Mengenal Cendekiawan Kontemporer Iran, Ayatullah Khamenei (Bagian Ketiga)

Orang yang saleh dan mukmin memiliki kapasitas wujud yang luas. Karena itu dalam berbagai hal, dia bisa memainkan peran yang besar dan baik. Ayatullah al-Udzma Khamenei adalah salah satu contoh dari insan mukmin dengan kapasitas wujud yang luas. Sepanjang hidup, beliau tak pernah memikirkan jabatan dan kepentingan diri sendiri. Sebaliknya, untuk kepentingan revolusi dan membantu mencapai cita-cita suci Islam, beliau siap melakukan apa saja yang diperlukan.

 

Setelah keanggotaan di Dewan Revolusi Islam, tugas resmi dilimpahkan oleh Imam Khomeini kepada Ayatullah Khamenei adalah keanggotan di Dewan Tinggi Pertahanan terhitung mulai Mei tahun 1980. Saat itu pemerintahan Republik Islam Iran belum lama berdiri. Karenanya para pejabat dan pegawai di pemerintahan mesti diseleksi untuk menghindari masuknya anasir anti revolusi ke dalam badan negara. Sebagai anggota Dewan Tinggi Pertahanan,Ayatullah Khamenei memainkan peran yang penting di dalamnya. Ketika muncul gerakan separatisme di sejumlah kawasan perbatasan, Imam Khomeini memberikan kepercayaan penuh kepada Ayatullah Khamenei untuk menjadi wakil Imam dengan wewenang penuh di Dewan Tinggi Keamanan. Dengan kepercayaan dan tugas ini, beliau setiap minggu menyampaikan laporan keamanan dan informasi-informasi penting kepada Imam.

Di saat yang sama, Imam menunjuk Ayatullah Khamenei sebagai Imam Jumat kota Tehran. Untuk menjadi imam Jumat di kota yang besar dan penting seperti Tehran, diperlukan sosok figur yang selain menguasai Islam secara mendalam juga memiliki pendangan politik yang tajam dan cermat. Sebab, dalam khutbah Jumat Tehran, khatib bertugas menyampaikan perkembangan terkini di dalam negeri dan transformasi dunia dengan baik dan analisa yang benar. Kriteria itu ada pada diri Ayatullah Khamenei. Kepiawaian beliau dalam berpidato semakin meyakinkan semua orang bahwa Imam telah memilih orang yang tepat.

Di usianya yang masih seumur jagung, pemerintahan Islam di Iran menghadapi masalah besar dan konspirasi jahat yang muncul di dalam negeri maupun yang datang dari luar. Semuanya berusaha merongrong dan menumbangkan pemerintahan Islam ini. Dengan dorongan dan bantuan Barat, tahun 1980, Saddam Hossein menyerang Iran. Perang terjadi ketika Iran masih berbenah diri pasca peralihan kekuasaan dari rezim Shah ke pemerintahan Islam bentukan revolusi. Dalam kondisi seperti itu, Ayatullah Khamenei yang mengenal betul jiwa pemuda Iran, segera mengenakan pakaian militer dan terjun langsung ke medan perang. Beliau aktif mengkoordinasi pasukan relawan. Setiap Jumat, beliau kembali ke Tehran untuk menjelaskan kondisi medan perang kepada rakyat lewat khutbah Jumat.

Kecakapan, budi pekerti yang luhur, ilmu yang luas dan sifat-sifat mulia lainnya yang ada pada diri Ayatullah Khamanei telah menjadikan beliau figur yang sangat penting dalam sejarah pemerintahan Islam di Iran. Di sela-sela tugas yang berat dan pekerjaan yang banyak, beliau masih menyisakan waktu untuk menjalin hubungan dengan generasi muda. Beliau menaruh perhatian yang sangat besar kepada para pemuda khususnya mahasiswa dan pelajar. Hujjatul Islam Nateq Nuri mengatakan, “Selain ahli ibadah, Ayatullah Khamenei punya akhlak yang mulia dan selalu tampil ceria. Di zaman itu, beliau dikenal sebagai rohani cendekiawan yang menjalin kontak dengan kalangan mahasiswa. Padahal di zaman itu sedikit sekali ulama yang mempunyai hubungan dengan mahasiswa.”

Tahun 1980, Ayatullah Khamenei terpilih dengan suara yang sangat besar untuk menjadi salah satu wakil warga Tehran di parlemen.  Setahun berikutnya di forum parlemen, dengan lantang dan berani, beliau membeberkan pengkhianatan yang dilakukan Presiden saat itu Abol Hassan Bani Sadr dan komplotannya. Pembicaraan beliau itu disambut baik oleh para anggota parlemen yang lain. Akhirnya parlemen memutuskan untuk membuat memo ketidaklayakan politik Bani Sadr untuk duduk di kursi kepresidenan Republik Islam Iran. Sehari berikutnya, Imam Khomeini mencopot sang presieden dari jabatannya. Bani Sadr yang dalam pengejaran aparat keamanan berhasil melarikan diri ke Perancis.

Isu Bani Sadr masih terus berlanjut dengan kian aktifnya kubu kontra revolusi dalam menebar teror. 27 Juni 1981, anasir kontra revolusi meledakkan bom di mimbar tempat Ayatullah Khamenei berpidato di masjid Abu Dzar Tehran. Dalam insiden itu, beliau mengalami luka parah yang berujung pada kelumpuhan tangan kanannya. Mengomentari insiden teror tersebut, Imam Khomeini menyampaikan pesan yang ditujukan kepada Ayatullah Khamenei, “Orang-orang munafik ini sedemikian dangkal dalam memahami politik sehingga tak lama setelah Anda menyampaikan pandangan di parlemen, mimbar Jumat dan di depan rakyat mereka merencanakan pembunuhan terhadap orang yang dikenal oleh Muslimin dengan kebaikan dan keteguhannya.”

Setelah sembuh dari luka akibat insiden teror itu, kubu loyalis revolusi mendesak Ayatullah Khamenei untuk maju menjadi kandidat presiden. Melihat kondisi yang mendesak, beliau menerima usulan itu. Ayatullah Khamenei memperoleh suara yang spektakuler dalam pemilu presiden yang digelar di bulan Oktober 1981. Mengenai pemilihan presiden, Ayatullah Khamenei menceritakan, “Saya terpilih dua kali menjadi Presiden. Tapi pada kedua pemilu itu saya sebenarnya menolak. Pada periode kedua saya mendatangi Imam untuk menyatakan bahwa kali ini saya tidak akan maju mencalonkan diri. Tapi Imam mengatakan, “Kau harus maju.” Artinya wajib untuk maju mencalonkan diri. Saya tidak bisa mengelak satu hal yang sudah menjadi kewajiban.”

Saat menjabat sebagai presiden di masa-masa yang genting dan sulit itu, Ayatullah Khamenei melakukan banyak hal untuk membenahi kondisi yang ada. Selain menertibkan masing-masing instasi negara dengan wewenang dan tugas yang jelas, beliau juga menyelesaikan konflik-konflik yang muncul di antara organ-organ pemerintahan.

Ayatullah Khamenei adalah sosok presiden yang sangat aktif dalam diplomasi luar negeri. Beliau menggelar 185 pertemuan dengan para tokoh dunia. Selain aktif di tengah percaturan politik dunia, banyaknya surat menyurat beliau adalah titik cemerlang dalam kehidupan Ayatullah Khamenei. Meski Iran menghadapi berbagai embargo dan sanksi, saat menjabat sebagai Presiden, Ayatullah Khamenei mengunjungi sejumlah negara untuk menyampaikan pesan suci Revolusi Islam kepada berbagai bangsa.

Setelah wafatnya Imam Khomeini, pada tanggal 4 Juni 1989, Majles-e Khebregan-e Rahbari (Dewan Ahli Kepemimpinan) yang bertugas memilih pemimpin revolusi menggelar sidang. Dalam sidang yang diselenggarakan dalam kondisi sangat mendesak itu, Dewan Ahli dengan suara mendekati aklamasi menunjuk Ayatullah Khamenei menjadi Pemimpin Revolusi Islam. Keputusan itu semakin bulat setelah terungkap bahwa sejak lama Imam Khomeini sudah menyatakan dukungannya kepada kepemimpinan Ayatullah Khamenei sepeninggal beliau. Dalam sidang itu, hanya ada satu suara yang menentang keputusan Dewan Ahli yaitu Ayatullah Khamenei sendiri. Beliau menyadari bahwa tugas ini adalah tanggung jawab yang sangat berat. Akhirnya, beliau pasrah kepada keputusan Dewan Ahli Kepemimpinan dan menerima tanggung jawab memimpin revolusi Islam menuju cita-cita luhurnya.

Ayatullah Khamenei adalah fakih sempurna dan insan dengan ketakwaan yang tinggi. Selama perjuangan, beliau menanggung banyak derita dan kesusahan dengan beberapa kali ditangkap dan dipenjarakan. Segala siksaan di penjara beliau hadapi dengan tabah.  Ayatullah Khamenei telah mewakafkan seluruh hidupnya untuk Islam dan kemajuan Revolusi Islam. Semua orang meyakini bahwa tak ada yang lebih layak dari beliau untuk menggantikan Imam Khomeini. Ketajaman pandangan dan keluasan ilmunya membuktikan bahwa Dewan Ahli Kepemimpinan tak salah saat memilih Ayatullah Khamenei menjadi Pemimpin Revolusi Islam. (IRIB Indonesia)

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Biografi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s