Mengenal Cendekiawan Kontemporer Iran, Imam Khomeini (Bagian Kelima)

Di dunia yang penuh gejolak ini, Imam Khomeini tampil dengan kepribadian dan kedudukan yang istimewa. Beliau dikenal sebagai sosok politikus ulung yang cerdas dan sufi yang tak tertandingi. Banyak karya yang beliau ditulis di berbagai bidang seperti irfan, politik, fikih, ushul bahkan syair. Sampai menginjak usia 40 tahun seiring dengan perjuangan melawan despotisme, beliau juga menulis banyak karya akhlak dan irfan yang bernilai tinggi. Buku beliau berjudul ‘Syarah Doa Sahar’ dan ‘Misbahul Hidayah’ memuat materi-materi irfan dan sufi yang menunjukkan bahwa sejak usia muda Imam Khomeini sudah menjadi pesalik dan berhasil meraih spiritualitas yang matang. Beliau menulis kitab-kitab fikih dan ushul setelah berusia 40 tahun.

 

Dengan melihat karya-karya penulisannya, orang akan berkesimpulan bahwa Imam Khomeini adalah sosok politikus yang sufi. Beliau bukan sufi yang menyendiri di sudut kamar dan hanya menyibukkan diri dengan beribadah. Tapi beliau adalah figur pemimpin yang bijaksana dan tegas. Ketika negeri Iran diselimuti oleh kegelapan beliau datang dengan membawa pelita penerang. Bersama umatnya, beliau bangkit menumbangkan kekuasaan rezim despotik Shah Pahlevi dan membawa revolusi Islam kepada kemenangan. Kini, revolusi politik dan agama yang dicetuskan Imam Khomeini telah membuka cakrawala spiritual yang terang benderang di depan mata umat manusia.

Buku pertama yang ditulis Imam Khomeini adalah ‘Syarah Doa Sahar’. Buku ini ditulis ketika beliau masih berusia 27 tahun. Banyak riwayat dan hadis yang menyebutkan keutamaan doa ini. Doa Sahar diajarkan oleh Imam Muhammad Baqir as dan dibaca pada saat sahar menjelang subuh di bulan suci Ramadhan. Mengenai maksud penulisan syarah ini, Imam Khomeini menjelaskan, “… Salah satu nikmat Allah yang terbesar kepada hamba-hamba-Nya dan rahmat-Nya yang luas adalah doa-doa yang diriwayatkan dari orang-orang yang menjadi khazanah wahyu dan syariat dan pembawa ilmu dan hikmah. Sebab, doa-doa inilah pengikat hubungan maknawiyah antara Khaliq dan makhlukNya, dan jalinan erat antara pencinta dan Yang Dicinta… Karena itu, aku ingin menjelaskannya dari berbagai sisi sebatas kemampuanku yang tidak seberapa ini.”

Salah satu keistimewaan doa Sahar adalah penyebuatan Asma Allah atau nama-nama Allah dengan bentuk yang menarik dan mendidik. Syarah doa ini, menunjukkan kematangan dan ketinggian spiritualitas Imam Khomeini. Beliau menerangkan makna dari masing-masing nama Allah yang ada dengan penjelasan irfani. Seluruh nama Allah ada pada keesaan dan ketunggalanNya. Imam mengimbau pesalik di jalan irfan untuk memerhatikan masing-masing makna asma Allah sekaligus menyaksikan keseluruhannya pada wujud Allah yang Maha Esa. Buku ini ditulis dalam bahasa Arab. Hanya mereka yang mengenal istilah-istilah sufi dan irfan yang bisa memahami buku ini dengan baik.

Buku irfan berikutnya yang ditulis Imam Khomeini adalah Misbah al-Hidayah yang ditulis pada tahun 1931 saat Imam Khomeini berusia 29 tahun. Buku ini, dengan penjelasan yang lengkap membahas tentang insan kamil yang merupakan salah satu pembahasan irfan paling sulit. Menurut para ulama dan peneliti, buku ini menunjukkan kematangan dan kesempurnaan irfan pada diri penulisnya. Padahal, Misbahul Hidayah termasuk karya-karya awal Imam Khomeini yang ditulis dalam usia yang masih muda. Meski demikian, dari sisi irfan dan kesempurnaannya, buku ini bisa disetarakan dengan buku-buku rujukan dalam irfan. Mencermati daftar isi Misbahul Hidayah membuat kita berkesimpulan akan kecenderungan Imam Khomeini kepada filsafat Ishraq dan bahwa beliau sangat terpengaruh pemikiran filosof besar seperti Suhrawardi dan Mirdamad.

Tahun 1939 Imam Khomeini menulis buku ‘Asrar Shalah’ (Rahasia Shalat). Buku ini mengupas tata cara shalat yang benar berikut tafsir surah al-Fatihah dengan penjelasan yang sangat menarik dan cermat. Dalam menafsirkan surat al-Fatihah beliau membahas berbagai masalah irfani. Saat pembahasan tafsir, para mufassir terkadang membahas sisi sastera, asbab nuzul, makna, masalah akhlak, kalam, irfan, sosial, politik dan sebagainya yang berkenaan dengan ayat suci al-Quran. Tafsir berarti menjelaskan makna yang terkandung dalam firman Allah.

Setiap mufassir menerangkan ayat suci al-Quran berdasarkan pemahamannya atas kalam Ilahi itu dan kedalaman ilmunya. Mengenai pentingnya penafsiran al-Quran, Imam Khomeini mengatakan, “Kitab yang suci ini, seperti yang dinyatakan sendiri oleh Allah Swt adalah kitab hidayah dan pengajaran, cahaya yang menerangi jalan perilaku manusia. Dalam setiap kisahnya, atau ayat sucinya, seorang mufassir harus menerangkan kepada pencari ilmu jalan yang bisa mengantarkannya kepada alam ghaib dan menunjukkannya jalan kebahagiaan, jalan makrifat dan kemanusiaan.”

Imam Khomeini sangat tertarik kepada penafsiran irfani ayat-ayat al-Quran. Sebab dalam penafsiran irfani, kunci-kunci isyarat khusus ayat suci dan batinnya akan terungkap. Beliau meyakini bahwa al-Quran mengandung masalah-masalah paling penting dalam irfan. Karena itu tak ada kitab apapun yang lebih baik dari al-Quran dalam menerangkan masalah irfan. Imam Khomeini menilai peran irfan dalam memahami agama dan al-Quran sebagai peran yang sangat penting. Menurut beliau, agama Islam akan lebih bisa difahami dan lebih sempurna lewat penafsiran irfan.

Dalam menafsirkan surat al-Fatihah beliau menyatakan, “Seluruh ilmu dan makrifat ada pada surat al-Fatihah. Hanya saja manusia harus bisa membaca dengan cermat dan merenungi makna surat al-Fatihah. Kita memang bukan orangnya. Ketika mengatakan, Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin kita hanya memahami bahwa segala pujian hanya untuk Allah. Tapi al-Quran tidak menyatakan ini. Yang dikatakan oleh al-Quran adalah tidak ada pujian kecuali hanya untuk Allah.” Imam Khomeini juga menjelaskan bahwa tidak ada satupun maujud kecuali memuji dan mensucikan Allah Swt. Tetapi manusia tidak memahami tasbih dan ibadah maujud selain dirinya.

Mengenai al-Sirath al-Mustaqim yang disebutkan dalam surat al-Fatihah, Imam Khomeini menerangkan sebagai berikut; Sirath Mustaqim atau jalan yang lurus adalah jalan yang satu ujungnya ada di sini dan ujung yang lainnya ada di sisi Allah. Beliau menambahkan, dalam shalat engkau membaca ayat surat al-Fatihah yang berbunyi “Beri kami hidayah jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang mendapat nikmat dari-Mu bukan jalannya orang-orang yang dimurkai dan orang-orang yang tersesat. Jalan yang lurus ini adalah jalan Islam yang tak lain adalah jalan kemanusiaan, jalan kesempurnaan, jalan Allah… Melangkahlah kalian di jalan yang lurus ini, jalan kemanusiaan, jalan keadilan, jalan pengorbanan untuk Islam dan keadilan Islami. Jalan yang lurus ini jika dilalui tanpa menyimpang kesana kemari, tanpa belok ke timur atau barat, tanpa melenceng ke arah doktrin-doktrin sesat, akan berakhir di sisi Allah…” (IRIB Indonesia)

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Biografi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s