Kemuliaan Akhlak Sayidina Hasan as

Imam Hasan as adalah cucu pertama Rasulullah Saw dari Ali bin Abi Thalib as dan Sayidah Fathimah as. Beliau lahir pada pertengahan bulan Ramadhan tahun 3 hijriah di kota Madinah. Ketika Rasul Saw diberi kabar tentang kelahiran cucu pertamanya itu, wajah beliau berseri-seri dan hatinya dipenuhi rasa gembira. Beliau bergegas menuju rumah Sayidah Fathimah as untuk melihat langsung cucunya itu. Sayidah Fathimah as langsung menyerahkan Imam Hasan as yang masih bayi kepada Rasulullah Saw.

Setelah menggendongnya, Rasul Saw kemudian membacakan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri Imam Hasan as. Ketika itu, malaikat Jibril as turun dan menyampaikan perintah Allah Saw kepada beliau agar menamakan cucu pertamanya dengan Hasan, yang berarti baik dan terpuji.

 

Kemudian Rasul Saw bersabda, “Ketahuilah bahwa Hasan adalah hadiah dari Allah Swt kepadaku. Hasan akan memberitahu tentangku kepada kalian dan mengajari kalian dengan ilmu-ilmuku. Dia akan menghidupkan sirah dan sunnahku, sebab akhlaknya sama seperti akhlakku. Semoga Allah merahmati orang yang mengenal Hasan dan berlaku baik kepadanya sebagai penghormatan atasku.”

 

Rasul Saw dan Ahlul Baitnya as adalah pribadi-pribadi mulia dan menyandang budi pekerti yang luhur. Umat manusia sangat mengagumi keutamaan-keutamaan yang dimiliki oleh Ahlul Bait as. Imam Hasan as dikenal sebagai Karim Ahlul Bait, yang berarti pemilik sifat dermawan, mulia, dan utama. Kata Karimdalam berbagai ayat dan riwayat adalah sekumpulan keutamaan dan sifat terpuji dan menjadi pembeda seseorang dengan yang lain. Dewasa ini, prioritas utama umat manusia adalah kebaikan akhlak dan keluhuran budi pekerti. Dalam pandangan Imam Hasan as, akhlak mulia merupakan manifestasi dari kemanusiaan.

 

Saking pentingnya masalah moral, Rasulullah Saw dalam salah satu sabdanya menegaskan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Imam Hasan as mengungkapkan 10 prinsip akhlak mulia antara lain; bersikap jujur terutama ketika berada dalam kesulitan, membantu orang yang membutuhkan, budi pekerti luhur, menghargai hasil pekerjaan orang lain, memelihara tali silaturahmi, menjaga hak-hak bertetangga dan berteman, berlaku baik terhadap tamu, dan memiliki rasa malu.

 

Dalam agama Islam, orang-orang kaya memiliki kewajiban atas orang-orang yang tidak mampu. Menurut ajaran Islam, mereka diwajibkan untuk membantu orang-orang fakir miskin. Rasul Saw dan Ahlul Baitnya as senantiasa menekankan masalah ini. Setiap dari mereka pada zamannya menjadi teladan dan pengayom orang-orang miskin, sebagaimana Imam Hasan as. Selain dikenal sebagai alim, takwa, zuhud dan lain-lain, beliau juga dikenal sebagai pribadi yang dermawan. Pada masa hidupnya, Imam Hasan as dikenal sebagai orang yang paling dermawan. Setiap fakir yang datang ke rumahnya pasti pulang dengan membawa sesuatu dari pemberian Imam Hasan as. Bahkan sering kali sebelum seorang fakir membuka mulut untuk meminta pertolongan darinya, Imam Hasan as langsung menolongnya.

 

Imam Hasan as adalah orang yang paling murah hati dan paling banyak berbuat baik kepada fakir miskin. Ia tidak pernah menolak pengemis. Suatu hari, seseorang bertanya kepadanya, “Mengapa Engkau tidak pernah menolak pengemis?” Imam as menjawab, “Aku mengemis kepada Allah dan mencintai-Nya. Aku malu menjadi pengemis kepada Allah sementara aku menolak seorang pengemis. Sesungguhnya Allah senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepadaku. Dan aku berusaha untuk senantiasa melimpahkan nikmat-Nya kepada manusia. Aku takut bila kuhentikan kebiasaan ini, Allah akan memutuskan kebiasaan-Nya.”

 

Para utusan fakir miskin senantiasa datang berbaris di depan pintu rumah Imam Hasan as. Dengan tangan terbuka dan penuh kasih, Imam as memberi santunan kepada mereka dan memperbanyak pemberiannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Imam Hasan as pernah mendermakan seluruh hartanya sebanyak dua kali. Tiga kali ia mendermakan setengah dari hartanya. Setengah untuk dirinya dan setengah lainnya diinfakkan di jalan Allah. Keteladanan inilah yang menyebabkan Imam Hasan as dikenal sebagai Karim Ahlul bait.

 

Para ahli sejarah telah menulis berbagai kisah mengenai kedermawanan Imam Hasan as. Suatu hari, Imam Hasan as terhenti melihat seorang budak hitam legam yang sedang menggenggam sepotong roti. Satu suapan ia makan dan satu suapan lainnya ia berikan kepada anjing. Imam as bertanya kepadanya, “Mengapa Engkau berbuat seperti itu?” Lalu budak itu menjawab, “Aku malu memakannya bila aku tidak memberi kepadanya.” Imam Hasan as melihat sifat mulia pada diri budak itu. Karena itu, beliau ingin membalas perbuatan baiknya itu dengan kebaikan pula demi menebarkan keutamaan di tengah-tengah masyarakat. Imam as. berkata kepadanya: “Jangan beranjak dari tempat dudukmu.” Setelah berkata begitu, Imam Hasan as pergi dan membeli budak tersebut dari majikannya. Lebih dari itu, beliau juga membeli sebuah kebun untuk budak itu dan memerdekakannya.

 

Di antara karakter lain Imam Hasan as adalah kesabarannya yang luas. Beliau senantiasa membalas setiap orang yang berbuat buruk dan dengki kepadanya dengan kebaikan. Para ahli sejarah telah meriwayatkan banyak kisah mengenai kesabaran Imam Hasan as. Seorang musuh bebuyutan Ahlul Bait as, Marwan bin Hakam mengakui besarnya kesabaran Imam Hasan as. Dia menegaskan pengakuannya ketika Imam as wafat. Saat itu, Marwan menepuk jenazahnya. Sang adik, Imam Husain as terkejut dengan sikap Marwan tersebut seraya bertanya, “Sekarang kau tepuk jenazahnya, padahal kemarin kau membuatnya murka?” Marwan menjawab, “Kulakukan ini kepada orang yang kesabarannya laksana gunung.”

 

Pengalaman hidup menunjukkan bahwa kesabaran dalam menghadapi berbagai peristiwa dan cobaan adalah investasi terbesar manusia. Al-Quran juga memberi kedudukan istimewa kepada orang-orang yang bersabar dan para malaikat menyampaikan salam kepada mereka atas apa yang mereka kerjakan di dunia. Sejarah juga membuktikan bahwa kemenangan akan diraih oleh mereka yang mampu bersabar tatkala menghadapi sebuah masalah. Imam Hasan as hidup pada masa yang dipenuhi oleh pengkhianatan, tipu daya, dan permusuhan, akan tetapi beliau menghadapi semua gangguan itu dengan sabar dan tidak pernah tunduk pada amarah atau emosi.

 

Imam Hasan as pernah ditanya tentang kesabaran. Beliau menjawab “(Kesabaran) adalah menahan emosi dan dapat menguasai diri.” Imam Hasan as adalah seorang yang memiliki kesabaran tinggi, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti luhur. Beliau dapat menarik hati orang lain dengan sifat-sifat terpuji seperti itu. (IRIB Indonesia)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s