Mengenal Cendekiawan Kontemporer Iran, Ayatullah Khamenei (Bagian Keempat)

Tahun 1989, dengan wafatnya Imam Khomeini, Ayatullah Khamenei, ulama pejuang dan tokoh dengan segudang pengalaman dipilih oleh Dewan Ahli Kepemimpinan sebagai Pemimpin Revolusi Islam. Beliau menerima amanat kepemimpinan ini di saat Iran sedang dalam kondisi yang sangat sulit. Pemerintahan Islam baru berusia sepuluh tahun sementara negara baru saja keluar dari perang delapan tahun yang menghancurkan. Di sisi lain, makar dan tipu daya pihak luar untuk melumpuhkan dan menghancurkan pemerintahan Islam  tak pernah berhenti bahkan cenderung semakin meningkat. Tekanan dari segala penjuru, boikot ekonomi dan perdagangan, propaganda miring yang sangat gencar, dan berbagai masalah lain adalah kesulitan yang dihadapi Iran dan pemerintahan Islam ini di masa itu.

 

Akan tetapi, ketika niat tulus dan bersungguh-sungguh untuk menegakkan agama Ilahi, bantuan dan inayah Allah akan selalu menyertai. Di masa-masa yang sulit itu, Ayatullah Khamenei tampil menjadi pemimpin bagi bangsa Iran dan revolusi ini. Rakyat menyatakan baiat dan janji setia kepada pemimpin yang baru. Kepatuhan rakyat kepada pemimpin dan kearifan sang pemimpin dalam menjalankan tugasnya berhasil menggagalkan konspirasi demi konspirasi yang dilakukan musuh terhadap bangsa dan negara ini. Lebih dari dua dekade Ayatullah Khamenei memimpin revolusi ini dan menyelamatkannya dari tipudaya dan makar musuh-musuh Islam.

Ayatullah Khamenei adalah sosok figur yang menatap jauh ke depan. Analisa-analisanya tajam. Beliau mengenal musuh dengan baik. Slogan utama yang selalu diangkatnya adalah slogan-slogan yang disuarakan oleh Imam Khomeini. Beliau sangat peduli dan percaya akan potensi dan kemampuan para pemuda. Bimbingan-bimbingan dan arahan yang diberikannya menjadi pelita penerang jalan bagi bangsa ini dalam melangkah ke arah cita-cita revolusi Islam.

Yayasan Carrangi di Amerika pada tahun 2009 menerbitkan satu artikel tentang Ayatullah Khamenei. Artikel itu menyebutkan, “Mungkin di dunia ini tidak ada seorangpun pemimpin yang sangat peduli untuk mencermati perkembangan dunia seperti Ayatullah Khamenei. Namun, masyarakat  dunia tidak banyak mengenalnya.” Artikel ini melanjutkan, “Republik Islam berjalan sesuai dengan arahan Imam Khomeini lewat tulisan dan pidato-pidatonya. Dan itu pula yang menjadi landasan Ayatullah Khamenei dalam mengumumkanm empat tujuan revolusi, yaitu keadilan, kemerdekaan, swasembada dan spiritualitas agama.”

Sebagian besar pemikir yang berbicara soal keadilan biasanya hanya memfokuskan pandangan pada masalah teori keadilan saja. Akan tetapi, Ayatullah Khamenei mengulas masalah keadilan lebih jauh dengan memaparkan teori pelaksanaannya di tengah masyarakat Islam. Para teoretis Barat, khususnya yang meyakini ideologi liberalisme dan kapitalisme percaya bahwa kemajuan dan pembangunan adalah mukaddimah untuk mewujudkan keadilan. Artinya, menurut mereka, gairah pertumbuhan ekonomi pada akhirnya akan mewujudkan keadilan bagi masyarakat kelas bawah.

Dalam perspektif Ayatullah Khamenei, pandangan Barat itu bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab, kemajuan dan pembangunan harus diarahkan dan didevinisikan untuk mewujudkan keadilan sosial. Beliau mengatakan, “Kita tidak mendukung sebagian pandangan dan kebijakan yang dikenal umum dan didukung di dunia saat ini, yang hanya memikirkan kemajuan dan pertumbuhan kekayaan negara tanpa memikirkan keadilan bersamanya. Teori ini tidak sejalan dengan logika kita. Inovasi  yang ada pada sistem negara kita terletak pada hal ini bahwa kita ingin mewujudkan keadilan yang seiring dengan pembangunan dan kemajuan ekonomi.”

Menurut beliau, keadilan adalah tujuan sedangkan pembangunan dan kemajuan adalah sarana untuk mewujudkan keadilan. Ayatullah Khamenei menegaskan, “Kita menginginkan tegaknya keadilan di tengah masyarakat. Semua yang dilakukan akan bernilai jika ditujukan untuk menegakkan keadilan. Dalam sebuah masyarakat yang tidak adil, kekayaan yang banyak hanya dimiliki oleh sekelompok orang. Tapi dalam masyarakat yang adil semua memperoleh manfaat.”

Dalam banyak kesempatan, beliau mengingatkan para pejabat negara untuk lebih peduli kepada masyarakat kelas bawah. Kepada para anggota parlemen, beliau menegaskan untuk menyusun undang-undang yang adil dan membela kepentingan dan hak rakyat kecil. Sejak berdirinya pemerintahan Islam, kabinet yang terbentuk selalu peduli dengan hak dan kepentingan rakyat umum dan kalangan bawah. Dalam dua periode pemerintahan terkini, presiden dan anggota kabinet mengunjungi hampir semua kota dan desa terpencil. Mereka menjalin kontak langsung dengan rakyat untuk mendengar keluhan dan masalah mereka dari dekat. Dengan cara itu, pemerintah bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang diperlukan.

Salah satu masalah penting yang ditekankan oleh Ayatullah Khamenei adalah independensi Republik Islam Iran. Dunia menyaksikan sikap tegas pemimpin yang disebut Rahbar ini tak lama setelah Imam Khomeini wafat. Saat itu, negara-negara Barat yang menuntut Iran mencabut vonis mati atas penulis murtad “Ayat-Ayat Setan”, Salman Rushdie dengan melakukan propaganda dan langkah-langkah politik yang gencar. Salah satu langkah adalah dengan memanggil duta besar dan perwakilan resmi mereka dari Tehran. Tindakan negara-negara Barat itu disikapi dengan tegas oleh Ayatullah Khamenei.

Beliau mengatakan, “Tak ada yang bisa dilakukan duta-duta besar itu kecuali kembali ke Tehran.” Sebagian kalangan di dalam negeri merespon dingin sikap tegas ini. Namun, berlalunya waktu membuktikan bahwa sikap Rahbar punya efek jera terhadap Barat. Tak lama, negara-negara itu kembali mengirim duta besarnya ke Iran, dengan memanfaatkan gelapnya malam dan jauh dari liputan media. Padahal, vonis mati terhadap Salman Rushdie tetap berlaku. Kejadian itu membuat Iran semakin terhormat di mata dunia.

Kearifan dan ketajaman pandangan politik Rahbar kembali disaksikan dunia ketika Saddam Husein mengivasi Kuwait tahun 1990. Setelah menduduki Kuwait, AS membentuk koalisi anti Saddam sampai terjadi perang Teluk. Ketika terjadi pendudukan Kuwait oleh Saddam, di Iran sebagian kalangan mendesak pemerintah untuk membantu Irak dan berperang melawan AS. Tapi Ayatullah Khamenei mengatakan, “Ini tak lebih dari jebakan, dan jangan sampai kita membantu rezim Irak.”

Di kemudian hari terbukti bahwa masalah itu memang ibarat jebakan yang bisa menenggelamkan Iran ke dalam masalah besar. Sikap bijak dan arif Rahbar berhasil menyelamatkan Iran dan pemerintahan Islam dari kesulitan yang mungkin menimpanya. Dalam isu itu dari negara-negara kawasan hanya Iranlah yang selamat. Sebab, sebagian besar negara Arab terpaksa harus memberi AS dana sebesar 53 miliar USD untuk membiayai perang. Dan itu adalah kerugian ekonomi yang sangat besar.

Selama memimpin revolusi ini, Ayatullah Khamenei ibarat nakhoda yang berhasil memandu bahtera revolusi dan pemerintahan Islam di tengah gelombang raksasa dan badai yang datang silih berganti. Pengalaman membuktikan bahwa Rahbar adalah sosok pemimpin yang memahami agenda-agenda musuh jauh lebih baik dan mendalam dibanding siapapun juga. Beliau sudah bisa membaca skenario musuh jauh sebelum orang lain memahaminya. Salah satu contoh nyata adalah rangkaian peristiwa pasca pemilu tahun 2009 yang biasa disebut dengan gerakan fitnah.

Bulan Juni tahun 2009, Iran menggelar pemilu presiden yang diikuti oleh 85 persen pemilik hak suara. Namun fenomena spektakuler itu dimanfaatkan oleh sejumlah kalangan untuk merongrong negara, lewat gerakan yang didukung media dan finansial Barat terutama AS. Kearifan dan kebijaksanaan Rahbar dalam memimpin revolusi ini berhasil menggagalkan skenario asing yang berusaha melumpuhkan revolusi dan pemerintahan Islam.

Hujjatul Islam Mohseni Ijei, Jaksa Agung Iran mengenai peran Ayatullah Khamenei dalam meredam fitnah, mengatakan, “Sebelum pemilu dilaksanakan ketika AS menunjukkan sikap yang relatif lunak sebagian pejabat negara menanyakan kepada Rahbar, mengapa kita tidak berunding dengan AS? Biarkan pintu kita terbuka bagi Barat dan AS. Kita bisa memberi visa seminggu bagi siapa saja yang mau berkunjung ke negara ini. Saat itu beliau menjawab, “Ini adalah bagian dari skenario mereka. Mungkin apa yang dikatakan para pejabat AS tidak lebih dari sekedar taktik.” Seperti yang kita saksikan sendiri dengan sedikit bersabar, muncul  rangkauian peristiwa pasca yang membuktikan kebenaran prediksi Rahbar bahwa sikap lunak AS hanya sekedar taktik untuk menyulut kerusuhan di Iran.”

Ayatullah Khamenei sudah bisa membaca dengan baik tipu muslihat AS dalam setiap langkahnya. Beliau menjelaskan semua itu dan mengajak seluruh elemen bangsa Iran untuk pandai-pandai membaca situasi.(IRIB Indonesia)

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Biografi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s