Karunia Rasulullah Saw

Karunia Rasulullah Saw

Imam Ali Khamenei

Sebagai pribadi, Rasulullah saw. berada di puncak piramida alam cipta; baik pada dimensi-dimensi yang bisa disentuh pikiran manusia seperti; akal, kreatifitas, kecerdasan, kemuliaan, kelembutan, toleransi, ketegasan dan nilai-nilai luhur insani lainnya, ataupun pada dimensi-dimensi di atas tingkat ketajaman pikiran; yaitu dimensi-dimensi yang merefleksikan tempat penampakkan ism a’zham ‘nama teragung’ Al-Haq pada wujud Rasulullah yang agung dan martabat kedekatannya di sisi Al-Haq. Dari dimensi-dimensi terakhir ini kita hanya mendengar sebuah nama dan sekilas gambaran; kita hanya sadar bahwa hakikatnya semata-mata ada pada ilmu Al-Haq dan awliya’ besar.

Poros Persatuan

Sepadan dengan ketinggian pribadi Rasulullah saw., misinya juga merupakan  misi terbaik dan terutama bagi kebahagian manusia; misi tauhid, misi peningkatan martabat dan penyempurnaan wujud manusia.

Benar bahwa sampai sekarang umat manusia masih belum berhasil menerapkan misi tersebut secara utuh dalam segenap aspek kehidupan mereka, namun percayalah, proses kemajuan dan kesempurnaan mereka suatu hari akan sampai di akhir proses ini. Dan sekalipun kita asumsikan proses pemikiran, pemahaman, pencapaian dan keberhasilan manusia bergerak menuju kemajuan dan misi Islam, tak syak lagi bahwa pada suatu hari misi ini akan mendapatkan posisi yang selayaknya dalam kehidupan masyarakat manusia.

Kebenaran misi nabawi, kebenaran tauhid Islam, pelajaran Islam tentang hidup dan jalan Islam untuk kebahagian dan kemajuan, semua ini akan mendekatkan manusia kepada satu titik yang di sana ia menemukan jalan yang terang dan mulus, menapakkan kaki di atasnya dan melangkah maju ke arah kesempurnaan. Hal yang penting bagi kita kaum Muslimin ialah usaha-usaha kita menambah poin-poin pengenalan kita akan Islam dan Rasulullah saw.

Hari-hari ini, salah satu masalah besar dunia Islam ialah perpecahan umat. Dan wujud suci Rasulullah amat bisa menjadi poros persatuan dunia Islam; ia sosok yang berperan nyata sebagai titik sentral segenap emosi semua manusia. Kita umat Islam tidak punya satu titik pun sejelas dan seluas wujud suci Rasulullah saw.; semua kaum Muslimin percaya padanya, dan di samping kepercayaan ini wujud suci itu sampai sekarang telah menciptakan sebuah keterikatan emosional dan spiritual antarhati dan perasaan kita umat Islam. Wujud suci Rasulullah saw. adalah sebaik-baiknya poros persatuan.

Sistem Pemerintahan

[Kembali ke masa pembentukan masyarakat Islami], tujuan Rasulullah saw. hijrah ke Madinah ialah melakukan perbaikan di lingkungan yang korup dan memerangi sistem-sistem politik, ekonomi dan sosial yang zalim yang saat itu mendominasi masyarakat dunia. Tujuan Rasulullah bukan semata-mata menentang orang-orang kafir Mekkah. Misi yang diangkat di sini adalah misi dunia secara global dan menyeluruh. Rasulullah saw. lelah memperjuangkan misi ini. Ia menanamkan benih pemikiran dan iman di mana saja kondisi memungkinkan; dengan harapan bahwa benih itu akan berakar dan tumbuh berkembang kapan saja kondisi memungkinkan.

Tujuan Rasulullah saw. ialah menyampaikan pesan-pesan kebebasan, kesadaran dan kebahagian manusia ke segenap hati dan jiwa. Tujuan besar ini tidak akan tercapai kecuali dengan menciptakan sebuah sistem unggul dan model penuntun. Untuk itulah Rasulullah saw. hijrah ke Madinah dalam rangka membangun sistem tersebut. Adapun sebasar apa umat Islam dapat melanjutkan pembangunan ini, dan sejuah apa generasi-genarasi setelahnya sanggup mendekatkan realitas hidup mereka dengan sistem dan model nabawi tersebut, ini amat bergantung pada kesungguhan itikad mereka sendiri. Rasulullah saw. telah membangun model dan mengetengahkannya ke hadapan semua bangsa dan sejarah.

Sebuah sistem yang telah dibangun Rasulullah saw. terbentuk dari beberapa unsur. Yang terutama dan paling menonjol di antara unsur-unsur sistem ini ialah:

Iman dan spiritualitas. Motivasi dan penggerak utama dalam sistem nabawi ialah sebentuk iman yang bangkit dari sumber mata hati dan kesadaran masyarakat; masyarakat yang mengerahkan tangan, lengan, kaki dan segenap wujud mereka searah dengan kebenaran. Oleh karena ini, unsur pertama ialah menghembuskan ruh iman dan spiritualitas ke dalam jiwa-jiwa dan menanamkan keyakinan dan pemikiran yang lurus kepada mereka. Unsur ini telah diawali peletakkannya oleh Rasulullah saw. sejak masih di Mekkah dan baru mengibarkan benderanya dengan perkasa di Madinah.

Unsur kedua ialah keadilan. Prinsip kerja dan asas penyelenggaraan ialah keadilan dan meletakkan setiap hak pada setiap pemiliknya tanpa pandang bulu.

Unsur ketiga ialah ilmu dan pengetahuan. Dalam sistem nabawi, asas segala sesuatu ialah tahu dan sadar. Sistem ini tidak mengaktifkan individu dengan mata tertutup, akan tetapi membina masyarakat di atas kesadaran, pengetahuan dan kekuatan menimbang dan menjadikan mereka sebagai basis-basis yang aktif; bukan arus pasif.

Unsur keempat ialah ketulusan dan persaudaraan. Dalam sistem nabawi, segala macam pertikaian yang berasal dari motif-motif palsu dan kepentingan-kepentingan pribadi dan oportunis dibenci dan akan dihadapi dengan perlawanan. Suasana sistem nabawi adalah suasana ketulusan, persaudaraan dan simpati.

Unsur kelima ialah kualitas moral dan kebersihan perilaku. Sistem nabawi bekerja untuk membina jiwa-jiwa manusia sehingga bersih dari segala bentuk kerusakan, kebusukan dan kehinaan, dan  berhias dengan akhlak yang mulia dan budi pekerti yang luhur. “… dan membersihkan jiwa mereka serta mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah” (Al-Jumu’ah;62:2). Tazkiyah ‘membersihkan jiwa’ merupakan bagian dari asas-asas utama sistem. Setiap Rasulullah diutus dan bekerja untuk memberikan pembinaan ruhani kepada stiap orang dan memanusiakan mereka seutuh-utuhnya.

Unsur keenam ialah ketangguhan dan kehormatan. Sistem nabawi bukanlah sistem yang di dalamnya masyarakat jadi bermental inferior, ikut-ikutan dan menggantungkan kebutuhannya kepada pihak luar, tetapi sistem yang mengangkat mereka sehingga berada sebagai manusia-manusia terhormat, tangguh dan penentu nasib; yaitu tahu kemaslahatan diri mereka dan berusaha keras mewujudkannya serta memperjuangkannya tetap maju.

Dan unsur terakhir ialah bekerja, bergerak dalam rangka kemajuan berkelanjutan. Stagnasi dan keadaan mandek dalam sistem nabawi tidak lagi berarti, yang tampak adalah dinamika gerak, kerja dan kemajuan secara ekstensif. Tentu, ini kerja yang memuaskan dan menyenangkan, dan proses yang melelahkan ataupun menjemukan. Ini kerja dan proses yang memberi semangat, kekuatan dan gairah kepada pelaku.[afh]

Ket.: Saduran dari pidato Rahbar ‘Pemimpin Tertinggi Revolusi’ Imam Ali Khamenei dalam pertemuan dengan para pejabat pemerintah Republik Islam Iran pada hari besar Maulid Nabi saw. 18 Rabi’ul Awal, 1421 H.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s