Diperbolehkannya menggabung dua shalat

by: syiahali

Syiah dikenal menggabung dua shalatnya. Misalnya, ketika seorang Syiah telah melakukan shalat dhuhur, secara langsung setelahnya ia dapat melakukan shalat ashar. Begitu juga setelah shalat maghrib ia bisa langsung shalat isya’.
Itu tidak diperbolehkan bagi Ahlu Sunah. Orang-orang Ahlu Sunah melakukan tiap shalat pada waktunya masing-masing. Yakni mereka tidak melakukan shalat ashar begitu shalat dhuhur usai secara langsung, namun mereka menunggu waktu ashar tiba baru mereka shalat ashar.


Doktor Muhammad Tijani Samawi sebelum Syiah memiliki pengalaman menarik berkaitan dengan hal ini. Ia bercerita bahwa saat itu ia sedang shalat menjadi makmum Ayatullah Bagir Shadr, seorang marj’a besar Syiah di Iraq.
Saat itu mereka sedang shalat dhuhur berjama’ah. Seusai shalat dhuhur, setelah melakukan shalat-shalat sunah, imam langsung berdiri lagi untuk melakukan shalat ashar. Doktor Tijani pun bingung apakah dia harus ikut shalat ashar langsung setelah dhuhur atau tidak. Karena ia berada di tengah-tengah shaf jama’ah dan tidak memungkinkan baginya untuk keluar, akhirnya ia pun ikut shalat ashar berjama’ah. Namun sampai seusai shalat ia tetap bingung apakah shalat asharnya benar atau tidak karena dilakukan langsung seusai shalat dhuhur.
Ia pun menanyakan hal itu kepada Ayatullah Baqir Shadr, apakah perbuatan itu betul?
Shahid Shadr berkata: “Ya, betul. Kita diperbolehkan melakukan dua shalat wajib bersamaan (shalat dhuhur dan asar, shalat maghrib dan isya’). Yakni seusai shalat yang satu, dilanjutkan shalat yang kedua secara langsung; meskipun tidak ada udzur atau hal-hal yang menuntut kita untuk melakukannya bersamaan.”
Doktor Tijani bertanya: “Apa dalil dan alasan hukum itu?”
Shahid Shadr: “Karena Rasulullah saw di Madinah perna shalat seperti itu, padahal beliau tidak dalam keadaan musafir (bepergian) atau ketakutan (bukan shalat khauf yang dilakukan saat kondisi tertentu seperti perang). Beliau melakukan shalat dhuhur dan ashar, serta maghrib dan isya’ secara bersamaan. Itu beliau lakukan agar kita tidak kesusahan. Dan menurut kami, Syiah, berdasarkan apa yang dijelaskan imam-imam kami, hal itu memang boleh. Bahkan bagi kalian orang-orang Ahlu Sunah pun juga demikian sebenarnya.”
Doktor Tijani heran karena sampai saat itu juga ia tidak pernah mendengar bahwa seseorang dapat menggabungkan dua shalat wajib. Tak ada satu orang pun yang pernah menyinggung masalah itu. Malah yang ia dengar, kalau ada orang melakukan shalat satu menit pun sebelum adzan maka shalatnya batal.
Shahid Shadr faham dengan melihat wajah Doktor Tijani bahwa ia kebingungan. Saat itu juga beliau mengisyarahkan muridnya untuk mengambil dua jilid kitab lalu membawanya kepadanya. Kitab itu adalah Shahih Muslim dan Bukhari.
Shahid Shadr meminta muridnya untuk membuka kitab-kitab itu dan menunjukkan hadits tentang digabungnya dua shalat.
Doktor Tijani membaca dalam kitab itu bahwa Rasulullah saw melakukan shalat dhuhur dan ashar, serta maghrib dan isya’ secara bersamaan. Ia begitu terkejut dan sampai ragu, jangan-jangan Shahih Bukhari dan Muslim yang ada di tangannya itu telah dipalsukan.
Ketika Doktor Tijani kembali ke Tunisia, ia mencari hadits tersebut di Shahih Bukhari dan Muslim yang ada di sana; dan ternyata memang hadits itu ada.
Shahid Shadr bertanya setelah itu: “Bagaimana pendapatmu setelah melihat semua dalil ini?”
Doktor Tijani menjawab: “Engkau benar.” Lalu ia berterimakasih kepada Shahid Shadr.
Ternyata nabi sendiri memang menggabungkan dua shalatnya. Ditukil dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw menggabung shalat dhuhur dan ashar serta maghrib dan isya’ padahal beliau tidak bepergian dan berada di Madinah.[1]
Saat Ibnu Abbas ditanya mengapa beliau berbuat demikian, ia menjawab bahwa agar umatnya tidak kesusahan.[2]
Alhasil banyak ditemukan hadits dan riwayat tentang nabi menggabungkan dua shalat wajib bersamaan, misalnya dalam Musnad Ahmad.[3]
Begitu pula dalam kitab Al Muwatha’ Imam Malik. Diriwayatkan dari Ibnu Abbs bahwa Rasulullah saw melakukan shalat dhuhur dan ashar bersama-sama, begitu juga shalat maghrib dan isya’ bersama-sama, dalam keadaan tidak musafir dan tidak takut (tidak dalam kondisi berperang).[4]
Yang mengherankan mengapa sebagian Ahlu Sunah begitu fanatik dan bahkan memusuhi Syiah padahal banyak sekali dalil-dalil Syiah yang ada dalam kitab-kitab rujukan mereka?[5]
[1] Shahih Muslim, jilid 2, halaman 151 (Bab menggabungkan dua shalat dalam keadaan tidak musafir).
[2] Ibid, halaman 152; Shahih Bukhari, jilid 1, halaman 140.
[3] Musnad Imam Ahmad Hanbal, Jilid 1, halaman 221.
[4] Al Muwatha’ Imam Malik, jilid 1, halaman 161.
[5] Li Akuna Ma’a Shadiqin, Tijani, halaman 210.

Shalat
Setiap umat Islam diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dimana Suni memiliki lima waktu terpisah untuk melaksanakan ibadah tersebut sementara umat Islam Syiah memiliki pilihan untuk melakukannya tiga kali namun dengan men¬double dua sholat mereka pada waktu sholat pilihan mereka. Jadi misalnya Anda seorang Muslim Syiah dan hari ini Anda ingin Sholat tiga waktu saja serta Anda sudah memilih untuk sholat pada waktu ashar, maghrib, dan Isya maka Anda harus sholat dua kali pada dua waktu sholat dari tiga waktu sholat yang Anda akan lakukan.
Nabi (s) bersabda “Sembahyanglah kamu sebagaimana kamu melihat aku mengerjakan sembahyang (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 1939)”. Shalat merupakan salah satu daripada Furu’ ud-Din (cabang agama) yang tanpanya maka tidak sempurnalah agama seseorang itu. Waktu-waktu Shalat dalam mazhab Syiah ialah:
1 – Waktu Shalat Subuh, dari terbit fajar hingga terbit matahari
2- Waktu Shalat Zuhur dan Asar, ketika matahari tegak di atas kepala hingga bergerak ke arah maghrib (barat)
3- Waktu Shalat Maghrib dan Isya’, selepas terbenam matahari hingga ke pertengahan malam.
Nabi (s) telah menghimpunkan shalat zuhur dalam waktu asar, asar dalam waktu zuhur (mengerjakan shalat zuhur 4 rakaat kemudian terus shalat asar 4 rakaat), maghrib dalam waktu isya’, dan Isya dalam waktu maghrib (mengerjakan shalat Maghrib 3 rakaat dan terus mengerjakan Isya’ 4 rakaat) bukan kerana ketakutan, bukan kerana peperangan atau bukan kerana perjalanan supaya tidak menyulitkan umatnya. Shalat seperti telah diamalkan oleh orang-orang Syiah sejak zaman Rasulullah (s). (Rujukan Sahih Muslim, cetakan Klang Book Centre, Hadis no 666 – 671.

Hadis tentang Shalat itu ditemui juga dalam sahih Bukhari (Shahih Bukhari Klang Book Centre, hadis no. 307, 310).
Shalat Asar saat matahari belum tergelincir:

Shalat Asar sesudah Shalat Zuhur:

Ada buku tentang Shiah “Syiah Dalam Sunah”, terjemahan dari Iran –
Yang menarik di buku ini mengenai ketentuan shalat Shiah terkadang boleh 3x/hari.. Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa sesuai Qur’an, shalat adalah 5x/hari, tapi dalam kondisi tertentu boleh di’jama’ menjadi 3x/hari (a.dhuhur-Ashar dijamak, b. Magrib-Isha dijamak, c. Subuh) sesuai dengan hadith sahih Bukhari/Muslim dan hadith lainnya
Malik, Book 9, Hadith 9.1.4 (Ucapan Malik bahwa 2I believe that was during rain” bukan termasuk hadits Nabi.. karna, antara Malik dgn Abdullah ibn Abbas terdapat 2 orang….
Yahya related to me from Malik from Abu’z Zubayr al-Makki from Said ibn Jubayr that Abdullah ibn Abbas said, “The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, prayed dhuhr and asr together and maghrib and isha together, and not out of fear nor because of travelling.” Malik said, “I believe that was during rain.”
Hadits dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam riwayat Muslim itu adalah:
Artinya: ”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ di Madinah, bukan karena dalam ketakutan atau hujan.” Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:”Kenapa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuat itu?” Ujarnya:”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyukarkan ummatnya.”
ALQURAN 17:78 “”dirikanlah sholat dari matahari tergelincir (dzuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya) dan subuh. Sesungguhnya sholat subuh disaksikan oleh para Malaikat
Berdasarkan AlQuran ; kaum Syiah terkadang melakukan shalat wajib 5X sehari dalam 3 waktu.
Jika kita membaca SHOHIH BUKHARI dan SHOHIH MUSLIM pada Kitab Sholat; maka kita akan dapat melihat bahwa Rasulullah sering menggabungkan sholat dzuhur dengan sholat ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya; sehingga Rasulullah melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu. Padahal Rasulullah tidak dalam perjalanan dan tidak dalam keadaan darurat.
Kaum Syiah terkadang melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu; karena Kaum Syiah mentaati AlQuran dan mentaati Sunnah Rasulullah.
Kaum Syiah diwajibkan untuk membaca AlQuran dan diwajibkan untuk belajar Bahasa Arab supaya dapat mengerti AlQuran dengan baik dan benar. Kaum Syiah hanya disarankan membaca sejarah Rasulullah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain supaya Kaum Syiah mengerti sejarah Islam.
Berhentilah menyebarkan kebohongan tentang kaum Syiah; supaya dosa dosa antum tidak bertambah banyak.

Menjamak Shalat Menurut Syiah Imamiah
Mereka percaya bahwa setiap kewajiban yang bersifat harian, memiliki waktu tertentu, dan waktu-waktu shalat harian adalah Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya. Yang paling penting adalah melakukan setiap shalat pada waktunya yang khusus. Hanya saja, mereka melakukan jamak antara dua shalat Zuhur dan Ashar dan antara Magrib dan Isya karena Rasulullah saw. melakukan jamak dua shalat tanpa uzur, tanpa sakit dan tanpa berpergian, sebagaimana yang disebutkan dalam Shahih Muslim dan kitab hadis lainnya, “Sebagai keringanan untuk umat serta untuk mempermudah bagi mereka”. Dan itu telah menjadi masalah biasa pada masa kita sekarang ini.
.
Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan telah ditetapkan berdasarkan hadis-hadis Shahih dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Musnad Ahmad. Berikut akan ditunjukkan hadis-hadis shahih dalam Musnad Ahmad yang penulis ambil dari Kitab Musnad Imam Ahmad Syarah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Penerjemah : Amir Hamzah Fachrudin, Hanif Yahya dan Widya Wahyudi, Cetakan pertama Agustus 2007, Penerbit : Pustaka Azzam Jakarta.
Yunus menceritakan kepada kami, Hammad yakni Ibnu Zaid menceritakan kepada kami dari Az Zubair yakni Ibnu Khirrit dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata “Ibnu Abbas menyampaikan ceramah kepada kami setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dan terbitnya bintang-bintang, sehingga orang-orang pun mulai berseru, “Shalat, Shalat”. Maka Ibnu Abbas pun marah, Ia berkata “Apakah kalian ingin mengajariku Sunnah? Aku telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ “. Abdullah mengatakan “Aku merasa ada ganjalan (keberatan) pada diriku karena hal itu, lalu aku menemui Abu Hurairah, kemudian menanyakan tentang itu, ternyata Ia pun menyepakatinya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2269, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)
Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa Menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ adalah Sunnah Rasulullah SAW , sebagaimana yang disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Dari hadis itu tersirat bahwa Ibnu Abbas RA akan menangguhkan melaksanakan Shalat Maghrib yaitu menjama’nya dengan shalat Isya’ dikarenakan beliau masih sibuk memberikan ceramah. Tindakan beliau ini adalah sejalan dengan Sunah Rasulullah SAW yang beliau saksikan sendiri bahwa Rasulullah SAW menjama’ Shalat Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan.
Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “Nabi SAW menjama’ Zhuhur dengan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut (khawatir)”. Ia(Sa’id) berkata “Wahai Abu Al Abbas mengapa Beliau melakukan itu?”. Ibnu Abbas menjawab “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorangpun dari umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2557, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).
Kata-kata yang jelas dalam hadis di atas sudah cukup sebagai hujjah bahwa Menjama’ shalat dibolehkan saat tidak sedang bepergian. Hal ini sekali lagi telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan agar tidak memberatkan Umatnya. Jadi mengapa harus memberatkan diri dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan.
Yahya menceritakan kepada kami dari Daud bin Qais, ia berkata Shalih maula At Taumah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, ia berkata “Rasulullah SAW pernah menjama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan antara shalat Maghrib dengan shalat Isya’ tanpa disebabkan turunnya hujan atau musafir”. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Abbas “Wahai Abu Abbas apa maksud Rasulullah SAW mengerjakan yang demikian”. Ibnu Abbas menjawab “Untuk memberikan kemudahan bagi umatnya SAW” (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3235, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).
Lantas apa yang akan dikatakan oleh mereka yang seenaknya berkata bahwa hal ini adalah bid’ah dan seenaknya menuduh orang yang Menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ sebagai Sesat. Begitulah akibatnya kalau membiarkan diri tenggelam dalam prasangka-prasangka. Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata ” Aku pernah shalat bersama Nabi SAW delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus”. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas “Mengapa Rasulullah SAW melakukannya?”. Beliau menjawab “Dia ingin tidak memberatkan umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3265, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).
Hadis di atas juga mengisyaratkan bahwa kebolehan Menjama’ Shalat itu mencakup juga untuk shalat berjamaah. Hal ini seperti yang diungkapkan dengan jelas oleh Ibnu Abbas RA bahwa Beliau pernah melakukan shalat jama’ bersama Nabi SAW. Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Bakar berkata Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata Amr bin Dinar mengabarkan kepada kami bahwa Abu Asy Sya’tsa mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya, Ia berkata “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW delapan rakaat secara jamak dan tujuh rakaat secara jamak”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3467, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir).
Begitulah dengan jelas hadis-hadis shahih telah menetapkan bolehnya Menjamak Shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ ketika tidak dalam perjalanan atau dalam uzur apapun. Hal ini adalah ketetapan dari Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan memberikan kemudahan pada umatnya. Bagi siapapun yang mau berpegang pada prasangka mereka atau pada doktrin Ulama mereka bahwa hal ini tidak dibenarkan maka kami katakan Rasulullah SAW lebih layak untuk dijadikan pegangan
.
Solat Jamak menurut Al-Quran dan Sunnah Nabi
Sembahyang tetap 5 kali sehari semalam. Cuma waktunya sahaja yang ditakrifkan sebagai waktu bersama (jamak) – Subuh, Zohor bersama Asar, dan Maghrib bersama Isyak. Ini telah difirmankan dalam Al-Quran dan diterangkan dalam sunah Nabi. Dan, sememangnya yang lebih afdal adalah 5 kali dalam lima waktu.
Berikut adalah petikan ayat suci Al-Quran dan Hadis Nabi yang menerangkan lebih lanjut sekitar perkara ini:
1. Surah al-Israk ayat 78:
“Dirikanlah solat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula) solat subuh. Sesungguhnya solat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)”.
a. Sesudah matahari tergelincir: Waktu bersama (jamak) Zuhur dan Asar.
b. Gelap malam: Waktu bersama (jamak) Maghrib dan Isyak.
c. Solat Subuh.
(Inilah konsep 3 waktu tapi 5 kali sehari semalam- namun afdalnya dipisahkan seperti yang dilaksanakan sekarang).
2. Surah al-Israk ayat 79:
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagi kamu, mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”
Sebahagian malam hari: Sesudah waktu bersama (jamak) Maghrib dan Isyak habis (Sesudah lebih kurang 12.30 t/malam)- Inilah waktu solat tahajjud yang sebenarnya.
Ayat al-Quran berikut ini lebih mengkhususkan lagi:
3. Surah Hud ayat 114:
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam”.
Kedua tepi siang (pagi dan petang): Mengisyaratkan waktu solat subuh (pagi) dan waktu solat Zuhur bersama Asar (petang).
Bahagian permulaan daripada malam: Mengisyaratkan waktu bersama antara Maghrib dan Isyak. Digunakan istilah bahagian permulaan daripada malam sebab bahagian akhir daripada malam adalah untuk solat tahajjud. (Lihat Surah al-Israk ayat 79).
Sehubungan itu, dikemukakan sebahagian kecil daripada hadis-hadis tentang solat jamak. Dalam kitab hadis Shahih Bukhari (diterjemah H. Zainuddin Hamidy – H.Fachruddin Hs, H. Hasharuddin Thaha – Johar Arifin, A. Rahman Zainuddin M.A; cetakan 2003 oleh Darel Fajr Publishing House, No. 37, Geylang Street, Singapore):
Hadis no. 306 Berita dari Ibnu Abbas ra. mengatakan, bahawa Nabi saw salat di Madinah tujuh dan lapan rakaat. Yaitu salat zohor dan asar (dikerjakan berturut-turut pada waktu yang sama tujuh rakaat).
Hadis no 310 kata Abu Umammah ra. “Kami solat zohor bersama Umar bin Abdul Aziz, setelah itu kami pergi menemui Anas bin Malik dan kami dapati dia sedang salat asar. kataku kepadanya ‘Hai pakcik! salat apakah yang pakcik kerjakan ini?’ jawabnya, ‘Salat Asar! dan inilah (waktunya) salat asar Rasulullah saw, dimana kami pernah salat bersama-sama dengan beliau’.
……dan dalam kitab Sahih Muslim (diterjemah Ma’Mur Daud ditashih Syekh H. Abd. Syukur Rahimy; cetakan 2003 oleh Darel Fajr Publishing House, No. 37, Geylang Street, Singapore):
Hadis no. 666 Dari Ibnu’ Abbas r.a., katanya: “Rasulullah saw pernah (baca: telah) menjama’ salat Zuhur dan Asar, Maghrib dan Isyak tidak ketika takut dan tidak pula dalam perjalanan (baca: musafir)”.
Hadis no. 667. dari Ibnu Abbas ra. katanya: “Rasulullah saw pernah menjama’ salat suhur dan asar di Madinah tidak pada waktu takut (perang atau dalam keadaan bahaya) dan tidak pula dalam perjalanan. Kata Abu Zubair, dia menanyakan hal itu kepada Sa’id, “Kenapa Rasulullah saw sampai berbuat demikian?’ Jawab Sa’id, “Aku pun pernah bertanya seperti itu kepada Ibnu Abbas, maka jawab Ibnu Abbas: ‘Beliau ingin untuk tidak menyulitkan umatnya’
Hadis no. 670 dari Ibnu Abbas ra. katanya: ‘Ketika Rasulullah berada di Madinah, beliau pernah menjamak solat zohor dengan asar, dan salat maghrib dengan Isya’, tidak pada saat perang dan tidak pula ketika hujan. Waki’ bertanya kepada Ibnu Abbas, ‘Apa sebabnya Nabi saw berbuat demikian?’ Jawab Ibnu Abbas, “Supaya tidak menyulitkan umatnya”…. .
Hadis no. 671 dari Abdullah bin Syaqiq ra. katanya: ‘Pada satu hari sesudah asar, Ibnu Abbas memberikan pengajian dihadapan kami hingga terbenam matahari dan bintang-bintang sudah terbit. lalu jemaah berteriak, “salat! salat!” bahkan seorang laki-laki Bani Tamim langsung berdiri ke hadapan Ibnu Abbas, lalu ia berkata “salat! salat!” Kata Ibnu Abbas, “Apakah engkau hendak mengajariku tentang Sunnah Nabi, yang engkau belum tahu? Aku melihat Rasulullah saw menjama salat Zuhur dan Asar dan Maghrib dengan Isya’”. Kata Abdullah bin Syaqiq, ‘Aku ragu kebenaran ucapan Ibnu Abbas itu. Kerana itu aku bertanya kepada Abu Hurairah. Ternyata Abu Hurairah membenarkan ucapan Ibnu Abbas itu”.
Berdasarkan hadis-hadis ini dapat disimpulkan bahawa di kalangan para sahabat sendiri telah berlaku perselisihan pendapat sama ada boleh atau tidak menjamakkan solat tanpa musafir. Lihat misalnya Abu Umammah (bertanya kepada Anas bin Malik) dan Abdullah bin Syaqiq (merujuk kepada Abu Hurairah) bagi memastikan kebenarannya. Jika para sahabat Nabi yang terkenal dengan ilmunya masih berselisih pendapat maka tidak hairanlah jikalau kita masih meneruskan tradisi saling berselisih pendapat seperti pada zaman para sahabat. Bukankah sahabat itu seperti bintang-bintang?
Yang pastinya hadis-hadis tentang solat jamak ini bukan sahaja terdapat dalam sahih Bukhari dan Muslim namun terdapat juga dalam kitab-kitab hadis yang lain.

Hukum Shalat Jamak Ketika Tidak Sedang Dalam Perjalanan
Hal yang sangat dikenal di kalangan umat islam adalah diperbolehkannya Menjamak Shalat Ketika Sedang Dalam Perjalanan. Tetapi sangat disayangkan banyak orang Islam yang tidak tahu kalau sebenarnya Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan. Tidak jarang diantara mereka yang tidak tahu itu, pikirannya dipenuhi dengan prasangka-prasangka yang merendahkan ketika melihat orang lain Menjamak Shalat padahal tidak ada Uzur apapun. Beberapa dari mereka berkata “Jangan berbuat Bid’ah” atau “Ah itu mah kerjaan orang Syiah”. Coba lihat dialog ini
Si A :Ntar bareng kesana ya
Si B :Ok, tapi kita shalat dulu
Si A :hmm lagi nanggung, ntar aja deh aku jama’ dengan Ashar
Si B terpana)…. emang boleh seenaknya dijamak gitu, bukannya Jama’ itu boleh kalau dalam perjalanan.
Si A :he he he boleh, boleh.
Si B : kamu Syiah ya
Si A : bukan kok
Si B : ya udah terserah kamulah, yang penting saya shalat dulu
Saya cuma bisa tersenyum sinis mendengarkan mereka yang dipermainkan oleh Wahamnya ini. Pikiran mereka ini dipengaruhi oleh Syiahpobhia yang keterlaluan sehingga berpikir setiap amalan yang dilakukan oleh Syiah adalah sesat. Saya katakan Tidak ada urusan mau bagaimana Syiah mengamalkan Ritualnya. Sekarang yang sedang dibicarakan adalah Shalat Jama’ yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
.
.
Menjamak Shalat Dibolehkan Walaupun Tidak Sedang Dalam Perjalanan telah ditetapkan berdasarkan hadis-hadis Shahih dalam Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi dan Musnad Ahmad. Berikut akan ditunjukkan hadis-hadis shahih dalam Musnad Ahmad yang penulis ambil dari Kitab Musnad Imam Ahmad Syarah Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Penerjemah : Amir Hamzah Fachrudin, Hanif Yahya dan Widya Wahyudi, Cetakan pertama Agustus 2007, Penerbit : Pustaka Azzam Jakarta.
Yunus menceritakan kepada kami, Hammad yakni Ibnu Zaid menceritakan kepada kami dari Az Zubair yakni Ibnu Khirrit dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata “Ibnu Abbas menyampaikan ceramah kepada kami setelah shalat Ashar hingga terbenamnya matahari dan terbitnya bintang-bintang, sehingga orang-orang pun mulai berseru, “Shalat, Shalat”. Maka Ibnu Abbas pun marah, Ia berkata “Apakah kalian mengajariku Sunnah? Aku telah menyaksikan Rasulullah SAW menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ “. Abdullah mengatakan “Aku merasa ada ganjalan pada diriku karena hal itu, lalu aku menemui Abu Hurairah, kemudian menanyakan tentang itu, ternyata Ia pun menyepakatinya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2269, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)
Hadis di atas dengan jelas menyatakan bahwa Menjamak Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ adalah Sunnah Rasulullah SAW , sebagaimana yang disaksikan oleh Ibnu Abbas RA. Dari hadis itu tersirat bahwa Ibnu Abbas RA akan menangguhkan melaksanakan Shalat Maghrib yaitu menjama’nya dengan shalat Isya’ dikarenakan beliau masih sibuk memberikan ceramah. Tindakan beliau ini adalah sejalan dengan Sunah Rasulullah SAW yang beliau saksikan sendiri bahwa Rasulullah SAW menjama’ Shalat Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan.
Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “Nabi SAW menjama’ Zhuhur dengan Ashar di Madinah ketika tidak sedang bepergian dan tidak pula dalam kondisi takut(khawatir)”. Ia(Sa’id) berkata “Wahai Abu Al Abbas mengapa Beliau melakukan itu?”. Ibnu Abbas menjawab “Beliau ingin agar tidak memberatkan seorangpun dari umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 2557, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)
Kata-kata yang jelas dalam hadis di atas sudah cukup sebagai hujjah bahwa Menjama’ shalat dibolehkan saat tidak sedang bepergian. Hal ini sekali lagi telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan agar tidak memberatkan Umatnya. Jadi mengapa harus memberatkan diri dengan prasangka-prasangka yang tidak karuan
Yahya menceritakan kepada kami dari Daud bin Qais, ia berkata Shalih maula At Taumah menceritakan kepadaku dari Ibnu Abbas, ia berkata “Rasulullah SAW pernah menjama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan antara shalat Maghrib dengan shalat Isya’ tanpa disebabkan turunnya hujan atau musafir”. Orang-orang bertanya kepada Ibnu Abbas “Wahai Abu Abbas apa maksud Rasulullah SAW mengerjakan yang demikian”. Ibnu Abbas menjawab “Untuk memberikan kemudahan bagi umatnya SAW” (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3235, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)
Lantas apa yang akan dikatakan oleh mereka yang seenaknya berkata bahwa hal ini adalah bid’ah atau dengan pengaruh Syiahpobhia seenaknya menuduh orang yang Menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya’ sebagai Syiah. Begitulah akibatnya kalau membiarkan diri tenggelam dalam prasangka-prasangka.
Sufyan menceritakan kepada kami dari Abu Az Zubair dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata “ Aku pernah shalat bersama Nabi SAW delapan rakaat sekaligus dan tujuh rakaat sekaligus”. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas “Mengapa Rasulullah SAW melakukannya?”.Beliau menjawab “Dia ingin tidak memberatkan umatnya”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3265, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)
Hadis di atas juga mengisyaratkan bahwa kebolehan Menjama’ Shalat itu mencakup juga untuk shalat berjamaah. Hal ini seperti yang diungkapkan dengan jelas oleh Ibnu Abbas RA bahwa Beliau pernah melakukan shalat jama’ bersama Nabi SAW.
Abdurrazaq menceritakan kepada kami, Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, Ibnu Bakar berkata Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata Amr bin Dinar mengabarkan kepada kami bahwa Abu Asy Sya’tsa mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas mengabarkan kepadanya, Ia berkata “Aku pernah shalat di belakang Rasulullah SAW delapan rakaat secara jamak dan tujuh rakaat secara jamak”. (Hadis Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad jilid III no 3467, dinyatakan shahih oleh Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)
Begitulah dengan jelas hadis-hadis shahih telah menetapkan bolehnya Menjamak Shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya’ ketika tidak sedang dalam perjalanan atau dalam uzur apapun. Hal ini adalah ketetapan dari Rasulullah SAW sendiri dengan tujuan memberikan kemudahan pada umatnya.
Bagi siapapun yang mau berpegang pada prasangka mereka atau pada doktrin Ulama mereka bahwa hal ini tidak dibenarkan maka kami katakan Rasulullah SAW lebih layak untuk dijadikan pegangan. Wassalam
Catatan: Tulisan ini saya buat dalam kondisi sakit-sakitan, gak nyangka ternyata saya masih bisa-bisanya buat tulisan. Tolong doakan agar saya cepat sembuh ya, hmmm eh salah ding doakan agar badan saya enakan aja deh

Orang yang tidak sengaja sehingga telat bangun sehingga telat shalat subuh :
Hal ini ada keringanan dalam Syari’at sebagaimana dalam hadits berikut ini :
Dari Anas bin Malik Rodhiyalloohu ‘Anh. Bahwa Rosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang ketiduran (sampai tidak menunaikan sholat) atau lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia menyadarinya.” (HR Muttafaqun ‘alayh).

Syiah menjadikan tanah sebagai tempat meletakkan dahi ketika sujud. Dalam bahasa Arab kata kerja ‘Sajada’ di tambah mim dalam perkataan ‘Masjid’ adalah ‘isim makan’ (kata nama tempat) yang membawa maksud tempat sujud. Nabi (s) menjadikan bumi sebagai tempat sujud, dalam Sunan Tirmidzi cetakan Victory Agencie Kuala Lumpur 1993, jil 1 menyatakan nabi (s) ketika sujud, baginda meletakkan hidung dan wajah baginda di bumi:
Nabi juga memerintahkan supaya sujud di atas Turab (tanah):

Ada buku tentang Shiah “Syiah Dalam Sunah”, terjemahan dari Iran –Yang menarik di buku ini mengenai ketentuan shalat Shiah terkadang boleh 3x/hari.. Pada dasarnya, mereka mengakui bahwa sesuai Qur’an, shalat adalah 5x/hari, tapi dalam kondisi tertentu boleh di’jama’ menjadi 3x/hari (a.dhuhur-Ashar dijamak, b. Magrib-Isha dijamak, c. Subuh) sesuai dengan hadith sahih Bukhari/Muslim dan hadith lainnyaMalik, Book 9, Hadith 9.1.4 (Ucapan Malik bahwa 2I believe that was during rain” bukan termasuk hadits Nabi.. karna, antara Malik dgn Abdullah ibn Abbas terdapat 2 orang….
Yahya related to me from Malik from Abu’z Zubayr al-Makki from Said ibn Jubayr that Abdullah ibn Abbas said, “The Messenger of Allah, may Allah bless him and grant him peace, prayed dhuhr and asr together and maghrib and isha together, and not out of fear nor because of travelling.” Malik said, “I believe that was during rain.”Hadits dari Ibnu Abbas yang dimaksudkan dalam riwayat Muslim itu adalah:
Artinya: ”Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menjama’ sholat Dhuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ di Madinah, bukan karena dalam ketakutan atau hujan.” Lalu ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:”Kenapa Nabi shallallahu alaihi wasallam berbuat itu?” Ujarnya:”Maksudnya ialah agar beliau tidak menyukarkan ummatnya.”ALQURAN 17:78 “”dirikanlah sholat dari matahari tergelincir (dzuhur dan ashar) sampai gelap malam (maghrib dan isya) dan subuh. Sesungguhnya sholat subuh disaksikan oleh para MalaikatBerdasarkan AlQuran ; kaum Syiah terkadang melakukan shalat wajib 5X sehari dalam 3 waktu.Jika kita membaca SHOHIH BUKHARI dan SHOHIH MUSLIM pada Kitab Sholat; maka kita akan dapat melihat bahwa Rasulullah sering menggabungkan sholat dzuhur dengan sholat ashar dan sholat maghrib dengan sholat isya; sehingga Rasulullah melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu. Padahal Rasulullah tidak dalam perjalanan dan tidak dalam keadaan darurat.Kaum Syiah terkadang melakukan sholat wajib 5X sehari di dalam 3 waktu; karena Kaum Syiah mentaati AlQuran dan mentaati Sunnah Rasulullah.Kaum Syiah diwajibkan untuk membaca AlQuran dan diwajibkan untuk belajar Bahasa Arab supaya dapat mengerti AlQuran dengan baik dan benar. Kaum Syiah hanya disarankan membaca sejarah Rasulullah, Imam Ali, Imam Hasan dan Imam Husain supaya Kaum Syiah mengerti sejarah Islam.Berhentilah menyebarkan kebohongan tentang kaum Syiah; supaya dosa dosa antum tidak bertambah banyak.
Orang yang tidak sengaja sehingga telat bangun sehingga telat shalat subuh :
Hal ini ada keringanan dalam Syari’at sebagaimana dalam hadits berikut ini :
Dari Anas bin Malik Rodhiyalloohu ‘Anh. Bahwa Rosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam bersabda, “Barang siapa yang ketiduran (sampai tidak menunaikan sholat) atau lupa melaksanakannya, maka ia hendaklah menunaikannya pada saat ia menyadarinya.” (HR Muttafaqun ‘alayh).
Waktu solat mengikut al-Quran
Allah (swt) berfirman dalam kitabNya yang suci:
“Dirikanlah olehmu sembahyang ketika gelincir matahari hingga waktu gelap malam, dan (dirikanlah) sembahyang subuh sesungguhnya sembahyang subuh itu adalah disaksikan (keistimewaannya).”
Qur’an 17:78
Waktu solat menurut al-Quran adalah tiga, bukan lima.
Gelincir Matahari
Waktu Gelap Malam
Waktu Subuh.
Imam Fakhruddin Razi, pengulas al-Quran terkenal Sunni, menulis berkenaan ayat yang dipetik (Surah 17, Ayat 78):

“Jika kita menafsirkan waktu gelap malam (ghasaq) sebagai masa apabila kegelapan mula muncul maka terma ghasaq merujuk kepada bermulanya Maghrib. Berdasarkan hal ini, tiga waktu disebut dalam ayat: ‘waktu tergelincir matahari, waktu bermulanya Maghrib dan waktu Fajar’. Ini menyatakan bahawa waktu tergelincir matahari adalah waktu untuk Zuhur dan Asar, waktu ini dikongsi oleh dua solat ini. Waktu bermulanya Maghrib adalah adalah waktu untuk Maghrib dan Isyak maka waktu ini juga dikongsi oleh dua solat ini. Hal ini memerlukan kebolehan untuk menjamak antara Zuhur dan Asar serta antara Magnrib dan Isyak pada setiap masa. Akan tetapi terdapat bukti yang menunjukkan bahawa manjamak ketika di rumah tanpa sebarang alasan adalah tidak dibenarkan. Hal ini menjurus kepada pandangan bahawa menjamak adalah dibolehkan apabila sedang bemusafir atau apabila hujan dll.”

Tafseer Kabeer, m.s 107
Sementara kami akan InsyaAllah menyangkal komentar Razi berkenaan menjamak tanpa sebab adalah tidak dibenarkan, apa yang kita dapat dari sini adalah masa untuk solat fardhu hanyalah tiga:
1). Masa untuk dua solat fardhu, Zuhur (tengah hari) dan Asar (petang), yang dikongsi oleh keduanya.
2). Masa untuk dua solat fardhu, Maghrib (senja) dan Isyak (malam) yang juga dikongsi oleh keduanya.
3). Masa untuk solat Subuh (pagi) yang hanya spesifik untuknya sahaja.
Kami melaksanakan solat Zuhur dan Asar dan kemudian solat Maghrib dan Isyak dalam satu satu masa. Kami tidak melakukannya hanya berdasarkan penghakiman kami, malah hal ini dilakukan kerana ianya adalah Sunnah Nabi Muhammad (s). Adalah dilaporkan dalam Sahih Bukhari bahawa Ibn Annas [r] berkata:
“Aku mengerjakan lapan rakaat (Zuhur dan Asar) dan tujuh rakaat (Maghrib dan Isyak) pada satu satu masa bersama Nabi Muhammad (s) (dengan tiada solat sunat diantaranya.)” Umru berkata bahawa dia berkata kepada Abul Shaqa: “Aku fikir Nabi (s) mengerjakan Zuhur sedikit lewat dan Asar sedikit awal, dan Isyak sedikit awal, Maghrib sedikit lewat, Abul Shaqa menjawab bahawa dia juga merasakan yang sama.”
Kita baca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 537, Bab Waktu Solat:
Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:
Rasul Allah (salam dan salawat ke atasnya) melakukan di Madinah tujuh (rakaat) dan lapan (rakaat), i.e. (menjamak) solat tengah hari (Zuhur) dan petang (Asar) (lapan rakaat) dan solat senja (Maghrib) dan malam (Isyak) (tujuh rakaat).
Dalam mengulas mengenai hadis ini, pada muka surat yang sama dalam Tayseer al-Bari, Allamah Waheed uz Zaman berkata:
“Hadis ini agak jelas di mana dua solat boleh dilakukan pada satu masa. Hadis yang kedua memberitahu kita mengenai insiden di Madinah sewaktu tiada rasa takut mahupun sebarang paksaan. Telah pun disebut di atas bahawa Ahli Hadis menganggapnya dibolehkan, dan dalam kitab-kitab Imamiah terdapat banyak hadis-hadis dari Imam Hadis dalam bab menjamak (solat) dan tiada alasan untuk hadis-hadis ini dikategorikan sebagai palsu”

Tayseer al Bari Sharh Sahih Bukhari, Jilid 2, Kitab Tahajjud, m.s 187, diterbitkan oleh Taj Company Limited, Karachi
Kita juga baca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 518:
Diriwayatkan Ibn ‘Abbas:
“Nabi (s) melakukan solat lapan rakaat untuk Zuhur dan Asar, dan tujuh untuk solat Maghrib dan Isyak di Madinah.” Aiyub berkata, “Berkemungkinan ianya pada malam yang hujan.” Anas berkata, “Mungkin.”
Dalam ulasan berbahasa Urdu Tayseer al-Bari Sharh Sahih Bukhari, dalam mengulas ungkapan terakhir Jabir di mana dia menduga bahawa berkemungkinan ianya malam yang hujan, Allamah Waheed uz-Zaman menulis:
“Kata-kata Jabir adalah berdasarkan kemungkinan, kesalahannya telah dibuktikan oleh riwayat Sahih Muslim yang menyatakan bahawa tiada hujan mahupun sebarang perasaan takut yang wujud.”
Maulana Waheed uz-Zaman menulis lagi:
“Ibn Abbas dalam riwayat yang lain berkata bahawa Nabi Muhammad (s) melakukannya untuk menyelamatkan umatnya dari sebarang kesukaran.”

Tayseer al-Bari Sharh Sahih Bukhari, Jilid 1, m.s 370, Kitab Waktu Solat, diterbitkan oleh Taj Company Limited.
Dalam perkaitan ini riwayat Sunni juga menyingkirkan sebarang tanggapan bahawa jamak tersebut mungkin dilakukan kerana keadaan cuaca yang buruk:
Nabi Muhammad (s) bersolat di Madinah, ketika bermastautin di sana, tidak bermusafir, tujuh dan lapan (ini merujuk kepada tujuh rakaat Maghrib dan Isyak dijamakkan, dan lapan rakaat Zuhur dan Asar dijamakkan).
Ahmad ibn Hanbal, al-Musnad, Jilid 1, m.s 221
“Nabi Muhammad (s) melakukan solat Zuhur dan Asar secara jamak serta Maghrib dan Isyak secara jamak tanpa perasaan takut mahupun dalam bermusafir.”
Malik ibn Anas, al-Muwatta’, Jilid 1, m.s 161
Sekarang mari kita lihat kepada hadis dari Sahih Muslim:
Ibn ‘Abbas melaporkan bahawa Rasul Allah (s) menjamak solat Zuhur dan Asar serta solat Maghrib dan Isyak di Madinah tanpa berada dalam keadaan merbahaya mahupun hujan. Dan di dalam sebuah hadis yang dirawikan oleh Waki’ (kata-katanya ialah): “Aku berkata kepada Ibn ‘Abbas: Apa yang membuatkan baginda melakukan hal tersebut? Dia berkata: Supaya umatnya (Rasulullah) tidak diletakkan dalam keadaan sukar (yang tidak diperlukan).”
Kami telah mengambil hadis ini dari sumber Sunni berikut:
Sahih Muslim (terjemahan Inggeris), Kitab al-Salat, Buku 4, Bab 100 Menjamak solat apabila seseorang dalam bermastautin, hadis no. 1520;
Jami al-Tirmidhi, Jilid 1, m.s 109, diterjemah oleh Badee’ uz-Zaman, diterbitkan oleh kedai buku No’mani, bazaar Urdu Lahore.
Sunan Abi Daud, jilid 1, m.s 490, Bab: ‘Menjamak Solat’, diterjemah oleh Maulana Waheed uz-Zaman
Dalam ulasannya mengenai hadis ini, Zaman menyatakan:
Terdapat dua jenis jamak solat, Jamak Taqdeem dan Jamak Takheer, yang awal bermaksud melaksanakan solat Asar pada waktu Zuhur dan Isyak pada waktu Maghrib, dan yang terkemudian adalah melakukan solat Zuhur pada waktu Asar dan Maghrib pada waktu Isyak, kedua-dua jenis adalah terbukti sah dari Sunnah Rasulullah.
Sunan Abu Daud, jilid 1, m.s 490, diterjemah oleh Maulana Waheed uz-Zaman, diterbitkan di Lahore
Maulana Waheed uz-Zaman membuat rumusan pada muka surat yang sama dengan menyatakan:
“Hujah-hujah yang menentang jamak solat adalah lemah, sementara yang membenarkannya adalah kuat.”
Sunan Abu Daud, volume 1, page 490, translated by Maulana Waheed uz-Zaman, published in Lahore
Shah Waliullah Dehalwi menyatakan dalam Hujutallah Balagha, m.s 193:
Masa untuk solat sebenarnya adalah tiga, iaitu pagi, Zuhur dan pada waktu gelap malam dan ini adalah maksud kepada firman Allah ‘Dirikanlah olehmu sembahyang ketika gelincir matahari’. Dan Dia berfirman ‘hingga waktu gelap malam’ kerana masa untuk menunaikan solat Zuhur adalah sehingga matahari terbenam oleh kerana tiada kerenggangan antara duanya, maka, dalam keperluan, adalah dibolehkan untuk menjamak Zuhur dan Asar serta Maghrib dan Isyak
Sekarang kami sediakan testimoni Sahabat yang disayangi Ahli Sunnah bernama Abu Hurairah mengenai dibolehkan untuk menjamak solat. Kita baca dalam Musnad Ahmad:
Abdullah bin Shaqiq meriwayatkan bahawa pernah sekali selepas Asar, Ibn Abbas tinggal sehingga matahari terbenam dan bintang muncul, lalu orang berkata: ‘Solat’ dan di antara yang berkata adalah seorang lelaki dari Bani Tamim yang berkata: ‘Solat, solat’. Lalu dia (Ibn Abbas) manjadi marah dan berkata: ‘Bolehkah kamu mengajarku Sunnah!! Aku melihat Rasul Allah (sawa) menjamak solat Zuhur dan Asar, serta Maghrib dan Isyak’. Abdullah (bin Shaqiq) berkata: ‘Aku mempunyai keraguan mengenai perkara ini maka aku berjumpa Abu Hurairah dan bertanya kepadanya dan dia bersetuju dengan beliau (Ibn Abbas)’.

Musnad Ahmad, Jilid 1 m.s 251 Hadis 2269
Shaykh Shu’aib al-Arnaout berkata:
‘Rataiannya adalah Sahih mengikut standard Muslim’.
Kami juga akan menyebut amalan Sahabat terkenal Anas bin Malik dan testimoninya mengenai mengerjakan solat Asar pada waktu Zuhur. Kita bca dalam Sahih Bukhari Jilid 1, Buku 10, Nombor 524:
Diriwayatkan Abu Bakr bin Uthman bin Sahl bin Hunaif:
bahawa dia mendengar Abu Umama berkata: Kami melakukan solat Zuhur bersama ‘Umar bin Abdul Aziz dan kemudian pergi kepada Anas bin Malik dan menjumpainya melakukan Solat Asar. Aku bertanya kepadanya, “Wahai pakcik! Solat apa yang kamu lakukan?” Dia berkata ‘Solat Asar dan ini adalah (waktu) solat Rasul Allah yang mana kami pernah bersolat bersama baginda.”
Riwayat ini memperkukuhkan tafsiran ayat 17:78 oleh Fakhruddin al-Razi yang mana menurutnya masa untuk melakukan Zuhur dan Asar adalah sama.
Melakukan dua solat dengan satu Azan
Apabila sudah terbukti bahawa jamak solat bukanlah satu pembaharuan, malah adalah Sunnah Nabi Muhammad (s) untuk menyelamatkan umatnya dari kesukaran, kita dibenarkan untuk menggunakan kemudahan ini. Mereka perlu tahu bahawa oleh kerana Sunnah Nabi membenarkan para jemaah untuk berkumpul di dalam masjid untuk solat Zohor dan Asar, kemudian panggilan kedua untuk solat Asar dan Isyak dilaungkan didalam masjid tanpa pembesar suara dan kemudian solat ditunaikan. Cara yang sama juga turut dipetik oleh ulama Sunni.
Allamah Abdul Rehman al-Jazeeri menulis:
“Cara yang betul untuk menghimpun orang untuk bersolat adalah dengan melaungkan azan Maghrib dengan suara kuat yang biasa, kemudian selepas azan, masa diperlukan untuk melakukan solat tiga rakaat perlu ditangguhkan. Kemudian solat Maghrib perlu dilaksanakan dan kemudian adalah elok untuk melaungkan azan Isyak di dalam masjid, azan sepatutnya tidak dilaungkan dari menara supaya ianya tidak akan memberi tanggapan bahawa masa tersebut adalah masa kebiasaan untuk solat Isyak, oleh sebab itulah azan tersebut perlu dilaungkan dengan suara perlahan dan kemudian solat Isyak boleh dilaksanakan.”
Al-Fiqa al-Al Madahib al-Arba’a, jilid 1 m.s 781, diterjemah oleh Manzoor Ahmed Abbas, diterbitkan oleh Akademi Ulama, Charity department Punjab
Jelas dari sini, berdasarkan dalil-dalil yang sahih,menjamakkan solat walaupun bukan dalam keadaan yang memerlukan adalah mubah dan sah. Ini bertepatan dengan cara yang diikuti oleh pengikut Mazhab Ahlulbait(as).
Keutamaan Sholat di Awal Waktu; Pandangan Al-Quran, Hadits dan Sirah Imam-imam Maksum dan Ulama
Pendahuluan
Alhamdulillah, puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt dan sholawat serta salam kita haturkan kepada junjungan nabi besar islam Muhammad saww dan kepada keluarganya yang suci dan jauhkanlah rahmatmu ya Allah atas orang-orang yang memusuhi mereka.
Sholat adalah salah satu dari rukun-rukun islam yang sangat ditekankan kepada seluruh ummat islam untuk menjalankannya bahkan anjuran dari nabi besar Muhammad saw untuk tidak meninggalkannya, karena seluruh perbuatan baik dan buruk tergantung pada yang satu ini. Jika sholat kita baik maka seluruh perbuatan kita juga akan baik, karena sholat yang kita lakukan setiap hari sebanyak lima waktu itu subuh, dzuhur, asar, magrib dan isya akan mencegah kita dari perbuatan jelek, namun sebaliknya jika kita mendirikan sholat dan masih juga melakukan hal yang tidak terpuji maka kita harus kembali pada diri kita masing-masing dan mengkoreksi kembali apakah sholat yang kita dirikan itu benar-benar sudah memenuhi syarat atau ketika kita mendirikannya, benak dan pikiran kita masih dikuasai atau diganggu oleh pikiran-pikiran selain Allah. Itu semua perlu juga kita perhatikan.
Sholat di awal waktu dalam pandangan Al-Quran
Allah swt berfirman: “Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[*]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” [1]
Imam Shadiq as bersabda:
امتحنوا شيعتنا عند مواقيت الصلاة كيف محافظتهم عليها
Ujilah syiah kami pada waktu-waktu sholat, bagaimana mereka menjaganya. [2]
Allah swt juga berfirman: “Celaka bagi orang-orang yang mendirikan sholat, yang mana mereka mendirikannya secara lalai.” [3] Berkenaan dengan ayat ini, Imam Shadiq as ditanya, beliau menjawab: “Yang dimaksud dengan ayat ini adalah orang yang melalaikan sholatnya, dan ia tidak mendirikannya di awal waktu tanpa ada halangan (uzur).[4]
Keutamaan sholat di awal waktu dalam pandangan riwayat
Imam Bagir as bersabda:
اعلم ان اول الوقت ابدا افضل فتعجل الخيرابدا ما استطعت
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya awal waktu itu adalah sebuah keutamaan, oleh karena itu laksanakanlah secepatnya pekerjaan baikmu selagi kamu mampu,.”[5]
Imam Shodiq as bersabda:
لفضل الوقت الاول على الاخير خير من ولده وماله
“Sesungguhnya keutamaan yang ada di awal waktu dibandingkan akhirnya lebih baik bagi seorang mukmin dari anak-anaknya dan hartanya.”[6]
Beliau juga dalam haditsnya yang lain bersabda:
فضل الوقت الاول على الاخير كفضل الآخرة على النيا
“Keutamaan awal waktu atas akhirnya sebagaimana keutamaan akherat terhadap dunia.”[7]
Imam Musa bin Jakfar as bersabda: “Sholat-sholat wajib yang dilaksanakan pada awal waktu, dan syarat-syaratnya dijaga, hal ini lebih wangi dari bunga melati yang baru dipetik dari tangkainya, dari sisi kesucian, keharuman dan kesegaran. Dengan demikian maka berbahagialah bagi kalian yang melaksanakan perintah shalat di awal waktu.”[8]
Imam Shadiq as bersabda: “Seorang yang mengaku dirinya haq (Syiah) dapat diketahui dengan tiga perkara, tiga perkara itu adalah: 1. Dengan penolongnya, siapakah mereka. 2. Dengan sholatnya, bagaimana dan kapan ia melaksanakannya. 3. Jika ia memiliki kekayaan, ia akan teliti dimana dan kapan akan ia keluarkan.[9]
Sholat di awal waktu cermin kesuksesan ruhani
Diantara salah satu rahasia penting sholat di awal waktu adalah keteraturan hidup dengan tolak ukur agama dan tidak lalai kepada tuhan. Adapun orang yang mendirikan sholat, namun tidak terikat dengan awal waktu, dasar tolak ukur hidup mereka adalah ditentukan oleh permasalahan selain tuhan, dan ketika masuk waktu sholat, mereka mendirikannya, namun terkadang di awal waktu, pertengahan dan atau diakhirnya, permasalahan ini sudah sangat merendahkan dan meremehkan sholat itu sendiri sebagai tiang dan pondasi agama bahkan merupakan rukun islam bagi setiap muslim, dan dengan demikian seseorang akan merasa bahwa setiap permasalahan duniawi yang datang, akan lebih ia dahulukan ketimbang mengerjakan sholat, seperti contoh: Di tengah pekerjaan, makanan sudah dihidangkan, dikarenakan teman atau tamu yang bertandang kerumah dan lain sebagainya dari permasalahan dunia yang menyebabkan kita lalai dan tidak mengerjakannya di awal waktu. Hal semacam ini adalah sebuah kejangkaan dan tidak komitmen terhadap urusan agama.
Adapun orang yang terikat -dengan urusan agama- mereka mendirikan sholat di awal waktu. Tolak ukur kehidupan mereka, mereka susun sesuai dengan tolak ukur yang sudah ditentukan oleh Ilahi. Dalam artian bahwa setiap pekerjaan telah disusun sedemikian rupa sehingga ketika datang waktu sholat, mereka tidak disibukkan dengan pekerjaan yang lain selain ibadah sholat. Dan perhatikanlah jika menjanjikan sasuatu jangan mendekati waktu sholat, dan jika hendak menyantap makan siang atau malam, hendaknya tidak pada waktu sholat, dan jika hendak mengundang tamu atau berpergian untuk tamasya, hendaknya disusun sesuai dengan waktu sholat. Dengan demikian ia telah menunjukkan bahwa untuknya agama dan sholat adalah segala-galanya. Permasalahan inilah yang memiliki pengaruh yang sangat dalam untuk membentuk jiwa seorang insan menuju kesempurnaan.
Sholat di awal waktu adalah rumus untuk dapat menguasai jiwa, hawa nafsu dan pikiran serta menentang keinginan syahwat, karena dengan cara mengatur waktu dan janji yang kuat, seorang manusia seiring dengan berjalannya waktu dapat menemukan dan berhadapan dengan berbagai ragam hawa nafsu. Ketika keragaman seperti makan, istirahat, rekreasi dan pekerjaan menghadang, yang mana seseorang berkeinginan untuk melakukannya, namun dikarenakan waktu sholat telah tiba, hal itu dikesampingkan demi beribadah kepada Tuhannya (sholat), hal yang demikianlah yang disebut dengan tegarnya jiwa dan kuatnya iman.
Seorang yang ingin mendirikan sholatnya di awal waktu, tentu telah mengatur jadwal kehidupannya, misalnya: untuk dapat sukses melaksanakan sholat subuh di awal waktu, dia akan tidur lebih awal dan meninggalkan sebagian menu(kegiatan) yang menyebabkan ia begadang malam, karena hal itu bertentangan dengan keterjagaan di awal waktu. Di lain hal kita mengetahui bahwa bangun diwaktu(azan) subuh itu memiliki banyak barakah dari sisi kejiwaan dan bahkan dari sisi materi.
Nah yang terpenting sekarang adalah kita harus mementingkan peranan sholat dalam diri kita, dan mulailah sejak saat ini mengambilnya sebagai rancangan yang mau tidak mau harus kita mulai dan kita kerjakan walaupun terkadang sering kali dalam memulainya kita ketinggalan untuk mengerjakan sholat itu di awal waktu, namun secepatnya kita mendirikannya. Bukan sebaliknya kemudian kita menaruhnya di akhir waktu, sehingga dengan cara ini, secara perlahan hal tersebut akan menjadi adat bagi kita untuk menjalankannya secara mudah dan tidak merasa beban. Dan ketika itulah sholat seseorang akan berbentur dengan keharuman dan kesucain yang luar biasa.
Dan Jika Tidak Sampai Laknatlah Aku
Almarhum Alamah Thabatabai dan Ayatullah Bahjat menukil dari almarhum Qadhi ra, ketika itu beliau berkata: “Kalau saja seorang yang mendirikan sholat wajibnya pada awal waktu dan ia tidak sampai pada jenjang yang tinggi (dari sisi keruhaniannya), maka laknatlah aku!.” (dalam naskah lain beliau berkata: “…maka ludahilah wajahku!”).
Awal waktu adalah rahasia yang sangat agung, karena firman allah swt yang berbunyi “ حافظوا على الصلوات Peliharalah segala sholatmu…”, adalah salah satu poros dan sebagai pusat, dan selain itu juga terdapat firman Allah yang lain yang berbunyi “ واقيموا الصلاة Dan dirikanlah sholat…”, seorang insan yang mementingkan dan mengikat dirinya untuk mendirikan sholat di awal waktu, pada dasarnya itu adalah baik, dan memiliki pengaruh yang sangat besar dan positif untuk dirinya, walau tanpa dihadiri dengan sepenuh hati.[10]
Dari mana engkau dapatkan kedudukan ini
Mullah Mahdi Naroki yang sangat melatih dirinya dengan sifat-sifat baik seperti wara, kesucian, kesehatan, ketakwaan dan lain-lainnya, sehingga dengan itu semua beliau berhasil dapat melihat dengan mata akherat, berkata: “Pada hari raya, saya pergi berziarah ke tempat pemakaman, dan saya berdiri ke sebuah makam dan kepadanya saya katakan: “Adakah hadiah yang dapat engaku berikan padaku di hari raya ini?”.
Malam harinya ketika saya beranjak tidur, dalam mimpi, saya melihat seseorang yang wajahnya indah dan bercahaya datang menghampiriku, dan berkata: “Datanglah esok hari ke makamku, akan aku berikan sesuatu kepadamu sebagai hadiah di hari raya”. Keesokan harinya aku datang kepemakaman yang diisyaratkan oleh mimpiku itu. Sesampainya aku di sana, tiba-tiba tersingkaplah alam barzah untukku. Ketika itu tampaklah sebuah taman yang indah dan sangat menakjubkan, di dalamnya ada sebuah pintu dan pepohonan yang sebelumnya tidak pernah seorang pun melihatnya, tapi aku dapat temukan di sana. Di tengahnya terdapat sebuah istana yang sangat megah berdiri kokoh. Kemudian saya diajak memasuki ke ruangan dalam istana, ketika aku masuk, aku melihat seseorang yang duduk penuh dengan keagungan di atas singgasana yang bertahtakan intan permata. Kepadanya aku katakan: “Dari golongan manakah engkau?. Ia menjawab: “Aku dari golongan orang-orang yang beribadah. Kemudian aku tanyakan kembali: “Dari manakah engkau dapatkan kedudukan ini?. Ia berkata: “Pekerjaan yang sehat, dan sholat berjamaah diawal waktu.[11]
Perjalanan Ahlul Bait as dalam Sholat di Awal Waktu:
Sholat Awal Waktu pada Perang Shiffiin (Shofain)
Dalam cuaca panas peperangan Shiffin, ketika imam Ali as sedang sibuk-sibuknya berperang, Ibnu Abbas ra melihat beliau yang sedang berada di tengah dua barisan perang itu, secara tiba-tiba menegadahkan wajahnya ke arah matahari, ia bertanya: “Wahai imam, Ya Amirul Mukminin, untuk apa hal itu engkau lakukan?. Beliau menjawab: “Aku melihatnya karena ingin memastikan apakah sudah masuk waktu sholat dzuhur, sehingga kita mendirikannya?. Kemudian Ibnu Abbas berkata: “Apakah sekarang ini saatnya untuk mendirikan sholat?. Peperangan telah menghalangi kita untuk mendirikan sholat, imam menjawab: “Untuk apa kita berperang melawan mereka?, Bukankah kita berperang dengan mereka supaya kita dapat mendirikan sholat?, hanya karena sholat kita berperang melawan mereka. Setelah itu perawi berkata: “Imam Ali sama sekali tidak pernah meninggalkan sholat malamnya walaupun pada malam “Lailatul Harrir”[12] (Lailatul Harrir adalah sebuah malam yang sangat genting dimana pasukan Imam Ali dan Muawiah (laknat Allah kepadanya) meneruskan perang mereka sampai pagi.)
Sholat Terakhir Imam Husain as
Siang hari dari sepuluh Muharram yang dikenal dengan hari Asyura, keadaan yang begitu menyengat karena teriknya matahari, dan cuaca yang panas dengan peperangan yang tidak seimbang sedang terjadi di tanah Karbala, salah seorang dari pembela Sayyidus Syuhada Imam Husain as bernama Abu Tsamamah Asshoidi kepada Imam berkata: “Wahai Aba Abdillah (Lakqab panggilan Imam Husain as), jiwaku aku korbankan untukmu, saya lihat para musuhmu ini sudah dekat denganmu, aku bersumpah demi Allah sungguh engkau tidak akan terbunuh, kecuali dengan seizin Allah aku kobankan dulu nyawaku, namun aku akan senang sekali menemui Tuhanku dalam keadaan aku telah menjalankan tugasku yaitu mendirikan sholat yang sekarang ini sudah saatnya melakukankan sholat dzuhur.
Seketika Imam Sayyidus Syuhada menengadahkan wajah suci beliau kearah langit dan melihat matahari (yang sudah condong) kemudian bersabda: “Engkau ingat akan sholat!, Semoga Allah swt menjadikan engkau termasuk orang-orang yang selalu ingat akan mendirikan sholat. Ya sekarang ini saatnya mendirikan sholat di awal waktu, mintalah dari mereka waktu sesaat untuk mengangkat senjata sehingga kita dapat mendirikan sholat. Seketika itu seorang yang terlaknat bernama Hashin bin Tamim berkata: “Sholat yang kalian dirikan tidak akan diterima., Kemudian perkataan itu dijawab oleh Habib bin Madzohir, dikatakan padanya: “Wahai peminum arak, kau pikir sholat yang didirikan oleh keluarga rasulullah saww tidak diterima Allah swt, sedangkan sholat yang kau dirikan diterima!, jangan kira begitu”.
Kemudian Imam Husain as mendirikan Sholat Khauf bersama segelintir para pembela beliau yang tersisa.[13]
Perjalanan Imam Khomaini dalam mendirikan sholat di awal waktu
Dalam sebuah media penerbitan yang menukil perkataan salah seorang dari putra Imam yang menceritakan bahwa: “Hari pertama kali Muhammad Reza Syah pergi, saat itu kami berada di kota Novel Losyatu. Hampir tiga atau empat ratus wartawan berkumpul mengelilingi rumah Imam, sebuah ranjang kecil disiapkan, dan Imam berdiri di atasnya. Seluruh kamera yang ada aktif mengontrol seluruh ruangan. Dan sesuai perjanjian setiap orang dari mereka melontarkan satu pertanyaan, setelah dua tiga pertanyaan, tiba-tiba suara azan terdengar, tanpa ada aba-aba Imam langsung meningalkan ruangan dan berkata: “Saat fadhilahnya (waktu yang diutamakan) melaksanakan sholat dzuhur”. Semua orang yang hadir merasa heran dan takjub karena Imam meninggalkan ruangan begitu saja. Kemudian ada seseorang yang memohon kepada beliau untuk sedikit bersabar sampai minimalnya empat atau lima pertanyaan yang akan disampaikan beberapa wartawan, kemudian Imam dengan marahnya berkata: “Tidak bisa sama sekali” dan pergi meninggalkan ruangan.[14]
Imam Khomaini ra sampai akhir hayatnya, selalu merasa khawatir untuk tidak dapat menjalankan sholatnya di awal waktu, walaupun ketika beliau dirawat di rumah sakit. Dinukil dari Syekh Ansori ketika datang menjenguk beliau yang sedang dirawat, berkata: “Apakah engkau hendak mendirikan sholat?, kemudian beliau menggerakkan tangannya dan kami pun sadar bahwa beliau sedang beribadah sholat.[15]
Semua yang aku miliki dari menjalankan sholat di awal waktu
Hujjatul Islam Haji Hasyimi Nejad berkata: “Tempo lalu ada orang tua yang datang ke sebuah masjid bernama Loleh Zar pada bulan Ramadhan, ia termasuk seorang yang sukses di zaman itu, dan sebelum azan dikumandangkan ia selalu hadir di dalam masjid.
Kepadanya aku katakan: “Haji Fulan, saya lihat engkau termasuk orang yang sangat sukses, karena setiap hari saya datang ke masjid ini, pasti engkau lebih dahulu datang dariku dan mengambil tempat di salah satu bagian masjid. Ia menjawab: “Sebenarnya, semua yang aku miliki ini, karena sholat yang aku dirikan di awal waktu. Kemudian setelah itu ia meneruskan perkataannya: “Pada masa mudaku, aku pergi ke Masyhad dan aku berjumpa dengan Almarhum Haji Syekh Hasan Ali Bagceh-i, aku katakan padanya: “Aku memiliki tiga keinginan, dan aku ingin Allah memberikan ketiganya di masa mudaku, bisakah engkau mengajarkan sesuatu sehingga aku dapat mencapai semua keinginanku tadi.
Kemudian beliau bertanya, “Apa yang engkau inginkan; , aku katakan padanya: “Aku ingin di masa mudaku, aku bisa mengamalkan ibadah haji, karena ibadah haji di masa muda memiliki kelezatan tersendiri”.
Lalu ia berkata: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.
Dan kembali aku katakan: “Keinginanku yang kedua adalah aku ingin Tuhan memberikanku istri yang baik dan sholehah”.
Beliau pun menjawab: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.
Keinginanku yang terakhir aku katakan: “Aku ingin Allah memberikanku sebuah pekerjaan yang terhormat”.
Kemudian beliau menjawab sama seperti jawaban yang pertama dan kedua: “Sholatlah di awal waktu dan berjamaah”.
Setelah itu aku mulai jalankan amalan yang diajarkan Syekh itu kepadaku, dan dalam jangka waktu tiga tahun, Allah memberikan aku jalan untuk dapat menjalankan ibadah haji, dan mendapatkan istri yang mukminah dan sholehah dan memberikan padaku sebuah pekerjaan yang mulia.[16] Allahu A’lam
Penulis: S2 Jurusan ulumul Quran di Universitas Imam Khomeini Qom, Republik Islam Iran
Sumber: http://www.Islamalternatif.net
* Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut kebanyakan ahli hadits, ayat Ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya. Dan ada yang mengatakan bahwa sholat wusthaa itu adalah sholat dzuhur.
[1] Surah Al-Baqarah ayat 238.
[2] Biharul Anwar jilid 80 hal: 23, dinukil dari kitab Qurbul isnad.
[3] Surah almaaun ayat 3-4.
[4] Biharul Anwar jilid 80 hal: 6.
[5] Idem dinukil dari kitab Asrar
[6] Idem hal: 12, dari kitab Qurbul Isnad.
[7] Idem dari kitab Tsawabul ‘Amaal.
[8] Idem hal: 18-20, dinukil dari kitab Tsawabul ‘Amaal dan Almahasin
[9] Idem.
[10] Dar Mahzare Digaran, hal, 99.
[11] Qeseha-e Namaz, hal: 92
[12] Biharul Anwar, jilid 80 hal: 23 dinukil dari Irsyadul Qulub, Dailami.
[13] Nafsul Mahmum, hal: 164.
[14] Simo-e Farzonegan, hal: 159.
[15] Dostonho-e Namaz, hal: 87. kemudian dikatakan bahwa Imam Khomaini setelah itu berkata: “Panggil perempuan-perempuan itu, ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mereka”. Ketika mereka datang, beliau berkata: “Jalan, jalan yang sangat sulit dan meletihkan, kemudian beliau mengulangi perkataan beliau dan berkata: “janganlah kalian berbuat dosa”.
[16] Idem.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s