Khotbah Fadak; Memulai Pidato dengan Mengucapkan Hamdalah (Bagian Pertama)

Masyarakat Kembali Menangis

اِفْتَتَحَتِ الْكَلامَ بِحَمْدِ اللّهِ وَ الثَّناءِ عَلَيْهِ وَ الصَّلاةِ عَلی رَسُولِ اللّه (ص)

Iftatahat al-Kalaama bi Hamdillah wa al-Tsanaa’i ‘alaihi wa al-Shalaati ‘ala Rasulillaah

(Sayidah Fathimah az-Zahra kemudian membuka khotbahnya dengan mengucapkan al-Hamdulillah dan memuji Allah serta menyampaikan shalawat kepada Rasulullah Saw)

Ketika masyarakat sudah lebih tenang, Sayidah Fathimah az-Zahra memulai khotbahnya dengan memuji Allah Swt yang diikuti dengan ucapan shalawat kepada Rasulullah Saw. Perhatikan lebih seksama, bagaimana Sayidah Fathimah az-Zahra tetap menggunakan metode yang dipakai oleh ayahnya.

فَعٰادَ الْقَوْمُ فی بُكائِهِمْ

Fa ‘Aada al-Qoumu fi Bukaaihim

(Masyarakat kembali menangis)

Ketika Sayidah Fathimah az-Zahra as mulai berpidato, masyarakat kembali menangis.

فَلَمّا أَمْسَكُوا

Fa lammaa Amsakuu

(Kemudian mereka terdiam)

Setelah menangis, masyarakat yang hadir di masjid kemudian terdiam. Dari sini dapat dipahami bahwa Sayidah Fathimah as bersabar sehingga tangisan masyarakat terhenti.

عٰادَتْ فی كَلامِهٰا

‘Aadat fi Kalaamiha

(Sayidah Fathimah az-Zahra as kembali berbicara)

Ketika sampai pada kondisi dimana Sayidah Fathimah az-Zahra kembali berbicara, kita dapat memahami bagaimana beliau tiba di masjid, cara berpakaian beliau, berjalan, masuk ke masjid, duduk dan persiapannya untuk menyampaikan khotbah.

Melihat kondisi masjid yang kembali tenang, Sayidah Fathimah az-Zahra as memulai kembali pidatonya dan kita kaji bersama khotbahnya.

Memuji Allah dan Mensyukuri Nikmat

فَقٰالَتْ: اَلْحَمْدُلِلّهِ عَلی ما أنْعَمَ وَ لَهُ الشُّكْرُ عَلی ما أَلْهَمَ

Fa Qaalat: Al-Hamdulillah ‘ala maa An’ama wa lahu as-Syukru ‘alaa maa Alhama

(Kemudian beliau berkata, “Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya dan syukur atas segala ilham-Nya)

Perlu diingat kembali bahwa dalam penjelasan Khotbah Fadak ini, metode yang dipakai adalah menjelaskan secara ringkas apa yang ada dalam khotbah ini. Karena masih banyak yang bisa dijelaskan mengenai hakikat “Hamd” (pujian) dan “Syukr” (syukur).

Hamdadalah pujian yang disampaikan terkait kesempurnaan, sementara Syukr merupakan bentuk penghargaan atas satu pekerjaan. Syukur atau penyaksian pemberi nikmat terjadi di tengah-tengah nikmat dan atau upaya melewati nikmat untuk sampai kepada pemberi nikmat. Oleh karenanya, syukur memiliki dampak yang berbeda-beda dalam dimensi wujud manusia. Dalam hati manusia ia muncul dalam bentuk yang berbeda, dalam lisan penampakannya juga lain dan begitu juga ia mengambil bentuknya sendiri dalam amal perbuatan manusia.

Syukur dalam hati manusia akan muncul dalam bentuk ketundukan, kekhusyuan, kecintaan, ketakutan dan sifat-sifat yang semacam ini. Bagi lisan, syukur akan menampakkan dirinya dalam bentuk pujian, sementara dalam perbuatan, syukur tampil dalam bentuk ketaatan, mengkonsumsi nikmat di jalan keridhaan pemberi nikmat dan lain-lain.

Dengan demikian, Hamd dan Syukr bila dinisbatkan kepada Allah dari sisi penampakan lisan memiliki satu arti. Tapi bila yang dipuji itu adalah sifat dermawan, misalnya, maka ini merupakan Hamd. Karena Hamd merupakan pujian atas sifat. Tidak demikian dengan Syukr yang merupakan penghargaan atas satu pekerjaan, dimana pekerjaan itu sendiri bersumber dari sifat. Kesimpulannya, Syukr cakupannya lebih sempit ketimbang Hamd.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

Qaala Sami’tu Abaa Abdillah ‘alaissalaam Yaquulu: Syukru Kulli Ni’matin wa in ‘Azhumat an Tahmida Allahi ‘Azza wa Jalla ‘alaiha

قالَ سَمِعْتُ أَبا عَبْدِاللّه(ع) يَقُولْ: شُكْرُ كُلِّ نَعْمَةٍ وَ إنْ عَظُمَتْ أنْ تَحْمِدَ اللّهِ عَزَّوَجَلَّ عَلَيْها

(Saya mendengar bahwa Imam Shadiq as berkata, “Syukur dan penghargaan atas setiap nikmat, seberapapun agungnya nikmat itu adalah dengan memuji Allah Swt.)

Coba perhatikan dengan seksama, bagaimana dalam hadis ini menyamakan antara Hamd dan Syukr. Memuji kesempurnaan Allah disamakan dengan memberikan penghargaan kepada Allah  dan mengucapkan terima kasih kepada-Nya. Pada saat yang sama, ketika kalian ingin memberikan penghargaan kepada-Nya, maka yang harus kalian lakukan adalah memuji kesempurnaan-Nya. Bahkan dalam riwayat disebutkan bahwa paling utama dalam mengucapkan syukur dengan lisan adalah memuji-Nya. Artinya, keutamaan paling tinggi dalam syukur pada tataran lisan adalah memuji Allah atau mengucapkan Alhamdulillah. Tentu saja ada rahasia dalam masalah ini, tapi untuk sementara tidak akan kita bahas.

Sebuah hadis dalam buku Ushul al-Kafi menyebutkan:

خَرَجَ أَبا عَبْدِاللّهِ(ع) مِنَ الْمَسْجِدِ وَ قَدْ ضٰاعَتْ دابَّتَهُ فَقَال: لَئِنْ رَدَّهَا اللّهُ عَلَی لَأَشْكُرَنَّ اللّهَ حَقَّ شُكْرِهِفَمٰا لَبِثَ أنْ اُتِی بِها فقال: أَلْحَمْدُلِلّهِ فَقالَ لَهُ قٰائِل جعلت فِداكَ أَلَيْسَ قُلْتَ لَأَشْكُرَنَّ اللّهَ حَقَّ شُكْرِهِ فَقالَ أَباعَبْدِاللّهِ(ع): ألَمْ تَسْمِعُنی قُلْتُ أَلْحَمْدُلِلّه؟

Kharaja Abu Abdillah min al-Masjidi wa qad Dhaa’at Daabbatuhu fa Qaala: lain Raddahaa Allahu ‘alayya la Asykuranna Allah Haqqa Syukrihi. Qaala famaa Labitsa an Utiya bihaa. Fa Qaala: Alhamdulillah. Fa Qaala lahu qaailun: Ju’iltu Fidaaka. Alaisa Qulta la Asykuranna Allah Haqqa Syukrihi. Fa Qaala Abu Abdillah: Alam Tasma’uni Qultu Alhamdulillah?

(Imam Shadiq as keluar dari masjid dan menemukan hewan tunggangannya tidak ada pada tempatnya. Beliau kemudian berkata, “Bila Allah mengembalikannya kepadaku, niscaya aku akan mensyukuri-Nya dengan sebenar-benar syukur. Tidak berapa lama tunggangannya telah kembali. Imam Shadiq as kemudian berkata, “Alhamdulillah.” Seseorang berkata kepada beliau, “Aku menjadi tebusanmu! Bukankah Engkau berkata aku akan mensyukuri-Nya dengan sebenar-benar syukur, sementara Engkau belum mengucapkan “Syukran lillah“? Abu Abdillah as menjawab, “Apakah engkau tidak mendengar aku berkata “Alhamdulillah?”)

Dari riwayat-riwayat semacam ini dapat disimpulkan bahwa bentuk syukur yang paling utama adalah memuji kesempurnaan Allah Swt. Yakni, sekalipun Hamd itu pujian akan kesempurnaan Allah danSyukr adalah penghargaan atas nikmat, tapi bila keduanya dinisbatkan kepada Allah Swt, maka Hamdmemiliki makna yang sama dengan Syukr, tapi yang lebih utama adalah Hamd baru Syukr. Ini dilihat dari sisi lisan. Jadi dari sisi lisan, pujian kepada Allah Swt dilakukan dengan mengucapkan Alhamdulillah. Sementara dari sisi amal perbuatan dilakukan dengan ketaatan dan menggunakan nikmat di jalan yang diridhai Allah Swt.

Kita kembali pada ucapan Sayidah Fathimah az-Zahra as.

أَلْحَمْدُلِلّهِ عَلی ما أَنْعَمَ وَ لَهُ الشُّكْرُ عَلی ما أَلْهَمَ

“Al-Hamdulillah ‘ala maa An’ama wa lahu as-Syukru ‘ala maa Alhama”

(Segala puji bagi Allah atas segala nikmat-Nya dan syukur atas segala ilham-Nya)

Secara ringkas, ilham dalam bahasa adalah penyampaian sesuatu ke dalam jiwa dan wahyu sendiri artinya adalah isyarat yang cepat. Di sini, yang dimaksud dengan ilham adalah makrifat dan pengetahuan di dalam jiwa yang diberikan Allah kepada manusia. Wahyu lebih umum dari ilham. Karena wahyu bisa terjadi pada selain manusia, bahwa hewan seperti lebah madu. Dalam ayat al-Quran surat an-Nahl ayat 68 Allah Swt berfirman: “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah…”

Tapi ilham tidak demikian, cakupannya lebih sempit. Bahkan kita tidak menemukan kata ilham dalam al-Quran yang digunakan untuk selain manusia. Dengan demikian, hanya ada satu ilham yang bersifat umum untuk seluruh manusia. Bila dihubungkan dengan ucapan Sayidah Fathimah az-Zahra as “… dan syukur atas segala ilham-Nya”, maka yang dimaksud dengan ilham di sini adalah ilham yang bersifat umum dalam bentuk ilmu yang diistilahkan dengan akal praktis. Yakni, pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan yang telah ada dalam jiwa manusia sejak awal diciptakan. Ilham inilah yang membuat manusia dapat memahami indahnya sesuatu seperti keadilan dan buruknya sesuatu seperti kezaliman. Maksudnya, tidak perlu lagi kita mengajarkan kepada seseorang bahwa kezaliman itu buruk dan keadilan itu baik. Hal yang seperti ini tidak diajarkan, tapi Allah Swt telah memberikannya kepada manusia. Allah memberikan ilham ini kepada seluruh manusia. Mungkin saja ada yang ingin mempertanyakan masalah ini, tapi patut diketahui bahwa pertanyaan itu hanya menyangkut kasus dan bukan inti masalah.

Hal ini tidak lantas menafikan bahwa ilham ini berbeda-beda dan memiliki derajat bagi setiap orang. Ilham untuk nabi, wali Allah dan orang-orang bertakwa juga berbeda. Pada wali Allah pengetahuan ini lebih kuat, dimana akal kita biasanya tidak mampu memahaminya. Maksudnya, kita dapat memahaminya sampai pada batasan tertentu, tapi tidak akan sampai pada inti dan puncaknya. Kita tidak akan pernah mampu memahami ilham yang diberikan Allah Swt kepada hati-hati yang suci. Kesimpulannya, ilham adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah Swt kepada seluruh manusia.

Allah dalam surat as-Syams ayat 8 berfirman, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” Ini adalah akal praktis yang dimiliki oleh semua manusia. Itulah pengetahuan tentang kebaikan dan keburukan dan mana perbuatan yang baik dan mana yang buruk. Pengetahuan ini bersifat umum dan diberikan kepada semua manusia. Benar, para wali, nabi dan rasul Allah Swt mendapat ilham yang lebih khusus, tapi jenisnya satu. Yakni, semua ilham di setiap derajat yang ada merupakan pemberian Allah dan pengetahuan dalam diri manusia… Bersambung (IRIB Indonesia/Saleh Lapadi)

Sumber: Tehrani, Mojtaba, Sharhi Koutbah bar Khotbeh Fadak, Tehran, Moasseseh Farhanggi Pezhouheshi Masabih al-Hoda, 1390, cetakan kedua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s