Mengenal Cendekiawan Kontemporer Iran, Ayatullah Naser Makarem Shirazi

Mengenal Cendekiawan Kontemporer Iran, Ayatullah Naser Makarem Shirazi

 Ayatullah Naser Makarem Syirazi

Ayatullah Naser Makarem Shirazi adalah seorang ulama besar Iran dan Marji taklid terkemuka Syiah. Ia lahir pada tahun 1305 HS (tahun 1926) di Shiraz, kota indah dan bersejarah yang terletak di sebelah selatan Iran. Ia lahir di tengah-tengah keluarga yang religius. Kakek dan ayahnya adalah pedagang di kota tersebut yang amat dihormati dan disegani oleh masyarakat karena kemuliaan akhlak mereka. Mereka selalu membantu kesulitan masyarakat dan menjalin hubungan dengan para ulama besar di kota Shiraz.

Ayatullah Makarem Shirazi mengenai ayahnya mengatakan, “Ayah sangat mencintai al-Quran. Ketika aku masih belajar di sekolah dasar, beliau kadang-kadang mengajakku ke kamarnya supaya aku membacakan ayat-ayat al-Quran dan terjemahannya kepada beliau.”

Sejak kecil Ayatullah Makarem Shirazi akrab dengan bacaan al-Quran. Daya tarik al-Quran berlahan-lahan memikatnya sehingga ia tertarik dengan pemahaman konsep dan poin-poin penting al-Quran. Ia dengan bantuan para ahli dan peneliti al-Quran telah menulis sebuah tafsir bernama “Tafsir Nemuneh (al-Amtsal)”. Tafsir ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Masa kecil dan periode pendidikan Ayatullah Makarem Shirazi amat luar biasa. Karena kepandaian dan kecerdasannya itu,ia pada umur lima tahun telah masuk sekolah dasar dan beberapa tingkat kelas dilompatinya sehingga pada umur 14 tahun ia telah menyelesaikan sekolah menengah tingkat atas. Saat belajar di kelas tiga SMA, ia tertarik dengan pelajaran-pelajaran agama sehingga setelah lulus ia tidak melanjutkan pendidikannya di universitas tetapi lebih memilih belajar di hauzah.

Bakat dan usaha Ayatullah Makarem Shirazi menyebabkan ia cepat dikenal dan menjadi perhatian para guru dan pelajar agama lainnya. Dengan usaha dan kecerdasannya, ia melewati pelajaran-pelajaran tingkat dasar Hauzah hanya dalam waktu empat tahun dengan nilai yang sangat istimewa dan berada di barisan pelajar agama yang meraih nilai terbaik. Padahal jenjang pendidikan tingkat dasar Hauzah tersebut biasanya dilalui 10 tahun oleh pelajar-pelajar agama lainnya.

Ayatullah Makarem Shirazi pada usia 18 tahun dengan dorongan guru-gurunya menuntut ilmu di Hauzah Ilmiah Qom dari para ulama besar. Ia menguasai pelajaran-pelajarannya dengan cepat, bahkan karena kecerdasannya itu ia sudah dapat bergabung dalam kelas Ayatullah al-Udzma Boroujerdi, Marji Besar Syiah di masa itu bersama dengan para pelajar yang telah mencapai tingkat tinggi keilmuannya.

Mengenai hal itu, Ayatullah Makarem Shirazi mengatakan, “Ayatullah Boroujerdi adalah seorang yang sangat bertakwa, waspada, bercahaya dan menarik serta ahli di bidang fiqih. Aku di awal remaja dan berumur 18-19 tahun turut belajar di kelas beliau, padahal waktu itu para pemuka Hauzah tengah belajar dengan beliau di kelas itu. Kehadiran seorang pemuda seperti aku di kelas tersebut tampaknya sedikit mengejutkan, khususnya ketika aku berani mengutarakan masalah di tengah-tengah pelajaran. Namun Ayatullah Burujerdi dengan terbuka menanggapiku dan menjawab soal-soalku.”

Pada tahun 1950, Ayatullah Makarem Shirazi pergi ke Najaf Ashraf di Irak untuk menuntut ilmu dari ulama-ulama terkemuka lainnya di masa itu. Setelah menuntut ilmu dari berbagai ulama besar, ia berhasil mencapai derajat ijtihad pada umur 24 tahun. Mencapai ijtihad pada umur ini amat jarang terjadi dan hal itu menunjukkan upaya kontinyu dan kepandaian Ayatullah Makarem Shirazi. Ia memanfaatkan dorongan dan bantuan para guru besarnya untuk menuntut banyak ilmu. Sebab berdasarkan perkataan para psikolog, dorongan dan dukungan para guru seperti peluncur bagi manusia yang sedang menuntut ilmu dan mengantarkannya ke puncak keilmuan.

Pasca kembali ke kota Qom, Ayatullah Makarem Shirazi bersama sejumlah ulama terkemuka lainnya membentuk “JameehModarresinHauzah Ilmiah Qom” dan hingga kini terus melakukan berbagai aktivitas keilmuan dan budaya. Ia hampir 40 tahun mengajar fiqih dan ushul tingkat atas dan selama ini telah mendidik banyak murid, bahkan sebagian besar muridnya saat ini berada di pos-pos penting negara atau menjadi guru-guru besar di hauzah-hauzah ilmiah.

Hal yang menarik di sini adalah Ayatullah Makarem Shirazi sejak remaja berupaya menulis buku-buku agama dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan usahanya sendiri. Bahkan hingga kini ia tidak pernah mengambil uang saku pelajar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Karya-karya Ayatullah Makarem Shirazi tidak terbatas pada bidang tertentu. Ia menulis berbagai buku keislaman. Sejumlah bukunya merupakan jawaban atas masalah-masalah kekinian dan dapat dikatakan bahwa mayoritas buku-buku karyanya ditulis sesuai dengan kebutuhan zaman. Ia juga mengajar berbagai bidang ilmu sesuai dengan kebutuhan remaja terhadap agama.

Di samping menerbitkan banyak buku, Ayatullah Makarem Shirazi selama bertahun-tahun mengajar tafsir al-Quran dan Nahjul Balaghah dan mendidik serta melahirkan murid-murid yang handal. Jasa penting lain Ayatullah Makarem Shirazi di bidang ilmu dan budaya adalah mendirikan empat sekolah. Salah satu sekolah yang didirikanya adalah sekolah khusus jurusan tafsir al-Quran dimana murid-murid di sekolah ini diajari cara-cara menafsirkan al-Quran dengan benar. Selain itu, ia juga membangun berbagai Darul Quran dan tempat-tempat penginapan bagi para peziarah di berbagai kota religius di Iran.

Ayatullah Makarem Shirazi memahami konspirasi musuh untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran sesat di tengah-tangah generasi muda sehingga ia terus berupaya memberikan pencerahan dan bimbingan kepada mereka supaya tidak termakan tipu daya musuh. Ia dengan pemahamannya yang luas menulis berbagai buku untuk mengungkap fakta tentang filsafat-filsafat materialistik Barat. Salah satu bukunya yang berjudul “Filsuf Namaha” menelaah dan mengkritik filsafat-filsafat Barat dan klaim-klaim para filsuf materialistik. Buku ini telah dicetak hingga sekitar 30 kali namun kesegaran dan kelengkapan isinya hingga kini masih terjaga di tengah-tengah buku-buku lainnya.

Jelveh-e Haqadalah sebuah buku karya Ayatullah Makarem Shirazi yang menolak pandangan-pandangan sufi dan darwis. Buku ini pernah mendapat pujian dari Ayatullah al-Udzma Boroujerdi. Di masa itu, Ayatullah Makarem Shirazi mengadakan berbagai acara kajian akidah dan ilmu-ilmu lainnya untuk menjawab berbagai permasalahan terkini khususnya masalah generasi muda. Ia mendorong para pemuda untuk mengikuti ajaran al-Quran dan Ahlul Bait Rasulullah Saw. Ia juga menulis berbagai artikel yang dimuat di majalah “Maktabul Islam” yang mengungkapkan jati diri rezim despotik Shah Pahlevi supaya generasi muda di masa itu memahami siapa Shah dan penindasan yang dilakukannnya terhadap rakyat Iran.

Selain itu, Ayatullah Makarem Shirazi melontarkan berbagai protes dan kecaman terhadap rezim Shah. Sebelum Revolusi Islam Iran, ia melalui jalur diplomatik selalu berupaya untuk mendirikan sistem Islam. Ayatullah Makarem Shirazi bersama para tokoh Hauzah Ilmiah Qom lainya terus berjuang di jalur politik untuk melawan rezim Shah yang otoriter. Akibat berbagai pernyataan dan statemennya yang anti-Shah, ia sering dijebloskan ke penjara oleh rezim dan berulangkali di asingkan di kota-kota perbatasan Iran.

Pasca kemenangan Revolusi Islam Iran tahun 1979, Ayatullah Makarem Shirazi terpilih menjadi anggota Dewan Ahli Penyusun Konstitusi Republik Islam Iran dan berperan besar dalam menyusun konstitusi negara Islam ini. Ia selalu menganggap dirinya sebagai pengikut Rahbar (Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran) dan mengajak masyarakat untuk selalu taat kepada Wilayatul Faqih dan melindungi Islam dan Republik Islam. Sejak 20 tahun lalu, Ayatullah Makarem Shirazi dikenal sebagai Marji Syiah dan hingga kini terus mendidik para pelajar agama dan penyampai ajaran-ajaran Ahlul Bait as.

Pengetahuan luas Ayatullah Makarem Shirazi tentang masalah-masalah kekinian dan fatwa-fatwa konstruktifnya sangat membantu menyelesaikan berbagai masalah dunia saat ini. Kepiawaiannya dalam memberikan solusi terkait sejumlah kasus agama yang sensitif tidak asing lagi bagi setiap orang. Ia juga sebagai tokoh yang amat dikenal dalam menguatkan persatuan umat Islam antara Syiah dan Sunni.

Menjalin hubungan dan kontak serta tanya jawab terkait masalah dan kebutuhan agama serta akidah umat Islam di berbagai negara adalah salah satu bagian dari kegiatan Ayatullah Makarem Shirazi.

Ayatullah Makarem Shirazi hingga kini telah mendirikan berbagai pusat pendidikan, sekolah, masjid dan kantor tidak hanya di kota-kota Iran, tetapi juga di berbagai kota lainnya di luar negeri seperti di kota Madinah, Najaf, dan London. Dalam hal ini, ia meluncurkan televisi satelit  “Velayat” untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam dan Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw.

Tafsir Nemuneh (al-Amtsal) adalah salah satu karya paling berharga Ayatullah Naser Makarem Shirazi bersama sejumlah ahli dan peneliti al-Quran. Tafsir ini terdiri dari 27 jilid dan ditulis dalam bahasa Persia, namun saat ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa lainnya seperti Inggris, Arab dan Urdu. Tafsir ini menggunakan bahasa sederhana, ekspresif, dan mudah dipahami serta dapat dikonsumsi oleh masyarakat umum. Keistimewaan terpenting tafsir ini adalah amat kekinian dan mudah dipahami oleh masyarakat. Selain itu, tafsir ini  cenderung mengarah kepada aspek pendidikan dan bimbingan.

Metode pemaparan isi dalam Tafsir Nemuneh secara umum sebagai berikut. Tahap pertama, setelah menjelaskan poin-poin umum di setiap surat dan menjelaskan hal-hal yang mendominasi surat, baru kemudian menyinggung topik-topik penting terkait setiap surat. Setelah itu, isi ayat dikaji dan dijelaskan dengan metode analisis  disertai dengan penjelasan mengenai masalah kehidupan dan bimbingan manusia.

Ayatullah Makarem Shirazi menyertakan sejumlah poin penting terkait akhlak dalam Tafsir Nemuneh. Selain itu, isi tafsir yang berbicara tentang masalah-masalah sosial, budaya dan bahkan politik telah menghadiahkan kepada masyarakat akan sebuah tafsir baru dan informatif. Di sisi lain, mengingat tafsir ini mudah dipahami maka dapat dimanfaatkan oleh semua lapisan masyarakat dan hal ini menunjukkan betapa berharganya karya ini.

Sebagai contoh, dalam jilid kedua tafsir Nemuneh disinggung mengenai tatanan dan keteraturan serta pentingnya keteraturan itu sendiri. Disebutkan bahwa kehidupan individu dan sosial tidak akan teratur tanpa sebuah tatanan yang benar.  Oleh sebab itu, Tuhan memberikan sebab-sebab keteraturan itu kepada manusia. Gerakan teratur bumi dalam porosnya dan secara teratur bergerak mengitari matahari serta pergerakan bulan yang teratur pula sebagai contoh bagi manusia untuk menyusun agenda kehidupan materi dan spiritualnya di bawah sebuah tatanan yang benar. Coba Anda pikirkan, jika tatanan tertentu tentang siang, malam, matahari dan bulan tidak ada dan skala untuk mengatur waktu juga tidak ada, maka kekecauan apa yang akan menimpa kehidupan kita?

Dengan demikian, keteraturan dunia ini merupakan salah satu anugerah besar Allah Swt sebagaimana disebutkan dalam surat Yunus ayat 5, “Dialah yang menjadikan matahari bersinardan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya bagi bulan manzilah-manzilah supaya kalian mengetahuibilangan tahun dan perhitungan waktu.Allah tidak menciptakan yang demikian itumelainkan dengan hak.Dia menjelaskantanda-tanda kepada orang-orang yang mengetahui (yakni orang-orang yang mau berpikir).”

Islam dar Yek Negah  adalah karya Ayatullah Makarem Shirazi lainnya yang sangat berharga. Ia meyakini bahwa Islam adalah pengetahuan tentang kosmologi, ideologi dan prinsip-prinsip keyakinan serta pelaksanaan perintah-perintah. Oleh karena itu, umat Islam harus mempunyai pengetahuan yang benar dan meyakinkan tentang ajaran-ajaran Islam di bidang ushuluddin maupun furuuddin. Salah satu poin penting dalam buku Islam dar Yek Negah adalah penjelasan tentang filsafat pendidikan dan sosial terkait hukum-hukum Islam yang disampaikan dengan bahasa yang indah dan mudah dipahami sehingga pembaca dapat melaksanakan hukum-hukum Islam dengan wawasan yang lebih baik.

Dalam buku Islam dar Yek Negah, Ayatullah Makarem Shirazi menjelaskan tentang definisi agama. Menurutnya, untuk memahami peran agama dalam kehidupan manusia maka terlebih dahulu harus memahami definisi dan hakikat agama itu sendiri. Agama secara ringkas dapat didefinisikan sebagai berikut; agama adalah sebuah gerakan menyeluruh untuk memperbaiki pemikiran, keyakinan dan membimbing prinsip ketinggian moral manusia. Agama mengantarkan hubungan masyarakat menjadi lebih baik dan menghapus segala bentuk diskriminasi. Selain itu, agama membimbing dan meluruskan perilaku manusia di bawah naungan iman kepada Allah Swt dan rasa tanggung jawab dalam diri manusia.

Ayatullah Makarem Shirazi dalam buku Islam dar Yek Negah juga menjelaskan sebab-sebab kebutuhan manusia kepada agama dalam lima tema. Menurut pandangannya, agama adalah pendukung bagi prinsip moral (akhlak) dan sandaran untuk melawan segala bentuk kesulitan hidup.  Dengan agama, manusia dapat melawan kevakuman ideologi dan membantu kemajuan ilmu pengetahuan serta melawan diskriminasi.

Dalam agama Islam, takwa adalah tolok ukur kemuliaan seseorang di atas yang lainnya. Oleh karena itu, perbedaan warna kulit, hitam dan putih, kaya dan miskin, laki-laki dan perempuan akan ditimbang Allah Swt berdasarkan ketakwaan mereka bukan berdasarkan faktor-faktor materi dan warna kulit. Buku Islam dar Yek Negah dapat menambah pengetahuan-pengetahuan seseorang tentang Islam. Buku ini menjelaskan berbagai argumentasi kebutuhan manusia terhadap agama secara lengkap dan tepat.

Kitab Nahjul Balaghah yang menjelaskan pidato-pidato Imam Ali as sangat penting dan mempunyai daya tarik yang luar biasa bagi manusia. Ucapan-ucapan Imam Ali as dalam kitab ini telah banyak memberikan solusi terhadap berbagai masalah sosial dan individu saat ini, bahkan telah mengobati berbagai penyakit jiwa manusia. Meski telah ada banyak penafsiran dan penjelasan dari para cendekiawan besar Islam tentang isi Nahjul Balaghah, namun kitab yang sangat berharga ini memerlukan penjelasan yang lebih mendalam dan luas khususnya  terkait masalah kekinian.

Melihat hal itu, Ayatullah Makarem Shirazi setelah menyelesaikan penulisan tafsir Nemuneh, ia langsung menulis penjelasan dan penafsiran baru tentang isi Nahjul Balaghah. Karyanya tersebut berjudul “Payam-e Imam Ali as” yang hingga saat ini telah ditulis sampai 13 jilid dalam bahasa Persia dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Buku Payam-e Imam Ali as (pesan Imam Ali as) mempunyai keistimewaan yang menarik. Semua kalimat yang menjelaskan ucapan Imam Ali as dikemas dalam bahasa yang mudah dan disebutkan pula akar dari semua kata yang penting. Selain itu, ditulis pula tentang hal-hal bersejarah yang terkait dengan berbagai pidato dan surat Imam Ali as secara teliti. Ayatullah  Makarem Shirazi dalam bukunya itu juga membahas tentang akidah, akhlak, sosial dan politik dengan menganalisa berbagai permasalahan di masa Imam Ali as sehingga pembaca akan lebih mudah memahaminya.

Zendegi dar Partu-e Akhlakadalah karya lain Ayatullah Makarem Shirazi yang menjelaskan dengan indah tentang peran akhlak dalam mendidik manusia. Ia memberikan perhatian khusus tentang pentingnya akhlak dalam kehidupan manusia. Dalam mukaddimah buku ini, ia mengulas pandangan-pandangan Barat dan menulis, aturan yang berlaku di dunia dengan segala upaya yang tampaknya memperbaiki dan melaksanakan peraturan itu sebenarnya tidak akan dapat memberikan kehidupan yang ideal kepada manusia dan bahkan justru akan menghilangkan harapan bagi masa depan umat manusia. Aku tidak tahu kepada siapa prinsip-prinsip yang sudah usang ini diujikan. Prinsip-prinsip ini bahkan tidak mampu menolong penganut dan pemeliharanya, terus bagaimana mungkin dapat menolong orang lain?

Ayatullah Makarem Shirazi meyakini bahwa akhlak mampu memberikan ketenangan kepada manusia dalam menghadapi naluri yang terus memberontak dan merusak. Selain itu, akhlak dapat melunakkan emosi manusia serta mengubahnya menjadi seorang yang jujur, tulus dan penuh kebaikan bagi masyarakat.

Ayatullah Makarem Shirazi sangat memperhatikan masalah akhlak dan menulis, prinsip akhlak adalah laksana gelombang kuat yang mampu melalui segala bentuk rintangan dan menemukan jalan di dalam jiwa manusia serta mengubah dan membentuk manusia dengan kepribadian baru yang dipenuhi dengan sifat-sifat mulia Ilahi.

Manusia dengan cakrawala pemikiran luas tidak akan berpikir sempit atau terjebak dalam tindakan yang mengganggu dan menindas orang lain, dan tidak akan menjadi pribadi yang pendendam, bahkan sebuah komunitas yang realistis akan terbentuk bersama orang-orang yang sepaham dengannya.

Ayatullah Makarem Shirazi dalam bukunya Zendegi dar Partu-e Akhlak menulis bahwa pendidikan dan bimbingan adalah alat paling penting dalam membentuk manusia sejati. Ia menilai manusia sebagai wujud yang dapat berubah dimana dengan pendidikan, sifat-sifat yang baik akan mengakar dengan kuat dalam jiwa manusia. Tentunya pendidikan yang di ajarkan adalah pendidikan yang didasarkan pada ajaran dan perintah agama Islam, al-Quran, Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Baitnya yang suci. Pendidikan Islam ini akan mengajarkan kepada seseorang bagaimana mengembangkan sifat baik dan menggunakannya untuk melawan hawa nafsu yang terus memberontak. Ayatullah Makarem Shirazi dalam buku tersebut juga mengulas sebagian pendapat para filsuf Barat khususnya tentang ilmu akhlak.

Masalah pendidikan, interaksi dengan orang-orang baik dan pentingnya situasi sosial dalam pendidikan manusia serta masalah-masalah aplikatif lainnya juga di bahas oleh Ayatullah Makarem Shirazi dalam bukuZandegi dar Partu-e Akhlak. Secara umum, buku ini memberikan petunjuk dengan baik untuk mengenal pentingnya akhlak dan jalan untuk memperoleh sifat-sifat terpuji.

Tafsir Maudhui (tematik) “Payam-e Quran” adalah salah satu karya berharga Ayatullah Naser Makarem Shirazi  bersama sekelompok cendekiawan lainnya. Mengingat keistimewaan khusus dari tafsir ini, maka semua kalangan dapat memanfaatkannya dengan mudah. Tafsir ini ditulis dalam 10 jilid dengan metode baru dan merupakan sebuah susunan lengkap pengetahuan agama dan akidah di  mana disusun dalam bentuk buku pelajaran dan masuk ke dalam kurikulum di sebagian universitas di Iran.

Keistimewaan yang tampak jelas dari Tafsir Maudhui Payam-e Quran adalah ungkapan-ungkapan singkat tentang ayat atau sekelompok ayat. Ungkapan-ungkapan pendek namun kaya dengan makna ini merupakan keistimewaan terpenting dalam Tafsir Maudhui Payam-e Quran. Bukti menunjukkan bahwa mayoritas audien utama dari tafsir ini adalah generasi muda. Mereka dengan mudah mengenal dan memahami sedikit banyak tentang tema-tema dalam al-Quran yang dijelaskan dalam tafsir tersebut.

Ayatullah Makarem Shirazi dalam Tafsir Maudhui Payam-e Quran jilid empat menjelaskan tentang sifat-sifat Jamal (keindahan) dan Jalal (keagungan) Allah Swt yang diistimbatkan dari al-Quran. Ia mengenai kebijakasanaan mutlak Allah Swt menulis, “Mengingat Allah Swt mempunyai sifat Maha Mulia dan Kuat maka tidak ada penghalang dan gangguan yang dapat mencegah kehendak-Nya dan tidak ada perbuatan yang tidak dapat dilakukan oleh Allah Swt. Dia mampu untuk mengatur alam semesta dan membuat undang-undang serta melindungi para Aulia-Nya. Allah Swt dengan kebijaksanaan mutlak mengetahui semua rahasia alam semesta dan hal-hal yang mempunyai maslahah dan mafsadah serta kebutuhan dan keinginan hamba-Nya. Sifat Maha Kuasa dan Maha Bijakasana Allah Swt telah mendorong terciptanya tatanan dunia yang paling baik.”

Ayatullah Makarem Shirazi mengatakan, “Semua perbuatan Allah Swt tak terlepas dari hikmah. KataAlim dan Hakim disinggung dalam ayat-ayat al-Quran, bahkan hukuman dan ampunan Allah Swt tidak terlepas dari perhitungan dan disesuaikan dengan amal, akhlak, dan niat manusia.”

Ayatullah Makarem Shirazi berupaya menjawab isu dan masalah sehari-hari manusia dengan bersandarkan pada al-Quran. Ia menilai krisis moral (akhlak) dan masalah-masalah terkait hal itu merupakan pembahasan penting dalam masyarakat dewasa ini di mana al-Quran dan riwayat-riwayat Islam telah memberikan solusinya. Sementara itu, para cendekiawan materialistik berusaha mencari solusi krisis tersebut berdasarkan pemikiran dan ide-idenya. Namun kenyataan membuktikan bahwa mereka hingga kini tidak mampu memberikan solusi yang mengantarkan kebahagiaan kepada manusia.

Ayatullah Makarem Shirazi  dengan merujuk kepada al-Quran berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial dan menunjukkan kepada manusia akan jalan kebahagiaan yang telah diberikan oleh Allah Swt. Ia dalam buku “Akhlak dar Quran” (Akhlak dalam al-Quran) yang ditulis dalam tiga jilid menjelaskan tentang prinsip umum akhlak dalam al-Quran, sifat-sifat terpuji dan tercela dalam cahaya petunjuk wahyu dan ayat-ayat al-Quran.

Dalam mukaddimah buku Akhlak dar Quran, Ayatullah Makarem Shirazi menulis, “Ketika berpikir tentang akhlak, terbersit dalam benakku bahwa dari mana aku harus memulai pembahasan rumit ini dan dengan menggunakan sistem serta susunan apa? Apakah aku hanya cukup dengan menggunakan metode filsafat Yunani dan membagi akhlak menjadi empat bagian; hikmah, keadilan, nafsu dan amarah? Padahal hal ini tidak sesuai dengan al-Quran dan tidak sempurna. Atau apakah aku harus berangkat dari ideologi Timur dan Barat, dan mengambil susunan pembahasan dari mereka? Sementara kedua ideologi itu sendiri bermasalah dan selain itu juga tidak sesuai dengan tafsir tematik Quran khususnya masalah akhlak. Namun atas berkat Allah Swt, tiba-tiba muncul dalam benakku sebuah metode baru yang muncul dari al-Quran dan terinspirasi dari kitab suci ini.”

Allah Swt dalam al-Quran menjelaskan pentingnya akhlak dan pengamalannya di tengah-tengah sejarah dan orang-orang terdahulu. Penjelasan itu menunjukkan bahwa sifat terpuji dan tercela masing-masing mempunyai dampak luas di masyarakat.  Al-Quran dengan metode penjelasan ini dengan cepat menyampaikan pesan akhlak yang terdapat dalam surat-surat kepada pembaca dan pendengar. Ayatullah Makarem Shirazi dengan memilih metode ini kemudian menjelaskan sifat-sifat terpuji dan tercela dan mengulasnya berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan riwayat. Selain menjelaskan setiap sifat buruk akhlak, ia juga menerangkan dengan terperinci tentang tanda-tanda, akar munculnya dan cara mengobati sifat-sifat tercela itu.

Dalam buku Akhlak dar Quran jilid tiga, Ayatullah Makarem Shirazi menyinggung tentang sifat buruk seperti berbohong. Ia menulis, “Dalam berbagai riwayat terdapat interpretasi mengejutkan mengenai buruknya sifat bohong. Dalam penjelasan Imam Hasan Askari as disebutkan bahwa semua kejahatan berada dalam sebuah “ruangan” dan kunci ruangan itu adalah sifat bohong.” (Bihar al-Anwar, Jilid 169, halaman 263)

Ayatullah Makarem Shirazi juga menjelaskan dampak buruk dari berbohong dan menyebutkan bahwa dampak negatif pertama dari sifat ini adalah kehilangan kehormatan, status sosial dan kepercayaan masyarakat.

Salah satu upaya penting Ayatullah Makarem Shirazi lainnya adalah menjelaskan hadis-hadis dari Ahlul Bait Rasulullah Saw. Terkait hal ini, Ia menulis sebuah buku berjudul “150 Dars-e Zendegi”  (150 Pelajaran Hidup). Ia meyakini bahwa sunnah Nabi Muhammad Saw dan riwayat-riwayat Ahlul Baitnya adalah aset terbesar setelah al-Quran. Namun sayangnya riwayat-riwayat yang merupakan samudera ilmu ini hingga kini belum dikenal. Banyak riwayat di mana satu kalimat pendeknya dapat menjadi sebuah buku pelajaran bagi kehidupan manusia dan mampu memecahkan berbagai masalah kekinian.

Ayatullah Makarem Shirazi dalam buku 150 Dars-e Zendegi menyertakan kumpulan riwayat dengan terjemahan yang mudah dan penjelasan singkat yang terdiri dari 150 hadis penting. Buku kecil ini dapat menjadi contoh dari ajaran Islam bagi mereka yang ingin mengenal Islam lebih baik meski dengan belajar singkat.

Dalam mukaddimah buku 150 Dars-e Zendegi Ayatullah Makarem Shirazi menulis, “Hal yang lebih penting dari semuanya adalah mengaplikasikan program-progam ini dan mempraktekkannya dalam kehidupan. Oleh sebab itu, marilah kita meminta taufik kepada Allah Swt dimana taufik pertama adalah pemahaman benar atas hadis-hadis ini dan mengamalkannya.” Karya berharga Ayatullah Makarem Shirazi ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Asrar-e Aghabmandegi-e Sharqadalah karya lain Ayatullah Makarem Shirazi yang membahas penyebab ketertinggalan umat Islam pasca kemajuan gemilang mereka di abad-abad awal munculnya Islam. Ia menulis, “Ketika Timur di masa lalu merupakan sumber akhlak dan pusat terbesar peradaban dunia serta terhitung sebagai masa keemasan dalam sejarah bangsa Timur, serangkain prinsip-prinsip moral berkuasa atas pemikiran bangsa di wilayah ini. Bangsa Timur sedikit demi sedikit tertidur dan ketika bangun dari tidur beratnya dan membuka mata, ternyata Barat dengan cepat telah menuju kehidupan industri dan mewarisi ilmu Timur, bahkan menggunakannya sebagai pijakan dalam revolusi industri dan ilmu. Bangsa Timur yang “mengantuk” dan panik berupaya mengejar ketertinggalannya dan menginginkan segalanya dari Barat bahkan masalah perilaku dan agama. Padahal Barat sendiri dengan kehidupannya yang serba modern dan mempunyai teknologi maju telah kehilangan akhlaknya.”

Dalam pandangan Ayatullah Makarem Shirazi, Barat khususnya Amerika menggambarkan dunia tampak dipenuhi dengan kebahagiaan dan kenikmatan. Namun ternyata perlahan-lahan mereka jauh dari Tuhan dan kehidupan hakiki sehingga kecemasan, kekhawatiran dan stress semakin menyelimuti jiwa mereka. Barat di dalam pusaran masalah karena mengesampingkan kebutuhan spiritual.

Ayatullah  Makarem Shirazi dalam bukunya “Mahdi, Enghelabi-e Bozorg” berbicara tentang Sang Juru Selamat di akhir zaman yaitu Imam Mahdi as dan menjelaskan syarat kemunculan dan revolusinya. Ia mengenai kehidupan nyata Imam Mahdi as menulis, “Maksud kegaiban Imam Mahdi as…tidak berarti bahwa keberadaannya di masa kegaiban adalah wujud yang tidak terlihat dan seperti wujud dalam mimpi, tetapi Imam Mahdi as hidup secara alami namun ia dikaruniai umur panjang. Imam Mahdi as berada di antara masyarakat dan berinteraksi dengan mereka. Ia hidup di berbagai tempat tetapi asing bagi masyarakat dan mereka tidak mengenalnya.”

Menurut Ayatullah Makarem Shirazi, kemunculan Imam Mahdi as memerlukan kesiapan syarat-syarat tertentu termasuk kesiapan masyarakat. Artinya, masyarakat dunia harus melawan kekacauan, ketidakadilan, dan lelah akan lemahnya peraturan manusia serta menyerukan kemunculanya.

Lebih lanjut Ayatullah Makarem Shirazi menulis, “Masyarakat dunia harus memahami bahwa untuk meyelesaikankrisis dunia diperlukan asas dan sistem baru yang disandarkan pada nilai-nilai kemanusiaan, iman, cinta dan akhlak. Dengan kata lain, masyarakat dunia harus haus akan kehadiran Sang Juru Selamat dan memohon sepenuhnya kepada Tuhan untuk kemunculannya.”

Dengan kemunculkan Imam Mahdi as, kehidupan manusia akan mulai masuk ke babak baru dan manisnya keadilan akan dirasakan oleh semua penduduk dunia. (IRIB Indonesia)

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Biografi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s