Selat Hormuz Memanas, Siapa Untung Siapa Buntung ?

Selat Hormuz adalah selat yang memisahkan Iran dengan Uni Emirat Arab yang terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia. Lebar SelatHormuz pada titik tersempit sekitar 54 km. Iran menguasai hampir seluruh titik strategis Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran penting di dunia dan satu-satunya jalan keluar dari Teluk Persia. Kapal-kapal tanker pembawa minyak mentah dari negara-negara produsen minyak di Teluk Persia, seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, Oman, Irak dan Iran sendiri harus melewati selat sempit itu untuk menuju laut lepas.

Sekitar 97% minyak dan 50% transaksi perdagangan negara-negara  teluk melalui Selat Hormuz. Menurut U.S. Energy Information Administration, di tahun 2011 rata-rata 15 kapal tanker yang memuat 17 juta barel minyak melewati selat ini setiap harinya. Maka dapat dibayangkan resikonya, apabila selat Hormuz jadi ditutup, karena sama artinya menutup 40% pasokan minyak yang dibutuhkan dunia. Harga minyak melambung adalah pasti. Dan jika harga melambung, ekonomi global akan mengalami krisis. Yang paling terpukul tentu saja Uni Eropa yang selama dua tahun ini mengalami krisis parah. Dan juga China, India, Jepang dan Korea Selatan, yang selama ini paling banyak menyedot minyak Timur Tengah.

Bagi Amerika, terhambatnya suplay minyak dari Timur Tengah bukan masalah berarti karena konsumsi minyak Amerika dari kawasan ini hanya 9%. Analisa sementara, apabila Iran menutup Selat Hormuz dan kemudian Amerika dkk mengobarkan perang, diperkirakan Iran hanya akan sanggup bertahan antara 1 sd 2 bulan. Dalam masa itu Amerika dapat menutupi kehilangan pasokan minyak dari Timur Tengah dengan melepaskan cadangan minyak strategis sebesar 700 juta barel. Cadangan minyak ini merupakan ‘tabungan’ Amerika untuk menghadapi saat-saat krisis seperti sekarang ini. Badan Energi Internasional (IEA) berencana melepaskan 14 juta barel per hari jika terjadi perang di Selat Hormuz. Jumlah tersebut sudah cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan minyak yang diperkirakan sekitar 88,9 juta barel per hari di tahun 2012. Artinya, perang bisa jadi akan menguntungkan Amerika dengan melepaskan cadangan minyaknya saat harga minyak melambung.

Bahkan perang belum dimulai pun Amerika sudah untung. Ketegangan di Selat Hormuz menjadikan bisnis senjata Amerika laris manis. Arab Saudi yang terganggu dengan gelombang revolusi Arab dan kemajuan Iran, menggelontorkan lebih dari US $ 60 miliar untuk memborong jet tempur, helikopter, rudal balistik, radar sistem peringatan dini, dan senjata anti rudal dari Amerika. Amerika juga sudah sepakat memasok 84 pesawat Boeing baru jenis  F-15SA dan memodernisasi 70 pesawat  berbagai type milik Arab Saudi dengan nilai US $ 29,4 miliar. Arab Saudi belum juga “pd” untuk kontes di selat Hormuz, sehingga menambahkan lagi anggarannya sebesar US $ 30 milyar khusus untuk modernisasi Angkatan Laut. Selain belanja di Amerika,  Arab Saudi juga membeli 200 armada tank Leopard 2A7+  dari Jerman.

Kuwait juga tidak tinggal diam dalam persiapan kontes di Selat Hormuz, mereka mendatangkan 209 rudal pencegat GEM-T Patriot MIM-104E seharga US $ 900 juta.  GEM-T (Guidance Enhanced Missile-T) Patriot adalah produksi versi terbaru Raytheon Co`s yang ditujukan untuk menghadang ancaman rudal  dari Iran.

Israel, yang secara pesenjataan sudah paling modern di kawasan, tidak mau ketinggalan dengan sekutunya dan memutuskan  membeli 20 jet tempur F-35. Bersama Amerika Serikat, Israel juga membangun perisai balistik “Arrow II” senilai US $ 1 milyar yang mampu menembak jatuh peluru kendali pada ketinggian yang lebih tinggi, serta berencana membeli empat baterei anti-roket jarak-dekat Iron Dome. Baterei senilai US $ 203,8 juta ini terdiri atas satu sistem pertahanan udara bergerak dengan rudal pencegat yang dipandu radar dan diluncurkan dari landasan tembak seukuran truk. Baterei type lama yang bernilai US $ 50 juta pada konflik dengan Hizbullah tahun 2006, 2008 dan 2009 terbukti efektif menangkal rudal Iran yang dioperasikan Hizbullah.

Serbuan ke Iran adalah moment yang paling ditunggu Israel. Israel mempunyai kepentingan atas hancurnya Iran karena merasa dominasinya di kawasan terancam dengan kemajuan Iran di berbagai bidang. Iran juga adalah pendukung Hizbullah dan Hamas yang selama ini menjadi musuh utama Israel.

Dalam situasi yang masih saling “plotot” di Selat Hormuz,  SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute) mencatat senjata Amerika yang telah terjual mencapai US $ 123 miliar (Weapons Sales Maintains U.S. Supremacythe, http://www.darkgovernment.com). Kesimpulannya, perang adalah bisnis Amerika.
Ada yang untung ada yang buntung. Korea Selatan selain defisit minyak sebesar 247.000 bph,  juga terancam rugi US$3,7 miliar dalam proyek pembangunan pipa minyak sepanjang 1.680 kilometer untuk mengalirkan minyak dari pelabuhan Neka di wilayah utara Iran ke pelabuhan Jask di Selatan Iran.

Rencannya proyek ini beroperasi pada 20 Maret 2012 untuk mengangkut 200.000 bph minyak mentah ke  Hyundai Oilbank dan diolah oleh SK Innovation. Perusahaan minyak Singapura, Kuo Oil Pte Ltd,  yang merupakan salah satu importir terbesar minyak dari Iran juga menjadi korban sangsi Amerika. Perusahaan China, Zhuhai Zhenrong, juga mengalami kerugian. Zhuhai Zhenrong Co adalah satu dari tiga perusahaan pemasok produk-produk minyak olahan terbesar ke Iran, bersama perusahan lain dari Singapura dan Uni Emirat Arab, Zhuhai Zhenrong dilarang mendapat lisensi ekspor dari AS dan menerima berbagai sanksi lain yang menghalangi mereka berbisnis di AS.

Indonesia, yang penyusunan APBN sangat terpengaruh harga minyak sudah pasti merasa cemas dengan keadaan ini. Dalam hal bisnis, Indonesia (Pertamina) yang saat ini bersama Iran (National Iranian Oil Refining and Distribution Company)  mendirikan perusahaan patungan, Banten Bay Refinery, di Bojanegara dengan nilai US$ 4 miliar, dipastikan akan terganggu. Apabila diteruskan, maka akan mendapat sangsi dari Amerika dan Eropa yang sudah pasti akan menyulitkan mengingat Pertamina banyak mendatangkan teknologi minyak dari Amerika dan Eropa. Namun jika dihentikan, selain kerugian finansial juga akan mengganggu hubungan baik Indonesia – Iran yang selama ini terjalin harmonis.

Selama ini Pertamina juga mengimpor minyak dari Timur Tengah termasuk Iran. Minyak import dari Timur Tengah ini kemudian diolah di kilang minyak Cilacap yang merupakan kilang terbesar di Indonesia. Mungkin dapat dibayangkan jika kilang terbesar berhenti operasi karena tidak ada pasokan. Bukan saja soal harga yang melambung tetapi juga akan terjadi kelangkaan, dua sebab yang cukup menjadi ancaman stabilitas nasional.

Diluar itu semua, ada pelajaran penting bagi Indonesia, yaitu betapa pentingnya penguasaan jalur laut. Iran yang hanya memiliki satu chokepoint terpenting di dunia dapat memainkan peran signifikan dalam tata pergaulan dunia. Sementara Indonesia yang memiliki tiga chokepoint di dunia semestinya dapat berperan lebih dalam membangun peradaban kelautan. Demikian pula dengan Angkatan Laut Iran yang tidak lebih hebat dari Angkatan  Laut Indonesia. Mereka mampu melakukan manuver detterence kepada negara-negara besar di dunia. Maka sebenarnya Indonesia pun dapat memainkan peran serupa dan harus lebih hebat dengan mencermati berbagai keunggulan yang dimiliki Indonesia. (Misbcah Zakaria)

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Iran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s