Imam Musa Kadzim, Pelita Pencerahan

Imam Musa Kadzim bin Ja’far dilahirkan tahun 128 H di akhir akhir masa Dinasti Umayah. Imam menyaksikan periode tumbangnya kekuasaan rezim yang telah banyak membuat kerusakan dan keburukan di negeri Islam dengan mengatasnamakan khalifah Rasulullah. Imam Musa mengalami awal kemunculan Imperium Abbasiah, yang menopang kekuasaannya dengan kebohongan dan propaganda, atas nama restu Ahlul Bait Muhammad Saw, dengan mengibarkan bendera “demi ridha keluarga Muhammad”.

Imam Musa hidup di bawah bimbingan langsung sang ayah, Imam Ja’far Shadiq selama dua dekade dari usianya yang penuh keberkahan. Dia menikmati keluasan ilmu sang ayah yang dikenal luas di kalangan umat Islam sebagai gurunya para guru; tempat bertanya manusia; pendiri madrasah; dan pelita penerang bagi dunia keilmuan Islam.

 

Sang ayah, Imam Shadiq mengalami kekejaman penguasa lalim. Pada 25 Syawal 148 H, Manshur, ikut andil dalam kejadian terbunuhnya Imam Shadiq. Imamah dan kepemimpinan Ilahi pun berganti kepada Imam Musa Kadzim. Terbunuhnya Imam Shadiq membuat situasi dan kondisi yang melingkupi Ahlulbait Nabi menjadi teramat sulit, termasuk semakin terancamnya hidup Imam Musa.

 

Jauh-jauh hari, sang ayah, Imam Shadiq, telah berpesan kepadanya untuk menjaga dan melanjutkan gerakan risalah Ilahi. Meskipun keadaan politik kian mengancam, pohon kehidupan dan kenabian harus tetap tegak di bumi Tuhan. Udara kebebasan dan ruh kebenaran harus tetap bisa dihirup dan dinikmati umat manusia.

 

Pada era Harun Rasyid, Imam Musa as hidup selama tiga dekade dari usianya. Tekanan pada periode ini tidaklah surut, melainkan terus dilancarkan rezim Abbasiyah terhadap siapa pun yang membantu Imam as dan Ahlulbait Nabi Saw. Intimidasi dan represi yang sama juga dihadapi mereka yang berani berdiri sebagai oposan Harun Rasyid. Pemenjaraan dan pembunuhan sudah menjadi kebiasaan dan metode standar imperium lalim, yang kerap mencitrakan diri mereka sebagai representasi Allah swt dan Rasulullah Saw.

 

Riwayat mencatat bagaimana Rasyid, dengan meminta maaf kepada Rasulullah saw, memenjarakan cucundanya, Imam Musa bin Ja’far as dengan dalih bahwa keberadaan Imam yang dicintai rakyat itu telah mengakibatkan perpecahan umat Islam.

 

Imam Musa dalam menjalankan kepemimpinan Ilahi bergerak sesuai dengan metode Rasulullah Saw dan Ahlul Baitnya, demi menjaga autentisitas risalah Tuhan dari kehancuran dan interpolasi kepentingan politik golongan. Imam pun berjuang menjaga garis tradisi muhammadi agar umat tidak terus terbenam dalam fitnah konflik yang tak berkesudahan ini. Di sisi lain, Imam pun tak lupa menegaskan urgensi dan signifikansi prinsip amar makruf dan nahi mungkar di hadapan penguasa lalim dan sewenang-wenang.

 

Madrasah Imam Musa as, sebagai kelanjutan madrasah Imam Shadiq, terus berperan dalam menetapkan dan mengembangkan tradisi intelektual—yang cahayanya memancar dari para ulama dan murid-muridnya-demi meninggikan peradaban Islam di antara peradaban-peradaban lainnya. Bahkan, peradaban-peradaban cemerlang lainnya banyak berutang kepada para sarjana terkemuka dan mujtahid yang lahir dari madrasah Imam Shadiq, yang dilanjutkan Imam Musa.

 

Aktivitas-aktivitas pendidikan Imam Musa terbukti mampu menjaga dan mewariskan metode berpikir yang lurus kepada kelompok orang-orang yang saleh dan mencintai kebenaran. Penataan terus dilakukan demi masa depan umat Islam. Para perintis dari madrasah Ahlulbait ini tak tinggal diam dalam menjaga dan mengembangkan warisan pencerahan Rasulullah saw pada masa yang penuh dengan fitnah dan kecemasan. Terbukti madrasah-madrasah dan aktivitas-aktivitas keilmuan keturunan suci Nabi saw ini melampaui pencapaian sekolah-sekolah mana pun pada masa itu hingga sekarang.

 

Keteguhan, ketakwaan, dan kesabaran Imam Musa al-Kadzim as dalam merespon intimidasi dan represi rezim Abbasiah telah menjadi gerbang bagi kaum-kaum yang saleh untuk dapat terus mengidentifikasi, mana cahaya dan kegelapan; mana emas dan mana loyang.

 

Pada tanggal 17 Dzulqa’dah 179 H, Imam Musa diasingkan dari Madinah ke Basrah atas perintah Harun al-Rashid, Khalifah Abbasiah. Beliau tiba di Basrah pada tanggal 7 Dzulhijjah dan langsung dijebloskan ke dalam penjara oleh penguasa lalim ketika itu.

 

Imam Musa Kadzim as mendekam dalam penjara di era kekuasaan Isa bin Ja’far penguasa Basrah hingga beberapa waktu. Namun, kemudian Isa bin Ja’far menulis surat kepada Harun al-Rashid yang isinya meminta agar Imam dipindahkan ke penjara yang dikelola gubernur lain. Isa bin Ja’far beralasan bahwa setelah memeriksa Imam Kadzim as, ia tidak menemukan bukti yang memberatkannya agar dipenjara.

 

Membaca surat Isa bin Ja’far, Harun al-Rashid kemudian memerintahkan agar Imam Kadzim as dipindahkan ke Baghdad dan meminta kepada menterinya, Fadhl bin Rabi’ agar membunuh Imam Musa Kadzim as, namun permintaan ini ditolak oleh Fadhl bin Rabi’.

 

Imam as tidak diperkenankan untuk terus membimbing dan menjaga risalah Rasulullah hingga beliau syahid pada 25 Rajab 184 H akibat racun yang direkayasa oleh pihak-pihak yang menjalin kolusi dengan penguasa imperium Abbasiah. Sindi bin Syahik membunuh Imam Musa Kadzim as atas perintah Yahra bin Khalid Barmaki, seorang menteri yang diperintah oleh Harun al-Rashid.

 

Salam sejahtera untukmu, wahai Imam Musa bin Ja’far, pada saat hari engkau dilahirkan; pada hari engkau berjihad di jalan Allah Swt; dan pada hari engkau syahid; dan pada hari ketika engkau akan dibangkitkan. (IRIB Indonesia)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s