakaran, maka ia wajib masuk surga.”

[63] Ibid, 16-336, bab Fi’l al-Ma’ruuf, hlm. 2

[64] Ibid, bab al-Amr bi al-Ma’ruuf wa an-Nahy ‘an al-Munkar, bab 17-177m

[65] Ibid, Bab Jihaad an-Nafs, bab 34-283

[66] Ibid, Abwaab fi’l al-Ma’ruuf, bab 3/593, lihat juga halaman 295, “mahkota akal setelah iman adalah mencintai manusia dan berbuat baik kepada semua yang baik dan yang buruk.”

[67] Ibid: 344

[68] Ibid, bab 29/373, bab 35/382, “hendaklah seorang muslim menasehati saudaranya, sebagaimana ia menasehati dirinya sendiri.”

[69] QS. Al-Fath: 29

[70] QS. al-Balad: 17

[71] Shahih Bukhari, Jilid 7, bab 18/99

[72] Ibid, bab 13/96

[73] Sunan Turmudzi, Kitab al-Birr, bab 7/320

[74] Shahih Bukhari, Jilid 7/102 dan shahih Muslin jilid 16, bab al-Birr/115

[75] QS. an-Nisaa: 77, demikian pula dalam al-A’raaf: 169, Allah swt berfirman, “dan negeri akhirat itu lebnih baik bagi orang yang bertakwa…”

[76] QS. Al-Ankabuut: 64. Demikian pula dalam surah Ghaafir: 39, “Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal.”

[77] QS. An-Nisaa: 74

[78] Sunan Turmudzi, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1987, Kitab al-Qiyaamah, bab 30/554. Dalam sunan Ibnu Majah, al-Muqaddimah bab 23/95, disebutkan, “Barangsiapa yang menjadikan semua kesusahan menjadi satu kesusahan saja, yaitu kesusahan pada hari kembali kepada-Nya (kiamat), maka Allah akan mencukupkan baginya dari kesusahan dunianya. Dan barangsiapa yang menjadikan kesusahannya bercabang-cabang dalam berbagai kehidupan dunia, maka Allah tidak akan peduli kepadanya, di lembah mana dari bumi-Nya ini ia akan binasa.”

[79] Shahih Bukhari, Kitab ar-Riqaaq: 219, Musnad Ahmad bin Hanbal 4/229-230

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s