Mengenal Cendekiawan Kontemporer Iran, Ayatullah Khamenei (Bagian Kedua)

Kebesaran kepribadian seseorang sangat bergantung pada keputusan penting yang diambilnya dalam kehidupan. Menelaah kehidupan tokoh-tokoh besar yang sukses akan membawa kepada kenyataan bahwa mereka umumnya berkompeten dalam meraih cita-cita yang tinggi dan untuk mencapainya mereka selalu komitmen dengan apa yang mereka kejar. Mereka tak pernah dilanda kebingungan atau ketidakpastian. Saat menghadapi berbagai macam kondisi yang genting sekalipun mereka tetap bisa mengambil keputusan yang bijak. Karena itu, kisah kehidupan orang-orang besar ini selalu sarat dengan pelajaran yang berharga bagi kita.

 

Setelah sedikit banyak mengenal kehidupan Ayatullah al-Udzma Khamenei, ada baiknya kita mencermati perilaku beliau dan keputusan-keputusan besar yang beliau ambil khususnya di saat-saat yang punya kekhususan tersendiri.  Pada pembicaraan yang lalu sudah dijelaskan bahwa saat masih berusia muda Sayid Ali Khamenei pergi ke kota Qom untuk melanjutkan pendidikan agama Islam di Hauzah Ilmiah. Di kota ini, selain belajar beliau juga terjun ke dalam perjuangan melawan rezim Shah seiring dengan dimulai gerakan kebangkitan Imam Khomeini.

Saat berusia 25 tahun, Sayid Ali Khamenei mengambil satu keputusan penting dalam hidupnya. Beliau menerima sepucuk surat dari ayahnya yang meminta beliau untuk kembali ke Mashad. Sebab, sang ayah terkena katarak dan kehilangan penglihatan. Sayid Ali diminta untuk menemani ayahnya selama masa pengobatan.

Dalam hal ini Ayatullah Khamenei mengatakan, “Saya pulang ke Mashad dan Allah Swt telah melimpahkan petunjuk-Nya kepada kami. Yang terpenting adalah saya telah melaksanakan tugas dan tanggung jawab saya. Jika saya mendapatkan anugerah, itu dikarenakan kepercayaan saya untuk selalu berbuat baik kepada ayah dan ibu saya”.

Dihadapkan pada dua pilihan sulit tersebut, Ayatullah Khamenei mengambil keputusan yang tepat. Sejumlah guru dan rekan beliau sangat menyayangkan mengapa beliau sedemikian cepat meninggalkan hauzah ilmiah Qom, karena mereka berpendapat jika tinggal sedikit lebih lama lagi maka beliau akan menjadi demikan dan demikian… Namun fakta di masa depan membuktikan bahwa Ayatullah Khamenei memilih pilihan yang tepat dan perjalanan hidup yang ditetapkan oleh Allah Swt untuk beliau lebih tinggi dan mulia dari apa yang mereka perkirakan. Adakah orang yang menduga bahwa ulama muda berusia 25 tahun yang cerdas dan berbakat ini, yang pergi meninggalkan Qom untuk merawat kedua orang tuanya, kelak 25 tahun kemudian diangkat menjadi pemimpin umat?

Di Mashad, Ayatullah Khamenei tidak menginggalkan pelajarannya. Selain hari libur, dan pada waktu berjuang, dipenjara, atau bepergian, beliau tetap melanjutkan pelajaran tingkat tinggi fiqih dan ushul hingga tahun 1347 Hijriah Syamsiah (1768) dari para guru besar hauzah Mashad khususnya Ayatullah Milani. Tidak hanya itu, sejak tinggal di Mashad tahun 1343 Hijriah Syamsiah (1964) untuk merawat kedua orang tuanya, Ayatullah Khamenei juga memberikan pelajaran ilmu fiqih, ushul, dan maarif Islami kepada para pelajar agama muda dan mahasiswa.

Ayatullah Khamenai yang sangat mengagumi Imam Khomeini dan bergerak mengikuti setiap langkah sang pemimpin. Beliau diinstruksikan oleh Imam Khomeini untuk mengungkap kebobrokan Rezim Shah dan politik AS. Oleh sebab itu, pada tanggal 2 Juni 1963, beliau ditangkap dan ditahan semalam. Keesokan harinya beliau dibebaskan dengan syarat tidak lagi berpidato di atas mimbar. Gerak gerik beliau pun diawasi oleh aparat. Menyusul terjadinya peristiwa berdarah 15 Khordad (5 Juni 1963), beliau kembali ditangkap dan diserahkan ke penjara militer di kota Mashad. Beliau mendekam selama 10 hari dalam penjara tersebut dan selama itu pula beliau menjadi mangsa aksi penyiksaan sadis.

Pada bulan Februari 1963 atau Ramadhan 1383 Hijriah, Ayatullah Khamenei bersama beberapa rekan beliau pergi menuju Kerman dengan perencanaan yang matang. Setelah dua atau tiga hari berpidato dan bertemu dengan ulama dan para pelajar agama di Kerman, beliau melanjutkan perjalanannya menuju kota Zahedan. Pidato beliau yang penuh semangat khususnya pada tanggal 6 Bahman (26 Januari) hari ulang tahun pemilihan umum dan referendum palsu yang digelar Rezim Shah- mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Ketegasan dan keberanian serta semangat revolusi Ayatullah Khamenei dalam mengungkap politik setan dan ala AS Rezim Shah Pahlevi, membuat beliau ditangkap Savak. Beliau oleh Savak ke Tehran dengan menggunakan pesawat untuk dijebloskan ke dalam sel perorangan di penjara Qezel Qal’eh selama kurang lebih dua bulan. Selama itu pula beliau bersabar menahan segala macam penyiksaan.

Kelas pelajaran tafsir, hadis, dan pemikiran Islami beliau di kota Mashad dan Tehran, mendapat perhatian yang luar biasa dari para pelajar muda revolusioner. Hal inilah yang kembali membuat para agen SAVAK geram dan selalu mengawasi aktivitas Ayatullah Khamenei. Karena diawasi, pada tahun 1967 Ayatullah Khamenei beraktivitas secara sembunyi-sembunyi. Setahun kemudian, beliau ditangkap dan dipenjara. Pada tahun 1970, untuk keempat kalinya beliau ditangkap oleh SAVAK karena berbagai aktivitas ilmiah dan perjuangan beliau terhadap Rezim Shah.

Antara tahun 1971-1974, Ayatullah Khamenei membuka pelajaran tafsir al-Quran dan ideologi di masjid Karamat, masjid Imam Hasan dan masjid Mirza Jafar di kota Masyhad. Ribuan orang, khususnya para pemuda, pelajar dan santri datang mengikuti pelajaran di ketiga masjid itu. Mereka ingin mengenal lebih jauh pemikiran-pemikiran Islam sejati. Beliau juga membuka pelajaran Najhul Balaghah yang mendapat sambutan luas. Dari pelajaran itu disusun diktat yang diperbanyak dan disebarkan dari tangan ke tangan.

Para santri muda revolusioner setelah mempelajari pemikiran Islam dan perjuangan dari Ayatullah Khamenei menyebar ke berbagai kota untuk ikut menyebarkan pemikiran yang mencerahkan ini.  Proses inilah yang menjadi cikal bakal terbentuknya kekuatan rakyat Iran melawan rezim Pahlevi yang despotik. Akibatnya, Dinas Intelijen rezim Shah, Savak pada bulan Januari 1975 menyerbu rumah kediaman Ayatullah Khamenei dan menyeret beliau ke kamp penahanan. Masa penahanan yang keenam ini adalah yang tersulit bagi Ayatullah Khamenei. Kepedihan yang dialami Ayatullah Khamenei selama masa penahanan itu menurut beliau hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang pernah merasakan kondisi yang sama.

Bebas dari penjara setelah menanggung penderitaan yang sangat dalam tahanan rezim Shah, Ayatullah Khamenei kembali ke kota kelahirannya, Mashad, untuk melanjutkan aktvitas keilmuan dan perjuangannya. Namun kali ini, Savak tidak mengizinkan beliau menggelar kelas pengajaran seperti sebelumnya. Aktivitas perjuangan Ayatullah Khamenei terus dipantau oleh agen-agen rahasia rezim Shah. Akhirnya, rezim memutuskan untuk mengasingkan Ayatullah Khamenei  ke kota Iranshahr yang terpencil dan bersuhu panas di tenggara Iran.

Haidar Rahim Pour Azghadi mengenai pengasingan Ayatullah Khamenei ke Iranshahr mengatakan, “Saya bersama empat rekan memutuskan untuk pergi mengunjungi mereka yang diasingkan oleh rezim. Kami sudah menyiapkan uang untuk kami berikan kepada mereka sebagai bekal memenuhi kehidupan mereka sehari-hari. Orang pertama yang kami kunjungi adalah Ayatullah Khamenei. Sebelum pergi, kami membayangkan bahwa beliau dalam keadaan yang sangat sulit. Sebelum pergi, istriku memberikan semua perhiasannya dan memintaku untuk memberikannya kepada Ayatullah Khamenei. Kamipun pergi ke Iranshahr untuk menemui Ayatullah Khamenei. Setelah mengetahui maksud kedatangan kami, beliau tertawa dan mengatakan, warga sini bersamaku. Memang benar. Hanya dalam waktu yang singkat beliau sudah akrab dengan semua orang. Seakan beliau sudah sepuluh tahun berada di tengah mereka.”

Akhirnya pada pertengahan tahun 1978 saat gejolak perjuangan rakyat melawan rezim Shah kian memuncak, Ayatullah Khamenei dibebaskan dari hukuman pengasingan. Menjelang kedatangan Imam Khomeini ke Iran pada bulan Februari 1979, lewat instruksi Imam Khomeini, Ayatullah Khamenei bersama beberapa rekan seperjuangannya ditunjuk sebagai anggota Dewan Revolusi Islam. Dewan ini bertugas mempersiapkan pembentukan pemerintahan sementara. Keanggotaan di Dewan Revolusi adalah tugas pertama yang diterima secara resmi oleh Ayatullah Khamenei dari sang pemimpin, Imam Khomeini.

Selama perjuangannya, Ayatullah Khamenei banyak melakukan perjalanan ke berbagai kota. Dengan mengunjungi banyak kota, Ayatullah Khamenei membentuk pusat-pusat kegiatan untuk mendukung perjuangan di mana-mana. Haidar Rahimpour Azghadi mengatakan, “Demi Allah, sebelum beliau diangkat menjadi Pemimpin Revolusi Islam tidak ada yang mempunyai teman dan kenalan sebanyak Ayatullah Khamenei yang tersebar di seluruh Iran. Beliau mengenal nama mereka satu persatu. Setelah Imam Khomeini, tak ada seorangpun yang punya andil lebih besar dari Ayatullah Khamenei membangun revolusi.” (IRIB Indonesia)

Iklan
By komunitasahlilbaitlombok Posted in Biografi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s