Kasih Sayang dalam Perangai Rasulullah Saw

Kasih Sayang dalam Perangai Rasulullah Saw

 

 

 

Oleh: Ayatullah Muhammad Ali Taskhiri

 

“Muhammad Saw adalah hamba dan nabi-Nya, orang pilihan yang dipilih-Nya. Kemuliaannya tak dapat dibandingkan, kepergiannya tak dapat digantikan. Beliau menerangi berbagai negeri setelah sebelumnya berada dalam kesesatan yang gelap dan kejahilan yang merajalela.”

 

Sebelum berbicara panjang lebar tentang aspek yang penting dalam kepribadian Rasulullah Saw ini, sebaiknya saya sebutkan beberapa poin berikut:

Pertama, kasih sayang merupakan bagian penting dari kepribadian manusia dan realitas. Kasih sayang adalah salah satu sifat Islam paling penting yang harus diperhatikan dan diarahkan agar mencapai hasil yang diinginkan.

 

Saat berbicara tentang keselarasan antara unsur-unsur kepribadian manusia, yaitu akal, pikiran, emosi, indra dan perilaku, Imam Ali mengatakan, “Akal adalah imam bagi pikiran, pikiran adalah imam bagi hati, hati adalah imam bagi indera, dan indera adalah imam bagi anggota tubuh lainnya”. Beliau menyebutkan hal ini untuk mengungkapkan secara tepat akar perilaku manusia yang sadar.

 

Islam berupaya mendidik manusia dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

 

1. Menumbuhkan unsur akal instingtif pada manusia kemudian mendorongnya agar merefleksi, merenung, berpikir, mencari bukti, mempertimbangkan dan lain sebagainya.

 

2. Menekankan pendekatan logis dalam proses berpikir seraya menjauhkannya dari berbagai pendekatan kontradiktif yang dapat merusak hasil dan dialog yang damai.

 

3. Menumbuhkan elemen emosional dan memuaskannya dengan kasih yang tulus kepada Allah Swt Sang Kekasih yang paling menarik dan memiliki semua diinginkan oleh jiwa, yakni kesempurnaan absolut, sehingga emosi menjadi sangat mulia.

 

4. Memberikan hukum yang selaras dengan fitrah untuk mengatur perilaku dan memetakan kebahagiaan.

 

5. Menumbuhkan kehendak yang meningkatkan kesadaran dan tahan banting terhadap semua dorongan emosional, sebesar apa pun kobarannya, untuk memastikan bahwa emosi berjalan ke arah yang benar atau malah sebaliknya, dan menjaga kebebasannya dalam mengarahkan tingkah laku. Dengan kebebasan ini, ia akan berhasil mengemban tanggung jawabnya. Saya tidak sependapat dengan orang yang mengambarkan “kehendak” dengan “emosi yang menyala-nyala”. Pandangan itu akan menjerumuskan kita ke dalam paham fatalisme yang tertolak, baik oleh hati nurani maupun syariat. Namun demikian, emosi tetap memiliki peran yang memengaruhi kehendak dan perilaku.

 

Oleh karena itu, Islam menekankan masalah ini dengan berbagai metode, antara lain:

 

1. Metode pengarahan langsung yang memperingatkan agar mewaspadai nafsu yang tak terkendali, apalagi nafsu yang semena-mena. Al-Quran menyatakan, “Sudahkah engkau (Muhammad) melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. al-Furqan [25]: 43).

 

2. Metode tak langsung dengan menggunakan perumpamaan dan cerita yang memuliakan orang-orang yang mampu menguasai motif dan keinginan mereka, yaitu para nabi dan orang-orang saleh.

 

3. Memberikan contoh-contoh praktis dari perilaku Nabi Saw dan para pemimpin yang telah digembleng oleh beliau, yaitu Ahlul Bait yang suci dan para sahabat yang diberkati—semoga Allah meridai mereka.

 

4. Menyeru umat Islam untuk meningkatkan kecintaan mereka hingga level tertinggi, yaitu mencintai Allah, Rasul-Nya, Ahlulbaitnya yang suci, dan para sahabatnya yang ikhlas. Jika itu tercapai, emosi bakal tertata dengan indah dan selaras dengan pemikiran serta kreatif untuk beramal saleh.

 

Kedua, proses pendidikan emosi ini akan berhasil setelah membangun dan memperdalam iman kepada Allah yang memiliki segenap atribut kesempurnaan dan kemuliaan, menghubungkan manusia hingga batas terjauh, dan meningkatkan visinya tentang alam semesta dan kehidupan dengan memperkokoh bangunannya di atas prinsip-prinsip terpenting, yaitu kebenaran, keadilan, kecintaan, dan kasih sayang. Pikiran dan emosi akan tetap hidup dan saling melengkapi dalam suasana ini. Sirah dan Sunah Rasulullah Saw hadir untuk mengukuhkan makna ini dan memberinya manifestasi sensorik yang ideal. Untuk menjelaskan prinsip-prinsip ini, saya mencatat beberapa hal berikut:

 

Pertama, kebenaran adalah rahasia alam semesta. Kita dapat mengambil kesimpulan dari sejumlah pendapat tentang makna kebenaran. Singkatnya, kebenaran adalah sesuatu yang riil atau realistis.

 

Sesuatu yang riil maksudnya ialah ada dalam realitas obyektif atau dunia yang independen dari pencitraan mental. Sedangkan yang dimaksud dengan realistis adalah sesuatu yang sesuai dengan persyaratan realitas eksternal.

 

Aplikasi kebenaran terbaik adalah zat ilahi. Ia begitu jelas bagi fitrah manusia, sehingga keimanan terhadapnya menjadi jelas. Cahaya Allah telah menyelimuti alam semesta sehingga Anda tidak lagi melihat Allah Swt dalam segala hal. Karena itu, Allah adalah kebenaran dan realitas yang tidak terbantahkan.

 

Adapun selain Allah, yaitu makhluk dan syariat-Nya yang disebutkan oleh al-Quran sebagai kebenaran -menurut saya- memperoleh status “kebenaran” karena dua alasan:

 

a. Karena merupakan realitas obyektif seperti yang kita lihat dalam firman Allah Swt, “(yaitu) pada hari (ketika) manusia bangkit.”. Di sini ada penegasan atas hal-hal yang tidak tertangkap oleh indera manusia dan diberi atribut sebagai kebenaran supaya diimani.

 

b. Karena keberadaannya sesuai dengan rencana umum ilahi bagi alam semesta. Setiap bagian yang ada di alam semesta diperlukan untuk keberlangsungan gerakannya. Ia terlibat dalam mencapai tujuan yang diinginkan dari makhluk seperti yang dikehendaki oleh inayah Allah tatkala bermaksud menjadikannya sehingga ia pun ada. Bagian kedua ini mencakup semua hal, baik makhluk alam ataupun hukum-hukum syariat. Allah berfirman, “Yang demikian itu karena Allah telah menurunkan Kitab (Al-Quran) dengan (membawa) kebenaran.” (QS. al-Baqarah [2]: 176). “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar).” (QS. al-An‘am [4]: 73).

 

Kedua, keadilan berlaku di seluruh alam semesta. Perbincangan dan perdebatan di antara sekte-sekte Islam kadang-kadang berujung pada kesimpulan tertentu. Terkadang pembela keadilan tampil sebagai pemenang, tapi di lain waktu keraguan menguat sehingga para penentang keadilan menjadi pemenang. Meskipun demikian, seorang muslim tidak akan meragukan bahwa keadilan -apa pun pengertiannya- dimulai oleh keadilan ilahi dengan konsep umumnya yang diceritakan oleh al-Quran kepada kita, dan mengakhiri aplikasinya dalam setiap atom alam semesta.

 

Dengan demikian, keadilan umum dalam keyakinan seorang muslim adalah potensi lain dan salah satu faktor moral yang kuat, yang terlibat dalam memperbaiki masalah keadilan di alam semesta. Sementara itu, ketidak adilan itu sendiri merupakan salah satu faktor kepunahan dan pemusnahan, terlepas ada atau tidaknya faktor-faktor yang lain.

 

Ketiga, cinta adalah kerangka hubungan antara berbagai bagian alam semesta. Seorang muslim yakin berdasarkan keterangan al-Quran mulia bahwa ada kerangka kasih sayang umum yang meliputi seluruh bagian alam semesta dan berlaku dengan beragam jenisnya. Hubungan antara pencipta dan para makhluk dibingkai oleh cinta. Begitu juga hubungan antara makhluk yang dipersatukan oleh tujuan dan dididik oleh didikan langit, spiritnya adalah cinta. Bahkan, hubungan di antara orang-orang beriman di alam semesta dan antara bagian-bagian alam semesta yang tidak memiliki perasaan manusia, penguatnya adalah saling mencintai.

 

Pembenaran atas cinta ini sangat jelas dalam akidah Islam dan ajaran al-Quran. Jika kita mulai membingkai persahabatan antara manusia dan Tuhannya, kita akan memahami variasi tingkatan hubungan cinta terbaik, dari cinta yang didasarkan kepada kepentingan menurut pandangan manusia, tapi walau bagaimanapun itu adalah cinta yang bergelora, hingga cinta sejati dan penuh kesadaran yang mencerminkan puncak cinta, yaitu cinta para wali yang ikhlas.

 

Islam itu khas. Ia dimulai dengan hal-hal sederhana, seperti menyiapkan cinta yang dibangun atas dasar kepentingan, kemudian meningkatkannya ke level yang menjadikannya bagian dari entitas manusia. Motivasi diri mengendalikan perilakunya dan mengarahkannya untuk memperbaiki masalah kemanusiaan secara umum.

 

Adapun cinta dari Sang Pencipta Yang Maha Mulia, meskipun inspirasi dan imajinasi yang diciptakannya dalam benak orang-orang beriman sama seperti cinta di antara para makhluk, tetapi pada kenyataannya ia merupakan gaya ekspresif untuk mengungkapkan kedekatan kepada belas kasihan Allah dan kompetensi atas rahmat dan keridaan dengan gambaran yang lebih besar daripada sebelumnya.

 

Teks-teks al-Quran menunjukkan cinta orang-orang beriman, antara lain dengan ungkapan al-muhsinin (orang-orang yang berbuat kebajikan), al-tawwabin (orang-orang yang bertaubat), al-mutathahhirin (orang-orang yang disucikan), al-muttaqin (orang-orang yang bertakwa), al-shabirin(orang-orang yang sabar), al-mutawakkilin (orang-orang yang tawakal), al-muqsitin (orang-orang yang berbuat adil), dan orang-orang yang berperang di jalan Allah dalam barisan yang teratur seakan-akan seperti bangunan yang tersusun kokoh. Teks al-Quran menunjukkan cinta kasih antar orang-orang beriman, “Mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin).” (QS. al-Hasyr [59]: 9).

 

Hubungan cinta antara manusia dan alam terjalin ketika manusia merasa bahwa alam ditundukkan untuknya dan yang akan memperbaikinya adalah dirinya, setelah dia diberi wahyu bahwa tangan inayah ilahi telah memberkati rezeki yang ada di bumi.

 

Diriwayatkan bahwa menjelang sampai di Madinah sepulang dari Perang Tabuk Nabi Besar Muhammad Saw bersabda, “Inilah kota Thabah dan ini Gunung Uhud. Ia mencintai kita dan kita pun mencintainya.” Beliau juga bersabda, “Patriotisme adalah bagian dari iman.”

 

Sekarang kita sampai pada bagian indah dari lingkaran-lingkaran cinta. Al-Quran menganggapnya sebagai imbalan dari risalah Islam. Upaya yang dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad Saw dalam melayani umat ini adalah menghubungkan seluruh umat kepada Ahlul Bait, yakni orang-orang yang paling memenuhi syarat untuk memimpin umat menuju pantai keselamatan. Mereka (Ahlul Bait) adalah bahtera keselamatan dan pintu kebebasan bagi seluruh alam. “Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan pun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.‘” (QS. al-Syura [42]: 23). Akhirnya kita sampai pada lingkaran cinta terkecil, yaitu kasih sayang antar pasangan. “Dia menjadikan di antaramu kasih dan sayang.” (QS. al-Rum [30]: 21).

 

Keempat, rahmat. Keberadaan alam ini dihadirkan dengan rahmat. Bagian ini dianggap sebagai bagian paling penting dan menyeluruh yang mencerminkan rahasia akidah Islam. Ada beberapa riwayat yang menerangkan bahwa keseluruhan al-Quran terangkum dalam Surat al-Fatihah dan al-Fatihah terangkum dalam basmalah. Ketika riwayat-riwayat tersebut dianalisis, dapat disimpulkan bahwa surah al-Fatihah adalah ruh al-Quran karena mengandung prinsip-prinsip akidah Islam secara keseluruhan. Al-Quran membingkai segala sesuatu yang dibicarakan dalam konteks akidah. Sementara itu, basmalah merupakan ruh akidah. Berarti akidah adalah awal dari segala sesuatu di alam semesta ini karena rahmat Allah.

 

Inilah fakta yang kita temukan secara konsisten dalam berbagai topik al-Quran, yang mencerminkan manifestasi kesempurnaan dalam zat ilahi, yang menciptakan keyakinan kuat pada diri seorang muslim, bahwa akidah bersumber dari belas kasih. Anugerah-Nya ke dunia adalah belas kasih. Seorang muslim berjalan dalam batas-batas kemurahan ini, yang menghindarkan banyak orang dari sumber-sumber penyimpangan, yang kadang-kadang menimpa tingkah lakunya. Ketika atsar-atsar tentang doa diteliti, kita menemukan berbagai metode pendidikan akidah yang berfokus pada aspek ini.

 

Dalam al-Quran mulia kita menemukan banyak ayat yang menggandengkan sifat keagungan Allah dengan kasih sayang-Nya. Ayat-ayat tersebut dipungkas dengan ungkapan, “Dia Mahaperkasa, Mahapenyayang.”

 

Jadi, kita tahu hukum-hukum dasar yang mengatur alam semesta, yaitu hukum-hukum kebenaran, keadilan, cinta dan kasih sayang. Semuanya berhubungan dengan hati serta menumbuhkan emosi dan perasaan.

 

Islam menampilkan Rasulullah Saw yang mulia sebagai contoh terbaik bagi fakta-fakta ini. Sunah dan sirahnya merasuk ke dalam jiwa. Rasulullah Saw yang mulia adalah manifestasi terbesar bagi makna-makna di atas. Orang-orang yang meneliti sirah dan sunah Rasulullah Saw akan menemukan fakta-fakta berikut dengan sangat jelas, yaitu kebenaran, keadilan, cinta, dan kasih sayang, untuk melengkapi akhlak mulia dan kasih sayang yang dinugerahkan kepada manusia.

 

Alangkah baiknya bila saya kutipkan beberapa petikan dari Nahjul Balaghah terkait deskripsi Imam Ali yang menakjubkan tentang guru, mentor, sekaligus nabinya, yaitu Rasulullah Saw tercinta. Imam Ali mengatakan, “Allah Swt mengutus Muhammad Rasulullah Saw untuk memenuhi janji-Nya dan merampungkan kenabian-Nya. Dia mengambil sumpahnya kepada para nabi, tabiatnya termasyhur, dan kelahirannya mulia.”

 

Imam Ali mengatakan, “Beliau memikulnya atas perintah-Mu, maju kepada kehendak-Mu, tanpa mengendurkan langkah atau kelemahan tekad, mendengarkan wahyu-Mu, memelihara perjanjian-Mu, maju ke depan dalam menyebarkan perintah-perintah-Mu, sampai beliau menyalakan api bagi pencarinya dan menerangi jalan bagi yang meraba-raba dalam gelap. Hati menggapai petunjuk melalui beliau setelah tenggelam dalam fitnah dan dosa.”

 

Imam Ali menggambarkan perangai Rasulullah Saw, “Perilaku beliau lurus, perangai beliau memberi petunjuk, bicara beliau tegas, dan keputusan beliau adil.” Beliau pun mengatakan, “Nabi Saw berusaha dengan optimal dalam memberikan nasihat. Beliau turun ke jalan dan menyerukan kebijaksanaan dan petuah yang baik.”

 

Imam Ali mengatakan, “Lalu Allah mengutus Muhammad Saw sebagai saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Beliau adalah yang terbaik di alam semesta sebagai anak dan yang tersuci sebagai orang dewasa, yang paling suci dari yang disucikan dalam perangainya, yang paling dermawan di antara mereka yang didekati karena kedermawanan.”

 

Pada bagian lain Imam Ali mengatakan, “Kejujuran adalah jalannya, kesalehan adalah menaranya, kematian adalah tujuannya, dunia adalah tempat berpacunya, kiamat adalah lintasannya, dan surga adalah prioritasnya… Allah menjadikan kehidupanmu (Muhammad Saw) sebagai nikmat bagi seluruh alam dan mengutusmu menyampaikan kebenaran dengan kasih sayang.”

 

Imam Ali juga mengatakan, “Nabi Saw ibarat tabib kondang yang telah menyiapkan obat-obatannya dan memanaskan peralatannya. Beliau menggunakannya bilamana diperlukan untuk menyembuhkan hati yang buta, telinga yang tuli, dan lidah yang kelu.”

 

Selanjutnya Imam Ali mengatakan, “Muhammad Saw adalah hamba dan nabi-Nya, orang pilihan yang dipilih-Nya. Kemuliaan Muhammad Saw tak dapat dibandingkan, kepergiannya tak dapat digantikan. Beliau menerangi berbagai negeri setelah sebelumnya berada dalam kesesatan yang gelap dan kejahilan yang merajalela.” “Nabi biasa makan di tanah dan duduk seperti seorang budak. Beliau memperbaiki sepatu beliau dan menambal baju beliau dengan tangan beliau. Beliau menunggang keledai tanpa pelana dan biasa mendudukkan seseorang lain di belakang beliau.” “Pengemban amanah wahyu-Nya, penutup para rasul-Nya, penyampai berita gembira rahmat-Nya, dan pemberi peringatan siksa-Nya.”

 

Saya tidak menemukan deskripsi yang lebih baik dari itu, dan saya tidak dapat memerinci sikap-sikap Rasulullah Saw antara satu dan yang lainnya. Orang yang meneliti sirah Rasulullah Saw akan menemukannya sarat dengan kelembutan, kasih sayang dan partisipasi bersama para sahabatnya dalam setiap pekerjaan, sehingga mereka terpacu semangatnya, melupakan sulitnya perjalanan, dan terdorong untuk berdedikasi. Itulah yang dikatakan oleh Khalifah Utsman, “Demi Allah, aku telah menemani Rasulullah Saw dalam perjalanan maupun di kampung halaman. Beliau menjenguk orang yang sakit di antara kami, turut mengantarkan jenazah kami, sama-sama terlibat dalam peperangan dengan kami, dan menghibur kami dengan hal-hal kecil maupun hal-hal besar.”[1]

 

Rasulullah Saw bekerja sama dengan para sahabatnya dalam membuat parit. Itu adalah pekerjaan yang berat dan mungkin disertai dengan rasa lapar yang parah. Diriwayatkan dari al-Ridha, dari ayahnya, dari Amir al-Mukminin Ali ra, “Kami bersama Nabi Saw menggali parit. Tiba-tiba Fathimah datang membawakan remah-remah roti. Dia kemudian menyodorkannya kepada Nabi Saw. “Apa ini?” tanya Nabi Saw. “Aku membuatkan sepiring roti untuk Hasan dan Husein. Remah-remahnya aku bawa ke sini,” jawab Fatimah. Nabi Saw bersabda, “Duhai Fathimah! Inilah makanan pertama yang masuk ke dalam perut ayahmu setelah tiga hari.”[2]

 

Hal yang paling indah dalam sirah Rasulullah Saw adalah bahwa beliau menghadapi situasi kritis dengan penuh keyakinan dan mengobarkan semangat dalam jiwa orang-orang. Sikapnya mendorong mereka untuk melakukan pengorbanan yang sangat besar.

 

Imam Ali ra, sebagaimana disebutkan dalam Nahjul Balaghah, mengatakan, “Kami bersama Rasulullah Saw memerangi ayah, anak, saudara, dan paman kami sendiri. Namun hal itu malah semakin menambah keimanan dan kepasrahah kami. Kami terus maju meski perbekalan kami sangat minim. Kami menahan rasa sakit dan bersungguh-sungguh dalam memerangi musuh…. Ketika Allah melihat ketulusan kami, Allah menimpakan kemalangan kepada musuh dan memberikan kemenangan kepada kami.”[3] (IRIB Indonesia / Taqrib / SL)

 

Catatan:

[1] HR. Ahmad, 1/70; Sayyid Razi, Nahj al-Balaghah, Khutbah nomor 100.

 

[2] Ibid.

 

[3] Nahjul Balaghah, hlm. 96.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s