Paham JAMAAH, KEADiLAN SEMUA SAHABAT DAN PATUH MUTLAK PADA PENGUASA adalah produk pabrik hadits Bani Umaiyyah

Paham JAMAAH, KEADiLAN SEMUA SAHABAT DAN PATUH MUTLAK PADA PENGUASA adalah produk pabrik hadits Bani Umaiyyah
by: syiahali

Imam Hasan as. dituduh banyak nikah. Menurut sebuah riwayat, ia telahmenikah dengan tiga ratus orang wanita.

Semua itu hanyalah fitnah yang tidak berfakta. Tuduhan itu semata-mata rekayasa yang dibuat Manshûr Ad-Dawâniqî pada saat keturunan Imam Hasan as. mengadakan perlawanan terhadapnya; gerakan yang hampir saja menggoyahkan dan meruntuhkan dinasti kerajaannya. Manshûr telah berbuat dusta atas Imam Amirul Mukminin as. dan keturunannya dengan tuduhan-tuduhan palsu.

Seandainya semua riwayat buatan itu benar, tentunya Imam Hasan as. mempunyai anak yang sangat banyak sesuai dengan bilangan istrinya itu. Namun kenyataannya, para ahli nasab berasumsi bahwa putra-putri Imam Hasan as. hanya berjumlah dua puluh dua orang. Hal ini sama sekali tidak sesuai dengan jumlah wanita yang mereka duga telah dinikahi Imam as.

Selain itu, mereka juga menuduh Imam Hasan as. dengan banyaknya melakukan perceraian. Seandainya tuduhan itu benar, pasti ia telah men-cerai istrinya yang bernama Ja‘dah binti Asy‘ast. Kami telah membuk-tikan kepalsuan semua tuduhan itu dengan argumentasi yang gamblang dalam kitab kami, Hayâh Al-Imam Hasan as., jilid 2.

Diantara pokok perbedaan Sunni dan Syi’ah adalah persoalan kepemimpinan. Syi’ah mengklaim imamah (kepemimpinan umat) bersifat profetis, sakral dan menjadi bagian dari pokok agama (ushuluddin), sementara Sunni berangagapan sebaliknya imamah bersifat profane, secular, dan hanya merupakan bagian dari cabang agama (furu’uddin).

Kajian sejarah kepemimpinan Islam pasca kenabian menunjukkan bahwa terdapat korelasi kuat antara kepemimpinan Islam dan islam sebagai agama. Pilihan konsep kepemimpinan justru akan menentukan “tipe Islam” yang dianut.

Kontroversi Kepemimpinan Umat.

Setelah empatpuluh tahun nabi wafat, kaum muslimin mengalami dekadensi, dan demoralisasi. Silih bergantinya kekuasaan para khalifah yang penuh kontroversi yang berakhir dengan pengukuhan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, telah mengubah sistem kepemimpinan dari khalifah menjadi kerajaan.

Adalah sebuah gagasan penting untuk memahami mengapa terjadi suatu penindasan atas nama agama oleh dinasti Muawiyah.

Dalam Islam prinsip-prinsip pengelolaan kekuasaan politik diatur secara jelas, sebab kekuasaan poitik berhubungan dengan maslahat dan mudharat bagi umat Islam. Islam bukanlah agama individual yang berhenti pada aspek internalisasi ritual vertikal, atau dengan kata lain berhenti ketika seorang muslim telah melaksanakan ibadah ritual, yang mestinya setiap ritual dalam Islam memiliki dua aspek ; individual dan sosial sekaligus.

Diantara doktrin prinsip pengelolaan kekuasaan tersebut dapat ditemukan dalam beberapa ayat Qu’ran:
1. Prinsip musyawarah dan problem solving (QS : 3 ; 159)
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu kemudian . Apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya

2. Prinsip Kedilan dan Emansipasi Hukum (Equality before the Law) (QS: 5;48)
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, Yaitu Kitab-Kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap KitabKitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlombalombalah berbuat kebajikan. hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, (QS: 4;58)Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaikbaiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.

3. Prinsip Distribusi Ekonomi (QS: 59;7)
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anakanak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu. apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.

4. Prinsip Partisipasi dalam kebijakan publik (QS: 3;104)
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.Dinasti Muawiyah telah mendiskualifikasi seluruh prinsip pengelolaan kekuasaan diatas, karena memang tidak memiliki kepentingan untuk menjalankan prinsip-prinsip tersebut.

Satu satunya prinsip yang diaplikasikan adalah meraih kekuasaan seluas-luasnya agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk keuntungan sendiri dan kaum ningrat kerabatnya.Untuk mencapai tujuan politiknya, dinasti muawiyah ini menjalankan beberapa program dan agenda politiknya sebagai berikut:

1. Intimidasi
Aksi teror terhadap umat Islam dijalankan terhadap mereka yang tidak memberikan konsensus atas otoritas politis Muawiyah. Teror dilakukan secara terorganisir melalui jaringan aparatur pemerintahan dan pejabat-pejabat gubernur di beberapa wilayah kekuasaannya. Teror ini dilakukan dengan cara intimidasi, pemenjaraan, pembunuhan hingga peperangan.

Sementara pembunuhan tanpa alasan yang sah, dalam Islam memang merupakan kejahatan fatal, sebagaimana dalam ayat QS: 5;32 oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnya dan Barangsiapa yang memelihara kehidupan .seorang manusia, Maka seolah-olah Dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya telah datang kepada mereka Rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

Seperti kebanyakan penguasa otoriter, maka dinasti muawiyah pun membutuhkan pemerintahan yang kuat. Untuk tujuan ini maka umat Islam dipaksa untuk mendukung, menyokong dan jika perlu memuja otoritas muawiyah. Disisi lain, terhadap rakyat dipaksa untuk membantu menyingkirkan, mendiskreditkan dan menjatuhkan siapapun yang mengganggu otoritas muawiyah. Dalam sejarah disebutkan bahwa telah terjadi propaganda anti Imam Ali as. Dengan melakukan penghujatan dalam tiap akhir mimbar jum’at di masjid-masjid dalam wilayah kekuasaan mu’awiyah.

Salah satu skandal pembunuhan tokoh penting – terhadap sahabat nabi yang sangat dihormati – adalah pembunuhan terhadap Hujr ibn Adi dan para pengikutnya. Latar belakang pembunuhan tersebut adalah suatu upaya untuk menyingkirkan pengaruh Imam Ali as. Dan pengikutnya (syi’ah Ali), agar “stabilitas” pemerintahan dapat terkendali. Metode represif dalam pengendalian stabilitas tersebut adalah untuk menciptakan ketakutan-ketakutan dan membungkam kelompok-kelompok oposisi.

Sejarahwan telah merekam kisah-kisah yang dialami korban penindasan Muawiyah, diantaranya adalah yang terjadi pada ‘Amr bin Al-Hamaq Al-Khuzâ‘î. Allah memandang bahwa membunuh seseorang itu adalah sebagai membunuh manusia seluruhnya, karena orang seorang itu adalah anggota masyarakat dan karena membunuh seseorang berarti juga membunuh keturunannya.

‘Amr bin Al-Hamaq Al-Khuzâ‘î Seorang pecinta dan pendukung Ahlul Bait Rasul. Dalam pelariannya ke kota moshil ‘Amr bin Al-Hamaq Al-Khuzâ‘î tertangkap kemudian dibawa dan dihadapkan kepada gubernur moshil Abdurrahman bin Abdullah bin Utsman Ats-tsaqofi. Setelah mendapat arahan dari Mu’awiyah, sang gubernur diperintahkan untuk mencambuk sebanyak lima kali. ‘Amr bin Al-Hamaq Al-Khuzâ‘î yang pada saat itu sakit, hanya dengan sekali cambuk langsung menemui ajalnya. Namun yang mengejutkan adalah setelah kematiannya kepala Amr dimutilasi. Kemudian kepala tersebut dibawa, dipertontonkan di pasar dari satu kota ke kota lain hingga berakhir di Damaskus. Inilah kepala pertama yang dikirim sebelum kepala Imam Husein as. Dan kepala para syuhada karbala.

2. propaganda
Disamping terror dan intimidasi, cara yang juga efektif untuk menyingkirkan lawan politiknya adalah dengan melakukan propaganda atau kampanye hitam demi untuk mempengaruhi opini publik. Dinasti Muawiyah menggunaakan pengaruh agitasi untuk mendiskreditkan Imam Ali as. secara massif selama dua abad.

Jika kita merujuk pada peradaban lain, terdapat hal yang sama. Di India kuno, menjelang tahun 400 SM di India, Kautilya seorang Brahmana yang diduga menteri besar dalam Kekaisaran Candragupta Maurya menulis Arthashastra (Prinsip-prinsip Politik), sebuah buku nasihat bagi para penguasa yang sering dibandingkan dengan Republic karya Plato dan The Prince karya Machiavelli.

Kautilya membahas penggunaan perang psikologis (psywar) baik yang tebuka maupun rahasia dalam upaya mengganggu militer musuh dan merebut ibu kota. Ia menulis bahwa para propagandis raja harus menyatakan bahwa ia bisa mempraktekan sihir, para “Dewa” dan orang-orang bijak (intelektual) berada dipihaknya dan bahwa semua orang mendukung tujuan perangnya yang akan meraih manfaat. Dalam cara-cara rahasia, agen-agen propagandis harus menyusup ke kubu musuh untuk menyebarkan berita yang salah ditengah rakyat di ibu kota, diantara kalangan pemimpin dan militer.

Nasihat yang sama juga dilontarkan oleh Sun Tzu dalam karyanya Ping-fa (The Art of War) yang menulis pada periode sama. Bahwa “Semua perang berdasarkan pengelabuan. Oleh karena itu, ketika mampu menyerang, kita harus terlihat tidak berdaya, ketika kita menggunakan kekuatan, kita harus terlihat tidak aktif, ketika kita dekat, kita harus membuat percaya bahwa kita sangat jauh, ketika kita berada jauh, kita harus membuat mereka yakin kita dekat. Tahan musuh, munculkan kekakaucan dan serang mereka”.

Rekayasa dan pemalsuan hadits untuk mendiskreditkan tokohtokoh Ahlul Bait dilakukan secara sistematis dengan tujuan untuk mendistorsi, merusak dan menjungkirbalikkan ajaran Islam yang dibawa olah nabi saww. Kemudian Bani umayah ingin mengganti Islam yang murni ini dengan Islam yang kompatibel / cocok dengan sistem kekuasaan Muawiyah.

Ibn Abil Hadid al Mu’tazili menulis bahwa Muawiyah mendorong pengikutnya dan pendukungnya untuk meriwayatkan beberapa hadits yang memojokkan Imam Ali, diantaranya Abu hurairoh, Amr bin Ash, Mughirah bin Syu’bah dan Urwah bin Zubair.

3 Kesenjangan ekonomi
Demi tercapainya kekuatan pemerintahan muawiyah, maka sumber ekonomi umat harus dikuasai dan dimonopoli. Dalam konteks pemerintahan muawiyah distribusi kesejahteraan masyarakat disesuaikan dengan tingkat loyalitas masyarakat terhadap otoritas muawiyah. Makin setia, maka akan makin sejahtera Dengan kebijakan ini maka prinsip-prinsip keadilan ekonomi yang tertuang dalam QS; 59:7 telah dicampakkan. Hasilnya tentu saja kesenjangan ekonomi yang semakin melebar.

Sejarahwan muslim telah mencatat keadaan ekonomi pada masa awal dinasti Muawiyah, telah terjadi kesenjangan ekonomi yang dalam antara golonagan kaya (kaum aristocrat) dan kaum miskin (umat Islam). Kendatipun kondisi ini telah tercipta pada masa khalifah Utsman ibn Affan dengan kebijakan ekonominya yakni “ekonomi kekeluargaan”. Maka pengangkatan pejabat politik wilayah yang berbau nepotisme telah menjadi pintu masuk dari kondisi struktur ekonomi yang timpang.

Posisi Imam Ali as. Sebagai khalifah penggantinya yang banyak mereformasi struktur pemerintahan, pengelolaan administrasi baitul maal ternyata hanya merupakan selingan dari transformasi Utsman bin Affan kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Muawiyah menempatkan Amr ibn Ash sebagai gubernur Mesir, dan para sejarahwan mencatat harta kas Amr senilai 325.000 Dinar dan 1.000 dirham60, lahan pertanian senilai 200.00 dinar, Istana di al-What Mesir senilai 10.000 dinar. Marwan bin Hakam mendapat 500.000 Dinar yang bersumber dari pengumpulan pajak di wilayah Afrika juga memiliki rumah-rumah mewah. Sa’ad bin Abi Waqash meninggalkan warisan harta sejumlah 250.000 dirham, demikian pula dengan Zaid bin Tsabit telah mweninggalkan rumah-rumah mewah senilai 100.000 dinar. Disisi lain kerawanan pangan, kelaparan, dan kemiskinan melanda umat Islam. Pemerintahan Muawiyah tidak saja mengabaikan kondisi ini, namun juga tanpa belas kasih memelihara diskriminasi ekonomi untuk tujuan kelanggengan kekuasaannya.

Sebagaimana telah ketahui luas bahwa pemerintahan nepotism Bani Umawiyah ini telah dimulai sejak masa Utsman bin Affan. Rezim inilah yang telah dengan sengaja by design membagi kelas social masyarakat Islam menjadi dua strata ; kelas bangsawan dan kelas rakyat jelata.

Seorang sahabat nabi bernama Abi Dzar al Ghifari mengomentari kondisi yang terjadi dimasa Utsman bin Affan ; “ Saya heran mengapa orang yang tak punya makanan dirumah tidak menghunuskan pedang dan menyerang orang-orang itu. Ketika kemiskinan datang ke suatu kota, maka kekafiran akan meminta untuk mengambilnya sendiri.”.

wajah politik Mu‘âwiyah yang dengan terang-terangan menentang Al-Qur’an dan Sunah Rasulullah saw. Ia membunuh orang-orang yang tidak berdosa dan orang-orang saleh seperti: Hujr bin ‘Adî, ‘Amr bin Al-Hamaq Al-Khuzâ‘î, dan para sahabat yang lain secara zalim. Dia juga merusak kehormatan kaum muslimin, menawan kaum wanita, merampas harta benda, dan mengangkat orang-orang bejad sebagai aparat peme-rintahannya seperti: Ibn ‘Ash, Ibn Syu‘bah, Ibn Arthah, Ibn Hakam, Ibn Marjânah, dan Ibn Sumayyah.

Orang terakhir ini telah dipisahkan oleh Mu‘âwiyah dari ayahnya yang sah, yaitu ‘Ubaid Ar-Rûmî, kemudian menisbahkan kepada ayahnya sendiri yang durjana, Abu Sufyân. Dia telah memberikan kekuasaan untuk memerintah penduduk Syi‘ah Irak kepada anak durjana ini. Dengan kekuasaannya itu, Ibn Sumayyah telah membebankan berbagai kesengsaraan kepada rakyat di sana, menyem-belih anak-anak mereka, mempermalukan kaum wanita mereka, memba-kar rumah-rumah mereka, dan merampas harta benda mereka …

Salah satu kejahatan dan kezaliman Mu‘âwiyah yang terbesar ialah usahanya membunuh cucu Rasulullah saw., Imam Hasan as. Dia telah menyusupkan racun untuk Imam Hasan as. melalui tangan istrinya yang bernama Ja‘dah bin Asy‘ats. Dia merayu Ja‘dah dan berjanji akan menikahkannya dengan Yazîd. Ja‘dah terkutuk itu membubuhkan racun sementara Imam Hasan as. sedang berpuasa. Racun itu merobek-robek usus Imam Hasan as. dengan cepat. Tidak lama setelah itu, rohnya yang suci segera kembali ke haribaan Tuhannya dengan membawa berbagai musibah, duka, dan kesedihan yang ditimpakan oleh Mu‘âwiyah. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn!

Mu‘âwiyah melengkapi kejahatan dengan mengangkat anaknya sen-diri, Yazîd, sebagai khalifah Muslimin. Anak ini telah merusak dan meng-hancurkan Islam dan umatnya. Tak ada kejahatan yang disisakannya. Di antara kejahatannya yang terbejat adalah tragedi Thuff di Mekah dan tragedi Harrah, serta berbagai petaka lainnya yang telah mengubah kehidupan Muslimin menjadi neraka Jahanam yang sulit dibayangkan.

Legitimasi Agama.
Muawiyah menyadari bahwa seluruh agenda politik seperti intimidasi, propaganda, monopoli ekonomi, dalam rangka penguatan kekuasaannya, tidak akan dapat dijalankan tanpa ada legitimasi agama. Mengingat masa kekuasaannya adalah masa yang tidak terlalu jauh dengan masa kenabian, dan banyak diantara para sahabat nabi masih hidup. Maka untuk menghindari kritik atas pelaksanaan pemerintahan yang diarahkan pada dirinya, Muawiyah mencoba untuk membungkam kelompok kritis yang berseberangan dengannya, dengan cara penyuapan atau jika tak dapat disuap diintimidasi.

Muawiyah menghimpun intelektual bayaran yang terdiri dari kelompok penyair, tukang cerita, dan ulama bayaran. Tugas mereka tak lain adalah menjaga “stabilitas” pemerintahan dengan cara memberikan legitimasi keagamaan atas kebijakan publiknya.Pada masa inilah kemudian muncul dan berkembang paham teologi yang di rekayasa oleh para elite intelektual gadungan atas sponsor Muawiayah. Bahkan paham ini telah sangat jauh melenceng dari spirit ajaran Islam paling fundamental, Diantara sebagian paham-paham itu adalah:

a. Paham fatalis (jabariyah)
Paham ini percaya bahwa semua peristiwa terjadi memang sudah ditetapkan kejadiannya jauh sebelum penciptaan alam semesta, sehingga manusia tak sanggup untuk mengubah nasibnya sendiri. Muawiyah adalah orang yang menghidupkan keyakinan ini. Qadhi Abdul Jabbar mengutip perkataan Muawiyah “Perkara Yazid ini merupakan takdir Allah dalam perkara ini kita tidak memiliki kehendak atau pilihan. ”Pada satu kesempatan Ubaidullah bin Ziyad bertanya pada Imam Sajjad ; “Bukankah Allah yang membunuh Ali Akbar?” “Orang (manusia) yang membunuh kakaku” Jawab Imam Sajjad. Paham ini, disatu sisi bertujuan untuk mengokohkan legitimasi pemerintahan Muawiyah, disisi lain betujuan untuk membelokkan umat Islam dari aqidah jihad dan amar ma’ruf nahi mungkar dengan pola pengingkaran umat Islam terhadap taklif (tanggung jawab keagamaan).

b. Paham Jama’ah
Suatu ketika Ibn Ishak melihat Syimr ibn dzil-Jaushan (pembunuh Imam Husein) shalat di masjidil haram dan berdoa ; “Ya Allah Engkau sungguh tahu bahwa aku ini bermartabat, karena itu ampunilah aku” Ibn Ishak menyela ; “mana mungkin diampuni, kalau ternyata kamulah orangnya yang membantu pembunuhan putra Nabi !” “Apa yang telah kami lakukan?” tukas Syimr. “Itu adalah perintah komandan kami, kami tak dapat menolak, jika tidak dilaksanakan maka kami lebih rendah kedudukannya disbanding binatang buas!” Ibnu Ziyad ketika melakukan briefing kepada tentaranya sebelum peristiwaw pembantaian di Karbala, menegaskan ; “Jangan sampai lupa ketaatan dan persatuan, jangan sekalisekali ragu untuk membunuh orang yang memisahkan diri dari agama dan terlibat konflik dengan ‘Imam’ (Muawiyah).” Pada awalnya istilah bay’ah (perjanjian) merupakan konsensus dan pengakuan sukarela atas pengemban otoritas politis terhadap umat Islam yang didasarkan pada kapasitas, kualifikasi kepemimpinan dan tuntunan ilahiyah. Namun konsepsi ini diselewengkan pihak Muawiyah dari sebuah ‘konsensus’ menjadi sebuah ‘paksaan’, dari kepemimpinan berkapasitas profetis menjadi kepemimpinan berkapasitas bandit.

Pergeseran esensi konsep kepemimpinan ini telah terjadi sejak kontroversi penetapan Khalifah pertama, dan berpuncak pada syahadah Imam Husein as. Dinamika awal kepemimpinan Islam pasca kenabian menunjukkan korelasi kuat antara kepemimpinan Islam dan islam sebagai agama. Pilihan konsep kepemimpinan justru akan menentukan “tipologi Islam” yang dianut.

Dalam AlQur’an, Allah berfirman (QS; 4:59) ; Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Ayat di atas berkaitan dengan salah satu isu Islam yang paling penting, yaitu masalah kepemimpinan ilahiyah. Jadi pada prinsipnya, kepemimpinan adalah kunci rahasia bagi kemajuan dan kemunduran kemanusiaan. Seorang pemimpin yang lemah dan tidak berkompeten akan menyesatkan rakyat dan membawanya kepada kehancuran, sedangkan pemimpin yang kuat dan berkompeten akan memimpin rakyat menuju kesejahteraan material dan spiritual. Sebuah kepemimpinan yang benar akan membuka jalan bagi yang berpotensi untuk berkembang, sedangkan kepemimpinan palsu akan menghancurkan potensi umat.

Intisari ajaran yang tertuang pada ayat diatas terdiri dari tiga tahap : tahap pertama, memerintahkan orang beriman untuk taat kepada Allah, karena Dia adalah sumber dari semua jenis ketaatan, maka kepemimpinan harus datang dari yang Maha Perkasa. Pada tahap kedua ia memerintahkan orang percaya untuk mengikuti dan menaati Rasul-Nya, Nabi saww. yang sempurna dan tidak bertindak sesuai dengan keinginan pribadinya.

Pada tahap ketiga dan terakhir Ia memerintahkan orang beriman untuk mematuhi otoritas kepemimpinan Ulul amri, Mereka adalah yang berasal dari kalangan masyarakat muslim yang menjaga Islam dari aspek material dan spiritual dari kehidupan seorang muslim. Namun siapakah mereka yang dapat disebut sebagai pemangku otoritas Ulil Amri?

Konsep Kepemimpinan dan Islam.

Mayoritas ulama Sunni dan para penafsir Quran memandang Ulul-Amri adalah penguasa dan negarawan pada setiap zaman. Akibatnya, setiap muslim berkewajiban untuk mematuhi mereka sebagai-pemerintah, apapun esensi pemerintahan mereka adil atau zhalim.

Meskipun ini pendapat tradisional yang umum dari para ulama Sunni, namun ada beberapa pemikir kontemporer dan intelektual Sunni yang telah menolak pendekatan tradisional dan menegaskan bahwa “kita berkewajiban untuk mematuhi mereka dengan syarat bahwa mereka tidak melanggar aturan Islam dan hukum”. Sayid Quthb dalam tafsirnya, Fi zhilalil Qur’an. Ini adalah contoh pendekatan baru dalam menerjemahkan konsep kepemimpinan.

Legitimasi pendekatan tradisional atas Ayat Ulul Amri (misal QS; 4:59) dalam kutipan sebelumnya adalah memerintahkan kita untuk benar-benar taat kepada Allah, Rasul-Nya, dan Ulul-Amr tanpa syarat mempertanyakan kualifikasi Ulul Amri yang dimaksud. Alasannya adalah, bahwa ketidaktaatan kepada “pihak berwenang” di atas dapat mengganggu stabilitas dan ketenangan umat. Konsep serupa dapat kita bandingkan dengan pasal-pasal dari UndangUndang Subversi warisan kolonialis.

Justifikasi lain yang merupakan salah satu sebab utama adalah bahwa banyak Hadis yang diklaim sebagai dikutip dari Nabi yang menyatakan bahwa para penguasa harus dipatuhi, terlepas dari perilaku mereka dan kualifikasinya.

Hadis tersebut dibuat dalam skala besar diproduksi dalam pabrik hadis. Industri hadis ini didirikan pada masa pemerintahan dinasti Mu’awiyah. Tujuan dari pabrikasi tersebut, adalah pembenaran kepemimpinan palsu mereka untuk menyesatkan umat Islam.

Berikut ini adalah beberapa contoh produk hadits Bani Umaiyah :
Diriwayatkan dari Huzhaifah bahwa Nabi telah berkata: “Akan ada penguasa setelahku, yang mereka tidak mengikuti sunahku. Di antara mereka ada yang hatinya seperti hati setan dalam tubuh manusia” Huzhaifah Kemudian bertanya pada Nabi tentang apa yang harus ia lakukan? Nabi menjawab: “Dengarkan dan ikuti penguasa anda, meskipun ia merampas harta benda dan ternak anda” (Muslim 6: 21).

Diriwayatkan dari Ibn-Abbas telah dikutip dari Nabi mengatakan: “Barangsiapa melihat pemimpinnya sesuatu yang menjijikkan darinya, ia harus bersabar, karena siapa saja yang pergi satu langkah atau satu rentang dari mayoritas jama’ah maka dia akan mati dalam keadaan mati jahiliyah. “ Berdasarkan hadits-hadits diatas, seorang ulama Sunni yang bernama Abubakar Ibn Arabi telah menegaskan dalam bukunya Al-Awasim bahwa: “(Imam) Husain dibunuh oleh pedang kakeknya (maksudnya hadits-nya), karena ia memberontak terhadap Imam (Yazid)”.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar yang dikutip dari Nabi telah berkata: “Barangsiapa mendurhakai pemerintahannya, ia akan bertemu dengan Allah di akhirat sedangkan dia tidak memiliki bukti atas apa yang telah dilakukan, dan orang yang meninggal tanpa memiliki kesetiaan dari pemerintah ia telah meninggal dan mati Jahiliyah (non-Muslim)” (Muslim 6:20) Abdullah Ibn Umar mengutip hadits tersebut setelah pembantaian yang terjadi di Harra, Madinah tiga tahun setelah peristiwa Asyura di Karbala.

Imam Nawawi dalam syarahnya berkata dalam penjelasan dari hadis tersebut di atas:
“Semua ulama yang ahli hukum Sunni, perawi dan teolog telah sepakat bahwa khalifah tidak akan jatuh karena korupsi dan kesalahan dan pengabaian kepentingan publik. Jadi tidak ada yang diperbolehkan untuk bangkit melawan dia (penguasa zhalim). Paling banter hal yang diizinkan adalah memberi beberapa nasihat dan menakut-nakuti dia dari azab Allah, karena Hadis mengatakan kepada kita untuk melakukannya.

Sepanjang sejarah Islam, ulama Sunni telah telah berperan dalam melakukan pengelabuan terhadap kaum muslimin, disebabkan oleh ketergantungan mereka pada industri pemalsuan hadits produk Mu’awiyah. Mereka berdoa di belakang siapa pun yang memimpin doa, mereka berbay’at kepada siapa pun penguasa mereka. Kemudian disisi lain kaum Syi’ah dituduh menjadi pemberontak dan teroris.

Banyak kejahatan dalam sejarah Islam yang dibenarkan oleh doktrin palsu tersebut. Masa Yazid dalam peristiwa Harra di kota suci Nabi saaw., pembantaian ratusan umat Islam Madinah yang tidak bersalah menjadi saksi sejarah. Kota suci Nabi saww. Telah dilanggar kesuciannya, dimana telah terbunuh 700 diantaranya adalah mereka yang hafal Quran, 1000 anak perempuan diperkosa dan harta mereka dirampas selama tiga hari oleh tentara Yazid,semua di bawah legitimasi mematuhi khalifah.

Mu‘âwiyah telah menetapkan beberapa jurus politiknya berikut ini:
1. Melakukan teror terhadap tokoh-tokoh Islam seperti Hujr bin ‘Adî, Maitsam At-Tammâr, Rasyîd Al-Hijrî, ‘Amr bin Al-Hamaq Al-Khuzâ‘î dan tokoh-tokoh besar lainnya. Para tokoh Islam ini telah dibantai, karena mereka adalah manifestasi kekuatan yang menen-tang kekuasaannya dan menghalang-halangi alur politiknya yang telah ia lempangkan atas dasar kezaliman dan diktatoris.
2. Menghapus kemuliaan Ahlul Bait yang merupakan poros kesadaran sosial dalam Islam dan urat nadi yang penting di dalam tubuh umat yang senantiasa membantu mereka untuk bangkit dan melakukan perlawanan. Oleh karena itu, Mu‘âwiyah mewajibkan umat Islam untuk mencerca mereka dan menjadikan kebencian kepada mereka sebagai bagian dari kehidupan Islam. Dalam hal ini, Mu‘âwiyah telah menggunakan sarana pendidikan dan pengajaran, juga sarana ceramah dan bimbingan demi menghapus kemuliaan Ahlul Bait as. Bahkan Mu‘âwiyah mewajibkan masyarakat Islam untuk mengutuk Ahlul Bait di atas mimbar-mimbar pada salat Jumat, salat hari raya Idul Fitri, Idul Adha, dan pada kesempatan-kesempatan lainnya.
3. Mengadakan perubahan atas realita Islam dan seluruh ajaran dan pondasinya. Mu‘âwiyah telah membentuk lembaga untuk membuat hadis-hadis palsu atas nama Rasulullah saw. Para pembuat hadis-hadis palsu itu telah berbuat dusta yang bertentangan dengan akal dan jalur kehidupan. Dan sangat disayangkan bahwa hadis-hadis palsu tersebut tercantum pula di dalam sebagian kitab-kitab sahih dan lainnya sehingga para ulama yang memiliki kepedulian terhadap ajaran Islam terpaksa menulis kitab yang menjelaskan hadis-hadis palsu tersebut. Menurut anggapan saya, kejahatan ini merupakan tragedi yang paling besar bagi umat Islam. Karena hingga saat ini, sebagian umat Islam masih banyak yang berpegang teguh kepada hadis-hadis palsu tersebut dan mereka meyakini bahwa hal itu merupakan bagian dari agama mereka. Padahal agama berlepas tangan dari semua itu.

Peringatan Imam Husain as. kepada Mu‘âwiyah.

Imam Husain as. memberikan peringatan keras terhadap Mu‘âwiyah. Dalam peringatan itu, ia menolak politik kotor Mu‘âwiyah yang menen-tang kitab Allah dan sunah Nabi-Nya. Ia juga menegur pembunuhan yang dilakukannya terhadap para pemuka Islam. Peringatan Imam Husain as. tersebut merupakan dokumentasi politik penting yang mene-barkan berbagai kejahatan dan kezaliman Mu‘âwiyah. Hal ini telah kami jelaskan dalam buku kami, Hayâh Al-Imam Husain as.

Seminar Politik di Mekah.

Imam Husain as. pernah mengadakan seminar politik umum tahunan di Mekah. Dalam seminar itu, ia mengundang para jamaah haji, baik dari ka-langan Muhajirin maupun Anshar, dan jamaah haji lainnya. Ia menyam-paikan ceramah mengenai berbagai bencana dan cobaan yang menimpa keluarga Rasulullah saw. pada masa pemerintahan Mu‘âwiyah sang tiran.

Berikut ini adalah cuplikan pidato Imam Husain as. dalam seminar tersebut:

Sesungguhnya si penguasa tiran ini—yakni Mu‘âwiyah—telah memperlakukan kami dan Syi‘ah kami dengan kejahatan seba-gaimana yang kalian lihat, saksikan, dan ketahui. Kali ini, aku ingin menanyakan sesuatu kepada kalian. Jika aku benar, maka benarkanlah aku, dan jika aku berdusta, maka dustakanlah aku. Dengarkanlah ucapanku dan tulislah perkataanku, kemudian kembalilah kalian ke tempat tinggal dan kabilah kalian. Ajaklah orang-orang yang kalian percaya dan kalian anggap jujur untuk mengetahui hak-hak kami sebagaimana yang kalian ketahui. Sesungguhnya aku merasa khawatir persoalan ini akan sirna dan terkalahkan. Tetapi Allah swt. akan menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir membencinya.

Imam as. mengakhiri seminar itu dengan menjelaskan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait as. dan upaya Mu‘âwiyah untuk menghapuskannya. Muktamar ini adalah muktamar pertama yang pernah diadakan dalam Islam.

Penolakan Imam Husain as. Terhadap Kekhalifahan Yazîd.

Mu‘âwiyah berusaha keras untuk mengangkat anaknya, Yazîd, untuk menjadi khalifah muslimin. Ia memanfaatkan seluruh sarana negara agar kekhalifahan dan kerajaan tersebut dapat dipegang oleh keturunannya. Imam Husain as. adalah orang yang paling keras menolak dan menentang upaya tersebut. Karena Yazîd sama sekali tidak memiliki kelayakan untuk menjadi khalifah muslimin. Imam as. menjelaskan sifat-sifat Yazîd dengan ucapan: “Sesungguhnya dia (Yazîd) adalah peminum arak dan pemburu binatang. Dia senantaisa menaati setan dan meninggalkan perintah Ar-Rahmân. Dia menampakkan kerusakan, menghapus hukum-hukum Allah, menghalalkan apa yang telah diharamkan Allah, dan meng-haramkan apa yang telah dihalalkan Allah.”

Setiap kali Mu‘âwiyah berusaha meyakinkan Imam Husain as. untuk membaiat Yazîd, Mu‘âwiyah tidak pernah menemukan peluang untuk itu.

Kematian Mu‘âwiyah.

Ketika penguasa tiran Mu‘âwiyah telah mati, Walîd, penguasa kota Madinah, memanggil Imam Husain as. supaya berbaiat kepada Yazîd. Imam Husain as. menolak permintaan tersebut seraya berkata: “Hai Amir, sesungguhnya kami keluarga kenabian adalah sumber risalah dan tempat para malaikat datang silih berganti. Dengan perantara kami Allah membuka risalah kenabian dan dengan kami pula Dia menutup kenabian. Sesungguhnya Yazîd adalah orang fasik, peminum khamar, pembunuh orang-orang tak bersalah, dan berbuat kefasikan secara terang-terangan. Orang sepertiku ini tidak akan membaiat orang seperti dia.”.

Imam Husain as. menolak untuk membaiat Yazîd, sebagaimana seluruh keluarga kenabian juga menolak untuk membaitnya karena mengikuti pemimpin mereka, Imam Husain as.

>> Ali dengan Mu’awiyah cs
Az­Zamakhsyari dalam Rabi’al­Abrar dan Suyuthi menceritakan: ‘Di zaman Umayyah lebih dari 70.000 mimbar digunakan untuk melaknat Ali bin Abi Thalib’. Mimbar­mimbar ini menyebar di seluruh wilayah dari ufuk Timur ke ufuk Barat. Al­Hamawi berkata: Ali bin Abi Thalib dilaknat di atas mimbar­mimbar masjid dari Timur sampai ke Barat kecuali masjid jami’ di Sijistan”. Di masjid ini hanya sekali terjadi khatib melaknat Ali. Tetapi pelaknatan di mimbar Haramain, Makkah dan Madinah, berjalan terus’.

Mughirah bin Syu’bah yang jadi gubernur di Kufah menyuruh jemaah masjid mengutuk Ali dengan kata­kata: ‘Wahai manusia, pemimpinmu menyuruh kepadaku untuk melaknat Ali, maka kamu laknatilah dia’. jemaah berteriak ‘Mudah­mudahan Allah melaknati dia!’. Tetapi dalam hati, yang mereka maksudkan dengan ‘dia’ adalah Mughirah. Pelaknatan Mughirah terhadap Imam Ali dilakukan terus menerus. Sekali ia mengatakan dalam khotbahnya: ‘Sesungguhnya Rasul Allah saw tidak menikahkan putrinya dengan Ali karena Rasul menyukai Ali, tetapi untuk memperbaiki hubungannya dengan keluarga Abu Thalib’. Pada suatu ketika ia ditegur sahabat Zaid bin Arqam: ‘Hai Mughirah, apakah engkau tidak tahu bahwa Rasul saw melarang mencerca orang yang sudah mati? Tidakkah engkau melaknat Ali dan ia sudah meninggal?

Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash yang berkata: Mu’awiyah berkata kepada Sa’d: ‘Apa yang menghalangimu melaknat Abu Turab?’. Sa’ad menjawab: ‘Ada tiga hal yang diucapkan RasulAllah saw sehingga aku tidak akan pernah mencacinya, karena bila saja aku mendapat satu dari tiga keutamaan itu aku lebih suka dari pada memiliki harta apa saja yang paling berharga. Kemudian ia menyebut hadis al-­Manzilah, ar-­Rayah (bendera) dan al-­Mubahalah.

Dalam lafal Thabari: ‘Tatkala Mu’awiyah naik haji, ia berthawaf bersama Sa’ad dan setelah selesai, Mu’awiyah pergi ke Dar an­Nadwah dan mengajak Sa’ad duduk bersama di ranjangnya (sarir) dan Mu’awiyah mulai memaki Ali, Sa’ad bangkit dan berkata: ‘Engkau mengajak aku duduk bersama di ranjangmu kemudian engkau memaki Ali, demi Allah bila aku dapat satu saja yang didapat Ali aku lebih suka dari apa yang dapat didatangkan matahari’? sampai ia selesai mengemukakan hadis dan Sa’ad bicara: ‘Demi Allah aku tidak akan memasuki rumahmu!’.

Meskipun Sa’d bin Abi Waqqash tidak mau membaiat Ali, tetapi ia tidak dapat berdiam diri dan menegur Mu’awiyah. Bila ada Sa’ad, satu dari enam anggota Suyura, Muawiyah tidak berani melaknat Ali. Tatkala ia akan berkhotbah di masjid Nabi dan akan melaknat Ali, Sa’ad berkata: ‘Bila engkau melaknat Ali aku pasti keluar dari masjid’. Sa’ad bin Abi Waqqash, setelah meninggalnya Utsman, hidup menyendiri. Pertemuannya dengan Mu’awiyah hampir selalu terjadi di masjid. Ia memanggil Mu’awiyah sebagai raja dan bukan khalifah. Setelah Ali meninggal, hanya ia seorang diri lagi yang anggota syura dan selalu mengatakan kesalahannya tidak membaiat Ali. ‘Saya telah mengambil keputusan yang salah. Dan tatkala orang menyalahkannya karena tidak mau mendukungnya memerangi Ali ia berkata: ‘Saya menyesal tidak memerangi al­fi’ah al­bighiah, kelompok pemberontak (yaitu Mu’awiyah).

Demikian pula dengan Abdullah bin Umar, meski tidak membaiat kepada Ali pada akhirnya berkata: ‘Saya tidak pernah menyesal hidup di dunia, kecuali tidak berperang bersama Ali bin Abu Thalib melawan kelompok pemberontak sebagaimana diperintahkan Allah’.

Pada satu hari Muawiyah sedang duduk-duduk dengan teman-temannya. Ahnaf bin Qais juga hadir. sementara itu seorang Syria datang lalu berpidato. pada akhir pidatonya ia mencerca Ali. mendengar itu Ahnaf berkata kepada Muawiyah, tuan! bila orang ini mengetahui bahwa anda akan merasa senang bila para Nabi dikutuk maka ia pun akan mengutuk mereka. Takutlah kepada Allah dan janganlah mengusik-usik Ali lagi. Ia sudah menemui Tuhannya. ia sekarang sendirian di kuburnya dan hanya amalnya yang menyertainya. Saya bersumpah demi Allah bahwa pedangnya sangat suci dan pakaiannya pun sangat bersih dan rapi, tragedi yang menimpanya besar.

Muawiyah berkata, “Hai Ahnaf! engkau telah menaburkan debu ke mata saya dan berkata sesukamu. Demi Allah, engkau harus naik ke mimbar dan melaknat Ali. bila engkau tidak melaknatnya dengan sukarela maka engkau akan dipaksa melakukannya. Ahnaf menjawab, “Sebaiknya anda memaafkan saya dari melakukannya. namun meskipun anda memaksa saya, saya tetap tidak akan mengucapkajn kata-kata semacam itu. lalu Muawiyah menyuruhnya naik ke mimbar. Ahnaf berkata, Bila saya naik ke mimbar maka saya berlaku jujur. Muawiyah berkata, Bila engkau jujur, apa yang akan kau ucapkan? Ahnaf menjawab, “setelah naik ke mimbar maka saya akan memuji Allah lalu berkata begini, “Wahai manusia! Muawiyah telah menyuruh saya untuk mengutuk Ali. Tiada ragu bahwa Ali dan Muawiyah saling bermusuhan. Masing-masing mengaku bahwa pihaknya yang telah dizalimi. Oleh karena itu bila saya berdoa, hendaklah anda sekalian mengamininya” lalu saya akan berkata, “Ya Allah! Kutuklah salah satu dari kedua orang ini yang durhaka, dan biarkanlah para malaikat, nabi-nabi serta seluruh makhluk-Mu mengutuknya. Ya Allah! Limpahkanlah kutukan-Mu kepada kelompok pendurhaka. Wahai hadirin, ucapkanlah Amin. Wahai Muawiyah, saya tidak akan mengucapkan apa-apa selain kata-kata ini, walaupun saya harus kehilangan nyawa saya. Muawiyah menjawab, “Ya, kalau bbegitu aku memaafkanmu (dia naik ke mimbar dan mengutuk).

Mengenai alasan pelaknatan Ali bin Abi Thalib, dapat dijelaskan dengan riwayat dari Umar Bin Abd al-Aziz berikut ini: Pada waktu itu ayahku adalah gubernur di Makkah. Aku mendengar ayahku bicara lancar sampai pada saat ia melaknat Ali dan suaranya jadi tidak jelas, terbata­bata dan menyesakkan, hanya Allah yang tahu. Dan aku terheran­heran melihat yang demikian itu. Maka suatu hari aku bertanya kepadanya: ‘Wahai ayah, engkau berkhotbah begitu fasih dan lancar, belum pernah aku lihat engkau berkhotbah begitu baik, tetapi setelah engkau sampai pada melaknat lelaki itu engkau lalu tergagap-­gagap tidak karuan. ‘Ayahku menjawab: ‘Wahai anakku, andaikata orang Syam atau siapa saja yang berada di bawah mimbar mengetahui keutamaan lelaki ini seperti yang diketahui ayahmu ini, maka tiada seorang pun akan mengikuti kita”.

>>Amr bin Hamaq vs Mua’wiyah
Orang pertama yang dipenggal kepalanya oleh Mu’awiyah adalah Amr bin Hamaq sebagai Syi’ah Ali yang turut mengepung rumah Utsman dan dituduh membunuh Utsman dengan 9 tusukan. Ia melarikan diri ke Mada’in bersama Rifa’ah bin Syaddad dan terus ke Mosul.

Ia ditangkap dan gubernur Mosul Abdurrahman bin Abdullah bin Utsman mengenalnya. Ia mengirim surat ke Mu’awiyah. Mu’awiyah menjawab seenaknya: “Ia membunuh Utsman dengan tusukan dengan goloknya (masyaqish) dan kita tidak akan bertindak lebih, tu suklah dia dengan sembilan tusu kan”. Setelah ditusuk ­baru tusukan pertama atau kedua, kelihatannya ia sudah mati­ kepalanya dipenggal dan dikirim ke Syam, diarak kemudian diserahkan kepada Mu ’awiyah dan Mu’awiyah mengirim kepala ini kepada istrinya Aminah binti al­Syarid yang sedang berada di penjara Mu’awiyah.

Kepala itu dilemparkan ke pangkuan istrinya. Istrinya meletakkan tangannya di dahi kepala suaminya kemudian mencium bibirnya berkata:
Mereka hilangkan dia dariku amat lama,
Mereka bunuh dan sisakan untukku kepalanya,
Selamat datang, wahai hadiah,
Selamat datang, wahai wajah tanpa roma.
‘Amr bin Hamaq adalah orang pertama dalam sejarah Islam yang kepalanya dipenggal dan diarak dari kota ke kota, lihat Ibn Qutaibah, Al­Ma’ar if, hlm. 127; Al­Isti’ab, Jilid 2, hlm. 404; Al­Ishabah, jilid 2, hlm. 533; Ibn Katsir, Tarikh, jilid 8, hlm. 48.

>> Abu Dzar dengan Muawiyah

Ketika Abu Dzar “disuruh” Uthman untuk ke Syria, ia malah melihat kegiatan Muawiyah lebih buruk dari Uthman dan Marwan. dan tak henti-hentinya ia berdakwah dan menegur ketidakberesan dalam pemerintahan Uthman. Ia pun dipanggil Muawiyah, Muawiyah berkata, Wahai musuh Allah! engkau menghasut orang menentang aku dan berbuat sesukamu. Apabila aku sampai membunuh sahabat nabi tanpa izin khalifah maka engkaulah orangnya.” Abu Dzar pun menjawab, “Saya bukan musuh Allah atau nabi-Nya. Justru kau dan ayahmulah yang musuh Allah. Kamu berdua masuk Islam secara lahiriah, sementara kekafiran masih tersembunyi dalam hatimu.” Ia tidak memperdulikan ancaman Muawiyah dan terus berdakwah kepada masyarakat Syria. Muawiyah lantas melaporkan kegiatan Abu Dzar pada Uthman.

Motif Revolusi Husein.

Ada banyak motif untuk revolusi Huseiniyah dan yang paling menonjol yang bersifat ideologis. Berikut ini adalah rinciannya:

Diantara banyak alasan, maka dekadensi moral umat Islam adalah yang paling mendesak untuk dipulihkan. Karena adanya suatu upaya sistematis untuk mendistorsi konsep-konsep dan gagasan Islam. Pemalsuan hadis adalah perilaku dan rahasia umum, yang memiliki efek beracun pada kehidupan kaum muslimin.

Kedok agama yang digunakan untuk menyembunyikan perilaku jahat dinasti Bani Umayah sangat membahayakan Islam sebagai agama. Dalam jangka panjang, hal ini bisa mengubah konsepkonsep Islam yang murni dan menjungkirbalikkan cita-cita sosial Islam. Oleh karena itu, ikhtiyar untuk menanggalkan topeng ini dan mengekspos citra Bani Umayah sesungguhnya adalah suatu kebutuhan mendesak dan penting.

Struktur pemerintahan tidak dibangun atas konsep dasar Islam. Klaim kaum Quraisy bahwa mereka dilahirkan untuk memerintah dan non-Arab adalah warga negara kelas dua. Ini menunjukkan bagaimana gambaran struktur sosial dari dunia Islam di bawah dinasti Bani Umayah. Kebebasan berpikir dan berekspresi ditolak. Ketika seseorang berani untuk mengungkapkan pendapat yang bertentangan dengan penguasa, maka penjara Umayyah akanmenjadi rumahnya, hartanya dirampok, dan bahkan hidupnyadipertaruhkan.

Dinasti Bani Umayah menganggap kekuasaan Islam menjadi property right mereka. Sejumlah kewajiban pajak-pajak Islam seperti sedekah, zakat dan pajak Islam lainnya dikumpulkan, namun dilarang mempertanyakan kemana uang itu dibelanjakan. Gratifikasi dan penyuapan diberikan kepada gubernur dan kepala suku dalam rangka menjamin loyalitas mereka. Sejumlah besar uang dihamburkan dengan sia-sia untuk balapan, perjudian, industri khamr, dan membeli budak perempuan untuk menghibur kaum aristokrat Umayah. Oleh karena itu, sementara mayoritas muslim bisa mati karena kelaparan, sisi lain kelompok yang berkuasa menikmati hak istimewa sosial dan material.

Pada titik kulminasinya seiring dengan berjalannya waktu, kaum muslimin telah terbiasa dengan regulasi anti-Islam model Bani Umayyah. Beberapa perlawanan dengan mudah ditaklukkan dan akhirnya beberapa kelompok umat mulai menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Oleh karena itu, semangat revolusioner Islam mulai hilang secara bertahap dari kehidupan kaum muslimin. Oleh karenanya maka diperlukan stimulan baru untuk memompa jiwa dan memulihkan kembali kehidupan beragama mereka.

Pentahapan Revolusi.

Deklarasi Imam Husain untuk melawan rezim Bani Umayyah tidak diragukan lagi. Selama perjalanan ke Karbala, ia tidak pernah berhenti mengajak orang untuk berjuang untuk menuntut citacita keadilan Islam, dan untuk berperang melawan penyimpangan perilaku. Dalam sambutannya di Karbala, dia mengutip ucapan Nabi (saww) yang mengatakan :

“Barangsiapa yang melihat penguasa kejam, melanggar hukum Allah, melanggar hukum-Nya, bertindak menyalahi sunah Nabi, kemudian dia tidak mencoba untuk mengubah penguasa itu dengan tindakan atau lisannya, maka Allah berjanji memberikan tempat yang layak di Neraka”

“Kini orang-orang Bani Umayyah telah berjanji setia kepada Iblis dan meninggalkan ketaatan kepada Allah.. Mereka telah menyebar korupsi, menangguhkan penerapan hukum Islam, dan merampas harta kaum muslimin untuk diri mereka sendiri. Mengharamkan yang dihalalkan dan menghalalkan apa yang diharamkan.

“Pidato Imam Husain bertujuan untuk membuka kedok agama rezim Umayyah itu. Beliau memperkenalkan dirinya kepada orangorang dan menyampaikan pesan kepada umat Islam. Kepribadian Imam Husain dan reputasi agamanya tidak perlu dipertanyakan. Maka tak heran kalau beliau membawa tugas besar, sementara orang banyak yang tidak siap untuk menyambutnya.

Suatu keunikan dari revolusi besar ini adalah bahwa Imam Husein as. Adalah pemimpin yang telah memprediksi kematiannya sendiri bahkan sebelum menginjakkan kaki untuk melangkah. Namun beliau terus melaksanakan segala persiapan yang diperlukan dan berkampanye. Diantara pernyataan Imam Husain kepada orangorang di Mekah adalah:
“…Sebaik-baik hal bagiku adalah kematian yang akan kualami Wahai manusia, aku melihat seolah-olah tubuhku akan dicabikcabik oleh serigala buas diantara Al-Nawasis dan Karbala. Lalu mereka mengisi kantong-kantong mereka yang kosong. Tidak ada lagi tempat pelarian dari kejaran takdir…”

Imam Husain dan para sahabatnya yang mulia berjuang dengan keberanian yang tiada banding. Pasukan beliau hanya tujuh puluh berjuang melawan ribuan orang dari tentara Yazid dengan pertempuran yang tidak seimbang. Tentara Umayyah menggunakan metode yang paling kejam dan tercela dalam memerangi kafilah kecil ini. Tentara Yazid telah mencegah kafilah ini dari air minum selama tiga hari, dan menyiksanya dalam panasnya padang pasir. Namun keteguhan iman Imam Husain as. dan pengikutnya tidak goyah dalam perjuangannya. Imam telah menyalakan api yang selalu bersinar dengan jihad melawan penyimpangan Islam dan menghancurkan mitos tentang kewajiban kesetiaan kepada rezim Umayyah yang menyimpang.

Hasil Revolusi Imam Husein as.

Apa maksud hasil revolusi Imam Husain? Banyak orang yang tidak paham dengan motivasi kebangkitan Imam Husein, dengan polosnya bertanya tentang hasil revolusi Imam Husein. Bahkan mempertanyakan keputusan Imam untuk melawan rezim Umayah yang dianggapnya sia-sia dan fatal.

Meskipun motif revolusi sudah dibahas, tapi disini kita dapat melihat secara singkat tentang perubahan yang terjadi di dunia Islam akibat revolusi Imam Husain sesuai pada tahapan ini :

Pembunuhan Imam Husain as. cucu Nabi adalah skandal besar bagi seluruh dunia Islam. Apalagi cara pembunuhan dan perlakuan yang diberikan kepada keluarganya yang memiliki derajat mulia. Akibatnya, mayoritas kaum muslimin berlepas diri dari perbuatan dan kebijakan rezim Umayyah. Dengan demikian, revolusi ini telah menjalankan tugas untuk mengungkap karakter rezim Umayyah yang jauh dari tuntunan Islam kepada masyarakat umum dan kini kaum muslimin tidak meragukan lagi tentang hakekat rezim Umayyah itu. Sebab program rezim Umayyah dalam rangka mendistorsi cita-cita Islam tidak mendapatkan animo lagi.

Revolusi Imam Husain telah membuka jalan untuk tugas umat Islam kedepan. Penderitaan panjang umat Islam berubah menjadi pertobatan massal dan kemudian ke pemberontakan terbuka terhadap rezim Bani Umayah itu. Dengan demikian, revolusi Imam Husein telah memberikan stimulan untuk memindahkan semangat dan mengaturnya dalam gerakan yang dinamis. Kemudian gelombang gerakan Islam terjadi sepanjang sisa sejarah Islam. Serangkaian revolusi terealisasi berkat semangat revolusioner Imam Husain dan reformasi muncul pada interval waktu yang berurutan.

Dalam kesempatan ini kami menutup pembahasan ini dengan mengutip pandangan Syahid Murtadha Muthahari tentang keberhasilan yang dicapai dari kebangkitan Imam Husein ; “Akan tetapi, syahadah Imam Husain meniupkan hawa segar pada dunia Islam, mewujudkan perkembangan dahsyat dalam Islam. Dampak sosial ini karena Imam Husain as telah membangkitkan roh muslimin melalui gerakan kesyahidan. Beliau telah menghidupkan tradisi syahadah di tengah masyarakat Islam, dan mengurangi perbudakan yang mendominasi sejak akhir priode kepemimpinan Utsman dan memuncak pada zaman Muawiyah serta anaknya. Beliau telah merubah perasaan takut menjadi berani. Singkatnya, bahwa beliau telah menganugerahkan identitas Islam pada masyarakat muslim.”.

Sebagai penutup dapat disimpulkan bahwa tugas utama dan misi Imam Husein as. adalah untuk membangkitkan umat dan untuk membuat mereka menyadari bahwa kesialan sedang menunggu mereka jika tidak memiliki kepedulian atas nasib umat Islam. Misinya bukan hanya sekedar untuk mereformasi pemerintahan rezim despotis Umayah. Akan tetapi Imam Husain, bersama dengan nenek moyangnya membawa misi yang unik namun universal, yaitu: untuk melawan kebodohan dan menyelamatkan orang-orang agar tidak tersesat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s