Kajian Bersedekap dalam Shalat

by: syiahali

Kaum Muslim sepakat bahwa tidak wajib meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri atau bersedekap, yang dalam bahasa Arab disebut taktif atau takfir. Akan tetapi, mereka berselisih pendapat dalam menetapkan hukumnya (selain dari wajib itu) .

Mazhab Hanafi mengatakan, ” Bersedekap itu hukumnya sunah, bukan wajib. Yang terutama bagi laki-laki adalah meletakkan telapak tangan di atas punggung tangan kiri dan ditempatkan di bawah pusar. Sedangkan bagi perempuan adalah meletakkan kedua tangannya di atas dada.” (Fiqh ‘Alaa Madzahib al-Arba’ah”, juz 1, kitab “Sholat”, bab “Sunan al-Sholat)

Mazhab asy-Syafi’i mengatakan, ” Hal itu disunahkan bagi laki- laki dan perempuan. Yang paling utama adalah meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan ditempatkan di antara dada dan pusar, dan agak bergeser ke arah kin.”

Mazhab Hanbali mengatakan, ” Hal itu adalah sunah. Yang paling utama adalah meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kin, dan ditempatkan di bahwa pusar.”

Mazhab Maliki mengatakan, ” Hal itu boleh dilakukan. Akan tetapi, di dalam salat fardu disunahkan meluruskan tangan (ke bawah) .” (bisa dilihat dari buku Bidayatul Mujtahid, karya Ibnu Rusdy Al-Qurthubi Al-Maliki)

Mazhab Jafari, yang termasyhur di kalangan mereka memandang bahwa bersedekap itu haram dan membatalkan salat. Sebagian mereka mengatakan, ” Bersedekap itu haram tetapi tidak membatalkan salat.” Sementara kelompok ketiga, seperti al-Halabi, mengatakan bahwa bersedekap itu makruh.
Hadis-hadis yang mereka jadikan dalil bahwa bersedekap adalah sunah, tidak cukup untuk membuktikannnya sebagai sesuatu yang di-sunahkan. Berikut ini adalah hadis-hadis yang mereka jadikan dalil bahwa hal itu merupakan sesuatu yang disunahkan padahal menurut para imam ahlulbait hal itu adalah bid’ah.

Yang mungkin dijadikan dalil bahwa bersedekap itu merupa- kan sunah dalam salat tidak lepas dari tiga riwayat berikut:

  1. Hadis dari Sahal bin Sa’ad yang diriwayatkan al-Bukhari
  2. Hadis dari wa ‘il bin Hujur yang diriwayatkan Muslim. Al- Baihaqi menukilnya melalui tiga sanad
  3. Hadis dari ‘Abdullah bin Mas’ud yang diriwayatkan al-Baihaqi dalam Sunan-nya.Berikut ini kami ketengahkan kepada Anda kajian terhadap masing-masing hadis di atas.

1. Hadis dari Sahal bin Sa’ad yang diriwayatkan al-Bukhari.

“ Orang-orang diperintahkan agar seseorang yang sholat hendaknya meletakkan tangan kanannya di atas lengan kirinya . “ (Shohih Bukhari, jilid 1, kitab “Sifatu al-Sholat”, bab “Wadh’u al-Yumna ‘Alaa al-Yusra”)

Isma ‘il berkata, ” Hal itu dinisbatkan (yumna) , bukan ia menisbatkan (yamni) .” (Ibnu Hajar, Fath Al-Bârî, 2/334)

Riwayat tersebut menjelaskan tata cara bersedekap. Namun, yang menjadi persoalan adalah periwayatannya dari Nabi saw. Hadis itu tidak bisa dijadikan dalil karena dua alasan berikut:

Dari riwayat ini, terlihat bahwa perintah bersedekap tersebut belum tentu berasal dari Nabi saw. Sebagian ulama, yang mendukung hadits ini, hanya menganggapnya dari Nabi saww. Oleh karena itu, tidak heran bila sebagian ulama lainnya menganggap hadits tersebut cacat. Karenanya timbul pertanyaan, kalau hadits tersebut dari Nabi mestinya menggunakan kalimat : “Nabi memerintahkan”, bukan “Orang-orang diperintahkan”. Sehingga, mungkin saja hukum tersebut diperintahkan oleh khalifah, atau yang lain, setelah wafatnya Nabi saww.

Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Abu Hazim : “Aku tidak mengetahuinya”. Sehingga, jelas sekali bahwa ia tidak mengetahui hukum tersebut, kecuali bahwa hukum tersebut dianggap berasal dari Nabi saw.

2. Hadis dari Wa.il binHujur

Diriwayatkan dengan beberapa redaksi:

A. Muslim meriwayatkan dari wa’il bin Hujur bahwa ia melihat Nabi saw mengangkat kedua tangannya ketika memulai salat sambil bertakbir. Lalu beliau berselimut dengan pakaiannya. Kemudian beliau bersedekap. Ketika hendak rukuk, beliau mengeluarkan kedua tangannya dari pakaiannya, kemudian mengangkatnya sambil bertakbir, dan rukuk (Musnad Ahmad, jilid 4, hadits Wa’il bin Hujur; Shohih Muslim, Jilid 1, kitab “Al-Sholat”)

Berdalil dengan hadis tersebut berarti berdalil dengan perbuatan. Perbuatan tidak bisa dijadikan dalil kecuali diketahui maksudnya. Padahal, perbuatan tersebut tidak jelas tujuannya karena lahiriah hadis itu menyebutkan bahwa Nabi saw menyambungkan ujung-ujung bajunya, lalu ditutupkan pada dadanya dan bersedekap. Apakah perbuatan itu dimaksudkan agar menjadi sunah dalam salat? Apakah beliau melakukannya semata-mata agar pakaian itu tidak lepas. Atau apakah beliau melekatkan pakaian itu pada badannya hanya untuk menjaga dirinya dari hawa dingin? Perbuatan itu tidak jelas maksudnya. Karenanya perbuatan itu tidak bisa dijadikan dalil kecuali diketahui bahwa hal itu dilakukan agar menjadi sunah.

Nabi saw telah melaksanakan salat bersama kaum Muhajirin dan Anshar selama lebih dari sepuluh tahun. Kalau hal itu ter- bukti datang dari Nabi saw tentu akan banyak periwayatan dan tersebar luas, dan niscaya periwayatannya tidak hanya terbatas pada wa ‘il bin Hujur saja. Oleh karena itu, periwayatan oleh wa’il bin Hujur memunculkan dua kemungkinan itu.

Memang terdapat periwayatan hadis yang sama melalui sanad yang lain, tetapi tanpa menyebutkan kalimat ” Kemudian beliau menyelimutkan pakaiannya “. Tetapi ternyata ada juga yang ditolak oleh sebagian ulama Ahlusunnah, seperti hadits dari Qubaishah bin Halb; yang mana ia dinilai majhul (orang yang tidak dikenal) oleh Ibn Madini dan Nasa’i, karena memang tidak ada yang meriwayatkan hadits darinya, kecuali Simak bin Harb (Al-Syaukani, “Nailul Authar”, jilid 2, kitab “Sifatu al-Sholat”, bab “Maa Ja’a fi Wadh’i al-Yamin ‘Alaa al-Syimal”.)

B. Al-Baihaqi meriwayatkan hadis itu melalui sanadnya dari Musa bin ‘Umair: Menyampaikan kepada kami ‘Alqamah bin wa’il dari bapaknya bahwa Nabi saw, ketika berdiri dalam salat, menyedekapkan tangan kanannya di atas tangan kirinya. Saya juga melihat ‘Alqamah melakukannya.Ka1au masalah ini berputar di antara orang-orang yang suka melebih-lebihkan dan yang suka mengurangi, maka yang kedua yang dipilih. Cermatilah hal ini seperti kajian pada bagian pertama, maka akan tampak bahwa maksud perbuatan itu tidak je1as.

Padahal, kalau Nabi saw terus-menerus melakukan perbuatan tersebut, pastilah hal itu diketahui oleh masyarakat luas. Sedarigkan kalimat “Saya melihat ‘Alqamah melakulkannya ” menunjukkan bahwa perawi tersebut mempelajari sunah itu darinya.

C. Al-Baihaqi meriwayatkan hadis point B dengan sanad yang lain dari wa’il bin Hujur . Di dalamnya terdapat masalah seperti yang telah kami sebutkan dalam hadis sebelumnya.

3. Hadis dari ‘Abdullah bin Mas’ud yang diriwayatkan al-Baihaqi dalam Sunan-nya

Baihaqi, Nasa’i, Ibn Majah, dan Abu Daud meriwayatkan hadits dari Ibn Mas’ud, yang mengatakan bahwa ia melaksanakan sholat dengan menyedekapkan tangan kiri di atas tangan kanannya. Dan ketika Nabi (saw) melihatnya, maka ia menyedekapkan tangan kanannya di atas tangan kirinya (Sunan Abu Dawud, juz 1, kitab “Al-Sholat”, bab “Wadh’u al-Yumna ‘Alaa al-Yusra fi al-Sholat”).

Aneh sekali. Seorang sahabat terkenal dan terpelajar, seperti Abdullah bin Mas’ud, tidak mengetahui cara menyedekapkan tangan dalam sholat. Apalagi ia termasuk orang-orang awal yang masuk Islam. Terlebih lagi, pada rangkaian sanad hadits ini terdapat Husyaim bin Basyir, yang telah dikenal sebagai mudallis (pemalsu) hadits (Al-Dzahabi, “Siyar A’lami Nubala”, jilid 8, hal. 289-291).

Selain semua pembahasan di atas, sebenarnya terdapat juga hadits-hadits yang justru menyatakan kemestian untuk meluruskan tangan saat sholat, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Mundzir, Al-Nawawi, Ibnu al-Qasim, dan Al-Mahdi (dalam kitabnya “Al-Bahr”). Sementara, Ibn Sayyidin Nas mengutip dari Al-Auza’i, yang memperbolehkan untuk memilih sedekap atau meluruskan tangan. (Al-Syaukani, “Nailul Authar”, jilid 2, kitab “Sifatu al-Sholat”, bab “Maa Ja’a fi Wadh’i al-Yamin ‘Alaa al-Syimal”)

Sementara itu, Ahlul Bait as melarang bersedekap (yang diistilahkan dengan takfir) dalam sholat. Riwayat tentang hal ini sangat banyak, di antaranya sebagai berikut.:

Muhammad bin Muslim meriwayatkan hadis dari ash-shadiq as atau al-Baqir as: Saya katakan kepadanya, “Seorang laki-laki bersedekap dengan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri- nya.” Imam as menjawab, “Hal itu adalah takfir yang tidak boleh dilakukan.” (Al-Hurr al-Amili, “Wasail al-Syi’ah”, jilid 7, hal. 266, riwayat 9295)

Zurarah meriwayatkan hadits dari Imam al-Baqir as, yang berkata : “Janganlah engkau melakukan takfir (bersedekap), karena hal itu hanya dilakukan oleh orang-orang Majusi.” (Ibid, riwayat 9296; Al-Kulaini, “Al-Kafi”, jilid 3, hal. 299, riwayat 1)

Imam al-Shadiq as mengatakan : “Janganlah engkau melakukan takfir (bersedekap), karena hal itu hanya dikerjakan oleh orang-orang Majusi.” (Syaikh Shaduq, “Man Laa Yahdhuruhu al-Faqih”, jilid 1, hal. 303, riwayat 916)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s