Shahid Chamran, Pejuang Legendaris

Sejarah Iran penuh dengan legenda. Legenda itu tidak hanya tertuangkan dalam buku-buku dan mitos, tapi di masa perlawanan terhadap rezim Shah Reza Pahlavi dan ayahnya muncul banyak tokoh baik laki-laki dan perempuan yang penuh dengan kenangan pengorbanan yang luar biasa. Perjuangan mereka dalam membela kebenaran sama seperti legenda. Tak diragukan lagi, Dr Mostafa Chamran adalah salah satu legendaris Revolusi Islam Iran.

Dalam gerakannya melawan kelompok anti-Revolusi Islam, Chamran langsung terjun ke lapangan, bahkan nekad mendatangi wilayah yang menjadi pusat munafikin saat itu, Kurdistan di Iran barat. Setelah rezim Saddam Husein menginvasi Iran, Chamran di wilayah selatan Iran, membentuk pos perang gerilya di kota Susangerd.

Operasi pasukan pertama yang dibentuk Chamran adalah mencegah penyusupan musuh ke wilayah Iran. Chamran juga membangun pertahanan di Khuzestan. Semua pengalaman Chamran selama bergerilya di Lebanon dan Mesir dalam melawan rezim Zionis Israel, dituangkan dengan membentukan pasukan rakyat dalam menghadapi agresi rezim Saddam. Satuan-satuan yang dibentuk Chamran berperan penting dalam menghalangi agresi rezim Saddam.

Pada tanggal 21 Juni 1981, Chamran pada akhirnya gugur syahid setelah dihujani tembakan dan mortir oleh pasukan rezim Saddam. Karena kecintaan kepada Chamran, masyarakat menganggapnya sebagai pejuang legendaris Revolusi Islam Iran. Banyak hal yang patut diteladani dalam figur Chamran.

Jenjang Pendidikan
Chamran lahir pada tahun 1932 di kawasan miskin Tehran. Di tengah kehidupan yang sulit, Chamran besar di bawah bimbingan Islam. Konsisten pada ajaran Islam dan kehidupan sederhananya dibuktikan hingga gugur syahid. Ketika Chamran gugur syahid, tidak ada warisan harta yang ditinggalkannya.

Dalam sebuah catatan hariannya, Chamran mengenang masa kecilnya. Beliau bercerita, “Di masa kecilnya, ia pernah disuruh ayahnya untuk membeli roti. Dalam perjalanan, ia melihat seorang fakir dan memberikan uang itu kepadanya. Setiba di rumah, Chamran ditanya ayahnya perihal uang untuk beli roti, tapi ia menutup-nutupi apa yang dilakukannya.”

Melalui perangai mulia dan kecerdasannya, Chamran mampu mencapai jenjang akademisinya dengan cepat. Terkait hal ini, Chamran dalam catatan hariannya menulis, “Ya Allah, saya harus unggul dari sisi keilmuan sehingga musuh tak merendahkanku. Saya juga tidak akan tunduk pada orang-orang berhati keras yang membanggakan diri dengan alasan ilmu. Saya harus jadikan mereka menunduk. Saat itulah saya akan menjadi orang yang rendah diri di muka bumi ini.”

Chamran berhasil menyelesaikan akademinya di jurusan Elektromekanik, Universitas Tehran pada tahun 1957. Setahun kemudian, Chamran mendapatkan bea siswa untuk melanjutkan pendidikannya di AS. Di Universitas Brookley, Chamran berhasil mendapatkan prestasi tinggi dan mendapat gelar doktor di bidang Elektronik dan Fisika Plasma.

Di saat itu hanya sedikit orang yang mendapat gelar doktor di bidang itu, bahkan tak lebih dari sepuluh orang di dunia. Karena itulah, Badan Nasional Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) tertarik merekrut Chamran. Selama belajar di AS, Chamran selalu melakukan penentangan anti rezim Shah Pahlavi. Di AS, beliau bersama teman-temannya membentuk Organisasi Mahasiswa Islam untuk pertama kalinya. Selain itu, beliau juga termasuk pendiri Organisasi Mahasiswa Iran di California. Dengan demikian, Chamran termasuk aktivis Iran di AS. Karena konsistennya dalam melawan kezaliman, bea siswa Chamran dihentikan Shah Pahlavi. Selain itu, rezim Shah juga memasukkan nama Chamran dalam daftar hitam yang harus ditangkap segera bila tiba di Iran.

Anti-Zionis
Bila beografi dan pejuangan Chamran dibagi menjadi beberapa tahap, maka pendidikannya di AS masuk dalam tahap kedua perjalanan hidupnya. Sedangkan tahap ketiga termasuk bagian hidupanya yang paling sensitif. Di tahap ketiga inilah kepribadian agung dan mulia Chamran mengemuka. Pada tahap ini, Chamran harus meninggalkan AS untuk tujuan membimbing gerilyawan dalam rangka melawan rezim Zionis Israel di Lebanon. Padahal posisi dan jenjang pendidikannya yang dilirik instansi-instansi raksasa merupakan peluang untuk merealisasikan impian yang hampir diinginkan setiap akademisi yang sukses. Namun pilihan Chamran malah tertuju pada perjuangan anti-rezim Zionis Israel.

Di AS, Chamran mempunyai posisi pekerjaan yang bisa jadi impian bagi semua orang. Secara akademisi, Chamran sangat diperhitungkan, bahkan termasuk ilmuwan yang tercatat di dunia. Dari sisi keluarga, beliau adalah suami yang baik dan menyayangi empat anaknya. Meski demikian, semangat keadilan dan anti-kezalimannya mengorbankan semuanya demi melawan rezim Zionis Israel. Para sahabatnya selalu mengenang Chamran sebagai figur yang peduli dan penolong orang-orang miskin.

Setelah dua tahun membimbing gerilyawan anti-Zionis Israel di Mesir pada masa kepresidenan Gamal Abdul Naser, beliau dipanggil Imam Mousa Sadr, Pemimpin Syiah di Lebanon Selatan, ke Lebanon. Chamran bersama Imam Mousa Sadr membentuk Gerakan Masyarakat Lemah dan membentuk sayap militer yang bernama Amal. Lembaga-lembaga itu dibentuk berlandaskan prinsip Islam. Pada zaman itu, meski mayoritas penduduk Lebanon adalah Syiah, namun mereka berada di bawah garis kemiskinan. Dengan kepiawaian Imam Mousa Sadr, masyarakat Syiah di Lebanon terangkat dari sisi politik, sosial dan militer. Imam Mousa Sadr juga mampu merangkul semua kelompok di negara ini.

Lebanon pada dekake tahun 70-an dihadapkan pada perang dalam negeri. Chamran dari jantung Beirut hingga puncak-puncak bukit wilayah Amil dan perbatasan Palestina dikenal sebagai pahlawan dan pemberani. Namanya selalu dikenang di negara itu. Tak diragukan lagi, nama Chamran tidak terlepas dari perjalanan perjuangan Lebanon.

Kembali ke Iran
Tahap keempat kehidupan Chamran adalah kembali ke tanah airnya, Iran hingga gugur syahid. Pasca Revolusi Islam Iran, Dr Mustafa Chamran bersama rombongan asal Lebanon, kembali ke Iran. Setelah 22 tahun meninggalkan Iran, Chamran baru kembali ke tanah airnya. Chamran saat tiba di Tehran, menuangkan isi hatinya yang ditujukan kepada ibunya dalam catatan hariannya. Ia menulis, ” Wahai Ibu, setelah 22 tahun, saya kembali ke Iran. Selama ini, saya yakinkan kepadamu bahwa saya tak pernah melupakan Tuhan sedikitpun. Kecintaanku benar-benar menyatu sehingga kehidupanku tak akan mungkin terlepas dari-Nya.”

Chamran kembali ke Iran dalam rangka membantu Revolusi Islam Iran. Di pemilu parlemen, Chamran berhasil mengantongi banyak suara untuk menjadi wakil rakyat. Meski lama meninggalkan Iran, tapi masyarakat tetap mencintainya dan menjadikannya sebagai wakil di parlemen. Setelah terpilih sebagai anggota parlemen dan ditunjuk menjadi Menteri Pertahanan Iran, Chamran tetap berada di front-front terdepan. Di akhir hidupnya, Chamran gugur syahid di front dalam menghadapi musuh. (IRIB Indonesia)

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Biografi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s