Imam Khomeini: Parameter Akhlak dalam Melaksanakan Amar Makruf dan Nahi Munkar

Imam Khomeini: Parameter Akhlak dalam Melaksanakan Amar Makruf dan Nahi Munkar

 

 

Amar Makruf dan Nahi Munkar merupakan bagian dari rahmat “Rahimiah” Allah Swt. Oleh karenanya, pelaku Amar Makruf dan Nahi Munkar perlu menjadikan hatinya mencicipi rahmat “Rahimiah” Allah Swt. Pandangannya mengenai Amar Makruf dan Nahi Munkar bukan sok pamer, menjual diri atau memaksakan keinginan. Bila pelaku Amar Makruf dan Nahi Munkar berlaku dengan cara ini, maka kewajiban ini tidak akan menghasilkan tujuannya. Karena yang dimaksud dengan Amar Makruf dan Nahi Munkar adalah meraih kebahagiaan hamba dan penerapan hukum Allah di negara. (Adab al-Shalah, hal 237)

Ada seorang hamba pembangkang yang menyatakan “…¬†Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. 79: 24). Ia telah melakukan segala kerusakan di bumi dan mungkin saja Allah membakarnya dengan petir kemurkaan. Tapi dengan rahmat “Rahimiah”, Allah mengutus dua nabi besar (Musa dan Harun as). Kepada kedua utusan-Nya, Allah berpesan agar berbicara kepada Firaun dengan lemah lembut. Semoga saja dengan cara itu ia dapat mengingat Allah dan takut akan balasan yang bakal menimpanya. Demikianlah perintah Amar Makruf dan Nahi Munkar. Ini cara membimbing orang seperti Firaun sang pembangkang.

 

Kini, bila engkau hendak melakukan kewajiban Amar Makruf dan Nahi Munkar dan membimbing hamba Allah, maka hendaknya engkau mengingat dan belajar dari ayat-ayat al-Quran yang diturunkan dengan tujuan mengajar dan mengingatkan manusia. Temui hamba-hamba Allah dengan hati penuh cinta dan kasih sayang. Engkau harus mencari kebaikan mereka dengan ketulusan hati. Bila hatimu telah menemukan “Rahmani” dan “Rahimi”, barulah bangkit melaksanakan kewajiban Amar Makruf dan Nahi Munkar. Dengan begitu, hati yang keras akan menjadi lembut lewat cinta yang muncul dari hatimu. Hati yang membesi akan menjadi lembut dengan api cinta yang terucap dari nasihatmu. Masalah ini bukan termasuk dalam pembahasan “Kebencian karena Allah dan Kecintaan karena Allah”, dimana manusia harus tetap membenci musuhnya. (Adab al-Shalah, hal 239)

 

Hendaknya pelaku Amar Makruf dan Nahi Munkar dalam melaksanakan kewajibannya bersikap seperti dokter yang sedang mengobati pasiennya dengan lemah lembut, atau ayah yang tengah melindungi maslahat seseorang yang terpolusi dengan dosa. Kebenciannya terhadap pelaku kemunkaran harus muncul dari perhatian yang bersumber dari rahmat, bahkan kepada seluruh umat manusia. Selain itu, dalam melaksanakan kewajiban ini hendaknya diniatkan semata-mata karena Allah. Ia harus berusaha agar jangan sampai perbuatannya bercampur dengan hawa nafsu dan kesombongan. Karena betapa banyak dari orang yang melakukan kemunkaran, sekalipun ia melakukan dosa besar, tapi Allah masih mencintainya karena masih memiliki sifat-sifat baik. Allah murka kepadanya akibat perbuatan dosa yang dilakukannya. Tapi sifat-sifat baik itu masih membuat Allah mencintainya. Sebaliknya, betapa banyak pelaku Amar Makruf dan Nahi Munkar yang memiliki sifat-sifat yang tidak diridhai oleh Allah Swt, sekalipun itu tidak diketahui manusia. (Tahrir al-Wasilah, jilid 1, hal 442) (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

 

Sumber: Amr-e be Maruf va Nahy az Monkar; Gozideh-i az Kalam vaAndisheh Imam Khomeini ra, Tehran, 1383, Moasseseh Tanzim va Nashr Asar Emam Khomeini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s