Imam Husein as, Teladan Kemuliaan

Kecantikan dan keindahan adalah sesuatu yang diterima dan dicintai oleh setiap orang. Jika manusia memperhatikan dirinya, maka akan mendapatkan keindahan dalam jiwanya, yang merupakan tanda-tanda dari kebesaran Allah Swt. Para filsuf telah menjelaskan bahwa manusia lebih indah dari seluruh makhluk. Ciptaan Tuhan ini indah dan tiada bandingan. Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman mengatakan, “Aku menaruh perhatian pada dua hal untuk menemukan Tuhan. Pertama adalah langit, dimana penciptaannya sangat agung. Dan kedua adalah batinku. Kedua hal itu mengundang rasa takjub dan tirai keindahan akan terbuka lebar.”

Imam Husein as adalah simbol seorang manusia dengan sifat-sifat luhur dan perilaku mulia. Beliau adalah cucu baginda Rasulullah Saw dan putra Ali as dan Fatimah as. Imam Husein as lahir dan tumbuh berkembang di rumah wahyu dan lingkungan spiritual Ahlul Bait as. Karakteristik ini merupakan sebuah keistimewaan langka bagi seorang manusia. Sejak usia kanak-kanak, Imam Husein as telah menikmati masa-masa belajar dan kerja keras serta menjadi pribadi yang terdidik di bawah bimbingan bijak sang ayah. Imam Husein as senantiasa mengingat ucapan ayahnya bahwa kecantikan manusia terletak pada akal dan pikirannya dan ia sendiri meniti jalan ini untuk mencapai puncak kemuliaan.

 

‘Azizartinya perkasa, mampu, mulia, dan berjiwa besar dan termasuk salah satu sifat Tuhan. Mereka yang memperoleh kedudukan dan penghormatan luar biasa di sisi orang lain serta tidak menjulurkan tangannya kepada siapapun akan disebut ‘Aziz. Tuhan disebut ‘Aziz karena Dia Maha Kaya dan tidak butuh kepada makhluk-Nya di samping seluruh makhluk hidup membutuhkan Dzat Yang Maha Agung ini.

 

Para wali Allah menginginkan kemuliaan untuk umat manusia dan meminta mereka untuk menghias diri dengan sifat tersebut. Menurut Imam Husein as, orang yang kehidupannya senantiasa bersama kemuliaan, maka dia adalah seorang manusia yang tangguh dan tahan banting. Manusia mulia akan memilih kehidupan merdeka bersama kemandirian dan harga diri serta akan meniti jalan kesempurnaan dan kemajuan.

 

Menurut perspektif Imam Husein as, karakteristik lain keindahan dalam diri manusia adalah tidak menggantungkan diri pada hasrat duniawi dan hal-hal yang bersifat semu. Imam Husein as berkata: “Apa yang disinari oleh matahari di atas bumi ini, mulai dari timur hingga barat, dari laut hingga padang pasir, dari gunung hingga lembah, semua itu di mata seorang wali Allah adalah ibarat sebuah bayangan yang cepat berlalu dan tidak layak dicintai. Wahai manusia! Janganlah menjual diri kalian kepada dunia yang fana ini. Sadarlah bahwa tidak ada yang berharga bagi kalian selain surga dan barang siapa yang mencintai dunia dan puas atasnya, maka ia telah puas terhadap sesuatu yang hina.”

 

Setiap tahun kita memperingati hari kelahiran Imam Husein as dan kita menyaksikan kecemerlangan manusia-manusia yang menemukan kehidupan rasional di bawah pengaruh derajat spiritual dan sifat-sifat luhur pribadi agung ini. Data menunjukkan bahwa kebanyakan dari mereka yang memeluk Islam adalah terpengaruh oleh keberadaan figur-figur agung seperti, Rasul Saw, Ali as, dan kepahlawanan Imam Husein as. Kini, kebanyakan manusia mengobati rasa dahaganya dengan meneladani manusia-manusia suci.

 

Kebanyakan orang-orang yang berjuang melawan penindasan dan kekuatan tiran, menemukan akar perjuangannya dalam perlawanan dan kebangkitan Imam Husein as. Beliau telah bangkit untuk menegakkan kebenaran dan mencari kemuliaan. Keyakinan historis ini juga tampak dalam sastra kuno dan kontemporer komunitas Masehi Lebanon. Syair dan tulisan beberapa sastrawan Masehi menaruh perhatian pada dimensi heroik pribadi Imam Husein as dan kebangkitan beliau. Bulus Salamah, sastrawan dan penyair terkenal Lebanon termasuk di antara orang yang mengekspresikan derajat kecintaan dan keikhlasannya kepada Imam Husein as melalui syair-syiarnya.

 

Salamah menulis, “Penyair Arab baik Muslim atau Masehi, berhutang kepada Islam, sebab tidak mungkin mampu menarikan pena dengan indah kecuali dengan tetesan air dari ayat-ayat al-Quran yang membasahi penanya. Mungkin ada pihak yang memprotes dan mengatakan bahwa mengapa seorang Masehi memaparkan sejarah Islam? Iya, saya seorang Masehi, namun seorang Masehi yang berpandangan luas. Setiap kali aku mengingat kehidupan Ali as dan putranya Husein as, maka bara api membela kebenaran dan memerangi kebatilan menyala dalam dadaku.”

 

Jurnalis dan sastrawan Masehi dari Suriah, Antoine Bara menilai Imam Husein as milik semua warga dunia. Dia menyebut Imam Husein as sebagai mutiara abadi agama dan pada akhir ucapannya, Antoine mengatakan, “Husein as ada di hatiku.” Antoine lebih lanjut mengatakan, “Kami telah mengkaji setiap sesuatu yang indah dan kami menemukan bahwa seluruh keindahan itu tersimpan pada pribadi Muhammad Saw, Ali as, dan Husein as. Pada sebuah seminar di Damaskus, Muhammad al-Rifae, penyair Suriah mengeluarkan sebuah ungkapan menakjubkan tentang diriku. Dia mengatakan, Antoine, adalah seorang Masehi, identitasnya adalah Muslim, cintanya adalah Syiah, dan bahasanya adalah Arab. ”

 

Pada bagian lain paparannya, Antoine mengatakan, “Realitanya adalah bahwa aku mencintai Husein as. Aku tergila-gila oleh semangat revolusi Husein as. Sifat rendah diri Husein as di samping semangat revolusi adalah dimensi lain kepribadiannya yang telah membuatku terlena. Beliau di samping berjiwa mulia, merdeka, dan berwibawa di hadapan musuh, juga berjiwa rendah diri. Padahal, kedua sifat itu tidak bisa bertemu dalam satu pribadi.” Antoine Bara memperkenalkan Imam Husein as sebagai pelita Islam yang menerangi jalan dan penyelamat serta penjaga agama dari segala penyimpangan.

 

Joseph Hashem dalam sebuah qasidahnya mengatakan, “Karena dunia telah dipenuhi dengan kesyirikan dan kerusakan, Tuhan memilih Ahlu Bait as sebagai obor untuk menyelematkan umat manusia sehingga kebenaran tersebar di antara mereka. Wahai putra Fatimah dan Ali ! Apakah ada keagungan yang lebih tinggi dari ini? Jika kalian tidak hadir, maka tidak ada satu pun panji Tuhan yang bisa ditegakkan. Engkau bukan hanya pemimpin kaum Syiah, tapi panutan bagi seluruh makhluk. Kalian adalah hamba-hamba yang membawa derajat iman ke puncak ketinggian dan memperlihatkan keindahan manusia.”

 

Sastrawan dan pengacara Lebanon, Edmond Rizk dalam sebuah artikelnya menulis, “Aku tidak pernah menemukan kafilah dalam sejarah, di mana aku ingin bersama mereka, seperti sebuah kafilah dari Hijaz yang dipimpin oleh putra Ali as dan Fatimah bergerak menuju Irak sehingga kebenaran hidup dengan mengorbankan diri mereka.” (IRIB Indonesia/RM/NA)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s