Nabi Muhammad Manusia Sempurna

Nabi Muhammad Manusia Sempurna

 

 

 

Diterjemahkan dari :
The Introduction to Infallibles
Prophet of Muhammad
Karya : Sayyid Mahdî Ayatullâhî
Terbitan : Ansyariyan Publication
Islâmic Republic of Iran
Penerjemah : A. Kamil 
Penyunting : Abu ‘Ali
Diperbanyak oleh : Yayasan Putra Ka’bah
Qum Al-Muqaddas
Jumadi Tsani 1424

       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Muhammad bin ‘Abdullâh

 

Adik-adik dan remaja tercinta

Adik-adik, dalam kehidupan dunia ini, kita memerlukan teladan dari yang berakhlak agung dan mulia, sehingga dengan keteladanan dari mereka, kita dapat meniru akhlak luhur mereka. Para pemimpin agama dan para Imâm Ahlul Bait 
As adalah contoh dan teladan bagi kita semua. Oleh karena itu, kami telah membuat penelitian perihal kehidupan mereka, dengan maksud untuk memperkenalkan kepada adik-adik akan kehidupan mereka. Dan semaksimal mungkin kami telah menyusun buku-buku ihwal kehidupan mereka dengan bahasa sederhana sehingga dapat dipahami dengan mudah. 
Kumpulan kisah manusia-manusia suci ini disusun seringkas mungkin dengan tidak melupakan keabsahan kisah-kisah teladan Imâm Ahlul Bait itu.
Para ahli sejarah Islâm telah mengkajinya secara serius dan mereka mendukung adanya penyusunan buku ini. 
Kami berharap, adik-adik sekalian sudi mengkajinya secara serius pula. Hasil dari pelajaran ini, kami meminta kepada adik-adik untuk dapat menyampaikan kesan dan pandangannya.
Kami sangat berterima kasih atas perhatian adik-adik. Dan semoga adik-adik mau bersabar menantikan edisi-edisi selanjutnya.

Suku Quraisy

Suku Quraisy dipandang sebagai salah satu suku yang dihormati dan disegani di antara suku-suku yang ada di tanah Hijaz Arabiah. Dia terbagi dalam berbagai kelompok. Bani Hasyim adalah salah satu suku terhormat di antara suku-suku yang ada. Qusyai bin Kilab adalah nenek moyang yang bertugas sebagai penjaga Ka’bah.
Hasyim dianggap sebagai orang yang mulia, bijaksana dan terhormat di antara penduduk Makkah. Ia banyak membantu penduduk Makkah dan memulai perniagaan pada Musim dingin dan Musim panas supaya mereka mendapatkan penghidupan yang layak. Atas jasa-jasanya, penduduk memberinya julukan sayyid. Selanjutnya julukan itu turun-temurun sampai pada anak keturunan Hasyim. Anak keturunan Hasyim yang mengikuti sebagai penjaga ka’bah adalah Muthalib dan Abdul Muthalib. Mereka juga sebagai penjaga dan pengawal suku Quraisy. Pada masa Abdul Muthalib pasukan Abrahah datang menyerbu Ka’bah, namun berkat pertolongan Allah Swt, pasukan Abrahah mengalami kekalahan. Nama Abdul Muthalib semakin tersohor di kalangan penduduk Makkah. Abdul Muthalib sangat mencintai anaknya Abdullah. Abdullah menikah dengan perempuan baik-baik bernama Aminah pada usia 24 tahun.
Dua bulan setelah peristiwa gajah, Aminah melahirkan. Anak itu diberi nama Muhammad. Sebelum kelahiran Muhammad, ayahnya Abdullah meninggal dunia. Tak lama kemudian setelah melahirkan Muhammad, ibundanya pun menyusul suaminya kembali ke alam baka. Pada masa awal kelahiran Muhammad, beliau sudah menjadi yatim. Sesudah ditinggalkan oleh kedua orang tua yang dicintainya, Muhammad diasuh oleh kakeknya Abdul Muthalib. Berkat anugerah dan rahmat dari Allah Swt, Muhammad putra Abdullah tumbuh menjadi dewasa dengan kesucian jiwa yang terpelihara. Penduduk kota Makkah mencintai dan merelakan barang-barang mereka di bawah pengawasan Muhammad. Atas kejujuran dan sifat amanah yang ditunjukkannya, mereka memberinya gelar ” al-Amin ” yakni orang yang dapat dipercaya. 
Dengan bekal iman yang teguh, Muhammad membantu orang-orang fakir, membela orang-orang yang tertindas, membawakan makanannya pada mereka yang yang lapar, mendengarkan keluhan-keluhan mereka dan membantu memberikan jalan keluar atas permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi. 
Ketika beberapa orang pemuda mendirikan sebuah perhimpunan yang dikenal sebagai ” Perjanjian Pemuda ” (Hiftul Fudhul), Muhammad mengulurkan tangan untuk membantu mereka dan mendorong mereka untuk memberikan pertolongan kepada orang-orang yang menjadi korban penindasan dan mengangkat senjata untuk memulai perang suci melawan para penindas dan penguasa zalim. 
Pada suatu waktu, Abu Thalib, paman Muhammad, menasehatinya untuk bergabung dengan kafilah dagang kepunyaan khadijah. Dan karena kejujuran dan kelurusannya dalam mengemban amanat yang diberikan kepadanya, kemudian Muhammad ditunjuk sebagai pemimpin kafilah dagang tersebut.
Selang beberapa lama kemudian, Khadijah terpesona akan amal kebajikan pemuda Muhammad dan berhasrat meminangnya untuk dijadikan suami, Muhammad menerima lamaran itu. Setelah menikah, Khadijah menyerahkan seluruh hartanya untuk dipergunakan Muhammad.
Setelah perkawinan yang bahagia itu, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang diberi nama Fatimah, yang anak keturunannya kelak menjadi manusia-manusia suci.

Kecerdasan Muhammad

Sepuluh tahun sesudah perkawinannya, banjir besar melanda kota Makkah yang menghancurkan dan menjarah bangunan Ka’bah. Bangunan yang hancur itu ingin direnovasi oleh penduduk kota Makkah. Untuk mencegah perseturuan yang bakal terjadi, pembangunan kembali bangunan Ka’bah dilakukan oleh berbagai suku yang ada. Namun ketika pembangunan telah selesai dan tiba waktunya untuk meletakkan Hajar Aswad, semua suku menyatakan berhak untuk meletakkan batu itu. 
Perang hampir saja berkecamuk. Muhammad kemudian muncul memberi usulan, bahwa Hajar Aswad sebaiknya diletakkan pada selembar kain dan seluruh wakil dari suku-suku itu meletakkan tangan mereka dan membawanya bersama-sama pada tempat yang sesuai.

Masa permulaan risalah kenabian

Memasuki usia 40 tahun Muhammad dilantik sebagai nabi. Suatu hari, ketika beliau sedang melakukan ibadah di Gua Hira, muncul Malaikat Jibril As membawakan wahyu dari Tuhan. Muhammad terpilih untuk mengemban risalah kenabian sebagai Rasulullah Saw. 
Setelah wahyu itu turun, Muhammad, Rasulullah Saw beristirahat di rumahnya. Sekali lagi, Malaikat Jibril As turun ke bumi untuk menyampaikan wahyu dari Allah Swt yang memerintahkan Rasulullah Saw supaya memulai melakukan dakwah kepada khalayak. 
Pada masa awal, Rasulullah Saw berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Pada saat itu, hanya beberapa orang saja yang mau menerima Islam. Orang pertama yang mengakui kenabian Muhammad Rasulullah Saw adalah istri beliau Khadijah kemudian sepupunya Ali bin Abi thalib. Dalam masa dakwah sembunyi-sembunyi, Rasulullah Saw melakukan persiapan-persiapan dengan menciptakan iklim dakwah yang sehat agar masyarakat siap menerima Islam.
Masa persiapan ini berlangsung selama 3 tahun. Setelah itu, Allah Swt memerintahkan Rasulullah Saw untuk melakukan dakwah secara terang-terangan, mengajak manusia menyembah Tuhan Yang Esa dan memulai perang suci melawan para penyembah berhala. 
Tugas dakwah merupakan tugas yang penuh risiko dan bahaya. Sebab para pemimpin suku telah sekian lama menikmati kenikmatan berupa kerajaan, monarki dan menjadikan orang-orang sebagai budaknya. Mereka khawatir bahwa dakwah Rasulullah Saw akan merongrong kekuasaan mereka. Selain itu, tugas dakwah akan menjumpai kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaannya, karena berhala-berhala itu telah lama dijadikan sesembahan oleh mereka.
Rasulullah Saw tidak mengenal toleransi. Ia memilih untuk memikul tugas ini untuk peng-Esa-an Tuhan dan penegakan undang-undang Tauhid di muka bumi.
Masyarakat yang sebelumnya menghormati dan santun terhadap Nabi Saw, kini berbalik membenci dan memusuhi dakwah Rasulullah Saw dengan harta. Namun usaha mereka gagal. Mereka memulai dengan mencibir, menyiksa dan menjarah harta-harta milik Nabi Saw. Namun usaha mereka tidak berhasil untuk menghentikan laju dakwah Rasulullah Saw.
Kaum kafir Makkah tidak pernah lelah untuk mengubah pendirian Rasulullah Saw. Mereka meningkatkan kebrutalan, kekejamannya dan mengusir Rasulullah Saw beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya keluar dari kota suci Makkah. Mereka berharap Nabi Saw mau merubah pendiriannya. Melihat sikap tidak bersahabat kaum quraisy itu, Nabi saw beserta pengikutnya terpaksa bermukim di ladang kepunyaan Abu Thalib selama tiga tahun. Tindakan ini Rasulullah Saw lakukan untuk menghindari perlakuan keji penyembah berhala itu. Tetapi penyembah berhala itu tidak puas hanya dengan mengusir Rasulullah Saw. Mereka bahkan mengepung ladang itu sehingga makanan dan minuman tidak dapat dimiliki oleh Nabi beserta pengikutnya yang setia. Beberapa penduduk yang ikut Nabi mempertaruhkan hidupnya untuk mendapatkan makanan dari kota pada kegelapan malam. 
Waktu berlalu begitu cepat. Kaum kafir menyerah pada tekad dan kegigihan yang ditunjukkan oleh kaum Muslimin. Mereka memutuskan untuk membunuh Rasulullah Saw. Mereka memilih pemuda-pemuda terkuat dari kalangan keluarga dan suku mereka dengan memberikan upah yang tinggi kepada siapa yang berhasil membunuh Nabi Saw. Mereka menetapkan untuk menyerang kediaman Nabi pada malam hari. 

Hijrah ke Madinah

Rencana keji itu diketahui oleh Rasulullah Saw melalui wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril As. Nabi Saw memilih saudaranya Ali untuk menggantikannya tidur di atas ranjang dengan mempertaruhkan hidupnya demi keselamatan Nabi Saw. Beliau hijrah dari Makkah ke Madinah dalam kegelapan malam. Kaum Musyrikin telah berkumpul untuk membunuh Nabi Saw. Betapa terkejutnya mereka tatkala mendapati Ali di atas ranjang Rasulullah Saw. Mereka segera mengejar Rasulullah Saw. Namun pengejaran itu gagal sehingga mereka pulang ke Makkah dengan tangan hampa.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Nabi Saw tiba di Quba, sebuah tempat di dekat kota Madinah. Penduduk desa menyambut kedatangan Nabi Saw dengan suka cita. Nabi Saw berencana membangun tempat salat dan menyusun tugas-tugas dakwah. 
Pembangunan masjid Quba berjalan lancar. Nabi Saw turut mengulurkan tangan dalam menyelesaikan pembangunannya. Sesudah pembangunan masjid itu selesai, Nabi Saw melakukan salat Jum’at dan bertindak sebagai khatib. Salat Jum’at yang baru pertama kali ini dilaksanakan, diisi dengan ceramah singkat. Rasulullah Saw melakukan hal ini karena menantikan kedatangan Ali dari kota Makkah, juga bergabungnya para wanita keturunan Bani Hasyim, sehingga dapat bersama-sama memasuki kota Madinah. 
Setelah kepergian Nabi Saw, Ali masih tinggal selama tiga hari di Makkah. Sebelum pergi, Ali menyerahkan amanah milik kaum Muslimin yang masih berada di Makkah. Beliau pergi bersama dengan para wanita keturunan Bani Hasyim pada malam hari, agar dapat bergabung dengan rombongan Rasulullah Saw di Quba.
Rasulullah Saw, Ali dan para wanita memasuki kota Madinah dengan sambutan hangat penduduk kota yang menantikan mereka. Setiap penduduk berlomba meminta Rasulullah Saw untuk bertandang ke rumah mereka. Tapi Rasulullah saw berkata: ” Berilah jalan pada untaku ini. Aku akan menjadi tamu orang yang di depan pintunya unta ini berhenti. “
Sang unta berjalan hingga melintasi jalan-jalan kota Madinah hingga ia menghentikan langkahnya di depan pintu Abu Ayyub al Anshari. Di sanalah Rasulullah Saw di jamu. 
Sesampainya di Madinah, Rasulullah Saw memerintahkan pembangunan masjid sebagai sarana dakwah dan pengajaran. Nabi juga segera menyerukan perdamaian antara suku Aus dan Khazraj yang telah berperang selama bertahun-tahun akibat hasutan yang dilancarkan oleh orang-orang Yahudi.
Rasulullah Saw menciptakan suasana persaudaraan antara Muhajirin (orang yang hijrah) dengan Anshar (para penolong), sehingga kaum Muhajirin tidak menjadi beban dikemudian hari dan mereka dapat hidup dengan rukun dan damai. Orang-orang Yahudi Madinah memandang perbuatan ini sebagai suatu ancaman bagi usaha perekonomian mereka. Mereka memutuskan hubungan dengan kaum Muslimin. Mereka menghendaki perpecahan di kalangan kaum Muslimin serta membinasakan mereka. Rasulullah Saw menyadari sepenuhnya kegiatan-kegiatan kaum Yahudi. Beliau bertekad menghapus dan menghadapi persekongkolan licik itu. 

Perubahan Arah Kiblat

Pada awalnya, Rasulullah Saw salat ke arah Masjid al-Aqsa di Yerusalem. 13 tahun di Makah dan 1 tahun 5 bulan di Madinah. Kaum Yahudi menyatakan keberatan dan berkata dengan congkaknya, ” Jika kami dalam kesesatan, lalu mengapa kalian melakukan salat mengarah pada kiblat kami. “
Atas peristiwa itu, Malaikat Jibril turun ke bumi membawa wahyu ketika Rasulullah Saw sedang khusyuk mengerjakan salat. Malaikat Jibril As berkata : ” Allah Swt telah memerintahkan engkau untuk menghadapkan wajahmu ke arah Ka’bah. ” Sejak saat itu Ka’bah menjadi kiblat bagi kaum Muslimin. Kaum Yahudi berpikir buruk tentang perubahan itu dan menyatakan keberatan serta bertanya, ” Jika Ka’bah arah kiblatmu, lalu mengapa engkau melakukan salat menghadap ke Masjid al-Aqsa (Yerusalem) ?”
Kaum Yahudi itu tidak menyadari bahwa perubahan arah kiblat adalah untuk membedakan siapa kawan dan siapa lawan Islam, sehingga dapat dikenali siapa yang mentaati dengan siapa yang menentang Rasulullah Saw.

Peperangan yang diikuti Rasulullah Saw

 

1. Perang Badar

Sebelum mengumpulkan pasukan dan tentara Islam, Rasulullah Saw menandatangani perjanjian gencatan senjata dengan suku-suku yang berdiam di sekitar kota Madinah. Penandatanganan ini dimaksudkan untuk menciptakan perdamaian dengan suku-suku itu. Pada saat yang sama, Rasulullah Saw memutuskan untuk menyerang kafilah-kafilah pedagang besar kafir Quraisy yang melintasi kota Madinah menuju Syria. Orang kafir Quraisy bertanggung jawab atas penjarahan harta dan rumah kaum Muslimin. 
Peperangan ini dikenal sebagai perang Badar karena terjadi di suatu tempat dekat sumur Badar. Rasulullah Saw memutuskan untuk bertempur melawan bangsa Quraisy itu setelah menimbang dan memusyawarahkan langkah-langkah yang seharusnya ditempuh, berdasarkan keterangan-keterangan tentang posisi musuh. Akhirnya pasukan Islam berhasil memenangkan pertempuran itu.

2. Perang Uhud

Kemenangan kaum Muslimin pada perang Badar membuat kaum kafir itu sakit hati dan geram. Pada puncak kegeraman mereka, Abu Sufyan mengumumkan bahwa tidak ada satu orang pun yang boleh memberitahukan tentang saudara dan kerabat mereka yang tewas dalam pertempuran Badar.
Pada sisi lain, kaum Yahudi menjadi ketakutan dan khawatir akan kegemilangan kaum Muslimin. Salah seorang Yahudi bernama Ka’ab bin Asyraf bertolak ke Makkah. Setibanya di sana ia membacakan syair-syair yang menghasut emosi kaum Quraisy sehingga mereka menangisi orang-orang yang tewas dalam pertempuran Badar. Ia menghasut kaum kafir Quraisy untuk membalas kekalahan ini.
Hasilnya, kaum Quraisy mengadakan pertemuan di Darun Nadwah untuk menghitung-hitung biaya yang akan dikeluarkan pada pertempuran mendatang. Biayanya ditaksir 50.000 dinar emas. Sejak itu, mereka mulai mengumpulkan senjata dan meminta bantuan dari suku-suku yang berdiam di sekitar Makkah. 
3000 orang kafir Quraisy bersenjata lengkap bertolak ke Madinah. Abu Sufyan menjadi komandan perang dan Khalid bin Walid memimpin pasukan infantri. Mereka mendirikan kemah-kemah untuk istirahat di suatu dekat gunung Uhud. Abbas bin Abdul Muthalib yang merahasiakan kislamannya mengirimkan kurir untuk menyampaikan pesan ihwal rencana penyerangan itu.
Setelah menerima pesan dari pamannya, Rasulullah Saw segera mengadakan musyawarah yang menyepakati untuk menyambut lawan di luar kota.
7 Syawal tahun ke-3 Hijriah, pasukan kaum Muslimin bergerak meninggalkan kota sehabis menunaikan salat Subuh. Atas perintah Rasulullah Saw, mereka mendirikan tenda-tenda tidak jauh dari kemah musuh. Rasulullah Saw menempatkan Abdullah bin Jabir bersama 50 orang lainnya yang dibekali dengan busur dan anak panah untuk berada di atas bukit. Penempatan di atas bukit itu adalah strategi jitu Rasulullah Saw. Beliau memerintahkan mereka untuk tidak beranjak dari puncak bukit itu betapapun resiko yang akan menghadang, apakah menang atau kalah dalam peperangan itu. Setelah itu, pasukan yang membawa bendera Tauhid dan pasukan yang mengusung bendera Syirik berhadapan satu sama lainnya. Pertempuran itu dimulai oleh Abu Amir dari bangsa Quraisy.
Pada awal-awal pertempuran, tentara Islam bertarung dengan gagah berani dan membuat tentara kafir mundur ke belakang. Namun kemudian, keadaan berbalik. Pasukan panah meninggalkan bukit karena iming-iming harta rampasan yang ditinggalkan pasukan Kafir. Mereka menyangka perang telah berakhir dengan kemenangan dipihak Islam. Sehingga mereka turun dari bukit dan berlomba untuk mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang).
Khalid bin Walid memanfaatkan kelengahan kaum Muslimin. Ia dan pasukan infantrinya berbalik mengitari dan menduduki bukit kemudian menyerang kaum Muslimin yang sedang sibuk menjarah harta rampasan perang itu dari arah belakang. Banyak pasukan Islam tewas karena keserakahan dan ketidaktaatan kepada Rasulullah Saw.
Selain itu, ada sekitar 70 anggota pasukan kaum Muslimin syahid dan selebihnya ada yang melarikan diri dari medan pertempuran. Perang berakhir dengan kemenangan berada dipihak musuh. Rasulullah Saw dapat diselamatkan berkat sikap keperwiraan Ali bin Abi Thalib serta bantuan pasukan kaum Muslimin lainnya. Ali beserta pasukan Muslimin lainnya berhasil mengejar dan membunuh beberapa tentara musuh. Dengan kegigihan mereka, kota Madinah selamat dari gangguan kaum kafir itu.

3. Perang Khandaq

Orang-orang Yahudi yang terusir dari Madinah, tidak tinggal diam dan tenang-tenang saja melihat keadaan kaum Muslimin. Mereka diusir karena persekongkolan dengan musuh-musuh Islam dan kecurangan mereka terhadap kaum Muslimin. Pemimpin mereka melakukan pendekatan pada pemimpin-pemimpin Quraisy di Makkah dan melakukan penghasutan untuk mengadakan perlawanan terhadap kaum Muslimin. Pemimpin Yahudi itu berjanji untuk menolong suku Quraisy dengan segala kekuatan yang ada.
Sebagai hasil dari pendekatan ini, berbagai kelompok dan suku bersekutu untuk mengangkat senjata malawan Islam. Oleh karena itu, peperangan ini dikenal sebagai perang Ahzab perang gabungan beberapa kelompok melawan Islam.
Pasukan bersenjata mereka terdiri dari kaum kafir Quraisy, kaum Yahudi, orang-orang munafik dan pengkhianat dari Madinah. Mereka bersekutu untuk bahu-membahu menentang Islam. 
Pada bulan Syawal tahun ke-5 Hijriah, sebanyak 10.000 pasukan sekutu itu berangkat menuju Madinah. Panglima perang pasukan sekutu itu dikomandani oleh Abu Sufyan. 
Beberapa pasukan berkuda dari suku Khuza’i memasuki kota Madinah dan melaporkan keadaaan kepada panglima besar kaum Muslimin Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw memerintahkan pasukannya untuk bersiaga dan para komandan diminta untuk berkumpul memusyawarahkan segala sesuatu yang dianggap perlu. 
Dalam musyawarah itu, sahabat utama Rasulullah Saw, Salman al-Farisi, mengusulkan untuk menggali parit disekeliling kota Madinah dan kaum Muslim berlindung dibalik galian parit itu. Akhirnya usulan itu di terima dan sebanyak 3.000 sukarelawan Islam bekerja siang dan malam untuk menggali parit dalam 5 meter, lebar 6 meter dan sepanjang 12.000 meter.
Beberapa jalur dan jembatan dibuat di atas parit dan beberapa penjaga ditugasi untuk mengawasi kedatangan pasukan musuh. Dibalik parit dibangun beberapa bunker yang di atasnya dijaga oleh pasukan berpanah.
Pasukan kaum Musyrikin tiba. Mereka melihat galian parit mengelilingi kota yang membuat mereka mustahil untuk melintasi dan menyerang orang-orang di balik parit.
Abu Sufyan segera memanggil Hayyi bin Ahthab, pemimpin yahudi dari Bani Nadhir dan memintanya untuk menemui Ka’ab bin Asad, pemimpin Yahudi dari Bani Quraizhah yang bermukim di Madinah. Ka’ab bin Asad diseru untuk melapangkan jalan orang-orang Yahudi. Muslihat seperti ini dimaksudkan untuk melapangkan jalan orang-orang Musyrikin itu menyerang kaum Muslimin.
Cara licik Abu Sufyan ini telah diketahui sebelumnya. Rasulullah Saw telah mengambil langkah-langkah pencegahan dengan menugaskan 500 laskar untuk berpatroli di sekeliling kota. Laskar itu ditugasi untuk memelihara kota dalam keadaan tetap siaga dan waspada. Mereka mewaspadai orang-orang yang datang dan pergi dari kota. Dengan langkah pencegahan ini, persekongkolan dengan pihak musuh dapat diatasi.
Ancaman bahaya serangan dari dalam kota berhasil dicegah dan pasukan sekutu itu tetap pada posisi mereka di seberang parit. Mereka tidak berhasil untuk mengecoh kaum Muslimin.
Sehingga sampailah pada suatu hari, lima orang gagah berani dari pihak Muslimin melintasi parit. Kelima orang gagah berani itu dipimpin oleh Amr bin Wud berteriak lantang: “Wahai orang-orang yang mengaku penduduk Surga di mana kalian semua? Majulah, sehingga aku dapat mengirim kalian ke Surga. Tidak satu pun orang yang menjawab tantangan itu kecuali Ali. Ia bergerak cepat, maju dan mendekati orang itu laksana kilat dan setelah saling adu tantangan, Ali mengacungkan pedangnya dengan sekali tebasan. Setelah menebas kepala orang pongah itu, Ali mengumandangkan takbir ” Allahu Akbar! ” 
Salah satu sahabat Amr bin Wud melarikan diri dan terjatuh ke dalam parit. Ali tidak memberikan kesempatan kepada lawan dan segera menghabisinya. Sedangkan ketiga sahabat Amr bin Wud yang lain berhasil melarikan diri dari kejaran Ali. Peristiwa ini demikian menggugah keimanan dan keberanian umat Islam, sebagaimana yang dikatakan Rasulullah Saw: ” Sekali tebasan pedang Ali jauh lebih berharga dibandingkan shalatnya seluruh manusia dan jin (yang sedang dilakukan dan akan dilakukan).”
Demi menjaga semangat pasukannya, Khalid bin Walid bersama beberapa pasukan berkuda pada hari berikutnya mencoba untuk melewati parit. Namun pasukan Mujahidin terlalu tangguh buat mereka. Melihat pasukan musuh telah kehilangan akal untuk memenangkan pertempuran, panglima besar tentara Islam, Rasulullah Saw menugaskan Naim bin Mas’ud untuk menciptakan kegaduhan dan kekisruhan antara orang-orang Yahudi dari Bani Kuraizhah dengan kaum Musyrikin. Penugasan itu bertujuan agar mereka memutuskan perjanjian yang telah disepakati bersama. 
Rasulullah Saw mengutus Hudzaifah Yamani pergi ke pihak musuh untuk melemahkan hati mereka agar patah semangat juangnya. Hudzaifah ditugaskan untuk memberitahukan bahwa akan datang badai gurun yang berbahaya. Taktik jitu ini berhasil. Pasukan musuh menjadi gaduh. Abu Sufyan meninggalkan medan tempur secara diam-diam dikegelapan malam. Abu Sufyan beserta pasukannya kembali ke Makkah dengan perasaan malu.
Ketika pasukan Muslimin terbangun disubuh hari, mereka menyaksikan lasykar kafir telah pergi meninggalkan medan pertempuran. Ketika Rasulullah Saw mendengarkan berita tentang kaburnya musuh, beliau memerintahkan laskarnya untuk meninggalkan bunker dan kembali ke kota. 

Nasib Bani Kuraizhah

Setelah meraih kemenangan gilang gemilang pada perang Ahzab, Rasulullah Saw membawa pasukannya mendekati benteng pertahanan Bani Kuraizhah. Lasykar Islam membuat mereka menyerah, setelah dikepung sekitar dua puluh lima hari. Orang-orang Bani Kuraizhah itu menyatakan takluk kepada Ali bin Abi Thalib.
Dikarenakan menderita kekalahan, Bani Kuraizhah memohon agar dapat meninggalkan kota Madinah. Akan tetapi, Rasulullah Saw menampiknya sebab jika sampai lolos meninggalkan kota, mereka akan membuat persekongkolan baru dan menciptakan peperangan baru sebagaimana Bani Nasir yang memicu untuk meletuskan perang Khandaq.
Akhirnya, orang-orang Yahudi yang licik itu harus kecewa pada keputusan itu. Sa’ad bin Ubadah menyampaikan maklumat bahwa orang-orang yang berkhianat dan membantu pihak musuh selama pererangan harus dibunuh dan harta kekayaan mereka harus dirampas.

Perjanjian Hudaibiyyah

Derita kekalahan kafir Quraisy dan kegemilangan kaum Muslimin, khususnya penaklukan Thaifah Bani Mustalik sampai menyebabkan mereka masuk agama Islam, telah menggelapkan mata kaum kafir Quraisy.
Pada bulan Dzulqaidah tahun ke-7 Hijriah, Nabi Muhammad Saw beserta 14.000 lasykar Islam bergerak menuju Makkah untuk menuanaikan ibadah haji. 
Kepergian Rasulullah Saw ke tanah suci tidak hanya untuk keperluan ibadah saja, namun juga untuk kepentingan politik. Haji Rasulullah Saw kali ini bertujuan untuk menjadikan status kewarganegaraan kaum Muslimin di semenanjung Arabia menjadi tetap. Dengan demikian, kaum Muslimin berhak untuk bermukim di sepanjang wilayah Arab tanpa harus takut untuk diusir.
Kaum Kafir Quraisy menerima kabar bahwa Rasulullah Saw akan berkunjung ke Baitullah. Mereka bersumpah di hadapan berhala-berhala untuk tidak membiarkan Rasulullah Saw memasuki kota Makah.
Kafir Quraisy mengutus Khalid bin Walid beserta dua ratus pasukan berkuda untuk menghadang Rasulullah Saw bersama pasukannya.
Saat itu, Rasulullah Saw telah sampai di daerah Hudaibiyyah melalui jalan khusus untuk menghindari pertempuran dan peperangan yang mungkin mengintai setiap saat. Setibanya di daerah Hudaibiyyah, langkah awal yang dibuat oleh Rasulullah Saw adalah mengutus salah seorang sahabat untuk mengintai pasukan Quraisy dan meyakinkan mereka, bahwa Rasulullah Saw beserta kaum Muslimin datang hanya untuk menunaikan ibadah haji saja. Sahabat itu diminta untuk meyakinkan para pemimpin Quraisy bahwa kedatangan Rasulullah Saw kali ini tidak untuk berperang. Namun mereka berlaku kurang ajar terhadap utusan Rasulullah Saw itu.
Rasulullah Saw meminta bai’at (sumpah setia) kepada sahabat agar tetap setia dan rela berkorban kepada Rasulullah Saw di bawah pohon. Ketika hal ini diketahui oleh kafir Quraisy, mereka sangat geram dan merasa malu, sehingga diutuslah Suhail sebagai wakil mereka untuk bernegosiasi. 
Kaum Kafir Quraisy tidak menghendaki kaum Muslimin memasuki kota Makkah dan menunaikan ibadah Haji pada tahun ini dan segera pulang ke Madinah. Apabila mereka mau menunaikan Haji pada tahun depan, kaum Muslimin tidak diperbolehkan untuk membawa senjata. Selama masa Haji itu, pihak Quraisylah yang bertanggung jawab atas keselamatan dan keamanan harta dan jiwa kaum Muslimin.
Perjanjian ditandatangani dengan 5 syarat, meskipun beberapa orang Islam kecewa. Kekecewaan itu sebenarnya tidak berdasar. Mereka lalai melihat keuntungan perjanjian itu adalah sebagai pembukaan untuk penaklukan kota Makkah kelak. 
Puncak kekecewaannya, mereka tunjukkan dengan keberatan terhadap keputusan-keputusan Rasulullah Saw. Mereka mengira bahwa penandatanganan perjanjian itu adalah suatu aib yang memalukan bagi umat Islam, khususnya pada syarat yang menyatakan bahwa jika seorang Muslim berasal dari Makkah maka ia akan dipulangkan ke tempat asalnya. Sebaliknya orang-orang yang berasal dari Madinah tidak boleh kembali ke Madinah.
Rasulullah Saw memberikan pengertian dengan jelas agar mereka mau bersabar terhadap keadaan yang ada. 

 

     

 

 

 

 

4. Perang Khaibar

Pada bulan Rabiul Awal tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah Saw beserta 1.600 kaum Muslimin bertolak dari Madinah menuju Khaibar. Lasykar Islam dengan komandan Rasulullah Saw menyerang musuh dengan tiba-tiba dan dengan mudah merebut tanah Raji yang terletak di antara Khaibar dan Ghatfan.
Panglima besar laskar Islam Rasulullah Saw menerapkan strategi militer yang jitu. Sehingga antara orang-orang Yahudi Khaibar dengan orang-orang Arab Ghatfan tidak dapat saling membantu satu sama yang lain.
Laskar Islam mengepung benteng Khaibar pada malam hari. Para Mujahidin, pejuang mulia Islam mengambil posisi di tempat strategis yang tersembunyi di balik tanam-tanaman palem. Dengan mudah mereka menguasai lembah Khaibar. Kemudahan ini berkat keberanian dan ketulusan mereka dalam berkorban. Namun sayang, dua lembah strategis yang menjadi markas kaum Yahudi tidak dapat dikuasai. Kaum Yahudi itu mempertahankan mati-matian markas mereka dengan melontarkan anak panah ke arah pasukan kaum Muslimin.
Rasulullah Saw memerintahkan kaum Muslimin untuk menyerang kubu pertahanan Yahudi itu dan menduduki benteng itu dalam tiga hari. Pada hari pertama, Rasulullah Saw memerintahkan Abu Bakar sebagai komandan tempur, namun tidak berhasil. Pada hari kedua Umar Bin Khatab bertindak sebagai komandan tempur, namun juga tidak berhasil untuk menaklukkan benteng itu. Sa’ad bin Ubadah pada hari ketiga ditugasi untuk menyerang dan menduduki benteng dan pertahanan Yahudi, namun juga gagal.
Melihat kegagalan kaum Muslimin merebut benteng tersebut, Rasulullah Saw bersabda: ” Esok aku akan memberikan bendera Islam ini kepada orang yang kembali hanya bila kubu pertahanan Yahudi itu telah dikuasai. “
Seluruh sahabat menantikan fajar tiba untuk menyaksikan siapa gerangan orang yang beruntung itu. Namun siapakah orang yang akan dapat melakukan itu selain Ali bin Abi Thalib?
Pada pagi harinya, Rasulullah Saw menyerahkan bendera Islam kepada Ali dan menugaskannya untuk menguasai lembah Khaibar. Rasulullah Saw mendo’akan untuk kesuksesan Ali.
Rasulullah Saw melakukan ini untuk menunjukkan kepada sahabat-sahabat yan lain tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib atas sahabat-sahabat yang lain.
Ali menerima tugas ini dengan penuh semangat. Ia bersama pasukannya bergerak mendekati pintu gerbang Khaibar. Pintu gerbang itu dijaga oleh dua orang gagah berani, Haris dan Marhab. Mereka menyerang pasukan Ali dengan garang sehingga dengan kocar-kacir menyelamatkan diri. Sebagai komandan perang, Ali segera menghadang kedua bersaudara itu. Dengan kegagagahan dan keunggulannya, ia mampu menghabisi kedua orang Yahudi itu. Orang-orang Yahudi yang berada di balik benteng menjadi ketakutan dan panik. Mereka cepat-cepat menutup pintu gerbang dan bersembunyi di baliknya. Pasukan Muslimin yang tadinya kocar-kacir melarikan diri, setelah melihat kemenangan Ali, segera kembali dan bersiaga di belakang sang komandan. Ali maju mendekati pintu gerbang itu dan mengangkat pintu itu tinggi-tinggi lalu membantingnya laksana singa yang sedang murka.
Ali menjadikan pintu gerbang sebagai perisai. Beliau melompat ke dalam parit dan menjadikan pintu gerbang itu sebagai jembatan untuk dilalui pasukan kaum Muslimin. Pasukan kaum Muslimin akhirnya berhasil dengan mudah memasuki benteng dan menduduki Khaibar, markas orang-orang Yahudi itu.
Sesungguhnya pintu gerbang itu sangat berat dan hanya mampu dipikul oleh 20 orang. Namun Ali dapat mengangkatnya sendiri dengan bantuan Allah Swt.
Tentang kekuatan yang menakjubkan itu, Ali berkata: ” Aku tidak dapat merobohkan gerbang itu dengan kekuatan manusia biasa. Kekuatan itu atas pertolongan allah Swt dan kekuatan iman yang kumiliki.Tanpanya aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
Akhirnya pasukan Muslimin menguasai seluruh benteng yang ada di sekitar Khaibar dan menaklukkan orang-orang Yahudi. Sisa-sisa orang Yahudi memohon kepada Rasulullah Saw untuk diperbolehkan tinggal. Mereka ingin tetap dapat mengolah tanah tersebut untuk pertanian dan perkebunan. Mereka berjanji akan menyumbangkan setengah dari hasil panen itu kepada kaum Muslimin. Rasulullah Saw mengabulkan permohonan itu.

Tanah Fadak

Berita tentang penaklukan Khaibar terdengar oleh orang-orang Yahudi yang bermukim di Fadak. Mereka menjadi sangat risau dan ketakutan. Orang-orang Fadak itu mengutus wakil mereka untuk bertemu dengan Rasulullah Saw dengan membawa pesan tentang perlunya dibuat suatu perjanjian. Mereka kemudian menyerahkan separuh wilayah fadak kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw menghibahkan tanah tersebut kepada putrinya, Fatimah agar dapat dimanfaatkan untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya dan keperluan orang-orang miskin.
Sesudah perang Khaibar, Rasulullah Saw bertolak menuju Wadiul Qura (lembah Qura) yang menjadi pusat pemukiman Yahudi. Beliau dan pasukan Muslimin mengepung pemukiman itu dan menaklukkannya. Penaklukan itu berlangsung dengan mudah. Rasulullah Saw berjanji untuk mengembalikan tanah Yahudi itu kepada pemiliknya dengan syarat bahwa separuh dari hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum Muslimin. Hal ini berlaku sebagaimana pengembalian tanah di lembah Khaibar, yakni separuh hasil pertanian itu harus diserahkan kepada kaum Muslimin.
Maksud strategis perjanjian ini untuk mengaktifkan sektor ekonomi dan mampu menghasilkan kesejahteraan umat sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dan hartanya jika ada panggilan perang.

5. Perang Mu’tah

Sebelum meletusnya perang Mu’tah, Rasulullah Saw mengutus Harits bin Umair kepada penguasa Suriah dengan maksud mengajaknya pada Islam. Namun pihak penguasa berlaku kurang ajar. Mereka menahan dan membunuh duta Islam itu. Setelah peristiwa ini Rasulullah Saw tetap mengutus 16 duta Islam (da’i) untuk mengajak penguasa Suriah dan rakyatnya kepada Islam. Sayang mereka juga terbunuh. Dari 16 orang da’i itu hanya satu orang yang mampu bertahan hidup.
Da’i yang berhasil lolos itu kembali ke Madinah dan melapor kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw sangat terpukul mendengar hal itu. Pembantaian terhadap para da’i itu membuat Rasulullah Saw mengeluarkan perintah untuk berjihad. Beliau mengirim 3.000 pasukan pada Jumadil Tsani tahun 8 Hijriah.
Sebelum pasukan Muslimin berangkat, Rasulullah Saw memberikan pengarahan kepada lasykar Muslimin: ” Yang akan memimpin pasukan pertama kali adalah Ja’far bin Abi Thalib, jika sesuatu menimpanya, maka tampuk kepemimpinan diserahkan pada Zaid bin Haritsah. Dan jika terjadi sesuatu pada Zaid, maka Abdullah bin Ruwahid yang menjadi pimpinan kalian. Dan jika Abdullah bin Ruwahid juga menjumpai syahidnya, maka pilihlah pemimpin di antara kalian. “
Setelah mendapatkan pengarahan dari penglima besar mereka, berangkatlah pasukan itu di bawah komando Ja’far bin Abi Thalib. Ketika pasukan Muslimin sampai di dekat kota raja, mereka mendapat berita bahwa Raja Romawi telah mengirim 100.000 pasukannya ditambah 100.000 orang Arab untuk mengepung tentara Islam. 

Perang yang Tidak Seimbang

Lasykar musuh yang berjumlah 200.000 pasukan itu berhadapan dengan 3.000 pasukan Muslimin. Setelah berhadap-hadapan, perang pun meletus. Ja’far bin Abu Talib bertempur dengan gagah berani dan berhasil menewaskan banyak lasykar musuh. Namun ketangkasan bertempurnya tidak sebanding dengan jumlah musuh yang jumlahnya begitu banyak. Ia gugur sebagai syuhada. Pucuk pimpinan segera diambil oleh Zaid bin Haritsah. Zaid pun bertempur dengan gagah berani. Namun, ia pun syahid. Setelah gugurnya Zaid, Pasukan Muslimin dipimpin oleh Abdullah bin Ruwahid yang juga berakhir dengan kesyahidannya. 
Dengan gugurnya para pimpinan mereka yang gagah berani itu, kaum Muslimin segera memilih seorang pemimpin dari kalangan mereka sendiri. Khalid bin Walid, yang baru masuk Islam, terpilih sebagai pimpinan kaum Muslimin setelah ditinggalkan oleh para pemimpin mereka. Khalid adalah seorang yang berpengalaman dan ulung dalam peperangan. Selaku komandan tempur, ia berfikir bahwa pertempuran yang sedang berlangsung berjalan tidak seimbang. Apabila terus dilanjutkan, pihak pasukan kaum Muslimin akan banyak menjadi korban. Oleh karena itu, ia menerapkan strategi perang yang jitu. Ia segera menarik pasukannya dari medan pertempuran.
Khalid bin Walid memerintahkan pasukannya untuk mundur pada malam hari. Pada shubuh hari, mereka bergerak maju kembali ke medan pertempuran dari segala penjuru. Dengan demikian, pihak musuh menyangka bahwa telah datang pasukan bantuan dari Madinah.
Dengan taktik perang seperti ini, Khalid berhasil mengecoh musuh dan menciutkan nyali bertempur mereka. Akibatnya, pihak musuh memutuskan untuk menghentikan pertempuran. Melihat musuh telah mundur dan menghentikan peperangan, Khalid beserta pasukannya kembali ke Madinah.
Rasulullah Saw amat berduka tatkala mendengar kesyahidan kerabat dan sahabatnya. Tetapi beliau memberikan penghargaan atas kecerdikan Khalid dalam bertempur.

Penaklukan Kota Makkah

Penarikan mundur pasukan Muslimin dari medan pertempuran Mu’tah telah membuat kafir Quraisy semakin berani dan congkak. Mereka berfikir bahwa pasukan Muslimin telah kehilangan daya dan kekuatan tempur. Oleh karena itu, mereka mengkhianati perjanjian Hudaibiyyah. Dengan bantuan sekutu-sekutunya mereka menyerang dan membunuh banyak kaum Muslimin dari Bani Thaif.
Abu Sufyan tahu betul bahwa kaum Muslimin tidak akan tinggal diam dan mereka segera mengirimkan jawaban atas pengkhianatan ini. Abu Sufyan mengharapkan untuk bertemu dengan Rasulullah Saw di Madinah dan meminta maaf atas tragedi tersebut. Abu Sufyan berharap agar Rasulullah Saw masih mau mengikuti perjanjian Hudaibiyyah. Akan tetapi, Rasulullah Saw menampik harapan itu sehingga Abu Sufyan bertolak ke Makkah dengan kecewa. Rasulullah Saw memerintahkan pasukannya untuk siaga. Sebanyak 10.000 lasykar kaum Muslimin menyatakan siap sedia untuk mengambil bagian dalam peperangan selanjutnya. Rasulullah Saw menugaskan pengawal-pengawal untuk berjaga-jaga di sekeliling kota untuk mencegah jangan sampai ada orang yang meninggalkan kota dan meyebarkan berita kepada kafir Quraisy dalam hal ini. Tetapi seorang pengkhianat keji bernama Hatib membocorkannya kepada kaum Musyrik Makah. Dengan dalih risau akan keselamatan keluarganya, Hatib mengutus seorang kurir wanita untuk menyebarkan berita ini.
Niat busuknya segera diketahui. Surat yang berisi bocoran tentang persiapan kaum Muslimin berhasil disita. Rasulullah Saw memerintahkan seluruh kaum Muslimin untuk melakukan pemboikotan sosial terhadap Hatib si pegkhianat. Sesungguhnya hukuman boikot itu lebih buruk daripada hukuman kematian.
Pada hari ke-10 Ramadhan tahun ke 8 Hijriah, Rasulullah Saw memerintahkan pasukannya dan sebagian kaum Muslimin untuk bergerak cepat. Mereka harus sampai kota Makkah dalam waktu satu minggu. Rasulullah Saw bserta pasukan dan seluruh kaum Muslimin mendirikan tenda di dekat kota Makkah. Rasulullah Saw memberikan komando pada pasukan Muslimin untuk berpencar pada malam hari dan menyalakn api unggun di mana-mana. Pihak musuh berfikir bahwa sebuah pasukan besar telah tiba dari Madinah. Hasil yang diharapkan dari strategi ini adalah musuh terkecoh dengan taktik jitu Rasulullah Saw . Benar, musuh menjadi ketakutan. Mereka menyangka bahwa pasukan dalam jumlah raksasa akan menyerang. Malam harinya, hutan di dekat kota Makkah menjadi terang benderang dengan nyala api unggun di mana-mana, suara riuh dan slogan-slogan kaum Muslimin berkumandang, unta-unta dan kuda-kuda meringkik. Ketika Abu Sufyan beserta sekelompok Quraisy datang menyaksikan hal ini, ia merinding ketakutan. Ia menyampaikan kepada kaumnya bahwa ia tidak pernah menyaksikan pasukan sebesar ini selama hidupnya.
Abu Sufyan datang menjumpai Abbas untuk meminta masukan darinya. Dengan bermaksud untuk berdamai, Abbas bin Abdul Muthalib membawanya datang untuk menemui Rasulullah Saw, sang panglima kaum Muslimin.
Demi kemaslahatan dan kejayaan Islam, Rasulullah Saw mengatakan kepada Abu Sufyan agar dapat meyakinkan penduduk kota Makkah, bahwa siapa saja yang mencari perlindungan hendaknya memasuki rumah Abu Sufyan. Setelah mendengar pandangan Rasulullah Saw, Abu Sufyan bertolak kembali ke Makkah dengan membawa ampunan dari Rasulullah Saw. Ia mengingatkan penduduk kota Makkah bahwa kaum Muslimin akan datang dengan pasukan raksasa. Untuk menghindari pertumpahan darah, maka sebaiknya mereka menyerah dan membiarkan kaum Muslimin memasuki kota Makah. Akhirnya kota Makah dapat diduduki dengan damai tanpa adanya pertumpahan darah.
Sekelompok kaum Muslimin, khususnya para pengungsi yang pernah diperlakukan secara kejam oleh Quraisy, berniat menuntut balas. Namun Rasulullah Saw memberikan maklumat pengampunan kepada mereka yang pernah melakukan kesalahan. Beliau bersabda: ” Hari ini adalah hari pengampunan dan bukan pembalasan dendam. Tidak ada yang memiliki hak untuk memerangi siapapun kecuali membunuh mereka yang terbukti melakukan kesalahan yang tidak di maafkan. “
Lalu Rasulullah Saw menyebutkan orang-orang yang tidak layak untuk mendapatkan pengampunan tersebut. Sesudah rehat sejenak, beliau memasuki Ka’bah dan menyingkirkan berhala-berhala yang ada di sekeliling Ka’bah. Bilal mengumandangkan azan. Bersama sahabat-sahabat, Rasulullah Saw melakukan salat.

6. Perang Hunain

Setelah kejatuhan markas kaum Musyrikin oleh kaum Muslimin, para penyembah berhala itu tetap diperbolehkan tinggal di sekeliling Ka’bah. Mereka merasa malu dan ketakutan yang amat sangat. Oleh karena itu, mereka mengundang kaum mereka untuk berkumpul. Mereka memutuskan bahwa untuk mengalahkan kaum Muslimin, maka hendaknya mereka bersekutu, bersatu menghancurkan pasukan kaum Muslimin itu. Dalam pertemuan itu, diputuskanlah pemimpin Taifa Hawazan sebagai panglima mereka. 
Mendengar berita ihwal pertemuan ini, Rasulullah Saw mengirimkan seorang mata-mata untuk mengintai keadaan musuh dan mencari informasi tentang kesepakatan perang yang ditandatangani oleh suku-suku itu. Utusan itu berhasil mendapatkan informasi dan segera melaporkannya kepada Rasulullah Saw.

Persiapan Menjelang Perang Hunain

Mendapatkan berita tentang rencana penyerangan tersebut, Rasulullah Saw tidak tinggal diam. Panglima besar kaum Muslimin itu segera memerintahkan pasukannya untuk bersiaga dan bergerak menuju lembah Hunain. Para mujahidin itu bergerak pada 5 Syawal tahun 8 Hijriah.
Malik, panglima tentara kafir mengutus tiga orang lasykarnya untuk memata-matai pasukan Muslimin.
Mereka menyaksikan kehebatan pasukan Muslimin dan melaporkan hasil spionasenya itu kepada Malik. Ia berfikir bahwa mereka tidak memiliki daya untuk menghadapi pasukan Muslimin. Ia lalu memerintahkan pasukannya untuk menaiki bukit yang berada di lembah itu, sehingga mereka mendapatkan posisi yang strategis. Dari puncak bukit itu mereka berencana untuk menyerang secara tiba-tiba jika pasukan musuh terlihat.
Pasukan Muslimin tiba di lembah Hunain pada malam Selasa tanggal 10 Syawal. Pasukan Islam beristirahat di tempat itu. Rencananya mereka akan bergerak memasuki lembah Hunain pada Shubuh hari. 
Pihak musuh, yang telah siap sedia, menyambut kedatangan mereka dengan bersembunyi di balik ilalang. Setelah melihat musuh menampakkan diri, mereka lalu menyerang tiba-tiba dari empat penjuru.
Di tengah kegelapan malam, kuda-kuda yang ditunggangi pasukan Muslimin itu membuat kegaduhan. Kegaduhan ini menjadi ramai oleh sekitar 2.000 muallaf. Para muallaf itu melarikan diri dipimpin oleh Khalid bin Walid. Pelarian diri itu telah membuat musuh menjadi tambah semangat untuk mencerai beraikan pasukan Muslimin.
Hanya 10 orang sahabat yang bersiaga di samping Rasulullah Saw. Merekalah yang membela Rasulullah Saw dari ancaman pedang musuh. Rasulullah Saw memerintahkan mereka untuk lari mencari pertolongan. Abbas berteriak dengan suara lantang memanggil sahabat-sahabat yang melarikan diri itu. Musuh yang pada awalnya meraih kemenangan itu, lambat laun menjadi lemah akibat kembalinya pasukan Muslimin yang melarikan diri tadi.
Walhasil, benteng pertahanan musuh dihancurkan. Musuh lari tunggang langgang meninggalkan peralatan tempur mereka. Rasulullah Saw menugaskan beberapa orang sahabat untuk mengejar musuh yang melarikan diri sehingga mereka menjadi tidak berdaya. Maksud pengejaran ini adalah agar tidak tersisa lagi musuh yang bisa melakukan perlawanan militer esok hari nanti. Para sahabat yang mengejar musuh itu berhasil menunaikan tugas mereka. Atas berhasilnya pasukan Muslimin menaklukkan musuh, Rasulullah Saw kemudian membagikan harta rampasan perang kepada kaum Muslimin.

7. Perang Tabuk

Pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriah, Rasulullah Saw menerima laporan bahwa kaum Muslimin yang bermukim di barat daya perbatasan Arabia, mendapat ancaman dari kekaisaran Romawi dan berhajat untuk menyerang wilayah-wilayah Islam. 
Setelah mempersiapkan pasukan, Rasulullah Saw mengumumkan rencananya kepada khalayak ramai. Cara ini berbeda dengan kebijakan-kebijakan yang dibuat sebelumnya. Dahulu, Rasulullah Saw merahasiakan niatnya. Kali ini beliau memberitahukan kepada khalayak secara terbuka. Beliau meminta penduduk untuk memusatkan perhatian pada perang ini dan menghimbau kepada khalayak untuk tidak ragu-ragu dalam memberikan bantuan dan sumbangan kepada lasykar Islam.
Masyarakat mempersembahkan segala sesuatu yang diperlukan oleh pasukan Muslimin. Mereka dengan antusias dan penuh semangat berkorban dengan harta benda mereka untuk digunakan dalam peperanagn.

Perilaku Kaum Munafik

Bersamaan dengan bergeraknya pasukan Muslimin, orang-orang munafik mulai menebarkan racun dengan menciptakan semangat anti perang dan menanamkan Rasulullah Sawa takut dalam diri pasukan Muslimin akan kehebatan pasukan Romawi. Mereka melakukan berbagai cara diantaranya adalah membangun sebuah masjid dengan nama ” Masjid Dirar ” sebagai pusat penyebaran racun propaganda anti perang itu. Mereka berharap agar orang-orang tidak ambil bagian dalam medan jihad itu. Syukurlah, berkat kesigapan dan ketegasan, Rasulullah Saw berhasil menghentikan persekongkolan orang-orang munafik itu.
Atas perintah Rasulullah Saw, rumah tempat berkumpulnya orang-orang Yahudi dan Munafiqin itu dibakar oleh massa. Dengan cara seperti ini, persekongkolan yang mereka buat berhasil ditumpas. 

 

     

 

 

 

 

Persiapan Perang Tabuk

Sebanyak 30.000 pasukan Muslimin siaga dan mendirikan tenda di daerah dekat kota Madinah. Jumlah pasukan ini adalah yang terbesar dari sebelumnya. Rasulullah Saw sendiri yang menjadi panglima pasukan itu. Beliau memeriksa persiapan-persiapan pasukannya. Setelah itu, panglima Muslimin itu berpidato di depan pasukannya.
Beliau menunjuk Ali bin Abi Talib sebagai pemimpin di Madinah selama kepergiannya beserta pasukan kaum Muslimin ke Tabuk. Pasukan Muslimin tiba di padang Tabuk yang panas membara setelah menempuh perjalanan sejauh 600 kilometer. Namun mereka terkejut setibanya di tempat itu. Tidak melihat tanda-tanda pasukan Romawi. Nampaknya pihak musuh telah mengetahui gerakan pasukan Muslimin yang penuh semangat untuk mati syahid. Pemimpin Romawi memutuskan untuk menarik mundur pasukannya dari arah utara.
Pasukan Muslimin berdiam di Tabuk selama 20 hari sebelum kembali ke Madinah. Tanpa pertempuran apa pun.

Persekongkolan Orang Munafik

Sekembalinya dari Tabuk, sekelompok orang munafik memiliki niat jahat kepada Rasulullah Saw. Mereka berhajat untuk menghabisi panglima orang-orang pencinta kebenaran itu. Kaum munafik itu ikut serta dalam perjalanan ke Tabuk hanyalah didorong oleh rasa takut kepada kaum Muslimin lainnya.
Mereka ingin menakut-nakuti unta tunggangan Rasulullah Saw dengan bersembunyi di balik bukit. Bila Rasulullah Saw terjatuh, mereka mudah membunuhnya. Tapi niat keji itu tersingkap dan membuat orang-orang munafik melarikan diri. Pasukan Muslimin ingin segera menghabisi hidup kaum munafik itu, namun Rasulullah Saw meminta mereka untuk membiarkannya. Sekembalinya dari Tabuk, Rasulullah Saw memerintahkan kaum Muslimin untuk menggusur ” Masjid Dhirar “. Perintah ini berasal wahyu Allah Swt. 
Peperangan Tabuk adalah ungkapan dan pameran kekuatan pasukan kaum Muslimin. Seluruh kaum Muslimin mengambil bagian dalam pertempuran kali ini. Melihat kekuatan yang begitu besar, negara-negara tetangga dan orang-orang kafir menjadi enggan untuk terlibat dalam persekongkolan untuk merongrong pemerintahan Islam.

Pengakuan Orang-orang Kafir

Hingga tahun ke-9 Hijriah, orang-orang kafir masih menunaikan ibadah Haji sesuai dengan kebiasaan nenek moyang meeka. Pada tahun yang sama, surat al-Baraah atau al-Taubah diturunkan. Rasulullah Saw mempercayakan kepada Ali untuk membacakan surat itu di hadapan orang-orang kafir Makkah. Beliau memerintahkan Ali untuk menyampaikan: ” Tidak diperbolehkan orang-orang kafir memasuki rumah suci Ka’bah terhitung sejak hari ini. Dan mulai hari ini, tidak diperbolehkan untuk melaksanakan ibadah di sekitar Ka’bah dengan telanjang. “
Sesuai perintah Rasulullah Saw, Ali berangkat menuju Makkah dan membacakan surat al-Baraah yang baru saja diturunkan yang ditujukan kepada orang-orang kafir itu.

Mubahalah (saling mohon kutukan Allah Swt)

Rasulullah Saw mulai mengirimkan surat kepada penguasa-penguasa yang ada di dunia. Beliau mengirimkan surat kepada keuskupan di Najran dan mengajak orang-orang Kristen yang ada di sana untuk memeluk Islam. Bila menolak, mereka diharuskan untuk membaya jiz’ah (pajak) sebagai bentuk dukungan mereka kepada pemerintahan Islam.
Sang uskup telah membaca tentang kedatangan seorang Nabi baru setelah Isa putra Maryam As. Dia juga mengetahui kedatangan Nabi baru melalui kitab suci. Kemudian dia segera mengirimkan utusan ke Madinah untuk mencari tahu kebenaran berita itu. Sesampainya di Madinah, mereka memulai diskusi dengan Rasulullah Saw. Utusan itu tidak merasa jelas dengan penjelasan Rasulullah Saw.
Malaikat Jibril As menyampaikan wahyu dan risalah dari Yang Maha Kuasa kepada Nabi saw. Dalam wahyu tersebut, Nabi dan orang-orang arif Najran diperintahkan untuk pergi ke gurun Najran sambil memohon kepada Allah swt agar mengutuk siapa yang sebenarnya berdusta.
Ketika Mubahalah tiba, Rasulullah Saw hanya membawa empat orang keluarganya dari Ahlul Bayt: Ali, Fatimah, Hasan dan Husain. Sewaktu orang-orang Nasrani itu melihat Nabi Saw beserta rombongan pilihannya, pemimpin Nasrani itu berkata: ” Demi Tuhan saya meyaksikan wajah-wajah mereka yang jika mereka (orang-orang Nasrani) mengutuk Nabi Saw bersama rombongannya, maka gurun sahara itu akan menjadi neraka dan akan meluas ke wilayah Najran. Orang-orang Nasrani akan musnah terbunuh oleh siksaan dan azab ini.
Sebagai hasilnya, mereka menyetujui untuk membayar pajak. Diputuskan bahwa orang-orang Nasrani akan membayar sebanyak 2.000 Hullas (jubah dan 30 busur panah kepada kaum Muslimin).

Haji Perpisahan

Pada 25 Zulhijah tahun ke-10 Hijriah, Nabi Saw mengumumkan akan menunaikan haji tahun itu Beliau berpesan, siapa saja yang mau menyertainya hendaknya mempersiapkan diri.
Berita ini menciptakan semangat dan kegirangan di kalangan kaum Muslimin dan bersama Nabi Saw akan ikut serta ratusan kaum Muslimin. Rasulullah saw menunjuk Abu Dujana sebagai wakil beliau di Madinah. Beliau beserta sahabat-sahabat lainnya bergegas menuju Makah. 
Rasulullah Saw memulai pelaksanaan rukun ibadah Haji di Zulhulaifah dan melantunkan Labaik. Dari Zulhulaifah, Rasulullah Saw bertolak menuju Makkah. 
Setelah sepuluh hari tiba di Makkah, beliau memasuki Masjidil Haram dan melaksanakan rukun-rukun Haji yang lainnya. Hari berikutnya beliau menyampaikan pidato di Mina. Beliau bersabda: ” Kita membutuhkan kemapanan dalam pemerintahan Islam. “

Wasiat Ghadir Khum

Pada hari Kamis, 18 Zulhijah, Nabi Saw tiba di dekat ladang Juhfa. Pada saat itu, malaikat Jibril As menyampaikan wahyu dari Tuhan yang harus beliau sampaikan. Rasulullah Saw mengumpulkan para sahabat dengan mengatakan bahwa beliau akan mengumumkan suatu pesan yang sangat penting.
Ratusan jamaah Haji berhimpun pada pelaksanaan acara pidato Rasulullah Saw. Telinga mereka dipasang baik-baik untuk mendengarkan pesan yang akan disampaikan Rasululllah Saw.
” Segala puji dan puja bagi Allah Yang Maha Kuasa. Hanya pada-Nya kita meminta pertolongan dan keimanan, Dialah tempat tumpuan hajat manusia. Aku (Muhammad Saw) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Dan Muhammad Saw adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai kaum Muslimin, aku (Muhammad) segera meninggalkan kalian semua dan kutinggalkan dua wasiat yang berharga kepada kalian yaitu al-Qur’an dan Ahlul Baytku. Keduanya tidak akan terserak satu sama lain sampai kalian menjumpaiku di telaga Kautsar (pada hari pengadilan). Oleh karena itu, jagalah mereka dan jangan engkau tinggalkan. Jika engkau tinggalkan wasiat ini, maka engkau akan binasa. “
Kemudian beliau menggapai tangan Ali bin Abi Talib dan mengangkatnya seraya bersabda: ” Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka Ali adalah pemimpin kalian sepeninggalku. Ya Allah, cintailah orang-orang yang mencintai Ali dan musuhilah orang-orang yang memusuhi Ali. Tolonglah orang-orang yang menolong Ali dan binasakanlah orang-orang yang membinasakan Ali.

Wafatnya Nabi

Setelah melakukan perjalanan yang melelahkan itu, Rasulullah Saw jatuh sakit. Sekelompok orang memanfaatkan keadaan dan bermunculan nabi-nabi palsu. Setelah Rasulullah Saw mendengar berita ini, beliau memerintahkan untuk membunuh mereka.
Suatu hari dalam keadaan payah, Nabi Saw dengan dibantu oleh Imam Ali berziarah ke kuburan sahabat-sahabatnya yang telah gugur di pekuburan Baqi. Lalu setelah itu, beliau meminta Imam Ali untuk membawanya pulang.
Hari demi hari berlalu, sakit Nabi bertambah serius dan parah hingga insan kamil itu menghembuskan nafasnya yang terakhir di pangkuan Imam Ali. Manusia suci itu telah kembali menghadap kekasihnya pada hari Senin tanggal 28 Safar tahun ke-11 Hijriah. Mangkatnya beliau menyebabkan dunia Islam berkabung dan berduka.

Mutiara Hadits Rasulullah Saw

 

Seburuk-buruk manusia di hadapan Allah Swt adalah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengambil manfaat dari ilmu yang dimikinya.

Semulia-mulia rumah adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak-anak yatim disantuni dengan kasih sayang dan cinta.

Taruhlah rasa hormat kepada manusia dan rendahkanlah diri di hadapannya karena ketawadhuan dan tambahkanlah nilai itu pada manusia.

Orang-orang yang beriman pada Allah Swt, hari akhir dan janji-janji Allah Swt hendaknya menunaikan amanah dan janjinya.

Seorang anak yang memandang orang tuanya dengan kasih sayang adalah sama dengan mengerjakan ibadah kepada Allah Swt.

Sahabat yang berbudi luhur dan mulia adalah jauh lebih berharga dari pada harta benda.

 

Riwayat Hidup Rasulullah Saw

 

Nama : Muhammad Saw
Ayah : Abdullah bin ‘Abdul Muthalib
Ibu : Aminah binti Wahab
T.Tgl.Lahir: Makkah, Sabtu 17 Rabiul Awal
Wafat : Senin, 28 Safar 11 H.
Marqad : Madinah

Jawablah pertanyaan berikut ini dengan singkat :

1. Masuk dalam suku apakah keluarga Bani Hasyim?
2. Peristiwa besar apakah yang terjadi pada masa Abdul Muthalib?
3. Gagasan apakah yang diajukan oleh Muhammad saw untuk mencegah timbulnya pertumpahan darah di antara suku-suku Arab?
4. Di manakah Muhammad dilantik menjadi Nabi, sebutkan kota dan tempatnya!
5. Siapakah yang menawarkan dirinya untuk menjadi menggantikan Nabi Saw di tempat tidur pada malam sebelum hijrah?
6. Langkah-langkah jitu apakah yang diambil oleh Nabi Saw di tempat tidur pada malam sebelum hijrah?
7. Dalam peperangan apakah untuk pertama kalinya kaum Muslimin berperang melawan kaum kafir Quraisy dan siapakah yang menang dalam peperangan tersebut?
8. Mengapa dalam perang Uhud kaum Muslimin menderita kekalahan?
9. Usulan apakah yang diterima Nabi Saw dalam perang Khandaq?
10. Mengapa Nabi Saw tidak memisahkan orang Yahudi Bani Kuraizah dalam peperangan Ahzab?
11. Apakah hasil yang dicapai dengan adanya perjanjian Hudibiyah? 
12. Langkah-langkah militer apakah yang ditempuh oleh Nabi Saw pada perang Khaibar?
13. Prakarsa apakah yang diambil Khalib bin Walid pada perang Mu’tah?
14. Langkah-langkah apakah yang ditempuh oleh Nabi Saw pada saat penaklukankota Makah sehingga tidak terjadi pertumpahan darah?
15. Mengapa para sahabat melarikan diri pada perang Hunain dan mengapa mereka tiba-tiba kembali lagi ke medan pertempuran?
16. Bagaimanakah gerakan-gerakan yang dilakukan oleh kaum Munafikin pada perang Tabuk dan bagaimana pula sikap Nabi Saw ketika itu ?
17. Di manakah Nabi Saw menyampaikan pesan penting kepada para sahabat bahwa pengganti beliau kelak adalah Ali bin Abi Talib dan apa saja yang dikatakan oleh Nabi Saw tentang Ali?
18. Mengapa para pendeta dan orang-orang arif Nasrani tidak mau bermubahalah dengan Nabi pada hari Mubahalah dilangsungkan?
19. Siapakah yang dimaksud dengan Muhajirin dan Anshar?
20. Apakah nama perjanjian dan bai’at yang dilakukan oleh Nabi Saw dengan para sahabat di bawah sebuah pohon dekat kota Makah dan bagaimanakah sikap para sahabat terhadap perjanjian itu?

 

     

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s