PEMIKIRAN SALAFI DAN ANCAMAN PERPECAHAN UMAT

Gerakan Kebangkitan Islam dan transformasi satu dekade lalu di negara-negara Islam muncul sebagai akibat dari aktifnya faksi-faksi politik dan aliran pemikiran. Akan tetapi, be

berapa gerakan dan pemikiran itu menyimpang jauh dari ajaran-ajaran murni Islam, seperti gerakan Salafi. Setelah wafatnya Rasulullah Saw, sebagian warga dan sahabat memilih mengabaikan wasiat Nabi tentang kepemimpinan Ali bin Abi Thalib as atas umat Islam dan hanya sedikit yang menjalankan wasiat tersebut. Penyimpangan itu telah menelurkan berbagai macam mazhab dan sekte dalam Islam dan setiap kelompok juga menyusun sekumpulan prinsip pemikiran dan keyakinan sebagai dasar ajarannya.

Ada banyak mazhab dan sekte yang terbentuk di tengah umat Islam dalam 14 abad setelah pengutusan Rasul Saw. Satu-satunya karakteristik mazhab-mazhab tersebut adalah mengklaim dirinya sebagai pengikut Nabi dan kitab suci al-Quran. Namun realitanya, keyakinan-keyakinan mazhab itu tidak sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasul Saw. Meskipun mazhab-mazhab itu mengaku menghidupkan sunnah Nabi Saw, tapi dengan merujuk pada sunnah hakiki utusan Allah Swt ini, kita akan dikejutkan dengan sebuah fakta bahwa ajaran-ajaran Rasul Saw berbeda jauh dengan klaim sebagian kelompok Muslim. Gerakan Salafi termasuk salah satu kelompok tersebut.

Pada masa sekarang tidak ada definisi yang jelas tentang Salafisme. Istilah Salafi dan gerakan Salafi kadang dipakai untuk definisi yang lebih luas dan mencakup semua pengikut Ahlu Sunnah. Mereka menilai sejarah Salafi kembali pada era kemunculan Islam dan setiap orang yang memiliki pandangan radikal akan dianggap sebagai penganut sekte Salafi. Sebagian lain menganggap Salafi sama dengan kelompok Wahabi dan gerakan Salafi dinilai identik dengan Wahabisme. Di kalangan politikus dan media Barat, gerakan-gerakan Sunni yang menyerang Barat dianggap sebagai kelompok Salafi. Barat berusaha menempatkan mazhab-mazhab Islam yang menentang mereka sebagai kelompok Salafi sehingga bisa dengan mudah melancarkan propaganda miring dan menyerang mereka.

Pada dasarnya, baik Salafi maupun Wahabi adalah sama, mereka sama-sama mengikuti ajaran yang dibawa oleh Muhammad ibn Abdul Wahab ibn Sulaiman an-Najdi. Ajaran mereka sebagian besarnya merujuk pada tokoh-tokoh yang memang kontroversial, seperti: Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Wahab, Nashirudin al-Albani, Ibnu Utsaimin, Ibnu Baz, dan lain-lain baik dalam pendapat masalah akidah, manhaj, perilaku, maupun sikap. Sehingga dampaknya sering terjadi perpecahan, permusuhan, kedengkian, saling mengkafirkan, menjatuhkan, bahkan saling membunuh di antara umat Islam sendiri yang tidak sepaham dengan mereka.

Dunia Islam saat ini menghadapi ancaman-ancaman serius pada tingkat internal dan internasional. Salah satu ancaman itu adalah gerakan-gerakan radikal akidah yang dikenal sebagai kelompok Salafi. Penganut sekte Salafi berusaha memanfaatkan kondisi yang ada dan menutupi perbedaan prinsipilnya dengan mazhab-mazhab lain dengan mengusung slogan “musuh kolektif” bernama Syiah. Kelompok Salafi berupaya menampilkan keselarasan dirinya dengan para penentang mereka di tengah Ahlu Sunnah untuk melawan mazhab Syiah. Sebenarnya, gerakan Salafi hanya memanfaatkan mazhab dan sekte-sekte lain sebagai alat untuk menyerang Syiah.

Gerakan Salafi tidak hanya memiliki perbedaan fundamental dengan mazhab-mazhab fikih dan kalam Ahlu Sunnah, tapi di dalam Salafi sendiri juga terdapat banyak friksi dan kontradiksi. Hal ini telah mendorong perpecahan dan lahirnya sempalan-sempalan baru di dalam gerakan Salafi sendiri.

Istilah Salafi pada mulanya merujuk pada golongan yang menjalankan agama dengan mengambil teladan dari tiga generasi pertama Islam. Ketiga generasi ini dianggap sebagai contoh terbaik bagaimana Islam dipraktikkan. Akan tetapi, Salafiyah secara terminologi merujuk pada sebuah kelompok yang mengaku mengajarkan syariat Islam secara murni tanpa adanya tambahan dan pengurangan, berdasarkan syariat yang ada pada generasi Nabi Saw dan para sahabat serta orang-orang setelahnya.

Pokok ajaran dari ideologi dasar Salafi adalah bahwa Islam telah sempurna dan selesai pada masa Nabi Saw dan para sahabatnya, oleh karena itu tidak diperlukan lagi inovasi dan ijtihad untuk menjawab tantangan zaman. Paham ideologi Salafi berusaha untuk menghidupkan kembali praktik Islam yang diklaim lebih mirip dengan masa Nabi Saw pertama kali berdakwah. Salafisme juga telah digambarkan sebagai sebuah versi sederhana kelompok Islam, dimana penganutnya mengikuti beberapa perintah dan ajaran.

Mereka meyakini bahwa akidah Islam harus disampaikan sebagaimana yang telah dijelaskan pada masa sahabat dan tabiin. Akidah Islam harus diadopsi dari al-Quran dan Sunnah, sementara para ulama tidak boleh memaparkan argumentasi-argumentasi yang bukan dari al-Quran. Dalam pemikiran Salafiyah, metode akal dan logika sama sekali tidak diakui dan satu-satunya argumentasi untuk membenarkan akidah-akidahnya adalah mengadopsi sebagian ayat dan riwayat yang sesuai dengan pandangan mereka. Akan tetapi, Salafiyah menganggap ucapan dan tindak tanduk seluruh sahabat dan tabiin baik yang saleh maupun tidak, sebagai timbangan perilaku mereka.

Salah satu tokoh Salafi adalah Ibnu Taimiyah. Dia berpendapat bahwa tiga generasi pertama Islam, yaitu sahabat, kemudian tabiin yaitu generasi yang mengenal langsung para sahabat Nabi, dan tabi tabiin yaitu generasi yang mengenal langsung para tabiin, adalah contoh terbaik untuk kehidupan Islam. Ibnu Taimiyahmenentang logika secara sengit dengan mengarang buku “Fashihatu ahlil Iman fi Raddi al-Mantiqil Yunani” (Ketangkasan Pendukung Keimanan Menangkis Logika Yunani).

Ibu Taimiyah menggunakan hadis-hadis yang tidak sahih dan penafsiran keliru dari ayat-ayat al-Quran untuk membenarkan klaim-klaimnya. Tokoh-tokoh radikal seperti, Osama bin Laden, Ayman al-Zawahiri, dan Abu Musab al-Zarqawi menggunakan pandangan-pandangan Ibnu Taimiyah untuk menjustifikasi aksi-aksi teror mereka. Barat juga memanfaatkan mereka sebagai alat untuk menyerang Muslim dan mengesankan Islam sebagai agama kekerasan dan terorisme. Ibnu Taimiyah bahkan menggolongkan pihak lain sebagai kafir jika memiliki penafsiran yang berbeda dengan pemahamannya dan menghalalkan darah mereka.

Kelompok Wahabi sebagai pengikut Ibnu Taimiyah mengadopsi pemikiran-pemikiran radikal dan melegalkan kekerasan terhadap kelompok lain. Wahabi hingga sekarang telah membantai manusia-manusia tak berdosa hanya karena tidak sejalan dengan pemahaman ekstrim mereka. Kelompok radikal ini sampai sekarang masih menebar maut di berbagai negara Islam.

Ibnu Taimiyah juga menolak argumentasi-argumentasi akal dan ijtihad. Dia sama sekali tidak menyisakan ruang untuk mengutarakan pandangan terkait kebutuhan-kebutuhan umat Islam di era modern. Padahal, rentang waktu antara kita dan para sahabat dan bahkan Ibnu Taimiyah sendiri sangat jauh dan kebutuhan-kebutuhan masa kini berbeda dengan tempo dulu. Pada dasarnya, Ibnu Taimiyah menafikan semua simbol dan fenomena kehidupan masa kini. Dengan kata lain, Muslim tidak dibenarkan untuk memanfaatkan penemuan atau produk pemikiran non-Muslim sekalipun itu menguntungkan umat Islam. Sementara Rasul Saw mewanti-wanti umat Islam untuk menuntut ilmu pengetahuan bahkan sampai ke negeri Cina.

Alhasil, Ibnu Taimiyah dengan fanatisme ekstrim yang dianutnya, telah menutup jalan bagi kemajuan umat Islam dan dari sisi lain, juga menyebarluaskan perselisihan dan kekerasan di tengah mereka. Sementara menyangkut hubungan umat Islam dengan pengikut agama lain, Ibnu Taimiyah juga melegalkan kekerasan atas non-Muslim dan menyeru untuk menyakiti mereka. Dia berkata, “Beberapa ulama menukil dari Nabi Saw bahwa setiap orang yang menyakiti non-Muslim, maka ia telah menyakitiku, ucapan ini adalah sebuah kebohongan dan sama sekali tidak otentik.”

Pada bagian pertama, kita telah mengkaji pemikiran Salafi ekstrim dan menyimpulkan bahwa mereka menunggangi gerakan Kebangkitan Islam untuk menyebarluaskan faham-faham Salafi di tengah umat Islam. Pemikiran-pemikiran sesat itu dalam kebanyakan kasus telah menciptakan permusuhan dan kedengkian di antara mazhab-mazhab Islam.

Dalam etika politik baru, Salafi adalah kelompok yang memahami teks-teks agama secara literal dan kaku. Salafi ekstrim tidak meyakini konsep ijtihad dan pelibatan akal untuk menemukan dasar hukum atas masalah-masalah kontemporer. Misalnya saja, beberapa waktu lalu seseorang di Arab Saudi bertanya tentang hukum membawakan bunga untuk menjenguk orang sakit. Kemudian seorang ulama Salafi menjawab bahwa kami tidak menemukan hal seperti itu dalam riwayat dan hadis Nabi Saw, oleh karena itu pertebuatan tersebut adalah haram dan bidah.

Saat ini, ada banyak perbuatan yang dinilai baik oleh masyarakat dunia dan tentu saja al-Quran dan hadis tidak secara jelas menyinggung masalah itu, namun boleh tidaknya kebiasaan baik itu bisa dibuktikan dengan melihat sejarah perjalanan kehidupan para manusia suci plus sedikit menyelami teks-teks agama dengan menggunakan akal sehat. Kitab suci al-Quran, hadis Nabi Saw dan Ahlul Bait as sangat menekankan manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya. Sayangnya, kelompok Salafi dengan pemahaman yang dangkal dan kaku, tidak hanya menyerang non-Muslim, tapi juga mengkafirkan mazhab-mazhab Islam.

Kelompok Salafi juga terbagi ke dalam beberapa sempalan. Salah satu alasan terpecahnya pemikiran Salafi adalah perbedaan beberapa prinsip dasar di antara sesama mereka. Misalnya saja, Wahabi sangat menekankan riwayat baik itu shahih atau tidak, sebagai sumber pengetahuan dan landasan keyakinan mereka. Sementara kelompok lain Salafi tidak begitu menaruh perhatian pada riwayat dan secara langsung merujuk pada al-Quran. Atau contoh lain adalah kelompok Wahabi menentang keras tasawuf, sementara sekte Salafi Deobandi di India sangat komitmen dengan dua prinsip dasar tasawuf yaitu tarekat dan syariat. Salah satu perbedaan lain dapat ditemukan pada generasi baru Wahabi atau yang dikenal dengan Neo-Wahabisme. Sekte ini menolak pembunuhan dan pengkafiran dan tidak ada jalan lain kecuali menerima argumentasi akal.

Kita juga menemukan bahwa terkadang dua gerakan Salafi memiliki kemiripan dari segi akidah dan bahkan sikap-sikap politik, akan tetapi mereka berbeda dalam metode dan manhaj. Sebagai contoh, Jamiat Ulama Islam di Pakistan menggunakan jalur diplomatik untuk mencapai tujuan-tujuannya dan berusaha berpartisipasi aktif di kancah politik serta memperjuangkan cita-citanya melalui jalur politik. Namun, Sipah-e-Sahaba Pakistan mengadopsi metode teror dan kekerasan untuk memenuhi ambisi-ambisinya. Atau gerakan Neo-Wahabisme lebih memilih metode dakwah untuk memperluas pengaruhnya, tetapi gerakan-gerakan ekstrim tetap mengedepankan metode kekerasan dan membantu kelompok-kelompok teroris.

Menarik untuk diketahui bahwa perbedaan pandangan di tengah Salafiyah telah mendorong setiap sekte Salafi untuk mengambil kebijakan dan sikap yang berbeda dalam politik. Dari segi politik, Salafi dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu, Salafi Negara dan Salafi Takfiri. Pada dasarnya, perbedaan pandangan mereka terletak pada boleh tidaknya melakukan revolusi dan menggulingkan pemerintah-pemerintah tiran. Salafi Negara berpendapat bahwa penguasa di sebuah negara wajib ditaati secara syariat dan dia adalah pemimpin umat Islam. Hal ini terlepas dari bagaimana ia memperoleh kekuasaan dan selama belum menampakkan kekafirannya secara terang-terangan.

Salafi Negara menyatakan bahwa jika penguasa negara melanggar syariat Islam, maka warga dan ulama hanya berkewajiban menjalankan amar makruf secara lisan dan tidak dibenarkan menentang penguasa atau melancarkan revolusi. Negara-negara dengan sistem monarki mutlak di kawasan Teluk Persia mendukung model Salafi seperti ini sehingga para raja juga mendapatkan legalitas dari mereka dan terbebas dari ancaman revolusi. Dari Salafi Negara muncul sebuah sekte baru dengan nama Neo-Salafis yang dipimpin oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani.

Rezim-rezim despotik telah mengubah gerakan pemikiran itu menjadi faham konservatif dan memanfaatkan mereka untuk melawan pertumbuhan Salafi Takfiri dan para penentang penguasa. Kelompok Neo-Salafis sebagaimana Salafi lainnya, menyerukan kembali kepada ajaran Islam yang terbebas dari bidah modern dan kuno. Namun poin penting faham ini adalah mengharamkan aktivitas politik dan jihad secara kolektif dan terorganisir. Neo-Salafis meyakini bahwa pendidikan dan pensucian masyarakat pada akhirnya akan berujung pada terbentuknya pemerintahan Islam, tanpa harus melawan rezim penguasa atau menyangsikan legalitas kebijakannya. Mereka dikenal dengan slogan populernya yaitu “Berpolitik adalah meninggalkan politik.”

Sekte lain kelompok Salafi adalah Salafi Takfiri, yang memiliki perbedaan keyakinan dengan Salafi Negara. Gerakan Salafi Takfiri adalah kelompok yang menuduh para penentang mereka sebagai kafir dan keluar dari Islam. Menurut dasar pemikiran mereka, ada konsekuensi antara iman dan amal. Dengan kata lain, jika seseorang beriman kepada Allah Swt dan Islam, lalu melakukan dosa besar, maka ia telah keluar dari Islam dan menjadi kafir. Dalam sejarah Islam, satu-satunya sekte yang memiliki keyakinan seperti itu adalah kelompok Khawarij.

Keyakinan ini memungkinkan kelompok Wahabi untuk membenarkan penggunaan kekerasan terhadap sesama Muslim dan melabelkan penentangnya sebagai orang musyrik dan menghalalkan darah mereka. Gerakan Wahabi akan memberi label kafir kepada orang-orang yang tidak sepaham dan tidak meyakini pemikiran mereka. Lembaran sejarah Wahabi dipenuhi oleh pembunuhan dan pembantaian Muslim oleh para pengikut sekte itu hanya karena tidak sepaham dengan mereka.

Kelompok Takfiri dengan mudah menyesatkan dan mengkafirkan seseorang atau sekelompok Muslim tanpa bukti yang kuat. Sepanjang sejarah, kelompok Wahabi aktif mengobarkan perang terhadap umat Islam. Doktor Ali Rabii, salah seorang syeikh Wahabi baru-baru ini menyerukan pembantaian di Suriah. Dikatakannya, “Kami bangga membunuh anak-anak di Suriah dan Irak.” Dia bahkan menekankan bahwa membunuh anak-anak ini adalah sebuah perang suci. “Amerika Serikat sangat bangga apabila serdadu mereka berhasil membunuh puluhan anak kecil. Lalu, mengapa kita tidak berbangga diri dengan membunuh anak-anak Syiah.”

Kelompok Wahabi dan para pendukungnya bahkan merusak pekuburan Baqi, tempat pemakaman para Imam Syiah dan banyak tokoh besar Islam. Di pekuburan Baqi, ada makam Imam Hasan Mujtaba as, Imam Ali Zainal Abidin as, Imam Muhammad Baqir as dan Imam Jakfar Shadiq as. Aksi perusasakan Wahabi ini sangat melukai umat Islam, terutama kaum Syiah. Selain merusak kuburan para Imam Syiah, mereka juga meratakan makam Abdullah dan Aminah as, ayah dan ibu Nabi Muhammad Saw. Perlu diketahui bahwa berkuasanya kelompok Wahabi di Arab saudi merupakan peristiwa paling buruk yang terjadi dalam sejarah Islam di abad 14 Hijriah.

Di Irak, kelompok Wahabi dan Takfiri juga melakukan pembantaian luas atas umat Islam. Hingga kini, ratusan warga Syiah Irak tewas dibantai oleh teroris Wahabi dan Takfiri. Pada tahun 2007, bom mobil di kota Amarly menewaskan 200 orang dan melukai 300 lainnya. Kelompok Wahabi dan Takfiri di Irak beraktivitas di bawah organisasi yang mereka sebut Lembaga Pemerintah Islam Irak. Aktivitas tersebut dimulai sejak pendudukan Amerika Serikat atas negara kaya minyak itu

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s