Salafi wahabi dan sunni mempropagandakan hadis hadis syi’ah yang dha’if sehingga terkesan syi’ah mazhab yang busuk…

Salafi wahabi dan sunni mempropagandakan hadis hadis syi’ah yang dha’if sehingga terkesan syi’ah  mazhab yang busuk…

Pemakaian hadis hadis dha’if syi’ah  sebagai alat propaganda sunni  adalah ketidak jujuran mereka…

Benarkah Syiah Mengkafirkan Sahabat Rasulullah Saw?

Syiah tidak meyakini kemunafikan dan kekufuran sahabat sebagaimana yang Anda gambarkan, melainkan meyakini bahwa kebanyakan dari mereka menutup mata terhadap wasiat-wasiat Rasulullah saw dan menyimpangkan Islam hingga batasan tertentu dari relnya yang benar, kecuali beberapa gelintir orang dari mereka yang tetap teguh di jalan kebenaran

Ajaran Syi’ah Menghina dan Mengkafirkan Ahlus Sunnah ???

Benarkah Syiah mencela Para Sahabat?

 

Yang Mengkafirkan Syiahlah, yang Justru Kafir

Pada saat fatwa Rahbar yang membendung fitnah disebarkan, para ulama Ahlus Sunnah juga menyambut fatwa tersebut dengan hangat. Perwakilan marja taqlid di Kuwait mengajukan permohonan pada para ulama Ahlus Sunnah untuk melakukan hal yang sama. Mengharamkan pengkafiran dan penghinaan terhadap simbol-simbol Syiah.

 

.

Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam wal muslimin Sayid Muhammad Baqir Mehri salah seorang ulama syiah Kuwait menekankan bahwa barang siapa menuduh syirik orang-orang syiah maka mereka adalah musyrik, “Barang siapa menilai para pengikut syiah itu kafir justru merekalah yang kafir, barang siapa menuduh syiah sebagai anak mut’ah maka dia telah jauh dari islam, al-Qur’an dan Nabi Muhammad saaw”.

Beliau juga menyampaikan agar para ulama Ahlus Sunnah juga mengharamkan pengkafiran pada syiah, dia mengingatkan, ”Pada setiap umat Islam mereka harus menuntut agar chanel-chanel penyebar fitnah ditutup karena chanel –chanel itu hanya jadi media perpecahan dan tuduhan pada syiah dan pengkafiran pada umat islam”. Perwakilan marji’ taqlid di Kuwait sehubungan dengan pernyataan syaikh al Azhar dalam perlidungan pada masyarakat syiah dan kritik atas chanel-chanel wahabi yang keterlaluan berkata,” Syaikh al Azhar sebelum Doktor Ahmad Thaibi, syaikh Al Azhar Syaikh Mahmud Syaltut adalah ulama yang getol mengupayakan persatuan umat Islam, mereka berdua memperbolehkan umat islam untuk menganut madzhab Syi’ah, hal ini juga disampaikan mufti Mesir beberapa waktu yang lalu”.

Cukup menarik dimana fatwa Rahbar yang mengharapkan persatuan, fatwa pelarangan dan pengharaman untuk menghina orang orang terhormat Ahlus Sunnah dan pernyataan Syaikh Al Azhar penilaian kafir atas orang-orang yang mengkafirkan orang syi’ah, akhirnya banyak chanel Televisi satelit Nailist yang sudah ditutup dan dibekukan.

Bagaimana dan dengan logika apa kita dapat menyamakan di antara seluruh sahabat dan menyebut keduanya adalah sahabat? Misalnya antara Malik bin Nuwairah dan orang yang membunuhnya dengan keji dan pada malam itu juga seranjang dengan istrinya! Sekali-kali tidak dapat dibenarkan peminum khamar seperti Walid bin Uqbah hanya karena statusnya sebagai sahabat kemudian kita bela. Atau menyokong dan membela yang menjadikan pemerintahan Islam seperti sebuah kekuasaan diktator dan membunuh orang-orang shaleh dalam umat dan mengangkat senjata berperang melawan imam dan khalifah sah (Ali bin Abi Thalib)? Apakah dapat dibenarkan kita memandang sama antara Ammar Yasir dan kepala kelompok pemberontak hanya karena keduanya sahabat padahal Rasulullah Saw bersabda: “Ammar akan dibunuh oleh kelompok tiran dan pemberontak.”

Di antara perkara yang menjadi sasaran tudingan Syiah semenjak dahulu hingga kini (sebagaimana yang diklaim oleh musuh-musuh Syiah) adalah bahwa Syiah memendam dendam dan kusumat kepada sahabat. Tatkala kita mengkaji tudingan secara realistis dan jauh dari segala sikap puritan maka kita akan jumpai tudingan ini sama sekali jauh dari kenyataan yang ada. Lantaran Syiah sangat menghormati Rasulullah Saw dan para sahabatnya. Bagaimana mungkin Syiah memendam kusumat kepada sahabat sementara mereka memandang sahabat sebagai penyebar syariat dan cahaya Tuhan untuk kemanusiaan? Mereka adalah sandaran dan pembela Rasulullah Saw. Orang-orang yang berjihad di jalan Allah! Bagaimana mungkin Syiah membenci mereka sementara Allah Swt memuji mereka dan berfirman tentang mereka, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud

.

Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, dan tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Qs. Al-Fath [48]:29)
Mereka adalah orang-orang yang menolong Allah dan Rasul-Nya. Menghidupkan agama-Nya dan membangun dasar pemerintahan Islam serta mengeliminir jahiliyyah.[i]

Imam dan pemimpin kaum Syiah, Baginda Ali bersabda ihwal para sahabat Rasulullah Saw: “Aku telah melihat para sahabat Muhammad Saw, tetapi aku tak menemukan seseorang yang menyerupai mereka. Mereka mengawali hari dengan debu di rambut dan wajah (dalam kesukaran hidup) serta melewatkan malam dalam sujud dan berdiri dalam salat. Kadang-kadang mereka letakkan (sujudkan) dahi mereka, dan terkadang pipi mereka. Dengan ingatan akan kebangkitan, mereka nampak seakan berdiri di atas bara menyala. Nampak seakan di antara mata mereka ada tanda-tanda seperti lutut kambing, akibat sujud yang lama. Bilamana nama Allah disebutkan, air mata mereka mengalir deras hingga kerah baju mereka basah. Mereka gemetar karena takut akan hukuman dan harapan akan pahala, seperti pohon gemetar pada hari angin topan.”[ii]

Demikian juga, Baginda Ali As menandaskan, “Saudara-saudaraku yang mengambil jalan (yang benar) dan melangkah dalam kebenaran? Di manakah ‘Ammar? Di manakah Ibn  at-Tayyihan? Di mana Dzusy-Syahadatain? Dan di manakah yang lain-lain seperti mereka di antara para sahabat tnereka yang telah membaiat sampai mati dan yang kepalanya (yang tertebas) dibawa kepada musuh yang keji? Kemudian Amirul Mukminin menggosokkan tangannya ke janggutnya yang mulia lalu menangis dalam waktu lama, kemudian ia melanjutkan: Wahai! saudara-saudaraku yang membaca Al-Qur’an dan mengeluarkan hukum berdasarkan al-Qur’an, memikirkan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Tuhan kepada mereka dan menunaikannya, menghidupkan sunah dan menghancurkan bidah. Ketika mereka dipanggil untuk berjihad, mereka menyambut dan mempercayai pemimpin mereka lalu mengikutinya.”[iii]

Imam Sajjad As juga dalam Shahifah Sajjadiyah mendoakan para sahabat Rasulullah Saw, “Ya Allah! di antara penghuni bumi para pengikut rasul dan yang membenarkan mereka secara gaib ketika para pembangkang melawan mereka dengan pembohongan mereka merindukan para rasul dengan hakikat keimanan (tatkala orang-orang mendustakan dan menentangnya). Pada setiap zaman dan masa ketika Engkau mengutus seorang rasul memberikan petunjuk dan jalan kepada manusia sejak Adam sampai Muhammad Saw para imam pembawa petunjuk pemimpin ahli takwa sampaikan shalawat kepada mereka semua. Kenanglah mereka dengan ampunan dan keridhaan! Ya Allah! Khususnya para sahabat Muhammad yang menyertai Nabi dengan persahabatan sejati yang menanggung bala yang baik dalam membelanya menjawab seruannya ketika ia memperdengarkan hujjah risalahnya. Meninggalkan istri dan anak-anak untuk menegakkan kalimahnya. Memerangi bapak-bapak dan anak-anak untuk meneguhkan nubuwahnya dan memperoleh kemenangan karenanya. Mereka yang dipenuhi kecintaan kepadanya mengharapkan perdagangan yang tidak pernah merugi dalam mencintainya. Mereka yang ditinggalkan keluarga karena berpegang kepada talinya. Mereka yang diusir oleh kerabatnya ketika berlindung dalam naungan kekeluargaannya. Ya Allah! Jangan lupakan mereka apa yang telah mereka tinggalkan karena-Mu dan di jalan-Mu. Ridhoilah mereka dengan ridho-Mu. Karena telah mendorong manusia menuju kepada-Mu dan bersama rasul-Mu mereka menjadi para dai yang menyeru kepada-Mu. Balaslah dengan kebaikan pelarian mereka dan kepergian mereka dari kaumnya menuju-Mu. Meninggalkan kesenangan menuju kesempitan. Balaslah dengan kebaikan kepada mereka yang teraniaya karena menegakkan agama-Mu. Ya Allah! Sampaikan pahala terbaik kepada para pengikut mereka dalam kebaikan yang berkata, “Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman.” [iv]
Demikian juga para juris Syiah meyakini kedudukan dan derajat para sahabat. Syahid Shadr berkata, “Sahabat adalah manifestasi iman dan penerang, terbaik dan model orang shaleh terbaik bagi kemajuan umat Islam. Sejarah umat manusia tidak akan mengenang sebuah generasi dengan keyakinan lebih unggul, lebih utama, lebih jenius, lebih suci daripada para penolong yang dididik oleh nabi.”[v]

Benar kita memiliki perbedaan dengan Ahlusunnah. Hal itu dikarenakan kami membagi sahabat Rasulullah Saw dan orang-orang yang hidup dengannya dengan mengambil inspirasi dari ayat-ayat al-Qur’an menjadi beberapa bagian:
1.    Kelompok orang-orang terdahulu: “Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Qs. Al-Taubah [9]:100)
2.    Kelompok yang memberikan baiat di bawah pohon: “Sesungguhnya Allah telah rida terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berbaiat kepadamu di bawah pohon. Allah mengetahui keimanan dan kejujuran yang ada dalam hati mereka. Oleh karena itu, Dia menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Qs. Al-Fath [48]:18)
3.    Kelompok yang berinfak dan berjihad sebelum kemenangan: “Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sebelum tercapai kemenangan (dengan orang yang menginfakkannya setelah kemenangan tercapai). Mereka memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Tapi Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Hadid [57]:10)
Sebagai kebalikan model-model utama dan pribadi-pribadi atraktif, al-Qur’an menyebutkan kelompok-kelompok lainnya yang sangat berseberangan secara diametral dengan model-model di atas:
1.    Orang-orang munafik.[vi]
2.    Orang-orang munafik yang tersembunyi dan Rasulullah Saw tidak mengenal mereka.[vii]
3.    Orang-orang yang lemah iman dan sakit hatinya.[viii]
4.    Orang-orang (lemah) yang mendengarkan dengan seksama ucapan-ucapan orang yang suka membuat fitnah.[ix]
5.    Orang-orang yang di samping mengerjakan kebaikan pada saat yang sama juga mengerjakan keburukan.[x]
6.    Orang-orang yang cenderung murtad.[xi]
7.    Orang-orang fasik yang berbeda antara ucapan dan perbuatannya.[xii]
8.    Orang-orang yang iman belum lagi masuk ke dalam hati-hati mereka.[xiii] Dan sifat-sifat tercela lainnya yang disebutkan sebagian dari mereka.

Di samping itu, di antara para sahabat terdapat orang-orang yang bermaksud membunuh Rasulullah Saw pada sebuah malam yang dilakukan oleh Uqbah.
Karena itu kita dapat menyimpulkan pandangan Syiah terkait dengan sahabat: Dalam mazhab Ahlulbait As sahabat seperti orang lain artinya di antara mereka terdapat orang yang adil dan tidak adil. Dalam pandangan Syiah tidak semua sahabat itu adil. Sepanjang perilaku dan perbuatan Rasulullah Saw tidak menjelma dalam kehidupan mereka maka status mereka sebagai sahabat tidak memiliki peran dalam keadilannya.

Dengan demikian, kriteria dan pakemnya adalah perilaku dan perbuatan praktis. Barang siapa yang perbuatan dan perilakunya sejalan dengan kriteria dan pakem agama Islam maka ia adalah seorang yang adil. Selainnya tidak adil. Sebagaimana yang telah kami katakan bahwa pandangan ini selaras dengan ajaran al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Bagaimana dan dengan logika apa kita dapat menyamakan di antara seluruh sahabat dan menyebut keduanya adalah sahabat? Misalnya antara Malik bin Nuwairah dan orang yang membunuhnya dengan keji dan pada malam itu juga seranjang dengan istrinya! Sekali-kali tidak dapat dibenarkan peminum khamar seperti Walid bin Uqbah hanya karena statusnya sebagai sahabat kemudian kita bela. Atau menyokong dan membela yang menjadikan pemerintahan Islam seperti sebuah kekuasaan diktator dan membunuh orang-orang shaleh dalam umat dan mengangkat senjata berperang melawan imam dan khalifah sah (Ali bin Abi Thalib)? Apakah dapat dibenarkan kita memandang sama antara Ammar Yasir dan kepala kelompok pemberontak hanya karena keduanya sahabat padahal Rasulullah Saw bersabda: “Ammar akan dibunuh oleh kelompok tiran dan pemberontak.”[xiv]

Apakah  ada orang yang berakal akan berbuat demikian? Dengan asumsi kita melaukan hal seperti ini apakah masih ada yang tersisa dari Islam tatkala kita senantiasa berupaya menjustifikasi perbuatan-perbuatan para pejuangnnya dan orang-orang tiran hanya karena mereka sahabat?
Pada hakikatnya Islam lebih mulia dan agung dari tindakan ingin mencampur aduk dengan kejahatan orang-orang jahat dan menyimpang pada setiap ruang dan waktu!! Inilah keyakinan kami. Kami tidak berbasa-basi dengan siapa pun. Lantaran kebenaran lebih layak untuk dijelaskan dan diikuti.
Kami ingin bertanya kepada saudara-saudara Sunni apakah kalian memandang sama antara Khalifah Ketiga Utsman dan orang yang membunuhnya?

Apabila keduanya adalah sama lalu mengapa serangan banyak dilancarkan kepada Ali As dan dengan dalih menuntut darah Utsman api peperangan Jamal dan Shiffin bisa meletus? Dan apabila dua kelompok ini tidak sama, orang-orang yang menentang dan orang-orang yang mendukung dalam pembunuhanya – apatah lagi orang-orang yang membunuhnya – mereka diperkenalkan sebagai orang-orang yang keluar aturan dan syariat maka hal itu adalah tiadanya keadilan pada sahabat! Lantas mengapa ada serangan kepada Syiah sementara pandangan mereka sama dengan pandangan yang lain?

Karena itu, dalam pandangan Syiah kriterianya adalah keadilan, berpegang teguh kepada sirah Rasulullah Saw dan menjalankan sunnah beliau semasa hidupnya dan pasca wafatnya. Barang siapa yang berada di jalan ini maka, dalam pandangan Syiah, ia harus dihormati dan jalannya diikuti serta didoakan semoga rahmat Tuhan baginya melimpah dan memohon supaya ditinggikan derajatnya. Namun orang-orang yang tidak berada di jalan ini kami tidak memandangnya sebagai orang adil. Sebagai contoh dua orang sahabat mengusung lasykar disertai dengan salah seorang istri Rasulullah Saw lalu  berhadap-hadapan dengan khalifah legal Rasulullah Saw Ali bin Abi Thalib As menghunus pedang di hadapannya di perang Jamal. Mereka memulai perang yang menelan ribuan korban jiwa kaum Muslimin. Izinkan kami bertanya apakah angkat senjata dan menumpahkan darah orang-orang tak berdosa ini dapat dibenarkan?

.

Atau orang lain yang disebut sebagai sahabat Rasulullah Saw dan menghunus pedang pada sebuah peperangan yang disebut sebagai Shiffin. Kami berkata perbuatan ini bertentangan dengan syariat dan memberontak kepada imam dan khalifah legal. Perbuatan-perbuatan ini tidak dapat diterima dengan membuat justifikasi bahwa mereka adalah sahabat. Demikianlah poin asasi perbedaan pandangan antara Syiah dan yang lainnya. Jelas bahwa di sini yang mengemuka bukan pembahasan mencela dan melaknat sahabat.
[Pernah dimuat di site Islam Quest]

[i]. ‘Adâlah Shahâbi, hal. 14, Majma’ Jahani Ahlulbait As.
[ii]. Nahj al-Balâghah, hal. 144, Khutbah 97.
[iii]. Nahj al-Balâghah, hal. 164, Khutbah 97, riset oleh Subhi Shaleh.
[iv]. Shahifah Sajjadiyah, hal. 42, Doa Imam untuk Para Pengikut Para Nabi.
[v]. Majmu’e Kâmilah, No. 11, Pembahasan ihwal Wilayah, hal. 48.
[vi]. “Dan infakkanlah sebagian rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata, “Ya Tuhan-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku barang sekejap sehingga aku dapat bersedekah dan termasuk orang-orang yang saleh?” (Qs. Al-Munafiqun [63]:10)
[vii]. “Di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah ada sekelompok orang yang keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (Qs. Al-Taubah [9]:101)
[viii] . “(Ingatlah) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawah (kota)mu (sehingga mereka mengepung kota Madinah), dan ketika penglihatan(mu) terbelalak (lantaran takut) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang yang beriman dan mereka diguncangkan dengan guncangan yang sangat.” (Qs. Al-Ahzab [32]:10-11)

.
[ix]. “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu. Karena itu, mereka selalu bimbang dalam keragu-raguan mereka. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal (anak-anak kecil, orang-orang tua, dan orang-orang yang sedang menderita penyakit) itu.” Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah bagimu selain kerusakan dan keraguan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu untuk menyulut fitnah (dan kekacauan) di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang (lemah iman) yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim.” (Qs. Al-Taubah [9]:45-47)

.
[x]. “Dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Taubah [9]:102)
[xi]. “Kemudian setelah kamu berduka cita, Allah menurunkan kepadamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan darimu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri (dan tidak mengantuk); mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Apakah kita memiliki suatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?” Katakanlah, “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya berada di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata, “Sekiranya kita memiliki suatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah, “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Qs. Ali Imran [3]:154
[xii]. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan, lalu kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. Al-Hujurat [49]:6); “Maka apakah orang yang beriman seperti orang yang fasik? Mereka tidak sama.” (Qs. Al-Sajdah [32]:18)

.
[xiii]. Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, ‘Kami telah tunduk’ karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Jika kamu taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Hujurat [49]:14)
[xiv]. Silahkah lihat, Fushul al-Muhimmah, Abdulhusain Syarafuddin, hal. 189.

KONSEP LAKNAT DI DALAM AL-QUR’AN

Pengenalan

Perkataan la‘nat (laknat) dan pecahannya disebut sekurang-kurangnya 32 kali di dalam al-Qur’an dalam pelbagai perkara yang melanggari perintah Allah dan Rasul-Nya. Mengikut Muhammad Abu Bakr ‘Abd al-Qadir al-Razi perkataan la‘nat (laknat) memberi erti “pengusiran dan berjauhan dari kebaikan” (al-Tard wa al-Ib’ad mina l-khair) (Mukhtar al-Sihhah, hlm. 108, Cairo, 1950). J. Milton Cowan menyatakan la‘nat adalah “curse”. La‘natullahi ‘Alaihi bererti “God’s curse upon him” (A Dictionary of Written Arabic, London 1971, hlm. 870). Manakala menurut Kamus Dewan pula menyatakan laknat adalah “kemurkaan Allah dan jauh dari petunjuk-Nya; setiap perbuatan jahat akan menerima kutukan (laknat) daripada Allah (Kamus Dewan, hlm. 694, Kuala Lumpur, 1971).

Mereka yang dilaknati di dalam al-Qur’an

Di sini dikemukakan sebahagian daripada mereka yang dilaknati di dalam al- Qur’an seperti berikut:

1Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perintah-Nya

Firman-Nya Sesungguhnya Allah melaknat (mengutuk) orang-orang yang kafir (ingkar) dan menyediakan untuk mereka api yang menyala-nyala” (Al- Ahzab (33):64) “Sesungguhnya di atas engkau laknat sampai hari pembalasan” (Al-Hijr (15):35) “Sesungguhnya di atasmu laknatku sampai hari pembalasan” (Sad (38):78)

Ini menunjukkan barangsiapa yang mengingkari walaupun satu hukum daripada hukum-hukum-Nya adalah termasuk orang yang ingkar terhadap hukum-Nya. Apatah lagi jika seorang itu menukarkan hukum Allah dengan hukumnya sendiri. Kerana setiap individu Muslim sama ada Nabi (Saw.) atau bukan Nabi tidak boleh menyalahi al-Qur’an. Firman-Nya “Katakanlah: Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Tuhan-ku, akan azab hari yang besar” (Al-An’am (96):15). Jika Nabi (Saw.) merasa takut kepada Allah jika dia mendurhakai-Nya, maka orang lain sama ada yang bergelar khalifah atau sahabat atau mana-mana individu sepatutnya lebih takut lagi untuk mendurhakai perintah-Nya.

2Laknat Allah kepada mereka yang menyakiti-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya; “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, nescaya mereka dilaknati Allah di Dunia dan di Akhirat dan Dia menyediakan untuk mereka seksa yang menghinakan (mereka) (Al-Ahzab (33):57).

Ini bererti barang siapa yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya walau dengan apa cara sekalipun dilaknati Allah, Rasul-Nya,para Malaikat-Nya dan Mukminun. Sama ada dengan menentang hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya atau menghina Allah dan Rasul-Nya dengan membatalkan hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya di atas alasanmaslahah umum atau sebagainya.

Justeru itu, orang yang menghina Nabi (Saw.) dan mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau” di hadapan Nabi (Saw.) “Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3]”. “Orang yang telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.), Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar” [Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida,Tarikh, I, hlm. 156], merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II ,hlm.14; Umar Ridha Kahhalah,A’lam al-Nisa’, III, hlm. 208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku, dia menyakiti Allah” Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku,dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah” “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga” (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.129-131 dan lain-lain).

Mereka yang membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V, hlm. 140), “Menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.)” [al-Dhahabi,Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111] , mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’’ hlm.136) adalah termasuk orang yang dilaknati Allah, Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun. Dan jika seorang itu tidak melakukan laknat kepada mereka di atas perbuatan mereka yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka dia bukanlah Mukmin yang sebenar. Apatah lagi jika dia mempertahankan perbuatan mereka tersebut sebagai sunnah atau agama bagi bertaqarrub kepada Allah (swt).

3. Laknat Allah kepada mereka yang menyembunyikan hukum-Nya di dalam kitab-Nya

Firman-Nya “Sesungguhnya mereka yang menyembunyikan apa yang Kami turunkan dari keterangan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada orang ramai, nescaya mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati oleh orang-orang yang mengutuknya” (Al-Baqarah (2):159).

Ini bererti barang siapa yang menyembunyikan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya yang sepatutnya didedahkan kepada masyarakat, tetapi dia tidak menerangkannya kepada mereka kerana kepentingan tertentu maka dia dilaknati Allah dan orang-orang yang melaknatinya. Apatah lagi jika dia seorang yang mempunyai autoritatif di dalam agama. Kerana konsep hukum Allah tidak boleh disembunyikannya, kerana ia harus dilaksanakannya. Di samping itu, dia tidak boleh cenderung kepada orang-orang yang zalim, kerana Firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka. Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah, kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud(11):113).

4Laknat Allah kepada mereka yang membohongi-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya “Barang siapa yang membantah engkau tentang kebenaran itu, setelah datang kepada engkau ilmu pengetahuan, maka katakanlah: Marilah kami panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan kami dan perempuan kamu dan diri kami dan diri kamu, kemudian kita bermubahalah (bersungguh-sungguh berdoa), lalu kita jadikanlaknat Allah atas orang yang berbohong” (Ali ‘Imran (3):61).

Ini bererti mereka yang membohongi Allah dan Rasul-Nya selepas dikemukakan hukum al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, tetapi mereka masih membantahnya, maka mereka itudilaknati Allah dan Rasul-Nya. Ayat ini dikenali dengan ayat al-Mubahalah. Ia berlaku di antara Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya (a.s) di satu pihak dan Nasrani Najran di pihak yang lain.

Nabi (Saw.) telah mempertaruhkan kepada Nasrani Najran (abna’a-na) anak-anak kami (al-Hasan dan al-Husain a.s), (nisa’-ana) perempuan kami (Fatimah a.s) dan (anfusa-na) diri kami (Ali a.s). Imam Ali al-Ridha berkata: “Sesungguhnya ia dimaksudkan dengan Ali bin Abi Talib (a.s). Buktinya sebuah hadis telah menerangkan maksud yang sama, seperti berikut: ” ... aku akan mengutuskan kepada mereka seorang lelaki seperti diriku [ka-nafsi]” Iaitu Ali bin Abi Talib. Ini adalah suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, kelebihan yang tidak boleh dikaitkan dengan orang lain dan kemuliaan yang tidak dapat didahului oleh sesiapa pun kerana diri Ali seperti dirinya sendiri” (Muhammad Babawaih al-Qummi, Amali al-Saduq Najaf, 1970, hlm.468).

Akhirnya mereka enggan bermubahalah dengan Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya, lalu mereka membayar jizyah kepada Nabi (Saw.). Jika Nasrani Najran tidak berani menyahutimubahalah Nabi (Saw.) dengan pertaruhan Ahlu l-Baitnya, kerana kebenarannya, apakah gerangan mereka yang mengakui al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya sebagai asas agama mereka berani menentang Ahlu l-Bait (a.s), kemudian menyembunyikan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, khususnys mengenai mereka? Jika mereka melakukan sedemikian, nescaya mereka dilaknati oleh Allah dan Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun.

5. Laknat Allah kepada mereka yang mendurhakai-Nya dan Rasul-Nya

Firman-Nya “Telah dilaknati orang-orang yang kafir di kalangan Bani Isra’il di atas lidah Daud dan Isa anak lelaki Maryam. Demikian itu disebabkan mereka telah mendurhaka dan melampaui batas. Mereka tidak melarang sesuatu yang mungkar yang mereka perbuat. Sungguh amat jahat apa yang mereka perbuat” (Al-Ma’idah (5):78-79).

Firman-Nya “Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35).

Ini bererti barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya; sama ada melakukan perkara-perkara yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta tidak melakukan konsep “Amru Ma’ruf wa Nahyu Munkar”, maka mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka para Malaikat dan Mukminun akan melaknati mereka.

6Laknat Allah kepada mereka yang zalim

Firman-Nya “Ahli syurga menyeru ahli neraka: Kami telah memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami dengan sebenarnya. Adakah kamu memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami dengan sebenarnya? Mereka itu menjawab: Ya. Lalu menyeru orang yang menyeru (Malaikat) di kalanggan mereka: Sesungguhnyalaknat Allah ke atas orang yang zalim (iaitu) orang-orang yang menghalangi jalan Allah dan mereka mencari jalan bengkok, sedang mereka itu kafir terhadap Akhirat” (Al-A’raf (7): 44-45) dan, “Barang siapa yang tidak menghukum dengan hukum Allah, maka merekalah orang yang zalim”) Al-Ma’dah (5):45)

Ini bererti sebarang kecenderungan terhadap orang-orang yang zalim akan di sambar oleh api neraka. Apatah lagi jika seorang itu meredai atau menyokong mereka atau bekerja sama dengan mereka. Saidina Ali (a.s) berkata: “Mereka yang bersekutu di dalam kezaliman adalah tiga: Pelaku kezaliman, pembantunya dan orang yang meridhai kezaliman itu” (Tuhafu al ‘Uqul ‘an Ali r-Rasul, hlm. 23 dan lain-lain. Justeru itu mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya serta Mukminun.

7. Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perjanjian Allah, melakukan kerosakan di bumi dan memutuskan silaturahim

Firman-Nya “Mereka yang mengingkari janji Allah sesudah eratnya dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah supaya diperhubungkan dan mereka yang membuat kerosakan di muka bumi, untuk mereka laknat dan untuk mereka tempat yang buruk” (Al-Ra’d (13):25) dan “Apakah kiranya jika kamu menjadi wali (berkuasa) kamu melakukan kerosakan di muka bumi dan memutuskan silatu r-Rahim? Mereka itulah yang dilaknati Allah, lalu Dia memekakkan mereka dan membutakan pemandangan mereka ” (Muhammad (47): 22-23).

Ini bererti mereka yang mengingkari janji Allah dengan mendurhakai-Nya, kemudian melakukan kerosakkan di muka bumi dengan mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya serta memutuskan silaturahim, maka bagi mereka laknat Allah dan Rasul-Nya.

Justeru itu tidak hairanlah jika Saidina Ali (a.s) telah melaknati mereka yang telah mengubah agama Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Beliau berdoa: Wahai Tuhanku! Laknatilah mereka yang telah mengubah agama-Mu, menukar ni‘kmat-Mu (khilafah), menuduh perkara-perkara yang bukan-bukan terhadap Rasul-Mu (Saw.), menentang jalan-Mu, menyalahi agama-Mu, mengingkari nikmat-Mu, menentang kalam-Mu, mempersenda-sendakan Rasul-Mu…(al-Majlisi, Bihar al-Anwar, Beirut 1991, xxx, hlm. 393). Sementara Imam Ja‘far al-Sadiq pula berdoa: Wahai Tuhanku! Pertingkatkanlah laknat-Mu dan azab-Mu ke atas mereka yang telah mengingkari ni‘mat-Mu, mengkhianati Rasul-Mu, menuduh Nabi-Mu perkara yang bukan-bukan dan menentangnya…(Ibid, hlm. 395).

Kesimpulan

Berdasarkan kepada ayat-ayat tersebut, maka Laknat boleh atau harus dilakukan kepada mereka yang mempersendakan Allah dan Rasulullah (Saw.), menghina, mengingkari, membatal, mengubah, menangguh dan menggantikan sebahagian daripada hukum Allah (SWT) dan Sunnah Rasul-Nya dengan pendapat atau sunnah mereka sendiri sama ada orang itu bergelar khalifah atau sahabat atau tabi‘in dan sebagainya.

Justeru itu, ungkapan “melaknat khalifah atau sahabat tertentu atau polan dan polan” tidak menjadi perkara sensitif lagi jika kita meletakkan mereka sama ada khalifah, sahabat, individu atau kita sendiri di bawah martabat Rasulullah (Saw.), dan Rasulullah (Saw.) pula di bawah martabat Allah (SWT). Tetapi jika mereka meletakkan seorang khalifah, sahabat atau mana-mana individu lebih tinggi daripada martabat Allah dan Rasul-Nya dari segi pengamalan hukum dan sebagainya, maka mereka tidak akan meredai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuhnya di dalam perkara tersebut. Kerana penilaian kebenaran bagi mereka bukanlah al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) secara keseluruhannya, malah seorang khalifah atau sahabat menjadi penilaian kebenaran mereka. Lalu mereka menjadikan pendapat atau sunnah “mereka” yang menyalahi Nas sebagai agama bagi mendekatkan diri mereka kepada-Nya.

Salam dan Solawat.

Ya Fatimah Zahra

Baru-baru ini, kes laknat menjadi isu besar semula akibat perbuatan Syeikh Yasser Al Habib, yang membuat penghinaan bersifat peribadi ke atas simbol-simbol AhlulSunnah. Bagaimanapun keributan itu akhirnya dipadamkan atau berjaya diredakan dengan pengeluaran fatwa menghina peribadi-peribadi ini oleh Ayatollah Ali Khamenei.

Fatwa ini mendapat berbagai jenis reaksi, samada dari Sunni dan Syiah. Saya tidak mahu menyentuh lebih lanjut, cuma mahu menekankan isu ini dari segi melaknat.

Terdapat perbezaan besar antara menghina dan melaknat. Melaknat bukanlah semata-mata ajaran Syiah, malah ialah merupakan ajaran Islam, iaitu untuk melaknat orang-orang zalim. Begitu banyak sekali yang dapat kita temukan di dalam Al Quran dan Sunnah, Allah swt dan Rasulullah melaknat orang-orang yang zalim, yang menyakiti Rasulullah dan kaum Muslimin, penipu,pembunuh dan lain-lain. Tidak perlu rasanya saya menyatakan kesemuanya disini kerana ia adalah satu pengetahuan umum. So, apakah laknat dari sudut pandang kaum Syiah?

Apa yang saya faham, laknat atau la’an bermakna, memohon kepada Allah swt agar menjauhkan seseorang itu dari rahmatNya. Bererti, apabila seseorang itu dilaknat, maka beliau jauh dari rahmat Allah swt. Pendek kata, laknat ialah satu permohonan doa kepada Allah swt. Laknat juga boleh dilihat sebagai satu tindakan berlepas diri dari sesuatu perkara. Jika saya melaknat seorang pembunuh, maka saya juga secara automatik, tidak meredhai tindakan beliau dan berjanji kepada diri sendiri untuk tidak mengikuti kesalahan beliau.

Perlu di ingat sekali lagi di sini, melaknat bukanlah ajaran Syiah, tetapi merupakan ajaran agama Islam. Apabila seseorang Syiah melaknat, maka ia dilakukan atas dasar individu, atas dasar cinta individu itu kepada Ahlulbait(as) dan benci mereka terhadap orang-orang yang menyakiti mereka, kerana menyakiti seorang Muslim sudah dianggap zalim, apatah lagi keluarga suci Rasulullah(sawa). Apa yang menjadi pegangan Syiah ialah Tawalla dan Tabbarra, iaitu mencintai Ahlulbait dan orang-orang yang mencintai mereka, serta menjauhi, memarahi, tidak meredhai dan berlepas tangan dari orang-orang yang menyakiti mereka.

Di sini saya bagi contoh. Sejarah membuktikan bahawa Khalifah Abu Bakr dan Umar menyakiti Fatimah(as) yang mana, keredhaan Fatimah telah disebutkan oleh Rasulullah(sawa) sebagai keredhaan baginda. Atas dasar Tawalla, maka saya akan berasa sedih kerana seseorang yang saya sayangi di sakiti, dan atas dasar Tabbarra, saya akan bertindak berlepas tangan dari tindakan pelakunya. Antara yang boleh saya lakukan:

  • Memohon Allah swt melaknat si pelaku.
  • Tidak meredhai si pelaku.
  • Tidak mencontohi si pelaku.

Mungkin terlampau jauh kalau kita ambil contoh di atas. Saya bagi contoh lagi. Bayangkan, jika ibu kita sendiri dibunuh, dihina dan diseksa. Dan kita mengetahui bahawa ibu kita ialah seorang yang baik dan beriman. Apakah perasaan kamu terhadap ibu kamu? Saya pasti kalau kamu sayangkan ibu kamu, maka kamu akan berasa sedih. Maka itulah Tawalla kamu kepada ibu kamu.

Bagaimana pula perasaan kamu kepada pembunuh itu? Marah?Benci? Masing-masing mengetahui. Jadi apakah yang boleh kamu lakukan kepada orang zalim ini? Jawapannya seperti di atas, samalah dalam konteks Ahlulbait(as) dan musuh-musuh mereka. Dan inilah pegangan Syiah. Kami tidak boleh dan tidak mampu untuk meletakkan orang yang dizalimi dan menzalimi di satu tempat yang sama, kerana kami sayangkan Ahlulbait. Sudah pasti kamu juga tidak akan meletakkan pembunuh ibu kamu dan ibu kamu di tempat yang sama, melainkan kamu ialah orang yang jahil lagi zalim, kerana jika begitu, itu bermakna kamu meredhai pembunuh itu. Bayangkanlah perasaan ibu kamu jika kamu berbuat begitu.

Imam Ali(as) pernah berkata: “Orang-orang yang menyamakan kami dengan musuh kami bukanlah dari kalangan kami.”

Itu sudah cukup menerangkan semuanya.

Tetapi melaknat juga perlu ada etikanya, dan etika inilah yang membezakan orang yang berilmu dengan yang jahil. Kami mengetahui bahawa kalian saudara dari Sunni tidak mengetahui atau tidak menerima kebenaran ini, samada kerana kejahilan atau kerana syaitan. Maka, atas dasar etika, maka tidak bolehlah untuk melaknat secara terbuka tambah-tambah di hadapan saudara Sunni yang pastinya akan tercengang mendengar perkara ini. Akhirnya, keburukan yang terhasil lebih banyak dari kebaikan yang didambakan.

Ini telah terjadi dan dapat kita lihat dari perbuatan Syeikh Yasser Al Habib. Beliau bukan sahaja tidak beretika, malah menghina peribadi tokoh-tokoh tertentu, dengan kata-kata cacian.

Islam dan Syiah tidak pernah membenarkan penghinaan kepada peribadi mana-mana manusia punContohnya seperti Aisyah berada dalam neraka, Aisyah berzina(nauzubillah) dan lain-lain. Ini adalah satu perbuatan yang mendatangkan dosa walaupun kepada orang yang zalim, kerana akhirnya kita telah bersifat seperti mereka. Lalu dimanakah Tabbarra kita?

Yang dibenarkan oleh Islam dan Syiah hanyalah kritikan bersifat ilmiah dan akademik. Saya beri contoh di sini, dalam artikel saya tentang Riwayat Kontroversi Khalifah Umar, kita dapat lihat begitu banyak sekali tindakan Khalifah Umar yang bertentangan dengan dalil dan nas. Maka, setakat itu sahaja kritikan kita, iaitu terhadap kesalahan yang beliau lakukan, bukan kepada peribadi beliau. Dan inilah yang dilakukan oleh Syiah.

Seperti yang saya sebutkan di atas, laknat ialah doa, maka sewajarnya doa, biarlah ia kekal di antara kita dan Allah swt. Tidak perlu biar semua orang tahu isi doa kita.

Satu lagi yang perlu rasanya saya sebutkan, melaknat bukanlah isu utama sehari-hari dalam hidup kami. Ingatlah, biarpun jika sekalian para sahabat baik-baik belaka, maka kami masih dan akan sentiasa menjadi Syiah kepada Ahlulbait(as).

Setakat ini sahaja, salamalaikum

Bersumber dari buku Khalifah Ar Rasyidin: Di antara Nas dan Ijtihad, boleh baca dan download di sini.

Bismillah wa Sololllahu ala Muhammad wa aali Muhammad.

Tindakan-tindakah khalifah Abu Bakar yang bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) serta akal melebihi 4 perkara sebagaimana dicatat oleh ulama Ahlus-Sunnah wa l-Jama’ah di dalam buku-buku mereka. Sekiranya mereka berbohong di dalam catatan mereka, maka merekalah yang berdosa dan dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah (swt). Dan sekiranya catatan mereka itu betul, kenapa kita menolaknya dan terus memusuhi Sunnah Nabi (Saw.) yang bertentangan dengan tindakan Abu Bakar? Berikut dikemukakan sebagian dari tindakan khalifah Abu Bakar :

1.
Jika mereka Ahlus-Sunnah Nabi saw, niscaya mereka tidak melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melarang orang ramai dari menulis dan meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3].

2.
Jika mereka Ahlus-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perpecahan kepada umat, tetapi khalifah Abu Bakar berpendapat Sunnah Nabi (Saw.) akan membawa perselisihan dan perpecahan kepada umat. Dia berkata: “Kalian meriwayatkan dari Rasulullah (Saw.) hadits-hadits di mana kalian berselisih faham mengenainya. Orang ramai selepas kalian akan berselisih faham lebih kuat lagi.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

3.
Jika mereka Ahlus-Sunnah Nabi( Saw.), niscaya mereka meriwayatkan dan menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.) di kalangan orang ramai,tetapi khalifah Abu Bakar melarang orang ramai dari meriwayatkannya. Dia berkata: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatu pun (syai’an) dari Rasulullah (Saw.)” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

4.
Jika mereka Ahlus-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak akan mengatakan bahwa Kitab Allah adalah cukup untuk menyelesaikan segala masalah tanpa Sunnah Nabi (Saw.), tetapi khalifah Abu Bakar berkata: “Kitab Allah dapat menyelesaikan segala masalah tanpa memerlukan Sunnah Nabi (Saw.)” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.”[Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I , hlm.3]

Kata-kata Abu Bakar ini telah diucapkan beberapa hari selepas peristiwa Hari Khamis yaitu bertepatan dengan kata-kata Umar ketika dia berkata:” Rasulullah (Saw.) sedang meracau dan cukuplah bagi kita Kitab Allah (Hasbuna Kitabullah).” Lantaran itu sunnah Abu Bakar tadi adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi yang dicatatkan oleh Ahlul Sunnah:”Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara sekiranya kalian berpegang kepada kedua-duanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya ; Kitab Allah dan “Sunnahku.”

5.
Jika mereka Ahlus-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membakar Sunnah Nabi (Saw.), tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakarnya. Oleh itu tidak heranlah jika Khalifah Abu Bakar tidak pernah senang hati semenjak dia mengumpulkan lima ratus hadits Nabi (Saw.) semasa pemerintahannya. Kemudian dia membakarnya pula. [al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, V, hlm. 237]

Dengan ini dia telah menghilangkan Sunnah Rasulullah (Saw.). Oleh itu kata-kata Abu Bakar: “Janganlah kalian meriwayatkan sesuatupun dari Rasulullah (Saw.)” menunjukkan larangan umum terhadap periwayatan dan penulisan hadits Rasulullah (Saw,). Dan hal itu tidak boleh ditakwilkan sebagai berhati-hati atau mengambil berat atau sebagainya.

6.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka menyebarkan Sunnah Nabi (Saw.), dan menjaganya, tetapi khalifah Abu Bakar, melarangnya dan memusnahkannya(Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,V,hlm. 237] Lantaran itu tindakan khalifah Abu Bakar adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.):”Allah memuliakan seseorang yang mendengar haditsku dan menjaganya, dan menyebarkannya. Kadangkala pembawa ilmu (hadits) membawanya kepada orang yang lebih alim darinya dan kadangkala pembawa ilmu (hadits) bukanlah seorang yang alim.”[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, I, hlm.437; al-Hakim, al-Mustadrak, I, hlm.78] Dan sabdanya “Siapa yang ditanya tentang ilmu maka dia menyembunyikannya, Allah akan membelenggukannya dengan api neraka.” [Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, III, hlm.263]

7.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka berkata: “Kami perlu kepada sunnah Nabi (Saw.) setiap masa,” tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya berkata: “Kami tidak perlu kepada sunnah Nabi, karena kitab Allah sudah cukup bagi kita.” Dia berkata: “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

8.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka percaya bahwa taat kepada Nabi (Saw.) adalah taat kepada Allah sebagaimana firman-Nya di dalam Surah al-Nisa’(4) 80 : “Siapa yang mentaati Rasul, maka dia mentaati Allah”. Ini berarti siapa yang mendurhakai Rasul, maka dia mendurhakai Allah, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya percaya sebaliknya ketika dia berkata: : “Sesiapa yang bertanya kepada kalian, maka katakanlah: Bainana wa bainakum kitabullah (Kitab Allah di hadapan kita). Maka hukumlah menurut halal dan haramnya.” [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3; al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69) Baginya mendurhakai Nabi (Saw.) bukan berarti mendurhakai Allah.

9.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak bermusuhan dengan Ahlu l-Bait Nabi (Saw.), apa lagi mengepung dan coba membakar rumah anak perempuannya; Fatimah (a.s), tetapi mereka telah mengepung dan coba membakarnya dengan menyalakan api di pintu rumahnya.Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengepung dan coba membakar rumah Fatimah al-Zahra’ sekalipun Fatimah, Ali, Hasan dan Husain (a.s) berada di dalamnya. Ini disebabkan mereka tidak melakukan bai’ah kepadanya. Khalifah Abu Bakar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan mengadu kepadanya. Al-Bukhari di dalam Sahihnya, IV, hlm.196 meriwayatkan dari Aisyah bahwa Fatimah tidak bercakap dengan Abu Bakar sehingga beliau meninggal dunia. Beliau hidup selepas Nabi saw wafat selama 6 bulan. [Al-Bukhari,Sahih ,VI,hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh,I,hlm.159; al-Tabari,Tarikh,III,hlm.159]

10.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak membawa Ali (a.s) di dalam keadaan lehernya terikat, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah memaksa Ali a.s memberi baiah kepadanya di dalam keadaan lehernya terikat (Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah , I ,hlm.18-20; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal,iii,hlm.139;Abul-Fida,Tarikh,I,hlm.159; al- Tabari, Tarikh ,III , hlm.159].

Perlakuan sedemikian adalah menyalahi Sunnah Nabi (Saw.) yang bersifat lembut terhadap Ali (a.s) dan melantiknya sebagai khalifah selepasnya: “Siapa yang telah menjadikan aku maulanya,maka Ali adalah maulanya” dan ia adalah sejajar dengan tuntutan Ali a.s terhadap kedudukan khalifah.(al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.144,al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal ,vi,hlm.2180)

11.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka diizinkan untuk mengerjakan solat jenazah ke atas Fatimah (a.s), tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya tidak diizinkan oleh Fatimah (a.s) untuk mengerjakan solat ke atasnya. Beliau telah berwasiat kepada suaminya Ali (a.s) supaya Abu Bakar dan Umar tidak diizinkan mengerjakan solat ke atasnya. Karena perbuatan mereka berdua yang menyakitkan hatinya, khususnya mengenai Fadak [Al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm.196; Ibn Qutaibah, al-Imamah Wa al-Siyasah ,I,hlm.14; Abu l-Fida, Tarikh, I ,hlm.159;al-Tabari, Tarikh,III,hlm.159]. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

12.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) , niscaya mereka tidak dirahasiakan tentang makam Fatimah (a.s), tetapi Abu Bakar dan kumpulannya telah dirahasiakan tentang lokasi makam Fatimah (a.s),karena Fatimah (a.s) berwasiat kepada suaminya supaya merahasiakan makamnya dari mereka berdua. Nabi (Saw.) bersabda:” Sesungguhnya Allah marah kepada kemarahanmu (Fatimah) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm.153; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VII, hlm.219]

13.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mencaci Ali dan Fatimah a.s, tetapi Khalifah Abu Bakar telah mencaci Ali (a.s) dan Fatimah (a.s) sebagai musang dan ekornya. Bahkan beliau mengatakan Ali (a.s) seperti Umm al-Tihal (seorang perempuan pelacur) karena menimbulkan soal tanah Fadak. Kata-kata ini telah diucapkan oleh Abu Bakar di dalam Masjid Nabi (Saw.) selepas berlakunya dialog dengan Fatimah (a.s) mengenai tanah Fadak. Ibn Abi al-Hadid telah bertanya gurunya, Yahya Naqib Ja’far bin Yahya bin Abi Zaid al-Hasri, mengenai kata-kata tersebut:”Kepada siapakah hal itu ditujukan?”Gurunya menjawab:”hal itu ditujukan kepada Ali AS.” Kemudian ia bertanya lagi:”Adakah ia ditujukan kepada Ali?” Gurunya menjawab:”Wahai anakku inilah artinya pemerintahan dan pangkat duniawi tidak mengira kata-kata tersebut.”[Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV,hlm.80] . Kata-kata Abu Bakar adalah bertentangan dengan firman-Nya:”Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bayt dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”[Surah al-Ahzab (33):33] Fatimah dan Ali AS adalah Ahlul Bayt Rasulullah SAW yang telah disucikan oleh Allah SWT dari segala dosa. Rasulullah SAW bersabda:”Kami Ahlul Bayt tidak boleh seorangpun dibandingkan dengan kami.”[Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah,hlm.243]

14.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menghentikan pemberian khums kepada keluarga Nabi saw, tetapi Khalifah Abu Bakar telah menghentikan pemberian khums kepada keluarga Rasulullah (Saw.). Ijtihadnya itu adalah bertentangan dengan Surah al-Anfal (8):41 “Ketahuilah,apa yang kamu perolehi seperlima adalah untuk Allah,Rasul-Nya,Kerabat,anak-anak yatim,orang miskin,dan orang musafir” dan berlawanan dengan Sunnah Rasulullah (Saw.) yang memberi khums kepada keluarganya menurut ayat tersebut. [Lihat umpamanya al-Zamakhsyari, al-Kasysyaf ,II,hlm.127]

15.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) ,tetapi Khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mengambil kembali Fadak dari Fatimah (a.s) selepas wafatnya Nabi (Saw.).Khalifah Abu Bakar memberi alasan “Kami para nabi tidak meninggalkan pusaka, tetapi apa yang kami tinggalkan ialah sedekah.” Hujah yang diberikan oleh Abu Bakar tidak diterima oleh Fatimah dan Ali (a.s) karena hal itu bertentangan dengan beberapa ayat al-Qur’an seperti berikut:

a) Firman-Nya yang bermaksud ‘Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka) untuk anak-anakmu.”[Surah an-Nisa (4):11] Apa yang dimaksudkan dengan ‘anak-anak’ ialah termasuk anak-anak Nabi (Saw.).

b) Firman-Nya yang bermaksud:”Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.”(Surah al-Naml:16). Maksudnya Nabi Sulaiman (a.s) mewarisi kerajaan Nabi Daud (a.s) dan menggantikan kenabiannya.

c) Firman-Nya yang bermaksud:”Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub dan jadikanlah ia, ya Tuhanku seorang yang diridhai.”(Surah Maryam:5-6)

Ketiga-tiga ayat tadi bertentangan dengan dakwaan Abu Bakar yang berpegang dengan hadits tersebut. Dan apabila hadits bertentangan dengan al-Qur’an, maka hal itu (hadits) mestilah diketepikan.

d) Kalau hadits tersebut benar, ia berart Nabi (Saw.) sendiri telah cuai untuk memberitahu keluarganya mengenai Fadak dan hal itu bercanggah dengan firman-Nya yang bermaksud:”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.”(Surah al-Syua’ra:214)

e) Hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Bakar sahaja dan hal itu tidak boleh menjadi hujah karena Fatimah dan Ali (a.s) menentangnya. Fatimah (a.s) berkata:”Adakah kamu sekarang menyangka bahwa aku tidak boleh menerima pusaka, dan adakah kamu menuntut hukum Jahiliyyah? Tidakkah hukum Allah lebih baik bagi orang yang yakin. Adakah kamu wahai anak Abi Qahafah mewarisi ayah kamu sedangkan aku tidak mewarisi ayahku? Sesungguhnya kamu telah melakukan perkara keji.” (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’,II,hlm.14;Umar Ridha Kahalah, A’lam al-Nisa’,III,hlm.208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,IV, hlm.79,92)

f) Fatimah dan Ali (a.s) adalah di antara orang yang disucikan Tuhan di dalam Surah al-Ahzab:33, dan dikenali juga dengan nama Ashab al-Kisa’. Dan termasuk orang yang dimubahalahkan bagi menentang orang Nasrani di dalam ayat al-Mubahalah atau Surah Ali Imran:61. Adakah wajar orang yang disucikan Tuhan dan dimubahalahkan itu menjadi pembohong, penuntut harta Muslimin yang bukan haknya?

g) Jikalau dakwaan Abu Bakar itu betul hal itu bermakna Rasulullah (Saw.) sendiri tidak mempunyai perasaan kasihan belas sebagai seorang ayah terhadap anaknya. Karena anak-anak para nabi yang terdahulu menerima harta pusaka dari ayah-ayah mereka.

Kajian mendalam terhadap Sirah Nabi (Saw.) dengan keluarganya menunjukkan betapa kasihnya beliau terhadap mereka khususnya, Fatimah sebagai ibu dan nenek kepada sebelas Imam AS. Beliau bersabda:”Sesungguhnya Allah marah karena kemarahanmu (Fatimah ) dan ridha dengan keridhaanmu.” [Al-Hakim, al-Mustadrak, III , hlm.153; Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah, hlm.522; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI, hlm.219;Mahyu al-Din al-Syafi’i al-Tabari, Dhakhair al-Uqba,hlm.39] Khalifah Abu Bakar dan Umar adalah di antara orang yang dimarahi Fatimah (a.s). Beliau bersumpah tidak akan bercakap dengan mereka sehingga beliau berjumpa ayahnya dan merayu kepadanya.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14]

Beliau berwasiat supaya beliau dikebumikan di waktu malam dan tidak membenarkan seorangpun dari “mereka” menyembahyangkan jenazahnya. [Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah,V,hlm. 542;al-Bukhari, Sahih ,VI, hlm, 177; Ibn Abd al-Birr, al-Isti’ab,II,hlm.75]

Sebenarnya Fatimah a.s menuntut tiga perkara:

1. Kedudukan khalifah untuk suaminya Ali AS karena dia adalah dari ahlul Bait yang disucikan dan perlantikannya di Ghadir Khum disaksikan oleh 120,000 orang dan hal itu diriwayatkan oleh 110 sahabat.
2. Fadak.
3. Al-khums, saham kerabat Rasulullah tetapi kesemuanya ditolak oleh khalifah Abu Bakar [Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah,V,hlm.86]

16.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi sawa,niscaya mereka mengenakan hukum had ke atas pelakunya tanpa pilih kasih,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengenakan hukum hudud ke atas Khalid bin al-Walid yang telah membunuh Malik bin Nuwairah dan kabilahnya. Umar dan Ali (a.s) mau supaya Khalid dihukum rejam.[Ibn Hajr, al-Isabah , III, hlm.336]

Umar berkata kepada Khalid:”Kamu telah membunuh seorang Muslim kemudian kamu terus bersetubuh dengan isterinya. Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”[Al-Tabari,Tarikh ,IV, hlm.1928] Kata-kata Umar ini cukup membuktikan bahwa Malik bin Nuwairah adalah seorang Muslim dan Khalid telah berzina dengan isteri Malik sebaik sahaja ia dibunuh. Jika tidak kenapa Umar berkata:”Demi Allah aku akan merejam kamu dengan batu.”

Umar memahami bahwa isteri Malik bin Nuwairah tidak boleh dijadikan hamba. Oleh itu pembunuhan ke atas Malik bin Nuwairah dan kaumnya tidak patut dilakukan karena mereka adalah Muslim. Keengganan mereka membayar zakat kepada Abu Bakar tidak boleh menjadi hujah kepada kemurtadan mereka. Pembunuhan ke atas mereka disebabkan salah faham mengenai perkataan ‘idfi’u, yaitu mengikut suku Kinanah ia berart “bunuh” dan dalam bahasa Arab biasa ia berart “panaskan mereka dengan pakaian” dan tidak menghalalkan darah mereka. Sepatutnya mereka merujuk perkara itu kepada Khalid bagi mengetahui maksudnya yang sebenar.

Tetapi mereka terus membunuh kaumnya dan Malik sendiri telah dibunuh oleh Dhirar yang bukan dari suku Kinanah. Oleh itu Dhirar pasti memahami bahwa perkataaan idfi’u bukanlah perkataan untuk mengharuskan pembunuhan, namun ia tetap membunuh Malik. Lantaran itu alasan kekeliruan berlaku di dalam pembunuhan tersebut tidak boleh menjadi hujah dalam kejahatan Khalid, apatah lagi perzinaannya dengan isteri Malik bin Nuwairah selepas dia dibunuh. Dengan itu tidak heranlah jika Ali AS dan Umar meminta Khalifah Abu Bakar supaya merejam Khalid, tetapi Abu Bakar enggan melakukannya.

Jika tidak membayar zakat djadikan alasan serangan dan pembunuhan, maka Nabi (Saw.) sendiri tidak memerangi sahabatnya Tha’labah yang enggan membayar zakat kepada beliau (Saw.). Allah (swt) menurunkan peristiwa ini di dalam Surah al-Taubah(9):75-77. Semua ahli tafsir Ahlu s-Sunnah menyatakan bahwa ayat itu diturunkan mengenai Tha’labah yang enggan membayar zakat karena beranggapan bahwa hal itu jizyah. Maka Allah (swt) mendedahkan hakikatnya. Dan Nabi (Saw.) tidak memeranginya dan tidak pula merampas hartanya sedangkan beliau (Saw.) mampu melakukannya. Adapun Malik bin Nuwairah dan kaumnya bukanlah mengingkari zakat sebagai satu fardhu agama. Tetapi apa yang mereka ingkar ialah penguasaan Abu Bakar ke atas kedudukan khalifah selepas Rasulullah (Saw.) dengan menggunakan kekuatan dan paksaan. Dan mereka pula benar-benar mengetahui tentang hadits al-Ghadir. Oleh itu tidak heranlah jika Abu Bakar terus mempertahankan Khalid tanpa mengira kejahatan yang dilakukannya terhadap Muslimin karena Khalid telah melakukan sesuatu untuk kepentingan politik dan dirinya. Malah itulah perintahnya di bawah operasi “enggan membayar zakat dan murtad” sekalipun hal itu bertentangan dengan Sunah Nabi (Saw.).

17.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal mereka sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.) Tetapi Khalifah Abu Bakar telah melantik Umar menjadi khalifah selepasnya secara wasiat, padahal dia sendiri menolak wasiat Nabi (Saw.). Beliau bersabda:”Ali adalah saudaraku, wasiku, wazirku dan khalifah selepasku” dan sabdanya:”Siapa yang menjadikan aku maulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan penyerahan kedudukan khalifah kepada Umar adalah menyalahi prinsip syura yang diagung-agungkan oleh Ahlul Sunnah. Justru itu Abu Bakar adalah orang yang pertama merusakkan sistem syura dan memansuhkannya. Pertama, dia menggunakan “syura terhad” bagi mencapai cita-citanya untuk menjadi khalifah tanpa menjemput Bani Hasyim untuk menyertainya. Kedua, apabila kedudukannya menjadi kuat, dia melantik Umar untuk menjadi khalifah selepasnya tanpa syura dengan alasan bahwa Umar adalah orang yang paling baik baginya untuk memegang kedudukan khalifah selepasnya.

18.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka dilantik oleh Nabi (Saw.)untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah dilantik oleh Nabi (Saw.) untuk menjalankan mana-mana missi/pekerjaan, malah beliau melantik orang lain. Hanya pada satu masa beliau melantiknya untuk membawa Surah Bara’ah, tetapi beliau mengambil kembali tugas itu dan kemudian meminta Ali (a.s) untuk melaksanakannya.[Al-Tabari, Dhakha’ir al-Uqba,hlm.61;al-Turmudhi, Sahih,II, hlm.461;Ibn Hajr, al-Isabah,II, hlm.509]

19.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui pengertian al-Abb di dalam al-Qur’an,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui pengertian al-Abb yaitu firman-Nya di dalam Surah ‘Abasa (80):31:”Dan buah-buahan (Fakihatun) serta rumput-rumputan (abban).”Dia berkata:”Langit mana aku akan junjung dan bumi mana aku akan pijak, jika aku berkata sesuatu di dalam Kitab Allah apa yang aku tidak mengetahui?”[al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,I,hlm.274]

20.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.) tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengetahui dia akan melakukan bid’ah-bid’ah selepas Rasulullah (Saw.). Malik bin Anas di dalam a-Muwatta bab “jihad syuhada’ fi sabilillah’ telah meriwayatkan dari hamba Umar bin Ubaidillah bahwa dia menyampaikannya kepadanya bahwa Rasulullah bersabda kepada para syahid di Uhud:”Aku menjadi saksi kepada mereka semua.”Abu Bakar berkata:”Tidakkah kami wahai Rasulullah (Saw.) saudara-saudara mereka. Kami telah masuk Islam sebagaimana mereka masuk Islam dan kami telah berjihad di jalan Allah sebagaimana mereka berjihad?” Rasulullah menjawab:”Ya! Tetapi aku tidak mengetahui bid’ah mana yang kalian akan lakukan selepasku.”Abu Bakar pun menangis, dan dia terus menangis. Bid’ah-bid’ah yang dilakukan oleh para sahabat memang telah diakui oleh mereka sendiri, di antaranya al-Bara’ bin Azib.

Al-Bukhari di dalam Sahihnya “Kitab bad’ al-Khalq fi bab Ghuzwah al-Hudaibiyyah” telah meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Ala bin al-Musayyab dari ayahnya bahwa dia berkata:”Aku berjumpa al-Barra bin Azib maka aku berkata kepadanya: Alangkah beruntungnya anda karena bersahabat dengan Nabi (Saw.) dan anda telah membai’ah kepadanya di bawah pohon. Maka dia menjawab: Wahai anak saudaraku. Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang kami telah lakukan (Ahdathna) selepasnya.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.32]

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Nabi (Saw.) bersabda kepada orang-orang Ansar:”Sesungguhnya kalian akan menyaksikan sifat tamak yang dahsyat selepasku. Oleh itu bersabarlah sehingga kalian bertemu Allah dan Rasul-Nya di Haudh.”Anas berkata:”Kami tidak sabar.”[Al-Bukhari, Sahih,III, hlm.135]

Ibn Sa’d juga telah meriwayatkan di dalam Tabaqatnya, VIII, hlm. 51, dengan sanadnya dari Ismail bin Qais bahwa dia berkata:”Aisyah ketika wafatnya berkata: Sesungguhnya aku telah melakukan bid’ah-bid’ah (Ahdathtu) selepas Rasulullah (Saw.), maka kebumikanlah aku bersama-sama isteri Nabi (Saw.).” Apa yang dimaksudkan olehnya ialah “Jangan kalian mengkebumikan aku bersama Nabi (Saw.) karena aku telah melakukan bid’ah-bid’ah selepasnya.”

Lantaran itu, khalifah Abu Bakar, al-Barra bin Azib, Anas bin Malik dan Aisyah telah memberi pengakuan masing-masing bahwa mereka telah melakukan bid’ah-bid’ah dengan mengubah Sunnah Nabi (Saw.).

21.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak akan berkata: “Syaitan menggodaku, sekiranya aku betul, maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng , maka betulkanlah aku.” Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata: “Aku digodai Syaitan. Sekiranya aku betul,maka bantulah aku dan sekiranya aku menyeleweng, maka betulkanlah aku.” [Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I, hlm. 6; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,III, hlm. 126; Ibn Hajr, al-Sawa’iq al-Muhriqah, hlm. 7; al-Syablanci,Nur al-Absar, hlm. 53] Ini berarti dia tidak mempunyai keyakinan diri,dan bagaimana dia boleh menyakinkan orang lain pula?

22.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.) ,niscaya mereka tidak menyesal menjadi seorang manusia, tetapi Khalifah Abu Bakar menyesal menjadi seorang manusia, malah dia ingin menjadi pohon dimakan oleh binatang kemudian mengeluarkannya. Abu Bakar berkata:”Ketika dia melihat seekor burung hinggap di atas suatu pohon, dia berkata:Beruntunglah engkau wahai burung. Engkau makan buah-buahan dan hinggap di pohon tanpa hisab dan balasan. Tetapi aku lebih suka jika aku ini sebatang pohon yang tumbuh di tepi jalan. Kemudian datang seekor unta lalu memakanku. Kemudian aku dikeluarkan pula dan tidak menjadi seorang manusia.”[al-Muhibb al-Tabari, al-Riyadh al-Nadhirah,I,hlm. 134; Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah,III,hlm. 130]

Kata-kata khalifah Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman Allah (swt) di dalam Surah al-Tin (95):4:”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia di dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Dan jika Abu Bakar seorang wali Allah kenapa dia harus takut kepada hari hisab? Sedangkan Allah telah memberi khabar gembira kepada wali-walinya di dalam Surah Yunus(10):62-64,”Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah ini tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat.Tidak ada perubahan kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

23.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengganggu rumah Fatimah (a.s) semenjak awal lagi, tetapi khalifah Abu Bakar telah mengganggunya dan ketika sakit menyesal karena mengganggu rumah Fatimah (a.s). Dia berkata: “Sepatutnya aku tidak mengganggu rumah Fatimah sekalipun beliau mengisytiharkan perang terhadapku.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm. 18-19; al-Tabari, Tarikh ,IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, Iqd al-Farid,II,hlm.254]

24.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak menjatuhkan air muka Nabi (Saw.), Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menjatuhkan air muka Nabi (Saw.) di hadapan musyrikin yang datang berjumpa dengan Nabi (Saw.) supaya mengembalikan hamba-hamba mereka yang lari dari mereka. Musyrikun berkata:”Hamba-hamba kami telah datang kepada anda bukanlah karena mereka cinta kepada agama tetapi mereka lari dari milik kami dan harta kami. Lebih-lebih lagi kami adalah tetangga anda dan orang yang membuat perjanjian damai dengan anda.”Tetapi Nabi (Saw.) tidak mau menyerahkan kepada mereka hamba-hamba tersebut karena khawatir mereka akan menyiksa hamba-hamba tersebut dan beliau tidak mau juga mendedahkan hakikat ini kepada mereka. Nabi (Saw.) bertanya kepada Abu Bakar dengan harapan dia menolak permintaan mereka. Sebaliknya Abu Bakar berkata:”Benar kata-kata mereka itu.” Lantas berubah muka Nabi (Saw.)karena jawabannya menyalahi apa yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya.[al-Nasa’i, al-Khasa’is,hlm. 11; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,I,hlm. 155] Sepatutnya khalifah Abu Bakar dapat memahami apa yang dimaksudkan oleh Nabi, tetapi dia tidak dapat memahaminya, malah diam memihak kepada Musyrikun berdasarkan ijtihadnya.

25.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka telah membunuh Dhu al-Thadyah (seorang lelaki yang mempunyai payudara, akhirnya menentang khalifah Ali), tetapi khalifah Abu Bakar tidak membunuh Dhu al-Thadyah sedangkan Rasulullah telah memerintahkan Abu Bakar supaya membunuh Dhu al-Thadyah. Abu Bakar mendapati lelaki itu sedang mengerjakan solat. Lalu dia berkata kepada Rasulullah (Saw.) :”Subhanallah! Bagaimana aku membunuh lelaki yang sedang mengerjakan solat?” (Ahmad b.Hanbal,al-Musnad,III,hlm.14-150) Sepatutnya dia membunuh lelaki itu tanpa mengira keadaan karena Nabi (Saw.)telah memerintahkannya. Tetapi dia tidak membunuhnya, malah dia menggunakan ijtihadnya bagi menyalahi Sunnah Nabi (Saw.).

26.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan bahwa saham jiddah (nenek) tidak ada di dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (Saw.). Seorang nenek bertanya kepada Abu Bakar tentang pusakanya. Abu Bakar menjawab:”Tidak ada saham untuk anda di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.).Oleh itu kembalilah.”Lalu al-Mughirah bin Syu”bah berkata:”Aku berada di sisi Nabi (Saw.)bahwa beliau memberikannya (nenek) seperenam saham.”Abu Bakar berkata:”Adakah orang lain bersama anda?” Muhammad bin Muslimah al-Ansari bangun dan berkata sebagaimana al-Mughirah. Maka Abu Bakar memberikannya seperenam.[Malik, al-Muwatta,I,hlm. 335; Ahmad bin Hanbal, al-Musnad,IV,hlm.224;Ibn Rusyd, Bidayah al-Mujtahid,II, hlm.334]

27.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mengetahui hukum had
ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mengetahui hukum had ke atas pencuri yang buntung satu tangan dan satu kakinya. Dari Safiyyah binti Abi Ubaid,”Seorang lelaki buntung satu tangan dan satu kakinya telah mencuri pada masa pemerintahan Abu Bakar. Lalu Abu Bakar mau memotong kakinya dan bukan tangannya supaya dia dapat bermunafaat dengan tangannya. Maka Umar berkata:”Demi yang diriku di tangan-Nya, anda mesti memotong tangannya yang satu itu.” Lalu Abu Bakar memerintahkan supaya tangannya dipotong.”[al-Baihaqi, Sunan,VIII,hlm.273-4]
28.

Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim .Tetapi Khalifah Abu Bakar berpendapat bahwa seorang khalifah bukan semestinya orang yang paling alim (afdhal).[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah, I,hlm. 16; al-Baqillani, al-Tamhid,hlm. 195; al-Halabi, Sirah Nabawiyyah,III, hlm.386] Ijtihadnya adalah bertentangan dengan firman Tuhan di dalam Surah al-Zumar (39):9:”Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran” dan firman-Nya di dalam Surah Yunus (10):35:”Maka apakah orang-orang yang menunjuki jalan kepada kebenaran itu lebih berhak diikuti ataukah orang-orang yang tidak dapat memberi petujuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimana kamu mengambil keputusan?”

29.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka melakukan korban (penyembelihan) sekali di dalam hidupnya.Tetapi Khalifah Abu Bakar tidak pernah melakukan korban (penyembelihan) karena khawatir kaum Muslimin akan menganggapnya wajib. Sunnahnya adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.) yang menggalakkannya.[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, IX,hlm. 265; al-Syafi’i, al-Umm, II, hlm.189]

30.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, tetapi Khalifah Abu Bakar mengatakan maksiat yang dilakukan oleh seseorang itu telah ditakdirkan oleh Allah sejak azali lagi, kemudian Dia menyiksanya di atas perbuatan maksiatnya. Seorang lelaki bertanya kepadanya:”Adakah anda fikir zina juga qadarNya? Lelaki itu bertanya lagi:”Allah mentakdirkannya ke atasku kemudian menyiksa aku?” Khalifah Abu Bakar menjawab:” Ya. Demi Tuhan sekiranya aku dapati seseorang masih berada di sisiku, niscaya aku menyuruhnya memukul hidung anda.”[al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, hlm.65]

Oleh itu ijtihad Abu Bakar itu adalah bertentangan dengan firman-firman Tuhan di antaranya:

a. Firman-Nya di dalam Surah al-Insan (76):3:”Sesungguhnya kami telah menunjukkinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”
b. Firman-Nya di dalam Surah al-Balad (90):10:”Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.”
c. Firman-Nya di dalam Surah al-Naml (27):40:”Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia’”.

31.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata: Jika pendapat kami betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari kami dan dari syaitan. Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Jika pendapatku betul, maka hal itu dari Allah dan jika hal itu salah maka ia adalah dari aku dan dari syaitan.”[Al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, VI, hlm. 223; al-Tabari, Tafsir, VI hlm. 30; Ibn Kathir, Tafsir, I, hlm.260] Kata-kata Abu Bakar menunjukkan bahwa dia sendiri tidak yakin kepada pendapatnya. Dan dia memerlukan bimbingan orang lain untuk menentukan kesalahannya.

32.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka akur kepada Sunnah Nabi (Saw.) apabila mengetahui kesannya dengan mengilakkan dirinya dari kilauan dunia ,tetapi Khalifah Abu Bakar mengetahui bahwa dia tidak terlepas dari kilauan dunia, lantaran itu dia menangis. Al-Hakim di dalam Mustadrak, IV, hlm. 309 meriwayatkan dengan sanadnya dari Zaid bin Arqam, dia berkata:”Kami pada suatu masa telah berada bersama Abu Bakar, dia meminta minuman, lalu diberikan air dan madu. Manakala dia mendekatkannya ke mulutnya dia menangis sehingga membuatkan sahabat-sahabatnya menangis. Akhirnya merekapun berhenti menangis, tetapi dia terus menangis.

Kemudian dia kembali dan menangis lagi sehingga mereka menyangka bahwa mereka tidak mampu lagi menyelesaikan masalahnya. Dia berkata:kemudian dia menyapu dua matanya. Mereka berkata:Wahai khalifah Rasulullah! Apakah yang sedang ditolak oleh anda? Beliau menjawab:”Dunia ini (di hadapanku) telah “memperlihatkan”nya kepadaku, maka aku berkata kepadanya:Pergilah dariku maka hal itu pergi kemudian dia kembali lagi dan berkata:Sekiranya anda terlepas dariku, orang selepas anda tidak akan terlepas dariku.” Hadits ini diriwayatkan juga oleh ak-Khatib di dalam Tarikh Baghdad, X,hlm. 268 dan Abu Nu’aim di dalam Hilyah al-Auliya’, I, hlm.30]

33.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahan mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mempunyai kata pemutus ke atas pemerintahannya melainkan hal itu dipersetujui oleh Umar. Adalah diriwayatkan bahwa “Uyainah bin Hasin dan al-Aqra bin Habis datang kepada Abu Bakar dan berkata:”Wahai khalifah Rasulullah, izinkan kami menanam di sebidang tanah yang terbiar berhampiran kami. Kami akan membajak dan menanamnya. Mudah-mudahan Allah akan memberikan manfaat kepada kami dengannya.”Lalu Abu Bakar menulis surat tentang persetujuannya. Maka kedua-duanya berjumpa Umar untuk mempersaksikan kandungan surat tersebut. Apabila kedua-duanya membacakan kandungannya kepadanya, Umar merebutnya dari tangan mereka berdua dan meludahnya. Kemudian memadamkannya. Lalu kedua-duanya mendatangi Abu Bakar dan berkata:”Kami tidak mengetahui adakah anda khalifah atau Umar.” Kemudian mereka berdua menceritakan kepadanya. Lalu Abu Bakar berkata:”Kami tidak melaksanakan sesuatu melainkannya dipersetujui oleh Umar.”{al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal, VI, hlm. 335; Ibn Hajr, al-Isabah, I,hlm.56] .

34.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Nabi (Saw.). Tetapi Khalifah Abu Bakar telah dicaci oleh seorang lelaki di hadapan Rasulullah SAWA. Tetapi Nabi (Saw.)tidak melarangnya sebaliknya beliau tersenyum pula, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa seorang lelaki telah mencaci Abu Bakar dan Nabi sawa sedang duduk, maka Nabi (Saw.) kagum dan tersenyum.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, VI, hlm.436] .

35.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Nabi (Saw.) khalifah Abu Bakar dan Umar telah bertengkar sehingga meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.) . Abu Bakar berkata:”Wahai Rasulullah lantiklah al-Aqra bin Habi bagi mengetuai kaumnya.” Umar berkata:”Wahai Rasulullah janganlah anda melantiknya sehingga mereka menengking dan meninggikan suara mereka di hadapan Rasulullah (Saw.).” Lalu diturunkan ayat di dalam Surah al-Hujurat(49):2,”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari Nabi dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak terhapus pahala amalanmu, sedangkan kamu tidak menyedari.” Sepatutnya mereka berdua bertanya dan merujuk kepada Rasulullah (Saw.) mengenainya.[Ahmad bin Hanbal, al-Musnad, IV , hlm.6;al-Tahawi, Musykil al-Athar,I,hlm. 14-42] .

36.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana mereka sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi Khalifah Abu Bakar banyak membuat pengakuan-pengakuan dimana dia sepatutnya melakukan sesuatu,tetapi tidak melakukannya dan sebaliknya. Ibn Qutaibah mencatatkan dalam bukunya al-Imamah wa al-Siyasah, I, hlm. 18-19,

9 perkara yang disesali oleh Abu Bakar seperti berikut:

“Tiga perkara yang aku telah lakukan sepatutnya aku tidak melakukannya dan tiga perkara yang aku tidak lakukannya sepatutnya aku melakukannya dan tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) mengenainya. Adapun tiga perkara yang aku telah melakukannya sepatutnya aku tidak melakukannya:

1. Sepatutnya aku tinggalkan rumah Ali (Fatimah) sekalipun mereka mengisytiharkan perang ke atasku.
2. Sepatutnya aku membai’ah sama Umar atau Abu Ubadah di Saqifah Bani Saidah, yaitu salah seorang mereka menjadi amir dan aku menjadi wazir.
3. Sepatutnya aku menyembelih Fuja’ah al-Silmi atau melepaskannya dari tawanan dan aku tidak membakarnya hidup-hidup.

Adapun tiga perkara yang aku tidak melakukannya sepatutnya aku melakukannya:
1. Sepatutnya ketika al-Asy’ath bin Qais dibawa kepadaku sebagai tawanan, aku membunuhnya dan tidak memberinya peluang untuk hidup, karena aku telah mendengar tentangnya bahwa ia bersifat sentiasa menolong segala kejahatan.
2. Sepatutnya ketika aku mengutus Khalid bin al-Walid kepada orang-orang murtad, aku mesti berada di Dhi al-Qissah, dengan itu sekiranya mereka menang, mereka boleh bergembira dan sekiranya mereka kalah aku boleh menghulurkan bantuan.
3. ???-red

Adapun tiga perkara yang sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.) ialah:

1. Kepada siapakan kedudukan khalifah patut diberikan sesudah beliau wafat, dengan demikian tidaklah kedudukan itu menjadi rebutan.
2. Sepatutnya aku bertanya kepada beliau, adakah orang Ansar mempunyai hak menjadi khalifah.
3. Sepatutnya aku bertanya beliau tentang pembagian harta pusaka anak saudara perempuan sebelah lelaki dan ibu saudara sebelah lelaki karena aku tida puas hati tentang hukumnya dan memerlukan penyelesaian.”

Kenyataan di atas telah disebut juga oleh al-Tabari dalam Tarikhnya, IV, hlm. 52;Ibn Abd Rabbih, ‘Iqd Farid,II,hlm. 254;Abu Ubaid, al-Amwal,hlm. 131]

37.
Jika mereka Ahl al-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak mengundurkan diri dari tentara Usamah yang telah dilantik oleh Nabi saw menjadi penglima perang di dalam ushal itu yang muda,tetapi Khalifah Abu Bakar telah mengundurkan diri dari menyertai tentara di bawah pimpinan Usamah bin Zaid, sedangkan Nabi (Saw.) bersabda:”Perlengkapkan tentara Usamah, Allah melaknati orang yang mengundur diri dari tentara Usamah.”[Al-Syarastani, al-Milal, hlm.21; Ibn Sa’d, Tabaqat,II,hlm.249 dan lain-lain lagi].

38.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak menamakan dirinya(Abu Bakar) “Khalifah Rasulullah”.[Tetapi Khalifah Abu Bakar telah menamakan dirinya “Khalifah Rasulullah”.[Ibn Qutaibah,al-Imamah wa al-Siyasah ,I,hlm.13];al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’,hlm.78] Penamaannya adalah bertentangan dengan Sunnah Rasulullah karena beliau tidak menamakannya dan melantiknya, malah beliau menamakan Ali dan melantiknya. Beliau bersabda:”Siapa yang aku menjadimaulanya maka Ali adalah maulanya.”Dan hadits-hadits yang lain tentang perlantikan Ali (a.s) sebagai khalifah selepas Rasulullah (Saw.).

39.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membakar manusia hidup-hidup,tetapi Khalifah Abu Bakar telah membakar Fuja’ah al-Silmi hidup-hidup, kemudian dia menyesali perbuatannya.[al-Tabari,Tarikh,IV,hlm.52] Dan hal itu bertentangan dengan Sunnah Nabi (Saw.)”Tidak boleh disiksa dengan api melainkan dari Tuhannya.”(Al-Bukhari, Sahih ,X,hlm.83]

40.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak lari di dalam peperangan, tetapi Khalifah Abu Bakar telah lari di dalam peperangan Uhud dan Hunain. Sepatutnya dia mempunyai sifat keberanian melawan musuh. Tindakannya itu menyalahi ayat-ayat jihad di dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) [al-Hakim, al-Mustadrak, III, hlm. 37; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-Ummal,VI,hlm.394;al-Dhahabi,al-Talkhis,III,hlm.37]

41.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.), niscaya mereka tidak meragukan kedudukan khalifah. Tetapi Khalifah Abu Bakar telah meragukan kedudukan khalifahnya. Dia berkata:”Sepatutnya aku bertanya Rasulullah (Saw.), adalah orang-orang Ansar mempunyai hak yang sama di dalam kedudukan khalifah?” Ini adalah keraguan tentang kesahihan atau kebatilannya. Dialah orang yang menentang orang-orang Ansar manakala mereka mengatakan bahwa Amir mestilah dari golongan Quraisy.” Sekiranya apa yang diriwayatkan olehnya itu benar, bagaimana dia meragukan”nya” pula. Dan jikalau tidak, dia telah menentang orang-orang Ansar dengan “hujah palsu.”[Al-Ya’qubi, Tarikh al-Ya’qubi,II,hlm.127; Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.18,19;al-Masudi, Muruj al-Dhahab,II,hlm.302]

42.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepada mereka,tetapi Khalifah Abu Bakar tidak dapat menyelesaikan persoalan-persoalan yang dikemukakan kepadanya oleh orang Yahudi. Anas bin Malik berkata:”Seorang Yahudi datang selepas kewafatan Rasulullah (Saw.). Maka kaum Muslimin menunjukkannya kepada Abu Bakar. Dia berdiri di hadapan Abu Bakar dan berkata: Aku akan kemukakan soalan-soalan yang tidak akan dijawab melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Abu Bakar berkata:”Tanyalah apa yang anda mau. Yahudi berkata: Beritahukan kepadaku perkara yang tidak ada pada Allah, tidak ada di sisi Allah, dan tidak diketahui oleh Allah? Abu Bakar berkata: Ini adalah soalan-soalan orang zindiq wahai Yahudi! Abu Bakar dan kaum Muslimin mulai marah dengan Yahudi tersebut.

Ibn Abbas berkata: Kalian tidak dapat memberikan jawaban kepada lelaki itu. Abu Bakar berkata: Tidakkah anda mendengar apa yang diperkatakan oleh lelaki itu? Ibn Abbas menjawab: Sekirannya kalian tidak dapat menjawabnya, maka kalian pergilah bersamanya menemui Ali AS, niscaya dia akan menjawabnya karena aku mendengar Rasulullah (Saw.) bersabda kepada Ali bin Abi Talib:”Wahai Tuhanku! Sinarilah hatinya, dan perkuatkanlah lidahnya.” Dia berkata:”Abu Bakar dan orang-orang yang hadir bersamanya datang kepada Ali bin Abi Talib, mereka meminta izin darinya. Abu Bakar berkata: Wahai Abu l-Hasan, sesungguhnya lelaki ini telah bertanya kepadaku beberapa soalan (zindiq).

Ali berkata: Apakah yang anda perkatakan wahai Yahudi? Dia menjawab: Aku akan bertanya kepada anda perkara-perkara yang tidak diketahui melainkan oleh Nabi atau wasi Nabi. Yahudi mengemukakan soalan-soalan kepadanya. Ali berkata: Adapun perkara-perkara yang tidak diketahui oleh Allah ialah kata-kata anda bahwa Uzair adalah anak lelaki Tuhan, dan Allah tidak mengetahui bahwa Dia mempunyai anak lelaki. Adapun kata-kata anda apa yang tidak ada di sisi Allah, maka jawabannya perkara yang tidak ada di sisi Allah ialah kezaliman. Adapun kata-kata anda: Apa yang tidak ada bagi Allah maka jawabannya tidak ada bagi Allah syirik. Yahudi menjawab: Aku naik saksi tiada Tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah pesuruh Allah dan sesungguhnya anda adalah wasinya.”[Ibn Duraid, al-Mujtana, hlm.35]

43.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak mempersendakan Nabi (Saw.) di masa hidupnya,apatah lagi pada masa Nabi SAWA sakit dan selepas kematiannya, tetapi khalifah Abu Bakar dan kumpulannya telah mempersendakan Nabi (Saw.) dengan menolak Sunnah Nabi (Saw.) di hadapannya ketika Nabi (Saw.) sedang sakit “ dia sedang meracau” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69),kemudian menghalang penyebarannya. (Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz,I,hlm.3]

44.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Tetapi Khalifah Abu Bakar berkata:”Pecatlah aku karena aku bukanlah orang yang baik di kalangan kalian.”Di dalam riwayat lain,”Ali di kalangan kalian.”[Ibn Qutaibah, al-Imamah wa al-Siyasah,I,hlm.14;al-Muttaqi al-Hindi,Kanz al-Ummal,III,hlm.132] Jikalau kata-katanya benar, berarti dia tidak layak untuk menjadi khalifah Rasulullah SAWA, berdasarkan pengakuannya sendiri.

45.
Jika mereka Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),niscaya mereka tidak membenci orang yang mencintai dan mengamalkan Sunnah Nabi (Saw.), tetapi mereka membenci orang yang mencintai Sunnah Nabi (Saw.)dan mengamalkanya sekiranya Sunnah Nabi (Saw.) bertentangan dengan sunnah Abu Bakar.] Justru itu mereka bukanlah Ahlu s-Sunnah Nabi (Saw.),malah mereka adalah Ahlu s-Sunnah Abu Bakar dan kumpulannya atau Ahlu s-Sunnah ciptaan mereka sendiri.Lantaran Ali dan keluarganya berusaha dengan keras bagi membersihkan kekotoran yang dilakukan oleh Abu Bakar dan pengikutnya.

Kesimpulan:

  1. Ternyata Khalifah Abu Bakr hanyalah manusia biasa, dan tidak terlepas dari kesilapan dan dosa.
  2. Nota-nota di atas bukanlah menghina, tetapi hanyalah sebutan fakta-fakta sejarah, dari buku Ahlul Sunnah sendiri.
  3. Ada di antara orang yang membaca, pasti akan mendakwa hadis-hadis dan riwayat ini dhaif. Tidak dapat dielakkan kerana mereka pasti akan cuba sedaya upaya untuk menyelamatkan hero mereka, tanpa menggunakan akal. Saya ok sahaja, kalau nak dhaifkan, tapi sila bawa bersama bukti serta sebab yang sahih kenapa di dhaifkan agar kita boleh bahaskan.

Salam dan Solawat.

Para ulama Ahlus Sunnah dan Syi’ah tidak mencatat hukum-hukum danperbuatan-perbuatan Khalifah Ali AS yang bertentangan dengan al-Qur’an danSunnah Nabi SAWA. Ini adalah bertepatan dengan sabda Nabi SAWA:”Alibersama al-Qur’an dan al-Qur’an bersama Ali.”Dan di dalam hadith yang lain,“Aku tinggalkan kepada kalian Thaqalain; Kitab Allah dan Ahlul Baitku.Kalian tidak akan sesat selama-lamanya jika kalian berpegang kepada kedua duanya.Dan kedua-duanya tidak akan berpisah sampai bersama-sama mengunjungiku di Haudh.”{Muslim, Sahih, VII, hlm. 122]

Dan ianya menunjukkan bahawa khalifah Ali adalah maksum. Jika tidak, nescaya hukum-hukum dan perbuatan-perbuatan beliau yang menyalahi nas dicatat oleh Ahlul Sunnah dan Syi’ah. Nampaknya khalifah Ali AS merasa kesal terhadap bid’ah-bid’ah yang telah dilakukan para khalifah sebelum beliau. Sementara kaum Muslimin pula telah biasa dengan bid’ah-bid’ah tersebut selama 25 tahun. Khalifah Ali AS sendiri menggambarkan keadaan yang berlaku di masa itu seperti berikut:

“Khalifah-khalifah sebelumku telah melakukan perbuatan-perbuatan yang menyalahi Rasulullah SAWA dengan sengaja. Mereka melanggar janji mereka dengan beliau dengan mengubah Sunnah-sunnah beliau. Sekarang jika aku memaksa mereka supaya meninggalkannya dan mengembalikan keadaan sebagaimana di zaman Rasulullah SAWA, nescaya tenteraku akan bertaburan lari dariku, meninggalkanku bersendirian atau hanya sedikit sahaja di kalangan Syi’ahku yang mengetahui kelebihanku, dan imamahku melalui Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah SAWA akan tinggal bersamaku. Apa pendapat kalian,sekiranya aku menempatkan Maqam Ibrahim pada tempat yang telah ditempatkan oleh Rasulullah SAWA, mengembalikan Fadak kepada pewaris pewarisFatimah AS, mengembalikan timbangan dan ukuran seperti yang lazim di zaman Rasulullah SAWA, mengembalikan tanah kepada orang yang telah diberikan oleh Rasulullah SAWA, mengembalikan rumah Ja’far kepada pewaris pewarisnya dan memisahkannya dari masjid (kerana mereka telah merampasnya dan memasukkannya ke dalam masjid); mengembalikan hukum hukumyang kejam yang dipaksa oleh khalifah-khalifah yang terdahulu ke atas wanita-wanita yang secara tidak sah telah dipisahkan dari suami mereka,mengembalikan jizyah kepada Bani Taghlab, mengembalikan tanah Khaibar yang telah dibahagikan-bahagikan, memansuhkan dewan-dewan pemberian dengan meneruskan pemberian kepada semua orang sebagaimana dilakukanpada masa Rasulullah SAWA tanpa menjadikannya tertumpu di kalangan orang orang kaya, memulihkan pajak bumi, menyamakan kaum Muslimin di dalam masalah nikah kahwin, melaksanakan khums sebagaimana difardhukan AllahSWT, memulihkan Masjid Nabi seperti bentuknya yang asal pada zaman Nabi SAWA, menutup pintu-pintu yang dibuka (selepas kewafatan Rasul) dan membuka pintu-pintu yang ditutup (selepas kewafatan Rasul), mengharamkan penyapuan di atas al-Khuffain, mengenakan hukum had ke atas peminum nabidh, memerintahkan halal mut’ah wanita dan mut’ah haji sebagaimana pada zaman Nabi SAWA, memerintahkan takbir lima kali dalam solat jenazah,mewajibkan kaum Muslimin membaca Bismillahi r-Rahmani r-Rahim dengan suara yang nyaring pada masa solat, mengeluarkan orang yang dimasukkan bersama Rasulullah SAWA di dalam masjidnya, di mana Rasulullah SAWA telah mengeluarkannya, memasukkan orang yang dikeluarkan selepas RasulullahSAWA (beliau sendiri) di mana Rasulullah SAWA telah memasukkannya,memaksa kaum Muslimin dengan hukum al-Qur’an dan talak menuruti Sunnah,mengambil zakat menurut jenis-jenisnya yang sembilan, mengembalikan wudhuk basuh dan solat kepada waktunya, syariatnya dan tempatnya, mengembalikan ahli Najran ke tempat-tempat mereka, mengembalikan layanan terhadap…

tawanan perang Farsi dan bangsa-bangsa lain kepada kitab Allah dan SunnahNabiNya.Sekiranya aku melaksanakan semua ini, nescaya mereka mengembara meninggalkanku. Demi Allah ketika aku perintahkan orang-orang supaya tidak melakukan solat jama’ah di masjid pada bulan Ramadhan kecuali solat-solat fardhu dan memberitahukan kepada mereka bahawa solat sunat berjama’ah(Tarawih) adalah bid’ah, sekelompok tenteraku yang pernah berperang dipihakku mulai berteriak:”Wahai kaum Muslimin! Ali ingin mengubah sunnah Umar dan bermaksud menghentikan kita dari melakukan solat-solat sunat Tarawih pada bulan Ramadhan.” Mereka berteriak begitu rupa sampai aku khuatir mereka akan memberontak. Sayang! Betapa menderitanya aku berada”ditangan” orang-orang yang menentangku sekuat tenaga dan mentaati pemimpin-pemimpin mereka yang “keliru” yang hanya menyeru mereka ke neraka.”[al-Kulaini, al-Raudhah mina l-Kafi, VII, hadith 21, hlm. 60-63]

Syiah Imamiyah bukan pihak yang memulai mencaci para sahabat. Fakta sejarah menyatakan bahwa orang-orang dari Dinasti Umawiyah-lah yang memulai mencaci Ali dari atas mimbar Jumat. Tradisi tercela ini hanya ditinggalkan oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Artinya, Ali terus menerus dicela dari atas mimbar-mimbar hampir selama setengah abad.

  1. Celaan terhadap Abu Bakar dan Umar, jika pernah terjadi sebagai reaksi terhadap tindakan orang-orang dari Dinasti Umawiyah, adalah unsur eksternal yang merasuki pemikiran Syiah, yang diakibatkan oleh masa penuh fitnah dan dekadensi, serta merusak hubungan Sunni-Syiah. Itulah masa ketika salah seorang ahli fiqih bermazhab Syafiiiyah mengeluarkan fatwa bahwa makanan yang bercampur dengan arak harus dilemparkan kepada anjing atau kepada penganut mazhab Hanafiyah, lalu salah seorang ahli fiqih bermazhab Hanafiyah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan laki-laki bermazhab Hanafiyah menikahi perempuan bermazhab Syafiiyah karena keimanannya diragukan, sementara ahli fiqih bermazhab Hanafiyah lainnya membolehkan hal ini dengan menqiyaskan perempuan tersebut dengan perempuan Ahlul Kitab.
  2. Fiqih Syiah yang otentik menyebut para sahabat, termasuk Abu Bakar, dengan ungkapan-ungkapan yang penuh penghormatan. Di dalam ash-Shahifah as-Sajjadiyah, yaitu doa-doa yang dibaca oleh Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali, dan didawamkan pembacaannya oleh para penganut Syiah sampai sekarang, terdapat nash yang menyatakan, “Semoga Allah menurunkan rahmat dan ridha bagi para sahabat Muhammad yang telah menderita dalam membantunya, melindunginya, berlomba menjalankan ajarannya, dan memenuhi ajakannya ketika beliau menjelaskan argumentasi risalahnya.”
  3. Sekarang ini buku-buku Syiah telah dibersihkan dari celaan terhadap para sahabat, khususnya Abu Bakar dan Umar. Untuk meneliti masalah ini, saya telah mengumpulkan 11 buku peradaban Islam yang sekarang diajarkan kepada murid-murid tingkat SD, SMP, dan SMU di Iran, dan membaca semua kandungan pelajaran tentang Ahlussunnah, Khulafa ar-Rasyidin, dan para sahabat. Saya dapati semua buku tersebut menyebut para sahabat dengan penuh penghormatan.

Saya tidak menafikan adanya perselisihan antara Sunni-Syiah, adanya beberapa wacana yang masih harus didialogkan oleh para ulama dari kedua belah pihak, dan adanya beberapa ranjau yang harus dibersihkan dari jembatan yang menghubungkan kedua belah pihak. Tapi, saya perlu mengingatkan satu hal, kita tidak boleh memicu pertentangan antar-mazhab, baik antara Sunnah dengan Syiah, Salafiyah dengan Ibadhiyah, Zaidiyah dengan Mutashawwifah, atau antara kaum Muslim secara umum dengan non Muslim.

Menyalakan api pertikaian ini bukan hanya membakar salah satu pihak, tapi membakar seluruh umat Islam.

Saya tidak tahu ada umat lain bagaimanapun tingkat kemajuan dan kecerdasannya, yang mengacaukan potensinya, salah dalam menentukan sarana dan tujuan, merobek-robek barisannya, menyulut kebakaran di rumahnya sendiri, dan melakukan tindakan yang menyenangkan pihak yang mengharapkan kehancuran agama dan dunianya, seperti yang kita lakukan dengan suka rela!

[Saudara kita Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menetapkan bahwa seorang Muslim Fasik dijaman Rasulullah SAWW adalah lebih Mulia daripada seorang Muslim Bertaqwa diakhir zaman].

Kenapa bisa seperti itu ?, karena mereka telah menetapkan untuk mengamalkan hukum-hukum Sahabat (Ahkamu-hum) dan Sirah-sirah mereka adalah menjadi Sunnah Ahlus Sunnah (al-Baghdadi, al-Farq baina l-Firaq, hlm. 309) bahkan lebih jauh mereka mengatakan bahwa Kami tidak dapati hari ini golongan umat ini yang bersetuju atau mendukung semua Sahabat selain dari Ahlu s-Sunnah wa l-Jama’ah (Ibid, hlm.304).

Ketika mereka ditanya siapa Sahabat maka mereka membuta beberapa definisi diantaranya dalam Syarh Muslim oleh Imam an-Nawawi dimana dia mengatakan;“Yang benar menurut mayoritas (jumhur) adalah bahwa setiap muslim yang pernah melihat Nabi walau sesaat maka ia tergolong sahabat beliau” (Syarh muslim oleh Imam an-Nawawi 16/85)

Atau dalam kitab Bukhari disebutkan, ada satu bab yang menjelaskan tentang;“Keutamaan para sahabat Nabi dan orang yan menemani Nabi atau orang muslim yang pernah melihatnya maka ia disebut sahabat beliau” (Bab Fadhoil Ashaab an-Nabi wa man Sohaba an-Nabi aw Ra’ahu min al-Muslimin fa Huwa min Ashabihi). (Sahih Bukhari 3/1335)

Benarkah pahaman itu sementara  al-Qur’an juga berbicara tentang ‘Sahabat’ Rasulullah :

1.    “Kawan (Shohib) kalian (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru” (QS an-Najm: 2)

2.    “Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman (shohib) mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila…” (QS al-A’raf: 184)

3. Sementara Syi’ah membagi Sahabat menjadi 3 golongan sesuai dengan firman-Nya dalam al-Fathir : 32 , “Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka  ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka  ada yang pertengahan dan diantara mereka  ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah . yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”

Jadi menurut Syi’ah , Sahabat itu dibagi dalam 3 golongan , yaitu  :

1.    Ada sahabat yang “menganiaya (baca: zalim) diri mereka sendiri” adalah orang fasik yang melanggar batasan-batasan yang telah ditentukan Allah.

2.    Ada yang pertengahan (tidak termasuk nomer 1 dan 3).

3. Ada yang yang mendapat Karunia yang besar , karena selalu berbuat kebaikan.

Dan apa kata Rasulullah SAWW tentang Sahabatnya :

1.    Nabi SAWW bersabda , “Sesungguhnya ada dua belas orang pada sahabatku yang tergolong munafik” (Sahih Muslim 4/2143 hadis ke-2779)

2.    Dari Abdullah bahwa Nabi SAWW bersabda : Aku akan mendahului kalian di Haudh dan sebagian dari kalian akan dibawa ke hadapanku. Kemudian mereka akan dipisahkan jauh dariku. Aku akan berkata : wahai Tuhanku! Mereka itu adalah para sahabatku (ashabi). Maka dijawab: Sesungguhnya engkau  tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka setelah engkau meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ahdathu ba‘da-ka) (Shahih Bukhori Hadis no.578.)

3.    Dari ‘Aisyah berkata:Aku telah mendengar Nabi SAWW bersabda ketika beliau berada di kalangan para sahabatnya(ashabi-hi):Aku akan menunggu mereka di kalangan kalian yang akan datang kepadaku. Demi Allah! Mereka akan ditarik menjauh dariku. Maka aku akan bersabda: Wahai Tuhanku! Mereka adalah dari(para sahabat)ku dan dari umatku.Dijawab: Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas kamu meninggalkan mereka (inna-ka la tadri ma ‘amilu ba‘da-ka).Mereka sentiasa kembali ke belakang(kembali kepada kekafiran)(Ma zalu yarji‘un ‘ala a‘qabi-him). (Shahih Muslim Hadis no.28.(2294))

Renungkanlah bagaimana mungkin pahaman kalian bahwa wajib untuk patuh  kepada semua Sahabat (Sa’ira Ashab al-Nabi) (al-Asy’ari, al-Ibanah, hlm. 12)adalah benar setelah ayat al-Qur’an dan Sabda Nabi Muhammad SAWW telahmenentang pahaman kalian saudaraku.

Mungkinkah Allah akan memuliakan hamba-Nya yang ‘tanpa kehendaknya (ikhtiyar)’ telah terlahir di zaman Rasul hatta mereka  telah berani menentang sebagian perintah Ilahi, dibanding seorang hamba yang berilmu dan bertakwa namun dia ditakdirkan untuk terlahir di zaman yang jauh dari kehidupan Rasul?

Renungkanlah bukankah “merenung” sesaat itu lebih baik daripada beribadah bertahun-tahun ? ,

Jangan sampai kalian kembali mendahulukan Sunnah Sahabat daripada ayat al-Qur’an dan Sabda Rasul-Nya , hanya berdasarkan Ijma para Ulama kalian atau bahkan Fatwa para Ulama kalian yang bertentangan dengan Nash.

Selamat merenung , semoga Allah belum membutakan mata hati (karena berulang kali menyakiti Allah dan Rasul-Nya) sehingga sama sekali sudah tidak mampu lagi melihat kebenaran.

Sulaim berkata : “Abu Dhar, Salman dan al-Miqdad telah memberitahuku hadis, kemudian aku telah mendengarnya pula dari Ali bin Abu Thalib as Mereka berkata : ‘Sesungguhnya seorang lelaki merasa kagum dengan Ali bin Abu Thalib as ,  Maka Rasulullah Saw. bersabda kepada Ali as :

Saudaraku (Ali) adalah : kemegahan Arab. Engkau adalah sepupuku yang paling mulia, bapa yang paling dihormati, saudara laki-laki yang paling mulia, jiwa yang paling mulia, keturunan yang paling mulia, istri yang paling mulia, mempunyai anak lelaki yang paling mulia, paman di sebelah tua yang paling dihormati, paling sempurna tingkah-lakunya, paling banyak ilmunya, paling fasih membaca al-Qur’an, paling mengetahui sunnah-sunnah Allah, paling berani hatinya, paling pemurah, paling zuhud di dunia, paling menggembeling energi, paling baik budi pekertinya, paling benar lidahnya serta paling mencintai Allah dan aku (Rasul). [1]

Anda akan hidup sesudahku selama tiga puluh tahun. Anda akan melihat kezaliman Quraisy. Kemudian Anda akan berjihad di jalan Allah jika Anda mendapatkan pembantu-pembantu.Anda akan berjihad karena takwil al-Qur’an sebagaimana telah berjihad karena Tanzilnya, Anda akan menentang al-Nakithin, al-Qasitin dan al-Mariqin dari umat ini.Anda akan mati sebagai seorang syahid di mana jenggot akan berlumuran dengan darah dari kepala Anda. Pembunuh Anda menyamai pembunuh al-Naqah (unta betina), dalam kemurkaan Allah dan berjauhan dari-Nya.Pembunuh Anda menyamai pembunuh Yahya bin Zakaria dan menyamai Fir’aun yang memiliki Pancang (al-Autad)”.

1.  Al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal, vi, hlm. 157. Abu Nu‘aim al-Isfahani, Hilyah al-Auliya‘, i, hlm. 63. al-Kanji al-Syafi‘i, Kifayah al-Talib, hlm. 332.

……………….

Kritik Terhadap Keadilan Semua Sahabat

Al Quran dan Keadilan Para Sahabat

Kritik pertama terhadap anggapan bahwa semua sahabat adalah adil berdasarkan ayat ayat AlQur’an  seperti yang digambarkan dalam surat At Taubah berikut:

“Orang orang Arab paling keras Dalam kekafiran dan kemunafikan, Dan paling cenderung mengabaikan Aturan aturan yang Allah turunkan atas RasulNya, Padahal Allah Mahatahu, Mahabijaksana.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 97). atau:

“Sungguh mereka telah mengusahakan keonaran sebelumnya, Dan memutar balik persoalan bagimu, Sampai datang kemenangan, Dan terbukti kebenaran agama Allah, Meskipun mereka tiada suka.” ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.) atau:

Dan di antara orang Arab, sekitarmu, Ada orang munafik, Demikian pula di antara orang

Madinah, Mereka berkeras dalam kemunafikan, Kau tidak mengetahui mereka, (Tapi) Kami mengenalnya… ( Al Qur’an, At Taubah (IX): 48.)

Mengenai istilah munafik Bukhari meriwayat dari Sulaiman Abu Rabi dari Ismail bin Jafar dari Nafi bin Malik dari ayahnya dari Abu Hurairah yang mendengar dari Rasul yang bersabda: “Tanda tanda  dari munafik adalah: Bila berbicara, ia berbohong. Bila berjanji, tidak ia tepati. Bila memegang amanat ia akan khianati.”

Pepatah lama ‘Arab menggambarkan munafik sebagai orang yang mencium tangan yang tidak dapat ia gigit. Dan karena para istri Rasul termasuk dalam kategori Sahabat, maka dapat dimasukkan ayat ayat  dalam surat Tahrim yang turun berhubungan dengan ummul muminin ‘A’isyah dan Hafshah, dan meminta agar mereka bertobat.

Hadis dan Keadilan Para Sahabat

Bukhari

Bukhari ( Bukhari, Shahih, jilid 4, Bab alHaudh [alHaudh, nama Telaga di Surga], akhir Bab arRuqab, hlm. 94. )  meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi telah bersabda: Tatkala aku sedang berdiri, muncullah serombongan orang yang kukenal dan muncul pula seorang lelaki di antara diriku dan rombongan itu. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: “Kemana?” Ia menjawab ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka?” Ia menjawab: “Mereka berbalik  setelah engkau wafat.”

“Halumma”, logat orang Hijaz, kata panggil untuk lelaki atau perempuan, tunggal, dua orang maupun jamak. Dalam kalimat ini yang dipanggil adalah serombongan orang, ‘zumrah’… irtaddu (   lihat  Al Qur’an 12:96; 2:217.)

Di bagian lain: Kemudian muncullah serombongan orang yang kukenal dan seorang lelaki muncul pula antara diriku dan mereka. Lelaki itu berkata: “Ayo!” Aku bertanya: ‘Kemana? “Ia menjawab: ‘Ke neraka, demi Allah!” Aku bertanya: “Ada apa dengan mereka? “Lelaki itu menjawab: ‘Mereka telah berbalik setelah engkau wafat”. Dan aku tidak melihat keikhlasan pada wajah mereka, seperti gerombolan unta tanpa gembala.

Dan yang berasal dari Asma’ binti Abi Bakar yang berkata, Nabi bersabda:

“Tatkala berada di Al Haudh, aku tiba tiba melihat ada di antara kamu yang mengingkariku ( yaruddu ‘alayya.) ,

yang mengikuti selain diriku. Aku berkata: “Ya Rabbi, dari diriku dan umatku?” Dan terdengar suara seseorang: “Apakah engkau mengetahui apa yang mereka lakukan sesudahmu? Demi Allah mereka terus mengingkarimu ( Ma barihu yarji’una ‘ala a’ qabihim )

Dan tatakala membicarakan hadis ini Ibnu Abi Mulaikah berkata:

“Allahumma, aku berlindung kepadaMu dari perbuatan ingkar dan merusak agama kami”.

Dari bab yang sama yang berasal dari Said bin Musayyib yang berasal dari para sahabat Nabi bahwa Nabi bersabda: Di AlHaudh’ sejumlah sahabat berbalik dan aku bertanya: “Ya Rabbi! Mereka adalah sahabatku!”.

Dan mendapat jawaban: “Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang telah mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik mengingkarimu!”

Dan di bagian lain bab tersebut, dari Sahl bin Sa’d yang berkata, Nabi bersabda: Saya mendahului kamu di ‘AlHaudh’, barangsiapa meliwatiku akan minum dan setelah itu tidak akan pernah haus selamanya, dan beberapa kaum yang kukenal dan mereka juga mengenalku, berbalik dariku, kemudian aku dan mereka terpisah.

Abu Hazm berkata: “Nu’man bin Abi’ Iyasy memperdengarkannya kepadaku dan menanyakan apakah aku mendengar demikian dari Sahl?’ Aku membenarkan. Ia melanjutkan: ‘Aku bersaksi bahwa menurut Abi Said Al Khudri kata kata tersebut punya kelanjutan:

Dan aku (Nabi) berkata: ‘Mereka itu adalah dari diriku’. Dan kedengaran jawaban: ‘Sungguh engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu?’ Dan aku berkata: ‘Binasalah mereka yang berobah sesudahku.’

Lagi dari Abu Hurairah yang meriwayatkan dari Rasul Allah saw yang bersabda:

Telah berbalik di hari kiamat serombongan sahabatku yang memisahkan diri di AlHaudh

dan aku bertanya: “Ya Rabbi, sahabatku,’ “Dan Allah menjawab: ‘Tiada engkau tahu apa yang mereka lakukan sesudahmu. Mereka telah berbalik dan menjadi ingkar.’

Lagi, yang berasal dari ‘Abdullah dari Nabi masih di bab yang sama: Kemudian mereka dipisahkan dariku, dan aku berseru: “Ya Rabbi, sahabatku!” Dan dijawab: “Engkau tidak tahu apa yang terjadi sesudahmu!”. Bukhari melanjutkan: “Kata kata serupa juga diriwayatkan ‘Ashim yang berasal dari Abi Wa’il. Dan Hushain juga meriwayatkan serupa yang berasal dari Abi Wa’il dari Hudzaifah dari Nabi.

Di bab lain, tatkala membicarakan Perang Hudaibiyah, Bukhari meriwayatkan dari al’

Ala’ bin Musayyib dari ayahnya ( Bukhari, Shahih,jilid 3, hlm. 30 dalam bab Ghaswah Hudaibiyah.) yang berkata: Aku bertemu alBarra’ bin ‘Azib dan aku berseru: ‘Selamat bagi Anda, Anda beruntung jadi sahabat Nabi dan Anda telah membaiat Rasul di bawah pohon, ‘bai’ah tahta syajarah!’. Ia menjawab: “Wahai anak saudaraku, engkau tidak tahu, apa yang kami lakukan sesudah Rasul wafat.!” Dan dalam bab lain Bukhari meriwayatkan yang berasal dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi saw: (Bukhari, Shahih, jilid 2, hlm. 154, bab yang menerangkan ayat “Dan Allah menjadikan Ibrahim kesayanganNya” (QS 4:125) dalam Kitab Bad’ul Khalq )

‘Dan sejumlah sahabat mengambil jalan kiri (Golongan kiri, lihat QS 56:41.) dan aku berseru “Sahabatku, sahabatku!” dan terdengar jawaban dengan kata kata: ‘Mereka tidak pernah berhenti berbalik ingkar sejak berpisah denganmu.”

Muslim

“Sebagian orang yang menjadikan aku sebagai sahabat akan berbalik dariku di telaga AlHaudh, yaitu tatkala dengan tiba tiba aku melihat mereka dan mereka melihat kepadaku, kemudian meninggalkanku dan aku benar benar  akan bertanya: “Wahai Rabbi, para sahabatku. Dan akan terdengar jawaban: “Engkau tidak tahu apa yang mereka lalukan sesudahmu.” (Muslim, Shahih, Kitab Fadhail, hadits 40. Lihat juga Musnad Ahmad, jilid 1, hlm. 453, jilid 2, hlm. 28 jilid 5, hlm. 48. )

—————————————————————–

Tentang  Ummu’l  mu’minin  ‘A’isyah

Rasul juga bersabda tentang ummu’l mu’minin ‘A’isyah:

“Diriwayatkan oleh Musa bin Isma’il, dari Juwairiyah, dari Nafi’, dari ‘Abdullah yang berkata: “Nabi saw sedang berkhotbah dan beliau menunjuk ke arah kediaman ‘A’isyah sambil berkata: ‘Disinilah akan muncul tiga fitnah sekaligus, dan dari situlah akan muncul tanduk setan’. ( Bukhari, Shahih dalam bab “Ma ja’a fi buyuti’l AzwajinNabi’. )

‘Abdullah meriwayatkan dari Ubay dari ‘Ikramah bin ‘Ammar dari Ibnu ‘Umar yang berkata: “Rasululah saw keluar dari rumah ‘Aisyah dan bersabda: ‘Kepala kekufuran akan muncul dari sini, dan dari sini akan muncul tanduk setan’. ( Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 23. )

Rasul Allah saw keluar dari rumah ‘A’isyah sambil berkata: “Sesungguhnya kekafiran akan muncul dari sini akan muncul tanduk setan.” ( Imam Ahmad bin Hambal, Musnad, jilid 2, hlm. 26.)

‘Kutukan’  terhadapnya dalam khotbah khotbah Jum’at selama lebih dari delapan puluh tahun oleh kekuatan politik yang menyusul kemudian, serta permusuhan dan penindasan terhadap para pengikutnya, hampir menghilangkan sama sekali buah pikiran ‘Ali dalam aliran ini. Aliran ini makin melembaga dan kemudian dikenal sebagai Ahlus Sunnah.

KONSEP LAKNAT DI DALAM AL-QUR’AN

Pengenalan

Perkataan la‘nat (laknat) dan pecahannya disebut sekurang-kurangnya 32 kali di dalam al-Qur’an dalam pelbagai perkara yang melanggari perintah Allah dan Rasul-Nya. Mengikut  Muhammad Abu Bakr ‘Abd al-Qadir al-Razi perkataan la‘nat (laknat) memberi erti “pengusiran dan berjauhan dari kebaikan” (al-Tard wa al-Ib’ad mina l-khair) (Mukhtar al-Sihhah, hlm. 108, Cairo, 1950). J. Milton Cowan menyatakan la‘nat adalah “curse”. La‘natullahi ‘Alaihi bererti “God’s curse upon him” (A Dictionary of Written Arabic, London 1971, hlm. 870). Manakala menurut Kamus Dewan pula menyatakan laknat adalah “kemurkaan Allah dan jauh dari petunjuk-Nya; setiap perbuatan jahat akan menerima kutukan (laknat) daripada Allah (Kamus Dewan, hlm. 694, Kuala Lumpur, 1971).

Mereka yang dilaknati di dalam al-Qur’an

Di sini dikemukakan sebahagian daripada mereka yang dilaknati di dalam al- Qur’an seperti berikut:

1Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perintah-Nya

Firman-Nya Sesungguhnya Allah melaknat (mengutuk) orang-orang yang kafir (ingkar) dan menyediakan untuk mereka api yang menyala-nyala” (Al- Ahzab (33):64) “Sesungguhnya di atas engkau laknat sampai hari pembalasan” (Al-Hijr (15):35) “Sesungguhnya  di atasmu laknatku sampai hari pembalasan” (Sad (38):78)

Ini menunjukkan barangsiapa yang mengingkari walaupun satu hukum daripada hukum-hukum-Nya adalah termasuk orang yang ingkar terhadap hukum-Nya. Apatah lagi jika seorang itu menukarkan hukum Allah dengan hukumnya sendiri. Kerana setiap individu Muslim sama ada Nabi (Saw.) atau bukan Nabi tidak boleh menyalahi al-Qur’an. Firman-Nya “Katakanlah: Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Tuhan-ku, akan azab hari yang besar” (Al-An’am (96):15). Jika Nabi (Saw.) merasa takut kepada Allah jika dia mendurhakai-Nya, maka orang lain sama ada yang bergelar khalifah atau sahabat atau mana-mana individu sepatutnya lebih takut lagi untuk mendurhakai perintah-Nya.

2Laknat Allah kepada mereka yang menyakiti-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya; “Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, nescaya mereka dilaknati Allah di Dunia dan di Akhirat dan Dia menyediakan untuk mereka  seksa yang menghinakan (mereka) (Al-Ahzab (33):57).

Ini bererti barang siapa yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya walau dengan apa cara sekalipun dilaknati Allah, Rasul-Nya,para Malaikat-Nya dan  Mukminun. Sama ada dengan menentang hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya atau menghina Allah dan Rasul-Nya dengan membatalkan hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya di atas alasanmaslahah umum atau sebagainya.

Justeru itu, orang yang menghina Nabi (Saw.) dan  mempersendakan Nabi (Saw.) dengan mengatakan bahawa Nabi (Saw.) “Sedang meracau” di hadapan Nabi (Saw.) “Kitab Allah adalah cukup dan kami tidak perlu kepada Sunnah Nabi (Saw.)” (al-Bukhari, Sahih, I, hlm. 36; Muslim, Sahih, III, hlm. 69). “Sunnah Nabi (Saw.) mendatangkan perselisihan dan pertengkaran kepada Umat [Al-Dhahabi, Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm.3]”. “Orang yang telah mengepung dan membakar rumah anak perempuan Nabi (Saw.), Fatimah (a.s) dan berkata: “Aku akan membakar kalian sehingga kalian keluar untuk memberi bai’ah kepada Abu Bakar” [Al-Tabari, Tarikh, III, hlm. 198; Abu-l-Fida,Tarikh, I, hlm. 156],  merampas Fadak daripada Fatimah (a.s) yang telah diberikan kepadanya oleh Nabi (Saw.) semasa hidupnya (Lihat Ahmad bin Tahir al-Baghdadi, Balaghah al-Nisa’, II ,hlm.14; Umar Ridha Kahhalah,A’lam al-Nisa’, III, hlm. 208; Ibn Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balaghah, IV, hlm.79, 92), menyakiti hati Fatimah, Ali, al-Hasan dan al-Husain, kerana Rasulullah (Saw.) bersabda “Siapa menyakiti Fatimah, dia menyakitiku, dan siapa menyakitiku, dia menyakiti Allah” Siapa menyakiti Ali, sesungguhnya dia menyakitiku,dan siapa yang menyakitiku, dia menyakiti Allah” “al-Hasan dan al-Husain kedua-dua mereka adalah pemuda Syurga”  (al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hlm.129-131 dan lain-lain).

Mereka yang membakar Sunnah Nabi (Saw.) (Ibn Sa’d, Tabaqat, V, hlm. 140), “Menghalang orang ramai dari meriwayatkan Sunnah Nabi (Saw.)” [al-Dhahabi,Tadhkirah al-Huffaz, I, hlm. 7], mengesyaki Nabi (Saw.) sama ada berada di atas kebenaran atau kebatilan [Muslim, Sahih, IV, hlm.12,14; al-Bukhari, Sahih, II, hlm. 111] , mengubah sebahagian hukum Allah dan sunnah Nabi (Saw.) (al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa’’ hlm.136) adalah termasuk orang yang dilaknati Allah, Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun. Dan jika seorang itu tidak melakukan laknat kepada mereka di atas perbuatan mereka yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka dia bukanlah Mukmin yang sebenar. Apatah lagi jika dia mempertahankan perbuatan mereka tersebut sebagai sunnah atau agama bagi bertaqarrub kepada Allah (swt).

3. Laknat Allah kepada mereka yang menyembunyikan hukum-Nya di dalam kitab-Nya

Firman-Nya “Sesungguhnya mereka yang menyembunyikan apa yang Kami turunkan dari keterangan dan petunjuk setelah Kami menerangkannya kepada orang ramai, nescaya mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati oleh orang-orang yang mengutuknya” (Al-Baqarah (2):159).

Ini bererti barang siapa yang menyembunyikan hukum Allah dan Sunnah Nabi-Nya yang sepatutnya didedahkan kepada masyarakat, tetapi dia tidak menerangkannya kepada mereka kerana kepentingan tertentu maka dia dilaknati Allah dan orang-orang yang melaknatinya. Apatah lagi jika dia seorang yang mempunyai autoritatif di dalam agama. Kerana konsep hukum Allah tidak boleh disembunyikannya, kerana ia harus dilaksanakannya. Di samping itu, dia tidak boleh cenderung kepada orang-orang yang zalim, kerana Firman-Nya “Janganlah kamu cenderung kepada orang yang melakukan kezaliman, lantas kamu akan disambar oleh api neraka. Dan tidak ada bagimu wali selain daripada Allah, kemudian kamu tiada mendapat pertolongan” (Hud(11):113).

4Laknat Allah kepada mereka yang membohongi-Nya dan Rasul-Nya.

Firman-Nya “Barang siapa yang membantah engkau tentang kebenaran itu, setelah datang kepada engkau ilmu pengetahuan, maka katakanlah: Marilah kami panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, perempuan kami dan perempuan kamu dan diri kami dan diri kamu, kemudian kita bermubahalah (bersungguh-sungguh berdoa), lalu kita jadikan laknat Allah atas orang yang berbohong” (Ali ‘Imran (3):61).

Ini bererti mereka  yang membohongi Allah dan Rasul-Nya selepas dikemukakan hukum al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, tetapi mereka masih membantahnya, maka mereka itu dilaknatiAllah dan Rasul-Nya. Ayat ini dikenali dengan ayat al-Mubahalah. Ia berlaku di antara Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya (a.s) di satu pihak dan Nasrani Najran di pihak yang lain.

Nabi (Saw.) telah mempertaruhkan kepada Nasrani Najran (abna’a-na) anak-anak kami (al-Hasan dan al-Husain a.s), (nisa’-ana) perempuan kami (Fatimah a.s) dan (anfusa-na) diri kami (Ali a.s). Imam Ali al-Ridha berkata: “Sesungguhnya ia dimaksudkan dengan Ali bin Abi Talib (a.s). Buktinya sebuah hadis telah menerangkan  maksud yang sama, seperti berikut: ” ... aku akan mengutuskan kepada mereka seorang lelaki seperti diriku [ka-nafsi]” Iaitu Ali bin Abi Talib. Ini adalah suatu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, kelebihan yang tidak boleh dikaitkan dengan orang lain dan kemuliaan yang tidak dapat didahului oleh sesiapa pun kerana diri Ali seperti dirinya sendiri” (Muhammad Babawaih al-Qummi, Amali al-SaduqNajaf, 1970, hlm.468).

Akhirnya mereka enggan bermubahalah dengan Nabi (Saw.) dan Ahlu l-Baitnya, lalu mereka membayar jizyah kepada Nabi (Saw.). Jika Nasrani Najran tidak berani menyahuti mubahalahNabi (Saw.) dengan pertaruhan Ahlu l-Baitnya, kerana kebenarannya, apakah gerangan mereka yang mengakui al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya sebagai asas agama mereka berani menentang Ahlu l-Bait (a.s), kemudian menyembunyikan kebenaran al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya, khususnys mengenai mereka? Jika mereka melakukan sedemikian, nescaya mereka dilaknati oleh Allah  dan Rasul-Nya, para Malaikat-Nya dan Mukminun.

5. Laknat Allah kepada mereka yang mendurhakai-Nya dan Rasul-Nya

Firman-Nya “Telah dilaknati orang-orang yang kafir di kalangan Bani Isra’il di atas lidah Daud dan Isa anak lelaki Maryam. Demikian itu disebabkan mereka telah mendurhaka dan melampaui batas. Mereka tidak melarang sesuatu yang mungkar yang mereka perbuat. Sungguh amat jahat apa yang mereka perbuat” (Al-Ma’idah (5):78-79).

Firman-Nya “Tidak ada bagi lelaki mukmin dan perempuan mukminah (hak) memilih di dalam urusan mereka apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan urusan itu. Barang siapa yang  mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” (Al-Ahzab(33):35).

Ini bererti barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya; sama ada melakukan perkara-perkara yang menyalahi hukum Allah dan Sunnah Rasul-Nya serta tidak melakukan konsep “Amru Ma’ruf wa Nahyu Munkar”, maka mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang dilaknati Allah dan Rasul-Nya, maka para Malaikat dan Mukminun akan melaknati mereka.

6Laknat Allah kepada mereka yang zalim

Firman-Nya “Ahli syurga menyeru ahli neraka: Kami telah memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami  dengan sebenarnya. Adakah kamu memperolehi apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kami dengan sebenarnya? Mereka itu menjawab: Ya. Lalu menyeru orang yang menyeru (Malaikat) di kalanggan mereka: Sesungguhnyalaknat Allah ke atas orang yang zalim (iaitu) orang-orang yang menghalangi jalan Allah dan mereka mencari jalan bengkok, sedang mereka itu kafir terhadap Akhirat” (Al-A’raf (7): 44-45) dan, “Barang siapa yang tidak menghukum dengan hukum Allah, maka merekalah orang yang zalim”) Al-Ma’dah (5):45)

Ini bererti sebarang kecenderungan terhadap orang-orang yang zalim akan di sambar oleh api neraka. Apatah lagi jika seorang itu meredai atau menyokong mereka atau bekerja sama dengan mereka. Saidina Ali (a.s) berkata: “Mereka yang bersekutu di dalam kezaliman adalah tiga: Pelaku kezaliman, pembantunya dan orang yang meridhai kezaliman itu” (Tuhafu al ‘Uqul ‘an Ali r-Rasul, hlm. 23 dan lain-lain. Justeru itu mereka dilaknati Allah dan Rasul-Nya serta Mukminun.

7. Laknat Allah kepada mereka yang mengingkari perjanjian Allah, melakukan kerosakan di bumi dan memutuskan silaturahim

Firman-Nya “Mereka yang mengingkari janji Allah sesudah eratnya dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah supaya diperhubungkan dan mereka yang membuat kerosakan di muka bumi, untuk mereka laknat dan untuk mereka tempat yang buruk” (Al-Ra’d (13):25) dan “Apakah kiranya jika kamu menjadi wali (berkuasa) kamu melakukan kerosakan di muka bumi dan memutuskan silatu r-Rahim? Mereka itulah yang dilaknati Allah, lalu Dia memekakkan mereka dan membutakan pemandangan mereka ” (Muhammad (47): 22-23).

Ini bererti mereka yang mengingkari janji Allah dengan mendurhakai-Nya, kemudian melakukan kerosakkan di muka bumi dengan mengubah hukum-Nya dan Sunnah Nabi-Nya serta memutuskan silaturahim, maka bagi mereka laknat Allah dan Rasul-Nya.

Justeru itu tidak hairanlah jika Saidina Ali (a.s) telah melaknati mereka yang telah mengubah agama Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Beliau berdoa: Wahai Tuhanku! Laknatilah mereka yang telah mengubah agama-Mu, menukar ni‘kmat-Mu (khilafah), menuduh perkara-perkara yang bukan-bukan terhadap Rasul-Mu (Saw.), menentang jalan-Mu, menyalahi agama-Mu, mengingkari nikmat-Mu, menentang kalam-Mu, mempersenda-sendakan Rasul-Mu…(al-Majlisi, Bihar al-Anwar, Beirut 1991, xxx,  hlm. 393). Sementara Imam Ja‘far al-Sadiq pula berdoa: Wahai Tuhanku! Pertingkatkanlah laknat-Mu dan azab-Mu ke atas mereka yang telah mengingkari ni‘mat-Mu, mengkhianati Rasul-Mu, menuduh Nabi-Mu perkara yang bukan-bukan dan menentangnya…(Ibid, hlm. 395).

Kesimpulan

Berdasarkan kepada ayat-ayat tersebut, maka Laknat boleh atau harus dilakukan kepada mereka yang mempersendakan Allah dan Rasulullah (Saw.), menghina, mengingkari, membatal, mengubah, menangguh dan menggantikan sebahagian daripada hukum Allah (SWT) dan Sunnah Rasul-Nya dengan pendapat atau sunnah mereka sendiri sama ada orang itu bergelar khalifah atau sahabat atau tabi‘in dan sebagainya.

Justeru itu, ungkapan “melaknat khalifah atau sahabat tertentu atau polan dan polan” tidak menjadi perkara sensitif lagi jika kita meletakkan mereka sama ada khalifah, sahabat, individu atau kita sendiri di bawah martabat Rasulullah (Saw.), dan Rasulullah (Saw.) pula di bawah martabat Allah (SWT). Tetapi jika mereka  meletakkan seorang khalifah, sahabat  atau mana-mana individu lebih tinggi daripada martabat Allah dan Rasul-Nya dari segi pengamalan hukum dan sebagainya, maka mereka tidak akan meredai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuhnya di dalam perkara tersebut. Kerana  penilaian kebenaran bagi mereka bukanlah al-Qur’an dan Sunnah Nabi (Saw.) secara keseluruhannya, malah seorang khalifah atau sahabat menjadi penilaian kebenaran mereka. Lalu mereka menjadikan pendapat atau sunnah “mereka” yang menyalahi Nas sebagai agama bagi mendekatkan diri mereka kepada-Nya.

Salah satu yang menjadi topik perdebatan dan juga benih permusuhan antara saudara Sunni dan Syiah adalah masalah berkaitan para sahabat. Perkara ini diburukkan lagi apabila berlakunya salah faham dan fitnah yang disebarkan oleh pihak-pihak tertentu membantu memburukkan lagi keadaan.

Mereka menuduh Syiah membenci para sahabat, mencaci maki mereka serta mengatakan bahawa Syiah menjatuhkan hukum kafir kepada para sahabat. Tidak hairanlah perselisihan dan pergaduhan sangat mudah terjadi kerana di sebelah pihak, Sunni menganggap semua para sahabat adalah adil dan saksama serta soleh, tanpa sebarang pertimbangan atas kelakuan mereka. Gelaran sahabat diberikan tanpa kompromi kepada sesiapa sahaja dari mereka yang mendampingi Rasulullah sehingga lah kepada mereka yang pernah sekalipun melihat baginda. Manakala Syiah memilih sikap berhati-hati dalam mendefinasikan perkataan “sahabat” serta kepada siapa gelaran ini diberikan. Kami menilai sikap dan perbuatan para sahabat dengan Al-Quran dan Sunnah, untuk mengetahui kedudukan dan integriti sahabat di sisi Islam.

Jadi atas dasar kesatuan Ummah, maka perlu rasanya saya membuat beberapa siri artikel mengenai para sahabat, objektifnya untuk memberi penjelasan tentang pandangan Syiah tentang para sahabat secara umumnya, dan secara terperinci mengenai beberapa sahabat yang sangat-sangat menjadi kontroversi antara kedua puak.

Secara ringkasnya Syiah mengkategorikan para sahabat kepada 3 kumpulan dan kategori mengikut kelakuan dan sikap mereka yang dinilai berdasarkan undang-undang Islam dari Al Quran dan Al Hadis. Syiah juga menilai para sahabat berdasarkan fakta sejarah berkaitan kelakuan sahabat  sebelum Islam, semasa Rasulullah masih hidup dan selepas baginda wafat.

Kategori pertama

Kategori pertama para sahabat ialah para sahabat yang mempercayai Allah, Rasulnya dan telah memberi apa yang termampu untuk Islam. Kumpulam ini mempunyai kedudukan paling tinggi dalam Islam. Mereka sentiasa menyokong Nabi, bersamanya susah dan senang, mempercayai baginda, tidak pernah meragui baginda, sentiasa melaksanakan arahan nabi, tidak pernah mengengkari arahan nabi dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti baginda contohnya mengatakan Nabi bercakap karut, berhalusinasi dan sebagainya.

Kumpulan ini lah yang disebutkan di dalam Quran (48:29)

“Muhammad itu adalah Rasulullah. Orang-orang yang bersama dengannya(mukminin) sangat keras terhadap orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keredhaannya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, kerana bekas sujud. Itulah contoh mereka di dalam taurat. Dan contoh mereka dalam injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya, lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang yang menanamnya.  Begitu juga orang islam , pada mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat, supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal soleh diantara mereka itu.

Sahabat kategori ini ialah para sahabat yang tiada percanggahan antara kedua-dua pihak. Tidak kira Sunni dan Syiah,bersetuju dengan kemuliaan para sahabat kategori ini, oleh itu, sahabat kategori ini tidak akan dibincangkan di dalam siri artikel ini.

Perhatikan frasa yang telah di bold di atas, “di antara mereka itu”. Jelas sekali penggunaan frasa ini menunjukkan bahawa bukan semua para sahabat nabi tergolong dalam kategori ini seperti yang di war-warkan oleh saudara Ahlul Sunnah. Inilah yang kami cuba untuk nyatakan selama ini, bahawa di antara semua para sahbt nabi, hanya sebahagian sahaja yang mencapai standard yang telah di tetapkan di dalam ayat ini. Antaranya besikap keras terhadap orang kafir dan berkasih sayang antara mereka. Jadi para sahabat yng tidak bersikap keras terhadap orang kafir dan berlemah lembut sesama kaum muslimin tidak jatuh dalam kategori ini. Sekaligus membatalkan kenyataan sesetengah saudara Ahlul Sunnah bahawa ayat ini diturunkan untuk semua sahabat tanpa kecuali.

Contoh para sahabat yang jatuh dalam kategori ini ialah- Ammar Ibn Yassir, Miqdad, Malik Al Asytar, Abu Dzar Al Ghiffari dan Salman Al Farisi.

Kategori kedua

Kategori kedua ialah para sahabat yang memeluk Islam dan mengikuti Rasulullah samada kerana pilihan sendiri atau kerana ketakutan, dan mereka sentiasa menghargai dan berterima kasih kepada Rasulullah atas keislaman mereka. Bagaimanapun, mereka menyakiti Rasulullah di beberapa peristiwa, dan tidak selalunya mengikuti perintah baginda, malah kerap mencabar perintah baginda, sehingga Allah swt, melalui Quran, harus masuk campur dengan memberi amaran dan mengancam mereka. Allah membuka pekung mereka dalam banyak ayat-ayat Quran, Rasulullah juga banyak menegur mereka dalam banyak hadis. Syiah hanya menyebut kumpulan sahabat ini dengan menyebut perbuatan mereka tanpa sebarang kekaguman.

Para sahabat kategori kedua di terangkan oleh Al Quran dalam banyak ayat, walau bagaimanapun saya akan menulis artikel yang berasingan bagi tajuk ini agar tidak terlampau memanjangkan artikel. Berikut ialah beberapa potong ayat dari kitab suci Al Quran yang menyebut tentang mereka.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu bila dikatkan padamu: Berperanglah kamu di jaln Allah, lalu kamu berlambat-lambat duduk di tanah? Adakah kamu lebih suka kepada kehidupan dunia lebih dari akhirat? Maka tidak adalah kesukaan hidup di dunia, di perbandingkan dengan akhirat melainkan sikit sekali. Jika kamu tiada mahu berperang, niscaya Allah akan menyiksamu dengan azab yang pedih dan dia akan menukarkan kamu dengan orang lain” (9:38-39)

Ayat di atas menceritakan mengenai ada sesetengah sahabat yang berasa malas untuk berjihad sehingga Allah swt mengancam mereka dengan azab seksa di akhirat. Ini bukanlah satu-satunya peristiwa mereka di tegur.

“Jika kamu berpaling, maka Allah akan menukar kamu dengan kaum yang lain dri mu.” (47:38)

Bolehkah anda terangkan siapakah yang dimaksudkan dengan kamu di dalam ayat di atas? Allah juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suara mu lebih dari suara nabi..kerana takut akan menghapuskan amalan sedang kamu tiada sedar”(49:2)

Walaupun perintah Allah seperti diatas, kita dapati masih terdapat kes-kes dimana para sahabat menentang perintah nabi yang dapat kita lihat dalam sejarah seperti:

  1. Kes tawanan perang badar, apabila Rasulullah mengarahkan pembebasan mereka dengan dibayar fidyah.
  2. Perang Tabuk dimana ketika Rasulullah mengarahkan unta di sembelih untuk menyelamatkan nyawa mereka.
  3. Ketika Perjanjian Hudaibiyah, para sahabat ragu kepada kenabian
  4. Perang Hunain, di mana para sahabat menuduh Nabi tidak adil dalam pengagihan rampasan perang.
  5. Ketidakpuasan hati dalam isu perlantikan Usamah Ibnu Zaid sebagai komander tentera sejurus sebelum kewafatan baginda.
  6. Peristiwa Hari Khamis di mana para sahabat menghalang Rasulullah menulis wasiat terakhir baginda dan menuduh baginda meracau.(Na uzubillah)

Dan banyak lagi laporan-laporan dari buku-buku hadis tentang kelakuan para sahabat, yang akan saya pautkan di dalam artikel-artikel saya yang seterusnya. Contoh-contoh para sahabat yang jatuh dalam kategori ini tidak dapat  saya sertakan kerana ia bergantung kepada penilaian individu berdasarkan kelakuan setiap sahabat itu. InsyaAllah, saya juga akan menulis lebih banyak artikel dalam menganalisis keperibadian sahabat Rasulullah secara spesifik, semoga para pembaca boleh membuat pemerhatian sendiri.

Kategori ketiga

Kategori ketiga ialah para munafik yang tidak pernah mempercayai Allah dan Rasulnya, juga golongan yang menjadi murtad selepas nabi. Walaupun begitu kumpulan ini berjaya memasuki dan berada bersama kelompok kaum muslimin, dan melakukan kerosakan dari dalam. Antaranya ialah Abu Sufyan, Muawiyah dan Yazid.

Yazid berkata: “Bani Hashim bermain dengan kerajaan, tetapi tiada wahyu yang di turunkan, malah tiada langsung risalah yang benar.”- Tarikh Al Tabari dan Tadhkirat al Khawas

Abu Sufyan pernah berkata apabila Usman mengambil alih jabatan khalifah:

“Wahai anak-anak Umaiyah! Oleh kerana kerajaan ini telah jatuh ke tangan kita, maka bermainlah dengannya seperti kanak-kanak bermain bola, dan berilah ia di antara satu sama lain di dalam puak kita. Kita tidak dapat memastikan wujudnya syurga atau neraka, tetapi kerajaan ini ialah realiti.- Al Isti’ab, Ibn Abd Al Barr dan Sharh Ibn Abil Hadid.

Muawiyah berkata:

“Aku tidak memerangi kamu agar kamu bersolat, berpuasa atau membayar zakat, tetapi untuk menjadi raja kamu dan menguasai kamu.”- Tadhkirat al Khawas

Ini adalah sebahagian dari contoh yang saya berikan tentang bagaimana ketiga-tiga orang ini meragui beberapa doktrin paling penting dalam Islam. Seperti yang saya sebutkan sebelum ini, saya akan membincangkan dengan lebih detail berkenaan individu-individu ini dalam artikel saya yang lain.

Di dalam Quran, Allah swt banyak memberi amaran dan menceritakan tentang golongan ketiga ini malah memperuntukkan satu surah khas untuk mereka, iaitu surah Al Munafiqun. Berikut adalah contoh ayat mengenai kumpulan ini.

“Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul, seperti Rasul-rasul sebelumnya. Jika Rasul itu mati atau terbunuh, adakah kamu akan kembali menjadi kafir? …..Tetapi Allah akan memberi ganjaran kepada mereka yang berterima kasih.(3:144)

Ayat ini diturunkan ketika perang Uhud, apabila para sahabat melarikan diri apabila mendengar berita kematian Rasulullah saaw. Hanya beberapa orang sahaja yang masih setia bersama nabi ketika itu kebanyakannya golongan Ansar di antaranya Imam Ali, Abu Bakr, Abd Rahman Ibn Auf,Abu Dujana, Saad ibn Abi Waqas, Assim Ibn Thabit, Saad Ibn Muadh. Bagaimanapun dari sumber-sumber hadis lain antaranya Al-Mustadrak karangan Imam Al Hakim, kita dapat mengetahui bahawa hanya Imam Ali sahaja yang bersama Rasul selama pertempuran berlaku,manakala para sahabat lain yang sama baginda adalah antara yang pertama sampai semula kepada baginda selepas mereka berundur.

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, nanti Allah akan mendatangkan satu kaum, Allah mengasihi mereka, dan mereka mengasihi Allah, mereka berlemah lembut kepada orang-orang beriman dank eras terhadap orang kafir, mereka berjuang di jalan Allah, tidak taku orang yang mencerca. Demikian itu kurnia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki. Allah luas kurnianya lagi maha mengetahui. (5:54)

Ayat ini menunjukkan adanya kemungkinan para sahabat akan murtad dari agama Islam. Panggilan “Hai orang-orang beriman!”,jelas sekali merujuk kepada kaum muslimin, yaitu para sahabat di zaman Nabi. Jelas sekali gelaran sahabat, sama sekali tidak menjamin seseorang itu dari:

  • Imuniti dari dosa
  • Tahap keimanan yang sama sehingga mati.
  • Akan sentiasa berada dalam Islam sehingga mati.
  • Imuniti dari kemahuan kepada duniawi dan tuntutan hawa nafsu.

Kami Syiah, apa yang kami mahu ungkapkan kepada saudara Sunni hanyalah bahawa, para sahabat juga manusia biasa, terdedah kepada:

  • Dosa
  • Kesilapan
  • Godaan syaitan
  • Godaan nafsu.

Yang menjadikan seorang sahabat itu sahabat ialah apabila dia setia kepada perintah Rasul selama baginda masih hidup dan setelah baginda wafat,  selama nyawa ditanggung badan. Itulah erti sahabat kepada Syiah.

Begitu juga halnya dalam kehidupan harian kita, kita hanya boleh menganggap seseorang itu sebagai sahabat apabila dia bersama kita dalam susah dan senang, setia, sentiasa menjaga hubungannya dengan kita, rahsia kita. Tetapi adakah definasi itu masih boleh dipakai jika tiba-tiba pada suatu hari, sahabat kita berubah, mengaibkan kita, tikam belakang, mengkhianati kita, membocorkan rahsia kita dan meninggalkan kita keseorangan bila kita memerlukan mereka?

Mari kita perhatikan apa kata Rasulullah saaw dalam hal ini secara ringkas melalui hadis-hadis dalam Sahih Al Bukhari.

Rasulullah bersabda:  “Pada hari kebangkitan kamu akan di sambar dari sebelah kiri, dan aku akan berkata: “Kemana mereka di bawa pergi?” Kemudian akan dijawab: “Ke neraka, demi tuhan”. Aku berkata: “Tuhanku! Mereka adalah sahabatku.” Allah menjawab: Kamu tidak tahu apa yang mereka lakukan selepas kamu. Dari waktu kamu pergi meninggalkan mereka, mereka tidak berhenti-henti berubah. Aku menjawab: “Pergilah dengan dia, pergilah dengan dia, celakalah barangsiapa yang mengubah perkara-perkara selepas ku. Dan aku tidak melihat satu pun dari mereka terselamat melainkan dia menjadi seolah-olah kambing yang ditinggalkan.(minoriti)

Diriwayatkan dari Abdullah: “Aku adalah pendahulu mu di telaga kausar, dan sesetengah dari kamu akan dibawa kehadapanku hingga aku dapat melihat mereka, dan mereka akan di bawa pergi dari ku dan aku akan berkata: “Ya Tuhan mereka adalah sahabatku!” Kemudian akan di balas: “Kamu tidak mengetahui apa yang mereka telah lakukan selepas pemergianmu.”

Lihat bagaimana dalam hadis ini Nabi saaw menceritakan apa yang bakal terjadi kepada para sahabatnya,  yang mana berubah dan mengubah selepas wafatnya Rahmatal Lil Alamin. Malangnya mereka tidak akan mendapat keselamatan di Akhirat.

Nabi berkata kepada puak Ansar: “Kamu akan mendapati selepasku sifat kepentingan diri yang tinggi. Oleh itu bersabarlah sehingga kamu bertemu Allah dan Rasulnya di Kautsar.” Anas menambah, “Tetapi kami tidak bersabar.”

Lihat sahaja apa yang dihadapi kaum Ansar selepas wafat nabi dan kaum muhajirun menyingkirkan mereka.

Diriwayatkan dari Al Musayyab: Aku bertemu al Bara Ibnu ‘Azib dan berkata padanya: “Semoga kamu hidup dalam kemakmuran. Kamu menikmati persabatan dengan nabi, dan memberi Nabi perjanjian taat setia di bawah pokok.” Selepas itu Al Bara berkata: “Wahai anak saudaraku, kamu tidak mengetahui apa yang telah kami lakukan selepas baginda.” Fikirkan!!!

Begitulah secara ringkasnya, pandangan Syiah tentang para sahabat. Kami mempunyai definasi yang berbeza mengenai perkataan ‘sahabat’.  Kami tidak mengkaji kelakuan dan sejarah para sahabat untuk memalukan mereka atau mengaibkan mereka. Kami mengkaji adalah demi untuk mencari kebenaran, memastikan pihak yang benar dan pihak yang salah.

Kami mengkaji adalah kerana telah menjadi suruhan Allah swt agar kita mengkaji sejarah, supaya kita dapat mengmbil kebaikan darinya, serta mengelakkan keburukan sebagaimana Allah menyarankan kita mengambil iktibar dari peristiwa sejarah Firaun, Namrud, dan kaum-kaum lain yang diceritakan di dalam Quran, kerana sejarah mereka akan berulang kepada kaum Muslimin, dan telah terjadi di zaman para sahabat, sebagaimana sabda Rasulullah saaw: Kamu akan mengikuti jalan umat terdahulu sebelum kamu, sedikit demi sedikit, walaupun jika mereka memasuki lubang biawak sekalipun, pasti kamu akan mengikuti mereka.” Kami bertanya: “Ya Rasulullah, adakah kamu maksudkan Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah saaw menjawab, “Siapa lagi?”

Kami juga mengkaji para sahabat  atas dasar kecintaan kami kepada Ahlul Bait Rasulullah saaw, agar kami tidak mencintai mereka dan dalam masa yang sama redha kepada musuh-musuh mereka. “Tidak wujud di dalam hati kaum Muslimin rasa sayang serta cinta kepada sahabat dan musuh Allah swt.” Imam Ali bersabda: “Seseorang yang menyamakan kami dengan musuh kami bukanlah dari kalangan kami”

Kebanyakan para sahabat yang kalian letakkan di kedudukan tertinggi, semua mereka menyakiti, memerangi, mencaci maki serta membunuh Imam Ali serta Ahlul Bait Nabi yang lainnya. Sedangkan Rasulullah dengan terang bersabda:

“Barangsiapa yang mahu hidup dan matinya seperti ku, dan memasuki syurga yang telah dijanjikan padaku, hendaklah dia mengiktiraf Ali sebagai walinya selepas ku, dan selepas Ali, hendaklah mengiktiraf anak-anak Ali, kerana mereka tidak akan membiarkan kamu di luar pintu petunjuk dan tidak pula membiarkan kamu memasuki pintu kesesatan.” Kanz Al Ummal

“Barangsiapa yang aku ini adalah mawla, maka Ali juga ialah mawla mereka. Ya tuhan, cintailah orang yang mencintai beliau dan musuhilah orang yang memusuhi beliau.”

  • Sahih Tarmizi
  • Sunan Ibnu Majah
  • Khsa’is, an Nisai
  • Al Mustadrak
  • Musnad Inbu Hanbal

“Aku menasihatkan kamu untuk berbuat baik kepada Ahlul Baitku, kerana sesungguhnya aku akan membuat tuntutan dari kamu mengenai mereka di hari perhitungan, dan barangsiapa yang aku berbalah dengannya akan merasa Api. Barangsiapa yang mengenangku dengan mengenang Ahlul Bait ku telah mengambil janji Allah(untuk memasuki syurga)

  • Al Tabaqat
  • Al Sawaiq al Muhriqah

“Barangsiapa yang menghina Ali menghina ku, barangsiapa menghinaku, menghinaku dia menghina Allah, dan barangsiapa menghina Allah, akan dihumban ke dalam neraka.”

  • Mustadrak
  • Khasais
  • Musnad Ibnu Hanbal
  • Tarikh at Tabari.

Didalam Majma’ al Zawa’id, dan Tafsir Suyuti, telah diriwayatkan dari Abu Sa’id al Khudri, berbunyi:

Selama 40 hari Rasulullah pergi ke rumah Fatimah pada waktu pagi lalu berkata “Assalamu’alaika ya Ahlul Bayt, sudah tiba masa solat. Dan selepas itu beliau akan membaca ayat “Allah hanya mengkehendaki…(33:33)” Aku akan berada dalam keadaan berperang dengan sesiapa yang memerangi kamu. Dan aku akan berada dalam keadaan berdamai dengan sesiapa yang mengikuti kamu.”

Hadis-hadis seperti ini terlampau banyak dan diriwayatkan secara mutawattur dari sumber-sumber Ahlul Sunnah juga Syiah. Akhir kata sebagai renungan mari kita amati hadis di bawah:

Fatimah berkata kepada Abu Bakr dan Umar: “Aku bertanya pada kamu dengan nama Allah, bukankah kamu mendengar Rasulullah bersabda, “Kepuasan Fatimah ialah kepuasanku, kemarahan Fatimah ialah kemarahanku, barangsiapa menyayangi Fatimah menyayangi ku, yang memuaskan hati Fatimah memuaskan hati ku, dan barangsiapa yang membuatkan Fatimah marah, membuatku marah.” Mereka menjawab “ya”. Fatimah meneruskan: “Jadi aku memberi kesaksian di hadapan Allah dan para Malaikat yang kamu telah membuat ku marah, dan apabila aku berjumpa Nabi, pasti aku akan mengadukan tentang kamu berdua pada Nabi.”

  • Al Imamah wal Siyasah, Ibnu Qutaybah

Allahumma Solli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad

Salam dan Solawat.

Manusia sememangnya telah diketahui suka membuat keputusan, atau menghakimi sesuatu walaupun di dalam keadaan diri mereka belum mengetahui sepenuhnya sesuatu isu itu kerana mereka selalu tersilap. Sebelum kamu menghakimi artikel ini, dan mengumumkan bahawa artikel ini ialah kempen anti sahabat, suka saya mengingatkan sekali lagi, seperti artikel-artikel saya sebelumnya, nama  saya ialah Ammar, di namakan dari seorang sahabat terkemuka Nabi, Ammar ibn Yassir. Rasa benci terhadap sahabat bukanlah sebahagian dari Pegangan Syiah(Islam). Kami menyayangi para sahabat Rasulullah saaw, yang berbuat kebaikan kepada diri mereka dan kepada orang lain.

“Muhammad itu adalah Rasulullah. Orang-orang yang bersama dengannya(mukminin) sangat keras terhadap orang kafir, berkasih sayang sesama mereka, engkau lihat mereka itu rukuk, sujud serta mengharapkan kurnia daripada Allah dan keredhaannya. Tanda mereka itu adalah di muka mereka, kerana bekas sujud. Itulah contoh mereka di dalam taurat. Dan contoh mereka dalam injil, ialah seperti tanaman yang mengeluarkan anaknya, lalu bertambah kuat dan bertambah besar, lalu tegak lurus dengan batangnya, sehingga ia menakjubkan orang yang menanamnya.  Begitu juga orang Islam , pada mulanya sedikit serta lemah, kemudian bertambah banyak dan kuat, supaya Allah memarahkan orang-orang kafir sebab mereka. Allah telah menjanjikan ampunan dan pahala besar untuk orang-orang yang beriman dan beramal soleh diantara mereka itu.
Quran [48:29]

Para sahabat ialah manusia normal yang tidak maksum. Mereka itu tidaklah suci dan bukan pula dihantar oleh Allah swt.  Para sahabat Nabi yang setia bersama Nabi Saaw dan misi baginda, yang kuat berjihad(sughra dan kubra) di jalan Islam, yang melakukan kebaikan kepada diri mereka dan orang lain, sebelum dan selepas kewafatan Rasulullah, akan layak memasuki syurga melalui proses hisab. Dan kepada sahabat-sahabat ini kami memberi penghargaan dan penghormatan kepada mereka.

Walaubagaimanapun, menghormati semua sahabat dan menyayangi mereka semua, serta mendakwa kesemua mereka -tanpa kompromi- benar dan soleh, adalah salah dari segi prinsip asas Quran dan sejarah.Sedangkan Allah sendiri tidak menjanjikan keampunan kepada semua para sahabat, kecuali mereka yang beriman dan melakukan kebaikan, jadi siapalah kita untuk memberikan sifat zuhud kepada semua para sahabat?

Jika semua para sahabat nabi maksum dan tidak dapat melakukan kesilapan, jadi untuk siapakah ayat Quran yang mengutuk kekikiran mereka untuk berjihad ditujukan?

Kamu Hai orang-orang yang diseru, supaya kamu menafkahkan(hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang bakhil. Barangsiapa yang bakhil, maka bahaya kebakhilan itu hanya atas dirinya.
Quran [47:38]

Begitu juga jika semua sahabat suci, maka bolehkah kamu buktikan dari sejarah bahawa tiada hukuman syariah pernah dikenakan semasa zaman nabi dan 4 khalifah awal, iaitu sebuah era di mana semua yang wujud ialah para sahabat?

Nabi saaw ialah seorang yang hebat. Baginda ialah Nabi Allah yang maksum. Baginda ialah asas Islam. Untuk menjadi seorang Muslim, kita perlu memberi kesaksian tentang kenabian baginda..  Manakala orang-orang lain di sekeliling beliau(kecuali orang-orang yang disebut khas oleh Allah) ialah orang-orang biasa. Selagi mana mereka berpegang kepada prinsip Islam dan mematuhi perintah Muhammad saaw,  akan dibalasi mereka dengan kebaikan oleh Allah swt. Tetapi jika mereka mengingkari baginda dan Islam, maka mereka akan dipertanggungjawabkan atas tindakan mereka. Kamu boleh memuji Musharaf atas kebaikan yang dilakukan oleh beliau, dan mengkritik Musharaf kerana perkara buruk yang beliau lakukan, kerana beliau bukanlah seorang personaliti di pilih Allah, beliau ialah seorang bukan maksum yang dipilih oleh rakyatnya atau pemimpin yang diangkat oleh dirinya sendiri.

Islam bukan tentang orang yang kamu pilih. Mereka tidak menjadi sebahagian dari kepercayaan/agama kamu. Islam ialah mengenai manusia yang dipilih Allah, dan orang-orang yang manusia pilihan Allah swt tetapkan.

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, Keluarga Ibrahim dan keluarga Imran keatas orang-orang seluruh alam.
Quran [3:33]

Muhammad wa aali Muhammad ialah keturunan Ibrahim as. Allah swt memilih mereka. Mereka inilah orang-orang ditujukan solawat oleh kita. Ahlul Bait Nabi ialah orang-orang yang diarahkan kepada kita untuk disayangi dan dicintai, mereka disucikan dari segala jenis kekotoran dan di bawa di dalam insiden mubahila

Tidakkah engkau perhatikan (dan merasa pelik wahai Muhammad) kepada orang-orang yang menyucikan (memuji) diri sendiri? (Padahal perkara itu bukan hak manusia) bahkan Allah jualah yang berhak menyucikan (memuji) sesiapa yang dikehendakiNya (menurut aturan SyariatNya); dan mereka pula tidak akan dianiaya (atau dikurangkan balasan mereka) sedikit pun.
Quran [4:49]

Sesetengah orang menyucikan(kata diri sendiri suci)  diri mereka sendiri atau orang lain. Mereka ialah orang-orang yang tidak perlu kita pentingkan. Bagaimanapun, terdapat satu golongan yang Allah sendiri memilih mereka, ini ialah orang-orang yang perlu kita pentingkan.

Sesungguhnya Allah hanyalah kerana hendak menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu – wahai “AhlulBait” dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya (dari segala perkara yang keji). Quran [33:33]

Manakala orang-orang lain, mereka layak mendapat cinta dan penghormatan kami selagi mereka melakukan kebaikan dan mematuhi arahan Nabi saaw.

Secara peribadi, saya tidak mempunyai masalah dan tidak akan menimbulkan apa-apa isu dalam menyayangi dan menghormati semua para sahabat, jika semua mereka sendiri tiada masalah dalam menyayangi dan menghormati sesama diri mereka sendiri. Bagaimana kami boleh mempercayai semua para sahabat itu adil, soleh dan hidup seperti saudara, sebelum dan selepas kewafatan Nabi, sedangkan sejarah membuktikan perkara yang bertentangan dengan menceritakan begitu banyak perbalahan antara para sahabat Nabi juga isteri-isteri Nabi serta antara para sahabat dan Ahlul Bait Nabi saaw.

Akan saya utarakan isu-isu yang terdapat di dalam sejarah yang diketahui Sunni, tetapi dipandang sebelah mata untuk bertahun lamanya

INSIDEN IFK

Mari kita mulakan dengan insiden IFK, di mana Aisya telah di tuduh melakukan penzinaan. Perlu rasanya bagi saya untuk menyatakan, Syiah tidak menyukai Aisya kerana kebencian beliau kepada Mawla Ali. Tiada Syiah yang mendakwa Aisyah melakukan penzinaan, kerana penghakiman dari Quran mengalahkan segala dakwaan. InsyaAllah akan saya tulis artikel mengenai Aisyah dan peranan beliau dalam Islam, jika ada peluang nanti.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita yang amat dusta itu ialah segolongan dari kalangan kamu; janganlah kamu menyangka (berita yang dusta) itu buruk bagi kamu, bahkan ia baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang di antara mereka akan beroleh hukuman sepadan dengan kesalahan yang dilakukannya itu, dan orang yang mengambil bahagian besar dalam menyiarkannya di antara mereka, akan beroleh seksa yang besar (di dunia dan di akhirat). Sepatutnya semasa kamu mendengar tuduhan itu, orang-orang yang beriman – lelaki dan perempuan, menaruh baik sangka kepada diri (orang-orang) mereka sendiri. dan berkata: “Ini ialah tuduhan dusta yang nyata”. Sepatutnya mereka (yang menuduh) membawa empat orang saksi membuktikan tuduhan itu. Oleh kerana mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka mereka itu pada sisi hukum Allah, adalah orang-orang yang dusta. Dan kalaulah tidak kerana adanya limpah kurnia Allah dan rahmatNya kepada kamu di dunia dan di akhirat, tentulah kamu dikenakan azab seksa yang besar disebabkan kamu turut campur dalam berita palsu itu; -Iaitu semasa kamu bertanya atau menceritakan berita dusta itu dengan lidah kamu, dan memperkatakan dengan mulut kamu akan sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan yang sah mengenainya; dan kamu pula menyangkanya perkara kecil, pada hal ia pada sisi hukum Allah adalah perkara yang besar dosanya. Dan sepatutnya semasa kamu mendengarnya, kamu segera berkata: “Tidaklah layak bagi kami memperkatakan hal ini! Maha Suci Engkau! Ini adalah satu dusta besar yang mengejutkan”. Allah memberi pengajaran kepada kamu, supaya kamu tidak mengulangi perbuatan yang sedemikian ini selama-lamanya, jika betul kamu orang-orang yang beriman.
Quran [24:11-17]

(Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita yang amat dusta itu ialah segolongan dari kalangan kamu) bererti mereka mempunyai 2 kumpulan.  Yang paling menyerlah di dalam kumpulan ini ialah Abdullah bin Ubayy bin Salul, ketua kaum munafik, yang mencipta fitnah ini dan menyebarkannya ke orang lain, hinggakan sesetengah kaum Muslimin mulai mempercayai berita itu, sementara yang lain berprasangka bahawa berita itu mungkin benar dan mula bercerita mengenainya. Perkara ini berterusan selama hampir sebulan sehingga ayat Quran mengenainya diturunkan.
Tafseer Ibn Kathir, Tafseer  Surah 24, ayat 11

Fitnah terhadap Aisyah mungkin dimulakan oleh kaum Munafik, tetapi pertuduhan ini turut di sokong oleh sekumpulan sahabat Rasul saaw, yang dikutuk kuat oleh Allah swt dan diberi amaran untuk menjaga sikap mereka di masa hadapan. Ini membuktikan para sahabat adalah manusia yang boleh melakukan kesilapan, yang mampu melakukan dosa, dan akan menerima hukuman yang berat jika mereka mengulangi kesilapan mereka.

Pergaduhan dan perselisihan kecil serta kebencian antara para sahabat nabi, telah pun muncul sebelum kewafatan baginda..

Di dalam buku-buku sahih Sunni, telah menyebutkan tentang perselisihan antara Abu Bakr dan Umar, yang hampir membawa kepada kemusnahan ke atas diri mereka sendiri dan merosakkan amal mereka, tetapi mereka di maafkan atas perbuatan mereka.

(Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu tinggikan suara kamu dari suara nabi!) Ayat ini mengdanungi satu lagi sikap yang bagus. Allah swt mengajar orang-orang beriman agar tidak meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi saaw. Telah dinyatakan bahawa ayat ini diturunkan tentang Abu Bakr dan Umar. Al-Bukhari melaporkan bahawa Ibn Abi Mulaykah meriwayatkan, “2 orang yang benar, Abu Bakr dan Umar, hampir memperoleh kebinasaan kerana meninggikan suara mereka lebih dari suara Nabi, sebelum baginda menerima wakil delegasi Bani Tamim. Salah seorang dari mereka( Abu Bakr dan Umar) mencadangkan Al-Aqra bin Habis, seorang ahli Bani Mujashi, manakala seorang lagi mencadangkan orang lain. Nafi’(salah seorang perawi) berkata: “Aku lupa namanya.”  Abu Bakr berkata kepada Umar, “Kamu hanya mahu menyanggah pendapat ku.” Sementara Umar berkata, “Aku tidak berniat untuk menyanggah kamu”. Suara mereka menjadi kuat, dan oleh kerana itu, Allah swt menurunkan ayat di atas.`Abdullah bin Az-Zubayr said” Abdullah bin Az Zubair berkata, “Selepas kejadian itu, suara Umar menjadi begitu rendah sehingga Rasulullah terpaksa meminta Umar mengulangi apa yang beliau katakan untuk memahaminya.
Tafseer Ibn Kathir, Tafseer of Surah 49, Ayat 2

Sahih Sunni juga meriwayatkan bahawa seorang sahabat Rasulullah, Urwa, mencaci maki seorang lagi sahabat Nabi, Hassan Bin Thabit

Diriwayatkan dari Al-Bara: Nabi bersabda kepada Hassan, “Cacilah mereka(dengan sajak mu), dan Jibril bersama kamu(menyokong kamu).” (Melalui sebuah lagi kumpulan perawi) Al-Bara bin Azib berkata, “Di hari Quraiza, Rasulullah bersabda kepada Hassan bin Thabit, “Cacilah mereka(dengan sajakmju), dan Jibril bersama dengan mu. ”
Sahih Bukhari, Jilid 5, Kitab 59, Nombor 449

Diriwayatkan dari Urwa: Aku mula mencaci Hassan di hadapan Aishah, di mana beliau(aishah) berkata: “Janganlah kamu mencaci Hassan, kerana beliau pernah mempertahankan Rasulullah(dengan sajaknya)”
Sahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 56, Nombor 731

Sebelum kewafatan Nabi saaw, baginda mengarahkan ekspidisi ketenteraan ke Syria di hantar di bawh pimpinan Usama bin Zayd. Tetapi para sahabat Nabi saaw, bukan sahaja menentang perintah Rasul pada permulaannya, malah mereka mengkritik kepimpinan Usama, sama seperti mereka mengkritik kepimpinan ayah beliau, Zayd.

Diriwayatkan dari Abdullah Ibnu Umar: Rasulullah menghantar tentera dengan Usama bin Zayd sebagai panglimanya. Orang ramai mengkriktik kepimpinan beliau. Rasulullah bangun dan bersabda: “Jika kalian mengkritik kepimpinan beliau, maka kalian mengkritik kepimpinan bapanya. Demi Allah, Zayd memang layak mendapat kepimpinan tersebut, dan beliau pernah menjadi antara orang yang paling aku sayangi, dan sekarang Usama ialah antara yang paling aku sayangi selepas bapanya.”
Sahih Bukhari, Jilid 5, Kitab 59, Hadith 745

Tidak dilupakan, harus juga kita menyebut pergaduhan dan perselisihan antara para sahabat di kamar kematian baginda, juga dikenali sebagai Insiden pen dan kertas atau Tragedi Hari Khamis.

Ibnu Abbas melaporkan:….Rasulullah saaw bersabda: Mari, aku tuliskan kepada kalian sesuatu, yang mana kalian tidak akan tersesat di kemudian hari. Kemudian Umar berkata: Sesungguhnya Nabi Allah sedang berada dalam kesakitan yang teramat sangat. Quran bersama dengan kamu. Kitab Allah cukup untuk kita. Mereka yang berada di dalam rumah berbeza pendapat.Sebahagian dari  mereka berkata: Bawakan baginda(bahan menulis) agar baginda dapat menuliskan wasiat yang tidak akan menyelamatkan kita dari kesesatan selepas baginda manakala sebahagian lagi berkata apa yang Umar katakan. Apabila mereka mula bergaduh di dalam keberadaan Rasulullah saaw, baginda berkata: Bangunlah dan pergi. Ubaidillah berkata: Ibn Abbas selalu berkata: Ini adalah kerugian yang besar, memang adalah kerugian yang besar, oleh kerana hingar bingar pergaduhan mereka, Rasulullah tidak dapat menuliskan dokumen untuk mereka.”
Sahih Muslim, Kitab 13, Hadith 4016

Sebelum kita beralih kepada isu yang lebih besar, yang boleh menganggu pemikiran serta iman kita, molek juga kiranya kita lihat bahawa sesetengah isteri-isteri Rasulullah cemburu antara satu sama lain, mensabotaj dan bergaduh antara satu sama lain.

…Ibn Awn berkata: Adalah dipercayai beliau selalu pergi kepada Ummul Mukminin Aishah. Dia berkata: Ummul Mukminin berkata: “ Rasulullah saaw datang kepada ku ketika Zainab binti Jahsh sedang bersama kami. Baginda mula melakukan sesuatu dengan tangan baginda. Aku memberi isyarat kepada baginda sehingga baginda memahami tentang beliau(Zainab). Jadi baginda berhenti. Zainab datang dan mula memaki Aishah. Aishah cuba menghalang tetapi Zainab tidak mahu berhenti. Jadi Nabi berkata kepada Aishah: Makilah dia, jadi Aishah mencaci Zainab dan memenangi….
Sunan Abu Dawud, Kitab 41, Nombor 4880

Bukan itu sahaja, mereka kerap merancang sesuatu terhadap Nabi saaw sendiri.

Diriwayatkan dari ‘Ubaid bin Umar: Aku mendengar Aishah berkata, “Nabi selalu tinggal untuk jangka masa yang lama bersama Zainab binti Jahsh dan minum madu di rumahnya. Jadi Hafsah dan aku membuat keputusan jika Nabi datang salah seorang dari kami, kami akan berkata kepada baginda, “Aku tercium bau Maghafir(gula-gula berbau busuk) pada mu. Adakah kamu makan Maghafir?” Jadi Rasulullah melawat salah seorang dari mereka dan mereka berkata yang serupa kepada baginda Nabi saaw. Nabi saaw bersabda: “Tidak mengapa, aku telah mengambil sedikit madu dari rumah Zainab Binti Jash, tetapi aku tidak akan meminumnya lagi.” Kemudian diturunkan ayat :

(1)“Wahai Nabi! Mengapa engkau haramkan (dengan bersumpah menyekat dirimu daripada menikmati) apa yang dihalalkan oleh Allah bagimu, (kerana) engkau hendak mencari keredaan isteri-isterimu? (Dalam pada itu, Allah ampunkan kesilapanmu itu) dan Allah sememangnya Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.
Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi kamu (wahai Nabi dan umatmu, untuk) melepaskan diri dari sumpah kamu; dan Allah ialah Pelindung yang mentadbirkan keadaan kamu, dan Ia Maha Mengetahui, lagi Maha Bijaksana.
Dan (ingatlah), ketika Nabi memberitahu suatu perkara secara rahsia kepada salah seorang dari isteri-isterinya. Kemudian apabila isterinya itu menceritakan rahsia yang tersebut (kepada seorang madunya), dan Allah menyatakan pembukaan rahsia itu kepada Nabi, (maka Nabi pun menegur isterinya itu) lalu menerangkan kepadanya sebahagian (dari rahsia yang telah dibukanya) dan tidak menerangkan yang sebahagian lagi (supaya isterinya itu tidak banyak malunya). Setelah Nabi menyatakan hal itu kepada isterinya, isterinya bertanya: “Siapakah yang memberi tahu hal ini kepada tuan? ” Nabi menjawab: “Aku diberitahu oleh Allah Yang Maha Mengetahui, lagi Amat Mendalam PengetahuanNya (tentang segala perkara yang nyata dan yang tersembunyi) “.
Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah (wahai isteri-isteri Nabi, maka itulah yang sewajibnya), kerana sesungguhnya hati kamu berdua telah cenderung (kepada perkara yang menyusahkan Nabi); dan jika kamu berdua saling membantu untuk (melakukan sesuatu yang) menyusahkannya, (maka yang demikian itu tidak akan berjaya) kerana sesungguhnya Allah adalah Pembelanya; dan selain dari itu Jibril serta orang-orang yang soleh dari kalangan orang-orang yang beriman dan malaikat-malaikat – juga menjadi penolongnya.”(4) Menegur Aishah dan Hafsah
Sahih Bukhari Jilid 7, Kitab 63, Nombor 192
Sahih Bukhari Jilid 7, Kitab 63, Nombor 193
Sahih Muslim Kitab 009, Nombor 3496

Akan saya postkan artikel tentang peranan Aishah di dalam sejarah di masa hadapan, InsyaAllah.

Sekarang, untuk perselisihan antara sahabat “yang mendebarkan”.

Khalid bin Al Walid, pedang Allah, selepas memimpin Quraysh dalam penentangan mereka terhadap Nabi di Uhud, menerima Islam selepas Hudaibiyah.

Selepas Khalid memimpin ekspidisi keatas Bani Jadhimah, beliau memujuk mereka untuk meletak senjata dengan mengakui mereka semua telah memeluk Islam, kemudian beliau membunuh sebahagian mereka. Apabila Muhammad mendengar perkara ini, baginda mengumumkan kepada Tuhan bahawa baginda tidak bersalah diatas apa yang Khalid telah lakukan, dan menghantar Ali untuk membayar ganti rugi kepada yang terselamat.
al-Tabari, Victory of Islam, translated by Michael Fishbein, Albany 1997, pp. 188 ff.

Sebelum kita meneruskan dengan tindakan Khalid ini, serta perselisihan beliau dengan Umar al Khattab, sewajarnya juga kita menyebut tentang Saqifa.

Kewafatan Nabi menimbulkan isu tentang khilafah, atau pengganti politik. Ansar mahukan khalifah dari mereka manakala Muhajir menentang dengan mengatakan Nabi adalah dari mereka, dan khalifah perlu dari Quraish. Ansar mencadangkan 2 khalifah iaitu dari Ansar dan Muhajirun, tetapi ditolak oleh Muhajir.

Selepas Abu Bakr menyudahi ucapan beliau, al Hubab ibn Al Mundhir bangun, menghadap kaum Ansar dan berkata: “Wahai kaum Ansar, janganlah kamu memberikan pemerintahan kepada orang lain. Penduduk semua berada di bawah jagaan kamu. Kamu adalah orang-orang yang bermaruah, berharta. Jikalau kaum Muhajirun mempunyai kelebihan di dalam hal tertentu, maka kamu juga mempunyai kelebihan dalam hal tertentu. Kamu memberi mereka perlindungan di dalam rumah kita. Kamu ialah tangan Islam yang berperang. Dengan bantuan kamu Islam berjaya berdiri. Di bandar kamu ibadah kepada Allah dilakukan dengan bebasnya. Selamatkan diri kamu dari perpecahan dan peganglah hak kamu. Jikalau Muhajirun tidak mahu mengalah, maka beritahu mereka, akan ada satu ketua dari mereka dan satu dari kita.

Sejurus selepas Al Hubab duduk, Umar bangun dan berkata: “Tidak boleh wujud 2 pemerintah dalam satu masa yang sama. Demi Allah, bangsa Arab tidak akan bersetuju untuk kalian menjadi ketua negara, kerana Nabi bukan dari kalian. Kaum Arab mahukan pemimpin dari rumah yang sama dengan Nabi. Kepada sesiapa yang mempunyai hujjah yang jelas, boleh lah bentangkan. Sesiapa yang bercanggah dalam isu khalifah dengan kami, sedang menuju kearah yang salah, ialah seorang pendosa dan sedang menuju kehancuran.”

Selepas Umar, Al Hubab bangun sekali lagi dan berkata kepada kaum Ansar, “ Tetapkan pendirian kalian dan jangan endahkan pandangan orang ini atau penyokongnya. Mereka mahu memijak-mijak hak kamu, dan jika mereka tidak bersetuju, maka, halaulah mereka dari bandar kamu, dan ambil alih khilafah. Siapa lagi yang lebih layak dari kalian.

Selepas al Hubab selesai, Umar memarahinya. Terdapat  beberapa penggunaan perkataan yang kotor, dan situasi semakin buruk. Melihat perkara ini, Abu Ubaidah bersuara dengan niat menenangkan keadaan dan memenangi hati kaum Ansar. Beliau berkata: Wahai kaum Ansar, kamu adalah kaum yang menyokong kami dan membantu kami dari segala segi. Janganlah menukar jalan kamu dan sikap kamu.”

Malangnya, kaum Ansar tidak mahu menukar pendirian mereka.Mereka bersedia untuk memberi perjanjian taat setia kepada Sa’ad, sehinggalah seorang dari Bani Sa’ad, Bashir ibn `Amr al-Khazraji berdiri dan berkata: “Tidak dapat diragukan lagi, kita berjihad dan memberi bantuan kepada agama, bagaimanapun, tujuan kita adalah keredhaan Allah dan mentaati  Rasulullah. Tidaklah sepadan dengan kita untuk mengungkit kelebihan dan meriuhkan keadaan untuk khilafah. Muhammad (sawa) berasal dari Quraish dan mereka mempunyai hak yang lebih keatasnya dan lebih sesuai.” Sebaik sahaja beliau habis mengucapkan kata-kata beliau, perbezaan pendapat terjadi di kalangan Ansar, dan ini ialah matlamat beliau, kerana beliau tidak mahu melihat seseorang dari puaknya berada di kedudukan yang sangat tinggi. Kaum Muhajirun mengambil sepenuhnya kesempatan ke atas perkara ini, dan Umar serta Abu Ubaidah membuat keputusan untuk membai’ah Abu Bakr. Mereka mempunyai peluang untuk berbuat demikian apabila Bashir meletakkan tangannya ke atas Abu Bakr dan seterusnya Umar dan Abu Ubaidah. The Kemudian orang dari suku Bashir datang dan memberi baiah, dan memijak Sa’d ibn Ubadah di bawah kaki mereka.
al-Tabari, Ta’rikh, VI, 263
Nahjul Balaghah, Footnotes of Khutbah 67, Berita di Saqifah

Perselisihan di Saqifah diantara Muhajirun dan Ansar, telah diselesaikan di Saqifah, dengan kecederaan serius kepada Saad Ibnu Ubadah, seorang sahabat.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: ……dan salah seorang dari Ansar berkata, ‘Aku ialah satu tonggak dimana unta yang menghidapi penyakit kulit menggaru gatalnya( Aku seorang bansawan), dan aku ialah pohon palma berkualiti tinggi! Wahai kaum Quraish, adakan satu pemimpin dari kamu dan satu dari kami.” Kemudian terdapat kekecohan yang besar diantara mereka, jadi aku(Umar) risau akan terjadinya perselisihan pendapat yang besar, jadi aku berkata, “Wahai Abu Bakr, keluarkan tangan kamu.” Beliau mengeluarkan tangannya, dan aku memberi baiah padanya, dan kemudiannya para muhajirin memberi baiah dan kemudiannya Ansar.‘ Dan akhirnya kami mendapat kemenangan ke atas Saad Ibn Ubadah. Salah seorang dari Ansar berkata: “Kamu telah membunuh Saad Ibn Ubadah.” Aku(Umar) menjawab, “Allah telah membunuh Saad.”
Sahih Muslim, Jilid 8, Kitab 82, Nombor 817

Perlantikan Abu Bakr masih mendapat tentangan dari ahli keluarga dan para sahabat besar Nabi, yang dikenali sebagai Syiah Ali, seperti Ammar, Salman, Miqdad, Abu Dzarr, Thalhah dan Zubair.

Dari Ibn Abbass: ….. Dan tiada ragu selepas kewafatan Nabi, kami diberitahu yang Ansar tidak bersetuju dengan kami dan berkumpul di Bani Sa’da. Ali dan Zubair sert sesiapa lagi yang bersama mereka menentang kami, sementara Muhajirun bersama Abu Bakr.
Sahih Bukhari, Jilid 8, Kitab 82, Hadith 817

Dengan berkurangnya pengaruh politik Imam Ali, isu Fadak antara Fatimah dan Abu Bakr muncul. Fatimah mendakwa Fadak ialah hak beliau, serta mendapat sokongan Imam Ali, tetapi ditolak oleh Abu Bakr. Oleh itu Fatimah memboikot kepimpinan Abu Bakr.

Dari ‘Aisha:  Selepas kewafatan Rasulullah, Fatimah binti Rasulillah meminta Abu Bakr untuk memberi semula hak beliau dari peninggalan Rasulullah selepas Fai, yang mana Allah berikan pada baginda. Abu Bakr berkata pada Fatimah, “Rasulullah bersabda: Harta kami tidak akan diwarisi, segala yang ditinggalkan oleh Nabi ialah sedekah.” Fatimah, anak kepada Rasulullah berasa marah dan berhenti dari bercakap dengan Abu Bakr sehingga beliau wafat. Fatimah hidup selama 6 bulan selepas peninggalan baginda (saaw)
Sahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 53, Hadith 325

Imam Ali menyangka Khilafah ialah hak beliau. Hujah yang digunakan oleh Umar di Saqifa lebih sesuai di gunakan untuk Ali( kerana beliau ialah saudara terdekat Rasulullah) lebih dari kedua sheikh( Abu Bakr dan Umar). Ini juga ialah sebab kenapa Imam Ali, singa Allah di Badr, Uhud, Khaibar dan Khandaq, tidak menyertai mana-mana pertempuran(yang di dakwa sebagai jihad) di bawah khalifah Abu Bakr dan Umar serta Usman.

Berjagalah! Demi Allah anak Abu Quhafah (Abu Bakr) memakai pakaian khalifah dan beliau semestinya mengetahui kedudukan ku kepada khilafah ibarat paksi kepada pengisar. Air banjir melalui ku, dan burung-burung tidak boleh terbang kepada ku. Aku meletakkan hijab kepada khilafah dan menjauhkan diriku darinya. Kemudiannya aku mula berfikir samada aku sepatutnya menyerang atau bertahan dengan tenang dalam kegelapan bencana yang membutakan……..Aku mendapati bertahan adalah lebih bijak. Jadi aku mangamalkan sikap bersabar, walupun sakit dimataku dan kelemasan di kerongkong ku. Aku melihat hak warisan ku dirompak, sehinggalah yang pertama pergi dan memberikan Khilafah kepada Ibnu Al Khattab sendiri.
Nahjul Balaghah, Khutbah 3, Khutbah ash-Shiqshiqiyyah

Adalah di laporkan dari Zuhri, riwayat ini diriwayatkan oleh Malik Ibn Aus yang berkata: Abu Bakr berkata:”Rasulullah(saw) bersabda: “Kami tidak mempunyai pewaris, dan apa yang kami tinggalkan ialah sadaqah.” Jadi kamu berdua( Ali dan Abbas) mendakwa dia ialah penipu, pendosa, pengkhianat dan tidak jujur. Dan Allah maha mengetahui bahawa dia seorang yang benar, mulia, terpimpin dan pengikut kebenaran. Setelah Abu Bakr meninggal, aku(umar) telah menjadi pengganti Rasulullah saw dan Abu Bakr, kamu(Ali) mendakwa aku ialah seorang penipu, pendosa, pengkhianat dan tidak jujur. Dan Allah lebih mengetahui yang aku ialah orang yang benar, mulia dan pengikut kebenaran.”
Sahih Muslim , Kitab 19, Nombor 4349

Walaupun Imam Ali memilih untuk senyap dan tidak aktif dalam politik demi survival Islam, beliau selalu memberi nasihat kepada Umar bila-bila sahaja Umar memintanya. Ini bukan bermakna Mawla Ali menerima Khilafah Umar,menyayangi atau menerimanya, nasihat politik Imam Ali ialah untuk kebaikan Islam.

Sebagai contoh, Raja Mesir bukanlah seorang Muslim, bagaimanapun, baginda selalu meminta nasihat dari Nabi Yusuf, dan Nabi Yusuf bersetuju menolong baginda, demi rakyatnya. Saya tidak memaksudkan bahawa Umar bukan Muslim. Allah ialah hakim yang menghakimi dengan seadil-adilnya. Apa yng saya maksudkan ialah nasiha Imam Ali kepada Umar adalah demi kebaikan Empayar Muslim, dan bukanlah kerana Umar ialah orang yang jujur.

…. raja berkata: “Bawalah Yusuf kepadaku, aku hendak menjadikan dia orang yang khas untuk aku bermesyuarat dengannya. Setelah (Yusuf dibawa mengadap, dan raja) berkata-kata dengannya (serta mengetahui kebijaksanaannya) berkatalah raja kepadanya: “Sesungguhnya engkau pada hari ini (wahai Yusuf), seorang yang berpangkat tinggi, lagi dipercayai di kalangan kami “.
Quran [12:54]

Raja, para menteri, putera, pegawai dan orang-orang berpangkat pada ketika itu  telah mengetahui dan mengakui nilai Yusuf, dan merasai kehebatan moral baginda selama beberapa tahun yang lepas. Yusuf telah membuktikan tiada setandingnya dalam kejujuran, kemuliaan, kesabaran, displin, kemurahan, kebijaksanaan dan pemahaman. Mereka mengetahui dan mempercayai bahaw hanya Yusuf sahaja yang mengetahui bagaimana untuk menjaga dan menguruskan sumber tanah. Oleh kerana itu, sebaik sahaja Yusuf menunjukkan keinginannya, mereka dengan sepenuh hati member kepercayaan pada Nabi Yusuf

Tafheem ul Quran, dari Abul Ala Maududi, Tafseer of Surah 12, ayat 55

Kejujuran, kemuliaan, kesabaran, disiplin, kemurahan, kebijaksanaan dan pemahaman yang dimiliki oleh Imam Ali, melebihi yang lainnya. Kesanggupan beliau membantu pentadbiran Umar dan beberapa isu politik yang lain adalah kerana kualiti yang dipunyai oleh Imam Ali.

Sekali lagi kita kembali semula tentang keperibadian Khalid Ibn Al Walid. Malik Ibnu Nuwairah telah dilantik sebagai pengutip zakat oleh Rasulullah saw. Sunni dan Syiah berbeza pendapat samada Malik menjadi murtad selepas kewafatan baginda atau tidak. Semasa pemerintahan Abu Bakr, Khalid ibn Walid telah dihantar untuk berurusan dengan Malik. Mari kita perhatikan dari pendapat Sunni:

Setelah ditahan, Malik bertanya kepada Khalid tentang kesalahan yang dilakukan oleh beliau(malik). Khalid membalas dengan berkata: ‘Tuan kamu berkata itu dan ini.’ Khalid mengetahui ini adalah satu percubaan Malik untuk melepaskan diri. Setelah mempunyai bukti yang kukuh yang Malik mengagihkan duit zakat setelah mendengar kewafatan Muhammad, dan pakatan beliau dengan Sajjah, Khalid mendakwa Malik telah kufur dan mengarahkan pembunuhan beliau.
al-Balazuri, kitab no 1, m/s 107

Malik mempunyai seorang isteri, Layla bint al Minhal. Beliau ialah sahabat wanita Rasulullah saw, dan dikatakan seorang wanita tercantik di seluruh Tanah Arab. Syiah mendakwa Khalid merogol Layla pada malam Khalid membunuh Malik. Sunni pula mendakwa, Layla dikahwini Khalid pada malam yang sama Malik dibunuh.

Pada malam yang sama, Khalid menikahi Layla, bekas isteri Malik, yang dikatakan sebagai perempuan Arab tercantik
Tabari: Vol. 2, M/s 5

Katakan saya menerima pandangan Sunni, iaitu Malik menikahi Layla pada malam yang sama Malik dibunuh, dan ia bukan satu kes rogol, maka saya mempunyai 2 isu. Saya bukanlah Ulama, tetapi di dalam Quran ada menyebutkan:

Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu, sedang mereka meninggalkan isteri-isteri hendaklah isteri-isteri itu menahan diri mereka (beridah) selama empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis masa idahnya itu maka tidak ada salahnya bagi kamu mengenai apa yang dilakukan mereka pada dirinya menurut cara yang baik (yang diluluskan oleh Syarak). Dan (ingatlah), Allah sentiasa mengetahui dengan mendalam akan apa jua yang kamu lakukan.
Quran [2:234]

1.      Seorang isteri yang melihat suami nya terbunuh, atau mendengar suaminya meninggal dunia, tidak akan berkahwin semula pada hari yang sama dengan sukarela, kerana perkahwinan adalah berdasarkan cinta dan kasih sayang. Saya ingin menyatakan di sini, tiada isteri yang akan mengahwini lelaki lain dalam masa yang terdekat setelah kematian suaminya.

2.      Iddah seorang balu ialah selama 4 bulan 10 hari, atau lebih kurang 130 hari. Berdasarkan prinsip Islam, dia tidak boleh berkahwin semula, walaupun jika beliau mahukannya.

Oleh itu, berdasarkan point pertama, sudah semestinya keinginan Khalid sendiri untuk mengahwini Layla, dan bukannya kemahuan Layla, yang juga seorang balu yang sedang berkabung. Berdasarkan point kedua, perkahwinan itu tidak sah, dan ia merupakan penzinaan(jika Layla mahukannya) atau kes rogol(jika dipaksakan keatas Layla). Saya mempunyai sebab untuk mempercayai ia adalah rogol dari mempercayai mitos perkahwinan.

Para sahabat Nabi yang lain juga melihat perkara yang serupa, termasuk Umar Al Khattab yang memprotes tindakan itu. Perkahwinan antara Layla dan Khalid akhirnya menjadi satu isu kontroversi kerana terdapat kumpulan yang menyangka Khalid membunuh Malik untuk mendapatkan Layla, termasuk dalam kumpulan ini ialah saudara Khalid, Umar. Khalid kemudiannya di panggil oleh Khalifah Abu Bakr untuk menerangkan keadaan, Selepas memikirkan perkara ini, Khalifah membuat keputusan bahawa Khalid tidak bersalah. Khalifah bagaimanapun mencaci Khalid atas tindakan beliau menikahi Layla serta membuka peluang kepada orang lain mengkritik beliau, dan kerana terdapat kemungkinan kesilapan, kerana bagi sesetengah orang menganggap Malik ialah Muslim. Abu Bakr mengarahkan agar membayar ganti rugi kepada pewaris Malik.

Di Madinah, Umar berasa sangat memalukan sehingga beliau menuntut agar Abu Bakr memecat Khalid. Umar berkata Khalid patut didakwa atas 2 kesalahan iaitu membunuh dan berzina. Bagaimanapun, Abu Bakr mempertahankan Khalid dengan mengatakan beliau telah melakukan “perhitungan yang salah”
A Restatement of the History of Islam dan Muslims, Ali Razwy, Chapter 55

Ini mungkin salah satu sebab Umar memecat Khalid dari pimpinan tertinggi tentera apabila beliau diangkat menjadi khalifah oleh Abu Bakr, dan menggantikan Abu Ubaidah di tempatnya. Kemudiannya Umar memecat sepenuhnya Khalid dari pasukan tentera. Syiah dan Sunni  berbeza pendapat tentang mengapa beliau dipecat, bagaimanapun ia tidak akan dibincangkan disini.

Selepas kematian Umar, Usman telah mengambil tampuk pemerintahan. Masalah ekonomi dan pengagihan kekayaan yang tidak seimbang telah menyebabkan kekecohan di kalangan kaum Muslim, dan mereka menyuarakan rasa tidak puas hati mereka kepada Khalifah Usman. Para sahabat seperti Ammar, Abu Dzarr dan Abdullah Ibn Masud telah dipukul, diseksa serta dibuang negeri oleh pentadbiran Usman.

Wahai Abu Dzarr! Kamu menunjukkan kemarahan kamu atas nama Allah, kerana kamu mempunyai harapan keatasNya. Masyarakat takut kepada mu dalam hal kesenangan duniawi mereka manakala kamu risaukan mereka kerana iman kamu. Maka tinggalkanlah apa yang mereka takutkan dari kamu dan lepaskanlah kerisauan kamu keatas mereka. Betapa mereka memerlukan perkara yang kamu minta mereka jauhkan dan betapa tulinya kamu keatas perkara yang mereka nafikan kepada kamui. Tidak lama lagi kamu akan mengetahui siapa yang mendapat keuntungan di akhirat dan siapa yang akan dicemburui di sana. Walaupun langit dan bumi ini tertutup untuk individu tertentu dan beliau takut kepada Allah, maka Allah akan membuka langit dan bumi untuk beliau. Hanya kebenaran dapat menarik kamu sementara kabatilan menjauhi kamu. JIka kamu menerima tarikan duniawi mereka, pasti mereka menyayangi kamu, dan pasti mereka akan melindungi kamu jika kamu berkongsi dengan mereka
Nahjul Balaga, Khutbah130, Diberi semasa Abu Dharr di buang negeri ke ar-Rabadhah

Oleh kerana Abu Dzar dibuang negeri dan kehormatannya di jatuhkan, oleh kerana Abdullah ibn Mas’ud dipukul tanpa belas, oleh kerana patahnya rusuk Ammar ibn Yassir, dan oleh kerana rancangan untuk membunuh Muhammad Ibn Abu Bakr, Bani Ghiffar, Bani Hudhayl, Bani Makhzum dan Bani Taym semuanya menyimpan dendam dan kemarahan(terhadap pentadbiran Usman)Muslim dari bandar-bdanar lain juga penuh dengan aduan terhadap pegawai-pegawai Usman yang terlampau mabuk dengan kekayaan dan kemewahan, yang melakukan sesuka hati mereka dan memusnahkan sesiapa yang mereka mahu.
Al-Baladhuri, Ansab, V, 98, 101

Amr Ibn Al ‘as, Thalhah, Zubair dan Aisyah telah memainkan peranan yang besar dalam mengapikan masyarakat terhadap Usman, yang kemudiannya terbunuh. Siapakah pembunuh beliau? Mereka ialah kaum Muslimin sendiri, yang secara teknikalnya ialah para sahabat sendiri.

Di manakah Muawiyah, Thalhah, Zubair dan Aisyah, apabila rumah Usman di kepung selama berhari-hari atau berminggu? Mengapa mereka tidak datang membantu Usman ketika itu? Orang-orang yang mempertahankan mereka mendakwa perang Jamal dan Siffin tercetus akibat mereka ingin membalas dendam terhadap pembunuh Usman. Jika mereka ialah sekutu kepada Usman seperti yang di dakwa oleh Sunni, jadi mengapa mereka yang mempunyai kekayaan dan kuasa suku atau puak mereka, tidak datang untuk membantu Usman yang dikepung selama berminggu-minggu? Jawablah soalan ini dan kamu mungkin akan mendapat pemahaman yang lebih mendalam tentang pembunuh Usman.

Apabila masyarakat melihat apa yang di lakukan oleh Usman, para sahabat Nabi di Madinah menulis surat kepada para sahabat yang berada di kawasan lain: “Kamu telah berjuang di jalan Allah swt, demi agama Muhammad. Semasa ketiadaan kalian, agama Muhammad telah dirosakkan dan ditinggalkan. Jadi kembalilah untuk membangunkan agama Muhammad.” Kemudian, mereka datang dari segala penjuru sehingga mereka membunuh khalifah Usman.
Sejarah al-Tabari, English version, v15, p184

Masyarakat melantik Imam Ali sebagai khalifah. Imam Ali mengambil jawatan itu dengan berat hati dan menghadapi pemberontakan dari Thalhah, Zubair dan Aisyah di Jamal. Saya akan membincangkan tentang perang Jamal di dalam artikel yang lain. Bagaimanapun, secara hakikatnya dapat kita ketahui bahawa perang Jamal ialah perang yang di sertai oleh para sahabat di kedua-dua belah pihak lawan.

Mawla Ali memberi komen tentang  Thalhah dan Zubair;

Demi Allah, mereka tidak menjumpai sesuatu yang tidak mereka setujui pada ku, tidak juga mereka berlaku adil di antara mereka dan aku. Sudah pasti, sekarang mereka menuntut hak yang mereka sendiri tinggalkan dan menuntut darah yang mereka sendiri tumpahkan(dalam kes Usman). Jika aku menyertai mereka di dalamnya, maka mereka juga mempunyai bahagian di dalam perkara itu, tetapi jika mereka melakukan tindakan itu, maka tuntutan itu sepatutnya ke atas mereka. Langkah pertama dalam keadilan mereka ialah mereka mengeluarkan keputusan kehakiman ke atas diri mereka sendiri. Aku mempunyai kecerdikan ku. Aku tidak pernah mencampurkan keadaan atau keadaan itu nampak tercampur padaku. Sesungguhnya, ini ialah kumpulan pemberontak yang terdiri dari orang terdekat(az Zubair), bisa kala jengking( Aisyah) dan keraguan yang mencipta hijab( terhadap kebenaran). Tetapi hal ini sangat jelas, dan kebatilan telah digoncang dari asasnya. Lidahnya telah berhenti dari mengucapkan suatu kebatilan. Demi Allah, aku akan menyediakan untuk mereka tangki air, yang hanya aku seorang sahaja boleh mengambilnya. Mereka tidak akan boleh meminum darinya atau dari tempat lain.
Nahjul Balagah, Khutbah 137,Tentang Thalhah dan Zubair

). Saya  tidak akan berhujah mengenai sebab-sebab tercetusnya perang Jamal, tetapi hakikatnya tetap sama, Thalhah, Zubair dan Aisyah memberontak terhadap Mawla Ali.

Imam Ali memberi komen tentang Muawiyah

Demi Allah, Muawiyah tidak lebih bijak dari ku, tetapi beliau menipu dan melakukan perbuatan yang jahat. Jika tidak kerana aku membenci kejahatan(dalam menggunakan taktik kotor), maka akulah orang yang paling bijak antara mereka. Bagaimanapun, setiap penipuan ialah dosa dan setiap dosa ialah penderhakaan kepada Allah. Setiap orang yang menipu akan ada panji yang menyebabkan dia akan dikenali di Hari Pembalasan. Demi Allah aku tidak akan dapat melupakan strategi atau tidak pula aku boleh dikalahkan oleh kesusahan.
Nahjul Balagah, Khutbah 200, Pengkhianatan Muawiyah dan nasib pengkhianat di Akhirat kelak.

Dan tentang Amr Ibn Al ‘As, seorang sahabat Nabi, juga merupakan seorang panglima Muawiyah yang cerdik tipu daya nya.

Aku berasa terkejut dengan anak an Naghibah yang mengatakan tentangku kepada penduduk asy Syams, sebagai seorang pelawak yang suka bermain-main dan menyeronokkan. Dia telah silap bercakap sesuatu yang berdosa. Beringatlah, ucapan yang paling buruk ialah yang tidak benar. Dia bercakap dan menipu. Dia memberi janji dan memungkirinya. Dia merayu dan meminta, tetapi bila seseorang merayu padanya, beliau melayannya dengan teruk. Dia mengkhianati perjanjian dan tidak mengendahkan hubungan persaudaraan. Di dalam pertempuran, beliau memberi arahan dan menasihati, tetapi hanya sehingga tidak melibatkan pedang. Apabila sampai masa itu, teknik terhebat beliau ialah lari membelakangkan lawan beliau. Demi Allah, mengingati mati telah menjauhkan aku dari keseronokan dan bermain-main, sementara kelupaan terhadapa dunia akhirat telah menghalang beliau dari bercakap benar. Beliau tidak memberi baiah kepada Muawiyah tanpa sebab: melainkan sebelumnya telah menetapkan harga yang harus dibayar, dan member penghargaan padanya kerana meninggalkan agama.
Nahjul Balagah, Khutbah 84, tentang Amr ibn al-aas

Oleh itu Imam Ali menganggap Muawiyah dan Amr sebagai manusia yang jahat. Mengambil kira peristiwa Perang Siffin, di mana Imam Ali menghadapi sahabat seperti Muawiyah dan Amr, Rasulullah (saw) memberi ramalan bahawa Ammar(ra) akan di syahidkan oleh pemberontak.

…Semasa pembinaan masjid Nabi, kami membawa bata masjid itu satu demi stu, sementara Ammar membawa 2 dalam masa yang sama. Nabi terserempak dengan Ammar dan membuang debu dari kepala beliau dan berkata: “Semoga Allah merahmati Ammar. Beliau akan dibunuh oleh kumpulan pemberontak yang agresif. Ammar akan menjemput mereka untuk taat kepada Allah manakala mereka menjemput Ammar ke neraka.”…
Sahih Bukhari, Jilid 4, Kitab 52, Hadith 67

Ammar disyahidkan pada hari ketiga Perang Siffin oleh pasukan Syria, iaitu pasuka Muawiyah. Ramalan Rasulullah (saw) menjelaskan dengan sendirinya.

Muawiyah bukan sahaja membenci Imam Ali, tetapi memulakan aktiviti mencaci maki beliau dari mimbar setiap kali khutbah, seperti yang diramalkan oleh Imam Ali.

Selepas pemergianku, akan diletakkan kepada mu seorang lelaki dengan mulut yang luas dan perut yang besar. Beliau akan menelan apa sahaja yang beliau dapat dan mengidam perkara yang  tidak beliau dapat. Kamu patut membunuh beliau tetapi aku tahu, kamu tidak akan membunuhnya. Beliau akan memerintahkan kamu untuk mencaci diriku dan menafikan diriku. Berkenaan mencaciku, kamu ccilah aku kerana ia membawa kepada penyucian untuk diriku dan keselamatan untuk diri mu. Berkenaan menafikan ku, janganlah kamu menafikan aku kerana aku dilahirkan pada agama lumrah(Islam) dan merupakan yang terawal dalam menerimanya, dan juga berhijrah. 
Nahjul Balagah, Khutbah 57, Amir al-mu’minin berkata kepada para sahabatnya tentang Muawiyah.

Hadis ini diriwayatkan oleh Shu’ba dengan rangkaian perawi yang sama. Amir ibn Saad ibn Abi Waqas melaporkan dari bapanya: “Muawiyah ibn Abu Sufyan melantik Saad sebagai gabenor dan berkata: Apa yang menghalang kamu dari mencaci Abu Turab(Imam Ali), di mana beliau menjawab: “Ia kerana 3 perkara yang aku ingati Rasulullah(sawa) sebutkan mengenai beliau, yang membuatkan aku tidak akan mencaci beliau dan jika satu dari sift itu aku miliki, maka ia adalah lebih berharga bagi ku dari unta merah. Aku mendengar Rasulullah (sawa)  berkata kepada Ali semasa baginda meninggalkan beliau untuk perang Tabuk. Ali berkata kepada baginda: “Ya Rasulullah, kamu meninggalkan aku bersama wanita dan kanak-kanak.” Rasulullah(sawa) bersabda: “Tidakkah kamu berpuas hati dengan kedudukan mu pada ku ialah seperti kedudukan Harun kepada Musa dengan pengecualian tiada lagi Nabi selepas ku.” Dan aku juga mendengar baginda bersabda di Hari Khaibar: Aku akan memberi panji ini kepada seorang yang menyintai Allah dan RasulNya serta Allah dan RasulNya turut menyayangi beliau. Dia(perawi) berkata: Kami menunggu dengan penuh debaran, sehingga Rasulullah bersabda: “Panggilkan Ali.” Beliau di panggil, sedangkan ketika itu beliau mengidap sakit mata. Baginda menyapukan air liur baginda pada mata beliau, dan member panji itu pada beliau, dan Allah memberi beliau kejayaan. Yang ketiga ialah ketika ayat ini diturunkan “Marilah kita menyeru anak-anak kami serta anak-anak kamu”(Ayat Mubahalah [3:61]), baginda memanggil Ali, Fatimah, Hassan dan Hussain dan berkata : Ya Allah, mereka ialah keluarga ku.”

Sahih Muslim, Kitab 31, Hadith 5915

Mari kita andaikan kamu tidak mencaci Imam Ali, dan saya tidak pernah menyuruh kamu mencaci Imam Ali(nauzubillah), jadi adakah sebarang sebab untuk saya bertanya kepada kamu sebab kamu tidak mencaci Imam Ali? Tidak! Sebab mengapa Muawiyah bertanya kepada Saad ialah kerana Muawiyah memperkenalkan amalan itu sendiri.

Seerat ul Nabi, Jilid 1, m/s 66 to 67 menyatakan; Shibli Numani mengatakan perkara yang serupa iaitu para Khalifah Bani Umayyah mencaci keturunan Fatimah di seluruh Empayar Islam, di setiap masjid, selama 90 tahun dan mencaci Al dari setiap mimbar semasa solat Jumaat.

… Shah Shaheed bertanya kepada Subhan Khan, “Adakah Tabarra kepada Muawiyah di lakukan oleh Imam Ali?” Beliau memberi jawapan negatif. Shah bertanya lagi: “Adakah Tabarra kepada Imam Ali di lakukan oleh Muawiyah?” beliau menjawab: “Tanpa ragu ia berlaku.” Mendengar perkara ini Mawlana Shah Shaheed memuji Allah dan berkata Ahlul Sunnah mengikuti amalan Ali manakala Rafidi mengikut amalan Muawiyah.

…. Mawlana Shah Moinuddin Ahmad Nadvi menyatakan dalam Tareekh e Islam, Jilid 1, M/s 13 dan 14. Semasa pemerintahan Muawiyah, beliau telah memulakan amalan mencaci maki Imam Ali dari mimbar, serta semua tindakan beliau dan masyarakat mencapat tujuan ini. Mughaira ibn Shuibah ialah seorang penuh dengan kualiti mulia, tetapi kerana beliau mengikuti Muawiyah, beliau juga tidak dapat melindungi diri dari Bid’ah ini.

Click below for scanned m/s:
Khilafat O Malukiyat aur Ulema e AhleSunnat, Abu Khalid Muhammad Aslam, m/s 120-122

Selepas kewafatan Maula Ali, permusuhan antara maula Hassan dan Muawiyah berterusan. Imam Hassan mehu perjanjian damai ditandatangani dari melancarkan satu lagi peperangan dengan Muawiyah, yang telah menyebabkan tertumpahnya banyak darah kaum Muslimin dan para sahabat Nabi (sawa)

Perjanjian damai itu tidak bermakna Imam Hassan menjadi sahabat kepada Muawiyah atau mencintai Muawiyah, kerana perjanjian itu ditandatngani oleh 2 paksi berperang. Nabi Muhammad (sawa) menandatangani Perjanjian Hudaibiyah dengan pihak yang sama memerangi baginda selama bertahun-tahun.

Kalau tidak ada angin masakan dahan bergoyang. Sumber Sunni yang kuat mencadangkan yang Muawiyah turut bertanggungjawab dalam pembunuhan Aisyah.

Kita bercakap mengenai isteri yang paling disayangi Rasulullah (sawa) yang telah diceritakan sebagai contoh segala wanita di dalam Quran, dan kerana inilah darah beliau menjadi sangat bernilai pada umur 64.

Muawiyah menjemput Aisyah untuk makan malam. Beliau mengarahkan satu lubang dikorek, dan dipenuhkan ia dengan lembing dan pedang mencacak keatas. Mengikut sejarah Allama Ibn Khldun, Muawiyah menyorokkan lubang ini dengan papan yang lembik dan karpet. Beliau meletakkan kerusi kayu di atasnya sebagai tanda menghormati Aisyah. Sebaik sahaja aisyah duduk di atas kerusi itu, beliau jatuh ke dalam lubang itu dan cedera parah. Untuk menyembunyikan jenayahnya, Muawiyah mengarahkan lubang itu di tutup dan Aisyah turut di tanam di dalamnya. Oleh itu Muawiyah bertanggungjawab atas kematian baginda. Aisyah berumur 64 ketika itu, dan tindakan ini membuktikan kebencian beliau terhadap Nabi Muhammad (sawa)

Klik Di Bawah:
Musharaf al Mehboobeen, By Sheikh ul Tareeqat Hazrat Khwaja Mehboob Qasim Chishti Muhsarafee Qadiri, M/s 616

Ini ialah salah satu dari dakwaan yang di ambil dari sumber Sunni yang sahih. Kamu boleh memberi hujah balas berkenaan perkara ini, tetapi sebelum itu, saya sangat-sangat teringin untuk membaca berkenaan dengan majlis pengebumian Aisyah mengikut rujukan kamu.

Selepas syahidnya Imam Hassan, giliran Imam Hussain pula untuk syahid di bumi Karbala oleh Yazid Ibn Muawiyah.

Saya tidak boleh mempercayai semua sahabat secara TOTAL Rasulullah (sawa) membuat kebaikan samada kepada diri mereka atau antara satu sama lain. Sebagai kesimpulan, biar saya tunjukkan senarai keraguan saya;

  • Para sahabat Rasulullah (sawa) menyebarkan berita yang salah tentang Aisyah berzina.
  • Pergaduhan kecil antara Umar dan Abu Bakr yang meninggikan suara lebih dari Rasulullah (sawa) dan hampir menghapuskan segala amalan mereka.
  • Urwah(seorang sahabat) mencaci Hassan(seorang lagi sahabat)
  • Para sahabat enggan mengakui kepimpinan Usamah yang dilantik sendiri oleh Rasulullah. Ada juga sesetengah sahabat mengkritik kepimpinan beliau.
  • Tragedi Hari Khamis; Pertengkaran antara dua kumpulan sahabat di hadapan Rasulullah yang sedang tenat, di satu pihak mahu mengikut permintaan Rasulullah untuk menulis wasiat manakala di satu pihak lagi mengikuti pendapat mereka sendiri dengan menolak permintaan Rasulullah.
  • Pertengkaran dan pergaduhan  antara isteri-isteri nabi akibat dari cemburu sesama mereka. Ada juga di antara mereka yang merancang keatas Rasulullah (sawa) sendiri.
  • Kekejaman Khalid Ibn Walid kepada Bani Jadhima, sehingga Rasulullah sendiri berlepas tangan darinya.
  • Pertengkaran panas antara Muhajirun dan Ansar di Saqifah yang berakhir dengan Saad Ibn Ubaidah di pijak-pijak
  • Imam Ali dan penyokong beliau tidak bersetuju dalam konteks hak khilafah Abu Bakr.
  • Boikot dari Fatimah kepada Abu Bakr dalam konteks rampasan Fadak
  • Pendapat Imam Ali tentang Abu Bakr dan Umar yang dianggap oleh Imam Ali sebagi penipu dan tidak jujur dalam isu Fadak dan isu khilafah
  • Khalid Ibn Walid(sahabat) membunuh Malik Ibn Nuwara(juga seorang sahabat) dan merogol isteri beliau, Layla(juga seorang sahabat)
  • Kemarahan Umar dan protes beliau terhadap Khalid di zaman Abu Bakr.
  • Pemecatan Khalid dari semua jawatan angkatan tentera,
  • Abu Dzar dibuang negeri oleh Usman dan pentadbirannya.
  • Ammar Yasir dan Abdullah Ibn Masud di pukul atas arahan Usman
  • Menyalakan api pemberontakan rakyat terhadap Usman oleh Thalhah, Zubair dan Aisyah.
  • Pendapat Imam Ali terhadap Thalhah, Zubair dan Aisyah serta perang Jamal
  • Pendapat Imam Ali terhadap Muawiyah dan Amr ibn Al As serta perang Siffin
  • Muawiyah memulakan amalan mencaci Imam Ali
  • Ramalan Rasulullah (sawa) terhadap pembunuhan Ammar ibn Yassir oleh puak pemberontak(Muawiyah)
  • Perjanjian damai Imam Hassan dan Muawiyah
  • Pertuduhan Muawiyah membunuh Aisyah

Jika kamu ingin saya mempercayai bahawa semua sahabat dan isteri Nabi tidak mempunyai masalah dan kebencian antara satu sama lain, dan mereka hidup aman dan damai seperti saudara, jadi saya perlu menghiraukan sebahagian besar dari sejarah dan logik untuk hidup dalam dunia mitos dan mimpi. Bagaimanapun jika kamu bertanya mengenai fakta, maka fakta itu amat menggentarkan bagi orang yang mempercayai Imam Ali menyayangi Muawiyah, atau Aisyah menghormati Usman. Khalid ibn al Walid dan Amr ibn Al As secara faktanya, tidak dapat dinafikan ialah panglima perng yang bagus, tetapi itu tidak menjadikan mereka Muslim yang baik. Jika kamu mencintai dan menghormati semua orang, maka ia seperti menghormati Musa dan Firaun dalam masa yang sama. Ini kerana 2 puak yang melancarkan perang antra satu sama lain , secara logiknya tidak menyayangi satu sama lain, tetapi berniat untuk membunuh pihak lawannya.

Keadaan di mana Rasulullah (saw) meninggalkan dunia ini sangat sensitif sehingga tidak sampai 50 tahun peninggalan baginda, cucu baginda di bunuh oleh seorang Muslim, khalifah dan anak kepada sahabat.

Jika kamu mendakwa kamu menyayangi semua pihak, maka kamu secara logiknya tidak mampu membuat keputusan dan keliru secara moral.

Satu-satunya pilihan untuk kamu, ialah memilih. Pilihlah antara orang yang dipilih masyarakat atau yang di pilih Allah swt. Ini kerana jika kamu memilih seseorang yang menyakiti Allah, rasul dan Ahlul Bait baginda, maka kamu akan bertanggungjawab dengn pilihan kamu.

Jika kamu bertanya kepada saya, maka saya memilih Ahlul Bait yang di rahmati dari para sahabat Rasulullah(sawa). Kamu mungkin akan bertanya mengapa, saya akan membiarkan Imam Ali menjawab soalan ini.

Imam Ali(as) dalam suratnya menukilkan:

Sekumpulan Muhajirin berjaya mendapatkan syahid. Mereka terbunuh dalam perjuangan Islam dan Allah. Semuanya dirahmati Allah dengan kedudukan dan pangkat(di akhirat).Mereka yang terdiri daripada keluarga ku dan suku ku, Bani Hashim, di berikan status yang tinggi oleh Allah swt. Hamzah menerima gelaran Sayyidus Syuhada. Rasulullah (sawa) sendiri memanggil nama ini selepas kesyahidan beliau dan ketika pengebumian beliau. Rasulullah mengucapkan takbir 70 kali sebagai pengiktirafan kepada beliau, sesuatu yang tidak dilakukan kepada Muslim lain. Terdapat Muhajirin yang kehilangan tangannya di medan perang, tetapi apabila salah seorang dari kami kehilangan (Ja’far, saudara Nabi)  kedua tangannya dan syahid di medan perang, Allah memberikan beliau sayap, dan Rasulullah memberitahu kami beliau diberikan gelaran At Tayyar.

Jika tidak kerana Allah swt tidak menyukai perbuatan meninggi dan memuji diri sendiri, aku akan memberikan beberapa peristiwa yang menceritakan prestij ku dan statusku di hadapan Allah swt, peristiwa di mana ia boleh diterima dan diberi kesaksian oleh Muslim yang beriman kerana ia tidak boleh diragui lagi. Janganlah kamu menjadi seperti seorang yang syaitan telah sesatkan. Terimalah kebenaran apabila ia berada di hadapan mu.

Dengar wahai Muawiyah! Kami Ahlul Bait ialah satu contoh yang unik dari semua ciptaan Allah swt. Untuk status itu, kami tidak mempunyai tanggungjawab terhadap mana-mana orang atau suku kecuali Allah swt. Manusia telah dan akan mencapai kesempurnaan melalui kami. Ketinggian darjat kami tidak menghalang kami dari berurusan dengan kamu atau suku kamu, kami telah mengahwini sesama kamu dan membina hubungan kekeluargaan dengan suku kamu, walaupun kamu tidak termasuk di dalam kumpulan kami.

Bagaimana kamu boleh menjadi setaraf dengan kami sedangkan Rasulullah sebahagian dari kami dan Abu Jahal, musuh terburuk Islam adalah sebahagian dari kamu. Asadullah(Imam Ali) adalah dari kami dan Asadul Ahlaaf(Singa pihak lawan) adalah dari kamu. Dua orang pemuda ketua pemuda syurga adalah dari kami dan anak-anak neraka adalah dari kamu. Wanita terbaik di dunia(Fatimah) adalah dari kami, sedangkan wanita terburuk yang sentiasa mahu menyakiti Nabi ialah ibu saudara mu.

Terlalu banyak perkara yang membezakan kita. Kami ialah pengikut setia arahan Allah swt, manakala kamu dan suku kamu sentiasa menentang Islam dan menerimanya hanya untuk menyelamatkan diri kamu dari penghinaan. Keikhlasan kami dalam Islam dan bakti kami keatasnya adalah fakta sejarah manakala sejarah tidak dapat menidakkan kebencian kamu terhadap Islam dan Rasulullah (sawa).

Nama baik kami, yang mana kamu cuba merampasnya dari kami, dan kehormatan yang ingin kamu rendahkannya ialah sesuatu yang dijaga sendiri oleh Al Quran. Diceritakan di dalam Quran: “ Dan orang-orang yang mempunyai pertalian kerabat, setengahnya lebih berhak dari setengahnya yang lain – menurut (hukum) Kitab Allah [ Qur’an, 33:6 ] dan di tempat lain dalam kitab yang sama, Allah memberitahu manusia: “Sesungguhnya orang-orang yang hampir sekali kepada Nabi Ibrahim (dan berhak mewarisi ugamanya) ialah orang-orang yang mengikutinya dan juga Nabi (Muhammad) ini serta orang-orang yang beriman (umatnya – umat Islam). Dan (ingatlah), Allah ialah Pelindung dan Penolong sekalian orang-orang yang beriman.” [ Qur’an, 3:68 ]. Oleh itu kami mempunyai 2 kelebihan, hubungan yang rapat dengan Rasulullah (sawa) dan kesetiaan dalam menerima ajaran baginda.

Tahukah kamu di hari Saqifah, Muhajirin memberitahu kepada Ansar, yang mereka mempunyai kelebihan lebih dari Ansar kerana mereka mempunyai pertalian dengan Rasulullah(sawa), dan oleh kerana itu, mereka lebih layak ke atas khilafah, dan oleh kerana hujah ini juga mereka berjaya memenangi perebutan kuasa pada hari itu. Jika kejayaan boleh dicapai dengan bantuan hujah ini dan jika hujah ini mempunyai walau sedikit sahaja kebenaran di dalamnya, maka KAMI dan BUKAN KAMU lebih layak ke atas khilafah. Jika tidak, maka kaum Ansar juga masih mempunyai hak ke atas khilafah.

Nahjul Balaga, Surat 28, Surat balasan Imam Ali terhadap surat Muawiyah

Sunni mendakwa mengikuti dan menyayangi para sahabat akan membawa kamu ke jalan yang benar. Mereka mengungkapkan hadis yang dhaif ini:

Rasulullah (sawa) bersabda : Para sahabat ku ialah seperti bintang, sesiapa sahaja yang kamu ikuti, akan terpimpin(ke jalan yang benar)
Al-Suyuti, Tarikh al-Khulafa, p. 160.

Jadi siapakah yang harus saya pilih, kerana jika saya memilih Ali, kamu memanggil saya kafir, kerana jika saya memilih Ali, maka saya perlu memisahkan diri dari musuh-musuh beliau, orang-orang yang beliau perangi serta orang-orang yang beliau kenali sebagai penipu. . Ini di panggil Tabarra, yang mana akan saya bincangkan dalam artikel lain selepas ini.

Zirr melaporkan: ‘Ali berkata: Demi Dia yang membelah benih dan mencipta Sesuatu yang hidup, Rasulullah (sawa) memberi ku janji yang hanya seorang Muslim akan menyayangi aku dan hanya seorang munafiq yang akan membenci ku.’
Sahih Muslim Kitab 001, Nombor 0141

Cinta kami ialah untuk Ali ibn Abi Thalib dan cinta kami juga untuk Ahlul Bait Nabi(as). Penghormatan kami ialah untuk para sahabat dan isteri baginda yang kekal setia kepada Islam, Nabi dan Ahlul Bait baginda sebelum dan selepas kewafatan baginda. Saya bertanya kepada kamu semua, siapa yang kamu pilih, semua para sahabat atau para sahabat yang bertaqwa kepada Allah dan melakukan kebaikan

Iaitu orang-orang yang menjunjung perintah Allah dan RasulNya (supaya keluar menentang musuh yang menceroboh), sesudah mereka mendapat luka (tercedera di medan perang Uhud).Untuk orang-orang yang telah berbuat baik di antara mereka dan yang bertaqwa, ada balasan yang amat besar.
Quran [3:172]

Ingatlah, ganjaran Allah bukan untuk semua orang.

Rahmat Allah ke atas Nabi Muhammad (sawa) dan Ahlul Bait baginda yang di rahmati. Redha Allah ke atas mereka yang menyokong perjuangn Islam serta membantu Rasulullah dan Ahlul Bait Baginda dengan ikhlas seumur hidup mereka. Dan laknat Allah telah mencukupi bagi mereka yang bertindak bertentangan dengan Islam, arahan Nabi serta menyakiti Ahlul Bait baginda, kerana Allah swt tidak akan bersama penipu.

Takrif kemaksuman menurut Syiah:

Sebelum memasuki perbahasan penyabitan kemaksuman, perlulah kita mengenal dengan lebih terperinci takrif kemaksuman menurut pandangan Syiah.

Kemaksuman dari segi bahasa ialah tegah, menjaga dan memelihara, Jauhari di dalam Aṣ-Ṣiḥāḥ al-Lughah menulis:

والعصمة: المنع. يقال: عصمه الطعام، أي منعه من الجوع… والعصمة: الحفظ… واعتصمت بالله، إذا امتنعت بلطفه من المعصية.

الجوهري، إسماعيل بن حماد (متوفاي303هـ)، الصحاح تاج اللغة وصحاح العربية، ج5 ص1986، تحقيق: أحمد عبد الغفور عطار، ناشر: دار العلم للملايين ـ بيروت، الطبعة الأولى.

Kemaksuman bermaka mencegah, ʽIṣmuhul Ṭaʽām, iaitu mencegahnya dari kelaparan, dan kemaksuman ialah penjagaan, Iʽtaṣamat biLlah ialah ketika ia dijaga daripada maksiat dengan kemurahan-Nya. – Al-Jauhari, Ismaʽīl bin Ḥammād (meninggal pada tahun 303 Hijrah), Aiā Tāj Al-Lughah wa iā al-ʽArabiyyah, jilid 5 halaman 1986.

Al-Fayumi di dalam Miṣbaḥ Al-Munīr menulis:

عصمه الله من المكروه (يعصمه) من باب ضرب حفظه ووقاه و (اعتصمت) بالله امتنعت به.

الفيومي، أحمد بن محمد بن علي المقري (متوفاى770هـ)، المصباح المنير في غريب الشرح الكبير للرافعي، ج2، ص414، ناشر: المكتبة العلمية – بيروت

Allah menjaganya (seseorang) daripada perkara yang tidak disukai (menjaganya) daripada bab Ḍarb penjagaannya, peliharanya dan Iʽtaṣamat BiLlah – Al-Fayumī, Aḥmad bin Muḥammad bin ʽAlī Al-Muqri (wafat dalam tahun 770), Miba Al-Munir Fī Gharīb Al-Syar Al-Kabīr Lilrāfiʽī, jilid 2 halaman 414.

Ibnu Manẓūr dalam Lisānul ʽArab menulis:

عصم: العصمة في كلام العرب: المنع… و عصمه الطعام: منعه من الجوع. وهذا طعام يعصم أي يمنع من الجوع.

الأفريقي المصري، جمال الدين محمد بن مكرم بن منظور (متوفاى711هـ)، لسان العرب، ج12، ص403ـ 404، ناشر: دار صادر – بيروت، الطبعة: الأولى.

Maksum: Al-ʽIṣmah dalam kalām Arab bermakna halang… ʽIṣmuhu Al-Ṭaʽām: menjaganya dari kelaparan dan makanan ini menjaganya, iaitu menghalangnya dari kelaparan. – Al-Afriqī al-Miṣrī, Jamāluddin Muḥammad (meninggal tahun 711 Hijrah), Lisānul ʽArab, jilid 12 halaman 403-404

Ahli linguistik yang lain turut mengulangi seperti kata-kata tersebut, maka natijahnya ialah kemaksuman bermaksud menjaga, memelihara dan mencegah.

Kemaksuman dari segi istilah

Kemaksuman dalam pandangan cendiakawan Syiah bermakna pemeliharaan khusus kepada hamba Allah dari dosa, kesalahan dan kelupaan. Sesungguhnya pemeliharaan dan kemaksuman ini adalah anugerah dan taufik daripada Allah (s.w.t) yang meliputi segala hal individu itu. Natijahnya seseorang itu maksum meskipun ia mempunyai kemampuan melakukan dosa dan kesalahan, namun ia mencegah dirinya dari melakukannya.

Al-Marhum Shaykh Mufīd berkata tentang perkara ini:

العصمة لطف يفعله الله تعالى بالمكلف بحيث يمتنع منه وقوع المعصية وترك الطاعة مع قدرته عليهما.

الشيخ المفيد، محمد بن محمد بن النعمان ابن المعلم أبي عبد الله العكبري، البغدادي (متوفاي413 هـ)، النكت الإعتقادية و رسائل اخري، ص37، تحقيق: رضا مختاري، ناشر: دار المفيد للطباعة والنشر والتوزيع – بيروت – لبنان، الطبعة: الثانية، 1414 هـ – 1993 م. توضيحات: چاپ كنگره هزارمين سالگرد رحلت شيخ مفيد.

Kemaksuman ialah kurniaan yang Allah (s.w.t) mencegah seorang Mukallaf dari terjadinya kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan dengan kekuatan untuk kedua perbuatan itu. – Shaykh al-Mufīd, Muḥammad bin Muḥammad bin Al-Nuʽmān ibn al-Muʽallim (meninggal pada tahun 413 Hijrah), Al-Nukkat al-Iʽtiqadiyyah wa Rasā’il Ukhrā, halaman 37.

Sayyid Murtaḍa dalam menakrifkan ʽIṣmah turut mengatakan:

العصمة: ما يمنع عنده المكلف من فعل القبيح والاخلال بالواجب، ولولاه لم يمنع من ذلك ومع تمكينه في الحالين. عبارة أخرى العصمة: الأمر الذي يفعل الله تعالى بالعبد وعلم أنه لا يقدم مع ذلك الأمر على المعصية بشرط أن لا ينتهي فعل ذلك الأمر لأحد إلى الالجاء.

المرتضي علم الهدي، ابوالقاسم علي بن الحسين بن موسي بن محمد بن موسي بن إبراهيم بن الإمام موسي الكاظم عليه السلام (متوفاى436هـ)، رسائل المرتضى، ج2 ص277، تحقيق: تقديم: السيد أحمد الحسيني / إعداد: السيد مهدي الرجائي، ناشر: دار القرآن الكريم – قم، 1405هـ.

Kemaksuman: Apa yang menghalang seorang mukallaf dari melakukan perkara yang buruk dan meninggalkan perkara wajib. Jikalau tidak menghalang dari perkara demikian itu, maka ia mungkin boleh melakukan kedua perbuatan tersebut. Dengan kata lain kemaksuman ialah: Perkara yang Allah lakukan terhadap hambanya dan diketahuilah bahawa seseorang maksum itu tidak melakukan maksiat dengan perkara tersebut dengan syarat ia tidak dihalang dan dipaksa untuk melakukan perbuatan itu. -Al-Murtaḍa ʽAlamul Hudā, Abul Qāsim ʽAlī bin Al-Ḥusayn bin Mūsā bin Muḥammad bin Mūsā bin Ibrāhīm bin al-Imām Mūsā al-Kāẓim (meninggal pada tahun 436 Hijrah), Rasāil al-Murtaa, jilid 2 halaman 277

ʽAllamah Al-Hilli di dalam kitab An-Nāfiʽ Yawm al-Ḥashr menakrifkan ʽIṣmah sebagai berikut:

العصمة لطف خفي يفعل الله تعالى بالمكلف، بحيث لا يكون له داع إلى ترك الطاعة وارتكاب المعصية مع قدرته على ذلك، لأنه لولا ذلك لم يحصل الوثوق

الحلي الأسدي، جمال الدين أبو منصور الحسن بن يوسف بن المطهر (متوفاى 726هـ)، النافع يوم الحشر في شرح الباب الحادى عشر، ص89، شرح: الفقيه الفاضل المقداد السيوري (متوفاي826هـ)، ناشر: دار الأضواء للطباعة والنشر والتوزيع ـ بيروت، الطبعة: الثانية، 1417هـ ـ 1996م.

Al-ʽIṣmah adalah Luṭf tersembunyi, yang Allah lakukan terhadap Mukallaf, supaya ia tidak terdetik untuk meninggalkan ketaatan dan melakukan maksiat sedangkan ia mampu melakukan perbuatan tersebut, kerana jika ia tidak demikian maka ia tidak dapat dipercayai. – Al-Hilli Al-Asadī, Jamaluddīn Abū Manṣur al-Ḥasan bin Yūsuf bin Al-Muṭahhar (meninggalkan pada tahun 726 Hijrah), An-Nāfiʽ Yawm Al-ashr fī Shar al-Bāb Al-ādī ʽAshr, halaman 89.

Dalam himpunan tak-rif-takrif ini, terdapat dua noktah penting iaitu:

1. Kemaksuman, sebagai Malakah Nafsānī daripada Ilahi di mana ia dianugerahkan kepada sesiapa sahaja yang Allah kehendaki.

2. Orang yang maksum bukanlah terpaksa tidak melakukan dosa, namun ia berada dalam keadaan mempunyai kudrat untuk melakukan dosa, namun dengan Lutf dan Taufiq Allah, ia menjauhkan diri dari melakukan dosa.

Beberapa tokoh dan cendiakawan menambah bahawa terdapat beberapa masalah tambahan yang mereka anggap ia adalah suatu keperluan buat para Imam. Marhum Muẓaffar menulis tentang perkara ini:

والعصمة: هي التنزه عن الذنوب والمعاصي صغائرها وكبائرها، وعن الخطأ والنسيان، وإن لم يمتنع عقلا على النبي أن يصدر منه ذلك بل يجب أن يكون منزها حتى عما ينافي المروة، كالتبذل بين الناس من أكل في الطريق أو ضحك عال، وكل عمل يستهجن فعله عند العرف العام.

المظفر، الشيخ محمد رضا (متوفاي1381هـ)، عقائد الإمامية، ص54، ناشر: انتشارات أنصاريان ـ قم.

Kemaksuman bermakna bersih dari dosa dan maksiat kecil atau besar, kesalahan atau kelupaan. Walaupun pada pandangan akal tidak mustahil nabi melakukan perkara tersebut. Namun adalah wajib ia bersih dari segala yang tidak bermartabat, seperti makan sambil berjalan, ketawa besar dan segala perbuatan  tidak senonoh dalam pandangan orang awam. – Al-Muzaffar, Shaykh Muḥammad Ridhā (meninggal pada tahun 1381 Hijrah), ʽAqā’id Al-Imāmiyyah, halaman 54

Pandangan ini adalah benar kerana dalam pandangan sebahagian orang, mereka menganggap kerja atau amalan tertentu yang mereka lakukan adalah halal dan dibolehkan bagi orang lain, padahal ia dipandang buruk dan tidak senonoh. Maka nama baiknya hilang di mata masyarakat yang melihatnya. Sebagai kesimpulannya, orang ramai tidak mempercayai ucapannya sambil mencegah diri mereka dari mengikutinya.

Dalil kemaksuman para nabi dan imam tentang perbuatan-perbuatan yang dianggap tidak menyenangkan oleh orang ʽarif juga merupakan dalil-dalil yang dapat disabitkan dengan kemaksuman dari dosa, kesalahan, lupa dan sahw.

Kemaksuman para Imam mempunyai asas menurut al-Quran

Kemaksuman para Imam merupakan satu perkara yang mesti di dalam mazhab Syiah di mana ianya mempunyai asas dalam al-Quran dan riwayat. Oleh kerana itu usulan seseorang individu biasa dalam perkara ini tidak boleh dimasukkan dalam pemikiran dan akidah pengikut mazhab Syiah.

Ayat taṭhīr, ayat Ulil Amr dan… adalah antara ayat-ayat yang terang  menyabitkan kemaksuman para Imam sehingga beberapa tokoh Ahlul Sunnah turut menyatakan tentang perkara ini. Oleh itu mari kita lihat penelitian terhadap beberapa ayat:

Kemaksuman dalam ayat Tahīr

Ayat Taṭhīr antara ayat-ayat yang menyabitkan kemaksuman dan kesucian para Imam dari segala kenistaan dan ketidaksucian. Allah (s.w.t) dalam ayat 33 Surah Al-Aḥzāb berfirman:

… إِنَّما يُريدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهيراً.

“Sesungguhnya hanyalah Allah hendak menghapuskan kenistaan dari kalian Ahlul bayt dan menyucikan kalian sebersih-bersihnya”

Untuk menyabitkan kemaksuman para Imam dengan ayat ini, hendaklah beberapa noktah penting mesti diambil perhatian:

Iradah yang dihadkan dengan kalimah Innamā

Ayat ini menggunakan kalimah «انما» iaitu yang Adātul Ḥaṣr yang paling kuat, ia mengeksklusifkan penghapusan kenistaan dan kekotoran dari Ahlul bayt. Dari sini, alif dan lām dalam kalimah Al-Rijsa merupakan Alif dan Lām Jins (الف و لام جنس) yang meliputi segala jenis kekotoran samada zahir atau batin.

Dengan pengertian yang lain, di dalam ayat ini Allah berkehendak menyucikan semua jenis kekotoran, samada zahir atau batin, hanyalah ke atas Ahlul bayt dan hanyalah mereka murni dan bersih. Maknanya, kemaksuman Ahlul bayt (a.s) telah disabitkan dengan jelas.

Iradah Takwinī, bukan Tashrīʽī

Tidak syak lagi, maksud daripada Iradah dalam ayat ini ialah Takwinī, bukan Tashrīʽī; kerana Allah telah memulakan dengan kalimah Innamā di mana ia merupakan Adāt Ḥaṣr yang paling kuat. Manakala penghilangan kenistaan telah dibataskan kepada lima diri Ahli ‘Abā’. Jikalau ia bermaksud Irādah Tashrīʽī maka pembatasan itu akan menjadi sia-sia kerana Irādah Tashrīʽī meliputi seluruh manusia dan tidak dikhususkan hanya untuk Ahlul bayt semata-mata sebagaimana firman Allah di dalam Ayat Wuḍū:

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. مائده / 6.

Sangat jelas bahawa maksud Irādah di dalam ayat ini adalah Tashrīʽī dan ia ditujukan kepada seluruh orang yang beriman. Ia juga tidak dikhususkan terhadap individu-individu tertentu. Namun Irādah di dalam ayat Taṭhīr telah dibataskan kepada Ahlul bayt dengan kalimah Innamā.

Maka sudah tentu Irādah di dalam ayat taṭhīr adalah takwini. Apabila ia menjadi takwini, kemaksuman Ahlul bayt telah disabitkan dan individu-individu manusia lainnya seperti para isteri Rasulullah, Bani Hashim dan… telah keluar dari daerah ayat tersebut.

Noktah yang lain ialah jikalau irādah di dalam ayat ini adalah irādah Tashrīʽī, maka tiadalah kelebihan atau faḍilat untuk disabitkan kepada Ahlul bayt kerana Ṭahārah ada pada setiap orang beriman; sedangkan sepanjang sejarah perbahasan telah bertumpu kepada samada kelebihan ini hanyalah untuk Ahli Kisā’ atau termasuk isteri-isteri nabi.

Ayat ini tidak termasuk isteri-isteri nabi

Penentang Ahlul bayt sering berusaha agar orang lain iaitu Ummahātul Mukminin turut termasuk dalam kelebihan besar ini sedangkan dengan bertadabbur dalam ayat tersebut, kebatilan bicara mereka menjadi jelas. Untuk menyabitkan perkara ini terdapat banyak dalil di mana sebahagiannya diperturunkan di sini.

Ayat Taṭhīr turun secara bebas:

Noktah penting yang tidak disedari oleh penentang kemaksuman para Imam ialah ayat  «إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا» telah turun secara bebas, bukan mengiringi ayat-ayat sebelum atau setelahnya. Perkara ini ada di dalam lebih kurang tujuh puluh riwayat dalam sumber-sumber Ahlusunnah yang mudah sekali untuk dibuktikan; sehinggakan di antara tujuh puluh riwayat ini tiada satu pun yang mengatakan orang yang dibicarakan ayat-ayat ini ialah para isteri Rasulullah (s.a.w). Ayat ini turun pada satu tempat di mana tidak seorang pun ahli tafsir mendakwa demikian.

MeskipunʽAkramah al-Khariji mendakwa maksud ayat ini ialah isteri-isteri Rasulullah dan ianya tidak termasuk sebagai Ahlul Bayt seperti, ʽAkramah tidak mengatakan bahawa ayat ini turun mengiringi ayat-ayat sebelumnya.

Perincian Midāq Ahlul Bayt melalui Nabi (s.a.w)

Terlalu banyak riwayat di dalam sumber-sumber Ahlu Sunnah yang menyatakan bahawa miṣdāq Ahlul Bayt dalam ayat Taṭhīr menurut sabda Rasulullah (s.a.w) telah pun terang. Muslim Nishaburī di dalam Ṣaḥīḥnya menulis:

حدثنا أبو بَكْرِ بن أبي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بن عبد اللَّهِ بن نُمَيْرٍ واللفظ لِأَبِي بَكْرٍ قالا حدثنا محمد بن بِشْرٍ عن زكريا عن مُصْعَبِ بن شَيْبَةَ عن صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ قالت قالت عَائِشَةُ خَرَجَ النبي صلى الله عليه وسلم غَدَاةً وَعَلَيْهِ مِرْطٌ مُرَحَّلٌ من شَعْرٍ أَسْوَدَ فَجَاءَ الْحَسَنُ بن عَلِيٍّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ جاء الْحُسَيْنُ فَدَخَلَ معه ثُمَّ جَاءَتْ فَاطِمَةُ فَأَدْخَلَهَا ثُمَّ جاء عَلِيٌّ فَأَدْخَلَهُ ثُمَّ قال «إنما يُرِيدُ الله لِيُذْهِبَ عَنْكُمْ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا»

النيسابوري القشيري، ابوالحسين مسلم بن الحجاج (متوفاى261هـ)، صحيح مسلم، ج4، ص1883، ح2424، كِتَاب الْفَضَائِلِ، بَاب فَضَائِلِ أَهْلِ بَيْتِ النبي(ص)، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

ʽAyshah mengatakan tatkala Rasulullah (s.a.w) keluar dengan jubah yang bewarna rambut yang hitam. Kemudian Ḥasan bin ʽAlī datang dan baginda memasukkannya ke dalam jubah. Kemudian datanglah Ḥusayn, baginda pun memasukkannya ke dalam jubah. Kemudian datang pula ʽAlī dan baginda pun memasukkannya ke dalam jubah. Setelah itu baginda bersabda, “Allah berkehendak menghilangkan kenistaan daripada kalian hai Ahlul Bayt, dan membersihkan kalian sesuci-sucinya. – Al-Nishaburī Al-Qushayrī, Abul Ḥusayn bin al-Ḥajjāj (meninggal pada tahun 261 Hijrah), Ṣaḥīḥ Muslim, jilid 4 halaman 1883.

Tarmidhi dalam sunannya menukilkan:

حدثنا قُتَيْبَةُ حدثنا محمد بن سُلَيْمَانَ الْأَصْبَهَانِيِّ عن يحيى بن عُبَيْدٍ عن عَطَاءِ بن أبي رَبَاحٍ عن عُمَرَ بن أبي سَلَمَةَ رَبِيبِ النبي صلى الله عليه وسلم قال لَمَّا نَزَلَتْ هذه الْآيَةُ على النبي صلى الله عليه وسلم «إنما يُرِيدُ الله لِيُذْهِبَ عَنْكُمْ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا» في بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ فَدَعَا فَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَجَلَّلَهُمْ بِكِسَاءٍ وَعَلِيٌّ خَلْفَ ظَهْرِهِ فجللهم بِكِسَاءٍ ثُمَّ قال اللهم هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِي فَأَذْهِبْ عَنْهُمْ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا قالت أُمُّ سَلَمَةَ وأنا مَعَهُمْ يا نَبِيَّ اللَّهِ قال أَنْتِ على مَكَانِكِ وَأَنْتِ على خَيْرٍ.

الترمذي السلمي،  ابوعيسي محمد بن عيسي (متوفاى 279هـ)، سنن الترمذي، ج5، ص351، ح3205، تحقيق: أحمد محمد شاكر وآخرون، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Daripada ʽUmar bin Abī Salamah, anak angkat Rasulullah (s.a.w) berkata, tatkala turun ayat ini kepada Nabi (s.a.w) «إنما يُرِيدُ الله لِيُذْهِبَ عَنْكُمْ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا» di rumah Ummu Salamah, maka baginda memanggil Fathimah, Hasan dan Husayn dan menutupkan selimut ke atas mereka. Ali juga berada di belakangnya. Baginda membentangkan selimut ke atas mereka semua dan bersabda, ‘Ya Allah, mereka ini Ahlul Bayt-ku, maka hilangkanlah kenistaan daripada mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya’. Maka Ummu Salamah berkata, ‘Dan aku bersama mereka wahai Nabiyullah’. Sabda baginda, ‘Engkau berada di tempatmu dan engkau dalam kebaikan’. – Tirmidhi Al-Salmī, Abū ʽĪsā bin Muḥammad bin ʽĪsā (meninggal pada tahun 279 Hijrah), Sunan Al-Tirmidhi, jilid 5, halaman 351.

Al-Banī Wahabi turut mensahihkan Hadis ini di dalam kitab Ṣaḥīḥ wa Ḍaʽīf Sunan Tirmidhī.

Tirmidhī di dalam riwayat yang lain menukilkan daripada Ummu Salamah:

حدثنا مَحْمُودُ بن غَيْلَانَ حدثنا أبو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ حدثنا سُفْيَانُ عن زُبَيْدٍ عن شَهْرِ بن حَوْشَبٍ عن أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النبي صلى الله عليه وسلم جَلَّلَ على الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ كِسَاءً ثُمَّ قال اللهم هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِي وَخَاصَّتِي أَذْهِبْ عَنْهُمْ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا فقالت أُمُّ سَلَمَةَ وأنا مَعَهُمْ يا رَسُولَ اللَّهِ قال إِنَّكِ إلى خَيْرٍ قال هذا حَدِيثٌ حَسَنٌ وهو أَحْسَنُ شَيْءٍ رُوِيَ في هذا وفي الْبَاب عن عُمَرَ بن أبي سَلَمَةَ وَأَنَسِ بن مَالِكٍ وَأَبِي الْحَمْرَاءِ وَمَعْقِلِ بن يَسَارٍ وَعَائِشَةَ.

الترمذي السلمي،  ابوعيسي محمد بن عيسي (متوفاى 279هـ)، سنن الترمذي، ج5، ص699، ح3871، تحقيق: أحمد محمد شاكر وآخرون، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Isteri Rasulullah, Ummu Salamah  berkata, “Rasulullah menutupkan selimut ke atas Hasan, Husayn, Ali dan Fathimah kemudian berkata, Ya Allah mereka ini keluargaku yang dekat denganku, hilangkanlah kenistaan daripada mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya, maka Ummu Salamah berkata, Apakah aku beserta mereka?, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kamu selalu dalam kebaikan”. Tirmidhi berkata Ḥadith ini adalah Ḥasan dan ia adalah riwayat yang terbaik dalam dalam perkara ini… – Tirmidhi Al-Salmī, Abū ʽĪsā bin Muḥammad bin ʽĪsā (meninggal pada tahun 279 Hijrah), Sunan Al-Tirmidhi, jilid 5, halaman 351.

Aḥmad bin Ḥanbal, Abu Yaʽlā dan Ṭabrānī menukilkan daripada Ummu Salamah yang ingin memasuki selimut bersama mereka, namun Rasulullah (s.a.w) melarang dan baginda menarik selimut dari tanganku:

قالت أُمُّ سَلَمَةَ فَرَفَعْتُ الكِسَاءَ لأَدْخُلَ مَعَهُمْ فَجَذَبَهُ من يدي وقال انك على خَيْرٍ

الشيباني،  ابوعبد الله أحمد بن حنبل (متوفاى241هـ)، مسند أحمد بن حنبل، ج6، ص323، ح26789، ناشر: مؤسسة قرطبة – مصر؛

أبو يعلي الموصلي التميمي، أحمد بن علي بن المثني (متوفاى307 هـ)، مسند أبي يعلي، ج12، ص344، تحقيق: حسين سليم أسد، ناشر: دار المأمون للتراث – دمشق، الطبعة: الأولى، 1404 هـ – 1984م؛

الطبراني،  ابوالقاسم سليمان بن أحمد بن أيوب (متوفاى360هـ)، المعجم الكبير، ج3، ص53، ح2664، تحقيق: حمدي بن عبدالمجيد السلفي، ناشر: مكتبة الزهراء – الموصل، الطبعة: الثانية، 1404هـ – 1983م.

Sehingga di dalam riwayat Ṣaḥīḥ Muslim turut menyatakan daripada Zayd bin Arqam terus terang berkata bahawa isteri-isteri Rasulullah (s.a.w) bukanlah daripada Ahlul Bait nabi:

حدثنا محمد بن بَكَّارِ بن الرَّيَّانِ حدثنا حَسَّانُ يعنى بن إبراهيم عن سَعِيدٍ وهو بن مَسْرُوقٍ عن يَزِيدَ بن حَيَّانَ عن زَيْدِ بن أَرْقَمَ قال دَخَلْنَا عليه فَقُلْنَا له لقد رَأَيْتَ خَيْرًا لقد صَاحَبْتَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَصَلَّيْتَ خَلْفَهُ وَسَاقَ الحديث بِنَحْوِ حديث أبي حَيَّانَ غير أَنَّهُ قال ألا وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عز وجل هو حَبْلُ اللَّهِ من اتَّبَعَهُ كان على الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كان على ضَلَالَةٍ وَفِيهِ فَقُلْنَا من أَهْلُ بَيْتِهِ نِسَاؤُهُ قال لَا وأيم اللَّهِ إِنَّ الْمَرْأَةَ تَكُونُ مع الرَّجُلِ الْعَصْرَ من الدَّهْرِ ثُمَّ يُطَلِّقُهَا فَتَرْجِعُ إلى أَبِيهَا وَقَوْمِهَا أَهْلُ بَيْتِهِ أَصْلُهُ وَعَصَبَتُهُ الَّذِينَ حُرِمُوا الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ.

النيسابوري القشيري، ابوالحسين مسلم بن الحجاج (متوفاى261هـ)، صحيح مسلم، ج4، ص1874، ح2408، كتاب فضائل الصحابة، باب من فضائل علي بن أبي طالب، تحقيق: محمد فؤاد عبد الباقي، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Daripada Zayd bin Arqam berkata… kami bertanya siapakah Ahlul Bait? isteri-isterinya? Dijawabnya, “Tidak, demi Allah sesungguhnya perempuan hanya beberapa ketika akan bersa

ma suaminya, setelah ditalaknya maka ia akan pulang kepada ayahnya dan kaumnya… – Al-Nishaburī Al-Qushaiyri, Abul Husayn Muslim bin Al-Hajjāj (meninggal tahun 261 Hijrah), aī Muslim, jilid 4 halaman 1874.

Memadailah dalil-dalil setakat ini, buat mereka yang ingin mengkaji lebih lanjut silakan merujuk kepada berbagai kitab lagi.

Ahlul Bayt atau Ahlul Buyūt?

Selain itu, Rasulullah (s.a.w) tidaklah mempunyai seorang isteri sahaja, bahkan ramai isterinya yang tinggal di dalam rumah-rumah yang berasingan. Oleh itu jikalau yang dimaksudkan dengan Ahlul Bayt di sini termasuk isteri-isteri nabi, maka hendaklah istilah yang digunakan itu adalah Ahlul Buyūt selari dengan ayat-ayat dari awalnya:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ.

Begitu juga ayat:

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلىَ فىِ بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَتِ اللَّهِ وَ الحِْكْمَةِ.

Di dalam ayat 53 surah Al-Ahzāb, Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتَ النَّبِيِّ.

Wahai orang yang beriman, janganlah kalian masuk ke Buyūt (rumah-rumah) nabi.

Oleh itu ayat ini tidak sekali-kali bermaksud isteri-isteri nabi.

Tidak seorang pun Isteri nabi mengaku Ahlul Bayt.

Antara perkara yang menarik perhatian di sini ialah tidak seorang pun daripada kalangan isteri-isteri nabi yang mengaku bahawa ayat ini khusus untuk mereka atau pun mereka termasuk di dalam maksud ayat tersebut. Paling banyak riwayat ialah daripada Ummul Mukminin Aisyah dan Ummu Salamah di mana mereka beberapa kali menegaskan bahawa ayat ini dianggap khusus untuk Ahli Kisa’

Dalil Ayat Taṭhīr untuk menyabitkan kemaksuman daripada Rasulullah (s.a.w).

Banyak riwayat-riwayat yang bersandarkan kepada ayat Taṭhīr di dalam sumber-sumber Ahlusunnah dan Syiah yang mengistinbāṭkan kemaksuman Ahlul Bayt. Khazzaz al-Qumī di dalam kitab Kifāyatul Athar menulis:

حدثنا علي بن الحسين بن محمد، قال: حدثنا هارون ابن موسى التلعكبري، قال حدثنا عيسى بن موسى الهاشمي بسر من رأى، قال حدثني أبي، عن أبيه، عن آبائه، عن الحسين بن علي، عن أبيه علي عليهم السلام قَالَ دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلي الله عليه وآله فِي بَيْتِ أُمِّ سَلَمَةَ وَقَدْ نَزَلَتْ عَلَيْهِ هَذِهِ الْآيَةُ «إِنَّما يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً» فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلي الله عليه وآله: يَا عَلِيُّ هَذِهِ الْآيَةُ نَزَلَتْ فِيكَ وَفِي سِبْطَيَّ وَالْأَئِمَّةِ مِنْ وُلْدِكَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَمِ الْأَئِمَّةُ بَعْدَكَ؟ قَالَ: أَنْتَ يَا عَلِيُّ ثُمَّ ابْنَاكَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ وَبَعْدَ الْحُسَيْنِ عَلِيٌّ ابْنُهُ وَبَعْدَ عَلِيٍّ مُحَمَّدٌ ابْنُهُ وَبَعْدَ مُحَمَّدٍ جَعْفَرٌ ابْنُهُ وَبَعْدَ جَعْفَرٍ مُوسَى ابْنُهُ وَبَعْدَ مُوسَى عَلِيٌّ ابْنُهُ وَبَعْدَ عَلِيٍّ مُحَمَّدٌ ابْنُهُ وَبَعْدَ مُحَمَّدٍ عَلِيٌّ ابْنُهُ وَبَعْدَ عَلِيٍّ الْحَسَنُ ابْنُهُ وَبَعْدَ الْحَسَنِ ابْنُهُ الْحُجَّةُ مِنْ وُلْدِ الْحَسَنِ هَكَذَا وَجَدْتُ أَسَامِيَهُمْ مَكْتُوبَةً عَلَى سَاقِ الْعَرْشِ فَسَأَلْتُ اللَّهَ عَزَّ وَ جَلَّ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ هُمُ الْأَئِمَّةُ بَعْدَكَ مُطَهَّرُونَ مَعْصُومُونَ وَأَعْدَاؤُهُمْ مَلْعُونُونَ.

الخزاز القمي الرازي، أبي القاسم علي بن محمد بن علي، كفاية الأثر في النص على الأئمة الاثني عشر، ص156، تحقيق: السيد عبد اللطيف الحسيني الكوه كمري الخوئي، ناشر: انتشارات ـ قم، 140هـ.

Di dalam sumber-sumber Ahlu Sunnah juga terdapat riwayat-riwayat yang berkaitan dengan ayat Taṭhīr menyatakan bahawa Rasulullah (s.a.w) berterus terang tentang kemaksuman Ahlul Bayt.

Bayhaqī di dalam Dalāil An-Nubuwwah, Fasawī di dalam Al-Maʽrifah wa Al-Tārīkh, Shajarī Al-Jarjānī di dalam kitab al-Amālī dan beberapa orang lagi tokoh Ahlusunnah yang menukilkan riwayat berasingan daripada Ibnu ʽAbbas bahawa Nabi (s.a.w) telah menyabitkan kemaksuman Ahlul Bayt, kemudian menyatakan Ahlul Bayt-ku maksum dari segala dosa.

Antara hadis-hadis tersebut menyatakan “Maka saya dan Ahlul Bayt-ku disucikan dari dosa”:

… ثم جعل القبائل بيوتاً فجعلني في خيرها بيتاً وذلك قوله عز وجل «إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيراً» فأنا وأهل بيتي مطهرون من الذنوب.

Rujukan-rujukan hadis di atas adalah seperti berikut:

-البيهقي، أبي بكر أحمد بن الحسين بن علي (متوفاى458هـ)، دلائل النبوة، ج1، ص171، طبق برنامه الجامع الكبير؛

-الفسوي، أبو يوسف يعقوب بن سفيان (متوفاى277هـ)، المعرفة والتاريخ، ج1، ص105، تحقيق: خليل المنصور، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت – 1419هـ- 1999م.

-الشجري الجرجاني، المرشد بالله يحيي بن الحسين بن إسماعيل الحسني (متوفاى499 هـ)، كتاب الأمالي وهي المعروفة -بالأمالي الخميسية، ج1، ص198، تحقيق: محمد حسن اسماعيل، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت / لبنان، الطبعة: الأولى، 1422 هـ – 2001م؛

-السيوطي، جلال الدين أبو الفضل عبد الرحمن بن أبي بكر (متوفاى911هـ)، الدر المنثور، ج6، ص606، ناشر: دار الفكر – بيروت – 1993؛

-الشوكاني، محمد بن علي بن محمد (متوفاى1255هـ)، فتح القدير الجامع بين فني الرواية والدراية من علم التفسير، ج4، ص280، ناشر: دار الفكر – بيروت.

-الآلوسي البغدادي الحنفي، أبو الفضل شهاب الدين السيد محمود بن عبد الله (متوفاى1270هـ)، روح المعاني في تفسير القرآن العظيم والسبع المثاني، ج22، ص14، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت.

Tahrīf riwayat di dalam cetakan terbaru:

Ketika As-Suyūṭī di dalam Al-Durrul Manthur, Shawkanī di dalam Fath al-Qādīr, Alūsī di dalam Rūhul Maʽānī menukilkan maṣādir riwayat seperti ini:

«وأخرج الحكيم الترمذى والطبرانى وابن مردويه وأبو نعيم والبيهقى معا فى الدلائل عن ابن عباس رضى الله عنهما»

Namun siasatan di dalam kitab Nawādir Al-Uṣūl Tirmidhi dan Muʽjam Kabīr  Ṭabrānī cetakan terbaru menunjukkan teks ini telah dinukilkan semuanya kecuali rangkaikata  «فأنا وأهل بيتي مطهرون من الذنوب» yang menyabitkan kemaksuman Ahlul Bait telah dihapuskan. Silakan anda merujuk kepada kitab tersebut:

الترمذي، محمد بن علي بن الحسن ابوعبد الله الحكيم (متوفاى360هـ)، نوادر الأصول في أحاديث الرسول صلي الله عليه وسلم، ج1، ص331، تحقيق: عبد الرحمن عميرة، ناشر: دار الجيل – بيروت – 1992م.

الطبراني،  ابوالقاسم سليمان بن أحمد بن أيوب (متوفاى360هـ)، المعجم الكبير، ج3، ص56 و ج12، ص103،  تحقيق: حمدي بن عبدالمجيد السلفي، ناشر: مكتبة الزهراء – الموصل، الطبعة: الثانية، 1404هـ – 1983م؛

Begitu juga Suyūṭi tidak lagi menukilkan rangkaikata tersebut di dalam Al-Khaṣā’iṣ Al-Kabīr dan Al-Ḥāwī Lil Fatawā. Silakan anda merujuk kitab tersebut:

السيوطي، جلال الدين أبو الفضل عبد الرحمن بن أبي بكر (متوفاى911هـ)، الخصائص الكبرى، ج1، ص65، ناشر:دار الكتب العلمية – بيروت – 1405هـ – 1985م.

همو: الحاوي للفتاوي في الفقه وعلوم التفسير والحديث والاصول والنحو والاعراب وسائر الفنون، ج2، ص200، تحقيق: عبد اللطيف حسن عبد الرحمن، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت، الطبعة: الأولى، 1421هـ – 2000م.

Ṣāliḥī Shāmī hanya menulis  ayat Taṭhīr dengan perkataan «الآية» tanpa  «ويطهركم تطهيراً»sahaja. Rujukan:

الصالحي الشامي، محمد بن يوسف (متوفاى942هـ)، سبل الهدي والرشاد في سيرة خير العباد، ج1، ص235، تحقيق: عادل أحمد عبد الموجود وعلي محمد معوض، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت، الطبعة: الأولى، 1414هـ.

Malangnya beberapa orang alim Sunni melakukan Tahrīf jikalau suatu riwayat jelas menunjukkan kemaksuman Ahlul Bait dan keimamahan mereka, agar orang yang dahagakan kebenaran tidak dapat menghilangkan haus mereka dari sumber jelas Ahlul Bait.

Oleh itu pendalilan ayat taṭhīr kembali kepada asas Islam dan Rasulullah (s.a.w) dan baginda sudah mengistinbāṭkan kemaksuman Ahlul Bait melalui ayat Taṭhīr.

Kamaksuman dari ayat Ūlī Al-’Amr

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا أَطيعُوا اللَّهَ وَ أَطيعُوا الرَّسُولَ وَ أُولِي الْأَمْرِ مِنْكُم. النساء/59.

Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasulullah dan kepada ” Ūlī Al-’Amr” daripada kalangan kamu.

Salah satu ayat yang menyabitkan kemaksuman Nabi dan para Imam ialah ayat Ūlī Al-’Amr; kerana Allah (s.w.t) mewajibkan orang beriman mengikuti Ūlī Al-’Amr secara mutlak; iaitu mengikuti setiap arahan yang mereka berikan adalah wajib tanpa bertanya lagi.

Jikalaulah Ūlī Al-’Amr tidak maksum, kemungkinan mereka ini tidak sengaja atau terlupa dalam memberikan suatu arahan yang bertentangan dengan perintah Allah dan Rasulnya. Jikalau arahan dikeluarkan dalam keadaan tidak sengaja atau lupa ditaati, maka ia akan menyebabkan penderhakaan. Perkara ini sudah tentu bertentangan dengan pernyataan ayat tersebut kerana ketaatan kepada Ūlī Al-’Amr adalah wajib secara mutlak. Oleh itu tidak mungkin kita mengikuti arahan Ūlī Al-’Amr boleh menyebabkan penderhakaan melainkan Ūlī Al-’Amr itu hendaklah maksum dari sebarang kesalahan dan kesilapan.

Ulama Ahlusunnah seperti Fakhrul Rāzī, seorang ahli Tafsir tersohor Ahlusunnah turut memahami kemaksuman Ūlī Al-’Amr. Beliau mengatakan:

فثبت أن الله تعالى أمر بطاعة أولي الأمر على سبيل الجزم، وثبت أن كل من أمر الله بطاعته على سبيل الجزم وجب أن يكون معصوما عن الخطأ، فثبت قطعا أن أولي الأمر المذكور في هذه الآية لا بد وأن يكون معصوما.

الرازي الشافعي، فخر الدين محمد بن عمر التميمي (متوفاى604هـ)، التفسير الكبير أو مفاتيح الغيب، ج10، ص116، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت، الطبعة: الأولى، 1421هـ – 2000م.

Maka sabitlah perintah Allah tentang kemestian taat kepada Ūlī Al-’Amr, dan sabitlah juga setiap perintah Allah wajiblah hendaklah maksum dari kesalahan. Sudah tentu Ūlī Al-’Amr yang disebut di dalam ayat ini tidak boleh tidak maksum. – Al-Rāzī Al-Shāfī’ī, Fakhruddīn Muḥammad bin ʽUmar Al-Tamīmī (meninggal dalam tahun 604 Hijrah), Tafsir Al-Kabīr Aw Mafātīḥ Al-Ghayb, jilid 10, halaman 116.

Walau bagaimana pun ketaatan secara mutlak dalam perbahasan dalil akal akan diterangkan secara berasingan nanti.

Ketaatan pada Rasulullah dan para Imam secara mutlak

Allah (s.w.t) di dalam ayat 80 surah An-Nisā berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَما أَرْسَلْناكَ عَلَيْهِمْ حَفيظاً.

Sesiapa yang taat kepada Rasulullah, maka sesungguhnya ia telah taat kepada Allah; dan sesiapa yang berpaling ingkar, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pengawal.

Di dalam ayat ini Allah (s.w.t) mewajikan ketaatan terhadap-Nya dan Rasul-Nya. Firman ini merupakan perintah Mutlak dan ia adalah salah satu dalil naqlī terbaik untuk kemaksuman Nabi.

Perkara ini juga diterangkan di dalam riwayat secara umum dan khusus. Bukharī di dalam Ṣaḥīḥnya menukilkan:

حدثنا محمد بن سِنَانٍ حدثنا فُلَيْحٌ حدثنا هِلَالُ بن عَلِيٍّ عن عَطَاءِ بن يَسَارٍ عن أبي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قال كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إلا من أَبَى قالوا يا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قال من أَطَاعَنِي دخل الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى.

البخاري الجعفي، ابوعبدالله محمد بن إسماعيل (متوفاى256هـ)، صحيح البخاري، ج6، ص2655، ح6851، تحقيق د. مصطفي ديب البغا، ناشر: دار ابن كثير، اليمامة – بيروت، الطبعة: الثالثة، 1407 – 1987.

Abu Hurayrah berkata, Rasulullah (s.a.w) bersabda: Setiap umatku akan masuk ke dalam syurga kecuali mereka yang ingkar. Mereka bertanya: Wahai Rasulullah, siapakan yang ingkar? Baginda menjawab: Barangsiapa yang menaatiku, maka ia akan masuk syurga. Barangsiapa yang menderhakaiku maka ia telah ingkar. – Abū ʽAbduLlah Muḥammad bin Ismāʽīl (meninggal tahun 256 hijrah), Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, jilid 6 halaman 2655.

Oleh itu ketaatan mutlak kepada Rasulullah menurut ayat ini adalah wajib untuk semua orang sama seperti ketaatan kepada Allah (s.w.t). Ketaatan mutlak kepada mereka yang sama maksum denganbaginda adalah seperti yang ahli Tafsir terkenal Ahlusunnah Fakhrul Rāzī nyatakan:

قوله: «مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ» من أقوى الدلائل على أنه معصوم في جميع الأوامر والنواهي وفي كل ما يبلغه عن الله، لأنه لو أخطأ في شيء منها لم تكن طاعته طاعة الله وأيضا وجب أن يكون معصوما في جميع أفعاله، لأنه تعالى أمر بمتابعته في قوله: «فَاتَّبَعُوهُ» ( الأنعام: 153 155 ) والمتابعة عبارة عن الاتيان بمثل فعل الغير لأجل أنه فعل ذلك الغير، فكان الآتي بمثل ذلك الفعل مطيعاً لله في قوله: «فَاتَّبَعُوهُ» فثبت أن الانقياد له في جميع أقواله وفي جميع أفعاله، إلا ما خصه الدليل، طاعة لله وانقياد لحكم الله.

الرازي الشافعي، فخر الدين محمد بن عمر التميمي (متوفاى604هـ)، التفسير الكبير أو مفاتيح الغيب، ج10، ص154، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت، الطبعة: الأولى، 1421هـ – 2000م.

Firman Allah «مَّنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ» adalah daripada dalil yang paling kuat tentang kemaksumannya di dalam seluruh perintah dan larangan, serta di dalam setiap apa yang disampaikannya daripada Allah. Kerana jikalau baginda tersalah dalam sesuatu daripadanya, maka ketaatan kepada baginda tidak menjadi ketaatan kepada Allah. Begitu juga wajiblah ia menjadi maksum dalam seluruh perbuatannya kerana Allah Taʽālā memerintahkan supaya baginda diikuti di dalam firmannya: «فَاتَّبَعُوهُ» ( الأنعام: 153 155 ) dan perkataan «فَاتَّبَعُوهُ» adalah mengerjakan perbuatan baik seperti yang dilakukan oleh baginda. Oleh itu barangsiapa yang mengerjakan perbuatan seperti yang dilakukan oleh nabi, maka ia menaati Allah seperti mana di dalam firmannya: «فَاتَّبَعُوهُ»; kesimpulannya pengikutan mutlak di dalam seluruh kata-kata dan seluruh perbuatannya adalah ketaatan kepada Allah dan hukum-hukum Allah, melainkan apa yang dikhususkan untuk baginda dengan dalil. – Al-Rāzī Al-Shāfiʽī, Fakhruddīn Muḥammad bin ʽUmar Al-Tamīmī (meninggal pada tahun 604 Hijrah), Tafsīr Al-Kabīr Aw Mafātīḥ Al-Ghayb, jilid 10 halaman 154.

Walau bagaimana pun maksud Fakhruddīn Al-Rāzī tentang ‘yang dikhususkan untuk baginda dengan dalil’ ialah perkahwinan lebih dari empat perempuan dan ciri-ciri lain pada Rasulullah yang telah disabitkan dengan dalil-dalil bahawasanya umat Islam tidak boleh melaksanakannya.

Telah dinukilkan dari jalan umum dalam riwayat yang bersanad ṣaḥīḥ yang lain bahawa Rasulullah (s.a.w) telah menyabitkan ketaatan mutlak untuk Imam setelahnya. Guru Al-Bukhārī, Ibnu Abī Shaybah di dalam kitab Muṣannaf menulis tentang ini:

حدثنا وكيع بن الجراح قال ثنا الأعمش عن أبي صالح عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من أطاعني فقد أطاع الله ومن أطاع الإمام فقد أطاعني ومن عصاني فقد عصى الله ومن عصى الإمام فقد عصاني.

إبن أبي شيبة الكوفي، ابوبكر عبد الله بن محمد (متوفاى235 هـ)، الكتاب المصنف في الأحاديث والآثار، ج6، ص418، ح32529، تحقيق: كمال يوسف الحوت، ناشر: مكتبة الرشد – الرياض، الطبعة: الأولى، 1409هـ.

Abu Hurayrah menukilkan daripada Rasulullah (s.a.w) bersabda: Barangsiapa yang taat padaku, maka ia taat pada Allah, barangsiapa yang taat kepada Imam, maka dia telah taat padaku, barangsiapa menderhakaiku maka ia telah menderhakai Allah, barangsiapa yang menderhakai Imam maka ia telah menderhakai Allah. – Ibnu Abī Shaybah al-Kūfī, Abū Bakar ʽAbduLlah bin Muḥammad (meninggal dalam tahun 235 Hijrah), Al-Kitāb Al-Muṣannaf Fī Al-Ahādīth Wa Al-Āthār, jilid 6 halaman 418.

Riwayat ini sahih menurut persanadannya. Walau bagaimana pun para perawi hadis tersebut akan di analisa sebaik mungkin:

Wakīʽ bin Jarrāh: Dhahabī menulis tentang beliau:

وكيع بن الجراح أبو سفيان الرؤاسي أحد الأعلام… قال أحمد ما رأيت أوعى للعلم منه ولا أحفظ..

الذهبي الشافعي، شمس الدين ابوعبد الله محمد بن أحمد بن عثمان (متوفاى 748 هـ)، الكاشف في معرفة من له رواية في الكتب الستة، ج2، ص350، رقم: 6056، تحقيق محمد عوامة، ناشر: دار القبلة للثقافة الإسلامية، مؤسسة علو – جدة، الطبعة: الأولى، 1413هـ – 1992م.

Wakīʽ bin Jarrāh, salah seorang yang tersohor… Aḥmad mengatakan: saya tidak melihat lagi orang yang menyimpan dan menghafal ilmu sepertinya. – Al-Dhahabī Al-Shāfiʽī, Shamsuddīn Abū ʽAbdiLlah Muḥammad bin Aḥmad bin Uthmān (meninggal dalam tahun 748 Hijrah), Al-Kāshif Fī Maʽrifah Man Lahu Riwāyah Fī Al-Kutub Al-Sittah, jilid 2 halaman 350.

Sulaymān bin Mahrān Al-Aʽmash: Dhahabi mengatakan tentangnya sebagai:

سليمان بن مهران الحافظ أبو محمد الكاهلي الأعمش أحد الأعلام.

الكاشف  ج1، ص464، رقم: 2132

Sulaymān biin Mahrān salah seorang yang masyhur. – Al-Kāshif, jilid 1 halaman 464.

Zakwān Abū Ṣāliḥ Al-Ziyāt: Dhahabī memperkenalkan beliau seperti berikut:

ذكوان أبو صالح السمان الزيات شهد الدار وروى عن عائشة وأبي هريرة وعنه بنوه عبد الله وسهيل وصالح والأعمش من الأئمة الثقات عند الأعمش عنه ألف حديث توفي بالمدينة سنة إحدى ومائة ع

الكاشف  ج1، ص386، رقم: 1489

Zakwān Abū Ṣāliḥ adalah salah seorang pemimpin yang thīqah. – Al-Kāshif, jilid 1 halaman 464.

Dengan ini seluruh sanad tersebut adalah Ṣaḥīḥ.

Aḥmad bin Ḥanbal menukilkan di dalam musnadnya:

حدثنا عبد اللَّهِ حدثني أبي ثنا أبو النَّضْرِ ثنا عُقْبَةُ يَعْنِى بن أبي الصَّهْبَاءِ ثنا سَالِمُ بن عبد اللَّهِ بن عُمَرَ ان عَبْدَ اللَّهِ بن عُمَرَ حدثه انه كان ذَاتَ يَوْمٍ عِنْدَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مع نَفَرٍ من أَصْحَابِهِ فَأَقْبَلَ عليهم رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فقال يا هَؤُلاَءِ أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ انى رسول اللَّهِ إِلَيْكُمْ قالوا بَلَى نَشْهَدُ انك رسول اللَّهِ قال أَلَسْتُمْ تَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ في كِتَابِهِ من أطاعني فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ قَالَُوا بَلَى نَشْهَدُ انه من أَطَاعَكَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وان من طَاعَةِ اللَّهِ طَاعَتَكَ قال فإن من طَاعَةِ اللَّهِ أَنْ تطيعوني وان من طاعتي أَنْ تُطِيعُوا أَئِمَّتَكُمْ أَطِيعُوا أَئِمَّتَكُمْ فَإِنْ صَلَّوْا قُعُوداً فَصَلُّوا قُعُوداً.

الشيباني،  ابوعبد الله أحمد بن حنبل (متوفاى241هـ)، مسند أحمد بن حنبل، ج2، ص93، ح5679، ناشر: مؤسسة قرطبة – مصر.

ʽAbduLlah bin ʽUmar menceritakan tentang suatu hari beberapa orang sahabat bersama Rasulullah (s.a.w). Baginda datang dan bertanya: Tahukah kalian bahawa saya adalah utusan Allah kepada kalian? Mereka menjawab: Bahkan iya, kami menyaksikan sesungguhnya engkau utusan Allah. Baginda bertanya: Tidakkah kalian tahu sesungguhnya Allah menurunkan di dalam kitabnya, barangsiapa yang taat padaku, maka ia taat kepada Allah? Mereka menjawab: Bahkan iya, kami saksikan bahawa barangsiapa yang taat pada engkau maka ia taat pada Allah. Barangsiapa yang taat pada Allah maka ia pun taat padamu. Baginda bersabda: Jikalau taat pada Allah adalah taat kepadaku, maka kewajipan kalian ialah taat pada para Imam sehinggakan jika mereka solat secara duduk, maka kalian pun hendaklah solat secara duduk. – Al-Shaybānī Abū ʽAdiLlah Aḥmad bin Ḥanbal (meninggal pada tahun 241 Hijrah), Musnad Aḥmad bin Ḥanbal, jilid 2 halaman 93.

Haythami setelah menukilkan riwayat ini berkata:

رواه أحمد والطبراني في الكبير ورجاله ثقات.

الهيثمي، ابوالحسن علي بن أبي بكر (متوفاى 807 هـ)، مجمع الزوائد ومنبع الفوائد، ج2، ص67، ناشر: دار الريان للتراث/ دار الكتاب العربي – القاهرة، بيروت – 1407هـ.

Telah diriwayatkan oleh Aḥmad dan Al-Ṭabrānī di dalam al-Kabīr, rijalnya adalah thīqah.

Di dalam riwayat lain yang Ṣaḥīḥ sanadnya menurut Sunnī dan Syiah, Rasulullah (s.a.w) telah memperincikan wajibnya ketaatan kepada baginda secara mutlak. Sabda Rasulullah:

أيها الناس من عصى عليا فقد عصاني، ومن عصاني فقد عصى الله عز وجل، ومن أطاع عليا فقد أطاعني، ومن أطاعني فقد أطاع الله.

الصدوق، ابوجعفر محمد بن علي بن الحسين (متوفاى381هـ)، معاني الأخبار، ص372، ناشر: جامعه مدرسين، قم، اول، 1403 ق.

Wahai manusia, barangsiapa yang menderhaka kepada Ali, maka ia telah menderhaka kepada ku. Barangsiapa yang menderhaka kepada ku, maka ia telah menderhaka kepada ku. Barangsiapa yang taat kepada Ali maka ia telah taat kepada ku. Barangsiapa yang taat kepadaku maka ia taat kepada Allah. – Al-Ṣadūq, Abū Jaʽfar Muḥammad bin ʽAlī bin Ḥusayn (meninggal dalam tahun 381 Hijrah), Maʽānī Al-Akhbār, halmaan 372.

Riwayat ini juga telah dinukilkan dalam kitab Ahlusunnah dengan sanad yang Ṣaḥīḥ:

أخبرنا أبو أحمد محمد الشيباني من أصل كتابه ثنا علي بن سعيد بن بشير الرازي بمصر ثنا الحسن بن حماد الحضرمي ثنا يحيى بن يعلى ثنا بسام الصيرفي عن الحسن بن عمرو الفقيمي عن معاوية بن ثعلبة عن أبي ذر رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من أطاعني فقد أطاع الله ومن عصاني فقد عصى الله ومن أطاع عليا فقد أطاعني ومن عصى عليا فقد عصاني.

Ḥakim Nishāburī mengatakan:

هذا حديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه

الحاكم النيسابوري،  ابو عبدالله محمد بن عبدالله (متوفاى 405 هـ)، المستدرك علي الصحيحين، ج3، ص131، ح4617، تحقيق: مصطفي عبد القادر عطا، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت الطبعة: الأولى، 1411هـ – 1990م.

Hadith ini mempunyai sanad yang Ṣaḥīḥ di mana kedua-dua Bukhārī dan Muslim tidak pernah mengeluarkannya. – Al-Ḥakim Al-Nishābūrī, Abū ʽAbduLlah Muḥammad bin ʽAbduLlah (meninggal pada tahun 405 Hijrah), Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥīḥayn, jilid 3 halaman 131.

Al-Dhahabī ketika meringkaskan riwayat dari Al-Mustadrak tersebut berkata:

صحيح.

المستدرك علي الصحيحين و بذيله التلخيص للحافظ الذهبي، ج3، ص121، طبعة مزيدة بفهرس الأحاديث الشريفة، دارالمعرفة، بيروت،1342هـ

Ṣaḥīḥ – Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥīḥayn, jilid 3 halaman 121.

Sementara itu golongan Ahlusunnah mempunyai kepercayaan bahawa jikalau suatu ḥadīth datang dari kitab Al-Mustadrak Al-Hakim, maka ḥadīth tersebut setara dengan riwayat dalam kitab Bukhārī dan Muslim.

Kesimpulannya, seperti yang dijelaskan oleh ulama Sunnī Fakhrul Rāzī ketaatan mutlak kepada Rasulullah (s.a.w) sama seperti menaati Allah (s.w.t) dan beliau juga telah membuktilkan kemaksuman baginda (s.a.w). Selain itu menurut sanad yang Ṣaḥīḥ  dari sumber Ahlusunnah dan Syiah, ketaatan kepada ʽAlī bin Abī Ṭālib sama seperti ketaatan mutlak kepada Nabi (s.a.w) dan Allah (s.w.t) dan ia juga merupakan dalil yang paling kuat tentang kemaksuman beliau.

Kemaksuman dalam ayat Lā Yanālu ʽAhd Az-Zālimīn

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ. البقره / 124.

Dan (ingatlah), ketika Nabi Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa Kalimah (suruhan dan larangan), maka Nabi Ibrahim pun menyempurnakannya. (Setelah itu) Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku melantikmu menjadi Imam bagi umat manusia”. Nabi Ibrahim pun memohon dengan berkata: “(Ya Tuhanku!) Jadikanlah juga daripada keturunanku (Imam)”. Allah berfirman: “(Permohonanmu diterima, tetapi) janjiKu ini tidak akan didapati oleh orang-orang yang zalim.” – Surah Al-Baqarah ayat 124.

Ayat ini menyabitkan bahawa Allah (s.w.t) menjadikan maqam Imamah sebagai maqam yang paling tinggi di atas maqam Nubuwwah. Selain itu ia menyabitkan juga tentang kemaksuman para Imam kerana Ibrahim (a.s) sudah pun menjadi seorang Nabi, dilantik pula menjadi seorang Imam. Tatkala sampai ke maqam Imamah, baginda melihat keagungan dan kebesaran maqam ini, lantas baginda memohon daripada Allah supaya dikurniakan juga martabat ini kepada zuriatnya. Namun Allah (s.w.t) memberikan jawapan mutlak kepada Khalilnya iaitu janji-Ku ini tidak akan diperolehi orang yang zalim.

Ini bermaksud maqam Imamah hanya dikhususkan kepada mereka yang tidak melakukan kezaliman sepanjang riwayat hidupnya. Untuk membuktikan kemaksuman daripada ayat ini, kita memerlukan sedikit mukadimah yang ringkas iaitu:

Penggunaan kalimah Imam dalam ayat tersebut:

Di dalam ayat ini, Allah (s.w.t) menggunakan kalimah Imam yang bermaksud pemimpin dan «من يؤتم به». Perlu diketahui bahawa maknanya ialah orang ramai mempunyai tanggungjawab mengikutinya secara mutlak dalam seluruh urusan hidup, ucapan, perbuatan, akhlak, akidah dan lain-lain lagi. Individu seperti ini hendaklah maksum dari sebarang kesalahan dan kesilapan di mana kita akan lanjutkan nanti subjek ini di dalam perbahasan dalil ʽAqlī nanti.

Fakhrul Rāzī, seorang ahli tafsir tersohor Ahlusunnah berkata bahawa kemaksuman adalah perlu untuk Imam:

المسألة الرابعة: قوله: «إِنّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا» يدل على أنه عليه السلام كان معصوماً عن جميع الذنوب لأن الإمام هو الذي يؤتم به ويقتدى، فلو صدرت المعصية منه لوجب علينا الاقتداء به في ذلك، فيلزم أن يجب علينا فعل المعصية وذلك محال لأن كونه معصية عبارة عن كونه ممنوعاً من فعله وكونه واجباً عبارة عن كونه ممنوعاً من تركه والجميع محال.

الرازي الشافعي، فخر الدين محمد بن عمر التميمي (متوفاى604هـ)، التفسير الكبير أو مفاتيح الغيب، ج4، ص37، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت، الطبعة: الأولى، 1421هـ – 2000م.

Masalah ke-empat: Firman-Nya: “Sesungguhnya Aku jadikan engkau Imam untuk manusia” menunjukkan baginda (a.s) maksum dari seluruh dosa kerana Imam ialah orang yang ditaati dan diikuti. Jikalau ia melakukan maksiat maka wajib ke atas kita untuk mengikutinya di dalam perbuatan maksiat tersebut. Ianya mustahil kerana maksiat ialah sesuatu yang dilarang dari melakukannya. Andainya melakukan maksiat itu wajib, maka meninggalkannya juga dilarang. Namun semua andaian ini mustahil.

Apakah makna Imāmah?

Sebahagian ulama Sunnī berusaha untuk membuktikan maksud “Sesungguhnya Aku jadikan engkau Imām untuk manusia” hanyalah maqam risalah semata-mata, orang ramai bertanggung jawab mengikuti Imām. Menurut golongan ini, kita wajib taat kepada para nabi, oleh itu makna Imām di sini ialah kenabian, bukan Imām yang dimaknai oleh golongan Syiah.

Sangat jelas pandangan tersebut tidak dapat diterima kerana kerana tidak dapat dinafikan, setelah bertahun-tahun nabi Ibrahim (a.s) diuji dengan percubaan besar seperti penyembelihan Ismāʽīl, dilempar ke dalam api, meninggalkan Ismāʽīl di gurun sahara dan lain-lain lagi ujian, akhirnya baginda telah diberikan sebuah kedudukan baru yang bukan dari maqam Nubuwwah di zaman kenabian baginda. Lagipun setelah mendapat kedudukan Imām, baginda lantas memohon kedudukan ini daripada Allah untuk keturunannya. Jikalau makna Imam dalam ini adalah kenabian, maka tidak ada maknalah nabi Ibrāhim dijadikan nabi untuk manusia buat kali kedua.

ʽAllamah Ṭabāṭaba’ī menulis tentang perkara ini:

قوله تعالى: إِنِّي جاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِماماً، أي مقتدى يقتدي بك الناس، و يتبعونك في أقوالك و أفعالك، فالإمام هو الذي يقتدي و يأتم به الناس، و لذلك ذكر عدة من المفسرين أن المراد به النبوة، لأن النبي يقتدي به أمته في دينهم، قال تعالى: «وَ ما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ، إِلَّا لِيُطاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ»: النساء- 63، لكنه في غاية السقوط.

أما أولا: فلأن قوله: إِماماً، مفعول ثان لعامله الذي هو قوله:

جاعِلُكَ و اسم الفاعل لا يعمل إذا كان بمعنى الماضي، و إنما يعمل إذا كان بمعنى الحال أو الاستقبال فقوله، إِنِّي جاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِماماً، وعد له ع بالإمامة في ما سيأتي، مع أنه وحي لا يكون إلا مع نبوة، فقد كان (ع) نبيا قبل تقلده الإمامة، فليست الإمامة في الآية بمعنى النبوة (ذكره بعض المفسرين.)

و أما ثانيا: فلأنا بينا في صدر الكلام: أن قصة الإمامة، إنما كانت في أواخر عهد إبراهيم ع بعد مجيء البشارة له بإسحق و إسماعيل، و إنما جاءت الملائكة بالبشارة في مسيرهم إلى قوم لوط و إهلاكهم، و قد كان إبراهيم حينئذ نبيا مرسلا، فقد كان نبيا قبل أن يكون إماما فإمامته غير نبوته.

طباطبايى، سيد محمد حسين (متوفاى 1412هـ)، الميزان فى تفسير القرآن، ج1، ص271، ناشر: منشورات جماعة المدرسين في الحوزة العلمية في قم المقدسة، الطبعة: الخامسة، 1417هـ.

Firman Allah (s.w.t):(إِنِّى جاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِماماً)  Imām ialah yang diikuti dan pemimpin di mana orang ramai mematuhinya dalam ucapan dan perbuatan. Oleh kerana itu beberapa ahli tafsir mengatakan: Makna Imāmah ialah Nubuwwah kerana nabi juga adalah orang yang diikuti umatnya dalam agama. Allah (s.w.t) berfirman: وَ ما أَرْسَلْنا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ (dan tidak kami utuskan rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah). Namun ia tidak diterima dengan beberapa dalil:

1. Kalimah Imām adalah Mafʽūl Al-Thānī untuk ʽĀmil-nya, dan ʽĀmil-nya ialah kalimah (جاعلك). Isim Fāʽil tidak akan diletakkan pada makna yang sebelumnya (الماضي) dan ia praktikal pada makna Ḥāl atau Istiqbāl. Maka firman-Nya إِنِّي جاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِماماً menurut kaedah ini adalah janji kedudukan Imāmah untuk baginda untuk akan datang bersama wahyu, bukan Nubuwwah. Sesungguhnya sebelum Imāmah ini sampai, baginda adalah seorang Nabī. Maka Imāmah di dalam ayat tersebut bukanlah bermakna Nubuwwah (menurut sebahagian ahli tafsir)

2. Peristiwa keimāmahan Nabi Ibrahim (a.s) terjadi di penghujung usianya dan setelah datang khabar gembira tentang Isḥāq dan Ismāʽīl. Malaikat telah datang bersama khabar gembira di dalam perjalanan kepada kaum Lūṭ dan kehancuran mereka, sesungguhnya Ibrāhīm adalah Nabi yang diutuskan. Baginda sudah menjadi Nabi sebelum menjadi Imām, maka keimamahan bagida bukanlah kenabian. – Ṭabāṭabā’ī, Sayyid Muḥammad Ḥusayn (meninggal pada tahun 1412 Hijrah), Al-Mīzān Fī Tafsīr Al-Qurān, jilid 1 halaman 271.

Shaykh Al-Kulaynī menukilkan hadis daripada Imām Bāqir (a.s):

عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَيْنِ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ أَبِي السَّفَاتِجِ عَنْ جَابِرٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عليه السلام قَالَ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ عَبْداً قَبْلَ أَنْ يَتَّخِذَهُ نَبِيّاً وَاتَّخَذَهُ نَبِيّاً قَبْلَ أَنْ يَتَّخِذَهُ رَسُولًا وَاتَّخَذَهُ رَسُولًا قَبْلَ أَنْ يَتَّخِذَهُ خَلِيلًا وَاتَّخَذَهُ خَلِيلًا قَبْلَ أَنْ يَتَّخِذَهُ إِمَاماً فَلَمَّا جَمَعَ لَهُ هَذِهِ الْأَشْيَاءَ وَقَبَضَ يَدَهُ قَالَ لَهُ: يَا إِبْرَاهِيمُ إِنِّي جاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِماماً فَمِنْ عِظَمِهَا فِي عَيْنِ إِبْرَاهِيمَ عليه السلام قَالَ: يَا رَبِّ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قالَ: لا يَنالُ عَهْدِي الظَّالِمِين.

الكليني الرازي، أبو جعفر محمد بن يعقوب بن إسحاق (متوفاى328 هـ)، الأصول من الكافي، ج1 ص175، ناشر: اسلاميه، تهران، الطبعة الثانية،1362 هـ.ش.

Jābir berkata: Saya mendengar Imām Bāqir berkata: Sesungguhnya Allah mengambil Ibrāhīm sebagai hamba sebelum mengambilnya sebagai Nabi, dan menjadikannya Nabi sebelum mengambilnya sebagai Rasul, dan menjadikannya Rasul sebelum mengambilnya sebagai Khalīl, dan menjadikannya Khālil sebelum mengambilnya sebagai Imām. Imām mengumpulkan lima jarinya (untuk dijadikan contoh kelima-lima maqam ini), dikatakan kepada Ibrāhīm: “Wahai Ibrāhīm, sesungguhnya Aku jadikan kamu Imām bagi manusia”. Dengan kebesaran kedudukan ini di  mata Ibrāhīm (a.s), baginda berkata, “Ya Allah, daripada keturunanku?”. Allah (s.w.t) berfirman, “Janjiku ini tidak akan sampai kepada orang yang zalim”. – Al-Kulaynī, Abū Jaʽfar Muḥammad bin Yaʽqūb bin Isḥāq (wafat tahun 328 hijrah), Uṣūl min Al-Kāfī, jiid 1 halaman 175.

Maksud ʽAhdī adalah maqam Imāmah, bukan maqam risālah

Tidak dapat dinafikan lagi, kalimah ʽAhdī menunjukkan Allah tidak akan memberikan maqam Imāmah ini kepada orang yang zalim seperti mana yang diiktiraf oleh para mufassir dan ulama Ahlusunnah seperti Fakhrul Rāzī di dalam tafsirnya mengatakan:

(لاَ يَنَالُ عَهْدِي) جواباً لقوله (وَمِن ذُرِّيَّتِي) وقوله (وَمِن ذُرِّيَّتِي) طلب للإمامة التي ذكرها الله تعالى فوجب أن يكون المراد بهذا العهد هو الإمامة ليكون الجواب مطابقاً للسؤال.

الرازي الشافعي، فخر الدين محمد بن عمر التميمي (متوفاى604هـ)، التفسير الكبير أو مفاتيح الغيب، ج4، ص39، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت، الطبعة: الأولى، 1421هـ – 2000م.

Ayat  (لاَ يَنَالُ عَهْدِي) adalah jawapan kepada  (وَمِن ذُرِّيَّتِي), Ibrahīm dalam ayat ini memohon kedudukan Imāmah yang telah disebut oleh Allah (s.w.t), maka wajiblah maksud ʽAhdī  di sini ialah Al-Imāmah sebagai jawapan kepada soalan. – Al-Rāzī Al-Shāfīʽī, Fakhruddīn Muḥammad bin ʽUmar Al-Tamīmī (meninggal pada tahun 604 Hijrah), Al-Tafsīr Al-Kabīr Aw Mafātīh Al-Ghayb, jilid 4 halaman 39.

Bayḍāwī, salah seorang ulama tafsir Ahlusunnah di dalam tafsir tentang «لاَ يَنَالُ عَهْدِى الظَّالِمِينَ» berkata:

إجابة إلى ملتمسه وتنبيه على أنه قد يكون من ذريته ظلمة وأنهم لا ينالون الإمامة لأنها أمانة من الله تعالى وعهد والظالم لا يصلح لها وإنما ينالها البررة الأتقياء منهم وفيه دليل على عصمة الأنبياء من الكبائر قبل البعثة وأن الفاسق لا يصلح للإمامة.

البيضاوي، ناصر الدين ابوالخير عبدالله بن عمر بن محمد (متوفاى685هـ)، أنوار التنزيل وأسرار التأويل (تفسير البيضاوي)، ج1، ص398، ناشر: دار الفكر – بيروت.

Ayat «قال لا ينال عهدي الظالمين» adalah jawapan kepada permintaan Ibrāhīm (a.s) dan mengingatkan beliau bahawa maqam Imāmah tidak akan sampai kepada orang yang zalim daripada keturunan baginda. Ini disebabkan kedudukan Imāmah adalah amanah Allah dan janji-Nya, manakala orang yang zalim tidak mempunyai kelayakan. Maka hanya insan yang suci dan bertaqwa daripada keturunannya sahaja yang akan sampai kepada maqam Imāmah ini. Ayat ini adalah dalil terhadap kemaksuman para nabi daripada segala dosa besar sebelum Biʽthah. Orang yang fāsiq tidak layak untuk Imāmah. – Al-Baḍawī, Nāsiruddīn Abul Khayr ʽAbduLlah bin ʽUmar bin Muḥammad (meninggal pada tahun 685 Hijrah), Anwār Al-Tanzīl Wa Asrār Al-Ta’wīl (Tafsīr Al-Bayḍāwī) jilid 1 halaman 398.

Ibnu Kathīr Al-Dimashqī di dalam tafsirnya turut mengatakan:

لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ يقول تعالى منبهاً على شرف إبراهيم خليله (عليه السلام) وان الله جعله إماما للناس

ابن كثير الدمشقي،  ابوالفداء إسماعيل بن عمر القرشي (متوفاى774هـ)، تفسير القرآن العظيم، ج1، ص165، ناشر: دار الفكر – بيروت – 1401هـ.

Firman Allah (s.w.t) menegaskan kemuliaan Khalīl-Nya dan menjadikan baginda Imām kepada manusia. – Ibnu Kathīr Al-Dimashqī, Abul Fidā’ Ismāʽīl bin ʽUmar Al-Qarasī (meninggal pada tahun 774 Hijrah), Tafsīr Al-Qurān Al-ʽAẓīm, halaman 165.

Apakah makna zalim dalam ayat tersebut?

Setelah kita menyusuri mukadimah perbahasan ini, pertanyaan yang timbul sekarang ialah: Apakah makna zalim dalam ayat tersebut. Apakah ia meliputi kezaliman orang lain atau hanya termasuk dalam kezaliman nafs iaitu dosa kecil dan besar Miṣdāq zarah kezaliman terhadap nafs?

Tidak dapat dinafikan bahawa dosa dan penderhakaan terhadap perintah-perintah Allah terhitung sebagai kezaliman sebagaimana yang telah Allah (s.w.t) berfirman:

وَمَنْ يَتَعَدَّ حُدُودَ اللَّهِ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ. الطلاق / 1.

Barang siapa yang melanggar aturan-aturan hukum Allah maka sesungguhnya ia telah berlaku zalim kepada dirinya. – Al-Ṭalāq ayat 1.

Dalam pandangan riwayat, sekurang-kurangnya martabat dosa ialah zalim pada diri sendiri; iaitu jikalau seseorang itu melakukan dosa satu kali sepanjang riwayat hidupnya, maka hal ini akan menjadi Miṣdāq kepada zalim. Manakala janji Allah ini tidak akan terkena kepada orang yang zalim. Oleh itu Imām hendaklah maksum.

Shaykh Sādūq menulis tentang hal ini seperti berikut:

وَقَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ «لا يَنالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ» عَنَى بِهِ أَنَّ الْإِمَامَةَ لَا تَصْلُحُ لِمَنْ قَدْ عَبَدَ صَنَماً أَوْ وَثَناً أَوْ أَشْرَكَ بِاللَّهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ وَإِنْ أَسْلَمَ بَعْدَ ذَلِكَ وَالظُّلْمُ وَضْعُ الشَّيْءِ فِي غَيْرِ مَوْضِعِهِ وَأَعْظَمُ الظُّلْمِ الشِّرْكُ. قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَ جَلَّ «إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ» وَكَذَلِكَ لَا تَصْلُحُ الْإِمَامَةُ لِمَنْ قَدِ ارْتَكَبَ مِنَ الْمَحَارِمِ شَيْئاً صَغِيراً كَانَ أَوْ كَبِيراً وَإِنْ تَابَ مِنْهُ بَعْدَ ذَلِكَ وَكَذَلِكَ لَا يُقِيمُ الْحَدَّ مَنْ فِي جَنْبِهِ حَدٌّ فَإِذَا لَا يَكُونُ الْإِمَامُ إِلَّا مَعْصُوماً وَلَا تُعْلَمُ عِصْمَتُهُ إِلَّا بِنَصِّ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صلي الله عليه وآله لِأَنَّ الْعِصْمَةَ لَيْسَتْ فِي ظَاهِرِ الْخِلْقَةِ فَتَرَى كَالسَّوَادِ وَالْبَيَاضِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ وَهِيَ مَغِيبَةٌ لَا تُعْرَفُ إِلَّا بِتَعْرِيفِ عَلَّامِ الْغُيُوبِ عَزَّ وَجَل.

الصدوق، ابوجعفر محمد بن علي بن الحسين (متوفاى381هـ)، معاني الأخبار، ص131، ناشر: جامعه مدرسين، قم، اول، 1403 ق.

همو: الخصال، ص310، تحقيق: علي أكبر الغفاري، ناشر: جماعة المدرسين في الحوزة العلمية ـ قم، 1403هـ ـ 1362ش

Firman Allah: «لا يَنالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ» bermakna Imāmah tidak layak untuk orang yang menyembah berhala, atau selain Allah atau juga syirik dengan Allah walaupun dengan sekelip mata, walau pun setelah itu ia masuk Islam kembali. Zalim ialah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya manakala syirik adalah zalim yang paling besar. Allah (s.w.t) berfirman tentang ini: «إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ» Oleh itu maqam Imamah tidak layak untuk orang yang melakukan sesuatu pekerjaan haram, samada kecil atau besar meskipun setelah itu ia bertaubat. Begitu juga orang perlu dihukum Had, tidak boleh melakukan hukum Had ke atas orang lain. Dengan ini Imām perlu maksum dan ia tidak diketahui melainkan dengan Naṣ Ilahi melalui lisan Nabi-Nya (s.a.w), kerana kemaksuman bukanlah pada penampilan zahir manusia, dan bukanlah seperti hitam dan putih yang dilihat dengan mata, bahkan kemaksuman adalah sifat tersembunyi. Ia tidak dapat dikenal melainkan dengan pengenalan Yang Maha Mengetahui perkara ghaib. – Al-Ṣadūq, Abū Jaʽfar Muḥammad bin ʽAlī bin Al-Ḥusayn (meninggal pada tahun 381 Hijrah) Maʽānī al-Akhbār, halaman 131.

Sebahagian daripada tokoh-tokoh Ahlusunnah juga langsung menyebut bahawa manusia fāsiq tidak dijanjikan kedudukan Imāmah. Abū Bakr Jaṣṣaṣ Al-Rāzī menulis tentang ini:

فثبت بدلالة هذه الآية بطلان إمامة الفاسق وأنه لا يكون خليفة وأن من نصب نفسه في هذا المنصب وهو فاسق لم يلزم الناس اتباعه ولا طاعته.

الجصاص الرازي الحنفي، أبو بكر أحمد بن علي (متوفاى370هـ)، أحكام القرآن، ج1، ص86، تحقيق: محمد الصادق قمحاوي، ناشر: دار إحياء التراث العربي – بيروت – 1405هـ.

Maka sabitlah dalil-dalil ayat ini tentang kebatilan Imāmāh untuk orang yang fāsiq kerana ia tidak boleh menjadi khalifah. Jikalau orang yang fāsiq melantik dirinya dengan gelaran ini, manusia tidaklah wajib taat kepadanya. – Al-Jaṣāṣ Al-Rāzī Al-Ḥanafī, Abū Bakr Aḥmad bin ʽAlī (meninggal pada tahun 370 Hijrah), Aḥkām Al-Qur’ān, jilid 1, halaman 86.

Menariknya, salah seorang sejarawan besar Ahlusunnah bernama Ibnu ʽAyyinah beranggapan bahawa perlantikan orang yang zalim sebagai Imām seumpama melantik serigala menjadi gembala:

وعن ابن عيينة لا يكون الظالم إماما قط وكيف يجوز نصب الظالم للإمامة والإمام إنما هو لكف الظلمة فإذا نصب من كان ظالما في نفسه فقد جاء المثل السائر من استرعى الذئب ظلم.

الزمخشري الخوارزمي، ابوالقاسم محمود بن عمرو بن أحمد جار الله (متوفاى538هـ)، الكشاف عن حقائق التنزيل وعيون الأقاويل في وجوه التأويل، ج1، ص211، تحقيق: عبد الرزاق المهدي، بيروت، ناشر: دار إحياء التراث العربي.

النسفي، أبو البركات عبد الله ابن أحمد بن محمود (متوفاى710هـ)، تفسير النسفي، ج1، ص69، طبق برنامه الجامع الكبير.

أبي حيان الأندلسي، محمد بن يوسف (متوفاى745هـ)، تفسير البحر المحيط، ج1، ص549، تحقيق: الشيخ عادل أحمد عبد الموجود – الشيخ علي محمد معوض، شارك في التحقيق 1) د.زكريا عبد المجيد النوقي 2) د.أحمد النجولي الجمل، ناشر: دار الكتب العلمية – لبنان/ بيروت، الطبعة: الأولى، 1422هـ -2001م.

Dairipada Ibnu ʽAyyinah yang berkata: Orang zalim tidak akan menjadi Imām. Bagaimana orang yang zalim dibolehkan menjadi Imam sedangkan falsafah kewujudan Imām ialah menghalang kezaliman. Jikalau seseorang yang zalim dilantik menjadi Imām, ia diumpamakan kezaliman melantik serigala menjadi gembala. – Al-Zamakhsharī, Abul Qāsim Maḥmud bin ʽAmrū bin Aḥmad JāraLlah (meninggal tahun 538 Hijrah), Al-Kāshshāf ʽAn Ḥaqā’iq Al-Tanzil Wa ʽUyūn Al-Aqāwīl Fī Wujūh Al-Ta’wīl, jilid 1 halaman 211; Al-Nasafī, Abū Al-Barakāt ʽAbduLlah Ibn Aḥmad bin Maḥmud (meninggal pada tahun 710 Hijrah) Tafsīr Al-Nafasī, jilid 1 halaman 69; Abī Hayyān Al-Andalusī, Muḥammad bin Yūsuf (meninggal pada tahun 745), Tafsīr Al-Bahr Al-Muḥīṭ, jilid 1 halaman 549.

Zamakhshārī di dalam kitab Al-Kashāf menulis:

«لا ينال عهدي الظالمين» وقرىء ( الظالمون ) أي من كان ظالما من ذريتك لا يناله استخلافي وعهدي اليه بالإمامة وإنما ينال من كان عادلا بريئا من الظلم وقالوا في هذا دليل على ان الفاسق لا يصلح للإمامة.

الزمخشري الخوارزمي، ابوالقاسم محمود بن عمرو بن أحمد جار الله (متوفاى538هـ)، الكشاف عن حقائق التنزيل وعيون الأقاويل في وجوه التأويل، ج1، ص211، تحقيق: عبد الرزاق المهدي، بيروت، ناشر: دار إحياء التراث العربي.

«لا ينال عهدي الظالمين» Sebahagian orang yang zalim disebut dengan makna: Mereka yang zalim daripada keturunan kamu,  pengganti dan janji-Ku untuk kedudukan Imām tidak akan sampai kepadanya. Kedudukan tersebut hanya akan sampai kepada mereka yang adil iaitu bebas dari kezaliman. Mereka mengatakan ini adalah dalil bahawa orang yang fāsiq tidak berhak untuk Imāmah. – Al-Zamakhsharī, Abul Qāsim Mahmūd bin ʽAmrū bin Aḥmad JāraLlah (meninggal pada tahun 538 Hijrah), Al-Kāshif ʽAn Ḥaqā’iq Al-Tanzīl Wa ʽUyūn Al-Aqāwīl Fī Wujūh Al-Ta’wīl, jilid 1 halaman 211

Bayḍāwī berkata:

«قال لا ينال عهدي الظالمين» إجابة إلى ملتمسه وتنبيه على أنه قد يكون من ذريته ظلمة وأنهم لا ينالون الإمامة لأنها أمانة من الله تعالى وعهد والظالم لا يصلح لها وإنما ينالها البررة الأتقياء منهم وفيه دليل على عصمة الأنبياء من الكبائر قبل البعثة وأن الفاسق لا يصلح للإمامة.

البيضاوي، ناصر الدين ابوالخير عبدالله بن عمر بن محمد (متوفاى685هـ)، أنوار التنزيل وأسرار التأويل (تفسير البيضاوي)، ج1، ص397 ـ 398، ناشر: دار الفكر – بيروت.

Ayat «قال لا ينال عهدي الظالمين» adalah jawapan kepada permintaan Ibrāhīm (a.s) dan mengingatkan beliau bahawa maqam Imāmah tidak akan sampai kepada orang yang zalim daripada keturunan baginda. Ini disebabkan kedudukan Imāmah adalah amanah Allah dan janji-Nya, manakala orang yang zalim tidak mempunyai kelayakan. Maka hanya insan yang suci dan bertaqwa daripada keturunannya sahaja yang akan sampai kepada maqam Imāmah ini. Ayat ini adalah dalil terhadap kemaksuman para nabi daripada segala dosa besar sebelum Biʽthah. Orang yang fāsiq tidak layak untuk Imāmah. –Al-Baḍawī, Nāsiruddīn Abul Khayr ʽAbduLlah bin ʽUmar bin Muḥammad (meninggal pada tahun 685 Hijrah), Anwār Al-Tanzīl Wa Asrār Al-Ta’wīl (Tafsīr Al-Bayḍāwī) jilid 1 halaman 398.

Keputusannya, Ahlul Bayt adalah maksum menurut empat ayat ini.

Kemaksuman para Imām dalam hadith Rasulullah (s.a.w):

Terdapat banyak riwayat-riwayat di dalam kitab-kitab Syiah dan Sunni yang menyabitkan kemaksuman para Imām Ahlul Bayt. Antara hadis tersebut ialah «ثقلين» dan «على مع الحق».

Hadis Al-Thaqalayn

Hadis Thaqalayn merupakan riwayat yang mutawātir di dalam kitab Ahlusunnah yang paling Ṣaḥīḥ dan ulama Sunnī turut mengistiharkan keṣaḥīḥannya.

Ahmad bin Ḥanbal di dalam musnadnya menulis:

حدثنا عبد اللَّهِ حدثني أبي ثنا بن نُمَيْرٍ ثنا عبد الْمَلِكِ بن أبي سُلَيْمَانَ عن عَطِيَّةَ العوفي عن أبي سَعِيدٍ الخدري قال قال رسول اللَّهِ (ص) اني قد تَرَكْتُ فِيكُمْ ما ان أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بعدي الثَّقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنَ الآخَرِ كِتَابُ اللَّهِ حَبْلٌ مَمْدُودٌ مِنَ السَّمَاءِ إلى الأَرْضِ وعترتي أَهْلُ بيتي الا وانهما لَنْ يَفْتَرِقَا حتى يَرِدَا عَلَىَّ الْحَوْضَ.

الشيباني،  ابوعبد الله أحمد بن حنبل (متوفاى241هـ)، مسند أحمد بن حنبل، ج3، ص59، ح11578، ناشر: مؤسسة قرطبة – مصر.

Abū Saʽid al-Khudrī mengatakan: Sesungguhnya aku tinggalkan kepada kalian, dua perkara beharga yang menyebabkan kalian tidak akan sesat selama-lamanya dengannya setelah pemergianku. Salah satu daripada keduanya lebih besar dari kitab yang lain, iaitu kitab Allah sebagai tali yang berhubungan dari langit ke bumi. Dan Itrah Ahlulbaitku, keduanya tidak akan berpisah sehingga menemuiku di Al-Ḥawd. – Al-Shaybānī, Abū ʽAbdiLlah Aḥmad bin Ḥanbal (meninggal pada tahun 241 Hijrah), Musnad Aḥmad, jilid 3 halaman 59.

Ibnu Kathir Dimashqī di dalam tafsirnya mengatakan tentang riwayat ini sebagai berikut:

وقد ثبت في الصحيح (م 2408) أن رسول الله(ص) قال في خطبة بغدير خم إن تارك فيكم الثقلين كتاب الله وعترتي وإنهما لم يفترقا حتى يردا علي الحوض.

ابن كثير الدمشقي، إسماعيل بن عمر ابوالفداء القرشي (متوفاي774هـ)، تفسير القرآن العظيم، ج3، ص404، ناشر: دار الفكر – بيروت – 1401هـ.

Telah terbukti di dalam Al-Ṣaḥīḥ (Muslim), sesungguhnya RasuluLlah (s.a.w) bersabda di dalam khutbah Ghadīr Khum, “Sesungguhnya Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara beharga, iaitu kitab Allah dan ʽItrahku. Keduanya tidak akan berpisah sehingga menemuiku di Al-Hawd. – Ibnu Kathir Al-Dimashqī, Ismāʽīl bin ʽUmar Abul Fidā’ (meninggal pada tahun 774 Hijrah), tafsir Al-Qur’ān Al-ʽAẓīm, jilid 3 halaman 404.

Di tempat lain beliau berkata:

قال شيخنا أبو عبد اللّه الذهبي: وهذا حديث صحيح.

ابن كثير الدمشقي، إسماعيل بن عمر القرشي أبو الفداء، البداية والنهاية، ج5، ص209، ناشر: مكتبة المعارف – بيروت.

Telah berkata Shaykh kami, Abū ʽAbduLlah Al-Dhahabī: Hadis ini Ṣaḥīḥ. – Ibnu Kathīr Al-Dimashqī, Ismāʽīl bin ʽUmar Al-Qurashī Abul Fidā’, Al-Bidāyah Wal Nihāyah, jilid 5 halaman 209.

Muḥammad Nāṣir Al-Bānī yang digelar oleh golongan Wahabi sebagai ‘Al-Bukhārī di zamannya’, di dalam kitab Jāmiʽ Al-Shaghir, jilid 2 halaman 217, hadis ke-2554, telah menṣaḥīḥkan hadis tersebut.

Riwayat ini menyabitkan kemaksuman Ahlul Bayt dari beberapa sisi:

1. Riwayat ini menunjukkan Rasulullah (s.a.w) mewajibkan seluruh umat Islam untuk taat secara mutlak kepada Al-Qur’ān dan Ahlul Bayt.

Dalam perbahasan Ulil Amr sebelum ini telah disabitkan tentang perintah ketaatan mutlak dan dalil-dalil kemaksuman, maka mustahillah Allah (s.w.t) memberi perintah ketaatan itu kepada orang yang Dia ketahui mempunyai kemungkinan melakukan kesalahan dan kesilapan dalam ucapannya, dan kepada orang yang berkemungkinan akan melakukan perkara yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Rasul-Nya.

2. Rasulullah (s.a.w) bersabda dalam riwayat ini «وانهما لم يفترقا حتى يردا على الحوض»; iaitu Al-Qur’ān dan Ahlul Bayt tidak akan bertentangan antara satu sama lain.

Kata-kata ini turut menyabitkan kemaksuman Ahlul Bayt; kerana jikalau Ahlul Bayt melakukan dosa dan kesalahan, saat itu ia sudah berpisah dengan al-Qur’ān. Jikalau ada orang yang percaya bahawa Ahlul Bayt boleh terpisah dengan Al-Qur’ān, maka ia telah menuduh Rasulullah (s.a.w) sebagai pendusta.

3. Rasulullah (s.a.w) di dalam riwayat ini memperkenalkan bahawa berpegang dengan kitab Allah (Al-Qur’ān) akan menyelamatkan diri dari kesesatan. Sabda baginda: «ما ان أَخَذْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بعدي»; oleh kerana itu taat kepada Ahlul Bayt juga menyelamatkan diri dari kesesatan. Oleh yang demikian itu kemaksuman turut disabitkan kepada Ahlul Bayt (a.s).

Taftāzanī di dalam Syarh Al-Maqāṣid menerangkan tentang perkara ini:

ألا يرى أنه صلى الله عليه وسلم قرنهم بكتاب الله في كون التمسك بهما منقذا من الضلالة ولا معنى للتمسك بالكتاب إلا الأخذ بما فيه من العلم والهداية فكذا في العترة ولهذا قال النبي صلى الله عليه وسلم من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه.

التفتازاني، سعد الدين مسعود بن عمر بن عبد الله (متوفاى 791هـ)، شرح المقاصد في علم الكلام، ج2، ص303، ناشر: دار المعارف النعمانية – باكستان، الطبعة: الأولى، 1401هـ – 1981م.

Tidakkah Nabi (s.a.w) menyambungkan Ahlul Bayt dengan kitab Allah di mana berpegang teguh dengan keduanya menyebabkan keselamatan dari kesesatan? Berpegang teguh dengan kitab Allah tidaklah makna melainkan penerimaan ilmu dan hidayah dari dalamnya. Dengan ini sabda Nabi (s.a.w): “Barangsiapa yang diperlambat oleh amal perbuatannya maka nasabnya tidak boleh mempercepatnya”. – Al-Taftazānī, Saʽd Al-Dīn Masʽūd bin ʽUmar bin ʽAbduLlah (meninggal pada tahun 791 Hijrah), Sharh Al-Maqāṣid Fi ʽIlm Al-Kalām, jilid 2 halaman 303.

Kesimpulannya, sebagaimana Al-Qur’ān menerangkan:

: لا يَأْتيهِ الْباطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَ لا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزيلٌ مِنْ حَكيمٍ حَميدٍ. (فصلت/42)

Yang tidak dapat didatangi sebarang kepalsuan dari mana-mana arah dan seginya; ia diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana, lagi Maha Terpuji. – Fuṣilat ayat 42.

Maka Ahlul Bayt (a.s) juga turut maksum dari sebarang kesalahan dan kesilapan.

ʽAlī bersama kebenaran, dan kebenaran bersama ʽAlī

Hadis ini telah dinukilkan di dalam kitab Ahlusunnah dari berbagai jalur riwayat dan sanad yang Ṣaḥīḥ. Ianya juga menyabitkan kemaksuman Amīrul Mu’minīn ʽAlī bin Abī Ṭālib (a.s). Secara tidak langsung kemaksuman ʽAlī akan menyabitkan kemaksuman para Imām yang lain.

Abū Yaʽlā Al-Mawṣūlī di dalam musnadnya mengatakan:

حدثنا محمد بن عباد المكي حدثنا أبو سعيد عن صدقة بن الربيع عن عمارة بن غزية عن عبد الرحمن بن أبي سعيد عن أبيه قال كنا عند بيت النبي صلى الله عليه وسلم في نفر من المهاجرين والأنصار فخرج علينا فقال ألا أخبركم بخياركم قالوا بلى قال خياركم الموفون المطيبون إن الله يحب الخفي التقي قال ومر علي بن أبي طالب فقال الحق مع ذا الحق مع ذا.

أبو يعلي الموصلي التميمي، أحمد بن علي بن المثني (متوفاى307 هـ)، مسند أبي يعلي، ج2، ص318، ح1052، تحقيق: حسين سليم أسد، ناشر: دار المأمون للتراث – دمشق، الطبعة: الأولى، 1404 هـ – 1984م.

العسقلاني الشافعي، أحمد بن علي بن حجر ابوالفضل (متوفاى852هـ)، المطالب العالية بزوائد المسانيد الثمانية، ج16، ص147، تحقيق: د. سعد بن ناصر بن عبد العزيز الشتري، ناشر: دار العاصمة/ دار الغيث، الطبعة: الأولى، السعودية – 1419هـ.

ʽAbdul Rahmān bin Abī Saʽd menukilkan daripada ayahnya bahawa kami telah duduk di tepi rumah Rasulullah (s.a.w) bersama beberapa orang daripada Muhājirin dan Anṣār. Rasulullah (s.a.w) keluar dan bersabda: “Mahukah aku kabarkan yang terbaik di antara kalian?. Mereka berkata “Tentu”. Beliau (s.a.w) berkata “Yang terbaik diantara kalian adalah orang yang memberi maaf dan orang yang berbuat kebaikan, sesungguhnya Allah mencintai orang yang menyembunyikan ketakwaannya”. [Abu Sa’id] berkata “Kemudian Ali bin Abi Thalib melalui” Rasulullah bersabda “kebenaran bersama orang ini, kebenaran bersama orang ini” – Abū Yaʽlā Al-Mawṣulī Al-Tamīmī, Aḥmad bin ʽAlī (meninggal dalam tahun 307 Hijrah, Musnad Abī Yaʽlā, jilid 2 halaman 318; Al-ʽAsqalānī Al-Shāfiʽī, Aḥmad bin ʽAlī bin Ḥujur Abul Faḍl (meninggal dalam tahun 852 Hijrah), Al-Maṭālib Al-ʽĀliyyah Bi Zawā’id Al-Masānīd Al-Thamāniyyah, jilid 16 halaman 147.

Haythamī setelah menukilkan riwayat ini mengatalkan:

رواه أبو يعلى ورجاله ثقات.

الهيثمي، ابوالحسن علي بن أبي بكر (متوفاى 807 هـ)، مجمع الزوائد ومنبع الفوائد، ج7، ص235، ناشر: دار الريان للتراث/ دار الكتاب العربي – القاهرة، بيروت – 1407هـ.

Abu Yaʽlā meriwayatkannya dan Rijālnya thiqāt – Al-Haythami, Abul Ḥasan ʽAlī bin Abī Bakr (meninggal dalam tahun 807 Hijrah), Majmaʽ Al-Zawā’id Wa Manbaʽ Al-Fawā’id, jilid 7 halaman 235.

Fakhrul Rāzī di dalam tafsirnya mengatakan:

فقد ثبت بالتواتر ومن اقتدى في دينه بعلى بن أبي طالب فقد اهتدى والدليل عليه قوله عليه السلام: اللهم أدر الحق مع علي حيث دار.

الرازي الشافعي، فخر الدين محمد بن عمر التميمي (متوفاى604هـ)، التفسير الكبير أو مفاتيح الغيب، ج1، ص168، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت، الطبعة: الأولى، 1421هـ – 2000م.

Maka sesungguhnya telah disabitkan secara mutawātir bahawa barangsiapa yang mengikuti agamanya dengan ʽAlī bin Abī Ṭālib, maka ia telah dihidayahkan. Dalil perkara ini ialah sabda baginda: “Ya Allah, putarkan kebenaran bersama ʽAlī di mana sahaja dia berputar”. – Al-Rāzī Al-Shafīʽī, Fakhruddīn Muḥammad bin ʽUmar Al-Tamīmī (meninggal dalam tahun 604 hijrah), Al-Tafsīr Al-Kabīr Aw Mafātīḥ Al-Ghayb, jilid 1 halaman 168.

Sebagai taʽbir yang lain, Rasulullah (s.a.w) telah meletakkan Al-Qur’ān bersama ʽAlī bin Abī Ṭālib (a.s). Ḥākim Nishābūrī di dalam mustadraknya menulis:

أبو سعيد التيمي عن أبي ثابت مولى أبي ذر قال كنت مع علي رضي الله عنه يوم الجمل فلما رأيت عائشة واقفة… سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول علي مع القرآن والقرآن مع علي لن يتفرقا حتى يردا علي الحوض.

هذا حديث صحيح الإسناد وأبو سعيد التيمي هو عقيصاء ثقة مأمون ولم يخرجاه.

الحاكم النيسابوري،  ابو عبدالله محمد بن عبدالله (متوفاى 405 هـ)، المستدرك علي الصحيحين، ج3، ص4626، تحقيق: مصطفي عبد القادر عطا، ناشر: دار الكتب العلمية – بيروت الطبعة: الأولى، 1411هـ – 1990م.

Abī Thābit Mawlā Abī Dhar berkata: Aku bersama ʽAlī RaḍiyaLlahu ʽAnhu di dalam perang Jamal… Aku pernah mendengar Rasulullah (s.a.w) bersabda: Ali bersama Al-Qur’ān dan Al-Qur’ān bersama ʽAlī. Kedua-duanya tidak akan terpisah selama-lamanya sehingga bertemu denganku di Al-Ḥawḍ.

Hadis ini Ṣaḥīḥ persanadannya dan Abū Saʽīd Al-Tayyimī ʽAqīṣā’ Thiqah, namun Bukhārī dan Muslim tidak mengeluarkannya. – Al-Ḥākim Al-Nisābūrī, Abū ʽAbdiLlah bin Muḥammad bin ʽAbduLlah (meninggal dalam tahun 405 Hijrah), Al-Mustadrak ʽAlā Al-Ṣaḥīḥayn, jilid 3 halaman 4626.

Oleh itu keṣaḥīḥan hadis ini tak dapat dinafikan lagi.

Riwayat tersebut menerangkan kemaksuman Amīrul Mu’minīn Alī bin Abī Ṭālib (a.s), iaitu beliau sentiasa bersama kebenaran, tidak tersalah dalam ucapan dan perbuatannya dengan dalil Rasulullah (s.a.w) menyabitkan ʽAlī bersama kebenaran dalam apa jua keadaan di samping beliau tidak berpisah dari Al-Qur’ān. Dengan ini terbuktilah kemaksuman Alī bin Abī Ṭālib kerana beliau tidak melakukan sebarang dosa atau kesalahan. Jikalau beliau melakukan kesalahan dalam perbuatan dan ucapan, maka tidak mungkin Nabi (s.a.w) menamakan beliau bersama kebenaran. Oleh kerana Alī bin Abī Ṭālib (a.s) sudah pasti bersama kebenaran sepanjang masa, maka umat Islām hendaklah percaya tentang kemaksuman beliau, jika tidak seseorang itu menafikannya maka dianggap menuduh Rasulullh (s.a.w) sebagai pendusta.

Perbahasan tentang kemaksuman Alī bin Abī Ṭālib menarik perhatian para ugamawan sehinggakan Ibnu Taymiyyah sendiri mendakwa jikalau hadis tersebut Ṣaḥīḥ, maka perkara ini membuktikan kemaksuman Alī:

الوجه السادس قولهم إنهم رووا جميعا أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال على مع الحق والحق معه يدور حيث دار ولن يفترقا حتى يردا على الحوض من أعظم الكلام كذبا وجهلا.

فإن هذا الحديث لم يروه أحد عن النبي صلى الله عليه وسلم لا بإسناد صحيح ولا ضعيف فكيف يقال إنهم جميعا رووا هذا الحديث…

وأيضا فالحق لا يدور مع شخص غير النبي صلى الله عليه وسلم ولو دار الحق مع على حيثما دار لوجب أن يكون معصوما كالنبي صلى الله عليه وسلم وهم من جهلهم يدعون ذلك ولكن من علم أنه لم يكن بأولى بالعصمة من أبي بكر وعمر وعثمان وغيرهم وليس فيهم من هو معصوم علم كذبهم.

ابن تيميه الحراني الحنبلي، ابوالعباس أحمد عبد الحليم (متوفاى 728 هـ)، منهاج السنة النبوية، ج4، ص238ـ239، تحقيق: د. محمد رشاد سالم، ناشر: مؤسسة قرطبة، الطبعة: الأولى، 1406هـ.

Dari sisi ke-enam: Ucapan terbesar mereka (golongan Syiah) yang sentiasa meriwayatkan bahawa Rasulullah (s.a.w) berkata “ʽAlī bersama kebenaran dan kebenaran berputar bersama ʽAlī, kedua-duanya tidak akan terpisah buat selamanya sehingga bertemu denganku di Al-Ḥawḍ”. Ini adalah pembohongan dan kejahilan.

Tidak ada seorang pun yang meriwayatkan hadis ini daripada Rasulullah (s.a.w), dan tidak juga dengan persanadan yang ṣaḥīḥ mahupun dengan persanadan yang ḍaʽīf, bagaimana (Syiah) mendakwa semua orang meriwayatkan hadis ini…

Lagi pun kebenaran tidak akan berputar melainkan bersama Nabi (s.a.w). Andainya kebenaran berputar bersama ʽAlī, maka wajiblah beliau menjadi maksum seperti Nabi (s.a.w). Mereka mendakwa seperti ini disebabkan kejahilan. Namun mereka yang berpengetahuan tahu bahawa kelebihan ʽAlī daripada Abu Bakr, ʽUmar, ʽUthmān dan yang lainnya bukan kerana maksum. Tidak seorang pun dikalangan mereka itu maksum, pembohongan dakwaan syiah ini sudah sedia maklum. – Ibnu Taymiyyah Al-Ḥarrānī Al-Ḥanbalī, Abul ʽAbbās Aḥmad ʽAbdul Ḥalīm (meninggal pada tahun 728 Hijrah), Minhāj Al-Sunnah Al-Nabawiyyah, jilid 4, halaman 238-239.

Sejak awal lagi kita sudah meneliti bukti keṣaḥīḥan sanad riwayat tersebut. Sebaliknya Ibnu Taymiyyah mengatakan pula hadis ini tidak pernah diriwayatkan daripada Rasulullah samada dengan sanad yang ṣaḥīḥ mahupun dengan sanad yang ḍaʽīf. Ini hanyalah kata-kata yang terbit daripada seorang yang membenci dan keras kepala tentang Ahlul Bayt. Namun menurut pengakuan dan ikrar Ibnu Taymiyah ini, jelaslah kemaksuman ʽAlī bin Abī Ṭālib.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s